Petunjuk Praktis Hukum dan Kaifiyah Shalat Beserta Dalil-Dalilnya


Shalat adalah satu ibadah ’amaliy terbesar yang harus dilakukan muslim yang pernah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ia merupakan tiang agama. Namun sayangnya, banyak diantara kaum muslimin yang menyia-nyiakannya. Ini adalah musibah bagi dirinya dan juga kaum muslimin seluruhnya......
Diantara yang telah mengerjakannya (dan kita ucapkan alhamdulillah atas hal ini), masih banyak yang tidak mengerti akan hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat. Bagaimana cara yang benar dalam shalat. Oleh karena itu, di sini saya akan mencoba meringkaskannya tentang bahasan ini..... Semoga Allah ta’ala menjadikannya satu kemanfaatan bagi diri saya (di dunia dan di akhirat), juga bagi kaum muslimin semua.
1.         Makna Shalat
Shalat secara bahasa (etimologis) maknanya adalah doa[1]. Adapun secara syari’at (terminologis) maknanya adalah perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbir (takbiratul-ihram) dan diakhiri dengan salam, yang dibarengi dengan niat.
2.         Dalil Pensyari’atan Shalat
Allah ta’ala berfirman :
قُل لّعِبَادِيَ الّذِينَ آمَنُواْ يُقِيمُواْ الصّلاَةَ وَيُنْفِقُواْ مِمّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [QS. Ibrahim : 31].
3.         Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat
Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka dia telah kafir dan keluar dari agama Islam. Kaum muslimin (ulama) telah sepakat mengenai hal itu. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang hukum orang meninggalkan shalat karena malas atau bisikan hawa nafsu (tanpa mengingkari kewajibannya). Sebagian ulama mengkafirkan, dan sebagian lagi tidak mengkafirkan (kufur ashghar). Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan tidak kafir.[2] Akan tetapi bukan berarti hal ini dijadikan alasan untuk meremehkan kewajiban shalat. Bahkan orang yang meninggalkan shalat (karena malas dan dorongan hawa nafsu), maka ia telah berbuat salah satu dosa besar yang paling besar yang hampir menjerumuskannya pada pintu kekafiran. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” [HR. Muslim no. 82].
4.         Jumlah Shalat Fardlu
Jumlah shalat fardlu dalam sehari semalam adalah lima kali shalat.
عن طلحة بن عبيد الله يقول: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الْإِسْلَامِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ، فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَصِيَامُ رَمَضَانَ، قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟ قَالَ: لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ
Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah ia berkata : “Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar tetapi tidak bisa dipahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Shalat lima waktu dalam sehari semalam’. Ia bertanya lagi : ‘Adakah saya punya kewajiban shalat lainnya ?’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja” [HR. Al-Bukhari no. 46].
Ia adalah shubuh (2 raka’at), dhuhur (4 raka’at), ‘asar (4 raka’at), maghrib (3 raka’at), dan ‘isya’ (4 raka’at).
5.         Waktu-Waktu Shalat
Allah ta’ala berfirman :
أَقِمِ الصّلاَةَ لِدُلُوكِ الشّمْسِ إِلَىَ غَسَقِ الْلّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” [QS. Al-Israa’ : 78].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ، مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ، مَا لَمْ يَغِبْ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الصُّبْحِ، مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ، مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ
“Waktu dhuhur jika matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama tinggi dengan seseorang itu selama belum masuk waktu ‘ashar. Waktu ‘ashar sampai matahari berwarna kuning. Waktu shalat maghrib selama sinar matahari belum hilang. Waktu shalat ‘isya’ sampai tengah malam. Waktu shalat shubuh mulai terbitnya fajar (shadiq) sampai matahari belum terbit” [HR. Muslim no. 612].
Perinciannya adalah sebagai berikut :
a.     Waktu Shubuh, dimulai dari terbitnya fajar shadiq sampai sebelum matahari terbit.
b.     Waktu Dhuhur, dimulai saat matahari telah tergelincir (bayangan seseorang telah nampak sesaat setelah matahari tepat di atas kepala) sampai panjang bayangan seseorang sama dengannya tinggi badannya.
c.      Waktu ‘Ashar, dimulai saat panjang bayangan seseorang sama dengan tinggi badannya sampai matahari berwarna kuning.
d.     Waktu Maghrib, dimulai sesaat setelah matahari tenggelam sampai dengan sinar lembayung merah di ufuk barat habis.
e.     Waktu ‘Isya’, dimulai setelah sinar lembayung merah di ufuk barat habis sampai dengan tengah malam tiba.
6.         Waktu Terlarang untuk Shalat
Dari Amru bin Abasah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat”.  Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ، عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ، حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ، عَنِ الصَّلَاةِ فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ، عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ
Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi.  Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan.  Waktu itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya.  Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga bayang-bayang tembok tegak. Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan. Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar. Kemudian berhentilah melakukan shalat hingga matahari tenggelam. Karena matahari tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya” [HR. Muslim no. 832].
Perincian waktu terlarang untuk shalat adalah sebagai berikut :
a.     Setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari.
b.     Ketika terbit matahari sampai matahari meninggi setinggi satu tombak (dimulainya waktu Dluha).
c.      Ketika matahari tepat di atas kepala (pertengahan siang) sampai tergelincir (zawal – masuk waktu Dhuhur).
d.     Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.
e.     Ketika matahari mulai tenggelam sampai betul-betul tenggelam (masuk waktu Maghrib).
Kelima waktu di atas adalah diharamkan bagi setiap muslim untuk melakukan shalat sunnah mutlak.[3]  Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang dilakukannya shalat sunnah dengan sebab-sebab tertentu (contoh : shalat tahiyyatul-masjid, shalat sunnah wudlu, shalat kusuf (gerhana), dan lain-lain) yang dilakukan pada 5 waktu terlarang tersebut.  Yang lebih rajih (kuat) insya allah adalah diperbolehkan – wallahu a’lam.[4]
7.         Meninggalkan Shalat karena Ketiduran atau Kelupaan.
Jika seseorang meninggalkan shalat tidak sengaja karena ketiduran atau kelupaan, hendaknya ia segera mengerjakannya begitu ia teringat, sebagaimana perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ
“Barangsiapa yang tidak mengerjakan shalat karena lupa, maka hendaknya ia mengerjakan shalat tersebut ketika ia teringat dengannya. Tidak ada kaffarat lain selain itu” [HR. Al-Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684].
8.         Syarat sahnya shalat :
a.     Islam
b.     Berakal
c.      Tamyiz (mampu membedakan antara baik dan buruk
d.     Suci dari hadats besar dan hadats kecil.
e.     Suci badan, pakaian, dan tempat shalat.
f.      Menutup aurat (bagi wanita seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan).
g.     Dikerjakan pada waktunya.
h.     Menghadap kiblat.
i.       Niat
9.        Rukun-Rukun Shalat :
a.     Berdiri jika mampu.
b.     Takbiratul-ihram.
c.      Membaca Al-Fatihah.
d.     Rukuk.
e.     I’tidak setelah rukuk.
f.      Sujud pada tujuh anggota tubuh.
g.     Bangkit dari sujud.
h.     Duduk antara dua sujud.
i.       Thuma’ninah pada seluruh gerakan.
j.      Tertib pada seluruh pelaksanaan rukun-rukun shalat.
k.     Tasyahud akhir.
l.       Duduk (pada tasyahud akhir).
m.    Bershalawat pada Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam.
n.     Salam.
10.      Shalat Berjama’ah Bagi Wanita
v  Para ulama sepakat bahwa kaum wanita tidak wajib mengerjakan shalat berjama’ah, akan tetapi syari’at tetap membenarkan mereka shalat berjama’ah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ، أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ، بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjama’ah duapuluh tujuh derajat lebih utama daripada shalat sendirian” [HR. Al-Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650].
v  Posisi imam seorang wanita yang mengimami wanita lainnya adalah di tengah-tengah shaff pertama.
عَنْ رِيطَةَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ  عَائِشَةَ  أَمَّتْهُنَّ، وَقَامَتْ بَيْنَهُنَّ فِي صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ
Dari Riithah Al-Hanafiyyah : “Bahwasannya ‘Aisyah pernah mengimami mereka dan ia berdiri di tengah mereka (barisan pertama) dalam shalat fardlu” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 5086, Ad-Daruquthni 1/404, dan Baihaqi 3/131; shahih bi-syawahidihi].
v  Rumah adalah Tempat Shalat yang Paling Baik Bagi Wanita
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian pergi ke masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka” [HR. Abu Dawud no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih lighairihi].
v  Seorang wanita boleh mengimami sesama wanita atau anak kecil yang belum baligh. Wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki.
11.      Kaifiyyah (Tata Cara) Shalat
a.     Niat
Tidak disyari’atkan mengucapkan/melafadhkan niat, sebab hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya (termasuk imam empat).[5]
b.     Menghadap Sutrah (Pembatas dalam Shalat).
Sutrah adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembatas shalat yang diletakkan di depan orang shalat.
Hukum menghadap sutrah ini adalah wajib bagi shalat munfarid (sendirian) dan bagi imam.[6] Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا تُصَلِّ إِلا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ
“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 800; shahih].
وَقَالَ ابن مَسعود : أَربَع منَ الخلَفَاء : أن يصلي الرّجل إلى غير سترة … أو يسمع المنادي ثم لا يجيبه
Dan Ibnu Mas’ud berkata : “Empat hal dari kemunkaran yaitu : Seseorang melakukan shalat tidak menghadap sutrah….. atau mendengar panggilan (adzan) lalu tidak menjawabnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/61 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 2/285; shahih].
Tinggi sutrah minimal seukuran bagian belakang pelana kuda atau kira-kira dua pertiga sampai satu hasta, berdasarkan hadits:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ، إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ
“Jika salah seorang di antara kalian berdiri untuk melaksanakan shalat, sesungguhnya dirinya terbatasi jika di depannya terdapat seukuran bagian pelana kendaraan tunggangan/kuda” [HR. Muslim no. 510].
Adapun jarak antara tempat berdiri shalat dengan sutrah adalah sepanjang tiga hasta, berdasarkan hadits :
... ثُمَّ صَلَّى وَجَعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِدَارِ نَحْوًا مِنْ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ
...….Kemudian beliau shalat dimana jarak antara beliau dan dinding (sebagai sutrah – Abul-Jauzaa’ (Pent.)) adalah sekitar tiga hasta” [HR. An-Nasa’i no. 749 dan Ahmad 2/138; shahih].
c.      Berdiri jika mampu
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak sanggup, maka shalatlah sambil duduk. Bila tidak sanggup juga, shalatlah sambil berbaring” [HR. Al-Bukhari no. 1117, Abu Dawud no. 939, dan At-Tirmidzi no. 369].
Seluruh ulama sepakat (ijma’) bahwa orang yang sehat lagi mampu wajib melakukan shalat fardlu sambil berdiri, baik sendiri maupun menjadi imam.
Bila ia sedang naik pesawat, kapal, atau kendaraan lain yang tidak mungkin baginya untuk turun (ke tanah/darat) sewaktu-waktu, maka ia tetap wajib shalat sambil berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka boleh baginya shalat sambil duduk.
Boleh mengerjakan shalat sunnah sambil duduk tanpa alasan apapun, akan tetapi ia hanya mendapatkan pahala setengah dari orang yang berdiri. ‘Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang shalat sambil duduk. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ
“Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka hal itu lebih baik. Orang yang mengerjakan shalat sambil duduk mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil berdiri. Orang yang mengerjakan shalat sambil berbaring mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil duduk” [HR. Bukhari no. 1115].
Namun jika ia melakukan shalat sambil duduk atau berbaring karena udzur (sakit atau yang lainnya), maka ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang berdiri (tidak kurang). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Barangsiapa yang jatuh sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka dicatatkan pahala baginya pahala seperti yang biasa ia dilakukannya ketika bermukim atau sehat” [HR. Al-Bukhari no. 2996].
d.     Takbiratul-Ihram dan Mengangkat Tangan
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat itu adalah suci, pengharamannya[7] adalah takbir (yaitu takbiratul-ihram), dan penghalalannya[8] adalah salam” [HR. Abu Dawud no. 61, Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/87, At-Tirmidzi no. 3 dan lain-lain; hasan].
إِنَّهُ لا تَتِمُّ صَلاةٌ لأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوءَ مَوَاضِعَهُ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ
“Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia sehingga ia berwudlu dan meletakkan wudlu tersebut pada tempatnya (yaitu pada anggota badan yang wajib terkena air wudlu), kemudian ia mengucapkan (takbir) : Allaahu Akbar” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 4526; shahih].
Kadangkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.
أَنّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat dengan takbir. Maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika (bersamaan) takbir setinggi kedua pundaknya [HR. Al-Bukhari no. 738].
Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan sebelum takbir.
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ، رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ كَبَّرَ
Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri untuk shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir” [HR. Muslim no. 390].
Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan setelah takbir.
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، أَنَّهُ رَأَى مَالِكَ بْنَ الْحُوَيْرِثِ : إِذَا صَلَّى، كَبَّرَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ، رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ هَكَذَا
Dari Abu Qilabah : “Bahwasannya ia melihat Malik bin Al-Huwairits apabila ia melakukan shalat, maka ia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia hendak rukuk, maka ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk (i’tidal), maka ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian (dalam shalat)” [HR. Al-Bukhari no. 737 dan Muslim no. 391].
Beliau shallalaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sejajar kedua pundaknya (berdasarkan hadits di atas). Kadangkala, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ، رَفَعَ يَدَيْهِ، حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ
Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya” [HR. Muslim no. 391].
e.     Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri di Dada
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ
Dari Sahl bin Sa’id radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 740].
Dari Wa’il bin Hujr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ
“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di dadanya” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 479].
Adapun meletakkan kedua tangan di bawah dada atau perut, maka hal ini tidak benar (menyelisihi sunnah).[9]
f.      Melihat Tempat Sujud dan Khusyu’
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَنَزَلَتْ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam pernah shalat dengan mengangkat pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat : “(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” {QS. Al-Mukminun : 2}. Maka beliau kemudian menundukkan kepalanya”  [HR. Al-Hakim no. 3483; shahih sesuai syarat Muslim].
Dilarang menoleh ketika shalat, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang hukum menoleh ketika shalat :
هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ
“Itulah ikhtilaas (mencuri-curi), yang dicuri-curi syaithan dari shalat seorang hamba” [HR. Al-Bukhari no. 751].
Akan tetapi diperbolehkan untuk melirik (tanpa menoleh) jika ada keperluan.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْحَظُ فِي الصَّلَاةِ يَمِينًا وَشِمَالًا وَلَا يَلْوِي عُنُقَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ
Dari Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma: “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melirik ke kanan dan ke kiri dalam shalat, namun beliau tidak menolehkan leher beliau ke belakang” [HR. At-Tirmidzi no. 587 dan Ibnu Khuzaimah no. 485 dengan sanad shahih].
g.     Membaca Iftitah/Istiftah
Hukumnya adalah sunnah menurut jumhur ulama (dan ini adalah pendapat yang rajih/kuat).  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوءَ يَعْنِي مَوَاضِعَهُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ وَيُثْنِي عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya shalat seseorang tidaklah sempurna kecuali bila dia wudlu pada anggota tubuh yang terkena air wudlu, kemudian mengucapkan takbir, memuji Allah jalla wa ‘azza dan mengagungkannya, serta membaca Al-Qur’an yang mudah baginya” [HR. Abu Dawud no. 857; shahih].
Kalimat { وَيَحْمَدُ اللهَ جَلَّ وَعَزَّ} “memuji Allah jalla wa ‘azza” dijelaskan oleh para ulama mempunyai makna membaca doa iftitah.
Macam-macam doa iftitah/istiftah antara lain :
v  { اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ }
Alloohumma baa’id bainii wa bainaa khothooyaaya kamaa baa’atta bainal-masyriqi wal-maghrib. Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots-tsaubul-abyadlu minad-danas. Alloohummagh-silnii min khothooyaaya bits-tsalji wal-maa-i wal-barad.
“Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun” [HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598].
v  {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ}
Subhaanakalloohumma wabihamdika watabaarokas-muka wata’aalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka.
"Aku menyucikan-Mu dan memuji-Mu ya Allah. Sungguh berkah nama-Mu dan sungguh tinggi kekayaan-Mu. Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau”  [HR. Abu Dawud no. 776, At-Tirmidzi no. 243, dan yang lainnya; shahih].
v  Dan yang lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits shahih.
h.     Membaca Isti’adzah
Para ulama sepakat bahwa hukum membaca isti’adzah di permulaan shalat (maksudnya : sebelum membaca Al-Fatihah) adalah wajib. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang kewajiban membacanya di tiap raka’at.
Allah ta’ala berfirman :
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيمِ
“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].
Isti’adzah dalam shalat dapat dilakukan dengan membaca salah satu lafadh sebagai berikut :
v  { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ }
A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim
“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].
v  { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }
A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi
“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Ahmad 6/156 no. 25266; hasan].
v  { أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }
A’uudzu billaahis-samii’il-‘aliimi minasy-syaithoonir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Abu Dawud no. 775; shahih].
i.       Membaca Surat Al-Fatihah
Wajib membaca Al-Fatihah (dan ini menjadi bagian dari rukun shalat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah” [HR. Al-Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394].
Jika ada orang yang tidak/belum hafal surat Al-Fatihah, maka dia boleh membaca :
سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Subhaanalloohi wal-hamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohu akbar. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil-‘adhiim
“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung [HR. Abu Dawud no. 832; hasan].
Namun keringanan ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar tidak mampu menghafalnya setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghafalnya.
Dalam shalat jama’ah jahriyyah (yang dikeraskan suaranya, seperti shalat shubuh, maghrib, dan ‘isya’), maka bacaan basmalah adalah sirr (tidak dikeraskan – tapi tetap dibaca) berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
”Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar membuka (bacaan) shalatnya dengan membaca Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin”. [HR. Al-Bukhari no. 743].
j.      Mengucapkan Amiin Setelah Membaca Al-Fatihah
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ:ف وَلا الضَّالِّينَق، قَالَ: آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bila selesai membaca Waladl-dlooolliin; maka beliau berkata : Aamiin, dan beliau mengeraskan suaranya” [HR. Abu Dawud no. 932; shahih].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Jika imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin juga. Sesungguhnya, barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan aamiin yang diucapkan oleh malaikat; maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR. Al-Bukhari no. 780 dan Muslim no. 410].
Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca aamiin setelah Al-Fatihah adalah wajib. Adapun tambahan rabbighfirlii sebelum membaca aamiin (sebagaimana dilakukan oleh sebagian kaum muslimin), maka itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak dilandasi dalil (shahih). Sudah sepatutnya perbuatan tersebut untuk ditinggalkan.
k.     Membaca Surat /Ayat yang Dihafal dari Al-Qur’an
v  Hukumnya adalah sunnah.
عَنْ عَطَاء، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: فِي كُلِّ صَلَاةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ، وَإِنْ لَمْ تَزِدْ عَلَى أُمِّ الْقُرْآنِ أَجْزَأَتْ، وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ
Dari ‘Athaa’, bahwasannya ia pernah mendengar Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : "Al-Qur’an dibaca pada setiap shalat. Bacaan yang dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kami pun mengeraskannya ketika kami menjadi imam. Dan bacaan yang tidak dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka kami pun tidak mengeraskannya. Jika kamu tidak menambah bacaan selain Ummul-Qur’an (Al-Fatihah), maka itu sudah cukup. Jika kamu menambah bacaan surat selain Ummul-Qur’an, maka itu lebih baik" [HR. Al-Bukhari no. 772].
عن جبير بن مطعم قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ
Dari Jubair bin Muth’im ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Ath-Thuur dalam shalat maghrib” [HR. Al-Bukhari no. 765 dan Muslim no. 463].
v  Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebaiknya bacaan pada raka’at pertama lebih panjang daripada raka’at kedua.
v  Disunnahkan pula membaca surat lain setelah Al-Fatihah pada raka’at ketiga dan/atau keempat berdasarkan hadits :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ، فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً، وَفِي الأُخْرَيَيْنِ، قَدْرَ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca surat (setelah Al-Fatihah) dalam dua raka’at pertama shalat Dhuhur untuk setiap raka’atnya sekitar tigapuluh ayat. Sedangkan dalam dua raka’at terakhir beliau membaca sekitar lima belas ayat”  [HR. Muslim no. 452].
v  Bila shalat sendirian, maka ia boleh memperpanjang bacaan ayat sesukanya. Namun jika ia menjadi imam, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi makmum. Jika makmum adalah dari kalangan yang kuat, semangat ke-Islamannya tinggi, dan biasa dibacakan ayat-ayat yang panjang; maka tidak apa-apa jika ia memperpanjang bacaan suratnya. Namun jika makmumnya adalah orang yang lemah, para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang mempunyai keperluan; hendaknya ia memperpendek bacaan suratnya.
عَنْ أَنَس بْن مَالِكٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ
Dari Anas bin Malik, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Sungguh aku akan memulai shalat (berjama’ah) dan aku ingin memperpanjangnya. Namun tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bayi. Maka aku memperingan (memperpendek) shalatku, karena aku mengetahui betapa cintanya (gelisahnya) ibunya terhadap tangis (anak)-nya itu” [HR. Al-Bukhari no. 709 dan Muslim no. 470].
l.       Rukuk
