Penjelasan Adz-Dzahabiy tentang (Dzat) Allah di atas Langit


Adz-Dzahabiy rahimahullah mempunyai penjelasan yang menarik pada bahasan yang tertera dalam judul. Beliau rahimahullah saat menyebutkan perkataan ulama besar madzhab Maalikiyyah, Ibnu Abi Zaid rahimahullah :
وأنه تعالى فوق عرشه المجيد بذاته وأنه في كل مكان بعلمه
“Dan bahwasannya Allah ta’ala di atas ‘Arsy-Nya yang mulia dengan Dzat-Nya, dan ia berada di setiap tempat dengan ilmu-Nya”.[1]
Kemudian mengomentarinya sebagai berikut :
وقد تقدم مثل هذه العبارة عن أبي جعفر بن أبي شيبة وعثمان بن سعيد الدارمي وكذلك أطلقها يحيى بن عمار واعظ سجستان في رسالته والحافظ أبو نصر الوائلي السجزي في كتاب الإبانة له فإنه قال وأئمتنا كالثوري ومالك والحماد وابن عيينة وابن المبارك والفضيل وأحمد وإسحاق متفقون على أن الله فوق العرش بذاته وأن علمه بكل مكان
وكذلك أطلقها ابن عبد البر كما سياتي
وكذا عبارة شيخ الإسلام أبي إسماعيل الأنصاري فإنه قال وفي أخبار شتى أن الله في السماء السابعة على العرش بنفسه وكذا قال أبو الحسن الكرجي الشافعي في تلك القصيدة
عقائدهم أن الإله بذاته ... على عرشه مع علمه بالغوائب
وعلى هذه القصيدة مكتوب بخط العلامة تقي الدين بن الصلاح هذه عقيدة أهل السنة وأصحاب الحديث
وكذا أطلق هذه اللفظة أحمد بن ثابت الطرقي الحافظ والشيخ عبد القادر الجيلي والمفتي عبد العزيز القحيطي وطائفة
والله تعالى خالق كل شيء بذاته ومدبر الخلائق بذاته بلا معين ولا مؤازر
وإنما أراد ابن أبي زيد وغيره التفرقة بين كونه تعالى معنا وبين كونه تعالى فوق العرش فهو كما قال ومعنا بالعلم وأنه على العرش كما أعلمنا حيث يقول الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
وقد تلفظ بالكلمة المذكورة جماعة من العلماء كما قدمناه. وبلا ريب أن فضول الكلام تركه من حسن الإسلام
“Telah berlalu perkataan semisal dari Abu Ja’far bin Abi Syaibah dan ‘Utsmaan Ad-Daarimiy. Begitu juga hal tersebut diungkapkan oleh Yahyaa bin ‘Ammaar, penasihat negeri Sijistaan, dalam risalahnya, Al-Haafidh Abu Nashr Al-Waailiy As-Sijziy dalam kitabnya yang berjudul Al-Ibaanah, dimana ia berkata : ‘Dan para imam kami seperti Ats-Tsauriy, Maalik, Hammaad, Ibnu ‘Uyainah, Ibnul-Mubaarak, Al-Fudlail, Ahmad, dan Ishaaq telah bersepakat bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy dengan Dzat-Nya, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat’.
Dan begitu juga yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr sebagaimana akan datang penjelasannya.
Dan begitu pula perkataan Syaikhul-Islaam Abu Ismaa’iil Al-Anshaariy yang berkata : ‘Dalam khabar-khabar yang berlainan disebutkan bahwa Allah berada di atas langit yang tujuh di atas ‘Arsy dengan diri-Nya’.
Begitu pula yang dikatakan oleh Abul-Hasan Al-Karjiy Asy-Syaafi’iy dalam qashidah berikut :
‘Aqidah mereka menyatakan bahwa Tuhan dengan Dzat-Nya
di atas ‘Arsy-Nya, (dan) bersama ilmu-Nya terhadap hal-hal yang ghaib
Dan bersamaan dengan qashidah ini tertulis khath (tulisan tangan) Al-‘Allaamah Taqiyyuddiin Ibnu Shalaah. Ini adalah ‘aqidah Ahlus-Sunnah dan ahli hadits.
Dan begitu pula lafadh ini dikatakan oleh Ahmad bin Tsaabit Ath-Thuraqiy Al-Haafidh, Asy-Syaikh ‘Abdul-Qaadir Al-Jiiliy, mufti ‘Abdul-‘Aziiz Al-Qahiithiy, dan sekelompok ulama yang lain. Allah ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu dengan Dzat-Nya, Pengatur makhluk-makhluk dengan Dzat-Nya, tanpa pembantu dan penolong.
Yang diinginkan oleh Ibnu Abi Zaid dan ulama lainnya  adalah adanya perbedaan antara keberadaan Allah ta’ala bersama kita dan keberadaan-Nya ta’ala di atas ‘Arsy. Maka, Allah adalah sebagaimana yang Ia firmankan (atas diri-Nya), Ia bersama kita dengan ilmu-Nya, dan Ia (tetap) berada di atas langit sebagaimana yang telah Ia beritahukan kepada kita dalam firman-Nya : ‘Allah Yang Maha Pengasih beristiwaa’ di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5).
Sekelompok ulama telah mengucapkan dengan kalimat tersebut sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Dan tidak diragukan lagi, bahwa menambah perkataan yang tidak diperlukan, maka meninggalkannya termasuk kebaikan dalam Islam.....”
[selesai kutipan dari Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 255-256].
Perkataan Adz-Dzahabiy yang terakhir di atas bukan untuk menolak makna yang ada dalam frase ‘bi-dzaatihi’, karena ia sendiri mengakuinya sebagaimana tergambar dalam kalimat-kalimat sebelumnya. Akan tetapi menurutnya penambahan frase ini tidak diperlukan karena maknanya sudah tercakup dalam keumuman dalil-dalil yang ada.
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor -  09111434/14092013 – 21:00].



[1]      Ar-Risaalah hal. 20, cetakan Maroko. Dan perkataan semisal disebutkan dalam Mukhtashar Al-Mudawwanah karangannya, sebagaimana terdapat dalam Al-Juyuusy Al-Islaamiyyah hal. 54 yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap orang yang mengingkari tetapnya lafadh ‘dengan Dzat-Nya (bi-dzaatihi)’.

Comments

Zulkurniawan Harahap mengatakan...

Assalamu'alykum

Ustadz apakah Sifat Ilmu Allah terpisah dari Dzat Allah ?


Wallahu 'alam

Ibnu Abi Irfan mengatakan...

Akhi Zulkurniawan

sepertinya tidak ada salaf yang menyatakan sifat Dzat Alloh terpisah atau tidak terpisah dari sifat 'Ilmu Alloh.

saya khawatir, pertanyaan anda ini akan berkonsekuensi sama dengan pertanyaan seseorang kepada Imam Malik bin Anas rohimahulloh "Bagaimana sifat istiwa' Alloh?"

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/pemalsuan-perkataan-al-imam-malik.html

Anonim mengatakan...

Assalamuaalaikum.

Semoga Allah senantiasa meluruskan niat akhi abul-jauzaa dalam menyebarkan sunnah sahih Nabi SAW.

Benarkah kitab Risalah al-Ishthakhri dan al-Radd ‘ala al-Jahamiyyah adalah bukan karangan imam Ahmad bin Hanbal, seperti yg dikatakan oleh Az-Dzahabi di bawah?

Al-Hafizh al-Dzahabi berkata:

لاَ كَرِسَالَةِ اْلاِصْطَخْرِيِّ، وَلاَ كَالرَّدِّ عَلىَ الْجَهَمِيَّةِ الْمَوْضُوْعِ عَلىَ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ، فَإِنَّ الرَّجُلَ كَانَ تَقِيًّا وَرِعًا لاَ يَتَفَوَّهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

“Tidak seperti Risalah-nya al-Ishthakhri, dan tidak seperti al-Radd ‘ala al-Jahamiyyah yang dipalsukan kepada Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal), karena beliau seorang yang bertakwa, wara’ dan tidak berkata seperti itu.” (Al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, juz 11, hal. 286.)

Sumber: facebook.

Zulkurniawan Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Ustadz artikel anda ini berbahaya. Seolah-olah anda mengajarkan kepada orang lain bahwa Allah mempunyai dua entitas, yaitu Dzat dan Sifat yang terpisah. Sedangkan Sudah dijelaskan oleh ulama Salaf bahwa Sifat Allah adalah melekat di dalam Dzat Allah.

Sifat Allah adalah Dzat Allah dan Dzat Allah bukanlah sifat Allah.

Bukankah Baginda Nabi saw menjelaskan bahwa Beliau tidaklah lebih dekat dengan Allah ketika Mi'raj dan tidaklah Nabi Yunus AS lebih jauh dari Allah ketika di dalam perut ikan.

Apakah jauh atau dekat yang dimaksud Nabi SAW di dalam perbandingan di atas menurut anda adalah Sifat Allah ataukah Dzat Allah ?

Coba anda baca Kitab Fiqh al-akbar bab Aqidah karangan Imam Hanafi

Kami rasa setelah membaca buku tersebut akan lebih mengerti.

Wallahu 'alam

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Yang menganggap bahaya itu ya Anda dan rekan-rekan Anda saja. Yang memahami seperti itu pun juga Anda dan rekan-rekan Anda saja yang memang memaksa untuk dipahami menurut cara Anda. Padahal jelas sekali maksudnya yang dikatakan Adz-Dzahabiy. Hal mudah dianggap sukar. Tapi mungkin saja Anda memang tidak paham apa yang dikatakan oleh Adz-Dzahabiy....

Dan ingat,... saya cuma menterjemahkan saja apa yang dikatakan oleh Adz-Dzahabiy rahimahullah. Belum pernah baca kitab Al-'Ulluw ya ?.

NB : Kitab Al-Fiqhul-Akbar itu masih saling silang kebenaran penisbatannya pada Abu Haniifah. Baca :

APAKAH KITAB AL-FIQHUL-AKBAR MERUPAKAN KARYA AL-IMAM ABU HANIFAH ?.

Sanad Kitab ‘Aqidah Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Anonim mengatakan...

akhi anonim tanggal 17 September 2013 15.57

Kitab tsb shahih karya Imam Ahmad bin Hanbal yg menshahihkan para Ulama Kibar Madzhab hanbaliyah diantaranya :
1. AL Khallal yg bertemu langsung dg murid2 Imam Ahmad bin Hanbal, sbgmn yg disebutkan oleh Ibnul Qayyim AL Jauziyah :
قال الخلَّال: كتبت هذا الكتاب - الردُّ على الزَّنادقة والجهميَّة - من خطِّ عبد الله، وكتبه عبدُ الله من خطِّ أبيه، واحتجَّ القاضي أبو يعلى في كتابه "إبطال التَّأويل" بما نقله منه عن أحمدَ، وذكر ابن عقيلٍ في كتابه بعضَ ما فيه عن أحمدَ، ونقل منه أصحابه قديمًا وحديثًا، ونقل منه البيهقيُّ وعزاه إلى أحمدَ، وصحَّحه شيخ الإسلام ابن تيميَّةَ عن أحمدَ، ولم يُسمَع من أحدٍ من متقدِّمي أصحابه ولا متأخِّريهم طعنٌ فيه
Al Khallal berkata :" aku menulis kitab ini dari khatnya Abdullah (anak Imam Ahmad bin Hanbal)dan kitab Abdullah dengan khat dari ayahnya (yaitu ahmad bin hanbal)" AL Qadhi Abu Ya'la jg berhujjah dg kitab itu dlm kitabnya Ibthal AT Ta'wil" dari yg dia nukil dari Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Uqail jg menukilnya pd sebagian kitabnya dari Imam Ahmad bin Hanbal, dan telah menukil darinya para shahabatnya (maksudnya Ulama Madzhab hanbali) yg awal maupun yg akhir, AL baihaqi jg menukil darinya dikaitkan dg Imam Ahmad bin Hanbal, di shahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu taimiyah dari Imam Ahmad bin Hanbal, dan tidak terdengar dari salah seorangpun dari ashhabnya yg mutaqaddimin maupun yg mutakhirin yg mengkritisinya"( Ijtima AL Juyusy)
cukup satu saja hujjah diatas menggugurkan pelemahan kitab Rad 'alal jahmiyah tsb apalagi bila dinukil dr Imam As Safaraini yg mana beliau sendiri telah membacanya meriwayatkannya dari Ulama2 Hanbaliyah Mu'tabarah dan telah dinukil oleh para Ulama madzhab Hanbali mutaqadimin maupun mutaakhirin.

Abu Khansa

Zulkurniawan Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Ustadz bagaiman anda menyikapi dua hadits shahih di bawah ini :

1.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: "كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىءٌ غَيْـرُهُ" (رواه البخاري والبيهقي وابن الجارود)


Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

2.


قالَ رَسُوْلُ الله: "أنْتَ الظّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىءٌ وَأنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ" (رَوَاهُ مُسلم وَغيـرُه)


"Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya).


Wallahu 'alam

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Mengimaninya saja. Tidak ada yang rumit dengan dua hadits itu. Akan tetapi :

1. Hadits pertama yang Anda sebut itu tidak lengkap. Lebih lengkapnya begini :


كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ

"Dialah Allah yang waktu itu (yaitu : waktu sebelum penciptaan langit dan bumi) tidak ada sesuatupun selain Dia. Dan 'Arsy-Nya berada di atas air, lalu Dia menulis di dalam Adz-Dzikir segala sesuatu (yang akan terjadi,) lalu Dia menciptakan langit dan bumi".

2. Nukilan terjemahan hadits Anda keliru, yang benar adalah :

"Engkaulah Yang Dhaahir Yang tidak ada sesuatupun di atas-Mu dan engkau Al-Bathin, tidak ada yang lebih dekat dari-Mu"

Kalimat dalam tanda kurung Anda itu tidak benar, karena makna Adh-Dhaahir itu telah diterangkan sendiri oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam :

فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىءٌ

"tidak ada sesuatu pun di atas-Mu (Allah)".

Adh-Dhaahir merupakan isim fa'il dari Adh-Dhuhuur yang maknanya tinggi.

Begitu pula dengan makna Al-Baathin. Makna Al-Baathin itu sudah diterangkan sendiri oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam :

فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ

"tidak ada yang lebih dekat dari-Mu".

Kata "duunaka" itu artinya bukan 'di bawah-Mu'. Duuna di situ berasal dari kata ad-dunuw yang artinya dekat atau tersembunyi. Bukan ad-duun yang artinya bawah. Hal tersebut seperti yang terdapat dalam QS. Al-Kahfi ayat 90.

wallaahu a'lam.

Zulkurniawan Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Ustadz Hehee anda sudah mulai NGAWUR anda sudah mulai mentakwil yang menjadi hal HARAM bagi madzhab anda. Kami akan mengkritisi anda :

1. Terjemahan anda :

Dialah Allah yang waktu itu (yaitu : waktu sebelum penciptaan langit dan bumi) tidak ada sesuatupun selain Dia.


