Fatwa MUI tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama

0 komentar

Siapakah Sebaik-Baik Manusia ?

0 komentar

Bacalah hadits-hadits nabawiy yang shahih berikut ini, niscaya engkau akan mendapati sebaik-baik manusia.
1.      Orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Telah bersabda Rasulullah :
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5027].
2.      Orang yang baik akhlaqnya.
Telah bersabda Rasulullah :

Bentuk-Bentuk Istihlaal

0 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
العبد إذا فعل الذنب مع اعتقاد أن الله حرمه عليه ، واعتقاد انقياده لله فيما حرمه وأوجبه : فهذا ليس بكافر.
فأما إن اعتقد أن الله لم يحرمه ، أو أنه حرمه لكن امتنع من قبول هذا التحريم ، وأبى أن يذعن لله وينقاد : فهو إما جاحد ، أو معاند.
ولهذا قالوا: من عصى مستكبرا كإبليس كفر بالاتفاق.
ومن عصى مشتهيا لم يكفر عند أهل السنة والجماعة، وإنما يكفره الخوارج.
فإن العاصي المستكبر وإن كان مصدقا بأن الله ربه ، فإن معاندته له ومحادته تنافي هذا التصديق.
وبيان هذا : أن من فعل المحارم مستحلا لها فهو كافر بالاتفاق ، فإنه ما آمن بالقرآن من استحل محارمه ، وكذلك لو استحلها بغير فعل.

Tidak Berstatus Kafir, tapi Tidak Juga Berstatus Muslim

1 komentar

Sebagian ulama Najd rahimahumullah berkata:
فنقول: إذا كان يعمل بالكفر والشرك، لجهله، أو عدم من ينبهه، لا نحكم بكفره حتى تقام عليه الحجة؛ ولكن لا نحكم بأنه مسلم، بل نقول عمله هذا كفر، يبيح المال والدم، وإن كنا لا نحكم على هذا الشخص، لعدم قيام الحجة عليه؛ لا يقال: إن لم يكن كافرا، فهو مسلم، بل نقول عمله عمل الكفار، وإطلاق الحكم على هذا الشخص بعينه، متوقف على بلوغ الحجة الرسالية.
“Kami katakan : Apabila seseorang melakukan perbuatan kekufuran dan kesyirikan karena kejahilannya atau karena ketiadaan orang yang memberikan peringatan kepadanya, kami tidak menghukuminya dengan kekufuran (kafir) hingga ditegakkan padanya hujjah, tetapi kami juga tidak menghukuminya muslim. Namun kami katakan perbuatannya ini kufur yang menghalalkan harta dan darahnya. Meskipun kami tidak menghukumi orang tersebut (dengan kekufuran/kafir) dikarenakan ketiadaan penegakan hujjah kepadanya, tidak lantas dikatakan : ‘Seandainya ia bukan orang kafir, maka ia muslim’. Namun yang kami katakan perbuatannya itu adalah perbuatan orang kafir. Dan memutlakkan hukum atas orang ini secara individu tergantung pada sampainya hujjah risaaliyyah[1]” [Ad-Durarus-Saniyyah, 10/136].

Analog yang Tidak Tepat

0 komentar

Orang yang meniadakan ‘udzur kejahilan sering berdalil dengan syarat ilmu dalam kalimat Laa ilaha illallaah dan kemudian mengqiyaskannya dengan wudlu. Jika wudlu seseorang batal, maka batallah shalat. Begitu juga dengan syarat ilmu. Jika syarat ini batal (karena kejahilan), maka batallah kalimat Laa ilaha illallaah sehingga beralih status dari muslim menjadi kafir (murtad). Dengan ini, ‘udzur kejahilan ditiadakan.
Padahal analog ini tidak tepat dengan alasan: