Tampilkan postingan dengan label Fatawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatawa. Tampilkan semua postingan

Murji'ah Fuqahaa Keluar dari Ahlus-Sunnah ?

0 komentar


ASY-SYAIKH SHAALIH AL-FAUZAAN HAFIDHAHULLAH
Pertanyaan:
أحسن الله إليكم صاحب الفضيلة، وهذا سائل يقول: هل الخلاف مع مرجئة الفقهاء يخرجهم من مسمى أهل السنة والجماعة وما حقيقة الخلاف معهم؟
"Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda, shaahibul-fadlilah. Orang ini bertanya : Apakah perselisihan Ahlus-Sunnah dengan Murji'ah Fuqahaa' mengeluarkan mereka dari cakupan Ahlus-Sunnah wal-Jama'aah? Dan bagaimana sebenarnya hakikat perselisihan kita dengan mereka?".

Hati-Hati Menuduh Hizbiy karena Perkara Organisasi

2 komentar

Tidak setiap orang yang mendirikan atau bergabung pada organisasi, yayasan, atau perkumpulan tertentu boleh dicap seenaknya dengan hizbiy dan tahazzub.
"Menurut pengamatan saya, biasanya kan jadi tahazzub"
Hati-hati kisanak dengan perkataan Anda. Tidak semua orang seperti yang Anda pikirkan. Jika suatu organisasi, yayasan, atau perkumpulan didirikan dengan tujuan untuk berdakwah kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah serta tidak mengikatkan walaa' dan baraa'-nya kepadanya; maka justru ini merupakan kebaikan. Jangan asal bicara:

Asy-Syaikh 'Abdullah, Ibnu Hajar Al-Haitamiy, dan Udzur Kejahilan

1 komentar

Memperhatikan pengamalan seorang ulama terhadap satu kaedah akan menggambarkan kejelasan kaedah tersebut. Lebih terbayang di benak penuntut ilmu bagaimana gambarannya dan mengikis kemungkinan beda paham dalam mengartikan kaedah yang dijelaskan ulama.
Dulu saya telah jelaskan bagaimana mauqif Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdil-Wahhaab rahimahullah terhadap ‘udzur kejahilan dalam permasalahan ushuuluddin [http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/12/asy-syaikh-muhammad-bin-abdil-wahhaab.html]. Kemudian saya pun jelaskan bagaimana praktek beliau rahimahullah dalam penyikapan terhadap Al-Buushiiriy, Ibnu ‘Arabiy, dan Ibnul-Faaridl, berikut keterangan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah tentangnya [http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/05/pandangan-asy-syaikh-muhammad-bin-abdul.html].

Faedah Ibadah

0 komentar

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah menjelaskan:
“Sebagian orang ketika berkata tentang faedah berbagai macam ibadah, mereka mengalihkannya kepada faedah-faedah keduniaan.
Seperti misal, (ketika) mereka berkata tentang faedah shalat adalah untuk olah raga dan bermanfaat bagi kesehatan syaraf. Puasa memiliki faedah dalam hal menghilangkan kelembaban dan mengatur berbagai kewajiban.

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumullah tentang ‘Udzur Kejahilan

2 komentar

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumullah ta’ala pernah ditanya tentang keadaan seseorang yang kekufuran tanpa ia bermaksud untuk melakukannya, yaitu karena jahil. Apakah ia diberikan udzur baik dalam perkataan, perbuatan, atau tawassul ?
Beliau rahimahullah menjawab :
“Apabila seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya melakukan perbuatan kekufuran atau mempunyai keyakinan kufur karena ketidaktahuannya tentang syari’at yang Allah utus dengannya Rasul-Nya, maka orang ini menurut kami tidak dikafirkan. Kami tidak menghukumi kekafiran kepadanya hingga hujjah risaaliyyah ditegakkan kepadanya yang menyebabkan kekafiran orang yang menyelisihinya.

Penegakan Hujjah dalam Tabdii’

0 komentar

Pertanyaan :
هل يشترط في تبديع من وقع في بدعة أو بدع أن تقام عليه الحجة لكي يبدع أو لا يشترط ذلك؟
“Apakah dipersyaratkan penegakan hujjah dalam tabdii’ terhadap orang yang terjatuh dalam kebid’ahan ketika membid’ahkannya?”
Jawab :
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد:
فالمشهور عن أهل السنة أنه من وقع في أمر مكفر لا يكفر حتى تقام عليه الحجة، أما من وقع في بدعة فعلى أقسام:
القسم الأول:أهل البدع كالروافض والخوارج والجهمية والقدرية والمعتزلة والصوفية القبورية والمرجئة ومن يلحق بهم كالإخوان والتبليغ وأمثالهم فهؤلاء لم يشترط السلف إقامة الحجة من أجل الحكم عليهم بالبدعة فالرافضي يقال عنه: مبتدع والخارجي يقال عنه: مبتدع وهكذا، سواء أقيمت عليهم الحجة أم لا.

Perincian Al-Qur’an

1 komentar

Pertanyaan:
Fadliilatusy-Syaikh, orang-orang Qur’aaniyyuun[1] berkata : ‘Allah ta’ala berfirman :
وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلا
Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan sejelas-jelasnya (QS. Al-Isra’ : 12).
Dan Allah ta’ala berfirman :
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
Tidak Kami tinggalkan di dalam Al-Kitab ini sesuatupun (= tidak ada satupun yang tidak Kami tulis di dalam Kitab ini) (QS. Al-An’am : 38).

Kapan Keluar dari Ahlus-Sunnah ?

5 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
ومما ينبغي أن يعرف أن الطوائف المنتسبة إلى متبوعين في أصول الدين والكلام على درجات، منهم من يكون قد خالف السنة في أصول عظيمة ومنهم من يكون إنما خالف السنة في أمور دقيقة
"Dan termasuk diantara hal yang perlu diketahui bahwasannya golongan-golongan yang berafiliasi pada tokoh-tokoh tertentu dalam perkara pokok-pokok agama dan ilmu kalam itu bertingkat-tingkat. Diantara mereka ada yang menyelisihi sunnah dalam pokok-pokok yang agung, dan diantara mereka ada yang hanya menyelisihi sunnah dalam perkara-perkara kecil" [Majmuu' Al-Fataawaa, 3/348-349].

Fatwa MUI tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama

0 komentar

Pandangan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhaab terhadap Al-Buushiiriy, Ibnu ‘Arabiy, dan Ibnul-Faaridl

3 komentar

Dulu, ada seseorang bernama Sulaimaan bin Suhaim yang membenci dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah. Ia membuat beberapa kedustaan terhadap beliau rahimahullah. Ketika kedustaan itu sampai kepada Syaikh, beliau rahimahullah berkata:
ثم لا يخفى عليكم أنه بلغني أن رسالة سليمان بن سحيم قد وصلت إليكم، وأنه قبلها وصدقها بعض المنتمين للعلم في جهتكم، والله يعلم أن الرجل افترى علي أمورا لم أقلها، ولم يأت أكثرها على بالي.
“Kemudian tidak tersembunyi atas kalian bahwa telah sampai kepadaku risalah Sulaimaan bin Suhaim, yang itu juga telah sampai kepada kalian. Risalah tersebut diterima dan dibenarkan oleh sebagian orang yang condong kepada ilmu di sisimu. Dan Allah mengetahui orang ini telah berdusta pada perkara-perkara yang aku tidak pernah mengatakannya dan (bahkan) mayoritas perkara itu tidak pernah terlintas dalam benakku”

Madzhab Kibaar Ulama dalam ‘Udzur Kejahilan pada Permasalahan Kufur dan Syirik (2)

0 komentar

Artikel ini merupakan kelanjutan dari bagian pertama yang telah ditulis tanggal 30 November 2014. Kibaar ulama di sini maksudnya kibaar ulama muta’khkhiriin.
1.     Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan Aba Buthain rahimahullah (w. 1282 H)
Asy-Syaikh 'Abdullah bin 'Abdirrahmaan Abu Buthain rahimahullah pernah ditanya tentang makna Laa ilaha illallaah, dan orang yang mengucapkannya namun tidak mengkafiri segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Apakah orang yang mengucapkannya sedangkan ia juga berdoa kepada Nabi dan para wali, kalimat itu bermanfaat baginya, ataukah darah dan hartanya menjadi halal ditumpahkan meskipun ia mengucapkannya?

