Kisah Sang Pengemis : Al-Imam Baqiy bin Makhlad Al-Andalusiy

6 komentar

Beliau adalah seorang imam, faqiih, zuhud, lagi wara’; salah satu murid Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terkemuka dari negeri Andalus.
Ada satu cerita menarik dari beliau - yang pada kesempatan ini akan saya tuliskan – yaitu bagaimana perjuangan beliau untuk mendapatkan ilmu sehingga ‘memaksa’-nya menjadi seorang ‘pengemis’. Tapi jangan berpersepsi negatif dahulu sebelum membacanya. Okey ?!

Mengenal Fiqh Syi’ah (02) – Meratap

7 komentar

Meratap atau niyaahah adalah perbuatan yang menggambarkan kesedihan seseorang atas musibah yang menimpanya dengan berteriak menangis, merobek-robek baju, menampar-nampar pipi, menyakiti diri, dan sejenisnya. Dalam perspektif Ahlus-Sunnah, sudah menjadi satu kesepakatan bahwa perbuatan ini adalah terlarang. Terlarang menurut nash dan akal sehat.
Allah ta’ala berfirman :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” [QS. Al-Baqarah : 155-157].

Kadar Mengusap Kepala Ketika Wudlu

3 komentar

Kewajiban mengusap kepala merupakan kesepakatan (ijma’) ulama berdasarkan firman Allah ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” [QS. Al-Maaidah : 6].
Akan tetapi mereka (ulama) berbeda pendapat tentang kadar kewajiban pengusapan terhadap kepala ini. Secara garis besar dapat dikelompokkan dalam tiga macam pendapat.

Keluarga ‘Aliy bin Abi Thaalib yang Bernama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan

1 komentar

Dalam artikel sebelumnya[1], telah disebutkan beberapa anak ‘Aliy bin Abi Thaalib yang bernama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan. Betapa ini menunjukkan bahwa ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak membenci ketiga shahabat tersebut sehingga ia ridla ketiga anaknya memakai nama mereka. Berbeda halnya dengan orang yang mengaku-ngaku cinta kepada ‘Aliy – terutama orang-orang belakangan – namun tidak meneladani ‘Aliy. Jarang sekali (atau bahkan tidak ada ?) kita dapatkan mereka memakai nama Abu Bakr, ‘Umar, atau ‘Utsmaan.
Bahkan, dalam penyebutan sejarah pun terdapat distorsi yang cukup serius dimana sebagian mereka enggan menyebutkan nama anak-anak ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang memakai nama tiga khalifah tersebut yang ikut gugur di Karbalaa’ bersama Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa. Padahal, kitab-kitab sejarah – baik Syi’ah dan Ahlus-Sunnah – menjadi saksi. Mengapa ? Tentu kita sangat paham dengan politik rivalitas madzhab yang mereka lakukan. Tidak lain dikarenakan nama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan merupakan simbol kekafiran yang menyalahi ushul agama mereka, yaitu imamah.

Menikah dengan Jin

1 komentar

Tanya : Apa hukumnya menikah dengan jin ? Apakah ini diperbolehkan menurut Islam ?
Jawab : Para ulama telah berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama membolehkannya, namun sebagian yang lain mengharamkannya. Masing-masing membawakan argumentasinya yang menurut mereka kuat. Akan tetapi, yang raajih dalam permasalahan ini – wallaahu a’lam – adalah pendapat yang mengharamkannya.

Adz-Dzahabiy dan Istilah “Salafiy”

5 komentar

Bid’ahkah ?
Seorang teman meminta saya[1] menukilkan teks Arabic dari beberapa perkataan Adz-Dzahabiy tentang istilah “Salafiy”. Alhamdulillah, ada keluangan waktu untuk menuliskannya, walau mungkin ini akan mengulang (atau hanya copy paste ?) tulisan sebagian ikhwan/ustadz yang telah mendahului dalam hal ini.
Adz-Dzahabiy berkata :
وصح عن الدارقطني أنه قال: ما شئ أبغض إلي من علم الكلام.
قلت: لم يدخل الرجل أبدا في علم الكلام ولا الجدال، ولا خاض في ذلك، بل كان
سلفيا
Telah shahih dari Ad-Daruquthniy bahwasannya ia berkata : “Tidak ada sesuatu yang aku benci melebihi ilmu kalam”.
Aku (Adz-Dzahabiy) berkata : “Beliau tidak masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jidal, serta tidak pula mendalaminya. Bahkan dia seorang salafy” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 16/457, Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 9/1413. Lihat juga kitab Al-Hilyah oleh Bakr Abu Zaid, hal. 12, Daarul-‘Ashimah, 1415 H].

