Waktu Dimulainya Takbir ‘Iedul-Fithri
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
15:50
16
komentar
Label:
Fiqh,
Ramadlan
Para
ulama berbeda pendapat dalam
permasalahan ini.
Pendapat pertama mengatakan bahwa takbir dimulai saat ketika
tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadlaan dan terlihatnya hilaal
bulan Syawaal.
Dalil yang mereka pakai antara lain firman Allah ta’ala
:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” [QS. Al-Baqarah : 185].
Saat baca-baca lembar fesbuk, ada pertanyaan yang disampaikan seorang teman kepada teman yang lain mengenai masalah di atas, yaitu ketika ada seseorang yang tertinggal shalat ‘Ied. Walau pertanyaan itu bukan tertuju pada saya, tidak ada salahnya jika saya menyebutkan beberapa paragraph keterangan yang disebutkan para ulama kita tentang bahasan yang ditanyakan tersebut.
Allah ta’ala berfirman :
وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].
Tempo hari, menjelang berbuka, saya sempat chatting dengan seorang ikhwah, yang di antaranya membahas masalah dalam judul di atas. Dikarenakan sikon yang kurang memungkinkan memberikan rincian, maka dalam pembicaraan tersebut saya hanya sebutkan hal-hal yang ringkas saja. Melalui artikel ini, saya akan sedikit berikan rincian mengenai hal itu dengan harapan dapat menjadi ‘tambal’ apa yang telah terlewat dalam pembicaraan tersebut.
Para ulama berselisih pendapat dalam permasalahan ini, yang secara ringkas terbagi menjadi dua pendapat. Jumhur ulama dari kalangan Hanafiyyah, Maalikiyyah, dan Syaafi’iyyah berpendapat bahwa i’tikaf sah walau hanya dilakukan sebentar saja, sesuai kadar i’tikaaf itu sendiri. Beberapa dalil yang dipakai dalam pendapat ini antara lain :
Firman Allah ta’ala :
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i`tikaf dalam mesjid” [QS. Al-Baqarah : 187].
Waktu Mengeluarkan Zakat Fithrah/Fithri
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
13:25
5
komentar
Label:
Fiqh,
Ramadlan
Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :
حدثنا يحيى بن محمد بن السكن: حدثنا محمد بن جهضم: حدثنا إسماعيل ابن جعفر، عن عمر بن نافع، عن أبيه، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر، صاعا من تمر أو صاعا من شعير، على العبد والحر، والذكر والأنثى، والصغير والكبير، من المسلمين، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة.
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan[1] : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jahdlam[2] : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far[3], dari ‘Umar bin Naafi’[4], dari ayahnya[5], dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewajibakan zakat fithri satu sha’ tamr atau satu shaa’ sya’iir/gandum bagi setiap orang, baik ia orang yang merdeka, hamba, laki-laki, wanita, anak kecil, dan orang dewasa dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang keluar menuju shalat (‘Ied)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1503].
Apakah Qunut Witir Hanya Dilakukan pada Setengah Kedua Bulan Ramadlan ?
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
02:36
6
komentar
Label:
Fiqh,
Ramadlan
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Berikut ringkasannya seperti yang dikatakan oleh At-Tirmidziy rahimahullah :
واختلف أهل العلم في القنوت في الوتر، فرأى عبد الله بن مسعود القنوت في الوتر في السنة كلها، واختار القنوت قبل الركوع. وهو قول بعض أهل العلم. وبه يقول سفيان الثوري وابن المبارك وإسحق وأهل الكوفة. وقد روي عن علي بن أبي طالب أنه كان لا يقنت إلا في النصف الآخر من رمضان، وكان يقنت بعد الركوع. وقد ذهب بعض أهل العلم إلى هذا. وبه يقول الشافعي وأحمد.
Atsar Shahabat dan Taabi’iin tentang Shalat Sunnah Dua Raka’at Setelah ‘Ashar
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
17:58
7
komentar
Label:
Fiqh
Telah dibahas sebelumnya tentang masyru’-nya mengerjakan shalat sunnah dua raka’at setelah ‘Ashar, bahkan merutinkannya.[1] Ada sebagian kalangan yang menganggap amalan ini sebagai satu hal yang menyelisihi ijma’, atau minimal pendapat yang syaadz. Yang benar : Tidak benar klaim ijma’ ini, baik dari kalangan shahabat ataupun ulama setelahnya. Bukan pula merupakan pendapat yang syaadz.
