Islam dan Ahlul-Bait Menolak Kecintaan ‘Berhala’ ala Syi’ah

3 komentar

Al-Imaam Ibnu Sa’d rahimahullah berkata :
أخبرنا عَارِمُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ حُسَيْنٍ، وَكَانَ أَفْضَلَ هَاشِمِيٍّ أَدْرَكْتُهُ، يَقُولُ: " يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا "
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aarim bin Al-Fadhl, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Yahyaa bin Sa’iid, ia berkata : Aku mendengar ‘Aliy bin Al-Husain – dan ia adalah seutama-utama keturunan Bani Haasyim yang aku temui – berkata : “Wahai sekalian manusia,[1] cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami” [Ath-Thabaqaat, 5/110].

Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dan Wasiatnya untuk Dibacakan Surat Al-Baqarah pada Waktu Penguburannya

7 komentar

Tersebut dalam kitab Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahawiyyah oleh Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy rahimahullah hal. 675 (tahqiq, takhrij & ta’liq : ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy & Syu’aib Al-Arna’uth; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 9/1417 H), bahwa Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa berwasiat agar dibacakan surat Al-Baqarah setelah kematiannya. Berikut teks yang ada dalam kitab tersebut :

Ikhtilaaf dalam Al-Jarh wat-Ta’diil Seperti Ikhtilaaf dalam Ilmu-Ilmu yang Lain

10 komentar

Apabila ikhtilaaf (perselisihan pendapat) terjadi dalam banyak hukum fiqhiyyah dimana hal itu didasarkan pada firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ikhtilaf itu lebih patut terjadi dalam permasalahan yang diperbincangkan padanya para ulama al-jarh wat-ta’diil sesuai dengan ilmu dan ijtihad mereka. Ini adalah permasalahan yang tidak dipungkiri, karena banyak terjadi dan diakui keberadaannya oleh para ulama.

Menikah Tanpa Wali

11 komentar

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum seorang wanita yang menikahkan dirinya sendiri atau seorang wanita yang dinikahkan wanita lain, tanpa ijin dari walinya; apakah pernikahannya itu sah atau tidak. Minimal, ada dua pendapat masyhur yang beredar dalam permasalahan ini :

Naungan Allah

9 komentar

Berangkat dari pertanyaan yang ada di buku tamu, saya akan sedikit membahas apa yang dimaksud dengan naungan Allah yang kelak akan diberikan kepada tujuh golongan sebagaimana yang terdapat dalam hadits :

Asy-Syaikh Al-Ghudayaan : Asy-Syaikh Rabii' Seorang Murji' ?

23 komentar

Ahlul-Bait Tidak Mengakui Wasiat Estafet Imamah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – ‘Aliy – Al-Hasan – Al-Husain – ‘Aliy bin Al-Husain – Muhammad bin ‘Aliy

13 komentar

Ibnu Sa’d rahimahullah berkata :
أخبرنا شبابة بن سوار قال أخبرنا فضيل بن مرزوق قال سألت عمر بن علي وحسين بن علي عمي جعفر قلت هل فيكم أهل البيت إنسان مفترضة طاعته تعرفون له ذلك ومن لم يعرف له ذلك فمات مات ميتة جاهلية فقالا لا والله ما هذا فينا من قال هذا فينا فهو كذاب قال فقلت لعمر بن علي رحمك الله إن هذه منزلة تزعمون أنها كانت لعلي إن النبي صلى الله عليه و سلم أوصى إليه ثم كانت للحسن إن عليا أوصى إليه ثم كانت للحسين إن الحسن أوصى إليه ثم كانت لعلي بن الحسين إن الحسين أوصى إليه ثم كانت لمحمد بن علي إن عليا أوصى إليه فقال والله لمات أبي فما أوصى بحرفين قاتلهم الله والله إن هؤلاء إلا متأكلون بنا هذا خنيس الخرؤ ما خنيس الخرؤ قال قلت المعلى بن خنيس قال نعم المعلى بن خنيس والله لفكرت على فراشي طويلا أتعجب من قوم لبس الله عقولهم حين أضلهم المعلى بن خنيس

Shahih Hadits : “Ayahku dan Ayahmu di Neraka”

3 komentar

Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :
وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: فِي النَّارِ، فَلَمَّا قَفَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: " إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ "
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit, dari Anas : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 203].

Abu Bakr Tidak Dijamin Surga, Apalagi Disebut Dia yang Paling Utama….

4 komentar

Begitulah igauan sebagian orang Syi’ah, yang katanya melandaskan perkataannya itu dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Ahlus-Sunnah. Katanya, ini haditsnya :
وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ: " هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ "، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ: أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بَلَى، وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي " فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ بَكَى، ثُمَّ قَالَ: أَئِنَّا لَكَائِنُونَ بَعْدَكَ
Dan telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Abu Nadlr Maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, telah sampai kepadanya bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para syuhadaa’ Uhud : “Aku bersaksi atas mereka”. Lalu Abu Bakr Ash-Shiddiiq berkata : “Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tentu. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang kalian lakukan setelahku”. Maka, Abu Bakr pun menangis dan menangis, lalu berkata : “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’, 3/40 no. 1083 – tahqiq : Al-Hilaaliy].

Ahlul-Fatrah

7 komentar

Ahlul-Fatrah adalah istilah yang dipergunakan untuk orang-orang yang meninggal sebelum datang kepada mereka Rasul yang memberi kabar gembira dan peringatan. Era ahlul-fatrah ini telah habis setelah diutusnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata tentang tafsir ayat
وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا
“dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya” (QS. Aali ‘Imraan : 103) :
برسالة محمد صلى الله عليه وسلم لم يبق عذر لأحد، فكلّ من لم يؤمن به فليس بينه وبين النار إلّا أن يموت، كما بيّنه تعالى بقوله : (وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ) [هود : ١٧]
“Dengan risalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tersisa udzur bagi seorang pun. Setiap orang yang tidak beriman dengannya, maka antara dia dan neraka adalah kematian[1], sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dengan firman-Nya : ‘Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur'an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya’ (QS. Huud : 17)”.[2] 

Perbedaan Pendapat di Kalangan Salaf : Apakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Melihat Allah Ketika Mi’raj (3)

4 komentar

Pendapat di Kalangan Ulama Setelahnya
Sebagaimana pendahulu mereka dari kalangan shahabat dan taabi’iin, para ulama setelahnya juga berbeda pendapat dalam ini. Perbedaan pendapat di kalangan mereka terangkum dalam lima pendapat, yaitu :

Bolehkah Seorang Wanita Mengusap Kerudungnya Ketika Berwudlu?

2 komentar

Pembahasan ini merupakan cabang pembahasan dari hukum boleh tidaknya mengusap ‘imaamah. Adapun masalah kerudung, para ulama berbeda pendapat :
1.    Tidak memperbolehkannya. Ini pendapat jumhur ulama[1], dan salah satu riwayat dari Ahmad[2].
Para ulama yang memegang pendapat ini beralasan tidak ada satu pun dalil yang menyatakan kebolehannya. Beda halnya dengan ‘imaamah yang memang disebutkan kebolehannya dalam dalil.

Fitnah Masyriq – Kemunculan Tanduk Setan

11 komentar

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Tanduk Setan !! dan Najd Bukan ‘Iraq ? (beserta komentar yang ada di dalamnya). Dalam dua artikel tersebut telah disebutkan bahwa makna Najd dalam hadits fitnah (kemunculan tanduk setan) adalah negeri ‘Iraaq. Hadits-haditsnya pun sangat jelas. Satu lafadh menunjukkan Najd, dan di lafadh lain menunjukkan ‘Iraaq. Akan tetapi segolongan orang menyanggah bahwa makna Najd dalam hadits Tanduk Setan bukanlah ‘Iraaq. Menurut sangkaan mereka, arah timur/masyriq dalam hadits tidak bisa menunjukkan negeri ‘Iraaq, akan tetapi Hijaaz. Itulah yang sesuai dengan arah mata angin. 

Fiqh Syi’ah (4) : Boleh Meludah di Al-Masjidil-Haraam – Contoh dari Imam Ma’shum

1 komentar

Allah ta’ala berfirman :
وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud” [QS. Al-Hajj : 26].
Masjid adalah tempat yang dimuliakan bagi kaum muslimin. Ada beberapa hal yang termasuk larangan dilakukan di masjid sebagai satu adab penghormatan kepadanya, misalnya : larangan melakukan jual beli, mencari barang yang hilang, buang hajat, termasuk meludah.

Ahlul-Bait Menyepakati Keputusan Abu Bakr Ash-Shiddiiq radliyallaahu ‘anhu dalam Masalah Tanah Fadak

8 komentar

Sebelum membaca artikel ini, silakan membaca terlebih dahulu artikel : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/06/rasulullah-shallallaahu-alaihi-wa.html. Setelah selesai, silakan membaca artikel suplemen berikut ini :
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ: نَا عَمِّي، قَالَ: نَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ: نَا ابْنُ دَاوُدَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: قَالَ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، " أَمَّا أَنَا فَلَوْ كُنْتُ مَكَانَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَحَكَمْتُ بِمِثْلِ مَا حَكَمَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي فَدَكٍ "