Kedudukan Ittibaa’ dalam Syari’at Islam

1 komentar

Ittibaa’[1] mempunyai kedudukan sangat agung dalam syari’at Islam yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.     Ittibaa’ merupakan syarat diterimanya ibadah.
Satu amalan ibadah tidaklah akan diterima kecuali bila disertai ittibaa’ dan berkesesuaian dengan apa yang datang dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Segala amalan yang tidak disertai dengan ittibaa’ tidaklah menambah sesuatu bagi pelakunya kecuali semakin jauh dari Allah ta’ala. Hal itu dikarenakan Allah ta’ala hanyalah disembah/diibadahi dengan sesuatu yang dengannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus; bukan disembah berdasarkan pendapat dan hawa nafsu.

Anjuran Mengerjakan Shalat Sunnah di Rumah

0 komentar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
Jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, dan jangan menjadikannya sebagai kuburan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1187].
Al-Bukhaariy meletakkan hadits ini dalam kitab Shahiih-nya pada bab:
التطوع في البيت
“Shalat tathawwu’ (sunnah) di rumah”.

Beberapa Sebab yang Dapat Menggugurkan Dosa dan Siksa (di Akhirat)

0 komentar

Sesungguhnya pelaku maksiat dapat digugurkan dosa dan siksanya di akhirat dengan beberapa sebab, yaitu:
1.     Taubat
Allah ta’ala berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا * إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun” [QS. Maryam : 59-60].

Kelemahan Hadits tentang ‘Ujub : ‘Seandainya Kalian Tidak Berbuat Dosa......”

0 komentar

Al-Baihaqiy rahimahullah berkata:
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، نا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، نا سَلامُ بْنُ أَبِي الصَّهْبَاءِ، نا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ، خَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ، الْعُجْبَ الْعُجْبَ
Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain bin Bisyraan : Telah mengkhabarkan kepada kami Ismaa’iil bin Muhammad Ash-Shaffaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abbaas bin Muhammad Ad-Duuriy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdil-Wahhaab : Telah menceritakan kepada kami Sallaam bin Abish-Shahbaa’ : Telah menceritakan kepada kami Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas bin Maalik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, maka aku khawatir kalian akan ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ‘ujub! ‘ujub!” [Al-Jaami’ li-Syu’abil-Iimaan no. 6868].

Menyifati Al-Qur’an dengan Musik

0 komentar

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah pernah menyebutkan kekeliruan sebagian orang yang menggunakan lafadh musik untuk menyifati Al-Qur’an. Beliau rahimahullah berkata:
“Menyifati Al-Qur’an Al-‘Adhiim dengan lafadh-lafadh ini (yaitu musik – Abul-Jauzaa’) dan yang semisalnya merupakan penyifatan yang tertolak dikarenakan tiga perkara: