APAKAH KITAB AL-FIQHUL-AKBAR MERUPAKAN KARYA AL-IMAM ABU HANIFAH ?


Mungkin di antara kita sering membaca atau mendengar bahwa kitab Al-Fiqhul-Akbar merupakan salah satu karya besar dari Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah. Sangat banyak jika dihitung dari kalangan para ulama – baik dari kalangan Ahlus-Sunnah maupun non-Ahlus-Sunnah (ex : Asy’ariyyah atau Maturidiyyah) – yang menegaskannya. Seakan-akan hal ini merupakan satu konsensus pengetahuan yang beredar di sebagian kita.

But,..... do you know my friend bahwa sebagian ulama menyatakan kebalikan dari apa yang tertuang di paragraf pertama di atas ? Ada baiknya saya tuliskan satu riwayat yang terdapat dalam kitab Al-’Ulluw li-’Aliyyil-Ghaffar karangan Al-Imam Adz-Dzahabi, seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli sejarah. Berikut riwayat yang dimaksud :


وبلغنا عن أبي مطيع الحكم بن عبد الله البلخي صاحب الفقه الأكبر قال سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض. فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته
فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض.
قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Telah sampai sebuah riwayat kepada kami dari Abu Muthi’ Al-Hakam bin ‘Abdillah Al-Balkhi –penulis/pengarang Al-Fiqhul-Akbar – ia berkata : “Aku pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang mengatakan : ‘Aku tidak mengetahui apakah Rabb-ku ada di langit atau ada di bumi’. Maka beliau (Abu Hanifah) berkata : ‘Sungguh ia telah kafir, karena Allah ta’ala berfirman : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy” [QS. Thaha : 5]. Adapun ‘Arsy-Nya berada di atas langit-langit (yang tujuh)’.
Maka aku kembali bertanya : ”Bahwasannya ia mengatakan : ’Aku mengatakan Allah itu beristiwaa’ di atas ’Arsy’, akan tetapi ia juga berkata : ’Aku tidak tahu ’Arsy itu berada di langit atau di bumi’.
Abu Hanifah berkata : ”Apabila ia mengingkari bahwa Allah itu berada di atas langit, maka sungguh ia telah kafir”.
(Adz-Dzahabi berkata : ) Diriwayatkan oleh pemilik Al-Faruq dengan sanad dari Abu Bakr bin Nashir bin Yahya, dari Al-Hakam
[selesai – Kitaabul-’Ulluw li-’Aliyyil-Ghaffar , hal. 134 no. 363].

Perhatikan kalimat yang saya garis bawah dan berwarna biru di atas. Perkataan Al-Imam Adz-Dzahabi : Shaahibul-Fiqhil-Akbar {صاحب الفقه الأكبر} – menunjukkan bahwa kitab Al-Fiqhul-Akbar bukanlah karangan Al-Imam Abu Hanifah, akan tetapi karangan Abu Muthi’ Al-Hakam bin ‘Abdillah Al-Balkhi
[1]. Keterangan ini tentu berbeda dengan mayoritas ulama Hanafiyyah. Dan sepertinya Asy-Syaikh Al-Albani dalam Mukhtashar Al-’Ulluw menguatkan pendapat ini.

Wallaahu a’lam ish-shawwab.



Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogory – 1429/2008 M.

----------------
Catatan kaki :

[1] Al-Hakam bin ’Abdillah, Abu Muthi’ Al-Balkhi. Seorang faqih, shahabat Abu Hanifah. Mayoritas ahli hadits melemahkan riwayatnya. Keterangan lebih lengkap, silakan lihat Mizaanul-I’tidaal juz 1 biografi no. 2181.

Comments

Anonim mengatakan...

Hmm judul tulisan ini memang agak beda...hehe ga cari-cari sensasi kan akhi, bercanda ya akh.

Sekedar tambahan mungkin untuk memperkaya tulisan antum..berikut ini pandangan syaikh muhammad ibrahim guru syaikh bin baz yang amat tegas menjawab masalah kitab fiqh al-akbar. Mungkin beliau melihat manfaat yang lebih besar dan lebih afdol untuk menampik keraguan akan penisbatan kitab fiqh akbar kepada abu Hanifah..

(4498- الفقه الأكبر)
شهرته معروفة معلومة وثابت عن أبي حنيفة بالأسانيد الثابتة، ويوجد من هو داعي في الأحناف ليس منهم أشكل عيه نسبته إليه، وذلك لما دخل عليه من التجهم فرآه يخالف معتقده، وذلك أن كثيراً منهم أشعرية الاعتقاد أو ما تريدية الاعتقاد، فرأوا أنه يتعين نفي ذلك عن أبي حنيفة، وان الإمام إمام صدق، وذلك لجهلهم بإمامهم وبالكتاب والسنة، كما وقع لغيرهم من أتباع الأئمة. (تقرير حموية).
فهرس المجلد الثالث عشر (القسمة - معارف متنوعة)

الكتاب : فتاوى ورسائل الشيخ محمد بن إبراهيم


kitab fiqh akbar termasuk hujjah ahlussunnah dalam membantah ahlul bid'ah karena berasal dari sosok orang yang rosiqin dalam keilmuaan. Imam Abu hanifah. jadi sangat maslahat bagi ahlussunnah untuk menghilang keragu-raguan akan penisbatan kitab tersebut kepada abu hanifah begitu lah sikap para ulama yang mendahulukan maslahat umum bukan maslahat khusus terbatas bagi khusus bagi yang senang wacana2 yang lebih mendetail dan agak menyelisihi maslahat umum.


Dan Imam Adz-Dzahabi sendiri yang antum kutip menisbatkan kitab Al-fiqh Al-akbar kepada Abu Mathiq dalam redaksi lain tidak disebutkan ia sebagai Shohibul Kitab tapi disebutkan sebagai Periwayat dari perkataan imam abu hanafi.

وروى أبو مطيع الحكم5 بن عبد الله البلخي6 في الفقه الأكبر فقال: "[سألت أبا حنيفة عمن يقول: لا أعرف ربي في السماء

الكتاب : العرش
تأليف:
محمد بن أحمد بن عثمان الذهبي

Memang masalah seperti ini sebaiknya di kembalikan kepada ahlinya…dan mengikuti pendapat yang lebih mahsyur dan banyak di ambil oleh Kibar ulama Ahlussunnah dan tidak membawa manusia pada pendapat2 yang tidak begitu populer. Agar menciptakan kemaslahatan yang lebih besar

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Apakah Syaikh Al-Albaniy bukan ulama besar (baca : Kibarul-Ulama)? Nampaknya antum sebelum ini belum membaca kitab Mukhtashar Al-'Ulluw sehingga perkataan dan analisis beliau terlewatkan. Jelas-jelas beliau saat mengomentari riwayat yang dibawakan Adz-Dzahabiy berkata : Menurut saya, pernyataan Adz-Dzahabiy : 'shaahibul-Fiqhil-Akbar' ; merupakan indikasi kuat bahwa kitab Al-Fiqhul-Akbar bukan dikarang oleh Al-Imam Abu Hanifah. Pendapat ini berlawanan dengan pendapat yang masyhur pada madzhab Hanafiy" [selesai].

Saya hargai jika antum memegang pendapat kebalikan dari artikel ini dengan membawa perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim. Jika antum berhenti sampai di situ pun tidak tercela karena antum telah menisbatkannya pada perkataan ulama.

Sebenarnya pembahasan keabsahan penisbatan kitab Al-Fiqhul-Akbar kepada Abu Hanifah telah ramai diperbincangkan para muhaqqiqin - terutama di negeri-negeri Arab sana. Jika ada yang belum mengetahuinya, anggaplah artikel ini sebagai muqaddimah sebelum melakukan penelitian.

Pendapat masyhur bukanlah selalu menjadi hujjah dalam kebenaran, sebagaimana pula kebenaran bukan otoritas pendapat jumhur. Yang penting adalah bukti dan usaha mencarinya sehingga mengantarkan pada kebenaran.

Tentang Abu Muthi' Al-Balkhiy, memang ia dikenal sebagai salah satu periwayat. Namun periwayat tidak menutup kemungkinan sebagai penulis. Lagi pula, tahukah antum bagaimana komentar ulama terhadap Abu Muthi' ini? Silakan buka-buka kitab rijal.

Awad Khan mengatakan...

salam alaik....ad dhazabi menilai dengan kualitas hafidz dan soduq....jangan taklid lah ustd dengan al-bany...metode ilmuah tidak membnarkan dengan pembuktian satu orang....makasih

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Komentar Anda tidak relevan