Ø   Setelah membaca ayat Al-Qur’an, hendaknya ia berhenti sejenak sebelum memulai gerakan untuk rukuk, sebagaimana riwayat Samurah bin Jundub radliyallaahu ‘anhu.[10] Lama berhenti ini sekitar satu nafas.
Ø   Mengangkat kedua tangan ketika hendak rukuk.
عن وائل بن حجر ........ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya)” [HR. Abu Dawud no. 726; shahih].
Ø   Meletakkan kedua tangannya di lututnya dengan menguatkan pegangan dan merenggangkan jari-jemarinya. Posisi tangan agak dijauhkan dan sedikit dibengkokkan di kedua siku.
عن وائل بن حجر ....... فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya), kemudian meletakkan kedua tangannya pada lututnya” [idem].
فقال أبو حميد الساعدي....... وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ
Berkata Abu Humaid As-Sa’idy radliyallaahu ‘anhu : “….. Dan apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam rukuk, maka beliau menguatkan kedua tangannya pada kedua lututnya” [HR. Al-Bukhari no. 828].
عن أبي حميد : .... ثُمَّ رَكَعَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ كَأَنَّهُ قَابِضٌ عَلَيْهِمَا وَوَتَّرَ يَدَيْهِ فَتَجَافَى عَنْ جَنْبَيْهِ
Abu Humaid radliyallaahu ‘anhu berkata : “….. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam rukuk dan beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, seakan-akan beliau memegang erat kedua lututnya tersebut. Beliau membengkokkan dan menjauhkan kedua tangannya di samping badannya” [HR. Abu Dawud no. 734, At-Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Khuzaimah no. 589; shahih].
عن وائل بن حجر أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila rukuk, maka beliau merenggangkan jari-jemarinya” [HR. Al-Hakim 1/224; shahih].
Ø   Ketika rukuk, posisi punggung dan kepala adalah lurus dan rata.
عَنْ وَابِصَة بْن مَعْبَدٍ، يَقُولُ: " رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، فَكَانَ إِذَا رَكَعَ سَوَّى ظَهْرَهُ حَتَّى لَوْ صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ لَاسْتَقَرَّ
Dari Waabishah bin Ma’bad, ia berkata : Aku pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat. Apabila beliau rukuk, maka beliau meluruskan punggungnya. Bahkan seandainya disiramkan air di atas punggung tersebut, maka pasti tidak akan tumpah ke bawah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 872; dshahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4732].
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، قال: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ اعْتَدَلَ فَلَمْ يَنْصِبْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقْنِعْهُ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ
Dari Abu Humaid As-Saa’idiy, ia berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila rukuk, maka beliau meluruskan punggungnya, tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkat/ menegakkannya” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1039; shahih].
Ø   Bacaan dalam rukuk (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :
i.       { سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْعَظِيْمِ}
Subhaana Rabbiyal-‘Adhiim (tiga kali)
“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].
ii.      { سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ }
Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii
“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484].
iii.     { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }
Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruuh
“Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].
Masing-masing doa/bacaan dalam rukuk di atas dapat diulang lebih dari tiga kali berdasar keumuman hadits :
عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رُكُوعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُجُودُهُ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
Dari Al-Barra’ radliyallaahu ‘anhu ia berkata : "Adalah rukuk dan sujudnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta bangkitnya beliau dari rukuk (i’tidal) dan duduknya diantara dua sujud; hampir sama lamanya" [HR. Al-Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471].
Ø   Wajib thuma’ninah dalam rukuk. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.... ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا
"Kemudian rukuklah sampai engkau merasa thuma’ninah dalam rukuk itu" [HR. Al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 397].
m.    Bangkit dan Berdiri dari Rukuk (I’tidal).
v  Mengucapkan : {  سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ} « Sami’alloohu liman hamidah » ketika mengangkat badan dari rukuk, dan { رَبَنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa lakal-hamdu » ketika telah berdiri. Hal itu berdasarkan hadits :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ "
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : "Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri shalat beliau mengucapkan takbir ketika dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika hendak rukuk. Beliau mengucapkan :  Sami’alloohu liman hamidah (Mudah-mudahan Allah mendengarkan/memperhatikan orang-orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat/ menegakkan tulang pungungnya. Kemudian beliau mengucapkan setelah berdiri : Robbanaa lakal-hamdu (Tuhan kami, Engkaulah yang pantas mendapat pujian)" [HR. Al-Bukhari no. 789].
Ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » bisa juga diucapkan dengan lafadh :
ü  {  رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 689].
ü  { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Alloohumma robbanaa lakal-hamdu » "Ya Allah, Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Muslim no. 404].
ü  { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ } « Alloohumma robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 795].
Dalam shalat berjama’ah, maka ketika imam mengucapkan « Sami’alloohu liman hamidah », maka makmum mengikutinya dengan ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang lain sebagaimana di atas).
v  Setelah ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang semisal di atas), maka disunnahkan untuk menambah dengan ucapan:
مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Mil-as samaawaati wa mil-al ardli wa mil-a maa syi’ta min syain ba’du
"Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu" [HR. Muslim no. 476].
v  Posisi tangan ketika berdiri i’tidal adalah bersedekap di dada menurut pendapat yang paling kuat. Hal itu berdasarkan keumuman hadits :
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ
“Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 740 dari Sahl bin Sa’d radliyallaahu ‘anhu].
v  Wajib thuma’ninah ketika i’tidal dan disunnahkan memperpanjangnya, berdasarkan hadits :
عَنْ ثَابِتٍ، قَالَ: كَانَ  أَنَسٌ  يَنْعَتُ لَنَا صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يُصَلِّي وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَامَ حَتَّى نَقُولَ قَدْ نَسِيَ
Dari Tsabit ia berkata : “Anas pernah memberikan contoh shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Anas melakukan shalat. Setelah bangun dari rukuk, Anas berdiri lama hingga kami menyangka ia lupa untuk sujud” [HR. Al-Bukhari no. 800 dan Muslim no. 472].
n.     Sujud
Ø   Bertakbir ketika turun untuk sujud, berdasarkan hadits :
..... ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ
“….Kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat kepalanya (i’tidal), dan kemudian beliau pun bertakbir ketika hendak sujud” [HR. Al-Bukhari no. 789].
Ø   Terkadang beliau mengangkat tangan ketika hendak sujud, berdasarkan hadits :
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ
Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya ketika hendak rukuk, ketika mengangkat kepalanya dari rukuk (i'tidal), ketika hendak sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud…..” [HR. An-Nasa’i no. 1085; shahih].
Ø   Mendahulukan tangan daripada lutut ketika turun dari sujud. Hal ini berdasarkan hadits :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang diantara kalian hendak sujud, maka janganlah ia menyungkur seperti menyungkurnya seekor unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya” [HR. Abu Dawud no. 840, Nasa’i no. 1091, dan yang lainnya; shahih].[11]
Ø   Ketika sujud, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sujud dengan tujuh anggota badan (dahi dan hidung – dianggap satu kesatuan –, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ الْجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ، وَالْيَدَيْنِ، وَالرِّجْلَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
“Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu dahi (beliau berisyarat ke hidungnya), kedua (telapak) tangan, kedua kaki (maksudnya kedua lutut), dan kedua ujung kaki” [HR. Al-Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490].
Ø   Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sujud dengan bertelekan dengan kedua tangannya, mengangkat kedua siku, melebarkan bentangan tangannya, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, merapatkannya jari-jarinya serta mengarahkannya ke kiblat.
عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا سَجَدْتَ، فَضَعْ كَفَّيْكَ، وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ
Dari Al-Barra’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila engkau sujud, maka letakkanlah dua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu” [HR. Muslim no. 494].[12]
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
Dari Abdillah bin Malik bin Buhainah radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila shalat, maka beliau membentangkan kedua tangannya hingga kelihatan putih ketiaknya” [HR. Al-Bukhari no. 390 dan Muslim no. 495].
عن وائل بن حجر قال : ....... ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَتْ يَدَاهُ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sujud, sedangkan kedua tangannya di hadapan (sejajar) kedua telinganya” [HR. Ahmad 4/317 no. 18878; shahih].
عن وائل أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ
Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila sujud, maka beliau merapatkan jari-jarinya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 642; hasan].
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ، فَوَضَعَ يَدَيْهِ بِالأَرْضِ، اسْتَقْبَلَ بِكَفَّيْهِ وَأَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya di bumi/tanah, serta menghadapkan kedua tangan dan jari-jemarinya ke arah kiblat” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa 2/112; shahih].
Ø   Menempelkan/merapatkan dua kaki dan mengarahkan jari-jari kaki ke arah kiblat
قالت عائشة زَوْجِ النَّبِيِّ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي، فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ، مُسْتَقْبِلا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ
Telah berkata ‘Aisyah istri Nabi : “Aku kehilangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Maka aku menemukan beliau sedang bersujud menempelkan tumitnya, ujung-ujung jemarinya menghadap kiblat” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 654; shahih].
Ø   Bacaan dalam sujud (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :
o    {سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْأَعْلَى}
Subhaana robbiyal-a’laa (tiga kali)
“Maha Suci Allah yang Maha Tinggi” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].
o    {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ}
Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii
“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484].
o    { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }
Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruh
Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].
Masing-masing doa tersebut dapat dibaca berulang-ulang (lebuh dari tiga kali) dengan keumuman hadits yang mnejlaskan lamanya sujud beliau ketika shalat.
Ø   Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَأَمَّا السُّجُودُ، فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“…Adapun ketika bersujud, maka perbanyaklah doa, karena hal itu lebih pantas untuk dikabulkan” [HR. Muslim no. 479 dan Abu Dawud no. 876].
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sujudnya sering berdoa dengan doa berikut :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَلَّهُ وآخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ
Alloohumagh-firlii dzanbii kullahu diqqohu wa jillahu wa-awwalahu wa aakhirohu wa ‘alaaniyyatahu wa sirrohu
“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa kecil maupun besar, dosa pertama maupun terakhir, dosa yang dilakukan dengan terang-terangan mapun sembunyi-sembunyi" [HR. Muslim no. 483].
