Tampilkan postingan dengan label Ramadlan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadlan. Tampilkan semua postingan

Takbir Jama’iy (2)

1 komentar


Al-Baihaqiy rahimahullah membawakan riwayat sebagai berikut:
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، قَالَ: قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: فَحَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ " كَانَ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ، فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ السُّوقِ فَيُكَبِّرُونَ، حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَاحِدًا "،
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh[1] : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ishaaq[2], ia berkata : Telah berkata Abu ‘Ubaid[3] : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Sa’iid[4], dari Ibnu Juraij[5], dari ‘Athaa’[6], dari ‘Ubaid bin ‘Umair[7], dari ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah bertakbir di kubbahnya di Minaa, lalu orang-orang yang ada di masjid mendengarnya dan kemudian ikut bertakbir. Orang yang ada di pasar pun mendengarnya dan mereka ikut bertakbir, hingga Minaa bergemuruh oleh takbir yang satu [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa, 3/312 no. 6267].

Takbir Jama’iy (1)

0 komentar


Takbir jama’iy yang dimaksudkan di sini adalah takbir secara bersama-sama dengan satu suara yang dikomandoi/dipimpin oleh seseorang (imam/mudzdzin/petugas yang ditunjuk). Tata cara takbir seperti ini telah banyak dibicarakan para ulama kita. Diantaranya adalah Ibnul-Hajj Al-Maalikiy rahimahullah (w. 737 H) yang berkata:
السنة أن يكبر الإمام في أيام التشريق دبر كل صلاة تكبيراً يسمع نفسه ومن يليه , ويكبر الحاضرون بتكبيره , كل واحد يكبر لنفسه ولا يمشي على صوت غيره على ما وصف من أنه يسمع نفسه ومن يليه فهذه هي السنة . أما ما يفعله بعض الناس اليوم من أنه إذا سلم الإمام من صلاته كبر المؤذنون على صوت واحد , والناس يستمعون إليهم ولا يكبرون في الغالب , و إن كبر أحد منهم فهو يمشي على أصواتهم فذلك كله من البدع إذ أنه لم ينقل أن النبي ﷺ فعله ولا أحد من الخلفاء الراشدين بعده
"Yang disunnahkan agar imam bertakbir pada hari-hari tasyriiq di akhir setiap shalat (fardlu)[1] dengan takbir yang dapat didengar oleh dirinya sendiri dan orang lain, dan orang-orang yang hadir (makmum/jama'ah) bertakbir dengan takbirnya. Setiap orang bertakbir untuk dirinya sendiri tanpa mengikuti suara (takbir) orang lain dengan sifat bahwa (takbirnya itu) dapat didengar oleh dirinya sendiri dari orang lain. Inilah sunnah.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri (2)

0 komentar


Zakat fithri dapat mulai dikeluarkan sehari atau dua sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied. Dalilnya adalah:
عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: فَرَضَ النَّبِيُّ ﷺ صَدَقَةَ الْفِطْرِ أَوْ قَالَ: رَمَضَانَ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ ، فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِي التَّمْرَ فَأَعْوَزَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مِنَ التَّمْرِ فَأَعْطَى شَعِيرًا، فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنِ الصَّغِيرِ، وَالْكَبِيرِ حَتَّى إِنْ كَانَ لِيُعْطِي عَنْ بَنِيَّ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
Dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “Nabi ﷺ mewajibkan zakat fithri – atau Ibnu ‘Umar berkata : zakat Ramadlaan - bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak, sebesar satu shaa' kurma atau satu shaa' gandum (sya’iir)". Kemudian orang-orang menyamakannya dengan setengah shaa' burr (gandum yang bagus). Adalah Ibnu 'Umar radliyallaahu ‘anhumaa memberikan zakat berupa kurma (tamr). Lalu penduduk Madinah kesulitan mendapatkan kurma (tamr), dan akhirnya mereka mengeluarkan gandum (sya’iir). Ibnu 'Umar radliyallaahu ‘anhumaa memberikan zakatnya atas nama anak kecil, orang dewasa, hingga atas nama bayi sekalipun. Ibnu 'Umar radliyallaahu ‘anhumaa memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya; dan ia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum ‘Iedul-Fithri [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1511].

Shalat Tarawih 11 Raka’at adalah Bid’ah ?

0 komentar


Membuka media sosial kadang menjadi hiburan tersendiri jika yang terbaca isinya bermutu, informatif, atau (bahkan) lucu. Tapi tak jarang, membacanya malah bikin kesal karena yang lewat di Beranda kontent fitnah, syubuhat, dan ngaco. Termasuk yang ada di judul artikel ini. Entah ilmu terawangan darimana bisa-bisanya ada yang mengatakan shalat tarawih 11 raka’at itu bid’ah. Hadits ‘Aaisyah yang menjelaskan shalat tarawih 11 raka’at itu dikatakan shalat witir, bukan shalat tarawih. Sekarang, masalah ini lagi menghangat di satu wilayah di Provinsi NAD. Kemarin malah lewat rekaman talkshow yang tak kalah lucu dari dai ‘Holsten’. Katanya Nabi ﷺ tidak pernah shalat tarawih kecuali hanya 3 malam saja. Hadits riwayat 'Aaisyah 11 raka'at katanya, bukan dalil shalat tarawih, akan tetapi shalat tahajjud. "Salahnya adalah salah banget", igaunya. Ngabodor yeuh….

Khuthbah ‘Ied : Sekali atau Dua Kali ?

0 komentar

Tanya : Berapakah jumlah khuthbah ‘Ied yang sesuai dengan sunnah ?
Jawab : Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan khutbah (shalat) ‘Ied adalah dua kali diselingi dengan duduk seperti khuthbah (shalat) Jum’at, dan sebagian yang lain mengatakan sekali.
Dalil paling kuat yang dibawakan oleh pendapat pertama adalah hadits :
نَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، نَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ الْخُطْبَتَيْنِ وَهُوَ قَائِمٌ، وَكَانَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِجُلُوسٍ "

Berbuka ala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam

3 komentar

Berbuka puasa adalah salah satu kenikmatan Allah ta’ala yang dirasakan oleh orang yang berpuasa. Kenikmatan tersebut termasuk kegembiraan yang diawalkan bagi orang yang berpuasa di dunia sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ
“Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7492 dan Muslim no. 1151].

Kaffaarah Berhubungan Badan di Siang Hari pada Bulan Ramadlaan

3 komentar

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكْتُ، قَالَ: مَا لَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لَا، فَقَالَ: فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ، أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ، قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

‘Berpuasalah, Maka Engkau Akan Sehat’ – Lemah Sanadnya, Shahih Maknanya

0 komentar

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah, maka engkau akan sehat”.
Hadits ini lemah sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Adl-Dla’iifah 1/420-421 no. 253. Meskipun demikian, maknanya shahih sebagaimana dijelaskan oleh Al-Munawiy rahimahullah:

Maksud 50 Ayat

4 komentar


Pertanyaan : Apa maksud jarak pembacaan 50 ayat terkait permasalahan selesainya sahur ?. Apakah ia jarak antara selesai makan sahur dengan adzan ataukah bagaimana ?. Dapatkan ia dijadikan dalil sebagai pensyari’atan waktu imsak ?.
Jawab : Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasuulillah wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah, wa ba’d:
Hadits yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:
عَنْ أَنَسٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : ”Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami berdiri untuk shalat. Maka aku (Anas) berkata : “Berapa lama jarak antara adzan dan makan sahur?”. Ia (Zaid) menjawab : “Kira-kira bacaan lima puluh ayat dari Al-Qur’an” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1921 dan Muslim no. 1097].

Diantara Bid’ah dalam Shalat Tarawih, Kata An-Nawawiy

1 komentar

Jika kita perhatikan sikap dan pemahaman orang-orang awam, hampir-hampir tidak ada perkara baru dalam ibadah yang mereka hukumi dengan bid’ah sayyi-ah (bid’ah yang jelek). Hampir semua dikatakan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Apalagi jika di dalamnya terdapat muatan-muatan bacaan Al-Qur’an, doa, dan yang semisalnya yang secara umum ‘mengandung kebaikan’.
An-Nawawiy rahimahullah – ulama besar madzhab Syaafi’iyyah – tidaklah seperti cara pandang mereka. Tidak semua perkara baru dalam ibadah harus dikatakan hasanah. Salah satunya adalah permasalahan yang tertera dalam fatwa beliau berikut:

Mengqadla Shalat Witir

0 komentar

Pada asalnya, shalat witir hanyalah dikerjakan pada malam hari, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian shalat, yaitu shalat witir. Kerjakanlah shalat tersebut pada waktu antara shalat ‘Isyaa’ hingga shalat Shubuh” [Diriwayatkan oleh Ahmad 6/7 (39/271) no. 23851 & 6/397 (45/204-205) no. 27229, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar 11/354-355 no. 4492, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 2/279 no. 2167; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dkk.].

Dzikir Setelah Shalat Witir

2 komentar

Dari Ubay bin Ka’b radliyallaahu ‘anhu:
أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ "
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat witir tiga raka’at. Pada raka’at pertama beliau membaca ‘sabbihisma Rabbikal-A’laa (QS. Al-A’laa), pada raka’at kedua beliau membaca ‘qul yaa ayyuhal-kaafiruun’ (QS. Al-Kaafiruun), dan pada raka’at ketiga beliau membaca ‘qul huwallaahu ahad’ (QS. Al-Ikhlaash). Beliau melakukan qunut sebelum rukuk. Apabila beliau telah selesai (dari shalatnya) membaca : subhaanal-malikil-qudduus (Maha Suci Allah Dzat Yang Merajai lagi Suci dari Kekurangan) sebanyak tiga kali dan memanjangkan di bagian akhirnya.

Menjual Makanan kepada Orang Kafir di Siang Hari Bulan Ramadlaan

1 komentar

Tanya : Bolehkah menjual makanan kepada orang kafir di siang hari pada bulan Ramadlaan untuk dimakan pada saat itu (seperti warung makan, restoran, dan semisalnya) ?.
Jawab : Tidak diperbolehkan menjual makanan di siang hari bulan Ramadlaan, kecuali bagi mereka yang mempunyai ‘udzur syar’iy seperti orang sakit, musafir, wanita haidl dan nifas, orang-orang yang lanjut usia). Menurut pendapat yang paling shahih di kalangan ulama, tidak ada bedanya antara orang muslim dan orang kafir karena mereka (orang kafir) juga termasuk objek yang dikenai kewajiban-kewajiban syari’at. Diantara dalilnya firman Allah ta’ala:

Muntah Ketika Puasa

0 komentar

Abu Daawud rahimahullah berkata:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ "
Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Yuunus : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Hassaan, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja dalam keadaan berpuasa, maka tidak ada qadla’ baginya; dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka ia harus mengqadla (puasanya)” [As-Sunan no. 2380].

Mana yang Lebih Utama : Shalat Tarawih Berjama’ah di Masjid atau di Rumah ?

6 komentar

Para ulama berselisih pendapat dalam dua kelompok besar[1].
Pendapat pertama menyatakan shalat tarawih berjama’ah di masjid lebih utama. Diantara ulama yang memegang pendapat ini adalah jumhur ulama dari kalangan shahabat dan taabi’iin, ulama Hanafiyyah, Ahmad bin Hanbal, Ishaaq bin Rahawaih, Ibnul-Mubaarak, dan jumhur Syaafi’iyyah.
Pendapat kedua menyatakan shalat tarawih secara munfarid di rumah lebih utama. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, ‘Alqamah, Al-Aswad, Maalik, Asy-Syaafi’iy, dan yang menyepakati mereka.

Shalat Sunnah Sebelum dan Setelah Shalat ‘Ied

10 komentar

Tanya : Apakah disyari’atkan shalat sunnah khusus sebelum dan setelah ‘Ied ?.
Jawab : Berkaitan dengan hal tersebut, ada riwayat marfuu’ dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berikut :
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا، ......
Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Adiy bin Tsaabit, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat ‘Iedul-Fithri dua raka’at, dan beliau tidak shalat sebelum maupun sesudahnya...... [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 964].

Waktu Membayar Zakat Fithri (Zakat Fitrah)

8 komentar

Zakat fithri wajib ditunaikan sebelum pelaksanaan shalat ‘Iedul-Fithri.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menunaikan zakat fithri sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalat ‘Ied [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1509, Muslim no. 986, Abu Daawud no. 1610, dan yang lainnya].
Barangsiapa yang menunaikan setelah pelaksanaan shalat, maka ia terhitung shadaqah biasa.

Nuzuulul-Qur’an Tanggal 17 Ramadlaan

7 komentar

Sudah sangat mentradisi di masyarakat kita setiap tanggal 17 Ramadlan, diperingati hari – yang katanya – diturunkannya Al-Qur’an (baca : hari nuzuulul-Qur’aan). Benarkah pada tanggal tersebut Allah menurunkan Al-Qur’an ?.
Allah ta’ala telah menjelaskan pada kita bahwa Al-Qur’an turun di bulan Ramadlaan, sebagaimana firman-Nya :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadlaan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)” [QS. Al-Baqarah : 185].
Lebih spesifik lagi, Allah ta’ala menjelaskan detail waktunya :

Menyegerakan Berbuka

4 komentar

Menyegerakan berbuka adalah sunnah yang ditinggalkan sebagian orang. Entah dengan alasan sibuk, belum sempat, atau sengaja karena masih kuat berpuasa. Perbuatan ini jelas menyelisihi sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ ". قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ صَائِمًا أَمَرَ رَجُلا، فَأَوْفَى عَلَى شَيْءٍ، فَإِذَا قَالَ: غَابَتِ الشَّمْسُ، أَفْطَرَ
Dari Sahl bin Sa’d, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Umatku senantiasa berada di atas sunnah selama mereka tidak menunggu munculnya bintang-bintang untuk berbuka puasa”. Sahl berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berpuasa, beliau memerintahkan seseorang menyediakan sesuatu. Apabila orang tersebut berkata :’Matahari telah tenggelam’, maka beliau pun berbuka” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 3/275 no. 2061, Ibnu Hibbaan 8/277-278 no. 3510, dan Al-Haakim 1/434; shahih].

Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

37 komentar

Tanya : Apakah shalat tarawih 4 raka’at 4 raka’at dengan satu salam (lalu witir 3 raka’at) termasuk bid’ah ?
Jawab : Tidak, bahkan kaifiyyah shalat seperti itu shahih dicontohkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa :
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2013 dan Muslim no. 738].