Beberapa Faedah Hadits ‘Amru bin Syariid tentang Pengharaman Isbaal

19 komentar

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْسَرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ الشَّرِيدِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَ رَجُلًا مِنْ ثَقِيفٍ حَتَّى هَرْوَلَ فِي أَثَرِهِ حَتَّى أَخَذَ ثَوْبَهُ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ قَالَ فَكَشَفَ الرَّجُلُ عَنْ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَحْنَفُ وَتَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ قَالَ وَلَمْ يُرَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَّا وَإِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ حَتَّى مَاتَ
Telah menceritakan kepada kami Rauh : Telah menceritakan kepada kami Zakariyyaa bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Maisarah : Bahwasannya ia pernah mendengar ‘Amr bin Syariid menceritakan dari ayahnya : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengikuti seorang laki-laki dari Tsaqiif dengan berlari-lari kecil hingga beliau memegang pakaian yang dikenakan orang tersebut. Lalu beliau bersabda : “Angkatlah kain sarungmu !”. Perawi berkata : Maka laki-laki tersebut menyingkap kedua lututnya seraya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kakiku bengkok dan saling beradu kedua lututku tersebut (yaitu : cacat – Abul-Jauzaa’)”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Setiap ciptaan Allah ‘azza wa jalla itu baik”. Perawi berkata : Maka orang tersebut tidak pernah terlihat sejak itu melainkan kain sarungnya hanya sampai pertengahan betisnya hingga ia meninggal dunia” [Al-Musnad, 4/390].

Riwayat-Riwayat tentang Keutamaan Para Shahabat radliyallaahu ‘anhum

3 komentar

Allah ta’ala berfirman :
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” [QS. Al-Fath : 26].

Satu Cabang ‘Aqidah Syi’ah tentang Allah Ta’ala

7 komentar

Bagi sebagian kalangan Syi'ah Indonesia, pembahasan tentang ‘aqidah mereka sendiri adalah satu hal yang jarang. Mereka – yang umumnya awam – banyak termakan syubhat dari pendekatan sejarah, kemudian tenggelam di dalamnya. Kebodohan akan agama dan ketidakakraban akan kitab-kitab rujukan seringkali dimanfaatkan. Oleh karena itu, masyarakat awam seringkali terpesona dan silau dengan beberapa tulisan Syi’ah yang sering mengutip sumber-sumber kitab Ahlus-Sunnah – bahkan untuk kitab-kitab yang jarang/susah didapatkan. Para ulama, muhaqqiqiin (peneliti), dan penuntut ilmu banyak yang telah membuktikan kedustaan tulisan mereka atas kutipan-kutipan yang tidak sebagaimana mestinya, penggunaan riwayat-riwayat lemah dan palsu, serta pemlintiran kata dan makna yang tidak sesuai yang diinginkan syari'at.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Tidak Berwasiat tentang Kepemimpinan kepada ‘Ali radliyallaahu ‘anhu

22 komentar

Al-Bukhaariy telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا أَزْهَرُ أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَتْ مَنْ قَالَهُ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَمُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي فَدَعَا بِالطَّسْتِ فَانْخَنَثَ فَمَاتَ فَمَا شَعَرْتُ فَكَيْفَ أَوْصَى إِلَى عَلِيٍّ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad : Telah mengkhabarkan kepada kami Azhar : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, ia berkata : Disebutkan di sisi ‘Aaisyah : ‘Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sesuatu (secara khusus) kepada ‘Aliy’. Maka ia berkata : “Sungguh aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menyandarkannya di dadaku. Maka beliau meminta sebuah bejana. Badan beliau pun melemas, beliau melemas dan aku tidak sadar bahwa beliau sudah wafat, lalu kapan beliau memberinya wasiat kepada ‘Aliy ?” [Shahih Al-Bukhaariy, no. 4459].

Memberi dan Mengambil Upah dari Adzan

0 komentar

‘Utsmaan bin Abil-‘Aash radliyallaahu ‘anhu pernah berkata :
إن من آخر ما عهد إلي رسول الله صلى الله عليه وسلم أن اتخذ مؤذنا لا يأخذ على أذانه أجرا
“Sesungguhnya termasuk hal yang terakhir diamanatkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepadaku adalah mengangkat seorang muadzdzin yang tidak mengambil upah dari adzannya tersebut”.
Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidziy[1] dalam As-Sunan no. 209, Al-Humaidiy[2] dalam Al-Musnad no. 906, Ibnu Abi Syaibah[3] dalam Al-Mushannaf 1/228, Ibnu Maajah[4] dalam As-Sunan no. 714, Ibnu Hazm[5] dalam Al-Muhallaa 3/145 no. 327, Ath-Thabaraaniy[6] dalam Al-Kabiir 9/47 no. 8376 & no. 8378, dan Abu Nu’aim[7] dalam Al-Hilyah 8/134; dari tiga jalan (Abu Zubaid ‘Abtsar bin Al-Qaasim, Hafsh bin Ghiyaats, Fudlail bin ‘Iyaadl), semuanya dari Asy’ats, dari Al-Hasan, dari ‘Utsmaan bin Abil-‘Aash.

Ketika Butuh Pembantu…..

1 komentar

Keberadaan seorang pembantu di tengah rumah tangga pasangan suami istri bukan lah sesuatu hal aneh, langka, atau menakjubkan. Banyak di antara mereka dihadirkan karena kebutuhan, walau tidak dipungkiri sebagiannya karena budaya maupun kedudukan (baca : gengsi).
Lantas, bagaimana jika kita diminta oleh istri tercinta agar menghadirkan seorang (atau lebih) pembantu yang dapat membantunya menyelesaikan sebagian urusan rumah tangganya ?
Para ulama telah menjelaskan bahwa pembantu (khaadim) termasuk bagian dari nafkah yang disyari’atkan bagi suami untuk memenuhinya. Bahkan telah dinukil ijma’ akan kewajiban pemenuhan ini bagi para suami yang mempunyai kelapangan (mampu).[1] Mereka (ulama) berdalil dengan firman Allah ta’ala :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut” [QS. An-Nisaa’ : 19].

Termasuk Dosa Besar : Pemimpin yang Dhalim lagi Penipu kepada Rakyatnya

1 komentar

Oleh : Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
Allah ta’ala telah berfirman :
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat ‘adzab yang pedih” [QS. Asy-Syuuraa : 42].
كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” [QS. Al-Maaidah : 72].

‘Umar bin Al-Khaththaab Memaksa dan Memperkosa ‘Aatikah binti Zaid ?

6 komentar

‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu adalah seorang shahabat besar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang telah Allah ta’ala timpakan penyakit kronis dalam hatinya. Di antara mereka adalah orang-orang Syi’ah. Tidak sempurna kehidupan beragama mereka jika belum mengeluarkan satu laknat atau celaan kepada ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu.
Dalam salah satu tuduhan (dan celaannya) terhadap ‘Umar, orang-orang Syi’ah mengatakan bahwa ia seorang pemimpin diktator dhalim, hingga dalam permasalahan wanita. Telah diriwayatkan dalam Thabaqaat Ibni Sa’d, ‘Umar pernah menikahi ‘Aatikah dan menyetubuhinya secara paksa (baca : memperkosa). Rantai periwayatan atsar ini adalah shahih, melalui ‘Affaan (tsiqah – termasuk perawi Al-Bukhari dan Muslim) – Hammaad bin Salamah (tsiqah – termasuk perawi Muslim) – ‘Aliy bin Zaid (shaduq/tsiqah – termasuk perawi Muslim); begitulah mereka menghiasi syubhat mereka.

‘Abdullah bin Saba’ – Tokoh Nyata yang Difiktifkan

6 komentar

Banyak sudah ulama dan referensi Ahlus-Sunnah yang menyebutkan sosok ‘Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh Yahudi pembuat agama Syi’ah. Namun bagi orang Syi’ah sendiri – terutama golongan kontemporer – saling berlomba untuk memberikan bantahan tentang hal itu. Mereka mengklaim Ahlus-Sunnah telah mereka-reka tokoh ini karena permusuhan mereka terhadap Syi’ah. Banyak sudah tulisan mereka sebar, dan tidak sedikit kaum muslimin yang bodoh tertipu dengan segala bualan mereka. Mereka (kaum muslimin yang bodoh dan tertipu) itu tidak tahu bahwa sebenarnya tokoh ‘Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif, bukan pula hasil rekayasa Ahlus-Sunnah.
Oleh karena itu, di sini sedikit akan saya tulis beberapa keterangan mengenai ‘Abdullah bin Saba’ dari buku-buku induk referensi Syi’ah. Biar tidak terlalu berbusa-busa dalam bermuqaddimah, langsung saja saya tuliskan :

Ketika Keledai Telah Menjadi Perawi Hadits

7 komentar

Semalam, saya sempat tersenyum geli saat membaca satu riwayat. Dan mungkin, inilah hal yang paling menggelikan bagi saya saat membaca buku yang menceritakan seekor keledai bisa membawakan sanad satu riwayat.  Pingin tahu ? Begini kisahnya :
وَ رُوِيَ أَنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ ذَلِكَ الْحِمَارَ كَلَّمَ رَسُولَ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَقَالَ بِأَبِي أَنْتَ وَ أُمِّي إِنَّ أَبِي حَدَّثَنِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ مَعَ نُوحٍ فِي السَّفِينَةِ فَقَامَ إِلَيْهِ نُوحٌ فَمَسَحَ عَلَى كَفَلِهِ ثُمَّ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ صُلْبِ هَذَا الْحِمَارِ حِمَارٌ يَرْكَبُهُ سَيِّدُ النَّبِيِّينَ وَ خَاتَمُهُمْ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَنِي ذَلِكَ الْحِمَارَ .
Dan diriwayatkan bahwasannya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam – Abul-Jauzaa’) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai].