Penjelasan Asy-Syaikh 'Abdul-Qadiir Al-Jaelaniy rahimahullah tentang Ciri-Ciri 'Aqidah Jahmiyyah


Prolog : Dalam artikel ini, insya Allah akan dibahas secara ringkas ‘aqidah Jahmiyyah sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy rahimahullah. Sebagaimana diketahui bersama, beliau ini seorang ulama yang banyak diikuti dan diagung-agungkan oleh sebagian besar masyarakat Nusantara. Sayangnya, banyak di antara mereka yang menukil perkataan-perkataan dusta yang kemudian dinisbatkan kepada beliau, padahal beliau berlepas diri dari apa yang mereka katakan. Di sini akan kita lihat, bagaimana ciri-ciri kelompok sesat Jahmiyyah sebagaimana dikatakan oleh beliau (yang justru ada pada sebagian mereka yang mengagung-agungkan beliau).
Saya berikan penjelasan seperlunya pada catatan kaki dengan harapan akan menambah faedah bagi ikhwan Pembaca semua. Jika ada kekeliruan, mohon kiranya diberikan kritikan konstruktif yang insya Allah - jika memang itu benar – akan segera saya tindaklanjuti (untuk perbaikannya).
Asy-Syaikh ‘Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy rahimahullah (wafat 561 H) berkata dalam kitab Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq (1/128; Daar Ihyaa At-Turaats, Cet. 1/1416) :



“Pasal : Adapun Jahmiyyah, maka ia dinisbatkan pada Jahm bin Shafwaan dimana ia berkata :
1. Iman adalah hanyalah ma’rifah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang di sisinya[1];
2. Al-Qur’an adalah makhluq[2];
3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung)[3];
4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (= menafikkan sifat kalaam – Abu Al-Jauzaa’)[4];
5. Allah tidak bisa dilihat[5];
6. Allah tidak diketahui mempunyai tempat tertentu[6];
7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy[7];
8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat)[8];
9. Mengingkari adzab qubur[9];
10. Surga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana (tidak kekal)[10];
11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya[11] dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat[12];
12. Penduduk surga tidak akan (bisa) melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihat-Nya di surga[13];
13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb tanpa pengikraran dengan lisan[14]; dan
14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa[15] [selesai].
Catatan kaki/Penjelasan :


[1] Ini adalah paham khas Jahmiyyah dalam masalah iman yang kemudian dipopulerkan oleh ghullatul-Murji’ah. Mereka tidak memasukkan perkataan dan perbuatan dalam cakupan iman. Oleh karena itu, iman tidak akan hilang (dan bahkan tetap dalam kesempurnannya) walau dikotori oleh kekufuran dalam perkataan dan amal perbuatan. Mereka tidak mengenal bertambah dan/atau berkurangnya iman.
Ahlus-Sunnah telah berijma’ bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan; bisa naik dengan ketaatan, dan turun (bahkan hilang sama sekali) dengan kemaksiatan.
عن عبد الرزاق، قال : سمعتُ معمراً وسفيان الثوري ومالك بن أنس وابن چريج وسفيان بن عيينة يقولون : الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص.
Dari ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Aku mendengar Ma’mar, Sufyaan Ats-Tsauriy, Maalik bin Anas, Ibnu Juraij, dan Sufyaan bin ‘Uyainah berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah, 1/272, tahqiq : Al-Waliid bin Muhammad An-Nashr; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1417 – dengan sanad shahih].
عن الربيع بن سليمان قال : سمعتُ الشافعي رضي الله عنه يقول : الإيمان قول وعمل، ويزيد وينقص.
Dari Ar-Rabii’ bin Sulaimaan ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Manaaqibusy-Syaafi’iy, 1/385, tahqiq As-Sayyid Ahmad Shaqr; Maktabah Daar At-Turaats].
عن أبي داود، قال : سمعتُ أحمد بن حنبل يقول : الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص.
Dari Abu Daawud, ia berkata : Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah, 1/272; shahih].
Al-Imaam Al-Baghawiy rahimahullah berkata :
اتفقت الصحابة والتابعين، فمن بعدهم من علماء السنة على أن الأعمال من الإيمان، لقوله سبحانه وتعالى : (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ.....) إلى قوله (وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ) [الأنفال : ٢،٣]، فجعل الأعمال كلها إيماناً، وكما نطقَ به حديث أبي هريرة.
وقالوا : إن الإيمان قولٌ وعملٌ وعقيدةٌ، يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية.......
“Para shahabat, tabi’in, dan para ulama Ahlus-Sunnah telah bersepakat bahwa perbuatan termasuk bagian dari iman, berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’ala : ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka’ (QS. Al-Anfaal : 2-3). Allah telah menjadikan seluruh perbuatan sebagai iman, sebagaimana juga dijelaskan oleh hadits Abu Hurairah.
Dan mereka pun berkata : ‘Sesungguhnya iman itu adalah perkataan, perbuatan, dan ‘aqidah. Bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan….” [Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawiy, 1/38-39, tahqiq & takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth & Zuhair Syaawisy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403].
Al-Imaam Muhammad bin Husain Al-Aajurriy rahimahullah berkata :
اعلموا رحمنا الله وإياكم : أن الذي عليه علماء المسلمين : أن الإيمان واجب على جميع الخلق، وهو تصديق بالقلب، وإقرار باللسان، وعمل بالجوارح.
ثم اعلموا : أنه لا تجزيء المعرفة بالقلب والتصديق، إلا أن يكون معه الإيمان باللسان نطقاًَ، ولا تجزيء معرفة بالقلب، ونطق باللسان، حتى يكون عمل بالجوارح، فإذا كملت فيه هذه الثلاث الخصال : كان مؤمناً.
دلّ على ذلك القرآن والسنة وقول علماء المسلمين.
“Ketahuilah – semoga Allah merahmati kami dan juga kalian – bahwasannya apa yang diyakini oleh ulama kaum muslimin adalah : Iman adalah wajib bagi seluruh makhluk, dan ia adalah tashdiiq dengan hati, iqraar dengan lisan, dan beramal dengan anggota badan. Apabila lengkap tiga hal ini, maka ia seorang mukmin.
Kemudian ketahuilah bahwasannya tidaklah mencukupi (dalam iman) ma’rifah dengan hati dan tashdiiq (membenarkan), kecuali disertai ucapan dengan lisan. Dan tidaklah mencukupi ma’rifah dengan hati dan ucapan dengan lisan kecuali diwujudkan dalam perbuatan anggota badan” [Asy-Syarii’ah, 1/274].
Adapun dalil yang diisyaratkan oleh para ulama di atas tentang iman terdiri dari perkataan dan perbuatan serta bisa bertambah dan berkurang; antara lain :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [QS. Al-Fat-h : 4].
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" [QS. Aali ‘Imraan : 173].
عن عبدالله بن عمر، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : "..... وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن" قالت: يا رسول الله! وما نقصان العقل والدين؟ قال "أما نقصان العقل فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل. فهذا نقصان العقل. وتمكث الليالي ما تصلي. وتفطر في رمضان. فهذا نقصان الدين".
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda : “….Dan aku tidak melihat ada yang kurang akal dan agamanya yang dapat mengalahkan seseorang yang mempunyai keteguhan akal daripada kalian (para wanita)”. Mereka (para wanita) berkata : “Wahai Rasulullah, apa kekurangan akal dan agama itu ?”. Beliau menjawab : “Adapun kekurangan akal, persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Inilah maksud kekurangan akal. Kalian berhenti selama beberapa malam (hari) tidak melakukan shalat dan berbuka di bulan Ramadlan. Inilah maksud kekurangan agama” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 79 – dan beliau memasukkannya dalam Baab : Bayaani Nuqshaanil-Iimaan bi-Naqshith-Thaa’aat…].
عن أبي هريرة؛ قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "الإيمان بضع وستون شعبة. فأفضلها قول لا إله إلا الله. وأدناها إماطة الأذى عن الطريق. والحياء شعبة من الإيمان".
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan Laa ilaha illallaah (= tidak ada tuhan yang berhak diibadahi melainkan Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu termasuk bagian dari iman” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 35, Ahmad 2/414, Abu Dawud no. 4676, Ibnu Maajah no. 147, Ibnu Hibbaan no. 166, Al-Baghawiy no. 17, dan yang lainnya].
[2] Ini adalah ‘aqidah sesat, yang kemudian lebih dipopulerkan oleh Mu’tazillah, yang merupakan derivate firqah Jahmiyyah. Ahlus-Sunnah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah Kalaamullah, bukan makhluk. Allah ta’ala berfirman :
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar ‘kalaamullah’ (firman Allah), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” [QS. At-Taubah : 6].
Kalimat ‘supaya ia sempat mendengar kalaamullah’ maksudnya adalah Al-Qur’an.
عن جابر بن عبد اللّه قال : قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم ..... فإِن قريشاً قد منعوني أن أبلغ كلام ربي".
Dari Jaabir bin ‘Abdillah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “….Sesungguhnya kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan kalam Rabb-ku” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. no. 4734, At-Tirmidziy no. 2925, Ibnu Majah no. 197, Ad-Daarimi no. 3354, Ahmad no. 15229, dan Al-Haakim no. 4220; shahih. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1947].
Maksud dari perkataan ‘kalaam Rabb-ku’ adalah Al-Qur’an.
Mari kita simak debat menarik dari Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rahimahullah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy :
أخبرنا أبو عبد الله الحافظ، قال : أخبرني أبو عبد الله محمد بن إبراهيم المؤذن، عن عبد الواحد بن محمد الأرغياني، عن أبي محمد الزبيري، قال : قال رجل للشافعي : أخبرني عن القرآن، خالق هو ؟. قال الشافعي : اللهم لا. قال : فمخلوق ؟. قال الشافعي : اللهم لا. قال : فغير مخلوق ؟. قال الشافعي : اللهم نعم. قال : فما الدليل على أنه غير مخلوق ؟. فرفع الشافعي رأسه وقال : تقرّ بإن القرآن كلام الله ؟. قال : نعم. قال الشافعي : سبقْت في هذه الكلمة؛ قال الله تعالى ذكره : (وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ) وقال : (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا). قال الشافعي : فَتُقِرُّ بأن الله كان وكان كلامه ؟ أو كان الله ولم يكن كلامه ؟. فقال الرجل : بل كان الله، وكان كلامه. قال : فتبسَّم الشافعي وقال : يا كوفيون، إنكم لتأتوني بعظيم من القول، إذا كنتم تقرون بأن الله كان قبل القَبْل، وكان كلامه، فمن أين لكم الكلام : إن الكلام الله، أو سوى الله، أو غير الله، أو دون الله ؟. قال : فسكت الرجل وخرج.
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafid, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ibraahiim Al-Muadzdzin, dari ‘Abdul-Waahid bin Muhammad Al-Arghiyaaniy, dari Abu Muhammad Az-Zubairiy, ia berkata : Berkata seorang laki-laki kepada Asy-Syaafi’iy : “Beritahukan kepadaku tentang Al-Qur’an, apakah ia Khaaliq (Allah) ?”. Asy-Syaafi’iy berkata : “Allaahumma, bukan !”. Laki-laki itu berkata : “Kalau begitu, ia makhluk ?”. Asy-Syaafi’iy berkata : “Allaahumma, bukan !”. Laki-laki itu berkata : “Bukan makhluk (maksudmu) ?”. Asy-Syaafi’iy berkata : “Allaahumma, benar !”. Laki-laki itu berkata : “Apa dalil yang melandasinya bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk ?”. Asy-Syaafi’iy pun mengangkat kepalanya lalu berkata : “Apakah engkau mengakui bahwa Al-Qur’an itu Kalaamullah ?”. Laki-laki itu berkata : “Ya”. Asy-Syaafi’iy berkata : “Engkau telah mendahului dalam kalimat ini (maksudnya, laki-laki itu telah mengetahui jawabannya – Abul-Jauzaa). Allah ta’ala telah berfirman : ‘Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar ‘kalaamullah’ (firman Allah)’ – QS. At-Taubah : 6 – dan juga : ‘Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung’ – QS. An-Nisaa’ : 164”. Asy-Syaafi’iy melanjutkan : “Apakah engkau mengakui bahwa Allah itu telah ada dan begitu juga kalam-Nya; ataukah Allah itu telah ada namun tidak demikian halnya dengan kalam-Nya ?”. Laki-laki itu berkata : “Allah itu telah ada dan begitu juga kalam-Nya”. Asy-Syaafi’iy pun tersenyum dan berkata : “Wahai orang-orang Kufah, sungguh kalian telah mendatangiku dengan satu perkataan yang besar. Jika kalian mengakui bahwasannya Allah itu telah ada sebelum segala sesuatu ada, begitu juga dengan kalaam-Nya; lantas dari mana asalnya perkataan kalian : Kalaam itu adalah Allah, atau kalaam itu selain dari Allah (= makhluk) ?”. Maka laki-laki itu terdiam dan lantas pergi” [Manaaqibusy-Syaafi’iy oleh Al-Baihaqiy, 1/407-408, tahqiq As-Sayyid Ahmad Shaqr; Maktabah Daar At-Turaats].
Maksud perkataan Asy-Syaafi’iy adalah jika saja orang tersebut mengakui bahwa Al-Qur’an itu adalah Kalaamullah yang termasuk bagian dari sifat-sifat-Nya, dan bahwa tidak ada permulaan baginya sebagaimana tidak ada permulaan bagi Allah sebagai pemilik sifat, maka tidak boleh dikatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
عن معاوية بن عمار، قال : سئل جعفر بن محمد - رضي الله عنهما - عن القرآن : أخالق أو مخلوق ؟ قال : ليس خالق ولا مخلوق، ولكنه كلام الله تعالى.
Dari Mu’aawiyyah bin ‘Ammaar, ia berkata : Ja’far bin Muhammad radliyallaahu ‘anhumaa pernah ditanya tentang Al-Qur’an : Apakah ia termasuk Khaaliq (= Allah) ataukah makhluk. Ia pun menjawab : “Bukan Khaaliq, bukan pula makhluk. Akan tetapi ia (Al-Qur’an) adalah Kalaamullah ta’ala” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/217, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 132 & 134, Abu Nu’aim 3/188, dan yang lainnya; hasan lighairihi].
Para ulama Ahlus-Sunnah dengan tegas menolak paham Jahmiyyah ini, bahkan mengkafirkan siapa saja yang mengatakan/berpendapat Al-Qur’an itu makhluk.
عن هارون القزويني يقول : لم أسمع أحدا من أهل العلم بالمدينة وأهل السنن إلا وهم ينكرون على من قال : القرآن مخلوق، ويكفرونه.
Dari Haaruun Al-Qazwiiniy, ia berkata : “Aku tidak pernah mendengar seorang pun ulama di Madinah, begitu pula para ahli hadits, melainkan mereka semua mengingkari orang yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk dan mengkafirkannya” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy 1/219; shahih].
عن غياث بن جعفر قال : سمعتُ سفيان بن عيينة يقول : القرآن كلام الله عزوجل من قال مخلوق فهو كافر ومن شك في كفره فهو كافر
Dari Ghiyaats bin Ja’far ia berkata : Aku mendengar Sufyaan bin ‘Uyainah berkata : ”Al-Qur’an adalah Kalamullah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang ragu akan kekafiran orang tersebut, maka ia juga kafir” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 25; hasan].
عن وكيع يقول : من قال القرآن مخلوق فهو كافر.
Dari Wakii’, ia berkata : “Barangsiapa yang berkata Al-Qur’an itu makhluk, maka ia kafir” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/222; shahih].
عن الربيع قال : سمعت الشافعي رحمه الله تعالى يقول : القرآن كلام الله عز وجل غير مخلوق ، ومن قال مخلوق فهو كافر
Dari Ar-Rabii’, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syafi’iy rahimahullah ta’ala berkata : ”Al-Qur’an itu adalah Kalamullah ’azza wa jalla. Bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan bahwasannya ia adalah makhluk, maka ia telah kafir” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah 1/224; shahih].
Al-Imaam Al-Baihaqiy rahimahumallah berkata tentang ‘aqidah Al-Imam Asy-Syaafi’iy :
وقد ذكر الشافعي رحمه الله ما دل على أن ما نتلوه في القرآن بألسنتنا ونسمعه بآذاننا ونكتبه في مصاحفنا يسمى كلام الله عز وجل وأن الله عز وجل كلم به عباده بأن أرسل به رسوله صلى الله عليه وسلم
“Dan telah disebutkan oleh Asy-Syafi’iy rahimahullah keterangan yang menunjukkannya bahwa apa yang kita baca di dalam Al-Qur’an dengan lisan-lisan kita, kita dengar melalui telinga-telinga kita, dan kita tulis di dalam mushhaf-mushhaf kita; semua itu dinamakan Kalamullah ‘azza wa jalla (bukan makhluk – Abul-Jauzaa’). Dan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah berbicara dengannya kepada hamba-hamba-Nya melalui pengutusan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Al-I’tiqaad wal-Hidaayah ilaa Sabiilir-Rasyaad oleh Al-Baihaqiy, hal. 108, tahqiq : Ahmad bin ‘Ishaam Al-Kaatib, Daarul-Aafaaq, Cet. Thn. 1401, Beirut].
Adapun suara hamba beserta gerakan-gerakan mereka dengan Al-Qur’an, kertas mushhaf, kulitnya, dan tintanya; maka itu semua makhluk.
Silakan baca juga artikel terkait di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/paham-asyariyyah-adalah-cucu-paham.html. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa ‘aqidah Asyaa’irah/Asy’ariyyah merupakan anak cucu ‘aqidah Jahmiyyah.
[3] Ini satu pengingkaran yang sangat jelas terhadap firman Allah ta’ala :
وَرُسُلا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
“Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [QS. An-Nisaa’ : 164].
Untuk melegalkan keyakinan mereka, mereka pun merubah firman Allah dengan menashabkan kata Allah (yang seharusnya rafa’), sehingga Allah yang seharusnya berperan sebagai subjek menjadi objek. Ayat tersebut (setelah mereka ubah) berbunyi :
وَرُسُلا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهَ مُوسَى تَكْلِيمًا
“Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Musa telah berbicara kepada Allah dengan langsung [QS. An-Nisaa’ : 164].
[perhatikan yang diwarnai merah].
[4] Penetapan sifat kalam bagi Allah ta’ala merupakan salah satu bagian ‘aqidah Ahlus-Sunnah sangat penting. Penetapan ‘aqidah inilah yang membuat garis pemisah yang sangat kentara antara barisan Ahlus-Sunnah dengan Ahlul-Bid’ah dimana Jahm bin Shafwan berdiri di gerbong paling depan – dalam permasalahan sifat Allah ta’ala.
Banyak dalil yang menunjukkan sifat kalam bagi Allah, diantaranya :
Allah ta’ala berfirman :
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat…” [QS. Al-Baqarah : 253].
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-Qashshsash : 30].
عن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله إذا تكلم بالوحي سمع أهل السماء للسماء صلصلة كجر السلسلة على الصفا فيصعقون فلا يزالون كذلك حتى يأتيهم جبريل فإذا جاءهم فزع عن قلوبهم فيقولون يا جبريل ماذا قال ربك فيقول الحق فينادون الحق الحق
Dari ‘Abdullah (bin Mas’uud), ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah jika akan berbicara melalui wahyu, para penduduk langit mendengar di langit suara seperti gemerincing rantai yang ditarik di atas batu rata. Merekapun pingsan dan terus menerus dalam keadaan seperti itu hingga Jibriil tiba. Ketika Jibriil mendatangi mereka, hilanglah rasa takut dalam diri mereka lalu berkata : ‘Wahai Jibriil, apa gerangan yang difirmankan oleh Rabb-mu ?’. Jibril menjawab : ‘Al-haq (kebenaran)’. Mereka pun lantas berseru : ‘Al-haq, al-haq” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4738, Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat hal. 201, Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid hal. 145, dan Al-Khathiib dalam At-Taariikh 11/392; shahih].
[5] Silakan lihat penjelasannya pada catatan kaki no. 13.
[6] Ini ‘aqidah baathil Jahmiyyah yang diikuti oleh sebagian Asy’ariyyah !! ‘Aqidah Jahmiyyah ini mengkonsekuensikan bahwa Allah ada dimana-mana/setiap tempat.
Al-Imaam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkomentar tentang ‘aqidah Jahmiyyah yang satu ini dengan perkataannya :
وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، فلو كان كما قالوا كان لا فرق بين العرش وبين الأرض السابعة لأنه قادر على كل شيء، والأرض شيء، فالله قادر عليها وعلى الحشوش.
وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.
“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan.
Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)” [selengkapnya, silakan lihat Al-Ibaanah, hal. 34-37 – melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabiy oleh Al-Albaaniy, hal. 239; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401 H].
Bandingkan dengan golongan Asy’ariyyah yang berpendapat bahwa Allah ta’ala tidak di dalam alam dan tidak pula di luar alam ! (lantas dimanakah Allah ?).
Sebagai seorang muslim ketika muncul pertanyaan dimana Allah, maka dengan tegas harus kita jawab : “Di langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya”. Ini sebagai wujud ittiba’ kita terhadap hadits :
عن معاوية بن الحكم السلمي؛ قال : .....وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية. فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب [الذئب؟؟] قد ذهب بشاة من غنمها. وأنا رجل من بني آدم. آسف كما يأسفون. لكني صككتها صكة. فأتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فعظم ذلك علي. قلت: يا رسول الله! أفلا أعتقها؟ قال "ائتني بها" فأتيته بها. فقال لها "أين الله؟" قالت: في السماء. قال "من أنا؟" قالت: أنت رسول الله. قال "أعتقها. فإنها مؤمنة".
Dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata : “…..Aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambingku kea rah gunung Uhud dan Jawwaaniyyah. Pada suatu hari aku memantaunya, tiba-tiba ada seekor serigala yang membawa lari seekor kambing yang digembalakan budakku itu. Aku sebagaimana manusia biasa pun marah sebagaimana orang lain lain marah (melihat itu). Namun aku telah menamparnya, lalu aku mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun menganggap besar apa yang telah aku lakukan. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakannya ?’. Beliau menjawab : ‘Bawalah budak wanita itu kepadaku’. Aku pun membawanya kepada beliau. Lalu beliau bertanya kepada budak wanita itu : ‘Dimanakah Allah ?’. Ia menjawab : ‘Di langit’. Beliau bertanya lagi : ‘Siapakah aku ?’. Ia menjawab : ‘Engkau adalah utusan Allah (Rasulullah)’. Beliau pun bersabda : ‘Bebaskanlah, sesungguhnya ia seorang wanita beriman” [Diriwayatkan oleh Muslim no. no. 537, Abu Dawud no. 930, An-Nasai 3/14-16, dan lain-lain].
Allah ta’ala telah berfirman :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya” [QS. Al-A’raaf : 54].
Catatan kecil :
Hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam di atas telah didla’ifkan oleh Muhammad Zaahid Al-Kautsariy – lokomotif paham Jahmiyyah abad 14 H – . Ia mendla’ifkan karena bertentangan dengan ‘aqidahnya. Oleh karena itu, dibuatlah alasan yang bermacam-macam untuk mendla’ifkannya dari sisi sanad (dan matannya – sehingga ia simpulkan sebagai hadits mudltharib). Namun ia gagal, karena hadits itu memang shahih dan disepakati keshahihannya oleh para imam ahli hadits. Silakan baca bantahan ringkas As-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Mukhtashar Al-‘Ulluw hal. 82-83.
[7] ‘Aqidah ini sangat jelas bertentangan dengan firman Allah ta’ala :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya” [QS. Al-A’raaf : 54].
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ * أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” [QS. Al-Mulk : 16-17].
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [QS. Al-Baqarah : 255 – ayat kursiy].
Dan juga bertentangan dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
ما السماوات السبع في الكرسي إلا كحلقة بأرض فلاة وفضل العرش على الكرسي كفضل تلك الفلاة على تلك الحلقة
“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti lingkaran yang dilemparkan di padang sahara yang luas. Dan keunggulan ‘Arsy atau Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas lingkaran tersebut” [lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah, 1/223-227 no. 109].
[8] Ahlus-Sunnah beriman akan adanya miizaan (timbangan) di hari akhirat, tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Allah ta’ala berfirman :
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami” [QS. Al-A’raaf : 8-9].
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi (dzarrah) pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan” [QS. Al-Anbiyaa’ : 47].
عن أبي الدرداء قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (ما من شيء يوضع في الميزان أثقل من حسن الخلق
Dari Abud-Dardaa’, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada sesuatupun yang diletakkan pada miizaan (timbangan) yang lebih berat daripada akhlaq yang baik” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2002-2003, Ath-Thayaalisiy no. 978, ‘Abdurrazzaaq no. 20157, Al-Bukhariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 270 & 464, Abu Dawud no. 4799, dan yang lainnya; shahih. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 876].
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم: (كلمتان حبيبتان إلى الرحمن، خفيفتان على اللسان، ثقيلتان في الميزان: سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم).
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahmaan (Allah), ringan di lisan namun berat di timbangan yaitu : Subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil-‘adhiim” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6406 & 6682 & 7563 dan Muslim no. 2694, Ahmad 2/232, At-Tirmidziy no. 3463, Ibnu Maajah no. 1264, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 1264, dan yang lainnya].
Timbangan (miizaan) tersebut adalah timbangan hakiki yang mempunyai dua daun timbangan. Berbeda halnya dengan Mu’tazillah yang berpendapat bahwa timbangan tersebut adalah kinaayah pada penegakan keadilan. Namun kita tidak mengetahui kaifiyah timbangan karena hal itu termasuk perkara-perkara akhirat. Kebaikan akan diletakkan pada satu daun timbangan, dan kejelekan akan diletakkan di daun timbangan lainnya [lihat Syarh Lum’atil-I’tiqaad li-Ibni Qudaamah oleh Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan, hal. 209-210].
Umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah umat pertama yang akan diperhitungkan (dihisab) dan ditimbang amal perbuatannya.
عن ابن عباس؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((نحن آخر الأمم، وأول من يحاسب. يقال: أين الأمة الأمية ونبيها؟ فنحن الآخرون الأولون)).
Dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kita adalah umat yang paling akhir, namun paling awal diperhitungkan (amal perbuatannya (di hari kiamat)”. Dikatakan : “Dimanakah umat-umat lain beserta nabinya ?”. (Beliau menjawab) : “Kita adalah umat yang paling akhir sekaligus paling awal” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 4290; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah no. 2374].
Para ulama meenjelaskan bahwa yang akan ditimbang pada hari kiamat adalah amal perbuatan, manusia itu sendiri (shaahibul-‘amal), dan lembaran-lembaran catatan amal [Diambil dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih bin ‘Abdil-‘Aziiz Aalusy-Syaikh hafidhahullah terhadap kitab Lum’atul-I’tiqaad karya Ibnu Qudaamah rahimahullah yang disampaikan di Masjid Hamzah bin ‘Abdil-Muthallib, Dammam, 1413 H. Lihat juga Ushuulus-Sunnah oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 54, syarh & tahqiq Al-Waliid bin Muhammad An-Nashr; Maktabah Ibn Taimiyyah, Cet. 1/1416].
[9] Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata saat menjelaskan prinsip-prinsip ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah :
والإيمان بعذاب القبر، وأن هذه الأمة تفتن في قبورها وتُسألُ عن الإيمان والإسلام، ومن ربُّهُ ؟ ومن نبيه؟ ويأتيه منكر ونكير كيف شاء الله عز وجل وكيف أراد، والإيمان به والتصديق به.
“Dan beriman terhadap ‘adzab kubur. Bahwasannya umat ini akan diuji dalam kuburnya dan akan ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya ? dan siapa Nabinya ? Malaikat Munkar dan Nakiir akan mendatanginya sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki dan inginkan. Beriman dan membenarkannya [Ushuulus-Sunnah, hal. 56. Lihat juga Thabaqaatul-Hanaabilah oleh Ibnu Abi Ya’laa, 1/59, tahqiq Dr. ‘Abdurrahmaan bin Sulaimaan Al-‘Utsaimiin; Universitas Ummul-Qurra’].
Banyak dalil yang menjadi dasar adanya ‘adzab qubur. Diantaranya :
Allah ta’ala berfirman :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيـمَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta” [QS. Thaahaa : 124].
Al-Haafidh Ibnu Katsir rahimahullah saat menjelaskan ayat tersebut membawakan riwayat Al-Bazzar :
حدثنا أبو زُرْعَة، حدثنا أبو الوليد، حدثنا حماد بن سلمة، عن محمد بن عمرو، عن أبي سلمة، عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم: { فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا } قال: "عذاب القبر". إسناد جيد
Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah : Telah menceritakan kepada kami Abul-Waliid : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Muhammad bin ’Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam tentang ayat Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit(QS. Thaha : 124), beliau bersabda : “Yaitu adzab qubur” ; sanad hadits ini jayyid [Tafsir Ibnu Katsiir, 5/324, tahqiq Saamiy bin Muhammad Salamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420].
عن أبي أيوب قال : خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم بعدما غربت الشمس. فسمع صوتا. فقال "يهود تعذب في قبورها".
Dari Abu Ayyuub, ia berkata : ”(Satu saat), Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah keluar setelah tenggelam matahari; lalu beliau mendengar suara, lalu bersabda : “(Mereka itu adalah orang-orang) Yahudi yang disiksa di dalam kubur mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2869].
عن أم مبشر قالت دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وانا في حائط من حوائط بني النجار فيه قبور مهم وهم يقول استعيذوا بالله من عذاب القبر فقلت يا رسول الله وللقبر عذاب قال نعم وإنهم ليعذبون في قبورهم تسمعه البهائم
Dari Ummu Mubasysyir, dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda : Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur”. Aku (Ummu Mubasyir) berkata : “Wahai Rasulullah, apakah kubur itu terdapat adzab ?”. Beliau menjawab : “Ya, mereka diadzab dengan adzab yang dapat didengar oleh binatang-binatang” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 3125, Ibnu Abi Syaibah 3/362, Ath-Thabaraaniy 25/268, Al-Baihaqiy dalam Itsbaatu ’Adzzabil-Qabr no. 95, dan yang lainnya; shahih sesuai persyaratan Muslim sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Arna’uth dalam Takhriij Shahih Ibni Hibbaan 7/396].
عن أنس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه، حتى إنه ليسمع قرع نعالهم، أتاه ملكان فأقعداه، فيقولان له: ما كنت تقول في هذا الرجل محمد صلى الله عليه وسلم؟ فيقول: أشهد أنه عبد الله ورسوله، فيقال: انظر إلى مقعدك في النار، أبدلك الله به مقعدا من الجنة).
Dari Anas radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda : ”Seorang hamba apabila telah diletakkan dalam kuburnya serta para shahabatnya (yang mengantar) telah berpaling dan pergi, maka ia benar-benar mendengar suara sandal-sandal mereka. Lalu, datanglah dua malaikat yang mendudukinya. Dua malaikat itu bertanya : ’Apa yang dulu engkau katakan tentang laki-laki ini, yaitu Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam ?’. Ia menjawab : ’Aku bersaksi bahwasannya ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya’. Maka dikatakan padanya : ’Lihatlah tempat dudukmu di neraka. Allah telah menggantikannya untukmu tempat duduk di surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1338 dan Muslim no. 2870].
عن البراء بن عازب، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال "{يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت} [14 /إبراهيم /27]" قال "نزلت في عذاب القبر. فيقال له: من ربك؟ فيقول: ربي الله ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم فذلك قوله عز وجل: {يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة}".
Dari Al-Barraa’ bin ’Aazib, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam belaiu bersabda : ”Firman Allah : ’Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh’ (QS. Ibraahiim : 27); turun tentang adzab kubur. Maka dikatakan padanya (penghuni kubur) : ’Siapakah Rabb-mu ?’, ia pun menjawab : ’Rabb-ku adalah Allah dan Nabiku adalah Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam’. Itulah makna firman-Nya ’azza wa jalla : ’Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 1369 dan Muslim no. 2871].
Ibnu Abdil-Barr rahimahullah berkata : “Tidak ada perselisihan antara ahlus-sunnah tentang iman akan adanya adzab kubur” [At-Tamhiid 9/230].
‘Aqidah Jahmiyyah dalam pengingkaran adzab kubur di era kontemporer dihidupkan kembali oleh kelompok Hizbut-Tahrir. Penolakan/pengingkaran terhadap ‘aqidah adzab kubur merupakan ciri yang sangat kentara dari kelompok ini. Bahkan, untuk mengokohkannya, mereka harus rela bersusah payah menulis buku tak bermanfaat yang berjudul : Absahkah ? Berdalil dengan Hadits Ahad dalam Masalah ‘Aqidah dan Siksa Kubur, karangan Syamsuddin Ramadlan, Hanifah Press, Jakarta. Buku ini sarat dengan kedustaan dan kebodohan.
[10] Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah yang telah diciptakan. Allah ta’ala berfirman :
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah : 89].
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang lalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” [QS. Al-Kahfiy : 29].
عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ....إني رأيت الجنة . قتناولت منها عنقودا. ولو أخذته لأكلتم منه ما بقيت الدنيا. ورأيت النار. فلم أر كاليوم منظرا قط. ورأيت أكثر أهلها النساء
Dari Ibnu ’Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”....Sesunguhnya aku telah melihat surga. Kemudian aku mencoba meraih darinya satu tandan. Seandainya aku mampu meraihnya, sungguh kalian akan memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku juga telah melihat neraka. Aku belum pernah melihat seperti hari itu satu pemandangan pun (yang lebih mengerikan darinya). Dan aku melihat kebanyakan penduduknya adalah para wanita” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1052, Muslim no. 907, Ibnu Khuzaimah no. 1377, Ibnu Hibbaan no. 2832 & 2853, dan yang lainnya].
Keduanya (surga dan neraka) adalah kekal, tidak akan pernah binasa.
Allah ta’ala berfirman :
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” [QS. Al-Baqarah : 25].
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
”Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” [QS. Al-Baqarah : 257].
Al-Imam Ath-Thahawiy rahimahullah berkata :
ونؤمن بالبعث، وجزاء الأعمال يوم القيامة، والعرض، والحساب، وقراءة الكتاب، والثواب، والعقاب، والصراط، والميزان، والجنة والنار مخلوقتان، لا تفنيان أبدا ولا تبيدان.
”Kita (Ahlus-Sunnah) beriman kepada kebangkitan, pembalasan amal perbuatan di hari kiamat, pemeriksaan, hisab, pembacaan tulisan, pahala, siksaan, ash-shiraath, miizaan, surga dan neraka yang keduanya telah diciptakan yang tidak akan musnah selama-lamanya dan tidak akan hancur” [Al-’Aqiidah Ath-Thahaawiyyah, hal. 26; Daar Ibni Hazm, Cet. 1/1416].
[11] Ini adalah konsekuensi pengingkaran mereka terhadap sifat kalam sebagaimana telah lalu pembahasannya. Padahal telah tetap dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa Allah akan mengajak bicara orang-orang yang beriman kelak di hari kiamat.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلا النَّارَ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih” [QS. Al-Baqarah : 174].
Apabila ada segolongan kaum yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, maka mafhum-nya ada segolongan lain akan diajak bicara oleh Allah kelak di hari kiamat.
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?" [QS. Al-An’aam : 22].
ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?" Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu): "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir" [QS. Al-Hijr : 27].
عن ‏ ‏عدي بن حاتم ‏ ‏قال : ‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم :‏ ‏ما منكم من أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان ولا حجاب يحجبه ))
Dari ‘Adiy bin Haatim ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ada seorangpun di antara kalian kecuali ia akan diajak bicara oleh Rabb-nya. Tidak ada antara keduanya penerjemah dan penghalang yang menghalanginya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 6889].
عن أبي برزة الأسلمي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تزول قدما عبد حتى يسأل عن عمره فيما أفناه، وعن علمه فيما فعل وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه وعن جسمه فيما أبلاه
Dari Abu Barzah Al-Aslamiy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ditanyakan tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya seberapa jauh ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia belanjakan/nafkahkan, dan tentang badannya untuk apa ia rusakkan” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2417, Abu Ya’laa no. 7434, dan Abu Nu’aim 1/232; shahih. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 946].
[12] Ar-Ru’yah (melihat) adalah salah satu sifat Allah yang shahih dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di hari kiamat nanti, Allah akan melihat sebagian hamba-hamba-Nya dan tidak akan melihat sebagian yang lain (karena kemaksiatan yang mereka lakukan).
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لا خَلاقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih” [QS. Aali ‘Imraan : 77].
عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار قال أبو ذر خابوا وخسروا من هم يا رسول الله قال المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
Dari Abi Dzarr radliyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dilihat, dan tidak pula disucikan serta baginya adzab yang sanga pedih”. Abu Dzar berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya tiga kali”. Kemudian Abu Dzarr bertanya : “Sungguh sangat jelek dan meruginya mereka itu wahai Rasulullah ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “(Mereka adalah) Musbil (orang yang melakukan isbal), orang yang gemar mengungkit-ungkit kebaikan yang telah diberikan, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 106, Abu Dawud no. 4087, At-Tirmidziy no. 1211, dan yang lainnya].
[13] Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :
أجمعوا على أن المؤمنين يرون الله عز وجل يوم القيامة بأعين وجوههم على ما أخبر به تعالى
“Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah ‘azza wa jalla kelak di hari kiamat dengan mata kepala mereka berdasarkan apa yang telah dikhabarkan Allah ta’ala” [Risaalah ilaa Ahlits-Tsaghr, hal. 237 – melalui perantaraan kitab Shifatullaahi ‘azza wa jalla Al-Waaridatu fil-Kitaab was-Sunnah oleh ‘Alawiy bin ‘Abdil-Qaadir As-Saqqaaf, hal. 170; Ad-Durarus-Saniyyah, Cet. 3/1426].
Allah ta’ala berfirman :
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” [QS. Yunus : 26].
Al-Haafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
وقد روي تفسير الزيادة بالنظر إلى وجه الله الكريم، عن أبي بكر الصديق، وحذيفة بن اليمان، وعبد الله بن عباس [قال البغوي وأبو موسى وعبادة بن الصامت] وسعيد بن المسيب، وعبد الرحمن بن أبي ليلى، وعبد الرحمن بن سابط، ومجاهد، وعكرمة، وعامر بن سعد، وعطاء، والضحاك، والحسن، وقتادة، والسدي، ومحمد بن إسحاق، وغيرهم من السلف والخلف.
وقد وردت في ذلك أحاديثُ كثيرة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فمن ذلك ما رواه الإمام أحمد:
حدثنا عفان، أخبرنا حماد بن سلمة، عن ثابت البُناني، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، عن صهيب؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية: { لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ } وقال: "إذا دخل أهل الجنة الجنة، وأهل النار النار، نادى مناد: يا أهل الجنة، إن لكم عند الله موعدًا يريد أن يُنْجِزَكُمُوه. فيقولون: وما هو؟ ألم يُثقِّل موازيننا، ويبيض وجوهنا، ويدخلنا الجنة، ويزحزحنا من النار؟". قال: "فيكشف لهم الحجاب، فينظرون إليه، فوالله ما أعطاهم الله شيئا أحب إليهم من النظر إليه، ولا أقر لأعينهم".
“Telah diriwayatkan penafsiran kata az-ziyaadah (tambahan) dengan melihat wajah Allah Yang Mulia dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, Hudzaifah bin Al-Yamaan, ‘Abdullah bin Al-‘Abbaas, [Al-Baghawiy berkata : Abu Musa, ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit], Sa’iid bin Al-Musayyib, ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa, ‘Abdurrahman bin Saabith, Mujaahid, ‘Ikrimah, ‘Aamir bin Sa’d, ‘Atha’, Adl-Dlahhaak, Al-Hasan, Qataadah, As-Suddiy, Muhammad bin Ishaaq, dan yang lainnya dari kalangan salaf dan khalaf. Dan telah banyak hadits yang membicarakan hal itu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa, dari Shuhaib : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’, beliau bersabda : “Bila penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, maka ada seorang penyeru yang memanggil : ‘Wahai penduduk surga, sesungguhnya kalian mempunyai apa yang telah dijanjikan di sisi Allah, Allah ingin memenuhinya untuk kalian. Maka mereka berkata : ‘Apakah itu ? bukankah Allah telah memberatkan timbangan (amal baik) kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Maka dibukalah hijab untuk mereka, lalu mereka melihat kepada wajah-Nya. Maka demi Allah, tidak ada sesuatupun yang Allah berikan kepada mereka yang lebih dicintai oleh mereka dan lebih menyenangkan mereka daripada melihat kepada wajah-Nya” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/262, tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan doa yang masyru’ dibaca setelah tasyahud akhir sebelum salam :
اللهم بعلمك الغيب وقدرتك على الخلق أحيني ما علمت الحياة خيراً لي وتوفني ما علمت الوفاة خيراً لي ، اللهم إني وأسألك خشيتك في الغيب والشهادة ، وأسألك كلمة الحق في الرضا والغضب ، وأسألك القصد في الغنى والفقر ، وأسألك نعيماً لا ينفد ، وأسألك قرة عين لا تنقطع ، وأسألك الرضا بعد القضاء ، وأسألك برد العيش بعد الموت ، وأسألك لذة النظر إلى وجهك والشوق إلى لقائك من غير ضرَّاء مضرة ولا فتنة مضلة ، اللهم زينا بزينة الإيمان ، واجعلنا هداة مهتدين
“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang ghaib dan dengan ke-Mahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepada-Mu agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku mohon kepada-Mu agar aku bisa melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau faqir, aku mohon kepada-Mu agar diberikan nikmat yang tidak habis, dan aku mohon kepada-Mu agar diberikan penyejuk mata yang tidak putus. Aku mohon kepada-Mu agar aku dapat rela setelah qadla-Mu (turun pada kehidupanku). Aku mohon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan setelah aku mati. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari-Mu” [Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy 3/54 no. 1305, Ahmad 4/264, Al-Haakim 1/524, Ibnu Abi Syaibah 10/265, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat no. 120; shahih].
Tidak mungkin beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kalimat : “Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga)” jika hal itu tidak akan terwujud (mustahil terjadi) kelak di akhirat.
[14] Lihat kembali catatan kaki no. 1.
[15] Ini adalah inti ‘aqidah Jahmiyyah yang mengingkari seluruh sifat Allah ta’ala. Pada hakekatnya, mereka seperti menyembah sesuatu yang tidak ada (karena tidak mempunyai sifat). Maha Suci Allah dari yang mereka katakan.

