Benarkah Atsar : ‘Sebaik-Baik Bid’ah adalah Ini’ Derajatnya Lemah ?


Tanya : Apakah benar bahwa atsar dari ‘Umar bin Al-Khaththaab : ‘sebaik-baik bid’ah adalah inilemah ?
Jawab :
Atsar tersebut shahih. Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah berkata :
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: " وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ " فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، فَقَالَ عُمَرُ: " نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ..........

Dari Ibnu Syihaab[1], dari ‘Urwah bin Az-Zubair[2], dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Abd Al-Qaariy[3], bahwasannya ia berkata : “Aku pernah keluar bersama ‘Umar bin Al-Khaththaab di bulan Ramadlaan menuju masjid. Ternyata orang-orang shalat terpencar-pencar dalam beberapa kelompok. Ada orang yang shalat sendirian, ada pula orang yang shalat dengan diikuti sekelompok orang. Lalu ‘Umar berkata : “Demi Allah, sesungguhnya aku memandang, seandainya aku kumpulkan mereka di belakang satu imam, niscaya itu lebih utama”. Akhirnya ia pun mengumpulkan mereka di belakang Ubay bin Ka’b. Kemudian aku (‘Abdurrahmaan) keluar bersamanya di malam yang lain dimana orang-orang shalat di belakang satu imam mereka. Lalu ‘Umar berkata : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini….” [Al-Muwaththa’, 1/476-477 no. 270].
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 2010, Ibnu Wahb dalam Al-Muwaththa’ 1/98-99 no. 302, Al-Marwaziy dalam Qiyaamur-Ramadlaan no. 25, Al-Firyaabiy dalam Ash-Shiyaam no. 164-165, serta Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 2/493 dan dalam Fadlaailul-Auqaat no. 121; semuanya dari jalan Maalik, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Abd Al-Qaariy.
Maalik mempunyai mutaba’ah dari :
1.      Syu’aib bin Diinaar Al-Qurasyiy[4]; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Firyaabiy dalam Ash-Shiyaam no. 166.
2.      Al-Laits bin Sa’d[5]; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Firyaabiy dalam Ash-Shiyaam no. 152 dan Ibnu Wahb dalam Al-Muwaththa’ 1/98-99 no. 302.
3.      Ma’mar bin Raasyid[6]; sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 4/258-259 no. 7723.
4.      Al-Auza’iy[7]; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syabbah dalam Taariikh Al-Madiinah no. 1186.
5.      ‘Uqail bin Khaalid[8]; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 2/493 dalam Al-Ma’rifah 2/303-304.
6.      Yuunus bin Yaziid[9]; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dalam Al-Muwaththa’ 1/98-99 no. 302 dan dari jalannya Ibnu Khuzaimah no. 1100.
Sanad riwayat ini shahih.
‘Abdurrahmaan bin ‘Abdil-Qaari’ mempunyai syaahid dari As-Saaib bin Yaziid sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syabbah dalam Taariikh Al-Madiinah no. 1182 : Telah menceritakan kepada kami Abu Dzukair, ia berkata : Aku mendengar Muhammad bin Yuusuf Al-A’raj[10] menceritakan dari As-Saaib bin Yaziid[11], dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu.
Seluruh perawinya tsiqaat kecuali Abu Dzukair. Abu Dzukair atau Abu Zukair namanya adalah Yahyaa bin Muhammad bin Qais Adl-Dlariir; seorang yang shaduuq, namun banyak salahnya [At-Taqriib, hal. 1066 no. 7689]. Oleh karena itu, sanad riwayat ini dla’iif, namun menjadi hasan (lighairihi) dengan keberadaan riwayat ‘Abdurrahmaan bin ‘Abd Al-Qaariy di atas.
