Mendoakan Keburukan terhadap Penguasa ?

0 komentar


Diantara pokok ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jamaa’ah yang dijelaskan para ulama kita semenjak dahulu hingga sekarang adalah mendengar dan taat kepada penguasa muslim, baik yang ‘adil maupun yang faajir (jahat/dhalim), tidak melakukan pemberontakan terhadap mereka, dan senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka (penguasa) agar dapat mengemban urusan umat, karena kebaikan mereka adalah kebaikan bagi rakyatnya dan keburukan mereka pun menjadi keburukan bagi rakyatnya. Nabi bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ
Agama adalah nasihat”. Kami (para sahabat) bertanya : “Untuk siapa ?”. Beliau menjawab : “(Nasihat) kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 55, Abu Daawud no. 4944, Ahmad 4/102, An-Nasaa’iy no. 4197-4198, Ibnu Hibbaan no. 4574, dan yang lainnya].

Zebra

0 komentar


Dalam sebuah hadits:
عَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ اللَّيْثِيِّ أَنَّهُ أَهْدَى لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ حِمَارًا وَحْشِيًّا وَهُوَ بِالْأَبْوَاءِ، أَوْ بِوَدَّانَ فَرَدَّهُ عَلَيْهِ، فَلَمَّا رَأَى مَا فِي وَجْهِهِ، قَالَ: إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ، إِلَّا أَنَّا حُرُمٌ
Dari Ash-Sha'b bin Jatstsaamah Al-Laitsiy : Bahwasannya ia pernah menghadiahi Rasulullah seekor zebra (himar wahsyiy) ketika beliau di Abwaa' atau di Waddaan. Namun beliau mengembalikannya kepada Ash-Sha'b. Saat melihat wajah Ash-Sha'b ketidaksukaan, beliau bersabda : "Sesungguhnya kami tidak mengembalikannya kepadamu kecuali karena kami sedang ihram" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dan Muslim].

Kebaikan Orang Kafir

0 komentar


Apakah ada orang kafir yang baik hati ? Ada, tidak sedikit. Tentu kita tidak lupa tentang Abu Thaalib, paman Nabi . Dirinya telah mengorbankan segala yang ia miliki untuk membela Nabi dari ancaman orang-orang kafir Quraisy. Akan tetapi di akhir hayatnya ia tetap tidak mau masuk Islam. Lantas bagaimana nasibnya di akhirat ? Bahagia atau celaka ? Jawab : celaka.
عن الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ، قَالَ: هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Dari Al-'Abbaas bin 'Abdil-Muthallib radliyallaahu 'anhu, ia berkata kepada Nabi : “Apakah engkau bisa memberikan sesuatu kepada pamanmu (Abu Thaalib). Sesungguhnya ia dulu telah melindungimu dan marah untuk (membela)-mu”. Beliau bersabda : “Ia berada di pinggir neraka yang dangkal. Seandainya saja bukan karena aku (syafa’atku), niscaya ia berada di dalam kerak neraka paling dalam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3883].

KAFIR !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

0 komentar


Semenjak kemunculan paham agama Islam Nusantara, ‘aqidah Islam terancam dirusak dari dalam. Permisivisme terhadap praktek-praktek non-syari’at dengan dalih mengakomodasi kultur/budaya lokal mulai gencar dilakukan. Seperti misal pembelaan praktek pemberian sesajen ala Hindu dan animisme, ritual mapag Dewi Sri, nyadran, dan yang lainnya dari praktek-praktek bermuatan kesyirikan[1]. Sekat-sekat yang membatasi muslim dan kafir secara sistematis ingin di-uninstall. Dikatakan, semua agama mempunyai kesempatan masuk surga. Dalam kesempatan lain, istilah kafir harus dihilangkan dalam lisan warga muslim Indonesia dan digantikan dengan ‘warga negara non-muslim’; sebagaimana terkutip dalam (inti) hasil pertemuan naas sebuah ormas beberapa waktu lalu. (Herannya), dibela pula oleh tokoh agama lulusan S3 Timur Tengah yang namanya pernah tersebut dalam kasus dugaan korupsi pertambangan yang ditangani KPK. Bak gayung bersambut, assist ‘fatwa’ yang diberikan ormas tersebut disambut gembira ria banyak oknum yang dikenal anti-syari’at Islam.

Jahil dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah

0 komentar


Allah ta'ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka pasti mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah : ‘Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [QS. Yunus: 31].