Comments

Anonim mengatakan...

Tulisan yang indah Akh...Lanjutkan!!!


Request dong Akh, kisah dipenjarakannya Syaikh Al-Mizi di Damaskus oleh Penguasa yang berpaham Jahmiyah.

Konon dikarenakan beliau mengajarkan/membacakan Kitab Khalq Af'al 'Ibad (Karya Imam Bukhari) di Masjid Umayyad yang isinya SANGAT BERTENTANGAN dengan Aqidah Jahmiyah.

Kadang saya berfikir, saudara-saudara kita yang Asy'ariy saat mereka membela paham Asy'ariy terkadang tercampur dengan paham Jahmiyah dan Mu'tazilah dan saking semangatnya mereka menisbahkan bahwa itulah pemikiran Imam Asy'ariy padahal keliru, karena apa yang menjadi pendapat Imam Asy'ari sudah jelas dan apa yang menjadi pendapat Jahmiyah dan Mu'tazilah juga jelas.

Semoga Allah menambahkan kesabaran pada antum dan Allah memudahkan antum dalam memberikan penjelasan-penjelasan kepada para penuntut ilmu.

Jazakallah

Pakubumi

Abulkhoirozan mengatakan...

bisnmikllah.

masyaallah

Anonim mengatakan...

Sesungguhnya penglihatan indrawi menuntut sesuatu yang dilihat itu memiliki kepadatan, warna dan bentuk sehingga dapat dilihat, bahwa sesuatu yang dilihat tersebut memantulkan cahaya, berada di hadapan yang melihat, terdapat jarak diantara yang melihat dengan yang dilihat, disamping sehatnya indra penglihatan.
Dengan syarat - syarat ini - na'udzubillaah - tentunya Allah SWT berjisim dan dibatasi tempat (membutuhkan tempat). Sungguh ini adalah sesuatu yang mustahil. Karean Allah SWT, Maha Suci Dia dari membutuhkan tempat untuk berdiam.

Muhaddis Abu Qurrah pernah mendatangi Ali Abul Hasan ar-Ridha. Dia bertanya tentang halal dan haram serta berbagai hukum, hingga pertanyaannya sampai kepada masalah tauhid.
Abu Qurrah bertanya,
"Sesungguhnya kami meriwayatkan bahwa Allah SWT Azza Wajalla membagi ru'yah dankalam diantara dua orangh nabi. Allah SWT memberikan kalam kepada Musa as dan memberikan ru'yah kepada Muhammad SAW."

Abul Hasan berkata, "Siapa yang menyampaikan ayat - ayat berikut dari Allah SWT kepada jin danmanusia, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat mata', 'Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya', dan juga ayat 'Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya.' Bukankah Muhammad SAW?"

Abu Qurrah berkata, "Benar."

Diantara perkataan Abul Hasan ketika menerangkan ayat,"Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya.' adalah Jika mata telah melihat-Nya, maka berarti Ilmu telah meliputi-Nya."

Abu Qurrah berkata lagi," Kalau begitu, berarti Anda mendustakan riwayat - riwayat ini?"

Abul Hasan berkata, "Jika sebuah riwayat bertentangan dengan Al Qur'an, maka aku mendustakan riwayat tersebut."