Adapun alasan pelemahan atsar ini dengan sebab Az-Zuhriy seorang mudallis pada tingkat ketiga, maka ini tidak diterima.[12]
Pelemahan ini tertolak dengan beberapa sebab :
1.      Istilah tadliis yang disifatkan para ulama kepada Ibnu Syihaab kemungkinan besar maknanya adalah irsaal, bukan tadliis dalam istilah khusus menurut muta’akhkhiriin.[13] di kalangan ulama mutaqaddimiin dapat berarti irsaal. Maksudnya, riwayat Az-Zuhriy dari syaikhnya dengan lafadh ‘an ditolak apabila diketahui bahwa Az-Zuhriy ini tidak pernah bertemu atau mendengar riwayat dari syaikhnya tersebut. Apabila diketahui bahwa Az-Zuhriy pernah bertemu atau mendengar riwayat dari syaikh-nya, maka ‘an’anah Az-Zuhriy diterima.
Tidak ternukil pernyataan dari kalangan mutaqaddimiin bahwa Az-Zuhriy melakukan tadlis dalam makna khusus, bersamaan dengan kemasyhurannya di sisi ulama. Seandainya ia memang suka menggugurkan perawi dan menyembunyikannya, niscaya akan ternukil banyak perkataan tentang itu; sebagaimana hal itu terjadi pada para perawi yang terkenal dengan sifat tadlis-nya (dengan makna khusus).
Adapun kritikan keras yang teralamatkan kepada Az-Zuhriy dari mutaqaddimiin adalah dalam permasalahan irsaal, sebagaimana dikatakan oleh Yahyaa bin Sa’iid, Ibnu Ma’iin, dan Asy-Syaafi’iy. Bahkan Yahyaa bin Sa’iid mengatakan bahwa irsaal-nya Az-Zuhriy lebih jelek dari irsal yang berasal selain dirinya [lihat selengkapnya dalam Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 1/535]. Inilah yang masyhuur.
2.      Para ulama dan imam menerima ‘an’anah Az-Zuhriy dari syaikhnya, jika syaikhnya tersebut pernah ia temui dan/atau dengar riwayatnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-‘Alaaiy rahimahullah :
ممد بن شهاب الزهري الإمام العلم مشهور به ( أي بالتدليس ) وقد قبل الأئمة قوله (( عن ))
“Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, seorang imam, pemimpin, masyhuur dengannya (yaitu tadliis). Dan para imam telah menerima perkataannya ‘an (dalam periwayatn hadits)” [Al-Jaami’ut-Tahshiil, hal. 109].
Perkataan di atas juga diucapkan oleh Al-‘Iraaqiy dalam Al-Mudallisiin (hal. 90 no. 60) dan As-Sabth Al-‘Ajamiy dalam At-Tabyiin li-Asmaail-Mudallisiin (hal. 50 no. 64).
Al-Bukhaariy dan Muslim menerima ‘an’anah Az-Zuhriy dalam kitab Shahih-nya.
Adapun Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
محمد بن مسلم الزهري الحافظ الحجة كان يدلس في النادر
“Muhammad bin Muslim Az-Zuhriy, al-haafidh, al-hujjah, ia jarang melakukan tadliis” [Miizaanul-I’tidaal, no. 8171].
Oleh karena itu, pengelompokan Az-Zuhriy oleh Ibnu Hajar rahimahumallah dalam tingkatan ketiga perawi mudallisiin tidaklah diterima.
[Silakan baca pembahasan ‘an’anah Az-Zuhriy ini dalam kitab Riwaayaatul-Mudallisiin fii Shahiih Al-Bukhaariy oleh Dr. ‘Awwaad Al-Khalaf hal. 226-227 dan Manhajul-Mutaqaddimiin fit-Tadliis oleh Dr. Naashir Al-Fahd, 1/51-53].
3.      Dalam sanad Al-Firyaabiy dalam Ash-Shiyaam no. 166, Az-Zuhriy telah menyebutkan tashriih penyimakan riwayatnya[14] dari ‘Urwah bin Az-Zubair Al-Anshaariy.
4.      Tidak ada satu pun imam yang melemahkan riwayat/atsar ini, padahal riwayat atau atsar ini sangat mayshur di kalangan mereka. Bahkan digunakan hujjah bagi mereka dalam beberapa permasalahan.[15]
Kesimpulan : Riwayat/atsar ini shahih, dan klaim akan kedla’ifannya adalah klaim yang mengada-ada.
Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yogyakarta].


