Wajib Mencari Ilmu (Ilmu Apa ?)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah

طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Mencari ilmu itu fardlu (wajib) atas setiap orang muslim” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-‘Ilal].[1]

Mushannif (Ibnul-Jauzy) berkata : “Orang-orang saling berbeda pendapat tentang ilmu yang diwajibkan ini”.

Para fuqahaa mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu fiqh. Karena dengan ilmu ini bisa diketahui mana yang halal dan mana yang haram.

Para mufassir (ahli tafsir) dan muhaddits (ahli hadits) mengatakan, bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Karena dengan keduanya seseorang bisa mencapai semua cabang ilmu.

Orang-orang sufi mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu ikhlash dan ujian-ujian jiwa.

Para mutakallimin (ahli kalam – teolog) berkata, bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu kalam (teologi).

Begitu seterusnya. Masing-masing pihak mengeluarkan pernyataan yang sama sekali tidak memuaskan. Yang benar adalah ilmu muamalah hamba dengan Rabb-nya. Muamalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam : Keyakinan, perbuatan, dan apa yang harus ditinggalkan.

Jika seorang anak sudah baligh, maka pertama-tama yang harus dipelajari adalah dua kalimat syahadat dan memahami maknanya, sekalipun pemahaman ini tidak harus dengan penelaahan dan pernyataan dalil. Sebab Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam hanya meminta pemenaran dari orang-orang Arab yang bodoh, tanpa menuntut mereka untuk mempelajari dalil (terlebih dahulu). Tapi yang pasti, hal ini hanya dikaitkan dengan waktu. Setelah itu, dia tetap dituntut untuk menelaah dan mengetahui dalil.

Jika sudah tiba waktunya untuk mendirikan shalat, maka dia harus mempelajari cara bersuci (thaharah) dan shalat. Jika tiba bulan Ramadlan, dia harus mempelajari puasa. Jika dia mempunyai harta benda dan waktunya telah mencapai satu tahun (haul), maka dia harus mempelajari masalah zakat. Jika tiba musim haji dan memungkinkan baginya untuk pergi berhaji, maka dia harus mempelajari manasik haji dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan haji.

Tentang hal-hal yang harus ditinggalkan, maka tergantung kondisinya. Sebab tidak mungkin orang yang buta bisa mempelajari apa yang tidak mungkin dia lihat, dan orang bisu tidak mungkin bisa mengucapkan apa yang memang tidak bisa dia ucapkan. Jika di suatu negara ada kebiasaan minum khamr dan mengenakan pakaian sutera, maka dia wajib mengetahui pengharaman ini dua hal ini.

Tentang keyakinan, maka harus diketahui dan dipelajari berdasarkan sentuhan rasa. Jika terbetik suatu perasaan yang meragukan makna-makna yang ditunjukkan dua kalimat syahadat, maka dia harus mengetahui apa yang bisa membuatnya mengenyahkan keragu-raguan itu. Jika dia berada di suatu negeri yang banyak bid’ahnya, maka dia harus mencari mana yang haq, sebagaimana seorang pedagang yang di sekitarnya memasyarakatkan praktek riba, maka dia harus mempelajari bagaimana cara mewaspadai riba tersebut.

Anak itu juga harus mempelajari iman kepada hari berbangkit, surga dan neraka.

Dari penjelasan ini jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ilmu yang harus dicari adalah yang termasuk dalam fardlu ‘ain, atau apa yang memang berkait dengan diri seseorang.

Sedangkan yang termasuk fardlu kifayah adalah setiap ilmu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup di dunia, seperti ilmu kedokteran. Sebab ilmu ini sangat penting dan diperlukan untuk menjaga kesehatan badan. Begitu pula ilmu hitung, yang sangat dibutuhkan untuk membagi harta warisan, wasiat, dan lainnya.

Jika penduduk suatu negeri tidak ada yang mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu semacam ini, maka mereka semua adalah orang-orang yang berdosa. Tapi jika sudah ada seseorang atau dua orang yang menguasainya, maka kewajiban menjadi gugur bagi yang lain.

Jika kita katakan, ilmu kedokteran dan ilmu hitung termasuk fardlu kifayah, maka tidak heran jika kita katakan dasar-dasar ilmu ketrampilan juga termasuk fardlu kifayah, seperti ilmu pertanian, jahit menjahit, bahkan juga ilmu membekam. Jika suatu negeri tidak ada yang menguasai ilmu membekam, tentu banyak di antara mereka yang binasa. Sesungguhnya yang menurunkan penyakit, juga menurunkan obatnya, lalu memberi petunjuk cara penggunaannya. Sedangkan pendalaman lebih jauh dalam ilmu hitung dan spesialisasi dalam ilmu kedokteran, maka ini termasuk keutamaan. Karena memang hal ini juga dibutuhkan.

Adakalanya sebagian ilmu hukumnya mubah, seperti ilmu sya’ir yang tidak melemahkan pikiran, ilmu sejarah, dan lain-lain. Adakalanya sebagian ilmu itu tercela, seperti ilmu sihir, sulap, dan ilmu untuk memalsu. Sedangkan ilmu syar’iyyah, semuanya terpuji, yang bisa dibagi menjadi empat macam, yaitu ushul, furu’, muqaddimaat, dan mutammimaat.

1. Ilmu ushul (dasar), yaitu Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ijma’ umat, dan atsar shahabat.

2. Ilmu furu’ (cabang), yaitu apa yang dipahami dari dasar-dasar ini, berupa berbagai pengertian yang memberikan sinyal kepada akal, hingga dapat memahami apa yang seharusnya dipahami, seperti pengertian yang diambil dari sanda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا يقضي القاضي وهو غضبان

”Hakim tidak boleh membuat keputusan selagi dia dalam keadaan marah”[2]; yang berarti juga dia tidak boleh membuat keputusan hukum selagi dalam keadaan lapar.

3. Ilmu muqaddimaat (pengantar), yaitu ilmu yang berfungsi sebagaimana alat, seperti ilmu nahwu dan ilmu bahasa, yang menjadi alat untuk memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ‘alaihish-shalaatu was-salaam.

4. Ilmu mutammimaat (pelengkap), seperti ilmu membaca, makhraj huruf, ilmu tentang nama-nama rijal hadits, keadilan dan keadaan mereka. Semua ini disebut ilmu syar’iyah dan semuanya terpuji.

[Mukhtashar Minhaajil-Qaashidin, hal. 19-21].



[1] Diriwayatkan juga oleh Ibnu Maajah no. 224. As-Sakhaawiy dalam Al-Maqaashidul-Hasanah (hal. 282) berkata : “Dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Al-‘Ilm dari hadits Hafsh bin Sulaimaan, sedangkan Hafsh ini sangat lemah (dla’iif jiddan). Bahkan sebagian ulama menuduhnya telah berdusta dan memalsukan hadits. Dikatakan dari Ahmad bahwa ia menjustifikasi Hafsh shaalih.

Saya (Abul-Jauzaa’) berkata : Hadits ini telah diperselisihkan oleh para ulama tentang keshahihannya. Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih Al-Jaami’ no. 3913.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6739, Muslim no. 1717, Abu Dawud no. 3588, An-Nasaa’iy 8/237-238, At-Tirmidziy no. 1334, Ibnu Maajah no. 2316, Ahmad 5/36-38, Al-Baihaqiy 10/105, dan yang lainnya.

Baca Selengkapnya...“Wajib Mencari Ilmu (Ilmu Apa ?)”  »»

Hadits ‘Ajn – Takhrij Singkat

Bahasan ‘ajn di sini maksudnya adalah bahasan mengenai sifat telapak tangan saat bangun dari sujud. Ibnul-Atsiir rahimahullah berkata saat menyebutkan hadits Ibnu ‘Umar tentang ‘ajn dalam shalat :

أي : يَعْتَمِدُ على يَديه إذا قام، كما يَفْعَلُ الذي يَعْجِنُ الْعَجِينَ.

“Yaitu yaitu bertelekan dengan kedua tangannya jika berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan” [An-Nihaayah, hal. 595; taqdim ‘Aliy Al-Halabiy, Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1421. Lihat juga Lisaanul-‘Arab, hal 2829, tahqiq ‘Abdullah bin ‘Aliy Al-Kabiir, dkk.; Daarul-Ma’aarif].

Ibnu Mandhur rahimahullah berkata :

وَالْعاجِنُ مِنَ الرِّجالِ : الْمُعْتَمِدُ عَلَى الأَرْضِ بِجِمْعِهِ إِذَا أَرادَ النُّهُوضَ مِنْ كِبَر أَوْ بُدْنٍ.

“Seseorang yang melakukan ‘ajn adalah seorang yang bertelekan di atas bumi dengan mengepalkan (menggenggam telapak tangannya) saat hendak bangkit baik karena tua maupun gemuk” [Lisaanul-‘Arab, hal. 2829].

Langsung aja ya….

Hadits yang menjadi dasar dilakukannya ‘ajn saat bangkit dari sujud (untuk berdiri) ketika shalat adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy sebagai berikut :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ الله بن عُمَرَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بنُ بُكَيْر، عَنِ الْهَيْثَمِ، عَنْ عَطِيَّةَ بنِ قَيْسٍ، عَنِ الْأَزْرَق بنِ قَيْسٍ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَعْجِنُ فِي الصَّلَاةِ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ. فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ يَفْعَلُهُ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin Bukair, dari Al-Haitsam, dari ‘Athiyyah bin Qais, dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn saat shalat ketika hendak berdiri. Aku bertanya kepadanya (mengenai hal tersebut), dan ia menjawab : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya” [Ghariibul-Hadiits oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy, hal. 525, tahqiq : Dr. Sulaimaan bin Ibraahiim Al-‘Aayid; Cet. 1/1405].

Pembahasan sanad :

‘Ubaidullah bin ‘Umar. Ia adalah ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maisarah Al-Jusyamiy, Abu Sa’iid Al-Bashriy. Wafat tahun 235 H. Termasuk rijaal Al-Bukhariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Ibnu Sa’d berkata : “Seorang yang tsiqah, mempunyai banyak hadits”. Abu Haatim berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah, tsabt” [Selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal 19/130-136 dan At-Taqriib, hal. 643 no. 4354].

Yuunus bin Bukair. Ia adalah Yuunus bin Bukair bin Waashil Asy-Syaibaaniy, Abu Bakr Al-Hammaal Al-Kuufiy. Wafat tahun 199 H. Al-Bukhariy membawakan haditsnya dalam mu’allaqah dan Muslim dalam syawaahid. Yahyaa bin Ma’in dalam riwayat Ad-Duuriy berkata : “Tsiqah”. Dalam lain riwayat : “Seorang yang jujur (shaduuq), namun tunduk pada sulthan. Ia juga seorang Murji’ (penganut Murji’ah)”.[1] Abu Dawud berkata : “Ia bukan hujjah di sisiku. Ia telah mengambil perkataan Ibnu Ishaaq, lalu menyambungkannya dengan hadits-hadits”. Abu Zur’ah pernah ditanya tentang hal yang diingkari darinya (Yuunus), lalu ia menjawab : “Adapun dalam hadits, aku tidak mengetahuinya”. Abu Haatim berkata : “Tempat kejujuran”. An-Nasa’iy berkata : “Tidak kuat”. Ibnu Hibbaan dan ‘Ijilliy memasukkannya dalam kitab AtsTsiqaat. Namun Al-‘Ijilliy menambahkan bahwa ia menurut Ja’far bin Barmak adalah seorang yang dla’iiful-hadiits. Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair berkata : “Tsiqah”. ‘Ubaid bin Ya’iisy berkata : “Tsiqah’. Ibnu ‘Ammaar berkata : “Dia sekarang ini seorang yang tsiqah menurut ahli hadits”. As-Saajiy berkata : “Ibnu Al-Madiiniy tidak meriwayatkan hadits darinya, dan ia di kalangan mereka termasuk ahlush-shidq”. Ibnu Syaahiin berkata : “Tsiqah, namun ia berpemahaman tasyayyu’”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku menulis (hadits) darinya”. Adz-Dzahabiy berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Hasanul-hadiits”. Ibnu Hajar berkata : “Jujur, terkadang salah” [selengkapnya, silakan lihat Tahdziibul-Kamaal 32/493-497, Ma’rifatuts-Tsiqaat lil-‘Ijilliy 2/377, Man Tukullima fiihi Wahuwa Muwatstsaqun Au Shaalihul-Hadiits no. 392, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 1098 no. 7957].

Melihat beberapa perkataan para imam jarh dan ta’dil di atas, maka perkataan yang benar atas diri Yuunus bin Bukair adalah shaduuq. Sedikit kelemahan padanya tidak menurunkan dari derajat hasan. Mayoritas jarh yang dialamatkan tidaklah dijelaskan sebabnya. Adapun jarh Abu Dawud, maka di sini ia tidak meriwayatkan dari Ibnu Ishaaq, namun dari Al-Haitsam. Jarh dalam bid’ah tasyayyu’ dan irja’ tidak memudlaratkan haditsnya, karena ia seorang yang jujur dan tidak membawakan hadits yang menguatkan bid’ahnya. Wallaahu a’lam.

Al-Haitsam. Ia adalah Ibnu ‘Imraan Al-‘Absiy. Ibnu Hibbaan menyebutkan sedikit biografinya dalam Ats-Tsiqaat (7/577). Abu Haatim juga menuliskannya dalam Al-Jarh wat-Ta’diil (8/82-83) dan ia abstain tanpa memberikan jarh ataupun ta’dil. Telah meriwayatkan darinya beberapa orang yaitu :

a. Muhammad bin Wahb bin ‘Athiyyah (Ad-Daaruquthniy : tsiqah; Ibnu Hajar : shaduuq).

b. Hisyaam bin ‘Ammaar (Ibnu Ma’iin : tsiqah; Ad-Daaruquthniy : shaduuq; Ibnu Hajar : Shaduuq).

c. Sulaimaan bin Syurahbiil (-)[2].

d. Al-Haitsam bin Khaarijah (Ibnu Ma’iin berkata : tsiqah; Abu Haatim berkata : shaduuq).

e. Yuunus bin Bukair (shaduuq).

Dengan adanya periwayatan sejumlah perawi tsiqah darinya, maka riwayat Al-Haitsam bin ‘Imraan dapat diterima dan dipakai sebagai hujjah. Ibnu Abi Haatim berkata : “Aku pernah bertanya kepada ayahku mengenai riwayat para perawi tsiqaat dari seorang yang tidak tsiqah, apakah itu termasuk hal yang menguatkannya ?”. Ayahku (Abi Haatim) berkata : “Apabila ia dikenal (ma’ruf) dengan ke-dla’if-annya, maka hal itu tidak dapat menguatkan riwayatnya itu darinya. Namun jika ia seorang perawi majhul, maka hal itu bermanfaat (menguatkan) baginya atas riwayat para perawi tsiqat tersebut darinya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 1/1/36].

‘Athiyyah bin Qais Al-Kilaabiy, Abu Yahyaa Al-Himshiy. Wafat tahun 121 H. Termasuk rijaal Muslim dalam Shahih-nya. Abu Haatim berkata : “Shaalihul-hadiits”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah muqri’” [lihat selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib 7/228 no. 419, Ats-Tsiqaat 5/260, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 681 no. 4655].

Al-Azraq bin Qais. Termasuk rijaal Al-Bukhariy. Wafat tahun 121 H. An-Nasaa’iy berkata : “Tsiqah”. Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah, insya Allah”. Ibnu Ma’in bekata : “Tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Shaalihul-hadiits”. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal , 2/318-319].

Hadits di atas juga dibawakan oleh Al-Baihaqiy dari jalan Hammad bin Salamah, dari Al-Azraq bin Qais sebagai berikut :

أخبرنا أبو النصر بن قتادة أنبأ أبو محمد أحمد بن إسحاق بن شيبان بن البغدادي بهراة أنبأ معاذ بن نجده ثنا كامل بن طلحة ثنا حماد هو بن سلمة عن الأزرق بن قيس قال رأيت بن عمر إذا قام من الركعتين اعتمد على الأرض بيديه فقلت لولده ولجلسائه لعله يفعل هذا من الكبر قالوا لا ولكن هذا يكون

Telah mengkhabarkan kepada kami Abun-Nashr bin Qataadah : Telah memberitakan Abu Muhammad Ahmad bin Ishaaq bin Syaibaan bin Al-Baghdaadiy di Hurraah : Telah memberitakan Mu’aadz bin Najdah : Telah menceritakan kepada kami Kaamil bin Thalhah : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Al-Azraq bin Qais, ia berkata : Aku melihat Ibnu ‘Umar jika berdiri dari dua raka’at bertelekan di bumi dengan dua tangannya. Aku bertanya kepada anaknya dan kawan-kawan duduknya, barangkali beliau (Ibnu Umar) melakukannya karena ketuaannya? Mereka menjawab : ‘Tidak, tetapi demikianlah keadaannya” [As-Sunananul-Kubraa 2/135. Berkata Syaikh Al-Albani : “Sanad hadits ini jayyid dan rawi-rawinya terpercaya/tsiqaat].

Padanya tidak terdapat kata ‘ajn, namun dengan kata ‘bertelekan’. Dua kata ini tidak bertentangan, karena ‘bertelekan’ lebih umum daripada ‘ajn.

Kesimpulan : Hadits ‘ajn adalah hasan, sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Adl-Dla’iifah 2/392.

Wallaahu a’lam.

Semoga tulisan ringkas dan sederhana ini ada manfaatnya ……. Sebagai pembanding, silakan baca buku Juz’u Kaifiyyatin-Nuhuudl fish-Shalaah wa Dla’fi Hadiits Al-‘Ajn karya Asy-Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid rahimahullah yang kesimpulan akhirnya berbeda dengan tulisan ini.

[abul-jauzaa’, diselesaiken malem ahad 6 Pebruari 2010 jam 10.28, http://abul-jauzaa.blogspot.com].



[1] Dalam riwayat Ad-Daarimiy, Yahya berkata : “Tsiqah”. Di lain tempat ia berkata : “Laa ba’sa bihi”.

[2] Belum saya ketemukan biografinya.

Baca Selengkapnya...“Hadits ‘Ajn – Takhrij Singkat”  »»

Bolehkah Anak Kecil (Laki-Laki) dan Waria Masuk Ikut Berbaur di Majelis Para Wanita ?

Allah ta’ala berfirman :

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita….” [QS. An-Nuur : 31].

Al-Imaam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

وقوله: { أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ } يعني: لصغرهم لا يفهمون أحوال النساء وعوراتهنّ من كلامهن الرخيم، وتعطفهن في المشية وحركاتهن، فإذا كان الطفل صغيرًا لا يفهم ذلك، فلا بأس بدخوله على النساء .فأما إن كان مراهقا أو قريبا منه، بحيث يعرف ذلك ويدريه، ويفرق بين الشوهاء والحسناء، فلا يمكن من الدخول على النساء

Dan firman-Nya : ‘atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita’ ; yaitu dikarenakan mereka masih kecil sehingga tidak memahami seluk-beluk tentang wanita dan auratnya, seperti : perkataan mereka yang lembut, gerakan mereka yang lemah gemulai, dan tingkah laku lainnya. Jika anak itu masih kecil yang tidak memahami itu semua, maka tidak mengapa jika ia masuk dalam (majelis) para wanita. Namun jika anak itu sudah mendekati baligh dan dapat memahami dan membedakan antara wanita yang jelek dan cantik, maka tidak diperbolehkan ia masuk di (majelis) para wanita” [Tafsir Ibni Katsiir, 6/49].

Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq Afifir rahimahullah berkata tentang makna firman Allah : ‘atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita’ (QS. An-Nuur : 31) : “Yaitu anak kecil yang belum mumayyiz yang belum paham dan belum dapat membedakan mana yang cantik dan mana yang jelek, tidak mengetahui apa yang terlihat buruk dari seorang wanita dan apa yang terlihat menarik. Biasanya anak seperti ini adalah anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun” [selesai].

