Haramnya Sumpah Palsu

0 komentar

Allah ta’ala berfirman:
وَلا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki-(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan bagimu adzab yang besar” [QS. An-Nahl : 94].

Cinta Tanah Air dan Negeri

0 komentar

Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا
Dari Anas radliyallaahu 'anhu berkata : "Rasulullah apabila pulang dari safar, maka beliau melihat dataran tinggi kota Madiinah seraya mempercepat ontanya. Apabila beliau berada di atas kendaraan yang lain (kuda, keledai), maka beliau menggerak-gerakkan kendaraannya karena kecintaan beliau kepadanya (Madiinah)" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1802 & 1886, At-Tirmidziy no. 3441, dan yang lainnya].

(Bukan) Tragedi

1 komentar

Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy rahimahullah adalah mujtahid mutlak yang tidak berafiliasi dengan madzhab Syaafi'iyyah atau madzhab fiqh lainnya.[1] Beliau menulis kitab Shahiih Al-Bukhaariy berisi hadits-hadits yang disusun dalam bab-bab sesuai fiqhnya. Atau dengan kata lain, fiqh beliau rahimahullah ditunjukkan dalam bab-bab Shahiih Al-Bukhaariy.
Beberapa abad kemudian, Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-'Asqalaaniy rahimahullah (w. 856 H) yang bermadzhab Syaafi'iyyah mensyarah Shahiih Al-Bukhaariy dan membukukannya dalam satu kitab besar berjudul Fathul-Baariy. Kitab beliau ini terkenal dan masyhur di seantero negeri Islam. Dan alhamdulillah, kitab beliau ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Ilusi tentang Salafi

11 komentar

Belum lama ini saya mendengarkan dan menyimak sebuah rekaman video di Youtube berjudul “Manhaj Tarjih Muhammadiyah VS Salafi” dengan durasi 1 jam 18 menit dan 54 detik. Dibawakan oleh seorang tokoh Muhammadiyyah Banjarmasin yang merupakan guru besar sebuah universitas terpandang kota tersebut. Dalam ceramahnya, beliau bercerita tentang ihwal salafi, sejarah dan perkembangannya. Sayang, beliau yang punya kebiasaan memaparkan sesuatu secara ilmiah (namanya juga guru besar), mendadak mempunyai ilusi tentang “Salafi”. Karangan bebas yang disampaikan kepada jama’ah tentang Salafi. Saya tidak mengatakan apa yang beliau sampaikan dari A sampai Z keliru semua. Tidak. Akan tetapi substansi materi yang beliau sampaikan perlu kiranya untuk diluruskan. Jangan sampai masyarakat kebablasan mengkonsumsi makanan kadaluarsa, beracun. Insya Allah, di sini saya akan sedikit dua dikit menuliskan tanggapan/catatan yang barangkali dapat menjadi pembanding dari salah paham yang beredar.

Khuthbah ‘Ied : Sekali atau Dua Kali ?

0 komentar

Tanya : Berapakah jumlah khuthbah ‘Ied yang sesuai dengan sunnah ?
Jawab : Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan khutbah (shalat) ‘Ied adalah dua kali diselingi dengan duduk seperti khuthbah (shalat) Jum’at, dan sebagian yang lain mengatakan sekali.
Dalil paling kuat yang dibawakan oleh pendapat pertama adalah hadits :
نَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، نَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ الْخُطْبَتَيْنِ وَهُوَ قَائِمٌ، وَكَانَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِجُلُوسٍ "