Pendapat Hammaad bin Zaid tentang Keberadaan Allah ta’ala


Al-‘Uqailiy rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفِرْيَابِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُقَدَّمِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: سَأَلَ بِشْرُ بْنُ السُّرِّيِّ حَمَّادَ بْنَ زَيْدٍ، فَقَالَ: يَا أَبَا إِسْمَاعِيلَ، الْحَدِيثُ الَّذِي جَاءَ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَتَحَوَّلُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ فَسَكَتَ حَمَّادٌ، ثُمَّ قَالَ: هُوَ فِي مَكَانِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ
Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Al-Faryaabiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad Al-Muqaddamiy : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Bisyr bin As-Sariy pernah bertanya kepada Hammaad bin Zaid. Ia berkata : “Wahai Abu Ismaa’iil, hadits yang menjelaskan bahwa Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia, apakah Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya ?”. Hammaad pun terdiam, kemudian berkata : “Allah ada di tempat-Nya[1], dekat dengan hamba-Nya sebagaimana yang Ia kehendaki” [Adl-Dlu’afaa’, 1/161 no. 175].
Sanad riwayat ini hasan.[2] 
Riwayat ini juga dibawakan oleh Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 9/333 dan Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ Al-Fataawaa 5/76.
Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :
وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ: الْقُرْآنُ كَلامُ اللَّهِ نزل بِهِ جَبْرَائِيلُ، مَا يُجَادِلُونَ إِلا أَنَّهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ إِلَه
Hammaad bin Zaid berkata : “Al-Qur’aan adalah Kalaamullah yang turun melalui perantaraan Jibriil. Tidaklah mereka (Jahmiyyah) berdebat kecuali (untuk membantah) bahwa Allah tidak ada di langit” [Khalqu Af’aalil-‘Ibaad, 1/24].
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
قال عبد الرحمن بن أبي حاتم الرازي الحافظ في كتاب الرد على الجهمية، حدثنا أبي، نا سليمان بن حرب، سمعت حماد بن زيد، يقول: إنما يدورون، على أن يقولوا: ليس في السماء إله إله ". يعني: الجهمية
‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim berkata Ar-Raaziy Al-Haafidh berkata dalam kitabnya yang berjudul Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah mengkhabarkan kepada kami Sulaimaan bin Harb : Aku mendengar Hammaad bin Zaid berkata : “Mereka hanyalah berputar-putar (dalam berdebat) agar mereka dapat mengatakan : Allah tidak ada di langit” – (mereka yang dimaksudkan) adalah Jahmiyyah [Al-‘Ulluw hal. 106-107; sanad Ibnu Abi Haatim ini shahih].
Kemudian Adz-Dzahabiy rahimahullah melanjutkan perkataannya :
قلت: مقالة السلف، وأئمة السنة، بل والصحابة، والله ورسوله والمؤمنين: أن الله في السماء، وأن الله على العرش، وأن الله فوق سماواته، وأنه ينزل إلى السماء الدنيا، وحجتهم على ذلك النصوص والآثار. ومقالة الجهمية: أن الله في جميع الأمكنة تعالى الله عن قولهم، بل هو معنا أينما كنا بعلمه. ومقالة متأخري المتكلمين: أن الله ليس في السماء، ولا على العرش، ولا على السماوات، ولا في الأرض، ولا داخل العالم، ولا خارج العالم، ولا هو بائن عن خلقه، ولا متصل بهم، وقالوا: جميع هذه الأشياء صفات للأجسام، والله منزه عن الجسم. قال لهم أهل السنة، والأثر: نحن لا نخوض في ذلك، ونقول ما ذكرناه اتباعاً للنصوص، وإن رغمتم ولا نقول بقولكم، فإن هذه السلوب نعوت المعدوم، تعالى الله عن العدم، بل هو موجود متميز عن خلقه، موصوف بما وصف به نفسه من أنه فوق العرش بلا كيف. حماد بن زيد للعراقيين نظير مالك بن أنس للحجازيين في الجلالة والعلم
“Aku (Adz-Dzahabiy) berkata : Salaf, para imam sunnah, bahkan para shahabat, Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman mengatakan Allah berada di langit, Allah di atas ‘Arsy, Allah di atas langit-langit-Nya, dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia. Hujjah mereka tentang hal itu adalah nash-nash dan atsar-atsar.
Adapun perkataan Jahmiyyah : Allah berada di setiap tempat. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Bahkan, Allah bersama kita dimanapun kita berada dengan ilmu-Nya.[3] Perkataan para ahli kalam belakangan adalah : Allah tidak ada di langit, tidak pula di atas ‘Arsy, di atas langit-langit, tidak di bumi, tidak di dalam alam, tidak pula di luar alam, tidak terpisah dari makhluk-Nya, dan tidak pula melekat dengannya !. Mereka (ahli kalam) berkata : ‘Semua hal ini merupakan sifat jism (tubuh), dan Allah ta’ala suci dari sifat jism (tubuh).
Orang-orang yang berpegang pada sunnah dan atsar (Ahlus-Sunnah wal-Atsar) berkata kepada mereka : ‘Kami tidak akan berlarut-larut dalam hal itu. Kami mengatakan apa yang telah kami sebutkan tentangnya, yaitu mengikuti nash-nash. Dan seandainya kalian memaksa, maka kami tetap tidak akan berkata dengan perkataan kalian, karena pernyataan-pernyataan tersebut adalah sifat-sifat bagi sesuatu yang tidak ada (ma’duum). Maha Tinggi Allah jalla jalaaluhu dari ketiadaan. Bahkan Ia ada (maujuud) lagi terpisah dari makhluk-Nya. Allah disifati dengan apa-apa yang Ia sifatkan dengannya bagi diri-Nya, bahwasannya Ia di atas ‘Arsy tanpa perlu ditanyakan ‘bagaimana’.
Hammaad bin Zaid bagi penduduk ‘Iraaq setara dengan Maalik bin Anas bagi penduduk Hijaaz dalam hal keagungan dan keilmuan” [Al-‘Ulluw, hal. 107].
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor - 13121434/18102013 – 01:00].




