Bid’ahkah Menghadapkan Orang yang Sakaratul-Maut ke Arah Kiblat ?

Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Naashiruddin Al-Albaniy rahimahullah berkata dalam kitabnya yang masyhur : Ahkaamul-Janaaiz wa Bida’uhaa hal. 307 (Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1412 H) saat menjelaskan macam-macam bid’ah seputar pengurusan jenazah :

“………………

5. Menghadapkan orang yang sedang sakaratul-maut ke arah kiblat. Perbuatan tersebut telah diingkari oleh Sa’iid bin Al-Musayyib sebagaimana terdapat dalam Al-Muhallaa 5/174 dan Maalik sebagaimana dalam Al-Madkhal 3/229-230. Tidaklah shahih hadits yang menjadi dasar akan hal itu (telah lewat pembahasannya pada halalaman 11)[1].” [selesai].

Adapun atsar Sa’id bin Al-Musayyib yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah adalah :

وأما قراءة سورة ( يس ) عنده ، وتو جيهه نحو القبلة فلم يصح فيه حديث ،بل كره سعيد بن المسيب توجيهه إليها ، وقال : " أليس الميت امرأ مسلما !؟ ".

وعن زرعة بن عبد الرحمن أنه شهد سعيد بن المسيب في مرضه وعنده أبو سلمة بن عبد الرحمن فغشي على سعيد ، فأمر أبو سلمة أن يحول فراشه إلى الكعبة . فأفاق ، فقال : حولتم فراشي ! ؟ فقالوا نعم ، فنظر إلى أبي سلمة فقال : أراه بعلمك ؟ فقال : أنا أمرتهم!فأمر سعيد أن يعاد فراشه.

إخرجه ابن أبي شيبة في " المصنف " ( 4 / 76 ) بسند صحيح عن زرعة .

“Adapun bacaan surat Yaasiin di sisi mayit dan menghadapkannyake arah kiblat, maka tidak ada satupun hadits shahih. Bahkan menghadapkan ke arah kiblat merupakan hal yang dibenci oleh Sa’iid bin Al-Musayyib. Ia berkata : “Bukankah mayit itu seorang muslim ?”.

Dan dari Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahwsannya ia pernah menyaksikan Sa’iid bin Al-Musayyib ketika ia sedang sakit dan di sisinya ada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’iid pun pingsan ketika itu. Lalu Abu Salamah memerintahkan agar tempat tidurnya dihadapkan ke arah Ka’bah (kiblat). Sa’id kemudian sadar (dari pingsannya) dan berkata : "Apakah kalian telah merubah tempat tidurku ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu ia memandang Abu Salamah dan berkata : “Aku pikir hal itu dilakukan berdasarkan pengetahuanmu”. Abu Salamah berkata : “Aku (memang) yang memerintahkan mereka !”. Sa’id pun kemudian menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan ke tempat semula”. [Ahkaamul-Janaaiz, hal. 20-21].[2]

Penjelasan beliau rahimahullah di atas perlu dicermati lebih lanjut, karena ada beberapa riwayat yang bertolak belakang dari apa yang beliau jelaskan. Berikut di antaranya :

أخبرني إسماعيل بن محمد بن الفضل بن محمد الشعراني ثنا جدي ثنا نعيم بن حماد ثنا عبد العزيز بن محمد الدراوردي عن يحيى بن عبد الله بن أبي قتادة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة سأل عن البراء بن معرور فقالوا توفي وأوصى بثلثه لك يا رسول الله وأوصى أن يوجه الى القبلة لما احتضر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أصاب الفطرة وقد رددت ثلثه على ولده ثم ذهب فصلى عليه فقال اللهم اغفر له وارحمه وأدخله جنتك وقد فعلت. هذا حديث صحيح فقد احتج البخاري بنعيم بن حماد واحتج مسلم بن الحجاج بالدراوردي ولم يخرجا هذا الحديث ولا أعلم في توجه المحتضر الى القبلة غير هذا الحديث

Telah mengkhabarkan kepada kami Isma’iil bin Muhammad bin Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy : Telah menceritakan kepada kami kakekku : Telah menceitakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad Ad-Daraawardiy, dari Yahyaa bin ‘Abdillah bin Abi Qataadah, dari ayahnya[3] : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau bertanya tentang Al-Barraa’ bin Ma’ruur. Maka mereka (para shahabat) berkata : “Ia telah meninggal dan berwasiat dengan sepertiga (hartanya) untukmu wahai Rasulullah. Ia juga berwasiat agar ia dihadapkan ke kiblat jika ia meninggal". Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ia berada di atas fithrah, dan aku kembalikan sepertiga harta itu kepada anaknya”. Lalu beliau pergi untuk menshalatinya. Beliau bersabda : “Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan masukkanlah ia ke dalam surga-Mu. Dan aku telah melakukannya”.

Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih. Nu’aim bin Hammaad telah digunakan sebagai hujjah oleh Al-Bukhari. Adapun Muslim telah berhujjah dengan Ad-Daraawardiy. Namun hadits ini tidak diriwayatkan oleh mereka berdua. Aku tidak mengetahui dalil untuk menghadapkan kiblat bagi orang yang meninggal kecuali hadits ini” [Al-Mustadrak lil-Haakim, 1/353; Majlis Daairatil-Ma’aarif, Cet. 1/1340 H].

Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

صحيح، فقد احتج (خ) بنعيم و(م) بالدراوردي.

“Shahih, Al-Bukhari telah berhujjah dengan Nu’aim dan Muslim berhujjah dengan Ad-Daraawardiy” [idem, 1/354].

Hadits ini lemah karena Nu’aim bin Hammaad. Walaupun ia dipakai oleh Al-Bukhariy, para ulama telah banyak memberikan kritik kepadanya. Setelah menyebutkan beberapa komentar ulama dalam At-Tahdziib, Ibnu Hajar rahimahullah memberi kesimpulan dalam At-Taqriib :

صدوق يخطىء كثيرا فقيه عارف بالفرائض

“Jujur namun banyak salahnya. Seorang faqiih yang mengetahui seluk-beluk ilmu faraaidl” [At-Taqriib, hal. 1006 no. 7215, tahqiq : Abul-Asybaal Shaghiir Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].

Selain itu, riwayat ‘Abdul-‘Aziiz Ad-Darawardiy dari Nu’aim bin Hammaad - sebagaimana dalam sanad yang dibawakan oleh Al-Haakim - bukan merupakan persyaratan yang dipakai oleh Al-Bukhariy.[4]

Namun riwayat ini mempunyai beberapa penguat di antaranya :

وأخبرنا أبو بكر بن القاضي أنبأ أبو سهل بن زياد، ثنا عبد الكريم بن الهيثم، ثنا أبو اليمان، أنبأ شعيب، عن الزهري، عن عبد الرحمن بن عبد الله بن كعب بن مالك في قصة ذكرها قال : وكان البراء بن معرور أول مَن استقبل القبلة حياً وميتاً.

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Al-Qaadliy : Telah memberitakan kepada kami Abu Sahl bin Ziyad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Kariim bin Al-Haitsam : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah memberitakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, dari ‘Abdurahman bin ‘Abdillah bin Ka’b bin Maalik mengenai kisah yang ia sebutkan/ceritakan. Ia berkata : “Adalah Al-Barraa’ bin Ma’ruur orang yang pertama kali menghadap ke kiblat pada saat hidupnya maupun saat matinya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa, 3/384, tahqiq : Muhammad ‘Abdil-Qaadit ‘Athaa (3/539-540); Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 3/1424 H. Al-Baihaqiy berkata : “Hadits tersebut adalah mursal jayyid”].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وروى يعقوب بن سفيان في تاريخه من طريق ابن شهاب عن عبد الرحمن بن عبد الله بن خعب قال : قال خعب : كان البراء بن معرور أول من استقبل الكعبة حياً وعند حضرة وفاته...

Ya’quub bin Sufyaan meriwayatkan dalam Taariikh-nya dari jalan Ibnu Syihaab, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Ka’b, ia berkata : Telah berkata Ka’b : “Adalah Al-Barraa’ bin Ma’ruur orang yang pertama kali menghadap ke Ka’bah (kiblat) saat hidupnya dan pada saat kematiannya…” [Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar, 1/149 no. 619].

عبد الرزاق عن معمر عن الزهري : أن البراء بن معرور الأنصاري لما حضره الموت قال لأهله وهو بالمدينة : استقبلوا بي الكعبة.

‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhriy : Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur Al-Anshaariy saat menjelang kematiannya ia berkata kepada keluarganya – yang saat itu ia berada di Madinah - : “Hadapkanlah aku ke Ka’bah !” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6064 – mursal].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وروى ابن شاهن بإسنا لين من طريق عبد الله بن أبي قتادة حدثني أمي عن أبي : أن البراء بن معرور مات قبل الهجرة فوجه قبره إلى الكبلة...

Dan Ibnu Syaahin meriwayatkan dengan sanad layyin (lemah) dari jalan ‘Abdullah bin Abi Qataadah : Telah menceritakan kepadaku ibuku, dari ayahku : Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur meninggal sebelum hijrah, dan kuburnya dihadapkan ke arah Kiblat…” [Al-Ishaabah, 1/149].

Juga tentang kisah wafatnya Faathimah yang dibawakan oleh Ummu Salmaa, yang di dalamnya disebutkan :

واضطجعت واستقبلت القبلة وجعلت يدها تحت خدها

“….lalu ia tidur terlentang, menghadap kiblat, dan meletakkan kedua tangannya di bawah pipinya…” [Diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad, 6/461 – dla’if, karena ‘an’anah Ibnu Ishaaq dan juga karena ke-dla’if-an ‘Ubaidullah bin ‘Aliy bin Abi Raafi’].

Beberapa penguat di atas dapat menaikkan hadits Al-Barraa’ bin Ma’ruur ke derajat hasan (lighairihi) sehingga bisa digunakan sebagai hujjah.

Ditambah lagi, perbuatan sebagian shahabat Sa’iid bin Al-Musayyib kepada Sa’id untuk menghadapkannya ke arah kiblat saat menjelang wafatnya menunjukkan perbuatan tersebut merupakan satu kelaziman di kalangan salaf. Adapun pengingkaran Sa’id, ada kemungkinan ia belum mengetahui dalil akan masyru’-nya perbuatan itu sebagaimana diketahui para shahabatnya rahimahumullah.

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

يستحب أن يستقبل به القبلة وهذا مجمع عليه وفى كيفيته المستحبة وجهان (أحدهما) علي قفاه واخمصاه الي القبلة ويرفع رأسه قليلا ليصير وجهه إلى القبلة حكاه جماعات من الخراسانيين وصاحبا الحاوى والمستظهري من العراقيين وقطع به الشيخ أبو محمد الجويني والغزالي وغيرهما قال امام الحرمين وعليه عمل الناس (والوجه الثاني) وهو الصحيح المنصوص للشافعي في البويطي وبه قطع جماهير العراقيين وهو الاصح عند الاكثرين من غيرهم وهو مذهب مالك وأبى حنيفة يضحع على جنبه الايمن مستقبل القبلة كالموضوع في اللحد فان لم يمكن لضيق المكان أو غيره فعلى جنبه الايسر إلى القبلة فان لم يمكن فعلى ففاه والله أعلم

“Disukai untuk menghadapkannya ke arah kiblat, dan ini telah menjadi kesepakatan. Adapun dalam hal kaifiyah-nya, maka ada dua cara : Pertama, ia dibaringkan di atas tengkuk dan punggungnya ke arah kiblat, dan kepalanya diangkat sedikit agar wajahnya menghadap kiblat. Pendapat ini diriwayatkan dari para ulama Khurasan, serta pengarang kitab Al-Haawiy (yaitu Al-Mawardiy – Abul-Jauzaa’) dan Al-Mustadhariy dari kalangan ulama ‘Iraq. Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwainiy, Al-Ghazzaaliy, dan yang lainnya juga memilih pendapat ini. Al-Imam Al-Haramain berkata : ‘Perbuatan inilah yang diamalkan oleh orang-orang’. Kedua, dan inilah yang shahih ternukil dari Asy-Syaafi’iy dalam riwayat Al-Buwaithiy. Pendapat inilah yang dipilih oleh mayoritas ulama ‘Iraq; dan paling shahih menurut mayoritas ulama (lainnya) dibandingkan selain mereka. Inilah madzhab Maalik dan Abu Hanifah, yaitu orang yang akan mati itu tidur miring ke sebelah kanan menghadap kiblat, seperti jenazah yang diletakkan di liang lahat. Apabila itu tidak bisa dilakukan karena sempitnya tempat atau yang lainnya, maka miring ke sebelah kirinya sambil menghadap kiblat. Jika itu tidak bisa juga, maka di atas tengkuknya (sebagaimana cara pertama). Wallaahu a’lam” [Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 5/105-106, tahqiq : Muhammad Najiib Al-Muthii’iy; Maktabah Al-Irsyaad].

Asy-Syaukaniy rahimahullah berkata :

والأولى الاستدلال لمشروعية التوجيه بما رواه الحاكم والبيهقي عن أبي قتادة‏:‏ ‏"‏أن البراء بن معرور أوصى أن يوجه للقبلة إذا احتضر فقال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ أصاب الفطرة‏"‏

“Dan istidlal yang lebih kuat adalah disyari’atkanya untuk menghadapkan (mayit/orang yang akan mati ke arah kiblat) berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Haakim dan Al-Baihaqiy dari Abu Qataadah : ‘Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur berwasiat agar dihadapkan ke kiblat apabila ia meninggal. Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Ia telah sesuai dengan fithrah” [Nailul-Authaar, 4/21; Maktabah Ad-Dakwah Al-Islaamiyah].

Kesimpulan : Disunnahkan bagi orang yang hendak meninggal untuk dihadapkan ke arah kiblat. Perbuatan ini bukan termasuk bid’ah. Inilah pendapat kuat yang dipegang jumhur ulama salaf.

Wallaahu a’lam.

[Abul-Jauzaa’ – banyak mengambil faedah dari penjelasan Asy-Syaikh Mushthafa bin Al-‘Adawiy hafidhahullah dalam Al-Ghusl wal-Kafaan – perumahan ciomas permai, bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com].



[1] Sebagaimana dalam kitab asli – Abul-Jauzaa’.

[2] Ada empat lafadh dalam atsar Sa’iid bin Al-Musayyib rahimahullah ini :

حدثنا أبو عامر العقدي عن محمد بن قيس قال حدثني زرعة بن عبد الرحمن أنه شهد سعيد بن المسيب في مرضه وعنده أبو سلمة بن عبد الرحمن فغشي على سعيد فأمر أبو سلمة أن يحول فراشه إلى الكعبة فأفاق فقال حولتم فراشي فقالوا نعم فنظر إلى أبي سلمة فقال أراه عملك فقال أنا أمرتهم فقال فأمر سعيد أن يعاد فراشه

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al-‘Aqadiy, dari Muhammad bin Qais, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahwsannya ia pernah menyaksikan Sa’iid bin Al-Musayyib ketika ia sedang sakit dan di sisinya ada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’iid pun pingsan ketika itu. Lalu Abu Salamah memerintahkan untuk tempat tidurnya dihadapkan ke arah Ka’bah (kiblat). Sa’id kemudian sadar (dari pingsannya) dan berkata : Apakah kalian telah merubah tempat tidurku ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu ia memandang Abu Salamah dan berkata : “Aku pikir hal itu dilakukan berdasarkan pengetahuanmu”. Abu Salamah berkata : “Aku (memang) yang memerintahkan mereka !”. Sa’id pun kemudian menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan ke tempat semula” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/239, tahqiq & takhrij : Muhammad ‘Awwaamah (7/121); Daarul-Qiblah, Cet. 1/1427 H - shahih].

حدثنا جعفر بن عون عن سفيان عن إسماعيل بن أمية عن سعيد بن المسيب أنه كرهه وقال أليس الميت امرءا مسلما

Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin ‘Aun, dari Sufyaan, dari Ismaa’iil bin Umayyah, dari Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya ia membencinya (memiringkan mayit ke arah kiblat – Abul-Jauzaa’). Ia berkata : “Bukankah mayit itu orang yang beragama Islam (muslim) ?” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/239 (7/120) – shahih].

عن عبد الرزاق عن ابن جريج عن إسماعيل بن أمية أن إنساناً حين حضر ابن المسيب الموتُ وهو مستلق، قال : احرفوه، قال : أو لست عليها، يعني أنه على القبلة وإن لم كن مستقبلها لأنه مسلم.

Dari ‘Abdurrazzaaq, dari Ibnu Juraij, dari Ismaa’iil bin Umayyah : Bahwasannya ada seseorang yang hadir saat Sa’iid bin Al-Musayyib menjelang kematiannya, dan ia alam keadaan tidur terlentang. Orang tersebut berkata : “Balikkanlah ia (ke arah kiblat)”. Sa’iid berkata : “Atau apakah aku tidak berada di atasnya ?” – yaitu ia berada di atas kiblat, meskipun ia tidak menghadap ke arahnya, karena ia seorang muslim [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6062, tahqiq & takhrij : Habiibur-Rahmaan Al-A’dhamiy, Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403 H – shahih].

عبد الرزاق عن معمر والثوري عن إسماعيل بن أمية أن رجلاً دخل على ابن المسيب وهو شاكي مستلقي فقال : وجّهوه للقبلة، فغضب سعيد، وقال : أَوَ لستُ إلى القبلة.

‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar dan Ats-Tsauriy, dari Ismaa’iil bin Umayyah : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang masuk menemui Ibnul-Musayyib yang tengah sakit dan tidur terlentang. Ia berkata : “Hadapkanlah ia ke arah kiblat !”. Sa’id pun marah (mendengar itu) dan berkata : “Ataukah aku tidak berada di atas kiblat (muslim) ?” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6063 – shahih].

[3] Yang benar : “Dari Yahyaa – yaitu Ibnu Abi Katsiir - , dari ‘Abdullah bin Abi Qataadah, dari ayahnya” [lihat Tatabbu’u Auhaam Al-Haakim allatiii Sakata ‘Alaihadz-Dzahabiy oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Wadi’iy, 1/499; Daarul-Haramain, Cet. 1/1417 H].

[4] Lihat At-Ta’diil wat-Tajriih liman Kharaja ‘anhul-Bukhaariy fil-Jamii’ish-Shahiih oleh Abul-Waliid Al-Baajiy, 2/860 no. 735, tahqiq : Ahmad Al-Bazzaar; Cet. Maroko].

Baca Selengkapnya...“Bid’ahkah Menghadapkan Orang yang Sakaratul-Maut ke Arah Kiblat ?”  »»

Takhrij Hadits Al-‘Irbaadl bin Saariyyah : Wajib Atas Kalian untuk Berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafaaur-Raasyidiin

Dari Al-‘Irbadl bin Sariyyah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل إن هذه موعظة مودع فماذا تعهد إلينا يا رسول الله قال أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat kepada kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh dengan satu nasihat yang jelas hingga membuat air mata kami bercucuran dan hati kami bergetar. Seorang laki-laki berkata : ‘Sesungguhnya nasihat ini seperti nasihat orang yang hendak berpisah. Lalu apa yang hendak engkau pesankan kepada kami wahai Rasulullah ?’. Beliau bersabda : ‘Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang budak Habsyiy. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafaa’ Ar-Raasyidiin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham”.

Hadits di atas diriwayatkan melalui enam jalur periwayatan dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah radliyallaahu ‘anhu.

Pertama : Dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy.

Semua dari jalan Khaalid bin Ma’daan, Dlamrah bin Habiib, Yahyaa bin Jaabir Ath-Thaa’iy, dan ‘Auf Al-A’rabiy.

1. Khaalid bin Ma’daan

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban[1] no. 5, Ahmad[2] 4/126-127, Abu Dawud[3] no. 4607, Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah[4] 1/171 no. 92-93 & 1/172 no. 95, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[5] no. 31 & 32 & 54 & 57 & 1039 & 1040, At-Tirmidziy[6] no. 2676, Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar[7] 2/69, Ibnu Maajah[8] no. 44, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah[9] 1/205 no. 102, Ad-Daarimiy[10] no. 96, Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya[11] 14/422 no. 17086-17087, Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[12] 18/245-246 no. 617 & Musnad Asy-Syaamiyyiin[13] no. 437-438, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid[14] no. 355, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad[15] 1/75 no. 80-81, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah[16] 5/220 & 10/114-115, Al-Baihaqiy dalam Al-Kabiir[17] 10/114 & Syu’abul-Iimaan[18] no. 7110 & Manaaqib Asy-Syaafi’iy[19] 1/10-11 & Al-I’tiqaad[20] hal. 229, Al-Haakim[21] 1/95, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih[22] hal. 1164 no. 2305; Al-Marwadziy dalam As-Sunnah[23] hal. 87-88 no. 70-71, Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[24] 3/113-117 no. 607, dan Adz-Dzahabiy dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’[25] 17/482-483; dari beberapa jalan, semuanya dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, secara marfu’.

Tsaur bin Yaziid mempunyai mutaba’ah dari Bahiir bin Sa’d dan Muhammad bin Ibraahiim :

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy[26] no. 2676, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[27] no. 27 & 1037, Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan[28] no. 7109, dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[29] 18/246 no. 618, dari jalan Baqiyyah, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[30] no. 1045, Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar[31] 2/69, Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[32] 18/247-248 no. 621, dan Al-Haakim[33] 1/96; semuanya dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

2. Dlamrah bin Habiib

Diriwayatkan oleh Ahmad[34] 4/126, Ibnu Maajah[35] no. 43, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[36] no. 33 & 56 & 58 & 1044, Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[37] 18/247 no. 619, Al-Haakim[38] 1/96, Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah[39] 1/172 no. 94, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad[40] 1/74 no. 79, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-Ilmi wa Fadllih[41] hal. 1163 no. 2303 dari beberapa jalan; semuanya dari Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, secara marfu.

3. Yahyaa bin Jaabir Ath-Thaa’iy

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[42] no. 30 & 1042 dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[43] 18/247 no. 620; semuanya dari Sulaimaan bin Sulaim, dari Yahyaa bin Jaabir.

4. ‘Auf Al-A’rabiy

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 2/69 : Telah menceritakan Abu Umayyah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Yuunus Al-Yamaamiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah bin ‘Ammaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Auf Al-‘A’raabiy, dari ‘Abdurrahman – Abu Ja’far berkata : Ia adalah Ibnu ‘Amr As-Sulamiy, wallaahu a’lam – ia berkata : Aku masuk ke masjid Dimasyq atau Himsh. Saat itu ada seorang laki-laki dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sedang membacakan hadits pada mereka (yang hadir). Maka ia berkata : “……(al-hadits)….”.

‘Umar bin Yuunus Al-Yamaamiy tidak ditemukan biografinya. Nampaknya telah terjadi tashhiif dalam penulisan namanya. Adapun selainnya, maka semuanya tsiqaat. Adapun shahabat dimaksud di atas kemungkinan adalah Al-‘Irbaadl bin Saariyyah. Wallaahu a’lam.

‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy Asy-Syaamiy adalah seorang perawi maqbuul menurut Ibnu Hajar. Sedangkan di lain perkataan beliau mengatakan tsiqah. Adapun Adz-Dzahabiy mengomentarinya dengan shaduuq (jujur). Al-Haakim memasukkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat.

Kesimpulan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy adalah hasan. Wallaahu a’lam.

Kedua : Dari Yahyaa bin Abil-Muthaa’.

Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah[44] no. 42, Al-Marwaziy dalam As-Sunnah[45] hal. 89 no. 72, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[46] no. 26 & 55 & 1038, Al-Bazzaar dalam Musnad-nya q/209, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid[47] no. 355, dan Ibnu ‘Asaakir dalam Taarikh Dimasyq[48] 31/27-28 & 40/179-180 dari beberapa jalan dari Al-Waliid bin Muslim. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath[49] 1/28 no. 66 & Al-Kabiir[50] 18/248 no. 622 & Musnad Asy-Syaamiyyiin[51] no. 786, Al- Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal[52] 31/539, Abu Nu’aim dalam Al-Mustakhraj ‘alaa Muslim 1/37, dan Ibnu ‘Asaakir dalam Taarikh Dimasyq[53] 64/374-375 dari jalan Ibraahiim bin ‘Abdillah Al-‘Allaa’ bin Zabr. Diriwayatkan oleh Al-Haakim[54] 1/97 dari jalan ‘Amr bin Abi Salamah At-Tuniisiy. Dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taarikh Dimasyq[55] 64/375 secara mu’allaq pada Zaid bin Yahyaa bin ‘Ubaid Ad-Dimasyqiy.

Keempatnya (Al-Waliid bin Muslim, Ibraahiim bin ‘Abdillah Al-‘Allaa’ bin Zabr, ‘Amr bin Abi Salamah At-Tuniisiy, dan Zaid bin Yahyaa bin ‘Ubaid Ad-Dimasyqiy) dari ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Abil-Muthaa’.

Hadits ini shahih, tidak ada ‘illat padanya.

Namun sebagian ulama ada yang men-ta’lil-nya karena tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Yahyaa bin Abi Muthaa’ kecuali ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr – sebagaiamana dikatakan oleh Ath-Thabaraniy. Namun ta’lil ini tidak diterima, sebab Yahya bin Abi Muthaa’ maupun ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr adalah perawi tsiqah sehingga tidak menurunkan derajat haditsnya dengan sebab kebersendirian tersebut.