Adapun waria (banci), mari kita perhatikan hadits berikut :

عن أم سلمة؛ أن مخنثا كان عندها ورسول الله صلى الله عليه وسلم في البيت. فقال لأخي أم سلمة: يا عبدالله بن أبي أمية! إن فتح الله عليكم الطائف غدا، فإني أدلك على بنت غيلان. فإنها تقبل بأربع وتدبر بثمان. قال فسمعه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال "لا يدخل هؤلاء عليكم".

Dari Ummu Salamah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam pernah berada di rumah (Ummu Salamah) yang saat itu ada seorang waria (banci) di dekatnya. Maka waria itu berkata kepada saudara laki-laki Ummu Salamah : “Wahai ‘Abdullah bin Abi Umayyah, apabila Allah memenangkan untuk kalian Thaaif esok hari, maka aku akan tunjukkan pada kalian anak perempuan Ghailaan[1]. Ia menghadap dengan empat (lipatan perutnya – karena gemuk), dan membelakangi dengan delapan lipatan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun mendengar itu dan bersabda : “Jangan biarkan mereka masuk ke rumah kalian !” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4324, Muslim no. 2180, dan Ahmad 6/290.

عن عائشة. قالت: كان يدخل على أزواج النبي صلى الله عليه وسلم مخنث. فكانوا يعدونه من غير أولى الإربة. قال فدخل النبي صلى الله عليه وسلم يوما وهو عند بعض نسائه. وهو ينعت امرأة. قال: إذا أقبلت أقبلت بأربع. وإذا أدبرت أدبرت بثمان. فقال النبي صلى الله عليه وسلم "ألا أرى هذا يعرف ما ههنا. لا يدخلن عليكن" قالت فحجبوه.

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Pernah ada seorang waria (banci) yang diperbolehkan masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena dianggap mereka tidak punya nafsu syahwat (terhadap wanita). Pada suatu hari, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk dimana ia (waria tersebut) berada di antara istri-istri beliau sedang menceritakan fisik seorang wanita. Ia berkata : “Jika ia menghadap, maka ia menghadap dengan empat (lipatan perut). Dan jika membelakangi, maka ia membelakangi dengan delapan (lipatan). Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidakkah engkau lihat bahwa ia mengetahui tentang apa yang di sini. Jangan biarkan ia masuk ke rumah kalian”. Setelah itu, para istri beliau berhijab dari mereka (para waria)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2181, Ahmad 6/152, Abu Dawud no. 4108, dan An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 9247].

Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :

ففيه منع المخنث من الدخول على النساء ومنعهن من الظهور عليه

“Hadits ini menunjukkan larangan memasukkan waria (banci) ke majelis para wanita dan larangan para wanita untuk menampakkan diri di hadapannya (waria)”.

Setelah itu beliau melanjutkan penjelasan tentang jenis waria (banci) :

قال العلماء: المخنث ضربان أحدهما من خلق كذلك ولم يتكلف التخلق بأخلاق النساء وزيهن وكلامهن وحركاتهن بل هو خلقة خلقه الله عليها هذا لا ذم عليه ولا عتب ولا إثم ولا عقوبة لأنه معذور لا صنع له في ذلك ولهذا لم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم أولاً دخوله على النساء ولا خلقه الذي هو عليه حين كان من أصل خلقته وإنما أنكر عليه بعد ذلك معرفته لأوصاف النساء ولم ينكر صفته وكونه مخنثاً. الضرب الثاني من المخنث هو من لم يكن له ذلك خلقة بل يتكلف أخلاق النساء وحركاتهن وهيآتهن وكلامهن ويتزيا بزيهن، فهذا هو المذموم الذي جاء في الأحاديث الصحيحة لعنه وهو بمعنى الحديث الاَخر: (لعن الله المتشبهات من النساء بالرجال والمتشبهين بالنساء من الرجال) ......

“Para ulama berkata : Waria (banci) ada dua macam. Pertama, bawaan lahir tidak meniru-niru berbuat, berhias, dan berhias seperti wanita. Bahkan ia adalah satu pembawaan yang Allah ciptakan padanya. Jenis seperti ini tidak dicela dan tidak berdoa, karena ia diberi udzur dan ia tidak membuat-buat hal itu atas dirinya. Oleh karena itu, pada awalnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari masuknya mereka di majelis para wanita (sebagaimana hadits di atas) dan tidak pula mengingkari tingkah laku/pembawaan yang ada pada mereka sejak lahir. Beliau hanya mengingkari keberadaan mereka setelah mengetahui mereka menyifati sifat fisik para wanita, tidak pada keberadaan sifat dan keadaan diri mereka yang waria. Kedua, waria (banci) yang dibuat-buat (bukan bawaan lahir) yang mereka itu bertingkah laku meniru wanita dalam berbuat, berhias, dan berhias. Jenis inilah yang tercela sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits shahih yang melaknatnya, seperti hadits : ‘Allah telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’….. [Syarah Shahih Muslim, 7/388].

Jadi, walaupun waria (banci) tersebut merupakan jenis pertama, mereka tetap tidak diperbolehkan masuk ke kalangan wanita karena mereka dihukumi seperti laki-laki. Para wanita tetap wajib berhijab di depan mereka seperti yang dilakukan Ummahatul-Mukminiin.

Wallaahu a’lam.

Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya.

[abu al-jauzaa’ al-bogoriy, perumahan ciomas permai, 00.22, http://abul-jauzaa.blogspot.com].



[1] Ia adalah Hammad bin Salamah, tokoh Thaaif yang mempunyai sepuluh istri, masuk Islam, lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menceraikan istrinya dan menyisakan empat orang. Adapun anak perempuannya adalah wanita paling cantik di Thaif.

Baca Selengkapnya...“Bolehkah Anak Kecil (Laki-Laki) dan Waria Masuk Ikut Berbaur di Majelis Para Wanita ?”  »»

Hukum Tasmiyyah (Membaca Basmalah) Ketika Berwudlu’

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُر اسْمَ اللهِ عَلَِيْهِ.

“Tidak ada (kesempurnaan) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya”.

Diriwayatkan oleh Ahmad 3/41, Ibnu Abi Syaibah 1/1-2, Abu Ya’laa no. 1060, Ibnu Maajah no. 397, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 3/173, Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/147, Al-Baihaqiy 1/43, Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 26, dan Ibnul-Jauziy dalam At-Tahqiiq fii Ahaaditsil-Khilaaf 1/137; dari jalan Zaid Hubbaab.

Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid no. 910, Ad-Daarimiy no. 691, Ibnu Maajah no. 397, Ad-Daaruquthniy 1/71, dan Ibnul-Jauziy; dari jalan Abu ‘Aamir Al-‘Aqadiy.

Diriwayatkan oleh Ahmad 3/41, Abu Ya’laa no. 1221, At-Tirmidziy dalam Al-‘Ilal 1/112-113, Ibnu Maajah no. 397, Ibnul-Jauziy dalam Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyyah no. 552 dan At-Tahqiiq 1/137; dari jalan Abu Ahmad Az-Zubairiy.

Ketiganya (Zaid bin Hubbaab, Abu ‘Aamir, dan Abu Ahmad) dari Katsiir bin Zaid, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Rubaih bin ‘Abdirrahmaan bin Abi Sa’iid Al-Khudriy, dari ayahnya, dari kakeknya Abu Sa’iid secara marfuu’.

Hadits ini lemah karena Rubaih bin ‘Abdirrahmaan dan Katsiir bin Zaid.

Tentang Rubaih bin ‘Abdirrahmaan, berikut sebagian perkataan ulama tentangnya :

Al-Bukhaariy berkata : “Munkarul-hadiits”. Ahmad berkata : “Bukan seorang yang dikenal (laisa bi-ma’ruuf)”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Aku harap tidak mengapa dengannya”. Abu Zur’ah berkata : “Syaikh”. Ibnu Hajar berkata : “Maqbuul”.

Adapun Katsiir bin Zaid, berikut perkataan sebagian perkataan ulama tentangnya :

Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Abu Haatim berkata : “Jujur, tidak kuat, namun ditulis haditsnya”. Abu Zur’ah berkata : “Jujur, padanya ada kelemahan”. Muhammad bin ‘Abdillah Al-Muushiliy berkata : “Tsiqah”. Ibnu Hajar berkata : Jujur, terkadang salah”.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوْءَ لَهُ، وَلَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.

“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudlu, dan tidak ada (kesempurnaan) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya”.

Diriwayatkan oleh Ahmad 2/418, Abu Dawud no. 101, At-Tirmidziy dalam Al-‘Ilal 1/111, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 8076, Ad-Daaruquthniy 1/79, Al-Haakim 1/146, Al-Baihaqiy 1/41 & 43, Al-Mizziy 11/332-333, dan Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 209; dari Qutaibah bin Sa’iid.

Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa no. 6409, Ibnu Maajah no. 399, dan Ad-Daaruquthniy 1.79; dari Ibnu Abi Fudaik.

Keduanya (Qutaibah bin Sa’iid dan Ibnu Abi Fudaik) dari Muhammad bin Muusaa, dari Ya’quub bin Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu’.

Jalan riwayat ini lemah karena tiga sebab, yaitu :

Pertama, Ya’quub bin Salamah seorang yang majhuul haal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar.

Kedua, jahalah dari ayahnya (Salamah bin Al-Laitsiy). Al-Mundziriy berkata : “Salamah tidaklah diketahui. Tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali anaknya yang bernama Ya’quub”. Selain itu, ia juga seorang yang layyinul-hadiits, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar. Adz-Dzahabiy berkata : “Laisa bi-hujjah”.

Ketiga, keterputusan (inqithaa’) antara Ya’quub dengan ayahnya, dan antara ayahnya (Salamah) dengan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu; sebagaimana dikatakan Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/76.

Hadits Abu Hurairah ini juga mempunyai jalan lain, yaitu dari Mahmuud bin Muhammad Abu Yaziid Adh-Dhafariy, dari Ayyuub bin An-Najaar, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah secara marfuu’; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy 1/71 dan Al-Baihaqiy 1/44. Namun riwayat ini juga lemah karena Mahmuud bin Muhammad Adh-Dhafariy. Al-Haafidh berkata dalam At-Talkhiishul-Habiir 1/251 : “Dan Mahmuud bukan seorang yang kuat. Sedangkan Ayyuub bin An-Najaar meskipun ia tsiqah, namun ia seorang mudallis, dan di sini ia membawakan dengan ‘an’anah”.

Dari Sa’iid bin Zaid radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُر اسْمَ اللهِ عَلَِيْهِ.

“Tidak ada (kesempurnaan) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya”.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 25, Ahmad 4/70 & 5/381-382 & 6/382, Ad-Daaruqthniy 1/72-73, Ibnu Abi Syaibah 1/2 & 4, Ibnul-Jauziy dalam Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyyah 1/336 no. 551, Al-‘Uqailiy 1/77, dan Al-Baihaqiy 1/43; dari ‘Abdurrahmaan bin Harmalah, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah bin ‘Abdirrahmaan bin Huwaithib, dari neneknya, dari ayahnya (Sa’iid bin Zaid), dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/27 dan Al-Haakim 4/60 dari jalan Sulaimaan bin Bilaal, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari neneknya, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Di sini tanpa menyebut ayah nenek Abu Tsiqaal (yaitu Sa’iid bin Zaid).

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy 1/27 dari jalan Ad-Daraawardiy, dari Ibnu Harmalah, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari Ibnu Tsaubaan, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh Ahmad 4/70, Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 9/46, At-Tirmidziy no. 26, dan Ibnu Maajah no. 398; dari Yaziid bin ‘Iyaadl, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari neneknya, dari ayahnya (Sa’iid bin Zaid), dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh Ath-Thayaalisiy no. 240 dari Al-Hasan bin Abi Ja’far, dari Abu Tsiqaal, dari Rabbaah, dari neneknya, dari ayahnya (Sa’iid bin Zaid), dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini lemah, karena berporos pada Abu Tsiqaal. Ia bernama Tsumaamah bin Waail bin Hushain. Ibnu Abi Haatim menyebutkannya dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 2/467, namun ia tidak memberikan jarh maupun ta’diil. Al-Bukhaariy berkata : “Abu Tsiqaal, dari Rabbaah bin ‘Abdirrahman. Haditsnya perlu dikritik (fii hadiitsihi nadhar)”.

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata :

كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - إذا توضأ فوضع يده في الإناء يسمي الله فيتوضأ ويسبغ الوضوء.

“Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berwudlu, beliau meletakkan tangannya di bejana dengan menyebut nama Allah, lalu berwudlu dan menyempurnakannya (sampai dengan selesai)”.

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 999, Ibnu Abi Syaibah 1/3, Al-Bazzaar 1/137 (Kasyful-Astaar), dan Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 2/616; semuanya dari jalan Haaritsah bin Muhammad, dari ‘Abdah, dari ‘Aaisyah.

Hadits ini lemah dikarenakan Haaritsah bin Abi Rijaal, seorang perawi yang disepakati kelemahan oleh para ahli hadits [lihat Tahdziibul-Kamaal, 5/313-316].

Dan masih banyak jalan yang lainnya.

Bagi yang menginginkan, silakan baca beberapa jalan hadits lain sebagaimana disebutkan disebutkan Ibnu Hajar dalam At-Talkhiishul-Habiir (1/250-257; Daarul-Kutub, Cet. 1/1419).

Jalan-jalan hadits yang semakna dengan hadits di atas tidak lepas dari kritikan atas kelemahannya. Namun secara keseluruhan, hadits tersebut adalah hasan lighairihi[1] dan dapat dipergunakan sebagai hujjah. Telah berkata Al-Haafidh Al-Mundziriy :

وفي الباب أحاديث كثيرة لا يسلم شيء منها من مقال وقد ذهب الحسن وإسحاق بن راهوية وأهل الظاهر إلى وجوب التسمية في الوضوء حتى أنه إذا تحمد تركها أعاد الوضوء وهو رواية عن الإمام أحمد ولا شك أن الأحاديث التي وردت ليها وإن كان لا يسلم شيء منها عن مقال فإنها تتعاضد بكثرة طرقها وتكتب قوة

“Dalam bab ini terdapat banyak hadits yang kesemuanya tidak luput dari pembicaraan. Al-Hasan, Ishaaq bin Raahawaih, dan ahludh-dhaahir berpendapat wajibnya tasmiiyah (membaca basmalah) ketika wudlu. Sampai-sampai mereka berpendapat jika ditinggalkan dengan sengaja wajib untuk mengulangi wudlunya. Ini adalah salah satu riwayat (yang ternukil) dari Al-Imam Ahmad. Tidak diragukan lagi bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan dalam masalah ini – meskipun tidak luput dari pembicaraan (tentang ke-dla’if-annya) – namun saling menguatkan satu dengan lainnya karena banyaknya jalan” [At-Targhiib wat-Tarhiib, 1/225].

Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata :

وَالظَّاهِرُ أَنَّ مَجْمُوعَ الْأَحَادِيثِ يَحْدُثُ مِنْهَا قُوَّةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ لَهُ أَصْلًا

“Dhahirnya, hadits-hadits ini secara keseluruhan saling menguatkan dan menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya” [At-Talkhiishul-Habiir, 1/257].

Ada hadits lain dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang tasmiyyah ini :

عن أنس قال نظر بعض أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وضوءا فلم يجدوا قال فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ها هنا ماء قال فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم وضع يده في الإناء الذي فيه الماء ثم قال توضؤوا بسم الله فرأيت الماء يفور يعني بين أصابعه والقوم يتوضؤون حتى توضؤوا عن آخرهم قال ثابت قلت لأنس كم تراهم كانوا قال نحوا من سبعين

Dari Anas, ia berkata : “Sebagian shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak berwudlu, namun mereka tidak mendapatkan air untuk itu. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Di sini ada air’. Aku melihat beliau meletakkan tangannya ke dalam sebuah bejana yang berisi air. Lalu beliau kembali bersabda : ‘Berwudlulah kalian dengan menyebut nama Allah (mengucapkan basmalah)’. Aku melihat air keluar di antara jari-jemari beliau. Orang-orang pun berwudlu hingga orang terakhir di antara mereka”. Tsaabit berkata : “Aku bertanya kepada Anas : ‘Berapa kamu melihat jumlah mereka’. Ia menjawab : ‘Sekitar tujuhpuluh orang”.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 20535, Abu Ya’laa no. 3036, Ahmad 3/165, An-Nasaa’iy no. 78, Ibnu Khuzaimah no. 144, Ibnu Hibbaan no. 6544, dan Ad-Daaruquthniy 1/71; semuanya dari jalan ‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, dari Qataadah dan Tsaabit (al-Bunaaniy), Anas radliyallaahu ‘anhu.

Para perawi hadits ini adalah tsiqah, namun ia mempunyai ‘illat tersembunyi.

Pertama; riwayat Ma’mar dari Tsaabit (Al-Bunaaniy) adalah lemah (dla’iif). ‘Ali bin Al-Madiniy berkata : “Dalam hadits Ma’mar dari Tsaabit adalah hadits-hadits gharib dan munkarah”. Al-‘Uqailiy berkata : “Mereka (para ulama) mengingkari hadits-hadits Ma’mar yang berasal dari Tsaabit”. Ibnu Abi Khaitsamah menyebutkan dari Yahyaa bin Ma’iin, bahwa ia berkata : “Hadits Ma’mar dari Tsaabit adalah goncang (mudltharib) dan banyak kelirunya” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 2/691].

Kedua; riwayat Ma’mar dari Qataadah juga lemah (dla’iif). Ibnu Rajab berkata : Telah berkata Ad-Daaruquthniy : ‘Ma’mar jelek hapalan haditsnya dari Qataadah dan Al-A’masy’. Yahyaa bin Ma’iin berkata : ‘Telah berkata Ma’mar : Aku duduk di hadapan Qataadah saat aku masih kecil. Aku tidak menghapal darinya sanad-sanad (hadits)” [idem, 2/698].

Ketiga, Ma’mar telah menyendiri dalam periwayatan tambahan lafadh ‘menyebut nama Allah (mengucapkan basmalah)’. Ia telah menyelisihi Sulaiman bin Al-Mughiirah, Hammaad bin Zaid, dan Hammaad bin Salamah yang ketiganya meriwayatkan dari Tsaabit, dari Anas tanpa ada lafadh tasmiyyah. Juga menyelisihi Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, Hammaam bin Yahyaa, Hisyaam bin Al-Dustuwaa’iy, dan Syu’bah bin Al-Hajjaaj; yang semuanya meriwayatkan dari Qataadah, dari Anas tanpa ada lafadh tasmiyyah.

Oleh karena itu, status hadits ini adalah munkar.

Ada hadits lain dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang tasmiyyah ini, yaitu hadits Jaabir yang panjang dimana disebutkan di dalamnya :

وقال "خذ. يا جابر! فصب علي. وقل: باسم الله" فصببت عليه وقلت: باسم الله. فرأيت الماء يفور من بين أصابع رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Dan beliau bersabda : “Ambillah wahai Jaabir dan tuangkan untukku. Ucapkanlah : ‘Bismillah”. Maka aku (Jaabir) lihat air mengalir di antara jari-jemari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 3013].

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah sebelum wudlu.

Ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafiyyah[2], Syaafi’iyyah[3], dan satu riwayat dari Ahmad[4].

Ada yang berpendapat bahwa ia termasuk dari keutamaan-keutamaan wudlu. Ini adalah pendapat masyhur dari madzhab Malikiyyah[5].

Ada yang berpendapat hukumnya mubah, dan ini merupakan satu pendapat dari madzhab Maalikiyyah.[6]

Ada yang berpendapat hukumnya makruh, dan ini satu pendapat dari Maalik (bin Anas).[7]

Ada yang berpendapat hukumnya wajib; namun jika lupa membacanya, gugur kewajiban tersebut dan sah wudlunya. Pendapat ini masyhur di kalangan ulama Hanabilah muta’akhkhirin.[8]

Ada yang berpendapat bahwa tasmiyyah termasuk syarat sahnya wudlu. Ini merupakan pendapat Dhahiriyyah, sebagaimana dikatakan oleh pengarang ‘Aunul-Ma’buud.[9]

Melihat dhahir dalil di atas, perintah untuk mengucapkan tasmiyyah adalah wajib selagi tidak ada dalil shahih dan sharih yang memalingkannya.