[1]      Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :
وَأَمَّا المكان: ففيه نزاع وتفصيل، وَفِي الصحيحين: إثبات لفظ المكان،
“Adapun tempat (al-makaan), maka padanya terdapat perselisihan dan perincian. Dan dalam Ash-Shahiihain terdapat terdapat penetapan lafadh ‘tempat’ (bagi Allah)” [Dzail Thabaqaat Al-hanaabilah, 2.17].
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata :
فأذا سمعت أو قرأت عن أحد الأئمة والعلماء نسبة المكان إلىه تعالى، فاعلم أن المراد به معناه العدمي، يريدون به إثبات صفة العلو له تعالى، والرد على الجهمية والمعطلة الذين نفوا عنه سبحانه هذه الصفة، ثم زعموا أنه في كل مكان بمعنى الوجودي
“Apabila engkau mendengar atau membaca dari salah seorang imam dan ulama penisbatan ‘tempat’ kepada-Nya ta’ala, maka ketahuilah bahwa yang dimaksud dengannya adalah dalam pengertian abstrak (‘adamiy). Yang mereka inginkan adalah penetapan sifat al-‘ulluw’ bagi-Nya. Dan sekaligus merupakan bantahan terhadap Jahmiyyah dan Mu’aththilah yang menafikkan sifat al-‘ulluw dari-Nya subhaanahu wa ta’ala. Kemudian mereka beranggapan Allah ada di setiap tempat dalam makna wujudiy (keberadaan fisik/Dzat-Nya)” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 73].
[2]      Berikut keterangan para perawinya :
a.      Ja’far bin Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Mustafaadl Al-Faryaabiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh. Lahir tahun 207 H dan wafat tahun 301 H [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 14/96-111 no. 54].
b.      Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Aliy bin ‘Athaa’ bin Muqaddam, Abu ‘Utsmaan Al-Muqaddamiy; seorang yang shaduuq. Wafat tahun 264 H [Taariikh Baghdaad, 6/69-71 no. 2563].
c.      Sulaimaan bin Harb bin Bujail Al-Azdiy Al-Waasyihiy, Abu Ayyuub Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, iimaam, lagi haafidh. Termasuk thabaqah ke-9, lahir tahun 144 H, dan wafat tahun 224 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 406 no. 2560].
d.      Bisyr bin As-Sariy Al-Bashriy, Abu ‘Amru Al-Afwah; seorang yang tsiqah lagi mutqin. Termasuk thabaqah ke-9 dan wafat tahun 195 H/196 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 169 no. 693].
e.      Hammaad bin Zaid bin Dirham Al-Azdiy Al-Jahdlamiy Abu Ismaa’iil Al-Bashriy Al-Azraq; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi faqiih. Termasuk thabaqah ke-8, lahir tahun 98 H, dan wafat tahun 179 H. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 268 no. 1506].

Comments

Zakki Rosyadi mengatakan...

Sependek pengetahuan ana (yang memang pendek):

- Allah berada diatas langit.
- Allah berada diatas arsy.


