Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumullah tentang ‘Udzur Kejahilan

0 komentar

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumullah ta’ala pernah ditanya tentang keadaan seseorang yang kekufuran tanpa ia bermaksud untuk melakukannya, yaitu karena jahil. Apakah ia diberikan udzur baik dalam perkataan, perbuatan, atau tawassul ?
Beliau rahimahullah menjawab :
“Apabila seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya melakukan perbuatan kekufuran atau mempunyai keyakinan kufur karena ketidaktahuannya tentang syari’at yang Allah utus dengannya Rasul-Nya, maka orang ini menurut kami tidak dikafirkan. Kami tidak menghukumi kekafiran kepadanya hingga hujjah risaaliyyah ditegakkan kepadanya yang menyebabkan kekafiran orang yang menyelisihinya.

Sunnah yang Terlupakan : Membaca Dzikir ‘Alloohummagh-firlii wa tub 'alayya, innaka antat-tawwaabul-ghofuur’

1 komentar

Ibnu Abi Syaibah rahimahullah berkata:
نا ابْنُ فُضَيْلٍ، وَابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ هِلالِ بْنِ يَسَافٍ، عَنْ زَاذَانَ، أَنَّهُ قَالَ: نا رَجُلٌ، مِنَ الأَنْصَارِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ فِي دُبُرِ الصَّلاةِ: " اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّائِبُ أَوِ التَّوَّابُ الْغَفُورُ "، مِائَةَ مَرَّةٍ
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail dan Ibnu Idriis, dari Hushain, dari Hilaal bin Yasaaf, dari Zaadzaan, bahwasannya ia berkata : Telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki dari kalangan Anshaar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah mengucapkan di akhir shalatnya : “Alloohummagh-firlii wa tub 'alayya, innaka antat-tawwaabul-ghofuur (Ya Allah, ampunilah (dosa)-ku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun) – sebanyak 100 kali” [Al-Musnad no. 943 dan Al-Mushannaf no. 29754].

Penegakan Hujjah dalam Tabdii’

0 komentar

Pertanyaan :
هل يشترط في تبديع من وقع في بدعة أو بدع أن تقام عليه الحجة لكي يبدع أو لا يشترط ذلك؟
“Apakah dipersyaratkan penegakan hujjah dalam tabdii’ terhadap orang yang terjatuh dalam kebid’ahan ketika membid’ahkannya?”
Jawab :
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد:
فالمشهور عن أهل السنة أنه من وقع في أمر مكفر لا يكفر حتى تقام عليه الحجة، أما من وقع في بدعة فعلى أقسام:
القسم الأول:أهل البدع كالروافض والخوارج والجهمية والقدرية والمعتزلة والصوفية القبورية والمرجئة ومن يلحق بهم كالإخوان والتبليغ وأمثالهم فهؤلاء لم يشترط السلف إقامة الحجة من أجل الحكم عليهم بالبدعة فالرافضي يقال عنه: مبتدع والخارجي يقال عنه: مبتدع وهكذا، سواء أقيمت عليهم الحجة أم لا.

Hadits yang Diamalkan dan Tidak Diamalkan

1 komentar

HADITS 1:
At-Tirmidziy rahimahullah meriwayatkan hadits secara marfuu':
كُلُّ طَلَاقٍ جَائِزٌ إِلَّا طَلَاقَ الْمَعْتُوهِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ
"Setiap thalaq boleh dilakukan (sah), kecuali thalaq yang dilakukan oleh orang gila lagi kurang akalnya" [As-Sunan no. 1191].
Setelah menjelaskan sebab kedla'ifannya, At-Tirmidziy rahimahullah berkata:
وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ طَلَاقَ الْمَعْتُوهِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ لَا يَجُوزُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَعْتُوهًا يُفِيقُ الْأَحْيَانَ فَيُطَلِّقُ فِي حَالِ إِفَاقَتِهِ
"Para ulama dari kalangan shahabat Nabi dan yang lainnya mengamalkan hadits ini, yaitu bahwa thalaq yang dilakukan oleh orang gila lagi kurang akalnya tidak sah, kecuali jika kegilaannya hanya terjadi kadang-kadang saja dan ia menthalaqnya ketika sadar" [idem, 2/481].

Perintah (Al-Amru)

1 komentar

Pada kesempatan ini sedikit akan dibahas tentang al-amru (الْأَمْرُ) atau perintah. Definisi perintah dalam ushul al-fiqh adalah :
استدعاء الفعل بالقول على وجه الاستعلاء
“Memerintahkan untuk melakukan sesuatu dengan satu perkataan dalam bentuk al-isti’laa’ (dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah)” [Mudzakkirah fii Ushuulil-Fiqhi, hal. 224].
Atau bisa juga dikatakan :
قول يتضمن طلب الفعل على وجه الاستعلاء
”Perkataan yang mengandung tuntutan melakukan sesuatu dalam bentuk al-isti’laa’ (dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah)” [Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmil-Ushuul, hal. 107].