'Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah dalam Sifat Allah ta'ala


Allah ta’ala berfirman :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ

“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu” [QS. Al-Maaidah : 64].

وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

“Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” [QS. Az-Zumar : 67].

Setelah menyebutkan dua ayat tersebut, Al-Imam Al-Humaidiy rahimahullah (guru dari Al-Imam Al-Bukhariy rahimahullah) berkata :

وما أشبه هذا من القرآن والحديث، لا نزيد فيه ولا نفسره. نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة. ونقول : (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)، ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي.

“Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang serupa dengan ini, maka kami tidak menambah-nambahi dan tidak pula menafsirkannya (menta’wilkannya). Kami berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. Dan kami berkata : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Barangsiapa yang berpendapat selain itu, maka ia seorang Mu’aththil Jahmiy” [Ushuulus-Sunnah oleh Al-Humaidiy, hal. 42, tahqiq : Misy’aal Muhammad Al-Haddaadiy; Daar Ibn Al-Atsiir, Cet. 1/1418].

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

وقال بشر بن موسى: ثنا الحميدي، وذكر حديث " إن الله خلق آدم على صورته " .
فقال: لا تقول غير هذا على التسليم والرضا بما جاء القرآن والحديث. لا تستوحش أن تقول كما القرآن والحديث.

“Dan telah berkata Bisyr bin Musa : Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidiy, dan ia (Al-Humaidiy) menyebutkan hadits : ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya’.[1] Beliau berkata : ‘Kami tidak mengatakan yang lain selain ini dikarenakan sikap taslim (berserah diri) dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits” [Taariikhul-Islaam, juz 7; Maktabah Ruuhil-Islaam].

Al-Qadli Abu Ya’la rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata :

وأن له يدين بقوله (بل  يداه مبسوطتان) وأن له يميناً بقوله (والسموات مطويات بيمينه) , وإن له وجهاً بقوله (كل شيء هالك إلا وجهه), وقوله (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام) وأن له قدماً بقول النبي صلى الله عليه وسلم (حتى يضع الرب عز وجل فيها قدمه) يعني جهنم ...

“Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan dengan dalil firman-Nya : “Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64).  Dia juga memiliki wajah dengan dalil firman Allah : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah” (QS. Al-Qashaash : 88) dan juga firman-Nya : “Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rahmaan : 27). Dia juga mempunyai kaki dengan dalil sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Hingga Rabb (Allah) ‘azza wa jalla meletakkan kaki-Nya padanya…” (HR. Bukhari dan Muslim) yaitu pada neraka” [Thabaqat Al-Hanabilah oleh Al-Qaadliy Abu Ya’la Al-Farraa’, 2/269, tahqiq : Dr. ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin; Cet. Tahun. 1419].

Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ary rahimahullah berkata :

وأن له سبحانه وجها بلا كيف، كما قال: (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام). وأن له سبحانه يدين بلا كيف، كما قال سبحانه: (خلقت بيدي)، وكما قال: (بل يداه مبسوطتان). وأن له سبحانه عينين بلا كيف، كما قال سبحانه: (تجري بأعيننا).

“Dan bahwasannya Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya : ‘Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’ (QS. Ar-Rahman : 27).  Dia jga mempunyai dua tangan tanpa menanyakan ‘bagaimananya’, sebagaimana firman-Nya : “Yang telah Ku-ciptakan dengan dua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75) dan firman-Nya : “…..tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64). Dan Dia subhaanahu juga mempunyai dua mata tanpa menanyakan ‘bagaimananya’, dengan dalil firman Allah subhaanahu : “Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan mata) Kami” (QS. Al-Qamar : 14) [Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 9; Daar Ibni Zaiduun, Cet. 1].

Syaikhul-Islam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata :

ولا يعتقدون تشبيهاً لصفاته بصفات خلقه ، فيقولون: إنه خلق آدم بيديه ، كما نص سبحانه عليه في قوله عزّ من قائل: قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ، ولا يحرفون الكلم عن مواضعه ، بحمل اليدين على النعمتين أو القوتين ، تحريف المعتزلة والجهمية أهلكهم الله ولا يكيفونهما بكيف، أو يشبهونهما بأيدي المخلوقين، تشبيه المشبهة خذلهم الله

“Mereka (Ahlul-Hadits) tidak meyakini sifat-sifat itu dengan cara menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Mereka mengatakan bahwa Allah ta’ala telah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan dua tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Allah berfirman : ‘Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak menyimpangkan Kalamullah dari pengertian yang sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau dua kekuatan sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’tazillah dan Jahmiyyah – semoga Allah membinasakan mereka - . Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak me-reka-reka bentuknya dan menyerupakannya dengan tangan makhluk-makhluk, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Musyabbihah – semoga Allah menghinakan mereka –“  [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuni, hal. 26, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415. Dapat juga dilihat syarahnya yang ditulis oleh Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih yang dapat didownload dari www.Almoshaiqeh.com].