Tapi jangan menyangka bahwa Allah itu jauh.

- Allah sangat dekat dengan hambanya.

Namun jangan juga menyangka (karena dekat) bahwa Allah berada dimana-mana karena:

- Allah terpisah dengan makhluqnya.

Benar begitu kah ustadz?


NB: Salah satu dalil bahwa Allah dekat dengan kita sbb:
Hadits yang diriwayatkan Bukhari (409) dan Muslim (550) -lafadz hadits berikut merupakan riwayat Muslim-, dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dia menuturkan bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di kiblat masjid. Beliau pun lalu berbalik dan berkata kepada para sahabat, “Bagaimana menurut kalian, jika seorang berdiri shalat menghadap Rabb-nya lalu dia meludah di hadapan-Nya? Apakah salah seorang diantara kalian suka jika orang lain menghadap dan kemudian meludah ke wajahnya? Jika kalian ingin meludah, hendaklah meludah di sebelah kiri, dan di bawah kakinya. Jika tidak bisa, hendaknya dia melakukan hal ini.” Salah satu perawi hadits, al-Qasim, menirukan yaitu dengan meludah di baju, kemudian diusap-usap di sela-sela baju.

Diyah Dzaki Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Imam At-Tahawi mengatakan bahwa Allah tidak diliputi oleh 6 arah yaitu atas, bawah, depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri. Berarti Allah ada tanpa Tempat dan arah. Dan ketika dikatakan Allah istiwa' di atas arsy kita tidak boleh memaknai dengan makna zahir. Kita menerimanya dengan tanpa perempumaan dan tanpa makna

وتعالى عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات ، لا تحويه
الجهات الست كسائر المبتدعات


Hafiz Ibn Katsir mengatakan bahwa tidak boleh mengambil makna DZHAHIR atas ayat Istiawa Allah surah 7 ayat 54 karena itu adalah akidah Mujassimah :

وأما قوله تعالى: { ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جداً ليس هذا موضع بسطها، وإنما نسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح مالك والأوزاعي والثوري والليث بن سعد والشافعي وأحمد وإسحاق بن راهويه وغيرهم من أئمة المسلمين قديماً وحديثاً، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل، والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، لا يشبهه شيء من خلقه و
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=7&tSoraNo=7&tAyahNo=54&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=1


Wallahu 'alam

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tentang 'tempat' sudah dijelaskan di atas. Dan jikalau mau dibandingkan, para ulama yang saya sebut di atas adalah bintang di jamannya.

Itu pertama.

Tentang memahami secara dhahir dan kemudian Anda klsifikasikan sebagai mujassimah, itu hanya penafsiran Anda saja, karena memang tidak ada statement Ibnu Katsiir rahimahullah tentang itu dalam perkataannya di atas.

Anonim mengatakan...

Mengapa orang-orang as'ariah sulit menerima keberadaan Alloh di atas segala makluk-Nya, Jika demikian, apalah artinya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar?. Sesuatu yang mudah dijadikan sulit oleh orang-orang as'airoh hanya karena mengikuti akal pikiran dan kata hatinya semata

Zakki Rosyadi mengatakan...

@atasku,

Sebagai mantan penganut paham tsb, saya memahaminya, karena dhohir ayat atau hadits memang begitu, namun kalau dikonfrontir dengan penjelasan ulama maka akan terlihat perbedaannya.
Contoh dhohir ayat adalah: Allah meliputi segala sesuatu. Penjelasannya ulama maksudnya Ilmu Allah.

Maka orang yang terlahir dengan bapak ibunya bermanhaj salaf akan berbeda dengan bapak ibunya yg bermanhaj lainnya.

Sy pikir tugas kita hanya menjelaskan

Diyah Dzaki Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum Ustadz

Ustadz coba jelaskan kepada kami apa perbedaan aqidah anda dengan Mujassimah. Mujassimah juga meyakinin bahwa Allah BERLOKASI di langit ke 7. Dan hal ini ditentang oleh Hafiz Ibn Katsir yang mengatakan tidak boleh memaknai makna zhahir seperti yang dilakukan oleh Mujassimah :

وأما قوله تعالى: { ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جداً ليس هذا موضع بسطها، وإنما نسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح مالك والأوزاعي والثوري والليث بن سعد والشافعي وأحمد وإسحاق بن راهويه وغيرهم من أئمة المسلمين قديماً وحديثاً، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل، والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، لا يشبهه شيء من خلقه و
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=7&tSoraNo=7&tAyahNo=54&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=1


Ya Ustadz kami meyakinin Allah itu Istiwa tetapi dengan Kemulian-Nya.

