Menyikapi Kesalahan ‘Ulama Ahlus-Sunnah

1 komentar

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitaabusy-Syuruuth (Syarat-Syarat) dalam Shahih-nya tentang kisah peristiwa (perjanjian damai) Al-Hudaibiyyah dan perjalanan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ke tempat tersebut. Di dalamnya disebutkan[1] :

وسار النبي صلى الله عليه وسلم حتى إذا كان بالثَّنِيَّةِ التي يهبط عليهم منها بَرَكَت به راحلتُهُ، فقال النَّاسُ : حَلْ حَلْ، فألَحَّتْ فقَلوا : خلأت القصواءُ. فقال النّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : ((ما خلأت القصواء وما ذاك لها بخلقٍ ولكن حَسَبَهَا حَابسُ الفيل))....الحديث

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berjalan.  Hingga ketika sampai di Bukit Tsaniyyah tempat mereka turun, tiba-tiba kendaraan onta yang beliau naiki menderum.  Para shahabat berkata : ‘Lepaskan, lepaskan…’.  Ternyata onta tersebut malah mogok tidak mau jalan.  Para shahabat berkata : ‘Onta belang itu mogok’.  Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ia tidak mogok, dan tidak biasanya ia seperti itu.  Tetapi ia ditahan oleh yang menahan onta…..” [al-hadiits].

Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata tentang fiqh hadits ini :

جواز الحكم على الشيء بما عرف من عادته وإن جاز أن يطرأ عليه غيره فإذا وقع من شخص هفوة لا يعهد منه مثلها لا ينسب إليها ويرد على من نسبه إليها معذرة من نسبه إليها ممن لا يعرف صورة حاله لأن خلاء القصواء لو لا خارق العادة لكان ما ظنه الصحابة صحيحا ولم يعاتبهم النبي صلى الله عليه وسلم على ذلك لعذرهم في ظنهم

”Diperbolehkan menghukumi sesuatu berdasarkan apa yang diketahui dari kebiasaannya, meskipun kemudian yang terjadi berbeda (dari kebiasaan tersebut).  Apabila seorang melakukan sesuatu kekeliruan yang tidak biasa terjadi padanya, maka ia tidak boleh divonis atau dihakimi begitu saja.  Tetapi harus ditolerir dan dimaafkan. Hal itu dikarenakan onta belang dalam hadits di atas seandainya ia tidak menyalahi kebiasaan, maka dugaan shahabat pasti benar dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari mereka karena mereka salah menduga seperti itu” [selesai].

Sungguh, Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam saja memaafkan binatang-binatang yang memang tidak dibebani kewajiban syari’at.  Lebih-lebih lagi apabila kita melihat seorang ’aalim (orang yang berilmu) melakukan suatu perbuatan, kemudian ia berbuat kekeliruan (yang tidak biasanya ia berbuat kekeliruan), maka ia pun lebih pantas untuk dimaafkan, tidak boleh divonis, atau dihakimi begitu saja, atau dikecam tanpa mempedulikan kapasitasnya sebagai orang yang baik serta memiliki banyak ilmu dan keutamaan.  Sebab kalau tidak demikian, niscaya hal tersebut akan menjadi penyebab pemisahan seorang ’aalim dengan ilmunya.  Sementara kita dilarang membantu syaithan untuk mencelakakan sesama saudara kita. Istidlal seperti itu sangat cermat dan tepat.  Semoga Allah merahmati Al-Haafidh Al-Kinaaniy Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy yang begitu luas wawasannya dan dalam pemahamannya, sehingga mampu menghukumi sesuatu dengan sangat bijaksana seperti di atas.

Ash-Shan’aniy rahimahullaahu ta’ala berkata[2] :

وليس أحدٌ من أفرادِ العلماء إلا وله نادرةٌ ينبغي أن تُغْمَرَ في جَنبِ فَضلِهِ وَتُجْتَنَبَ

”Tidaklah setiap individu ulama itu melainkan ia mempunyai satu keanehan (kekeliruan) yang sudah sepatutnya untuk dilupakan (tidak diungkit-ungkit) dan tidak perlu dipermasalahkan karena keutamaan yang dimilikinya” [selesai].

Abu Hilaal Al-’Askariy berkata[3] :

لا يضع من العالم الذي برع في علمه زلة، إن كان على سبيل السَّهْوِ والإغفال، فإنه لم يعر من الخطأ إلا من عصم اللهُ جَلَّ ذِكْرُهُ. وقد قالت الحُكَمَاءُ : ((الفاضل من عُدَّتْ سقطاتُهُ، وليتنا أدركنا بعض صوابهم أو كنا ممن يميزُ خطأهم)).

”Seorang ’aalim yang dalam ilmunya bisa saja terjatuh dalam kesalahan karena lupa atau lalai. Tidaklah ada seorang manusiapun yang bisa lepas dari kesalahan kecuali orang yang telah di-ma'shum-kan oleh Allah Yang Maha Besar (yaitu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam). Telah berkata ahli hikmah : ’Orang yang mempunyai keutamaan yang dihitung kesalahan-kesalahannyanya, dan alangkah celakanya kita yang menjumpai sebagian kebenaran mereka namun kita justru termasuk orang yang memilih kesalahan mereka (untuk disebutkan)” [selesai].

Terdapat beberapa kalimat dari para ulama agar memberikan ’udzur kepada para aimmah (pemimpin umat). Betapapun mereka (para aimmah) yang telah melakukan kesalahan, jangan sampai hal itu menjadi halangan bagi kita untuk mengambil manfaat dari ilmu dan keutamaannya.

Dan inilah perkataan Al-Haafidh Adz-Dzahabi – rahimahullahu ta’ala – ketika beliau menjelaskan biografi seorang mufassir (ahli tafsir) besar yang bernama Qataadah bin Di’aamah As-Saduusiy (wafat tahun 117 H) rahimahulaahu ta’ala, yaitu setelah beliau meminta untuk memberikan ’udzur kepadanya[4] :

ثم إن الكبير من أئمة العلم إذا كَثُرَ صوابُهُ، وعُلِمَ تَحَرِّيه للحقِّ واتَّسع علمُهُ، وظهر ذكاؤُهُ، وعُرِفَ صَلَاحُهُ وورعُهُ يُغْفَرُ له زَلَلُهُ، ولا نضَلِّله وطرحه ونَنسَى مَحَاسنهُ، نعم : ولا نقتدي به في بدعته وخطئته ونرجو التَّوبة من ذلك

”Sesunguhnya para ulama besar jika telah dimaklumi banyak kebenarannya (yang ada padanya), diketahui kecenderungannya kepada al-haq, luas ilmunya, nampak kecerdasannya, shalih, dan wara’; maka dimaafkan kesalahan-kesalahannya. Kita tidak menyesatkannya, mencampakkannya, dan melupakan segala kebaikan yang ada padanya. Benar, bahwasannya kita tidak boleh mengikuti kebid’ahan dan kesalahannya. Kita berharap agar ia mau bertaubat atas hal tersebut” [selesai].

Beliau (Adz-Dzahabi) juga berkata ketika memberikan pembelaan kepada Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy rahimahullah dari serangan orang-orang yang mencelanya[5] :

ولو إنا كلما أخطأ إمامٌ في اجتهاده في آحاد المسائل خطأ مغفوراً له، قمنا عليه، وبدَّعناه وهجرناه، لما سَلِمَ معنا لا ابنُ نَصر ولا ابن منده، ولا من هو أكبرُ منهما، والله هو هادي الخلْق إلى الْحقِّ، وهو أرحم الراحمين، فنعوذ بالله من الهوى والفظاظة

”Seandainya setiap perkataan imam yang keliru dalam ijtihadnya pada permasalahan-permasalahan yang sebenarnya hal itu masih bisa diampuni; lantas kita kecam ia, kita bid’ahkan ia (sebagai ahlul-bid’ah), dan kita hajr ia,.... maka tidak akan ada (seorang ulama pun) yang selamat. Tidak Ibnu Nashr (Al-Marwaziy), tidak Ibnu Mandah, tidak pula ulama yang lebih besar dari keduanya. Allah adalah Pemberi Petunjuk makhluk-Nya kepada kebenaran, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. Kita berlindung kepada Allah dari bisikan hawa nafsu dan berkata kasar” [selesai].

Ketika memaparkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullaahu ta’ala (wafat tahun 311 H), Adz-Dzahabi berkata :

وكتابُهُ في التوحيد، مُجَلِّدٌ كبيرٌ، وقد تأوَّل في ذلك حديث الصُّورة، فلْيُعْذَرْ من تَأَوَّلَ بعضَ  الصِّفاتِ، وأمَّا السَّلف فما خاضوا في التأويل، بل آمنوا وكفُّوا، وَفَوَّضُوا عِلْمَ ذلك إلى الله ورسوله، ولو أن كلَّ من أخطأ في اجتهاده - مع صِحَّةِ إيمانه وتوخِّيه لاتباع الحق - أهدرناه وبدَّعناه، لقلَّ من يَسلَم من الأئمة معنا. رحم الله الجميع بمنِّهِ وكَرَمِهِ

”Kitabnya yang berbicara tentang masalah tauhid cukup besar (tebal). Ia telah melakukan ta’wil dalam hadits ash-shuurah. Maka hendaknya diberikan ’udzur orang yang menakwilkan sebagian shifat Allah, kendatipun (kita tahu bahwa) salaf tidak mau melakukan ta’wil. Akan tetapi, (dalam masalah shifat Allah) mereka mengimaninya, menahan diri, dan menyerahkan ilmu (kaifiyat) tentang hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila setiap orang yang melakukan kesalahan dalam ijtihadnya – sementara itu telah dipersaksikan kebenaran imannya dan mempunyai komitmen tinggi untuk mengikuti kebenaran – kemudian kita kecam dan kita bid’ahkan ia (sebagai ahlul-bid’ah), niscaya sangat sedikit ulama yang akan selamat dari tindakan kita tersebut. Semoga Allah merahmati mereka semua dengan anugerah dan kedermawanan-Nya” [selesai].

Dalam biografi Ibnu ’Abdil-Hakam, Adz-Dzahabi menjelaskan[6] :

قلتُ : له تصانيفُ كثيرةٌ، منها : كتاب في الردِّ على الشافعي. وكتاب أحكام القرآن، وكتاب الرّد على فقهاء العراق، وما زال العلماء قديماً وحديثاً يَرُدُّ بعضهم على بعضٍ في البحث وفي التَّواليف، وبمثل ذلك يَتَفَقَّهُ العالمُ، وَتَتَبَرْهَنُ له المشكلات، ولكن في زماننا قد يُعاقَبُ الفقيهُ إذا اعتنى بذلك لسوءِ نيته، ولطلبه للظهور والتَّكثُّر، فيقوم عليه قضاة وأضداد، نسأل الله حسن الخاتمة وإخلاص العمل

”Aku katakan : ia mempunyai banyak karya tulis, diantaranya kitab dalam rangka bantahan kepada Asy-Syaafi’iy. Juga kitab Ahkaamul-Qur’aan dan Ar-Radd ’alaa Fuqahaa’ Al-’Iraaq. Dan hal itu terus-menerus berlangsung dimana para ulama dahulu hingga sekarang memberikan bantahan sebagian kepada sebagian yang lain dalam beberapa pembahasan/permasalahan. Mereka terus berlomba memperdalam ilmu dan menjelaskan beberapa permasalahan (kepada umat). Namun (sunguh memprihatinkan) di jaman kita sekarang ini, dimana ada seorang faqih yang melakukan hal tersebut langsung divonis salah dengan tuduhan jeleknya niat yang ada pada dirinya, sehingga ia dikecam habis-habisan dan bahkan berurusan dengan pengadilan. Kita memohon kepada Allah husnul-khaathimah dan ikhlashnya ’amal” [selesai].

Telah berkata Asy-Syaikh Thaahir Al-Jazaairi (wafat tahun 1338 H) saat di tempat tidurnya menjelang kematiannya[7] :

عدُّوا رجالكم، واغفروا لهم بعضَ زَلَّاتِهم، وعضّوا عليهم بالنواجذ لتستفيد الأُمة منهم، ولا تُنَفِّرُوهم لئلا يزهدوا في خدمتكم

”Kembalilah kepada ulama kalian dan maafkanlah sebagian kesalahan mereka. Gigit erat mereka dengan gigi gerahammu agar umat bisa mengambil manfaat dari mereka. Jangan kalian menjauhi mereka agar supaya mereka dapat belaku zuhud dalam berkhidmat kepada kalian” [selesai].

Hal di atas perlu disebutkan mengingat bala’ yang telah menimpa para ulama (Ahlus-Sunnah) akibat ulah sebagian orang-orang yang bodoh yang cenderung membesar-besarkan permasalahan. Hanya Allah lah tempat dimintai pertolongan dari apa-apa yang mereka lakukan.

Adapun mubtadi’, maka perkaranya berbeda. Kita harus bersikap waspada dan hati-hati terhadap mereka. Wajib atas kita untuk menjelaskan dan men-tahdzir mereka atas kebid’ahan yang mereka lakukan. Kita peringatkan umat agar tidak bergaul dan berkumpul dengan mereka, karena hal itu merupakan racun yang membunuh.

 

--- selesai, diambil dengan peringkasan dari buku Al-Majmuu’atul-’IlmiyyahAt-Ta’aalum, karya Asy-Syaikh Dr. Bakr bin ’Abdillah Abu Zaid rahimahullaahu ta’ala, hal. 100-108; Daarul-’Aashimah, Cet. Thn. 1416 H ----

 

NB : Dan itulah keprihatinan kita sekarang dimana banyak orang juhaal yang menodai kehormatan ’ulamaa dan asaatidzah Ahlus-Sunnah berdasarkan taqliid, suu’udh-dhann, dan suu’ul-fahm. Nas-alullaaha as-salaamah wal-’aafiyah. [Abul-Jauzaa’, Bogor – Shaffar 1430]



[1]   Fathul-Baariy 5/335-336.

[2]  Subuulus-Salaam, sebagaimana dinukil oleh Abu Madyan Asy-Syinqithiy dalam Ash-Shawaarimul-Asinnah, hal. 12.

[3]   Syarh Maa Yaqa’u fiihit-Tashhiif, hal. 6.

[4]   As-Siyar 5/271.

[5]   Idem, 14/40.

[6]   Idem, 12/500-501.

[7]   Kunuuz Al-Ajdaad.

Lafadh Takbir dan I'tidal Imam Tidak Lengkap ?

4 komentar

Tanya : Di dalam shalat berjama’ah saya sering mendengar imam dalam perpindahan dari rukun satu ke rukun yang lain (takbir intiqal), hanya mengucapkan “Allah” saja dan i’tidal “sami’allaah” saja. Bagaimana hukumnya ?

Jawab : Lafadh takbir dalam shalat haruslah dibaca lengkap, yaitu Allaahu Akbar [اللهُ أَكْبَر], karena hal tersebut adalah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh dibaca “Allaah” saja.

أن بن عمر قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام للصلاة رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه ثم كبر فإذا أراد أن يركع فعل مثل ذلك وإذا رفع من الركوع فعل مثل ذلك ولا يفعله حين يرفع رأسه من السجود

Ibnu ‘Umar berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam jika berdiri melakukan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan kedua pundaknya, lalu bertakbir. Apabila akan ruku’, beliau lakukan seperti itu. Apabila akan bangun dari ruku’, beliau lakukan seperti itu. Beliau tidak melakukan yang demikian itu ketika mengangkat kepalanya saat bangun dari sujud” [HR. Muslim nomor 390, lihat Muskhtashar Shahih Muslim nomor 272].

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء مواضعه، ثم يقول: الله أكبر

“Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia hingga ia berwudlu dan meletakkan wudlu pada tempatnya, lalu berkata : Allaahu akbar (yaitu pada takbiratul-ihram)” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir nomor 4526 dengan sanad shahih].

Demikian pula tentang ucapan bangkit dari ruku’. Yang benar adalah ucapan “sami’allaahu liman hamidah” [سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ].

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا قال الإمام سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربنا لك الحمد

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Apabila imam berkata sami’allaahu liman hamidah ; maka katakanlah : Allaahumma rabbanaa lakal hamdu “ [HR. Muslim nomor 409].

Dari hadits-hadits di atas jelaslah bahwa kondisi ucapan imam sebagaimana yang ditanyakan adalah tidak benar dan menyalahi contoh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Jika imam tersebut hanya membaca “Allah” saja dalam Takbiratul-Ihram, maka shalatnya tidak sah. Sebab Takbiratul-Ihram (takbir permulaan shalat) termasuk rukun shalat. Dan jika takbir seperti itu dilakukan pada takbir perpindahan rukun (takbir intiqal), maka tidak sampai membatalkan shalatnya (akan tetapi ia tetap menyalahi sunnah dan merusak pahala kesempurnaan shalatnya).

Akan tetapi jika keadaannya adalah imam tersebut ketika bertakbir hanya menyuarakan “Allah” saja, sedangkan “Akbar”-nya tetap dibaca (namun tidak dikeraskan); maka ini merupakan tindakan menyelisihi sunnah, walaupun tidak sampai membatalkan shalatnya. Allaahu a’lam. [Abul-Jauzaa' - Shaffar, 1430].

Kedudukan As-Sunnah dalam Islam - Manziilatus-Sunnah fil-Islaam

1 komentar

Oleh : Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Alhamdulillaah, wash-shalaatu was-salaamu ’alaa Rasuulillah wa aalihi wa shahbihi wa man waalaahu, wa ba’d :

Ini merupakan muhadlarah yang pernah aku (Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah) sampaikan di kota Dauhah ibu kota Qatar, pada bulan Ramadlan tahun 1342 H. Namun sebagian ikhwan meminta kepadaku agar ceramah tersebut ditulis menjadi sebuah buku; karena muhadlarah tersebut mengandung banyak faedah yang penting.

Maka akupun memenuhi permintaan tersebut untuk menyebarkan manfaatnya. Sebagai peringatan, aku tambahkan pula sebagian judul untuk membantu pembaca dalam memahami inti permasalahan setiap pembahasannya. Aku berharap Allah agar mencatatku termasuk orang yang membela agama-Nya, membela syari’at-Nya, serta menuliskan pahala untukku. Dia adalah semulia-mulianya tempat meminta.

Segala puji bagi Allah, kami memuji, meminta pertolongan, meminta ampun serta meminta perlindungan kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa dan amalan kami. Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang telah disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk. Aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhaq untuk disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Allah berfirman :

”Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan beriman” [QS. Aali Imran : 102].

”Wahai manusia, bertaqwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan menciptakan darinya istri, kemudian mengembangkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kalian kepada Allah yang (dengan menggunakan nama-Nya) kalian meminta-minta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian” [QS. An-Nisaa’ : 1].

”Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang baik. Niscaya Allah akan membaikkan amalan kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya sungguh telah mendapat kemenangan yang besar” [QS. Al-Ahzaab : 70-71].

Amma ba’du

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Adapun perkara yang paling jelek adalah perkara yang diada-adakan, dan semua perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, sedangkan semua bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan itu di neraka. Dan setelah itu :

Aku telah mempunyai perkiraan bahwa aku tidak akan bisa membawakan materi yang asing dalam acara ini, apalagi di sini banyak ulama dan ustadz yang terpandang. Kalau benar perkiraanku ini, cukuplah perkataanku ini sebagai pengingat, mengamalkan firman Allah :

”Berilah peringatan, karena peringatan itu akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” [QS. Adz-Dzaariyaat : 55].

Ceramahku di malam bulan Ramadlan yang mulia ini tidak berkaitan dengan masalah keutamaan puasa, keutamaan shalat tarawih, atau yang lainnya, seperti yang biasa disampaikan oleh para penasihat dan pembimbing lainnya. Sehingga bisa memberikan manfaat bagi orang yang menjalankan puasa, dan menghasilkan kebaikan dan barakah bagi mereka.

Namun tema yang aku pilih dalam pertemuan ini adalah masalah yang sangat penting, karena merupakan salah satu pokok syari’at yang mulia, yaitu penjelasan pentingnya As-Sunnah dalam syari’at Islam.

Allah tabaaraka wa ta’ala telah memilih Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan nubuwwah, memuliakannya dengan risalah, menurunkan kepadanya kitab-Nya Al-Qur’an Al-Karim dan memerintahkannya untuk menerangkan kepada manusia. Allah ta’ala berfirman :

”Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang diturunkan bagi mereka” [QS. An-Nahl : 44].

Menurut pandanganku (Asy-Syaikh Al-Albani), Al-Bayan (penjelasan) yang disebutkan dalam ayat ini mencakup 2 macam penjelasan :

Pertama, penjelasan lafadh dan susunannya, yaitu penyampaian Al-Qur’an tidak menyembunyikannya dan menyampaikan kepada umat, sebagaimana Allah ta’ala menurunkannya kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah ta’ala :

”Wahai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu…” [QS. Al-Maaidah : 67].

Telah berkata Sayyidah ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa dalam haditsnya :

”Barangsiapa yang mengatakan kepada kalian bahwa Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam menyembunyikan perkara yang dia perintahkan untuk menyampaikannya, berarti ia telah berbuat kedustaan yang besar kepada Allah”. Kemudian beliau membaca ayat tersebut". [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].

Dalam riwayat Muslim : “Kalaulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyembunyikan suatu perkara yang disuruh untuk disampaikan, sungguh dia akan menyembunyikan firman Allah ta’ala : ”Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang-orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya : “Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak ditakuti” (QS. Al-Ahzab : 37)”.

Kedua, Penerangan makna lafadh atau kalimat atau ayat yang membutuhkan penjelasannya. Yang demikian ini banyak dalam ayat-ayat yang mujmal (global), ammah (umum), atau muthlaq. Maka datanglah As-Sunnah menjelaskan yang mujmal, mengkhususkan yang umum, dan membatasi yang muthlaq. Yang demikian ini semuanya terjadi dengan perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagaimana terjadi pula dengan perbuatan dan taqrir beliau.

Pentingnya As-Sunnah untuk Memahami Al-Qur’an dan Contoh-Contohnya

Firman Allah ta’ala :

”Pencuri laki-laki dan perempuan, potonglah tangan mereka….” [QS. Al-Maaidah : 38].

Ayat ini merupakan contoh yang baik dalam masalah ini, karena kata pencuri dalam ayat ini bersifat muthlaq. Demikian pula dengan tangan. Jadi, sunnah qauliyah menerangkan yang pertama (yaitu pencuri) dengan membatasi pencuri yang mencuri ¼ dinar dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :

”Tidak dipotong tangan kecuali mencapai ¼ dinar atau lebih” [Diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan Muslim].

Sebagaimana sunnah menerangkan maksud “tangan” dengan perbuatan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, perbuatan shahabatnya, dan ijma’ bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri pada batas pergelangan, sebagaimana telah dikenal dalam kitab-kitab hadits.

Demikian pula ketika sunnah qauliyyah menerangkan ayat tentang tayamum :

”Usaplah pada wajah-wajah dan tangan-tangan kalian….” [QS. Al-Maidah : 6].

Maksud tangan di sini adalah telapak tangan. Hal itu berdasarkan pada sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :

”Tayamum itu dengan mengusap wajah dan kedua telapak tangan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan selain keduanya dari hadits ‘Ammar bin Yaasir radliyallaahu ‘anhu].

Demikian pula sebagian ayat-ayat yang lain tidak mungkin dipahami dengan pemahaman yang benar sesuai dengan keinginan Allah ta’ala kecuali dari jalan Sunnah seperti :

  1. Firman Allah ta’ala :

    "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orangyang mendapatkan petunjuk” [QS. Al-An’am : 82].

    Para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memahami perkataan beliau, yaitu adh-dhulm (الظلم) secara umum yang mencakup segala macam bentuk kedhaliman walaupun kecil. Oleh karena itu ayat ini menjadi berat bagi mereka, sehingga mereka berkata : “Ya Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak mencampur keimanannya dengan kedhaliman ?”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab :

    ”Tidak demikian yang dimaksud ! Tetapi yang dimaksud dengan adh-dhulm (kedhaliman) di sini adalah syirik. Tidakkah kalian menyimak perkataan Luqman : “Sesungguhnya syirik itu adalah kedhaliman yang besar” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya].

  2. Firman Allah ta’ala :

    ”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu” [QS. An-Nisaa’ : 101].

    Dhahir ayat ini menghendaki dikerjakannya shalat qashar dalam safar itu dengan syarat adanya perasaan takut. Oleh karena itu shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya : “Apakah kita mengqashar padahal telah aman ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    “Ini adalah shadaqah, Allah bershadaqah dengannya kepada kalian, maka terimalah shadaqah-Nya”.

  3. Firman Allah ta’ala :

    ”Telah diharamkan bagi kalian bangkai dan darah…” [QS. Al-Maidah : 3].

    As-Sunnah menerangkan bahwa bangkai yang halal adalah bangkai belalang dan ikan. Sedangkan hati dan limpa termasuk darahyang halal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    ”Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah, yaitu : bangkai belalang dan ikan (semua jenis ikan) serta hati dan limpa” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi secara marfu’ dan mauquf. Adapun hadits yang bersanad mauquf adalah shahih yang dihukumi dengan marfu’. Hal tersebut dikarenakan bahwa perkataan tersebut tidak mungkin diucapkan hanya berdasarkan ra’yu semata].

  4. Firman Allah ta’ala :

    ”Katakanlah : “Tiada aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor. Atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Al-An’am : 145].

    Kemudian datanglah Sunnah yang mengharamkan sesuatu yang tidak disebut dalam ayat ini seperti sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :

    ”Setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang berkuku pencakar tajam adalah haram”.

    Dalam bab ini ada hadits-hadits lain yang melarang dari hal selain itu seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada waktu perang Khaibar :

    ”Allah dan Rasul-Nya melarang kalian dari (memakan) himar yang jinak karena rijs (kotor)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

  5. Firman Allah ta’ala :

    ”Katakanlah : Siapa yang telah mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yng baik ?” [QS. Al-A’raf : 32].

    As-Sunnah menerangkan pula bahwa ada zinah (perhiasan) yang haram. Telah shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pada suatu hari keluar menuju salah seorang shahabat yang pada salah satu tangannya ada sutera dan di tangan lainnya ada emas. Kemudian beliau bersabda :

    ”Kedua hal ini (sutera dan emas) haram bagi laki-laki umatku dan halal bagi para wanitanya” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau menshahihkannya].

    Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak dan ma’ruf, baik dalam Shahihain ataupun selainnya. Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang dikenal di kalangan ahlul-‘ilmi tentang hadits dan fiqh.

Dari uraian di atas menjadi jelaslah bagi kita tentang pentingnya Sunnah dalam syari’at Islam. Karena jika kita kembalikan pandangan kita untuk menleihat contoh yang telah lewat. Terlebih lagi dari contoh lain yang tidak disebutkan. Kita akan yakin bahwasannya tidak ada jalan untuk memahami Al-Qur’an dengan pemahaman benar kecuali dengan diiringi As-Sunnah. Contoh yang pertama, pemahaman para shahabat dari kata dhulm (ظلم) yang tersebut dalam ayat, menurut dhahirnya saja. Padahal mereka (para shahabat) adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud : “Yang paling utama dari umat ini yang paling baik hatinya dan paling tidak berbuat takalluf (memberatkan diri secara berlebihan).

Namun walaupun demikian, mereka salah dalam memahaminya. Kalaulah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak meluruskan kesalahan mereka dan membimbing mereka kepada pengertian yang benar; bahwasannya dhulm (ظلم) dalam ayat tersebut maknanya adalah syirik. Niscaya kita tidak akan mengikuti kesalahan tersebut.

Akan tetapi Allah ta’ala melindungi kita dari yang demikian dengan keutamaan bimbingan dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Contoh yang kedua, kalaulah tidak ada hadits tersebut, minimal kita akan ragu dalam meng-qashar dalam safar dan waktu aman --- jika kita berpendapat kepada pensyaratan “takut” sebagaimana dhahir ayat --- sebagaimana timbul yang demikian pada sebagian shahabat. Jika mereka tidak melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meng-qashar, dan mereka pun meng-qashar bersamanya dalam keadaan aman.

Dalam contoh yang ketiga, kalaulah tidak ada hadits tentu kita akan mengharamkan makanan-makanan yang baik yang dihalalkan bagi kita, yaitu belalang, ikan, hati, dan limpa.

Dalam contoh keempat, kalaulah tidak ada hadits yang sebagianya telah disebutkan niscaya kita akan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allahbagi kita melalui lisan Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti binatang buas, atau burung yang mempunyai kuku pencakar.

Demikian pula contoh yang kelima. Kalaulah tidak ada hadits, maka kita akan menghalalkan apa yang diharamkan Allah melalui lisan Nabi-Nya yaitu emas dan sutera bagi laki-laki. Oleh karena itu dari sinilah berkata sebagian salaf :

As-Sunnah itu menjelaskan Al-Kitab (menyampaikan pemahaman kepada Kitab)

Kesesatan Para Pengingkar Sunnah

Di antara hal yang memprihatinkan adalah ditemuinya sebagian mufassirin dan penulis-penulis sekarang ini yang berpendapat dengan membolehkan dua contoh terakhir di atas, yaitu membolehkan memakan binatang buas dan memakai emas serta sutera bagi laki-laki karena bersandar dengan Al-Qur’an semata.

Dewasa ini telah ditemukan satu kelompok yang menamakan qur’aniyyin yang menafsirkan Al-Qur’an dengan nafsu dan akal-akal mereka, tanpa meminta bantuan dengan As-Sunnah Ash-Shahiihah.

Bagi mereka As-Sunnah hanya sebagai pengikut hawa nafsu mereka. Jika sesuai dengan hawa nafsu mereka, maka mereka berpegang dengannya dan yang tidak sesuai mereka buang ke belakang punggung mereka.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengisyaratkan tentang mereka dalam hadits yang shahih :

Salah seorang dari kalian betul-betul akan menjumpai seseorang yang sedang duduk di singgasananya, kemudian datang urusanku kepadanya dari apa yang aku perintahkan atau aku larang, maka dia berkata,”Aku tidak tahu! Semua yang kami dapatkan di dalam Kitabullah itulah yang kami ikuti” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi].

Dalam riwayat lain : Dia berkata : “Apa-apa yang kami jumpai (pada Al-Qur’an) sebagai sesuatu yang haram, maka kami mengharamkannya”. Berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya (hadits) bersamanya”

Dan diriwayat yang lain lagi : Berkata (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) :
”Ketahuilah, sesungguhnya semua yang dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah seperti apa yang dilarang oleh Allah”

Bahkan juga di antara yang memprihatinkan bahwa sebagian penulis yang menulis kitab-kitab dalam syari’at Islam dan aqidah Islam menyebutkan dalam muqaddimah-nya bahwa dia menyusun kitab tersebut tanpa rujukan selain Al-Qur’an.

Hadits shahih di atas menjelaskan secara tegas bahwa syari’at Islam bukan Al-Qur’an saja, melainkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barangsiapa berpegang dengan salah satunya, berarti dia tidak berpegang dengan yang lain. Padahal masing-masing dari keduanya memerintahkan untuk berpegang dengan yang lain seperti firman Allah :

”Barangsiapa mentaati Rasul berarti dia mentaati Allah” [QS. An-Nisaa’ : 80].

”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” [QS. An-Nisaa’ : 65].

”Dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” [QS. Al-Ahzab : 36].

”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah…” [QS. Al-Hasyr : 7].

Sehubungan dengan ayat terakhir ini (QS. Al-Hasyr : 7), ada kejadian yang menakjubkan dalam riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu yaitu bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepadanya kemudian berkata kepadanya : “Kamukah yang berkata bahwa Allah melaknat namishaat ( = wanita yang mencabut rambut alis) dan mutanaamishaat ( = wanita yang dicabut rambut alisnya) dan waasyimaat ( = wanita yang membuat tato) ?”. Ibnu Mas’ud menjawab,”Ya, benar”. Perempuan tadi berkata,”Aku telah membaca Kitabullah dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan”. Maka Ibnu Mas’ud menjawab,”Jika kamu betul-betul membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca :

”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr : 7).

Aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

”Allah melaknat An-Naamishaat…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

Tidak Cukup Pengertian Bahasa Saja untuk Memahami Al-Qur’an

Dari penjelasan di atas telah jelas dan terang bahwasannya tidak mungkin seorang memahami Al-Qur’an walaupun dia mahir dalam bahasa Arab dan sastra-sastranya jika tidak dibantu dengan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik qauliyyah maupun fi’liyyah. Karena dia tidak mungkin lebih alim atau lebih mahir dalam bahasa Arab daripada para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan pada waktu tersebut belum tercampur bahasa ‘ajam, awam, dan lahn (kesalahan bahasa). Namun walaupun demikian, mereka para shahabat telah salah dalam memahami ayat-ayat yang telah lewat, ketika mereka hanya bersandar dengan bahasa mereka saja.

Atas dasar itu jelaslah bahwasannya seseorang jika semakin alim dalam sunnah, dia lebih pantas untuk memahami Al-Qur’an dan mengambil istinbath hukum darinya dibandingkan orang yang bodoh tentang sunnah. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menganggap sunnah dan tidak pula meliriknya sama sekali ? Oleh karena itu sudah merupakan suatu kaidah yang disepakati oleh ahli ilmu bahwasannya Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-Sunnah[1], kemudian dengan perkataan shahabat…..dan seterusnya.

Dari sini jelas bagi kita sebab-sebab kesesatan tokoh-tokoh Ahli Kalam dulu dan sekarang serta perbedaan mereka dengan as-salafush-shalih radliyallaahu ‘anhum dalam keyakinan-keyakinan mereka terutama dalam hukum-hukum mereka, karena jauhnya ahlul-kalam dari Sunnah dan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Sunnah dan mereka menghakimi ayat-ayat tentang shifat (Allah) dan yang lainnya dengan akal dan nafsu mereka.

Betapa indahnya perkataan dalam kitab Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah halaman 212 cetakan ke-4 : “Bagaimana mungkin kita berbicara tentang pokok agama orang yang tidak menerima agamanya dari Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah melainkan hanya menerima perkataan si fulan? Walaupun dia mengaku atau menganggap mengambil dari Kitabullah tetapi tidak menerima penafsiran Kitabullah dari hadits-hadits Rasul, tidak melihat hadits-hadits, tidak pula melihat perkataan para shahabat dan pengikut mereka yang mengikuti dengan baik (tabi’in) yang disampaikan kepada kita oleh orang yang terpercaya yang dipilih oleh para pakar. Karena para shahabat tidak hanya meriwayatkan matan Al-Qur’an saja tetapi juga menyampaikan maknanya. Mereka tidak belajar Al-Qur’an seperti anak kecil, tetapi mempelajarinya dengan makna-maknanya. Barangsiapa tidak menempuh jalan mereka berarti berbicara dengan pikirannya sendiri. Barangsiapa berbicara dengan pikirannya dan sangkaannya sendiri tentang agama Allah ini, serta tidak menerimanya dari Al-Kitab, dia berdosa walaupun kebetuln benar. Barangsiapa mengambil Kitab dan Sunnah, dia mendapatkan pahala walaupun salah (dalam berijtihad). Tetapi jika benar, akan dilipatkan pahalanya”.

Kemudian berkata di halaman 217 : “Maka wajib menyempurnakan kepatuhan kepada Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tunduk pepada perintahnya dan menerima khabarnya dengan perkataan dan keyakinan, tidak menentangnya dengan khayalan yang bathil yang dinamakan ma’qul (logis), atau menganggap sebagai syubhat (samar) atau meragukannya atau mendahulukan pendapat-pendapat manusia dan sampah-sampah pikiran mereka di atasnya. Kita menyendirikan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam berhukum, patuh, tunduk, sebagaimana kita mentauhidkan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam ibadah, ketundukan. Kehinaan, inabah, dan tawakal.

Kesimpulannya : Sesungguhnya wajib atas semua muslim untuk tidak membedakan Al-Qur’an dengan As-Sunnah dari sisi kewajiban mengambil dan berpegang dengan keduanya serta menegakkan syari’at di atas keduanya bersama-sama. Karena ini adalah penjamin mereka agar tidak berpaling ke kiri dan ke kanan. Agar mereka tidak mundur dengan kesesatan sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan :

”Aku tingalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berselisih sampai keduanya mendatangiku di telaga Haudl” [Diriwayatkan oleh Malik dan Al-Hakim, dengan sanad hasan].

Peringatan

Suatu hal penting yang ingin saya (Asy-Syaikh Al-Albani) kemukakan adalah bahwa Sunnah yang begitu pentingnya dalam syari’at hanyalah Sunnah yang shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cara-cara ilmiah dan sanad yang shahih yang dikenal oleh ahlul-‘ilmi tentang hadits dan rawi-rawinya. Bukanlah yang dimaksud seperti yang terdapat dalam kitab-kitab yang beraneka ragam baik dalam masalah tafsir, fiqh, targhib dan tarhib, raqaaiq, nasihat-nasihat, dan lain-lain. Karena dalam kitab-kitab tersebut banyak hadits-hadits yang dla’if, munkar, dan maudlu’, sebagian lagi tidak diterima dalam Islam seperti hadits Harut dan Marut, serta kisah Gharaaniq. Aku (Asy-Syaikh Al-Albani) mempunyai risalah khusus dalam menolak kisah ini.[2] Dan telah aku bawakan pula sebagian besarnya dalam Silsilah Al-Ahaadits Adl-Dla’iifah wal-Maudluu’ah wa Atsaruhas-Sayyi-il-Ummah yang jumlahnya sampai saat ini mencakup 4000 hadits mencakup hadits dla’if dan maudlu’ dimana sampai saat ini baru dicetak 500 hadits saja ( - pada saat itu, akan tetapi sekarang telah tercetak lengkap – Pent. ).

Wajib atas semua ahlul-‘ilmi terutama yang menyebarkan kepada manusia pemahaman dan fatwa-fatwa agar jangan berhujjah dengan hadits-hadits kecuali setelah meyakini keshahihannya karena biasanya kitab-kitab fiqih yang dijadikan tempat rujukan penun dengan hadits-hadits yang lemah, munkar, serta tidak ada asal-usulnya sebagaimana dikenal di kalangan para ulama.

Kelemahan Hadits Mu’adz tentang Ra’yu dan Apa-Apa yang Diingkari Darinya

Sebelum mengakhiri uraian ini, aku (Asy-Syaikh Al-Albani) memandang perlu memalingkan perhatian ikhwan sekalian kepada hadits yang masyhur yang sering dibawakan dalam kitab ushul-fiqh, yaitu berkisar tentang dla’ifnya hadits tersebut dari sisi sanadnya dan karena bertentangan dengan larangan membedakan antara Al-Kitab dan As-Sunnah (dalam syari’at) serta wajibnya berpegang dengan keduanya secara bersama, yaitu hadits Mu’adz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya ketika mengutusnya ke Yaman :

”Dengan apa kamu akan berhukum?”. Mu’adz berkata,”Dengan Kitabullah”. Rasulullah berkata,”Jika tidak engkau dapati dalam Kitabullah?”. Mu’adz menjawab,”Dengan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam”. Rasulullah berkata,”Jika engkau tidak menemui dalam Sunnah ?”. Mu’adz menjawab,”Aku akan berijtihad dengan ra’yu dan aku akan berusaha keras”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah kepada perkara yang dicintainya”.

Tentang kelemahan sanadnya, tidak layak untuk dibahas sekarang. Aku telah menjelaskannya dengan penjelasan yang cukup dan mungkin belum ada yang mendahului saya dalam pembahasan itu dalam kitab As-Silsilah yang telah disebutkan sebelumnya.[3] Cukup bagiku dalam kesempatan ini untuk menyebutkan bahwa Amiirul-Mukminiin dalam masalah hadits, yaitu Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, berkata tentang hadits ini,”Hadits munkar”. Setelah itu layak bagiku untuk mulai menjelaskan pertentangan yang telah aku sebutkan tadi.

Maka aku (Asy-Syaikh Al-Albani) katakan : “Hadits Mu’adz ini memberikan manhaj bagi seorang hakim dalam berhukum dengan tiga marhalah ( = yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ra’yu). Tidak boleh mencari hukum dengan ra’yu kecuali setelah hukum itu tidak ditemukan dalam As-Sunnah, dan tidak boleh pula mencari hukum suatu hukum dari As-Sunnah kecuali jika tidak ditemui dalam Al-Qur’an. Manhaj ini jika dilihat dari sisi ra’yu adalah benar menurut seluruh ulama’. Mereka berkata juga,”Jika telah ada atsar, maka batallah nadhar (penyelidikan)”. Tetapi (manhaj ini) jika dilihat dari sisi As-Sunnah, tidaklah benar. Karena As-Sunnah adalah hakim atas Al-Qur’an. Maka wajib membahas/mencari hukum dalam As-Sunnah walaupun disangka ada hukum tersebut dalam Al-Qur’an. Tidaklah kedudukan Al-Qur’an dengan As-Sunnah seperti kedudukan ra’yu dengan As-Sunnah. Tidak, sekali lagi tidak !! Tetapi wajib menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai suatu sumber yang tidak dapat dipisahkan selamanya sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

”Ketahuilah, aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya”, yaitu As-Sunnah.

Dan sabdanya yang lain :

”Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Haudl (telaga)”

Pengelompokan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah tidaklah benar karena mengharuskan pemisahan antara keduanya dan hal ini adalah bathil, seperti telah disebutkan penjelasannya. Inilah yang ingin aku ingatkan. Jika benar itu datangnya dari Allah dan jika salah itu dari diriku sendiri. Kepada Allah aku meminta agar menjagaku dan Anda sekalian dari kesalahan-kesalahan dan segala sesuatu yang tidak diridlai-Nya. Dan penutup doa kita : Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin.


Abul-Jauzaa’ – Senayan, Jakarta.

Teks asli :

