IslAm NUSantara

0 komentar


Saya terus terang masih bingung mendefinisikan islAm NUSantara. Sebagian tokoh lokal menjelaskan ide baru ini sebagai identitas keislaman orang Indonesia yang ‘moderat’ dan penuh ‘rahmat’; mesti diinternasionalisasikan ke manca negara. Islam yang dalam pikiran sebagian tokoh tergambarkan sebagai Islam yang mengadopsi budaya lokal, nggak mau kearab-araban (atau bahkan anti Arab?), tapi sangat hobi – kalau tidak mau dikatakan rakus – mengadopsi style kebarat-baratan. Islam yang menjadi opisisi ‘Islam Arab’ (?). Islam yang pemahaman nash-nashnya mesti di-reinterpretasi sesuai kondisi dan kebutuhan, sebagaimana diskusi naas belum lama ini yang berhasil membuat girang Benyamin Netanyahu.[1] 

Takbir Jama’iy

0 komentar


Takbir jama’iy yang dimaksudkan di sini adalah takbir secara bersama-sama dengan satu suara yang dikomandoi/dipimpin oleh seseorang (imam/mudzdzin/petugas yang ditunjuk). Tata cara takbir seperti ini telah banyak dibicarakan para ulama kita. Diantaranya adalah Ibnul-Hajj Al-Maalikiy rahimahullah (w. 737 H) yang berkata:
السنة أن يكبر الإمام في أيام التشريق دبر كل صلاة تكبيراً يسمع نفسه ومن يليه , ويكبر الحاضرون بتكبيره , كل واحد يكبر لنفسه ولا يمشي على صوت غيره على ما وصف من أنه يسمع نفسه ومن يليه فهذه هي السنة . أما ما يفعله بعض الناس اليوم من أنه إذا سلم الإمام من صلاته كبر المؤذنون على صوت واحد , والناس يستمعون إليهم ولا يكبرون في الغالب , و إن كبر أحد منهم فهو يمشي على أصواتهم فذلك كله من البدع إذ أنه لم ينقل أن النبي ﷺ فعله ولا أحد من الخلفاء الراشدين بعده
"Yang disunnahkan agar imam bertakbir pada hari-hari tasyriiq di akhir setiap shalat (fardlu)[1] dengan takbir yang dapat didengar oleh dirinya sendiri dan orang lain, dan orang-orang yang hadir (makmum/jama'ah) bertakbir dengan takbirnya. Setiap orang bertakbir untuk dirinya sendiri tanpa mengikuti suara (takbir) orang lain dengan sifat bahwa (takbirnya itu) dapat didengar oleh dirinya sendiri dari orang lain. Inilah sunnah.

Shalat Sunnah Quduum di Masjid

0 komentar


Salah satu sunnah beliau yang banyak ditinggalkan kaum muslimin – dan bahkan banyak diantara mereka yang tidak mengetahuinya sama sekali – adalah shalat sunnah quduum. Yaitu, shalat sunnah dua raka’at yang dilakukan di masjid sepulang dari safar sebelum seseorang tiba di rumah dan bertemu dengan keluarganya. Dalilnya adalah:
عَنْ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
Dari Ka’b radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi apabila pulang dari safar di waktu Dluha, beliau masuk masjid dan shalat dua raka’at sebelum duduk [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3088 & 4418 dan Muslim no. 2769].

Bismillah atau Bismillaahir-rahmaanir-rahiim ?

2 komentar


Dalam sebagian pembicaraan, kadang terlontar pertanyaan : ‘Yang benar itu bismillaah saja atau bismillaahir-rahmaanir-rahiim ketika hendak makan ?’. Wajar, karena dalam praktek di masyarakat, yang diajarkan di TPA-TPA dan sekolah-sekolah sangat beragam. Sebagian mengajarkan atau memakai yang pertama, sebagian lain yang kedua.
Beberapa ulama menjelaskan perbedaan antara basmalah dengan tasmiyyah. Dalam Kamus Al-Mu’jamul-Wasiith disebutkan:
بَسْمَلَ بَسْمَلَةً : قال : بسم الله الرحمن الرحيم ، أو كتبها
Basmala basmalatan, yaitu mengucapkan bismillaahir-rahmaanir-rahiim atau menuliskannya” [1/120].

Diantara Makanan Setan

0 komentar


Nabi bersabda :
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ
Sesungguhnya setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2017].
An-Nawawi rahimahullah berkata :
مَعْنَى ( يَسْتَحِلّ ) يَتَمَكَّن مِنْ أَكْله ، وَمَعْنَاهُ : أَنَّهُ يَتَمَكَّن مِنْ أَكْل الطَّعَام إِذَا شَرَعَ فِيهِ إِنْسَان بِغَيْرِ ذِكْر اللَّه تَعَالَى . وَأَمَّا إِذَا لَمْ يَشْرَع فِيهِ أَحَد فَلَا يَتَمَكَّن . وَإِنْ كَانَ جَمَاعَة فَذَكَرَ اِسْم اللَّه بَعْضهمْ دُون بَعْض لَمْ يَتَمَكَّن مِنْهُ
“Arti dari menghalalkan yaitu dapat menikmati makanan tersebut. Maksudnya, bahwa setan itu mendapatkan bagian makanan jika seseorang memulainya tanpa dzikir kepada Allah . Adapun bila belum ada seseorang yang memulai makan, maka (setan) tidak akan dapat memakannya. Jika sekelompok orang makan bersama-sama dan sebagian mereka menyebut nama Allah sedangkan sebagian lainnya tidak, maka setan pun tidak akan dapat memakannya” [Syarh Shahiih Muslim, 10/172].