===========****============

Abu abdillah bin Sanan hadir disisi Imam Abu Ja'far. Kemudian seorang laki - laki khawarij masuk danberkata, "Wahai Abu Ja'far, apa yang anda sembah?"

Abu Ja'far menjawab, "Allah"

Laki - laki khawarij itu bertanya lagi, "Kamu telah melihatnya?"

Abu Ja'far menjawab, "Mata tidak dapat melihat-Nya dengan pandangannya, akan tetapi hati dapat melihat-Nya dengam hakikat iman. Dia tidak dapat diketahui dengan qiyas, tidak dapat digapai oleh pancaindra, dan tidak dapat diserupakan dengan manusia. Dia disifati dengan ayat - ayat-Nya, dan dikenal dengan tanda - tanda-Nya. Dia tidak berlaku zalim di dalam hukum-Nya. Dia itu adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia."

Abu Abdillah bin Sinan berkata, "Maka keluarlah laki- laki Khawarij sambil mengatakan, " Allah lebih mengetahui dimana Dia harus meletakkan risalah-Nya."

Sumber: At-Tawhid, karya ash-Shaduq, hal. 108, 109, 112.

Ummul Mukminin Aisyah juga pernah mengatakan barangsiapa mengatakan Muhammad SAW telah melihat Allah pada saat Mi'raj maka dia telah kafir.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dari sumber Syi'ah ya ? Kalau pendapat Syi'ah tentang ru'yatullah, insya Allah saya sudah tahu.

Tapi ada baiknya juga Anda baca : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/10/aqidah-ahlus-sunnah-kaum-mukminin-kelak.html.

Di situ juga ada penjelasan mengenai riwayat Ummul-Mukminiin 'Aaisyah radliyallaahu 'anhaa.

Semoga ada manfaatnya

Anonim mengatakan...

Terjemahan no 12 ada yang kurang, pak.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

nggak tuh.

Anonim mengatakan...

Masih dengan orang yang sama yang mengomentari artikel Anda di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/08/allah-lebih-dekat-daripada-urat-leher.html

Pertanyaan saya : Apakah asy-syaikh-abdul-qadiir seorang sufi?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Beliau adalah seorang ulama Ahlus-Sunnah.

Namun tidak ada seorang pun yang ma'shum selain Nabi shallallaahu 'alaihii wa sallam.

Anonim mengatakan...

Apakah Beliau seorang Sufi?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Bukan. Beliau berdiri di atas 'aqidah Ahlus-Sunnah secara umum. Adapun seandanya ada kekeliruan yang berasal dari beliau, dan kemudian mencocoki sebagian perkara dari orang-orang Shufiy, tidak mesti harus menjadikan beliau seorang Shufi. Untuk sedikit perinciannya, silakan Anda baca artikel berikut :

http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=74924.

Insya Allah, dalam artikel itu diterangkan tentang beliau terkait yang Anda tanyakan.

wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Jadi beliau bukan Sufi? Sudah objektifkan penilaian Anda?

Saya lihat dari artikel Anda dan itu pasti mendasari argumen Anda bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy bukan Sufi, termasuk Link yang Anda sodorkan semuanya hanya merujuk kepada satu karya beliau yaitu Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq. Dan link yang Anda sodorkan adalah artikel yang terdapat dalam forum diskusi yang terbuka untuk diperbincangkan, dibantah dan dipatahkan serta juga hanya merujuk ke satu kitab yaitu al-Ghunyah. Jadi Artikel itu tidak akan saya tanggapi.

Kembali ke pendirian Anda bahwa Beliau bukanlah Sufi, dengan merujuk kepada kitab Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq, yang Anda sertakan penerbitnya : Daar Ihyaa At-Turaats (saya punya). Anda sudah punya kitabnya? paling tidak file nya? Saya berbaik sangka Anda memilikinya. Insya Allah.

Okelah saya juga pakai kitab rujukan Anda (Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq, penerbit : Daar Ihyaa At-Turaats), disitu ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui dan sekaligus saya mau melihat komentar Anda.

1. Kitab rujukan Anda berjudul "Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq", dilain kitab saya menemukan judulnya "Al-Ghunyah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq fi al-Akhlaaqi wa al-Tashawwuf wa al-Adab al-Islamiyah".
Mana yang benar? Ada yang memotong atau ada yang menambahkan?
Kalau ada yang memotong, untuk apa?
Kalau ada yang menambahkan, untuk apa?

Kalau saya berbaik sangka, bahwa pemenggalan itu hanya untuk memudahkan saja, agar judul tidak terlalu panjang.

Anonim mengatakan...

2.Dalam kitab yang Anda jadikan referensi, terbitan Daar Ihyaa At-Turaats oleh Muhammad Khalid Umar, pada bagian al-Muqaddimah (المقدمة) pada halaman 16.
هذا الرجل العالم الذى ما ترك لنا بابا إلا طرقه وله فى الصوفية والتصوف أكثر من فصل فى هذا الكتاب الذى بين لنا الآن..

3.Saya melihat dan memperbandingkan kitab al-Ghunyah cetakan baru dan kitab lama. Untuk mempermudah, saya namakan kitab lama dengan "al-Ghunyah lama" dan untuk rujukan Anda saya namakan "al-Ghunya baru"

Dalam kitab "al-Ghunyah lama" pada halaman 145, bab yang menerangkan tentang "Pengenalan Pencipta 'Azza wa Jalla" (فى معرفة صانع عز وجل) dimulai dengan uraian Syaikh tentang aqidah, dan sampai menyebutkan firman Allah surat Fathir ayat 10 dan Surat as-Sajdah ayat 5.

Setelahnya Syaikh langsung menyambungnya dengan pembahasan tentang al-Asmaa al-Husna (h. 146): ونعتقد أن لله عز وحل تسعة وتسعين أسمآء ...

Setelah itu, Syaikh beralih ke pemaparan iman halaman 148 : فصل ونعتقد أن الإيمان ...

Bandingkan dengan cetakan yang jadi rujukan Anda, "al-Ghunyah baru".

Setelah menuliskan firman Allah surat Fathir ayat 10 (h. 86) dan surat as-sajdah ayat 5, disambung dengan : خلق الحلائق ...

Halaman 88 terdapat pasal yang berawalkan : ونعتقد أن القرآن كلام الله ...

Halaman 90 muncul lagi pasal yang berawalkan : ونعتقد أن القرآن حروف مفهومة

Halaman 91 muncul lagi pasal baru : وكذلك حروف المعجم ...

Baru kemudian pada halaman 92 muncul pasal tentang al-asma' al-husna (di "al-Ghunyah lama" tidak termasuk pasal).

Halaman 93 membahas tentang iman sesuai urutan kitab "al-ghunyah lama"
: فصل ونعتقد أن الإيمان ...

Terhadap adanya ketimpangan ini, hanya ada dua pilihan kemungkinan:
a. Terdapat penambahan pada kitab "al-Ghunyah baru" yang tidak terdapat pada kitab "al-Ghunyah lama"
b. Terdapat pemangkasan pada kitab "al-Ghunyah lama" yang kemudian dimunculkan pada pada "al-Ghunyah baru"

Saya pilih kemungkinan a, Anda pilih kemungkinan mana? atau ada kemungkinan lain?

Anonim mengatakan...

4.Kitab al-Ghunyah yang Anda jadikan rujukan ini terdiri dari dua Juz, yang kemudian dipisah lagi menjadi 5 Bagian (dalam beberapa cetakan, untuk rujukan Anda memakai "bab") Bagian ke Lima dari Kitab ini adalah "Tashawwuf" (saya punya). Untuk referensi yang Anda kemukakan silakan lihat halaman kitab : 441 baris ke 2 dari bawah, awal pasal yang menerangkan tentang siapa orang yang bertashawwuf dan siapa sufi.

Ada suatu kekhawatiran bagi saya, bahwa nantinya bab/bagian tentang Tashawwuf ini akan dibuang. Mudah-mudahan tidak akan terjadi seperti itu. Amin

Itu point yang berkenaan dengan kitab al-Ghunyah.

Anonim mengatakan...

Kemudian untuk argumentasi Anda bahwa beliau "Bukan Sufi", kita rujuk ke Kita-kitab beliau.

1.Dalam al-Ghunyah pada Bagian/bab ke 5, Beliau membahas tentang Tashawwuf secara panjang lebar. (Silakan lihat dan buktikan sendiri pada halaman 441, mulai dari baris ke dua dari bawah) :

2.Kitab Futuh al-Ghaib yang juga karya beliau pada makalah yang ke 75 membahas tentang Tashawwuf
والتصوف مبنى على ثمان حصال (السخاء) لسيدنا إبرهيم عليه السلام (والرضاء) لإسحق عليه السلام (والإشارة) لزكريا عليه السلام (والغربة) ليحي عليه السلام (والتصوف) لموسى عليه السلام (والسياحة) لعيسى عليه السلام (والفقر) لسيدنا و نبينا محمد صلى الله عليه وسلم ...

3.Kitab Fath al-Rabbaniy wa al-Faidh al-Rahmaniy, yang berisi tentang wejangan beliau, pada majelis yang ke 25 beliau membahas tentang laku Tashawwuf.
(يا غلام) صف قبلك بأكل الحلال وقد عرفت ربك عز وجل، صف لقمتك وخرقتك وقلبك وقد صرت صافيا، التصوف مشتق من الصفاء، ...

Saya tidak akan menambahkan kitab-kitab lain, namun dengan pemaparan ini saya tanyakan kepada Anda : Mungkinkah seorang 'alim yang didalam kitabnya (al-Ghunyah) menyediakan satu bagian untuk memaparkan siapa sufi dan siapa yang mutashawwif, memaparkan adab-adab murid terhadap syaikhnya, dan dalam kitabnya yang lain juga memaparkan laku tashawwuf, "BUKANLAH" seorang Sufi?

Mungkinkah seorang 'alim yang sebagian besar dalam karya-karyanya memaparkan ilmunya dengan terminologi tashawwuf "BUKANLAH" seorang Sufi?

Saya batasi sampai disini dulu, silakan dikomentari.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih atas jerih payahnya dalam penelaahan kitab Al-Ghunyah,...

Banyak komentar yang tidak saya tanggapi dan saya pending dalam blog ini. Tidak semua komentar mewajibkan saya untuk menanggapinya, karena merumuskan pertanyaan lebih mudah daripada menjawabnya. Sebagaimana jika saya berbuat hal serupa dengan Anda dan menuntut Anda menjawabnya, tentu lebih mudah bagi saya. Sebagian besar waktu saya tidak saya alokasikan untuk ngeblog dan menjawab blog. Apalagi yang menuntut untuk muthala'ah satu atau lebih kitab; karena yang mesti saya baca dan tulis terkait dengan aktifitas saya yang lain sedemikian menumpuk. So, ini perlu saya sampaikan agar Anda paham.

Mengenai judul kitab Al-Ghun-yah, yang saya pegang adalah berjudul sebagaimana dalam artikel :

الغنية لطالبي طريق الحق عز وجل

Yang tertulis dalam kitab Dzail Thabaqaat Al-Hanaabilah karangan Ibnu Rajab (hal. 248) juga sama. Ibnu Rajab berkata :

وله كتاب الغنية لطالبي طريق الحق وهو معروف

"...dan ia mempunyai kitab yang berjudul Al-Ghunyah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq..." [selesai].

Begitu juga dengan Az-Zirkiliy dalam Al-A'laam dimana ia berkata :

من مصنفاته: جلاء الخاطر في الباطن والظاهر، الفتح الرباني والفيض الرحماني، الغنية الطالبي طريق الحق

"Termasuk dari kitab-kitab karangannya : Jalaaul-Khaathir fil-Baathin wadh-Dhaahir, Al-Fathur-Rabbaaniy, Al-Faidlur-Rahmaaniy, Al-Ghunyah Ath-Thaalibiy Thariiq Al-Haqq...." [Al-A'laam, 4/171].

Saya kira dengan qarinah-qarinah tersebut, judul yang tertera dalam 'Al-Ghun-yah Baru' punya sandaran yang cukup kuat. Bukan sekedar husnudhdhan untuk menyingkatnya saja. Adapun kebanyakan ulama yang lain, hanya menyebutkan sebatas judul 'Al-Ghun-yah' saja. Dan yang lebih penting, dalam 'Al-Ghun-yah Baru' (meminjam istilah Anda), mua'llif ('Abdul-Qadiir Al-Jiilaniy) secara tegas menamakannya dengan Al-Ghun'yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq.

Berdasarkan fakta tersebut di atas, sulit untuk mengatakan bahwa muhaqqiq telah melakukan penyunatan sebagian judul kitab.

Ini saya katakan ketika kita (saya dan Anda) tidak bicara di hadapan manuskrip untuk mengecek validitasnya. Terkait dengan ini, maka analisis perbandingan Anda yang hendak menyiratkan keraguan validitas ‘Al-Ghunyah Baru’; pada hakekatnya tidak bernilai apa-apa. Karena, Anda hanya menilai dari versi cetak saja. Hal yang sama pun bisa saya katakan bahwa ‘Al-Ghun-yah Lama’ terdapat penambahan. Namun sekali lagi, jika ini saya katakan, dalam dunia tahqiq, ini gak bernilai apa-apa.

Adapun yang Anda katakan bahwa dalam cetakan lain disebutkan dengan tambahan : fil-Akhlaaq wat-Tashawwuf wal-Adab Al-Islaamiyyah, mungkin saja. Namun jika boleh, adakah para ulama sebelumnya yang menyebutkan kitab Al-Ghunyah dengan tambahan yang panjang itu ?. Bisa Anda kasih ke saya referensinya untuk menambah pengetahuan.

Kemudian..... terkait dengan perkataan muhaqqiq : hadzar-raajulu a'-'aalim alladziii traka lanaa baaban...dst., maka itu adalah penilaian muhaqqiq sebagaimana juga dikatakan oleh selain dirinya. Namun sebelum itu, apa si sebenarnya yang Anda dimaksud Suufiy itu ?. Soalnya begini, dalam beberapa kitab - semisal kitabnya Ibnu Taimiyyah dan Ibnul-Qayyim - juga disebutkan tentang shuufiy dan tashawwuf. Dan bahkan disebagian perkataan mereka memujinya. Jika yang dimaksud dengan Shuufiy adalah sebagaimana yang terdapat dalam kitab Al-Ghunyah hal 16 :

الصوفي من كان صافيا من آفات النفس، خاليا من مذموماتها، سالكاً لحميد مذاهبه، ملازماً للحقائق غير ساكن بقلبه إلى أحد من الخلائق

Atau dalam kitabnya yang lain :

الصوفي من صفا باطنة وظاهرة بمتابة كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم

“Suufiy adalah orang yang memberishkan lahir batinnya dengan mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Al-Fathur-Rabbaaniy].

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tentu saja Shufiy dalam pengertian ini benar. Ulama salaf menyebut ini sebagai zuhd. Berbeda lafadh saja.

Namun, Shuufiy yang dikritik para ulama dulu dan sekarang kan bukan dalam zuhd kan ?. Apakah Anda pernah membaca para ulama Wahabi mengkritik Shuufiy dalam sekup pengertian zuhd di atas ?. Paling hanya kritik lafadh saja, karena lafadh shuufiy tidak dikenal di kalangan salaf [Majmuu’ Fataawaa Ibnu taimiyyah, 5/11]. Makanya Ibnu Taimiyyah berkata :

وأما جمهور الأمة وأهل الحديث والفقه والتصوف فعلى ما جاءت به الرسل وما جاء عنهم من الكتب والاثارة من العلم وهم المتبعون للرسالة اتباعا محضا لم يشوبوه بما يخالفه

[Majmuu’ Al-Fataawaa, 12/36].

Jika demikian, maka tidaklah saya menolak jika Syaikh ‘Abdul-Qaadir Al-Jiilaniy diklasifikasikan sebagai seorang Shuufiy dengan pengertian di atas, karena hakekat maknanya adalah zaahid.

Semoga Anda memahami di point ini.

Kemudian jika di atas saya mengatakan bahwa Syaikh ‘Abdul-Qaadir bukan termasuk ulama Shuufiy, tentu saja Anda harus memahami dalam konteks pemutlakan istilah dan kritikan terhadap shufiy/tashawwuf ini. Para ulama kemudian mengkritik Shuufiy ini setelah melihat adanya penyimpangan dalam ‘aqidah dan peribadatan . kemudian mereka memutlakkan istilah bahwa Shuufiy ini adalah kaum yang menyimpang dari sunnah. Misalnya Asy-Syaafi’iy yang berkata :

ما لزم أحد الصوفيّة أربعين يوماً فعاد إليه عقله أبداً

[Talbiis Ibliis oleh Ibnul-Jauziy].

لو أن رجلا تصوف من أول النهار، لم يأت عليه الظهر إلا وجدته أحمق

[Manaaqib Al-Imaam Asy-Syaafi’iy olah Al-Baihaqiy, 2/207].

Dan yang lainnya.

Apalagi Anda mungkin tahu bahwa teori Wahdatul-Wujuud ini pun dimunculkan oleh orang-orang Shuufiy, dan masih populer di kalangan mereka hingga sekarang.

Tentu saja, shuufiy yang dicela Asy-Syaafi’iy ini bukan Shuufiy dalam penjelasan Syaikh ‘Abdul-Qaadiir dalam sebagian besar kitab Al-Ghunyah. Mungkin itu saja secara global yang dapat saya sampaikan dalam keterbatasan waktu.

Wallaahu a’lam

Anonim mengatakan...

Untuk pertanyaan yang tidak Anda jawab, Saya juga tidak akan ngotot memburu jawabannya dari Anda. Semuanya sudah tersirat dari apa yang telah Anda jawab. Dan yang terpenting adalah bahwa saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui terkait dengan hal ini, lebih dari itu biarlah Allah SWT yang menjadi penyelesai setiap persoalan. Saya berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan menahan diri dari keinginan yang datang dari hawa nafsu untuk berbuat dan berucap. Amin

Untuk judul kitab yang saya temukan yaitu "Al-Ghunyah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq fi al-Akhlaaqi wa al-Tashawwuf wa al-Adab al-Islamiyah", memang tidak saya temukan adanya perkataan ulama tentang judul itu, karena sepeninjauan saya kitab ini tidak populer dalam keilmuan Islam. Saya katakan dilain kitab saya temukan judulnya " Al-Ghunyah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq fi al-Akhlaaqi wa al-Tashawwuf wa al-Adab al-Islamiyah".

Yang menjadi persoalan yang saya tuju adalah, bahwa saya lihat banyak situs-situs di internet menuliskan artikel terkait dengan Syaikh Abdul Qadir Jailaniy dan mengambil kitab "Al-Ghunyah" sebagi referensi yang terkesan hanya sebagai pembenaran dari isi artikelnya dan tanpa ragu-ragu menuliskan fitnah dan hujatan secara general terhadap tashawwuf. Kenapa saya katakan berkesan pembenaran, karena kalau seandainya mereka memiliki kitab "al-Ghunyah" walaupun hanya dalam bentuk file digital, dan mereka menelaah daftar isinya saja, saya pastikan mereka akan menahan diri untuk menyertakan tuduhan sesat terhadap Sufi. Bukankan ini menjadi bumerang bagi mereka sendiri? Betapa ketika argumen Syaikh Abdul Qadir bukan Sufi dengan merujuk pada kitab "al-Ghunyah" bisa dipatahkan hanya dengan kitab itu sendiri. Semoga Allah menjadikan Anda dan Saya sebagai orang yang meletakkan perbuatan dan ujarnya dibelakang hati dan pikirannya, sehingga kita tidak termasuk kaum yang buta dan jahil. Amin.

Anonim mengatakan...

Terkait pertanyaan Anda : "apa si sebenarnya yang Anda dimaksud Suufiy itu ?"
Dari sedikit pemaparan saya tentang Tashawwuf, Insya Allah Anda akan temukan jawabannya.

Agama Islam mencakup dua sisi kehidupan yang tidak bisa dipisahkan, yang kemudian diistilahkan dengan sisi lahir – sisi bathin, atau sisi syariat – sisi hakikat, atau lebih jauh ada kulit – ada isi. Namun diawal pemaparan ini perlu saya katakan bahwa pembagian ini sama sekali bukan untuk memisah-misahkan nilai yang terdapat dalam Islam, dan tidak juga untuk menyatakan sisi ini lebih utama dari sisi itu. Bukan! Kedua sisi ini sama sekali tidak bisa dipisahkan dalam pengamalan namun perlu diperjelas letak duduknya dalam pemahaman dan pengkajiannya, karena memang ini adalah dua ranah yang berbeda akan tetapi satu paket dalam pengamalan. makanya ada ungkapan Sufi : "Kulit tanpa isi adalah klise, Isi tanpa kulit akan binasa"

Untuk ranah syariat, Ulama Islam telah melakukan elaborasi, ketekunan dan pengabdian yang luar biasa hingga kemudian lahirlah mazhab yang kendatipun terdapat perbedaan, suatu persamaan melandasi semuanya yaitu niat murni untuk menegakkan syariat yang merujuk kepada al-Quran dan Sunnah. Alhamdulillah.

Dibalik itu, untuk ranah hakikat atau bathiniah atau ruhaniah, tidak sepenuhnya bisa dicermati dan dilihat dari keadaan lahiriyah yang bisa diceritakan untuk kemudian diambil sebagai istinbath hukum.

Anonim mengatakan...

Suatu contoh : Nabi mengatakan "صلوا كما رئيتمونى أصلّى". Dari segi lahiriyah, telah banyak contoh hadits yang menceritakan bagaimana kaifiyat Nabi Sholat. Namun bagaimana sisi bathin Nabi ketika sholat? Sedekat apa rasa kehambaan Nabi dalam sholat? Rasa apa yang dibawa Nabi ketika Sholat? Walaupun tidak bisa diukur secara empiris dan tidak bisa ditilik secara inderawi, tetap saja ini bagian terpenting dalam ibadah, sebab yang kita tiru bukan robot, tapi manusia (dalam hal ini Nabi Muhammad SAW) yang punya kejernihan bathin, kekayaan hati dan perasaan ruhani dan nurani. Dan kita beribadah pun diharapkan tidak hanya membawa jasad saja sebagai perwakilan lahiriyah, namun juga membawa rohani kita sebagai bagian bathiniyah untuk dipersembahkan secara utuh kepada Allah.
Untuk hal-hal semacam inilah kemudian Tashawwuf tampil menggawangi dan membimbing umat pada sisi bathin yang tidak bisa dipisahakan dengan sisi lahir muslim. Sehingga "أن تعبد الله كأنك تراه" bisa dibidik dan ditelaah melalui Tashawwuf dengan Sufi sebagai pembimbingnya. Pada tingkatan ini juga ibadah seorang muslim berisi, bermakna dan mumpuni secara lahir dan bathin.

Anonim mengatakan...

Namun apakah Tashawuf yang membidangi sisi bathiniyah/hakikah ini tidak menghadapi persoalan? Tentu saja menghadapai banyak persoalan. Untuk sisi Syariat saja kita temui adanya persoalan internal maupun eksternal, apalagi untuk ranah bathin yang diibaratkan rimba raya penuh ranjau perangkap dan duri. Tanpa adanya pembimbing yang tahu keadaan, denah serta letak ranjau dan perangkap tersebut, maka dipastikan seorang "salik" akan tersesat dalam dirinya sendiri. Belum lagi ketertipuan salik dengan dirinya sendiri dan kelihaian iblis dan syaithan untuk menangguk di air keruh. Makanya tidak salah ada ungkapan, "Siapa yang belajar tanpa ada guru maka dipastikan gurunya adalah syaithan"

Kalau boleh dipoint kan, maka persoalan dalam dunia tashawwuf mencakup beberapa hal :

Anonim mengatakan...

1. Karena mencakup ranah bathiniyah yang kemudian ditajallikan ke ranah syariat, tentu saja agak susah membahasakan apa yang dialami ketimbang membahasakan apa yang bisa dilihat secara inderawi.

Contoh :
Ketika seseorang makan bakso, kemudian ditanya: Bagaimana rasanya?
Jawabnya : "Maknyuss", "Top markotop", "Uenak tenan", "Bikin lidah bergoyang", "pokoknya jempol dech" dan ungkapan lainnya.

Tapi sehebat apapun bahasa yang diungkapkan tetap tidak akan sepenuhnya mampu menunjukkan apa yang sebenarnya dirasakan. Untuk itulah keluar ungkapan Sufi : من لم يذق لم يعرف (Siapa yang ga ngerasain, ga bakal tau)
Contoh lain : terhadap "manis" nya gula, berapa banyakpun buku yang dikarang untuk mengungkap dan membahasakan apa dan bagaimana sebenarnya "manis" gula tersebut, tetap tidak akan bisa dijangkau oleh bahasa, kecuali dibuktikan oleh rasa. Maka jika untuk rasa jasmani saja tidak bisa sepenuhnya dibahasakan, apalagi rasa ruhani.

Dikemudian hari banyak muncul ungkapan-ungkapan Sufi yang selazimnya tidak boleh dipahami secara parsial, lahiriyah, dan terpisah dari ungkapan lainnya dan juga mesti ditimbang dari amalan, ketaatan dan akhlak si pengungkap.

2. Karena juga menyangkut ranah ruhani, maka tidak dipungkiri bahwa tidak banyak orang yang paham apa yang dituju oleh Sufi selain tentunya harus bertanya kepada yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas untuk menjawabnya.

Sayangnya ada orang-orang yang mengambil satu atau beberapa kalimat ungkapan sufi, kemudian mereka artikan sendiri, mereka tafsirkan sendiri. Setelah itu, atas tafsiran yang mereka bikin sendiri mereka katakan "inilah yang dikatakan sufi ini, sufi itu". Kemudian mereka menghujat habis tafsiran bikinan mereka sendiri.

Anonim mengatakan...

3. Banyaknya orang-orang yang tertipu dengan diri sendiri dan tertipu godaan syaithan yang kemudian tampil menggunakan identitas tashawwuf. Karena ketidak jernihan mata hati dan rasa yang tidak terkawal, apalagi tanpa ada pembimbing ruhani, maka si pencari seolah berada dikegelapan, Tak ayal lagi, ibarat "si buta meraba gajah" maka apa yang terpegang itulah tuhan, itulah kebenaran. Na'udzubillah. Saya berdoa mudah-mudahan Allah menjaga hati kita dari kebutaan dan menjaga rasa kita dari keliaran, karena rasa adalah sesuatu yang tidak terbatas dan mesti dibatasi.

4. Tasawwuf selain merupakan ranah bathiniyah, juga merupakan laku spritual yang tidak bisa sepenuhnya dinilai dari sisi yang tampak saja. Maka jangankan yang kontra dengan Tashawwuf, bagi yang pro tashawwuf saja kalau hanya belajar dari buku, sekedar bertanya saja, atau sekedar mengikuti ceramah dimasjid atau tv, tanpa ada bimbingan mursyid, dipastikan tidak akan bisa memahami tashawwuf, paling banter hanya mengira-ngira. Dan yang muncul dari hasil kira-kira tidak lain adalah perkiraan juga. Sama seperti orang buta mengenali dirinya di depan cermin

Anonim mengatakan...

Dari beberapa point di atas, apakah kemudian merupakan langkah yang bijaksana untuk "memutlakkan" tashawwuf adalah sesat, harus dihindari, mesti dijauhi? Padahal ketika ilmu ini diharamkan maka akan terjadi kekosongan power dalam dalam diri seorang muslim, yang ada hanya kulit tanpa isi. Bukankah kekuatan terbesar dalam diri seorang muslim adalah "Memiliki DIA lebih dari memiliki apapun yang ada". Sehebat apapun cobaan yang dihadapi, sesulit apapun kehidupan yang dijalani, sepelik apapun masalah yang menghimpit, satu hal yang tidak boleh padam dalam diri seorang mukmin adalah: "Saya masih punya Tuhan."

Tidakkah Anda cermati sejarah? Betapa ketika Nabi Muhammad SAW berdua dengan Abu Bakar RA bersembunyi di Gua Tsur, hampir saja Nabi dilihat oleh orang kafir. Lalu Nabi berpesan "Jangan takut Abu bakar, Allah bersama kita!". Lihatlah! Nabi menghadirkan kesempurnaan agama dalam satu paket. Syariatnya nabi bersembunyi, Sisi bathinnya "Allah bersama kita".

Kita ini hamba, budak, dan tiada budak yang lebih beruntung kecuali budak yang memiliki dan dimiliki oleh Tuannya. Bagaimana cara "memiliki" Tuhan? Langkah awalnya, silakan Anda bolak-balik kitab-kitab Tashawwuf.

Anonim mengatakan...

Sesungguhnya Tugas seorang Sufi sangat berat saudaraku,

Selain harus menghancurkan berhala dirinya sendiri yang dibuat oleh muridnya (Dalam dunia tashawwuf, Guru sejati adalah yang mampu menghancurkan berhala dirinya yang dibangun oleh muridnya), dia harus membimbing sang "salik" menuju Allah, di ranah bathin ini dia harus mengantar langkah murid setapak demi setapak untuk menghindari ranjau ujub, ranjau sum'ah, ranjau sombong, ranjau riya, ranjau ego dan ratusan bahkan ribuan perangkap lainnya. Hingga nantinya Sufi dan murid menjadi pemenang dalam tiap pertempuran besar yang tiada kenal "berbuka" ini. Bertempur melawan dan menundukkan diri sendiri. Selamanya Sufi dan muridnya mempuasakan dirinya dari ke-egoan. Sehingga manusia menjadi raja yang menguasai dan mengendalikan dirinya tanpa dikuasai dan dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Beban itu terkesan semakin berat ketika Tashawwuf dan sufi menghadapi fitnah dari umat Islam sendiri. Banyak orang yang mengambil kesejukan dari ungkapan dan ajaran tashawwuf namun disisi lain mereka mengatakan "Wadi-wadi sufi beracun dan airnya tidak boleh diminum!" Begitukah kira-kira ungkapannya? Apakah karena mereka tidak mendapatkan "ماء غدق", "Air yang menyejukkan" ? Wallahu A'lam..

Anonim mengatakan...

Belum lagi munculnya artikel-artikel bantahan terhadap tashawwuf yang sama sekali tidak berimbang yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Berapa banyak yang secara jujur mengetengahkan ungkapan Imam Syafi'i secara lengkap? :
لو أن رجلا تصوف من أول النهار، لم يأت عليه الظهر إلا وجدته أحمق
Artinya : "Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi kekurangan akal"

yang diambil dari Manaaqib Al-Imaam Asy-Syaafi’iy li Al-Baihaqiy, Juz 2 Halaman 207.

Padahal kalau ingin mengetengahkan kejujuran dan menimbang firman Allah :
وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.

Niscaya mereka akan mengetengahkan keterangan lanjutan yang ada dalam kitab itu yang masih berada pada halaman yang sama yaitu halaman 207 juga :
قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولميرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر
Artinya : " Aku katakan : ”Sesungguhnya yang dimaksud (Imam Syafi'i) adalah orang yang masuk dalam shufi namun hanya cukup dengan nama bukan dengan makna (pengamalan), merasa cukup dengan simbol dan melupakan hakekat shufi, malas bekerja, membebankan nafkah pada kaum muslimin tapi tidak peduli dgn mereka, tidak menjaga haq-haq mereka, tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau menyifati hal ini pada tempat lainnya. "

Saya berdoa Mudah-mudahan Allah menjaga Anda dan Saya dari akhlak yang buruk terhadap sesama muslim, dan mudah-mudahan Allah menjaga kita dari kedustaan lahir maupun kedustaan bathin. Amin.

Anonim mengatakan...

Semua fitnah ini berkesan memberatkan perjuangan Sufi dalam membimbing "salik" untuk menjalin keakraban dengan Allah. Namun bagi Sufi, tidak ada yang berat selagi Sang Kekasih Yang Maha Pengasih ada menyertainya.

Laku tashawwuf tidak hanya mencakup nilai zuhud saja, namun lebih dari itu di dalamnya terdapat tempaan untuk membuat muslim menjadi insan yang tawadhu', sabar, khauf, raja', ridha, ikhlash dan pandai bersyukur. Anda boleh lihat adanya tingkatan maqamat dan ahwal dalam terminologi tashawuf semuanya membangun akhlak yang mahmudah.

Terkait adanya pemutlakan yang Anda istilahkan, siapa yang akan tahu bahwa yang dimaksud sebenarnya (oleh Imam Syafi'i dan ulama Islam lainnya) adalah orang yang hanya memakai identitas sufi namun tidak benar-benar menjalani laku tashawwuf, jika keterangan selanjutnya tidak dimunculkan? Tanpa diungkapkan siapa sebenarnya yang dicela oleh imam-imam tersebut, selama itu pula ketidak objektifan penilaian terhadap Sufi dan tasawuf akan terus berjalan.

Anonim mengatakan...

Terhadap teori "wahdah al-wujud", yang biasanya dinisbahkan kepada Syaikh Ibn 'Arabiy, saya sudah baca biografinya dan baca sebagian kitabnya, istilah ini tidak pernah ada dalam kamus Ibn 'Arabiy. Apakah istilah ini dimunculkan untuk berpolemik? Wallaahu A'lam.

Lebih penting dari itu tidak ada sufi sejati yang berpaham wahdah al-wujud atau paham bersatu dengan Tuhan. Untuk apa seorang hamba bersatu dengan Tuhan? Apa gunanya kalau seorang hamba sudah bersatu dengan Tuhan? Apa mau jadi Tuhan juga? Itu hanyalah godaan Syaithan dalam rasa seorang hamba pencari. Justru semakin dekat seorang hamba dengan Allah, ia semakin tawadhu', semakin lemah, dan ketergantungannya kepada Allah sangat tinggi. Maqam yang ingin dicapai dan digapai oleh sufi adalah maqam Cinta. Dan Cinta kepada Allah adalah awal perbudakan hamba kepada Tuhannya.

Anonim mengatakan...

Keterisian lahir (dengan syariat) dan bathin (dengan hakikat) inilah yang mesti ditampilkan "ala satu paket" dalam ibadah dan muamalah seorang muslim. Sehingga kesempurnaan Islam benar-benar maujud lahir dan bathin, luar dan dalam dan menjadi rahmat tidak hanya bagi muslim sendiri tapi juga bagi alam sekitar, seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasul Allah Muhammad, Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu untuk beliau.

Akhirnya mari kita sama berdoa mudah-mudahan Allah menjadikan kita lambang dari sebuah keselamatan lahir bathin sehingga nantinya hamba Allah yang lainnya berkeinginan untuk diselamatkan dalam Islam ini. Amin.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebenarnya jika hendak saya komentari komentar Anda, maka itu tentu membutuhkan satu lembar khusus untuk menuliskannya. Tapi akan saya tanggapi seringkas-ringkasnya sebagai berikut :

Pertama, terkait dengan bahasan judul,... terima kasih atas penjelasan Anda. Satu hal yang saya garis bawahi bahwa judul 'Al-Ghun-yah Lama' (meminjam istilah Anda) itu hanya ada pada cetakan yang Anda pegang, tidak pada sumber-sumber yang lain. Cukup bagi saya.

Kedua,... beberapa tulisan yang ada di internet yang Anda maksudkan, kalau menurut saya, itu bukanlah satu fitnah atau gosip untuk mendiskreditkan tashawwuf. Tentu saja ini sependek yang pernah saya baca, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa asing (Arab ataupun Inggris). Mungkin saja dalam detail perincian dalam kalimat-kalimat artikel tersebut ada kekeliruan, namuan secara global itu benar dan bukan fitnah. Coba Anda baca buku Talbiis Ibliis nya Ibnul-Jauziy, di situ ada pemaparan bagaimana talbis iblis yang ditimpakan kepada orang-orang shufiy. Imam Asy-Syaafi'iy - selain yang telah saya tuliskan di atas - pun mengatakan : "Aku tidak pernah melihat orang shuufiy yang berakal sedikitpun" [Al-Manaaqib, 2/207]. Perkataan-perkataan Asy-Syaafi'iy ini bersifat mutlak dalam hal pencelaan. Dan gaya bahasa seperti ini bukanlah dikatakan pada kelompok minoritas. Maksud saya, tidaklah Asy-Syaafi'iy mencela orang-orang Shufiy kecuali keadaan mayoraitas mereka memang seperti itu di jaman beliau. Tidak mungkin kalimat celaan itu diucapkan pada sekelompok kecil orang-orang Shuufiy.

Ketiga, Bagi orang yang pernah membaca kitab Al-Ghun-yah, setidaknya dengan scanning/membaca cepat, niscaya akan tahu bahwa Syaikh 'Abdul-Qadiir memang membahas tentang shuufiy dan tashawwuf. Dan sebagaimana telah saya tuliskan di atas, bahwa pendekatan Syaikh 'Abdul-Qaadir terhadap shuufiy adalah pendekatan dari sisi kezuhudan, dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip Ahlus-Sunnah. Dapat Anda lihat pula, beliau begitu memfokuskan pada 'aqidah dan syari'at. Beliau begitu memfokuskan pada kefaqihan. Anda dapat baca dalam juz pertama kitab Al-Ghunyah. Di sisi lain, Anda pun dapat lihat bagaimana gigihnya beliau membela 'aqidah Ahlus-Sunnah dan mencela kelompok-kelompok menyimpang. Manhaj beliau bisa dikatakan tidaklah berbeda dengan manhaj ahli-hadits yang lain. Telah ada buku khusus yang menelaah kitab-kitab beliau (Syaikh 'Abdul-Qadiir) yang berjudul : Asy-Syaikh 'Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy wa Araauhu Al-I'tiqaadiyyah wash-Shuufiyyah yang ditulis oleh Dr. Sa'iid bin Musfir Al-Qahthaaniy. Jika Anda membaca kitab ini, insya Allah Anda dapat membandingkan bagaimana 'aqidah dan manhaj beliau dengan 'aqidah dan manhaj kelompok-kelompok shuufiyyah.

Jika Anda hendak menyamakan antara beliau dengan thariqah-thariqah shuufiy yang ma'ruuf, apalagi yang eksis saat ini, sungguh sangat jauh sekali. Saya tidak mau berhalusinasi. Anda bisa lihat ini :

http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=E0nKMIHA0kA.

Di atas adalah realitas dan keterangan singkat mengenai thariqah Asy-Syadziliyyah Al-Qaadiriyyah dan pimpinannya yang namanya Haazim Abu Ghazaalah. Simak cara ibadah mereka yang menari-nari, berjoget-joget, dan menari-nari. Bukankah masyhur dari Asy-Syaafi'iy bahwasannya di antara sebab beliau meninggalkan Baghdad adalah karena orang-orang di sana melakukan taghbiir seperti di atas ?. Simak pula bagaimana jawaban Haazim Abu Ghazaalah tentang hukum rokok di akhir video. Anda dapat simpulkan apakah jawaban pembolehan Abu Ghazaalah ini didasarkan oleh kaedah-kaedah yang ma'ruf dalam syari'at ?.

Video-video semacam di atas masih banyak dicari di internet.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tentang wahdatul-wujuud, di atas saya tidak membatasinya dengan Ibnu 'Arabiy. Tapi itu sudah menjadi pengetahuan umum 'aqidah yang tercetus dan beredar di kaum shufiy. Dan sudah diketahui bagaimana Ibnu 'Arabiy melebihkan auliyaa (shufiy) di atas para Nabi [Fushuushul-Hikam, 1/62]. Nukilan-nukilan valid dari Ibnu 'Arabiy telah dibahas, yang salah satunya dalam kitab yang cukup tebal : Taqdiisul-Asykhaash fil-Fikrish-Shuufiy karya Muhammad Ahmad Luuh (2 jilid). Di antaranya disebutkan keyakinan bahwa imam shuufiy mampu menurunkan hujan, mampu menyebuhkan orang sakit, dan bahkan menghidupkan orang yang mati. Atau di dalam negeri, bagaimana kita dapat melihat dengan mudahnya bagaimana guru-guru thariqah (shuufiyyah) menyemarakkan jimat-jimat dengan dalih karamah.

Terlalu sempit ruang di komentar blog ini untuk menuliskan berbagai penyimpangan orang-orang Shuufiy. Apa yang saya yakini tentang kesesatan orang-orang Shuufiy ini alhamdulillah merupakan keyakinan yang pasti, dan saya tidak ragu tentang hal itu. Keyakinan saya ini berdasarkan teori dan realitas. Teori adalah berdasarkan dari referensi buku-buku, dan realitas berdasarkan apa yang saya lihat dan saya dengar. Sebagai catatan saja, saya pernah berbincang dengan salah satu 'guru besar' salah satu thariqah di kota Bogor, yang kemudian yang bersangkutan menyatakan bagaimana sebenarnya 'aqidah Iblis itu (bahwa ia bertauhid kepada Allah dan tidak mau sujud kepada Adam seperti malaikat).

Wallaahul-musta'aan.

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum ustadz,

Afwan, kitab Asy-Syaikh 'Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy wa Araauhu Al-I'tiqaadiyyah wash-Shuufiyyah yang ditulis oleh Dr. Sa'iid bin Musfir Al-Qahthaaniy, apakah judul terjemahan bahasa indonesianya berjudul : buku putih Syaikh Abdul Qadir Al Jilaniy?

Admin mengatakan...

Bismillah
afwan ustadz..Saya yang kurang ilmu ini ingin menanggapi secara singkat komentar Anonim 9 Februari 2012.
Seolah-olah saya menangkap gambaran sederhana maksud pernyataannya melalui kolom komentar ini adalah ingin mengatakan bahwa tanpa mempelajari ilmu tashawwuf/hakikat melalui bimbingan seorang sufi dan hanya belajar ilmu syariat sesuai Al Qur'an wa Sunnah kepada para ulama, maka agama seseorang itu tidak akan mungkin sempurna atau kosong dari "isi".

Sampai detik ini saya meyakini bahwa Islam telah sempurna. Saya juga meyakini bahwa kita hanya memandang dan menghukumi sesuatu yang tampak dan bukan yang bathin karena itu adalah urusan Allah. Dan saya juga meyakini bahwa dengan belajar ilmu sunnah dan berusaha mengikuti ulama salaf dalam meneladani rasulullah shallallahu'alaihi wassalam, maka dalam perkara bathin pun akan tumbuh dengan sendirinya perasaan merasa di awasi Allah, kita membutuhkan Allah dan kita rindu untuk berjumpa dengan Allah serta takut terhadap siksa Allah.

kesimpulannya saya agak bingung dengan ilmu tashawwuf yang dimaksudkan oleh akh' anonim 9 Februari itu seperti apa sih? jenisnya yang bagaimana? atau itu cuma nama tanpa ada wujudnya? dan prakteknya seperti apa? ataukah itu seperti kuliah pascasarjana ilmu tashawwuf kemudian setelah lulus dan menyandang gelar S2 ilmu tashawwuf dapat dikatakan bahwa dia telah ber"isi" ?!

-Hamidy Banjarmasin.-

Anonim mengatakan...

Oke. Saya sudah dapatkan pemahaman Anda bahwa Sufi adalah kaum yang menyimpang dari sunnah secara mutlak.

Untuk Link Video saya tanggapi : itu sifatnya kasuistik, saya juga berafiliasi dengan salah satu Thariqah dan tidak ada seperti itu, tidak juga dibenarkan dan diajarkan paham bersatu dengan Tuhan. Kalau untuk masalah realitas, di Arab Saudi juga banyak kasus-kasus yang tidak layak bagi kemaslahatan umat.


Sekarang saya akan ajukan pertanyaan kepada Anda, untuk melihat konsistensi Anda.

1. dalam halaman yang sama, pada kitab Manaaqib Al-Imaam Asy-Syaafi’iy li Al-Baihaqiy, Juz 2 Halaman 207 terdapat keterangan sebagai berikut :
قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولميرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر
Apakah ini tidak berpeluang untuk menggeser "pemutlakan" terhadap sufi sesat?

2. Apakah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy seorang Sufi? (saya pikir Anda tahu cukup bahwa mutlak berimplikasi pada sifatnya yang menyeluruh, tanpa pengecualian)?

3. Ibnu 'Arabiy melebihkan auliyaa (shufiy) di atas para Nabi [Fushuushul-Hikam, 1/62] Fushuushul-Hikam penerbit nya yang mana? Kalau bisa yang membahas tentang apa? barangkali sama dengan kitab yang saya punya biar saya mudah untuk melacaknya.

Mohon dijawab.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Untuk nomor 1 daqn 2, saya kira saya tidak perlu mengulangi apa yang telah saya tulis. Di atas masih ada.

Untuk nomor 3, yaitu Fushuushul-Hikam, tahqiq Abul-'Alaa' 'Afiifiy, Darul-Kutub 'Arabiy, Beirut, Cet. Tahun 1946 M. Ini saya ambil melalui perantaraan Taqdiisul-Asykhaash.

Anonim mengatakan...

Saya hanya perlu beberapa kata saja , ulangi saja jawaban Anda, ga akan membuang tenaga kok.
1. Dalam halaman yang sama, pada kitab Manaaqib Al-Imaam Asy-Syaafi’iy li Al-Baihaqiy, Juz 2 Halaman 207 terdapat keterangan sebagai berikut :
قلت : وإنما أراد به من دخل في الصوفية واكتفى بالاسم عن المعنى، وبالرسم عن الحقيقة، وقعد عن الكسب، وألقى مؤنته على المسلمين، ولم يبال بهم، ولميرع حقوقهم ولم يشتغل بعلم ولا عبادة، كما وصفهم في موضع آخر
Apakah ini tidak berpeluang untuk menggeser "pemutlakan" terhadap sufi sesat?
pilihan jawaban cuma 2 :
a. tidak akan menggeser "pemutlakan" terhadap sufi sesat
b. akan menggeser "pemutlakan" terhadap sufi sesat

Jawaban Anda a atau b?

2.Apakah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy seorang Sufi? (saya pikir Anda tahu cukup bahwa mutlak berimplikasi pada sifatnya yang menyeluruh, tanpa pengecualian)?

Pilihan jawaban cuma 2:
a. bukan sufi
b. Sufi

Jawaban Anda a atau b?

Anda tinggal menambahkan huruf a atau b untuk masing-masing nomor dibawah ini:

1.

2.

Ibnu Abi Irfan mengatakan...

ANONIM SHUFI berkata: "Laku tashawwuf tidak hanya mencakup nilai zuhud saja, namun lebih dari itu di dalamnya terdapat tempaan untuk membuat muslim menjadi insan yang tawadhu', sabar, khauf, raja', ridha, ikhlash dan pandai bersyukur."

semua laku itu bukan monopoli tashawwuf saya ya akhi. ana juga sering baca buku, baca artikel, dengar kajian, sharing dengan ikhwan salafi/wahabi. ana belajar laku itu semua dari mereka. bahkan dengan membaca riwayat hidup ulama salafi/wahabi, misalnya Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al Albani, ana belajar tentang ketawadhu'an, kesabaran, keikhlasan, dan lainnya dari beliau berdua, padahal mereka berdua bukan seorang Shufi.

kemudian jangan mendalihkan adanya ajaran tentang tawadhu', sabar, ikhlas dan lainnya itu untuk membela Tashawwuf, karena point yang 'diserang' oleh salafi/wahabi bukan itu. selama Shufi hanya mengajarkan tentang tawadhu', sabar, dan ikhlas, maka tidak akan muncul 'serangan' dari salafi/wahabi terhadap Tashawwuf. namun faktanya LAKU Tashawwuf bukan hanya itu. di antaranya telah disebutkan Ustadz Abul Jauza: menari-nari, menyanyi, memainkan alat musik, sholawat bid'ah, bahkan mengandung kesyirikan, wahdatul wujud, dan lain-lain. ini point yang 'diserang' oleh salafi/wahabiheshu

Anonim mengatakan...

Untuk pertanyaan saya nomor 3 (tiga), saya sudah lihat dalam kitabnya, yang pada bagian tersebut membahas tentang : فص حكمة نفثية فى كلمة ثيثية yang membahas dua topik utama yaitu : (1) Pemberian Ilahi serta (2) Subjek dan fungsi pada masing-masing tanda kenabian dan tanda kewalian.
Perlu Anda ketahui bahwa Auliya dan Shufiy adalah dua hal yang berbeda, walaupun bisa saja disandang oleh satu orang secara personal.

Terkait tuduhan Anda bahwa Ibnu 'Arabiy melebihkan Auliyaa (shufiy) di atas para Nabi; yang saya temukan pada pembahasan tersebut bukan seperti itu kesimpulannya. Tak perlu juga saya urai isinya. Dari pembahasan sebelumnya, kemudian lanjut ke kata yang Anda tuduhkan, kemudian berakhir terhadap dua contoh yang dipaparkan oleh Syaikh, maka sama sekali tidak ada yang patut dituduhkan bahwa Syaikh melebihkan derajat Auliya' dari Rasul/Nabi.

Anonim mengatakan...

Terhadap 2 pertanyaan lainnya, Saya berasumsi bukannya Anda tidak bisa menjawab pertanyaan Anda, namun Anda terperangkap dalam jerat yang Anda bikin sendiri. Sehingga Anda bingung untuk memastikan jawaban Anda.

Kalau Anda mengatakan :"saya kira saya tidak perlu mengulangi apa yang telah saya tulis. Di atas masih ada."

Yang mana yang mesti saya pegang? terdapat adanya inkonsistensi dalam komentar Anda.

Anda menukil pencelaan Imam Syafi'i dalam Manaqib yang ditulis oleh Imam Baihaqiy, namun keterangan dari Imam Baihaqiy tentang apa yang dimaksud oleh Imam Syafi'i (yang masih belum beranjak dari halaman yang sama) tidak Anda hiraukan. Kalau penjelasan Imam Baihaqiy sendiri tidak ada artinya buat Anda, buat apa Anda merujuk ke kitabnya? Suatu logika yang aneh.

Karena keanehan cara pikir Anda inilah kemudian Anda mengatakan bahwa:
"beberapa tulisan yang ada di internet yang Anda maksudkan, kalau menurut saya, itu bukanlah satu fitnah atau gosip untuk mendiskreditkan tashawwuf. Tentu saja ini sependek yang pernah saya baca, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa asing (Arab ataupun Inggris). Mungkin saja dalam detail perincian dalam kalimat-kalimat artikel tersebut ada kekeliruan, namuan secara global itu benar dan bukan fitnah"

Anda bilang secara global itu benar dan bukan fitnah?

Kasus pembanding:
Ketika ada non muslim menuliskan dan menyodorkan pada Anda bahwa Islam itu hanya memerintahkan umatnya untuk perang, membunuh, merampas dan perbuatan keji lainnya dengan mengutip sebagian ayat al-Quran, apakah menurut Anda secara global itu benar dan bukan fitnah?

Saya yakin 100 % Anda pasti menjawab "itu tidak benar dan itu adalah fitnah!" Kalau kemudian Anda ditanya "Kenapa itu tidak benar dan itu adalah fitnah?" Diantara jawaban Anda adalah bahwa "Ayat itu dikutip secara serampangan dan tidak disajikan secara lengkap dan jadinya bernilai tidak objektif."

Sama halnya dengan orang yang menyodorkan perkataan Imam Syafi'i dalam manaqib yang ditulis oleh Imam Baihaqiy yang tidak disajikan secara lengkap bahkan untuk satu halaman saja! Kalau menurut Anda mungkin itu kekeliruan, maka hal tersebut adalah kekeliruan yang harus segera diperbaiki, paling tidak dengan mengindahkan dan menerima penjelasan Imam Baihaqiy.

Anonim mengatakan...

Hal kedua, tentang tokoh yang jadi bahan pembicaraan "Syaikh Abdul Qadir Jailaniy". Dari jawaban-jawaban Anda dalam komentar artikel Anda ini, Saya pastikan Anda tidak konsisten dalam pemahaman Anda, dan yang menjadi "senjata makan tuan" buat Anda adalah istilah "pemutlakan" yang Anda bawa-bawa dalam komentar Anda.

Saya berasumsi Anda tidak memiliki kitab "al-Ghunyah" ini. Kalaupun Anda punya, Anda tidak membacanya, kalaupun Anda membacanya, Anda tidak paham isi kitab ini. Karena tidak mungkin orang yang melihat dan memahami isi kitab al-Ghunyah yang didalamnya terdapat Bab tentang Thasawuf ditulis oleh Ulama yang secara umum di dunia Islam dikenal dengan Shufiy, Bukanlah serang Shufiy.

Melihat jawaban pertama Anda : Beliau adalah seorang ulama Ahlus-Sunnah.
Namun tidak ada seorang pun yang ma'shum selain Nabi shallallaahu 'alaihii wa sallam.

Saya melihat (berasumsi) bahwa Anda berusaha menghindar dengan tidak menjawab "Iya, beliau Shufiy" atau "Bukan, Beliau bukan Shufiy". Namun sayangnya Anda telah terlebih dahulu memperlihatkan amunisi Anda dengan mengatakan: "Namun tidak ada seorang pun yang ma'shum selain Nabi shallallaahu 'alaihii wa sallam." Ini adalah senjata umum bagi orang yang malu-malu atau bahkan enggan mengatakan Syaikh Abdul Qadir seorang Shufiy. Jawaban ini akan keluar ketika penanya menyatakan: Tapi Syaikh Abdul Qadir Jailani ada mengamalkan tashawuf. Maka yang jadi point ketidak-ma'shum-an disini adalah kekeliruan Syaikh Abdul Qadir Jailaniy yang bertashawwuf.

Anonim mengatakan...

Asumsi saya lebih menguat lagi ketika menerima jawaban Anda untuk kedua kalinya dengan pertanyaan yang sama:
Apakah beliau seorang Shufiy?

Jawaban Anda :
Bukan. Beliau berdiri di atas 'aqidah Ahlus-Sunnah secara umum. Adapun seandanya ada kekeliruan yang berasal dari beliau, dan kemudian mencocoki sebagian perkara dari orang-orang Shufiy, tidak mesti harus menjadikan beliau seorang Shufi.

Kalau asumsi saya salah, maka saya tanyakan :
1.Apa yang Anda maksudkan dengan jawaban Anda "Namun tidak ada seorang pun yang ma'shum selain Nabi shallallaahu 'alaihii wa sallam" Terkait dengan pertanyaan saya "Apakah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy seorang Shufiy?"

2.Adakah kekeliruan yang berasal dari beliau yang kemudian mencocoki sebagian perkara dari orang Shufiy? Kalau ada, apa contohnya?

Anonim mengatakan...

Lain lagi jawaban yang muncul ketika saya menyodorkan data-data yang menguatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir adalah seorang Shufiy.

Ringkasan jawaban Anda : "Tentu saja Shufiy dalam pengertian ini benar. Ulama salaf menyebut ini sebagai zuhd. Berbeda lafadh saja"

Siapa ulama salaf yang menyebut Shufiy sebagai Zuhd? Silakan tuliskan beserta ucapannya.

Saya katakan pada Anda sekali Lagi, Shufiy tidak sama dengan zuhd, Shufiy itu orang yang bertashawwuf yang berada pada tingkatan "منتهى", Zuhd bukan orang, tapi sikap atau sifat mahmudah dalam akhlak muslim. Kalau Anda mau menyama-nyamakan juga maka begini seharusnya: Mutashawwif = Mutazahhid, Shufi = Zahid.

Tapi tetap saja Shufiy tidak selalu sama dengan Zahid. Kezuhudan adalah bagian dari akhlak mahmudah dalam Agama Islam dan merupakan laku spritual yang dituntut untuk ada bagi "muthasawwif" dalam dunia tashawwuf. Untuk lebih jelasnya silakan Anda rujuk kembali isi kitab al-Ghunyah. Jadi sekali lagi saya katakan: "Shufiy tidak sama dengan zahid, walupun zuhd merupakan salah satu akhlak Shufiy."

Sebenarnya sampai pada batasan ini, paling tidak Anda sudah memberi ruang untuk dihargainya Shufiy dan tashawwuf dalam Islam (walaupun pengertian Shufiy dan zuhd "hanya beda lafadzh" yang Anda kemukakan itu salah). Namun semua jadi berantakan dan memperlihatkan inkonsistensi pemahaman Anda sendiri, ketika Anda menyertakan dan membawa-bawa istilah "pemutlakan" terhadap Tashawwuf dan Shufiy. Anda mengatakan : "kemudian mereka memutlakkan istilah bahwa Shuufiy ini adalah kaum yang menyimpang dari sunnah"

Saya tanyakan pada Anda : Siapa "mereka" yang memutlakkan bahwa Shufi adalah kaum yang menyimpang dari sunnah? Silakan tunjukkan siapa orangnya beserta kata-kata dari orang tersebut yang menunjukkan bahwa Shuufiy ini adalah kaum yang menyimpang dari sunnah.

Anonim mengatakan...

Anda mungkin lebih paham, bahwa sesuatu kalau sudah dikategorikan "mutlak" menyimpang dari sunnah, maka konsekuensi pemutlakan ini adalah : Tashawuf dan Shufiy, siapapun Shufiynya, mayoritasnya kah, minoritasnya kah, yang benarnya, yang salahnya, yang pura-pura Shufiy, yang sebenarnya Shufiy, termasuk juga Shufiy yang dipuji oleh Ibn Taimiyah dan Ibnul Qoyyim, adalah mutlak menyimpang dari sunnah. Tidak bisa tidak, ini konsekuensi dari pemutlakan tersebut.

Melirik kepada inkonsistensi Anda ini, saya jadi teringat akan inkonsisteni Utsaimin dalam membagi bid'ah. Pepatah mengatakan : "Tidak mungkin kayu bengkok akan mendatangkan bayangan lurus." Tanya kenapa?

Wassalam

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sudah puas mengeluarkan segala uneg-uneg Anda ?.

Saya persilakan Anda berfilsafat untuk membela shufiyyah, itu adalah hak Anda. Saya persilakan pula Anda menilai saya tidak tidak punya kitab Al-Ghun-yah, tidak membaca, dan tidak paham isinya. Toh imajinasi Anda itu pun tidak mengubah apa-apa. Dan saya informasikan kepada Anda bahwa saya memang belum membaca semua matan kitab Al-Ghun-yah dari awal sampai akhir pasal demi pasal. Karena, cara membaca saya atas kitab Al-Ghun-yah adalah apa yang perlu saja sesuai dengan kebutuhan. Untuk menyingkat waktu dalam memahami bagqaimana ‘aqidah dan manhaj Syaikh ‘Abdul-Qadiir, saya banyak terbantukan oleh hasil penelitian Dr. Sa’iid bin Musfir Al-Qahthaaniy di atas.

Sebagaimana Anda menyangsikan saya, saya pun juga menyangsikan hal yang serupa kepada Anda. But, this is not my core....

Sebenarnya apa yang saya katakan di atas adalah jelas – menurut saya. Benar bahwasannya sebagian kecil ulama Ahlus-Sunnah terdahulu menggunakan kata shufiy dan menyandarkan sebagian agama mereka kepada istilah ini. Namun mereka memaksudkan dengannya adalah zuhd. Itu bisa dilihat dengan jelas dari definisi yang diungkapkan sendiri oleh Syaikh ‘Abdul-Qaadir Al-Jiilaniy yang saya kutip. Coba Anda baca beberapa pengertian zuhd di antaranya di http://www.alukah.net/Web/triqi/0/34932/. Anda tidak perlu merekayasa pemahaman sendiri akan makna shufiy menurut Syaikh ‘Abdul-Qaadir. Oleh karena itu jika dikatakan beliau adalah tokoh shuufiy dalam pengertian zuhd (sebagaimana yang beliau jelaskan dalam Al-Ghun-yah), maka saya jawab : benar.

Jika Anda anggap saya telah inkonsisten dengan memutlakkan shuufiyyah telah menyimpang dari sunnah, bukankah saya telah jelaskan keterangannya ? (yaitu ketika orang-orang shuufiy melakukan ghulluw dan penyimpangan). Bukankah Asy-Syaafi’iy ketika mengatakan bahwa beliau tidak pernah melihat seorang shufiy yang berakal sedikitpun; tidaklah seseorang mempraktekkan ajaran shufiy di awal siang (pagi hari) maka tidak sampai waktu Dhuhur ia menjadi orang dungu; dan yang lainnya dari perkataan beliau; bukankah bentuk kalimat-kalimat ini merupakan pemutlakan ?. Apakah beliau dalam kalimat nya itu membuat perkecualian ?. Dan ingat bung Anonim,.... perkataan qultu : wa innamaa araada bihii... dst. itu bukan perkataan Asy-Syaafi’iy. Akan tetapi perkataan Al-Baihaqiy !!.