[1]     Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihaab Al-Qurasyiy Az-Zuhriy, Abu Bakr Al-Madaniy; seorang yang faqiih, haafidh, dan disepakati akan kebesaran dan ke-itqaan-annya. Termasuk thaqabah ke-4, wafat tahun 125 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 896 no. 6336].
[2]     ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-‘Awwaam bin Khuwailid Al-Qurasyiy Al-Asadiy, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi masyhuur. Termasuk thabaqah ke-3, wafat tahun 94 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 674 no. 4594].
[3]     ‘Abdurrahmaan bin ‘Abd Al-Qaariy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-1, dikatakan pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, wafat tahun 88 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 589 no. 3963].
[4]     Syu’aib bin Abi Hamzah Diinaar Al-Qurasyiy, Abu Bisyr Al-Himshiy; seorang yang tsiqah lagi ‘aabid, dan menurut Ibnu Ma’iin : ‘Termasuk orang yang paling tsabt dalam hadits Az-Zuhriy’. Termasuk thabaqah ke-7, wafat tahun 162 H atau setelahnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 437 no. 2813].
[5]     Al-Laits bin Sa’d bin ‘Abdirrahmaan Al-Fuhmiy, Abul-Haarits Al-Mishriy; seorang yang tsiqah, tsabt, faqiih, lagi imam. Termasuk thabaqah ke-7, lahir tahun 93/94 H, dan wafat tahun 175 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 817 no. 5720].
[6]     Ma’mar bin Raasyid Al-Azdiy, Abu ‘Urwah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, tsabt, lagi mempunyai keutamaan. Termasuk thabaqah ke-7, lahir tahun 96 H, dan wafat tahun 154 H. Dipakai oleh Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 961 no. 6857].
[7]     ‘Abdurrahmaan bin ‘Amru bin Abi ‘Amru Asy-Syaamiy Ad-Dimasyqiy, Abu ‘Amru Al-Auzaa’iy; seorang yang tsiqah, jaliil, lagi faqiih. Termasuk thabaqah ke-7, wafat tahun 157 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 593 no. 3992].
[8]     ‘Uqail bin Khaalid bin ‘Uqail Al-Ailiy, Abu Khaalid Al-Umawiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun 144 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 687 no. 4699].
[9]     Yuunus bin Yaziid bin Abin-Najjaad Al-Ailiy, Abu Yaziid Al-Qurasyiy; seorang yang tsiqah, kecuali dalam riwayat Az-Zuhriy terdapat sedikit wahm (keraguan). Termasuk thabaqah ke-7, wafat tahun 159 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 1100 no. 7976].
[10]    Muhammad bin Yuusuf bin ‘Abdillah bin Yaziid Al-Kindiy, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy Al-A’raj; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-5, wafat tahun 140 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’iy [At-Taqriib, hal. 911 no. 6454] .
[11]    As-Saaib bin Yaziid bin Sa’iid bin Tsumaamah bin Al-Aswad Al-Kindiy; salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk thabaqah ke-1, wafat tahun 91 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [At-Taqriib, hal. 364 no. 2215].
[12]    Ibnu Hajar rahimahullah memasukkannya dalam thabaqah ketiga perawi mudallisiin dan berkata :
وصفه الشافعي والدارقطني وغير واحد بالتدليس
 “Asy-Syaafi’iy, Ad-Daaruquthniy, dan yang lainnya menyifatinya dengan tadliis [Thabaqaatul-Mudallisiin hal. 109 no. 102].
[13]    Sebagaimana definisi tadliis isnaad :
