Tampilkan postingan dengan label 'Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 'Aqidah. Tampilkan semua postingan

Pengkafiran Penghina Syari’at Islam

0 komentar

Dalam artikel Mengolok-Olok Syari'at dan Bahaya Mengolok-Olok Syari’at telah dijelaskan hukum dan (betapa) berbahaya mengolok-olok syari’at. Mencaci, menghina, mengolok-olok, atau merendahkan agama (ad-diin) dengan kalimat yang jelas adalah kufur akbar yang menyebabkan pelakunya murtad keluar dari agama. Baik ia serius atau sekedar main-main. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

"Katakanlah: 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?'. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman" [QS. At-Taubah : 65-66].

Para ulama sepakat dalam hal ini.

Adab Bro....

0 komentar


Allah berfirman:
لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)" [QS. An-Nuur : 63].
Melalui ayat ini, Allah telah mengkhususkan penyebutan Nabi dalam pembicaraan sehingga Allah melarang para shahabat (dan kita) memanggil beliau : 'Ya Muhammad, Ya Ahmad, Ya Abal-Qaasim' - sebagaimana panggilan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Hendaklah mereka memanggil beliau dengan : 'Ya Nabiyallah, Ya Rasulallah', karena Allah sendiri tidak memanggil beliau dalam Al-Qur'an hanya dengan namanya saja:

Fitnah Nasab

1 komentar


Penjajahan Belanda memberikan pengaruh besar bagi bangsa Indonesia hingga struktur DNA-nya. Hampir 75 tahun bangsa kita merdeka dari mereka, namun peninggalan mereka belum juga binasa oleh jalannya roda zaman. Terutama, bagaimana mereka membangun strata sosial berbasis keturunan dan jabatan. Terbentuklah kemudian kalangan ndoro-ndoro yang biasanya petentang-petenteng, dan kawula alit yang punya kewajiban mengabdi melayani golongan pertama. Feodalisme. Sistem sosial yang menomorsekiankan prestasi dan produktivitas individu. Yang penting, situ anaknya siapa, keturunan siapa, dan jabatannya apa. Banyak fasilitas disediakan khusus untuk mereka dan ‘haram’ dicicipi kawula alit. Misalnya Eurospeesch Lagere School (ELS), sekolah setara SD yang diperuntukkan khusus bagi orang Belanda dan Eropa, serta pribumi golongan terpandang. Pribumi berduit kelas dua, disediakan Hollandsche Inlandsche School (HIS). Terakhir, pribumi rendahan kawulo alit di pedesaan - sekolahnya simbah saya dulu - Tweede Inlandsche School atau bahasa kerennya : Sekolah Ongko Loro, yang bisa melanjutkan ke sekolah rakyat atau Schakel School (dimana lulusannya setara dengan HIS). Ini adalah contoh kecil diskriminasi penerapan sistem feodalistik Belanda bagi bangsa Indonesia.

Proteksi

1 komentar


Syari'at Islam memerintahkan untuk takut (hakiki) hanya kepada Allah . Takut akan adzab-Nya apabila bermaksiat kepada-Nya, dan beriman bahwa segala hal di dunia ini terjadi dengan qadla dan qadar Allah. Spirit ini membuat kaum muslimin menjadi sosok-sosok pemberani, bukan pengecut, untuk menghadapi musuh-musuh Allah dan segala hal yang terjadi di dunia ini. Betapapun hebat bahaya yang mengancam di depan mata, jika Allah tidak menghendaki bahaya tersebut mengenai diri kita, tidak akan memudlaratkan kita. Sebaliknya. Betapa keras usaha kita untuk menghindar dari bahaya dan betapa jauh bahaya itu dari diri kita, apabila Allah menghendakinya mengenai diri kita, tidak bisa kita menghindar. Rasulullah bersabda:

Mu'aththilah

1 komentar


Mu'aththilah adalah pengingkar/penolak sifat-sifat Allah. Jelas sesatnya. Ada yang menolak semuanya, ada pula yang menolak sebagian. Keberadaan mereka masyhur zaman dulu di bawah bendera Jahmiyyah yang mengkampanyekan Khalqul-Qur'an dan penolakan sifat-sifat Allah .
Para ulama mutaqaddimiin mengkritik sangat keras penganut sekte ini, bahkan mengkafirkannya, meskipun yang diingkari hanya sebagian sifat saja (tidak keseluruhan). Seperti misal penolakan mereka terhadap sifat kalam, sehingga menetapkan ‘aqidah baru Khalqul-Qur’an (Al-Qur’an adalah makhluk).

Sedih karena Meninggalnya Orang Kafir

0 komentar


Diperbolehkan bersedih atas meninggalnya orang kafir karena rasa iba, kasihan, dan simpati manusiawi secara umum. Seperti misal sedih atas meninggalnya ayah, ibu, atau saudaranya yang kafir. Atau kepada orang kafir yang dikenal memiliki amal kebaikan, suka menolong sesama, baik akhlaknya, dan semisalnya dari sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia pada umumnya (baik muslim atau kafir), yang mereka itu tidak menunjukkan permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin.
Hal ini masuk dalam bab kasih-sayang yang pelakunya tidak dicela/berdosa, sebagaimana seseorang tidak dicela atas kesedihannya karena kematian orang kafir yang mati di hadapannya akibat kecelakaan, kebakaran, atau musibah lainnya. Apa dalilnya ? Diantaranya adalah kesedihan Nabi saat berziarah di makam ibunya:

Murji'ah Fuqahaa Keluar dari Ahlus-Sunnah ?

0 komentar


ASY-SYAIKH SHAALIH AL-FAUZAAN HAFIDHAHULLAH
Pertanyaan:
أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة، وهذا سائل يقول: هل الخلاف مع مرجئة الفقهاء يخرجهم من مسمى أهل السنة والجماعة وما حقيقة الخلاف معهم؟
"Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda, shaahibul-fadlilah. Orang ini bertanya : Apakah perselisihan Ahlus-Sunnah dengan Murji'ah Fuqahaa' mengeluarkan mereka dari cakupan Ahlus-Sunnah wal-Jama'aah? Dan bagaimana sebenarnya hakikat perselisihan kita dengan mereka?".

Pembatal Islam : Membenci Sesuatu yang Dibawa Oleh Nabi ﷺ

0 komentar


Membenci sesuatu yang dibawa Nabi  meskipun orang tersebut melakukannya, maka ia kafir berdasarkan ijmaa’. Dalilnya adalah firman Allah :
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka” [QS. Muhammad : 9].

Ikut Serta Merayakan dan Mengucapkan Selamat Hari Raya Orang Kafir

1 komentar


Selalu saja berulang setiap tahun pembahasan tentang : bolehkah ikut serta merayakan dan mengucapkan hari raya orang kafir ? Seakan-akan telah menjadi agenda tahunan kaum muslimin membicarakannya. Dan memang hanya kaum muslimin yang menaruh perhatian terhadap kemurnian ‘aqidah mereka. Meskipun orang-orang kafir dan para penjilat dari kalangan munafiqin sangat getol menjajakan kolak basi mereka yang meracuni umat Islam, alhamdulillah, senantiasa ada orang-orang yang berdiri menjelaskan dan membela agama-Nya, sepanjang masa, hingga kelak menjelang kiamat tiba.

Topi Natal/Sinterklas

0 komentar


Rasulullah bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud, Ahmad, dan yang lainnya; shahih[1]].
عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، قَالَ: دُعِيَ حُذَيْفَةُ إِلَى شَيْءٍ، قَالَ: فَرَأَى شَيْئًا مِنْ زِيِّ الْأَعَاجِمِ، قَالَ: فَخَرَجَ، وَقَالَ: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Dari Abu 'Ubaidah, ia berkata : "Hudzaifah pernah diundang seseorang untuk sesuatu. Lalu ia melihat pakaian orang-orang 'Ajam (dalam rumah yang ia datangi), kemudian ia keluar seraya berkata : 'Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" [Diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Ahmad dalam Az-Zuhd].

