Jahil dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah

0 komentar


Allah ta'ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka pasti mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah : ‘Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [QS. Yunus: 31].

Shalat Bermakmum di Belakang Ahli Bid’ah

1 komentar


Shalat seorang ahli bid’ah yang kebid’ahannya tidak sampai pada batas kekafiran adalah sah. Maka, seseorang yang shalatnya sah bagi dirinya sendiri, maka sah pula shalat orang yang bermakmum di belakangnya (tidak menjadi batal). Pelaku bid’ah (ahli bid’ah) yang tidak sampai pada batas kekafiran sama kedudukannya dengan orang fasik. Batasan kebid’ahan yang masih masuk dalam wilayah Islam inilah yang dibahas dalam artikel.

Sunnah yang ‘Terlupakan’ : Mengangkat Kedua Tangan di Antara Dua Sujud

2 komentar


Diantara sunnah yang masyhur diajarkan guru-guru kita dalam bab mengangkat tangan ketika shalat adalah melakukannya di 4 (empat) tempat, yaitu saat hendak memulai shalat (takbiiratul-ikraam), saat hendak rukuk, saat bangun dari rukuk (i’tidal), dan ketika berdiri dari sujud menuju raka’at ketiga. Sebagian dalil yang menjadi dasar adalah:
عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ
Dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar apabila hendak memulai shalat, ia bertakbir seraya mengangkat kedua tangannya. Apabila rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengucapkan sami’allaahu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Apabila berdiri dari (sujud pada) raka’at kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar memarfu’kan riwayat tersebut kepada Nabiyullah [1] [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 739].

Tawassul dengan Sifat Allah

0 komentar


Dari Khaulah bintu Hakiim, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda:
لَوْ نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلا فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْحَلَ مِنْهُ
Apabila salah seorang diantara kalian tiba di suatu tempat, hendaklah ia mengucapkan : a’uudzu bi-kalimaatillaahit-taammati min syarri maa khalaqa (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk yang Allah ciptakan), niscaya tidak ada sesuatupun yang membahayakannya hingga ia beranjak dari (tempat) tersebut”.

Lalat

0 komentar


Rasulullah bersabda:
وَالذُّبَابُ كُلُّهُ فِي النَّارِ إِلا النَّحْلَ
"Dan semua lalat ada di neraka kecuali (jenis) lebah".
Diriwayatkan oleh Abu Ya'laa no. 4231 & 4290, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 4/545, dan dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-'Aaliyah 10/564 no. 2334 dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaaq no. 8417 & 9415, Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 3494, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath 2/160 no. 1575 & 4/11 no. 3482 dan Al-Kabiir 12/389 no. 13436 & 12/398 no. 13467-13468 & 12/418-419 no. 13542-13544, serta dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah 10/567 no. 2335 dari Ibnu 'Umar radliyallaahu ‘anhumaa.