Kenapa anda membuat dialam kurung sebelum penciptaan langit dan bumi. Bukankah yang dimaksud Baginda Nabi SAW adalah sebelum ada sesutupun termasuk arsy. Kalimat sesudahnya tidak ada hubungan dengan kalimat yang pertama.

Pertannyaan buat anda apakah ARsy Allah itu TIDAK TERCIPTA ?

Anda mulai NGAWUR, dan keyakinan anda juga NGAWUR.

2. Sejak kapan dan siapa yang menterjemahkan دُوْنَكَ sebagai artinya "Dekat". Sedangkan para ULama di zaman Imam Bayhaqi mengambil hadits ini sebagai dasar bahwa Allah tidak bertempat.

Coba ente tampilkan di sini TERJEMAHAN siapa yang mengartikan "dekat" bukan "dibawah"

Ente mulai mengarang. Anak kecil saja sudah tahu bahwa itu artinya "Dibawah"

Sadarlah Allah itu tidak bertempat, dan arsy Allah adalah makhluk dan diciptakan dan dia berasal dari tidak ada, dan Allah ada sebelum ada arsy.

Keyakinan ente berbahay sekali

Wallahu 'alam

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Makanya, saya sarankan Anda belajar bahasa Arab ya.... Jangan suka copi paste. Gimana mau mengkritisi kalau modal bahasa Arab minim ?. Tidak paham gramatikal bahasa Arab ?. Kan sudah saya contohkan penerapannya dalam QS. Al-Kahfi : 90 ?. Sudah deh, saya tahu kok modal Anda.....

Tentang masalah tanda kurung, itu sama sekali tak mengubah arti. Karena hadits itu sedang berbicara awal mula penciptaan. Justru copi paste Anda itu nggak lengkap.

Walhasil, sekali lagi, belajarlah bahasa Arab yang rajin......

Ucok Abdur Rohman mengatakan...

@ Zulkurniawan Harahap

Bang Zul sabar lah bang, tak usah lah kau tulis macam ini:

"2. Sejak kapan dan siapa yang menterjemahkan دُوْنَكَ sebagai artinya "Dekat". Sedangkan para ULama di zaman Imam Bayhaqi mengambil hadits ini sebagai dasar bahwa Allah tidak bertempat."

Yakin kali kau bilang Ulama di Zaman Imam Bayhaqi mengambil hadits tersebut sebagai dasar Allah Tidak Bertempat

saya rasa kau ni tak tau apa-apa dari perkataan Al-Bayhaqi tentang Al-Bathin, asal nyerocos aja kau bang macam inang-inang ilang sirihnya, kau baca ini ya, penjelasan Al-Bathin dari Al-Bayhaqi:

Imam Al-Baihaqi rahimahullah sendiri telah menukilkan perkataan al-Khathabi rahimahullah tentang makna dari Al-Bathin yang mengatakan :
يكون الظاهر بمعنى العالم بما ظهر من الأمور والباطن بمعنى المطلع على ما بطن من الغيوب
“.....sedangkan Al-Bathin dengan makna Yang Menampakan apa2 yang terdapat dalam perkara2 yang ghaib.”
(Al-Asma wa Ash-Shifat 1/99, atau Al-Asma wa ash-Shifat hal.42 –jika anda memakai kitab yang ditahqiq oleh Al-Kautsari-)

Dan makna yang imam Al-Baihaqi rahimahullah tetapkan dan beliau tetapkan pula dalam kitab beliau yang lain yaitu beliau rahimahullah mengatakan sendiri bahwa :
يكون الظاهر بمعنى العالم بما ظهر من الأمور والباطن بمعنى المطلع على ما بطن من الغيوب
“...........Al-Bathin dengan makna Yang Menampakan apa2 yang terdapat dalam perkara2 yang ghaib.”
(Al-I’tiqad hal.65)

Bahkan kalaulah mo lebih meng-eksplore dari bahasa Arabnya, maka duuna ini juga bermakna "lebih dekat".
Maka ungkapan Fa antal-Baathin fa laisa duunaka syaiun dalam hadits artinya adalah : “Dan Engkau Al-Bathin, maka tidak ada yang lebih dekat dari-Mu.”
Sebagaimana dalam kamus Al-Muhith :
وهذا دونه ، أي : أقرب منه .
“Wa haadza duunahu, yakni lebih dekat darinya.”
(Al-Muhith 1/1197)

Dan sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ruum “Wa fii adnal-Ardha” yakni : “Di negeri yang terdekat”, dan bukan : “Di negeri yang terbawah”.

Dan atas makna ini, maka imam Al-Baihaqi rahimahullah sendiri menukilkan perkataan Muqatil bin Hayan rahimahullah saat berbicara tentang firman Allah : “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”, bahwa maksud dari Al-Bathin ini adalah :
( والباطن ) أقرب من كل شيء ، وإنما يعني بالقرب بعلمه وقدرته ، وهو فوق عرشه ، وهو بكل شيء عليم ، هو الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ، مقدار كل يوم ألف عام ، ( ثم استوى على العرش
“…………….
Al-Bathin, lebih dekat dari segala sesuatu, dan hanyalah dekat ini dengan ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya sedangkan Dia ada di atas ‘Arsy-Nya, dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu…”
(Al-Asma wa Ash-Shifat 2/342)


Nah, kau baca lah itu penjelasan dari Al-Bayhaqi tentang Al-Bathin

Tak ada Al-Bayhaqi katakan bahwa Duunaka = Dibawah

Apa kau pikir Al-Bayhaqi mengikuti Ustadz Abul Jauza kah? :)

Kau belajar lagi lah yang tekun, berdoa lah pada Allah supaya ia berikan kau Ilmu yang bermanfaat

Jangan lupa doakan hidayah dan kebaikan untuk kami pemirsa blog ini ya bang

Ucok Abdur Rohman mengatakan...

@ Zul

Allah ada diatas arsy itu sesuai yang dikehendakinya

tak ada itu istilah tempat bagi Allah

Dulu Jahmiyah menolak Allah ada diatas arsy secara HAKIKI dan mereka mengatakan Allah Tidak ada di arsy, Allah Ada di Bumi, Allah ada di semua Tempat

Tapi Ulama Salaf macam Imam Ahmad, Imam Bukhori dkk Tetap Tegas menyatakan Allah Ada diatas Arsy.

Jangan nanti kau katakan bahwa Ulama Salaf hanya sekedar mengatakan bahwa Allah diatas Arsy tapi mereka Tidak menetapkan bahwa Allah diatas arsy secara HAKIKI

kemudian kau kaitkan dengan masalah Arah, Jism dll

kalau Jahmiyah menolak Allah diatas arsy secara HAKIKI maka bantahan dari Ulama Salaf yang menyatakan Allah diatas arsy adalah HAKIKI juga artinya Allah benar-benar ada diatas arsy.

jadi kalau kau berfikir Allah diatas Arsy sekedar perumpamaan maka ini adalah paham Jahmiyah, bukan Ahlu Sunnah

atau kalau kau merasa Tidak Tau apakah Allah ada diatas arsy secara HAKIKI atau MAJAZI, maka tak perlu lah kau tulis banyak-banyak tentang Sifat Allah.

macam mana kau bilang tidak tau tapi kau malah menjelaskan yang kau tidak tau, apakah itu masalah arah, jism dll

bisa pening yang baca tulisan kau

mudah-mudahan Allah berikan kepahaman kepada kita semua ya bang, amin

Abu Nayla mengatakan...