Selain itu, ta’lil juga diberikan karena adanya inqithaa’ antara Yahyaa bin Abi Muthaa’ dengan Al-‘Irbaadl bin Saariyyah sebagaimana dikatakan Ad-Duhaim – lihat Tahdzibut-Tahdziib 11/280. Namun perkataan ini tidak benar.[56] Penyimakan Yahyaa bin Abi Muthaa’ adalah sangat memungkinkan. Yahyaa bin Abil-Muthaa’ termasuk taabi’iy thabaqah ketiga menurut Ibnu Sumai’ dalam Thabaqaat-nya atau thabaqah keempat menurut Abu Zur’ah dalam Taariikh-nya – sebagaimana dalam Taarikh Dimasyq oleh Ibnu ‘Asaakir 64/377. Adapun Al-‘Irbaadl bin Saariyyah wafat pada tahun 75 H. Al-Bukhariy dan Abu Haatim telah menegaskan penyimakan Yahyaa bin Abi Muthaa’ dari Al-‘Irbaadl.[57]

Ketiga : Dari Hujr bin Hujr.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban[58] no. 5, Ahmad[59] 4/126-127, Abu Dawud[60] no. 4607, Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah[61] 1/171 no. 92-93, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[62] no. 32 & 57 & 1040, Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya[63] 14/422 no. 17086-17087, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah[64] 10/114-115, Ath-Thabaraniy dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin[65] no. 438, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih[66] hal. 1164 no. 2305, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid[67] no. 355, dan Al-Marwadziy dalam As-Sunnah[68] hal. 88 no. 71; dari beberapa jalan, semuanya dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, secara marfu’.

Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, menurut Ibnu Hajar adalah seorang perawi maqbuul.[69] Ia di-tsiqah-kan oleh Al-Haakim dan Ibnu Hibbaan. Namun pen-tsiqah-an ini perlu ditinjau kembali karena mereka berdua termasuk ulama yang mudah memberikan tautsiq pada perawi majhul. Termasuk dalam hal ini Hujr bin Hujr. Tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Khaalid bin Ma’daan dan Shafwaan bin ‘Amr. Oleh karena itu, statusnya adalah majhuul (haal).

Keempat : Dari Muhaashir bin Habiib.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[70] no. 28 & 29 & 59 & 1043 dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[71] 18/248-249 no. 623 & Musnad Asy-Syaamiyyiin[72] no. 697; dari dua jalan (yaitu Abul-Mughiirah dan Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy), dari Arthaah bin Al-Mundzir, dari Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Muhaashir bin Habiib di-tsiqah-kan oleh Al-‘Ijilliyy dalam Ats-Tsiqaat no. 1428. Abu Haatim berkata : “Laa ba’sa bihi”. Penyimakan Muhaashir terhadap Al-‘Irbaadl ini sangat memungkinkan, karena ia (Muhaashir) wafat tahun 128 H sebagaimana dikatakan Ibnu Hibbaan. Ini ditunjukkan dengan riwayat Sa’iid bin Haani’ Al-Khaulaaniy (sebagaimana terdapat dalam beberapa kitab hadits) dengan tashriih penyimakan dari Al-‘Irbaadl, sedangkan ia (Sa’iid) wafat pada tahun 127 H.

Sedangkan Arthaah bin Al-Mundzir, juga seorang yang tsiqah sebagaimana dituturkan oleh Al-Fasaawiy.

Kelima : Dari ‘Abdullah bin Abi Bilaal

Diriwayatkan oleh Ahmad[73] 4/127 dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[74] 18/249 no. 624.

Sanad riwayat ini adalah dla’iif karena kebersendirian ‘Abdullah bin Abi Hilaal, dan ia seorang yang majhuul.

Keenam : Dari Jubair bin Nufair.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah[75] no. 34 & 1041 dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir[76] 18/257 no. 642.

Kesimpulan : Hadits ini shahih dengan semua jalannya tanpa ada keraguan sedikitpun.[77] Walhamdulillah…………..



[1] Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Mukarram bin Khaalid Al-Birtiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Madiiniy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami menemui Al-‘Irbadl bin Sariyyah………..dst.

[2] Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah…..”.

[3] Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khaalid bin Ma’daan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami menemui Al-‘Irbaadl bin Sariyyah….”.

[4] Pertama (no. 92) : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin Musa Al-Jauziy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Daawud bin Rasyiid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami masuk menemui Al-‘Irbaadl bin Sariyyah…………..”.

Kedua (no. 93) : Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ziyaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid – kemudian ia menyebutkan hadits semisal dengannya hingga akhir.

Ketiga (no. 95) : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil-Hamiid Al-Waasithiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad Al-Marwaziy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aashim Adl-Dlahhaak bin Makhlad, dari Tsaur bin Yaziid – kemudian ia menyebutkan hadits semisal dengannya hingga akhir.

[5] Pertama (no. 31) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Mutharrif Ar-Ruwaasiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin Yunus, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Albaniy berkata : “Sanadnya shahih juga, rijal-nya seluruhnya adalah tsiqaat” [Dhilaalul-Jannah, hal. 19].

Kedua (no. 32) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Albaniy berkata : “Sanadnya shahih, semua rijal-nya tsiqaat” [Dhilaalul-Jannah hal. 19].

Ketiga (no. 54) : Telah menceritakan kepada kami Abu Sufyaan ‘Abdurrahiim bin Mutharrif : Telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin Yunus, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Albaniy berkata : “Sanadnya shahih, rijalnya tsiqaat” [Dhilaalul-Jannah, hal. 29].

Keempat (no. 57) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima (no. 1039) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Mutharrif : Telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin Yunus, dari Tsaur, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Keenam (no. 1040) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan Al-Marwaziy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[6] Pertama : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Hujr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Waliid, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari ‘Irbadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Khallaal dan yang lainnya, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari ‘Irbadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[7] Telah menceritakan kepada kami Abu Umayyah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari ‘Irbadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[8] Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hakiim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Ash-Shabbaah Al-Misma’iy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[9] Telah berkata Al-Husain bin Mas’uud : Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Ziyaad bin Muhammad bin Ziyaad Al-Hanafiy : Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad Al-Anshariy : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Aqiil bin Al-Azhar bin ‘Aqiil Al-Faqiih Al-Balkhiy : Telah mengkhabrkan kepada kami Ar-Ramaadiy Ahmad bin Manshuur : Telah mengkhabarkan kepada kami Adl-Dlahhaak bin Makhlad : Telah mengkhabarkan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah mengkhabarkan kepada kami Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmn bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[10] Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah memberitakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepadaku Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari ‘Irbaadl bin Sariyyah radliyallaahu ‘anh, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[11] Pertama (no. 17086) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami masuk menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah……”.

Kedua (no. 17087) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin ‘Abdirrahmaan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur, dari Khaalid, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr semisal dengan hadits sebelumnya.

Dua riwayat yang dibawakan Ath-Thabariy di atas tidak menyebutkan lafadh haditsnya sebagaimana di atas.

[12] Telah menceritakan kepada kami Abu Muslim Al-Kisysyiy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy secara marfu’.

[13] Pertama (no. 437) : Telah menceritakan kepada kami Abu Muslim Al-Kisysyiy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua (no. 438) : Telah menceritakan kepada kami Ward bin Ahmad bin Labiid Al-Bairuutiy : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan bin Shaalih : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepad kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kindiy, mereka berdua berkata : Kami pernah masuk menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, maka ia berkata : “…..(al-hadits)….”.

[14] Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Abul-Hasan ‘Aliy bin Ghaalib bin Salaam As-Saksakiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Madiiniy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy, ia (masing-masing dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy) berkata : “Kami datang menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah…..dst.”.

[15] Pertama (no. 80) : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Umar bin Muhammad bin Humaid : Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah Al-Wakiil : Telah memberitakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim Adl-Dlahhaak bin Makhlad : Telah mengkhabarkan kepada kami Tsaur, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua (no. 81) : Telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin Ismaa’iil bin Zakariyyaa An-Naisaabuur : Telah memberitakan kepada kami Abu Haamid Ahmad bin Al-Hasan Asy-Syarqiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahyaa : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Ash-Shabbaah dan Abu ‘Aashim, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[16] Pertama (5/220) : Telah menceritakan kepada kami Faaruuq dan Habiib dalam jama’ah, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muslim Al-Kisysiy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim An-Nabiil, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua (10/114-115) : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Muhammad bin Hamzah : Telah menceritakan kepada kami Haamid bin Syu’aib : Telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Yuunus : Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami pernah mendatangi Al-‘Irbaadl bin Saariyyah……”.

[17] Pertama : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Hasan ‘Aliy bin Ahmad bin ‘Umar bin Hafsh bin Al-Hamaamiy Al-Muqri’ di Baghdaad : Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Sulaiman : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Muhammad Ad-Duuriy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[18] Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Qaasim ‘Abdurrahman bin ‘Ubaidillah Al-Harfiy : Telah menceritakan kepada kami Habiib bin Al-Hasan bin Daawud Al-Fazzaaz secara imlaa’ : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Muslim Al-Bashriy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim Adl-Dlahhaak bin Makhlad, dari Tsaur – yaitu Ibnu Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Muhaqqiq berkata : Sanadnya hasan.

[19] Pertama : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Hasan ‘Aliy bin Ahmad Al-Hammaamiy : Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Salmaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Muhammad Ar-Raqqaasyiy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Muhammad Ad-Duuriy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[20] Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Muhammad Ad-Duuriy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[21] Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’qqub : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Muhammad Ad-Duuriy : telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[22] Pertama : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaid bin Muhammad dan Muhammad bin ‘Abdil-Malik, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Masruur : Telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin Miskiin : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sanjar : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khalid bin Ma’daan, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua : Dan diriwayatkan oleh Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur [bin Yaziid], dari Khaalid bin [Ma’daan], dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[23] Pertama (no. 70) : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim : Telah memberitakan kepada kami ‘Isaa bin Yunus : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah Al-Fazaariy secara marfu’.

Kedua (no. 71) : Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Musaawir : Telah memberitakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami masuk menemui ‘Irbaadl bin Saariyyah……”.

Muhaqqiq berkata : “Shahih”.

[24] Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah Al-Faqiih secara imlaa’ : Telah memberitakan kepada kami Dal’aj bin Ahmad bin Dal’aj di Baghdad - :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin ‘Ammaar [bin Yahyaa] secara imlaa’ : Telah memberitakan kepada kami Haamid bin Muhammad bin ‘Abdillah Ar-Rafaa’; mereka berdua (Dal’aj bin Ahmad bin Dal’aj dan ‘Abdullah Ar-Rafaa’) berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu Muslim - :

Telah memberitakan kepada kami ‘Abdul-Jabbaar bin Jarraah : Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Mahbuub - :

Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah : Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ibraahiim dan Al-Husain bin Ahmad, mereka berdua berkata : Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Yahyaa; mereka berdua (Muhammad bin Ahmad bin Mahbuub dan Muhammad bin Muhammad bin Yahyaa) berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Isaa At-Tirmidziy : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Hulwaaniy – :

Dan telah memberitakan kepada kami ‘Abdul-Waahid Al-Maliihiy : Telah menceritakan kepadakami Muhammad bin ‘Abdillah : Telah menceritakan kepada kami Al-Asham : Telah menceritakan kepada kami Ad-Duuriy; Mereka (Ad-Duuriy, Abu Muslim, dan Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Hulwaaniy) berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aashim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid.

Telah berkata Al-Hulwaaniy dan Abu Muslim : (Abu ‘Aashim berkata : ) dari Tsaur bin Yaziid - :

Dan telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Mahmuud : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah secara imlaa’ : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Mush’ab : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Hakiim : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Ash-Shabbaah - :

Telah menceritakan kepada kami Manshuur bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Habiib bin Muhammad bin Habiib (Harawiy) : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aktsam : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Muusaa; mereka berdua (‘Abdul-Malik bin Ash-Shabbaah dan Al-Fadhl bin Muusaa) berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur.

Dan telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yuusuf Al-Firbariy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Khusyram : Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Yuunus - :

Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy : Telah memberitakan kepada kami Zaahir bin Ahmad : Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Aslam : Telah menceritakan kepada kami Hafsh : Telah menceritakan kepada kami Khaarijah; keduanya (‘Isaa bin Yuunus dan Khaarijah) dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah - :

Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Jibriil Al-Faqiih dan ‘Aliy bin Abi Thaalib, mereka berdua berkata : Telah memberitakan kepada kami Haamid bin Muhammad : Telah memberitakan kepada kami Bisyr bin Muusaa - :

Dan telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah : Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Handhalah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Muhallab; mereka berdua (Bisyr bin Muusaa dan Muhammad bin Al-Muhallab) berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidiy - :

Dan telah memberitakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Bajaliy : Telah memberitakan kepada kami Ishaq bin Ibraahiim Al-Faarisiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Ishaaq bin Ismaa’iil binHammaad bin Zaid Abul-Hasan Al-Qaadliy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahyaa bin Ishaaq Al-Hulwaaniy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim - :

Dan telah meberitakan kepada kami Ismaa’iil bin Muhammad bin Ismaa’iil Al-Jiiruftiy Asy-Syaikh Ash-Shaalih : Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdaan Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Sulaimaan bin Al-Asy’ats : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Muhammad bin Bakkaar bin Bilaal : Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Isaa; mereka (Al-Humaidiy, Al-Waliid bin Muslim, dan Muhammad bin ‘Isaa) berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid.

Al-Waliid berkata : (Tsaur bin Yaziid berkata : ) Telah menceritakan kepadaku Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami mendatangi ‘Irbaadl bin Saariyyah….”.