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِى نَضْرَةَ عَنْ قَيْسٍ قَالَ قُلْتُ لِعَمَّارٍ أَرَأَيْتُمْ صَنِيعَكُمْ هَذَا الَّذِى صَنَعْتُمْ فِى أَمْرِ عَلِىٍّ أَرَأْيًا رَأَيْتُمُوهُ أَوْ شَيْئًا عَهِدَهُ إِلَيْكُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَا عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَلَكِنْ حُذَيْفَةُ أَخْبَرَنِى عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « فِى أَصْحَابِى اثْنَا عَشَرَ مُنَافِقًا فِيهِمْ ثَمَانِيَةٌ لاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِى سَمِّ الْخِيَاطِ ثَمَانِيَةٌ مِنْهُمْ تَكْفِيكَهُمُ الدُّبَيْلَةُ وَأَرْبَعَةٌ ». لَمْ أَحْفَظْ مَا قَالَ شُعْبَةُ فِيهِمْ
Hadits : Tidaklah Ada Seorang pun yang Melewati Kuburan Saudaranya yang Mukmin….
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
23:53
3
komentar
Label:
Hadits
أخبرنا أبو عبد الله عبيد بن محمد قراءة مني عليه سنة تسعين وثلاثمائة في ربيع الأول قال: أملت علينا فاطمة بنت الريان المستملي في دارها بمصر في شوال سنة اثنتين وأربعين وثلاثمائة قالت: حدثنا الربيع بن سليمان المؤذن، صاحب الشافعي، قال: حدثنا بشر بن بكير، عن الأوزاعي، عن عطاء، عن عبيد بن عمير، عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما من أحد مر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah ‘Ubaid bin Muhammad secara qira’at dariku kepadanya pada tahun 390 H bulan Rabi’ul-Awwal, ia berkata : Telah mengimlakan/mendiktekan kepada kami Faathimah bintu Ar-Rayyaan Al-Mustamiliy di rumahnya di Mesir pada bulan Syawal tahun 342 H, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ar-Rabii’ bin Sulaimaan Al-Muadzdzin, salah seorang shahabat Asy-Syaafi’iy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bukair, dari Al-Auzaa’iy, dari ‘Athaa’, dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ada seorang pun yang melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang ia ketahuinya sewaktu di dunia, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, kecuali saudaranya yang mukmin (yang telah mati) itu mengetahuinya dan menjawab salam kepadanya” [Al-Istidzkaar, 1/184].
Fiqh Syi’ah (5) : Kaifiyyah Shalat Syi'ah
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
11:23
0
komentar
Label:
Syi'ah
Allah ta’ala berfirman :
قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau pun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [QS. Ibraahiim : 31].
Mengenal Beberapa Hewan dan Tumbuhan yang Disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
23:43
14
komentar
Label:
Umum
Dalam beberapa nash Al-Qur’an dan As-Sunnah seringkali kita mendapati beberapa nama binatang dan tumbuhan. Ada beberapa di antaranya kita kenal, ada juga yang tidak. Pada kesempatan ini, saya akan coba membantu rekan-rekan sekalian untuk mengenal melalui visualisasinya, terutama beberapa jenis yang agak asing di mata kita atau keberadaannya tidak ada di Indonesia.
Imam Ma’shum Orang yang Dibenci Allah ?
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
01:17
1 komentar
Label:
Syi'ah
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” [QS. At-Taubah : 100].
Anda tentu kenal dengan ayam. Bahkan mungkin memeliharanya. Ayam adalah hewan unggas yang telah terdomestikasi hidup bersama manusia. Ayam peliharaan merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutan yang dikenal sebagai ayam hutan merah (Gallus gallus) atau ayam bangkiwa (bankiva fowl). Kawin silang antarras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul atau galur murni dengan bermacam-macam fungsi; yang paling umum adalah ayam potong (untuk dipotong) dan ayam petelur (untuk diambil telurnya). Ayam biasa dapat pula dikawin silang dengan kerabat dekatnya, ayam hutan hijau, yang menghasilkan hibrida mandul yang jantannya dikenal sebagai ayam bekisar. Dengan populasi lebih dari 24 miliar pada tahun 2003, Firefly's Bird Encyclopaedia menyatakan ada lebih banyak ayam di dunia ini daripada burung lainnya. Ayam memasok dua sumber protein dalam pangan: daging ayam dan telur.[1]
Mana yang Afdlal : Berpuasa atau Berbuka Saat Safar ? (2)
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
10:24
5
komentar
Label:
Ramadlan
Para ulama sepakat bahwasannya safar[1] merupakan sebab diperbolehkannya berbuka bagi orang yang berpuasa, sebagaimana firman Allah ta’ala :
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” [QS. Al-Baqarah : 184].
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Faathir : 28].
Al-Hafidh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
أي: إنما يخشاه حق خشيته العلماء العارفون به؛ لأنه كلما كانت المعرفة للعظيم القدير العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنى -كلما كانت المعرفة به أتمّ والعلم به أكمل، كانت الخشية له أعظم وأكثر
Langgan:
Entri (Atom)
















