Perincian Al-Qur’an

1 komentar

Pertanyaan:
Fadliilatusy-Syaikh, orang-orang Qur’aaniyyuun[1] berkata : ‘Allah ta’ala berfirman :
وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلا
Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan sejelas-jelasnya (QS. Al-Isra’ : 12).
Dan Allah ta’ala berfirman :
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
Tidak Kami tinggalkan di dalam Al-Kitab ini sesuatupun (= tidak ada satupun yang tidak Kami tulis di dalam Kitab ini) (QS. Al-An’am : 38).

Al-Ikhwaan dan Maulid

0 komentar

Jikalau teman-teman kita dari kalangan harakah Tarbiyyah, PKS, atau Al-Ikhwaanul-Muslimuun begitu membela perayaan Maulid Nabi atau memberikan komentar 'mengambang', saya pribadi cukup memahaminya. Tidak lain tidak bukan adalah karena beberapa tokoh yang – saya kira – menjadi panutan mereka juga melakukannya.
Hasan Al-Banna rahimahullah berkata :
وأذكر أنه كان من عادتنا أن نخرج في ذكرى مولد الرسول ﷺ بالموكب بعد الحضرة، كل ليلة من أول ربيع الأول إلى الثاني عشر منه من منزل أحد الإخوان، ...... وخرجنا بالموكب ونحن ننشد القصائد المعتادة في سرور كامل وفرح تام

Atsar Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahumallah tentang Bid’ah

0 komentar

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
حدثنا أحمد بن عمر بن أنس نا الحسين بن يعقوب نا سعيد بن فحلون نا يوسف بن يحيى المغامي نا عبد الملك بن حبيب أخبرني بن الماجشون أنه قال قال مالك بن أنس من أحدث في هذه الأمة اليوم شيئا لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خان الرسالة لأن الله تعالى يقول {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا

Atsar ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tentang Taat terhadap Pemimpin

0 komentar

Suwaid bin Ghafalah pernah berkata :
قَالَ لِي عُمَرُ: " يَا أَبَا أُمَيَّةَ، إنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي أَنْ لَا أَلْقَاكَ بَعْدَ عَامِي هَذَا، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ، إنْ ضَرَبَكَ فَاصْبِرْ، وَإِنْ حَرَمَكَ فَاصْبِرْ، وَإِنْ أَرَادَ أَمْرًا يَنْتَقِصُ دِينَكَ، فَقُلْ: سَمْعٌ وَطَاعَةٌ، دَمِي دُونَ دِينِي، فَلَا تُفَارِقِ الْجَمَاعَةَ".
‘Umar (bin Al-Khaththaab) pernah berkata kepadaku : “Wahai Abu Umayyah, sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertemu denganmu setelah tahun ini. Maka, mendengar dan taatlah, meskipun yang memerintahmu seorang budah Habsyiy yang terpotong hidungnya. Meskipun ia memukulmu, bersabarlah. Meskipun ia menahan hakmu, bersabarlah. Meskipun ia menghendaki sesuatu yang mengecilkan/meremehkan agamamu, maka katakanlah : ‘Aku tetap mendengar dan taat (dengan pengorbanan) darahku, namun tidak agamaku’. Janganlah engkau memisahkan diri dari Al-Jamaa’ah”.

Menggugat Arogansi Parasit Oknum Penggiat Toleransi

7 komentar

Bhineka Tunggal Ika, kebhinekaan, pluralitas/pluralisme, dan toleransi adalah kata-kata popular yang muncul di berbagai media. Apalagi semenjak partai merah berkuasa – setelah (katanya) 10 tahun ‘puasa’[1] –, kata-kata tersebut menjadi jauh lebih sering dan nyaring. Apakah salah ?. Tidak sepenuhnya salah. Yang jadi salah (diantaranya) muncul kecondongan penafsiran kebhinekaan dalam bentuk pluralisme agama. Sebagaimana jamak diketahui, paham pluralisme sendiri sangat ditentang oleh Majelis Ulama Indonesia melalui fatwanya yang telah dirilis beberapa tahun silam. Alhamdulillah, banyak kaum muslimin Indonesia masih memegang fithrahnya menolak pluralisme agama. Banyak pula tokoh dan kiyai kita, terutama dari kalangan NU, yang memahami pluralisme hanya sekedar sikap sosial saling menghormati pemeluk agama lain tanpa meyakini eksistensi kebenaran majemuk semua agama. Hanya Islam agama yang benar. Sekali lagi, patut kita syukuri.