Sarana Menuju Kesyirikan dan Kesyirikan

0 komentar

Mempelajari ta'shil tauhid dan syirik itu penting sehingga dapat membedakan dengan tepat mana syirik akbar dan mana syirik ashghar.
Sujud (menghadap) kepada kuburan sebagai misal. Dalam hadits disebutkan:
لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya" [Diriwayatkan oleh Muslim].
Shalat - yang di dalamnya ada SUJUD - dengan menghadap kubur haram hukumnya. Namun apakah shalat dengan menghadap kubur itu syirik akbar ?. Jawabnya TIDAK, jika shalat yang ia lakukan hanya untuk Allah semata. Perbuatannya tersebut merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada syirik akbar, bukan syirik akbar itu sendiri.

Tabarruk dengan Air Kembang

0 komentar

Tabarruk adalah aktifitas mencari barakah melalui perantaraan sesuatu. Barakah sendiri artinya tetapnya kebaikan pada sesuatu [Al-Mufradaat, hal. 44]. Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah ta’ala, sehingga kita tidak boleh memohon barakah kecuali hanya kepada Allah ta’ala saja. Allah ta’ala berfirman :
قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah : "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. Ali-‘Imran : 26].

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir

0 komentar

Dalam kitab Nawaaqidlul-Islaam karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah, ini merupakan pembatal keislaman ketiga yang secara tekstual berbunyi:
من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر
“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka kafir”.
Yang dimaksud dengan kesyirikan dan kekafiran ini adalah kesyirikan dan kekafiran yang sangat jelas lagi diketahui kemunkarannya. Barangsiapa yang mengetahui kekufuran atau kesyirikan seseorang yang telah tetap/shahih kekufurannya berdasarkan nash, serta tidak ada perselisihan tentang perbuatan atau perkataannya tersebut merupakan kekufuran; kemudian ia tidak mengkafirkannya atau abstain atau ragu akan kekufurannya, maka ia kafir. Siapa saja yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kekafirannya, maka wajib bagi kita untuk mengkafirkannya. Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang yang telah dikafirkan Allah dan Rasul-Nya , maka ia kafir karena mendustakan Allah dan Rasul-Nya . Adapun orang yang (malah) membenarkan madzhab (agama) mereka, maka ini bentuk pendustaan yang lebih parah daripada yang sebelumnya karena pembenaran merupakan ‘penambahan’ dari bentuk pendustaan terhadap firman Allah ta’ala dan sabda Nabi , serta penghalalan (istihlaal) terhadap apa yang diharamkan Allah. Allah ta’ala berfirman:

Pandangan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhaab terhadap Al-Buushiiriy, Ibnu ‘Arabiy, dan Ibnul-Faaridl

1 komentar

Dulu, ada seseorang bernama Sulaimaan bin Suhaim yang membenci dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah. Ia membuat beberapa kedustaan terhadap beliau rahimahullah. Ketika kedustaan itu sampai kepada Syaikh, beliau rahimahullah berkata:
ثم لا يخفى عليكم أنه بلغني أن رسالة سليمان بن سحيم قد وصلت إليكم، وأنه قبلها وصدقها بعض المنتمين للعلم في جهتكم، والله يعلم أن الرجل افترى علي أمورا لم أقلها، ولم يأت أكثرها على بالي.
“Kemudian tidak tersembunyi atas kalian bahwa telah sampai kepadaku risalah Sulaimaan bin Suhaim, yang itu juga telah sampai kepada kalian. Risalah tersebut diterima dan dibenarkan oleh sebagian orang yang condong kepada ilmu di sisimu. Dan Allah mengetahui orang ini telah berdusta pada perkara-perkara yang aku tidak pernah mengatakannya dan (bahkan) mayoritas perkara itu tidak pernah terlintas dalam benakku”

Madzhab Kibaar Ulama dalam ‘Udzur Kejahilan pada Permasalahan Kufur dan Syirik (2)

0 komentar

Artikel ini merupakan kelanjutan dari bagian pertama yang telah ditulis tanggal 30 November 2014. Kibaar ulama di sini maksudnya kibaar ulama muta’khkhiriin.
1.     Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan Aba Buthain rahimahullah (w. 1282 H)
Asy-Syaikh 'Abdullah bin 'Abdirrahmaan Abu Buthain rahimahullah pernah ditanya tentang makna Laa ilaha illallaah, dan orang yang mengucapkannya namun tidak mengkafiri segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Apakah orang yang mengucapkannya sedangkan ia juga berdoa kepada Nabi dan para wali, kalimat itu bermanfaat baginya, ataukah darah dan hartanya menjadi halal ditumpahkan meskipun ia mengucapkannya?