@Bang Ucok, mantab kali bang! hehe.
@Ustadz Abul Jauzaa, Jazakallahu khairan, atas share ilmunya..

Zulkurniawan Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Bang Ucok Horas heehee itukan perkataan Muqatil bina Hayyan dan coba cari apakah itu Shahih atau tidak ? hehehe dan itu bukan perkataan Imam Bayhaqi.

Coba ente lihat perkataan Imam Bayhaqi di bawah ini :

والذي روي في اّخر هذا الحديث إشارة إلى نفي المكان عن الله تعالى، وأن العبد أينما كان فهو في القرب والبعد من الله تعالى سواء، وأنه الظاهر فيصح إدراكه بالأدلة، الباطن فلا يصح إدراكه بالكون في مكان. واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلّى الله عليه و سلّم أنت الظاهر فليس فوقك شىء، وأنت الباطن فليس دونك شىء، وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان

Coba anda baca di sini :

Hadist tersebut kata Imam Bayhaqi sebagai dasar MENAMPIKAN ALLAH BERTEMPAT dan menampikan makhluk mempunyai kesamaan dengan Allah, dimanapun makhluk itu dalam kedakatan atau kejauhan. Allah SWT Al-Bathin oleh karena itu Keberadaan Allah dapat diketahui dengan bukti-bukti (adanya makhluk). Allah adalah al-Bathin oleh karena itu TIDAK SAH/SALAH/TIDAK MUNGKIN Allah mempunyai tempat.

Beberapa sahabat kami menggunakan hadits ini أنت الظاهر فليس فوقك شىء، وأنت الباطن فليس دونك untuk membantah Tempat bagi Allah. Oleh karenaitu jika tidak ada sesuatu di atas Allah dan tidak ada sesuatu di bawah Allah, maka Allah Ada tanpa tempat.

Coba anda download di sini Ucok :

http://read.kitabklasik.net/2010/06/al-asma-wa-al-shifat-abu-bakar-ahmad.html

Buat Ustadz Abul Jauza kami mau tanya di zaman Imam Bayhaqi siapa yang mengartikan Duwna sebagai "dekat" bukan "di bawah".

Kalau cuman ulama ente yang mengartikan "dekat" di zaman ini, maka hal itu TERTOLAK, karena ente dan ulama ente Fanatik buta sama madzhab ente.

Dan @Ucok tahukan ente Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya mentakwil Istiwa dengan Irtafa'a yan berarti Allah Meninggikan Diri-Nya dan bukan TEMPAT. hal ini sesuai dengan riwayat oleh Rufay` ibn Mahran Abu al-`Aliya yang bersumber dari Ibn Abbas. Dan Imam Bukhari juga mengutipkan takwil dari Mujahid yang mentakwil istiwa' menjai 'ala atau Maha Tinggi sesuai dengan Firman Allah Surah (23 : 92) coba baca :

92. yang mengetahui semua yang ghaib[1019] dan semua yang nampak, Maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan.

(Fata'alaa 'ammaa yusyrikuwn)

ini kutipan dari Shahih Bukhari :

بَاب { وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ } { وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ } قَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ { اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ } ارْتَفَعَ { فَسَوَّاهُنَّ } خَلَقَهُنَّ وَقَالَ مُجَاهِدٌ { اسْتَوَى } عَلَا عَلَى الْعَرْشِ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ { الْمَجِيدُ } الْكَرِيمُ وَ { الْوَدُودُ } الْحَبِيبُ يُقَالُ { حَمِيدٌ مَجِيدٌ } كَأَنَّهُ فَعِيلٌ مِنْ مَاجِدٍ مَحْمُودٌ مِنْ حَمِدَ

di halaman 159 di atas hadist 7418. Coba anda cari deh.

Jadi hati-hati sama Ustadz Abul Jauza ini

Wallahu 'alam


Ibnu Abi Irfan mengatakan...

di Al Quran pun cukup banyak penggunaan kata DUUNA yang berarti dekat

ذٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّٰـهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهٰدَةِ وَأَدْنَىٰٓ أَلَّا تَرْتَابُوٓا۟
(Al Baqoroh 282)

ذٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟
(An Nisa 3)

ذٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِالشَّهٰدَةِ عَلَىٰ وَجْهِهَآ
(Al Maidah 108)

إِذْ أَنتُم بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُم بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَىٰ
(Al Anfal 42)

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ
(As Sajdah 21)

ذٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَآ ءَاتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ
(Al Ahzab 51)

dan lain-lain

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saya tahu, Anda memang kurang memahami bahasa Arab, jadi agak susah menjelaskan. Coba Anda beli kamus bahasa Arab lalu kursus kilat.....

Yang mengatakan bertempat itu siapa mas ?. Anda jangan suka ngarang. Coba Anda nukil satu saja tulisan di Blog ini yang menyatakan Allah itu bertempat. Para ulama Ahlus-Sunnah mengingkari 'tempat' bagi Allah itu karena term itu memang term yang dipakai oleh makhluk. Yaitu : Yang melingkupi sesuatu. Ini mustahil bagi Allah karena bertentangan dengan ke-Maha Besar-an Allah. Misalnya jika dikatakan :

'Tono ada di ruang kelas'

Maksud perkataan ini : Tono saat itu bertempat di ruang kelas. Artinya : Ruang kelas lebih besar daripada Tono. Jika ini diatributkan pada Allah, maka mustahil, karena Allah Maha Besar.

Tapi akhir penyikapan antara ulama Ahlus-Sunnah dengan Mu'tazillah/ahli kalam/Asyaa'irah beda ketika mereka sama-sama mengingkari tempat bagi Allah.

Ulama Ahlus-Sunnah mengingkari 'tempat' bagi Allah dalam pengertian di atas, namun mereka tetap mengimani dan menetapkan sifat Allah berada di atas 'Arsy secara hakiki. Adapun Mu'tazillah/ahli kalam/Asyaa'irah, mengingkarinya dan tidak menetapkannya. Mereka ini bingung kalau ditanya : 'Dimanakah Allah ?'. Ada yang menjawab : Allah tidak ada dimana-mana. Ada yang menjawab : Allah tidak di atas tidak di bawah tidak disamping tidak di luar tidak di dalam. Ada yang mengatakan bahwa kata di atas 'Arsy itu hanyalah sekedar kata yang tidak dipahami maksudnya (oleh makhluk). Dan banyak variasi kebingungan lainnya.

Sebenarnya cara berpikir ala Mu'tazilah dan ahli kalam seperti ini lah yang secara tidak langsung menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menyikapi nash-nash (baik dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah) yang menyatakan Allah berada di atas 'Arsy harus analog dengan makhluk. Saat Allah ta'ala dan Rasul-Nya menyatakan Allah berada di atas 'Arsy dengan sifat ketinggian-Nya di atas makhluk, golongan ini tergagap-gagap menolaknya karena itu mengkonsekuensikan Allah berada di suatu 'tempat' dengan pemahaman di atas. Lalu ditolaklah nash yang sedemikian gamblang itu. Jadi, yang mujassimah itu siapa ?. Anda atau saya ?. Ulama Ahlus-Sunnah jelas sekali mengimani dan menetapkan Allah berada di atas 'Arsy, namun mereka tidak menyamakan Allah dengan makhluk-Nya yang mengkonsekuensikan Allah 'bertempat'.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Perhatikan riwayat berikut :

حدثنا وكيع عن إسماعيل عن قيس قال : لما قدم عمر الشام استقبله الناس وهو على البعير فقالوا : يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا يلقاك عظماء الناس ووجوههم ، فقال عمر : لا أراكم ههنا ، إنما الامر من هنا - وأشار بيده إلى السماء .

