Tragedi Banyolan Pak Kiyai

7 komentar

Belum lama ini saya mendengarkan celoteh tak bermutu pak kiyai yang kebetulan didapuk (kembali) menjadi Ketua PBNU. Katanya, orang berjenggot itu identik dengan orang bodoh. Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang. Semakin panjang jenggot, semakin goblok. Lalu ia mencontohkan beberapa orang Indonesia tak berjenggot yang secara isyarat ia ingin mengatakan bahwa orang-orang itu termasuk cerdas, seperti : Gus Dur, Nur Cholish Majid, dan Quraish Shihab. Boleh-boleh saja ia mengatakan mereka cerdas karena tidak berjenggot; meski kita boleh saja mengatakan hal yang sebaliknya.
Berikut celoteh pak kiyai:

Speaker Jangan Disalahkan Karena Ia Tidak Dapat Membela Diri

5 komentar

Faktanya adalah ini:


Berbuka ala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam

3 komentar

Berbuka puasa adalah salah satu kenikmatan Allah ta’ala yang dirasakan oleh orang yang berpuasa. Kenikmatan tersebut termasuk kegembiraan yang diawalkan bagi orang yang berpuasa di dunia sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ
“Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7492 dan Muslim no. 1151].

Kaffaarah Berhubungan Badan di Siang Hari pada Bulan Ramadlaan

3 komentar

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكْتُ، قَالَ: مَا لَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لَا، فَقَالَ: فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ، أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ، قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Fiqh Syi’ah (10) : Cuci Tangan Setelah Berjabat Tangan dengan Ahlus-Sunnah

3 komentar

Cuci tangan setelah beristinja’, itu biasa. Cuci tangan setelah berjabat tangan dengan Ahlus-Sunnah, itu baru luar biasa. Dimanakah itu?. Akan coba saya bantu Pembaca sekalian untuk mengetahuinya dari tulisan ringkas berikut:
حُمَيْدُ بْنُ زِيَادٍ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ وُهَيْبِ بْنِ حَفْصٍ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا ( عليهما السلام ) فِي مُصَافَحَةِ الْمُسْلِمِ الْيَهُودِيَّ وَ النَّصْرَانِيَّ قَالَ مِنْ وَرَاءِ الثَّوْبِ فَإِنْ صَافَحَكَ بِيَدِهِ فَاغْسِلْ يَدَكَ