Ø   Diperintahkan untuk thuma’ninah dalam sujud (dan juga rukuk) serta dilarang untuk sujud (dan rukuk) seperti patukan burung/ayam.
عن رفاعة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال للرجل الذي صلى ..... ثُمَّ إِذَا أَنْتَ سَجَدْتَ، فَأَثْبِتْ وَجْهَكَ وَيَدَيْكَ حَتَّى يَطْمَئِنَّ كُلُّ عَظْمٍ مِنْكَ إِلَى مَوْضِعِهِ
Dari Rifa’ah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada orang yang sedang melakukan shalat : “…..Kemudian jika kamu melakukan sujud, maka tancapkanlah wajah (dahi) dan kedua tanganmu sehingga setiap persendian thuma’ninah pada tempatnya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 638; hasan].
عن أبي هريرة يقول أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاثٍ، وَنَهَانِي عَنْ ثَلاثٍ: أَمَرَنِي بِرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَصَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ، وَالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ، وَنَهَانِي عَنْ ثَلاثٍ: عَنِ الالْتِفَاتِ فِي الصَّلاةِ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ، وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْقِرْدِ، وَنَقْرٍ كَنَقْرِ الدِّيكِ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kekasihku (yaitu Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepadaku tiga hal dan melarangku tiga hal pula. Beliau memerintahkanku untuk mengerjakan dua raka’at shalat dluhaa, puasa tiga hari pada setiap bulannya, dan shalat witir sebelum tidur. Beliau melarangku atas tiga hal, yaitu berpaling dalam shalat seperti berpalingnya serigala, duduk seperti duduknya kera, dan mematuk (dalam shalat) seperti mematuknya ayam jantan” [HR. Ath-Thayalisi no. 2593; hasan].
o.     Duduk di Antara Dua Sujud
v  Mengucapkan takbir ketika mengangkat kepala dari sujud.
ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ
“….Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika sujud, dan bertakbir pula ketika mengangkat kepala beliau (dari sujud)” [HR. Al-Bukhari no. 789].
v  Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari sujud.
ثُمَّ سَجَدَ وَوَضَعَ وَجْهَهُ بَيْنَ كَفَّيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ أَيْضًا رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ
“Kemudian beliau sujud dan meletakkan wajahnya di antara dua telapak tangannya. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, maka beliau juga mengangkat kedua tangannya, hingga beliau menyelesaikan shalatnya” [HR. Abu Dawud no. 723; shahih].
عن وائل بن حجر قال : ...... وَكَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ كُلَّمَا كَبَّرَ وَرَفَعَ وَوَضَعَ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”..... Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya setiap beliau bertakbir. Beliau mengangkat dan meletakkan (kedua tangannya) di antara dua sujud” [HR. Ahmad no. 18881; hasan].
v  Beliau duduk iftirasy dengan cara duduk di atas telapak kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya.
عن عبد الله بن عمر قال مِنْ سُنَّةِ الصَّلَاةِ " أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَمَ الْيُمْنَى وَاسْتِقْبَالُهُ بِأَصَابِعِهَا الْقِبْلَةَ وَالْجُلُوسُ عَلَى الْيُسْرَى
Dari Abdullah bin ‘Umar ia berkata : “Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki kanan, menghadapkan jari-jarinya ke kiblat, dan duduk di atas telapak kaki kiri” [HR. Nasa’i no. 1145; shahih].
Boleh juga duduk dengan cara iq’a’ (duduk dengan menegakkan dua telapak kaki/tumit).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ: " مِنَ السُّنَّةِ فِي الصَّلاةِ أَنْ تَضَعَ أَلْيَتَيْكَ عَلَى عَقِبَيْكَ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ta’ala ‘anhuma ia berkata : “Termasuk di antara sunnah dalam shalat adalah kamu meletakkan kedua pantatmu di atas kedua tumitmu ketika duduk di antara dua sujud” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 11015; shahih. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Muslim no. 536].
v  Bacaan ketika duduk di antara dua sujud (bisa dipilih salah satu) :
ü  { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَعَافِنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }
Alloohummagh-firlii warhamnii wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, sehatkanlah aku, dan berilah aku rizki” [HR. Abu Dawud no. 850].
ü  { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِيْ }
Robighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’nii
“Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, berilah aku rizki, dan angkatlah derajatku” [HR. Ibnu Majah no. 898; shahih].
ü  { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }
Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah aku, dan berilah aku rizki” [HR. At-Tirmidzi no. 284; shahih].
Yang paling lengkap dengan penggabungan beberapa riwayat hadits adalah sebagai berikut :
{ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَارْفَعْنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ}
Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii wa’aafinii warzuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan berikanlah aku rizki”.
ü  { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ }
Robbighfirlii robbighfirlii
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ya Tuhanku ampunilah aku” [HR. Ibnu Majah no. 897; jayyid].
v  Diperintahkan untuk thuma’ninah ketika duduk.
ثُمَّ يَقُوْلُ اَللهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِيْ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ إِلَى مَوْضِعِهِ
“….Kemudian beliau mengucapkan ‘Alloohu akbar’ dan mengangkat kepalanya (dari sujud). Beliau membengkokkan kaki kirinya serta duduk di atasnya hingga setiap tulang kembali pada tempatnya (yaitu duduk dengan tegak dan tenang)”  [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].
p.     Berdiri untuk Melanjutkan Raka’at Kedua (dan Keempat).
Ø   Duduk istirahat sebelum berdiri ke raka’at kedua (dan keempat).
عن مالك بن الحويرث الليثي أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا
Dari Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsi : Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat. Apabila beliau berada pada raka’at ganjil (yaitu rakaat pertama dan ketiga) dalam shalatnya, maka beliau tidak langsung bangkit berdiri (ke raka’at kedua dan keempat) hingga beliau duduk sejenak terlebih dahulu [HR. Al-Bukhari no. 823].
Ø   Berdiri dengan mendahulukan mengangkat kedua lutut sebelum tangan.
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، قال: كَانَ مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ يَأْتِينَا فَيَقُولُ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُصَلِّي فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ فِي أَوَّلِ الرَّكْعَةِ اسْتَوَى قَاعِدًا ثُمَّ قَامَ فَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ
Dari Abu Qilaabah, ia berkata : “Malik bin Al-Huwairits pernah mendatangi kami, lalu berkata : "Maukah kalian aku ceritakan bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Maka beliau shalat di luar waktu shalat. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua pada raka’at pertama, maka beliau duduk dengan tegak. Kemudian beliau bangkit sambil bertelekan pada tanah” [HR. An-Nasaa’iy no. 1153; shahih]. [13]
Ø   Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menggenggamkan/mengepalkan kedua telapak tangannya untuk bertelekan ke tanah ketika berdiri dari sujud.
عن الازرق بن قيس : رأيت ابن عمر يعجن في الصلاة : يعتمد على يديه إذا قام . فقلت له ؟ فقال : رأيت رسول الله صلى اللَّه عليه يفعله
عَنِ الأَزْرَقِ بْنِ قَيْسٍ رَأَيْتُ  ابْنَ  عُمَرَ  يَعْجِنُ فِي الصَّلاةِ ؛ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ ، فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ
Dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn (menggenggam tangan) ketika shalat, yaitu bertelekan dengan dua tangannya ketika berdiri. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Maka ia menjawab : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya” [HR. Abu Ishaq Al-Harbi dalam Ghariibul-Hadiits 2/525; dengan sanad shalih].
q.     Wajib Membaca Al-Fatihah pada Setiap Raka’at
وكان من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال جاء رجل ورسول الله صلى الله عليه في المسجد فصلى قريبا منه ثم انصرف إليه فسلم عليه فقال له رسول الله صلى الله عليه .........ثم اقرأ بأم القرآن ثم اقرأ بما شئت .......ثم اصنع ذلك في كل ركعة
Dari salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ia berkata : Datang seseorang dan pada waktu itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di masjid. Maka orang tersebut melakukan shalat di dekat beliau. Setelah usai melakukan shalat, maka ia berpaling kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam terhadap beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya (tentang bagaimana tata cara shalat yang benar) : “….Kemudian bacalah Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) dan setelah itu bacalah surat yang engkau kehendaki……kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap raka’at (dalam shalatmu)” [HR. Ibnu Hibban no. 1787 dengan sanad qawiy (kuat)].
r.      Tasyahud Awal
v  Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy sebagaimana duduk di antara dua sujud
عن أبي حميد الساعدي : ...... فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى
Dari Abu Humaid As-Sa’idi : “….Apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam duduk pada raka’at kedua (yaitu duduk tasyahud awal), maka beliau duduk di atas telapak kaki kirinya dengan menegakkan telapak kaki kanannya [HR. Al-Bukhari no. 828].
v  Meletakkan kedua tangan di atas lutut (atau di atas paha), tangan kanan menggenggam (atau membuat lingkaran antara jari tengah dan ibu jari), dan berisyarat dengan jari telunjuk tangan kanan dengan mengerak-gerakannya.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ، وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ الْيُمْنَى، الَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ، فَدَعَا بِهَا، وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، بَاسِطُهَا عَلَيْهَا
Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat jari (telunjuknya) yang kanan, maka beliaupun berdoa (bersamaan) dengan itu, dan (telapak) tangan kirinya terhampar di atas lututnya yang kiri” [HR. Muslim no. 580, At-Tirmidzi no. 294, Ibnu Majah no. 913, dan yang lainnya].
Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Umar :
كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ، وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى
"Apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam duduk (tasyahud) dalam shalat, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuk. Dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya" [HR. Muslim no. 580].
ان وائل بن حجر الحضرمي قال : ........فَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الأَْيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، فَحَلَّقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَه، فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا
Bahwasannya Wail bin Hujr Al-Hadlrami radliyallaahu ‘anhu berkata : “…..Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan ujung siku tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku pun (yaitu Wail) melihat beliau menggerak-gerakkannya (jari telunjuk) sambil berdoa dengannya” [HR. Ahmad no. 18890; shahih].[14]
عن عبد الله بن الزبير قال : ..... وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ، وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى
Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma : “…..Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya” [HR. Muslim no. 579].
عن وائل بن حجر قال : ....... ثُمَّ أَشَارَ بِسَبَّابَتِهِ، وَوَضَعَ الإِبْهَامَ عَلَى الْوُسْطَى حَلَّقَ بِهَا
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaau ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dengan membuat lingkaran” [HR. ‘Abdurrazzaq no. 2522; shahih].
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu pada setiap tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir.
عن عبد الله بن الزبير قال: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الثِّنْتَيْنِ أَوْ فِي الْأَرْبَعِ يَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ أَشَارَ بِأُصْبُعِهِ
Dari ‘Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk di raka’at kedua atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan jari (telunjuknya)” [HR. Nasa’i dalam As-Shughraa no. 1161; shahih].
