Hadits Kewajiban Saksi dalam Pernikahan


Artikel ini sebenarnya adalah kelanjutan pembicaraan yang ada di Rujuk Dalam Thalaq Raj’iy (Thalaq Satu Dan Dua) (terutama di bagian komentar).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها وشاهدي عدل فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر، وإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي له
“Wanita mana saja yang menikah tanpa ijin dari walinya dan dua orang saksi yang ‘adil, maka pernikahan baathil. Apabila seorang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar mahar untuknya. Dan bila mereka berselisih, maka sulthan adalah wali bagi mereka yang tidak mempunyai wali”.


Hadits dengan tambahan ‘dan dua orang saksi yang ‘adil’ diriwayatkan dalam beberapa jalan. Insya Allah di bawah akan coba dipaparkan beberapa jalan periwayatannya sehingga akan nampak bagi kita kedudukannya dalam timbangan ilmu hadits.

Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.
Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam As-Sunan (4/323 no. 3533) – dan dari jalannya Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125) dan Ma’rifatus-Sunan (11/266) - , Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Baghdaadiy dalam Sab’atu Majaalis min Amaaliy Abi Thaahir (1/43), Al-Haakim dalam Ma’rifatu ‘Uluumil-Hadiits (hal. 202) – dan darinya Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125) - , Ibnu Hazm dalam Al-Muhallaa (9/465), dan Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (22/370-371); dari ‘Isaa bin Yuunus.
Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125) dan Ash-Shughraa (3/20 no. 2382); dari Yahyaa bin Sa’iid Al-Umawiy.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibbaan no. 4075; dari Hafsh bin Ghiyaats.
Ketiganya (‘Isaa bin Yuunus, Yahyaa bin Sa’iid, dan Hafsh bin Ghiyaats) dari dari Ibnu Juraij, dari Sulaimaan bin Muusaa, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah secara marfuu’.
Namun Ishaaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad (2/194 no. 698) meriwayatkan dari ‘Isaa bin Yuunus tanpa menyebutkan tambahan : ‘dua orang saksi yang ‘adil’. Dan inilah yang lebih benar sesuai dengan riwayat jama’ah sebagaimana akan dipaparkan lebih lanjut.
Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (9/117 no. 9291) juga meriwayatkan dari ‘Isaa bin Yuunus, dari ‘Utsmaan bin ‘Abdirrahman, ia berkata : Aku mendengar Az-Zuhriy menceritakan hadits dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan hadirnya wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
‘Utsmaan bin ‘Abdirrahmaan (Al-Waqqaashiy) dalam sanad ini matruuk [lihat Al-Jarh wat-Ta’diil 6/157, Majma’uz-Zawaaid 4/286, dan Takhriij Majma’il-Bahrain 4/166].
Riwayat dengan lafadh ini adalah lemah dan syaadz karena periwayatan ketiga orang di atas telah menyelisihi jama’ah perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Juraij tanpa ada tambahan ‘dua saksi ‘adil’. Mereka adalah :
1.        ‘Abdullah bin Al-Mubaarak dan Ismaa’iil bin Zakariyya; sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’iid bin Manshuur (2/55 no. 510).
2.        ‘Abdullah bin Rajaa’ Al-Muzanniy; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Humaidiy (1/272 no. 230).
3.        ‘Abdullah bin Wahb; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/7-8), Abu ‘Awaanah (3/18 no. 4038), Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 115-120), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/105), Al-Khathiib dalam Al-Fashl lil-Washl (2/760), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/369).
4.        ‘Abdurrazzaaq; sebagaimana diriwayatkan oleh dirinya dalam Al-Mushannaf (no. 10472), Ishaaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad (2/195 no. 699), Ibnul-Jaaruud (no. 700), Abu ‘Awaanah (3/18 no. 4038), Ad-Daaruquthniy dalam As-Sunan (4/313-314 no. 3520), Al-Haakim (2/168), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/105), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/371-372).
5.        Abu ‘Aashim Adl-Dlahhaak bin Makhlad; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy (no. 2230), Al-Haakim (2/168), Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 114-120), Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/370).
6.        Abu Bisyr As-Siiraafiy Al-Lu’lu’iy; sebagaimana diriwayatkan oleh As-Sahmiy dalam Taariikh Jurjaan (no. 554).
7.        Bisyr bin Al-Mufadldlal; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (3/266).
8.        Hajjaaj bin Muhammad Al-Muushiishiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu ‘Awaanah (3/18 no. 4037), Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (2/182), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/105), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/369).
9.        Hammaam bin Yahyaa; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thayaalisiy (3/72 no. 1566).
10.     Ismaa’iil bin ‘Ulayyah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad (6/47), Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/372-373), Al-Bukhaariy dalam Al-Kabiir (4/38) dan Ash-Shaghiir (1/304), Abu Ahmad Al-Haakim dalam Al-Kunaa (1/290-291), Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ (2/140), Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 115-120), dan Al-Khathiib dalam Al-Kifaayah (hal. 542).
11.     Mu’aadz bin Mu’aadz Al-‘Anbariy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (4/128) dan Ibnu Maajah (no. 1879).
12.     Muammal bin Ismaa’iil; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (115-120) dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/369-370).
13.     Muhammad bin ‘Abdillah Al-Anshaariy; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ya’laa no. 4750, Ibnul-A’raabiy dalam Mu’jam-nya (1/346 no. 664), dan Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/115-120).
14.     Muslim bin Khaalid dan ‘Abdil-Majiid bin Abi Ruwaad; sebagaimana diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad (2/13) dan Al-Umm (6/32-33 no. 2203), Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan (11/229), Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/369), dan Abu ‘Awaanah (3/19 no. 4038).
15.     Mutharrif Al-Yasaariy Al-Asham; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/377).
16.     Sa’iid bin Saalim; sebagaimana diriwayatkan Al-Baghawiy (9/39 no. 2262).
17.     Sufyaan Ats-Tsauriy; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2083), Abu ‘Awaanah (3/18 no. 4038), Ad-Daaruqthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 115-120), Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (19/85), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/370).
18.     Sufyaan bin ‘Uyainah; sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidziy (no. 1102), Al-Humaidiy (1/272 no. 230) – dan dari Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (19/86) – , Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 115-120), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/372).
19.     ‘Ubaidullah bin Muusaa; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/113).
20.     Yahyaa bin Ayyuub; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Haakim (2/168).
21.     Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy; sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa (5/179 no. 5373), Abu ‘Awaanah (3/19 no. 4039), Ath-Thahaawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/7), Ibnu Hibbaan (no. 4074), Abusy-Syaikh dalam Al-Aqraan (hal. 60 no. 181), Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 115-120), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/88), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (22/369).
Semuanya meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Sulaimaan bin Muusaa, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; kemudian menyebutkan lafadh hadits tanpa ada tambahan : ‘dua orang saksi yang ‘adil’.
Riwayat (tanpa tambahan) ini shahih, perawinya tsiqah, dan sanadnya bersambung (muttashil).
Sebagian ahli hadits ada yang mencacat riwayat ini. Ahmad (6/47), Al-Bukhaariy (Ash-Shaghiir, 1/53), dan yang lainnya membawakan perkataan Ibnu Juraij yang terkait dengan hadits ini : “Aku (Ibnu Juraij) pun menemui Az-Zuhriy, lalu aku tanyakan tentang hadits ini. Namun ia tidak mengetahuinya”.
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab berkata : “Mereka (yaitu : sebagian ulama) mendlaifkannya dengan sebab ini” [Majmuu’atul-Hadiits, 4/115].
Namun itu adalah kekeliruan Az-Zuhriy dimana ia lupa akan riwayat tersebut. Hal ini sebagaimana keterangan yang dibawakan Ibnu ‘Adiy : Berkata Ibnu Juraij : “Aku pun menemui Az-Zuhriy, lalu aku tanyakan tentang hadits itu. Namun ia tidak mengetahuinya. Aku katakan kepadanya : ‘Sesungguhnya Sulaimaan bin Muusaa telah menceritakan kepada kami hadits itu darimu’. Lalu ia mengetahui/mengenali diri Sulaimaan dan menyebutkan keadaan dirinya yang baik, dan berkata : ‘Aku khawatir terjadi kekeliruan (lupa) pada diriku” [Al-Kaamil, 3/266].
Ibnul-Jauziy berkata : “Jika telah shahih hadits ini dari Az-Zuhriy, maka ia telah lupa darinya. Hal itu tidak menunjukkan celaan kepada Sulaimaan, karena ia seorang yang tsiqah. Namun menunjukkan bahwa ia telah lupa tentang hadits ini. Telah diriwayatkan hadits ini darinya oleh Ja’far bin Rabii’ah, Qurrah bin ‘Abdirrahman, dan Ibnu Ishaaq. Sehingga menunjukkan keshahihan hadits ini. Manusia itu kadang mengatakan sesuatu dan kemudian lupa” [At-Tahqiiq, 2/256 no. 1685].
Tentang diri Sulaimaan bin Muusaa, ia telah di-tsiqah-kan oleh ‘Atha’ bin Abi Rabbaah, Az-Zuhriy, Duhaim, Ibnu Ma’iin, Ibnu ‘Adiy, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hibban. Di akhir hidupnya, hapalannya sedikit tercampur/berubah sebagaimana dikatakan Al-‘Uqailiy [lihat Tahdziibut-Tahdziib, 4/227].
Yang lebih meyakinkan bahwa Sulaimaan bin Muusaa benar-benar telah meriwayatkan dari Az-Zuhriy, maka ia (Sulaiman) mempunyai mutaba’at periwayatan dari Az-Zuhriy sebagai berikut :
1.        Al-Hajjaaj bin Arthaah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah (no. 1880), Abu Ya’laa (no. 2507 & 4906), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/106), Ibnu Abi Syaibah (4/130), Ahmad (6/260), Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (19/87), dan Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/7); dari beberapa jalan, dari Hajjaaj bin Arthaah, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
لا نكاح إلا بولي ، والسلطان ولي من لا ولي له
“Tidak sah penikahan kecuali dengan adanya wali. Dan sulthaan adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali”.
Al-Hajjaaj adalah seorang yang jujur, namun banyak melakukan kekeliruan dan tadliis [lihat At-Taqriib, hal. 222 no. 1127]; serta tidak pernah mendengar riwayat dari Az-Zuhriy [Taariikh Baghdaad, 9/139].
2.        Ja’far bin Rabii’ah.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2084, Ahmad (6/66), Abu Ya’laa (no. 4837), Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/7), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/106), dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (19/87); dari beberapa jalan, dari Ibnu Lahii’ah, dari Ja’far bin Rabii’ah, dari Ibnu Syihaab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
أيما امرأة نكحت بغير أذن وليها فنكاحها باطل فان أصابها فلها مهرها بما أصاب من فرجها وان اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي له
“Wanita mana saja yang menikah tanpa ijin dari walinya, maka nikahnya baathil. Jika seorang laki-laki telah mencampurinya, maka wajib baginya membayar mahar untuk kehormatan yang telah dilakukan pada farjinya. Dan bila mereka berselisih, maka sulthan adalah wali bagi mereka yang tidak mempunyai wali”.
Ibnu Lahii’ah adalah seorang perawi dla’iif, sedangkan Ja’far tsiqah. Selain itu, Abu Dawud berkata : “Ja’far tidak pernah mendengar riwayat dari Az-Zuhriy. Ia (Az-Zuhriy) menulis riwayat kepadanya” [As-Sunan, no. 2084].
3.        ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far.
Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/7) : Telah menceritakan kepada kami Rabii’ Al-Jiiziy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-Aswad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far, dari Ibnu Syihab, dan seterusnya sebagaimana sanad sebelumnya.
Ibnu Lahii’ah adalah perawi lemah sebagaimana disebutkan sebelumnya.
4.        Ayyuub bin Muusaa.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (4/1516) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Aliy : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin ‘Utsmaan bin Shaalih : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Furuuj, dari Ayyuub bin Muusaa, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
5.        Qurrah bin Haiwaiil.
Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 115), ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub Al-‘Allaaf Al-Mishriy dan Ahmad bin Hamaad, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Rusydiin bin Sa’d, dari Qurrah, dari Az-Zuhriy, selanjutnya seperti sanad sebelumnya.
6.        Dan yang lainnya.
Semuanya meriwayatkan tanpa adanya tambahan lafadh : “dan dua orang saksi yang ‘adil”.
Az-Zuhriy juga mempunyai dua mutaba’aah, yaitu :
1.        Hisyaam bin ‘Urwah.
Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa (no. 4682 & 4749), Abu Nu’aim dalam Akhbaaru Ashbahaan (2/30 & 2/239), dan Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (2/360 & 6/376) tanpa tambahan lafadh ‘dua orang saksi’.
Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (7/85 no. 6927), Ad-Daaruquthniy (4/321 no. 3529 & 4/324-325 no. 3534), dan Al-Khathib dalam Taariikh Baghdaad (14/50) dengan menyebutkan tambahan lafadh ‘dua orang saksi’. Namun riwayat ini tidak shahih.
Dalam sanad Ath-Thabaraaniy terdapat Muhammad bin ‘Aliy bin Habiib yang tidak diketemukan biografinya, sedangkan ‘Aliy bin Jamiil Ar-Raqiy tertuduh memalsukan hadits [lihat Takhriij Majma’il-Bahrain, 4/167 dan Miizaanul-I’tidaal 3/117]. Sanad Ad-Daaruquthniy (no. 3529), Abul-Khashiib adalah perawi majhuul – sebagaimana dikatakan sendiri oleh Ad-Daaruquthniy; dan dalam sanad yang lain (no. 3534), Muhammad bin Yaziid bin Sinaan dan ayahnya adalah lemah [lihat Nashbur-Raayah, 8/322]. Adapun sanad Al-Khathiib, Nuh bin Darraaj adalah matruuk.
Ad-Daaruquthniy menyebutkan beberapa jalan lain, dan berkata : “Begitu pula diriwayatkan oleh Sa’iid bin Khaalid bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin ‘Utsmaan, Yaziid bin Sinaan, Nuuh bin Darraaj, dan ‘Abdullah bin Hakiim Abu Bakr; dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aaisyah. Mereka semua mengatakan dalam riwayat tersebut (tambahan lafadh) : ‘dan dua orang saksi yang ‘adil’. Begitu pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa” [As-Sunan, 4/323].
Yaziid bin Sinaan dan Nuuh bin Darraaj telah berlalu penjelasannya. ‘Abdullah bin Hakiim adalah perawi yang sangat lemah [lihat Liisaanul-Miizaan 4/464-466 no. 4208]. Sedangkan Sa’iid bin Khaalid adalah seorang yang tsiqah, namun dari beberapa penelitian yang dilakukan muhaqqiqiin belum ditemukan periwayatannya sebagaimana dimaksudkan oleh Ad-Daaruqthniy.
2.        Abul-Ghusn Tsaabit bin Qais.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (3/16) dan Ad-Daaruquthniy dalam Al-‘Ilal (5/lembar 120) tanpa ada tambahan lafadh ‘dua orang saksi’.
‘Urwah bin Az-Zubair juga mempunyai dua mutaba’ah dalam periwayatan dari ‘Aaisyah, yaitu :
1.        ‘Abdullah bin Syadaad bin Al-Haad; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (2/26).