Al-Imam Juwaini (ayah Imam Al-Haramain) rahimahumallah, penulis kitab Al-Jauharah, pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada aqidah shahihah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah setelah tenggelam dalam aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang. Beliau mengatakan dalam pendahuluan risalahnya : Al-Istiwaa’ wal-Fauqiyyah setelah beliau menetapkan sifat Allah seperti mendengar, melihat, berbicara, dua tangan, dan menarik sebagai berikut :

استوى على عرشه فبان من خلفه لا يخفى عليه منهم خافية علمه بهم محيط وبصره بهم نافذ وهو في ذاته وصفاته لا يشبهه شيء من مخلوقاته ولا يمثل بشيء من جوارح مبتدعاته . هي صفات لائقة بجلاله وعظمته لا تتخيل كيفيتها الظنون ولا ترها في الدنيا العيون . بل نؤمن بحقائقها وثبوتها واتصاف الرب تعالى بها وننفي عنها تأويل المتأولين وتعطيل الجاحدين وتمثيل المشبهين تبارك الله أحسن الخالقين فبهذا الرب نؤمن وإياه نعبد وله نصلي ونسجد . فمن قصد بعبادته إلى إله ليست له هذه الصفات فإنما يعبد غير الله وليس معبوده ذلك بإله

“Dia (Allah) bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, ilmu-Nya melingkupi mereka, dan penglihatan terhadap mereka terbukti. Dalam Dzat dan sifat-Nya, Dia tidak menyerupai makhluk-Nya. Tidak juga dimisalkan dengan sesuatu dari anggota-anggota badan makhluk-Nya. Ini adalah sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan dan keluhuran-Nya. Bagaimananya tidak bisa dibayangkan, dan tidak ada mata yang dapat melihat-Nya di dunia. Tapi kita harus meyakini kebenaran dan ketetapannya, serta menyifati Tuhan dengan sifat-sifat tersebut. Kita (harus) menafikkan penakwilan dari orang-orang muta’awwiliin, penolakan dari orang-orang yang ingkar, dan permisalan dari orang-orang musyabbihiin. Maha Suci Allah dan Ia adalah sebaik-baik pencipta. Kepada Tuhan ini kita beriman, menyembah, shalat, dan bersujud. Oleh karena itu, orang yang sengaja beribadah kepada Tuhan yang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka sesungguhnya ia menyembah kepada selain Allah, karena yang disembahnya itu bukanlah Tuhan” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 56-57].

‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dalam sifat-sifat Allah ta’ala adalah beriman kepada sifat-sifat-Nya sebagaimana yang terdapat dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa tahrif (ta’wil), ta’thil, takyif, dan tamtsil, serta mengimani bahwa Allah itu tidak serupa dengan sesuatu apapun. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka mereka tidak menafikkan dari-Nya sifat-sifat yang Allah tetapkan buat diri-Nya dan tidak menyelewengkan kalimat dari lafadh/makna aslinya, dan tidak membuat ilhad (penentangan/penyelewengan) nama-nama Allah, tidak men-takyif (menanyakan bagaimana bentuknya) serta tidak men-tamtsil (menyerupakan) sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena tidak ada yang sama bagi-Nya dan tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang lainnya (dari makhlukNya). ‘Aqidah ini merupakan kesepakatan para ulama salaf Ahlus-Sunnah mutaqaddimiin (terdahulu).

Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaniy rahimahullah berkata :

اتفق الفقهاء كلهم من المشرق إلى المغرب (على) الإيمان بالقرآن والأحاديث التي جاء بها الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في صفة الرب عزّ وجلّ من غير تغيير ولا وصف ولا تشبيه، فمن فسر اليوم شيئًا من ذلك فقد خرج مما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وفارق الجماعة فإنهم لم يصفوا ولم يفسروا لكن أفتوا بما في الكتاب والسنة ثم سكتوا. فمن قال بقول جهم فقد فارق الجماعة لأنه قد وصف بصفة لا شيء.

“Para fuqahaa’ semuanya dari wilayah timur sampai barat telah sepakat untuk beriman kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal shifat Rabb ‘azza wa jalla tanpa mengubah (ta’wil/tahrif), menyebutkan kaifiyah sifat-Nya, dan menyerupakan dengan makhluk-Nya. Barangsiapa menafsirkannya pada hari ini tentang sifat-sifat Allah tersebut, sungguh ia telah keluar dari apa-apa yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya dan memisahkan diri dengan jama’ah. Sesungguhnya mereka (para fuqahaa) tidak menafsirkan (tentang sifat Allah), namun mereka berfatwa dengan apa-apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan kemudian diam. Barangsiapa yang berkata dengan perkataan orang Jahmiyyah, berarti ia telah memisahkan diri dengan jama’ah, karena ia telah mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak ada” [Syarh Ushuul I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalika’iy, hal. 432-433 no. 740, tahqiq Ahmad bin Mas’ud Al-Hamdaan; Desertasi S3 Universitas Ummul-Qurra’].

Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr Al-Andalusy rahimahullah berkata :

أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك . وأما الجهمية والمعتزلة والخوارج فكلهم ينكرها ولا يحمل منها شيئا على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أقر بها نافون للمعبود

“Ahlus-Sunah bersepakat tentang pengakuan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dengan membawa penafsirannya pada hakikatnya, bukan pada makna majaz. Hanya saja mereka tidak menanyakan “bagaimana” (kaifiyah) atas sifat-sifat tersebut. Adapun golongan Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Khawarij; mereka semua mengingkarinya dan tidak memberikan pengertian pada makna hakikatnya. Mereka (Jahmiyyah, Mu’tazillah, dan Khawarij) menganggap orang-orang yang menyepakati hal tersebut (yaitu Ahlus-Sunnah) sebagai golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Adapun mereka (yang mengingkari sifat-sifat Allah) di sisi Ahlus-Sunnah adalah golongan orang yang meniadakan Dzat yang disembah” [Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabi oleh Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 39; Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401].

Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy rahimahullah berkata :

وعلى هذا دَرَجَ السَّلَفُ وأَئِمَّةُ الخَلَفِ، كُلُّهُمْ مُتَّفِقُونَ على الإقْرارِ، والإمْرارِ والإثْباتِ لما وَرَدَ مِن الصِّفاتِ في كتابِ اللهِ وسُنَّةِ رسولِهِ، مِنْ غَيْرِ تَعَرُّضٍ لتأْوِيلِهِ.

“Dan atas jalan inilah para salaf dan imam generasi khalaf setelahya. Semuanya sepakat untuk menerima, membiarkan apa adanya, dan menetapkan sifat-sifat Allah. Baik yang terdapat di dalam Kitabullah (Al-Qur’an) maupun As-Sunnah, tanpa berpaling untuk menta’wilkannya” [Syarh Lum’atil-I’tiqaad oleh Shaalih Aalusy-Syaikh; http://www.islamway.com].

Menetapkan sebagaimana dhahir makna dan lafadhnya tanpa ta’wil bukanlah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), sebagaimana tuduhan orang-orang bodoh dari kalangan Asy-ariyyah dan yang semisal dengannya. Maka, perhatikanlah perkataan Al-Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah :

إنما يكون التشبيه إذا قال : يد مثل يدي أو سمع كسمعي، فهذا تشبيه. وأما إذا قال كما قال الله : يد وسمع وبصر، فلا يقول : كيف، ولايقول : مثل، فهذا لا يكون تشبيهاً، قال تعالى : (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tasybih itu hanya terjadi ketika seseorang itu mengatakan : ”Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku”. Inilah yang dinamakan tasybih (penyerupaan). Adapun jika seseorang mengatakan seperti firman Allah : ’Tangan, pendengaran, penglihatan’ , kemudian ia tidak menyatakan : ’bagaimana’ dan ’seperti’; maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman : ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Mukhtashar Al-’Ulluw lidz-Dzahabi, hal. 69].

Al-Imam Nu’aim bin Hammad Al-Khuzaa’iy Al-Haafidh rahimahullah :

من شبه الله بخلقه، فقد كفر، ومن أنكر ما وصف به نفسه فقد كفر، وليس ما وصف به نفسه، ولا رسولُه تشبيهاً

”Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang disifatkan Allah bagi diri-Nya, maka ia telah kafir. Dan tidaklah apa yang disifatkan Allah bagi diri-Nya dan (yang disifatkan) Rasul-Nya itu sebagai satu penyerupaan (tasybih)” [Mukhtashar Al-’Uluuw, hal. 184 no. 216, dengan sanad shahih].

Tuduhan mereka (ahlul-bid’ah) kepada Ahlus-Sunnah sebagai kaum Musyabbihah sudah terjadi semenjak beratus-ratus tahun yang lalu, sebagaimana dikatakan oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuniy rahimahullah :

وعلامات البدع على أهلها بادية ظاهرة، وأظهر آياتهم وعلاماتهم شدة معاداتهم لحملة أخبار الني صلى الله عليه وسلم، واحتقارهم لهم وتسميتهم إياهم حشوية وجهلة وظاهرية ومشبهة، اعتقادا منهم في أخبار الرسول صلى الله عليه وسلم أنها بمعزل عن العلم، وأن العلم ما يلقيه الشيطان إليهم من نتائج عقولهم الفاسدة، ووساوس صدورهم المظلمة، وهواجس قلوبهم الخالية من الخير، وحججهم العاطلة. أولئك الذين لعنهم الله

“Tanda-tanda bid’ah yang ada pada ahlul-bid’ah adalah sangat jelas. Dan tanda-tanda yang paling jelas adalah permusuhan mereka terhadap pembawa khabar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yaitu para ahlul-hadits), memandang rendah mereka, serta menamai mereka sebagai hasyawiyyah, orang-orang bodoh, dhahiriyyah, dan musyabbihah. Mereka meyakini bahwa hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengandung ilmu. Dan bahwasannya ilmu itu adalah apa-apa yang dibawa setan kepada mereka dalam bentuk hasil pemikiran aka-akal rusak mereka, was-was yang terbisikkan dalam hati-hati mereka yang penuh kegelapan, dan hal-hal yang terlintas dalam hati mereka nan kosong dari kebaikan dan hujjah. Mereka adalah kaum yang dilaknat oleh Allah”.

Mereka mengatakan itu karena pemahaman yang sakit, rusak, serta sikap permusuhan abadi kepada Ahlus-Sunnah – walau mereka juga mengaku sebagai ‘Ahlus-Sunnah’.

Itu saja yang dapat dituliskan. Semoga penyebutan beberapa dalil, riwayat, dan penjelasan para ulama di atas dapat memberikan satu gambaran gamblang tentang ‘aqidah Ahlus-Sunnah dalam masalah sifat Allah. Sekaligus menerangkan kekeliruan paham Asy’ariyyah yang sering mengklaim bahwa mereka adalah Ahlus-Sunnah dalam perkara ‘aqidah ini. Allahul-Musta’an……

 

Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy – 4 jumadits-tsaniy 1430



[1]     Sebagian ulama mengatakan bahwa dlamir (kata ganti) ‘hi’ tidak kembali pada Allah. Namun ini keliru. Yang benar, dlamir tersebut kembali kepada Allah ta’ala. Inilah pemahaman yang ditempuh oleh para ulama salaf.

عن عبد الله بن أحمد بن حنبل قال : كنا بالبصرة عند شيخ فحدثنا بحديث النبي : إن الله عز وجل خلق آدم على صورته. فقال الشيخ : تفسيره خلقه على صورة الطين. فحدثت بذلك أبي رحمه الله تعالى، فقال : هذا جهمي. وقال : هذا كلام الچحمية.

Dari ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal ia berkata : “Kami pernah berada di Bashrah bersama seorang Syaikh. Ia membawakan kepada kami hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya’. Ia (Syaikh tersebut) berkata : ‘Tafsirnya adalah (menciptakan) dengan bentuk (dari) tanah’. Maka aku ceritakan perihal tersebut kepada bapakku (Al-Imam Ahmad bin Hanbal) rahimahullah, dan beliau berkata : ‘Orang ini adalah Jahmiy. Ini adalah perkataan Jahmiyah’ [Ibthaalut-Ta’wiilaat, q : 55-56, melalui perantaraan kitab Al-Masaailu war-Rasaailul-Marwiyatu ’anil-Imam Ahmad fil-’Aqidah oleh ’Abdullah bin Sulaiman bin Saalim Al-Ahmadiy, 1/358-359; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata :

“Sesungguhnya dlamir di dalam hadits shahih mengenai penciptaan Adam dalam bentuk-Nya adalah kembali pada Allah, dan hal itu sesuai dengan apa yang terkandung di dalam hadits Ibnu ‘Umar : ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman’.

Hadits tersebut telah dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Al-Ajuriiy, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, dan imam-imam lainnya. Banyak dari para imam yang menjelaskan kesalahan Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah dalam penolakan terhadap pengembalian dlamir tersebut kepada Allah Yang Maha Suci di dalam hadits Ibnu ‘Umar. Yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam yang telah disebutkan dan juga yang lainnya mengenai kembalinya dlamir kepada Allah ta’ala tanpa disertai cara dan penyerupaan. Tetapi bentuk Allah ta’ala itu sesuai dengan-Nya dan sejalan dengan sifat-sifat-Nya, serta tidak ada sesuatupun yang serupa dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala : ‘Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’ (QS. Al-Ikhlash : 1-4). Allah ta’ala juga berfirman : ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat’ (QS. Asy-Syuura : 11). Dia juga berfirman : ‘Apakah kamu mengetahui ada orang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)’ (QS. Maryam : 65). Demikian juga firman-Nya : ‘Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui’ (QS. An-Nahl : 74). Dan cukup banyak ayat Al-Qur’an yang membahas tentang hal tersebut.

Yang wajib dilakukan oleh orang-orang yang berilmu dan beriman adalahmengartikan ayat-ayat dan hadits-hadits shahih tentang sifat-sifat Allah persis seperti keberadaannya dengan tidak menafsirkannya yang bertentangan dengan dhahirnya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum salaf dan para imamnya, dengan keimanan penuh bahwa Allah itu Maha Suci, yang tidak ada sesuatupun serupa dengan-Nya bak dalam bentuk, wajah, tangan, dan seluruh sifat-Nya, tetapi Dia Dzat yang Maha Suci yang memiliki kesempurnaan mutlak dari segala sisi dalam semua sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang serupa dan semisal dengan-Nya. Sifat-sifat-Nya tidak dapat disejajarkan/diserupakan dengan sifat-sfat makhluk-Nya, sebagaimana hal itu telah ditetapkan oleh generasi salaf dan para imamnya dari para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan rahmat kepada mereka serta menjadikan kita bagian dari pengikut mereka dengan baik” [‘Aqiidah Ahlil-Iman fii Khalqi Adam ‘alaa Shuuratir-Rahmaan oleh Hamud At-Tuwaijiri, bagian sambutan awal kitab; Daarul-Wafaa’, Cet. 2/1409].

Comments

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Silakan lanjutkan ke artikel yang berkaitan :

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/al-imam-abul-hasan-al-asyariy-asyaairah.html

ibnu hari mengatakan...

Assalamuálaykum...ustadz,

Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Aakhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkaulah Azh-Zhahir, maka TIDAK ADA SESUATUPUN DI ATAS-MU; dan Engkaulah Al-Bathin, maka TIDAK ADA SESUATU PUN DI BAWAH-MU. [Shahih Muslim IV/2084]


ana bingung ttg hadits diatas Allah bersemayam diatas Arsy, tp tidak ada sesuatu diatas-Nya dan juga tidak ada sesuatu di bawah-Nya. bagaimana mengkompromikannya?

Mohon penjelasannya ustadz

jazakallahu khoir...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

wa'alaikumus-salaam.

coba antum baca :

http://belajarberislam.wordpress.com/2011/03/19/allah-di-langit-tapi-ilmunya-meliputi-segala-sesuatu/

Anonim mengatakan...

bismillah..
afwan ustadz. ada yang sedikit membuat saya bingung, kalau memang sudah sejelas ini permasalahannya. lalu mengapa ulama2 besar seperti imam ibnu hajar dan yang lainnya masih menyimpang? apa mereka tidak mengetahui tentang atsar2 ini atau bagaimana ustadz, mohon penjelasannya. jazakallohu khoiron.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Karena mereka besar dan terdidik di lingkungan 'aqiidah Asyaa'irah. Oleh karena atsar Asyaa'irah terlihat dalam beberapa tulisan mereka. Namun, dalam banyak hal, Ibnu Hajar misalnya, banyak yang berkesesuaian dengan manhaj salaf. Ini menunjukkan bahwa beliau rahimahullah adalah seorang mujtahid yang mencari kebenaran dan tidak terbelenggu dengan sikap ta'ashub yang tercela. Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ibnu Hajar dan yang lainnya....

Anonim mengatakan...

Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته"

“ Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat sedangkan Allah masih atas sifat azaliyah-Nya sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga pergantian di dalam sifat-sifat-Nya “.

Boy mengatakan...

@ Anonim 28 Mei 2012 20:59

Info buat anda kalau anda tidak mendapat iformasi yang cukup tentang Aqidah Salafi Wahabi.

Sampai detik ini, sependek pengetahuan saya belum ada Salafi Wahabi yang memahami bahwa Allah butuh tempat.

Adapun keyakinan Salafi Wahabi bahwa Allah diatas Arsy adalah sebagaimana yang tercantum dalam Qur'an, hadits Shahih dan pendapat Ulama Salaf.

saya sarankan, bagi anda semua yang berbeda keyaqinan dengan Salafi Wahabi dalam hal ini, cobalah sedikit berani menyatakan/menulis dengan jelas dan tegas...Dalam hal keberadaan Allah kami (Anti Wahabi) TIDAK MENGIKUTI Al-Qur'an, Hadits Shahih dan para Pendapat Ulama Salaf.

Kami meyaqini bahwa Allah Tidak Ada Diatas Arsy.

Keberadaan Allah Diatas Arsy hanyalah kiasan atau perumpamaan.


dah selesai deh, hayo siapa yang merasa Ahli Sunnah Wal Jama'ah silahkan nyatakan demikian.

khusus buat Syi'ah berhubung SUDAH SESAT maka tidak perlu menyatakan hal itu.

O iya, itu kutipan perkataan Imam Syafi'i kan dari Kitabnya Az-Zabidy, kalau ndak salah SANAD nya gak jelas..apakah Shahih atau Tidak ada sanadnya.

Jadi sebaiknya telitilah dulu kutipan anda supaya lebih bermanfaat.

Anonim mengatakan...

oh begitu mas ya, ana pernah baca penjelasan ust abul jauza bahwa Alloh maha besar tidak ada yang dapat melingkupi Alloh, lalu bagaimana dengan aqidah kalian yang meyakini Alloh benar-benar turun ke langit dunia di sepertiga malam yang terakhir ke langit dunia, nah kalau memang Alloh benar-benar turun ke langit dunia berarti Alloh di lingkupi oleh langit dunia dong, bagaimana penjelasannya ini ustadz?