v  Membaca tasyahud, di antaranya adalah (bisa dipilih salah satu):
o    { اَلتَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }
At-tahiyyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoyyibaat, as-salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatulloohi wabarokatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh
“Segala ucapan selamat, kebahagiaan, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 402].
o    { اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ . وفي رواية: عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }
At-tahiyyaatul-mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar-“Rosuulullah” [dalam riwayat lain :] ’abduhu warosuuluh
“Segala ucapan selamat, barakah, kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah milik Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah ‘Rasululah’ [dalam riwayat yang lain :] ‘hamba-Nya dan utusan-Nya’ “ [HR. Muslim no. 403, Abu ‘Awanah no. 1597, Nasa’i no. 1174].
o    { اَلتَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ للهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }
At-tahiyyaatuth-thoyyibaatush-sholawaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarakaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh
“Segala ucapan selamat, kebaikan, dan kebahagiaan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Muslim no. 404].
Perhatikan yang kalimat yang digaris bawah di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat as-salaamu ‘alaika itu diucapkan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Adapun setelah beliau meninggal, maka disyari’atkan mengganti kalimat tersebut dengan : as-salaamu ‘alan-nabiy. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat, diantaranya :
عَنْ عَطَاءٍ: أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ: السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَلَمَّا مَاتَ قَالُوا: السَّلامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ "
Dari ‘Atha’ : Bahwasannya para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bila mereka memberikan salam (dan shalawat ketika shalat) dan waktu itu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam masih hidup : As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh. Namun ketika beliau telah wafat, maka mereka mengatakan : “As-salaamu ‘alan-nabiyyi warohmatulloohi wabarokatuh “ [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 3075; shahih].
Dan inilah yang lebih benar dalam pengamalan. Wallaahu a’lam.
v  Membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah (bisa dipilih salah satu):
o    { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid. Wabaarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wadzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid
“Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”  [HR. Ahmad no. 23221; shahih].
o    { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum-majiid. Alloohumma baarik alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3370 dan Muslim no. 406].
o    { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima fil-‘aalamiina innaka hamiidum-majiid
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahiim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahiim di seluruh alam. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Muslim no. 405].
o    { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النبي الأمي وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ}
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad, an-nabiyyil-ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad – nabi yang ummi – dan kepada keluarga Muhammad” [HR. Abu Dawud no. 981; hasan].
Bolehkah menambah kata “sayyidinaa” sebelum lafadh/penyebutan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Ibrahim ‘alaihis-salaam dalam shalawat ketika shalat ?
Pendapat yang rajih adalah tidak boleh. Hal itu dikarenakan apa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah tanpa kata “sayyidinaa”. Begitu pula dengan apa yang diajarkan oleh para shahabat. Tidak satupun di antara mereka yang mengucapkan dan menambahkan “sayyidinaa”. Lafadh shalawat adalah lafadh yang sifatnya tauqifiyyah (yang berdasarkan wahyu) dimana tidak diperbolehkan penambahan kalimat-kalimat dari manusia. Apalagi hal itu diucapkan dalam shalat. Satu hal yang menunjukkan hal itu (yaitu satu lafadh doa haruslah persis sama dengan yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam) adalah ketika beliau menegur Al-Barra’ bin ‘Azib ketika Al-Barra’ keliru dalam mengucapkan doa/dzikir sebelum tidur. Al-Barra’ mengisahkan :
فرددتها علي النبي صلى الله عليه وسلم فلما بلغت : اَللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ قلت وَرَسُوْلِكَ قال لا وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
فَرَدَّدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا بَلَغْتُ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ قُلْتُ: وَرَسُولِكَ، قَالَ: لَا، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
“Maka aku mengulanginya (doa yang diajarkan) di hadapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika aku sampai pada bacaan : “Alloohumma aamantu bi-kitaabikal-ladzii anzalta”; maka aku melanjutkannya dengan : “warosuulika”. (Mendengar itu) maka beliau menegurku : “Bukan begitu !, akan tetapi (yang benar) : ‘wanabiyyikal-ladzii arsalta’” [HR. Al-Bukhari no. 247].[15]
s.      Bangkit kepada Raka’at Ketiga dan/atau Keempat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ كَبَّرَ، ثُمَّ يَسْجُدُ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الْقَعْدَةِ كَبَّرَ، ثُمَّ قَامَ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam apabila hendak sujud, maka beliau bertakbir, kemudian sujud. Dan apabila beliau hendak berdiri dari tempat duduknya (dalam shalat), maka beliau bertakbir, kemudian berdiri” [HR. Abu Ya’la no. 6029 dengan sanad jayyid].
قال أبو حميد........ ثُمَّ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ
Berkata Abu Humaid radliyallaahu ’anhu : ”....Kemudian apabila beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam berdiri dari raka’at kedua, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya” [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].
t.      Tasyahud Akhir.
Ø   Secara umum, apa yang dilakukan pada tasyahud awal juga dilakukan pada tasyahud akhir. Hanya saja dalam tasyahud akhir, posisi duduk adalah tawaruk.
عن أبي حميد الساعدي : ..... وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
Dari Abu Humaid As-Sa’idi radliyallaahu ’anhu : ”......Dan apabila beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam duduk pada raka’at terakhir, maka beliau menjorokkan (telapak) kaki kirinya, menegakkan (telapak) kaki kanan, dan duduk di atas pantatnya” [HR. Al-Bukhari no. 828].
Ø   Membaca doa sebelum salam
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
عن أبي هريرة يقول قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنَ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang diantara kamu telah menyelesaikan (bacaan) tasyahud akhir, maka mohonlah kepada Allah agar dilindungi dari empat perkara, (yaitu) : siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah/cobaan hidup dan mati, dan kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal” [HR. Muslim no. 588].
Adapun lafadh doanya adalah :
 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil-qobri wa min fitnatil-mahyaa wal-maaati wa min syarri fitnatil-masiihid-dajjaal
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” [idem].
Selain doa tersebut juga bisa dibaca :
 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْماً كَثِيْراً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَة مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Alloohumma innii dholamtu nafsii dhulman katsiiroo, walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfirlii maghfirotam-min ‘indika, warhamnii innaka antal-ghofuurur-rohiim
“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Al-Bukhari no. 834; dan Muslim no. 2705].
 اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا
Alloohumma haasibnii hisaabay-yasiiro
”Ya Allah, hisablah/perhitungkanlah (segala amalku) dengan hisab/perhitungan yang mudah” [HR. Ahmad no. 24261 dengan sanad jayyid].
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Alloohumma innii as-aluka yaa alloohul-ahadush-shomad, alladzii lam yalid walam yuulad, walam yakul-lahuu kufuwan ahad. An-taghfiro lii dzunuubii innaka antal-ghofuurur-rohiim
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya; agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Abu Dawud no. 985; shahih].
u.     Salam
Salam pertama termasuk bagian rukun shalat yang harus dikerjakan, sedangkan salam kedua merupakan sunnah.
عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ، وَعَنْ يَسَارِهِ، حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ
Dari ’Amir bin Sa’d dari ayahnya radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan salam (di akhir shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, sehingga aku melihat putih pipi beliau” [HR. Muslim no. 582].
عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ يَمِيلُ إِلَى الشِّقِّ الْأَيْمَنِ شَيْئًا
Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melakukan satu kali salam (yaitu ke kanan tanpa ke kiri) dalam shalatnya. Beliau memiringkan wajahnya sedikit ke sebelah kanan” [HR. At-Tirmidzi no. 296; shahih].
Ada beberapa macam cara salam dalam shalat, yaitu :
v  Mengucapkan « assalaamu ’alaikum warohmatullooh » ke kanan dan ke kiri
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ، وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya (dengan ucapan :) ”Assalaamu’alaikum warohmatullooh, assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 996; shahih].
v  Mengucapkan salam pertama (ke kanan) « assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarookatuh » dan salam kedua (ke kiri) «assalaamu ’alaikum warahmatullah »
عن وائل قال صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Dari Wail radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku pernah shalat bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, dimana beliau mengucapkan salam ke kanan : Assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh; dan ke kiri : Assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 997; shahih].
v  Mengucapkan salam pertama (ke kanan) «assalaamu ’alaikum warahmatullah » dan salam ke dua (ke kiri) « assalaamu ’alaikum »
عَنْ وَاسِعِ بْنِ حَبَّانَ، قَالَ: قُلْتُ  لِابْنِ  عُمَرَ : أَخْبِرْنِي عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَتْ؟ قَالَ: " فَذَكَرَ التَّكْبِيرَ قَالَ: يَعْنِي وَذَكَرَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ عَنْ يَمِينِهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ عَنْ يَسَارِهِ
Dari Wasi’ bin Hibban ia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu ’Umar : ”Khabarkanlah kepadaku bagaimana sifat shalat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ?”. Maka Ibnu ’Umar menjawab : ”Maka beliau mengucapkan takbir, yaitu (maksudnya) mengucapkan  Assalaamu ’alaikum warohmatullooh ke kanan dan Assalaamu ’alaikum ke kiri”  [HR. Nasa’i no. 1321; shahih].
v  Mengucapkan sekali salam ke kanan dengan «assalaamu ’alaikum warahmatullah » sebagaimana disebutkan dalam hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa di atas.
Wallaahu a’lam.
Abul-Jauzaa’ – akhir Muharram 1430 – Ciomas Permai, Bogor (rev. : 24052015).
Bahan bacaan : Shifatu Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Ashlu Shifati Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Fiqih Sunnah untuk Wanita (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim – Al-I’tisham), Kitabul-’Ilm (Syaikh Ibnu ’Utsaimin – Daaruts-Tsuraya), Ad-Duruusul-Muhimmah (Syaikh Ibnu Baaz – islamhouse.com/Departemen Urusan Keislaman, Saudi Arabia), Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud (Ustadz Ibnu Saini – Maktabah Abdullah), Taisirul-’Allam Syarh ’Umdatil-Ahkaam (Syaikh Aali Bassam – Daar Ibnu Haitsam), Sunnah-Sunnah dalam Shalat yang Ditinggalkan (Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir – Bahrul-Ulum), Mausu’ah Hadits (Maktabah Ruuhul-Islaam), Fathul-Baariy (Ibnu Rajab – Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah), Syarh Matni Syuruuthish-Shalaah wa Arkaanihaa wa Waajibatihaa lisy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab (Dr. Muhammad Aman Al-Jaami – Maktabah Ruuhul-Islaam), Hukmu Taarikish-Shalah (Syaikh Al-Albani – Daarul-Jalalain), dan yang lainnya.




[1]      Contohnya adalah sebagaimana firman Allah ta’ala :
يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ صَلّواْ عَلَيْهِ وَسَلّمُواْ تَسْلِيماً
“Hai orang-orang yang beriman, berdoalah (bershalawatlah) kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [QS. Al-Ahzab : 56].
[2]      Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللهُ تَعَالَى مَنْ أَحْسَنَ وُضُوْءَهُنَّ وَصَلاَهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُنَّ وَخُشُوْعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفرَ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ
“Allah ta’ala telah mewajibkan shalat lima waktu (atas para hamba-Nya). Barangsiapa yang membaguskan wudlunya, shalat tepat pada waktunya, menyempurnakan rukuknya, dan khusyu’; maka dia memiliki perjanjian di sisi Allah (untuk itu) untuk mendapatkan ampunan. Dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka ia tidak mempunyai perjanjian apapun dengan Allah. Jika Allah kehendaki, maka dia akan diampuni. Dan jika Allah kehendaki, maka dia akan disiksa” [HR. Abu Dawud no. 425; shahih].
[3]      Ada perbedaan ulama mengenai larangan shalat setelah ‘Ashar. Sebagian ulama mengatakan bahwa diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah setelah ‘Ashar dengan syarat matahari masih tinggi (panas). Adapun jumhur ulama tetap melarangnya.
[4]      Lihat penjelasan Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qaththani dalam bukunya Shalatut-Tathawwu’ : Mafhumun wa Fadlaailun wa Anwa’un wa Adabun fii Dlauil-Kitab was-Sunnah.
[5]      Abu Ishaq Asy-Syairazy rahimahullah, seorang pembesar madzhab Syafi’iyyah berkata : “Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan’.; dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdlah). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah di hati. Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata : ‘Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan’. Pendapat ini tak ada nilainya karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati”. [Lihat Al-Muhadzdzab (3/168 bersama Al-Majmu’) karya Asy-Syairazy rahimahullah]
An-Nawawiy rahimahullah berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafi’iyyah yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy di atas : “Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafi’iyyah- berkata : ‘Orang yang berpendapat demikian telah keliru. Bukanlah maksud Asy-Syafi’i dengan “mengucapkan” dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan) takbir’” [Lihat Al-Majmu (3/168)].
[6]      Adapun sutrah makmum adalah sutrah yang dipakai oleh imam.
[7]      Yaitu sebagai isyarat dimulainya shalat dimana pada waktu itu diharamkan mengerjakan sesuatu apapun kecuali dari gerakan shalat.
[8]      Yaitu sebagai isyarat telah selesainya shalat yang sekaligus diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan yang lain.
[9]      Hadits yang menyatakan tentang peletakan kedua tangan di perut adalah dla’if (lemah).
[10]     Terdapat pembicaraan yang panjang dalam hadits Samurah ini yang mempunyai inti bahwa hadits ini adalah lemah. Namun maknanya adalah benar bahwa terdapat dua tempat untuk berhenti sejenak dalam shalat, yaitu setelah takbiratul-ihram dan setelah membaca qira’at sebelum rukuk. Ini adalah madzhab jumhur ulama. Untuk pembahasan takhrij hadits, silakan baca Irwaaul-Ghalil juz 2 hal. 284-288 hadits no. 505. Dan penjelasan hukum silakan baca Ashlu Shifatish-Shalatin-Nabi hal. 601. Wallaahu a’lam.
[11]     Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-Auza’i, Imam Ahmad, dan jumhur ahli hadits. Adapun hadits-hadits yang menyatakan sunnah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, maka hadits-hadits ini adalah dla’if [lihat kitab Irwaa’ul-Ghaliil no. 357].
[12]     Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang menghamparkan kedua siku ketika sujud (yaitu dengan menempelkan kedua siku di lantai) dengan sabdanya :
اعْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبُ
“Luruslah (punggungmu) ketika sujud, dan janganlah salah seorang diantara kamu menghamparkan kedua hasta/sikunya seperti anjing menghamparkannya” [HR. Al-Bukhari no. 822].
[13]     Adapun hadits Wail bin Hujr, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendahulukan mengangkat tangan daripada lutut ketika berdiri dari sujud adalah hadits dla’if (lemah). Lihat selengkapnya pembahasan takhrij hadits dalam kitab Irwaaul-Ghaliil .
[14]     Adapun hadits :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلَا يُحَرِّكُهَا
Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya” [HR. Abu Dawud no. 989, An-Nasa’i no. 1270, Abu ‘Awanah no. 2019, dan yang lainnya]; adalah hadits syadz lagi dla’if, sehingga tidak dipakai.
[15]     Doa selengkapnya adalah :
اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَة وَرَهْبَة إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اَللَّهمَّ آمَنْتُ بِكتَابِكَ الَّذيْ أَنْزَلْت وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan dari murka dan siksa-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.
Perhatikanlah ! Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan toleransi kepada Al-Barra’ bin ‘Azib ketika ia salah mengucapkan doa, dengan mengganti lafadh “nabi” menjadi “rasul”. Padahal, secara substansi kedua kata ini dalam keseluruhan makna doa tidaklah berbeda. Hanya saja, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap menginginkan keselarasan doa yang diucapkan Al-Barra’ dengan yang beliau ajarkan kepadanya.
Lantas, bagaimana jika kita menambah lafadh “sayyidinaa” kepada Nabi pada shalawat dalam shalat ? Penolakan ini bukanlah berarti penolakan kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sayyid  bagi manusia. Namun, semata-mata hanyalah meneladani lafadh doa yang beliau ajarkan sesuai dengan hadits-hadits shahih yang sampai pada kita.

Comments

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaykum, akh...

Afwan akh, apakah pengucapan isti'adzah di dalam shalat bukan termasuk bid'ah...?

sebab tidak ada dalil khusus, yang menerangkan bahwa Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasalam- membaca isti'adzah di dalam shalat beliau.

sepanjang yang ana tahu, dalil-nya hanya berasal dari QS. an Nahl seperti yang antum sebutkan diatas.

Dan kita tahu bahwa shalat termasuk perkara ushul yang sifatnya tauqifiyah, yang mengharuskan adanya dalil pada setiap rukun-rukunnya.

Dan antum-pun sudah memberikan contoh, tentang terlarangnya penambahan lafadz "sayyidina" pada bacaan shalawat, sebab hal tersebut tidak pernah di ajarkan oleh Beliau -shallallahu 'alaihi wasalam-

Dengan contoh tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembacaan isti'adzah tidak ada tuntunannya dari Nabiyullah -shallallahu 'alaihi wasalam-, sebab dalil yang ada bersifat umum.

Wallohu ta'ala a'lam
---------------------

Kira-kira seperti itu yang ana pahami akhi, mungkin antum bisa menjelaskan dengan lebih rinci permasalahan ini..

Jazakallahu khair..

--HZA--

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Adalah beda mengqiyaskan isti'adzah dengan kasus shalawat (pake sayyidina). Dalam bacaan shalawat manapun (yang bersandar pada riwayat shahih - sepengetahuan saya), tidak ada tambahan lafadh "sayyidina".

Adapun isti'adzah, maka ini ada dalilnya sebagaimana telah disebutkan. Membaca isti'adzah itu masyru' saat hendak membaca ayat Al-Qur'an, baik di dalam dan di luar shalat. Ini lah keumumannya ayat :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].

Jumhur ulama berdalil dengan ayat ini ketika mereka mnyunnahkan untuk membaca isti'adzah dalam shalat.

Dalam beberapa hadits pun ada yang menunjukkannya. Saya sebut satu saja.

عن أبي سعيد الخدري قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام من الليل كبر ثم يقول سبحانك اللهم وبحمدك وتبارك اسمك وتعالى جدك ولا إله غيرك ثم يقول لا إله إلا الله ثلاثا ثم يقول الله أكبر كبيرا ثلاثا أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه ثم يقرأ

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy ia berkata : "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat lail, maka beliau membaca (doa iftitah) : Subhaanaka alaahumma wa bihamdika wa tabaarakas-muka wa ta'ala jadduka wa laa ilaha ghairuka, kemudian beliau membaca : Laa ilaha illallaah tiga kali, kemudian membaca : Allaahu akbar kabiira tiga kali, (kemudian membaca isti'adzah) : A'uudzubillaahis-samii'il-'aliim minasy-syaithaanir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsih. Kemudian membaca (Al-Fatihah)".

Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 775 - dinyatakan valid oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy.

Antum bisa baca lebih banyak dalam buku Shifat Shalat Nabi.

Wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

...ooo ada haditsnya ternyata,
afwan, berarti ana yang tidak tahu

syukron akhi atas penjelasannya,

jazakallahu khair.

--HZA--

Anonim mengatakan...

SubhanALLH,blog ini sangat bermamfaat buat ana dan keluarga.izin kopas artikelnya ustadz dan izin juga untuk ana sebarkan ke teman teman ana.
BarakALLAH hufiik

Anonim mengatakan...

Maaf ustadz, dalam sebuah kajian tentang sholat, ketika sampai pada masalah sutrah ada seorang hadirin yang membantah "wajibnya sutrah dalam sholat" dengan menyampaikan argumentasi bahwa "itu adalah pendapat yang muncul belakangan, yang di anut oleh orang yang terlalu keras dalam menerapkan syariat, dan akan memberatkan umat.."
Mohon tanggapan ustadz untuk komentar tersebut, karena kebetulan orang yang menyampaikan tersebut pandai berargumentasi sehingga pendapatnya lebih didengarkan oleh jama'ah.
Saya ucapkan terimakasih sebelumnya atas jawaban ustadz.
Syukron.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Pendapat tentang tidak wajibnya wajibnya sutrah adalah pendapat jumhur ulama. Bahkan ada yang mengatakan tercapai ijma' mengenai hal ini dari Ibnu Rusyd dalam Bidaayatul-Mujtahid (1/121, Daarul-Hadiits). Termasuk di kalangan ulama kontemporer yang berpegang pada pendapat ini adalah Syaikh Sayyid Saabiq, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu 'Utsaimiin, Lajnah Daaimah, dan yang lainnya.


Adapun yang mengatakan wajib, maka ia adalah pendapat sebagian ulama seperti : Ahmad dalam satu riwayat, Ibnu Hazm, Ibnu Hajar Al-Haitamiy, Asy-Syaukaaniy, Al-Albaaniy, Muqbil Al-Wadi'iy, dan yang lainnya.

Oleh karena itu, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa wajibnya sutrah hanya muncul di kalangan belakangan. Dan saya rasa, tidaklah susah mengambil sutrah ketika shalat, karena itu merupakan bagian dari syari'at. Tidak ada sesuatu yang sukar dalam syari'at ini.

Meskipun pendapat yang raajih (yang saya ikuti dan pegang) adalah pendapat yang menyatakan wajibnya, kita harus berlapang dada dengan perselisihan ini. Kita sampaikan dengan cara-cara yang elegan sehingga tidak menimbulkan perselisihan paham. Wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

salaam

adakah dalil berkaitan dengan hal berikut ini :

"Ia adalah shubuh (2 raka’at), dhuhur (4 raka’at), ‘asar (4 raka’at), maghrib (3 raka’at), dan ‘isya’ (4 raka’at)"

?

benarkah shubuh itu 2 raka'at, dhuhur 4 raka'at, 'asar 4 raka'at, maghrib 3 raka'at, dan 'isya 4 raka'at?

terima kasih

abu adam mengatakan...

bismillah,

ya akhuna abul jauza, apakah shahih tambahan riwayat yang datang dari abu 'awanah, yang berisikan tentang perintah kepada rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- untuk bershalawat di tasyahus awal dan tasyahud akhir?,

kalo ndak merepotkan, ana minta pembahasannya tersendiri. karena tambahan ini, menjadi pembeda antara pendapat jumhur ulama yang menyatakan tidak ada bacaaan shalawat pada tasyahud awal dengan sebagian ulama lainnya yang mensyariatkan hal tersebut.

wa jakumullahu khoir

Qurratuain mengatakan...

assalamualaykum ustadz..