2.        Al-Qaasim bin Muhammad; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/456).
Keduanya dari ‘Aisyah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan keberadaan wali”.
Hadits Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (1/324 & 6/18, 296 & 7/107), dari jalan Hisyaam bin Sulaimaan Al-Mujaasyi’iy, dari Yaziid Ar-Raqqaasyiy, dari Anas, ia berkata : Telah berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
Tidak sah pernikahan kecuali dengan keberadaan wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
Yaziid Ar-Raqqaasyiy adalah perawi yang lemah [At-Taqriib, hal. 1071 no. 7733]. Namun sebagian huffadh ada yang memberikan jarh yang keras kepadanya seperti Muslim (lihat Al-Kunaa lembar 76), An-Nasaa’iy, dan Al-Haakim Abu Ahmad (lihat AtTahdziibul-Kamaal, 32/62) dengan matruukul-hadiits.
Tentang Hisyaam bin Sulaimaan/Salmaan Al-Mujaasyi’iy, Ibnu ‘Adiy berkata : “Hadits-haditsnya yang berasal dari Yaziid Ar-Raqqaasyiy tidak mahfuudh” [Lisaanul-Miizaan, 6/194-195 no. 694].
Hadits Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (5/363 no. 5564) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Hadlramiy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Qathn bin Nusair Adz-Dziraa’, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Amr bin An-Nu’maan Al-Baahiliy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdil-Maalik, dari Abuz-Zubair, dari Jaabir, ia berkata Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
Tidak sah pernikahan kecuali dengan keberadaan wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini sangat lemah.
Tentang Qathn bin Nusair, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/52) berkata : “Ia telah mencuri hadits, kemudian menyambungkannya”.
Al-Haitsamiy berkata : “Muhammad bin ‘Abdil-Malik, jika ia adalah Al-Waasithiy Al-Kabiir, maka ia tsiqah. Jika tidak, maka aku tidak mengetahuinya” [Majma’uz-Zawaaid, 4/286]. Muhammad Al-Waasithiy ini tidak ada yang men-tsiqah-kannya kecuali Ibnu Hibbaan. Selain itu, ia seorang mudallis yang diterima riwayatnya jika ada penjelasan tentang penyimakan periwayatannya, dan di sini ia membawakan dengan ‘an’anah.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/99) dimana Muhammad bin ‘Abdil-Malik dalam riwayat Ath-Thabaraaniy digantikan oleh Muhammad bin ‘Ubaidillah Al-‘Arzamiy. Dan kemungkinan inilah yang lebih benar dalam sanad, sebab tidak ada perawi yang bernama Muhammad bin ‘Abdil-Malik yang meriwayatkan dari Abuz-Zubair, dan meriwayatkan darinya ‘Amr bin An-Nu’man Al-Baahiliy. Yang ada adalah Muhammad bin ‘Ubaidillah Al-‘Arzamiy, dan ia seorang yang matruuk [At-Taqriib, hal. 874 no. 6148].
Hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ad-Daaruqthniy (4/313 no. 3519) dan Al-Baihaqiy (7/56) dari dua jalan, dari Ibnu Ashbahaan, dari Syariik, dari Abu Haaruun, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu secara mauquf :
لا نكاح إلا بولي وشهود ومهر.....
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali, saksi-saksi, dan mahar”.
Sanad riwayat ini sangat lemah.
Abu Haaruun, ia adalah ‘Umaarah bin Juwain, Abu Haaruun Al-‘Abdiy, seorang yang matruuk. Bahkan sebagian ahli hadits mendustakannya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 711 no. 4874].
Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy (Majma’ul-Bahrain, 4/165-166 no. 2266) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr : telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah, dari Sulaimaan bin Arqam, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang ‘adil”.
Sanad riwayat ini sangat lemah, karena Sulaimaan bin Arqam adalah matruukul-hadiits.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/99) : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Nashr Al-Qurasyiy dan As-Saajiy, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muusaa Al-Khurasyiy : Telah menceritakan kepada kami An-Nadlr bin Ismaa’iil Al-Bajaliy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaidillah Al-‘Arzamiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang ‘adil”.
Sanad riwayat ini sangat lemah. Muhammad bin ‘Ubaidillah Al-‘Arzamiy seorang yang matruuk [At-Taqriib, hal. 874 no. 6148].
Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/358), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125 & 7/143), As-Sahmiy dalam Taariikh Jurjaan (no. 38), dan Al-Khathiib dalam Taariikh-nya (4/399-400); semuanya dari jalan Ya’quub bin Al-Jarraah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Mughiirah bin Muusaa, dari Hisyaam bin Hassaan Al-Qurduusiy, dari Ibnu Siiriin, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
لا نكاح الا بولى وخاطب وشاهدى عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali, khaathib, dan dua saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini sangat lemah karena Al-Mughiirah bin Muusaa Al-Muzanniy Al-Bashriy. Al-Bukhaariy, Abu Haatim Ar-Raaziy, dan Ibnu Hibbaan berkata : “Munkarul-hadiits” [lihat At-Taariikh Al-Kabiir 7/no. 1370, Al-Jarh wat-Ta’diil 7/no. 1038, dan Al-Majruuhiin 3/7].
Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa
Ia mempunyai beberapa jalan periwayatan, antara lain :
1.      Jaabir bin Zaid, darinya.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy (no. 1103), Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir (12/182 no. 12827), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125-126); semuanya dari jalan ‘Abdul-A’laa, dari Sa’iid, dari Qataadah, dari Jaabir bin Zaid, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
البغايا اللاتي ينكحن أنفسهن بغير بينة
“Termasuk wanita pezina (pelacur) adalah orang yang menikahkan dirinya sendiri tanpa ada bukti/kesaksian”.
Yuusuf bin Hammaad : “’Abdul-A’laa telah me-marfu’-kan hadits ini dalam At-Tafsiir, namun me-mauquf-kannya dalam kitab Ath-Thalaaq” [Sunan At-Tirmidziy, 2/396 no. 1103].
At-Tirmidziy berkata : “Hadits ini tidak mahfuudh. Kami tidak mengetahui seorang pun yang me-marfu’-kannya kecuali apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdul-A’laa, dari Sa’iid, dari Qataadah secara marfu’. Dan telah diriwayatkan hadits ini oleh ‘Abdul-A’laa, dari Sa’iid secara mauquuf. Yang benar adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang perkataannya (yaitu mauquf) : ‘Tidak sah pernikahan kecuali dengan bukti/persaksian’. Begitulah yang diriwayatkan oleh ashhaab Qataadah dari Qataadah, dari Jaabir bin Zaid, dari Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dari Ibnu ‘Abbas : ‘Tidak sah pernikahan kecuali dengan bukti/persaksian’. Demikian pula yang diriwayatkan lebih dari satu orang dari Sa’iid bin Abi ‘Aruubah yang semisal dengannya secara mauquuf” [idem, 2/397 no. 1104].
Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy (2/396-397 no. 1104) : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Ghundar Muhammad bin Ja’far, dari Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dan selanjutnya seperti sanad sebelumnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (4/135) : Telah menceritakan kepada kami Haaruun, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah, dari Jaabir bin Zaid secara mauquf.
Riwayat mauquf inilah yang lebih shahih dari jalur Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dari Qataadah, dari Jaabir. Adapun riwayat marfuu’, maka ia syadz lagi tidak mahfuudh [lihat Irwaaul-Ghaliil no. 6/261-262 no. 1862].
2.      ‘Athaa’ bin Abi Rabbah, darinya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Al-‘Ilal (4/55 no. 1251), Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (no. 4520 & no. 4218) dan Al-Kabiir (11/155 no. 11343), Ibnul-Jauziy dalam Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyyah (2/622 no. 1025), Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (3/131 & 7/59), dan Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ (4/312), semuanya dari jalan Ar-Rabii’ bin bin Badr, dari An-Nahhaas bin Qahm, dari ‘Atha’ bin Abi Rabbaah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
البغايا اللاتي يُزوجن أنفسهن، لا يجوز نكاح إلا بولي، وشاهدين، ومهر ما قل أو أكثر
“Termasuk wanita pezina/pelacur adalah yang menikahkan dirinya sendiri. Tidak diperbolehkan mengadakan ikatan pernikahan kecuali dengan adanya wali, dua orang saksi, dan mahar berapapun nilainya”.
Sanad riwayat ini sangat lemah. Ar-Rabii’ bin Badr bin ‘Amr As-Sa’diy Al-Bashriy, seorang yang matruuk [At-Taqriib, hal. 319 no. 1893]. Juga An-Nahhaas bin Qahm Al-Qaisiy, seorang yang lemah [idem, hal. 1009 no. 7246].
Ar-Rabii’ mempunyai mutaba’ah dari ‘Abdurrahman bin Qais Adl-Dlabbiy sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (Majma’ul-Bahrain, 4/168 no. 2772) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haniifah Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshuur Al-Marwaziy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Qais Adl-Dlabbiy, dari An-Nahhaas bin Qahm.
Sanad riwayat ini juga sangat lemah. ‘Abdurrahman bin Qais Adl-Dlabbiy adalah seorang yang matruk. Abu Zur’ah dan yang lainnya bahkan telah mendustakannya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 596 no. 4015].
Abu Haatim berkata tentang riwayat ini : “Hadits baathil”.
3.      Maimuun bin Mihraan, darinya.
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq (6/197 no. 10481) : Dari ‘Abdullah bin Muharrar, dari Maimuun bin Mihraan, ia berkata : Aku mendengar Ibnu ‘Abbaas berkata :
البغايا اللا ئي يُزوجن بغير ولي، - أحسبه - قال : لا بد من أربعة : خاطب، وولي، وشاهدين
“Termasuk wanita pezina/pelacur adalah yang menikah tanpa ada wali – aku (perawi) mengira - Ibnu ‘Abbas berkata : “Harus ada empat hal : khaathib, wali, dan dua orang saksi.
‘Abdullah bin Muharrar adalah perawi matruuk [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3598].
4.      Seorang laki-laki yang bernama Al-Hakam, darinya.
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq (6/198 no. 10482), Ibnu Abi Syaibah (4/2/131), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/142) dan Ash-Shughraa (3/18 no. 2372) : Dari Ats-Tsauriy, dari Abu Yahyaa, dari seorang laki-laki (yang bernama Al-Hakam), dari Ibnu ‘Abbas semisal dengan riwayat Maimuun bin Mihraan.
Al-Bukhaariy dan Ibnu Hajar mengisyaratkan ia seorang rawi yang tidak ma’ruf (majhuul) [lihat At-Taariikh Al-Kabiir 2/343-344 no. 2687 dan Lisaanul-Miizaan 2/342 no. 1390]. Namun dalam sanad Ibnu Abi Syaibah disebutkan bahwa ia bernama Al-Hakam bin Miinaa’. Ia adalah seorang yang tsiqah, sebagaimana dikatakan oleh Abu Zur’ah, Ad-Daaruquthniy, Ibnu Hibbaan, Adz-Dzahabiy [lihat At-Taariikh Al-Kabiir 2/343 no. 2686, Tahdziibul-Kamaal 7/143-146, Tahdziibut-Tahdziib 2/440, Al-Kaasyif 1/346 no. 1192, dan yang lainnya].
Adapun Abu Yahyaa yang meriwayatkan dari Al-Hakam, saya (Abul-Jauzaa’) belum mengetahui biografinya. Dalam sanad As-Sunan Al-Kubraa disebutkan Muhammad bin Khaalid, namun dalam Ash-Shughraa disebutkan Muhammad bin Makhlad.
Al-Baihaqiy mendla’ifkan hadits ini dengan perkataannya : “….dengan sanad munqathi’ (terputus)” [Al-Kubraa, 7/142].
5.      Sa’iid bin Jubair, darinya.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/112) dan Ash-Shughraa (3/19 no. 2375), Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah (9/45 no. 2264); dari jalan Ar-Rabii’ : Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaafi’iy : Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Khaalid, dari Ibnu Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ مُرْشِدٍ ، وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali yang membimbing dan dua orang saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini adalah lemah. Muslim bin Khaalid adalah perawi yang jujur namun banyak salahnya (shaduuq katsiirul-auhaam) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 938 no. 6669].
Muslim bin Khaalid mempunyai mutaba’ah dari (Saiid bin Saalim dari) Ibnu Juraij sebagaimana diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad (2/16). Akan tetapi sanad riwayat ini pun lemah karena ‘an’anah Ibnu Juraij sedangkan ia seorang mudallis
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq (6/198 no. 10483), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/124), dan Ibnu Abi Syaibah (4/2/129); dari dua jalan, dari Sufyan Ats-Tsauriy, dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
لا نكاح إلا بإذن وليّ أو سلطان
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan idzin dari wali atau sulthaan”.
Al-Haitsaimiy berkata : “Rijalnya adalah rijaal Ash-Shahiih” [Majma’uz-Zawaaid, 4/286]. Ibnu Khutsaim adalah perawi shaduuq [At-Taqriib, hal. 526 no. 3489].
Sanad riwayat ini hasan.
Ats-Tsauriy mempunyai mutaba’ah dari Ja’far bin Al-Haarits sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/124).
Akan tetapi, riwayat Ats-Tsauriy yang mauquf  di atas di atas diselisihi oleh riwayat ‘Abdullah bin Dawud, Bisyr bin Al-Mufadldlal, dan ‘Abdurrahman bin Mahdiy dari Ats-Tsauriy yang membawakannya secara marfu’.
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir (12/64 no. 12483) dan Al-Ausath (1/294-295 no. 521), Adl-Dliyaa’ Al-Maqdisiy dalam Al-Mukhtarah (10/213-214 no. 223-224), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/124); dari jalan ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Qawaariiriy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud, Bisyr bin Al-Mufadldlal, dan ‘Abdurrahman bin Mahdiy, dari Sufyaan Ats-Tsauriy, dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بإذن وليّ مرشد أو سلطان
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan idzin dari wali yang membimbing atau sulthaan”.
Sufyan dalam riwayat marfu’ ini mempunyai mutaba’ah dari ‘Adiy bin Fadhl, sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam As-Sunan (4/315 no. 3521) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/124); dari jalan ‘Adiy bin Fadhl, dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل وأيما امرأة أنكحها ولي مسخوط عليه فنكاحها باطل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil. Wanita mana saja yang dinikahkan oleh seorang wali yang tidak suka (tidak ridla) atas pernikahan tersebut, maka pernikahannya itu baathil”.
Namun mutaba’ah dengan tambahan lafadh ‘dan dua orang saksi yang ‘adil’ ini sangat lemah. ‘Adiy bin Al-Fadhl, ia adalah At-Taimiy, Abu Haatim Al-Bashriy; tidak tsiqah. Ibnu Hajar mengomentarinya : matruuk [lihat selengkapnya di Tahdziibul-Kamaal 19/539-542 no. 3889 dan Taqriibut-Tahdziib hal. 672 no. 4577].
6.      Qataadah, darinya.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/143); dari jalan Hammaam, dari Qataadah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
لا نكاح إلا بأربع : خاطب وولي وشاهدين
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya empat hal : khaathib, wali, dan dua orang saksi.
Al-Baihaqiy berkata : “Sanad hadits ini shahih, namun Qataadah tidak bertemu dengan Ibnu ‘Abbaas (sehingga riwayat tersebut dla’iif)”.
7.      Mujaahid, darinya.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/126) dari jalan Asy-Syaafi’iy : Telah memberitakan kepada kami Muslim bin Khaalid dan Sa’iid bin Saalim Al-Qaddaah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
لا نكاح إلا بشاهدي عدل وولي مرشد
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya dua orang saksi yang ‘adil dan wali yang membimbing”.
Sanad riwayat ini lemah karena ‘an’anah Ibnu Juraij, sedangkan ia seorang mudallis. Selain itu, sanad ini berselisihan dengan sanad yang dibawakan Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad (2/16) dimana antara Sa’iid bin Jubair dan Ibnu ‘Abbaas tidak ada sisipan rawi Mujaahid.
Kesimpulan dari riwayat Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhumaa : Tidak ada riwayat shahih yang marfuu’ tentang dua orang saksi yang ‘adil dalam pernikahan. Yang shahih adalah riwayat mauquf.
Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (2/94) dan Ad-Daaruquthniy (4/322-323 no. 3532) dari Ishaaq bin Hisyaam : Telah menceritakan kepada kami Tsaabit bin Zuhair : Telah menceritakan kepada kami Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini sangat lemah. Tsaabit bin Zuhair berstatus munkarul-hadiits sebagaimana dikatakan Al-Bukhaariy, Ad-Daaruquthniy, dan yang lainnya [lihat Miizaanul-I’tidaal, 1/364 no. 1361].
Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (7/192) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Muslim Al-Yasykuriy : Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Sulaimaan Al-Qaththaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mush’ab bin Yaziid Al-Ma’anniy : Telah menceritakan kepada kami Ats-Tsauriy, dari Yahyaa bin Bakaa’, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar tentang firman Allah ta’ala :
قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki” (QS. Al-Ahzaab : 50).
Ia (Ibnu ‘Umar) berkata :
فرض عليهم أنه لا نكاح إلا بولي وشاهدين وصدقة
“Telah diwajibkan atas mereka bahwasannya tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali, dua orang saksi, dan shadaqah (mahar)”.
Sanad riwayat ini lemah. Yahyaa bin Bakaa’, ia adalah Yahyaa bin Muslim Al-Azdiy Al-Bashriy; seorang yang lemah [selengkapnya silakan lihat Tahdziibul-Kamaal, 31/533-536 no. 6920].
Hadits Abu Muusaa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (Majma’ul-Bahrain, 4/166 no. 2267) dari jalan Muhammad bin ‘Abdillah Al-Hadlaramiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bilaal Al-Asy’ariy : Telah menceritakan kepada kami Qais bin Ar-Rabii’, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
لا نكاح إلا بولي وشهود
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan saksi-saksi.
Sanad riwayat ini lemah lagi munkar.
Abu Bilaal Al-Asy’ariy, namanya adalah Mirdaas bin Muhammad bin Al-Haarits bin ‘Abdillah bin Abi Burdah bin Abi Muusaa Al-Asy’ariy. Ad-Daaruquthniy dan Al-Haakim telah melemahkannya [lihat Liisaanul-Miizaan 7/22 no. 207 dan Majma’uz-Zawaaid 4/286].
Abu Bilaal mempunyai mutaba’ah dari Nuuh bin Maimuun Al-Madlruub sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (5/44) : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath bin Muhammad Al-Faqiih : Telah mengkhabarkan kepada kami Nashr bin Ibraahiim Az-Zaahid : Telah memberitakan kepada kami Abul-Hasan Muhammad bin ‘Auf di Damaskus : Telah memberitakan kepada kami Muhammad dan Ahmad anak dari Muusaa As-Simsaar, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Amr Ahmad bin Al-Hasan bin Muhammad bin Khumairah Ash-Shairafiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Al-Waliid Al-Fahhaam : Telah mengkhabarkan kepada kami Nuuh bin Maimuun Al-Madlruub : Telah mengkhabarkan kepada kami Qais, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah, dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “……(al-hadits)….”.
Mutaba’ah ini pun tidak bermanfaat, sebab poros sanad, yaitu Qais bin Ar-Rabii’, adalah perawi lemah. Ia seorang yang jujur, namun berubah hapalannya ketika telah tua [Taqriibut-Tahdziib, hal. 804 no. 5608]. Dan kelemahan (hapalan) Qais ini terlihat bahwa ia juga telah meriwayatkan hadits ini dengan tanpa tambahan sebagaimana akan dibawakan di bawah.
Riwayat Qais bin Ar-Rabii’, dari Abu Ishaaq ini telah menyelisihi jama’ah perawi yang meriwayatkan dari Abu Ishaaq dimana mereka tidak menyebutkan tambahan lafadh : ‘dan saksi-saksi’. Para perawi tersebut antara lain adalah :
1.        Israaiil bin Yuunus bin Abi Ishaq.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2085), At-Tirmidziy (no. 1101), Ahmad (4/394), Ar-Ruuyaaniy dalam Al-Musnad (1/303-304 no. 449-450 & 1/335 no. 508), Abu Ya’laa (no. 7227), Ibnu Hibbaan (no. 4083), Ibnu Abi Syaibah (4/131), Ibnul-Jaaruud (3/39 no. 702), Ad-Daarimiy (no. 2228), Al-Haakim (2/170), Ath-Thahaawiy dalam Syarh Ma’anil-Aatsaar (3/8 no. 4258-4259), Tamaam dalam Al-Fawaaid (no. 1434-1436), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/107), serta Al-Khathiib dalam Al-Kifaayah (hal. 578); semuanya dari jalan Israaiil bin Yuunus As-Sabii’iy, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
2.        Syariik bin ‘Abdillah Al-Qaadliy.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy (no. 1101), Ad-Daarimiy (no. 2229), Al-Haakim (2/170), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/107-108), Ibnu Hibbaan (no. 4078), Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (5/449), Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (1/339 no. 681 & 8/42 no. 7900); semuanya dari jalan ‘Aliy bin Hujr, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syariik, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
Syariik bin ‘Abdillah Al-Qaadliy adalah seorang perawi yang lemah dari sisi hapalannya. Ia juga seorang mudallis [lihat Tahdziibul-Kamaal, 12/462-475 no. 2736, Ahwaalur-Rijaal no. 134, dan Al-Jarh wat-Ta’diil 4/367].
3.        Qais bin Ar-Rabii’.
Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/9), Al-Haakim (2/170), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/108), Abu Nu’aim dalam Akhbaaru Ashbahaan (1/120), Al-Khathiib dalam Al-Kifaayah (hal. 581); semuanya dari jalan Qais bin Ar-Rabii’, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah bin Abi Muusaa, dari ayahnya (Abu Muusaa Al-Asy’ariy), ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
Qais bin Ar-Rabii’ adalah seorang yang jujur, namun berubah hapalannya ketika telah tua [Taqriibut-Tahdziib, hal. 804 no. 5608].
4.        Zuhair bin Mu’aawiyyah.
Diriwayatkan oleh Ibnul-Jaaruud (no. 703), Ibnu Hibbaan (no. 4077), Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (5/140), Al-Haakim (2/171), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/107), dan Adz-Dzahabiy dalam Tadzkiratul-Huffadh (3/828); semuanya dari jalan ‘Amr bin ‘Utsmaan Ar-Raqqiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu’aawiyyah, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
‘Amr bin ‘Utsmaan Ar-Raqqiy adalah perawi lemah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 741, no. 5109].
5.        Sufyaan Ats-Tsauriy.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhallaa (9/452), Tamaam dalam Al-Fawaaid (no. 1431-1433), Ibnul-Jaaruud (no. 704), Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar (3/9), Ar-Ruuyaaniy dalam Al-Musnad ((1/303 no. 448), Abu ‘Aliy Ash-Shawaaf dalam Al-Fawaaid (hal. 33 no. 12), Abu Bakr Al-Ismaa’iiliy dalam Mu’jamusy-Syuyuukh (2/609-610), Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (3/298), Al-Haakim (2/169), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/109), dan Al-Khaliiliy dalam Al-Irsyaad (3/871); semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa Al-Asy’ariy, ia berkata :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
6.        Syu’bah bin Al-Hajjaaj.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhallaa (9/452), Abu ‘Aliy Ash-Shawaaf dalam Al-Fawaaid (hal. 33 no. 12), Ad-Daaruquthniy dalam As-Sunan (4/313 no. 3518), Al-Haakim (2/169), Tamaam dalam Al-Fawaaid (no. 1432), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/109), dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh (54/237); semuanya dari jalan Syu’bah, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah bin Abi Muusaa, dari ayahnya, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
7.        Yuunus bin Abi Ishaaq.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy (no. 1101), Al-Haakim (2/171), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/109), dan Al-Khathiib dalam Al-Kifaayah (hal. 578); semuanya dari jalan Yuunus bin Abi Ishaaq, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah, dari Abu Muusaa, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali”.
Yuunus bin Abi Ishaaq As-Sabii’iy adalah seorang yang jujur, sedikit melakukan kekeliruan [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1097 no. 7956].
8.        Dan yang lainnya.
Namun riwayat di atas diperselisihkan status kebersambungan sanadnya, sebab dalam jalur riwayat lain (yaitu Ats-Tsauriy, Syu’bah, dan Yuunus bin Abi Ishaaq, dari Abu Ishaaq, dari Abu Burdah) disebutkan bahwa Abu Burdah telah me-mursal-kannya (tanpa menyebut Abu Muusaa Al-Asy’ariy. Jumhur ulama mentarjih bahwa yang shahih adalah riwayat maushul. Akan tetapi sebagian ulama lain menyatakan keshahihan dua riwayat tersebut (baik mursal maupun maushul), sebagaimana dikatakan Abu Haatim : “Abu Burdah mendengar hadits ini dari Abu Muusaa secara marfu’. Lalu ia menceritakan hadits tersebut dari ayahnya (Abu Muusaa) secara musnad, dan di kali lain ia me-mursal-kannya. Abu Ishaaq telah mendengar riwayat tersebut dari Abu Burdah baik yang musnad maupun yang mursal secara bersamaan. Ia pun lantas menceritakan hadits ini secara marfu’, dan di kali lain secara mursal. Oleh karena itu, hadits tersebut shahih baik secara mursal dan musnad, tanpa ada keraguan tentang keshahihannya” [Shahih Ibni Hibbaan, 9/395].
Satu hal penting yang harus digarisbawahi adalah bahwasannya riwayat di atas baik yang maushul maupun mursal tidak terdapat tambahan lafadh : ‘dan saksi-saksi’.
Hadits ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu
1.      Jalan pertama.
Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad (2/224) : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qaadliy Abu Bakr Muhammad bin ‘Umar bin Ismaa’iil Ad-Daawudiy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin ‘Umar Al-Haafidh, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Makhlad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Bundaar Abu Ja’far, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ar-Rabii’, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaadah bin Al-‘Awwaam, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hajjaaj, dari Hushain, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولى ولا نكاح إلا بشهود
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali. Dan tidak sah pula pernikahan kecuali dengan adanya saksi-saksi.
Al-Khathiib berkata : “Diriwayatkan oleh Mu’allaa bin Manshuur, dari ‘Ubaadah Al-‘Awwaam secara mauquf dari perkataan ‘Aliy. Begitu pula diriwayatkan oleh Abu Khaalid Al-Ahmar dan Yaziid bin Haaruun dari Hajjaaj secara mauquf”.
Riwayat mauquf tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (4/2/130) dari jalan Abu Khaalid Al-Ahmar, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/111) dari jalan Abu Khaalid Al-Ahmar dan ‘Ubaid bin Ziyaad Al-Farraa’; dari Hajjaaj, dari Hushain, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
لا نكاح إلا بولي ولا نكاح إلا بشهود
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali. Dan tidak sah pula pernikahan kecuali dengan adanya saksi-saksi.
Al-Baihaqiy berkata : “Diriwayatkan oleh Yaziid bin Haaruun, dari Hajjaaj, dan ia berkata (secara mauquf dari ‘Aliy) : “Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil”.
Baik sanad riwayat marfuu’ maupun mauquf adalah lemah.
Al-Haarits, ia adalah Ibnu ‘Abdillah Al-A’war Al-Hamdaaniy, Abu Zuhair Al-Kuufiy. Ia adalah seorang yang lemah menurut jumhur ahli hadiits [lihat Tahdziibul-Kamaal, 5/244-253 no. 1025, Tahdziibut-Tahdziib 2/145-147 no. 248, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 1/142 no. 742, dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 4/152-155 no. 54].
Al-Hajjaaj Al-Arthaah adalah seorang yang jujur, namun banyak melakukan kekeliruan dan tadliis (di sini ia membawakan dengan ‘an’anah) [lihat At-Taqriib, hal. 222 no. 1127]. 
Hushain, ia adalah Ibnu ‘Abdirrahman Al-Haaritsiy, seorang yang majhuul [lihat Tahdziibut-Tahdziib, 2/383 no. 661].
Oleh karena itu, besar kemungkinan idlthiraab dalam riwayat tersebut (antara marfu’ atau mauquf) berasal dari mereka. Wallaahu a’lam.
2.      Jalan kedua.
Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad (7/8) dan Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (14/33) dari dua jalan, dari Yahyaa Al-Haadiy bin Al-Husain : Telah menceritakan kepadaku Abul-Husain, dari ayahnya Al-Qaasim, dari Abu Bakr bin Abu Uwais, dari Husain bin ‘Abdillah bin Dlamrah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدين
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi.
Husain bin ‘Abdillah bin Dlamrah adalah matruukul-hadiits, pendusta [lihat Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/57-58 no. 259].
3.      Jalan ketiga.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (1/194) : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Aliy bin Al-Hasan bin Ziyaad Al-Madaainiy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah Abu ‘Aliy Al-Kindiy : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Jarraah As-Sijistaaniy : Telah menceritakan kepada kami Abu Yuusuf, dari Abu Haniifah, dari Hushain, dari Jaabir bin ‘Aqiil, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولي وشاهدين فمن نكح بغير ولي وشاهدين فنكاحه باطل فنكاحه باطل فنكاحه باطل والسلطان ولي من لا ولي له
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi. Barangsiapa yang menikah tanpa adanya wali dan dua orang saksi, maka pernikahannya itu baathil, pernikahannya itu baathil, pernikahannya itu baathil. Dan sulthaan adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali”.
Hadits ini baathil.
Ibnu ‘Adiy berkata : “Hadits-hadits Abu Haniifah ini tidak diriwayatkan kecuali oleh Ahmad bin ‘Abdillah. Ini adalah kebathilan-kebathilan (yang disandarkan) dari Abu Haniifah. Tidak diketahui perihal Ahmad bin ‘Abdillah kecuali dengan hadits-hadits (yang ia bawakan) ini” [lihat pula Lisaanul-Miizaan, 1/199 no. 628]. Adz-Dzahabiy berkata : “Shaahibul-manaakir” [Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’, 1/73 no. 329].
Hadits ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/127) dari jalan Abu Haazim Al-‘Abdawiy Al-Haafidh : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Hamzah Al-Harawiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Najdah : Telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid bin Manshuur : Telah mengkhabarkan kepada kami Hasyiim : Telah mengkhabarkan kepada kami Hushain, dari Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzanniy : Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu dihadapkan seorang wanita yang telah menikah dengan budak laki-laki miliknya. Wanita tersebut berkata : “Bukankah Allah ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya : ‘Atau budak-budak yang kamu miliki (QS. An-Nisaa’ : 3) ?’. ‘Umar pun mendera mereka berdua dan memisahkannya, lalu menulis kepada penduduk negeri :
أيما امرأة تزوجت عبدًَا لها أو تزوجت بغير بينة أو ولي فاضربو هما الحد
“Wanita mana saja yang menikah dengan budak laki-lakinya atau menikah tanpa ada bukti/persaksian atau tanpa ada wali, deralah mereka berdua sebagai hukumannya”.
Sanad riwayat ini lemah karena keterputusan (inqitha’) antara Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzanniy dan ‘Umar bin Al-Khaththaab.
Ada riwayat yang semakna dari Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm (6/58 no. 2218) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/126) dari jalan Maalik, dari Abuz-Zubair. Namun sanadnya juga lemah karena Abuz-Zubair tidak pernah bertemu dengan ‘Umar.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/126) : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Haamid Ahmad bin ‘Aliy Al-Haafidh : Telah memberitakan kepada kami Zaahir bin Ahmad : Telah memberitakan Abu Bakr bin Ziyaad An-Naisaabuuriy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Wahhaab bin ‘Athaa, dari Sa’iid, dari Qataadah, dari Al-Hasan dan Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya ‘Umar radliyallaahu ‘anhu berkata :
لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini lemah.
‘Abdul-Wahhaab, ia adalah Al-Khaffaaf. Ia telah dilemahkan oleh Ahmad, Al-Bukhaariy, An-Nasaa’iy, dan As-Saajiy. Qatadah adalah seorang mudallis, dan di sini ia membawakan dengan ‘an’anah. Begitu pula statusnya dengan Muhammad bin Ishaaq bin Yasaar.
Hadits ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq (6/196 no. 10473), Ar-Ruuyaaniy dalam Al-Musnad (1/104 no. 83), Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ (2/309), Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir (18/142 no. 299), Tamaam dalam Al-Fawaaid (no. 1476), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125); dari jalan ‘Abdullah bin Muharrar Al-Jazriy, dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari ‘Imraan bin Hushain, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولى وشاهدى عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini sangat lemah.
Al-Haitsamiy berkata : “Dalam sanadnya terdapat ‘Abdullah bin Muharrar. Ia seorang yang matruukul-hadiits” [Majma’uz-Zawaaid, 4/287]. Dan begitulah yang ditegaskan oleh Ibnu Hajar dalam At-Taqriib (hal. 540 no. 3598).
Selain itu, ‘Abdullah bin Al-Muharrar telah idlthiraab (goncang) dalam membawakan sanad hadits dimana ia menambahkan perawi ‘Abdullah bin Mas’uud antara ‘Imraan bin Hushain dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy (4/322 no. 3531) : Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim Al-Bazzaaz dan Ismaa’iil bin Al-‘Abbaas Al-Warraq, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Syabbah : Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Bakkaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhriz (Muharrar), dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari ‘Imraan bin Hushain, dari ‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا نكاح إلا بولى وشاهدى عدل
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil.
Bakr bin Bakkaar dalam sanad di atas juga seorang perawi lemah [lihat Miizaanul-I’tidaal, 1/343 no. 1274].
Hasan Al-Bashriy secara Mursal
Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (7/125) membawakan riwayat dari Al-Hasan secara mursal : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Zakariyyaa bin Abi Ishaaq Al-Muzakkiy dan Abu Bakr Ahmad bin Al-Hasan Al-Qaadliy, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah memberitakan Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil-Hakam : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : Telah memberitakan Adl-Dlahhaak bin ‘Utsmaan, dari ‘Abdul-Jabbaar, dari Al-Hasan : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا يحل نكاح الا بولي وصداق وشاهدي عدل
“Tidak halal satu pernikahankecuali dengan adanya wali, mahar, dan dua orang saksi yang ‘adil.
Sanad riwayat ini lemah karena mursal.
Kesimpulan Seluruh Jalan Periwayatan
Dari jalan-jalan riwayat ‘dua orang saksi yang ‘adil yang telah dipaparkan di atas, didapatkan satu rangkuman sebagai berikut :
a.        Riwayat marfuu’ ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa syadz.
b.        Riwayat marfuu’ Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu tidak mahfudh.
c.        Riwayat marfuu’ Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu sangat lemah.
d.        Riwayat mauquf Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu sangat lemah.
e.        Riwayat marfuu’ Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu sangat lemah.
f.         Riwayat marfuu’ ‘Abdullah bin ‘Abbaas adalah syadz, dan yang lain sangat lemah. Adapun riwayat mauquf adalah shahih.
g.        Riwayat marfuu’ ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa sangat lemah, sedangkan yang mauquf lemah.
h.        Riwayat marfuu’ Abu Muusaa Al-Asy’ariy munkar.
i.          Riwayat marfuu’ ‘Aliy bin Abi Thaalib sangat lemah.
j.         Tidak ada Riwayat marfuu’ ‘Umar bin Al-Khaththaab. Adapun tiga jalur riwayat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu secara mauquf masing-masing adalah lemah, namun bisa saling menguatkan sehingga derajatnya naik menjadi hasan lighairihi. Wallaahu a’lam.
k.        Riwayat marfuu’ ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu sangat lemah.
l.          Riwayat Al-Hasan Al-Bashriy lemah, karena mursal.
Dapat kita lihat bahwa tidak ada riwayat marfuu’ sampai pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang persyaratan dua orang saksi yang ‘adil dalam pernikahan. Banyaknya riwayat tersebut tidak bisa saling menguatkan karena terlalu lemah. Atau sebagian yang lain adalah syaadz dan munkar. Yang shahih hanyalah riwayat mauquf dari Ibnu ‘Abbaas dan ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhum ajma’iin.
Ibnul-Mundzir berkata :
لا يثبت في الشاهدين في النكاح خبر
“Tidak shahih khabar (hadts) tentang dua orang saksi dalam pernikahan” [Al-Mughniy, 7/337].
Al-‘Ajluuniy berkata :
وباب لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل لم يصح فيه شئ 
“Dan bab : Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang ‘adil; tidak ada satu pun hadits shahih mengenainya” [Kasyful-Khafaa’, 2/421].
Ibnu Taimiyyah berkata :
وليس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الإشهاد على النكاح حديث صحيح، هكذا قال أحمد بن حنبل وغيره
“Tidak ada hadits shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang persaksian dalam nikah. Begitulah yang dikatakan Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 33/93].
Oleh karena itu, saksi bukanlah syarat dalam pernikahan. Inilah yang dipegang oleh madzhab Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnu ‘Utsaimin, dan yang lainnya [lihat Al-Inshaaf 8/102, Asy-Syarhul-Mumti’ 12/94-97, Shahih Fiqhis-Sunnah 3/149-151, dan yang lainnya].
Yang wajib dalam pernikahan adalah mengumumkannya, dan inilah yang shahih dari perintah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
أعلنوا النكاح
“Umumkanlah pernikahan…” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/5, Al-Bazzaar no. 1433, Ibnu Hibbaan no. 4066, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 8/328, Al-Haakim 2/183, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 7/288, dan yang lainnya; sanadnya hasan].
Telah terjadi puluhan dan bahkan ratusan pernikahan para shahabat di jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak satu pun yang shahih riwayat yang mensyaratkan keberadaan saksi.
Oleh karena itu, sah satu pernikahan jika telah diumumkan, walau tidak ada dua orang saksi. Hal itu dikarenakan maksud dari pernikahan adalah menampakkan dan mengumumkan untuk menjauhi sesuatu yang sifatnya tersembunyi, yaitu zina. Mengumumkan pernikahan ini lebih umum daripada persaksian (dua orang).
Namun bukan berarti tulisan ini menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menghadirkan saksi dalam pernikahan. Bahkan mereka tetap dianjurkan untuk menghadirkan saksi sebagai satu kehati-hatian dan kesempurnaan dalam pelaksanaan pernikahan.
Demikian artikel ini disusun. Semoga ada manfaatnya. Wallaahu a’lam.
[Abu Al-Jauzaa’ – takhrij hadits banyak mengambil manfaat dari tulisan Dr. ‘Aliy Ash-Shayaah dalam bagian takhrij terhadap hadits yang sedang dibahas dalam kitab Al-‘Ilal li-Ibni Abi Haatim, Abu Kautsar Al-Maqdisyiy dalam forum Multaqaa Ahllal-Hadeeth, Mushthafa bin Al-‘Adawiy dalam kitab Jaami’ li-Ahkaamin-Nisaa’, buku-buku Asy-Syaikh Al-Albaaniy & Asy-Syaikh Al-Arna’uth (walau kesimpulan beliau berdua berbeda dengan tulisan ini), dan yang lainnya; dengan peringkasan, penambahan, dan pengkoreksian seperlunya].

Comments

Anonim mengatakan...

Jazakallaahu khoiron atas tambahan `ilmu dari antum.

Bertambah jelas bagi ana setelah antum paparkan hujjah-hujjah antum. Sehingga, tampaklah bahwa saksi bukanlah kewajiban dan syarat dalam nikah. Alhamdulillah.

Terkait dengan artikel ini, ana ada pertanyaan pula mengenai syarat nikah yang lain, yakni ijab-qobul. Ana sudah mencari-cari hadits atau atsar sahabat yang menunjukkan bahwa ijab-qobul (lafadz "nikah") merupakan syarat sah nikah. Namun, belum ana temukan. Apakah, ijab-qobul ini termasuk syarat sah nikah atau bukan, yah?

Mengingat ada tradisi di negeri kita, yaitu tunangan atau tukar-cincin. Sebagian ikhwan, menyatakan telah jatuh nikah asalkan terpenuhi syarat-syarat nikah, seperti:

1. Persetujuan wali.
2. Keridho-an kedua mempelai.
3. Mahar (bentuknya bermacam-macam, biasanya berupa cincin).
4. Saksi-saksi (sudah terhapus setelah membaca artikel antum), dan
5. IJAB-QOBUL, biasanya dengan isyarat "tukar-cincin" (tanpa ada lafadz nikah).

Ana pernah menanyakan kepada beberapa ustadz, jawabannya beraneka ragam. Tetapi, (mungkin) karena keterbatasan waktu tidak menghadirkan dalil. Padahal, bagi ana yang penting dalil dikedepankan terlebih dahulu baru pendapat. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Hanifah:

"Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya." (Mukaddimah Shifat Sholat Nabi shollallaahu `alaihi wasallam, alAlbaniy).

-- Abu `Abdullah --

Arianto mengatakan...

Mohon bantu jawab di sini : http://myquran.com/forum/showthread.php/7989-Tentang-Wali-Nikah?p=249493&viewfull=1#post249493

Ahmad Wedding mengatakan...

Subahanallah. sungguh bermanfaat tulisan ini. Semoga memberikan keberkahan buat yang membaca dan menulisnya. Aamiin