أن يَرْوِيَ الراوي عمن قد سمع منه ما لم يسمع منه من غير أن يذكر سمعه منه.... ومعنى هذا التعريف أن تدليس الإسناد أن يروي الراوي عن شيخ قد سَمِعَ منه بعض الأحاديث، لكن هذا الحديث الذي دلسه لم يسمعه منه ، وإنما سمعه من شيخ آخر عنه ، فيٌسْقِطٌ ذلك الشيخَ ويرويه عنه بلفظ محتمل للسماع وغيره ، كـ " قال " أو " عن " ليوهم غيره أنه سمعه منه ، لكن لا يصرح بأنه سمع منه هذا الحديث فلا يقول : " سمعت " أو " حدثني " حتى لا يصير كذاباً بذلك ، ثم قد يكون الذي أسقطه واحداً أو أكثر
“Jika si perawi meriwayatkan hadits yang tidak pernah ia dengar dari orang yang pernah ia dengar haditsnya; tanpa menyebutkan bahwa perawi tersebut mendengar hadits itu darinya….. Penjelasan definisi tadlis isnad ini adalah bahwa seorang perawi meriwayatkan beberapa hadits yang ia dengar dari seorang syaikh (guru), namun hadits yang ia tadlis­-kan tidak pernah ia dengar dari gurunya itu. Hadits itu ia dengar melalui (perantara) syaikh yang lain, dari syaikh-nya yang pertama tadi. Orang tersebut (si mudallis) menggugurkan syaikh yang menjadi perantara, dan kemudian ia (si mudallis) meriwayatkan darinya (syaikh yang pertama) dengan lafadh yang mengandung kemungkinan mendengar (samaa’) atau yang semisalnya; seperti lafadh قَالَ (telah berkata) atau عَنْ (dari) – agar orang lain menyangka bahwa ia telah mendengar dari syaikh tersebut. Padahal tidak benar orang itu telah mendengar hadits ini. Ia tidak mengatakan سَمِعْتُ (aku telah mendengar) atau حَدَّثَنِي (telah menceritakan kepadaku), sehingga ia tidak bisa disebut sebagai pendusta atas perbuatan itu. Orang yang ia gugurkan tadi bisa satu orang atau lebih” [Lihat : Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Dr. Mahmud Ath-Thahhaan hal. 62 dan Ta’riifu Ahlit-Taqdiis bi-Maraatibil-Maushuufiina bit-Tadliis oleh Ibnu Hajar hal. 10, tahqiq : Dr. ‘Abdul-Ghaffaar Sulaiman & Muhammad bin Ahmad ‘Abdil-‘Aziiz].
[14]    Al-Firyaabiy berkata :
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الأَنْصَارِيُّ....
“Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Utsmaan bin Katsiir bin Diinaar : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair Al-Anshaariy……”
[15]    Sungguh menakjubkan bagi saya ketika membaca ‘dalih’ pelemahan atsar ‘Abdurrahmaan bin Abd Al-Qaariy :
Namun hanya Ibnu Syihab azzuhri yang suka menyelinapkan perawi lemah yang  menjelaskan dan meriwayatkan  hadis tentang sebaik – baik bid`ah adalah ini - salat taroweh berjamaah. Seolah ada bid`ah yang baik, bukan semuanya sesat. Pada hal , kalau  kita katakan ada bid`ah yang baik akan bertentangan dengan banyak hadis sahih, bukan lemah atau hasan .Jadi ini keganjilan yang nyata, bukan masalah biasa yang samar.
Begitu juga  Abd Rahman al Qari perawi hadis tsb , wafat tahun 88 Hijriyah.Usianya 78  tahun. Berarti dia lahir pada tahun sepuluh hijriyah.
Lantas umar bin Khattah wafat pada tahun 23 H.[4] Ber arti ketika Umar wafat  Abd Rahman bin Abd al qari ini berumur 13 tahun . Lalu ketika dia di ajak Umar pergi ke masjid untuk melihat sahabat menjalankan salat malam sendirian , berapakah usianya  , tidak ada keterangan ,pokoknya masih kecil sekali . Inilah yang membikin ganjil dalam benak saya.
Tafarrud periwayatan ‘Abdurrahmaan bin ‘Abd Al-Qaariy itu tidaklah dimulai dari Az-Zuhriy, namun dimulai ‘Urwah bin Az-Zubair (yaitu, tidak ada yang meriwayatkan atsar tersebut dari ‘Abdurrahmaan kecuali ‘Urwah bin Az-Zubair). Tafarrud periwayatan shahabat oleh generasi tabi’iy tidaklah memudlaratkan sebagaimana dimaklumi. Adapun riwayat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu sendiri diriwayatkan dari dua jalur sebagaimana telah disebutkan di atas.
Tidak ada halangan akan usia ‘Abdurrahmaan bin ‘Abd Al-Qaariy dalam periwayatannya dari ‘Umar. Ia seorang yang tsiqah yang menjelaskan kesaksiannya periwayatannya. Riwayat perawi yang masih kecil yang kemudian ia sampaikan ketika dewasa adalah diterima.
Dr. Mahmud Ath-Thahhaan memberikan penjelasan sebagai berikut :
هل لصحة سماع الصغير سن معينة ؟
أ) حدد بعض العلماء ذلك بخمس سنين، وعليه استقر العمل بين أهل الحديث.
ب) وقل بعضهم: الصواب اعتبار التمييز، فان فَهِمَ الخطاب، ورَدَّ الجواب، كان مُمَيَّزا ً صحيح السمع وإلا فلا.
“Apakah ada ketentuan umur tertentu bagi keshahihan penyimakan hadits seorang anak ?
Sebagian ulama menentukan usia adalah mulai 5 tahun. Inilah yang ditetapkan oleh para ahli hadits.
Sebagian di antara mereka berkata : Yang benar adalah usia mumayyiz. Jika seorang anak telah mengerti percakapan dan bisa menjawabnya, maka ia sudah mumayyiz dan penyimakan haditsnya shahih. Jika hal itu tidak dijumpai pada seorang anak, maka tidak shahih” [Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Dr. Mahmud Ath-Thahhan, hal. 122].
Perlu diketahui bahwa tidak dipersyaratkan usia baligh ketika mendengarkan hadits. Namun yang dipersyaratkan usia baligh adalah ketika menyampaikan, sebagaimana terdapat dalam banyak hadits [lihat Mabaahits fii ‘Uluumil-Hadiits oleh Prof. Dr. Mannaa Al-Qaththan rahimahullah]. Contohnya :
Dari ’Abdullah bin ’Abbas radliyallaahu ’anhuma ia berkata :
بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ إلى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍِ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةٌُ تُشْبِهُهَا ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِيْنِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيْطَهُ أَوْ خَطِيْطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلى الصَّلاةِ
”Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah bin Al-Harits, istri Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam; dan ketika itu beliau berada di rumah bibi saya itu. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat ‘Isya’ (di masjid), kemudian beliau pulang, lalu beliau mengerjakan shalat sunnah empat raka’at. Setelah itu beliau tidur, lalu beliau bangun dan bertanya : “Apakah anak laki-laki itu (Ibnu ‘Abbas) sudah tidur ?”  atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna dengan itu. Kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau untuk bermakmum. Akan tetapi kemudian beliau menjadikanku berposisi di sebelah kanan beliau. Beliau shalat lima raka’at, kemudian shalat lagi dua raka’at, kemudian beliau tidur. Aku mendengar suara dengkurannya yang samar-samar. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun, lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh” [Muttafaqun ‘alaih].
Peristiwa di atas dialami dan disaksikan ketika Ibnu ‘Abas radliyallaahu ‘anhuma masih kecil. Terlihat dari pertanyaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut :  “Apakah anak laki-laki itu (Ibnu ‘Abbas) sudah tidur ?”(نَامَ الْغُلَيِّمُ). Kemudian Ibnu ‘Abbas menyampaikannya apa yang ia alami/saksikan tersebut ketika ia telah dewasa.