[25] Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-Awaal bin ‘Isaa : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad Al-Faqiih secara imlaa’ : Telah mengkhabarkan kepada kami Dal’aj :

Dengan sanad sampai pada ‘Abdullah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin ‘Ammaar secara imlaa’ : Telah mengkhabarkan kepada kami Haamid bin Muhammad; mereka berdua (Dal’aj dan Haamid bin Muhammad) berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muslim : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Muhaqqiq berkata : “Isnadnya shahih”.

[26] Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Hujr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Waliid, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah secara marfu’.

[27] Pertama : Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Utsmaan : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Waliid, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua : Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Utsmaan : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara marfu’.

[28] Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Yahya bin ‘Abdil-Jabbaar Al-Sukriy di Baghdad : Telah mengkhabarkan kepada kami Ismaa’iil bin Muhammad Ash-Shaffaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abbaas bin ‘Abdillah At-Tarqufiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mubaarak : Telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyyah bin Yahyaa Abu Muthii’ : Telah menceritakan kepada kami Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Catatan penting : Dalam sanad ini adalah keterputusan (inqithaa’) antara Khaalid bin Ma’daan dan Al-‘Irbaadl bin Saariyyah. Namun inqithaa’ ini telah disambungkan oleh At-Tirmidziy dan yang lainnya dengan adanya perantara ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy.

[29] Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Muhammad bin ‘Araq Al-Himshiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Utsmaan : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[30] Dan telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Haazim, dari Yaziid bin ‘Abdillah bin Al-Haad, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Albaniy berkata : “Hadits shahih, semua rijal-nya adalah tsiqaat dan termasuk rijaal Shahihain, kecuali Ya’quub bin Humaid. Ia seorang yang haditsnya hasan sebagaimana telah disebutkan beberapa kali sebeumnya. Namun aku khawatir bahwa hadits tersebut terputus antara Khaalid bin Ma’daan dan Al-‘Irbaadl, karena antara keduanya terdapat ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy sebagaimana sanad hadits no. 1037 dan 1039….”.

[31] Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khuzaimah dan Fahd bin Sulaimaan, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Al-Laits, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Ibnul-Haad, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah – dan ia adalah seorang laki-laki dari Bani Sulaim dan termasuk Ahlush-Shuffah, ia berkata : “…….(al-hadits)…”.

[32] Telah menceritakan kepada kami Mush’ab bin Ibraahiim bin Hamzah Az-Zubairiy : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Abi Haazim : Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Al-Haad, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Khaalid bin Ma’daan, dari pamannya, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah – dan ‘Irbaadl adalah seorang laki-laki dari Bani Sulaim, ia berkata : “…….(al-hadits)…”.

[33] Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdilah Al-Husain bin Al-Hasan bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami Abu Haatim Muhammad bin Idriis Al-Handhaliy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf At-Tuniisiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Yaziid bin Al-Haad, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah yang berasal dari Bani Sulim dan termasuk Ahlus-Shuffah, ia berkata : “……(al-hadits)…”.

[34] Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyyah - yaitu Ibnu Shaalih - , dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “….(hadits)…”.

[35] Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Bisyr bin Manshuur dan Ishaaq bin Ibraahiim As-Sawwaak, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy, dari Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “….(al-hadits)…”.

[36] Pertama (no. 33) : Telah menceritakan kepada kami Abu Mas’uud : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih, dari Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Albaniy berkata : “Hadits shahih, semua rijal-nya tsiqaat jika tidak ada ‘Abdullah bin Shaalih – yang berkunyah Abu Shaalih - . Padanya ada kelemahan. Namun ia tidak bersendirian dalam meriwyatkan hadits sebagaimana akan datang (penguatnya), maka hadits tersebut adalah shahih”.

Kedua (no. 56) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Furraat : Telah menceritakan kepada kami Abu Shaalih : Telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl, dari Nabi shallalaahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga (no. 58) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf : Telahmenceritakan kepada kami Abu Shaalih, dari Mu’aawiyyah bin Shaalih – semisal hadits Abu Mas’uud (yaitu dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – Abul-Jauzaa’), beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “…..(hadits)…”.

[37] Telah menceritakan kepada kami Abu Yaziid Al-Quraathiisiy : Telah menceritakan kepada kami Asad bin Muusaa - :

Dan telah menceritakan kepada kami Bakr bin Sahl : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih; mereka berdua (Asad bin Muusaa dan ‘Abdullah bin Shaalih) berkata : Telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy berkata : “…..(hadits)…”.

[38] Telah menceritakan kepada kami Abul-Hasan Ahmad bin Muhammad Al-‘Anbariy : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy; dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad Al-Muammal : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl. Mereka berdua (‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy dan Abu Bakr Muhammad Al-Muammal) berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Shaalih, dari Mu’aawiyyah bin Shaalih.

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ja’far Al-Qathii’iy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman, yaitu Ibnu Mahdiy, dari Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “…….(al-hadits)….”.

[39] Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Daawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad bin Muusaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar ‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy berkata : “…(al-hadits)…”.

[40] Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Al-‘Abbaas : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Sulaimaan bin Al-Asy’ats : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shaalih : Telah memberitakan kepada kami Asad bin Muusaa : Telah memberitakan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih : Telah menceritakan kepadaku Dlamrah bin Habiib, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar ‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy berkata : “…….(al-hadits)…..”.

[41] Dan telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid bin Nashr : Telah menceritakan kepada kami Qaasim : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wadldlaah dan Ahmad bin Yaziid, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muusaa bin Mu’aawiyyah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih Al-Himshiy, dari Dlamrah bin Habiib, [dari] ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr Al-Anshaariy As-Sulamiy : Bahwasannya ia mendengar ‘Irbaadl bin Sriyyah berkata : “….(al-hadits)…”.

[42] Pertama (no. 30) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, dari Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Sulaimaan bin Sulaim, dari Yahyaa bin Jaabir, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua (no. 1040) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, dari Ismaa’iil, dari Sulaimaan bin Sulaim, dan Yahyaa bin Jaabir, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[43] Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ishaaq bin Ibraahiim bin Al-‘Allaa’ Al-Himshiy : Telah menceritakan kepadaku kakekku Ibraahiim Al-‘Allaa’ dan Muhammad bin Ibraahiim, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Waliid, dari Sulaimaan bin Sulaim, dari Yahyaa bin Jaabir, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, ia berkata : “……(al-hadits)….”.

[44] Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Bsyiir bin Dzakwaan Ad-Dimasyqiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ – yaitu Ibnu Zabr - , ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Abi Muthaa’, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “……(al-hadiits)….”.

[45] Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Musaawir : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Abi Muthaa’, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[46] Pertama (no. 26) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Wahhaab bin Najdah : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’, dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “……(al-hadiits)…”.

Al-Albaniy berkata :”Hadiits shahih, rijal-nya tsiqaat, hanya saja Al-Waliid bin Muslim telah melakukan tadlis taswiyyah. Namun ia telah menjelaskan penyimakannya (tahdits) sebagaimana riwayat yang akan datang….”.

Kedua (no. 55) : Telah menceritakan kepada kami Al-Huuthiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr, dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “…..(al-hadits)…”.

Ketiga (no. 1038) : Telah menceritakan kepada kami Al-Huuthiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’, dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[47] Setelah membawakan hadits dari riwayat ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy (lihat catatan kaki no. 14), Tamaam Ar-Raaziy berkata :

“Al-Waliid berkata : ‘Lalu aku sebutkan hadits ini ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’, maka ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Abil-Muthaa’ Al-Qurasyiy hadits ini, karena ia (Yahyaa) telah mendengarnya dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah”.

[48] Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Qaasim [Nashr] bin Ahmad bin Muqaatil dan Abu Nashr : Telah mengkhabarkan kepada kami Ghaalib bin Ahmad Al-Muslim; mereka berdua (Abul-Qaasim dan Ghaalib bin Ahmad) berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Ahmad bin Zuhair : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad bin ‘Utsmaan bin Sa’iid bin Qaasim Al-Ghassaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Athiyyah Al-Mu’addil – seorang imam masjid Baab Al-Jaabiyyah di kota Damaskus - : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Hasan Ahmad bin ‘Umair bin Yuusuf bin Jaushaa : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Umar bin ‘Utsmaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Abil-Muthaa’, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah berkata : “…..”(al-hadits)….”.

Kedua : Ibnu ‘Asaakir setelah membawakan riwayat ‘Abdurrahman bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr berkata : “Al-Waliid berkata : Lalu aku menyebutkan hadits ini kepada ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr. Dan ia (‘Abdullah) berkata : Kemudian Yahyaa bin (Abi) Al-Muthaa’ Al-Qurasyiy menceritakan riwayat itu kepadaku bahwa ia telah mendengarnya dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah”.

[49] Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibraahiim, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ – Abul-Jauzaa’), dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy, ia berkata : “……(al-hadits)….”.

Ath-Thabaraniy berkata : “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Yahyaa bin Abi Muthaa’ kecuali ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr”.

[50] Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibraahiim Al-Qurasyiy : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ – Abul-Jauzaa’), dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy, ia berkata : “……(al-hadits)…”.

[51] Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ad-Dimasyqiy : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Yahyaa bin Abil-Muthaa’, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy, ia berkata : “….(al-hadits)…”.

[52] Telah mengkhabarkan kepada kami dengannya Abu Ishaaq Ibraahiim bin Ismaa’iil bin Ad-Darajiy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad Ash-Shaidalaaniy, Dawud bin Muhammad bin Maasyaadah, dan ‘Afiifah binti Ahmad, mereka berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Faathimah binti ‘Abdillah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdillah bin Riidzah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Qaasim Sulaimaan bin Ahmad Ath-Thabaraniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibraahiim Al-Qurasyiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ – Abul-Jauzaa’), dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, ia berkata : “…..(al-hadits)…..”.

[53] Pertama : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Hasan ‘Aliy bin Al-Muslim Al-Fardliy dan Abul-Husain bin Abil-Hadiid, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah bin Abil-Hadiid : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Hasan bin As-Simsaar : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah bin Marwaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibraahiim - :

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibraahiim bin Thaahir bin Barkaat : Telah memberitakan kepada kami Abul-Qaasim ‘Aliy bin Muhammad Al-Mushiishiy : Telah memberitakan kepada kami Abu Nashr bin Al-Habbaan : Telah memberitakan kepada kami Jumah bin Al-Qaasim : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin ‘Abdish-Shamad bin Al-Barzuuz; mereka berdua (Abu ‘Abdil-Malik Ahmad bin Ibraahiim dan ‘Abdurrahmaan bin ‘Abdish-Shamad bin Al-Barzuuz) berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr : Telah mengkhabarkan kepada kami – adapun dalam hadits Ibnu Barzuuz : Telah menceritakan kepadaku – ayahku, yaitu ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Abil-Muthaa’, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, ia berkata : “…..(al-hadits)…”.

Kedua : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hasan bin Ahmad – dalam kitabnya -, dan telah menceritakan kepadaku Abu Mas’uud ‘Abdurrahmaan bin ‘Aliy darinya : Telah memberitakan kepada kami Abu Nu;aim Al-Haafidh : Telah mengkhabarkan kepada kami Sulaimaan bin Ahmad : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdil-Malik Ad-Dimasyqiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Yahyaa bin Abil-Muthaa’, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah, ia berkata : “…..(al-hadits)….”.

[54] Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Isaa bin Zaid At-Tuniisiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abi Salamah At-Tuniisiy : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zaid, dari Yahyaa bin Abi Muthaa’, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl bin Saariyyah As-Sulamiy berkata : “……(al-hadits)….”.

Catatan : ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zaid di sini nampaknya terjadi tashhiif. Yang benar ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr, wallaahu a’lam.

[55] Ibnu ‘Asaakir berkata : “Dan diriwayatkan oleh Al-Waliid dan Zaid bin Yahyaa bin ‘Ubaid, dari ‘Abdullah bin Zabr, dari Yahyaa, ia berkata : Aku mendengar Al-‘Irbaadl”.

[56] Ada kekeliruan dalam memahami perkataan Ad-Duhaim. Perincian perkataan Ad-Duhaim ini dapat dilihat dalam At-Taariikh oleh Abu Zur’ah 1/605 dan Taarikh Dimasyq oleh Ibnu ‘Asaakir 64/376.

[57] Lihat At-Taarikh Al-Kabiir oleh Al-Bukhariy 8/306 dan At-Taarikh wal-Ma’rifah oleh Al-Fasaawiy 2/201.

[58] Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Mukarram bin Khaalid Al-Birtiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Madiiniy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami menemui Al-‘Irbadl bin Sariyyah………..dst.

[59] Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah…..”.

[60] Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Khaalid bin Ma’daan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami menemui Al-‘Irbaadl bin Sariyyah….”.

[61] Pertama (no. 92) : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin Musa Al-Jauziy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Daawud bin Rasyiid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami masuk menemui Al-‘Irbaadl bin Sariyyah…………..”.

Kedua (no. 93) : Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ziyaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid – kemudian ia menyebutkan hadits semisal dengannya hingga akhir.

[62] Pertama (no. 32) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Albaniy berkata : “Sanadnya shahih, semua rijal-nya tsiqaat” [Dhilaalul-Jannah hal. 19].

Kedua (no. 57) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga (no. 1040) : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan Al-Marwaziy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[63] Pertama (no. 17086) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami masuk menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah……”.

Kedua (no. 17087) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin ‘Abdirrahmaan : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Tsaur, dari Khaalid, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr dan Hujr bin Hujr semisal dengan hadits sebelumnya.

Dua riwayat yang dibawakan Ath-Thabariy di atas tidak menyebutkan lafadh haditsnya sebagaimana di atas.

[64] Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Muhammad bin Hamzah : Telah menceritakan kepada kami Haamid bin Syu’aib : Telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Yuunus : Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr, mereka berdua berkata : “Kami pernah mendatangi Al-‘Irbaadl bin Saariyyah……”.

[65] Telah menceritakan kepada kami Ward bin Ahmad bin Labiid Al-Bairuutiy : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan bin Shaalih : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepad kami Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kindiy, mereka berdua berkata : Kami pernah masuk menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, maka ia berkata : “…..(al-hadits)….”.

Tertulis dalam sanad di atas : Hujr bin Hujr Al-Kindiy. Yang benar Al-Kalaa’iy.

[66] Dan diriwayatkan oleh Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur [bin Yaziid], dari Khaalid bin [Ma’daan], dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[67] Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Abul-Hasan ‘Aliy bin Ghaalib bin Salaam As-Saksakiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Madiiniy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Ma’daan : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy, ia (masing-masing dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr Al-Kalaa’iy) berkata : “Kami datang menemui Al-‘Irbaadl bin Saariyyah…..dst.”.

[68] Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Musaawir : Telah memberitakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Tsaur bin Yaziid, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulamiy dan Hujr bin Hujr Al-Kalaa’iy, mereka berdua berkata : “Kami masuk menemui ‘Irbaadl bin Saariyyah……”.

Muhaqqiq berkata : “Shahih”.

[69] At-Taqriib oleh Ibnu Hajar hal. 225 no. 1152.

[70] Pertama (no. 28) : Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayaasy, dari Arthaah bin Al-Mundzir, dari Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Al-Albaniy berkata : “Hadits shahih, rijal-nya tsiqaat selain ‘Isaa bin Khaalid. Aku tidak mengetahuinya. Ia bukanlah ‘Isaa bin Khaalid Al-Yamaami yang biografinya tercantum dalam Al-Jarh wat-Ta’diil (3/1/275) dan Taariikh Ibni ‘Asaakir (14/4/2-1), karena ia mempunyai thabaqat yang lebih tinggi dari orang yang meriwayatkan dari Al-Imam Maalik, Al-Laits bin Sa’d, dan yang semisalnya. Akan tetapi ia mempunyai mutaba’ah sebagaimana riwayat akan datang”.

Kedua (no. 29) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, dari Ibnu ‘Ayyaasy, dari Arthaah bin Al-Mundzir, dari Al-Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Ketiga (no. 59) : Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, dari Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Arthaah bin Al-Mundzir, dari Al-Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Keempat (no. 1043) : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, dari Ibnu ‘Ayyaasy, dari Arthaah bin Al-Mundzir, dari Al-Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl secara marfu’.

[71] Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah ‘Abdurrahman bin ‘Amr : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Arthaah bin Al-Mundzir, dari Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[72] Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdil-Wahhaab bin Najdah : Telah menceritakan kepada kami Abul-Mughiirah - :

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan Al-Hakam bin Naafi’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy; mereka berdua (Abul-Mughiirah dan Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy) berkata : Telah menceritakan kepada kami Arthaah bin Al-Mundzir, dari Al-Muhaashir bin Habiib, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah, ia berkata : “……(al-hadits)….”.

[73] Pertama (no. 17146) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepadaku Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Ibnu Abi Hilaal, dari ‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Kedua (no. 17147) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, dari Hisyaam Ad-Dustuwaa’iy, dari Yahyaa bin Abi Katsiiir, dari Muhammad bin Ibraahiim bin Al-Harts, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Ibnu Abi Hilaal, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[74] Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Yahyaa bin Hamzah Ad-Dimasyqiy : Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih Al-Himshiy : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Bilaal, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Penyebutan ‘Abdurrahmaan bin Abi Hilaal dalam sanad di atas adalah keliru. Yang benar adalah ‘Abdullah (bin Abi Hilaal), karena ‘Abdurrahman ini tidak diketahui. Adapun ‘Abdullah bin Abi Hilaal, maka ia telah meriwayatkan hadits dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah. Tidak ada yang meriwayatkan dari ‘Abdullah kecuali Khaalid bin Ma’daan, sehingga ia berstatus majhul. Al-Bukhariy dan Ibnu Abi Haatim tidak berkomentar tentangnya. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Lihat At-Taariikh Al-Kabiir 5/55, Al-Jarh wat-Ta’diil 5/19, Ats-Tsiqaat 5/49, dan Miizaanul-I’tidaal 2/399.

[75] Pertama (no. 34) : Telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim bin Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Yuunus, dari Abu Hamzah Al-Himshiy, dari Syu’uudz Al-Azdiy, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Jubair bin Nufair, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

Al-Albaniy berkata : “Hadits hasan, semua rijal­-nya tsiqaat kecuali Syu’uudz, ia adalah Ibnu ‘Abdirrahman Abu ‘Abdirrahman Al-Azdiy. Dibawakan oleh Ibnu Abi Haatim 2/1/390 melalui riwayat Mu’aawiyyah bin Shaalih darinya juga, tanpa disebutkan adanya jarh maupun ta’dil”.

Kedua (no. 1041) : Telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim bin Syaibah L telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Yuunus, dari Abu Hamzah Al-Himshiy, dari Syughuub, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Jubair bin Nufair, dari Al-‘Irbaadl, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Syu’uudz bin ‘Abdirrahman Al-Azdiy, disebutkan oleh Al-Bukhari dan Ibnu Abi Haatim dan mereka berdua tidak berkomentar tentangnya. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Lihat At-Taariikh Al-Kabiir 4/266, Al-Jarh wat-Ta’diil 4/390, dan Ats-Tsiqaat 6/451.

[76] Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdirrahman bin ‘Aqaal Al-Harraaniy : telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far An-Nufailiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Isaa bin Yuunus, dari Abu Hamzah Al-Himshiy, dari Syu’uudz Al-Azdiy, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Jubair bin Nufair, dari Al-‘Irbaadl bin Saariyyah secara marfu’.

[77] Kalaupun dianggap keenam jalur periwayatan dari Al-‘Al-‘Irbaadl bin Saariyyah ini tidak lepas dari ke-dla’if-an, maka banyaknya jalur ini saja cukup untuk menganggatnya ke derajat shahih lighairihi. Sejelek-jelek penilaian terhadap hadits ini – walau ini keliru – adalah hasan lighairihi.

Baca Selengkapnya...“Takhrij Hadits Al-‘Irbaadl bin Saariyyah : Wajib Atas Kalian untuk Berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafaaur-Raasyidiin”  »»

'Aqidah Ahlus-Sunnah : Kaum Mukminin Kelak Akan Melihat Allah di Hari Kiamat/Akhirat (Ru'yatullah)

‘Aqidah bahwasannya Allah ta’ala dapat dilihat kelak oleh orang-orang beriman di akhirat merupakan bagian ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang didasari oleh dalil-dalil mutawatir, baik Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak ada orang yang menyelisihi dan menentangnya kecuali dari kalangan ahlul-bida’ atau orang-orang bodoh yang perlu diajari. Melalui media ini, perlu kiranya dituliskan kembali bahasan dimaksud sebagai pelengkap dari apa telah dituliskan para asatidzah yang telah disebarluaskan di berbagai website/blog.

Dalil dari Al-Qur’an

Allah ta’ala berfirman :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat” [QS. Al-Qiyaamah : 22-23].

Ayat ini merupakan dalil yang paling jelas dan kuat yang menetapkan ru’yatullah (dilihatnya Allah pada hari kiamat) oleh orang-orang mukmin menurut ‘aqidah Ahlus-Sunnah.[1]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

ثم قال تعالى: { وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ } من النضارة، أي حسنة بَهِيَّة مشرقة مسرورة، { إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ } أي: تراه عيانا، كما رواه البخاري، رحمه الله، في صحيحه: "إنكم سترون ربكم عَيَانا".

“Kemudian Allah ta’ala berfirman : ‘Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri’ ; berasal dari kata an-nadlaarah yang berarti bagus, menawan, cemerlang, lagi penuh kebahagiaan. (Firman Allah ta’ala : ) ‘Kepada Tuhannyalah mereka melihat’ ; yaitu melihat-Nya dengan mata telanjang, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhariy rahimahullah dalam Shahih-nya[2] : ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (di akhirat) dengan mata telanjang”.[3]

Allah ta’ala berfirman :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” [QS. Yunus : 26].

Al-Haafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وقد روي تفسير الزيادة بالنظر إلى وجه الله الكريم، عن أبي بكر الصديق، وحذيفة بن اليمان، وعبد الله بن عباس [قال البغوي وأبو موسى وعبادة بن الصامت] وسعيد بن المسيب، وعبد الرحمن بن أبي ليلى، وعبد الرحمن بن سابط، ومجاهد، وعكرمة، وعامر بن سعد، وعطاء، والضحاك، والحسن، وقتادة، والسدي، ومحمد بن إسحاق، وغيرهم من السلف والخلف.
وقد وردت في ذلك أحاديثُ كثيرة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فمن ذلك ما رواه الإمام أحمد:
حدثنا عفان، أخبرنا حماد بن سلمة، عن ثابت البُناني، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، عن صهيب؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية: { لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ } وقال: "إذا دخل أهل الجنة الجنة، وأهل النار النار، نادى مناد: يا أهل الجنة، إن لكم عند الله موعدًا يريد أن يُنْجِزَكُمُوه. فيقولون: وما هو؟ ألم يُثقِّل موازيننا، ويبيض وجوهنا، ويدخلنا الجنة، ويزحزحنا من النار؟". قال: "فيكشف لهم الحجاب، فينظرون إليه، فوالله ما أعطاهم الله شيئا أحب إليهم من النظر إليه، ولا أقر لأعينهم".

“Telah diriwayatkan penafsiran kata az-ziyaadah (tambahan) dengan melihat wajah Allah Yang Mulia dari Abu Bakr Ash-Shiddiq,[4] Hudzaifah bin Al-Yamaan,[5] ‘Abdullah bin Al-‘Abbaas,[6] [Al-Baghawiy berkata : Abu Musa, ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit], Sa’iid bin Al-Musayyib, ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa, ‘Abdurrahman bin Saabith, Mujaahid, ‘Ikrimah, ‘Aamir bin Sa’d, ‘Atha’, Adl-Dlahhaak, Al-Hasan, Qataadah, As-Suddiy, Muhammad bin Ishaaq, dan yang lainnya dari kalangan salaf dan khalaf. Dan telah banyak hadits yang membicarakan hal itu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad[7] : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa, dari Shuhaib : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’, beliau bersabda : “Bila penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, maka ada seorang penyeru yang memanggil : ‘Wahai penduduk surga, sesungguhnya kalian mempunyai apa yang telah dijanjikan di sisi Allah, Allah ingin memenuhinya untuk kalian. Maka mereka berkata : ‘Apakah itu ? bukankah Allah telah memberatkan timbangan (amal baik) kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Maka dibukalah hijab untuk mereka, lalu mereka melihat kepada wajah-Nya. Maka demi Allah, tidak ada sesuatupun yang Allah berikan kepada mereka yang lebih dicintai oleh mereka dan lebih menyenangkan mereka daripada melihat kepada wajah-Nya”.[8]

Allah ta’ala berfirman :

كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” [QS. Al-Muthaffifiin : 15].

Dalil dari As-Sunnah

عن أبي هريرة : أن ناسا قالوا لرسول الله صلى الله عليه وسلم : يا رسول الله! هل نرى ربنا يوم القيامة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "هل تضارون في رؤية القمر ليلة البدر؟" قالوا: لا. يا رسول الله! قال: "هل تضارون في الشمس ليس دونها سحاب؟" قالوا: لا. يا رسول الله! قال "فإنكم ترونه كذلك. يجمع الله الناس يوم القيامة. فيقول: من كان يعبد شيئا فليتبعه. فيتبع من كان يعبد الشمس الشمس. ويتبع من كان يعبد القمر القمر. ويتبع من كان يعبد الطواغيت الطواغيت. وتبقى هذه الأمة فيها منافقوها. فيأتيهم الله، تبارك وتعالى، في صورة غير صورته التي يعرفون. فيقول: أنا ربكم. فيقولون: نعوذ بالله منك. هذا مكاننا حتى يأتينا ربنا. فإذا جاء ربنا عرفناه. فيأتيهم الله تعالى في صورته التي يعرفون. فيقول: أنا ربكم. فيقولون: أنت ربنا. فيتبعونه.

Dari Abu Hurairah : Bahwa para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa melihat Rabb kita pada hari kiamat ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Apakah kalian semua tertutup mata untuk melihat bulan pada malam bulan purnama ?”. Mereka menjawab : “Tidak, ya Rasulullah”. Beliau bertanya lagi : “Apakah kalian semua tertutup mata untuk melihat matahari tanpa dibayangi awan ?”. Mereka menjawab : “Tidak”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya kalian semua akan melihat Allah seperti itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat, lalu Dia berfirman : ‘Barangsiapa menyembah sesuatu, maka ikutlah dengannya’. Kemudian orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala, dan tinggallah umat ini di tempatnya, termasuk di dalamnya kelompok munafik. Maka Allah tabaaraka wa ta’ala mendatangi mereka dalam rupa yang tidak mereka kenal. Kemudian Allah berfirman : ‘Aku adalah Rabb kalian’. Mereka menjawab : ‘Kami berlindung kepada Allah darimu. Kami tetap di tempat kami hingga Rabb kami datang kepada kami. Kalau Rabb kami datang, pasti kami mengenal-Nya’. Kemudian Allah datang kepada mereka dengan rupa yang mereka kenal, lalu berfirman : ‘Aku adalah Rabb kalian’. Mereka menjawab : ‘Engkau Rabb kami’. Maka mereka pun mengikuti-Nya”.[9]

عن جرير قال : كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم، فنظر إلى القمر ليلة - يعني البدر - فقال: (إنكم سترون ربكم، كما ترون هذا القمر، لا تضامون في رؤيته، فإن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها فافعلوا). ثم قرأ: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ}.

Dari Jarir radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Suatu hari kami pernah bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian pada suatu malam beliau melihat bulan purnama dan bersabda : “Kalian kelak akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Tidak ada sesuatupun yang menghalangi penglihatan kalian. Karena itu, jangan sampai kalian lewatkan shalat sebelum matahari terbit (shalat Shubuh) dan shalat sebelum matahari terbenam (shalat ‘Ashar)”. Kemudian beliau membaca ayat : ‘…dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya)’ (QS. Qaaf : 39)”.[10]

Penyerupaan dalam hadits di atas adalah penyerupaan dalam hal memandang yang tanpa dihalangi sesuatupun, bukan dalam penyerupaan Allah dengan matahari ataupun bulan.

Berkata Al-Imam Abu Isma’il Ash-Shaabuniy rahimahullah :

والتشبيه [في هذا الخبر] وقع للرؤية بالرؤية ، لا للمرئي [بالمرئي[. والأخبار الواردة في الرؤية، مخرجة في كتاب (الانتصار) بطرقها.

“Keserupaan dalam hadits di atas adalah dalam hal cara melihatnya (tanpa ada kesulitan/terhalang), tidak dalam keserupaan bentuk yang dilihat. Hadits-hadits tentang hal itu sudah kami takhrij dalam kitab Al-Intishaar dengan menyebutkan jalur-jalur sanadnya”.[11]

عن أبي بكر بن عبد الله بن قيس، عن أبيه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (جنتان من فضة، آنيتهما وما فيهما، وجنتان من ذهب، آنيتهما وما فيهما، وما بين القوم وبين أن ينظروا إلى ربهم إلا رداء الكبر، على وجهه في جنة عدن).

Dari Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Qais, dari ayahnya : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dua surga dan bejana-bejana yang terdapat di keduanya yang terbuat dari perak, dua surga dan bejana-bejana yang terdapat di keduanya yang terbuat dari emas. Tidaklah ada suatu penghalangpun bagi manusia untuk melihat Rabb mereka kecuali selendang kebesaran di wajah-Nya di surga ‘Adn”.[12]

عن ‏ ‏عدي بن حاتم ‏ ‏قال : ‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم :‏ ‏ما منكم من أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان ولا حجاب يحجبه ))

Dari ‘Adiy bin Haatim ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ada seorangpun di antara kalian kecuali ia akan diajak bicara oleh Rabb-nya. Tidak ada antara keduanya penerjemah dan penghalang yang menghalanginya”.[13]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan doa yang masyru’ dibaca setelah tasyahud akhir sebelum salam :

اللهم بعلمك الغيب وقدرتك على الخلق أحيني ما علمت الحياة خيراً لي وتوفني ما علمت الوفاة خيراً لي ، اللهم إني وأسألك خشيتك في الغيب والشهادة ، وأسألك كلمة الحق في الرضا والغضب ، وأسألك القصد في الغنى والفقر ، وأسألك نعيماً لا ينفد ، وأسألك قرة عين لا تنقطع ، وأسألك الرضا بعد القضاء ، وأسألك برد العيش بعد الموت ، وأسألك لذة النظر إلى وجهك والشوق إلى لقائك من غير ضرَّاء مضرة ولا فتنة مضلة ، اللهم زينا بزينة الإيمان ، واجعلنا هداة مهتدين

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang ghaib dan dengan ke-Mahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepada-Mu agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku mohon kepada-Mu agar aku bisa melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau faqir, aku mohon kepada-Mu agar diberikan nikmat yang tidak habis, dan aku mohon kepada-Mu agar diberikan penyejuk mata yang tidak putus. Aku mohon kepada-Mu agar aku dapat rela setelah qadla-Mu (turun pada kehidupanku). Aku mohon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan setelah aku mati. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari-Mu”.[14]

Tidak mungkin beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kalimat : “Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga)” jika hal itu tidak akan terwujud (mustahil terjadi) kelak di akhirat.

Dalil Ijma’

Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :

أجمعوا على أن المؤمنين يرون الله عز وجل يوم القيامة بأعين وجوههم على ما أخبر به تعالى

“Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah ‘azza wa jalla kelak di hari kiamat dengan mata kepala mereka berdasarkan apa yang telah dikhabarkan Allah ta’ala”.[15]

Al-Haafidh ‘Abdul-Ghaniy Al-Maqdisiy rahimahullah berkata :

وأجمع أهل الحق واتفق أهل التوحيد والصدق أن الله تعالى يرى في الآخرة كما جاء في كتابه وصح عن رسوله.

“Orang-orang yang menetapi kebenaran, kejujuran, dan mentauhidkan Allah telah berijma’/sepakat bahwasannya Allah ta’ala akan dilihat kelak di akhirat sebagaimana terdapat keterangannya dalam Al-Qur’an dan hadits shahih dari Rasul-Nya”.[16]

Al-Haafidh Ibnu Mandah rahimahullah berkata :

قال الله عز وجل (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ). أجمع أهل التأويل؛ كابن عباس وغيره من الصحابة، ومن التابعين : محمد بن كعب، وعبد الرحمن بن سابط، والحسن بن أبي الحسن، وعكرمة، وأبو صالح، وسعيد بن جبير، وغيرهم : أن معناه : إلى وجه ربها ناظرة.

“Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : ‘Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat’ (QS. Al-Qiyaamah : 22-23). Para ulama tafsir telah bersepakat, seperti Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya dari kalangan shahabat; dari kalangan tabi’in : Muhammad bin Ka’b, ‘Abdurrahman bin Saabith, Al-Hasan bin Abil-Hasan (Al-Hasan Al-Bashriy), ‘Ikrimah, Abu Shaalih, Sa’id bin Jubair, dan yang lainnya; bahwa makna ayat tersebut adalah : Melihat pada wajah Rabb-Nya”.[17]

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

أجمع سلف الأمة وأئمتها على أن المؤمنين يرون الله بأبصارهم في الآخرة

“Salaf umat beserta para imamnya telah bersepakat bahwa kaum mukminin akan melihat Allah dengan penglihatan mereka di akhirat”.[18]

Atsar Salaf

عن أبي بكر رضي الله عنه : (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ) قال : الزيادة : النظر إلى وجه الله تعالى.

Dari Abu Bakr (Ash-Shiddiq) radliyallaahu ‘anhu tentang firman Allah : ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (QS. Yunus : 26); ia berkata : “Tambahannya (az-ziyaadah) adalah melihat wajah Allah ta’ala”.[19]

عن عامر بن سعد قال : قرأ أبو بكر الصديق، أو قرأت عنده (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ)، قالوا : وما الزيادة يا خليفة رسول الله ؟ قال : النظر إلى وجه الله عز وجل.

Dari ‘Aamir bin Sa’d ia berkata : Abu Bakr Ash-Shiddiiq membaca, atau aku membaca di sampingnya ayat : ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (QS. Yunus : 26); orang-orang bertanya : “Apakah maksud tambahan (dalam ayat tersebut) wahai khalifah Rasulullah ?”. Ia menjawab : “Melihat wajah Allah ‘azza wa jalla”.[20]

عن حذيفة : في قوله عز وجل (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ)؛ قال : النظر إلى وجه عز وجل.

Dari Hudzaifah (bin Al-Yamaan) tentang firman Allah ‘azza wa jalla : ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (QS. Yunus : 26); ia berkata : “Melihat wajah Allah ‘azza wa jalla”.[21]

قال عبد الرزاق في تفسيره (٢/٢٩٦) : عن معمر، عن ثابت البناني، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى في قوله : (الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ)، قال : الحسنى : الجنة، والزيادة : النظر إلى وجه الله.

Telah berkata ‘Abdurrazzaaq dalam Tafsir-nya (2/296) : Dari Ma’mar, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa tentang firman-Nya : ‘ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (QS. Yunus : 26); ia berkata : “Al-Husnaa adalah surga, dan Az-Ziyaadah adalah melihat wajah Allah”.[22]

قال عبد الرزاق في تفسيره (٢/٢٩٤) : عن معمر، عن قتادة في قوله (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ)، قال : الحسنى : الجنة، والزيادة - فيما بلغنا - : النظر إلى وجه الله.

Telah berkata ‘Abdurrazzaaq dalam Tafsir-nya (2/294) : Dari Ma’mar, dari Qataadah tentang firman Allah : ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (QS. Yunus : 26); ia berkata : “Al-Husnaa adalah surga, dan Az-Ziyaadah – menurut khabar yang sampai kepada kami – adalah melihat wajah Allah”.[23]

قال الدارمي في الرد على الجهمية (٢٠٠) : ثنا محمد بن منصور الذي يقال له : الطوسي من أهل البغداد، ثنا علي بن شقيق، أبنا حسين بن واقد، عن يزيد النحوي، عن عكرمة : (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ) قال : ينظرون إلى الله نظرا.

Telah berkata Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah (hal. 200) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshuur yang sering disebut Ath-Thuusiy, salah seorang penduduk Baghdaad : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Syaqiiq : Telah memberitakan kepada kami Husain bin Waaqid, dari Yaziid An-Nahwiy, dari ‘Ikrimah tentang firman-Nya : ‘Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat’ (QS. Al-Qiyaamah : 22-23); ia berkata : “Mereka melihat Allah dengan sebenar-benarnya”.[24]

عن الوليد بن مسلم، قال : سألتُ الأوزاعي ومالك بن أنس، وسفيان الثوري، الليث ابن سعد، عن هذه الأحاديث التي فيها الرؤية وغير ذلك، فقالوا : امضها بلا كيف.

Dari Al-Waliid bin Muslim, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’iy, Maalik bin Anas, Sufyaan Ats-Tsauriy, dan Al-Laits bin Sa’d tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada penyebutan ar-ru’yah dan yang lainnya; maka mereka berkata : “Biarkanlah ia tanpa menanyakan bagaimana”.[25]

عن عبد الله بن وهب قال : قال مالك بن أنس رحمه الله : الناس ينظرون إلى الله تعالى يوم القيامة بأعينهم

Dari ‘Abdullah bin Wahb ia berkata : Telah berkata Maalik bin Anas rahimahullah : “Manusia akan melihat Allah ta’ala pada hari kiamat dengan mata mereka”.[26]

عن الربيع بن سليمان يقول : كنت ذات يوم عند الشافعي، رحمه الله، وجاءه كتاب من الصَّعيد - وهو اسم موضع - يسألونه عن قول الله جل ذكره : (كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوْبُوْنَ) فكتب فيه : لَمَّا حجب الله قوما بالسخط دلّ على أن قوما يرونه بالرضا [قال الربيع]. قلت له : أو تدينُ بهذا يا سيدي ؟ فقال : والله لو لم يوقن محمد بن إدريس أنه يرى ربه في المعاد لما عبده في الدنيا.

Dari Ar-Rabii’ bin Sulaiman ia berkata : Suatu hari aku pernah bersama Asy-Syafi’iy rahimahullah. Tiba-tiba datang kepadanya sepucuk surat dari seseorang dari Ash-Sha’iid – ia adalah nama sebuah tempat – yang bertanya kepadanya tentang firman Allah ‘azza wa jalla : ‘Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka’ (QS. Al-Muthaffifiin : 15). Maka ia menulis jawabannya : “Yaitu ketika Allah menutupi suatu kaum dengan kemurkaan, ini menunjukkan bahwasa ada kaum yang lain melihat-Nya dengan keridlaan”. Aku (Ar-Rabii’) berkata kepadanya (Asy-Syafi’iy) : “Apakah engkau berpegang dengan ini wahai tuanku (guruku) ?”. Asy-Syafi’iy menjawab : “Demi Allah, jika Muhammad bin Idriis tidak meyakini bahwa ia akan melihat Rabb-Nya di akhirat, niscaya tidaklah ia menyembah di dunia”.[27]

عن ابن هرم القرشي يقول : سمعت الشافعي يقول في قول الله عز وجل : (كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوْبُوْنَ)، قال : هذا دليل أن أولياءه يرونه يوم القيامة.

