Analog yang Tidak Tepat

0 komentar

Orang yang meniadakan ‘udzur kejahilan sering berdalil dengan syarat ilmu dalam kalimat Laa ilaha illallaah dan kemudian mengqiyaskannya dengan wudlu. Jika wudlu seseorang batal, maka batallah shalat. Begitu juga dengan syarat ilmu. Jika syarat ini batal (karena kejahilan), maka batallah kalimat Laa ilaha illallaah sehingga beralih status dari muslim menjadi kafir (murtad). Dengan ini, ‘udzur kejahilan ditiadakan.
Padahal analog ini tidak tepat dengan alasan:

Kafir Secara Lahir dan Batin

4 komentar

Tanya : Apakah benar jika kita melihat kekafiran atau kesyirikan (akbar), kita menghukumi pelakunya dengan kekufuran lahir tanpa perlu iqaamatul-hujjah. Adapun iqaamatul-hujjah hanya untuk memastikan yang bersangkutan kufur secara batin. Jika ia menolak, maka ia kufur secara lahir dan batin.
Jawab : Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasululillah wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi wa man waalah, amma ba’d :
Madzhab Ahlus-Sunnah mensyaratkan iqaamatul-hujjah (penegakan hujjah) terlebih dahulu sebelum pengkafiran terhadap individu tertentu (mu'ayyan). Iqaamatul-hujjah adalah menyampaikan dalil kepada orang yang belum sampai hujjah itu kepadanya atau samar baginya, serta menjelaskan dan memahamkannya[1] tentang kebenaran dan sekaligus kebatilan yang mereka lakukan. Ini adalah prinsip umum dalam pengkafiran sebagaimana ditegaskan para ulama kita dari zaman ke zaman.

Sarana Menuju Kesyirikan dan Kesyirikan

0 komentar

Mempelajari ta'shil tauhid dan syirik itu penting sehingga dapat membedakan dengan tepat mana syirik akbar dan mana syirik ashghar.
Sujud (menghadap) kepada kuburan sebagai misal. Dalam hadits disebutkan:
لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya" [Diriwayatkan oleh Muslim].
Shalat - yang di dalamnya ada SUJUD - dengan menghadap kubur haram hukumnya. Namun apakah shalat dengan menghadap kubur itu syirik akbar ?. Jawabnya TIDAK, jika shalat yang ia lakukan hanya untuk Allah semata. Perbuatannya tersebut merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada syirik akbar, bukan syirik akbar itu sendiri.

Tabarruk dengan Air Kembang

0 komentar

Tabarruk adalah aktifitas mencari barakah melalui perantaraan sesuatu. Barakah sendiri artinya tetapnya kebaikan pada sesuatu [Al-Mufradaat, hal. 44]. Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah ta’ala, sehingga kita tidak boleh memohon barakah kecuali hanya kepada Allah ta’ala saja. Allah ta’ala berfirman :
قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah : "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. Ali-‘Imran : 26].

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir

1 komentar

Dalam kitab Nawaaqidlul-Islaam karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah, ini merupakan pembatal keislaman ketiga yang secara tekstual berbunyi:
من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر
“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka kafir”.
Yang dimaksud dengan kesyirikan dan kekafiran ini adalah kesyirikan dan kekafiran yang sangat jelas lagi diketahui kemunkarannya. Barangsiapa yang mengetahui kekufuran atau kesyirikan seseorang yang telah tetap/shahih kekufurannya berdasarkan nash, serta tidak ada perselisihan tentang perbuatan atau perkataannya tersebut merupakan kekufuran; kemudian ia tidak mengkafirkannya atau abstain atau ragu akan kekufurannya, maka ia kafir. Siapa saja yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kekafirannya, maka wajib bagi kita untuk mengkafirkannya. Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang yang telah dikafirkan Allah dan Rasul-Nya , maka ia kafir karena mendustakan Allah dan Rasul-Nya . Adapun orang yang (malah) membenarkan madzhab (agama) mereka, maka ini bentuk pendustaan yang lebih parah daripada yang sebelumnya karena pembenaran merupakan ‘penambahan’ dari bentuk pendustaan terhadap firman Allah ta’ala dan sabda Nabi , serta penghalalan (istihlaal) terhadap apa yang diharamkan Allah. Allah ta’ala berfirman: