Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

0 komentar


Para ulama ahli ushul fiqh berbeda pandangan tentang bagaimana penyikapan seorang awam terhadap perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan bahwa awam mengambil pendapat ulama yang ia pandang paling berilmu dan paling wara'. Ini adalah satu riwayat yang ternukil dari Ahmad bin Hanbal, Ibnus-Suraij dari kalangan Syaafi'iyyah, dan mayoritas ulama ushul rahimahumullah. Ada yang mengatakan bahwa orang awam bebas memilih ulama siapa saja yang ia pandang pendapatnya sesuai dengan kebenaran; dan ini adalah pendapat sebagian Syaafi'iyyah dan Hanaabilah. Ada yang mengatakan hendaknya mengambil pendapat yang paling berat; ini adalah pendapat yang dihikayatkan dari Dhaahiriyyah. Sebaliknya, ada yang berpendapat agar mengambil pendapat paling mudah dan ringan. Dan ada pula yang berpendapat orang awam bertanya kepada setiap mujtahid/ulama dalil yang mereka pakai, lalu ia berusaha/berijtihad darinya dan beramal dengan pendapat yang rajih menurut penilaiannya. Ini adalah pendapat Ibnul-Qayyim dalam I'laamul-Muwaqqi'iin.

Jilbab Wanita Muslimah Nusantara Era Doeloe

0 komentar


Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Ahzaab : 59].
Dalam ayat ini terdapat perintah kepada semua wanita yang beriman untuk mengenakan dan mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Terkait ayat tersebut, Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa menceritakan:

Pembatal Islam : Membenci Sesuatu yang Dibawa Oleh Nabi ﷺ

0 komentar


Membenci sesuatu yang dibawa Nabi  meskipun orang tersebut melakukannya, maka ia kafir berdasarkan ijmaa’. Dalilnya adalah firman Allah :
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka” [QS. Muhammad : 9].

Shalat dalam Kondisi Tidak Memakai Baju (Telanjang)

0 komentar


Seandainya seseorang mengalami musibah terdampar di daratan sunyi karena pecah kapal, atau seluruh hartanya habis dirampok begal, sehingga dirinya tidak mempunyai baju untuk menutupi badannya; maka ia tetap harus melaksanakan shalat (wajib) dalam kondisi tersebut (telanjang) tanpa perlu mengulanginya. Sah shalatnya sebagaimana dinukil An-Nawawiy (Al-Majmuu’, 3/183) dan Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah (Majmuu' Al-Fataawaa, 21/224) rahimahumallah adanya ijmaa' dalam permasalahan tersebut.
Dalam hal ini, ada beberapa kondisi.

Ikut Serta Merayakan dan Mengucapkan Selamat Hari Raya Orang Kafir

1 komentar


Selalu saja berulang setiap tahun pembahasan tentang : bolehkah ikut serta merayakan dan mengucapkan hari raya orang kafir ? Seakan-akan telah menjadi agenda tahunan kaum muslimin membicarakannya. Dan memang hanya kaum muslimin yang menaruh perhatian terhadap kemurnian ‘aqidah mereka. Meskipun orang-orang kafir dan para penjilat dari kalangan munafiqin sangat getol menjajakan kolak basi mereka yang meracuni umat Islam, alhamdulillah, senantiasa ada orang-orang yang berdiri menjelaskan dan membela agama-Nya, sepanjang masa, hingga kelak menjelang kiamat tiba.