Khawaarij ‘alad-Du’at

14 komentar

Ibnul-Jauziy rahimahullah berkata:
قال أبو الوفاء علي بن عقيل الفقيه : قال شيخنا أبو الفضل الهمداني : مبتدعة الإسلام، والوضاعون للأحاديث أشد من الملحدين؛ لأن الملحدين قصدوا إفساد الدين من الخارج، وهؤلاء قصدوا إفساده من الداخل؛ فهم كأهل بلد سعوا في إفساد أحواله، والملحدون كالمحاصرين من الخارج، فالدخلاء يفتحون الحصن؛ فهم شر على الإسلام من غير الملابسين له
“Abul-Wafaa’ ‘Aliy bin ‘Aqiil Al-Faqiih berkata : Telah berkata syaikh kami Abul-Fadhl Al-Hamdaaniy : ‘Mubtadi’ (ahli bid’ah) dalam Islam dan para pemalsu hadits lebih berbahaya dibandingkan orang-orang mulhid (atheis/kafir), karena orang-orang mulhid ingin merusak agama dari luar, sedangkan mereka ingin merusak Islam dari dalam. Mereka itu seperti penduduk negeri yang berusaha merusak keadaan mereka sendiri. Adapun orang-orang mulhid seperti orang yang melakukan pengepungan dari luar, sedangkan orang-orang yang berada di dalam (yaitu ahli bid’ah dan para pemalsu hadits) membukakan gerbang bentengnya. Oleh karena itu, mereka (ahli bid’ah) lebih jelek terhadap Islam daripada orang-orang yang terang-terangan memusuhi Islam” [Al-Maudluu’aat, 1/51].

Murji’ah Ma’al-Hukkaam !

4 komentar

Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy rahimahullah membawakan riwayat :
وسمعت الحاكم أبا عبد الله الحافظ : سمعت أبا بكر محمد بن أحمد بن بالويه الجلاب يقول: سمعت أبا بكر محمد بن إسحاق ابن خزيمة يقول: سمعت أحمد بن سعيد الرباطي يقول: قال لي عبد الله بن طاهر : يا أحمد إنكم تبغضون هؤلاء القوم جهلاً وأنا أبغضهم عن معرفة. أولاً إنهم لا يرون للسلطان طاعة. والثاني : إنه ليس للإيمان عندهم قدر. والله لا أستجيز أن أقول : إيماني كإيمان يحيى بن  يحيى ولا كإيمان أحمد بن حنبل. وهم يقولون: إيماننا كإيمان جبريل وميكائيل

Perawi yang Melakukan Penyeleksian Riwayat

1 komentar

Para perawi hadits banyak keadaannya. Ada tipikal perawi yang meriwayatkan hadits (mayoritasnya) dari kalangan dlu’afaa’ (para perawi lemah). Ada yang meriwayatkan baik dari dlu’afaa’ maupun tsiqaat. Ada pula yang melakukan penyeleksian dengan meriwayatkan hanya dari para perawi tsiqaat atau mayoritasnya dari para perawi tsiqaat atau ma'ruuf (bukan majhuul). Pada kesempatan kali ini akan coba dibahas tentang penyebutan untuk perawi jenis yang ketiga. Artikel ini masih ada kaitannya dengan artikel sebelumnya yang membahas tentang Perawi Majhuul.
Siapakah mereka ?. Berikut diantaranya:

Hadits “Habatha” (Allah Turun ke Langit Dunia)

2 komentar

Dari Rifaa’ah bin ‘Araabah Al-Juhhaniy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata: Telah bersabda Nabi :
إِذَا مَضَى مِنْ اللَّيْلِ نِصْفُهُ أَوْ ثُلُثَاهُ، هَبَطَ اللَّهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يَقُولُ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي غَيْرِي، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ ذَا الَّذِي يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ "
Apabila telah berlalu setengah malam atau duapertiga malam, maka Allah turun ke langit dunia, kemudian berfirman : 'Tidak ada yang bertanya tentang hamba-hamba-Ku selain diri-Ku. Barangsiapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya; barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka akan Aku berikan ampunan kepadanya; dan barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka  akan Aku kabulkan; hingga terbit fajar”.

Sebuah Masukan (4)

16 komentar

5.   Pakar Hadits (Takhrij)
Al-Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah dalam sebuah rekaman video pengajian yang berjudul Penjelasan Mengenai Doa Makan (Allahummabariklana) berkata (menit 02:38):
Ada yang berkata begini, saya tanya dulu. Kalau saya baca Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa, shahih atau dla’iif ? (Hadirin : ‘dla’iif). Ooo, dla’iif…. (Tertawa). Dari mana tahunya ? Dari guru… Yuk kita lihat kitab aslinya. Buka dulu Muwaththa’ Imam Malik nomor hadits 2772. Nabi tidak mengatakan. Nabi tidak mengatakan : ‘bacalah bismillah’. Hanya mengatakan : ‘sammilah’. Nama Allah ada berapa ? Banyak. Diantaranya 99. Jadi sepanjang kita menyebut nama Allah, dibuat umum untuk memudahkan. Sepanjang kita menyebut nama Allah dengan bahasa apapun, dengan bismillah, dengan ya Allah, dengan Allahumma, itu sudah benar. Nabi mengajarkan hadits yang panjang di Muwaththa’ Imam Malik kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib. Bagaimana redaksinya ?. Kalau engkau mau makan : Qul, bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban-naar. Hadits itu shahih. Bahkan ada yang lebih panjang lagi. Sekarang darimana munculnya pernyataan hadits itu dla’if ?. Ternyata, ada orang keliru baca kitab. Dibaca di kitab Syaikh Al-Albani pembahasan hadits nomor 6390, pembahasan itu sedang membahas hadits hubungan suami istri. Jadi ada hadits dla’if berbunyi begini : Kalau seorang istri berhubungan, seorang suami istri berhubungan, yang sebelum berhubungannya dia membaca Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban-naar, (hadirin tertawa), betul. Silakan dibuka. Maka anak yang lahir tidak akan disentuh oleh setan. Itu haditsnya. Dibahas oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hadits ini kualitasnya dla’if, karena bertentangan dengan doa shahih yang diajarkan oleh Nabi. Orang-orang mengira, yang dla’if ini hadits tentang makanan. Padahal haditsnya berbeda. Jadi hadits tentang makanan terpisah dengan hadits yang tadi. Yang satu dla’if, yang lainnya shahih. Itu yang penting saya luruskan. Itu banyak sekali. Dan banyak orang keliru