Para ulama yang berpendapat tidak wajibnya mengucapkan tasmiyyah menjawab bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat menyebutkan menyebutkan kewajiban wudlu pada seseorang yang buruk shalatnya, tidak menyebutkan tasmiyyah :

عن رفاعة بن رافع : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس في المسجد يوما قال رفاعة ونحن معه إذ جاءه رجل كالبدوي فصلى فأخف صلاته ثم انصرف فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم فقال النبي صلى الله عليه وسلم وعليك فارجع فصل فإنك لم تصل فرجع فصلى ثم جاء فسلم عليه فقال وعليك فارجع فصل فإنك لم تصل ففعل ذلك مرتين أو ثلاثا كل ذلك يأتي النبي صلى الله عليه وسلم فيسلم على النبي صلى الله عليه وسلم فيقول النبي صلى الله عليه وسلم وعليك فارجع فصل فإنك لم تصل فخاف الناس وكبر عليهم أن يكون من أخف صلاته لم يصل فقال الرجل في آخر ذلك فأرني وعلمني فإنما أنا بشر أصيب وأخطئ فقال أجل إذا قمت إلى الصلاة فتوضأ كما أمرك الله.....

Dari Rifaa’ah bin Raafi’ : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk di dalam masjid pada suatu hari. Pada waktu itu kamu bersama beliau ketika datang seorang laki-laki Baduwi kepada beliau. Ia lalu shalat dengan cepat. (Setelah selesai), lalu berpaling dan mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Hendaknya kamu kembali lalu ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat”. Ia pun mengulanginya sampai dua atau tiga kali, dimana setiap selesai shalat, ia mengucapkan salah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun menjawab : “Kembalilah lalu ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat”. Orang-orang menjadi khawatir dan menjadi besarlah perkara itu bagi mereka, bahwasannya barangsiapa yang paling cepat shalatnya, maka dianggap belum melakukan shalat. Orang tersebut berkata pada akhirnya : “Nasihatilah aku dan ajarkanlah kepadaku, karena aku hanyalah manusia yang kadang benar dan kadang pula salah”. Maka beliau bersabda : “Baiklah. Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, berwudlulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu….” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 302, Ath-Thayaalisiy no. 1469, Ahmad 4/340, Ad-Daarimiy no. 1335, Al-Bukhaariy dalam Al-Qiraa’atu Khalfal-Imaam no. 101 & 102 & 103 & 108 & 109 & 111 & 112, Abu Dawud no. 858 & 860-861, Ibnu Maajah no. 460, An-Nasaa’iy 2/20 & 2/193 & 3/59-60, Ibnu Khuzaimah no. 545 & 597 & 638, Ath-Thahaawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/232, Al-Haakim 1/243, Al-Baihaqiy 2/380, dan yang lainnya; semuanya dari jalan ‘Aliy bin Yahyaa bin Khallaad, dari ayahnya, dari Rifaa’ah secara marfu’ – kecuali riwayat Tirmidziy dimana ia membawakan tanpa menyebutkan ‘Aliy bin Yahyaa bin Khallaad. Ini adalah kekeliruan dari sebagian perawi At-Tirmidziy, wallaahu a’lam. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 4/340, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/232, dan Abu Dawud no. 857 & 859 dari jalan ‘Aliy bin Yahyaa bin Khallaad, dari Rifaa’ah. Hadits ini shahih].

Yang dimaksud dari sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “berwudlulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu” ; adalah firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ....

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” [QS. Al-Maaidah : 6].

Pada ayat tersebut tidak disebutkan tasmiyyah (saat berwudlu) sebagai satu perintah dari Allah ta’ala [Al-Majmuu’ oleh An-Nawawiy, 1/346].

Dan dalam riwayat lain dari Abu Dawud sangat jelas tidak disebutkan tasmiyyah dalam perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Arab Baduwiy yang harus dilaksanakan :

عن رفاعة بن رافع قال : فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنها لا تتم صلاة أحدكم حتى يسبغ الوضوء كما أمره الله عز وجل فيغسل وجهه ويديه إلى المرفقين ويمسح برأسه ورجليه إلى الكعبين

Dari Rifaa’ah bin Raafi’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya shalat salah seorang di antara kalian tidak mencukupi hingga menyempurnakan wudlunya sebagaimana diperintahkan Allah ‘azza wa jalla. Hendaknya ia membasuh wajah dan kedua tangannya sampai siku, dan menyapu kepala dan (membasuh) kedua kakinya hingga mata kaki…” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 858; shahih].

Pendapat inilah yang shahih dalam permasalahan ini – yaitu tidak wajibnya tasmiyyah, dan ia hanya merupakan sunnah saja.

Oleh karena itu, maka makna kalimat لَا وُضُوْءَ (tidak ada wudlu) adalah penafikkan adanya kesempurnaan (pahala) wudlu bagi orang yang tidak ber-tasmiyyah. Bukan penafikkan keabsahannya.

Ini seperti sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لا صلاة بحضرة الطعام....

“Tidak ada shalat saat makanan dihidangkan…” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 560].

Hadits tersebut tidak memberikan konsekuensi shalat seseorang menjadi batal jika ia melaksanakannya saat makanan telah dihidangkan.

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Ibraahiim dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah.[10]

Namun sudah selayaknya bagi kaum muslimin tidak meninggalkan tasmiyyah ketika berwudlu sebagai langkah hati-hati dan keluar dari perselisihan dengan selalu mengharapkan keridlaan-Nya semata.

Semoga artikel kecil ini bermanfaat.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy – http://abul-jauzaa.blogspot.com – Perumahan Ciomas Permai, Ciapus, Ciomas, Bogor – 16610].



[1] Definisi hadits hasan lighairihi adalah :

هو الضعيف إذا تعددت طرقه، ولم يكن سببُ ضعفه فِسْقَ الراوي أو كَذِبَهٌ.

يستفاد من هذا التعريف أن الضعيف يرتقى إلى درجة الحسن لغيره بأمرين هما:

أ‌) أن يٌرْوَيٍِ من طريق آخر فأكثر ، على أن يكون الطريقٌ الآخر مثله أو أقوى منه

ب‌) أن يكون سببٌ ضعف الحديث إما سوء حفظ راويه أو انقطاع في سنده أو جهالة في رجاله .

“Ia adalah hadits (yang asalnya) dla’if yang memiliki beberapa jalur (sanad), dan sebab ke-dla’if-annya bukan karena perawinya fasiq atau dusta. Berdasarkan definisi ini, menunjukkan bahwa hadits dla’if itu dapat naik tingkatannya menjadi hasan lighairihi karena dua hal :

a. Jika hadits tersebut diriwayatkan melalui jalan lain (dua jalur) atau lebih; asalkan jalan lain itu semisal atau lebih kuat.

b. Penyebab kedla’ifannya bisa karena buruknya hafalan perawinya, terputusnya sanad, atau jahalah dari perawi” [lihat Taisiru Mushthalahil-Hadiits hal. 43-44].

[2] Tabyiinul-Haqaaiq (1/3-4), Al-Bahrur-Raaiq (1/19), Haasyiyyah Ibni ‘Aabdiiin (1/108-109), Al-Mabsuuth (1/55), Syarh Fathil-Qadiir (1/21-22), Badaai’ush-Shanaai’ (1/20), dan Al-Fatawaa Al-Hindiyyah (1/6).

[3] Al-Umm (1/31), Al-Majmuu’ (1/385), I’aanatuth-Thaalibiin (1/43), Minhajuth-Thullaab (1/4), Asaniyul-Mathaalib (1/37), dan Haasyiyyataa Al-Qalyuubiy wa ‘Umairah (1/59).

[4] Telah berkata Ibnu Haani’ dalam Masaail Ahmad (hal. 3) : “Aku bertanya pada Abu ‘Abdillah mengenai tasmiyyah sebelum wudlu, ia menjawab : ‘Tidak shahih hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentangnya’. Aku juga bertanya tentang seseorang yang lupa mengucapkan tasmiyyah ketika wudlu, maka Abu ‘Abdillah menjawab : ‘Telah mencukupi baginya. Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang tasmiyyah sanadnya tidaklah kuat”.

Ini juga merupakan pendapat Ats-Tsauriy, Abu ‘Ubaidah, dan Ibnul-Mundzir [lihat Al-Mughniy, 1/73, At-Tahqiiq fii Ahaadiitsil-Khilaaf 1/137, dan Al-Inshaaf 1/1/128].

[5] Dikatakan dalam kitab Haasyiyyah Ad-Daasukiy (1/103) : “Tasmiyyah menjadi bagian dari keutamaan-keutamaan (wudlu). Hal itu merupakan pendapat masyhur dari madzhab yang menyelisihi orang yang berpendapat tidak masyru’nya mengucapkan tasmiyyah dan memakruhkannya”.

Lihat Haasyiyyah Ash-Shaawiy ‘alasy-Syarhish-Shaghiir (1/122), Al-Kaafiy fii Fiqhi Ahlil-Madiinah (hal. 23), dan Haasyiyyah Al-‘Adawiy (1/181).

[6] Haasyiyyah Al-‘Adawiy (1/182).

[7] Haasyiyyah Al-‘Adawiy (1/182).

[8] Kasysyaaful-Qinaa’ (1/90) dan Mathaalibu Ulin-Nuhaa (1/99).

Berkata Al-Mardaawiy : “Itu (wajib) merupakan pendapat madzhab. Telah berkata penulis kitab Al-Hidaayah, Al-Fushuul, Al-Majd dalam Syarah-nya, dan yang lainnya : “Tasmiyyah adalah wajib menurut riwayat yang paling shahih (dari Ahmad) dari dua riwayat (yang ternukil darinya)” [Al-Inshaaf, 1/128].

[9] ‘Aunul-Ma’buud, 1/121. Mungkin yang dimaksudkan adalah madzhab Dawud Adh-Dhaahiriy. Adapun madzhab Ibnu Hazm, maka ia berpendapat sunnah. Ia berkata : “Dan disukai untuk mengucapkan nama Allah ta’ala saat berwudlu. Apabila ia tidak melakukannya, maka wudlunya (tetap) sempurna” [Al-Muhallaa, 2/295].

[10] Adapun dua permata jaman lainnya, yaitu Al-Imaam Ibnu Baaz dan Al-Imaam Al-Albaaniy rahimahumallah berpendapat tentang wajibnya tasmiyyah [lihat http://binbaz.org.sa/mat/2213 dan Al-Ikhtiyaaraatul-Fiqhiyyah lil-Imaam Al-Albaaniy oleh Ibraahiim Abu Syaadaa, hal. 45].

Baca Selengkapnya...“Hukum Tasmiyyah (Membaca Basmalah) Ketika Berwudlu’”  »»

Hinaan Al-Khomainiy terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Dalam artikel hadits tsaqalain di blog ini[1] telah dijelaskan bagaimana ‘aqidah Syi’ah tentang ke-ma’shuman para imam mereka dengan mendudukkannya – secara ghulluw – di atas derajat para Nabi dan Rasul. Pada kesempatan kali ini, saya akan tuliskan secara ringkas beberapa nukilan perkataan Al-Khomainiy – semoga Allah membalas kejahatannya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan setimpal – akan pelecehannya terhadap diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Satu pelecehan yang tidak ia katakan pada imam mereka, namun malah ia lemparkan pada imam kaum muslimin sepanjang jaman, Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Khomainiy berkata :

لو كانت مسألة الإمامة قد تم تثبيتها في القرآن، فإنَّ أولئك الذين لا يعنون بالإسلام والقرآن إلَّا لأغراض الدنيا والرئاسة، كانوا يتخذون من القرآن وسيلة لتنفيذ أغراضهم المشبوهة، ويحذفون تلك الآيات من صفحاته، ويسقطون القرآن من أنظار العالمين إلى الأبد.....

Seandainya perkara imaamah telah ditetapkan dalam Al-Qur’an secara sempurna, maka mereka yang tidak memberikan perhatian kepada Al-Qur’an dan Islam kecuali keinginan memperoleh dunia dan kepemimpinan; akan mengambil Al-Qur’an sebagai wasilah (perantara) untuk melaksanakan keinginan-keinginan mereka yang tersembunyi. Mereka juga membuang ayat-ayat dari lembar-lembar Al-Qur’an dan menggugurkannya dari pandangan alam semesta untuk selama-lamanya…..” [Kasyful-Asraar, hal. 131].

وواضح أنَّ النبي لو كان بلغ بأمر الإمامة طبقاً لما أمر به الله، وبذل المساعي في هذه المجال، لما نشبت في البلدان الإسلامية كل هذه الإختلافات....

“Dan telah jelas bahwasannya Nabi jika ia menyampaikan perkara imaamah sebagaimana yang Allah perintahkan (padanya) dan mencurahkan segenap kemampuannya dalam permasalahan ini, niscaya perselisihan yang terjadi di berbagai negeri Islam tidak akan berkobar…..” [idem, hal. 155].

لقد جاء الأنبياء جميعاً من أجل إرساء قواعد العدالة في العالم؛ لكنَّهم لم ينجحوا حتَّى النبي محمد خاتم الأنبياء، الذي جاء لإصلاح البشرية وتنفيذ العدالة وتربية البشر، لم ينجح في ذلك....

“Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….” [Nahju Khomainiy, hal 46].

إِنَّ النبي أحجم عن التطرق إلى الإمامة في القرآن؛ لخشيته أن يُصاب القرآن من بعده بالتحريف، أو أن تشتد الخلافات بين المسلمين، فيؤثر ذلك على الإسلام...

“Sesungguhnya Nabi menahan diri dari menyinggung permasalahan imaamah dalam Al-Qur’an karena beliau khawatir Al-Qur’an akan mengalami perubahan (tahriif) sepeninggalnya, atau semakin hebatnya perselisihan di antara kaum muslimin sehingga berpengaruh terhadap Islam…” [Kasyful-Asraar, hal 149].

Ada beberapa ‘pelajaran’ yang dapat kita petik dari perkataan Al-Khomeini di atas, yaitu :

1. Al-Khomainiy mengakui bahwa Al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyinggung tentang imaamah (versi Raafidlah) sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan. Ini benar.

2. Keyakinan Raafidlah tentang perkara imaamah bukan berasal dari Al-Qur’an dan penjelasan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan pada umatnya.

3. Khomainiy telah menuduh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sebagian risalah – terutama imaamah – kepada umat manusia dan tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah ta’ala kepadanya.

Ini merupakan satu kelancangan yang teramat besar dari Khomainiy yang ia lontarkan kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam demi menegakkan ‘aqidahnya dan ‘aqidah kaumnya yang buram. Padahal Allah ta’ala telah berfirman :

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا إِنْ عَلَيْكَ إِلا الْبَلاغُ

“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)” [QS. Asy-Syuuraa : 48].

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya” [QS. Al-Maaidah : 67].

قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا * إِلا بَلاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالاتِهِ

Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya". Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya.“ [QS. Al-Jin : 22-23].

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati” [QS. Al-Baqarah : 159].

Allah ta’ala telah memberi kewajiban kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan semua risalah dari Allah ta’ala dalam penyampaian isi/kandungan Al-Qur’an kepada manusia. Allah pun memberi ancaman jika beliau tidak melaksanakannya, pada hakekatnya beliau tidak menyampaikan amanat. Selain itu, Allah juga memberi ancaman akan adzab yang pedih bagi siapa saja yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah berupa keterangan dan petunjuk.

‘Aqidah Ahlus-Sunnah mengatakan bahwa beliau telah menyampaikan semua risalah yang telah dibebankannya kepada manusia. Tidak ada satu kewajiban melainkan beliau telah tunaikan. Konsekuensinya, jika beliau tidak menyampaikan perkara imaamah (sebagaimana keyakinan Raafidlah), maka perkara tersebut memang bukan bagian yang Allah wajibkan untuk beliau sampaikan kepada umatnya.

Jika Khomainiy mengatakan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan risalah imaamah, maka hanya ada dua kemungkinan yang harus ia ambil – yang tidak ada bagian ketiganya :

a. Perkara imaamah itu memang tidak ada, sehingga beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukan termasuk orang yang menyembunyikan (tidak menyampaikan) amanat Allah.

b. Perkara imaamah itu ada, sehingga beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk orang yang menyembunyikan (tidak menyampaikan) amanat Allah.

Silakan ditimbang-timbang,…. kemungkinan mana kira-kira yang akan diambil kaum Syi’ah Raafidlah pendukung Khomainiy……

4. Khomeini menyatakan bahwa para Nabi, termasuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah gagal dalam pembinaan umat.

Jika Khomainiy menganggap para Nabi telah gagal, siapakah yang dianggap berhasil menurut timbangannya ? Para imamnya ?

Inilah sebagian ‘kekurangajaran’ Khomainiy – semoga Allah memberikan balasan setimpal atas kejahatannya terhadap Islam dan kaum muslimin - …..

Ajaran imaamah (versi Syi’ah) memang bukan berasal dari Al-Qur’an dan penjelasan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mengetahui ‘kenyataan pahit’ itu, Khomainiy justru ‘rela’ mengorbankan diri pribadi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam demi hawa nafsunya daripada meninggalkan agamanya yang sarat dengan kebusukan.

Semoga sedikit keterangan ini dapat bermanfaat bagi Penulis dan kaum muslimin.

[Abul-Jauzaa’ – yang dalam masalah ini banyak mengambil manfaat dari keterangan Prof. Dr. Ahmad Al-Ghaamidiy hafidhahullahhttp://abul-jauzaa.blogspot.com – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor, 16610].

Baca Selengkapnya...“Hinaan Al-Khomainiy terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”  »»

Hadits-Hadits Tidak Shahih Seputar Ziarah ke Kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (2)

Hadits Kelima

مَنْ زَارَ قَبْرِي - أَوْ قَالَ : مَنْ زَارَنِي - كُنْتُ لَهُ شَفِيْعاً - أَوْ شَهِيْداً - وَمَنْ مَاتَ فِيْ أَحَدِ الْحَرَمَيْنِ، بَعَثَهُ اللهُ فِي الآمِنِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

”Barangsiapa yang menziarahi kuburku - atau : Barangsiapa yang menziarahikuniscaya aku akan menjadi pembela atau saksi baginya. Dan barangsiapa yang mati di salah satu dari dua tanah haram (Makkah atau Madinah), maka Allah akan membangkitkannya sebagai orang-orang yang mendapatkan keamanan di hari kiamat”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisiy no. 65 dengan sanad :

حدثنا أبو داود، قال : حدثنا سَوَّار بن ميمون أبو الجراح العبدي، قال : حدثني رجل من آل عمر، عن عمر رضي الله عنه، قال : سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : .....

Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Sawwaar bin Maimuun Abul-Jarraah Al-‘Abdiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari keluarga ‘Umar, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “…….(al-hadits)…..”.

Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqiy[1] melalui jalan Ath-Thayalisiy dalam Al-Kubraa 5/245.

Hadits ini sangat lemah dikarenakan majhul-nya Sawwaar bin Maimuun. Ibnu ’Abdil-Haadiy berkata tentangnya : ”Ia adalah seorang syaikh majhuul, tidak diketahui ’adalah dan dlabth-nya...” [Ash-Shaarimul-Munkiy, hal. 89].

Al-Baihaqiy berkata : ”Sanad (hadits) ini majhuul” [Al-Kubraa, 5/245].

Selain itu, kelemahan juga terletak pada mubham-nya laki-laki dari keluarga ’Umar serta idlthirab dalam sanadnya.

Dalam sanad Al-’Uqailiy, Sawwaar bin Maimuun meriwayatkan dari Haaruun bin Qaza’ah, dari seorang laki-laki keluarga Al-Khaththaab, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam [Adl-Dlu’afaa’, 4/1477 no. 1977].[2]

Adapun Haaruun bin Qaza’ah, Al-Bukhaariy berkata : ”Haditsnya tidak ada mutaba’ah-nya (laa yutaabi’u ’alaihi)” [idem].

