Menyifati Al-Qur’an dengan Musik

0 komentar

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah pernah menyebutkan kekeliruan sebagian orang yang menggunakan lafadh musik untuk menyifati Al-Qur’an. Beliau rahimahullah berkata:
“Menyifati Al-Qur’an Al-‘Adhiim dengan lafadh-lafadh ini (yaitu musik – Abul-Jauzaa’) dan yang semisalnya merupakan penyifatan yang tertolak dikarenakan tiga perkara:

Hukum Makan Daging Tikus

0 komentar

Tanya : Apakah hukum makan dagng tikus ? Halal ataukah haram ? Sebab, saya pernah mendengar sebuah penjelasan bahwa ia halal dimakan karena tidak ada dalil yang mengharamkannya.
Jawab :
Tikus banyak disifati dengan kejelekan dalam banyak nash. Bahkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tikus dalam klasifikasi binatang fasiq sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
خَمِّرُوا الْآنِيَةَ، وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ، وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ، فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا جَرَّتِ الْفَتِيلَةَ، فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ الْبَيْتِ
Tutuplah bejana-bejana dan pintu-pintu kalian, serta matikanlah lampu-lampu kalian, karena tikus (al-fuwaisiqah) kadangkala akan menarik sumbu lampu sehingga mengakibatkan kebakaran yang menimpa para penghuni rumah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3316 & 6295, Muslim no. 2012, At-Tirmidziy no. 1812, dan yang lainnya].

Makna ‘Bukan Termasuk Golongan Kami’

0 komentar

Dalam banyak riwayat ditemukan ucapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam laisa minaa’ yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ‘bukan termasuk golongan kami’. Diantaranya adalah:
مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ، فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang membawa senjata untuk menyerang kami, maka ia bukan termasuk golongan kami” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6874].
وَمَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا
Barangsiapa yang mengaku sesuatu yang bukan haknya, maka ia bukan termasuk golongan kami” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 61].

'Arab

0 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
واسم العرب في الأصل كان إسما لقوم جمعوا ثلاثة أوصاف
 أحدها أن لسانهم كان باللغة العربية
 الثاني أنهم كانوا من أولاد العرب
 الثالث أن مساكنهم كانت أرض العرب وهي جزيرة العرب التي هي من بحر القلزم إلى بحر البصرة ومن أقصى حجر باليمن إلى أوائل الشام بحيث تدخل اليمن في دارهم ولا تدخل فيها الشام وفي هذه الأرض كانت العرب حين البعث وقبله فلما جاء الإسلام وفتحت الأمصار سكنوا سائر البلاد من أقصى المشرق إلى أقصى المغرب وإلى سواحل الشام وأرمينية وهذه كانت مساكن فارس والروم والبربر وغيرهم.

Fiqh Syi’ah (8) : Hukum Tidur di Masjid

0 komentar

Ada riwayat:
عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنْ يُونُسَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ وَهْبٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنِ النَّوْمِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) قَالَ نَعَمْ فَأَيْنَ يَنَامُ النَّاسُ .
‘Aliy bin Ibraahiim, dari Muhammad bin ‘Iisaa, dari Yuunus, dari Mu’aawiyyah bin Wahb, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam) tentang tidur di Masjid Haraam dan Masjid Nabi (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi). Ia menjawab : “Ya, boleh. Dan dimanakah orang-orang seharusnya tidur ?” [Al-Kaafiy, 3/369-370].
Kata Al-Majlisiy (15/247), riwayat di atas shahih.