Boy mengatakan...

@ 29 Mei 2012 11:53

Saat Allah terangkan bahwa dirinya turun ke langit ke dunia, apakah Allah jelaskan cara dia Turun?

Kalau Allah tidak jelaskan bagaimana cara dia turun, maka berhentilah memikirkan/mengira-ngira.

seperti apa ya turunnya Allah, apakah seperti ini, atau seperti itu atau seperti apa...lebih baik isi malam hari dengan Sholat Tahajud, baca Qur'an, Dzikir dll.

Amaliyah Ibadah Sunnah itu lebih utama dilakukan karena ia nya yang nanti akan ditimbang sebagai Amal Sholih dibanding berlama-lama memikirkan bagaimana cara Allah turun.

TIDAK PERLU DIPIKIRKAN karena Allah tidak jelaskan dan Nabi tidak terangkan.

Pakai saja kaidah seperti penjelasan dari Imam Malik saat bahas Istiwa...Al-Kayfu Ghairu Ma'qul (Bagaimana nya-Istiwa/Turunnya Tidak masuk akal)....Insya Allah selamat.

Allah sudah katakan bahwa Dia Laysa Kamitslihi Sya'iun (Tiada yang serupa dengannya)...

Yang jelas cara Turunnya Allah berbeda dengan cara Turunnya Makhluk

Sependek pengetahun saya, Para Shahabat Ridwanullahi Ajma'in itu, saat Nabi jelaskan bahwa Allah Turun ke Langit Dunia...Tidak ada yang sibuk tanya-tanya pada Nabi, Bagaimana cara turunnya Allah ya rosul?, Apakah kalau Allah turun artinya Allah dilingkupi Dunia?.. apakah begini, apakah begitu?..dll

para Shahabat lebih memilih memperbanyak melakukan ibadah sunnah di malam hari.

Allah Maha Kuasa, Makhluk Tiada Kuasa

Ibnu Abi Irfan mengatakan...

menurut ana, penjelasan yang paling baik adalah dari Ibnu Rahuyah : "Siapa yang berkuasa untuk datang pada hari kiamat, maka siapakah yang dapat menghalangi-Nya untuk datang ke langit dunia setiap malam?"

copas dari blog tetangga

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum,

afwan ada sedikit yang ana belum jelas ust, kata2 : "tidak menafsirkan" dan "membiarkan apa adanya" ini selalu di klaim oleh asy'ariyyah sebagai tafwidh (menyerahkan maknanya pada Alloh) dan kalau dilihat sekilas sepertinya memang begitu, tolong di jelaskan masalah ini utadz. syukron

Anonim mengatakan...

bagaimana dengan ini http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/90/90?
mohon dijawab. saya tidak bermaksud mendebat, saya sedang kebingungan dalam mencari kebenaran

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saudara Farid Nu'man dalam tulisannya tersebut ibarat hatibul-lail (pencari kayu bakar di malam hari), yang mengumpulkan apa saja tanpa berusaha mengetahui larat belakang teologi ataupun pengungkapan madzhab sebenarnya dari seorang ulama. Atau dengan kata lain, beliau ini campur-aduk dalam tulisannya.

Tentu saja saya tidak akan menanggapi seluruh artikel. Contoh kecil, adalah ia menampilkan penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah yang mengutip Ibnul-Munayyir; dimana ia katakan bahwa ulama terdahulu itu terbagi menjadi 3 madzhab : tatsbit, ta'wil, dan tafwidl. Ini tidak rinci, siapakah yang dimaksudkan ulama terdahulu tersebut ?. Madzhab ta'wil (atau lebih tepatnya tahrif) yang mena'wilkan sifat tangan Allah dengan kekuatan dan yang semisalnya adalah madzhabnya orang-orang Mu'tazilah. Abul-Hasan Al-Asy'ariy rahimahullah berkata :

إختلفوا في ذلك على سبع عشرة مقالة منها قال أهل السنة وأصحاب الحديث إنه ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وإنه على العرش كما قال : (الرحمن على العرش استوى). ولا نتقدم بين يدي الله بالقول، بل نقول استوى بلا كيف وإن له يدين كما قال : (خلقت بيدي) وإنه ينزل إلى سماء الدنيا كما جاء في الحديث.

.............

وقالت المعتزلة استوى على عرشه بمعنى إستولى وتأولوا اليد بمعنى النعمة وقوله تجري بأعيننا أي بعلمنا
“Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya). Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya. Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.

.......

“Mu’tazillah berkata : ‘Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya’ ; dengan makna menguasai (istilaa’). Dan mereka menta’wilkan pengertian tangan (Allah) dengan nikmat. (Dan juga menakwilkan) firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14), yaitu : dengan ilmu Kami” [Maqaalatul-Islaamiyyiin, hal. 210-211, 218].

