Status Hadits : ‘Barangsiapa yang Memulai Pembicaraan Sebelum Salam, Maka Jangan Kalian Menjawabnya’

0 komentar

Disebutkan dalam riwayat bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ بَدَأَ الْكَلامَ قَبْلَ السَّلامِ فَلا تُجِيبُوهُ
Barangsiapa yang memulai pembicaraan sebelum salam, maka jangan kalian menjawabnya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim[1] dalam Hilyatul-Auliyaa’ 8/199 dan Ibnus-Sunniy[2] dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah hal. 109-110 no. 214; semuanya dari jalan Baqiyyah bin Al-Waliid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Rawwaad, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaajhu ‘alaihi wa sallam : “.......(al-hadits).....”.

Ushuulus-Sunnah lil-Imaam Ahmad bin Hanbal (4) – Bid’ah

2 komentar

c.      Macam-Macam Bid’ah
Bid’ah bermacam-macam ditinjau dari beberapa sisi.
Bid’ah ditinjau dari tempat terjadinya terdiri dari:
1.      Bid’ah keyakinan (i’tiqadiyyah).
Yaitu bid’ah yang terjadi pada keyakinan seseorang. Maksudnya, jika orang tersebut meyakini sesuatu yang menyelisihi ajaran yang dibawa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti bid’ahnya Khawaarij dalam keyakinan mereka yang mengkafirkan para pelaku dosa besar dari kaum muslimin, bid’ahnya Murji’ah dalam keyakinan mereka yang menyamakan kualitas keimanan antara pelaku maksiat dengan orang yang shalih bahkan dengan para nabi dan malaikat, bid’ahnya sebagian orang Shufi ekstrim dalam keyakinan mereka bahwa kedudukan wali lebih tinggi dari para Nabi, dan yang lainnya.

Dosa yang Diampuni Ketika Orang Kafir Masuk Islam

0 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya tentang orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam, apakah masih tersisa dosa padanya setelah masuk Islam?. Beliau rahimahullah menjawab:
إذا أسلم باطنا وظاهرا غفر له الكفر الذى تاب منه بالاسلام بلا نزاع وأما الذنوب التى لم يتب منها مثل أن يكن مصرا على ذنب أو ظلم أو فاحشة ولم يتب منها بالاسلام فقد قال بعض الناس إنه يغفر له بالاسلام والصحيح أنه إنما يغفر له ما تاب منه كما ثبت فى الصحيح عن النبى أنه قيل أنؤاخذ بما عملنا فى الجاهلية فقال من أحسن فى الاسلام لم يؤاخذ بما عمل فى الجاهلية ومن أساء فى الاسلام أخذ بالأول والآخر

Tauhid Rubuubiyyah dan Tauhid Uluuhiyyah Menurut Taqiyyudiin Al-Maqriiziy Asy-Syaafi’iy

0 komentar

Taqiyyuddiin Al-Maqriiziy namanya adalah Ahmad bin ‘Aliy bin ‘Abdil-Qaadir bin Muhammad bin Ibraahiim Al-Husainiy Al-‘Ubaidiy Al-Ba’liy Al-Qaahiriy, Abul-‘Abbaas. Ia seorang imam yang unggul ilmunya, mutqin, dlaabith, ahli sejarah, dan ahli hadits. Lahir tahun 766 H di Mesir, dan wafat tahun 845 H. Dalam kitabnya yang berjudul Tajriidut-Tauhiid Al-Mufiid, ia menjelaskan tentang tauhid dan syirik. Diantara yang beliau katakan adalah:
اعلم أن الله سبحانه رب كل شيء ومالكه وإلههُ.
فالرب مصدر ربُّ يرَبُّ ربّاً فهو رابٌّ : فمعنى قوله تعالى : {رَبِّ الْعَالَمِينَ} رابِّ العالمين ، فإن الرب سبحانه وتعالى هو الخالق الموجد لعباده ، القائم بتربيتهم وإصلاحهم من خَلقٍ ورزقٍ وعافية وإصلاح دين ودنيا .
والإلهية كون العباد يتخذونه سبحانه محبوباً مألوهاً ويفردونه بالحب والخوف والرجاء والإخبات والتوبة والنذر والطاعة والطلب والتوكل ، ونحو هذه الأشياء . فإن التوحيد حقيقته أن ترى الأمور كلها من الله تعالى رؤية تقطع الالتفات إلى الأسباب والوسائط.

‘Aliy Berbaiat dan Ridlaa terhadap Kekhalifahan Abu Bakr, ‘Umar, dan 'Utsmaan radliyallaahu ‘anhum (2)

0 komentar

Al-Balaadzuriy rahimahullah berkata:
حَدَّثَنِي رَوْحُ بْنُ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ، عَنْ أَبِي عَوَانَةَ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، أَنَّ عَلِيًّا أَتَاهُمْ عَائِدًا، فَقَالَ: " مَا لَقِيَ أَحَدٌ هَذِه الأُمَّةَ مَا لَقِيتُ، تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَحَقُّ النَّاسِ بِهَذَا الأَمْرِ، فَبَايَعَ النَّاسُ أَبَا بَكْرٍ، فَاسْتَخْلَفَ عُمَرَ، فَبَايَعْتُ وَرَضِيتُ وَسَلَّمْتُ، ثُمَّ بَايَعَ النَّاسُ عُثْمَانَ، فَبَايَعْتُ وَسَلَّمْتُ وَرَضِيتُ، وَهُمُ الآنَ يَمِيلُونَ بَيْنِي وَبَيْنَ مُعَاوِيَةَ "
Telah menceritakan kepadaku Rauh bin ‘Abdil-Mu’min, dari Abu ‘Awaanah, dari Khaalid Al-Hadzdzaa’, dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Bakrah : Bahwasannya ‘Aliy pernah datang menjenguk mereka, lalu berkata : “Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mengalami seperti yang aku alami. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat sedangkan aku adalah orang yang paling berhak dalam urusan ini. Lalu orang-orang membaiat Abu Bakr, kemudian ‘Umar menggantikannya. Lalu aku pun berbaiat (kepadanya), merasa ridlaa, dan menerimanya. Kemudian orang-orang membaiat ‘Utsmaan, lalu aku juga berbaiat (kepadanya), merasa ridlaa, dan menerimanya. Dan sekarang mereka cenderung antara aku dan Mu’aawiyyah” [Ansaabul-Asyraf, 2/402].