Comments

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum ustadz,

apakah ada bid'ah/ inovasi dalam ibadah ghairu Mahdhah .. ? bagaimana menjawab subhat artikel ini ustadz http://www.mutiarazuhud.com/kegemparan-sebuah-kaidah/?print=1

syukron

Abu muhammad

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebelum berkomentar lebih jauh, tentu saja harus disamakan dulu persepsi apa itu ibadah mahdlah dan ghairu mahdlah.

Anonim mengatakan...

Ustadz mau menanyakan mengenai atsar dibawah ini, yang sangat menjelaskan sekali..saya dapat dan saya kopas sesuai apa adanya.. bagaimana atsar ini menurut ustadz?

This (atsar yang di bukhori, seperti yg dibahas diatas) is further clarified by the more detailed report in Ibn Sa’d’s Al-Tabaqât Al-Kubrâ Vol.5 p42 from Nawfal b. Iyâs Al-Hudhalî:

During the time of ‘Umar b. Al-Khattâb, we used to pray in Ramadân in groups – here and there – in the mosque. People would incline to pray behind those who had the best voices. ‘Umar said, “Do I not see that they are treating the Qurân like song? By Allâh, if I can, I will change this.” Only three nights later, he told Ubay b. Ka’b to lead them in prayer, then stood behind the rows and said, “If this is a bid’ah, then what a good bid’ah it is.”

Al-‘Allâmah Al-Mu’allimî Al-Yamânî graded this narration’s chain of transmission sahîh in his treatise Qiyâmu Ramadân p51.

Anonim mengatakan...

Maaf lupa menyertakan link... diambil dr sini ustadz
http://islamicemirate.com/resources/islamic-quotes/261
Abu hasan

Anonim mengatakan...

Kalo riwayat ibnu umar ini gimana kesahihannya ustadz? ditulisnya sih

أنها محدثة وأنها لمن أحسن ما أحدثوا

سعيد بن منصور بإسناد صحيح

Penjelasannya gimana ustadz?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tashiih itu berasal dari Ibnu Hajar. Saya sendiri belum tahu sanad persisnya riwayat tersebut.

Perkataan Ibnu 'Umar tersebut terkait dengan shalat Dluhaa. Telah masyhur bahwa Ibnu 'Umar berpendapat bahwa membiasakan shalat Dluhaa itu bid'ah. Dan.....perkataan beliau tersebut keliru.

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/hukum-shalat-dluhaa.html

Anonim mengatakan...

jazakallahu khairan ustadz atas jawabannya..
Tapi saya kesulitan memahami konsekuensi atsar diatas ustadz, berbeda dengan atsar 'Umar bahwa bid'ah yang disebutkan adalah bid'ah lughawiyah, artinya (cmiiw) 'Umar tidak berpandangan hal itu sebagai bid'ah.. Nah kalo Ibnu 'umar radhiallahu'anhuma kan sudah jelas posisinya bahwa beliau menganggap sholat dluha sebagai bid'ah, tapi kok malah berkata sebaik-baik bid'ah dan ahsanu ma ahdatsu.. mohon dijelaskan ustadz
barakallahu fiik

hery mengatakan...

Assalam mualaikum,..sukron akhi atas ilmunya,..

hery mengatakan...

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh sukron akhi atsa penjelasanya,.semoga bermanfaat .

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Anonim 7 Juli 2012 09:16,.... saya juga merasa kesulitan sama dengan antum. Benar, bahwasannya Ibnu Hajar telah menegaskan keshahihannya. Tapi bisakah saya dibantu : Sebenarnya riwayat manakah yang dimaksud Ibnu Hajar ?. Karena sampai saat ini saya belum mendapatkannya. Barangkali kalau kita mendapatkan riwayat lengkapnya di kitab apa (dengan sanadnya tentu saja), bisa terbantu dengan kejelasan lafadh-lafadh yang lainnya.....

wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Apalagi saya ustadz, yang saya tahu y nukilannya aja.. jazakallahu khairan sudah bersusah2.. kalo yang ini ustadz ?

بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ البِدْعَةُ (رواه ابن أبي شيبة)

kayanya di mushannaf ibn abi syaibah.. apakah ini sahih ustadz?
Kalo ya bagaimana penjelasannya apakah dia sama juga bid'ah lughawiyah ?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sanadnya shahih. Begini selengkapnya :

حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ الْأَعْرَجِ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى، وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: بِدْعَةٌ، وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ ! "

Ibnu 'Ulayyah mendengar hadits dari Al-Jurairiy sebelum ikhtilathnya. Selain dari jalan Al-A'raj, atsar itu juga diriwayatkan dari jalan Mujaahid.