Dari Ibnu Harm Al-Qurasyiy ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata tentang firman Allah ‘azza wa jalla : ‘Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka’ (QS. Al-Muthaffifiin : 15); ia berkata : “Ini adalah dalil bahwa para wali Allah akan melihat-Nya pada hari kiamat”.[28]

عن أبي داود السجستاني قال : سمعتُ أحمد بن حنبل وذكر عنده شيء من الرؤية فغضب، وقال : ((من قال : إن الله تعالى لا يُرى، فهو كافر)).

Dari Abu Dawud As-Sijistaaniy ia berkata : Aku pernah mendengar Ahmad bin Hanbal yang ketika itu disebutkan sesuatu tentang ru’yah di sisinya, maka ia pun marah. Lalu ia berkata : “Barangsiapa yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah tidak dilihat (di akhirat)’, maka ia kafir”.[29]

عن حنبل قال : قلتُ لأبي عبد الله - يعني أحمد - في الرؤية. قال : أحاديث صحاح نؤمن بها ونقر وكلما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم بأسانيد جيدة نؤمن به ونقر.

Dari Hanbal ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah – yaitu Ahmad - tentang ar-ru’yah (melihat Allah pada hari kiamat/akhirat). Maka beliau menjawab : “Hadits-hadits shahih kita imani dan akui. Dan semua yang diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad-sanad jayyid, maka ia imani dan akui”.[30]

قال إسحاق بن راهويه : «وقد مضت السنة من رسول الله صلى الله عليه و سلم بأن أهل الجنة يرون ربهم وهو من أعظم نِعم أهل الجنة.»

Telah berkata Ishaq bin Rahawaih : “Sungguh telah berlalu/tetap sunnah dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya penduduk surga akan melihat Rabbnya, dan hal itu merupakan kenikmatan yang paling besar bagi penduduk surga”.[31]

I’tiqad Ahlus-Sunnah yang menyatakan bahwa Allah kelak akan dilihat di akhirat oleh orang-orang Mukmin bukan merupakan ‘aqidah tajsiim sebagaimana disangkakan sebagian orang-orang bodoh dari kaum muslimin. Al-Haafidh Abu Bakr Al-Isma’iliy rahimahullah berkata :

وذلك من غير اعتقاد التجسيم في الله عز وجل، ولا التحديد له، ولكن يرونَه جل وعز بأعيُنِهم على ما يشاءُ هو بلا كيفٍ.

“Hal itu (ru’yatullah) bukan termasuk i’tiqad tajsiim terhadap Allah ‘azza wa jalla, tidak pula tahdiid (memberi batasan) kepada-Nya. Namun mereka (kaum mukminin) melihat-Nya jalla wa ‘azza dengan mata mereka sesuai yang Allah kehendaki, tanpa (ditanyakan) bagaimana”.[32]

Beberapa Permasalahan dan Jawabannya

Sebagian ahli bid’ah mengingkari ‘aqidah dilihatnya Allah kelak di akhirat oleh orang-orang mukmin dengan mata mereka di akhirat. Mereka berdalil dengan sejumlah dalil sebagai berikut :

Allah ta’ala berfirman :

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" [QS. Al-A’raf : 143].

Dalam ayat di atas Allah ta’ala berfirman : “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku”. Di sini mereka berpendapat bahwa Allah ta’ala tidak mungkin dapat dilihat selama-lamanya oleh makhluk-Nya.

Pendapat mereka adalah keliru. Hal ini dipandang dalam beberapa segi :

1. Tidak mungkin bagi Nabi Musa ‘alaihis-salaam – seorang Rasul yang ‘aalim terhadap Rabbnya - meminta sesuatu yang mustahil terjadi/dikabulkan.

2. Allah dalam ayat di atas tidak mengingkari permintaan Musa ‘alaihis-salaam. Allah ta’ala hanya berfirman :

لَنْ تَرَانِي

“Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku”.

Allah ta’ala dalam ayat ini tidak mengatakan : “Aku tidak bisa dilihat” (إِنِّي لَا أُرَى).

Bandingkan dengan pengingkaran Allah ta’ala terhadap Nabi Nuh ‘alaihis-salaam saat beliau meminta anaknya yang kafir diampuni. Allah ta’ala berfirman :

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ * قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” [QS. Huud : 46].

3. Ternyata – dalam ayat di atas – Allah ta’ala menampakkan diri-Nya kepada gunung, meskipun akhirnya gunung itu hancur karenanya, dengan firman-Nya :

وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا

“Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh.

Namun yang menjadi point di sini adalah bahwa Allah menampakkan diri-Nya. Jika kepada benda mati yang tidak diberi pahala dan siksa saja Allah memungkinkan untuk menampakan diri, maka kepada wali/Rasul-Nya yang mulia tentu lebih memungkinkan lagi. Hanya saja karena kelemahan manusia, maka Allah tidak menampakkan diri-Nya kepada mereka. Tapi bukan berarti hal itu tidak mungkin jika Allah menghendaki.

4. Allah ta’ala pernah mengajak bicara, berbisik-bisik, serta memperdengarkan suara-Nya kepada Musa ‘alaihis-salaam tanpa perantara; maka melihat kepada-Nya lebih memungkinkan lagi.

Adapun syubhat mereka bahwa Allah menggunakan kata lan (لَنْ) yang mempunyai makna ‘selama-lamanya’, maka kita jawab :

Kata lan tidak selalu bermakna selama-lamanya jika ada qarinah pemalingan-nya, seperti firman Allah ta’ala :

فَلَنْ أَبْرَحَ الأرْضَ حَتَّى يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

“Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengijinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya" [QS. Yusuf : 80].

Ayat ini tidak mengkonsekuensikan Yusuf selama-lamanya tinggal di Mesir. Tapi ayat tersebut dibatasi oleh kalimat setelahnya (yaitu ijin dari ayahnya atau turun keputusan dari Allah).

Begitu pula dengan QS. Al-A’raf : 143 yang ia dibatasi oleh ayat-ayat lain dan hadits-hadits shahih yang menegaskan Allah ta’ala akan dilihat kelak di akhirat.

Syubhat lain adalah ayat :

لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-An’am : 103].

Syubhat ini dapat dijawab dengan menerangkan kaidah tata bahasa Arab bahwa ketika Allah mengucapkan ayat di atas dalam konteks pujian terhadap diri-Nya. Terkadang sifat Allah dipuji dengan menafikkan sifat negatif yang menjadi lawan darinya. Seperti meniadakan sifat ‘mengantuk’ dan ‘tidur’ bagi Allah untuk menetapkan sifat yang menjadi lawannya, yaitu ‘kuat’ dan ‘terus-menerus berjaga’. Juga meniadakan sifat ‘mati’ untuk menetapkan sifat kesempurnaan hidup-Nya, dan begitu seterusnya. Maka, makna ayat tersebut adalah bahwa Allah dapat dilihat akan tetapi tidak sanggup dicapai oleh penglihatan. Atau dengan kata lain, penglihatan makhluk tidak dapat mencapai keseluruhan wajah Allah ta’ala. Contoh yang lebih mudah adalah ketika kita melihat matahari, maka dapat dipastikan penglihatan kita tidak mampu mencapai secara keseluruhan dzat matahari. Terlebih lagi dzat Allah ta’ala yang menciptakan matahari dan segala sesuatu. Ayat tersebut menunjukkan kebesaran-Nya yang karena kebesaran-Nya, Dia tidak sanggup dicapai (idraak) atau diliputi, bahkan Dia-lah yang meliputi atas segala sesuatu.

Kata al-idraak merupakan kata yang lebih luas dari makna kata ru’yah, sebagaimana firman Allah ta’ala :

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ * قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku" [QS. Asy-Syu’araa : 61-62].

Pada ayat yang mulia ini dibedakan antara kata ar-ru’yah (melihat) dan al-idraak (menjangkau). Musa tidak meniadakan ru’yah, melainkan idraak. Demikian pula Allah ta’ala dapat dilihat, namun tidak dapat dijangkau (meliputi) secara keseluruhan sebagaimana telah diketahui.[33] Demikian pula yang dipahami para shahabat serta para imam dalam menafsirkan ayat di atas.[34]

[selengkapnya, bisa dibaca dalam penjelasan Al-Imam Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy dalam Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahawiyyah, hal. 212-214, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy, takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 9/1417].

Sungguhpun demikian, para ulama tidak berbeda pendapat bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang melihat Allah dengan mata kepala, dengan dalil :

عن عبادة بن الصامت عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : قد حدثتكم عن الدجال حتى خشيت أن لا تعقلوا فإن أشكل عليكم منه شيء فاعلموا أنه أعور وأن ربكم ليس بأعور وإنكم لن تروا ربكم حتى تموتوا.

Dari ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh aku telah berkata kepada kalian tentang Dajjaal hingga aku khawatir kalian tidak mempercayainya. Jika sulit bagi kalian untuk mengetahuinya, maka ketahuilah bahwasannya Dajjaal itu buta sebelah matanya. Dan sesungguhnya Rabb kalian itu tidak buta sebelah matanya. Kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian hingga kalian mati.[35]

Hadits di atas merupakan dalil yang terang bahwa manusia tidak akan pernah dapat melihat Allah ta’ala dalam keadaan jaga di dunia.

Namun hal itu dikecualikan bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dimana para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini (yaitu saat peristiwa mi’raj) dalam tiga kelompok :

1. Menafikkan ru’yah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mata kepala, namun mereka menetapkan ru’yah tersebut dengan hati.

2. Menetapkan ru’yah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mata kepala.

3. Abstain karena tidak ada dalil yang pasti.

Kelompok pertama berdalil dengan riwayat ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit radliyallaahu ‘anhu di atas. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama.

Kelompok kedua berdalil dengan riwayat Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رأيتُ ربي عز وجل.

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku telah melihat Rabbku ‘azza wa jalla”.[36]

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

وأن النبي صلى الله عليه وسلم قد رأى ربَّه، فإنه مأثورٌ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم صحيحٌ، رواه قتادةُ عنْ عكرمةَ عن ابن عباس، ورواهُ الحكمُ بن أبانٍ عنْ عكرمةَ عن ابن عباس، ورواهُ علي بن زيد عن يوسف بن مهرانَ عن ابن عباس، والحديث عندنا على ظاهره، كما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم والكلامُ فيه بدعةٌ، ولكنْ نؤمنُ به كما جاء على ظاهره، ولا نناظرُ فيه أحداً.

“Dan bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Rabbnya. Telah ada atsar shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Qatadah dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; diriwayatkan pula dari Al-Hakam bin Abaan dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; dan diriwayatkan pula dari ‘Aliy bin Zaid dari Yusuf bin Mihraan dari Ibnu ‘Abbas. Hadits tersebut menurut kami dipahami sebagaimana dhahirnya sebagaimana hal itu datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Memperdebatkan hadits itu adalah bid’ah. Akan tetapi kami mengimaninya sesuai dengan dhahirnya sebagaimana hal itu datang (kepada kami), dan kami tidak memperdebatkan tentangnya dengan siapapun”.[37]

Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah cenderung menguatkan pendapat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah dengan mata kepada beliau berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas ini.[38]

Namun ada riwayat yang bertentangan dengan di atas yang sama-sama dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ta’ala dengan (mata) hatinya.

عن ابن عباس؛ قال: {ما كذب الفؤاد ما رأى} ، {ولقد رآه نزلة أخرى} قال: رآه بفؤاده مرتين.

Dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah : ‘Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya’ (QS. An-Najm : 11) dan ‘Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat pada waktu yang lain’ (QS. An-Najm : 13); ia berkata : “Ia (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) telah melihat Allah dengan (mata) hatinya sebanyak dua kali”.

Dalam riwayat lain :

عن ابن عباس؛ قال: رآه بقلبه.

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : “Ia (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) telah melihat Allah dengan (mata) hatinya”.[39]

Oleh karena itu, penglihatan dengan mata pada riwayat Ibnu ‘Abbas sebelumnya dibawa pada penglihatan dengan (mata) hati.

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

جاءت عن ابن عباس أخبار مطلقة وأخرى مقيدة، فيجب حمل مطلقها على مقيدها،..... وعلى هذا فيمكن الجمع بين إثبات ابن عباس ونفي عائشة بأن يحمل نفيها على رؤية البصر وإثباته على رؤية القلب. ثم المراد برؤية الفؤاد رؤية القلب لا مجرد حصول العلم، لأنه صلى الله عليه وسلم كان عالما بالله على الدوام

“Telah datang beberapa khabar dari Ibnu ‘Abbas yang bersifat muthlaq dan muqayyad. Maka wajib membawa yang muthlaq kepada yang muqayyad…… Atas dasar ini, memungkinkan untuk menjamak antara penetapan Ibnu ‘Abbas dan penafi’an ‘Aisyah (yang riwayatnya akan dituliskan di bawah – Abul-Jauzaa’), yaitu dengan penafian pandangan dengan mata dan menetapkan adanya pandangan dengan hati. Kemudian yang dimaksud dengan ru’yatul-fuaad aalah ru’yatul-qalb (pandangan hati), dan bukan hanya adanya ilmu/pengetahuan. Karena sesungguhnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selalu mengenal Allah ta’ala”.[40]

Selain itu, ada riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwa penglihatan mata yang dimaksudkan adalah penglihatan terhadap apa-apa yang ditunjukkan oleh Allah di malam isra’.

عن ابن عباس رضي الله عنه : {وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلا فِتْنَةً لِلنَّاسِ}. قال : هي رؤيا عين، أريها رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة أسري به.

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu tentang firman Allah ta’ala : ‘Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia’ (QS. Al-Israa’ : 60), ia berkata : “Yang dimaksudkan adalah penglihatan dengan mata kepala terhadap hal-hal yang telah ditunjukkan Allah ta’ala kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada malam israa’”.[41]

Pendapat yang raajih (kuat) lagi terpilih dalam permasalahan ini adalah pendapat pertama (jumhur ulama) yang mengatakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melihat Allah ta’ala pada malam beliau di-mi’raj-kan Allah ta’ala ke langit. Pendapat ini dikuatkan lagi oleh beberapa riwayat sebagai berikut :

عن عبدالله بن شقيق. قال قلت لأبي ذر : لو رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم لسألته. فقال: عن أي شيء كنت تسأله؟ قال: كنت أسأله هل رأيت ربك؟ قال أبو ذر: د سألت فقال "رأيت نورا".

Dari ‘Abdullah bin Syaqiiq ia berkata : Aku berkata kepada Abu Dzarr : “Jika saja aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sungguh aku akan bertanya sesuatu kepada beliau”. Abu Dzarr bertanya : “Permasalahan apa yang hendak engkau tanyakan kepada beliau ?”. Ia berkata : “Aku akan bertanya kepada beliau : Apakah engkau pernah melihat Rabbmu ?”. Abu Dzarr berkata : “Aku pernah menanyakan itu kepada beliau, dan beliau menjawab : ‘Aku melihat cahaya”.[42]

عن مسروق؛ قال : كنت متكئا عند عائشة. فقالت: يا أبا عائشة! ثلاث من تكلم بواحدة منهن فقد أعظم على الله الفرية. قلت: ما هن؟ قالت: من زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم رأى ربه فقد أعظم على الله الفرية. قال وكنت متكئا فجلست. فقلت: يا أم المؤمنين! أنظريني ولا تعجليني. ألم يقل الله عز وجل: {ولقد رآه بالأفق المبين} [81/التكوير/ الآية-23] {ولقد رآه نزلة أخرى} [53/النجم/ الآية-13] فقالت: أنا أول هذه الأمة سأل عن ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم. فقال: "إنما هو جبريل. لم أره على صورته التي خلق عليها غير هاتين المرتين. رأيته منهبطا من السماء. سادا عظم خلقه ما بين السماء إلى الأرض

Dari Masruuq ia berkata : Aku pernah duduk bertelekan di dekat ‘Aisyah. Ia (‘Aisyah) berkata : “Wahai Abu ‘Aisyah, ada tiga hal, barangsiapa yang berkata salah satu diantaranya sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah”. Aku berkata : “Apa itu ?”. ‘Aisyah berkata : “Barangsiapa yang menyangka bahwa Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Rabbnya, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah”. Aku yang semula duduk bertelekan, kemudian duduk tegak, dan kemudian berkata : “Wahai Ummul-Mukminiin, tunggulah sebentar, jangan tergesa-gesa. Bukankah Allah telah berfirman : ‘Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya di ufuk yang terang’ (QS. At-Takwiir : 23). ‘Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain’ (QS. An-Najm : 13) ?’. ‘Aisyah berkata : “Aku adalah orang yang pertama menanyakan hal itu pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab : ‘Sesungguhnya yang aku lihat itu adalah Jibril. Tidaklah aku pernah melihatnya dalam rupa yang asli selain dua kali itu. Aku melihatnya ketika turun dari langit, yang besar fisiknya memenuhi antara langit dan bumi”.[43]

Sebagai penutup bahasan, akan kami nukilkan penjelasan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

وقد اتفق أئمة المسلمين على أن أحداً من المؤمنين لا يرى الله بعينه في الدنيا، ولم يتنازعوا إلا في النبي صلى الله عليه وسلم خاصة، مع أن جماهير الأئمة على أنه لم يره بعينه في الدنيا، وعلى هذا دلت الآثار الصحيحة الثابتة عن النبي صلى الله علسه وسلم، والصحابة وأئمة المسلمين‏.‏
ولم يثبت عن ابن عباس، ولا عن الإمام أحمد وأمثالهما، أنهم قالوا‏:‏ إن محمداً رأى ربه بعينه، بل الثابت عنهم إما إطلاق الرؤية وإما تقييدها بالفؤاد، وليس في شيء من أحاديث المعراج الثابتة أنه رآه بعينه، وقوله‏:‏ ‏(‏أتاني البارحة ربي في أحسن صورة‏)‏ الحديث الذي رواه الترمذي وغيره، إنما كان بالمدينة في المنام، هكذا جاء مفسراً‏.‏
وكذلك حديث أم الطفيل وحديث ابن عباس وغيرهما ـ مما فيه رؤية ربه ـ إنما كان بالمدينة كما جاء مفسراً في الأحاديث، والمعراج كان بمكة كما قال تعالى‏:‏‏{‏سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى‏}‏ ‏[‏الإسراء‏:‏1‏]‏، وقد بسط الكلام على هذا في غير هذا الموضع‏.‏
وقد ثبت بنص القرآن أن موسى قيل له‏:‏ ‏{‏لن رآني‏}‏ ‏[‏الأعراف‏:‏143‏]‏، وأن رؤية الله أعظم من إنزال كتاب من السماء، كما قال تعالى‏:‏ ‏{‏يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِّنَ السَّمَاء فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللّهِ جَهْرَةً‏}‏ ‏[‏النساء‏:‏153‏]‏، فمن قال‏:‏ إن أحدًا من الناس يراه، فقد زعم أنه أعظم من موسى بن عمران،ودعواه أعظم من دعوى من ادعى أن الله أنزل عليه كتاباً من السماء

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa tidak ada seorang mukmin pun yang dapat melihat Allah dengan kedua matanya di dunia. Mereka tidak berselisih pendapat kecuali pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara khusus; dimana menurut jumhur ulama, beliau pun tidak melihat dengan (kedua) matanya di dunia. Hal ini didasarkan oleh beberapa atsar yang shahih lagi tsabit (tetap) dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan imam kaum muslimin.

Tidak tsabit (tetap) dari Ibnu ‘Abas maupun dari Al-Imam Ahmad, atau selain keduanya yang mengatakan : ‘Sesungguhnya Muhammad telah melihat Rabbnya dengan (kedua) matanya’. Namun yang tsabit dari mereka penyebutan ru’yah secara mutlak atau mentaqyidnya dengan (penglihatan) hati. Tidak ada satupun hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan peristiwa mi’raj yang menjelaskan bahwa beliau melihat dengan (kedua) matanya. Adapun sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Rabbku mendatangiku dalam bentuk yang paling bagus’ yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya; maka itu hanyalah terjadi di Madinah dalam tidur beliau.

Begitu pula hadits Ummu Thufail dan hadits Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya – yang di dalamnya menyebutkan ru’yah - , maka ia juga terjadi di Madinah sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits. Adapun peristiwa mi’raj, ia terjadi di Makkah sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidil-Aqsha’ (QS. Al-Isra’ : 1). Telah disebutkan penjelasannya di beberapa tempat selain di bagian ini.

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa dikatakan kepada Musa : ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku’ (QS. Al-A’raf : 143). Bahwasannya ru’yatullah (melihat Allah) adalah perkara yang lebih besar daripada diturunkan Al-Qur’an dari langit, sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata" (QS. An-Nisaa’ : 153). Maka barangsiapa yang mengatakan ada orang yang melihat Allah (di dunia), maka ia telah menganggap dirinya lebih agung/hebat daripada Musa bin ‘Imraan. Dan juga berarti menganggap dirinya lebih besar daripada orang yang diturunkan atasnya kitab dari langit”.[44]

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Semoga ada manfaatnya.

[Abul-Jauzaa’ – selesai pada pertengahan malam hari Jum’at yang mulia, 30 Oktober 2009 M, di Ciomas Permai, Bogor].



[1] Ru’yatullah oleh Ibnun-Nuhaas, hal. 25, tahqiq & ta’liq : Dr. ‘Alaauddin ‘Aliy Ridlaa; Daarul-Mi’raaj, Cet. 1/1416.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 554, 573, 4851, 7434, 7435, dan 7436 dari hadits Jariir radliyallaahu ‘anhu.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, 8/279 (tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420).

[4] Shahih mauquf. Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir 11/104, Hanaad dalam Az-Zuhd no. 170, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 471, Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no. 630 & 632, Ibnu Mandah dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah no. 84, Ad-Daaruquthniy dalam Ar-Ru’yah no. 192 & 201, dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Dhilaalul-Jannah no. 474.

[5] Shahih mauquf. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir 11/105, Hanaad dalam Az-Zuhd no. 170, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 473, Ad-Daaruquthniy dalam Ar-Ru’yah no. 202 & 206, dan yang lainnya.

[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir 11/108; Ibnul-Mundzir, Ibnu Abi Haatim, dan Al-Baihaqiy sebagaimana dalam Ad-Durrul-Mantsuur 3/548.

[7] Shahih. Al-Musnad 4/333 no. 18994. Juga pada 4/332 no. 18988-18989, 6/15 no. 24030. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 181, At-Tirmidziy no. 2555 & 3104, An-Nasa’iy dalam Al-Kubraa 4/7766, dan Ibnu Majah no. 187.

[8] Tafsir Ibnu Katsir, 4/262.

[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182.

[10] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 554 dan Muslim no. 211.

[11] ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu Isma’il Ash-Shaabuniy, hal. 80 no. 102 (tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415).

[12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4878 & 4880 & 7444, Muslim no. 180, Ahmad 4/411 & 416, At-Tirmidziy no. 2528, Ibnu Majah no. 168, dan yang lainnya.

[13] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6889.

[14] Shahih. Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy 3/54 no. 1305, Ahmad 4/264, Al-Haakim 1/524, Ibnu Abi Syaibah 10/265, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat no. 120.

[15] Risaalah ilaa Ahlits-Tsaghr, hal. 237 – melalui perantaraan kitab Shifatullaahi ‘azza wa jalla Al-Waaridatu fil-Kitaab was-Sunnah oleh ‘Alawiy bin ‘Abdil-Qaadir As-Saqqaaf, hal. 170; Ad-Durarus-Saniyyah, Cet. 3/1426.

[16] ‘Aqiidatu Al-Haafidh ‘Abdil-Ghaniy Al-Maqdisiy (Al-Iqtishaad fil-I’tiqaad), hal. 58 (tahqiq, takhrij, dan ta’liq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Bushairiy; Cet. 1/1411).

[17] Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 100-101. Lihat Lihat Aqwaalut-Taabi’iin fii Masaailit-Tauhiid wal-Iman, hal. 1073.

[18] Majmuu’ Al-Fataawaa, 6/512.

[19] Shahih. Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 471. Lihat catatan kaki no. 4.

[20] Shahih. Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Ar-Ru’yah no. 192 dan dalam Al-‘Ilal 1/282, serta Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah hal. 257,

[21] Shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy no. 202. Lihat catatan kaki no. 5.

[22] Shahih. Lihat Aqwaalut-Taabi’iin fii Masaailit-Tauhiid wal-Iman oleh ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah Al-Mubdil, hal. 883 (taqdim : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Ghunaiman & ‘Aliy bin Nafii’ Al-‘Ulyaniy; Daarut-Tauhiid, Cet. 1/1424).

[23] Shahih. Idem, hal. 884.

[24] Shahih. Idem, hal. 1072-1073. Dishahihkan oleh Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath, 13/424-425.

[25] Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Kitaabush-Shifaat, hal. 75 no. 67. Lihat pula dalam Mukhtashar Al-‘Ulluw oleh Al-Albaniy hal. 143 no. 137 (Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401).

[26] Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 2/8-9 no. 615, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad 3/501, dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/326.

[27] Manaqibusy-Syaafi’iy oleh Al-Baihaqiy, 1/419 (tahqiq : As-Sayyid Ahmad Shaqr; Maktabah Daar At-Turats).

[28] Idem, 1/420.

[29] Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah, 2/10 no. 621.

[30] Syarh Ushuulil-I’tiqaad oleh Al-Laalika’iy, hal. 507 no. 889, tahqiq : Ahmad bin Mas’uud Al-Hamdaan – desertasi S3 Universitas Ummul-Quraa’.