Kami meyakinin Allah ada sebelum ada sesuatapun bahkan sebelum adanya Arsy, dan Allah tetap seperti itu.

Dan keyakinan anda sama seperti MUJASSIMAH yang meyakinin bahwa Arsy Allah ada bersama-sama Allah. Dalam arti Arsy itu tidak diciptakan. Maha Suci Allah.

Sekali lagi Ustadz aqidah anda sama dengan Mujassimah yang meyakinin bahwa Allah berlokasi di langit.

Sedangkan kami tidak meyakinin hal itu dan kami tidak meyakinin bahwa Allah ada di mana-mana. Kami meyakinin bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah.

Dan satu hal lagi Ustadz Imam Tahawi mengatakan bahwa aqidah yang Beliau tulis adalah Aqidah Imam Hanafi, Imam Syafii, Imam Malik. Dan tidak ada yang membantah kitab Beliau di zaman beliau ini.

وتعالى عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات ، لا تحويه
الجهات الست كسائر المبتدعات




Dan lagi Ustadz Imam Bukhari mentakwil Istiwa dengan 'ala dan bukan memaknainya dengan makna dzhahir seperti ENTE. Kami juga meyakinin sama seperti Imam Bukhari bahwa Istiwa itu bisa ditakwil menjadi 'ala. Seperti firman Allah

"Wa huwal 'aliyyul "adzhim"

dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Ketinggian Allah bukan ketinggian tempat, tetapi ketinggian Kekuasaan Allah, seperti Tafsir Imam Tabari.

Dan satu hal lagi Hammad bin Zaid tidak memaknai sebagai istiqrar Beliau hanya membantah Jamiah yang menghilangkan sifat-sifat Allah.

Sedangkan kami meyakinin sifat-sifat Allah yang berasal dari Al-Quran dan al-hadits tanpa menyerupai-Nya dengan makhluk.

Dan anda menyerupai Allah dengan makhluk.

Kalau Istiwa bagi makhluk adalah Tempat atau lokasi bagi Allah sedangkan Allah mengatakan tidak sama dengan makhluk-Nya.

Maka hal itu tertolak.

Maha Suci Allah dari tempat dan arah.

Wallahu 'alam

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Anda ini sukanya gak memperhatikan apa yang sudah ditulis. Anda benar-benar-benar sudah membaca keterangan Hammad bin Zaid, Adz-Dzahabiy, dan Ibnu Rajab belum ?. Mungin saja sudah membaca, tapi Anda nggak mau tahu dan nggak mau memahami.

Tentang makna 'tempat', maka sudah disebutkan keterangannya di atas. Kita menafikkan 'tempat' jika itu diasosiakan seperti makhluk atau hal yang melingkupi sesuatu. Selain itu, kita menafikkan 'tempat' karena memang tidak disebutkan nash.

Oleh karena itu, jika ada orang yang berbicara tentang penetapan 'tempat' bagi Allah, maka kita tanyakan kepadanya : Apa yang Anda maksudkan dengan 'tempat' tersebut ?. Jika yang dimaksudkan adalah penetapan tentang sifat Al-'Ulluw, bahwasannya Allah berada di atas langit, beristiwaa' di atas 'Arsy-Nya; maka kita menetapakannya.

Sebenarnya Anda itu menetapkan bahwa Allah berada di atas langit atau tidak ?. Kalau perkataan Hammaad sudah sangat jelas artinya. Jadi, jangan membuat pengkaburan.

Selain itu, sebenarnya Anda salah paham (atau salah terjemah) tentang perkataan Ibnu Katsiir yang ini :

والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، لا يشبهه شيء من خلقه

Perkataan di atas kemudian Anda artikan Ibnu Katsiir menafikkan makna dhahir ayat, dan kemudian Anda hubungkan dengan mujassimah. Saya sampai bingung, dimana letak perkataan Ibnu Katsiir yang menunjukkan itu ?. Atau, Anda sebenarnya tidak paham bahasa Arab dan cuma latah saja ?. Coba, Anda jelaskan kepada saya dimana letak perkataan Ibnu Katsiir yang mendukung pemahaman Anda itu....

Tentang perkataan para imam, coba baca langsung perkataan mereka dari riwayat-riwayat yang shahih dari mereka. Ini perkataan Imam Maalik :

حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532; shahih].

Pahami baik-baik. Imam Maalik menetapkan Allah berada di atas langit dan menafikkan Allah berada di setiap tempat, karena yang ada di setiap tempat adalah ilmu-Nya. Begitu juga dengan Imam Ahmad yang juga menetapkannya.