بسم الله الرحمن الرحيم
مقدمة
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وآله وصحبه ومن والاه.وبعد:فهذه محاضرة كنت قد ألقيتها في مدينة الدوحة عاصمة قطر، في شهر رمضان المبارك من عام 1392 هـ، وقد اقترح عليَّ بعض الإخوان طبعها لما فيها من فوائد هامة، ولحاجةِ المسلمين إلى مثلها. واستجابة لطلبهم أنشرها تعميماً للنفع بها، ومراعاة للذكرى والتاريخ، وقد أضفنا إليها بعضَ العناوين التفصيلية إعانة للقارئ الكريم على استجماع أفكارها الرئيسية، وأرجو الله ـ عز وجل ـ أن يكتبني في جملة الدافعين عن دينه، والناصرين لشرعه، وأن يثيبني عليها، وإنه أكرم مسئول.
منزلة السنة في الإسلام وبيان أنه لا يُستغنى عنها بالقرآن
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. ( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون )، ( يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراً ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً ) ، ( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً ) .أما بعد، فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار.
وبعد : فإني لأَظن أنني سوف لا أستطيع أن أقدم لهذا الحفل الكريم ـ لا سيما وفيه العلماء الأجلاء والأساتذة الفضلاء – شيئاً من العلم لم يسبق أن أحاطوا به علماً، فإن صَدَقَ ظني فحسبي من كلمتي هذه أن أكون بهذا مذكراً، متبعاً لقول الله تبارك وتعالى : ( وذَكِّر فإن الذكرى تنفع المؤمنين ) [الذاريات:55]. إن كلمتي في هذه الليلة المباركة من ليالي شهر رمضان المعظم لم أر أن تكون في بيان شيء من فضائله، وأحكامه، وفضلِ قيامه، ونحو ذلك مما يطرقه فيه عادةً الوعاظ والمرشدون، بما ينفع الصائمين، ويعود عليهم بالخير والبركة ، وإنما اخترتُ أن يكون حديثي في بحثٍ هام جداً ؛ لأنه أصل من أصول الشريعة الغراء، وهو بيان أهمية السنة في التشريع الإسلامي .
وظيفة السنة في القرآن
تعلمون جميعاً أن الله تبارك وتعالى اصطفى محمداً صلى الله عليه وسلم بنبوته ، واختصه برسالته ، فأنزل عليه كتابه القرآن الكريم ، وأمره فيه ـ في جملة ما أمره به ـ أن يبينه للناس ، فقال تعالى : ( وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نُزِّل إليهم ) [النحل:44]. والذي أراه أن هذا البيان المذكور في هذه الآية الكريمة يشتمل على نوعين من البيان :الأول : بيان اللفظ ونظمه ، وهو تبليغ القرآن ، وعدم كتمانه ، وأداؤه إلى الأمة، كما أنزله الله تبارك وتعالى على قلبه صلى الله عليه وسلم . وهو المراد بقوله تعالى : ( يا أيها الرسول بلِّغ ما أنزل إليك من ربك ) [المائدة:67]، وقد قالت السيدة عائشة ـ رضي الله عنها ـ في حديث لها : " ومن حدثكن أن محمداً كتم شيئاً أُمر بتبليغه ، فقد أعظم على الله الفرية . ثم تلت الآية المذكورة " [ أخرجه الشيخان] . وفي رواية لمسلم : " لو كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كاتماً شيئاً أُمر بتبليغه لكتم قوله تعالى : ( وإذ تقول للذي أنعم الله عليه وأنعمت عليه أمسك عليك زوجك واتق الله وتخفي في نفسك ما الله مبديه وتخشى الناس والله أحق أن تخشاه ) [الأحزاب : 37] " .والآخر: بيان معنى اللفظ أو الجملة أو الآية الذي تحتاج الأمة إلى بيانه ، وأكثر ما يكون ذلك في الآيات المجملة ، أو العامة ، أو المطلقة ، فتأتي السنة ، فتوضح المجمل ، وتُخصِّص العام ، وتقيد المطلق . وذلك يكون بقوله صلى الله عليه وسلم ، كما يكون بفعله وإقراره .
ضرورة السنة لفهم القرآن وأمثلةٌ على ذلك
وقوله تعالى: ( والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما ) [ المائدة : 38] مثال صالح لذلك، فإن السارق فيه مطلقٌ كاليد ، فبينتِ السنة القولية الأول منهما، وقيدته بالسارق الذي يسرق ربع دينارٍ بقوله صلى الله عليه وسلم: " لا قطع إلا في ربع دينار فصاعداً " [أخرجه الشيخان ]. كما بينتِ الآخَرَ بفعله صلى الله عليه وسلم أو فعل أصحابه وإقراره، فإنهم كانوا يقطعون يد السارق من عند المفصل، كما هو معروف في كتب لحديث، وبينت السنة القولية اليد المذكورة في آية التيمم : ( فامسحوا بوجوهكم وأيديكم ) [النساء : 43، المائدة :6] بأنها الكف أيضاً بقوله صلى الله عليه وسلم : "التيمم ضربة للوجه والكفين " [أخرجه أحمد والشيخان وغيرهم من حديث عمار بن ياسر رضي الله عنهما].
وإليكم بعض الآيات الأخرى التي لم يمكن فهمها فهماً صحيحاً على مراد الله تعالى إلا من طريق السنة :1 ـ قوله تعالى : ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون ) [الأنعام : 82 ] فقد فهم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قوله : ( بظلم ) على عمومه الذي يشمل كل ظلم ولو كان صغيراً، ولذلك استشكلوا الآية فقالوا: يا رسول الله ! أيُّنا لم يلبس أيمانه بظلم؟ فقال صلى الله عليه وسلم : " ليس بذلك ، إنما هو الشرك ؛ ألا تسمعوا إلى قول لقمان : ( إن الشرك لظلم عظيم ) [ لقمان : 13 ] ؟ " [ أخرجه الشيخان وغيرهما ] .
2 ـ قوله تعالى : ( وإذا ضربتم في الأرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلاة إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا ) [ النساء : 101] فظاهر هذه الآية يقتضي أن قصر الصلاة في السفر مشروط له الخوف ، ولذلك سأل بعض الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا : ما بالنا نقصر وقد أَمِنَّا ؟ قال : " صدقة تصدق الله بها عليكم ، فاقبلوا صدقته " [ رواه مسلم ].3 ـ قوله تعالى : ( حرمت عليكم الميتة والدم ..) [ المائدة : 3 ] فبينت السنة القولية أن ميتة الجراد والسمك ، والكبد والطحال من الدم حلال ، فقال صلى الله عليه وسلم : " أحلت لنا ميتتان ودمان : الجراد والحوت ( أي السمك بجميع أنواعه )، والكبد والطحال " [أخرجه البيهقي وغيره مرفوعاً وموقوفاً، وإسناد الموقوف صحيح ، وهو في حكم المرفوع ، لأنه لا يقال من قِبَلِ الرأي ].4 ـ قوله تعالى : ( قل لا أجد في ما أوحي إلي مُحرَّماً على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دماً مسفوحاً، أو لحم خنزير فإنه رجس أو فسقاً أهل لغير الله به ) [الأنعام : 145 ] . ثم جاءت السنة فحرمت أشياء لم تُذكر في هذه الآية، كقوله صلى الله عليه وسلم : " كل ذي ناب من السباع وكل ذي مخلب من الطير حرام " . وفي الباب أحاديث أخرى في النهي عن ذلك. كقوله صلى الله عليه وسلم يوم خيبر: " إن الله ورسوله ينهيانكم عن الحمر الإنسية، فإنها رجس " [ أخرجه الشيخان ].5 ـ قوله تعالى : ( قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق ) [ الأعراف : 32 ] فبينت السنة أيضاً أن من الزينة ما هو محرم، فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه خرج يوماً على أصحابه وفي إحدى يديه حرير، وفي الأخرى ذهب ، فقال : " هذان حرام على ذكور أمتي ، حل لإناثهم " [ أخرجه الحاكم وصححه ].
والأحاديث في معناه كثيرة معروفة في " الصحيحين " وغيرهما. إلى غير ذلك من الأمثلة الكثيرة المعروفة لدى أهل العلم بالحديث والفقه. ومما تقدم يتبين لنا أيها الإخوة أهمية السنة في التشريع الإسلامي، فإننا إذا أعدنا النظر في الأمثلة المذكورة ـ فضلاً عن غيرها مما لم نذكر ـ نتيقن أنه لا سبيل إلى فهم القرآن الكريم فهماً إلا مقروناً بالسنة.ففي المثال الأول فهم الصحابة (الظلم) المذكور في الآية على ظاهره، ومع أنهم كانوا ـ رضي الله عنهم ـ كما قال ابن مسعود : ( أفضل هذه الأمة ، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تَكلُّفاً ) فإنهم مع ذلك قد أخطئوا في ذلك الفهم ، فلولا أن النبي صلى الله عليه وسلم ردهم عن خطئهم وأرشدهم إلى أن الصواب في ( الظلم ) المذكور إنما هو الشرك لاتبعناهم على خطئهم ، ولكن الله تبارك وتعالى صاننا عن ذلك. بفضل إرشاده صلى الله عليه وسلم وسنته. وفي المثال الثاني: لولا الحديث المذكور لبقينا شاكين على الأقل في قصر الصلاة في السفر في حالة الأمن ـ إن لم نذهب إلى اشتراط الخوف فيه كما هو ظاهر الآية ـ وكما تبادر ذلك لبعض الصحابة لولا أنهم رأوا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقصر، ويقصرون معه وقد أمنوا. وفي المثال الثالث : لولا الحديث أيضاً لحرمنا طيبات أحلت لنا : الجراد والسمك ، والكبد والطحال. وفي المثال الرابع : لولا الأحاديث التي ذكرنا فيه بعضها لاستحللنا ما حرم الله علينا على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم من السباع وذوي المخلب من الطير. وكذلك المثال الخامس: لولا الأحاديث التي فيه لاستحللنا ما حرم الله على لسان نبيه من الذهب والحرير، ومن هنا قال بعض السلف: السنة تقضي على الكتاب.
ضلال المستغنين بالقرآن عن السنة
ومن المؤسف أنه قد وجد في بعض المفسرين ، والكُتَّاب ، المعاصرين من ذهب إلى جواز ما ذُكر في المثالين الأخيرين من إباحة أكل السباع ولبس الذهب والحرير اعتماداً على القرآن فقط، بل وجد في الوقت الحاضر طائفة يَتَسَمَّوْنَ بـ ( القرآنيين ) يفسرون القرآن بأهوائهم وعقولهم ، دون الاستعانة على ذلك بالسنة الصحيحة ، بل السنة عندهم تبعٌ لأهوائهم ، فما وافقهم منها تشبثوا به ، وما لم يوافقهم منها نبذوه وراءهم ظهرياً.وكأن النبي صلى الله عليه وسلم قد أشار إلى هؤلاء بقوله في الحديث الصحيح : " لا أَلْفِيَّنَ أحدكم متكئاً على أريكته ، يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به، أو نهيت عنه ، فيقول : لا أدري ! ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه " [رواه الترمذي ]. وفي رواية لغيره : " ما وجدنا فيه حراماً حرمناه ، ألا وإني أتيت القرآن ومثله معه ". وفي أخرى : " ألا إن ما حرم رسول الله مثل ما حرم الله " .
بل إن من المؤسف أن بعض الكتاب الأفاضل ألَّف كتاباً في شريعة الإسلام وعقيدته، وذكر في مقدمته أنه ألفه وليس لديه من المراجع إلا القرآن !. فهذا الحديث الصحيح يدل دلالة قاطعة على أن الشريعة الإسلامية ليست قرآناً فقط، وإنما قرآن وسنة، فمن تمسك بأحدهما دون الآخر، لم يتمسك بأحدهما، لأن كل واحد منهما يأمر بالتمسك بالآخر كما قال تعالى : ( من يطع الرسول فقد أطاع الله ) [ النساء :80 ] ، وقال : ( فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجاً مما قضيت ويسلموا تسليماً ) [ النساء : 65 ] ، وقال : ( وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمراً أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ، ومن يعص الله ورسوله فقض ضل ضلالاً مبيناً ) [ الأحزاب : 36 ] ، وقال : ( وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا ) [الحشر : 7 ].وبمناسبة هذه الآية يعجبني ما ثبت عن ابن مسعود ـ رضي الله عنه ـ وهو أن امرأة جاءت إليه ، فقالت له : أنت الذي تقول : لعن الله النامصات والمتنمصات، والواشمات .. الحديث ؟ قال : نعم ، قالت : فإني قرأت كتاب الله من أوله إلى آخره ، فلم أجد فيه ما تقول ! فقال لها : إن كنت قرأتيه لقد وجدتيه، أما قرأت : ( وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا ) قالت : بلى! قال : فقد سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لعن الله النامصات .. الحديث [متفق عليه] .
عدم كفاية اللغة لفهم القرآن
ومما سبق يبدو واضحاً أنه لا مجال لأحدٍ مهما كان عالماً باللغة العربية وآدابها أن يفهم القرآن الكريم ، دون الاستعانة على ذلك بسنة النبي صلى الله عليه وسلم القولية والفعلية ، فإنه لم يكن أعلم في اللغة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم الذين نزل القرآن بلغتهم ، ولم تكن قد شابتها لوثةُ العُجمة والعامية واللحن ، ومع ذلك فإنهم غلطوا في فهم الآيات السابقة حين اعتمدوا على لغتهم فقط.وعليه فمن البدهي أن المرء كلما كان عالماً بالسنة ، كان أحرى بفهم القرآن واستنباط الأحكام منه؛ ممن هو جاهل بها، فكيف بمن هو غير معتَدٍّ بها، ولا ملتفتٍ إليها أصلاً ؟ولذلك كان من القواعد المتفق عليها بين أهل العلم : أن يفسر القرآن بالقرآن والسنة1 ثم بأقوال الصحابة .. إلخ .
ومن ذلك يتبين لنا ضلال علماء الكلام قديماً وحديثاً ومخالفتهم للسلف ـ رضي الله عنهم ـ قي عقائدهم ـ فضلاً عن أحكامهم ـ وهو بُعدهم عن السنة والمعرفة بها وتحكيمُهم عقولهم وأهواءهم في آيات الصفات وغيرها. وما أحسن ما جاء في " شرح العقيدة الطحاوية " ( ص 212 ـ الطبعة الرابعة ) :( وكيف يتكلم في أصول الدين من لا يتلقاه من الكتاب والسنة، وإنما يتلقاه من قول فلان ؟ ! وإذا زعم أنه يأخذه من كتاب الله. لا يتلقى تفسير كتاب الله من أحاديث الرسول صلى الله عليه وسلم ولا ينظر فيها ولا فيما قاله الصحابة والتابعون لهم بإحسان، المنقول إلينا عن الثقات الذي تخيرهم النُّقَّاد ؛ فإنهم لم ينقلوا نظم القرآن وحده، بل نقلوا نظمه ومعناه، ولا كانوا يتعلمون القرآن كما يتعلم الصبيان، بل يتعلمونه بمعانيه. ومن لا يسلك سبيلهم فإنما يتكلم برأيه. ومن يتكلم برأيه ، وبما يظنه دين الله، ولم يتلق ذلك من الكتاب فهو مأثوم ( ! ) وإن أصاب . ومن أخذ من الكتاب والسنة فهو مأجور وإن أخطأ. لكن إن أصاب يضاعف أجره ) .
ثم قال ( ص 217) :( فالواجب كمال التسليم للرسول صلى الله عليه وسلم، والانقياد لأمره ، وتلقي خبره بالقبول والتصديق دون أن نعارضه بخيالٍ باطل نسميه معقولاً، أو نحمله شبهة أو شكاً، أو نقدم عليه آراء الرجال وزبالة أذهانهم، فنوحده صلى الله عليه وسلم بالتحكيم والتسليم والانقياد والإذعان، كما نوحد المُرسِلَ ـ سبحانه وتعالى ـ بالعبادة والخضوع والذل والإنابة والتوكل ). وجملة القول : أن الواجب على المسلمين جميعاً أن لا يُفرِّقوا بين القرآن والسنة، من حيث وجوب الأخذ بهما كليهما، وإقامة التشريع عليهما معاً. فإن هذا هو الضمان لهم أن لا يميلوا يميناً ويساراً، وأن لا يرجعوا القهقرى ضُلالاً،
كما أفصح عن هذا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله: " تركت فيكم أمرين ، لن تضلوا ما إن تمسكتم بهما : كتاب الله وسنتي ، ولن يتفرقا حتى يرِدا على الحوض " [ رواه مالك بلاغاً، والحاكم موصلاً بإسناد حسن].
تنبيه هام
ومن البدهي بعد هذا أن نقول :إن السنة التي لها هذه الأهمية في التشريع ، إنما هي السنة الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم بالطرق العلمية والأسانيد الصحيحة المعروفة عند أهل العلم بالحديث ورجاله . وليست هي التي في بطون مختلف الكتب من التفسير والفقه ، والترغيب والترهيب ، والرقائق والمواعظ وغيرها ؛ فإن فيها كثيراً من الأحاديث الضعيفة والمنكرة والموضوعة ، وبعضها مما يتبرأ منه الإسلام . مثل حديث هاروت وماروت، وقصة الغرانيق، ولي رسالة خاصة في إبطالها وهي مطبوعة ، وقد خرجت طائفة كبيرة منها في كتابي الضخم " سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة وأثرها السيئ في الأمة " ، وقد بلغ عددها حتى الآن قرابة أربعة آلاف حديث ! وهي ما بين ضعيف وموضوع وقد طبع منها خمس مئة فقط!
فالواجب على أهل العلم ، لا سيما الذين ينشرون على الناس فقههم وفتاويهم أن لا يتجرأوا على الإحتجاج بالحديث إلا بعد التأكد من ثبوته ، فإن كتب الفقه التي يرجعون إليها عادة، مملوءة بالأحاديث الواهية المنكرة وما لا أصل له، كما هو معروف عند العلماء .وقد كنت بدأت مشروعاً هاماً في نظري، وهو نافع جداً للمشتغلين بالفقه سميته " الأحاديث الضعيفة والموضوعة في أمهات الكتب الفقهية " وأعني بها :1 ـ الهداية للمرغيناني في الفقه الحنفي.2 ـ المدونة لابن القاسم في الفقه المالكي.3 ـ شرح الوجيز للرافعي في الفقه الشافعي.4 ـ المغني لابن قدامة في الفقه الحنبلي.5 ـ بداية المجتهد لابن رشد الأندلسي في الفقه المقارن.ولكن لم يُتح لي إتمامه - مع الأسف - لأن مجلة (الوعي الإسلامي الكويتية) التي وعدت بنشره، ورحبت به، حين اطلعت عليه لم تنشره.وإذ قد فاتني ذلك، فلعلي أوفق في مناسبة أخرى ـ إن شاء الله تعالى ـ إلى أن أضع لإخواني المشتغلين بالفقه منهجاً علمياً دقيقاً يساعدهم، ويسهل لهم طريق معرفة درجة الحديث بالرجوع إلى المصادر التي لا بد من الجوع إليها من كتب الحديث ، وبيان خواصها ومزاياها، وما يمكن الاعتماد عليه منها، والله تعالى ولي التوفيق.
ضعيف حديث معاذ في الرأي وما يستنكر منه
وقبل أن أنهي كلمتي هذه أرى أنه لا بد لي من أن أُلفت انتباه الإخوة الحاضرين إلى حديث مشهور، قلما يخلو منه كتاب من كتب أصول الفقه، لضعفه من حيث إسناده ولتعارضه مع ما انتهينا إليه في هذه الكلمة من عدم جواز التفريق في التشريع بين الكتاب والسنة، ووجوب الأخذ بهما معاً، ألا وهو حديث معاذ بن جبل - رضي الله عنه - أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له حين أرسله إلى اليمن :" بم تحكم ؟ " قال : بكتاب الله ، قال : " فإن لم تجد ؟ " قال : بسنة رسول الله، قال : " فإن لم تجد ؟ " قال : أجتهد رأيي ولا آلو . قال : " الحمد لله الذي وفَّقَ رسولَ رسولِ الله، لما يحب رسول الله ".أما ضعف إسناده، فلا مجال لبيانه الآن، وقد بينت ذلك بياناً شافياً ربما لم أسبق إليه في السلسلة السابقة الذكر ، وحسبي الآن أن أذكر أن أمير المؤمنين في الحديث الإمام البخاري ـ رحمه الله تعالى ـ قال فيه : ( حديث منكر ). وبعد هذا يجوز لي أن أشرع في بيان التعارض الذي أشرت إليه فأقول :
إن حديث معاذ هذا يضع للحاكم منهجاً في الحكم على ثلاث مراحل، لا يجوز أن يبحث عن الحكم في الرأي إلا بعد أن لا يجده في السنة، ولا في السنة إلا بعد أن لا يجده في القرآن. وهو بالنسبة للرأي منهج صحيح لدى كافة العلماء، وكذلك قالوا إذا ورد الأثر بطل النظر. ولكنه بالنسبة للسنة ليس صحيحاً؛ لأن السنة حاكمة على كتاب الله ومبينة له ، فيجب أن يبحث عن الحكم في السنة، ولو ظن وجوده في الكتاب لما ذكرنا، فليست السنة مع القرآن ، كالرأي مع السنة ، كلا ثم كلا، بل يجب اعتبار الكتاب والسنة مصدراً واحداً لا فصل بينهما أبداً ، كما أشار إلى ذلك قوله صلى الله عليه وسلم : " ألا إني أُتيت القرآن ومثله معه " يعني السنة وقوله : " لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض" . فالتصنيف المذكور بينهما غير صحيح لأنه يقتضي التفريق بينهما وهذا باطل لما سبق بيانه .فهذا هو الذي أردت أن أنبه إليه ، فإن أصبت فمن الله. وإن أخطأت فمن نفسي، والله تعالى أسأل أن يعصمنا وإياكم من الزلل ومن كل ما لا يرضيه. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

Catatan kaki :

[1] (Berkata Syaikh Al-Albani) : “Kami tidak mengatakan seperti yang sudah masyhur di kalangan sebagian besar ahlul-ilmi, dimana mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kemudian baru dengan Sunnah seperti yang akan datang penjelasan di akhir tulisan dalam pembahasan ini dalam hadits Mu’adz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu.