Madzhab tafwiidl, maka benar ada segolongan ulama mutaqaddimiin sebelum Ibnu Hajar yang berpegang dengan ini. Namun siapakah mereka ?. Mereka adalah segolongan ulama Asyaa'irah sebagaimana bait syi’ir dalam kitab Al-Jauharah (kitabnya Asyaa'irah) berikut :

وكل نص أوهم التشبيها * اوله أو فوض ورم تنزيها

“Setiap nash yang mengandung penyerupaan (terhadap makhluk)
takwilkanlah atau serahkanlah dan berishkanlah Allah (dari kekurangan)” [selesai].

Tentang Adz-Dzahabiy yang ia duga juga bermadzhab tafwiidl,... maka ia (Farid Nu'man) tidak ada upaya untuk menelusuri perkataan-perkataan Adz-Dzahabiy untuk mengetahui apa makna tafwiidl yang dimaksudkannya. Khususnya dalam nukilan :

فقولنا في ذلك وبابه: الاقرار، والامرار، وتفويض معناه إلى قائله الصادق المعصوم

"Adapun pendapat kami tentang itu dan dalam bab ini adalah mengakui, membiarkan, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pengucapnya yang benar dan ma’shum (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala, 8/105).

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Apa makna tafwidl di sini ? Apakah itu sama dengan tafwiidl-nya mufawwidlah ?. Tentu saja tidak demikian. Tafwiidl versi mufawwidlah adalah mengkonsekuensikan bahwa lafadh dalam nash itu sama sekali tidak diketahui maknanya. Jadi ia hanyalah sekedar lafadh yang dibaca tanpa makna. Adapun maksud tafwiidl dari Adz-Dzahabiy adalah menyerahkan maknanya yang benar sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Adz-Dzahabiy sendiri menetapkan sifat Allah sebagaimana dhahir makna dari nash. Itu banyak tersebar dalam kitab-kitabnya. telah ada studi tersendiri yang menelaah tentang 'aqidah Adz-Dzahabiy, di antaranya dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala yang berjudul : 'Aqiidatul-Imaam Adz-Dzahabiy karya Sulaimaan bin Shaalih Al-Khurasyiy.

Dan yang lebih menakjubkan saya adalah ia (Farid Nu'man) mengatakan bahwa Syaikh Dr. 'Abdullah bin 'Abdil-Muhsin At-Turkiy bermadzhab tafwidl juga. Jelas ini ngawur. Mungkin saudara Farid Nu'man belum membaca kitab Mujmal I'tiqaad Aimmatis-Salaf dengan tuntas (kebetulan saya punya kitabnya dan telah membacanya). Dan mungkin ia menggunakan Maktabah Syamilah dengan kata kunci tafwiidl (تفويض), sehingga semua kalimat dengan kata tafwiidl itu mengkonsekuensikan tafwidl-nya Mufawwidlah. Orang yang mengenal beliau (Syaikh At-Turkiy), kitab-kitab beliau, atau makalah-makalah beliau tentu akan mengetahui bahwa beliau sama sekali tidak ber'aqidah tafwiidl. Atau gampangnya saja bagi orang awam,... beliau ini adalah ulama 'aqiidah di Saudi, dan sudah menjadi hal yang jamak diketahui bahwa para ulama Saudi ini tidak beraqidah tafwiidl (beda dengan sebagian ulama Mesir yang berpaham Asyaa'irah).

Itu saja singkatnya. Dan mungkin belum dapat memenuhi harapan antum karena keterbatasan waktu saya.

Sebagai suplemen, antum bisa baca artikel :

Tafwidl dan Makna Hakiki.

Sifat Dua Tangan Allah (يد الله).

Al-Qaadliy Abu Bakr Al-Baqillaniy : Allah Berada di Atas ‘Arsy.

Sifat Mata Bagi Allah.

Dimanakah Allah ? - Ini Jawaban Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahulah

Dan Taabi'iin pun Beraliran Wahabiy.

Semoga ada manfaatnya.

Anonim mengatakan...

Maaf Ustadz, ana mau tanya sehubungan dengan sifat "duduk" bagi Allah bagaimana posisi ulama ?

( العرش /ج2 /ص154 / الحكم على الحديث : صحيح مرفوع )
( وأخرجه أبو عبد الرحمن عبد الله بن أحمد بن حنبل في كتاب "السنة والرد على الجهمية" له، عن أبيه، عن عبد الرحمن بن مهدي، عن سفيان الثوري، عن أبي إسحاق السبيعي، عن عبد الله ابن خليفة، عن عمر رضي الله عنه، ولفظه "إذا جلس الرب على الكرسي، سمع له أطيط كأطيط الرحل الجديد". )

يقول الامام الذهبى ( العرش /ج2 /ص155-156 ) : وهذا الحديث صحيح عند جماعة من المحدثين، أخرجه الحافظ ضياء الدين المقدسي في صحيحه، وهو من شرط ابن حبان فلا أدري أخرجه أم لا؟، فإن عنده أن العدل الحافظ إذا حدث عن رجل لم يعرف بجرح، فإن ذلك إسناد صحيح.