Kebaikan Orang Kafir

0 komentar


Apakah ada orang kafir yang baik hati ? Ada, tidak sedikit. Tentu kita tidak lupa tentang Abu Thaalib, paman Nabi . Dirinya telah mengorbankan segala yang ia miliki untuk membela Nabi dari ancaman orang-orang kafir Quraisy. Akan tetapi di akhir hayatnya ia tetap tidak mau masuk Islam. Lantas bagaimana nasibnya di akhirat ? Bahagia atau celaka ? Jawab : celaka.
عن الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ، قَالَ: هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Dari Al-'Abbaas bin 'Abdil-Muthallib radliyallaahu 'anhu, ia berkata kepada Nabi : “Apakah engkau bisa memberikan sesuatu kepada pamanmu (Abu Thaalib). Sesungguhnya ia dulu telah melindungimu dan marah untuk (membela)-mu”. Beliau bersabda : “Ia berada di pinggir neraka yang dangkal. Seandainya saja bukan karena aku (syafa’atku), niscaya ia berada di dalam kerak neraka paling dalam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3883].

KAFIR !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

0 komentar


Semenjak kemunculan paham agama Islam Nusantara, ‘aqidah Islam terancam dirusak dari dalam. Permisivisme terhadap praktek-praktek non-syari’at dengan dalih mengakomodasi kultur/budaya lokal mulai gencar dilakukan. Seperti misal pembelaan praktek pemberian sesajen ala Hindu dan animisme, ritual mapag Dewi Sri, nyadran, dan yang lainnya dari praktek-praktek bermuatan kesyirikan[1]. Sekat-sekat yang membatasi muslim dan kafir secara sistematis ingin di-uninstall. Dikatakan, semua agama mempunyai kesempatan masuk surga. Dalam kesempatan lain, istilah kafir harus dihilangkan dalam lisan warga muslim Indonesia dan digantikan dengan ‘warga negara non-muslim’; sebagaimana terkutip dalam (inti) hasil pertemuan naas sebuah ormas beberapa waktu lalu. (Herannya), dibela pula oleh tokoh agama lulusan S3 Timur Tengah yang namanya pernah tersebut dalam kasus dugaan korupsi pertambangan yang ditangani KPK. Bak gayung bersambut, assist ‘fatwa’ yang diberikan ormas tersebut disambut gembira ria banyak oknum yang dikenal anti-syari’at Islam.

Jahil dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah

0 komentar


Allah ta'ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka pasti mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah : ‘Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [QS. Yunus: 31].

Tawassul dengan Sifat Allah

0 komentar


Dari Khaulah bintu Hakiim, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda:
لَوْ نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلا فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْحَلَ مِنْهُ
Apabila salah seorang diantara kalian tiba di suatu tempat, hendaklah ia mengucapkan : a’uudzu bi-kalimaatillaahit-taammati min syarri maa khalaqa (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk yang Allah ciptakan), niscaya tidak ada sesuatupun yang membahayakannya hingga ia beranjak dari (tempat) tersebut”.

Syirik : Sumpah dengan Selain Allah

0 komentar


Sumpah dengan menyebut nama selain Allah ta’ala merupakan tradisi Jahiliyyah yang turun-temurun terwarisi hingga kini di sebagian kalangan juhalaa’. Budaya latah ini wajib dihilangkan karena termasuk diantara hal-hal yang mengurangi kesempurnaan tauhid kita. Banyak nash-nash larangan bersumpah dengan selain Allah ta’ala, diantaranya:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَال: سَمِعْتُ عُمَرَ، يَقُولُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ "، قَالَ عُمَرُ: فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ ذَاكِرًا، وَلَا آثِرًا
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar ‘Umar berkata : “Rasulullah pernah berkata kepadaku : ‘Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak kalian”. ‘Umar berkata : “Maka demi Allah, aku tidak akan sengaja bersumpah dengannya (menyebut bapaknya) sejak aku mendengar (sabda) Nabi (tersebut)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6647 dan Muslim no. 1646].

Tauhid, Pokok Dakwah Para Nabi dan Rasul

0 komentar


Allah ta’ala telah menciptakan langit-langit dan bumi, serta apa-apa yang ada diantaranya dan apa-apa yang ada di dalamnya. Allah ta’ala telah menciptakan yang nyata (syahadah) dan yang tidak nyata (ghoib). Allah ta’ala telah menciptakan manusia dan jin, maka tidaklah Allah membiarkan mereka begitu saja dengan sia-sia. Tetapi Allah telah mengutus para nabi dan rasul (al-anbiya wal-mursalin), dengan membawa Kitab yang diwahyukan oleh Allah ta’ala kepada mereka. Bagi yang menaati nabi/Rasul akan menjumpai nikmat dan rahmat Allah, yaitu surga. Sebaliknya, bagi yang durhaka akan menjumpai kemurkaan dan siksa Allah, yaitu neraka. Demikianlah keberadaan anbiya dan mursalin.
Maka sesungguhnya perjalanan dakwah para nabi dan rasul dari masa ke masa dan di manapun mereka diutus di muka bumi ini dan kepada ummat siapapun, mereka mengawali dan memulai dengan ilmu “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah”, dengan Tauhid. Perjalanan dakwah tersebut dinyatakan pada beberapa ayat Al-Qur'an.