Hukum Meminta kepada Mayit agar Berdoa kepada Allah untuknya

0 komentar

Maksud dari bahasan adalah seperti orang yang berkata kepada mayit/penghuni kubur : “Wahai Fulaan, berdoalah kepada Allah untukku demikian dan demikian”. Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Ada yang menghukuminya sebagai syirik akbar seperti sebagian ulama Najd, ada pula yang menghukuminya sebagai dosa besar yang dapat menghantarkan kepada syirik akbar seperti Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah, dan para ulama lainnya. Dalam hal ini, pendapat kedua lebih kuat.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
الثَّانِيَةُ : أَنْ يُقَالَ لِلْمَيِّتِ أَوْ الْغَائِبِ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ : اُدْعُ اللَّهَ لِي أَوْ اُدْعُ لَنَا رَبَّك أَوْ اسْأَلْ اللَّهَ لَنَا كَمَا تَقُولُ النَّصَارَى لِمَرْيَمَ وَغَيْرِهَا ، فَهَذَا أَيْضًا لَا يَسْتَرِيبُ عَالِمٌ أَنَّهُ غَيْرُ جَائِزٍ وَأَنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَفْعَلْهَا أَحَدٌ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ

Pajak yang Diperhitungkan Sebagai Zakat

0 komentar

Pernah diajukan pertanyaan kepada Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
هل يجزئ الرجل عن زكاته ما يغرمه ولاة الأمور في الطرقات أم لا
“Apakah mencukupi kewajiban zakat seseorang dari harta yang dibebankan (dipungut) penguasa kepadanya untuk membuat/membangun jalan ?”.
Maka beliau rahimahullah menjawab:
ما ياخذه ولاة الأمور بغير اسم الزكاة لا يتعد به من الزكاة والله تعالى أعلم
“Segala sesuatu yang diambil oleh penguasa bukan atas nama zakat, maka tidak diperhitungkan sebagai zakat, wallaahu a’lam” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 25/93].

Diantara Bid’ah dalam Shalat Tarawih, Kata An-Nawawiy

1 komentar

Jika kita perhatikan sikap dan pemahaman orang-orang awam, hampir-hampir tidak ada perkara baru dalam ibadah yang mereka hukumi dengan bid’ah sayyi-ah (bid’ah yang jelek). Hampir semua dikatakan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Apalagi jika di dalamnya terdapat muatan-muatan bacaan Al-Qur’an, doa, dan yang semisalnya yang secara umum mengandung kebaikan.
An-Nawawiy rahimahullah – ulama besar madzhab Syaafi’iyyah – tidaklah seperti cara pandang mereka. Tidak semua perkara baru dalam ibadah harus dikatakan hasanah. Salah satunya adalah permasalahan yang tertera dalam fatwa beliau berikut:

Hukum Belajar di Sekolah yang Ada Ikhtilath-nya

3 komentar

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum belajar di sekolah yang terdapat ikhtilaath di dalamnya. Maka beliau menjawab :
فعلى كلِّ حالٍ نقول -أيها الأخ- يجب عليك أن تطلب مدرسةً ليس هذا وضعها، فإن لم تجد مدرسةً إلاَّ بهذا الوضع وأنت محتاجٌ إلى الدراسة فإنك تقرأ وتدرس وتحرص بقدر ما تستطيع على البعد عن الفاحشة والفتنة، بحيث تغضُّ بصرَك وتحفظ لسانَك، ولا تتكلَّم مع النساء، ولا تمرُّ إليهنَّ