Diriwayatkan juga oleh Ad-Daaruquthniy[3] dalam Sunan-nya (no. 2694), namun sanadnya juga tidak shahih karena majhul-nya Haaruun bin Abi Qaza’ah dan mubham-nya laki-laki keluarga Haathib. Haaruun bin Abi Qaza’ah di sini sama dengan Haaruun bin Qaza’ah (sebagaimana di atas). Dikatakan juga namanya Ibnu Abi Qaza’ah Al-Madaniy – seorang yang majhuul.

Adz-Dzahabi telah menyebutkan dalam Al-Miizaan (4/285) hadits Haathib ini dan juga hadits ’Umar yang telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat-riwayat munkar dari Haaruun bin Abi Qaza’ah.

Lihat juga Irwaaul-Ghaliil no. 1127.

Hadits Keenam

مَنْ زَارَنِيْ وَزَارَ أَبِيْ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ عَامٍ وَاحِدٍ دَخَلَ الْجَنَّة

”Barangsiapa yang menziarahiku dan menziarahi bapakku (yaitu) Ibrahim pada tahun yang sama, niscaya ia akan masuk surga”.

An-Nawawiy berkata dalam Al-Majmu’ (8/261) : ”Hadits palsu, tidak ada asalnya, dan tidak diriwayatkan oleh seorangpun dari kalangan ahli ilmu (ulama’)”.

Hadits Ketujuh

مَنْ جَاءَنِيْ زَائِراً لَمْ تَنْزِعْهُ حَاجَةٌ إِلَّا زِيَارَتِيْ، كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

”Barangsiapa yang mendatangiku dengan maksud menziarahiku, dan tidaklah ia melepaskan satu keperluan pada waktu itu kecuali menziarahiku, maka menjadi hak bagiku untuk nenjadi pembela baginya di hari kiamat”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Najjaar[4] dalam Ad-Durratuts-Tsaminah fii Taarikhil-Madiinah (hal 143) dan Ad-Daaruquthniy dalam As-Sunan [5].

Hadits ini sangat lemah. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Maslamah bin Saalim. Ia juga disebut Muslim bin Saalim, seorang Jahmiy. Abu Daawud As-Sijistaaniy berkata : ”Tidak tsiqah” [Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’, 2/402 no. 6211].

Hadits Kedelapan

مَنْ لَمْ يَزُرْ قَبْرِيْ فَقَدْ جَفَانِيْ

”Barangsiapa yang tidak menziarahi kuburku, sungguh ia telah berpaling dariku”.

Diriwayatkan oleh Ibnun-Najaar dalam Taarikhul-Madiinah (hal. 144) dengan tanpa sanad dengan sighah (bentuk) tamridl. Lafadhnya adalah : ”Diriwayatkan dari ’Ali, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”....(al-hadits)....”.

Diriwayatkan juga oleh Abul-Hasan Al-Husainiy[6] dalam Akhbaarul-Madiinah – melalui perantaraan Ash-Shaarimul-Munkiy hal. 171.

Status hadits ini palsu (maudluu’).

Ibnu ’Abdil-Hadi berkata : ”Hadits ini termasuk dari jajaran hadits-hadits palsu lagi dusta yang dinisbatkan kepada ’Ali bin Abi Thalib” [Ash-Shaarimul-Munkiy, hal. 171].

Dalam sanadnya terdapat An-Nu’man bin Syibl Al-Baahiliy. Muusaa bin Haaruun berkata : ”Ia tertuduh (muttaham)”. Ibnu Hibbaan berkata : ”Ia datang dengan membawa banyak malapetaka/bencana” [Miizaanul-I’tidaal, 4/265 dan Lisaanul-Miizaan, 8/285].

Dalam sanadnya juga terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Al-Fadhl bin ’Athiyyah Al-Madiniy. Seorang pendusta yang masyhur dengan kedustaannya dan telah memalsukan hadits. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Ia tidak ada apa-apanya. Haditsnya termasuk hadits orang pendusta”. Ibraahiim bin Ya’quub Al-Juuzajaaniy berkata : ”Ia seorang pendusta”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : ”Tidak ada apa-apanya”. Di lain riwayat ia berkata : ”Pendusta (kadzdzaab)”. Begitu pula Muslim bin Al-Hajjaaj, An-Nasa’iy, dan Ibnu Khiraasy berkata : ”Matruukul-hadiits” [selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal, 26/280-287 no. 5546].

Dalam sanadnya juga terdapat Jaabir, ia adalah Ibnu Yaziid Al-Ju’fiy[7]. Ibnu Hajar berkata : ”Lemah (dla’iif), Raafidliy” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 192 no. 886 – atau selengkapnya silakan baca biografinya pada Tahdziibul-Kamaal, 4/465-472 no. 879].

Selain itu, sanad hadits di atas terputus antara Muhammad (Ibnu ’Aliy, Abu Ja’far Al-Baaqir) dengan kakek buyutnya, ’Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ’anhu.

....semoga bersambung......

[Abul-Jauzaa’ Al-Atsariy – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor, 16610 – http://abul-jauzaa.blogspot.com].



[1] Sanadnya sebagai berikut :

أخبرنا أبو بكر بن فورك، أنا عبد الله بن جعفر، ثنا يونس بن حبيب، ثنا أبو داود، ثنا سوار بن ميمون أبو الجراح العبدي، قال : حدثني رجل من آل عمر، عن عمر رضي الله عنه، قا؛ : سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : .....

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Faurak : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin Habiib : Telah menceritakan kepada kami Abu Daawud : Telah menceritakan kepada kami Sawwaar bin Maimuun Abul-Jarraah Al-‘Abdiy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari keluarga ‘Umar, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “……(al-hadits)….”.

[2] Selengkapnya adalah :

حدثناه محمد بن موسى، قال : حدثنا أحمد بن الحسين الترمذي. قال : حدثنا عبد الملك بن إبراهيم الجُدي، قال : حدثنا شعبة، عن سوار بن ميمون، عن هارون بن قزعة عن رجل من آل الخطاب، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال : مَنْ زَارَنِي مُتَعَمِّداًَ كَانَ فِي جِوَارِ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ مَاتَ فِيْ أَحَدِ الْحَرَمَيْنِ بَعَثَهُ اللهُ فِي الآمِنِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muusaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Husain At-Tirmidziy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Ibraahiim Al-Judiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sawwaar bin Maimuun, dari Haaruun bin Qaza’ah, dari seorang laki-laki keluarga Al-Khaththaab, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang menziarahiku dengan sengaja, maka kelak ia akan menjadi tetangga Allah di hari kiamat. Dan barangsiapa yang mati di salah satu dari dua tanah haram (Makkah atau Madinah), maka Allah akan membangkitkannya sebagai orang-orang yang mendapatkan keamanan di hari kiamat”.

[3] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا أبو عُبيدة والقاضي أبو عبد الله وابن مخلد، قالوا : حدثنا محمد بن الوليد البُسْري، حدثنا وكيع، حدثنا خالد بن أبي خالد وأبو عون، عن الشعبي والأسود بن ميمون، عن هارون بن أبي قزعة، عن رجل من آل حاطب، عن حاطب، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ زَارَنِي بَعدَ مَوْتِي، فَكَأَنَّمَا زَارَنِي فِيْ حَيَاتِيْ، وَمَنْ مَاتَ بِأَحَدِ الْحَرَمَيْنِ بُعِثَ مِنَ الْآمِنِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Telah menceritakan kepada kami Abu ’Ubaidah, Al-Qaadliy, dan Ibnu Makhlad, mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Waliid Al-Busriy : telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Abi Khaalid dan Abu ’Aun, dari Asy-Sya’biy dan Al-Aswad bin Maimuun, dari Haaruun bin Abi Qaza’ah, dari seorang laki-laki keluarga Haathib, dari Haathib, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ” ”Barangsiapa yang menziarahiku setelah matiku, maka seakan-akan ia menziarahiku sewaktu aku masih hidup. Dan barangsiapa yang mati di salah satu di antara dua tanah haram (Makkah dan Madinah), niscaya ia akan dibangkitkan sebagai orang-orang yang mendapat keamanan di hari kiamat”.

[4] Dari jalan Maslamah bin Saalim, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Saalim, dari ayahnya secara marfuu’.

[5] Dalam Al-Afraadul-Gharaaib (sebagaimana yang dikatakannya kepada Ibnu Thaahir 3/376).

[6] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا محمد بن إسماعيل، حدثني أبو أحمد الهمداني، حدثنا النعمان بن شبل، حدثنا محمد بن الفضل المديني سنة ست وسبعين عن جابر عن محمد بن علي، عن علي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ زَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَمَنْ لَمْ يَزُرْنِيْ فَقَدْ جَفَانِيْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil Telah menceritakan kepadaku Abu Ahmad Al-Hamdaaniy : Telah menceritakan kepada kami An-Nu’maan bin Syibl : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl Al-Madiiniy pada tahun 76 H, dari Jaabir, dari Muhammad bin ‘Aliy, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menziarahi kuburku setelah kematianku, maka ia seakan-akan menziarahiku sewaktu aku masih hidup. Dan barangsiapa yang tidak menziarahi kuburku, sungguh ia telah berpaling dariku”.

[7] Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abdil-Haadiy dalam Ash-Shaarimul-Munkiy, hal. 171.

Baca Selengkapnya...“Hadits-Hadits Tidak Shahih Seputar Ziarah ke Kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (2)”  »»

Toelisan Tempoe Doeloe

Saat buka-buka arsip catatan di hard-disk computer semalam, saya menemukan tulisan lawas saya yang di file-nya berjudul : ‘Jawaban terhadap Kedustaan Muchtar Luthfi’ (sedikit bombastis ya.. – tapi kan bebas-bebas saja orang ngasih judul file di computer sendiri). Tertulis (terakhir di-save) tanggal : 8 Juli 2007. Hampir tiga tahun yang lalu. Saat dibaca-baca lagi, saya pikir ‘ada baiknya’ jika saya publish di blog ini. Tentu saja dengan sedikit pembenahan dan peringkasan.

Tulisan ini bukan tulisan yang ingin berdetail-detail dalam bahasan satu pokok masalah. Tidak lebih, tulisan ini sebagai respon singkat (dan global) terhadap satu tulisan buah pena bapak Muchtar Luthfi yang kala itu konon berstatus mahasiswa pasca sarjana di sebuah Universitas Iran. Mohon maaf, jika tulisan di bawah dibawakan dengan bahasa ‘lain dari biasanya’ yang mungkin kurang berkenan bagi sebagian rekan-rekan.

Tulisan yang dibawakan oleh Muchtar Luthfi ini hanyalah merupakan daur ulang ucapan ahlul-bida’ (kemasannya pun masih kemasan lama) yang sangat memusuhi dakwah salaf, dakwah Ahlus-Sunnah (walau penulis juga ngaku-ngaku membawa pemahaman Ahlus-Sunnah – memang mudah bagi setiap pengaku). Dilihat dari siapa yang dia nukil dan siapa yang dia bela, kok nampaknya kita tahu siapa dalang dibalik pemikiran Muchtar Luthfi. Lebih jelas lagi setelah di bagian akhir tulisan, Muchtar Luthfi mengaku sebagai mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomaini Qom, Republik Islam Iran. Malang nian….. Menuntut ilmu di sarang perusak agama (Syi’ah). Universitas naas : Universitas Imam Khomaini Qum, Iran.

Tidak banyak yang akan ana komentari (hitung-hitung hemat energi). Secara global saja, diantaranya :

1. Apa yang ditulis oleh Muchtar Luthfi tidaklah ilmiah menurut ana, walau ia lengkapi dengan berderet catatan kaki. Karena pada hakikatnya, apa yang ia bela adalah pemahaman bid’ah, sedangkan yang ia serang adalah pemahaman sunnah.

2. Muchtar Luthfi berceloteh bahwa istilah Wahabi ini seakan-akan diciptakan oleh keluarga Su’ud dan Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab rahimahumallah. Celotehan ini adalah celotehan yang sama sekali tidak berdasar. Istilah “Wahabi” ini sebenarnya sebutan yang diberikan oleh musuh-musuh dakwah Tauhid kepada Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab beserta orang-orang yang sepaham dengan beliau. Pada banyak kesempatan, beliau (Ibnu Abdil-Wahhab) sering menyebutkan tentang dakwah Ahlus-Sunnah. Beliau berkata :

“Alhamdulillah, saya bukanlah orang yang mengajak manusia kepada madzhab seorang shufi, faqih, mutakallim (ahli kalam), atau imam dari para imam yang saya hormati seperti Ibnul-Qayyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, dan selainnya. Akan tetapi, saya hanya mengajak kepada Allah saja tiada sekutu bagi-Nya dan saya menyeru kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang belau wasiatkan kepada umatnya mulai awal hingga akhir. Saya berharap agar saya tidak menolak kebenaran apabila datang kepada saya. Bahkan saya bersaksi kepada Allah, malaikat-Nya, dan seluruh makhluk-Nya; apabila datang suatu kalimat kebenaran kepada kami dari kalian, maka saya akan menerimanya secara bulat dan saya akan mmebuang ke tembok setiap ucapan yang menyelisihinya dari para imamku, selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam karena beliau tidak mungkin mengatakan kecuali kebenaran” [Da’awi Al-Munawi’in 5/252 oleh Abdul-‘Aziz bin Muhammad Alu Abdul-Lathif, Darul-Wathan, Riyadl, KSA, Cet. I, 1412 H].

Beliau juga berkata dalam suratnya kepada Abdurrahman bin ‘Abdillah As-Suwaidi, salah seorang ulama ‘Iraq :

“Saya khabarkan kepadamu bahwa saya – alhamdulillah – seorang muttabi’ (mengikuti sunnah), bukan mubtadi’ (mengikuti bid’ah). Aqidah dan agamaku adalah madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, sebagaimana jejak para imam kaum muslimin seperti imam empat dan orang-orang yang mengiktui mereka hingga hari kiamat” [Ibid, 5/36].

Dan yang lebih jelas lagi adalah Raja ‘Abdul-‘Aziz dalam khutbahnya di Makkah pada bulan Dzulhijjah 1347 H mengatakan :

“Mereka menjuluki kami “Wahabiyyun” dan madzhab kami adalah “Wahabi” sebagai madzhab tertentu, maka ini kesalahan fatal akibat kabar bohong yang didesuskan oleh sebagian kalangan yang memiliki niat jahat. Kami bukanlah pemeluk madzhab baru atau aqidah baru. Muhammad bin ‘Abdil-Wahab rahimahullah tidaklah membawa ajaran baru. Aqidah kami adalah aqidah salaf shalih yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana pemahaman salaf shalih. Kami menghormati para imam empat, tidak ada bedanya bagi kami antara Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah. Semuanya terhormat dalam pandangan kami.

Inilah aqidah yang diemban oleh Syaikhul-Islam Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab rahimahullah. Inilah aqidah kami, sebuah aqidah yang dibangun di atas tauhid yang murni dari segala noda-noda bid’ah. Aqidah tauhid inilah yang kami dakwahkan dan dapat menyelamatkan kita dari semua petaka” [Koran Ummul-Qurra’ edisi Dzulhijjah 1347 H, Mei 1929 M. Islamiyyah Laa Wahabiyyah halaman 396 oleh Dr. Nashir ‘Abdil Karim Al-‘Aql, Kunuz Isybiliyyah, Cet. II, 1425].

Nah, kalau perkaranya telah jelas; adalah hal yang aneh apabila Muchtar Luthfi beranggapan bahwa karena istilah “Wahabi” di luar Saudi tidak populer dan cenderung negatif, maka berganti bajulah dengan istilah Salafy. Ini menunjukkan ketololannya yang amat sangat. Apalagi tuduhan murahannya dimana keluarga Su’ud ini bertalian erat dengan Yahudi Arab. Adapun di awal berdirinya Saudi banyak terjadi pertumpahan darah (?), maka pernyataan ini bisa dibenarkan bisa juga didustakan sekaligus. Dibenarkan, bahwa memang pada awal berdirinya Saudi terjadi beberapa peperangan, sebagaimana lazimnya terjadi peperangan waktu itu. Itu terjadi karena adanya penentangan terhadap dakwah Tauhid serta hasutan yang dihembuskan ahlul-bida’ sehingga Daulah Utsmaniyyah menyerang keluarga Su’ud. Hal itu ditambah pula dengan provokasi yang dilakukan Inggris. Telah terjadi peperangan beberapa kali antara pasukan Ibnu Sa’ud dengan pasukan Inggris. Ini sekaligus membuktikan kedustaan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab dan keluarga Sa’ud didukung oleh pemerintah kolonial Inggris. Bagi ana, tuduhan murahan seperti ini telah sering terdengar dan terbaca….. jadi nggak heran bin aneh lagi.

3. Setelah berkomentar sana-sini tentang aqidah – yang katanya bahwa yang diomongkaan dan dibelanya itu adalah aqidah ahlus-sunnah – , Muchtar Luthfi dengan tidak malu mencela aqidah Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus-Sunnah. Jika saja lisannya telah berani mencela Imam Ahmad dengan ucapan : terjerumus ke dalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama. Salah satu dampak konkrit dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan” ; janganlah heran bila ia dengan entengnya mencela para ulama yang lain. Termasuk di sini Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab. Tidak usah didetailkan jawabannya, ana kira ikhwah semua telah tahu : Siapa yang benar dalam permasalahan ini. Imam Ahmad bin Hanbal atau Muchtar Luthfi ?

Muchtar Luthfi mungkin tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa apa yang diyakini oleh Imam Ahmad bin Hanbal merupakan keyakinan para Imam Ahlus-Sunnah yang sesuai dengan keyakinan atau aqidah para shahabat radliyallaahu ‘anhum. Aqidah Ahlus-Sunnah mengatakan tentang perihal asma’ wa shifat : Menerima dengan maknanya sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah tanpa adanya tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil/tasybih. Di sinilah aqidah Imam Ahmad berdiri; aqidah Ahlus-Sunnah. Kemudian, mari kita dengar apa perkataan para imam yang lain mengenai hal ini :

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d, dan Sufyan Ats-Tsauri rahimahumullah tentang berita yang datang mengenai sifat-sifat Allah, mereka semua menjawab :

أَمِرُّوا هَا كَمَا جَاءَ بِلا كَيْفَ

“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat Allah) sebagaimana datangnya dan janganlah kamu persoalkan (yaitu : jangan kamu Tanya tentangbagaimana sifat itu)” [Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar Al-Khallal dalam Kitabus-Sunnah, Al-Laalikai no. 930, dan yang lainnya dengan sanad shahih].

Imam Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan prinsip-prinsip aqidah :

الإيمان بما جاء عن الله تعالى في كتابه المبين على ما أراده الله من غير زيادة، ولا نقص، ولا تحريف. الإيمان بما جاء عن رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، في سنة رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، على ما أراده رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، من غير زيادة ولا نقص ولا تحريف.

“Beriman kepada Allah ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagaimana yang dikehendaki-Nya tanpa adanya penambahan, pengurangan, dan tahrif (= ta’wil; yaitu mengubah lafadh nama dan sifat Allah atau mengubah maknanya atau menyelewengkan dari makna sebenarnya). Beriman kepada apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sunnahnya sebagaimana yang dikehendaki oleh beliau tanpa adanya penambahan, pengurangan, dan tahrif [Lihat Lum’atul-I’tiqad oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi; syarah oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin halaman 14; download dari www.almeskhat.net/books].