Telaga Rasulullah ﷺ di Akhirat

1 komentar


Tanya : Apakah Rasulullah memang mempunyai telaga di akhirat sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang ?
Jawab : Termasuk bagian dari prinsip ’aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah mengimani adalah Al-Haudl (telaga) yang diperuntukkan bagi Nabi Muhammad di akhirat. Airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, aromanya lebih harus daripada minyak kesturi, jumlah bejananya lebih banyak daripada bintang-bintang di langit, serta panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan. Barangsiapa yang meminum seteguk air darinya, dia tidak akan dahaga selamanya. Yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan bid’ah dalam agama. Nabi bersabda :

Modifikasi Kesyirikan

0 komentar


Dewi Sri adalah tokoh mitologi Hindu yang konon menjadi sumber asal tanaman padi. Karenanya lah kemudian masyarakat agraris tradisional (baca : kuno) Jawa-Bali memujanya sebagai lambang keberkahan dan kesuburan dengan segala ritualnya yang kental dengan nuansa animisme dan dinamisme. Ritual tersebut masih banyak dilakukan masyarakat hingga kini.
Misalnya saja ritual Mapag Dewi Sri yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai utara Jawa Barat (Cirebon, Idramayu, dan Subang). Ritual ini merupakan perkawinan antara budaya Sunda Kuno dan ‘budaya Islam Jawa[1]’ yang dilakukan untuk menyambut panen raya padi[2]. Dewi Sri (Nyai Pohaci Sanghyang Asri) dianggap masyarakat sebagai subjek (halusinasi) penjaga padi yang menghantarkan mereka pada musim panen. Teknis pelaksanaan ritual Mapag (Dewi) Sri tidak sama persis satu daerah dengan daerah lainnya. Namun satu elemen penting yang menjadi kesamaannya adalah keberadaan sesaji/sesajen[3]. Prosesinya, sesajen dibawa ke tempat padi yang diikat[4] lalu disimpan di sekitar padi tersebut. Setelah itu padi didoai oleh punduh, sesepuh para petani yang (dianggap) mempunyai kemampuan supernatural[5]. Padi tersebut kelak dijadikan bibit.

Ta’wiil Al-Bukhaariy

5 komentar


Dalam kitab Shahiih-nya, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy rahimahumallah berkata:
 سُورَةُ الْقَصَصِ
((كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ)): إِلَّا مُلْكَهُ، وَيُقَالُ: إِلَّا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ، وَقَالَ مُجَاهِدٌ: فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ: الْحُجَجُ.
“Surat Al-Qashash.
Firman Allah : ‘Segala sesuatu akan binasa, kecuali wajah-Nya’ (QS. Al-Qashsash : 88); maksudnya : ‘kecuali kekuasaan/keagungan-Nya (mulkahu)’. Dan dikatakan (juga maksudnya adalah) : ‘kecuali apa yang diinginkan dengannya wajah Allah’. Mujaahid berkata : ‘Maka gelaplah bagi mereka segala macam alasan (anbaa’)’ (QS. Al-Qashash : 66), maksudnya adalah : ‘alasan (hujaj)” [Shahiih Al-Bukhaariy, 3/273].

Berisyarat ke Langit

0 komentar

Tempo hari beredar sebuah rekaman drama dari seseorang dengan para figuran membahas permasalahan ‘dimanakah Allah’. Banyak retorika disampaikan - tanpa dalil - hingga jatuh pada satu kesimpulan implisit/eksplisit : keliru orang yang mengatakan Allah berisitiwaa’ di atas langit di atas ‘Arsy, dan keliru pula jika ada orang yang berisyarat dengan tangan atau anggota tubuh lainnya ke atas (Allah di atas langit).
Berikut akan saya sampaikan beberapa riwayat yang menunjukkan Allah di atas langit serta ketetapan bolehnya berisyarat ke atas.