Sunnah yang ‘Terlupakan’ : Mengangkat Kedua Tangan di Antara Dua Sujud

1 komentar


Diantara sunnah yang masyhur diajarkan guru-guru kita dalam bab mengangkat tangan ketika shalat adalah melakukannya di 4 (empat) tempat, yaitu saat hendak memulai shalat (takbiiratul-ikraam), saat hendak rukuk, saat bangun dari rukuk (i’tidal), dan ketika berdiri dari sujud menuju raka’at ketiga. Sebagian dalil yang menjadi dasar adalah:
عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ
Dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar apabila hendak memulai shalat, ia bertakbir seraya mengangkat kedua tangannya. Apabila rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengucapkan sami’allaahu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Apabila berdiri dari (sujud pada) raka’at kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar memarfu’kan riwayat tersebut kepada Nabiyullah [1] [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 739].

Tawassul dengan Sifat Allah

0 komentar


Dari Khaulah bintu Hakiim, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda:
لَوْ نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلا فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْحَلَ مِنْهُ
Apabila salah seorang diantara kalian tiba di suatu tempat, hendaklah ia mengucapkan : a’uudzu bi-kalimaatillaahit-taammati min syarri maa khalaqa (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk yang Allah ciptakan), niscaya tidak ada sesuatupun yang membahayakannya hingga ia beranjak dari (tempat) tersebut”.

Lalat

0 komentar


Rasulullah bersabda:
وَالذُّبَابُ كُلُّهُ فِي النَّارِ إِلا النَّحْلَ
"Dan semua lalat ada di neraka kecuali (jenis) lebah".
Diriwayatkan oleh Abu Ya'laa no. 4231 & 4290, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 4/545, dan dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-'Aaliyah 10/564 no. 2334 dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaaq no. 8417 & 9415, Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 3494, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath 2/160 no. 1575 & 4/11 no. 3482 dan Al-Kabiir 12/389 no. 13436 & 12/398 no. 13467-13468 & 12/418-419 no. 13542-13544, serta dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah 10/567 no. 2335 dari Ibnu 'Umar radliyallaahu ‘anhumaa.

Mushlih

1 komentar


Allah berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dhalim, sedang penduduknya adalah orang-orang mushlih" [QS: Huud : 117].
Allah menggunakan kata mushlih, bukan shaalih. Ada perbedaan antara keduanya sebagaimana dijelaskan para ulama. (Orang) shaalih adalah orang yang kebaikannya untuk dirinya sendiri (dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya yang dibebankan kepada dirinya). Kadang kebaikannya tersebut berimbas kepada orang lain dan memperbaikinya. Adapun mushlih berasal dari kata ishlaah yang merupakan lawan kata dari ifsaad, sehingga mushlih adalah orang yang kebaikannya untuk dirinya dan juga orang lain. Seorang mushlih, ia berusaha memperbaiki manusia dengan menasihati mereka dan beramar ma'ruf nahi munkar.

Pemimpin adalah Cerminan dari (Mayoritas) Rakyatnya

1 komentar


Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang dhalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan” [QS. Al-An’aam: 129].
Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang sebab dan akibat. Yaitu bahwa diberikannya pemimpin yang dhalim kepada satu kaum adalah disebabkan karena kedhaliman yang mereka lakukan.