Takbir Jama’iy (2)

0 komentar


Al-Baihaqiy rahimahullah membawakan riwayat sebagai berikut:
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: فَحَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ " كَانَ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ، فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ السُّوقِ فَيُكَبِّرُونَ، حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَاحِدًا "،
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh[1] : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ishaaq[2], ia berkata : Telah berkata Abu ‘Ubaid[3] : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Sa’iid[4], dari Ibnu Juraij[5], dari ‘Athaa’[6], dari ‘Ubaid bin ‘Umair[7], dari ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah bertakbir di kubbahnya di Minaa, lalu orang-orang yang ada di masjid mendengarnya dan kemudian ikut bertakbir. Orang yang ada di pasar pun mendengarnya dan mereka ikut bertakbir, hingga Minaa bergemuruh oleh takbir yang satu [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa, 3/312 no. 6267].

Tashniifun-Naas

2 komentar


Tashniifun-Naas yang dimaksudkan di sini adalah pengklasifikasian manusia dengan menisbatkan seorang pelaku bid’ah kepada kebid’ahannya, menisbatkan pendusta kepada kedustaannya, dan yang semisalnya. Bab ini sangat terkait dengan al-jarh wat-ta’diil yang diamalkan para ulama dari generasi ke generasi tanpa ada pengingkaran. Tashniif merupakan bagian dari agama yang kita beragama di atasnya.
Barangsiapa dikenal dengan bid’ah qadar, maka dikatakan kepadanya ‘qadariy. Barangsiapa dikenal dengan bid’ah Khaawarij, maka dikatakan kepadanya Khaarijiy; Murji’ah dikatakan Murji’; Raafidlah dikatakan Raafidliy, Mu’tazilah dikatakan Mu’taziliy, Asy’ariyyah dikatakan Asy’ariy, dan seterusnya. Nabi telah bersabda:

IslAm NUSantara

6 komentar


Saya terus terang masih bingung mendefinisikan islAm NUSantara. Sebagian tokoh lokal menjelaskan ide baru ini sebagai identitas keislaman orang Indonesia yang ‘moderat’ dan penuh ‘rahmat’; mesti diinternasionalisasikan ke manca negara. Islam yang dalam pikiran sebagian tokoh tergambarkan sebagai Islam yang mengadopsi budaya lokal, nggak mau kearab-araban (atau bahkan anti Arab?), tapi sangat hobi – kalau tidak mau dikatakan rakus – mengadopsi style kebarat-baratan. Islam yang menjadi opisisi ‘Islam Arab’ (?). Islam yang pemahaman nash-nashnya mesti di-reinterpretasi sesuai kondisi dan kebutuhan, sebagaimana diskusi naas belum lama ini yang berhasil membuat girang Benyamin Netanyahu.[1] 

Takbir Jama’iy (1)

0 komentar


Takbir jama’iy yang dimaksudkan di sini adalah takbir secara bersama-sama dengan satu suara yang dikomandoi/dipimpin oleh seseorang (imam/mudzdzin/petugas yang ditunjuk). Tata cara takbir seperti ini telah banyak dibicarakan para ulama kita. Diantaranya adalah Ibnul-Hajj Al-Maalikiy rahimahullah (w. 737 H) yang berkata:
السنة أن يكبر الإمام في أيام التشريق دبر كل صلاة تكبيراً يسمع نفسه ومن يليه , ويكبر الحاضرون بتكبيره , كل واحد يكبر لنفسه ولا يمشي على صوت غيره على ما وصف من أنه يسمع نفسه ومن يليه فهذه هي السنة . أما ما يفعله بعض الناس اليوم من أنه إذا سلم الإمام من صلاته كبر المؤذنون على صوت واحد , والناس يستمعون إليهم ولا يكبرون في الغالب , و إن كبر أحد منهم فهو يمشي على أصواتهم فذلك كله من البدع إذ أنه لم ينقل أن النبي ﷺ فعله ولا أحد من الخلفاء الراشدين بعده
"Yang disunnahkan agar imam bertakbir pada hari-hari tasyriiq di akhir setiap shalat (fardlu)[1] dengan takbir yang dapat didengar oleh dirinya sendiri dan orang lain, dan orang-orang yang hadir (makmum/jama'ah) bertakbir dengan takbirnya. Setiap orang bertakbir untuk dirinya sendiri tanpa mengikuti suara (takbir) orang lain dengan sifat bahwa (takbirnya itu) dapat didengar oleh dirinya sendiri dari orang lain. Inilah sunnah.

Shalat Sunnah Quduum di Masjid

0 komentar


Salah satu sunnah beliau yang banyak ditinggalkan kaum muslimin – dan bahkan banyak diantara mereka yang tidak mengetahuinya sama sekali – adalah shalat sunnah quduum. Yaitu, shalat sunnah dua raka’at yang dilakukan di masjid sepulang dari safar sebelum seseorang tiba di rumah dan bertemu dengan keluarganya. Dalilnya adalah:
عَنْ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
Dari Ka’b radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi apabila pulang dari safar di waktu Dluha, beliau masuk masjid dan shalat dua raka’at sebelum duduk [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3088 & 4418 dan Muslim no. 2769].