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Ismaa’iil, dari Qais, ia berkata : Ketika ‘Umar baru datang dari Syaam, orang-orang menghadap kepadanya dimana ia waktu itu masih di atas onta tunggangannya. Mereka berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, jika saja engkau mengendarai kuda tunggangan yang tegak, niscaya para pembesar dan tokoh-tokoh masyarakat akan menemuimu”. Maka ‘Umar menjawab : “Tidakkah kalian lihat, bahwasannya perintah itu datang dari sana ? – Dan ia (‘Umar) berisyarat dengan tangannya ke langit” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 13/40; shahih].

Adz-Dzahabiy menyatakan sanad riwayat itu seperti matahari alias sangat shahih (dalam kitab Al-'Ulluw).

Apa yang bisa Anda pahami dari riwayat ini ?. Siapakah yang dimaksud 'Umar dengan isyaratnya tersebut ?. Tentu saja Allah ta'ala. Dan kemanakah 'Umar berisyarat tentang keberadaan Allah ?. Silakan jawab sendiri.....

Mudah bukan ?.

Saya hampir yakin Anda tidak punya nyali bersikap seperti 'Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu 'anhu.

Tentang perkataan Anda :

"Buat Ustadz Abul Jauza kami mau tanya di zaman Imam Bayhaqi siapa yang mengartikan Duwna sebagai "dekat" bukan "di bawah"

[selesai kutipan]

Banyak bung....

Mau nukilan ulama bahasa atau ulama tafsir/hadits ?. Kalau ulama bahasa, salah satunya sudah dibawakan oleh bang Ucok di atas - sebagaimana terdapat dalam kamus Al-Muhiith. Atau coba baca bahasannya dari tinjauan bahasa Arab di sini. Semoga bisa membaca dan memahaminya.

Kalau dari penjelasan mufassir dan ahli hadits, coba baca penjelasan Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah :

.( وَالْبَاطِنُ ) يقول: وهو الباطن جميع الأشياء، فلا شيء أقرب إلى شيء منه، كما قال: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ .

".... tidak ada yang lebih dekat dengan sesuatu daripada-Nya, sebagaimana firman Allah : wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil-wariid"

Ini perkataan Ath-Thabariy saat menafsirkan ayat yang Anda tanyakan. Ath-Thabariy termasuk ulama generasi mutaqaddimiin - dibandingkan Al-Baihaqiy. Bisa dibaca versi online-nya di sini.

Tentang perkataan Al-Bukhaariy, tidak ada masalah padanya. Dan tentang perkataan Al-Baihaqiy, maka Anda salah mengambil terjemahan. Dan saya tahu kok sumber terjemahan contekan Anda......

Ucok Abdur Rohman mengatakan...

@ Zul

Bah, cem mana kau ini bang Zul
masalah Al-Bathin semestinya kau lah yang mendatangkan bukti bahwa Al-Bathin menurut Al-Bayhaqi = Dibawah

kalau kau tak mampu, omong kosong aja lah kau

kalau Al-Bayhaqi sendiri tidak mengartikan Al-Bathin = Dibawah, ya kau tak usah sedih dan memaksa artinya harus dibawah

Istiwa diartikan Irtifa = meninggi, apanya yang aneh bang?

tetap saja intinya Allah meninggi diatas Arsy secara HAKIKI dan bukan MAJAZI

atau kau mau artikan Allah meninggi diatas Arsy secara MAJAZI kah?

kalau kau artikan Allah meninggi diatas Arsy secara MAJAZI, sama saja kau anggap Allah Tidak Ada Diatas Arsy, karena keberadaan Allah diatas Arsy hanya MAJAZI (perumpamaan)

Hanya JAHMIYAH yang berpemahaman Allah Tidak Ada Diatas Arsy

dan kalau kau merasa Tidak Tau apakah Allah diatas Arsy secara HAKIKI atau MAJAZI maka apa gunanya kau kutap-kutip penjelasan Al-Bayhaqi dan Imam Bukhori?...jadi macam orang Spanyol yang tidak bisa bahasa batak tapi menjelaskan bahasa batak, kek mana jadinya...bisa pening yang baca tulisan kau

ini intinya:

- Jahmiyah secara TEGAS dan JELAS menyatakan bahwa Allah Tidak Ada Diatas Arsy, Allah Ada dimana-mana, Allah ada di Bumi dll secara HAKIKI, benar-benar adanya dan bukan perumpamaan

- Ulama Salaf secara TEGAS dan JELAS menyatakan bahwa Allah Diatas Arsy,(dengan Dzatnya), Terpisah dengan makhluknya, secara HAKIKI, benar-benar adanya dan bukan perumpamaan

Itu diantara yang membedakan Jahmiyah dengan Ulama Salaf,

Jangan kau kira Ulama Salaf cuma sekedar mengabarkan bahwa Allah Ada Diatas Arsy tapi mereka tidak menyatakan bahwa keberadaan Allah diatas Arsy secara HAKIKI (Allah diatas arsy sifatnya MAJAZI/Perumpamaan)

kalau macam itu pikiran kau, maka apa bedanya Ulama Salaf dan Jahmiyah..sejatinya hanya berbeda dalam menyusun kata saja

berkitab-kitab, bertahun-tahun mereka bermusuhan dengan Jahmiyah tapi ternyata esensinya sama, bah...macam apa Ulama Salaf bisa berada dalam kedunguan secara berjama'ah macam itu, kalau seperti itu yang kau pikirkan.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Perkataan Ibnu Jariir yang saya kutip tepatnya sedang menjelaskan ayat :

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

[QS. Al-Hadiid : 3]

yaitu membahas makna Al-Baathin, yaitu dekat.

Ini sama seperti hadits :

وَأنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ

"Dan engkaulah Al-Baathin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dari-Mu".

Jelas ya korelasinya.....

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebagai bahan pengaya, khususnya bagi mas Zul - semoga dapat dibaca dan dipahami - .

Penulis 'Aunul-Ma'bud saat menjelaskan makna hadits فَلَيْسَ دُونك شَيْء berkata :

أَيْ لَيْسَ شَيْء أَبْطَنَ مِنْك . وَدُون يَجِيء بِمَعْنَى غَيْر وَالْمَعْنَى لَيْسَ غَيْرك فِي الْبُطُون شَيْء أَبْطَن مِنْك ، وَقَدْ يَجِيء بِمَعْنَى قَرِيب فَالْمَعْنَى لَيْسَ شَيْء فِي الْبُطُون قَرِيبًا مِنْك

['Aunul-Ma'buud Syarh Sunan Abi Daawud, 11/90].

Al-Aajurriy - dan ia seorang iamam Ahlus-Sunnah di jamannya - saat menjelaskan makna Al-Baathin :

وَهُوَ الْبَاطِنُ: دُونَ كُلِّ شَيْءٍ يَعْلَمُ مَا تَحْتَ الأَرَضِينَ

[Asy-Syarii'ah, no. 408].

Apakah Anda akan mengartikan duuna dalam perkataan itu dengan 'di bawah'. Kalau iya, saya yakin sekali Anda itu memang tidak paham bahasa Arab. Mengapa ?. Karena kelanjutan kalimatnya adalah : ya'lamu maa tahtal-aradliin (mengetahui apa saja yang ada di bawah bumi-bumi). Artinya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tak nampak, sehingga dipahami Allah itu dekat dengan hamba-Nya melalui ilmu-Nya. Sama seperti dijelaskan dalam artikel. Dan sama pula dengan makna bahasanya, yaitu ad-dunuw.

Kalau Anda baca penjelasan para mufassir saat mereka menjelaskan makna Al-Baathin, Anda akan mendapatkan salah satu kesimpulan bahwa sifat itu menunjukkan akan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Makanya itu, sangat nggak nyambung kalau duunaka yang ada dalam hadits diartikan di bawah-Mu. Ini namanya gak paham konteks kalimat.

wallaahu a'lam.

Diyah Dzaki Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Ustadz - Ustadz anda harus lihat alur dari hadits Baginda Nabi saw tersebut. Ketika Baginda Nabi SAW mengatakan Dhahir maka lawannya Bathin dan ketika Mengatakan Fawqaka maka lawannya Duwnaka. Kalau Dhahir/Tampak lawannya Tidak Tampak. Kalau Di atas lawannya di Bawah. Ini alur yang tepat.

Yang kami bahas adalah Duwnaka bukan al-Bathin.

Kalau Imam Al-Bayhaqi sudah MENJELASKAN bahwa dengan hadits ini, maka kata Al-Bathin menampikan TEMPAT bagi Allah, dalam arti memalingkan makna dhahir dari Istiwa. coba anda lihat :


الباطن فلا يصح إدراكه بالكون في مكان

Dan Imam Al-Bayahqi menjelaskan lagi bahwa Kalau Allah itu tidak di atas dan tidak bawah maka Allah tidak bertempat (Dzat Allah buka di Arsy) coba lihat lagi :

وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان


Apabila Tidak ada sesuatu di atas dan juga tidak ada sesuatu di bawah maka Tidak Bertempat.

Sekali lagi ustadz yang ingin kami tannyakan adalah Konteks kalimat hadits di ats SIapa ulama di zaman Imam Bayhaqi yang mengartikan duwnaka artinya dekat.

Kami tahu selain di bawah Duwna bisa juga dekat atau yang lainnya tetapi sesuai dengan konteks kalimat.

Dan satu lagi Ustadz kenapa Imam Bukhari tidak mengambil makna Dhahir dari Istiwa tersebut ?

Kenapa dibiarkan saja diartikan bersemayam/ atau duduk.

Kenapa Imam Bayhaqi mentakwilnya menjadi Yang Meninggikan, dalam arti Allah Memuliakan dirinya ?

Kenapa Ustadz malah menggunakan makna Dzhahir yang bertentangan dengan ulama salaf ?

Satu lagi Ustadz kami meyakini Allah Istiwa tetapi bukan Istiwa makhluk


Wallahu 'alam

Diyah Dzaki Harahap mengatakan...

Assalamu'alaykum

Ustadz gini aja deh seperti kami katakan bahwa Imam Bayhaqi dan para sahabatnya menggunakan hadits ini :

أنت الظاهر فليس فوقك شىء، وأنت الباطن فليس دونك شىء،

Untuk membantah Allah menempati tempat.

Pertanyaan sederhana ada tidak di zaman Imam Al-Bayhaqi yang MEMBANTAH atau MENGKRITIK pernyataan Imam Bayhaqi seperti yang ente lakukan.

Sepert misalnya begini : Imam Bayhaqi tidak mengerti Bahasa Arab, Imam Bayhaqi tidak mengerti konteks kalimat. Ada nggak Ustadz.

Jawab saja : Ada atau Tidak.

والذي روي في اّخر هذا الحديث إشارة إلى نفي المكان عن الله تعالى، وأن العبد أينما كان فهو في القرب والبعد من الله تعالى سواء، وأنه الظاهر فيصح إدراكه بالأدلة، الباطن فلا يصح إدراكه بالكون في مكان. واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلّى الله عليه و سلّم أنت الظاهر فليس فوقك شىء، وأنت الباطن فليس دونك شىء، وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Makanya, Anda harus membaca konteks dalam bahasa 'Arabnya, bukan dari bahasa Indonesia. Anda itu terpengaruh pola bahasa Indonesia : Kanan-kiri, atas-bawah, dst. Padahal, dalam bahasa 'Arab gak menganut kemestian bentuk itu.

Tentang firman Allah ta'ala :

فَلَيْسَ دُونك شَيْء

itu merupakan penjelasan makna Al-Baathin. Al-Aajurriy pun mengatakan sebagaimana yang telah saya kutip di atas :

وَهُوَ الْبَاطِنُ: دُونَ كُلِّ شَيْءٍ يَعْلَمُ مَا تَحْتَ الأَرَضِينَ

Ini sekaligus menjawab pertanyaan Anda siapa yang mengartikan duunaka itu dengan dekat (dalam pembahasan Al-Baathin). Al-Aajuriiy itu seangkatan dengan Al-Baihaqiy.

Buka pula tafsir Ibnu Katsiir. Ketika ia membahas makna Al-Baathin, ia mengutip hadits yang Anda sebut itu. Lihat pula penjelasan penulis kitab 'Aunul-Ma'buud di atas. Sebenarnya masih banyak yang dapat dinukilkan.

Jadi, Anda tidak bisa memisahkannya dalam konteks satu kalimat bersambung. Tentu saja, itu kalau Anda paham bahasa Arab.

Dan.... yang menjadi hujjah itu nash. Adapun perkataan manusia, siapapun dapat diterima atau ditolak. Dalam Al-Qur'an itu banyak yang mencantumkan kata duunaka dengan dekat. Hanya karena Anda tidak tahulah bahasa Arab itu menjadi salah. Kasihan.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Jujur saja, Anda itu paham bahasa Arab nggak ?. Kalau tidak paham, ya susah. Kan sudah dirunut, ketika dikatakan sebelumnya bahwa memahami kata itu mesti dilihat konteks kalimatnya. Nih sekali lagi :

أنت الظاهر

Makna Adh-Dhaahir di situ berhubungan dengan kalimat setelahnya :

فليس فوقك شىء

Sebagaimana telah dijelaskan, Adh-Dhaahir itu merupakan isim fa'il dari kata Adh-Dhuhuur, yang artinya tinggi.

Nah sekarang Anda lihat makna Al-Baathin. Cari dan ubek-ubek dalam kamus bahasa Arab atau cari penjelasan ulama mengenai makna Al-Baathin.,... Cocok nggak artinya kalau kemudian digandengkan dengan : 'tidak ada sesuatupun di bawah-Mu' ???.

NB : Para ulama menjelaskan - sebagaimana saya kutip di atas - bahwa Al-Baathin maknanya buthuunush-shifaat, yaitu Allah lebih dekat dengan makhluk-Nya daripada yang lainnya. Ada juga yang memaknai Allah mengetahui baik yang nampak maupun tersembunyi - yang menunjukkan ilmu Allah ta'ala. Variasi tafsir yang ada merujuk pada makna ini. Nah, apakah kemudian pas dan cocok jika Al-Baathin itu digandengkan dengan : 'tidak ada sesuatupun di bawah-Mu' ???. Atau yang lebih tepat : 'Tidak ada sesuatupun yang lebih dekat dari-Mu ?. Duunaka di situ berasal dari kata ad-dunuw yang artinya dekat.

Silakan berpikir !!

Anonim mengatakan...

Akhi Zul mengatakan bahwa Imam Al Baihaqi mengartikan hadits di atas dengan "Yang tidak ada apapun di bawah-Mu." dan menggunakan hadits ini untuk menafikan TEMPAT bagi Alloh.

dengan kata lain, menurut akhi Zul, jika hadits itu diartikan "Yang tidak ada yang lebih dekat dari-Mu.", maka ini berarti menetapkan adanya TEMPAT bagi Alloh.

lantas bagaimana dengan firman Alloh :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّكُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

bukankah sifat kedekatan Alloh ini sering dipakai oleh orang-orang seperti Akhi Zul untuk menafikan keberadaan Alloh di atas langit?