Benar bahwasannya yang dimaksudkan Ibnu 'Umar adalah bid'ah secara lughawiyyah. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hal sebagai :

Ibnu 'Umar belum pernah mengetahui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah memerintahkannya atau pernah mengerjakannya, sebagaimana dalam riwayat :

عن مورق قال: قلت لابن عمر رضي الله عنهما: أتصلي الضحى؟ قال: لا، قلت: فعمر؟ قال: لا، قلت: فأبو بكر؟ قال: لا، قلت: فالنبي ؟ قال: لا إخاله.

Dari Muwarriq ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Apakah engkau melakukan shalat Dluha ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Bagaimana dengan ‘Umar ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Abu Bakr ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Aku kira tidak” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1175].

Ibnu ‘Umar menafikkan shalat Dluhaa, kecuali jika baru saja datang dari safar atau bepergian, karena ada riwayat shahih dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai berikut :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَرُوبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّوَّافُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ نُوحٍ الْعَطَّارُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي الضُّحَى إِلا أَنْ يَقْدُمَ مِنْ غَيْبَةٍ "

Dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat Dluhaa kecuali jika baru datang dari bepergian” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 2528 dan Ibnu Khuzaimah no. 1160; sanadnya hasan].

Akan tetapi ia sendiri juga mengerjakannya, sebagaimana riwayat :

ثَنَا لَيْثٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، كَانَ يُسْأَلُ عَنْ صَلاةِ الضُّحَى فَلا يَنْهَى وَلا يَأْمُرُ بِهَا، وَيَقُولُ: " إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَكِنْ لا تُصَلُّوا عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلا عِنْدَ غُرُوبِهَا "

Ibnu 'Umar pernah ditanya tentang shalat Dluhaa, maka ia tidak melarangnya tidak pula memerintahkannya. Ia berkata : "Aku hanyalah melakukannya sebagaimana aku lihat para shahabatku melakukannya. Akan tetapi janganlah kalian mengerjakannya ketika matahari terbit dan tenggelamnya" [Diriwayatkan oleh Abu Jahm Al-Baghdaadiy dalam Juz-nya no. 17; sanadnya shahih].

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Jelasnya lagi dalam riwayat :

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هُوَ الدَّوْرَقِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ لَا يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ الْمَقَامِ، وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ، قَالَ: وَكَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا، قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا "

Dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidak pernah mengerjakan shalat Dhuha kecuali pada dua kali, yaitu hari ketika dia mengunjungi Makkah saat dia memasuki kota Makkah di waktu Dhuha lalu dia melakukan thawaf di Al Bait (Ka'bah) kemudian shalat dua raka'at di belakang Maqam (Ibrahim) dan satunya lagi saat dia mengunjungi masjid Quba', yang dia mendatanginya pada hari Sabtu. Bila dia sudah memasukinya, maka dia enggan untuk keluar darinya hingga dia shalat terlebih dahulu di dalamnya. Berkata Nafi' : "Dan Ibnu'Umar radliallahu 'anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengunjungi (masjid Quba') baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki". Berkata Nafi' : "Dan Ibnu'Umar radliallahu 'anhuma berkata : "Sesungguhnya aku mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya, namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan shalat pada waktu kapanpun yang dia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1192].

Nah,... dari sini saya kok sedikit mendapatkan kejelasan bahwa sebaik-baik bid’ah yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Umar adalah terkait shalat sunnah mutlak yang dilakukan oleh seorang muslim pada waktu malam dan siang, dan kemudian orang-orang banyak melakukannya pada waktu Dluhaa. Di satu sisi Ibnu ‘Umar mengetahui bahwa shalat sunnah mutlak itu adalah masyru’, namun di sisi lain ia tidak mengetahui dalil dilaksanakan shalat Dluhaa dengan mendawamkannya. Sekali lagi, perkataan sebaik-baik bid’ah yang diucapkan Ibnu ‘Umar tadi terkait dengan shalat sunnah mutlak yang banyak dikerjakan pada shalat Dluhaa. Bukan pada shalat Dluhaa nya itu sendiri.