Silakan baca ini : Dimanakah Allah ? - Ini Jawaban Imam Maalik bin Anas.

Tempo hari sudah saya kasih riwayat 'Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu 'anhu :

حدثنا وكيع عن إسماعيل عن قيس قال : لما قدم عمر الشام استقبله الناس وهو على البعير فقالوا : يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا يلقاك عظماء الناس ووجوههم ، فقال عمر : لا أراكم ههنا ، إنما الامر من هنا - وأشار بيده إلى السماء .

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Ismaa’iil, dari Qais, ia berkata : Ketika ‘Umar baru datang dari Syaam, orang-orang menghadap kepadanya dimana ia waktu itu masih di atas onta tunggangannya. Mereka berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, jika saja engkau mengendarai kuda tunggangan yang tegak, niscaya para pembesar dan tokoh-tokoh masyarakat akan menemuimu”. Maka ‘Umar menjawab : “Tidakkah kalian lihat, bahwasannya perintah itu datang dari sana ? – Dan ia (‘Umar) berisyarat dengan tangannya ke langit” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 13/40; shahih].

Apakah 'Umar seorang mujassimah ?.

Intinya, Anda itu sok tahu perkataan para imam,... padahal pengetahuan Anda mungkin nol besar.

VON EDISON ALOUISCI mengatakan...

Fitnah terhadap az-zahabi


Kitab kitab Az-adzahabi memang seringkali dijadikan rujukan Palsu oleh wahabi,akan tetapi jika kita lihat kitabnya yang belum di takhrij-kan Albani,sungguh kenyataanya sangat lain.disitu jelas jika Az- adzahary mengkafirkan org yang menganggap Allah Duduk. Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya.
Hakikat kebenaran tetap akan tersebar walaupun lidah syaitan Wahhabi coba merubahnya. Kali ini dipaparkan bagaimana rujukan utama Wahhabi iaitu Al-Hafiz Az-Zahabi sendiri mnghukum kafir akidah sesat: Allah Bersemayam/Duduk yang dipelopori oleh Wahhabi pada zaman kini.


Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :lihat kitab: Al-Kabair. karya: Al-Hafiz Az-Zahabi. Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah, cetakan pertama 1410h.
Al-Hafiz Az-Zahabi menulis: “Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas keluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”.



Perhatikan bagaimana Az-Zahabi menghukum kafir siapa yang mengatakan Allah bersifat Duduk. Siapa yang mengatakan Allah Duduk maka dia kafir. Fokuskan pada kenyataan Az-Zahhabi tidak pula mengatakan “sekiranya seseorang itu mengatakan Allah Duduk seperti makhlukNya maka barulah dia kafir” akan tetapi amat jelas Az-Zahabi terus menghukum kafir pada siapa yang mendakwa Allah Duduk !! nah dari sini terlihat jika wahabi mengubah sebagian isi kitab Az-Zahabi !! FITNAH LAGI....



BY. Von Edison Alouisci

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tudak usaha bertele-tele dan membahas apa yang tidak dibahas,.... di atas kan sedang membahas 'dimanakah Allah ?'. Perkataan Adz-Dzahabiy pun saya sebutkan. Anda setuju penjelasannya tersebut ?.

NB : Tentang duduk, mungkin ada saat dan tempatnya untuk dibahas....

Anonim mengatakan...

Alloh maha besar, lagi maha tinggi. Dimanapun manusia berada, apakah di bumi, di bulan, ataupun diplanet terjauhpun, maka secara dzat, Alloh berada diatas , ini konsekuensi dari sifat maha tinggi. Padahal manusia ini masih berada dlam lingkup langit pertama, sedangkan telah Alloh kabarkan - hingga para salaf memahami bahwa Alloh di atas langit yang tujuh di atas 'arsy-Nya. Adapun tuduhan bahwa salafi memahami dan berkeyakinan Alloh duduk sebagaimana makluk,,,maka ini hanyalah kesimpulan yang bodoh saja dari orang orang "aswaja" saja. ,

fierza ohorella mengatakan...

Alhamdulillah Mufti Negara bagian Perak negara tetangga kt Malaysia telah mengeluarkan fakta bahwa "Ajaran Wahabi adalah SESAT"....smoga MUI akan menyusul mengeluarkan fatwa yg serupa....aamiin yra

Anonim mengatakan...

إنما يدورون، على أن يقولوا: ليس في السماء إله إله ". يعني: الجهمية

Itu kata إله dobel ya ust?