Anonim mengatakan...

9. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’diy rahimahullah.

Beliau berkata :

فالحكم بغير ما أنزل الله من أعمال أهل الكفر، وقد يكون كفرً ينقل عن الملة، وذلك إذا اعتقد حله وجوازه، وقد يكون كبيرة من كبائر الذنوب، ومن أعمال الكفر قد استحق من فعله العذاب الشديد .. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قال ابن عباس: كفر دون كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق، فهو ظلم أكبر عند استحلاله، وعظيمة كبيرة عند فعله غير مستحل له

”Berhukum dengan selain yang diturunkan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir, kadangkala hal itu bisa mengeluarkannya dari Islam. Yang demikian itu apabila ia meyakini tentang kebolehannya. Dan kadangkala ia merupakan dosa besar, dan hal ini termasuk perbuatan orang-orang kafir yang berhak atas perbuatannya adzab yang keras..... {Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir}, telah berkata Ibnu ’Abbas : Kekufuran di bawah kekufuran (kufur ashghar), kedhaliman di bawah kedhaliman, dan kefasiqan di bawah kefasiqan. Hal iu menjadi kedhaliman yang besar apabila menghalalkannya, dan menjadi dosa besar apabila tidak menghalalkannya” [Taisir Kariimir-Rahman, 2/296-297].

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/07/shahih-atsar-ibnu-abbas-kufrun-duuna.html

liat sendiri abul jazaa menerjemahkan DUUNA= DIBAWAH, mudah2an gak nelan ludah sendiri

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saban hari saya menelan ludah saya sendiri. Tapi nampaknya Anda memang tidak paham apa yang sedang dibahas. Silakan membaca lagi dengan cermat apa yang telah dibicarakan di atas.

Abdullah mengatakan...

Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn
Idris (w 204 H),
seorang ulama Salaf terkemuka
perintis madzhab
Syafi’i, berkata:
ﺇﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺎﻥ ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻓﺨﻠﻖ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ
ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺔ
ﺍﻷﺯﻟﻴﺔ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺧﻠﻘﻪ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻻ
ﻳﺠﻮﺯ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ
ﻓﻲ ﺫﺍﺗﻪ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ ( ﺇﺗﺤﺎﻑ
ﺍﻟﺴﺎﺩﺓ ﺍﻟﻤﺘﻘﻴﻦ
ﺑﺸﺮﺡ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ, ﺝ 2 ، ﺹ 24 )
“Sesungguhnya Allah ada tanpa
permulaan dan
tanpa tempat. Kemudian Dia
menciptakan tempat,
dan Dia tetap dengan sifat-sifat-
Nya yang Azali
sebelum Dia menciptakan tempat
tanpa tempat.
Tidak boleh bagi-Nya berubah,
baik pada Dzat
maupun pada sifat-sifat-Nya
” (LIhat az-Zabidi,
Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2,
h. 24).
Dalam salah satu kitab karnya; al-
Fiqh al-Akbar
[selain Imam Abu Hanifah; Imam
asy-Syafi'i juga
menuliskan Risalah Aqidah
Ahlussunnah dengan
judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-
Syafi’i berkata:
ﻭﺍﻋﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻟﻪ،
ﻭﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻫﻮ ﺃﻥ
ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺎﻥ ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻟﻪ ﻓﺨﻠﻖ
ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺘﻪ
ﺍﻷﺯﻟﻴﺔ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺧﻠﻘﻪ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ، ﺇﺫ ﻻ
ﻳﺠﻮﺯ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ
ﻓﻲ ﺫﺍﺗﻪ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ، ﻭﻷﻥ
ﻣﻦ ﻟﻪ ﻣﻜﺎﻥ ﻓﻠﻪ
ﺗﺤﺖ، ﻭﻣﻦ ﻟﻪ ﺗﺤﺖ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺘﻨﺎﻫﻲ
ﺍﻟﺬﺍﺕ ﻣﺤﺪﻭﺩﺍ
ﻭﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻣﺨﻠﻮﻕ، ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ
ﻋﻠﻮﺍ ﻛﺒﻴﺮﺍ، ﻭﻟﻬﺬﺍ
ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺍﺳﺘﺤﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ
ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺇﻻ
ﺑﺎﻟﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻭﺍﻻﺗﺼﺎﻝ ﻭﺍﻻﻧﻔﺼﺎﻝ (ﺍﻟﻔﻘﻪ
ﺍﻷﻛﺒﺮ، ﺹ 13 )
“Ketahuilah bahwa Allah tidak
bertempat. Dalil atas
ini adalah bahwa Dia ada tanpa
permulaan dan
tanpa tempat. Setelah
menciptakan tempat Dia
tetap pada sifat-Nya yang Azali
sebelum
menciptakan tempat, ada tanpa
tempat. Tidak
boleh pada hak Allah adanya
perubahan, baik pada
Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-
Nya. Karena
sesuatu yang memiliki tempat
maka ia pasti
memiliki arah bawah, dan bila
demikian maka mesti
ia memiliki bentuk tubuh dan
batasan, dan sesuatu
yang memiliki batasan mestilah ia
merupakan
makhluk, Allah Maha Suci dari
pada itu semua.
Karena itu pula mustahil atas-Nya
memiliki istri
dan anak, sebab perkara seperti
itu tidak terjadi
kecuali dengan adanya sentuhan,
menempel, dan
terpisah, dan Allah mustahil bagi-
Nya terbagi-bagi
dan terpisah-pisah. Karenanya
tidak boleh
dibayangkan dari Allah adanya
sifat menempel dan
berpisah. Oleh sebab itu adanya
suami, istri, dan
anak pada hak Allah adalah
sesuatu yang
mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13)
Bagaimna tanggapan ustadz?

Anonim mengatakan...

Alloh Maha Besar
Apakah sebelum Alloh mencipta makluk, Alloh diliputi oleh ruang? Apakah setelah mencipta makluk ('arsy), menjadikan Alloh diliputi oleh ruang ? bertempat dalam ruang? Tentu saja tidak bukan ? Apakah berkonsekuensi bagi Alloh jika Alloh ada di atas langit, di atas 'arsy menjadikan Nya dilingkupi oleh ruang? Tidak bukan ?
Di atasnya bagi Alloh = di atas nya bagi makluk?.
Mendengarnya Alloh = mendengarnya makluk ? atau melihatnya Alloh = melihatnya makluk? dst. Tentu tidak sama bukan ?
Begitulah pengaruh ilmu kallam.
Bagi orang yang mengerti bahasa manusia, tentu akan aneh jika pertanyaan dimana, jawabannya ADA.
Dimana Alloh ? ada, tanpa tempat......maka orang tersebut akan menimpali "iya saya tahu kalau Alloh itu ada, tapi dimana? masak jawabnya ada? saya punjuga tahu kalau Alloh itu tidak butuh tempat!!!!.."

Azka mengatakan...

@ Abdullah 29 Juni 2014 08.29

Perkataan Imam Syafi'i yang dinukil dari Kitab Al-Fiqh Al-Akbar Tidak Shahih

Kitab tersebut Tidak Shahih Sanadnya sampai kepada Imam Syafi'i

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum.

adakah benar dakwaan di bawah ini?

---------

Abul jauzaa telah salah mengutip perkataan imam dzahabi, ini bantahan Beliau dalam kitab yg sama :

Komentar Adz Dzahabi dalam kitabnya Al ‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar :
ﺍﻟﻌﻠﻮ ﻟﻠﻌﻠﻲ ﺍﻟﻐﻔﺎﺭ - ‏( ﺝ 1 / ﺹ 236 ‏)
ﻭﻗﺪ ﻧﻘﻤﻮﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺬﺍﺗﻪ ﻓﻠﻴﺘﻪ ﺗﺮﻛﻬﺎ
Orang-orang (para ulama) mencela beliau (Ibnu Abi Zaid) karena ucapannya “BIDZATIHI”, maka sebaiknya beliau MENINGGALKANNYA….!!!
ﺍﻟﻌﻠﻮ ﻟﻠﻌﻠﻲ ﺍﻟﻐﻔﺎﺭ - ‏( ﺝ 1 / ﺹ 245 ‏)
ﻗﻠﺖ ﻗﻮﻟﻚ ﺑﺬﺍﺗﻪ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﻛﻴﺴﻚ ﻭﻟﻬﺎ ﻣﺤﻤﻞ ﺣﺴﻦ ﻭﻻ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻴﻬﺎ
Aku (Adz Dzahabi) katakan : “Ucapan Anda (Yahya bin ‘Ammar As Sijistaniy) “BIDZATIHI” berasal dari kantong Anda…!!! Untuk redaksi Dzat itu ada penanggungan yang bagus serta TIDAK ADA HAJAT terhadapnya.
Perkataan dari para Imam dan Ulama kibar seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Hammad bin Salmah, Hammad bin Zaid, Sufyan bin Uyainah, Fudhail, Ibnul Mubarok, Ahmad, Ishaq itu TIDAK ada yang memakai redaksi “BIDZATIHI”, akan tetapi orang lain yg menambah-nambahi dari kantongnya sendiri :
ﺍﻟﻌﻠﻮ ﻟﻠﻌﻠﻲ ﺍﻟﻐﻔﺎﺭ - ‏( ﺝ 1 / ﺹ 248 ‏)
ﻗﻠﺖ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﻘﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻣﺤﻔﻮﻅ ﺳﻮﻯ ﻛﻠﻤﺔ ﺑﺬﺍﺗﻪ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﻛﻴﺴﻪ ﻧﺴﺒﻬﺎ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ
Aku (Adz Dzahabi) katakan : Demikian ini apa yang dinukilnya (As Sajziy) dari mereka (para imam) adalah perkara yang masyhur dan terjaga SELAIN KALIMAT “BIDZATIHI”, karena sesungguhnya redaksi tersebut BERASAL DARI KANTONGNYA YANG DINISBATKAN KEPADA MEREKA "bil makna" (dengan periwayatan yang menggunakan makna).

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Salah mengutip bagaimana. Kan sudah disebutkan di atas referensi, teks bahasa Arabnya, beserta halamannya. Adz-Dzahabiy sudah menerangkan tujuan penggunaan kata 'bi-dzaatihi tersebut dari kalangan imam. Coba refresh kembali kalimat Adz-Dzahabiy yang ini:

"Yang diinginkan oleh Ibnu Abi Zaid dan ulama lainnya adalah adanya perbedaan antara keberadaan Allah ta’ala bersama kita dan keberadaan-Nya ta’ala di atas ‘Arsy. Maka, Allah adalah sebagaimana yang Ia firmankan (atas diri-Nya), Ia bersama kita dengan ilmu-Nya, dan Ia (tetap) berada di atas langit sebagaimana yang telah Ia beritahukan kepada kita dalam firman-Nya : ‘Allah Yang Maha Pengasih beristiwaa’ di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5).
Sekelompok ulama telah mengucapkan dengan kalimat tersebut sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Dan tidak diragukan lagi, bahwa menambah perkataan yang tidak diperlukan, maka meninggalkannya termasuk kebaikan dalam Islam"
.

Anonim mengatakan...

Saya orang yg sama dgn Anonim9 Juni 2015 23.29 di atas.

Saya lihat ustadz copy dari mukhtasar al-'uluw. Mungkinkah kalam2 tambahan seperti tuduhan si pendakwa tersebut ada pada kitab al-'uluw yg asal karya imam az-dzahabi.

Jazakallahu khair atas jawapan di atas.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saya harap kita paham apa makna 'salah mengutip'.

Apa yang saya tuliskan di atas saya ambil dari Mukhtashar Al-'Ulluw. Kalimat yang saya kutip dari kitab Mukhtashar Al-'Ulluw juga ada dalam kitab Al-'Ulluw, karena hakekat kedua kita itu sama saja. Hanya saja yang di Mukhtashar diringkas saja.

Adapun kutipan yang ada di komentar pun saya juga tahu ada dalam Al-'Ulluw. Tapi yang menjadi fokus di sini adalah bagaimana cara pemahaman Adz-Dzahabiy atas perkataan 'bi-dzaatihi' yang dikatakan para imam Ahlus-Sunnah. Dan Adz-Dzahabiy sudah menjelaskannya sebagaimana yang saya kutip di atas. Justru inilah yang menjadi fokus saya. Kok malah dikatakan salah kutip.

Pengingkaran Adz-Dzahabiy ini - menurutnya - hanyalah karena tambahan lafadh itu tidak dikatakan para ulama sebelum mereka, meskipun secara makna dapat dibenarkan. Jadi, tidak perlu menambah perkataan 'bi-dzaatihi' karena dengan pernyataan bahwa Allah di atas 'Arsy pun sudah cukup mewakili. Inilah ijtihad Adz-Dzahabiy.

Jika ingin diperjelas,... ketika ulama mengatakan - misalnya At-Tirmidziy - :

وعلمُ الله وقدرته وسلطانه في كل مكان، وهو على العرش كما وصف في كتابه

“Dan ilmu Allah, kemampuan, dan kekuasaan-Nya ada di setiap tempat. Adapun Allah ada di atas ‘Arsy sebagaimana yang Ia sifatkan dalam kitab-Nya” [Al-Jaami’ lit-Tirmidziy 5/403-404 melalui perantaraan kitab ‘Aqiidah Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah lil-Imaam At-Tirmidziy oleh Abu Mu’aadz Thaariq bin ‘Iwadlillah, hal. 95; Daarul-Wathan, Cet. 1/1421 H].

Maka, yang berada di atas langit itu dzat Allah, sedangkan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Sama seperti perkataan Al-Muzanniy:

[عال] على عرشه، وهو دان بعلمه من خلقه، أحاط علمه بالأمور، ....

“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, Ia (Allah) dekat pada hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu....” [Syarhus-Sunnah lil-Muzanniy, hal. 79 no. 1, tahqiq : Jamaal ‘Azzuun].

عال على عرشه، بائن من خلقه، موجود وليس بمعدوم ولا بمفقود

“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Allah itu ada, bukannya tidak ada dan hilang” [idem, hal. 82].

Saya kira cukup jelas.

Jadi, tidak perlu ditambah dengan bi-dzaatihi karena tanpa perkataan itu pun maknanya telah jelas untuk menunjukkannya.

Silakan baca artikel : Ketinggian Allah ta’ala di Atas Semua Makhluk-Nya.

Anonim mengatakan...

Jazakallahu khair di atas penjelasan di atas. Saya baru nampak, az-dzahabi sendiri ada mengatakan "Untuk redaksi Dzat itu ada penanggungan yang bagus". Az-dzahabi sendiri mengatakan penggunaan bidzatihi itu bagus, cuma beliau berijtihad ianya tidak perlu, seperti penjelasan ustadz di atas.