Kekeliruan Pendalilan Peniadaan ‘Udzur Kejahilan : Pelaku Perbuatan Syirik Harus Disebut Musyrik karena Penyebutan Musyrik Telah Eksis Sebelum Sampainya Hujjah


Ini adalah salah satu pokok pendalilan mereka berdasarkan firman Allah ta’ala:
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah” [QS. At-Taubah : 6].
Sisi pendalilan : Allah ta’ala telah menyebut mereka dengan musyrik sebelum adanya penegakan hujjah[1]. Oleh karena itu, setiap pelaku kesyirikan harus disebut musyrik. Dikarenakan setiap musyrik itu kafir, maka tidak ada ‘udzur kejahilan dalam perkara ini.
Pendalilan mereka dalam hal ini sangat lemah dan mengandung beberapa paradoks/kontradiksi sebagai berikut:
1.     Ayat tersebut berkaitan dengan orang kafir asli, sedangkan pembicaraan dalam ‘udzur kejahilan berkaitan dengan orang Islam yang telah tetap keislamannya sebelumnya yang kemudian melakukan kekufuran dan kesyirikan tanpa mereka ketahui bahwa itu merupakan kekufuran/kesyirikan. Qiyas ini adalah qiyas ma’al-faariq. Orang kafir asli tetaplah kafir atau musyrik meskipun mereka jahil.
Allah ta’ala berfirman:
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ * رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً * فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ
Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur'an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus” [QS. Al-Bayyinah : 1-3].
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Demi Dzat, yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku lantas mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali pasti ia termasuk penduduk neraka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 153].
Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menamakan kafir, musyrik, Yahudi, dan Nasrani sebelum datang kepada mereka bayyinah berupa dakwah Islam yang dibawa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Jika mereka memutlakkan orang yang berbuat syirik harus dinamakan musyrik, bukankah dengan alasan yang sama bahwa setiap orang (muslim) yang berbuat kekafiran harus dinamakan kafir karena Allah juga telah menyebut kafir sebelum datangnya hujjah kepada mereka ?.
Tentu tidak demikian, karena ini menyalahi prinsip-prinsip Ahlus-Sunnah yang mereka sepakati sendiri, yaitu : tidak setiap perbuatan kekafiran mengkonsekuensikan hukum kafir pada pelakunya selama tidak terpenuhi syarat-syaratnya dan ada penghalang-penghalangnya.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:
ولا يلزم إذا كان القول كفرا أن يكفر كل من قاله مع الجهل والتأويل فإن ثبوت الكفر في حق الشخص المعين كثبوت الوعيد في الآخرة في حقه وذلك له شروط وموانع
“Tidaklah setiap perkataan kufur itu mengharuskan untuk mengkafirkan setiap orang yang mengucapkannya jika ucapan tersebut diucapkan karena kejahilan/kebodohan atau penakwilan. Sebab, menetapkan kekafiran pada individu tertentu seperti menetapkan baginya ancaman di akhirat. Dan hal ini memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang" [Minhajus-Sunnah, 5/239-240].
Semua orang kafir asli tetap dihukumi kafir di dunia dan boleh dipanggil dengan nama apapun yang menjadi identitas mereka (musyrik, Yahudi, Nasrani, dll.) selama mereka belum mengikrarkan dua kalimat syahadat masuk agama Islam, meskipun mereka berbuat kebaikan.
Ketika mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia menjadi muslim. Setelah mereka menjadi muslim, keislaman mereka tetap hingga ada sesuatu yang membatalkan keislamannya tersebut.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وليس لأحد أن يكفر أحدًا من المسلمين ـ وإن أخطأ وغلط ـ حتي تقام عليه الحجة، وتبين له المحَجَّة، ومن ثبت إسلامه بيقين لم يزل ذلك عنه بالشك، بل لا يزول إلا بعد إقامة الحجة، وإزالة الشبهة‏.‏
“Dan tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan orang lain dari kaum muslimin – walau ia bersalah dan keliru – sampai ditegakkan padanya hujjah dan dijelaskan kepadanya bukti dan alasan. Barangsiapa yang telah tetap ke-Islam-an padanya dengan yakin, maka tidaklah hilang darinya hanya karena sebuah keraguan. Bahkan tidak hilang kecuali setelah ditegakkan kepadanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 12/466].
Jadi, jelas sekali bedanya.
Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh disebut dan dihukumi sebagai Nashrani hanya karena melakukan sebagian perbuatan kekufuran yang menjadi ciri khas orang Nashrani karena kebodohan mereka seperti misal mengucapkan : ‘Selamat Hari Natal, Merry Christmas’. Begitu juga, seorang muslim tidak boleh disebut dan dihukumi musyrik hanya karena ia melakukan sebagian perbuatan kesyirikan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah berkata:
فدعاء القبر شرك، لكن لا يمكن أن نقول لشخص معين فعله: هذا مشرك، حتى نعرف قيام الحجة عليه، أو نقول: هذا مشرك باعتبار ظاهر حاله.
“Berdoa kepada kubur adalah kesyirikan, akan tetapi tidak mungkin kita katakan kepada individu pelakunya : 'Orang ini musyrik', hingga kita mengetahui telah tegak padanya hujjah; atau (tidak mungkin) kita mengatakan : 'Orang ini musyrik'; berdasarkan dhahir keadaannya (semata)[2]" [Al-Qaulul-Mufiid ‘alaa Kitaabit-Tauhiid, 1/46-47].
Intinya dalam hal ini, orang kafir asli tidak diberikan ‘udzur kejahilan sama sekali dalam penyebutan dan penghukuman mereka di dunia sebagai kafir, musyrik, Yahudi, Nasrani, dan yang semisalnya; sedangkan kaum muslimin diberikan ruang ‘udzur.
Allah ta’ala berfirman:
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah” [QS. Al-Baqarah : 286].
Dalam Shahiih Muslim, doa tersebut telah Allah kabulkan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا، بَلْ قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، قَالُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ ذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي إِثْرِهَا آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ، نَسَخَهَا اللَّهُ تَعَالَى، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ " لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، قَالَ: نَعَمْ،
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) : ‘Kami mendengar dan kami mendurhakainya?’. Tetapi ucapkan : ‘Kami dengar dan kami taat, ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’. Mereka berkata : ‘Kami dengar dan kami taat, ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’. Ketika kaum tersebut membacanya, maka lisan-lisan mereka tunduk dengannya, lalu Allah menurunkan sesudahnya: 'Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’ (QS. Al-Baqarah : 285). Ketika mereka melakukan hal tersebut, maka Allah menghapusnya, lalu menurunkan: 'Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah (QS. Al-Baqarah : 286)’. Allah menjawab : ‘Ya…..” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 125].
2.     Pendalilan mereka dengan ayat di atas paradoks dengan pendalilan mereka yang lain yang mengatakan penegakan hujjah telah selesai dengan diturunkannya Al-Qur’an[3] sehingga penghukuman dan pelabelan dengan musyrik sah dengan keumuman ini.
Dapat Anda lihat, ada ambiguitas pendalilan antara satu dengan yang lainnya. Jika memang label musyrik bisa disematkan begitu saja sebelum disampaikannya hujjah berdasarkan ayat di atas, seharusnya mereka tidak mengemukakan dalil bahwa hujjah telah ditegakkan dengan diturunkkannya Al-Qur’an.
Ini akibat mencampurkan pendalilan antara nash yang turun pada kafir asli dan nash yang turun pada orang selain mereka.
3.     Pendalilan mereka dengan ayat di atas paradoks ijmaa’ yang menyatakan orang yang baru masuk Islam di Daarul-Harb atau hidup di tempat terpencil jauh dari ilmu dan ulama diberikan ‘udzur kejahilan jika mereka melakukan sebagian perbuatan kekufuran dan kesyirikan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
ولهذا اتفق الأئمة على أن من نشأ ببادية بعيدة عن أهل العلم والإيمان، وكان حديث العهد بالإسلام، فأنكر شيئًا من هذه الأحكام الظاهرة المتواترة فإنه لا يحكم بكفره حتى يعرف ما جاء به الرسول
“Oleh karena itu para imam telah sepakat bahwa barangsiapa yang hidup di tempat terpencil yang jauh dari ahli ilmu dan iman, atau dia baru masuk Islam, kemudian ia mengingkari sesuatu dari hukum-hukum yang telah jelas mutawatir; maka ia tidak dihukumi kafir sampai ia mengetahui (dan memahami) apa-apa yang dibawa oleh Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam (berupa ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 11/407].
Jika memang penghukuman dan pelabelan ‘musyrik’ bisa disematkan begitu saja tanpa berhubungan dengan penyampaian hujjah, maka tidak ada gunanya ijmaa’ ini.
Ijmaa’ ini adalah salah satu bentuk toleransi dalam Islam bagi mereka yang memang kondisinya belum memungkinkan untuk mengetahui syari’at Islam secara memadai dan komprehensif. Dengan kata lain, Islam memberikan ‘udzur karena hujjah belum tegak kepada mereka.
Catatan : Ijmaa’ ini pun diakui oleh ‘mereka’.
Walhasil,.... pendalilan ini sangat lemah dan tidak dapat diterima – bahkan oleh mereka sendiri jika mereka menyadari.
Wallaahu a’lam.
Baca juga artikel sejenis :
[abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri – 02012014 – 09:44].




[1]      Yaitu sebelum mereka mendengarkan Kalaamullah.
[3]      Meski pendalilan ini perlu divalidasi dan detailkan. Silakan baca : 

Comments

arjun PrayogaAji mengatakan...

Assalamualaykum ustadz,

dalam hal ini bagaimana dengan dosanya, apakah pelaku tetap berdosa sebagaimana dosa syirik atau tidak ?
kemudian apakah ada kewajiban mengucapkan syahadat lagi kalau mau bertobat ?

Anonim mengatakan...

Ke-jahilan ada yang diberi udzur dan ada pula yang tidak diberi udzur.
Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata:

“هذه المسألة تحتاج إلى تفصيل، فنقول الجهل نوعان؛ جهل يُعذَر فيه الإنسان، وجهل لا يعذر فيه، فما كان ناشئاً عن تفريط، وإهمال مع قيام المقتضي للتعلم، فإنه لا يعذر فيه، سواء في الكفر أو المعاصي، وما كان ناشئاً عن خلاف ذلك، أي أنه لم يُهمِل ولم يفرّط، ولم يقم المقتضي للتعلم بأن كان لم يطرأ على باله أن هذا الشيء حرام، فإنه يعذر فيه”

“Masalah ini membutuhkan kepada perincian, maka kami katakan: Kejahilan itu ada dua macam; kejahilan yang mana orang diudzur di dalamnya dan kejahilan yang tidak diudzur di dalamnya. Apa yang muncul dari keteledorandan ketidakpedulian padahal kesempatan untuk belajar tersedia, maka sesungguhnya dia tidak diudzur di dalamnya, baik di dalam kekafiran ataupun maksiat, sedangkan hal yang muncul dari selain itu yaitu dia itu tidak teledor dan tidak leha-leha dan kesempatan untuk belajar juga tidak tersedia umpamanya sama sekali tidak terlintas di dalam benaknya bahwa suatu hal ini adalah haram, maka sesungguhnya dia itu diudzur di dalamnya”
( Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid )

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam.

Apabila seorang muslim yang terjatuh dalam kesyirikan tersebut mempunyai 'udzur dan kemudian 'udzurnya diterima/diperhitungkan oleh syari'at, maka bisa jadi ia tidak berdosa karenanya jika ia memang termasuk orang yang menginginkan kebenaran kemudian keliru. Namun jika ada faktor kekurangan dalam upaya mencari kebenaran, maka ia berdosa sesuai kadar kekurangannya tersebut.

Berbeda halnya dengan orang yang enggan sama sekali mencari ilmu padahal ia mampu dan sumber ilmu ada di sekitar dirinya yang sangat mungkin ia peroleh, maka ia tidak diberikan 'udzur.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

المؤمن بالله ورسوله باطنا وظاهرا الذي قصد اتباع الحق وما جاء به الرسول إذا أخطأ ولم يعرف الحق كان أولى أن يعذره الله في الآخرة من المتعمد العالم بالذنب فإن هذا عاص مستحق للعذاب بلا ريب وأما ذلك فليس متعمدا للذنب بل هو مخطىء والله قد تجاوز لهذه الأمة عن الخطأ والنسيان

"Seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara dhahir dan batin serta berniat untuk mengikuti kebenaran dan apa-apa yang diturunkan kepada Rasul; maka apabila ia bersalah dan belum mengerti kebenaran, maka dia lebih utama untuk Allah berikan ‘udzur di akhirat daripada orang yang telah mengetahui (kebenaran) namun sengaja melakukan dosa. Orang kedua ini adalah orang yang telah bermaksiat yang berhak diadzab tanpa ada keraguan. Adapun orang pertama, maka ia bukan orang yang sengaja melakukan dosa, namun ia hanyalah seorang yang tersalah. Dan Allah telah memaafkan umat ini dari kesalahan dan lupa yang mereka lakukan” [Minhajus-Sunnah, 5/250].

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Beliau rahimahullah juga berkata:

وقد اتفق أهل السنة والجماعة على أن علماء المسلمين لا يجوز تكفيرهم بمجرد الخطأ المحض، بل كل أحد يؤخذ من قوله ويترك إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وليس كل من يترك بعض كلامه لخطأ أخطأه يكفر ولا يفسق، بل ولا يأثم، فإن الله تعالي قال في دعاء المؤمنين ‏رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا وفي الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم‏:‏‏(‏أن الله تعالي قال‏:‏ قد فعلت‏)‏‏.

“Dan Ahlus-Sunnah telah bersepakat bahwa ulama kaum muslimin tidak boleh dikafirkan atas sebab kesalahan murni. Bahkan setiap orang boleh diambil ataupun ditinggalkan perkataannya kecuali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidaklah setiap orang yang ditinggalkan sebagian perkataannya karena kesalahannya dapat dikafirkan atau difasiqkan. Bahkan, (mungkin saja) ia tidak berdosa; karena Allah ta’ala telah berfirman tentang doanya orang mukminin : “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau siksa kami jika kami lupa atau salah” (QS. Al-Baqarah : 286). Dan dari kitab Ash-Shahiih, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Bahwasannya Allah ta’ala telah berfirman (tentang doa tersebut) : Telah Aku lakukan (yaitu mengampunimu)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 35/100].

إن استفرغ وسعه في طلب الحق فإن الله يغفر له خطأه وإن حصل منه نوع تقصير فهو ذنب لا يجب ان يبلغ الكفر وإن كان يطلق القول بأن هذا الكلام كفر كما أطلق السلف الكفر على من قال ببعض مقالات الجهمية مثل القول بخلق القرآن أو إنكار الرؤية أو نحو ذلك مما هو دون إنكار علو الله على الخلق وأنه فوق العرش فإن تكفير صاحب هذه المقالة كان عندهم من أظهر الأمور فإن التكفير المطلق مثل الوعيد المطلق لا يستلزم تكفير الشخص المعين حتى تقوم عليه الحجة التي تكفر تاركها

“Apabila ia telah mengerahkan segala daya upayanya dalam mencari kebenaran, niscaya Allah akan mengampuni kesalahannya. Dan jika terdapat kekurangan (dalam hal kesungguhannya), maka ini merupakan suatu dosa yang tidak mengharuskan sampai pada tingkat kekafiran, meskipun perkataan tersebut secara mutlak adalah perkataan kufur. Sebagaimana kaum salaf memutlakkan kekafiran kepada siapa saja yang berkata dengan sebagian perkataan Jahmiyyah; seperti perkataan Khalqul-Qur’aan (Al-Qur’an adalah makhluk), atau mengingkari ru’yah (melihat kepada Allah kelak di akhirat), atau yang lainnya selain dari pengingkaran terhadap ketinggian Allah di atas para makhluk-Nya, dan bahwasannya Ia di atas ‘Arsy - karena sesungguhnya pengkafiran terhadap orang yang mengatakan perkataan-perkataan ini menurut mereka (salaf) termasuk dari hal-hal yang paling jelas. Dan sesungguhnya pengkafiran secara muthlak seperti halnya ancaman secara mutlak yang tidak melazimkan pengkafiran secara mu’ayyan (individu), hingga tegak padanya hujjah yang mana bisa mengkafirkan orang yang meninggalkannya” [Al-Istiqaamah, 1/164].

Jika 'udzurnya tidak diterima, maka ia kafir sehingga statusnya murtad. Ia wajib mengucapkan syahadat ulang untuk kembali ke wilayah Islam.

wallaahu a'lam.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Anonim 2 Januari 2015 20.37,....sepakat.... dan itu sudah dijelaskan di beberapa judul artikel di blog ini. Adapun fatwa syaikh Ibnul-'Utsaimiin yang senada dengan antum bawakan sudah dituliskan di artikel :

Madzhab Kibaar Ulama dalam ‘Udzur Kejahilan pada Permasalahan Kufur dan Syirik

Tapi dalam tathbiq kita mesti hati-hati dalam menghukumi kelemahan atau kekurangan dalam menuntut ilmu. Ini juga tidak dalam satu thabaqah. Ekstrimnya dari skala 0 - 10, ada yang rajin dan giat menuntut ilmu namun kemudian ia salah, maka dia diberikan 'udzur bahkan bisa jadi ia tidak berdoa karenanya sebagaimana diutarakan Ibnu Taimiyyah rahimahulah di atas. Atau ekstrim kebalikannya adalah ia masa bodoh, sama sekali tidak mau belajar, dan mengabaikannya meski tahu ada tempat atau sumber yang dapat ia pelajari/ia tanyai. Ini tidak diberikan 'udzur. Nah,.... ada banyak kondisi yang berada di antara keduanya yang ini merupakan ranah ijtihad ahli ilmu. Ada yang orang mempunyai kelemahan namun ia lebih condong pada kondisi pertama, sehingga kelemahan/kekurangannya berbanding lurus dengan dosanya meski tidak sampai derajat mengkafirkan,..... tapi ada juga kondisi yang kelemahan/kekurangannya lebih condong pada kondisi kedua, yang dapat menyebabkan ia berdosa dan 'udzurnya tidak diterima sehingga dapat dikafirkan.

Wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Ustadz, orang yang meninggalkan menuntut ilmu sama sekali dan masa bodoh tersebut, apabila ia melakukan perbuatan syirik yang ia tidak ketahui bahwa itu kesyirikan, apakah ia hanya mendapatkan dosa tidak mau menuntut ilmu tetapi tidak dikafirkan karna kesyirikannya sebab ia jahil ataukah ia juga mendapatkan dosa kesyirikan tersebut sehingga ia menjadi kafir murtad tanpa ia sadari?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Kalau penggambarannya yang 'ekstrim' seperti itu : masa bodoh sama sekali, tahu ada sumber ilmu yang di sekitarnya yang dapat ia tanyai namun malah ia abaikan,.... maka kebodohan yang timbul dari hal semacam ini menurut para ulama, tidak diberikan 'udzur dan pelakunya dapat dikafirkan.

KabarMakkah.Com mengatakan...

alhamdulillah