Makmum Mengangkat Tangan Mengikuti Imam Ketika Qunut Shubuh ?


Tanya : Apakah makmum wajib mengangkat tangan bersama imam yang melakukan qunut Shubuh, sementara ia (makmum) meyakini bahwa qunut tersebut tidak disyari’atkan ?

Jawab : Permasalahan ini sebenarnya pernah dibahas di blog ini sebelumnya, namun tidak mengapa jika pada kesempatan kali ini diulang kembali untuk satu faedah.
Qunut Shubuh yang dilakukan secara rutin adalah perbuatan yang sama sekali tidak disyari’atkan dalam shalat. Bahkan disebut dalam riwayat, perbuatan tersebut merupakan bid’ah (baca : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/qunut-shubuh.html).
Adapun permasalahan apakah makmum mengikuti imam mengangkat tangan ketika qunut, maka terjadi perselisihan di kalangan ulama. Ahmad dalam satu riwayat dinyatakan bahwa beliau diam tidak mengikuti imam dalam qunut Shubuh.[1] Begitu juga Abul-Husain Ishaaq bin Rahawaih membawakan riwayat shahabat yang tidak mengikuti imam dalam Qunut Shubuh (Al-Mubdi’, 2/238). Inilah juga yang menjadi pendapat Abu Haniifah dan Muhammad bin Al-Hasan (Fathul-Qadiir, 2/367). Akan tetapi Ahmad dalam satu riwayat, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul-Qayyim berpendapat lain, yaitu makmum mengikuti imam mengangkat tangan ketika qunut Shubuh.
Adapun saya di sini, cenderung mengikuti pendapat pertama, yaitu tidak ikut mengangkat tangan, karena qunut Shubuh adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Jika ada yang berkata bahwa makmum wajib mengikuti imam berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا وإذا رَفَعَ فَارْفَعُوا وإذا قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وإذا صلى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
“(Seseorang) dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku’ maka ruku’lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata “Sami’allahu liman hamidahu” ucapkanlah “Robbanaa wa lakalhamdu”. Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk” (HR Al-Bukhari no 657).
إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا عليه فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا
“(Seseorang) dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian…” (HR Al-Bukhari no 689).
maka,… mari kita lihat apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Hadits yang lebih lengkap adalah sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رَضيَ الله عَنهَا قالَتْ: "صَلى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم في بَيْتِهِ وَهُوَ شَاك فصَلًى جَالِساً، وَصلَّى وَرَاءهُ قَوم قياماً فَأشَار إلَيْهِمْ: أنِ اجْلِسُوا، فلَمَا انصرف قَال: إنَّمَا جُعِلَ الإمَام لِيؤتَمَّ بِهِ، فإذا رَكع فَاركعُوا، وَإِذَا رَفع فَارْفَعُوا، وَإِذَا قال: سمع الله لمن حَمِدَهُ، فقُولُوا: ربَنّاَ وَلَكَ الحمد، وإِذَا صَلى جَالِساً فصَلوا جُلُوساً أجْمَعُونَ ".
Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di rumahnya yang ketika itu beliau sedang sakit. Beberapa orang shahabat shalat di belakang beliau sambil berdiri. (Mengetahui hal itu), beliau berisyarat kepada mereka : “Duduklah”. Ketika telah selesai, maka beliau bersabda : “Imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Apabila ia rukuk, maka rukuklah. Apabila ia mengangkat kepala, maka angkatlah kepala kalian. Apabila ia mengucapkan : ‘sami’allaahu liman-hamidah’, maka ucapkanlah : ‘rabbanaa walakal-hamdu’. Apabila ia shalat sambil duduk, maka duduklah kalian semuanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dan Muslim].
Hadits ini beliau ucapkan saat melihat para shahabat berdiri ketika bermakmum, sementara beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam duduk. Akan tetapi di hadits lain disebutkan tentang tentang shifat shalat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat :
قَالَ أَجْلِسَانِي إِلَى جَنْبِهِ فَأَجْلَسَاهُ إِلَى جَنْبِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ فَجَعَلَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي وَهُوَ يَأْتَمُّ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ
Beliau bersabda : “Dudukkanlah aku di sampingnya (Abu Bakr)”. Maka mereka (‘Abbaas dan ‘Aliy) mendudukkan beliau di samping Abu Bakr. Ia (Abu Bakr) mengikuti shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan orang-orang mengikuti shalat Abu Bakr. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada waktu itu (mengimami) shalat sambil duduk” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dan Muslim].
Dapat kita lihat bahwasannya keharusan mengikuti imam tidaklah dalam kemutlakannya (dalam masalah berdiri atau duduknya makmum). Dalam hadits pertama, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para shahabat duduk karena dijadikan imam itu hanyalah untuk diikuti, namun dalam hadits kedua, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam men-taqrir perbuatan para shahabatnya yang bermakmum sambil berdiri sementara beliau mengimami sambil duduk.
Al-Bukhaariy menukil perkataan gurunya, Al-Humaidiy, saat mengomentari hadits yang pertama di atas :
قوله: (إذا صلى جالسا فصلوا جلوسا). هو في مرضه القديم، ثم صلى بعد ذلك النبي صلى الله عليه وسلم جالسا، والناس خلفه قياما، لم يأمرهم بالقعود،........
“Sabda beliau : ‘apabila imam shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk’; maka itu terjadi saat beliau sakit di waktu lampau. Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat setelah itu sambil duduk, dimana para shahabat (yang menjadi makmum) menyelisihi beliau dengan shalat sambil berdiri. Beliau tidak memerintahkan mereka untuk duduk…..” [Shahih Al-Bukhaariy].
Ada banyak penjelasan para ulama mengenai permasalahan berdiri atau duduknya makmum dalam mengikuti imam yang duduk.
Oleh karena itu, menjadikan hadits ‘imam itu dijadikan hanya untuk diikuti’ sebagai dalil untuk mengikuti semua keadaan dan gerakan imam secara mutlak, termasuk dalam mengangkat tangan saat qunut Shubuh, menurut saya kurang pas.
Ada dalil lain yang mungkin membantu dalam permasalahan ini :
عن أبي سعيد الخدري قال : بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بأصحابه إذ خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوا نعالهم فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاته قال ما حملكم على إلقائكم نعالكم قالوا رأيناك ألقيت نعليك فألقينا نعالنا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن جبريل صلى الله عليه وسلم أتاني فأخبرني أن فيهما قذرا وقال إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر فإن رأى في نعليه قذرا أو أذى فليمسحه وليصل فيهما
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : “Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat bersama para shahabatnya, tiba-tiba beliau melepaskan kedua sandalnya dan meletakkan di sebelah kiri beliau. Ketika para shahabat (makmum) melihat hal tersebut, mereka pun melepaskan sandal mereka. Setelah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, bersabda : “Apa yang membuat kalian melepas sandal kalian ?”. Mereka berkata : “Kami melihat engkau melepaskan sandalmu”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Jibril shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku dan memberitahukanku bahwa pada kedua sandalku itu ada najis”. Beliau melanjutkan : “Apabila salah seorang diantara kalian mendatangi masjid, hendaklah ia melihat/memeriksa. Apabila ia melihat kedua sandalnya itu ada najis atau kotoran, maka bersihkanlah lalu shalatlah dengan keduanya” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 650; shahih].
Dalam hadits ini beliau menanyakan perbuatan para shahabat yang ikut melepas sandal saat melihat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melepas sandal. Konteks sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah pengingkaran. Artinya, para shahabat seharusnya tidak perlu ikut melepaskan sandal mereka pada waktu itu, karena itu bukan merupakan bagian dari gerakan shalat yang wajib diikuti.
Pun dalam masalah ini. Jika kita sepakat bahwa qunut Shubuh bukan merupakan perkara yang masyru’, maka itu artinya qunut Shubuh bukan merupakan perbuatan yang disyari’atkan ada dalam shalat. Lain halnya jika ada yang berpendapat perbuatan itu masyru’, maka ini bukan konteks pembicaraan di sini.
Jika ada yang berdalil dengan riwayat Ibnu Mas’uud yang tetap shalat di belakang ‘Utsmaan bin ‘Affaan radliyallaahu ‘anhumaa, walaupun di awal beliau mengingkarinya, maka yang patut menjadi pertanyaan di sini : Apakah perbuatan ‘Utsmaan bin ‘Affaan radliyallaahu ‘anhu itu merupakan perbuatan yang menyelisihi sunnah, atau memang ada alasan lain (yang dapat dibenarkan) ?. Apakah shalat tamaam ketika safar memang tidak disyari’atkan[2] ? Ada beberapa jawaban yang dikemukakan para ulama.
Salah satunya Abu Dawud menyebutkan alasan ‘Utsmaan menyempurnakan shalat empat raka’at :
أن عثمان بن عفان أتم الصلاة بمنى من أجل الأعراب لأنهم كثروا عامئذ فصلى بالناس أربعا ليعلمهم أن الصلاة أربع
“Bahwasannya ‘Utsmaan bin ‘Affaan menyempurnakan shalat di Minaa karena orang-orang Arab Baduwi banyak yang ikut serta pada tahun itu. Maka ia shalat empat raka’at untuk memberitahukan kepada mereka bahwa shalat itu empat raka’at” [As-Sunan no. 1964; Al-Albaaniy berkata : “hasan”].
Alasan yang lain, ‘Utsmaan (sebagaimana juga diriwayatkan secara shahih dari ‘Aaisyah) memandang bahwa shalat di waktu safar itu boleh dikerjakan secara qashar ataupun tamam (sempurna) [sebagaimana dijelaskan oleh An-Nawawiy dalam Syarh Shahih Muslim, 5/195].
Dan seterusnya.
Intinya, apa yang dilakukan ‘Utsmaan tersebut tidaklah menyelisihi syari’at, sehingga ada kemungkinan pengingkaran Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhumaa tersebut karena ‘Utsmaan melakukan hal yang kurang utama.[3]
Kesimpulannya, makmum tidak mengikuti imam mengangkat tangan ketika qunut Shubuh.
Lihat fatwa Asy-Syaikh Muhammad ‘Aliy Firkuuz hafidhahullah : http://ferkous.com/home/?q=fatwa-501.
Wallaahu ta’ala a’lam.[4]
[abul-jauzaa’ – Yogyakarta, bulan Maret 2011 - revised : 21-03-2011].


[3]      Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu mengqashar shalat yang empat raka’at ketika safar.
[4]      Adapun Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rahimahumallah membolehkan ikut mengangkat tangan bersama imam.

Comments

Anonim mengatakan...

Ustadz, sekedar usul

penulisan Salah satu kemudian diteruskan dengan Salah dua sepertinya memiliki banyak arti, bisa yang pertama dan yang kedua, bisa juga artinya kesalahan no. 1, dan kesalahan no.2

Usul saya, penggunaan kalimat "bersayap" seperti itu supaya dihindari, walaupun maksudnya adalah untuk menyajikan penjelasan dalam gaya bahasa yang luwes.

Sekedar usulan

:)

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Usulan diterima......

Anonim mengatakan...

SALAM KENAL..
AYAT

Anonim mengatakan...

ustadz bukankah hadits bukhariy yg antum bawakan tersebut telah dirinci dalam hadits muslim?

3 Dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia menyebutkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam dalam keadaan sakit saat kami shalat di belakang beliau, dan beliau shalat dalam keadaan duduk. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun memperdengarkan kepada manusia takbir beliau. Beliau lalu menoleh kepada kami, ternyata beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, maka beliau MEMBERI ISYARAT KEPADA KAMI, AGAR KAMI DUDUK. MAKA KAMI PUN DUDUK dan kami shalat diimami oleh beliau DALAM KEADAAN DUDUK.

Tatkala beliau mengucapkan salam pertanda selesainya shalat, beliau Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

إِنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ، يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُم قُعُودٌ، فَلاَ تَفْعَلُوا، ائتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ، إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا
 
“Kalian tadi hampir-hampir berbuat seperti perbuatan orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka sementara raja-raja ini duduk. Maka janganlah kalian lakukan. Contohlah imam kalian, jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri. Namun bila ia shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dengan duduk.”


(HR. Muslim no. 927)

bgmn ustad?
 

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Pertanyaannya : Apakah hadits Jaabir itu sama peristiwanya dengan hadits 'Aaisyah ?

Dari qarinah yang ada, berlainan. Hadits 'Aaisyah yang diriwayatkan Al-Bukhaariy, menyatakan bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam masuk ketika shalat telah berjalan. Hadits Jaabir, beliau mengimami dari awal shalat.

Juga yang menunjukkan peristiwanya berlainan, dalam hadits Jaabir disebutkan bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam baru mengetahui ketika beliau telah mengimami. Adapun dalam hadits 'Aaisyah, ada halangan memahami dalam pengertian ini, sebab beliau sudah tahu para shahabat berdiri semenjak sebelum masuk shalat jama'ah.

Dan para ulama pun membedakan antara dua peristiwa itu.

Oleh karena itu, dalam kitab-kitab fiqh para ulama banyak membahas tentang hadits-hadits di atas, terutama tentang keadaan makmum berdiri ataukah duduk ketika imam shalat sambil duduk.

Wallaahu ta'ala a'lam.

Abu Zuhriy mengatakan...

setau ana sebagian ulama (ana lupa baca dibuku mana) berkata:

"kalau imam memulai shalatnya dengan duduk, maka makmum duduk. jika imam dipertengahan shalat duduk, maka makmum tetep berdiri, karena mengikuti asal imam."

bukankah hal tersebut menggabungkan kedua hal diatas ustadz?

baarakallahu fiik.

Muhammad Fariz Harlistyo mengatakan...

Bismillahirahmanirahim...

Ingin tanya tadz bagaimana perkataan Imam Ahmad rahimahullah yaitu jika ikut qunut imam sholat untuk tujuan persatuan dan agar tidak timbul kebencian antara kita dengan sebagian lain??

adakah batasannya atau penjelasan lain dari pernyataan tersebut?atau ini hnya masalah yang furu' saja?

lalu manakah yang sebaiknya ana ikuti?atau semuanya benar...

ana saat ini masih mengikuti pendapat Imam Ahmad rahimahullah tersebut,ana mohon jawabannya tadz dalam rangka memperbaiki amal-amalan ana.jazakallahu khair.

Barakallahu fiika

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Perkataan Imam Ahmad adalah satu pendapat lain selain yang ditarjih dalam artikel blog ini. Jawaban saya ya ada dalam atikel di atas.