Sekilas Tentang Pemikiran ‘Klenik’ Al-Kulainiy dalam Kitab Al-Kaafiy


Dunia ramal-meramal adalah dunia perdukunan yang diharamkan dalam Islam. Para dukun sering kali mengklaim mengetahui hakekat sesuatu yang tersembunyi dengan dalih ‘bisikan’. Sebagian mereka menggunakan pilihan kata : ‘wahyu’. Dengan senjata inilah para dukun melakukan pengibulan secara besar-besaran bahwa mereka mengetahui semua perbendaharaan ilmu keghaiban kepada para pasiennya. Kata para dukun itu, mereka dapat mengetahui apa yang terjadi esok dan kemarin hari. Tak ada yang terlewat jika mereka berkehendak. Sekali lagi, dengan dalih kedekatan mereka dengan para ‘pembisik’ itu. Parahnya, para pasien ini mengangguk-angguk saja tanpa ada sedikit pun rasa penolakan. Lebih parah lagi, mereka yang terlibat dalam praktek perdukunan ini ada yang mengaku diri beragama Islam !!
Di antara hal yang menarik perhatian dari banyak source yang beredar di dunia Islam adalah kitab Al-Kaafiy karangan Al-Kulainiy, salah satu buku induk hadits Syi’ah yang paling utama. Ternyata dalam kitab ini menyimpan bermacam misteri tentang kehebatan para imam seperti misal klaim-klaim para dukun tadi. Di sini, saya akan mengajak para Pembaca sejenak memahami pemikiran dan ‘aqidah Al-Kulainiy yang terdeskripsikan dalam penulisan bab-bab kitab Al-Kaafiy. Sebagaimana dimaklumi, penulisan judul bab dalam kitab hadits merupakan buah pemahaman (fiqh) dari si Penulis akan hadits yang ia riwayatkan/bawakan.
Di antara bab-bab dalam kitab Al-Kaafiy antara lain adalah :
بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) يَعْلَمُونَ جَمِيعَ الْعُلُومِ الَّتِي خَرَجَتْ إِلَى الْمَلَائِكَةِ وَ الْأَنْبِيَاءِ وَ الرُّسُلِ ( عليهم السلام )
“Bab : Para imam (‘alaihis-salaam) mengetahui seluruh ilmu yang keluar kepada para malaikat, Nabi, dan Rasul (‘alaihimus-salaam)”.
Dalam bab ini ada 4 buah hadits/riwayat. Saya ambilkan satu saja contohnya :
أَبُو عَلِيٍّ الْأَشْعَرِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ النُّعْمَانِ عَنْ سُوَيْدٍ الْقَلَّاءِ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ عِلْمَيْنِ عِلْمٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا هُوَ وَ عِلْمٌ عَلَّمَهُ مَلَائِكَتَهُ وَ رُسُلَهُ فَمَا عَلَّمَهُ مَلَائِكَتَهُ وَ رُسُلَهُ ( عليهم السلام ) فَنَحْنُ نَعْلَمُهُ .
Abu ‘Aliy Al-Asy’ariy, dari Muhammad bin ‘Abdil-Jabbaar, dari Muhammad bin Ismaa’iil, dari ‘Aliy bin An-Nu’maan, dari Suwaid Al-Qallaa’, dari Abu Ayyuub, dari Abu Bashiir, dari Abu Ja’far (‘alaihis-salam), ia berkata : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mempunyai dua macam ilmu. (Pertama), ilmu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan (Kedua) ilmu yang diajarkan para malaikat dan Rasul-Nya. Segala yang diajarkan para malaikat dan Rasul-Nya (‘alaihis-salaam), maka kami mengetahuinya” [Al-Kaafiy, 1/256].
Inilah riwayat dusta yang disandarkan kepada ahlul-bait – dan ahlul-bait berlepas diri dari riwayat dusta tersebut.
Sangat hebat kedudukan para imam ini di mata Al-Kulainiy secara khusus, dan (dalam ilmu khurafat) kaum Syi’ah secara umum. Nabi Musa ‘alaihis-salaam saja tidak mengetahui sebagian ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi Khidir ‘alaihis-salaam. Allah ta’ala berfirman :
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" [QS. Al-Kahfiy : 66].
Nabi Khidir ‘alaihis-salaam berkata :
إنك على علم من علم الله علمكه الله لا أعلمه وأنا على علم من علم الله علمنيه لا تعلمه
“Sesungguhnya engkau (Musa) mengetahui sebagian ilmu Allah yang telah Ia ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui. Dan aku mengetahui sebagian ilmu Allah yang telah Ia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 122 dan Muslim no. 2380].
Di akhir kisah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menegaskan bahwa beliau tidak mengetahui ilmu tentang Nabi Khidir (dan Nabi Musa) sebatas yang difirmankan Allah ta’ala kepadanya, sehingga beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَوَدِدْتُ أَنَّهُ كَانَ صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَخْبَارِهِمَا
“Semoga Allah memberikan rahmat kepada Nabi Musa. Sungguh aku senang Musa bisa bersabar sehingga kisah Musa dan Khidir bisa diceritakan kepada kami lebih panjang” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 122 dan Muslim no. 2380].
Bab yang lain dalam kitab Al-Kaafiy :
بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) إِذَا شَاءُوا أَنْ يَعْلَمُوا عُلِّمُوا
“Bab : Bahwasannya para imam (‘alaihis-salaam) apabila ingin mengetahui, maka mereka akan diberi tahu”.
Di sini ada 3 hadits/riwayat. Saya sebutkan satu di antaranya :
أَبُو عَلِيٍّ الْأَشْعَرِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ عَنْ صَفْوَانَ عَنِ ابْنِ مُسْكَانَ عَنْ بَدْرِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ أَبِي الرَّبِيعِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ .
Abu ‘Aliy Al-Asy’ariy, dari Muhammad bin ‘Abdil-Jabbaar, dari Shafwaan, dari Ibnu Muskaan, dari Badr bin Al-Waliid, dari Abur-Rabii’, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata : “Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan diberi tahu” [Al-Kaafiy, 1/258].
Inilah riwayat dusta yang disandarkan kepada ahlul-bait – dan ahlul-bait berlepas diri dari riwayat dusta tersebut.
Dan inilah pemahaman Al-Kulainiy tentang agamanya, Syi’ah.
Allah ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang Maha Mengetahui dan Berkuasa atas segala sesuatu. Ia memberikan ilmu kepada siapa saja yang dikehendaki dan menahan ilmu kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Tidak terkecuali malaikat. Para malaikat, betapa ingin mereka mengetahui sesuatu yang ingin diketahui, tapi mereka berkata :
قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [QS. Al-Baqarah : 32].
Tidak terkecuali para Nabi dan Rasul. Telah lewat kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihimas-salaam. Tentu saja pengecualian tersebut lebih layak bagi para imam Syi’ah yang notabene bukan malaikat, bukan Nabi, dan bukan pula Rasul dimana mereka dibebani taklif terhadap syari’at Allah sebagaimana umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam lainnya. 
Bab yang lain dalam kitab Al-Kaafiy :
بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) يَعْلَمُونَ مَتَى يَمُوتُونَ وَ أَنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ إِلَّا بِاخْتِيَارٍ مِنْهُمْ
“Bab : Bahwaannya para imam (‘alaihis-salaam) mengetahui kapan mereka akan mati. Dan mereka tidak akan mati kecuali atas pilihan mereka”.
Di sini ada 8 hadits/riwayat. Saya sebutkan satu di antaranya :
عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ سَيْفِ بْنِ عَمِيرَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَعْيَنَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ (عليه السلام) قَالَ أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى النَّصْرَ عَلَى الْحُسَيْنِ ( عليه السلام ) حَتَّى كَانَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ ثُمَّ خُيِّرَ النَّصْرَ أَوْ لِقَاءَ اللَّهِ فَاخْتَارَ لِقَاءَ اللَّهِ تَعَالَى
Sejumlah shahabat kami, dari Ahmad bin Muhammad, dari ‘Aliy bin Al-Hakam, dari Saif bin ‘Amiirah, dari ‘Abdul-Malik bin A’yan, dari Abu Ja’far (‘alaihis-salaam), ia berkata : “Allah ta’ala telah menurunkan pertolongan/kemenangan kepada Al-Husain (‘alaihis-salaam) hingga antara langit dan bumi. Kemudian ia diberikan pilihan antara pertolongan/kemenangan atau pertemuan dengan Allah (wafat). Lalu ia memilih pertemuan dengan Allah ta’ala” [Al-Kaafiy, 1/260].
Inilah riwayat dusta yang disandarkan kepada ahlul-bait – dan ahlul-bait berlepas diri dari riwayat dusta tersebut.
Salah satu rahasia Allah ta’ala yang Ia sembunyikan dari para hamba-Nya dan tertulis dalam Lauh Mahfudh adalah kematian.
Allah ta’ala berfirman :
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلا دَابَّةُ الأرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan” [QS. Saba’ : 14].
Kematian adalah perkara ghaib dari Allah ta’ala. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan :
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ
“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan” [QS. Al-A’raf : 188].
Jika memang para imam Syi’ah telah mengetahui kapan ia akan wafat, satu kemusykilan (bagi saya khususnya) jika Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu membiarkan dirinya meninggal akibat memakan makanan yang telah diberi racun oleh musuh-musuhnya.
Dan inilah salah satu ‘klenik’ terbesar yang menjadi pemahaman Al-Kulainiy ketika ia menuliskan satu bab dalam Al-Kaafiy :
بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) يَعْلَمُونَ عِلْمَ مَا كَانَ وَ مَا يَكُونُ وَ أَنَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْهِمُ الشَّيْ‏ءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ
“Bab : Bahwasannya para imam (‘alaihis-salaam) mengetahui ilmu yang telah terjadi maupun yang sedang terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari mereka shalawatullah ‘alaihim”.
Di situ ada 6 buah hadits/riwayat, yang salah satunya adalah sebagai berikut :
أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِسْحَاقَ الْأَحْمَرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَمَّادٍ عَنْ سَيْفٍ التَّمَّارِ قَالَ كُنَّا مَعَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) ….. فَقَالَ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ وَ رَبِّ الْبَنِيَّةِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ كُنْتُ بَيْنَ مُوسَى وَ الْخَضِرِ لَأَخْبَرْتُهُمَا أَنِّي أَعْلَمُ مِنْهُمَا وَ لَأَنْبَأْتُهُمَا بِمَا لَيْسَ فِي أَيْدِيهِمَا لِأَنَّ مُوسَى وَ الْخَضِرَ ( عليه السلام ) أُعْطِيَا عِلْمَ مَا كَانَ وَ لَمْ يُعْطَيَا عِلْمَ مَا يَكُونُ وَ مَا هُوَ كَائِنٌ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ وَ قَدْ وَرِثْنَاهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وِرَاثَةً
Ahmad bin Muhammad dan Muhammad bin Yahyaa, dari Muhammad bin Al-Husain, dari Ibraahiim bin Ishaaq Al-Ahmar, dari ‘Abdullah bin Hammaad, dari Saif At-Tammaar, ia berkata : Kami pernah bersama Abu Ja’far (‘alaihis-salaam), …..kemudian ia berkata : “Demi Rabb Ka’bah dan Rabb Baniyyah – tiga kali - . Seandainya aku berada di antara Musa dan Khidlir, akan aku khabarkan kepada mereka berdua bahwasannya aku lebih mengetahui daripada mereka berdua. Dan akan aku beritahukan kepada mereka berdua apa-apa yang tidak ada pada diri mereka. Karena Musa dan Khidlir (‘alaihis-salaam) diberikan ilmu apa yang telah telah terjadi, namun tidak diberikan ilmu yang sedang terjadi dan akan terjadi hingga tegak hari kiamat. Dan sungguh kami telah mewarisinya dari Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) dengan satu warisan”.
Inilah ‘klenik’ agama Syi’ah yang menjadi pemahaman Al-Kulainiy dan yang lainnya. Demi Allah, ahlul-bait Nabi yang shaalih – termasuk Abu Ja’far – berlepas diri keyakinan bathil ini. Orang Syi’ah telah mengangkat kedudukan imam mereka hingga menyentuh langit ketujuh, yang membuat para Nabi dan Rasul terkesan ‘jahil’ di hadapan ilmu para imam Syi’ah. Padahal Allah ta’ala menegaskan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui hal yang ghaib selain dari yang diwahyukan kepadanya :
قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku" [QS. Al-An’aam : 50].
Dan kalaupun Allah memberikan khabar ghaib – baik yang telah lalu maupun yang kemudian – kepada para hamba-Nya dari kalangan manusia, maka itu Allah ta’ala berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya :
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya” [QS. Ali ‘Imraan : 179].
Tidak ada dalam ayat di atas kata ‘imam’, akan tetapi menyebut kata ‘rasul’.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui segala apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Oleh karena itu, tidak ada warisan apapun yang berkaitan dengan ilmu itu,….. hingga akhir kesimpulan didapati bahwa Al-Kulainiy lah yang mewariskan kedustaan itu pada umat setelahnya hingga sampai terbaca, dipahami, dan diyakini oleh kaum Syi’ah era sekarang. Allaahul-Musta’aan.
Nas-alullaaha as-salaamah wal-‘aafiyah.
[abul-jauzaa’ – 1431 H – http://abul-jauzaa.blogspot.com]. 


Comments

Anonim mengatakan...

Ustad , sedikit kritikan ...

Sebaiknya nggak usah menampilkan gambar patung sesembahan orang musyrik , tanpa itu semua tulisan antum sudah bermakna.


Anang dwicahyo

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih atas masukannya.

Tidak ada gambar patung sesembahan di atas. Gambar hanyalah foto dupa sebagai ilustrasi tema tulisan.

abu mengatakan...

emangnya kenapa kalo mengetahui? dasar wahabi dongok! sok2 ngoreksi hadis, sok2 ngerti quran? tukang nyebar fitnah lu! siapa bilang nabi & rasul gak mengetahui yg ghaib? pernah baca hadis gak lu? bnyk dlm hadis rasul mengetahui kondisi umatnya dimasa depan, rasul meramal suatu saat nti umat islam akan terbagi menjadi 73 golongan, suatu saat nti umat akan terombang ambing bagai buih dilautan, suatu saat nti nabi isa & imam mahdi akan muncul, perkara tentang kiamat dll, begitu jg nabi khidir, sekarang gua tanya sama lu, surga kekal gak? jawabnya kekal, Allah SWT kekal gak? kekal, trus kalo surga kekal Allah juga kekal berarti surga sejajar dgn Allah donk? trus gimana jawabnya?.. jawabnya surga itu kekal tapi Allah SWT Maha kekal karna kekekalan surga diberikan oleh Allah yg Maha kekal, begitu juga nabi, rasul & imam mengetahui, tapi Allah Maha mengetahui krn pengetahuan mereka (nabi, rasul & imam) diberikan oleh Allah SWT. Dari dulu emang wahabi dongok, tukang fitnah gak ada otaknya, kalo emang lu paling bener, ajak orang syiah mubahalah! jgn maen fitna disini!

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Ya aneh saja buat saya. Entah Anda. Saya tidak mengatakan bahwa Rasul tidak mengetahui sama sekali perkara ghaib. Coba Anda baca pelan-pelan tulisan di atas. Yang jadi aneh kan pernyataan imam Syiah mengetahui semua ilmu para malaikat dan nabi/rasul, jika ingin mengetahui sesuatu maka mereka pun mengetahui, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari mereka. Selengkapnya scan kembali tulisan di atas. Tidakkah Anda merasa risi dengan aqidah klenik semacam ini?

Maka, sangat tidak nyambung dengan analog2 lucu yang Anda berikan.

Ini bukan fitnah, dusta, ngibul, dan yang semisalnya. Saya menulis berdasarkan referensi. Matan kitab Al-Kaafiy saya punya. Justru saya merasa iba kepada Anda yang mungkin tidak begitu kenal dengan kitab hadits ini, sehingga mudah kena dusta orang2 Syiah dan menuduh orang lain berdusta. Sungguh saya merasa iba...

[nb : sejak kapan Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam jadi 'peramal' ? Boleh juga selera humor Anda. Tapi maaf, tidak pada tempatnya]

Anonim mengatakan...

Begitulah watak org syi'ah, klo ada sunni yg membantah perkataan ulama syi'ah dengan hujjah yg lengkap disertai dengan rujukan langsung dari kitabnya, dia akan kebakaran jenggot bahkan tidak segan2 mengatakan, "wahabi dongok!" (sikap org terpojok yg tidak bisa membantah dengan hujjah). Lagi2 wahabi dibawa2 padahal pada artikel diatas, penulis sama sekali tidak menyinggung2 wahabi. Ngga nyambung dooong ya akhi abu??...Btw akh abu, apakah anda tahu wahabi itu apa?

Anda mengajak akhi abul jauzaa' untuk bermubahalah, tolonglah anda sampaikan dulu pada tokoh2 syi'ah spt Kang Jalal, Haidar Bagir atau Hasan Dalil Al-Aydrus, apakah mereka berani bermubahalah dengan tokoh2 sunni Indonesia??? (dari dulu jg komentar org2 syi'ah klo terpojok selalu buntut2nya mengajak mubahalah).

Wong tokoh2 anda itu jg tidak ada yg brani mubahalah kok, lalu siapakah anda ini yg tiba2 mengajak abul jauzaa' mubahalah? Ngaca dulu ya akh abu.