Tentu saja ini mesti kita pahami sikap Ibnu ‘Umar yang sangat bersemangat mencontoh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan bagaimana pengingkarannya terhadap sesuatu yang menyelisihinya meskipun penyelisihan tersebut terkandung sebagian ‘kebaikan’.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: " كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang memandangnya sebagai satu kebaikan” [shahih].

عن نافع أن رجلا عطس إلى جنب بن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال بن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه وسلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال

Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan,alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajarikami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (Alhamdulillah dalam segala kondisi) [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2738, Al-Haakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan].

Wallaahu a’lam.

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah jelas ustadz.. jazakallahu khairan atas susah2nya menjelaskan..

Irfan mengatakan...

Ustadz,

Bagaimana pemahaman perkataan Umar "Sebaik-baik bid'ah adalah ini"?

Saya pernah baca dalam Subulus Salam penjelasan Imam Shan'ani yang berbeda dari apa yang pahami selama ini bahwa maknanya adalah bid'ah secara bahasa.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

O iya, di atas ada sedikit kekeliruan, yaitu pada komentar saya tanggal 8 Juli 2012 01:14, yang tertulis :

"Sekali lagi, perkataan sebaik-baik bid’ah yang diucapkan Ibnu ‘Umar tadi terkait dengan shalat sunnah mutlak yang banyak dikerjakan pada shalat Dluhaa. Bukan pada shalat Dluhaa nya itu sendiri" [selesai].

Maksud saya adalah :

"Sekali lagi, perkataan sebaik-baik bid’ah yang diucapkan Ibnu ‘Umar tadi terkait dengan shalat sunnah mutlak yang banyak dikerjakan pada waktu Dluhaa. Bukan pada shalat Dluhaa nya itu sendiri".

Silakan baca :

Memahami ‘Bid’ah Hasanah’ Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.

------------

@Irfan,.... maksudnya adalah bid'ah secara bahasa.

wallaahu a'lam.

Alex mengatakan...

Assalamualaikum ustad... saya menjumpai tulisan ini.. saya mau bertanya tentang hadist di atas... saya dapetin tambahan sedikit dr hadist yg ustad bawakan... Abdurrahman bin Abdil Qari berkata,

خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ فَقَالَ عُمَرُ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ .

“Saya keluar ke masjid bersama Umar bin Al Khathab pada bulan Ramadhan. Di sana banyak sekali orang yang terpencar-pencar. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat sendiri, tetapi ada beberapa orang yang mengikutinya. Umar berkata; ‘Demi Allah, sesungguhnya saya melihat jika saya satukan mereka dengan seorang imam tentu akan lebih baik.’ Maka, Umar pun mengumpulkan mereka dengan Ubay bin Ka’ab sebagai imam. Kemudian, saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, dimana ornag-orang shalat dengan qari` (imam) mereka. Umar berkata; ‘Ini adalah bid’ah yang sangat bagus. Tetapi, orang-orang yang sekarang tidur itu lebih baik daripada yang bangun.’ Maksud Umar, orang yang tidur untuk bangun di akhir malam. Waktu itu, orang-orang qiyamullail pada awal malam.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Imam Malik bin Anas bin Malik Al Ashbahi Al Madani (w. 179 H) dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Urwah bin Az Zubair dari Abdurrahman bin Abdil Qari. [5]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (1871), Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (3122), dan Abdurrazaq dalam Al Mushannaf (7723).

hikmah dan ibrah
Kata Umar, “Orang-orang yang sekarang tidur itu lebih baik daripada yang bangun.” Maksudnya, berjamaah tarawih di masjid pada awal malam adalah bagus. Namun, orang yang tidur pada awal malam agar bisa bangun tengah malam atau dini hari untuk shalat adalah lebih bagus lagi.

yang mau saya tanyakan, jadi apa betul shalat qiyamul lail/taraweh di rumah sendiri2 di tengah malam/ dini hari lebih afdol drpd taraweh berjemaah di mesjid?