Pukulan Telak

1 komentar


Begitulah omongan bombastis si badut medsos. Hadits yang dimaksudkan olehnya diriwayatkan oleh Al-Imaam Muslim rahimahullah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَي، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ الْحَسَنِ، عَنْ ضَبَّةَ بْنِ مِحْصَنٍ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: " سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ، وَتَابَعَ، قَالُوا: أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ، قَالَ: لَا مَا صَلَّوْا
Telah menceritakan kepada kami Haddaab bin Khaalid Al-Azdiy : Telah menceritakan kepada kami Hammaam bin Yahyaa : Telah menceritakan kepada kami Qataadah, dari Al-Hasan, dari Dlabbah bin Mihshan, dari Ummu Salamah : Bahwasannya Rasulullah pernah bersabda : “Akan datang para penguasa, lalu kalian mengenal mereka namun kalian mengingkari (perbuatan mereka). Barangsiapa yang mengetahui (kemunkarannya), hendaklah ia berlepas diri; dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka ia telah selamat. Akan tetapi, barangsiapa yang ridla (dengan perbuatannya) dan mengikutinya, (maka ia berdosa/celaka)”. Para shahabat berkata : “Tidakkah kita perangi saja mereka ?”. Beliau menjawab : “Tidak, selama mereka masih shalat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1855].

Bacaan Shalat Malam

1 komentar


Orang yang shalat malam atau bertahajjud hendaknya membaca Al-Qur’an sebanyak satu juz atau lebih; atau kurang dari satu juz sesuai dengan kemampuannya untuk merenungi apa yang dibaca. Dirinya boleh memilih antara membaca dengan suara keras atau lirih. Bersuara keras lebih utama jika hal itu membuat ia lebih bersemangat membaca, di dekatnya ada yang mendengarkan bacaannya, atau mengandung manfaat yang lain. Namun jika di dekatnya ada orang yang juga shalat malam/tahajjud atau ada orang yang merasa terganggu dengan suara keras; maka membaca dengan suara lirih lebih utama. Jika tidak ada faktor-faktor yang mengharuskannya membaca dengan suara keras atau dengan suara lirih, maka boleh memilih cara baca yang disukai.[1] 

Dikotomi

11 komentar


Di negeri kita lagi musim istilah ‘senior-yunior’ – ‘doktor-bukan doktor’. Entah apa tujuannya. Yang jelas, jika tujuannya mau bikin sentralisasi atau otorisasi agama, salah. “Ini pendapat ustadz senior, ustadz senior lebih mumpuni,”kata seseorang. Di seberang jalan berbalas,”Ini pendapat ustadz doktor. Ustadz doktor lebih cerdas dan berwawasan”. Dunia dakwah kita memang lagi bising dengan labelisasi. Apalagi pra dan pasca Pilkada seperti sekarang. Bukan substansi argumen yang dilihat, akan tetapi malah adu otorisasi – mana yang lebih layak didengar.

Jangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya

0 komentar


Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" [QS. Al-Hujuraat : 1].
Ayat ini merupakan pokok dalam agama kita yang mengandung adab terhadap Allah dan Rasul-Nya . Membangun manhaj ‘aqidah dan cara pandang seorang muslim dalam menyikapi nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengagungkannya, mengutamakannya, tunduk kepadanya, dan tidak pernah menomorduakannya di bawah perkataan/pendapat selainnya.

Ambil yang Baik, Buang yang Buruk

9 komentar


Muhammad bin Siiriin rahimahullah berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”.
Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah Shahiih-nya hal. 24, Ad-Daarimiy no. 433 & 438, Ibnu Abi Syaibah 8/617 no. 27047, Al-‘Uqaliliy dalam Adl-Dlu’afaa’ hal. 24, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 1/253 & 5/287-288, Ibnu Abi Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 2/15, Ibnul-A’raabiy dalam Mu’jam-nya no. 1613, Ibnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya no. 107 & 179 & 511, Khaitsamah bin Sulaimaan dalam Hadiits-nya no. 167, ‘Affaan bin Muslim dalam Hadiits-nya no. 235, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 7/100, Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 1/21, Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’ 2/278, Al-Khathiib dalam Al-Jaami’ li-Akhlaaqir-Raawiy 1/195 no. 141, dan yang lainnya.