Dosa yang Diampuni Ketika Orang Kafir Masuk Islam

1 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya tentang orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam, apakah masih tersisa dosa padanya setelah masuk Islam?. Beliau rahimahullah menjawab:
إذا أسلم باطنا وظاهرا غفر له الكفر الذى تاب منه بالاسلام بلا نزاع وأما الذنوب التى لم يتب منها مثل أن يكن مصرا على ذنب أو ظلم أو فاحشة ولم يتب منها بالاسلام فقد قال بعض الناس إنه يغفر له بالاسلام والصحيح أنه إنما يغفر له ما تاب منه كما ثبت فى الصحيح عن النبى أنه قيل أنؤاخذ بما عملنا فى الجاهلية فقال من أحسن فى الاسلام لم يؤاخذ بما عمل فى الجاهلية ومن أساء فى الاسلام أخذ بالأول والآخر

Mana yang Lebih Utama : Menuntut Ilmu, ataukah Menghapal Al-Qur’an ? Membaca Sedikit Ayat Al-Qur’an dengan Tartil, ataukah Banyak Ayat dengan Cepat ?

2 komentar

Dua pertanyaan ini akan dijawab oleh Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul-Qayyim rahimahumallah . Untuk pertanyaan pertama : Mana yang lebih utama, menuntut ilmu ataukah menghapal Al-Qur’an ?; Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab:
أما العلم الذى يجب على الإنسان عينا كعلم ما أمر الله به وما نهى الله عنه فهو مقدم على حفظ ما لا يجب من القرآن فإن طلب العلم الأول واجب وطلب الثانى مستحب والواجب مقدم على المستحب
وأما طلب حفظ القرآن فهو مقدم على كثير مما تسميه الناس علما وهو إما باطل أو قليل النفع وهو أيضا مقدم فى التعلم فى حق من يريد أن يتعلم علم الدين من الأصول والفروع فان المشروع فى حق مثل هذا فى هذه الاوقات أن يبدأ بحفظ القرآن فانه اصل علوم الدين بخلاف ما يفعله كثير من أهل البدع من الأعاجم وغيرهم حيث يشتغل أحدهم بشىء من فضول العلم من الكلام أو الجدال والخلاف أو الفروع النادرة أو التقليد الذى لا يحتاج اليه أو غرائب الحديث التى لا تثبت ولا ينتفع بها وكثير من الرياضيات التى لا تقوم عليها حجة ويترك حفظ القرآن الذى هو أهم من ذلك كله فلابد فى مثل هذه المسألة من التفصيل
 والمطلوب من القرآن هو فهم معانيه والعمل به فان لم تكن هذه همة حافظه لم يكن من اهل العلم والدين والله سبحانه أعلم

‘Udzur Kejahilan Menurut Ibnul-Qayyim – Haafidh Al-Hakamiy – Rabii’ Al-Madkhaliy

0 komentar

Al-Haafidh Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:
الثامن قوله تعالى أفتهلكنا بما فعل المبطلون أي لو عذبهم بجحودهم وشركهملقالوا ذلك وهو سبحانه إنما يهلكهم لمخالفة رسله وتكذيبهم فلو أهلكهم بتقليد آبائهم في شركهم من غير إقامة الحجة عليهم بالرسل لأهلكهم بما فعل المبطلون أو أهلكهم مع غفلتهم عن معرفة بطلان ما كانوا عليه وقد أخبر سبحانه أنه لم يكن ليهلك القرى بظلم وأهلها غافلون وإنما يهلكهم بعد الأعذار والإنذار
“Kedelapan, firman-Nya ta’ala: ‘Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?’ (QS. Al-A’raaf :173). ; yaitu : Seandainya Allah mengadzab mereka karena keingkaran dan kesyirikan mereka, niscaya mereka akan mengatakan hal tersebut. Dan Allah subhaanahu wa ta’ala hanyalah membinasakan mereka karena penyelisihan dan pendustaan mereka terhadap Rasul-Nya. Seandainya Allah ta’ala membinasakan mereka karena ketaqlidan mereka terhadap nenek-moyang mereka dalam perbuatan syirik yang mereka lakukan tanpa adanya iqaamatul-hujjah dengan diutusnya para Rasul, niscaya Allah akan membinasakan mereka dengan perbuatan yang dilakukan orang-orang yang sesat dahulu, atau membinasakan mereka dengan sebab kelalaian mereka untuk mengetahui kebatilan perbuatan syirik mereka. Namun Allah subhaanahu wa ta’ala mengkhabarkan bahwa Ia tidak akan membinasakan suatu negeri dan penduduknya yang lalai secara dhalim. Allah hanya akan membinasakan mereka setelah memberikan ‘udzur dan peringatan” [Ar-Ruuh, hal. 168].