Bukankah Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Al-Auza’i, Imam Al-Laits, dan yang semisal dengan mereka adalah para Imam Ahlus-Sunnah ? Nah,…. jikalau demikian adanya, apa yang dibenci dan dimusuhi mahasiswa gaya ini sebenarnya aqidah Ahlus-Sunnah yang diyakini oleh para imam. Lantas dimana engkau berdiri wahai Muchtar ? Yang engkau bela pada hakikatnya merupakan aqidah Asy’ariyyah Maturidiyyah dan aqidah Syi’ah ! Bukan Ahlus-Sunnah !! Dan bila dicermati, metode berpikir Muchtar Luthfi adalah metode yang dianut oleh Ahlul-Kalam. Maka simaklah apa yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah : “Hukum untuk ahli kalam menurutku adalah mereka harus dicambuk dengan pelepah kurma dan sanda atau sepatu dan dinaikkan ke unta, lalu diiring keliling kampung. Dan dikatakan : ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan mengambil ilmu kalam” [Lihat Ahaadits fii Dzammil Kalaam wa Ahlihi hal. 99 karya Imam Abul-Fadhl Al-Maqri’ – wafat tahun 454 H; Jami’ul-Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi karya Ibnu ‘Abdil-Barr 2/941].

Jadi ingat sya’ir tentang Laila :

أَيُّهَا اْلمُدَّعِي وَصْلًا بِلَيْلَى

لَسْتَ مِنْهَا وَلا قُلامَةَ ظِفْرٍ

إِنَّمَا أَنْتَ مِنْ لَيْلَى كََوَاوٍ

أُلْحِقَتْ فِي اْلهِجَاءِ ظُلْمًا لِعَمْرٍ

“Wahai orang yang mengaku cinta kepada Laila

Kau bukanlah kekasihnya walau hanya sepotong kukupun

Hubunganmu dengan Laila hanyalah seperti huruf wawu

Yang tersisipkan (pada ‘Umar) untuk mendhalimi ‘Amr”

Begitulah keadaan yang tergambar pada Muchtar Luthfi….. Ngaku-ngaku Ahlus-Sunnah dan gemar mencatut nama Ahlus-Sunnah; justru bertujuan mendhalimi Ahlus-Sunnah. Pada hakikatnya engkau bukanlah Ahlus-Sunnah walau sepotong kuku pun……. Syair tersebut cocok sekali untukmu……

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad bin Abdil-Wahhab lah yang dijadikan objek celaan Muchtar Luthfi, justru berada di atas aqidah dan manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

4. O iya,….. Muchtar Luthfi dalam uraian picisannya menukil perkataan Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf; yang ia juluki secara berlebihan sebagai seorang “ulama Ahlu-Sunnah” yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim. Pengakuan dan julukan ulama Ahlus-Sunnah yang disematkan kepada As-Saqqaf ini pun disesuaikan dengan selera Muchtar Luthfi yang otomatis berkesesuaian paham dengannya. Kalau seperti ini, idem pula dengan apa yang telah ana tuliskan di atas. As-Saqqaf (juga Muchtar Luthfi) bukanlah seorang Ahlus-Sunnah ditinjau dari aqidah dan manhajnya. Ia adalah seorang beraqidah Jahmiyyah tulen dengan ta’wil dan ta’thil terhadap sifat-sifat Allah. Ia berkata dalam kitabnya At-Tandiid liman ‘Adadat-Tauhid halaman 50: “Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menegaskan bahwa Allah ta’ala tidak boleh disifati kalau Dia berada di luar alam maupun di dalam alam”. Ahlus-Sunnah menurut selera As-Saqqaf. Persis dengan apa yang dipahami oleh Muchtar Luthfi. Jadi,…. syair tentang Laila di atas cocok pula diucapkan pada As-Saqqaf. Mulutnya yang kotor dengan seringnya melontarkan penghinaan dan kata-kata keji terhadap Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Muhammad bin Abdil-Wahhab, Al-Albani, dan yang lainnya. Sebagaimana pepatah Arab : Kambing tetaplah kambing walaupun ia bisa terbang. As-Saqqaf bukanlah apa-apa dibandingkan dengan para ulama yang ia cela.

5. Muchtar Luthfi telah membeo Hasan As-Saqqaf dengan mengatakan bahwa Salafy adalah Nashiby (Pembenci Ahlul-Bait). Ana terus terang nggak tahu, apakah perkataan ini dilandasi dengan ilmu atau dengan kebodohan. Standar apa yang dipakai. Bila yang dimaksud bahwa Salafy sangat menentang tindakan berlebih-lebihan terhadap Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti halnya kaum Syi’ah dan Shufi, justru pemahaman Muchtar Luthfi lah yang harus diformat ulang. Tentu, jika ia kembali menegaskan bahwa dirinya berada di aqidah Ahlus-Sunnah. Lain halnya jika ia mengaku seorang Syi’i atau Shufi, duduk perkaranya jelas.

Imam Abul-Qasim Al-Asbahani dalam Al-Hujjah fii Bayanil-Mahajjah 2/489-490 berkata : “Dan termasuk sunnah Rasul adalah cinta terhadap Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya :

قُل لاّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاّ الْمَوَدّةَ فِي الْقُرْبَىَ

“Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." (QS. Asy-Syuuraa : 23) [selesai].

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “…..kita diperintahkan untuk mencintai mereka (Ahlul-Bait), menghormati dan memuliakan mereka selama mereka berittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang shahihah dan istiqamah di dalam memegang dan menjalani syari’at agama. Adapun kalau mereka menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak istiqamah di dalam memegang dan menjalani syari’at agama, maka kita tidak diperbolehkan mencintai mereka sekalipun mereka Ahlul-bait Rasulullah…..” (lihat Syarah ‘Aqidah Wasithiyyah oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 148).

Dan di sini khusus akan ana bawakan matan asli dari kitab ‘Aqidah Wasithiyyah karya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah – dimana Muchtar Luthfi ini menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai seorang Nashiby. Berikut perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala “

ويحبون أهل بيت رسول الله ويتولونهم ويحفظون فيهم وصية رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال يوم غدير خم : (أذكركم الله في أهل بيتي) ، وقال أيضاً للعباس عمه وقد إليه اشتكى أن بعض قريش يجفو بني هاشم فقال : (والذي نفسي بيده لا يؤمنون يحبوكم حتى لله ولقرابتي) وقال : (إن الله اصطفى بني إسماعيل واصطفى من بني إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشاً واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم). ويتولون أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم أمهات المؤمنين ويؤمنون بأنهن أزواجه في الآخرة خصوصاً خديجة رضي الله عنها أم أكثر أولاده أول من آمن به وعاضده على أمره وكان لها منه المنزلة العالية والصِّدّيقة بنت الصّدّيق رضي الله عنها التي قال النبي صلى الله عليه وسلم : (فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام).

“Mereka (Ahlus-Sunnah), mencintai Ahlul-Bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, setia kepada mereka serta menjaga wasiat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang mereka, dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir-Khum (ketika pulang dari haji wada’), beliau bersabda : “Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku” (HR. Muslim 4/1873 dari Zaid bin Arqam), dan beliau berkata kepada ‘Abbas, dimana ‘Abbas mengadu (mengeluh) kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa sebagian dari orang Quraisy membenci Bani Hasyim, maka beliau bersabda : “Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya. Mereka tidaklah beriman sehingga mereka mencintai kalian karena Allah dan karena mereka itu sanak kerabatku”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Isma’il. Dan Dia telah memilih Kinanah dari Bani Isma’il. Dan Dia telah memilih Quraisy dari Kinanah. Dan Dia telah memilih Bani Hasyim dari Quraisy. Dan Dia telah memilhku dari Bani Hasyim”. Dan Ahlus-Sunnah senantiasa setia dan cinta kepada istri-istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena mereka adalah Ummahatul-Mukminin. Juga dikarenakan mereka adalah istri beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam di akhirat kelak; khususnya Khadijah radliyallahu ‘anha, ibu dari sebagian besar anak-anak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada beliau dan mendukung beliau, serta mempunyai kedudukan tinggi. Dan Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (yaitu ‘Aisyah) radliyallaahu ‘anhaa dimana beliau berkata tentangnya : “Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua jenis makanan” [selesai].

Perhatikan aqidah Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah tentang Ahlul-Bait Nabi di atas. Tuduhan Nashiby yang ditujukan kepada Syaikhul-Islam oleh orang-orang semacam Muchtar Luthfi ini adalah tuduhan usang untuk menjauhkan umat dari ulamanya. Kita tahu bahwa Syaikhul-Islam mempunyai perkataan-perkataan yang keras dan tegas dalam membantah kaum Syi’ah dan Ahlul-Bida’. Oleh karena itu, mereka merasa sewot sehingga tidak segan berdusta atas nama Syaikhul-Islam demi mempopulerkan aqidah mereka yang sesat. Adapun beberapa nukilan mereka dari kitab Minhajus-Sunnah, maka itu hanyalah manipulasi yang sangat biasa mereka lakukan dengan mengambil beberapa potong kalimat Ibnu Taimiyyah yang sesuai dengan hawa nafsu mereka dan membuang sebagian yang lain yang merugikan mereka.

Orang macam Muchtar Luthfi ini menginginkan kita untuk bersikap ghulluw terhadap Ahlul-Bait dengan menempatkan mereka pada posisi yang tidak semestinya. Puncak keinginannya – mungkin – adalah meyakini apa yang telah diyakini Syi’ah Rafidlah terhadap para imam mereka yang dua belas itu. Selain itu, orang semacam Muchtar Luthfi ini pula hendak mempopulerkan orang-orang sesat yang sering ngaku Ahlul-Bait Nabi (baca : Ahlul-Bait palsu) menjadi seorang tokoh “panutan” sebagaimana sering kita lihat di masyarakat kita. Ahlul-Bait palsu yang sering merangkap profesi menjadi kaahin dan ‘arraf (alias dukun/paranormal). Dan kalaupun benar diantara mereka adalah Ahlul-Bait, maka – sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan – ke-walaa’-an (loyalitas) kita kepada mereka pun harus diukur sejauh mana mereka beriltizam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kemuliaan nasab hanya bermanfaat jika diiringi kemuliaan aqidah, manhaj, dan amal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

ومن بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemuliaan nasabnya tidak bisa mempercepatnya” [HR. Muslim – Al-Arba’un-Nawawiyyah hadits ke-36].

6. Dalam ocehannya itu, Muchtar Luthfi merasa perlu membuat kedustaan baru karena merasa gerah atas penjelasan para ulama Ahlus-Sunnah (yang sering ia namakan : Ulama Wahabi/Salafy) atas kesesatan Syi’ah, aliran tumbuh subur di negeri yang ia minum susunya (baca : racunnya). Ia sangat ingin agar Syi’ah diterima sebagai salah satu madzhab Islam, sebagaimana madzhab-madzhab lain yang diakui. Ya,…. karena telah mendapat recehan beasiswa, ia gadaikan aqidah yang shahih untuk kemudian dicampur dengan aqidah hitam milik Syi’ah. Tidakkah engkau tahu wahai Muchtar, kalau yang namanya Syi’ah itu mencela dan mengkafirkan para shahabat ? Akibat lemahnya aqidah al-wala’ wal bara’-mu, engkau merasa harus lebih marah dan tersinggung ketika para ulama Ahlus-Sunnah membeberkan keborokan Syi’ah daripada kemarahanmu pada orang Syi’ah mencaci-maki para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Padahal, para shahabat adalah satu-satunya generasi dari kalangan umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah diridlai Allah. Al-Qur’an menjadi saksi :

وَالسّابِقُونَ الأوّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالّذِينَ اتّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدّ لَهُمْ جَنّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah : 100].

Adalah hal yang sangat-sangat aneh jikalau ada orang yang justru membela seorang pendusta macam Khomeini, padahal mulutnya yang tidak lebih mulia dari mulut burung bulbul telah mengatakan tentang dua shahabat yang mulia (Abu Bakar dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma) : “Kami tidak ada urusannya dengan dua tokoh itu dalam mengacak-acak Al-Qur’an, mempermainkan hukum Tuhan; dalam apa yang mereka halalkan dan haramnkan serta perbuatan kejam dan keji mereka…..dst.” [lihat Kasyful-Asrar hal. 126-127]. Perkataannya yang lain : “Perkataan ‘Umar bin Khaththab saat itu hanyalah kebohongan yang terlontar dari seorang kafir dan zindiq, dimana bertolak belakang dengan ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an” [ibid, hal. 176].

Dalam kitab Raudlatul-Kaafi halaman 205, orang yang punya nama Al-Kulaini (ulama haditsnya kaum Syi’ah) telah menuliskan sebuah riwayat (baca : dusta) : “Abu Ja’far menyatakan bahwa semua orang menjadi murtad setelah Nabi Muhamamd shallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang”. Dikatakan : “Siapa tiga orang itu?”. Ia menjawab : “Ar-Riqaad, Abu Dzar, dan Salman”.

Banyak riwayat senada yang punya inti cerita demikian (kafirnya mayoritas shahabat). Tahukah kita apa konsekuansi dari anggapan kafirnya para shahabat Nabi ? Betul, mereka hendak membatalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab dua sumber itu sampai kepada kita melalui para shahabat. Untuk Al-Qur’an, mereka agak takut-takut untuk berkata secara “gentle”. Sebab, jika mereka mencela Al-Qur’an, semua orang otomatis menolak agama dan keyakinan yang mereka jajakan. Makanya, mereka membuat penakwilan-penakwilan ganjil untuk menyerang aqidah Ahlus-Sunnah. Saat ini, dengan metode muka dua mereka (taqiyyah), mereka hendak menyembunyikan aqidah agama Syi’ah yang memuat adanya tahrif (perubahan) Al-Qur’an. Al-Kulaini meriwayatkan (secara dusta) dari Ja’far bin Muhamad yang berkata : “Yang ada pada kami adalah mushhaf Fathimah (as). Mereka tidak tahu apa sebenarnya Mushhaf Fathimah itu. Mushhaf Fathimah adalah tiga kali lebih besar dari Al-Qur’an kalian. Demi Allah,… tidak ada sehuruf pun Al-Qur’an kalian ini terdapat di dalamnya” [Al-Ushul minal-Kaafi 1/238]. Telah berlalu perkataan Khomeini yang mengatakan bahwa Al-Qur’an telah diacak-acak oleh Abu Bakar dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma. Sebagai tambahan, simaklah perkataan Al-Mufid dalam kitabnya Al-Maqaalaat : “Golongan Imamiyyah (Syi’ah) berkeyakinan bahwa Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab merupakan tokoh yang sesat. Keduanya mengacak-acak Al-Qur’an saat menyusunnya dan tidak jujur dalam menetapi ketentuan Nuzul-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Dinukil dari Fashlul-Khithaab karya Ath-Thabrusi hal. 27). Kalau di bidang hadits,………. maka orang Syi’ah ini dikenal jago dalam menghina Shahihain (karena mereka memang tidak mempercayai kitab-kitab hadits Ahlus-Sunnah). Mem-plintir-plintir hadits, dan lain sebagainya…..

Masih terlalu banyak untuk disebutkan kesesatan Syi’ah, seperti : rajaa’, kema’shuman imam, nikah mut’ah, dan yang lainnya.

Nah……dengan melihat kenyataan ini, sungguh kebangetan (bodohnya) kalau ada orang yang masih mengangap bahwa Syi’ah itu tidak sesat. Dan satu diantara banyak orang yang kebangetan itu adalah Muchtar Luthfi. Mungkin perkataan Imam Malik ini cukup mewakili apa yang hendak ana katakan : “Karena mereka membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini (yaitu QS. Al-Fath : 29)” [lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Fath : 29). Selain Imam Malik, berderet Imam-Imam Ahlus-Sunnah yang menganggap Syi’ah itu sebagai satu aliran yang sangat-sangat sesat…………. (ex : Al-Qadli ‘Iyadl, Ahmad bin Hanbal, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma’in, dan lain-lain).

Kemudian yang lainnya, yaitu tentang sesatnya Shufiyyun dan para Khurafiyyun, maka telah jelas (kecuali bagi Muchtar Luthfi mungkin). Bagaimana tidak sesat jika ada seseorang yang berkeyakinan orang yang mati dapat menolong sehingga dipropagandakan bagi orang yang hidup untuk “minta” sesuatu padanya ? Bagaimana tidak sesat jikalau ada orang yang memproklamirkan diri bahwa dirinya telah mencapai tingkatan ma’rifat sehingga ia terbebas dari taklif (beban syari’at) ? Bagaimana tidak sesat jikalau ada orang yang ngaku wali namun kerjaannya hanyalah ngurusin jimat, kesaktian, dan yang semisal yang tak ubahnya seperti mbah dukun (cuman bedanya, dukun yang satu ini berkopiah atau bersorban) ? Kalau itu semua tidak dikatakan sesat, ya…. mendingan bicara saja sama ayam. Itu lebih selamat daripada menyebarkan syubhat di telinga kaum muslimin. Tapi ingat, ulama Ahlus-Sunnah (Salafy/Wahabi sebagaimana dimaksud Muchtar Luthfi) tidak sembrono dalam menjustifikasi sesuatu. Bila mereka mengatakan sesuatu itu tidak benar, maka akan dijelaskan dalilnya. Mereka selalu merujuk pada penjelasan ulama salaf mengenai hal ini. Dan perlu diketahui pula bahwa ketika menyebut suatu perbuatan itu sebagai perbuatan syirik, tidak serta-merta pelakunya secara individu disebut musyrik.

7. Katanya pula, Wahabi/Salafy hobi memalsu dan mengotak-atik kitab. Para ulama Salafy/Wahabi tidak punya kegemaran seperti itu pak ! Ana kadang merasa lucu; di awal, Muchtar Luthfi mengkritik Wahabi dan orang-orang yang bersamanya di hari ini. Kemudian, ia nabrak-nabrak nama Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyyah dimana seakan-akan ia sebut ulama Wahabi. Tahu nggak lucunya ikhwah ? Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab itu lahir tahun 1115 H/1703 M. Apa hubungannya dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyyah ? Apa mereka itu Wahabi ? Kemudian, ia nyinggung-nyinggung tentang Imam Al-Alusi dengan Ruhul-Ma’ani-nya. Terus terang ana belum pernah dengar dongeng yang diceritakan oleh Muchtar ini (tentang perubahan yang dilakukan oleh anaknya yang bernama : Nukman al-Alusi). Terlepas benar atau salahnya cerita ini, apa hubungannya dengan Wahabi dan Salafy ? Tuduhan Muchtar Luthfi sudah demikian membabi-butanya. Orang yang tidak sepaham dengannya ia sebut dengan Wahabi/Salafi. Jadi, standar seorang Wahabi/Salafi adalah ketidaksesuaian dengan Muchtar Luthfi. Aneh !!

Orang seperti Muchtar Luthfi ini hanyalah mengikuti suara yang berhembus di telinganya saja. Berhubung ia sekolah di Iran, maka suara yang berngiang adalah suara celaan terhadap Ahlus-Sunnah. Perlu diketahui bersama bahwasannya banyak ulama yang mentahqiq ataupun mentakhrij suatu kitab. Contoh : Tafsir Ibnu Katsir. Banyak ulama yang mentahqiq atau meringkas kitab tafsir ini dengan membuang beberapa riwayat israiliyyat dan dla’if dan menambahkan sedikit catatan kaki untuk menambah faidah. Ini tidak bisa disebut main curang, karena kitab tersebut selalu diberikan keterangan hasil tahqiq-an oleh pentahqiq. Selain itu, kitab yang asli pun masih tercetak. Tidak ada yang disembunyikan. Ini adalah hal yang sangat biasa dilakukan di kalangan ulama. Misalnya juga : kitab Shahih Muslim. Dalam rangka memudahkan para pembaca untuk menghafal dan mempelajarinya, maka Imam Al-Mundziri meringkasnya dalam bentuk Mukhtashar Shahih Muslim. Shahih Bukhari juga…. (seperti ringkasannya Imam Az-Zabidi). Mengenai kitab manhaj/aqidah, taruhlah kita ambil contoh kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syathibi. Banyak ulama yang telah mentahqiqnya seperti Syaikh Muhammad Rasyid Ridla, Syaikh Salim, bin ‘Ied Al-Hilaly, Syaikh Abdurrazzaq Al-Mahdi, dan yang lainnya. Sifat peringkasan ini adalah diperbolehkan dengan tanpa merubah tujuan penulisan kitab. Hal ini telah ditegaskan oleh Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah-nya :

أن يكون الشيء من التواليف التي هي أمهات للفنون مطولا مسهباً ، فيقصد بالتأليف تلخيص ذلك بالاختصار والايجاز وحذف المتكرر إن وقع مع الحذر من حذف الضروري لئلا يخل بمقصد المؤلف الاول .. "

“Sebuah karya tulis yang panjang dan lebar dimana merupakan induk ilmu pengetahuan, maka tujuan dari penulisan adalah meringkas dengan cara menghilangkan pengulangan kalau memang ada, disertai keberhati-hatian agar jangan sampai merusak maksud dan tujuan si Penulis kitab”. [selesai]

Dari situ kita tahu bahwa peringkasan kitab dengan menghapus apa-apa yang tidak diperlukan (baik berupa pengulangan atau penghilangan kalmat-kalimat yang kurang bermanfaat – seperti riwayat-riwayat dla’if atau yang semisal) adalah diperbolehkan. Dan hal itu – sekali lagi – biasa dilakukan oleh para ulama dahulu, apalagi sekarang. Selain peringkasan, para ulama juga terbiasa memberikan ta’liq/hasyiyah (komentar/catatan kaki/catatan pinggir) atau syarah pada sebuah kitab, baik berisi penjelasan atau bahkan kritikan. Dalam bidang hadits kita mengenal Hasyiyah As-Sindi ‘alaa Sunan Nasa’i karya Nuruddin bin ‘Abdil-Hadi As-Sindi, Al-Muntaqaa Syarh Al-Muwaththa’ karya Imam Al-Baji, dan lain-lain. Di bidang fiqh kita mengenal : Hasyiyah Ibni ‘Abidin. Dan lain-lain banyak. Mungkin Muchtar Luthfi ini merasa kurang sreg jika beberapa hadits dla’if dan maudlu yang merupakan makanan favorit kaum Syi’ah dan Shufi dihilangkan dalam kitab atau diberi beberapa catatan/peringatan. Hal inilah yang terjadi di Kitab Fathul-Bari atau Syarah Shahih Muslim dimana para ulama memberikan beberapa catatan berharga atas dua kitab tersebut. Apakah ini yang namanya khianat dan curang ? Mungkin hanya Muchtar Luthfi dan orang-orang yang seide dengannya saja yang berkepentingan untuk mengatakannya………….

Dusta yang dibawa Muchtar Luthfi ini memang keterlaluan. Katanya, Salafy/Wahaby telah menghapus riwayat : “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya” dalam Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar. Satu kitab ana ambil : Tarikh Khulafaa’-nya As-Suyuthi. Matan yang ana miliki masih mencantumkan hadits tersebut. Tepatnya begini (ana ambil satu paragraf) :

واخرج الترمذي عن أبي سعيد الخدري قال كنا نعرف المنافقين ببغضهم عليا وأخرج البزار والطبراني في الأوسط عن جابر بن عبد الله وأخرج الترمذي والحاكم عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أنا مدينة العلم وعلى بابها هذا حديث حسن علي الصواب لا صحيح كما قال الحاكم ولا موضوع كما قاله جماعة منهم ابن الجوزي والنووي وقد بينت حاله في التعقبات على الموضوعات

Mungkin saja,…. sebagaimana telah ana tuliskan, bahwa kitab yang dibaca oleh Muchtar Luthfi itu berupa ringkasan atau hasil tahqiq. Namun hal itu bukan berarti menghilangkan riwayat itu sama sekali dalam kitab aslinya. Karena ternyata, hadits tersebut memang tidak shahih !! Muchtar Luthfi mengatakan bahwa hadits tersebut terdapat dalam “Shahih At-Tirmidzi”.

Sekarang mari kita lihat lafadh hadits yang terdapat dalam Sunan Tirmidzi :

حدثنا إسماعيل بن موسى حدثنا محمد بن عمر بن الرومي حدثنا شريك عن سلمة بن كهيل عن سويد بن غفلة عن الصنابحي عن علي رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا دار الحكمة وعلي بابها قال هذا حديث غريب منكر

……..(sanad diringkas)….Dari Ash-Shanabahii, dari ‘Ali, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku adalah kota ilmu sedangkan ‘Ali adalah pintunya”. Berkata At-Tirmidzi : “Hadits Gharib Munkar !!” (HR. Tirmidzi nomor 3723).

Status hadits tadi adalah seperti yang dikatakan Imam At-Tirmidzi, baik dengan lafadh tersebut atau lafadh sebagaimana tersebut dalam Tarikh Al-Khulafaa’.

Semua lafadh yang semakna dengan hadits di atas adalah tidak shahih. Ibnul-Jauzi menyebutkannya dalam kumpulan hadits maudlu : Al-Mu’dlu’aat 3/349-355. Syaikh Al-Albani juga menyebutkannya dalam Silsilah Adl-Dla’iifah no. 2955. Kemarahan Muchtar Luthfi tersebut patut kita “pahami” karena sepertinya ia pengagum berat Khomeini dan Syi’ah dengan bungkus : Cinta Ahlul-Bait – (dikiranya Ahlus-Sunnah tidak cinta pada Ahlul-Bait kali…..). Jadi jangan heran kalau ada hadits, walaupun maudlu’, yang terpaksa dihilangkan oleh para ulama, membuat dirinya sangat gusar.

Kalau tadi dia nuduh, dan telah kita buktikan bahwa tuduhannya adalah dusta; sekarang mari kita gantian lihat metode tipu-menipu penukilan hadits dari golongan Syi’ah. Ana contohkan : Seorang ulama Syi’ah kontemporer : Ja’far Subhani; yang dalam banyak tulisannya sering bergaya layaknya Ahlul-Hadits (yang banyak menipu orang awam). Dalam bukunya Al-Wahabiyyah fil-Mizan, yang diterjemahkan Pustaka Hidayah : Kritik Atas Paham Wahabi halaman 27 ketika mengkritik hadits Jabir :

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا حفص بن غياث عن بن جريج عن أبي الزبير عن جابر قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر ،وأن يقعد عليه،وأن يبى عليه

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang melabur kuburan, duduk di atasnya, dan mendirikan bangunan di atasnya” (HR. Muslim no. 970).

Ia (Ja’far Subhani) menuliskan beberapa komentar ulama Jarh wa Ta’dil akan ke-mudallis-an Ibnu Juraij (yang menyebabkan kelemahan). Kita tahu, bahwasannya seorang perawi mudallis, riwayatnya diterima apabila ia menegaskan penyimakannya terhadap kabar yang diterima. Dan sungguh aneh, Ja’far Subhani sengaja menyembunyikannya ! Padahal, penegasan penyimakan Ibnu Juraij itu ada pada riwayat yang lain, yaitu persis hadits di bawah hadits di atas. Imam Muslim menyebutkan :

وحدثني هارون بن عبد الله حدثنا حجاج بن محمد ح وحدثني محمد بن رافع حدثنا عبد لرزاق جميعا عن بن جريج قال أخبرني أبو الزبير أنه سمع جابر بن عبد الله يقول سمعت النبي صلى الله عليه وسلم بمثله

Memang, Ja’far Subhani dalam buku tersebut tidak hanya mengkritik Ibnu Juraij (ia juga mengkritik Abu Zubair). Tapi kritikannya jauh sekali dari standar kata ilmiah.

Contoh lain adalah sebagaimana uraian Syaikh Al-Albani ketika menjelaskan kedustaan dan ketidakamanahan As-Sayyid Abdur-Ridla Al-Mar’isyi Asy-Syi’iy dalam bukunya : As-Sujuud ’alaat-Turbah Al-Husainiyyah. Ia pernah berkata saat ingin memberikan dasar justifikasi shahihnya amalan orang Syi’ah yang sujud di atas lempengan tanah Karbala dengan mencomot dari sumber Ahlus-Sunnah :

و منهم الفقيه الكبير المتفق عليه مسروق بن الأجدع المتوفى سنة ( 62) تابعي عظيم من رجال الصحاح الست كان يأخذ في أسفاره لبنة من تربة المدينة المنورة يسجد عليها ( ! ) كما أخرجه شيخ المشايخ الحافظ إمام السنة أبو بكر ابن أبي شيبة في كتابه " المصنف " في المجلد الثاني في " باب من كان يحمل في السفينة شيئا يسجد عليه ، فأخرجه بإسنادين أن مسروقا كان إذا سافر حمل معه في السفينة لبنة من تربة المدينة المنورة يسجد عليها "

“Dan diantara mereka adalah Al-Faqih Al-Kabir Masruq bin Ajda’ yang meninggal tahun 62 Hijriah, seorang tabi’in besar yang tergolong rijal shihah yang enam. Dia (Masruq) mengambil batu lempengan dari tanah Madinah Munawwarah dalam safar-safarnya untuk sujud di atasnya sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikhul-Masyaayikh Al-Haafidh Imamus-Sunnah Abu bakar Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Al-Mushannaf jilid 2 bab Man Kaana Yahmilu fis-Safiinah Syaian Yasjudu ’Alaih. Dia meriwayatkannya dengan dua sanad, bahwasannya Masruq apabila safar dalam perahu ia membawa batu lempengan dari Madinah Munawwarah untuk sujud di atasnya”.

Kedustaannya adalah : Pertama; atsar ini dalam Al-Mushannaf tidak diriwayatkan dengan dua sanad, namun hanya satu sanad yang bersumber dari Muhammad bin Sirin. Kedua, perkataannya : ‘batu lempengan dari Madinah Munawwarah’ itu tidak ada sama sekali di tempat yang ia tunjukkan dalam Al-Mushannaf. Entah dari mana orang Syi’ah ini bisa mengambil kalimat tersebut. Selain itu, atsar ini juga lemah.

Ini adalah contoh ringan saja. Yang lain ? Banyak…. Dan memang, orang Syi’ah itu telah biasa dan membiasakan diri untuk berdusta. Maka tidak berlebihan perkataan para imam jarh wa ta’dil bahwa orang Syi’ah adalah orang yang paling dusta dalam periwayatan.

Muchtar Luthfi mengisyaratkan bahwa orang-orang yang ia sebut sebagai Salafy/Wahabi itu tidak berani bersaing dengan kelompok Syiah dari sisi keilmiahan. Atas dasar apa ia mengatakan itu ? Apa karena orang-orang Salafy/Wahabi memborong dan membakar kitab-kitab Syi’ah yang menebar syubhat kepada umat itu ? Tindakan ini sungguh tepat demi menyelamatkan aqidah umat Islam dari tipu daya Syi’ah. Kita tidak ingin umat membenci shahabat Nabi karena “tergigit” dan tertular virus rabies Syi’ah dari buku yang dibaca. Kita tidak ingin umat melakukan prostitusi massal dengan kedok nikah mut’ah ala Syi’ah. Dan kita pun tidak ingin umat berkubang kesyirikan degan menuhankan para imam Syi’ah. Banyak ketidakinginan syar’i kita.

Hal ini sama sekali tidak berkorelasi dengan akurasi bantahan ilmiah dari ulama. Betapa banyak bantahan yang telah dihasilkan dari produk-produk tipu daya Syi’ah. Kenyataan yang ada di lapangan, justru merekalah yang “main kayu”. Korban-korban ulama Ahlus-Sunnah atas kedhaliman ahlul-bida’ telah banyak. Salah satu contohnya adalah Dr. Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah. Ia adalah murid Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Ia sangat produktif menulis kitab kesesatan Syi’ah, Shufiyyah, dan Ahmadiyyah dengan bahan dan rujukan dari kitab-kitab mereka sendiri. Karena gerah dan eksistensinya mulai terancam atas tulisan-tulisan Dr. Ihsan, maka ahlul-bida’ membunuhnya secara curang. Semoga Allah melimpahkannya pahala kesyahidan. Dr. Ali Muzhafaryan pun mengalami nasib serupa. Dan masih banyak yang lain lagi.

8. Akhir ulasan Muchtar Luthfi membahas tentang sisi kesamaan Salafy/Wahabi dengan Khawarij. Ia menuduh Syikah Muhammad bin Abdil-Wahhab adalah gembong takfir yang tidak segan-segan mengecap kafir pada orang-orang yang tidak sehalauan dengannya. Cukuplah ana nukilkan perkataan Syaikh Ibnu ‘Abdil-Wahhab tentang ini; beliau berkata dalam risalahnya kepada penduduk Qasim sekaligus menepis tuduhan serupa yang dilntarkan oleh Ibnu Suhaim :

“Allah mengetahui bahwa orang tersebut telah menuduhku yang bukan-bukan, bahkan tidak pernah terbetik dalam benakku. Diantaranya dia berujar bahwa aku mengatakan : ‘Manusia sejak 600 tahun silam tidak dalam keislaman, aku mengkafirkan orang yang bertawassul kepada orng-orang shalih, aku mengkafirkan Al-Bushiri, aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah’. Jawabanku terhadap tuduhan ini : ‘Maha Suci Engkau ya Rabb kami, sesungguhnya ini kedustaan yang amat besar” [Majmu’ah Muallafat Syaikh 5/11,12].

Perkataan Syaikh Ibnu Abdil-Wahhab ini sekaligus membantah tuduhan Muchtar Luthfi si pembeo ahlul-bida’. Dan inilah yang diyakini oleh Salafy saat ini, bahwa mereka tidak enteng saja mengatakan Fulan Kafir tanpa adanya hujjah yang nyata. Dan mungkin pula, ini disebabkan oleh kebodohan Muchtar Luthfi – sebagaimana bisa terlihat – akibat tidak bisa membedakan perkataan mujmal dan mu’ayyan. Maksudnya begini……. Jikalau kita melihat orang yang meminta-minta keselamatan kepada orang mati di kubur, maka kita boleh mengatakan : “Wahai Fulan, engkau telah berbuat syirik”. Atau mengatakan lebih umum lagi : “Barangsiapa yang meminta-minta sesuatu kepada penghuni kubur, maka ia telah berbuat kufur akbar”. Allah ta’ala berfirman :

قُلِ ادْعُواْ الّذِينَ زَعَمْتُم مّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضّرّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً * أُولَـَئِكَ الّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىَ رَبّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنّ عَذَابَ رَبّكَ كَانَ مَحْذُوراً

“Katakanlah,’Panggilah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Israa’ : 56-57).

Perkataan di atas tentu berbeda dengan : “Fulan telah kafir”. Harap diperhatikan !!

Orang semacam Muchtar Luthfi ini tentu kebakaran kumis melihat dakwah Tauhid yang ingin mengajak manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala dan menjauhi segala kesyirikan.

Pelengkap bumbu dusta, Muchtar pun membeo pendahulunya dari kalangan ahlul-bida’ yang mengatakan bahwa daerah Nejd di Saudi, tempat Syikah Muhammad bin Abdil-Wahhab berdakwah, sebagai tempat kemunculan fitnah dan tanduk syaithan. Ia mencocok-cocokkan hadits sesuai dengan hawa nafsunya – sebagaimana biasa. Ana jawab secara ringkas. Hadits tersebut terdapat dalam beberapa lafadh dan jalur sehingga saling menafsirkan. Dalam lafadh yang dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabrani dalam Mu’jamul-Kabir no. 13241 dari jalur Isma’il bin Mas’ud : Telah menceriytakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun, dari ayahnya, dari Nafi, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا , اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا, فَقَالَهَا مِرَارًا , فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ , قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي عِرَاقِنَا , قَالَ:إِنَّ بِهَا الزَّلازِلَ , وَالْفِتَنَ , وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.

“Ya Allah, berkahilah kami dalam Syam kami, ya Allah berkahilah kami dalam Yaman kami”. Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para shahabat nerkata : “Wahai Rasulullah, dalam ‘Iraq kami ?”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula terdapat tanduk syaithan”.

Imam Muslim dalam Shahihnya nomor 2905 meriwayatkan dari Ibnu Fudlail, dari ayahnya, dia berkata : Aku mendengar ayahku, Salim bin Abdillah bin ‘Umar berkata

يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الفتنة تجىء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرنا الشيطان

“Wahai penduduk Iraq, alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar. Aku mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini’. Beliau menunjukkan dengan tangannya kea rah timur. Dari situlah munculnya dua tanduk syaithan”.

Jadi yang dimaksud Nejd dalam hadits tersebut adalah ‘Iraq. Nejd dalam bahasa Arab berarti : arah timur. Bagi penduduk kota Madinah, nejed-nya adalah Iraq (Iraq terletak di sebelah timur Madinah).

Sebenarnya Muchtar Luthfi telah menuliskan bahwa yang dimaksud dengan kata “Najd” adalah timur. Namun ia manipulasi sesuai dengan hawa nafsunya dengan mbawa-mbawa nukilan Al-Qisthalani.

Mengenai urusan gundul-menggundul rambut kepala, maka ini tuduhan yang lebih ngawur lagi. Ana juga heran sama Muchtar Luthfi dan orang yang ia taqlidi; bagaimana bisa ia hubungkan gundul-menggundul dengan Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab dan Wahabi/Salafy-nya ? Ngawur ya ngawur, tapi kok kebangetan….. Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab pernah membantah fitnah ini dengan berkata :

“Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan kebohongan kepada kami. Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini, sebab kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasi kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang ma’lum bi dlarurah (diketahui oleh semua). Jenis-jenis kekufuran baik berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk diantaranya (kekufuran atau kemurtadan). Bahkan kami tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan” [Ad-Durarus-Saniyyah 10/275-276, cet. 5].

Kesimpulan : Apa yang telah dicelotehkan oleh Muchtar Luthfi ini hanyalah lagu usang yang mencela dakwah Tauhid dan usaha-usaha untuk kembali kepada pemahaman as-salafush-shalih. Latar belakang tulisannya hanyalah murni sentimen kelompok karena pembelaan terhadap kaum shufi dan Syi’ah, walau sesekali ia mengatasnamakan Ahlus-Sunnah (?). Ia cela Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, dan – tidak lupa – Muhammad bin Abdil-Wahhab. Ia sepertinya gak berani nyebut-nyebut Imam Syafi’i. Soalnya kalau ia berbuat seperti itu, bisa gak laku dagangan basi dia buat orang Indonesia yang kebanyakan ngaku syafi’iyyah. Dan telah disebutkan, Imam Syafi’i (dan juga para imam yang lain) berlepas diri dari aqidah yang dianut oleh Muchtar Luthfi dan orang-orang yang setipe dengannya. Wallaahu a’lam.

Baca Selengkapnya...“Toelisan Tempoe Doeloe”  »»

Apakah Harta Anak Yatim dan Orang Gila Wajib Dizakati ?

Pertanyaan :

هل تجب الزكاة في مال اليتيم والمجنون ؟

“Apakah harta anak yatim dan orang gila wajib dizakati ?”

Jawab :

تجب الزكاة في مال كل منها، إذا كان حراً مسلماً تام الملك، لما روى الدارقطني، مرفوعاً إلى النبي صلى الله عليه وسلم : (مَنْ وَلِيَ مَالَ الْيَتِيْمِ فَلْيَتَّجِرْ بِهِ، وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ). ولما روى مالك في الموطأ، عن عبد الرحمن بن القاسم عن أبيه أنه قال : (كَانَتْ عَائِشَةُ تَلِيْنِيْ وَأَخًا لِيْ يَتِيْمَيْنِ حَجْرِهَا فَكَانَتْ تُخْرِجُ مِنْ أَمْوَالِنَا الزَّكَاةَ). والقول بوجوب الزكاة في مال كل منهما هو قول علي وابن عمر وجابر وعائشة والحسن بن علي، حكاه عنهم ابن المنذر.

“Harta anak yatim dan orang gila wajib dizakati jika ia seorang merdeka, beragama Islam, dan sempurna kepemilikannya. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy[1] secara marfuu’ sampai pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa diserahi harta anak yatim, maka usahakanlah ia dan jangan ditinggalkan hingga (habis) termakan zakat’. Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Maalik (bin Anas)[2] dalam Al-Muwaththa’ : ‘Aisyah adalah seorang yang mengurus aku dan saudara kali-lakiku yang yatim. Ia (‘Aisyah) mengeluarkan zakat dari harta-harta kami”. Pendapat tentang wajibnya zakat pada harta anak yatim dan orang gila merupakan pendapat Ibnu ‘Umar, Jaabir, ‘Aisyah, dan Al-Hasan bin ‘Aliy. Dihikayatkan hal tersebut oleh Ibnul-Mundzir”.[3]

[Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fataawaa Az-Zakaah; dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnid, hal. 11].



[1] Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy (3/5 no. 1970 – Al-Arna’uth), yang secara tepat dan lengkapnya sebagai berikut :

حدثنا علي بن محمد المصري ثنا الحسن بن غليب الهذلي الأزدي ثنا سعيد بن عفير ثنا يحيى بن أيوب عن المثنى بن الصباح عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام فخطب الناس ، فقال من ولي يتيما له مال فليتجر له ولا يتركه حتى تأكله الصدقة

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad Al-Mishriy : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ghulaib Al-Hadzaliy Al-Azdiy : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Ufair : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, dari Al-Mutsannaa bin Ash-Shabbaah, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash : Bahwasannya Rasuullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri lalu berkhutbah pada orang-orang. Beliau bersabda : “Barangsiapa yang diserahi anak yatim yang mempunyai harta, hendaklah ia usahakan dan jangan ia tinggalkan hingga (habis) termakan zakat”.

Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidziy no. 641, Al-Baihaqiy 4/107, dan Al-Baghawiy no. 1589. Sanad hadits ini lemah dikarenakan Al-Mutsannaa bin Ash-Shabbaah, seorang perawi dla’iif. At-Tirmidziy berkata setelah membawakan hadits tersebut : “….Dalam sanad terdapat pembicaraan, karena Al-Mutsannaa bin Ash-Shabbaah dilemahkan dalam haditsnya”.

Secara lebih lengkap, bisa dilihat pembahasannya dalam Irwaaul-Ghaliil, 3/258-260 no. 788.- Abul-Jauzaa.

[2] Al-Muwaththa’ 2/241 no. 642 (Al-Hilaaliy). Diriwayatkan pula oleh Ibnu Zanjuwaih dalam Al-Amwaal (3/992/1812), Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm (2/29) & Al-Musnad (1/408/616), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (4/108) & Ash-Shughraa (2/61/1218) & Ma’rifatus-Sunan wal-aatsaar (3/248/2266) & Al-Khilaafiyaat (ج٢/ق١٢٠/أ) . Atsar ini shahih.- Abul-Jauzaa’.

[3] Ini adalah pendapat jumhur ulama, kecuali Hanafiyyah (dan juga diriwayatkan dari sebagian salaf) yang tidak mewajibkannya. Wallaahu a’lam.- Abul-Jauzaa’.

Baca Selengkapnya...“Apakah Harta Anak Yatim dan Orang Gila Wajib Dizakati ?”  »»

Kitab Al-Ajwibatul-Mutalaaimah ‘alaa Fatawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah (الأجوبة المتلائمة على فتوى اللجنة الدائمة)

Berikut adalah kitab tulisan Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy hafidhahullah sebagai jawaban dari fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah atas dua kitab beliau yang berjudul At-Tahdziir min Fitnatit-Takfiir dan Shaihatun Nadziir. Silakan didownload dan dibaca, semoga dapat memberi kejelasan apakah memang benar Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy telah berdusta atas nama ulama dan beraqidah Murji’ah.

Al-Ajwibatul-Mutalaaimah ‘alaa Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah – ‘Aliy Al-Halabiy - 33

Sebagai pelengkap, ada beberapa pembahasan semakna dengan yang dibahas oleh Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy di atas. Silakan download beberapa kitab berikut :

1. [إتحاف أهل الصدق والعرفان بكلام الشيخ ربيع في مسائل الإيمان] oleh Ahmad bin Yahyaa Az-Zahraaniy : http://www.fileflyer.com/view/TnkjPCs.

2. [التعريف والتنبئة بتأصيلات العلامة الشيخ الإمام أسد السنة الهمام محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله في مسائل الإيمان والرد على المرجئة] oleh ‘Aliy bin Hasan Al-Halabiy : http://www.fileflyer.com/view/6rX3BA7

3. [الدرر المتلالئة بنقض الإمام العلامة محمد ناصر الدين الألباني (فرية) موافقة المرجئة] oleh ‘Aliy bin Hasan Al-Halabiy : http://www.fileflyer.com/view/53EE5Bs.

4. [تبرئة الإمام المُحَدِّثٍ من قول المرجئة المُحْدَث] oleh Ibraahiim Ar-Ruhailiy : http://www.fileflyer.com/view/o3cf1Bl.

5. [ترك العمل الظاهر وأثره في الإيمان] oleh Ahmad bin Shaalih Az-Zahraaniy : http://www.fileflyer.com/view/ah8CxBA.

Semoga ada manfaatnya…….

[Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy]

Baca Selengkapnya...“Kitab Al-Ajwibatul-Mutalaaimah ‘alaa Fatawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah (الأجوبة المتلائمة على فتوى اللجنة الدائمة)”  »»

Penghalalan (Istihlaal) dalam Amal Perbuatan yang Mengkonsekuensikan Kekafiran

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang norma/kaedah dalam permasalahan penghalalan (istihlaal) yang mewajibkan pengkafiran bagi pelakunya; maka beliau menjawab :

الاستحلال هو أن يعتقد حلّ ما حرّمه الله أما الاستحلال الفعليّ فينظر : إن كان هذا الاستحلال مما يكفِّر فهو كافر مرتدّ ، فمثلاً : لو أنّ الإنسان تعامل بالرِّبا ، لا يعتقد أنّه حلال لكنّه يصرُّ عليه ، فإنه لا يكفر ؛ لأنّه لا يستحلّه ، ولكن لو قال : إنَّ الرِّبا حلال ويعني بذلك الرِّبا الذي حرَّمه الله ، فإنه يكفر ، لأنّه مكذِّب لله و رسوله صلى الله عليه وسلم.

الاستحلال إذن : استحلال فعليّ ، واستحلال عقديّ بقلبه ، فالاستحلال الفعليّ ينظر فيه للفعل نفسه ، هل يكفِّر أم لا ؟ و معلوم أن أكل الرِّبا لا يكفر به الإنسان ، لكنّه من كبائر الذُّنوب ، أما لو سجد لصنم فهذا يكفر لماذا ؟ لأن الفعل يكفِّر ؛ هذا هو الضابط لكن لابد من شرط آخر وهو ألا يكون هذا المستحلُّ معذوراً بجهله، فإن كان معذوراً بجهله فإنه لا يكفر

“Penghalalan (istihlaal) adalah meyakini kehalalan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah. Adapun penghalalan (istihlaal) dalam amal perbuatan, maka itu dilihat : Apabila penghalalan (istihlaal) tersebut termasuk hal yang menjadikan pelakunya kafir, maka ia pun kafir lagi murtad. Misalnya : Apabila ada seseorang yang bermuamalah dengan riba, namun ia tidak berkeyakinan hal tersebut halal walaupun ia terus-menerus melakukannya, maka ia tidak dikafirkan – karena ia tidak menghalalkannya. Namun bila ia berkata : ‘Sesungguhnya riba itu halal’ – yaitu riba yang diharamkan Allah - , maka ia dikafirkan karena ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, penghalalan (istihlaal) itu ada dua macam : penghalalan dalam amal perbuatan (istihlaal fi’liy) dan penghalalan dengan keyakinan di hatinya (istihlaal ‘aqdiy). (Tentang permasalahan) penghalalan dalam amal perbuatan, maka itu dilihat dari amal perbuatan itu sendiri, apakah ia menyebabkan pengkafiran atau tidak ? Telah diketahui bahwasannya memakan harta riba tidak menyebabkan pengkafiran seseorang, namun ia termasuk dosa besar. Seandainya ia sujud kepada berhala, maka ia pun dikafirkan. Kenapa ? Karena perbuatan itu merupakan jenis perbuatan yang dapat mengkafirkan. Inilah norma/kaedahnya. Akan tetapi, wajib diperhatikan adanya persyaratan yang lain, yaitu orang yang menghalalkan tersebut tidak memiliki udzur karena ketidaktahuannya. Seandainya ia mempunyai udzur karena ketidaktahuannya, maka ia tidak dikafirkan”.

[Liqaa’ul-Baabil-Maftuuh/Pertemuan Terbuka, no. 1200 oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah http://abul-jauzaa.blogspot.com].

Baca Selengkapnya...“Penghalalan (Istihlaal) dalam Amal Perbuatan yang Mengkonsekuensikan Kekafiran”  »»

Kritikus Bermental Auditor

Ada fenomena ‘sakit’ yang menjangkiti sebagian kita (saya termasuk di antaranya) dalam soal kratak-mengkritik. Sering kita saksikan ada seseorang yang merasa senang ketika mengkritik seseorang dan beranggapan bahwa 'hasil temuan' itu merupakan satu prestasi yang layak mendapatkan apresiasi.

“Salah kawan pola pikir Anda itu”, gumam saya (dan sepertinya saya sedang bergumam pada diri saya sendiri). Jika Anda hendak menerapkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Agama adalah nasihat” ; maka kritikan yang Anda berikan itu seharusnya merupakan satu usaha untuk mengembalikannya pada kebenaran. Tentu saja, Anda harus berpikiran bahwa kesalahan adalah sesuatu yang membuat diri Anda tidak nyaman (bukannya malah bergembira-ria). Janganlah Anda pernah berpikiran menjadikan kesalahan orang lain sebagai ladang prestasi pribadi Anda. Dan janganlah Anda pernah berpikir menjadikan kesalahan orang lain sebagai ajang pesta-pora dalam sanjungan.

Dan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah telah memberikan petuah :

ما كلمتُ أحدًا قط إلا أحببتُ أن يُوفقَ ويسدد ويعانَ، ويكونَ عليه رعايةٌ من اللهِ وحفظٌ، وما كلمتُ أحدًا قط إلا ولم أبالِ بيين اللهُ الحقَّ على لساني أو لسانه.

“Aku tidak pernah berbicara kepada seorangpun melainkan aku berharap agar ia ditetapkan dan ditolong dalam kebenaran, serta menjadikan pembicaraanku tadi sebagai petunjuk dan bimbingan Allah kepadanya. Dan aku tidaklah peduli – saat berbicara pada seseorang – apakah Allah akan memberikan kebenaran melalui lisanku atau lisan orang lain” [Aadaabusy-Syaafi’iy, Ibnu Abi Haatim hal. 91].

Jadilah pengkritik yang bermental dokter, bukan pengkritik bermantal auditor....

-- yang sedang menasihati diri sendiri –

[satu catatan fb saya beberapa waktu lalu]

Baca Selengkapnya...“Kritikus Bermental Auditor”  »»

Hadits-Hadits Tidak Shahih Seputar Ziarah ke Kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (1)

Hadits Pertama

مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي

“Barangsiapa yang menziarahi kuburku, wajib baginya untuk mendapatkan syafa’atku”.

As-Sakhaawiy berkata : “Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh, Ibnu Abid-Dunyaa, dan yang lainnya dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa. Hadits tersebut juga terdapat pada Shahih Ibni Khuzaimah, dimana dalam kitab tersebut diisyaratkan tentang kedla’ifannya”. [Al-Maqaashidul-Hasanah hal. 413 no. 1125. Lihat juga At-Talkhiishul-Habiir, 2/508 no. 1077].

Khusus perkataan As-Sakhaawiy bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, maka hal itu tidak benar. Tidak diketemukan hadits semisal dalam Shahih Ibni Khuzaimah. Adz-Dzahabiy menyebutkan bahwa Ibnu Khuzaimah menyebutkannya dalam kitab Mukhtasharul-Mukhtashar [lihat Miizaanul-I’tidaal, 4/226].

Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy[1] dalam Sunan-nya 3/334 no. 2695 dan Al-‘Uqailiy[2] dalam Adl-Dlu’afaa’ 4/1321 no. 1748 dengan sanadnya, dari Musaa bin Hilaal Al-‘Abdiy, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’.

Terdapat perselisihan riwayat Muusaa bin Hilaal, dimana Ibnu ‘Adiy[3] dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ 8/69 no. 1834, Al-Baihaqiy[4] dalam Syu’abul-Iimaan no. 3862, Ibnu Khuzaimah dalam Mukhtasharul-Mukhtashar (sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabiy dalam Miizaanul-I’tidaal, 4/226 dan Ibnu Hajar dalam Al-Lisaan, 8/228), dan Ad-Daulaabiy[5] dalam Al-Kunaa 2/64 (sebagaimana disebutkan dalam Lisaanul-Miizaan, 8/229) meriwayatkan dengan sanadnya, dari Muusaa bin Hilaal, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’.

Penyebutan rawi ‘Ubaidullah Al-‘Umariy dalam sanad Ad-Daaruquthniy dan Al-‘Uqailiy adalah keliru. Ibnu ‘Adiy setelah meriwayatkan hadits tersebut dengan penyebutan ‘Abdullah Al-‘Umariy berkata : “Dan ‘Abdullah adalah lebih shahih (penyebutannya daripada ‘Ubaidullah)” [Al-Kaamil, 8/69]. Begitu pula Ibnu Abi Haatim saat menyebutkan biografi Muusaa bin Hilaal, bahwa ia meriwayatkan dari ‘Abdullah Al-‘Umariy [Al-Jarh wat-Ta’diil, 8/166].

Apalagi Ad-Daulaabiy telah secara jelas menyebutkan : ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy Abu ‘Abdirrahmaan - saudara ‘Ubaidillah.

Hal ini dikuatkan oleh Adz-Dzahabiy dimana ia berkata saat menyebutkan biografi Muusaa bin Hilaal : “Ia meriwayatkan dari Hisyaam bin Hassaan dan ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy………… Dan yang paling diingkari padanya adalah haditsnya yang berasal dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’ : “Barangsiapa yang menziarahi kuburku, wajib baginya untuk mendapatkan syafa’atku” [Miizaanul-I’tidaal, 4/225-226].

Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata : “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya[6] dari jalannya dan berkata : ‘Seandainya hadits ini shahih, karena dalam hati (ada sesuatu) dari sanadnya’. Kemudian ia menguatkan bahwasanya hadits tersebut merupakan riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy Al-Mukabbar, seorang yang dla’iif” [At-Talkhiishul-Habiir, 2/508].

Beliau (Ibnu Hajar) juga menukil alasan perajihan ‘Abdullah daripada ‘Ubaidullah dari sebagian huffadh karena Muusaa bin Hilaal hanya menjumpai ‘Abdullah Al-Mukabbar, tidak ‘Ubaidullah. Hal itu dikarenakan ‘Ubaidullah telah meninggal lebih dulu dua puluhan tahun sebelum ‘Abdullah [lihat Liisaanul-Miizaan, 8/231].

Asy-Syaikh Hammaad Al-Anshaariy menyandarkan riwayat ini pada ‘Abdullah Al-Umariy dalam Kasyfus-Sitr (yang tercetak dalam Rasaailun fil-‘Aqiidah, hal. 156).

Hadits ini dla’iif (lemah) dikarenakan :

1. ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy.

Mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy ini, ia diperselisihkan para ulama akan kredibilitasnya. Ada yang men-ta’dil-nya, ada pula yang men-jarh-nya. Beberapa di antara mereka akan disebutkan :

Al-Bukhaariy berkata : “Adalah Yahyaa bin Sa’iid melemahkannya” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/441 dan Adl-Dlu’afaa’ Ash-Shaghiir no. 188]. Ia juga berkata : “Seorang yang ditinggalkan, aku tidak meriwayatkan darinya sama sekali” [Tartiib ‘Ilal At-Tirmidziy Al-Kabiir, lembar 75]. Al-‘Ijilliy berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Ats-Tsiqaat, no. 729]. Abu Zur’ah menyebutkannya dalam Asaamiyudl-Dlu’afaa’ (no. 167).

Ya’quub bin Sufyaan (Al-Fasawiy) berkata : “Aku mendengar seseorang berkata kepada Ahmad bin Yuunus : “Apakah ‘Abdullah Al-‘Umariy dla’iif ?”. Ia menjawab : “Orang yang men-dla’if-kannya hanyalah orang-orang Rafidlah karena kebenciannya terhadap bapak dan kakek-kakeknya[7]. Jikalau engkau melihat jenggot, warna jenggot, dan rupanya, niscaya akan engkau ketahui ia seorang yang tsiqah” [Al-Ma’rifah wat-Taariikh, 2/665].

At-Tirmidziy berkata : “Ia di-dla’if-kan oleh Yahyaa bin Sa’iid dari sisi hapalan haditsnya” [Al-Jaami’ At-Tirmidziy no. 113]. Ia juga berkata : “Ia bukan seorang yang kuat menurut para para ulama ahli hadits. Ia seorang yang jujur” [idem, no. 172].

An-Nasaa’iy berkata : “Tidak kuat (laisa bil-qawiy)” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin, no. 341]. Ahmad bin Hanbal berkata : “Shaalih, tidak mengapa dengannya. Telah diriwayatkan hadits darinya. Namun ia tidak seperti ‘Ubaidullah” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/109-110]. Abu Haatim berkata : “’Abdullah Al-‘Umariy lebih aku cintai dibandingkan ‘Abdullah bin Naafi’. Ditulis haditsnya, namun tidak boleh berhujjah dengannya” [idem, 5/110].

Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Shuwailih (shalih)” [At-Taariikh, riwayat Ad-Daarimiy, no. 523 dan Taariikh Baghdaad, 10/20]. ‘Aliy bin Al-Madiiniy berkata : “Dla’iif” [Taariikh Baghdaad, 10/20]. Ya’quub bin Syaibaah berkata : “Tsiqah lagi jujur, dan dalam haditsnya idlthiraab (goncang)” [idem]. Shaalih bin Muhammad Al-Baghdaadiy berkata : “Layyin (lemah), dan bercampur haditsnya (mukhtalithul-hadiits)” [idem, 10/20-21]. Dan yang lainnya.

Yang rajih dalam hal ini, ia seorang yang jujur dan mempunyai keutamaan, namun lemah dari sisi hapalannya. Ibnu Hajar memberi kesimpulan : “Dla’iif ‘aabid” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 528 no. 3513].

2. Musa bin Hilaal Al-Bashriy Al-’Abdiy.

Abu Hatim berkata tentangnya : “Majhul” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 8/166 no. 734]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Aku berharap, tidak mengapa dengannya (laa ba’sa bihi)” [Al-Kaamil fii Dlu’afaa’ir-Rijaal, 8/69]. Al-’Uqailiy berkata : Tidak sah haditsnya, dan tidak ada muttabi’ padanya (yaitu pada hadits ini)” [Adl-Dlu’afaa’, 4/1321 no. 1748]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (2/445 no. 6541).

Catatan : Asy-Syaikh Al-Albaaniy menyatakan kelemahan di sisi lain, yaitu idlthiraab Muusaa bin Hilaal dalam penyebutan syaikhnya, apakah ’Abdullah atau ’Ubaidullah - karena di sini sulit untuk mencari jalan tarjih-nya [lihat Irwaaul-Ghaliil, 4/337].

Muusaa bin Hilaal mempunyai mutaba’ah[8] dari Muslim bin Saalim Al-Juhhaniy sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy[9] dalam Al-Kabiir 12/291 no. 13149. Muslim ini disebutkan dengan Maslamah. Hadits ini tidak shahih karena keberadaan Muslim/Maslamah bin Saalim Al-Juhhaniy. Ibnu Abi Haatim menyebutkannya dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 8/269-270 no. 1231 tanpa menyebutkan adanya jarh maupun ta’dil. Artinya, ia seorang perawi majhuul di sisinya. Abu Daawud As-Sijistaaniy berkata : ”Tidak tsiqah” [Tahdziibut-Tahdziib, 10/131 no. 232].

Selain itu, sanad Muslim di sini tersisipi Saalim, antara Naafi’ dan Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhumaa. Besar kemungkinan ini berasal dari Muslim bin Saalim, si perawi dla’iif.