[2] Namanya Nashbul-Majaaniq fii Nisfi Qishshatil-Gharaaniq cetakan Al-Maktab Al-Islami

[3] Terdapat pada nomor 885 dari kitab As-Silsilah yang telah disebutkan – Silsilah Al-Ahadits Adl-Dla’iifah wal-Maudluu’ah (dan kami berharap agar proses pencetakan dan pembukuannya dapat segera terwujud dalam waktu dekat, insyaAllah).

Hukum "Nitip Absen"

0 komentar

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah


Soal : Kadangkala teman kuliah saya meminta bantuan saya saat pertemuan kuliah dilangsungkan untuk mencantumkan tanda kehadirannya (nitip absen)[1] padahal ia tidak hadir. Yaitu, ketika lembar kehadiran diedarkan, dan kemudian saya tulis namanya. Apakah hal ini termasuk bantuan yang bersifat kemanusiaan, ataukah termasuk kecurangan dan penipuan ?

Jawab : Itu memang bantuan,… tapi bantuan syaithaniyyah. Syaithan menyukai perbuatan ini yaitu mengabsenkan orang yang tidak hadir. Dalam hal ini ada tiga hal yang perlu diwaspadai :

Pertama, kebohongan/dusta; kedua, khianat terhadap penanggung jawab perkuliahan; ketiga, ia telah menjadikan orang yang tidak hadir ini mendapatkan tunjangan kehadiran yang dengan itu ia mengambil dan memakan tunjangan tersebut secara bathil. Salah satu saja dari ketiga hal ini telah cukup untuk menyatakan keharaman perbuatan tersebut dimana dhahir pertanyaan yang diajukan dipandang sebagai bagian dari perkara (bantuan) kemanusiaan.

Bantuan kemanusiaan tidaklah terpuji secara mutlak. Apa-apa yang sesuai dengan syari’at, maka itu terpuji; dan apa-apa yang menyelisihi syari’at, maka ia tercela. Pada hakekatnya, segala sesuatu yang menyelisihi syari’at dari apa-apa yang disebut sebagian orang sebagai perbuatan kemanusiaan, maka itu adalah penamaan yang bukan pada tempatnya. Segala sesuatu yang menyelisihi syari’at maka itu adalah perbuatan hewani. Karena itulah Allah menyifati perbuatan orang-orang kuffar dan musyrikin seperti perbuatan binatang; sebagaimana firman-Nya :

يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

”Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka” [QS. Muhammad : 12].

Dan juga firman-Nya :

إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِي

”Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” [QS. Al-Furqaan : 44].

Maka, setiap hal yang menyelisihi syari’at adalah perbuatan hewani, bukan perbuatan manusiawi.[selesai]

 

[Fataawaa Islaamiyyah, oleh Ibnu ’Utsaimin (4/329-340) – ditulis ulang oleh Abul-Jauzaa’ pada tanggal 29 Muharram 1430 di Ciomas Permai, Bogor].

 

 

Teks asli :

السؤال : أحياناً يطلب مني زميلي في المحاضرة أن أقوم بتحضيره مع أنه غائب حيث تمر ورقة التحضير فأكتب اسمه. فهل هذه خدمة إنسانية، أم أنه نوع من الغش والخداع ؟.

الجواب : هي خدمة ولكنها خدمة شيطانية يمليها الشيطان على هذا الذي فعل وحضّر من ليس بحاضر وفي ذلك ثلاثة محاذير :

المحذور الأول : الكذب، والمحذور الثاني : خيانة المسؤولين في هذه المسلحة، والمحذور الثالث : أنه يجعل هذا الغائب مستحقاً للراتب المرتب على الحضور، فيأخذه ويأكله بالباطل. وواحد من هذه المحاذير يكفي بالقول في تحريم هذا التصرف الذي ظاهر سؤال السائل أنه من الأمور الإنسانية.

والأمور الإنسانية ليست محمودة على الإطلاق بل ما وافق الشرع منها فهو محمود وما خلف الشرع فهو مذموم. والحقيقة أن ما خالف الشرع مما يقال عنه عمل إنساني فإنه اسم على غير مسماه. لأن ما خالف الشرع فهو عمل بهيمي، ولهذا وصف الله الكفار والمشركين بأنهم كالأنعام : (يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ) [سورة محمد، الأٓية : ١٢] وقال : (إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا) [سورة الفرقان، الأٓية : ٤٤]. فكل ما خالف الشرع فهو عمل بهيمي لا إنساني.

 

[فتاوى إسلامية، ابن عثيمين (٤/٣٢٩،٣٣٠)]



[1]     Yang lebih tepat secara bahasa adalah nitip presensi (kehadiran).

Petunjuk Praktis Hukum dan Kaifiyah Shalat Beserta Dalil-Dalilnya

15 komentar

Shalat adalah satu ibadah ’amaliy terbesar yang harus dilakukan muslim yang pernah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ia merupakan tiang agama. Namun sayangnya, banyak diantara kaum muslimin yang menyia-nyiakannya. Ini adalah musibah bagi dirinya dan juga kaum muslimin seluruhnya......

Diantara yang telah mengerjakannya (dan kita ucapkan alhamdulillah atas hal ini), masih banyak yang tidak mengerti akan hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat. Bagaimana cara yang benar dalam shalat. Oleh karena itu, di sini saya akan mencoba meringkaskannya tentang bahasan ini..... Semoga Allah ta’ala menjadikannya satu kemanfaatan bagi diri saya (di dunia dan di akhirat), juga bagi kaum muslimin semua.

1.          Makna Shalat

Shalat secara bahasa (etimologis) maknanya adalah doa [1]. Adapun secara syari’at (terminologis) maknanya adalah perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbir (takbiratul-ihram) dan diakhiri dengan salam, yang dibarengi dengan niat.

2.          Dalil Pensyari’atan Shalat

Allah ta’ala berfirman :

قُل لّعِبَادِيَ الّذِينَ آمَنُواْ يُقِيمُواْ الصّلاَةَ وَيُنْفِقُواْ مِمّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [QS. Ibrahim : 31].

3.          Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat

Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka dia telah kafir dan keluar dari agama Islam. Kaum muslimin (ulama) telah sepakat mengenai hal itu. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang hukum orang meninggalkan shalat karena malas atau bisikan hawa nafsu (tanpa mengingkari kewajibannya). Sebagian ulama mengkafirkan, dan sebagian lagi tidak mengkafirkan (kufur ashghar). Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan tidak kafir.[2] Akan tetapi bukan berarti hal ini meremehkan kewajiban shalat. Bahkan orang yang meninggalkan shalat (karena malas dan dorongan hawa nafsu), maka ia telah berbuat salah satu dosa besar yang paling besar yang hampir menjerumuskannya pada pintu kekafiran. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” [HR. Muslim no. 82].

4.          Jumlah Shalat Fardlu

Jumlah shalat fardlu dalam sehari semalam adalah lima kali shalat.

عن طلحة بن عبيد الله يقول: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من أهل نجد، ثائر الرأس، يسمع دوي صوته ولا يفقه ما يقول، حتى دنا، فإذا هو يسأل عن الإسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (خمس صلوات في اليوم والليلة) فقال: هل علي غيرها؟ قال: (لا إلا أن تطوع).

Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah ia berkata : “Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar tetapi tidak bisa dipahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘Shalat lima waktu dalam sehari semalam’. Ia bertanya lagi : ‘Adakah saya punya kewajiban shalat lainnya ?’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja” [HR. Al-Bukhari no. 46].

Ia adalah shubuh (2 raka’at), dhuhur (4 raka’at), ‘asar (4 raka’at), maghrib (3 raka’at), dan ‘isya’ (4 raka’at).

5.          Waktu-Waktu Shalat

Allah ta’ala berfirman :

أَقِمِ الصّلاَةَ لِدُلُوكِ الشّمْسِ إِلَىَ غَسَقِ الْلّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” [QS. Al-Israa’ : 78].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وقت الظهر إذا زالت الشمس. وكان ظل الرجل كطوله. ما لم يحضر العصر. ووقت العصر ما لم تصفر الشمس. ووقت صلاة المغرب ما لم يغب الشفق. ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط. ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر. ما لم تطلع الشمس.

“Waktu dhuhur jika matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama tinggi dengan seseorang itu selama belum masuk waktu ‘ashar. Waktu ‘ashar sampai matahari berwarna kuning. Waktu shalat maghrib selama sinar matahari belum hilang. Waktu shalat ‘isya’ sampai tengah malam. Waktu shalat shubuh mulai terbitnya fajar (shadiq) sampai matahari belum terbit” [HR. Muslim no. 612].

Perinciannya adalah sebagai berikut :

a)          Waktu shubuh, dimulai dari terbitnya fajar shadiq sampai sebelum matahari terbit.

b)          Waktu dhuhur, dimulai saat matahari telah tergelincir (bayangan seseorang telah nampak sesaat setelah matahari tepat di atas kepala) sampai panjang bayangan seseorang sama dengannya tinggi badannya.

c)           Waktu maghrib, dimulai sesaat setelah matahari tenggelam sampai dengan sinar lembayung merah di ufuk barat habis.

d)          Waktu ‘isya’, dimulai setelah sinar lembayung merah di ufuk barat habis sampai dengan tengah malam tiba.

6.          Waktu Terlarang untuk Shalat

Dari Amru bin Abasah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat”.  Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صل صلاة الصبح. ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع. فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان. وحينئذ يسجد لها الكفار. ثم صل. فإن الصلاة مشهودة محضورة. حتى يستقل الظل بالرمح. ثم أقصر عن الصلاة. فإن، حينئذ، تسجر جهنم. فإذا أقبل الفيء فصل. فإن الصلاة مشهودة محضورة. حتى تصلي العصر. ثم أقصر عن الصلاة. حتى تغرب الشمس. فإنها تغرب بين قرني شيطان. وحينئذ يسجد لها الكف

Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi.  Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan.  Waktu itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya.  Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga bayang-bayang tembok tegak.  Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan.  Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar.  Kemudian berhentilah melakukan shalat hingga matahari tenggelam.  Karena matahari tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya” [HR. Muslim no. 832].

Perincian waktu terlarang untuk shalat adalah sebagai berikut :

a)          Setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari.

b)          Ketika terbit matahari sampai matahari meninggi setinggi satu tombak (dimulainya waktu Dluha).

c)           Ketika matahari tepat di atas kepala (pertengahan siang) sampai tergelincir (zawal – masuk waktu Dhuhur).

d)          Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.

e)          Ketika matahari mulai tenggelam sampai betul-betul tenggelam (masuk waktu Maghrib).

Kelima waktu di atas adalah diharamkan bagi setiap muslim untuk melakukan shalat sunnah mutlak.[3]  Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang dilakukannya shalat sunnah dengan sebab-sebab tertentu (contoh : shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudlu, shalat kusuf (gerhana), dan lain-lain) yang dilakukan pada 5 waktu terlarang tersebut.  Yang lebih rajih (kuat) insya allah adalah diperbolehkan – wallahu a’lam. [4]

7.          Meninggalkan Shalat karena Ketiduran atau Kelupaan.

Maka hendaknya ia segera mengerjakannya begitu ia teringat, sebagaimana perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من نسي صلاة فليصل إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك

“Barangsiapa yang tidak mengerjakan shalat karena lupa, maka hendaknya ia mengerjakan shalat tersebut ketika ia teringat dengannya. Tidak ada kaffarat lain selain itu” [HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 684].

8.          Syarat sahnya shalat :

a)          Islam

b)          Berakal

c)           Tamyiz (mampu membedakan antara baik dan buruk

d)          Suci dari hadats besar dan hadats kecil.

e)          Suci badan, pakaian, dan tempat shalat.

f)            Menutup aurat (bagi wanita seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan).

g)          Dikerjakan pada waktunya.

h)          Menghadap kiblat.

i)            Niat

9.          Rukun-Rukun Shalat :

a)          Berdiri jika mampu.

b)          Takbiratul-ihram.

c)           Membaca Al-Fatihah.

d)          Rukuk.

e)          I’tidak setelah rukuk.

f)            Sujud pada tujuh anggota tubuh.

g)          Bangkit dari sujud.

h)          Duduk antara dua sujud.

i)            Thuma’ninah pada seluruh gerakan.

j)            Tertib pada seluruh pelaksanaan rukun-rukun shalat.

k)          Tasyahud akhir.

l)            Duduk (pada tasyahud akhir).

m)       Bershalawat pada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

n)          Salam.

10.     Shalat Berjama’ah Bagi Wanita

v           Para ulama sepakat bahwa kaum wanita tidak wajib mengerjakan shalat berjama’ah, akan tetapi syari’at tetap membenarkan mereka shalat berjama’ah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة

“Shalat berjama’ah duapuluh tujuh derajat lebih utama daripada shalat sendirian” [HR. Al-Bukhari no. 619 dan Muslim no. 650].

v           Posisi imam seorang wanita yang mengimami wanita lainnya adalah di tengah-tengah shaff pertama.

عن ريطة الحنفية أن عائشة أمتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة

Dari Raithah Al-Hanaifiyyah : “Bahwasannya ‘Aisyah pernah mengimami mereka dan ia berdiri di tengah mereka (barisan pertama) dalam shalat fardlu” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 5086, Ad-Daruquthni 1/404, dan Baihaqi 3/131; shahih bisyawahidihi].

v           Rumah adalah Tempat Shalat yang Paling Baik Bagi Wanita

عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” [HR. Abu Dawud no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih lighairihi].

v           Seorang wanita boleh mengimami sesama wanita atau anak kecil yang belum baligh. Wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki.

11.     Kaifiyyah (Tata Cara) Shalat

a)          Niat

Tidak disyari’atkan mengucapkan/melafadhkan niat, sebab hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya (termasuk imam empat).[5]

b)          Menghadap Sutrah (Pembatas dalam Shalat).

Sutrah adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembatas shalat yang diletakkan di depan orang shalat.

Hukum menghadap sutrah ini adalah wajib bagi shalat munfarid (sendirian) dan bagi imam [6]. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا تصل إلا إلى سترة ولا تدع أحدا يمر بين يديك فإن أبى فلتقاتله فإن معه القرين

“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 800; shahih].

وَقَالَ ابن مَسعود : أَربَع منَ الخلَفَاء : أن يصلي الرّجل إلى غير سترة … أو يسمع المنادي ثم لا يجيبه

Dan Ibnu Mas’ud berkata : “Empat hal dari kemunkaran yaitu : Seseorang melakukan shalat tidak menghadap sutrah….. atau mendengar panggilan (adzan) lalu tidak menjawabnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/61 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 2/285; shahih].

Tinggi sutrah minimal seukuran bagian belakang pelana kuda atau kira-kira dua pertiga sampai satu hasta, berdasarkan hadits:

إذا قام أحدكم يصلي فإنه يستره إذا كان بين يديه مثل آخرة الرحل

“Jika berdiri salah seorang di antara kalian untuk melaksanakan shalat, sesungguhnya terbatasi dia jika di depannya terdapat seukuran bagian pelana kendaraan tunggangan/kuda” [HR. Muslim no. 510].

Adapun jarak antara tempat berdiri shalat dengan sutrah adalah sepanjang tiga hasta, berdasarkan hadits :

...ثم صلى وجعل بينه وبين الجدار نحوا من ثلاثة أذرع

“….Kemudian beliau shalat dimana jarak antara beliau dan dinding (sebagai sutrah – Abul-Jauzaa’ (Pent.)) adalah sekitar tiga hasta” [HR. An-Nasa’i no. 749 dan Ahmad 2/138; shahih].

c)           Berdiri jika mampu

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صل قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب

“Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak sanggup, maka shalatlah sambil duduk. Bila tidak sanggup juga, shalatlah sambil berbaring” [HR. Al-Bukhari no. 1066, Abu Dawud no. 939, dan At-Tirmidzi no. 369].

Seluruh ulama sepakat (ijma’) bahwa orang yang sehat lagi mampu wajib melakukan shalat fardlu sambil berdiri, baik sendiri maupun menjadi imam.

Bila ia sedang naik pesawat, kapal, atau kendaraan lain yang tidak mungkin baginya untuk turun (ke tanah/darat) sewaktu-waktu, maka ia tetap wajib shalat sambil berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka boleh baginya shalat sambil duduk.

Boleh mengerjakan shalat sunnah sambil duduk tanpa alasan apapun, akan tetapi ia hanya mendapatkan pahal setengah dari orang yang berdiri. ‘Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang shalat sambil duduk. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab :

إن صلى قائما فهو أفضل ومن صلى قاعدا فله نصف أجر القائم ومن صلى نائما فله نصف أجر القاعد

“Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka hal itu lebih baik. Orang yang mengerjakan shalat sambil duduk mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil berdiri. Orang yang mengerjakan shalat sambil berbaring mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil duduk” [HR. Bukhari no. 1064].

Namun jika ia melakukan shalat sambil duduk atau berbaring karena udzur (sakit atau yang lainnya), maka ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang berdiri (tidak kurang). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Barangsiapa yang jatuh sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka dicatatkan pahala baginya pahala seperti yang biasa ia dilakukannya ketika bermukim atau sehat” [HR. Al-Bukhari no. 2834].

d)          Takbiratul-Ihram dan Mengangkat Tangan

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

“Kunci shalat itu adalah suci, pengharamannya[7] adalah takbir (yaitu takbiratul-ihram), dan penghalalannya[8] adalah salam” [HR. Abu Dawud no. 61, Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/87, At-Tirmidzi no. 3 dan lain-lain; hasan].

إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء مواضعه ثم يقول :‏ اَللهُ أَكْبَرُ

“Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia sehingga ia berwudlu dan meletakkan wudlu tersebut pada tempatnya (yaitu pada anggota badan yang wajib terkena air wudlu), lalu berkata : Allaahu Akbar” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 4526; shahih].

Kadangkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.

أن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر، حتى يجعلهما حذو منكبيه

Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan takbir. Maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika (bersamaan) takbir setinggi kedua pundaknya” [HR. Al-Bukhari no. 705].

Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sebelum takbir.

أن بن عمر قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام للصلاة رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه ثم كبر

Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir” [HR. Muslim no. 390].

Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan setelah takbir.

عن أبي قلابة أنه رأى مالك بن الحويرث إذا صلى كبر ثم رفع يديه وإذا أراد أن يركع رفع يديه وإذا رفع رأسه من الركوع رفع يديه وحدث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل هكذا

Dari Abu Qilabah : “Bahwasannya ia melihat Malik bin Al-Huwairits apabila ia melakukan shalat, maka ia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia hendak rukuk, maka ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk (i’tidal), maka ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan demikian (dalam shalat)” [HR. Al-Bukhari no. 704 dan Muslim no. 391].

Beliau shallalaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sejajar kedua pundaknya (berdasarkan hadits di atas). Kadangkala, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.

عن مالك بن الحويرث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا كبر رفع يديه حتى يحاذي بهما أذنيه

Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya” [HR. Muslim no. 391].

e)          Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri di Dada

عن سهل بن سعد قال كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة

Dari Sahl bin Sa’id radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 707].

Dari Wa’il bin Hujr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ووضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di dadanya” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 479].

Adapun meletakkan kedua tangan di bawah dada atau perut, maka hal ini tidak benar (menyelisihi sunnah).[9]

f)            Melihat Tempat Sujud dan Khusyu’

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا صلى رفع بصره إلى السماء فنزلت الذين هم في صلاتهم خاشعون فطأطأ رأسه

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat dengan mengangkat pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat : “(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” {QS. Al-Mukminun : 2}. Maka beliau kemudian menundukkan kepalanya”  [HR. Al-Hakim no. 3483; shahih sesuai syarat Muslim].

Dilarang menoleh ketika shalat, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang hukum menoleh ketika shalat :

هو اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العبد

“Itulah ikhtilaas (mencuri-curi), yang dicuri-curi syaithan dari shalat seorang hamba” [HR. Al-Bukhari no. 718].

Akan tetapi diperbolehkan untuk melirik (tanpa menoleh) jika ada keperluan.

عن بن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يلحظ في الصلاة يمينا وشمالا ويلوى عنقه خلف ظهره

Dari Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melirik ke kanan dan ke kiri dalam shalat, namun beliau tidak menolehkan leher beliau ke belakang” [HR. At-Tirmidzi no. 587 dan Ibnu Khuzaimah no. 485 dengan sanad shahih].

g)          Membaca Iftitah/Istiftah

Hukumnya adalah sunnah menurut jumhur ulama (dan ini adalah pendapat yang rajih/kuat).  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء يعني مواضعه ثم يكبر ويحمد الله جل وعز ويثني عليه ويقرأ بما تيسر من القرآن

“Sesungguhnya shalat seseorang tidaklah sempurna kecuali bila dia wudlu pada anggota tubuh yang terkena air wudlu, kemudian mengucapkan takbir, memuji Allah jalla wa ‘azza dan mengagungkannya, serta membaca Al-Qur’an yang mudah baginya” [HR. Abu Dawud no. 857; shahih].

Kalimat { وَيَحْمَدُ اللهَ جَلَّ وَعَزَّ} “memuji Allah jalla wa ‘azza” dijelaskan oleh para ulama mempunyai makna membaca doa iftitah.

Macam-macam doa iftitah/istiftah antara lain :

o         { اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ }

Alloohumma baa’id bainii wa bainaa khothooyaaya kamaa baa’atta bainal-masyriqi wal-maghrib. Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots-tsaubul-abyadlu minad-danas. Alloohummagh-silnii min khothooyaaya bits-tsalji wal-maa-i wal-barad.

“Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun” [HR. Al-Bukhari no. 711 dan Muslim no. 598].

o         {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ}

Subhaanakalloohumma wabihamdika watabaarokas-muka wata’aalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka.

"Aku menyucikan-Mu dan memuji-Mu ya Allah. Sungguh berkah nama-Mu dan sungguh tinggi kekayaan-Mu. Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau”  [HR. Abu Dawud no. 776, At-Tirmidzi no. 243, dan yang lainnya; shahih].

    • Dan yang lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits shahih.

h)          Membaca Isti’adzah

Para ulama sepakat bahwa hukum membaca isti’adzah di permulaan shalat (maksudnya : sebelum membaca Al-Fatihah) adalah wajib. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang kewajiban membacanya di tiap raka’at.

Allah ta’ala berfirman :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].

Isti’adzah dalam shalat dapat dilakukan dengan membaca salah satu lafadh sebagai berikut :

o         { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ }

A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim

“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].

o         { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }

A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi

“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Ahmad 6/156 no. 25266; hasan].

o         { أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }

A’uudzu billaahis-samii’il-‘aliimi minasy-syaithoonir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Abu Dawud no. 775; shahih].

i)            Membaca Surat Al-Fatihah

Wajib membaca Al-Fatihah (dan ini menjadi bagian dari rukun shalat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah” [HR. Al-Bukhari no. 723 dan Muslim no. 394].

Jika ada orang yang tidak hafal surat Al-Fatihah, maka dia boleh membaca :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلا بِاللهِ

Subhaanalloohi wal-hamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohu akbar. Walaa haula walaa quwwata illaa billaah

“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah” [HR. Abu Dawud no. 832; hasan].

Namun keringanan ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar tidak mampu menghafalnya setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghafalnya.

Dalam shalat jama’ah jahriyyah (yang dikeraskan suaranya, seperti shalat shubuh, maghrib, dan ‘isya’), maka bacaan basmalah adalah sirr (tidak dikeraskan – tapi tetap dibaca) berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما كانوا يفتتحون الصلاة ب-{اَلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ}

”Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar membuka (bacaan) shalatnya dengan membaca Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin”. [HR. Al-Bukhari no. 710].

j)            Mengucapkan Amiin Setelah Membaca Al-Fatihah

عَنْ وَائِل بْنِ حُجْر قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ { وَلاَ الضَالِينَ } قَالَ آمِيْنَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bila selesai membaca Waladl-dlooolliin; maka beliau berkata : Aamiin, dan beliau mengangkat suara dengannya” [HR. Abu Dawud no. 932; shahih].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه

“Jika imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin juga. Sesungguhnya, barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan aamiin yang diucapkan oleh malaikat; maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR. Al-Bukhari no. 747 dan Muslim no. 410].

Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca aamiin setelah Al-Fatihah adalah wajib. Adapun tambahan rabbighfirlii sebelum membaca aamiin (sebagaimana dilakukan oleh sebagian kaum muslimin), maka itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak dilandasi dalil (shahih). Sudah sepatutnya perbuatan tersebut untuk ditinggalkan.

k)          Membaca Surat /Ayat yang Dihafal dari Al-Qur’an

§         Hukumnya adalah sunnah.

عَنْ أبِيْ هرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُوْلُ فيْ كُلِّ صَلاَةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ وَإِنْ لَمْ تَزِدْ عَلَى أُمِّ الْقُرْآنِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ta’ala ‘anhu ia berkata : "Al-Qur’an dibaca pada setiap shalat. Bacaan yang dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kami pun mengeraskannya ketika kami menjadi imam. Dan bacaan yang tidak dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka kami pun tidak mengeraskannya. Jika kamu tidak menambah bacaan selain Ummul-Qur’an (Al-Fatihah), maka itu sudah cukup. Jika kamu menambah bacaan surat selain Ummul-Qur’an, maka itu lebih baik" [HR. Al-Bukhari no. 738].

عن جبير بن مطعم قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في المغرب بالطور

Dari Jubair bin Muth’im ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat Ath-Thuur dalam shalat maghrib” [HR. Al-Bukhari no. 731 dan Muslim no. 463].

§         Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebaiknya bacaan pada raka’at pertama lebih panjang daripada raka’at kedua.

§         Disunnahkan pula membaca surat lain setelah Al-Fatihah pada raka’at ketiga dan/atau keempat berdasarkan hadits :

عن أبي سعيد الخدري أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الظهر في الركعتين الأوليين في كل ركعة قدر ثلاثين آية وفي الأخريين قدر خمس عشرة آية

Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat (setelah Al-Fatihah) dalam dua raka’at pertama shalat Dhuhur untuk setiap raka’atnya sekitar tigapuluh ayat. Sedangkan dalam dua raka’at terakhir beliau membaca sekitar lima belas ayat”  [HR. Muslim no. 452].

§         Bila shalat sendirian, maka ia boleh memperpanjang bacaan ayat sesukanya. Namun jika ia menjadi imam, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi makmum. Jika makmum adalah dari kalangan yang kuat, semangat ke-Islamannya tinggi, dan biasa dibacakan ayat-ayat yang panjang; maka tidak apa-apa jika ia memperpanjang bacaan suratnya. Namun jika makmumnya adalah orang yang lemah, para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang mempunyai keperluan; hendaknya ia memperpendek bacaan suratnya.

عن أنس بن مالك أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال إني لأدخل في الصلاة وأنا أريد إطالتها فأسمع بكاء الصبي فأتجوز في صلاتي مما أعلم من شدة وجد أمه من بكائه

Dari Anas bin Malik, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Sungguh aku akan memulai shalat (berjama’ah) dan aku ingin memperpanjangnya. Namun tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bayi. Maka aku memperingan (memperpendek) shalatku, karena aku mengetahui betapa cintanya (gelisahnya) ibunya terhadap tangis (anak)-nya itu” [HR. Al-Bukhari no. 677 dan Muslim no. 470].

l)            Rukuk

    • Setelah membaca ayat Al-Qur’an, hendaknya ia berhenti sejenak sebelum memulai gerakan untuk rukuk, sebagaimana riwayat Samurah bin Jundub radliyallaahu ‘anhu.[10] Lama berhenti ini sekitar satu nafas.

o       Mengangkat kedua tangan ketika hendak rukuk.

عن وائل بن حجر ........فلما أراد أن يركع رفعهما مثل ذلك (رفع يديه)

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya)” [HR. Abu Dawud no. 726; shahih].

o       Meletakkan kedua tangannya di lututnya dengan menguatkan pegangan dan merenggangkan jari-jemarinya. Posisi tangan agak dijauhkan dan sedikit dibengkokkan di kedua siku.

عن وائل بن حجر .......فلما أراد أن يركع رفعهما مثل ذلك ثم وضع يديه على ركبتيه

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya), kemudian meletakkan kedua tangannya pada lututnya” [idem].

فقال أبو حميد الساعدي....... وإذا ركع أمكن يديه من ركبتيه

Berkata Abu Humaid As-Sa’idy radliyallaahu ‘anhu : “….. Dan apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam rukuk, maka beliau menguatkan kedua tangannya pada kedua lututnya” [HR. Al-Bukhari no. 794].

عن أبي حميد : .... ثم ركع فوضع يديه على ركبتيه كأنه قابض عليهما ووتر يديه فتجافى عن جنبيه

Abu Humaid radliyallaahu ‘anhu berkata : “….. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam rukuk dan beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, seakan-akan beliau memegang erat kedua lututnya tersebut. Beliau membengkokkan dan menjauhkan kedua tangannya di samping badannya” [HR. Abu Dawud no. 734, At-Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Khuzaimah no. 589; shahih].

عن وائل بن حجر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا ركع فرج بين أصابعه

Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila rukuk, maka beliau merenggangkan jari-jemarinya” [HR. Al-Hakim no. 814; shahih].

    • Ketika rukuk, posisi punggung dan kepala adalah lurus dan rata.

كان إذا ركع سوِى ظهره حتى لو صب عليه الماء لاستقر

“Apabila beliau rukuk, maka beliau meluruskan punggungnya. Bahkan seandainya disiramkan air di atas punggung tersebut, maka pasti tidak akan tumpah ke bawah” [Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4732].

إن رسول اللَّه لم يصب رأسه ولم يقنعه

“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkat/ menegakkannya” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa; shahih].

    • Bacaan dalam rukuk (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :

-          { سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْعَظِيْمِ}

Subhaana Rabbiyal-‘Adhiim (tiga kali)

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].

-          { سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ }

Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii

“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].

-          { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }

Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruuh

“Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].

Masing-masing doa/bacaan dalam rukuk di atas dapat diulang lebih dari tiga kali berdasar keumuman hadits :

عن البراء رضى الله تعالى عنه قال كان ركوع النبي صلى اللَّه عليه وسلم وسجوده وإذا رفع رأسه من الركوع وبين السجدتين قريبا من السواء

Dari Al-Barra’ radliyallaahu ‘anhu ia berkata : "Adalah rukuk dan sujudnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta bangkitnya beliau dari rukuk (i’tidal) dan duduknya diantara dua sujud; hampir sama lamanya" [HR. Al-Bukhari no. 768 dan Muslim no. 471].

    • Wajib thuma’ninah dalam rukuk. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

....ثم اركع حتى تطمئن راكعا

"Kemudian rukuklah sampai engkau merasa thuma’ninah dalam rukuk itu" [HR. Al-Bukhari no. 724 dan Muslim no. 397].

m)       Bangkit dan Berdiri dari Rukuk (I’tidal).

·        Mengucapkan : {  سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ} « Sami’alloohu liman hamidah » ketika mengangkat badan dari rukuk, dan { رَبَنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa lakal-hamdu » ketika telah berdiri. Hal itu berdasarkan hadits :

عن أبي هريرة يقول كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقول : سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حين يرفع صلبه من الركعة ثم يقول وهو قائم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : "Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri shalat beliau mengucapkan takbir ketika dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika hendak rukuk. Beliau mengucapkan :  Sami’alloohu liman hamidah (Mudah-mudahan Allah mendengarkan/memperhatikan orang-orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat/ menegakkan tulang pungungnya. Kemudian beliau mengucapkan setelah berdiri : Robbanaa lakal-hamdu (Tuhan kami, Engkaulah yang pantas mendapat pujian)" [HR. Al-Bukhari no. 756].

Ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » bisa juga diucapkan dengan lafadh :

ü      {  رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 657].

ü      { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Alloohumma robbanaa lakal-hamdu » "Ya Allah, Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Muslim no. 404].

ü      { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ } « Alloohumma robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 762].

Dalam shalat berjama’ah, maka ketika imam mengucapkan « Sami’alloohu liman hamidah », maka makmum mengikutinya dengan ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang lain sebagaimana di atas).

·        Setelah ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang semisal di atas), maka disunnahkan untuk menambah dengan ucapan:

مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Mil-as samaawaati wa mil-al ardli wa mil-a maa syi’ta min syain ba’du

"Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu" [HR. Muslim no. 476].

·        Posisi tangan ketika berdiri i’tidal adalah bersedekap di dada menurut pendapat yang paling kuat. Hal itu berdasarkan keumuman hadits :

كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة

“Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 707 dari Sahl bin Sa’d radliyallaahu ‘anhu].

·        Wajib thuma’ninah ketika i’tidal dan disunnahkan memperpanjangnya, berdasarkan hadits :

عن ثابت قال كان أنس ينعت لنا صلاة النبي صلى اللَّه عليه وسلم فكان يصلي وإذا رفع رأسه من الركوع قام حتى نقول قد نسي

Dari Tsabit ia berkata : “Anas pernah memberikan contoh shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian Anas melakukan shalat. Setelah bangun dari rukuk, Anas berdiri lama hingga kami menyangka ia lupa untuk sujud” [HR. Bukhari no. 767 dan Muslim no. 472].

n)          Sujud

v     Bertakbir ketika turun untuk sujud, berdasarkan hadits :

.....ثم يكبر حين يرفع رأسه ثم يكبر حين يسجد

“….Kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat kepalanya (i’tidal), dan kemudian beliau pun bertakbir ketika hendak sujud” [HR. Al-Bukhari no. 756].

v     Terkadang beliau mengangkat tangan ketika hendak sujud, berdasarkan hadits :

عن مالك بن الحويرث أنه رأى النبي صلى اللَّه عليه وسلم رفع يديه في صلاته وإذا ركع وإذا رفع رأسه من الركوع وإذا سجد وإذا رفع رأسه من السجود......

Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam  mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya ketika hendak rukuk, ketika mengangkat kepalanya dari rukuk (i'tidal), ketika hendak sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud…..” [HR. An-Nasa’i no. 1085; shahih].

v     Mendahulukan tangan daripada lutut ketika turun dari sujud. Hal ini berdasarkan hadits :

عن أبي هريرة قال رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila salah seorang diantara kalian hendak sujud, maka janganlah ia menyungkur seperti menyungkurnya seekor unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya” [HR. Abu Dawud no. 840, Nasa’i no. 1091, dan yang lainnya; shahih] [11].

v     Ketika sujud, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud dengan tujuh anggota badan (dahi dan hidung – dianggap satu kesatuan –, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عن بن عباس أَن رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم قال أمرت أن أسجد على سبعة أعظم الجبهة وأشار بيده على أنفه واليدين والرجلين وأطراف القدمين

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu dahi (beliau berisyarat ke hidungnya), kedua (telapak) tangan, kedua kaki (maksudnya kedua lutut), dan kedua ujung kaki” [HR. Al-Bukhari no. 776 dan Muslim no. 490].

v     Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud dengan bertelekan dengan kedua tangannya, mengangkat kedua siku, melebarkan bentangan tangannya, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, merapatkannya jari-jarinya serta mengarahkannya ke kiblat.

عن البراء قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجدت فضع كفيك وارفع مرفقيك

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila engkau sujud, maka letakkanlah dua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu” [HR. Muslim no. 494]. [12]

عن عبد اللَّه بن مالك ابن بحينة أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا صلى فرج بين يديه حتى يبدو بياض إبطيه

Dari Abdillah bin Malik bin Buhainah radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila shalat, maka beliau membentangkan kedua tangannya hingga kelihatan putih ketiaknya” [HR. Al-Bukhari no. 383 dan Muslim no. 495].

عن وائل بن حجر قال : ....... ثم سجد فكانت يداه حذاء أذنيه

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud, sedangkan kedua tangannya di hadapan (sejajar) kedua telinganya” [HR. Ahmad 4/317 no. 18878; shahih].

عن وائل أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا سجد ضم أصابعه

Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sujud, maka beliau merapatkan jari-jarinya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 642; hasan].

عن البراء بن عازب رضى اللَّه عنه قال : كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم إذا سجد فوضع يديه بالأرض استقبل بكفيه وأصابعه القبلة

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya di bumi/tanah, serta menghadapkan kedua tangan dan jari-jemarinya ke arah kiblat” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa ; shahih].

v     Menempelkan/merapatkan dua kaki dan mengarahkan jari-jari kaki ke arah kiblat

قالت عائشة زوج النبي فقدت رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم وكان معي على فراشي فوجدته ساجدا راصا عقبيه مستقبلا بأطراف أصابعه القبلة

Telah berkata ‘Aisyah istri Nabi : “Aku kehilangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Maka aku menemukan beliau sedang bersujud menempelkan tumitnya, ujung-ujung jemarinya menghadap kiblat” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 654; shahih].

v     Bacaan dalam sujud (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :

-         {سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْأَعْلَى}

Subhaana robbiyal-a’laa (tiga kali)

“Maha Suci Allah yang Maha Tinggi” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].

-         {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ}

Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii

“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].

-         { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }

Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruh

Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].

Masing-masing doa tersebut dapat dibaca berulang-ulang (lebuh dari tiga kali) dengan keumuman hadits yang mnejlaskan lamanya sujud beliau ketika shalat.

v     Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقمن أن يستجاب لكم

“…Adapun ketika bersujud, maka perbanyaklah doa, karena hal itu lebih pantas untuk dikabulkan” [HR. Muslim no. 479 dan Abu Dawud no. 876].

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sujudnya sering berdoa dengan doa berikut :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَلَّهُ وآخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ

Alloohumagh-firlii dzanbii kullahu diqqohu wa jillahu wa-awwalahu wa aakhirohu wa ‘alaaniyyatahu wa sirrohu

“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa kecil maupun besar, dosa pertama maupun terakhir, dosa yang dilakukan dengan terang-terangan mapun sembunyi-sembunyi" [HR. Muslim no. 483].

v     Diperintahkan untuk thuma’ninah dalam sujud (dan juga rukuk) serta dilarang untuk sujud (dan rukuk) seperti patukan burung/ayam.

عن رفاعة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال للرجل الذي صلى ..... ثم إذا أنت سجدت فاثبت وجهك ويديك حتى يطمئن كل عظم منك إلى موضعه

Dari Rifa’ah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada orang yang sedang melakukan shalat : “…..Kemudian jika kamu melakukan sujud, maka tancapkanlah wajah (dahi) dan kedua tanganmu sehingga setiap persendian thuma’ninah pada tempatnya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 638; hasan].

عن أبي هريرة يقول أمرني خليلي صلى اللَّه عليه وسلم بثلاث ونهاني عن ثلاث أمرني بركعتي الضحى وصوم ثلاثة أيام من الشهر والوتر قبل النوم ونهاني عن ثلاث عن الالتفات في الصلاة كالتفات الثعلب وأقعاء كأقعاء القرد ونقر كنقر الديك

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kekasihku (yaitu Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepadaku tiga hal dan melarangku tiga hal pula. Beliau memerintahkanku untuk mengerjakan dua raka’at shalat dluhaa, puasa tiga hari pada setiap bulannya, dan shalat witir sebelum tidur. Beliau melarangku atas tiga hal, yaitu berpaling dalam shalat seperti berpalingnya serigala, duduk seperti duduknya kera, dan mematuk (dalam shalat) seperti mematuknya ayam jantan” [HR. Ath-Thayalisi no. 2593; hasan].

o)          Duduk di Antara Dua Sujud

§         Mengucapkan takbir ketika mengangkat kepala dari sujud.

ثم يكبر حين يسجد ثم يكبر حين يرفع رأسه

“….Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika sujud, dan bertakbir pula ketika mengangkat kepala beliau (dari sujud)” [HR. Al-Bukhari no. 756].

§         Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari sujud.

ثم سجد ووضع وجهه بين كفيه وإذا رفع رأسه من السجود أيضا رفع يديه حتى فرغ من صلاته

“Kemudian beliau sujud dan meletakkan wajahnya di antara dua telapak tangannya. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, maka beliau juga mengangkat kedua tangannya, hingga beliau menyelesaikan shalatnya” [HR. Abu Dawud no. 723; shahih].

عن وائل بن حجر قال : ...... وكان يرفع يديه كلما كبر ورفع ووضع بين السجدتين

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”..... Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya setiap beliau bertakbir. Beliau mengangkat dan meletakkan (kedua tangannya) di antara dua sujud” [HR. Ahmad no. 18881; hasan].

§         Beliau duduk iftirasy dengan cara duduk di atas telapak kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya.

عن عبد الله بن عمر قال من سنة الصلاة أن تنصب القدم اليمنى واستقباله بِأصابعها القبلة والجلوس على اليسرى

Dari Abdullah bin ‘Umar ia berkata : “Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki kanan, menghadapkan jari-jarinya ke kiblat, dan beliau duduk di atas telapak kaki kirinya” [HR. Nasa’i no. 1158; shahih].

Boleh juga duduk dengan cara iq’a’  (duduk dengan menegakkan dua telapak kaki/tumit).

عن ابن عباس رضي اللَّه تعالى عنه، قال:من السنة في الصلاة أن تضع أليتيك على عقبيك بين السجدتين

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Termasuk di antara sunnah dalam shalat adalah kamu meletakkan kedua pantatmu di atas kedua tumitmu ketika duduk di antara dua sujud” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 10852; shahih. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Muslim no. 536].

§         Bacaan ketika duduk di antara dua sujud (bisa dipilih salah satu) :

ü      { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَعَافِنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }

Alloohummagh-firlii warhamnii wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, sehatkanlah aku, dan berilah aku rizki” [HR. Abu Dawud no. 850].

ü      { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِيْ }

Robighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’nii

“Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, berilah aku rizki, dan angkatlah derajatku” [HR. Ibnu Majah no. 898; shahih].

ü      { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }

Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah aku, dan berilah aku rizki” [HR. At-Tirmidzi no. 284; shahih].

Yang paling lengkap dengan penggabungan beberapa riwayat hadits adalah sebagai berikut :

{ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَارْفَعْنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ}

Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii wa’aafinii warzuqnii

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan berikanlah aku rizki”.

ü      { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ }

Robbighfirlii robbighfirlii

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ya Tuhanku ampunilah aku” [HR. Ibnu Majah no. 897; jayyid].

§         Diperintahkan untuk thuma’ninah ketika duduk.

ثُمَّ يَقُوْلُ اَللهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِيْ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ إِلَى مَوْضِعِهِ

“….Kemudian beliau mengucapkan ‘Alloohu akbar’ dan mengangkat kepalanya (dari sujud). Beliau membengkokkan kaki kirinya serta duduk di atasnya hingga setiap tulang kembali pada tempatnya (yaitu duduk dengan tegak dan tenang)”  [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].

p)          Berdiri untuk Melanjutkan Raka’at Kedua (dan Keempat).

o       Duduk istirahat sebelum berdiri ke raka’at kedua (dan keempat).

عن مالك بن الحويرث الليثي أنه رأى النبي صلى اللَّه عليه وسلم يصلي فإذا كان في وتر من صلاته لم ينهض حتى يستوِي قاعدا

Dari Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsi : “Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat. Apabila beliau berada pada raka’at ganjil (yaitu rakaat pertama dan ketiga) dalam shalatnya, maka beliau tidak langsung bangkit berdiri (ke raka’at kedua dan keempat) hingga beliau duduk sejenak terlebih dahulu” [HR. Al-Bukhari no. 789].

o       Berdiri dengan mendahulukan mengangkat kedua lutut sebelum tangan.

عن مالك بن الحويرث أنه كان يقول : ألا أحدثكم عن صلاة رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم فيصلي في غير وقت الصلاة ، فإذا رفع رأسه من السجدة الثانية في أول ركعة استوى قاعدا ، ثم قام ، فاعتمد على الارض

Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya ia berkata : "Maukah kalian aku ceritakan bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ? Maka beliau shalat di luar waktu shalat. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua pada raka’at pertama, maka beliau duduk dengan tegak. Kemudian apabila beliau bangkit, maka beliau bertelekan pada tanah” [HR. Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/227; shahih]. [13]

o       Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menggenggamkan/mengepalkan kedua telapak tangannya untuk bertelekan ke tanah ketika berdiri dari sujud.

عن الازرق بن قيس : رأيت ابن عمر يعجن في الصلاة : يعتمد على يديه إذا قام . فقلت له ؟ فقال : رأيت رسول الله صلى اللَّه عليه يفعله

Dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn (menggenggam tangan) ketika shalat, yaitu bertelekan dengan dua tangannya ketika berdiri. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Maka ia menjawab : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukannya” [HR. Abu Ishaq Al-Harbi dengan sanad shalih].

q)          Wajib Membaca Al-Fatihah pada Setiap Raka’at

وكان من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال جاء رجل ورسول الله صلى الله عليه في المسجد فصلى قريبا منه ثم انصرف إليه فسلم عليه فقال له رسول الله صلى الله عليه .........ثم اقرأ بأم القرآن ثم اقرأ بما شئت .......ثم اصنع ذلك في كل ركعة

Dari salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ia berkata : Datang seseorang dan pada waktu itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di masjid. Maka orang tersebut melakukan shalat di dekat beliau. Setelah usai melakukan shalat, maka ia berpaling kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam terhadap beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya (tentang bagaimana tata cara shalat yang benar) : “….Kemudian bacalah Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) dan setelah itu bacalah surat yang engkau kehendaki……kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap raka’at (dalam shalatmu)” [HR. Ibnu Hibban no. 1787 dengan sanad qawiy (kuat)].

r)            Tasyahud Awal

v     Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy sebagaimana duduk di antara dua sujud

عن أبي حميد الساعدي : ...... فإذا جلس في الركعتين جلس على رجله اليسرى ونصب اليمنى

Dari Abu Humaid As-Sa’idi : “….Apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk pada raka’at kedua (yaitu duduk tasyahud awal), maka beliau duduk di atas telapak kaki kirinya dengan menegakkan telapak kaki kanannya” [HR. Al-Bukhari no. 794].

v     Meletakkan kedua tangan di atas lutut (atau di atas paha), tangan kanan menggenggam (atau membuat lingkaran antara jari tengah dan ibu jari), dan berisyarat dengan jari telunjuk tangan kanan dengan mengerak-gerakannya.

عن بن عمر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا جلس في الصلاة وضع يديه على ركبتيه ورفع إصبعه اليمنى التي تلي الإبهام فدعا بها ويده اليسرى على ركبته اليسرى باسطها عليها

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat jari (telunjuknya) yang kanan, maka beliaupun berdoa (bersamaan) dengan itu, dan (telapak) tangan kirinya terhampar di atas lututnya yang kiri” [HR. Muslim no. 580, At-Tirmidzi no. 294, Ibnu Majah no. 913, dan yang lainnya].

Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Umar :

كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها وأشار بإصبعه التي تلي الإبهام ووضع كفه اليسرى على فخذه اليسرى

"Bahwasannya apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk (tasyahud) dalam shalat, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuk. Dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya" [HR. Muslim no. 580].

ان وائل بن حجر الحضرمي قال : ........فوضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض بين أصابعه فحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها

Bahwasannya Wail bin Hujr Al-Hadlrami radliyallaahu ‘anhu berkata : “…..Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan ujung siku tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku pun (yaitu Wail) melihat beliau menggerak-gerakkannya (jari telunjuk) sambil berdoa dengannya” [HR. Ahmad no. 18890; shahih]. [14]

عن عبد الله بن الزبير قال : .....وأشار بإصبعه السبابة ووضع إبهامه على إصبعه الوسطى

Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma : “…..Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya” [HR. Muslim no. 579].

عن وائل بن حجر قال : ....... ثم أشار بسبابته ووضع الإبهام على الوسطى حلق بها

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaau ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dengan membuat lingkaran” [HR. ‘Abdurrazzaq no. 2522; shahih].

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu pada setiap tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir.

عن عبد الله بن الزبير قال كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا جلس في الثنتين أو في الأربع يضع يديه على ركبتيه ثم أشار بأصبعه

Dari ‘Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk di raka’at kedua atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan jari (telunjuknya)” [HR. Nasa’i dalam As-Shughraa no. 1161; shahih].

v     Membaca tasyahud, di antaranya adalah (bisa dipilih salah satu):

-         { اَلتَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }

At-tahiyyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoyyibaat, as-salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatulloohi wabarokatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh

“Segala ucapan selamat, kebahagiaan, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Al-Bukhari no. 797 dan Muslim no. 402].

-         { اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ َالطَّيِّبَاتُ للهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ . وفي رواية: عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }

At-tahiyyaatul-mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar-“Rosuulullah” [dalam riwayat lain :] ’abduhu warosuuluh

“Segala ucapan selamat, barakah, kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah milik Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah ‘Rasululah’ [dalam riwayat yang lain :] ‘hamba-Nya dan utusan-Nya’ “ [HR. Muslim no. 403, Abu ‘Awanah no. 1597, Nasa’i no. 1174].

-         { اَلتَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ للهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }

At-tahiyyaatuth-thoyyibaatush-sholawaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarakaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh

“Segala ucapan selamat, kebaikan, dan kebahagiaan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Muslim no. 404].

Perhatikan yang kalimat yang digaris bawah di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat as-salaamu ‘alaika itu diucapkan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Adapun setelah beliau meninggal, maka disyari’atkan mengganti kalimat tersebut dengan : as-salaamu ‘alan-nabiy. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat, diantaranya :

عن عطاء أن أصحاب النبي صلى اللَّه عليه وسلم كانوا يسلمون و النبي صلى اللَّه عليه وسلم حي اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ فلما مات قالوا اَلسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari ‘Atha’ : Bahwasannya para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bila mereka memberikan salam (dan shalawat ketika shalat) dan waktu itu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup : As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh. Namun ketika beliau telah wafat, maka mereka mengatakan : “As-salaamu ‘alan-nabiyyi warohmatulloohi wabarokatuh “ [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 3075; shahih].

Dan inilah yang lebih benar dalam pengamalan. Wallaahu a’lam.

v     Membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah (bisa dipilih salah satu):

-         { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid. Wabaarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wadzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”  [HR. Ahmad no. 23221; shahih].

-         { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum-majiid. Alloohumma baarik alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3190 dan Muslim no. 406].

-         { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima fil-‘aalamiina innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahiim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahiim di seluruh alam. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Muslim no. 405].

-         { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النبي الأمي وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ}

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad, an-nabiyyil-ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad – nabi yang ummi – dan kepada keluarga Muhammad” [HR. Abu Dawud no. 981; hasan].

Bolehkah menambah kata “sayyidinaa” sebelum lafadh/penyebutan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Ibrahim ‘alaihis-salaam dalam shalawat ketika shalat ?

Pendapat yang rajih adalah tidak boleh. Hal itu dikarenakan apa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah tanpa kata “sayyidinaa”. Begitu pula dengan apa yang diajarkan oleh para shahabat. Tidak satupun di antara mereka yang mengucapkan dan menambahkan “sayyidinaa”. Lafadh shalawat adalah lafadh yang sifatnya tauqifiyyah (yang berdasarkan wahyu) dimana tidak diperbolehkan penambahan kalimat-kalimat dari manusia. Apalagi hal itu diucapkan dalam shalat. Satu hal yang menunjukkan hal itu (yaitu satu lafadh doa haruslah persis sama dengan yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam) adalah ketika beliau menegur Al-Barra’ bin ‘Azib ketika Al-Barra’ keliru dalam mengucapkan doa/dzikir sebelum tidur. Al-Barra’ mengisahkan :

فرددتها علي النبي صلى الله عليه وسلم فلما بلغت : اَللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ قلت وَرَسُوْلِكَ قال لا وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

“Maka aku mengulanginya (doa yang diajarkan Nabi) di hadapan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika aku sampai pada bacaan : “Alloohumma aamantu bi-kitaabikal-ladzii anzalta”; maka aku melanjutkannya dengan : “warosuulika”. (Mendengar itu) maka beliau menegurku : “Bukan begitu !, akan tetapi (yang benar) : ‘wanabiyyikal-ladzii arsalta’” [HR. Al-Bukhari no. 244]. [15]

s)          Bangkit kepada Raka’at Ketiga dan/atau Keempat.

عن أبي هريرة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا أراد أن يسجد كبر ثم يسجد وإذا قام من القعدة كبر ثم قام

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam apabila hendak sujud, maka beliau bertakbir, kemudian sujud. Dan apabila beliau hendak berdiri dari tempat duduknya (dalam shalat), maka beliau bertakbir, kemudian berdiri” [HR. Abu Ya’la no. 6029 dengan sanad jayyid].

قال أبو حميد........ ثم إذا قام من الركعتين كبر ورفع يديه حتى يحاذي بهما منكبيه

Berkata Abu Humaid radliyallaahu ’anhu : ”....Kemudian apabila beliau shallallaahu ’alaihi wasallam berdiri dari raka’at kedua, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya” [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].

t)           Tasyahud Akhir.

·        Secara umum, apa yang dilakukan pada tasyahud awal juga dilakukan pada tasyahud akhir. Hanya saja dalam tasyahud akhir, posisi duduk adalah tawaruk.

عن أبي حميد الساعدي : ..... وإذا جلس في الركعة الآخرة قدم رجله اليسرى ونصب الأخرى وقعد على مقعدته

Dari Abu Huamid As-Sa’idi radliyallaahu ’anhu : ”......Dan apabila beliau shallallaahu ’alaihi wasallam duduk pada raka’at terakhir, maka beliau menjorokkan (telapak) kaki kirinya, menegakkan (telapak) kaki kanan, dan duduk di atas pantatnya” [HR. Al-Bukhari no. 794].

·        Membaca doa sebelum salam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

عن أبي هريرة يقول قال رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila salah seorang diantara kamu telah menyelesaikan (bacaan) tasyahud akhir, maka mohonlah kepada Allah agar dilindungi dari empat perkara, (yaitu) : siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah/cobaan hidup dan mati, dan kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal” [HR. Muslim no. 588].

Adapun lafadh doanya adalah :

{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ }

Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil-qobri wa min fitnatil-mahyaa wal-maaati wa min syarri fitnatil-masiihid-dajjaal

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” [idem].

Selain doa tersebut juga bisa dibaca :

{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْماً كَثِيْراً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَة مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ }

Alloohumma innii dholamtu nafsii dhulman katsiiroo, walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfirlii maghfirotam-min ‘indika, warhamnii innaka antal-ghofuurur-rohiim

“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Al-Bukhari no. 799,5967,6953; dan Muslim no. 2705].

{ اَللَّهُمَّ حَاسِبنِْيْ حِسَاباً يَسِيْراً}

Alloohumma haasibnii hisaabay-yasiiro

”Ya Allah, hisablah/perhitungkanlah (segala amalku) dengan hisab/perhitungan yang mudah” [HR. Ahmad no. 24261 dengan sanad jayyid].

{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ اْلأَحَدُ الْصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَد أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَِّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ }

Alloohumma innii as-aluka yaa alloohul-ahadush-shomad, alladzii lam yalid walam yuulad, walam yakul-lahuu kufuwan ahad. An-taghfiro lii dzunuubii innaka antal-ghofuurur-rohiim

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya; agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Abu Dawud no. 985; shahih].

u)          Salam

Salam pertama termasuk bagian rukun shalat yang harus dikerjakan, sedangkan salam kedua merupakan sunnah.

عن عامر بن سعد عن أبيه قال كنت أرى رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم يسلم عن يمينه وعن يساره حتى أرى بياض خده

Dari ’Amir bin Sa’d dari ayahnya radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan salam (di akhir shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, sehingga aku melihat putih pipi beliau” [HR. Muslim no. 582].

عن عائشة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يسلم في الصلاة تسليمة واحدة تلقاء وجهه يميل إلى الشق الأيمن شيئا

Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melakukan satu kali salam (yaitu ke kanan tanpa ke kiri) dalam shalatnya. Beliau memiringkan wajahnya sedikit ke sebelah kanan” [HR. At-Tirmidzi no. 296; shahih].

Ada beberapa macam cara salam dalam shalat, yaitu :

§         Mengucapkan « assalaamu ’alaikum warohmatullooh » ke kanan dan ke kiri

عن عبد الله أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن شماله حتى يرى بياض خده اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya (dengan ucapan :) ”Assalaamu’alaikum warohmatullooh, assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 996; shahih].

§         Mengucapkan salam pertama (ke kanan) « assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarookatuh » dan salam kedua (ke kiri) «assalaamu ’alaikum warahmatullah »

عن وائل قال صليت مع النبي صلى اللَّه عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وعن شماله اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Dari Wail radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku pernah shalat bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, dimana beliau mengucapkan salam ke kanan : Assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh; dan ke kiri : Assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 997; shahih].

§         Mengucapkan salam pertama (ke kanan) «assalaamu ’alaikum warahmatullah » dan salam ke dua (ke kiri) « assalaamu ’alaikum »

عن واسع بن حبان قال قلت لابن عمر أخبرني عن صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف كانت قال فذكر التكبير قال يعني وذكر اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ عن يمينه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ عن يساره

Dari Wasi’ bin Hibban ia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu ’Umar : ”Khabarkanlah kepadaku bagaimana sifat shalat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ?”. Maka Ibnu ’Umar menjawab : ”Maka beliau mengucapkan takbir, yaitu (maksudnya) mengucapkan  Assalaamu ’alaikum warohmatullooh ke kanan dan Assalaamu ’alaikum ke kiri”  [HR. Nasa’i no. 1321; shahih].

§         Mengucapkan sekali salam ke kanan dengan «assalaamu ’alaikum warahmatullah » sebagaimana disebutkan dalam hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa di atas.

 

Abul-Jauzaa’ – akhir Muharram 1430 – Ciomas Permai, Bogor.

 

 

Bahan bacaan : Shifatu Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Ashlu Shifati Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Fiqih Sunnah untuk Wanita (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim – Al-I’tisham), Kitabul-’Ilm (Syaikh Ibnu ’Utsaimin – Daaruts-Tsuraya), Ad-Duruusul-Muhimmah (Syaikh Ibnu Baaz – islamhouse.com/Departemen Urusan Keislaman, Saudi Arabia), Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud (Ustadz Ibnu Saini – Maktabah Abdullah), Taisirul-’Allam Syarh ’Umdatil-Ahkaam (Syaikh Aali Bassam – Daar Ibnu Haitsam), Sunnah-Sunnah dalam Shalat yang Ditinggalkan (Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir – Bahrul-Ulum), Mausu’ah Hadits (Maktabah Ruuhul-Islaam), Fathul-Baariy (Ibnu Rajab – Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah), Syarh Matni Syuruuthish-Shalaah wa Arkaanihaa wa Waajibatihaa lisy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab (Dr. Muhammad Aman Al-Jaami – Maktabah Ruuhul-Islaam), Hukmu Taarikish-Shalah (Syaikh Al-Albani – Daarul-Jalalain), dan yang lainnya.



[1]     Contohnya adalah sebagaimana firman Allah ta’ala : {يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ صَلّواْ عَلَيْهِ وَسَلّمُواْ تَسْلِيماً} “Hai orang-orang yang beriman, berdoalah (bershalawatlah) kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [QS. Al-Ahzab : 56].

[2]     Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللهُ تَعَالَى مَنْ أَحْسَنَ وُضُوْءَهُنَّ وَصَلاَهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُنَّ وَخُشُوْعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفرَ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

“Allah ta’ala telah mewajibkan shalat lima waktu (atas para hamba-Nya). Barangsiapa yang membaguskan wudlunya, shalat tepat pada waktunya, menyempurnakan rukuknya, dan khusyu’; maka dia memiliki perjanjian di sisi Allah (untuk itu) untuk mendapatkan ampunan. Dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka ia tidak mempunyai perjanjian apapun dengan Allah. Jika Allah kehendaki, maka dia akan diampuni. Dan jika Allah kehendaki, maka dia akan disiksa” [HR. Abu Dawud no. 425; shahih].

[3]     Ada perbedaan ulama mengenai larangan shalat setelah ‘Asar. Sebagian ulama mengatakan bahwa diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah setelah ‘Asar dengan syarat matahari masih tinggi (panas). Adapun jumhur ulama tetap melarangnya.

[4]     Lihat penjelasan Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qaththani dalam bukunya Shalatut-Tathawwu’ : Mafhumun wa Fadlaailun wa Anwa’un wa Adabun fii Dlauil-Kitab was-Sunnah.

[5]     Abu Ishaq Asy-Syairazy rahimahullah, seorang pembesar madzhab Syafi’iyyah berkata : “Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan’.; dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdlah). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah di hati. Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata : ‘Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan’. Pendapat ini tak ada nilainya karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati”. [Lihat Al-Muhadzdzab (3/168 bersama Al-Majmu’) karya Asy-Syairazy rahimahullah]

An-Nawawiy rahimahullah berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafi’iyyah yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy di atas : “Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafi’iyyah- berkata : ‘Orang yang berpendapat demikian telah keliru. Bukanlah maksud Asy-Syafi’i dengan “mengucapkan” dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan ) takbir’”. [Lihat Al-Majmu (3/168)]

[6]     Adapun sutrah makmum adalah sutrah yang dipakai oleh imam.

[7]     Yaitu sebagai isyarat dimulainya shalat dimana pada waktu itu diharamkan mengerjakan sesuatu apapun kecuali dari gerakan shalat.

[8]     Yaitu sebagai isyarat telah selesainya shalat yang sekaligus diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan yang lain.

[9]     Hadits yang menyatakan tentang peletakan kedua tangan di perut adalah dla’if (lemah).

[10]    Terdapat pembicaraan yang panjang dalam hadits Samurah ini yang mempunyai inti bahwa hadits ini adalah lemah. Namun maknanya adalah benar bahwa terdapat dua tempat untuk berhenti sejenak dalam shalat, yaitu setelah takbiratul-ihram dan setelah membaca qira’at sebelum rukuk. Ini adalah madzhab jumhur ulama. Untuk pembahasan takhrij hadits, silakan baca Irwaaul-Ghalil juz 2 hal. 284-288 hadits no. 505. Dan penjelasan hukum silakan baca Ashlu Shifatish-Shalatin-Nabi hal. 601. Wallaahu a’lam.

[11]    Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-Auza’i, Imam Ahmad, dan jumhur ahli hadits. Adapun hadits-hadits yang menyatakan sunnah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, maka hadits-hadits ini adalah dla’if [lihat kitab Irwaa’ul-Ghaliil no. 357].

[12]    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang menghamparkan kedua siku ketika sujud (yaitu dengan menempelkan kedua siku di lantai) dengan sabdanya : {اعْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبُ} “Luruslah (punggungmu) ketika sujud, dan janganlah salah seorang diantara kamu menghamparkan kedua hasta/sikunya seperti anjing menghamparkannya” [HR. Al-Bukhari no. 768].

[13]    Adapun hadits Wail bin Hujr, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendahulukan mengangkat tangan daripada lutut ketika berdiri dari sujud adalah hadits dla’if (lemah). Lihat selengkapnya pembahasan takhrij hadits dalam kitab Irwaaul-Ghaliil .

[14]    Adapun hadits : { أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بأصبعه إذا دعا ولا يحركها } “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya” [HR. Abu Dawud no. 989, An-Nasa’i no. 1270, Abu ‘Awanah no. 2019, dan yang lainnya]; adalah hadits syadz lagi dla’if, sehingga tidak dipakai.

[15]    Doa selengkapnya adalah : {اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَة وَرَهْبَة إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اَللَّهمَّ آمَنْتُ بِكتَابِكَ الَّذيْ أَنْزَلْت وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ}

“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan dari murka dan siksa-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.

Perhatikanlah ! Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan toleransi kepada Al-Barra’ bin ‘Azib ketika ia salah mengucapkan doa, dengan mengganti lafadh “nabi” menjadi “rasul”. Padahal, secara substansi kedua kata ini dalam keseluruhan makna doa tidaklah berbeda. Hanya saja, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap menginginkan keselarasan doa yang diucapkan Al-Barra’ dengan yang beliau ajarkan kepadanya.

Lantas, bagaimana jika kita menambah lafadh “sayyidinaa” kepada Nabi pada shalawat dalam shalat ? Penolakan ini bukanlah berarti penolakan kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sayyid  bagi manusia. Namun, semata-mata hanyalah meneladani lafadh doa yang beliau ajarkan sesuai dengan hadits-hadits shahih yang sampai pada kita.