Iman Antara Ahlus-Sunnah dan Murji’ah

0 komentar

Iman menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah:
1.     Meliputi perkataan dan perbuatan.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
ومن أصول أهل السنة أن الدين والإيمان قول وعمل ، قول القلب واللسان وعمل القلب واللسان والجوارح
“Dan termasuk prinsip pokok Ahlus-Sunnah adalah bahwasannya agama dan iman adalah perkataan dan perbuatan, (yaitu) perkataan hati dan lisan serta perbuatan hati dan anggota tubuh” [Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah – melalui At-Tanbiihaat Al-Lathiifah, hal. 89].

Madzhab Murji’ah dan Permasalahan Meninggalkan Shalat

0 komentar

Permasalahan hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkan – bersamaan dengan pengakuan atas kewajibannya – merupakan permasalahan klasik yang telah dibahas di banyak kitab para ulama dulu dan sekarang. Khilaaf ini masyhur, sebagaimana dikutip realitasnya oleh Abu Ismaa’iil Ash-Shaabuniy rahimahullah:
واختلف أهل الحديث في ترك المسلم صلاة الفرض متعمداً ؛ فكفره بذلك أحمد بن حنبل ، وجماعة من علماء السلف رحمهم الله أجمعين ، وأخرجوه به من الإسلام، للخبر الصحيح المروي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : (بين العبد والشرك ترك الصلاة ، فمن ترك الصلاة فقد كفر).
   وذهب الشافعي ، وأصحابه، وجماعة من علماء السلف- رحمة الله عليهم أجمعين – إلى أنه لا يكفر به – ما دام معتقداً لوجوبها – وإنما يتوجب القتل كما يستوجبه المرتد عن الإسلام . وتأولوا الخبر : من ترك الصلاة جاحداً لها ؛ كما أخبر سبحانه عن يوسف عليه السلام أنه قال: (إني تركت ملة قوم لا يؤمنون بالله وهم بالآخرة هم كافرون) ، ولم يك تلبس بكفر ففارقه ؛ ولكن تركه جاحداً له.

Pandangan Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab dalam Permasalahan ‘Udzur Kejahilan

0 komentar

Salah satu syarah ulama yang paling baik terhadap kitab Kaysfusy-Syubuhaat karangan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab adalah syarah yang diberikan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahumallah. Meskipun ringkas[1], di dalamnya terkandung banyak faedah, kaedah-kaedah ilmiah, dan jawaban-jawaban yang kuat terhadap syubhat atau permasalahan yang berkaitan dengan ketauhidan dan kesyirikan. Melalui tulisan ini, saya akan coba terjemahkan satu bagian dari kitab tersebut yang membahas pandangan Asy-Syaikh Ibnul-‘Utsaimiin terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab dalam permasalahan ‘udzur kejahilan. Bagi yang pernah membaca atau membahasnya, maka ini sebagai pengingat dan penegasan kembali.
Setelah menyebutkan realitas kebodohan manusia terhadap ketauhidan dan kesyirikan, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah menyebutkan dua faedah, diantaranya:

Mengkritisi Fatwa Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan terkait Penghinaan kepada Nabi (?)

12 komentar

Pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah:
هل يجوز اغتيال الرسام الكافر الذي عرف بوضع الرسوم المسيئة للنبي صلى الله عليه وسلم؟
“Apakah diperbolehkan pembunuhan terhadap kartunis kafir yang diketahui telah membuat gambar penghinaan terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”.
Beliau hafidhahullah menjawab:
هذا ليس طريقة سليمة الاغتيالات وهذه تزيدهم شرا وغيظا على المسلمين لكن الذي يدحرهم هو رد شبهاتهم وبيان مخازيهم وأما النصرة باليد والسلاح هذه للولي أمر المسلمين وبالجهاد في سبيل الله عز وجل نعم
“Perbuatan ini bukan jalan yang benar, yaitu melakukan pembunuhan. Perbuatan ini justru menambah kejelekan dan kemarahan (orang-orang kafir) terhadap kaum muslimin. Akan tetapi jalan untuk menolak mereka adalah dengan membantah syubhat-syubhat mereka dan menjelaskan perbuatan hina mereka tersebut. Adapun melakukan pembelaan dengan tangan dan pedang, maka ini merupakan hak ulil-amri kaum muslimin melalui jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. Na’am” [sumber : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/1960].

Kekeliruan Pendalilan Peniadaan ‘Udzur Kejahilan : Al-Qur’an yang Dibaca Siang dan Malam adalah Hujjah dalam Peniadaan ‘Udzur Kejahilan

0 komentar

Pendalilan ini dibangun atas asumsi bahwa pemahaman bukan sebagai syarat dalam penegakan hujjah (iqaamatul-hujjah). Asumsi ini keliru, karena pemahaman khithaab merupakan syarat takliif. Adapun pemahaman yang tidak disyaratkan adalah pemahaman yang detail atau pemahaman yang berpengaruh pada tingkah laku. Telah lewat penjelasan mengenai hal ini dalam artikel Syarat Pemahaman dalam Iqaamatul-Hujjah.
Atau, dibangun atas asumsi bahwa semua orang pasti memahami (ayat-ayat) Al-Qur’an yang ia baca siang dan malam dalam shalat, doa, dan tilawah mereka. Tidak ada alasan lagi bagi mereka tidak tahu atau tidak paham terhadap (hukum) kekafiran dan kesyirikan yang ada dalam ayat yang mereka baca.