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar dalam Musnad-nya (2/57 – Kasyful-Astaar) dari jalan ’Abdullah bin Ibraahiim, dari ’Abdurrahman bin Zaid, dari ayahnya, dari Ibnu ’Umar. Dalam sanadnya terdapat ’Abdullah bin Ibraahiim Al-Ghiffaariy, seorang yang dla’iif, sebagaimana dikatakan oleh Al-Haitsamiy dalam Majma’uz-Zawaaid (4/2).

Saya (Abul-Jauzaa’) katakan : Bahkan ia sangat dla’iif. Ibnu Hajar berkata : ”Matruuk” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 490 no. 3216]. Lihat biografinya dalam Tahdziibul-Kamaal, 14/274-276 no. 3152.

Hadits Kedua

مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

”Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, dan kemudian ia menziarahiku setelah matiku, maka itu seperti halnya menziarahiku pada saat aku masih hidup”..

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy[10] dalam Al-Kabiir 12/406-407 no. 13497, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa[11] 5/246 & Syu’abul-Iman[12] no. 3858, Ibnu ’Adiy[13] dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ 3/268 no. 505, dan Ad-Daaruquthniy[14] dalam As-Sunan 3/333 no. 2693; semuanya dari Hafsh bin Sulaimaan, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari Ibnu ’Umar secara marfuu’.

Hadits ini palsu (maudluu’), dikarenakan Hafsh bin Sulaimaan.

Al-Baihaqiy berkata : ”Hafsh menyendiri dalam periwayatan hadits tersebut, dan ia seorang yang dla’iif” [Al-Kubraa, 5/246]. Al-Bukhaariy berkata : ”Mereka (para ulama) meninggalkan haditsnya” [At-Taariikh Al-Kabiir, 2/363 no. 2767]. Muslim berkata : ”Matruukul-hadiits” [Al-Kunaa, lembar 71]. At-Tirmidziy berkata : ”Dilemahkan dalam hadits” [Jaami’ At-Tirmidziy no. 2905]. An-Nasaa’iy berkata : ”Matruukul-hadiits” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matrukuun, no. 134]. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Matruukul-hadiits” [Al-’Ilal no. 2298]. Ibnu Khiraasy berkata : ”Pendusta, memalsukan hadits” [Miizaanul-I’tidaal, 1/558 no. 2121]. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Matruukul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/173 no. 744]. Yahyaa bin Ma’iin berkata : ”Tidak tsiqah” [idem]. Dan yang lainnya.

Ditambah lagi, Laits bin Abi Sulaim juga seorang perawi dla’iif. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Mudltharibul-hadiits, namun orang-orang meriwayatkan darinya”. Yahya bin Ma’iin berkata : ”Dla’iif, namun ditulis haditsnya”. Abu Ma’mar Al-Qathii’iy berkata : ”Ibnu ’Uyainah mendla’ifkan Laits bin Abi Sulaim”. Dan yang lainnya [selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal, 24/279-288 no. 5017].

Hafsh bin Sulaimaan dalam hadits tersebut mempunyai mutaba’ah dari ’Aaisyah binti Yuunus yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy[15] dalam Al-Kabiir 12/406 no. 13496 dan Al-Ausath 1/222-223 no. 287. Hadits ini sangat lemah, sanadnya gelap, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Haafidh Ibnu ’Abdil-Haadiy dalam Ash-Shariimul-Munkiy (hal. 63).

Al-Haitsamiy berkata : ”Dalam sanadnya terdapat ’Aaisyah binti Yuunus, tidak aku ketemukan biografinya” [Majmaa’uz-Zawaaid, 4/2].

Selain ’Aaisyah; ’Aliy bin Al-Hasan bin Haaruun Al-Anshaariy dan Al-Laits Ibn Binti Al-Laits bin Abi Sulaim juga tidak diketemukan biografinya.

Adapun Ahmad bin Rusydiin, ia adalah Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaaj bin Rusydiin Al-Mishriy. Ibnu Abi Haatim berkata : ”Aku tidak meriwayatkan darinya ketika mereka membicarakannya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/75]. Ibnu ’Adiy berkata : ”Mereka mendustakannya, dan aku mengingkari beberapa hal darinya” [Lisaanul-Miizaan, 1/133 no. 538].

Juga, Laits bin Abi Sulaim, seorang yang jujur (shaduuq) namun bercampur hapalannya [lihat Taqriibut-Tahdziib, hal. 817-818 no. 5721].

Hadits Ketiga

مَنْ زَارَنِي بِالْمَدِيْنَة مُحْتَسِباً كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً أَوْ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَة

”Barangsiapa yang berniat untuk menziarahiku di Madinah, maka aku akan menjadi saksi atau pembela baginya di hari kiamat”.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy[16] dalam Syu’abul-Iimaan no. 3860 dan Al-Jurjaaniy dalam At-Taariikh 1/433; semuanya dari jalan Muhammad bin Ismaa’iil bin Abi Fudaik, dari Abul-Mutsannaa Sulaimaan bin Yaziid Al-Ka’biy, dari Anas bin Maalik secara marfuu’.

Hadits ini lemah, karena dalam sanadnya terdapat Abul-Mutsanna Sulaiman bin Yaziid Al-Ka’biy. Ad-Daaruquthniy berkata : ”Dla’iif” [Al-’Ilal, 5/lembar 121]. Abu Hatim berkata : ”Munkarul-hadiits, tidak kuat[Al-Jarh wat-Ta’diil, 4/149 no. 645]. Ibnu Hibban berkata : ”Tidak boleh berhujjah dengannya dan juga riwayatnya kecuali sebagai i’tibar” [Al-Majruuhiin, 2/505 no. 1264]. Namun ia juga menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat (6/395). Ibnul-Jauziy memasukkanya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matrukuun 2/25 no. 1550. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ 1/446 no. 2632. Ibnu Hajar berkata : ”Dla’iif” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1200 no. 8406].

Hadits Keempat

مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي

”Barangsiapa yang melaksanakan haji namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku”.

As-Sakhawi berkata : ”Dan bagi Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil, Ibnu Hibbaan dalam Adl-Dlu’afaa’, Ad-Daruquthni dalam Al-’Ilal serta Gharaaibul-Malik, dan yang lainnya; kesemuanya dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma secara marfu’ : ’ Barangsiapa yang melaksanakan haji namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku’. Hadits ini tidak shahih” [Al-Maqaashidul-Hasanah, hal. 428 no. 1178].

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibbaan[17] dalam Al-Majruuhiin 2/414 dan Ibnul-Jauziy[18] dalam Al-Maudluu’aat 2/217.

Adz-Dzahabiy menyebutkan sanad Ibnu ’Adiy :

”Telah berkata Ibnu ’Adiy : Telah menceritakan kepada kami ’Aliy bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin An-Nu’maan bin Syibl : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ’Umar secara marfuu’ : ’ Barangsiapa yang melaksanakan haji namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku’”.

Kemudian Adz-Dzahabiy memberikan penilaian : ”Hadits ini palsu (maudluu’)” [Miizaanul-I’tidaal, 4/265 no. 9095].

Kepalsuan hadits ini berasal dari An-Nu’man bin Syibl Al-Baahiliy Al-Bashriy. Muusaa bin Haaruun berkata : ”Ia tertuduh (muttaham)”. Ibnu Hibbaan berkata : ”Ia datang dengan banyak bencana”. Namun menurut Ad-Daaruquthniy, cacat hadits ini berasal dari Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’maan Asy-Syibl [Miizaanul-I’tidaal, 4/265 dan Lisaanul-Miizaan, 8/285].

Ad-Daaruquthniy telah menuduhnya – yaitu Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man - (melakukan dusta) dan sangat melemahkannya [lihat Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’, 2/369 no. 5954 dan Tahdziibut-Tahdziib, 9/433 no. 710]. Ibnu Hajar memberi kesimpulan : ”Matruuk” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 894 no. 6315].

Insya Allah bersambung................

[Abu Al-Jauzaa’ Al-Atsariy – http://abul-jauzaa.blogspot.com].



[1] Sanadnya sebagai berikut :

ثنا القاضي المحاملي نا عبيد الله بن محمد الوراق نا موسى بن هلال العبدي عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من زار قبري وجبت له شفاعتي

Telah menceritakan kepada kami Al-Qaadliy Al-Mahaaliy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Muhammad Al-Warraaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Muusaa bin Hilaal Al-‘Abdiy, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “…..(al-hadiits)….”.

[2] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، قال : حدثنا جعفر بن محمد البزوري، قال : حدثنا موسى بن هلال البصري، عن عبيد الله بن عمر، عن نافع عن ابن عمر، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من زار قبري فقد وجبت له شفاعتي.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Hadlramiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Al-Bazuuriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Hilaal Al-Bashriy, dari

[3] Sanadnya adalah sebagai berikut :

ثنا محمد بن موسى الحلواني، ثنا محمد بن إسماعيل بن سمرة، ثنا موسى بن هلال عن عبد الله العمري، عن نافع، عن ابن عمرقال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ....

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muusaa Al-Hulwaaniy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Samurah : Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Hilaal, dari ‘Abdullah Al-‘Umariy, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “……(al-hadiits)…..

[4] Sanadnya sebagai berikut :

أخبرنا ابو سعد الماليني انا ابو احمد بن عدي الحافظ نا محمد بن موسى الحلواني نا محمد بن إسماعيل بن سمرة نا موسى بن هلال عن عبد الله العمري عن نافع عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من زار قبري وجبت له شفاعتي

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliiniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ahmad bin ‘Adiy Al-Haafidh : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Muusaa Al-Hulwaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Samurah : Telah mengkhabarkan kepada kami Muusaa bin Hilaal, dari ‘Abdullah Al-‘Umariy, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “…..(al-hadits)…”.

[5] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا علي بن معبد بن نوح قال حدثنا موسى بن هلال قال حدثنا عبد الله بن عمر العمرى أبو عبد الرحمن أخو عبيد الله عن نافع عن ابن عمر

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ma’bad bin Nuuh, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Hilaal, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy Abu ‘Abdirrahmaan - saudara ‘Ubaidillah - , dari Naafi, dari Ibnu ‘Umar secara marfu’.

[6] Penisbatan dalam Shahih Ibni Khuzaimah ini keliru, lihat kembali penjelasan sebelumnya.

[7] Maksudnya, ‘Abdullah bin ‘Umar ini adalah keturunan ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu, seorang yang sangat dibenci oleh kaum Raafidlah.

[8] Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam At-Talkhiishul-Habiir, 2/508.

[9] Sanadnya adalah sebagai berikut :

حدثنا عبدان بن أحمد ثنا عبد الله بن محمد العبادي البصري ثنا مسلم بن سالم الجهني حدثني عبيد الله بن عمر عن نافع عن سالم عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ جَاءَنِي زَائِراً لَا يَعلمُهُ حَاجَة إِلَّا زِيَارَتِي كَانَ حَقّاً عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ لَهُ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan bin Ahmad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad ‘Al-‘Abbaadiy Al-Bashriy : Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Saalim Al-Juhhaniy : telah menceritakan kepadaku ‘Ubadullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mendatangiku untuk berziarah, tidak diketahui ada satu hajatpun kecuali hanya untuk menziarahiku, maka wajib bagiku untuk menjadi pemberi syafa’at baginya pada hari kiamat”.

[10] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا أبو الربيع الزهراني ثنا حفص بن أبي داود عن ليث عن مجاهد عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

“Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ishaaq At-Tustariy : Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’ Az-Zahraaniy : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Abi Daawud, dari Laits, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “……(al-hadits)…...

[11] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا أبو محمد عبد الله بن يوسف إملاء، أنا أبو الحسن محمد بن نافع بن إسحاق الخزاعي بمكة، ثنا المفضل بن محمد الجندي، ثنا سلمة بن شبيب، ثنا عبد الرزاق، ثنا حفص بن سليمان أبو عمر، عن الليث بن أبي سليم، عن مجاهد، عن عبد الله بن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Yuusuf secara imlaa’ : Telah memberitakan kepada kami Abul-Hasan Muhammad bin Naafi’ bin Ishaaq Al-Khuzaa’iy di Makkah : Telah menceritakan kepada kami Al-Mufadldlal bin Muhammad Al-Jundiy : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaimaan Abu ‘Umar, dari Al-Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “…..(al-hadits)….

أخبرنا أبو سعد الماليني، أنا أبو محمد بن عدي الحافظ، أنا الحسن بن سفيان، ثنا علي بن حجر، ثنا حفص بن سليمان (ح) وأخبرنا أبو أحمد، ثنا عبد الله بن محمد البغوي، ثنا أبو الربيع الزهراني، ثنا حفص أبي داود؛ عن الليث بن أبي سليم، عن مجاهد، عن عبد الله بن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliiniy : Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin ‘Adiy Al-Haafidh : Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaimaan;

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ahmad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad Al-Baghawiy : Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’Az-Zahraaniy : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Abi Daawud; keduanya dari dari Al-Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “…..(al-hadits)….

[12] Sanadnya sebagai berikut :

أخبرناه أبو سعد الماليني، أخبرنا أحمد بن عدي، حدثنا عبد الله بن محمد البغوي، حدثنا أبو الربيع الزهراني، حدثنا حفص بن سليمان عن ليث بن أبي سليم، عن مجاهد، عن ابن عمر مرفوعا.

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliiniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Adiy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad Al-Baghawiy : Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’ Az-Zahraaniy : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaimaan, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’.

[13] Sanadnya sebagai berikut :

ثنا الحسن بن سفيان، حدثنا علي بن حجر وثنا عبد الله بن محمد البغوي، ثنا أبو الربيع الزهراني [قالا] ثنا علي [ثنا] حفص بن سليمان وقال أبو الربيع ثنا حفص ابن أبي داود قالا عن ليث عن مجاهد، عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ حَجَّ وصحبني.

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Hajar;

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad Al-Baghawiy : Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’ Az-Zahraaniy; [keduanya berkata];

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy : [Telah menceritakan kepada kami] Hafsh bin Sulaimaan – dan telah berkata Abur-Rabii’ : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Abi Daawud - ; dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, dan kemudian ia menziarahiku setelah matiku, maka itu seperti halnya menziarahiku pada saat aku masih hidup dan bershahabat denganku”.

[14] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا عبد الله بن محمد بن عبد العزيز نا أبو الربيع الزهراني نا حفص بن أبي داود عن ليث بن أبي سليم عن مجاهد عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من حج فزار قبري بعد وفاتي فكأنما زارني في حياتي

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz : Telah memberitakan kepada kami Abur-Rabii’ Az-Zahraaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Hafsh bin Abi Daawud, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salla : “…..(al-hadits)….”.

[15] Sanadnya sebagai berikut :

حدثنا أحمد بن رشدين ثنا علي بن الحسن بن هارون الأنصاري ثنا الليث بن بنت الليث بن أبي سليم، قال : حدثني جدتي عائشة بنت يونس امرأة الليث عن ليث بن أبي سليم عن مچاهد عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ زَرَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Rusydiin : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Haaruun Al-Anshaariy : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Binti Al-Laits bin Abiy Sulaim, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku nenekku ‘Aaisyah binti Yuunus, istri Al-Laits, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menziarahi kuburku setelah matiku, maka itu seperti halnya menziarahiku saat aku masih hidup”.

[16] Sanadnya sebagai berikut :

أخبرنا أبو سعيد بن أبي عمرو، حدثنا أبو عبد الله الصفار، حدثنا أبو بكر بن أبي الدنيا، حدثنا سعيد بن عثمان الجرجاني، حدثنا محمد بن إسماعيل بن أبي فديك، أخبرني أبو المثنى سليمان بن يزيد الكعبي، عن أنس بن مالك : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ زَارَنِي بِالْمَدِيْنَة مُحْتَسِباً كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً أَوْ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَة

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’iid bin Abi ‘Amr : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Ash-Shaffaar : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abid-Dun-yaa : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Utsmaan Al-Jurjaaniy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Abi Fudaik : Telah mengkhabarkan kepadaku Abul-Mutsannaa Sulaimaan bin Yaziid Al-Ka’biy, dari Anas bin Maalik : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang berniat untuk menziarahiku di Madinah, maka aku akan menjadi saksi atau pembela baginya di hari kiamat”.

[17] Sanadnya sebagai berikut :

حدثناه أحمد بن عبيد بهمذان، قال : حدثنا محمد بن محمد بن النعمان بن شبل، قال : حدثنا جدي، قال : حدثنا مالك، عن نافع، عن ابن عمر، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaid Bahamdzaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’maan bin Syibl, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami kakekku, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang melaksanakan haji di Baitullah namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku”.

[18] Sanadnya sebagai berikut :

أنبأنا محمد بن عبد الباقي البزار أنبأنا الحسن بن على عن الدار قطني عن أبى حاتم بن حبان حدثنا أحمد بن عبيد حدثنا محمد بن محمد بن النعمان بن شبل حدثنى جدى عن مالك عن نافع عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " من حج البيت ولم يزرنى فقد جفاني ".

Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdil-Baaqiy Al-Bazzaar : Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy, dari Ad-Daaruquthniy, dari Abu Haatim bin Hibbaan : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’maan bin Syibl : Telah menceritakan kepada kami kakekku, dari Maalik, dari Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “…….(al-hadits)…..”.

Baca Selengkapnya...“Hadits-Hadits Tidak Shahih Seputar Ziarah ke Kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (1)”  »»

Anjuran Al-Imam Maalik bin Anas untuk Berdoa Menghadap Kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullah membawakan sanadnya sampai pada Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy, ia berkata :

ناظر أبو جعفر أمير المؤمنين مالكا في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال له مالك : يا أمير المؤمنين، لا ترفع صوتك في هذا المسجد، فإن الله تعالى أدب قوماً فقال : (لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِي) الآية، ومدح قوما فقال : (إِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ أَصِوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ) الآية، وذم قوما فقال : (إِنَّ الَّذِيْنَ يُنَادُوْنَكَ منْ وَرَاءِ الْحُجُراَتِ) الآية، وإن حرمته ميتا كحرمته حياً، فاستكان لها أبو جعفر، وقال : يا أبا عبد الله أستقبل القبلة، وأدعوا أم أستقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال : ولِمَ تَصْرِفُ وجهك عنه، وهو وسيلتك ووسيلة أبيك آدم عليه السلام، بل استقبله واستشفع فيه فيشفعه الله فيك.

“Abu Ja’far Amiirul-Mukminiin pernah berdebat dengan Maalik (bin Anas) di masjid Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maalik berkata kepadanya : “Wahai Amiirul-Mukminiin, janganlah engkau meninggikan suaramu di masjid ini, karena sesungguhnya Allah ta’ala telah mendidik satu kaum dengan berfirman : ‘Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi…’.[1] Dan memuji satu kaum dengan berfirman : ‘Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah…’.[2] Dan mencela satu kaum dengan berfirman : ‘Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu)…’.[3] Sesungguhnya kehormatan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di waktu wafat seperti kehormatan beliau di waktu hidup”. Abu Ja’far merendah dan berkata : ‘Wahai Abu ‘Abdillah, apakah aku menghadap kiblat saat berdoa ataukah menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Maalik bin Anas menjawab : “Mengapa engkau palingkan wajahmu dari beliau, padahal beliau adalah wasilah (perantara)-mu dan wasilah ayahmu Adam ‘alaihis-salaam. Hendaknya engkau menghadap ke (kubur) beliau dan mintalah syafa’at dengannya, niscaya Allah akan memberikan syafa’at kepadamu”.[4]

Kisah ini sering dijadikan dalil oleh sebagian kaum muslimin tentang keutamaan tawassul kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; atau keutamaan menghadap kubur beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat berdoa.

Pembahasan :

Kisah ini tidak shahih dengan dua sebab :

1. Keterputusan antara Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy dengan Maalik bin Anas, terutama di jaman Abu Ja’far Al-Manshuur.

Maalik bin Anas wafat tahun 179 H. Amiirul-Mukminiin Abu Ja’far Al-Manshuur wafat tahun 158 H di Makkah. Adapun Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy wafat tahun 248 H.

Dapat kita lihat bahwa Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy tidak menjumpai Maalik bin Anas dan Ja’far Al-Manshuur, karena terpaut jarak yang cukup jauh.