Telah saya katakan sebelumnya bahwa yang dikatakan Asy-Syaafi’iy itu tidak mungkin dalam konteks sebagian kecil kaum shuufiy. Kalau susah untuk mengatakan semua, minimal, maka sebagian besar kaum Shuufiy yang dilihat Asy-Syaafi’iy itu sebagaimana yang ia katakan di atas. Dan telah dimaklumi dalam syari’at bahwa sesuatu itu dapat dihukumi menurut keumumannya. Misalnya ketika saya ditanya : ‘Apa hukum rokok ?’. Maka saya jawab : ‘Rokok itu haram, karena dapat merusak kesehatan dengan bukti medis yang jelas’. Kan ada rokok herbal yang dikatakan bisa menyembuhkan penyakit ?. Seandainya perkataan itu benar, itu pun tidak menghalangi untuk mengatakan bahwa rokok itu haram karena kebanyakan rokok yang beredar di masyarakat memang rokok tembakau yang menyebabkan sakit. Begitu juga ketika ditanya : ‘Apakah hukum bir ?’. Saya katakan : ‘Haram, karena ia termasuk khamr yang memabukkan’. Bukankah ada bir dengan kadar 0% ?. Kalaupun seandainya ada, dan taruhlah bebas akan syubhat, tetap saja tidak menghalangi untuk mengatakan bahwa bir itu hukumnya haram. Contoh aplikasi lain dalam bahasan fiqh semacam ini sangatlah banyak.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Adapun perkataan Asy-Syaafi’iy dalam syi’ir nya yang sering dijadikan hujjah para shufiyyuun :

فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحداً ** فإِني وحَقِّ اللّهِ إِياكَ أنصحُ

فذالكَ قاسٍ لم يذقْ قلبهُ تُقىً ** وهذا جَهولٌ كيف ذو الجهل يصلحُ

“Jadilah kamu seorang faqiih dan shuufiy sekaligus, jangan hanya menjadi salah satunya. Sesungguhnya aku, demi Allah, menasihatimu.... Karena orang yang faqih tanpa bertashawuuf hatinya akan menjadi keras dan tidak merasakan kelezatan taqwa. Adapun orang shufiy tanpa mempelajari fiqh adalah bodoh, lantas bagaimana orang bodoh akan menjadi baik ?”.

Nisbah syi’ir ini kepada Asy-Syaafi’iy juga perlu dipertanyakan lebih lanjut. Mengapa ?. Dari sisi isinya mengandung kebathilan. Syi’ir itu telah meniadakan ketaqwaaan dari orang yang faqiih. Ini adalah bathil menurut ijma’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من يرد الله به خيراً يفقه في الدين

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, akan Allah faqihkan ia dalam agama”.

نعم النساء نساء الأنصار لم يكن يمنعهن الحياء أن يتفقهن في الدين

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, dimana rasa malu mereka tidak menghalangi mereka untuk ber-tafaqqah dalam agama mereka”.

Kefaqiihan dalam hadits di atas tentu saja bersanding dengan ketaqwaan.

Bagaimana pula orang yang faqiih bisa dinisbatkan dengan kekerasan hati secara mutlak ?. Betapa banyak fuqahaa’ salaf dari kalangan shahabat, tabi’iin, dan atbaa’ut-taabi’in yang tidak bertashawwuf ria ?. Oleh karenanya, perlu kita pertanyakan kebenaran bait sya’ir dalam Ad-Diiwaan di atas yang dinisbatkan kepada Asy-Syaafi’iy. Apalagi ditambah fakta bahwa Taqiyyuddin As-Subkiy menyatakan telah terjadi penambahan dalam syi’ir-syi’ir Asy-Syaafi’iy – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Durarul-Kaminah saat menyebutkan biografi Abul-Hasan Nuuruddin Al-Haasyimiy. Ditambah lagi kenyataan sebagaimana di atas, bahwasannya telah masyhur nukilan perkataan Asy-Syaafi’iy dalam mencela shuufiyyah. Asy-Syaafi’iy pun – masih dalam kitab Al-Manaaqib lil-Baihaqiy – berkata tentang ciri-ciri orang Shuufiy :

لا يكون الصوفي صوفيا حتى يكون فيه أربع خصال : كسول، أكول، نئوم، كثير الفضول

“Tidaklah seorang shufiy menjadi shufiy hingga ada pada dirinya empat hal : malas, banyak makan, bersikap pesimis, dan berlebihan di luar keperluan” [2/207].

Apakah perkataan beliau ini kurang jelas dalam pencelaan ? (hingga beliau berkata : laa yakuunush-shuufiy shuufiyyan ?).

Selain Asy-Syaafi’iy, banyak loh yang mencela shuufiyyah. Satu contoh tambahan sebagaimana dikatakan Al-Qaadliy ‘Iyaadl dalam Tartiibul-Madaarik (2/54) :

قال التنيسي : كنا عند مالك وأصحابه حوله، فقال رجل من أهل نصيبين : عندنا قوم يقال لهم الصوفية، يأكلون كثيرا ثم يأخذون في القصائد، ثم يقومون فيرقصون. فقال مالك : أصبيان هم ؟. قال : لا. قال : أمجانين هم ؟. قال : لا، هم قوم مشايخ عقلاء. فقال مالك : ما سمعت أن أحدا من أهل الإسلام يفعل هذا

Bukankah salah satu sebab Asy-Syaafi’iy meninggalkan Baghdaad adalah bid’ahnya Shuufiyyah seperti ini sebagaimana perkataannya :

تركت بالعراق شيئا يسمونه التغبير وضعته الزنادقة يصدون به الناس عن القرآن

“Aku meninggalkan Baghdad karena munculnya sesuatu di sana yang mereka namakan dengan At-Taghbiir yang telah dibuat oleh kaum Zanadiqah. Mereka memalingkan manusia dari Al-Qur’an” [Nuzhatul-Asmaa’ fii Mas-alatis-Simaa’ oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly, Daaruth-Thayyibah 1407].

Ya,.... zanadiqah ini adalah dari orang-orang Shuufiy.

Terkait dengan ini,.... saya kira, perkataan Anda yang menyatakan video dari thariqah Syaadziliyyah Qaadiriyyah beserta pimpinannya yang saya bawakan di atas merupakan kasuistis adalah halusinasi semata. Lihat juga yang ini :

http://www.youtube.com/watch?v=nPToGrJagwg

Dan ingat bung Anonim,.... ini bukan perkara yang jarang untuk didapat dan dilihat.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dan ini perkataan Ibnul-‘Arabiy Al-Maalikiy Al-Mufassir tentang shuufiyyah :

فأما طريقة الصوفيّة أن يكون الشيخ منهم يوماً وليلة , وشهراً , مفكّراً , لا يفتر , فطريقةُ بعيدة عن الصواب , غير لائقة بالبشر , ولا مستمرة على السنن

[Ahkaamul-Qur’aaan, 4/57].

Hal semisal dikatakan oleh Al-Qurthubiy dalam Tafsiir Al-Qurthubiy (4/315). Al-Qurthubiy juga berkata :

وهذا السجود المنهيّ عنه، قد اتخذه جُهَّالُ المتصوّفة، عادةً في سماعهم، وعند دخولهم على مشايخهم واستغفارهم، فيرى الواحد منهم إذا أَخذه الحال بزعمه، يسجد للأقدام لجهله، سواء أكان للقبلة أم غيرها، جهالة منه، ضَلَّ سَعْيُهم، وخاب عملهم

[Tafsir Al-Qurthubiy, 1/293-294].

Abu Hayyaan Al-Andalusiy berkata :

و مِنْ بعضِ اعتقادِ النصارى استنبطَ مَنْ تستّر بالإسلام ظاهراً وانتمى إلى الصوفية حُلولَ الله تعالى في الصور الجميلة ، ومن ذهب من ملاحدتهم إلى القول بالاتحاد والوحدة ، كالحلاج والشوذي وابن أحلى وابن عربي المقيم بدمشق وابن الفارض ، وأتباع هؤلاء كابن سبعين وتلميذه التستري وابن المطرّف المقيم بمرسية والصفّار المقتول بغرناطة وابن لباج وابن الحسن المقيم بلوزقة

[An-Nahrul-Maad, 3/448].

Dan lainnya masih banyak.....

Terkait dengan perkataan saya sebelumnya bahwa Syaikh ‘Abdul-Qadiir itu tidak ma’shum dan seandainya ada beberapa perkara dari beliau yang menyamai kaum shuufiyyah (yang menyimpang) maka tidak lantas menjadikan beliau sebagai shufiy;... apa yang salah dengan perkataan ini ?. Ini adalah perkataan umum. Contoh seperti ini banyak bung. Abu Haniifah adalah imam Ahlus-Sunnah yang tergelincir dalam masalah irjaa’ terkait permasalahan iman. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa beliau ini termasuk imam firqah Murji’ah karena ketergelincirannya tersebut. Mengapa ? Sisi kesesuaian ushul beliau dengan Ahlus-Sunnah lebih banyak daripada ketergelinciran beliau tersebut. Juga Ibnu Hazm. Beliau banyak dikritik dalam permasalahan shifaat Allah. Bahkan Ibnu ‘Abdil-Hadiy mengkritik beliau dengan keras dengan menisbatkan pada pemahaman tajahhum. Namun tidak bisa beliau dimutlakkan – wallaahu a’lam – (dengan ketergelinciran yang beliau lakukan) beliau sebagai tokoh Mu’tazillah selevel dengan Al-Qaadliy ‘Abdul-Jabbaar atau tokoh Jahmiyyah selevel dengan Bisyr Al-Maarisiy. Hal yang sama dengan Syaikh ‘Abdul-Qaadir. Seandainya ada ketergelinciran beliau dalam dunia tashawwuf, maka tidak bisa dikatakan bahwa beliau itu tokoh tashawwuf sebagaimana halnya Al-Hallaj, Ibnu ‘Arabiy, Al-Qusyairiy, Al-Ghazaliy, dan yang lainnya. Anda bisa lihat bagaimana ‘aqidah dan manhaj beliau yang tergambar dalam Al-Ghun-yah sangat bertentangan dengan mereka-mereka itu.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tentang perkataan Ibnu ‘Arabiy yang melebihkan para wali daripada para nabi, bener ni Anda pegang versi cetakan yang sama dengan yang saya maksud ?. Jangan-jangan cetakan lain sehingga gak menemukan. Ini yang dikatakan Ibnu ‘Arabiy :

وليس هذا العلم إلا لخاتم الرسل وخاتم الأولياء، وما يراه أحد من الأولياء والرسل إلا من مشكاة الرسول الخاتم، ولا يراه أحد من الأولياء إلا من مشكاة الولي الخاتم. حتى إن الرسل لا يرونه متى رأوه إلا من مشكاة خاتم الأولياء. فإن الرسالة والنبوة أعني نبوة التشريع ورسالته ينقطعان، والولاية لا تنقطع أبدا. فالمرسلون من كونهم أولياء لا يرون ما ذكرناه إلا من مشكاة خاتم الأولياء

Jelas ?. Buka lagi halaman selanjutnya dimana ia berkata :

ولما مثل النبي صلى الله عليه وسلم النبوة بالحائط من اللبن، وقد كمل سوى موضع لبنة، فمكان الرسول صلى الله عليه وسلم تلك اللبنة، غير أنه صلى الله عليه وسلم لا يراها إلا كما قال: لبنة واحدة. وأما خاتم الأولياء فلا بد له من هذه الرؤيا، فيرى ما مثله به رسول الله صلى الله عليه وسلم ويرى في الحائط موضع اللبنتين واللبن، من ذهب وفضة. فلا بد أن يرى نفسه تنطبع في موضع تينك اللبنتين، فيكون خاتم الأولياء تينك اللبنتين، فيكمل الحائط
.......................
كما هو آخذ عن الله في السر ما هو بالصورة الظاهرة متبع فيه؛ لأنه يرى الأمر على ما هو عليه، فإنه آخذ من المعدن الذي يأخذ منه الملك الذي يوحي به إلى الرسول" ويقول: "وفينا من يأخذه عن الله، فيكون خليفة عن الله بعين ذلك الحكم

Silakan Anda terjemahkan agar para Pembaca menjadi saksi apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabiy melalui terjemahan Anda sendiri. Tidak ada di antara para shahabat, tabi’iiin, atau atbaa’ut-taabi’iin yang shaalih dari kalangan Ahlus-Sunnah yang mengatakan semisal Ibnu ‘Arabiy yang zindiiq itu.

Tentang perkataan Wahdatul-Wujuud nya Ibnu ‘Arabiy, silakan Anda (dan para Pembaca semua) buka halaman web : http://www.alsoufia.com/main/articles.aspx?article_no=1633.

Terakhir,... jika Anda mengatakan tidak semua shuufiy itu sesat, mungkin Anda bisa contohkan waqii' thariqah apa yang tidak sesat (menurut Anda). Apakah Naqsyabandiyyah, Syaadziliyyah, Rifaa'iyyah, atau apa.... terserah antum sebut thariqah apa. Atau thariqah yang Anda berafiliasi di dalamnya. Barangkali saya bisa bertaubat dari pemikiran yang mungkin Anda anggap sesat ini (karena telah menyesatkan Shuufiyyah). Saya kira, saya tidak membutuhkan retorika atau teori-teori seperti di atas. Oleh karena itu, saya pikir dengan mengetahui thariqah shuufiyyah yang tidak sesat (menurut Anda) dapat menjadi barometer bagi saya.

Maaf, jika di atas saya menggunakan referensi link web, karena sarana itulah yang paling gampang untuk menunjukkan sesuatu (tanpa saya berpayah-payah mengetik ulang). Selain itu, semua orang juga bisa mengaksesnya dengan mudah.

Wallaahu a'lam.

NB 1 : O iya, saya pun tahu bahwa zuhd itu bukan orang. Subjek atau pelakunya disebut zaahid. Itu jelas lah dalam bahasa Arab. So, please jangan memeperpanjang sesuatu yang Anda sendiri mengetahui apa sebenarnya maksud saya. OK beibe ?.

NB 2 : Penyimpangan shuufiyyah tidaklah dalam satu thabaqah sebagaimana dimaklumi. Ada yang penyimpangannya sampai tahap mengkafirkan pelakunya adapula yang tidak.

penyimak mengatakan...

ana lihat jawaban abul jauza kok linglung ya ??

banyak pertanyaan gak terjawab
bisanya hanya copas sana copas sini ...

admin di sini seharusnya tau malu ... semoga tidak akan malu nanti di akherat dengan bertaubat


buanglah semua ego .. berdakwalah secara ikhlas ..

dan saya liahat jawaban anda di akhir ini tidak ada bedanya dengan kerucu kerucu salafi kelas teri


maaf ... ini yang saya liat

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saya maafkan....

Anonim mengatakan...

@penyimak
komentar antum ga berbobot sama sekali. Jika jawaban akh Abul-Jauzaa linglung maka tunjukkan bagian mana yang antum ga ngerti. Jangan nyerocos begitu aja. Jadilah orang yg cerdas. Antum mengatakan linglung tapi bisa jadi otak antum yg ga sampai. Justru ana lihat antum yg malu-maluin diri antum.

Buat Akh Abul-Jauzaa, teruslah buat artikel-artikel yang bermanfaat. Alhamdulillah banyak sekali manfaat yg ana peroleh dari blog antum ini.

JazakAllahu khoiron wa barakAllahu fiik

Abu Abdissalam