فإذا كان هؤلاء الأئمة: أبو إسحاق السبيعي، والثوري،والأعمش، وإسرائيل، وعبد الرحمن بن مهدي، وأبو أحمد الزبيري، ووكيع، وأحمد بن حنبل، وغيرهم ممن يطول ذكرهم وعددهم الذين هم سُرُج الهدى ومصابيح الدجى قد تلقوا هذا الحديث بالقبول وحدثوا به، ولم ينكروه، ولم يطعنوا في إسناده، فمن نحن حتى ننكره ونتحذلق عليهم؟، بل نؤمن به ونكل علمه إلى الله عز وجل.

syukron
Abul Hasan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Hadits yang antum sebutkan adalah lemah dikarenakan 'Abdullah bin Khaliifah, seorang yang majhuul al-haal. Selain itu, kata Ibnu Katsiir, penyimakan hadits 'Abdullah dari 'Umar perlu diteliti kembali. Selain itu (lagi), ada perbedaan jalan riwayat. Satu jalur adalah seperti di atas, satu jalur lain adalah mursal dengan menggugurkan 'Umar radliyallaahu 'anhu.

Penetapan sifat juluus dikhilafkan para ulama Ahlus-Sunnah dikarenakan perbedaan penerimaan keshahihan riwayat yang berasal dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Miftah Ramadhan mengatakan...

Assalamu'laikum
Ustad yg semoga dicintai Allah, afwan sekedar saling mengingatkan dan mengoreksi dikit, di artikel ustad menukil arti surat Asy-Syura:11 sbb:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat’ (QS. Asy-Syuura : 11)."

setelah saya buka mushaf, lafazh ayat tsb seharusnya artinya :
"Dia-lah Yang MAHA MENDENGAR lagi Maha Melihat"

apakah ustad mengartikan lafaz "AsSami'u" dengan arti MAHA MENGETAHUI??? padahal yg saya baca di mushaf seharusnya MAHA MENDENGAR..

Jika koreksi saya keliru mohon maaf dan penjelasannya dr ustad.
Wallahu 'alam. Syukron

Wassalamu'alaikum..

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam. Antum benar, yang benar : Maha Mendengar.

Sangkakala Zaman mengatakan...

salam teman2 seakidah(Alquran/Assunnah)..ssguhnya kebenaran/HAQ itu terang benderang brsama kalian..kesempurnaan addin SESUAI bagi sluruh fitrah manusia..islam itu ngak ada yg sifatnya memayahkan,bengkok,smbunyi2,mutar,kabur,brbelit sukar dfahami,.kurniaan agung MAHA PENCIPTA(Allah swt)..

gua akuin cemburu pada tuan tanahnya(ya akhi)..trims halalkan ilmunya..cinta kalian..peace

Afqi Al-Pantouw mengatakan...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. yaa Ustadz Abul Jauzaa’..

Sebenarnya Ustadz..
Jika kita berhadapan dengan sekte Asy‘ariyyah, Jahmiyah, Mu‘tazilah, Sufiyah dan Syi‘ah. Kita akan dibuat pusing tujuh keliling. Itu karena ke lima sekte tersebut sama-sama bersepakat dalam menolak sifat-sifat Allah ta`ala yang justru Allah ta`ala nisbahkan untuk diri-Nya sendiri.

Dengan ilmu kalam dan filsafat yang mereka punya, mereka mempersulit diri sendiri. Hanya bermodalkan hawa nafsu dan bersilat lidah, mereka membantah dengan cara membabi buta dan tanpa hujjah yang kuat

Anehnya, terkadang keyakinan mereka itu tentang keberadaan Allah ta`ala itu bermacam-macam. Seperti halnya :
→ Allah ada tanpa tempat.
→ Allah ada dimanapun kamu berada.
→ Allah ada namun tidak ada di atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang.
→ Allah ada dimana-mana namun tidak kemana-mana.
→ Allah lebih dekat dari pada urat nadi, yaitu qalbu.
→ dan keyakinan lainnya.

Dengan keyakinan diatas, sesungguhnya mereka itu pantas jika disebut sebagai :
“ Jama‘ah Ling-Lung ”

Mari kita do‘a kan bersama saudara-saudara kita dari kaum Mu‘aththilah Fir‘auniyun. Supaya mereka dengan ikhlas mengimani sifat-sifat Allah ta’ala sebagaimana yang terdapat dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi was allam. Mengimani tanpa melakukan ilhad, tanpa tahrif (ta’wil), ta’thil , takyif dan tamtsil. Serta mengimani bahwa Allah ta`ala itu tidak serupa dengan sesuatu apapun. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat..

-Aamiin-