Hukum Memutilasi Orang Kafir yang Memerangi Kaum Muslimin (Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah)

0 komentar

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فَأَما التَّمْثِيل فِي الْقَتْل فَلَا يجوز إِلَّا على وَجه الْقصاص، وَقد قَالَ عمرَان بن حُصَيْن رَضِي الله عَنْهُمَا:
مَا خَطَبنَا رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم خطْبَة إِلَّا أمرنَا بِالصَّدَقَةِ ونهانا عَن الْمثلَة حَتَّى الْكفَّار إِذا قتلناهم فَإنَّا لَا نمثل بهم بعد الْقَتْل وَلَا نجدع آذانهم وأنوفهم وَلَا نبقر بطونهم إِلَّا أَن يَكُونُوا فعلوا ذَلِك بِنَا فنفعل بهم مَا فعلوا.
وَالتّرْك أفضل كَمَا قَالَ الله تَعَالَى {وَإِن عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمثل مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهو خير للصابرين واصبر وَمَا صبرك إِلَّا بِاللَّه}.
قيل إِنَّهَا نزلت لما مثل الْمُشْركُونَ بِحَمْزَة وَغَيره من شُهَدَاء أحد رَضِي الله عَنْهُم فَقَالَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: “لَئِن أَظْفرنِي الله بهم لَأُمَثِّلَن بضعفي مَا مثلُوا بِنَا” فَأنْزل الله هَذِه الْآيَة وَإِن كَانَت قد نزلت قبل ذَلِك بِمَكَّة مثل قَوْله {ويسألونك عَن الرّوح قل الرّوح من أَمر رَبِّي}.
وَقَوله {وأقم الصَّلَاة طرفِي النَّهَار وَزلفًا من اللَّيْل إِن الْحَسَنَات يذْهبن السَّيِّئَات} وَغير ذَلِك من الْآيَات الَّتِي نزلت بِمَكَّة ثمَّ جرى بِالْمَدِينَةِ سَبَب يَقْتَضِي الْخطاب فأنزلت مرّة ثَانِيَة فَقَالَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم :“بل نصبر".
وَفِي صَحِيح مُسلم عَن بُرَيْدَة بن الخصيب رَضِي الله عَنهُ قَالَ : كَانَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا بعث أَمِيرا على سَرِيَّة أَو جَيش أَو فِي حَاجَة نَفسه أوصاهم بتقوى الله تَعَالَى وبمن مَعَه من الْمُسلمين خيرا ثمَّ يَقُول : اغزوا بِسم الله وَفِي سَبِيل الله قَاتلُوا من كفر بِاللَّه لَا تغلوا وَلَا تغدروا وَلَا تمثلوا وَلَا تقتلُوا وليدا.

Faedah Kisah Ashhaabu Dzaati Anwaath dalam Pemberian ‘Udzur Kejahilan (2)

0 komentar

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Faedah Hadits Abu Waaqid Al-Laitsiy : 'Udzur karena Baru Masuk Islam, yang masih membahas tentang ashhaabu dzaati Anwaath. Penjelasan diambil dari dars Al-‘Allamah Al-Faqiih Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin ketika membahas kitab Kasyfusy-Syubuhaat karya Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah.
Saat menyebutkan orang-orang yang dikafirkan karena kesyirikan mereka meskipun telah mengucapkan kalimat Laa ilaha illallaah beserta syubhat-syubhatnya, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah berkata: