Membedakan Muslim dan Kafir (Asli) dalam Pemberian ‘Udzur

4 komentar

Ini merupakan salah satu prinsip penting yang mesti diketahui dalam pemberian ‘udzur terhadap kesalahan. Penyamaan antara muslim dan kafir merupakan satu bentuk kedhaliman sehingga seorang muslim dapat dihukumi dengan sesuatu yang sebenarnya hanya layak dikenakan kepada orang kafir.
Dalil yang menunjukkan adanya tuntutan pembedaan antara muslim dengan kafir adalah firman Allah ta’ala:
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” [QS. Al-Qalam : 35].

Syarat Pemahaman dalam Iqaamatul-Hujjah

0 komentar

Bahasan ini adalah salah satu bahasan yang sangat urgent dan esensial dalam memahami rangkaian bahasan ‘udzur kejahilan. Secara umum, pendapat pertama, mengatakan bahwa pemahaman terhadap hujjah merupakan syarat dalam iqaamatul-hujjah (penegakan hujjah). Konsekuensinya mereka mentoleransi ‘udzur kejahilan bagi orang yang sampai kepadanya hujjah namun tidak/belum memahaminya. Ini adalah pendapat yang dipegang jumhur ulama. Pendapat kedua menyatakan pemahaman terhadap hujjah bukan menjadi syarat dalam iqaamatul-hujjah, karena hujjah berupa Al-Qur’an telah sampai kepada mereka. Ini adalah pendapat sebagian muta’akhkhiriin dan kemudian dinisbatkan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah (meski penisbatan ini perlu diteliti kembali).

Al-Ma’luum minad-Diin bidl-Dlaruurah

1 komentar

Al-‘Ilmu Adl-Dlaruuriy didefinisikan sebagai ilmu yang didapatkan tanpa membutuhkan penelitian dan istidlaal, yang dipelajari oleh masyarakat umum, dan sudah dipastikan kebenarannya (aksiomatik)[1]. Dapat juga berarti : sesuatu yang didapatkan tanpa memikirkan dan penelitian terhadap dalil[2].
Berdasarkan definisi ini, maka al-‘ilmu adl-dlaruuriy merupakan lawan kata dari al-‘ilmu al-muktasab atau al-iktisaabiy, yaitu ilmu yang dihasilkan melalui usaha. Ilmu tersebut (al-‘ilmu al-muktasab) diperoleh melalui sebab-sebabnya dengan melakukan pilihan, seperti mengerahkan akal dan penelitian terhadap latar belakang istidlaal.[3] 

Adz-Dzahabiy dan ‘Udzur Kejahilan

1 komentar

Adz-Dzahabiy rahimahullah pernah berkata tentang kondisi orang-orang yang terjatuh dalam dosa-dosa besar:
اعلم أن كثيرا من الكبائر بل عامتها إلا الأقل يجهل خلقٌ كثير من الأمة تحريمه ، وما بلغه الزّجر فيه و لا الوعيد ، فهذا الضَّرب فيهم تفصيل:
فينبغي للعالم أن لا يستعجل على الجاهل بل يرفق به ، ويعلّمه مما علّمه الله ، ولاسيما إذا كان قريب عهد بجاهلية ، قد نشأ في بلاد الكفر البعيدة ، وأُسر وجُلب إلى أرض الإسلام ، وهو تُركي أو كرجي مشرك لا يعرف النطق بالعربي ، فاشتراه أميرٌ تركي لا علم عنده ولا فهم ، فبالجهد إن تلفّظ بالشّهادتين ، فإن فهم بالعربي حتى يفقه معنى الشهادتين بعد أيام وليال فبها ونعمت ، ثم قد يصلي وقد لا يصلي ، وقد يُلقَّن الفاتحة مع الطول إن كان أستاذه فيه دينٌ ما ، فإن كان أستاذه نسخة منه فمن أين لهذا المسكين أن يعرف شرائع الإسلام والكبائر واجتنابها ، والواجبات وإتيانها؟ فإن عُرِّف هذا موبقات الكبائر وحُذِّر منها ، وأركان الفرائض واعتقدها ، فهو سعيد ، وذلك نادرٌ ، فينبغي للعبد أن يحمد الله تعالى على العافية.
 فإن قيل: هو فرّط لكونه ما سأل عمّا يجب عليه.
 قيل : هذا ما دار في رأسه ، ولا استشعر أن السؤال من يُعلِّمه يجب عليه ، {ومَن لم يجعلِ اللهُ له نورا فما له من نورٍ}(النور: الآية40) ، فلا يأثم أحدٌ إلا بعد العلم ، وبعد قيام الحجة عليه ، والله لطيف بعباده ، رؤوف بهم قال الله تعالى : { وما كُنَّا مُعذِّبين حتى نبعثَ رسولا}(الإسراء: الآية15).
وقد كان سادةُ الصّحابة بالحبشة وينزل الواجب والتحريم على النبي صلى الله عليه وسلم فلا يبلغهم تحريمُه إلاّ بعد أشهر ، فهم في تلك الأشهر معذورون بالجهل حتى يبلغهم النص ، فكذا يعذر بالجهل كلُّ من لم يعلم حتى يسمع النص ، والله تعالى أعلم.

Ibnu Taimiyyah dan ‘Udzur Kejahilan

4 komentar

Ini adalah tambahan dari beberapa rangkaian tulisan yang telah ada di Blog ini. Ibnu Taimiyyah rahimahullah – sebagaimana para pendahulunya dari kalangan ulama – tetap memberikan ruang adanya ‘udzur kejahilan bagi pelaku kekufuran dan kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Berikut (sebagian) rangkaian perkataan beliau rahimahullah dalam permasalahan ini yang akan diurutkan sebagai berikut:
1.     Seorang yang telah diketahui keislamannya secara pasti, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali dengan sesuatu yang pasti juga.
Beliau rahimahullah berkata: