Tidak Ada Permusuhan Antara Muslim (Umat Islam) dengan Yahudi


Itulah yang dikatakan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradlawi sebagaimana yang diberitakan oleh eramuslim beberapa waktu lalu pada pertemuannya dengan tiga orang rabi Yahudi di rumahnya (di Qatar). Katanya, kita (muslim) hanya menentang gerakan zionis yang ekspansif dan menyebarkan permusuhan.
Jika berita itu benar, maka ini bukanlah hal yang terlalu baru untuk kita dengar. Dalam beberapa kesempatan beliau seringkali mengulang-ulang perkataannya ini yang intinya adalah bahwa permusuhan kaum muslimin dengan Yahudi bukan karena masalah agama/’aqidah. Semakna dengan itu, dalam kitab Al-Halaal wal-Haraam fil-Islaam (hal. 47) beliau berkata :
وقد شرعت لنا موادتهم - أي أهل الكتاب - بمواكلتهم ومعاهدتهم وحسن معاشرتهم
”Sungguh telah disyari’atkan bagi kita untuk berkasih-sayang dengan mereka – yaitu Ahli Kitab – dengan cara saling mempercayai, mengadakan perjanjian dengan mereka, dan berbuat baik bersama mereka”.[1]
Tentu saja ini sangat kita ‘maklumi’, karena pendahulu beliau – yakni Al-Ustadz Hasan Al-Banna rahimahullah – telah mengatakan perkataan yang serupa :
أن خصومتنا لليهود ليست دينية لأن القران حض على مصافاتهم ومصادقتهم
“Sesungguhnya permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah karena perkara agama, karena Al-Qur’an telah menganjurkan untuk bershahabat dan berteman dengan mereka”.[2]
إن الإسلام الحنيف لا يخاصم ديناً ولا يهضم عقيدة
“Sesungguhnya Islam yang hanif (lurus) itu tidaklah memusuhi satu agamapun, juga tidak menyerang/menganiaya satu ‘aqidahpun”.[3]
Tidak bisa tidak, perkataan-perkataan di atas adalah perkataan yang bathil dan faasid. Sangat bertentangan dengan nash-nash yang jelas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Allah ta’ala telah menjelaskan karakter orang-orang yang beriman sebagai orang yang tidak berkasih-sayang kepada orang kuffar :
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
”Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka” [QS. Al-Mujaadilah : 22].
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata tentang makna ayat di atas :
لا تجد يا محمد قوماً يصدقون اللهَ، ويُقِرُّون باليوم الاخر، يوادُّ من عادى اللهَ ورسولَه وشاقَّهما، وخالفَ أمرَ اللهِ ونهيَه
”(Yaitu : ) Tidaklah akan engkau temui wahai Muhammad, satu kaum yang membenarkan Allah dan hari akhir berkasih-sayang dengan orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya serta menyelisihi perintah dan larangan Allah”.[4]
Orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya ini mutlak, baik ia seorang Yahudi, Nashrani, penyembah berhala, atau yang sejenisnya. Baik ia memerangi kaum muslimin atau tidak. Hal itu dikarenakan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang menentang syari’at Allah yang diturunkan melalui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hal itu sebagaimana tercermin dalam penjelasan Al-Imam Ibnu Jarir di atas.
Allah ta'ala berfirman :
تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ * وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
"Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maaidah : 80-81].
Ikhwah muslimin,....... bagaimana kita bisa mengatakan bahwa permusuhan Yahudi dan Nashrani bukan berdasarkan agama dan ‘aqidah ? Bukan perwujudan ’aqidah al-walaa’ wal-baraa’ kita adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci serta memusuhi apa yang dibenci dan dimusuhi Allah ? Allah ta’ala mencintai keimanan dan orang-orang yang beriman. Atas dasar itu kita mencintai keimanan dan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala membenci dan memusuhi kekafiran/kemaksiatan dan orang-orang kafir. Atas dasar itu pulalah kita membenci kekafiran dan orang-orang kafir.
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
”Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” [QS. Al-Hujuraat : 7].
Orang-orang kafir (Yahudi, Nashrani, penyembah berhala, dan yang semisalnya) adalah jenis-jenis orang yang harus kita berikan kebencian/permusuhan secara total – selama-lamanya.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
”Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” [QS. Al-Mumtahanah : 4].
Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah menandaskan kesempurnaan iman seseorang yang mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Cinta dan bencinya hanya karena Allah semata. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
إن أوثق عرى الإيمان أن تحب في الله وتبغض في الله
”Sesungguhnya ikatan iman yang paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah”.[5]
من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان
”Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah; sungguh telah sempurna imannya”.[6]
Asy-Syaikh Shaalih bin Fauzaan hafidhahullah pernah ditanya :
”Apa komentar Anda terhadap orang yang mengatakan : ’Sesungguhnya permusuhan kita (kaum muslimin) dengan orang Yahudi bukan karena masalah dien. Sesungguhnya Al-Qur’an menganjurkan untuk berteman dan bershahabat dengan mereka ?”.
Beliau pun menjawab :
هذا الكلام فيه خلط وتضليل، اليهود كفار، وقد كفَّرهم الله – تعالى – ولعنهـم، وكفّـرهم رسـول الله  ولعنهم، قال – تعالى - : ] لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرائيل [ . وقال e: (( لعنـة الله على اليهـود والنصارى )) . وقال تعالى : ] إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [. وقال تعـالى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَـاءُ بَعْضٍ [. فعداوتنا لهم دينية، ولا يجوز لنا مصادقتهم، ولا محبتهم؛ لأن القرآن نهانا عن ذلك، كما في الآية التي سبق ذكرها .
”Perkataan ini kacau dan menyesatkan. Yahudi adalah orang kafir. Mereka telah dikafirkan dan dilaknat Allah ta’ala. Dan mereka telah dikafirkan dan dilaknat pula oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Allah ta’ala telah berfirman : ”Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil”.[7] Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani”.[8] Allah t’ala telah berfirman : ”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.[9] “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.[10] Maka, permusuhan kita dengan mereka adalah karena perkara agama. Tidak diperbolehkan bagi kita untuk membenarkan dan mencintai mereka, dikarenakan Al-Qur’an telah melarang kita akan hal itu sebagaimana ayat-ayat yang telah disebutkan sebelumnya”.[11]
Namun, kebencian dan permusuhan yang kita berikan kepada orang kafir Yahudi ini tidaklah mengkonsekuensikan kita boleh berlaku dhalim terhadap mereka. Kita tetap boleh bermuamalah secara ma’ruf serta tetap dituntut berlaku ’adil dengan mereka selama mereka tidak berbuat dhalim kepada kita.
Allah ta’ala berfirman :
لاّ يَنْهَاكُمُ اللّهُ عَنِ الّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرّوهُمْ وَتُقْسِطُوَاْ إِلَيْهِمْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُقْسِطِينَ
”Allah tiada melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” [QS. Al-Mumtahanah : 8].
Ayat di atas merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah dalam hal hubungan dan muamalah dengan orang-orang kafir secara baik dan penuh kebajikan, sebagai balasan atas kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita.
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :
هذه الآية رخصة من الله تعالى في صلة الذين لم يعادوا المؤمنين ولم يقاتلوهم. قال ابن زيد: كان هذا في أول الإسلام عند الموادعة وترك الأمر بالقتال ثم نسخ. قال قتادة: نسختها "فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم" [التوبة: 5]. وقيل: كان هذا الحكم لعلة وهو الصلح، فلما زال الصلح بفتح مكة نسخ الحكم وبقي الرسم يتلى.
”Ayat ini merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah bagi orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kaum mukminin dan tidak memusuhinya. Ibnu Zaid berkata : ’Sikap semacam ini terjadi di permulaan Islam dan pada waktu perdamaian dan gencatan senjata lalu dihapus’. Qatadah berkata : ’Ayat tersebut dimansukh oleh ayat : ’Maka bunuhlah orang musyrik itu dimana saja kamu menjumpainya’ (QS. At-Taubah : 5). Ada pula yang mengatakan : ’Ayat di atas tadi berlaku karena ada sebab tertentu, yaitu perdamaian. Ketika hilang hukum perdamaian dengan adanya Fathu Makkah, maka terhapuslah hukumnya, tinggal bacaannya’”.[12]
Dan yang benar bahwa hukum yang terkandung dalam ayat ini tetap berlaku (tidak terhapus secara mutlak)[13]. Berbuat baik kepada orang kafir dalam hal muamalah keduniaan tidaklah mengharuskan untuk menanamkan kecintaan kepada mereka dalam hati. Sebab, kecintaan mempunyai konsekuensi pembolehan untuk menjadikan mereka teman dekat, pemimpin, penolong, mempercayakan amanah kepada mereka, dan yang lainnya sebagaimana dijelaskan oleh ulama. Dan itu terlarang secara asal dalam Islam. Allah ta’ala telah berfirman :
لاّ يَتّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاّ أَن تَتّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً
”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”. [QS. Aali ’Imraan : 28]
الّذِينَ يَتّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزّةَ فَإِنّ العِزّةَ للّهِ جَمِيعاً
”(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. [QS. An-Nisaa’ : 139]
Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
ثم البر والصلة والإحسان لا يستلزم التحابب والتوادد المنهي عنه في قوله تعالى ‏:{ لاّ تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ يُوَآدّونَ مَنْ حَآدّ اللّهَ وَرَسُولَهُ}  الآية فإنها عامة في حق من قاتل ومن لم يقاتل والله أعلم‏.‏ ا هـ‏.
”Kemudian,... kebajikan, hubungan, dan kebaikan tidak mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan seperti yang terkandung dalam firman Allah : ”Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya”.  Ayat ini bersifat umum, berlaku bagi setiap orang kafir yang memerangi maupun tidak memerangi. Wallaahu a’lam”.[14]
Permusuhan antara kaum muslimin dengan Yahudi ini akan terus abadi hingga hari kiamat kelak. Bahkan, tidak akan tegak hari kiamat hingga kaum muslimin memerangi dan menghabisi kaum Yahudi (yang kafir) sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :
لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمون اليهود فيقتلهم المسلمون حتى يختبئ اليهودي من وراء الحجر والشجر فيقول الحجر أو الشجر يا مسلم يا عبد الله هذا يهودي خلفي فتعال فاقتله إلا الغرقد فإنه من شجر اليهود
”Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi yang bersembunyi di balik batu dan pohon, namun batu dan pohon itu berkata : ’Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia !’. Kecuali pohon Gharqad, karena ia adalah pohon Yahudi”.[15]
Peperangan ini adalah peperangan antara keimanan dan kekafiran.[16] Bukankah bendera Yahudi ini akan berada di belakang Dajjal ? Bukankah Dajjal ini adalah fitnah yang paling besar yang muncul di akhir jaman ? Bukankah tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah kekafiran yang dibawanya ? Tidaklah ’Isa bin Maryam kelak memerangi dan membunuh Dajjal dan orang-orang Yahudi (juga Nashrani) melainkan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah dan menghancurkan kekafiran dan segala simbolnya.
Dan yang lebih mengherankan lagi dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, Dr. Al-Qaradlawi menyebutkan Muslim dan Yahudi adalah sama-sama pengikut dua agama Ibrahim yang meyakini kitab suci Taurat yang asli yang sangat dekat dengan umat Islam. Tambahnya lagi, umat Islam dan Yahudi mempunyai kesamaan ritual keagamaan yang khitan bagi laki-laki, larangan memakan daging babi, dan yang lainnya. Itu semua beliau katakan untuk menguatkan bahwa antara Muslim dan Yahudi tidak ada permusuhan hakiki (karena agama/’aqidah) karena banyak persamaan di antara mereka.
Apakah mungkin beliau yang dikatakan sebagai ketua International Union for Muslims Scholar (UIMS) lupa tentang ayat :
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
”Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah : 30].
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلا يُؤْمِنُونَ إِلا قَلِيلا
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis” [QS. An-Nisaa’ : 46].
أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ * وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ * أَوَلا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ * وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ * فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?" Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan” [QS. Al-Baqarah : 75-79].
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dhalim” [QS. Al-Baqarah : 145].
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
”Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas” [QS. Al-Maaidah : 78].
Perhatikan ayat-ayat di atas !! Apa yang beliau katakan bahwa Yahudi beriman kepada Taurat, sebenarnya telah dibantah oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an. Orang-orang Yahudi telah mengubah Taurat dengan tangan-tangan mereka, menyembunyikan kebenaran dan tidak mengamalkan kebenaran yang ada (dalam Taurat). Jika Dr. Al-Qaradlawi mengatakan bahwa Yahudi mengakui satu Tuhan, namun apakah beliau lupa bahwa Allah telah menegaskan bahwa orang Yahudi mengatakan ‘Uzair itu anak Allah yang dengan itu menyebabkan kekafiran mereka ? Jikalau ada orang Yahudi yang tidak meyakini bahwa ‘Uzair itu bukan anak Allah, cukuplah pengingkaran dan penolakan mereka terhadap risalah Islam yang dibawa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai satu kekafiran yang sangat besar. Allah berfirman :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” [QS. Aali ‘Imraan : 85].
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
”Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya” [QS. Aali ‘Imraan : 19].
Jika Dr. Al-Qaradlawi kagum atas kebaikan yang dilakukan Yahudi di Mesir atau di negerinya sekarang (Qatar), bukankah Allah ta’ala telah berfirman :
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [QS. Al-Furqaan : 23] ????
Semuanya itu tidak akan banyak bermanfaat jika tidak diikuti dengan keimanan, ketauhidan, dan ittiba’ kepada risalah yang dibawa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Hanya kepada Allah ta’ala kita memohon petunjuk.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Abul-Jauzaa’ – Muharram 1430 H.


Kutipan dari eramuslim : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/syaikh-yusuf-qaradawi-umat-islam-tidak-memusuhi-yahudi-tapi-zionis.htm :
Cendikiawan dan Ulama Muslim dunia, Syaikh Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa umat Islam tidak memusuhi orang-orang Yahudi. Umat Islam, kata Qaradawi, hanya menentang gerakan orang-orang Zionis yang ekspansif dan menyebarkan permusuhan.Qaradawi yang juga mengetuai International Union for Muslims Scholars (IUMS) mengungkapkan hal tersebut saat menerima kunjungan tiga Rabbi Yahudi Neturei Karta yang anti gerakan Zionisme.Menurut Qaradawi, selama berabad-abad orang-orang Yahudi hidup damai di negara-negara Muslim. "Orang-orang Yahudi adalah orang-orang paling kaya di Mesir dan banyak negara Muslim lainnya. Tidak ada permusuhan antara Muslim dan Yahudi, " tukas Qaradawi saat menerima ketiga Rabbi itu di rumahnya di Qatar.Pernyataan Qaradawi dibenarkan oleh Rabbi Aharon Cohen, yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi yang tinggal di negeri-negeri Muslim tidak mengalami banyak masalah. Para Rabbi Yahudi Neturei Karta yang mengunjungi Qaradawi, mengenakan lencana bertuliskan "Saya orang Yahudi, bukan Zionis."Lebih lanjut Syaikh Qaradawi mengatakan bahwa Muslim dan Yahudi adalah sama-sama pengikut dua agama Ibrahim. Yahudi yang meyakini kitab suci Taurat yang asli, sangat dekat dengan umat Islam. "Pengikut dua agama ini memiliki ritual dan ajaran agama yang sama seperti, kewajiban sunat bagi laki-laki, memotong hewan dengan cara yang halal, melarang daging babi dan melarang patung-patung diletakkan di dalam masjid atau sinagog, " papar Qaradawi. Umat Islam dan Yahudi, tambah Qaradawi, sama-sama diburu ketika kekuasaan Islam di Andalusia jatuh.Di masa kini, kata Qaradawi, umat Islam dan Yahudi yang sama-sama meyakini satu Tuhan, selayaknya bekerjasama untuk memerangi ateisme, pornografi, lesbian dan homoseks serta ketidakadilan.Ia juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara Muslim dan Yahudi, untuk menghadapi ancaman Zionisme dan negara Israel yang didirikan di atas puing kehancuran bangsa Palestina. "Umat Islam menentang penjajahan dan gerakan Zionisme yang menindas, bukan orang-orang Yahudinya, " tegas Qaradawi.Rabbi Cohen menambahkan, "Yudaisme, yang berdasarkan pada ajaran Taurat yang benar, tidak mengakui Zionisme. Taurat dan Yudaisme tidak membenarkan penjajahan, pembunuhan dan pengusiran orang dari rumah-rumah mereka."Zionisme adalah gerakan politik internasional yang berambisi untuk menciptakan tanah air bagi orang-orang Yahudi di Palestina. Gerakan ini berhasil mendirikan negara Yahudi, Israel pada 15 Mei 1948 dengan merampas tanah dan mengusir bangsa Palestina.Juru Bicara Neturei Karta, Rabbi Yisrael Weiss menyatakan, praktek-praktek yang dilakukan Israel bertentangan dengan ajaran Yudaisme.Neturei Karta sendiri adalah organisasi yang mewakili ratusan ribu penganut Yahudi Ortodoks di seluruh dunia yang menentang gerakan Yahudi Zionis. Neturei Karta meyakini, berdirinya negara Palestina dan dihapusnya negara Israel akan membawa perdamaian di Timur Tengah."Taurat dan sejarah Yahudi mengatakan bahwa suatu hari negara Israel akan runtuh, " tandas Rabbi Weiss. 



[1]     Dinukil melalui perantaraan kitab Al-I’laam bin-Naqdi Kitaab Al-Halaal wal-Haraam fil-Islaam oleh Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan, hal. 5, Maktabah Al-Misykah.
[2]     Al-Ikhwaanul-Muslimuun Ahdaats Shana’at At-Taariikh 1/409.
[3]     Mawaaqifun fid-Da’wati wat-Tarbiyyah hal. 163.
[4]     Tafsir Ath-Thabariy 22/493 (tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy).
[5]     Dikeluarkan oleh Ahmad 4/286 dan Ibnu Abi Syaibah 11/41, 13/229. Berkata Al-Arna’uth : Hasan bi-syawahidihi.
[6]     Dikeluarkan Abu Dawud no. 4681, At-Tirmidzi no. 2521, Ahmad 3/438, dan yang lainnya; shahih.
[7]     QS. Al-Maaidah : 78.
[8]     Dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 531.
[9]     QS. Al-Bayyinah : 6.
[10]    QS. Al-Maaidah : 51.
[11]    Al-Ajwibatul-Mufiidah ‘an As-ilatil-Manaahijil-Jadiidah oleh Jamaal bin Furaihaan Al-Haaritsi, Cet. 2, soal no. 20.
[12]    Tafsir Al-Qurthubiy 20/407 (tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy).
[13]    Yaitu bolehnya bermuamalah dan berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum muslimin atau terikat perjanjian dengan kaum muslimin.
[14]    Fathul-Baariy 5/233.
[15]    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2926 dan Muslim no. 2922.
[16]    Bukan semata-mata perebutan sejengkal tanah sebagaimana was-was yang dihembuskan orang-orang belakangan.

Comments

Muhammad mengatakan...

sudah pikun kali syaikhnya...ngomongnya dah ngelantur...masya Allah...masya Allah...orang kyk gini koq dikatain ulama...eutanasia aja dibolehin koq sama syaikh yg satu ini

Rico mengatakan...

jadi hubungan umat muslim dengan orang non muslim adalah ibarat orang jawa, yang menyimpan keris di belakang punggungnya, jika ada kesempatan meleng maka akan dihunjamkan keris ke perut orang non muslim, begitu?

heran saya orang2 yang sepikiran dengan anda koq bisa2nya belajar di negeri "orang kafir", dan mendapat "kebaikan" seperti pendidikan, beasiswa, dll...

Nawawi mengatakan...

Bagaimana dengan jawaban Dr. Yusuf al-Qaradhawi ini?

http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=3725&version=1&template_id=228&parent_id=17

Ada bantahan apa belum?

Nawawi mengatakan...

as-Salaamu 'alaikum...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebenarnya, jika antum amati dan perhatikan, sebagiannya telah terjawab dalam artikel di atas.

Lihat pula artkel terkait di :

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/03/peperangan-kita-dengan-kuffar-bukan.html

Jadi, tidak ada kaitannya tentang kebolehan bermuamalah dengan Ahli Kitab yang tidak memerangi kita (muslimin) dan kewajiban berlaku 'adil dengan kebencian yang harus tertanam kepada mereka karena kerusakan 'aqidah mereka. Inilah kerancuan dari Dr. Yusuf Al-Qaradlawiy.

Anonim mengatakan...

Kenyataannya Syaikh Qaradhawi paling keras terhadap zionis Yahudi, fatwanya snagat keras terhadap mereka ..

ucapan beliau yang anda kutip, bahwa tak ada permusuhan dnegan yahudi, ya karena yang memusuhi mereka, bukan kita, tidakkah anda bisa bermujamalah ketika bertemu musuh yang berkunjung ke rumah anda? itulah yang dilakukannya, tampilkan akhlak terhadap Yahudi yang tidak memusuhi Islam.

yahudi yang datang ke rumahnya adalah para penentang zionis dan mendukung Palestina.

Maka, sebaiknya anda jangan asal biacara...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih responnya.....

Berbuat baik terhadap tamu memang sangat diperintahkan. Namun membuat pernyataan bahwa antara umat Islam dan Yahudi tidak ada permusuhan, dan yang semisalnya adalah perkara yang keliru. Tidak layak perkataan ini untuk dibela. Saya kira Anda juga tahu bahwa beliau mengeluarkan pernyataan ini bukan hanya pada kesempatan itu saja.

Adapun perkataan dan penentangan beliau terhadap Yahudi di bumi Palestina, maka layak diberikan apresiasi.

Wallaahu a'lam.

zakkiy mengatakan...

izin share yaa akhiy

Anonim mengatakan...

perkataan
"Muslim dan Yahudi adalah sama-sama pengikut dua agama Ibrahim. Yahudi yang meyakini kitab suci Taurat yang asli, sangat dekat dengan umat Islam."
kata Qaradawi, umat Islam dan Yahudi yang sama-sama meyakini satu Tuhan, selayaknya bekerjasama untuk memerangi ateisme, pornografi, lesbian dan homoseks serta ketidakadilan."
>>> kayanya gak ada yg salah dlm kalimat itu...klo "Yahudi yang meyakini kitab suci Taurat yang asli" dan klo "Yahudi yang sama-sama meyakini satu Tuhan" bukankah ia akan mengakui Nabi muhammad SAW sebagai Rasulullah sebagaimana ia mengakui nabi Ibrahim sebagai Rasulullah..dan tiada tuhan selain Allah SWT...dan mrk tdk akan memerangi sesama muslim...ingatlah banyak juga keturunan yahudi yang telah masuk islam...sejak jaman rasul sampai sekarang..baik krn pernikahan maupun krn melihat kebenaran tentang agama yg dibawakan Rasulullah SAW...

C. Surya Wijaya
jkt

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Memang cuma 'kayaknya' saja pak. Kayaknya gak salah, padahal salah.

Konteks yang dikatakan oleh Dr. Al-Qaraadlawiy adalah Yahudi era setelah diutusnya Rasul. Yahudi sekarang itu bukan pengikut millah Ibrahim. Kalau mereka mengikuti millah Ibraahiim, tentu mereka mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah, dan mereka akan masuk Islam karenanya.

Pun dengan Yahudi sebelum Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus pun, orang-orang Yahudi telah banyak mengubah-ubah millah Ibraahi. Telah disebutkan dalilnya di atas, jadi kita tidak perlu berlogika-logika lagi.....

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Adapun orang Yahudi yang masuk Islam,...tentu mereka bukan dinamakan pengikuti atau pemeluk agama Yahudi lagi. Baik di era Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam ataupun era setelahnya (yaitu sekarang).

Anang Dwicahyo mengatakan...

Maaf ustadz , ikut komentar kalau boleh .

Anonim 3 Januari 2011, pernyataan anda "Maka, sebaiknya anda jangan asal biacara...

Lebih tepat untuk anda sendiri , karena jelas kerancuan anda antara aqidah dan muamalah .
Saran saya berilmulah sebelum berbicara .

C. Surya Wijaya , tambahan dari saya , bahwa seandainya Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Shalallahu alihi wasallam ada sekarang ini ada , tidak halal mendakwahkan ajarannya kecuali menyeru kepada apa yang dibawakan oleh RasulullAH shalallahu alaihi wasallam , itulah keyakinan /aqidah islam.

Semoga Allah menambah keimanan dn ketaqwaan kita , dijauhkan dari hal-hal yang dibenci Allah dan Rasul-Nya

Anang Dwicahyo mengatakan...

Maaf ustadz , ikut komentar kalau boleh .

Anonim 3 Januari 2011, pernyataan anda "Maka, sebaiknya anda jangan asal biacara...

Lebih tepat untuk anda sendiri , karena jelas kerancuan anda antara aqidah dan muamalah .
Saran saya berilmulah sebelum berbicara .

C. Surya Wijaya , tambahan dari saya , bahwa seandainya Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Shalallahu alihi wasallam ada sekarang ini ada , tidak halal mendakwahkan ajarannya kecuali menyeru kepada apa yang dibawakan oleh RasulullAH shalallahu alaihi wasallam , itulah keyakinan /aqidah islam.

Semoga Allah menambah keimanan dn ketaqwaan kita , dijauhkan dari hal-hal yang dibenci Allah dan Rasul-Nya

Anonim mengatakan...

assallamuallaikum...terima kasih ustad atas pembelajaran yang bermanfaat ini...mudahan Allah SWT selalu membimbing kita hidayahNya..amin

>:O mengatakan...

kok rasulullah tapi bikin perjanjian damai ke orang kafir ya?

udah gitu bertetangga sama orang yahudi, bahkan nyuapin seorang yahudi buta di pasar...

harusnya di BUNUH aja tuh YAHUDI BUTA!!!!!

Adi mengatakan...

@ >:O

memangnya anda yakin kisah Nabi menyuapi wanita Yahudi adalah shahih berdasarkan ilmu hadits?

kalau anda yakin shahih, mohon dibawakan matan arab dan hadits riwayat siapa kisah tersebut.

:)