Ana mau nanya mengenai duduk istirahat pada rakaat ganjil,
ana bc dibeberapa buku, rasulullah melakukan duduk istirahat itu hanya ketika beliau sudah tua dan sakit, sementara dalam dalil2 mengenai kaifiyt shalat yang lain tidak disebtkan adanya duduk istirahat dulu,
keterangan ini salah satunya saya dapt dari buku saku tntg sifat shalat nabi karya syaikh .jibrin terbitan pustaka ibnu umar, mohon pencerahannya..

Jazakallahu khayra

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam.

Duduk istirahat bukan wajib.

Adapun latar belakang duduk istirahat, memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Salah satunya adalah yang ibu sebut. Wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum ustadz,

Ana mau minta penjelasan tentang membaca salawat pada rokaat pertama, wajib ataukah sunah? selama ini yang saya ketahui tambahan sholawat hanya pada rekaat terakhir saja.

Jazakallahu khaira

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

wa'alaikumus-salaam.
Para ulama telah berselisih pendapat mengenai : Apakah shalawat itu masuk bagian yang dibaca pada tasyahud awal ?. Jumhur mengatakan tidak. Dalil yang mereka ambil, salah satunya adalah :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ . ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، وَعَنْ طَاوُسٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّهُ قَالَ : " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ ، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ ، فَكَانَ يَقُولُ : التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ ، الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Laits (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mumh bin Muhaajir : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Laits, dari Abuz-Zubair, dari Sa’iid bin Jubair dan dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami tasyahhud sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda : ‘At-tahiyyaatul-mubaarakatush-shalawaatuth-thayyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh. Assalaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhamadar-rasuulullaah” [Diriwayatkan oleh Muslim].

Dalam riwayat lain dari jalan Abu Muusaa Al-Asy’ariy terdapat lafadh :

سبع كلمات هن تحية الصلاة

“Tujuh kalimat itulah tahiyyat shalat” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy, Ibnu Maajah, dan yang lainnya; shahih].

Di sini tidak disebutkan tentang bacaan shalawat. Di antara ulama kontemporer yang memegang pendapat ini adalah Asy-Syaikh Ibnu Baaz, yang fatwanya bisa dibaca di sini.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Ulama lain mengatakan bahwa ia wajib dibaca dalam tahiyyat awal maupun akhir. Inilah madzhab Al-Imaam Asy-Syaafi’iy yang kemudian diikuti oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahumallaah. Dalilnya di antaranya adalah firman Allah ta’ala :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [QS. Al-Ahzaab : 56].

Sisi pendalilannya adalah bahwasannya Allah ta’ala telah menyatukan antara shalawat dan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana salam diwajibkan dalam setiap tasyahhud, begitu pula shalawat harus diikutkan dalam bacaan salam setelah bacaan tasyahud.

Namun yang raajih bahwasannya bacaan shalawat itu tidak wajib, akan tetapi hanya sunnah (afdlal) saja sebagaimana dikatakan Ibnu Baaz. Wallaahu a’lam.

Anonim mengatakan...

Ustadz tentang hukum pembacaan shalawat itu sendiri dalam tasyahud, adakah dalil yang secara jelas menunjukkan bahwa nabi membacanya dalam tasyahudnya?

jika dikatakan wajib, atau bahkan rukun (sebagaimana dikatakan antum pada point "m" diatas)

maka mana dalil yang menetapkan bahwa ini merupakan kewajiban atau rukun dalam shalat. yang mana nabi menetapkan bahwa hal ini merupakan kewajiban dalam shalat atau rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan.

apakah disebutkan dalam hadits orang yang salah shalatnya?

ataukah disebutkan dalam dalil-dalil lain yang menunjukkan pembacaan shalawat dalam tasyahud?

karena disebutkan oleh imam syawkaniy bahwa tidak ada dalil baik shahiih maupun dha'if yang menunjukkan pensyariatan pembacaan shalawat dalam tasyahud (baik awal maupun akhir).

selain dari dalil qiyas, adakah dalil lain yang menunjukkannya? sampai-sampai para ulama mengatakan hukumnya wajib, atau bahkan rukun shalat?

mohon permasalahan ini dijelaskan dalam satu artikel tersendiri (kalau berkesempatan), yaitu tentang "hukum pembacaan shalawat dalam tasyahud (baik awal maupun akhir) serta dalil-dalil yang menetapkannya"

jazaakallaahu khayran ustadz

Anonim mengatakan...

Rasulullah shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

‎إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

“Apabila salah seorang diantara kalian melakukan shalat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Allah (yaitu tasyahud),KEMUDIAN BERSHALAWAT kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berdoa setelah itu dengan doa yang ia kehendaki.”

(HR. Tirmidziy, dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahiih)

Bahkan Nabiy bersabda:

لا تكون صلاة إلى بقراءة و تشهد و صلاة علي

Tidaklah diterima shalat, kecuali dengan qira'ah (bacaan al qur-aan, yaitu bacaan al-fatihah), tasyahud, dan shalawat kepadaku.

(HR. al Ma'mariy dalam 'Amalul Yaum wal Laylah; dinilai "kuat" sanadnya oleh Syaikh al Albaaniy dalam shifat shalat nabiy)

Anonim mengatakan...

penasaran ustd,apa benar yg dituduhkan disini http://www.youtube.com/watch?v=T4wTLfvNED8 ibn taimiyah menyuruh membunuh org yg melafadzkan niat? mhn bls,krn saya org yg tdk tahu dan ingin mencari tahu kebenarannya apa adanya.di menit ke 11:30

islamqt mengatakan...

@anonim 15 Juni 2012 04:41
Tidak menjawab, tapi untuk nambah wawasan bisa baca di http://ustadzaris.com/usholli

Anonim mengatakan...

mau tanya ustadz,

1. apa hukumnya membaca doa yang biasa pada tasyahud akhir yakni "allahumma inni a'udzubika ...." pada tasyahud awal? dan kalo tidak salah itu adalah pendapat Ibnu Hazm.

2. menurut antum, apakah dibenarkan bertelekan selalu dengan 'ajn, sedangkan haditsnya -sebagaimana yang telah antum bahas- adalah hasan. dan haditsnya ini menjelaskan keterangan tambahan dari bertelekan, bukankah dengan ini dapat disimpulkan bertelekan dalam sholat adalah dengan 'ajn? sedangkan lafazh bertelekan yang umum adalah dengan tidak 'ajn, apa ini menjadi gugur dengan adanya keterangan 'ajn? apa tidak gugur hanya karena hadits tersebut ghorib dan tidak diriwayatkan mayoritas perawi? bukankah ini mengkonsekuensikan kita untuk selalu 'ajn karena jika diambil kesimpulan "terkadang" maka hadits menggerak-gerakkan jari pun juga dapat disimpulkan seperti itu -yakni terkadang-?

3.mengenai doa istiftah yang "allahumma baa'id baynii ...", yang benar itu akhirnya "bil maa-i wats-tsalji wal-barod" atau yang seperti antum tuliskan? atau dua-duanya boleh?

4. ketika ruku' pandangan juga tetap ke tempat sujud sebagaimana kita berdiri? atau ke bawah sehingga membuat punggung dan kepala lurus dan rata? karena selama ini jika pandangan ke tempat sujud -seperti ketika berdiri- maka ketika ruku akan tidak lurus dengan punggung.

5. apa jika kita sujud tilawah dari posisi berdiri ketika sholat, bangun untuk berdiri kembali dan melanjutkan bacaan itu menggunakan duduk istirahat atau tidak?

mohon jawabannya.
-faisal-

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum Ustadz,

Apakah benar mengenai hadist tentang menggabungkan, atau merapatkan tumit ketika sujud dalam sholat itu syadz/dho'if ?

bagaimana pula dengan artikel ini
http://al-atsariyyah.com/kedua-tumit-dirapatkan-saat-sujud.html

Mohon penjelasannya ustadz
Syukron

Ajie

Anonim mengatakan...

alhamdulillah, menambah pengetahuan ana dan keluarga aamiin.

Anonim mengatakan...

assamu'alaikum.
pak ustadz saya mau tanya?
1. apabila sholat berjamaah, kapan makmum mengucapkan salam, apakah setelah imam mengucapkan salam yang pertama atau kedua?
mohon jawaban dan penjelasannya dari ustadz. jazakallohu khoiron.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam. Boleh keduanya. Yang penting jangan berbarengan, apalagi mendahului imam.

bejo ningrat mengatakan...

Subhanalloh,mohon ijin untuk copy dan kami amalkan serta kami sebarluaskan ustadz...fahrudin,sindurjan rt 05 rw 04 Purworejo Jawa Tengah Indonesia
Apabila di ijinkan mohon sms ke 081 22602938
terimakasih,jazakumulloh

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Silakan.

Anonim mengatakan...

mohon izin menyebarkannya kembali ustadz....jazaakallau khairan.wa baarakallahu fikum....

arif setiawan mengatakan...

ustadz -barakallahu fikum-, afwan ana minta ijin mencetak tulisah antum untuk dijadikan buku dan dibagikan secara cuma-cuma (dengan tetap mencantumkan link antum sebagai sumbernya)

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

wa fiikum baarakallah.

silakan.