Tampilkan postingan dengan label Dialog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog. Tampilkan semua postingan

Hijab dan Udzur Kejahilan

3 komentar

Pertanyaan : "Sesungguhnya kebiasaan di negeri kami adalah para wanita pergi berbelanja memenuhi kebutuhan di pasar tanpa mengenakan hijab. Dan kami tahu bahwa perbuatan tersebut diharamkan. Akan tetapi kami tidak sanggup untuk mengupah pembantu untuk pergi berbelanja memenuhi kebutuhan dikarenakan kefakiran kami. Dan kami - para laki-laki - pun tidak mampu berbelanja untuk memenuhi kebutuhan. Kami khawatir terhadap para wanita kami apabila mereka keluar dengan hijab islamiy, orang-orang kafir akan mengganggu mereka dengan berbagai fitnah dan kedhaliman. Karena kami adalah kaum muslimin yang senantiasa sangat sedikit jumlahnya dan sangat lemah".

DNA Syaafi’iyyah

1 komentar

Jika dikatakan mayoritas penduduk Indonesia adalah Syaafi'iyyah, maka itu benar (meskipun di lapangan banyak juga yang melakoni 'lintas madzhab' dalam sebagian perkara - contoh : zakat fithri dengan uang, musik, cadar, dan yang lainnya). Tak semua penduduk bermadzhab Syaafi'iyyah. Tak ada pula dalil yang mewajibkan kita bermadzhab Syaafi'iyyah dalam semua perkara hanya karena mayoritas penduduk negeri kita Syaafi'iyyah. Seandainya kaedah itu dibenarkan, secara lebih luas, pendapat jumhur ulama menjadi lebih wajib kita ambil dalam setiap permasalahan. Misalnya saja dalam masalah kaffarat sumpah palsu. Jumhur mengatakan tidak ada kaffarat, sedangkan Syaafi'iyyah menetapkannya (https://goo.gl/ecUChX). Toh saya tidak yakin beliau mengambil pendapat jumhur karena pulennya – jika tidak mau dikata fanatik – kecintaan pada madzhab Syaafi'iyyah. Contoh yang lain banyak.

(Bukan) Tragedi

2 komentar

Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy rahimahullah adalah mujtahid mutlak yang tidak berafiliasi dengan madzhab Syaafi'iyyah atau madzhab fiqh lainnya.[1] Beliau menulis kitab Shahiih Al-Bukhaariy berisi hadits-hadits yang disusun dalam bab-bab sesuai fiqhnya. Atau dengan kata lain, fiqh beliau rahimahullah ditunjukkan dalam bab-bab Shahiih Al-Bukhaariy.
Beberapa abad kemudian, Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-'Asqalaaniy rahimahullah (w. 856 H) yang bermadzhab Syaafi'iyyah mensyarah Shahiih Al-Bukhaariy dan membukukannya dalam satu kitab besar berjudul Fathul-Baariy. Kitab beliau ini terkenal dan masyhur di seantero negeri Islam. Dan alhamdulillah, kitab beliau ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Ilusi tentang Salafi

15 komentar

Belum lama ini saya mendengarkan dan menyimak sebuah rekaman video di Youtube berjudul “Manhaj Tarjih Muhammadiyah VS Salafi” dengan durasi 1 jam 18 menit dan 54 detik. Dibawakan oleh seorang tokoh Muhammadiyyah Banjarmasin yang merupakan guru besar sebuah universitas terpandang kota tersebut. Dalam ceramahnya, beliau bercerita tentang ihwal salafi, sejarah dan perkembangannya. Sayang, beliau yang punya kebiasaan memaparkan sesuatu secara ilmiah (namanya juga guru besar), mendadak mempunyai ilusi tentang “Salafi”. Karangan bebas yang disampaikan kepada jama’ah tentang Salafi. Saya tidak mengatakan apa yang beliau sampaikan dari A sampai Z keliru semua. Tidak. Akan tetapi substansi materi yang beliau sampaikan perlu kiranya untuk diluruskan. Jangan sampai masyarakat kebablasan mengkonsumsi makanan kadaluarsa, beracun. Insya Allah, di sini saya akan sedikit dua dikit menuliskan tanggapan/catatan yang barangkali dapat menjadi pembanding dari salah paham yang beredar.

Sebuah Masukan (4)

18 komentar

5.   Pakar Hadits (Takhrij)
Al-Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah dalam sebuah rekaman video pengajian yang berjudul Penjelasan Mengenai Doa Makan (Allahummabariklana) berkata (menit 02:38):
Ada yang berkata begini, saya tanya dulu. Kalau saya baca Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa, shahih atau dla’iif ? (Hadirin : ‘dla’iif). Ooo, dla’iif…. (Tertawa). Dari mana tahunya ? Dari guru… Yuk kita lihat kitab aslinya. Buka dulu Muwaththa’ Imam Malik nomor hadits 2772. Nabi tidak mengatakan. Nabi tidak mengatakan : ‘bacalah bismillah’. Hanya mengatakan : ‘sammilah’. Nama Allah ada berapa ? Banyak. Diantaranya 99. Jadi sepanjang kita menyebut nama Allah, dibuat umum untuk memudahkan. Sepanjang kita menyebut nama Allah dengan bahasa apapun, dengan bismillah, dengan ya Allah, dengan Allahumma, itu sudah benar. Nabi mengajarkan hadits yang panjang di Muwaththa’ Imam Malik kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib. Bagaimana redaksinya ?. Kalau engkau mau makan : Qul, bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban-naar. Hadits itu shahih. Bahkan ada yang lebih panjang lagi. Sekarang darimana munculnya pernyataan hadits itu dla’if ?. Ternyata, ada orang keliru baca kitab. Dibaca di kitab Syaikh Al-Albani pembahasan hadits nomor 6390, pembahasan itu sedang membahas hadits hubungan suami istri. Jadi ada hadits dla’if berbunyi begini : Kalau seorang istri berhubungan, seorang suami istri berhubungan, yang sebelum berhubungannya dia membaca Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban-naar, (hadirin tertawa), betul. Silakan dibuka. Maka anak yang lahir tidak akan disentuh oleh setan. Itu haditsnya. Dibahas oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hadits ini kualitasnya dla’if, karena bertentangan dengan doa shahih yang diajarkan oleh Nabi. Orang-orang mengira, yang dla’if ini hadits tentang makanan. Padahal haditsnya berbeda. Jadi hadits tentang makanan terpisah dengan hadits yang tadi. Yang satu dla’if, yang lainnya shahih. Itu yang penting saya luruskan. Itu banyak sekali. Dan banyak orang keliru

Sebuah Masukan (3)

15 komentar

4.   Asy’ariy ?
Saat membawakan hadits nuzuul dalam video berjudul Selesai Shalat Tahajud, Apa yang Dicontohkan Rasulullah Hingga Salat Fajar?[1] (durasi 01:25:14), Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah berkata (mulai menit 57:41):
Yanzilu rabbuna tabaaraka wa ta’ala – ini hadits qudsi - . Kata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Allah subhaanahu wa ta’ala. Kalimatnya menggunakan Rabb. Yanzilu Rabbunaa… saya agak pelan-pelan ya… Ada nazala, ada habatha. Ada nazala, ada habatha, itu lain. Baca Al-Baqarah ayat 36, eh 38 maaf. Al-Baqarah 38. Dimana Qur’annya ini ?... Qulna-hbithuu minhaa jamii’a. Qulna-hbithuu, ihbithu. Jadi turun itu ada habatha, ada nazala. Qulna-hbithuu minhaa jamii’a. Faimmaa ya’tiyannakum minnii hudaa dan seterusnya ayat. Perhatikan di sini.. Kenapa Adam ketika diturunkan oleh Allah ke bumi, kalimatnya bukan menggunakan nazala, tapi menggunakan habatha. Qulna-hbithuu minhaa jamii’a. Perhatikan. Kalau habatha, turun dengan niat bermukim, dengan niat tinggal. Adam diturunkan ke bumi memang untuk tinggal di bumi. Menjadi khalifah di sana, memperbaiki keadaan bumi. Karena itu kalimat Qur’annya menggunakan habatha. Ini hebatnya bahasa Al-Qur’an. Setiap kalimatnya ada makna, bahkan hurufnya. Tapi subhaanallah, ketika menerangkan Allah yang turun ke langit dunia, tidak menggunakan kata habatha, tapi menggunakan kata nazala. Yanzilu Rabbunaa. Yanzilu. Nazala itu turun umumnya dengan tidak niat mukim. Cuma turun saja. Jangan digambarkan di kepala kita Allah turun. Bukan. Maksudnya Allah menurunkan rahmat-Nya. Sudah ada kebahagiaan yang akan diberikan. Allah tidak segambar, tidak terbayang oleh kita, dan tidak serupa dengan apa yang kita gambarkan. Artinya apa ? Kalimat ini mengandung mukjizat yang ingin disampaikan oleh Nabi, tidak menggambarkan, kalau Nabi berkata yahbithu Rabbuna, ini salah kalimat Nabinya, karena Allah tidak menempat, tidak mewaktu. Artinya apa, mohon maaf, tidak disifati dengan tempat dan sifat yang seperti kita menggunakannya. Kalimat nazala artinya, tidak turun untuk menempat, menggunakan isyarat ini, ada kesan dalam kalimat ini, gunakan manfaatnya, itu maksudnya, gunakan peluangnya. ……. (01:00:16).
[selesai].

Kebaikan dan Kejelekan Terjadi atas Takdir (Qadar) Allah

16 komentar

Syaikhul-Islaam Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil Ash-Shaabuuniy rahimahullah (w. 449 H) berkata:
ويشهد أهل السنة ويعتقدون : أن الخير والشر، والنفع والضر [والحلو] والمر بقضاء الله وقدره لا مرد لها ولا محيص ولا محيد عنها ، ولا يصيب المرء إلا ما كتب له ربه ، ولو جهد الخلق أن ينفعوا المرء بما لم يكتب الله له لم يقدروا عليه ، ولو جهدوا أن يضروه بما لم يقضه الله [عليه] لم يقدروا . على ما ورد به خبر عبد الله بن عباس [رضي الله عنهما] ، عن النبي ﷺ . قال الله عز وجل : وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ

Masukan untuk AH hafizohullah

16 komentar

Bagian kedua :  Tafsir al-Qur’an ala Ustadz AH hafizohullah
Menafsirkan al-Qur’an tentu harus berhati-hati, berusaha merujuk kepada tafsiran para salaf - apalagi kalau mengaku bermanhaj salaf -. Terlebih lagi kalau menimbulkan penafsiran model baru dengan model tafsir majaz (kiasan) dan meninggalkan dzohir (tekstual) ayat, lalu menyalahkan tafsir yang sudah dikenal oleh salaf dan kaum muslimin.
Saya rasa hampir seluruh kaum muslimin di dunia ini -termasuk juga di Indonesia- menafsirkan atau menerjemahkan firman Allah “Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim” dengan “Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus”.
Namun ternyata terjemah/tafsir yang selama ini diyakini oleh kaum muslimin dinilai salah oleh al-Ustadz AH !!?

Sebuah Masukan (1)

119 komentar

Belakangan ini kita dihebohkan oleh khabar beredarnya rekaman suara Ustadz Abdullah Taslim yang berkomentar terhadap Ustadz Adi Hidayat, hafidhahumallah. Sebuah rekaman yang asalnya dari grup WA atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau (Ustadz Abdullah Taslim) dari anggota grup tentang Ustadz Adi. Isinya adalah nasihat kepada anggota grup dan tahdzir kepada Ustadz Adi Hidayat terkait dengan manhaj beliau. Sebenarnya, apapun kontennya tidak patut dipermasalahkan[1]. Tahdzir yang beliau katakan adalah wujud pertanggungjawaban atas pengetahuan yang dimiliki, sebagai pembina grup. Tahdzir bukan barang yang asing[2] meski substansinya sah-sah saja jika ada yang tidak sepakat. Yang menjadikan ramai – selain oknum yang menyebarkan keluar grup – adalah gorengan dan tambahan kata-kata oleh oknum tak bertanggung jawab yang bernada provokatif. Misalnya : Kembalilah kepada para asatidz yang jelas manhajnya yaitu para asatidz Rodja yang pasti benar dan di atas manhaj yang benar. Ada juga framing berita dengan judul : Takut Ditinggal Jama’ah! Ustadz Rodja’ Ini Larang Jama’ahnya Dengarkan Ceramah Ustadz Adi Hidayat!. Benar-benar dagelan…. Saya yakin, ini bukan berasal dari Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah, dan memang bukan tipikal beliau. Entah siapa….

Da'i Sunnah

5 komentar

Istilah dai sunnah, pengajian sunnah, dan radio sunnah dewasa ini memang lagi ‘ngetrend’. Istilah ini dipakai untuk entitas yang mengajak kepada sunnah, menisbatkan diri kepada sunnah, cinta kepada sunnah. ‘Ngetrend’ karena ajakan kembali kepada sunnah dan meninggalkan kebid’ahan memang mendapatkan sambutan dan antusiasme yang cukup besar dari masyarakat. Seperti lazimnya dalam ilmu statistik, ada saja data pencilan (outlier) - yang dalam hal ini diwakili himpunan orang-orang yang tidak senang dan tidak tenang terhadap dakwah sunnah dan orang-orangnya. Mereka melakukan berbagai usaha untuk menghentikan atau minimal menghambat perkembangan dakwah sunnah. Yang paling mutakhir adalah ulah sebagian orang yang mengembangbiakkan alergen terhadap istilah dai sunnah, pengajian sunnah, dan radio sunnah sebagaimana disinggung di awal.

Mendemo Nabi ?

7 komentar

Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata dalam Shahih-nya:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ ﷺ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: " اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ "
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid, dari Yaziid bin Kaisaan, dari Abu Haazim, dari Abu Hurairah, ia berkata : “(pada suatu waktu) Nabi berziarah ke kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang di sekitar beliau pun ikut menangis. Beliau bersabda : “Sesungguhnya aku telah memohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampun untuknya, namun Ia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin-Nya untuk menziarahi kuburnya, dan Ia mengizinkanku. Maka berziarahlah kalian ke kubur, karena itu akan mengingatkan kalian kepada kematian[No. 976].
An-Nawawiy rahimahullah berkata tentang hadits di atas:

Zakir Naik Sesat ?

21 komentar

Terus-terang, saya termasuk ‘penggemar’ dr. Zakir Naik hafidhahullah. Banyak video-videonya yang saya ikuti, terutama versi pendek yang ada di Youtube. Satu ketika kemudian, saya pernah ‘tersesat’ menonton satu cuplikan video di Youtube yang berisi ‘kritikan’ terhadap Dr. Zakir Naik. Saya tonton itu video dan coba cari bahasan apa yang diributkan di Google. Dan ternyata, yang ia katakan menjadi booming pentahdziran di berbagai forum, hingga muncullah tuduhan mulhid kepadanya yang berasal dari jawaban seorang ulama. Semula saya abaikan. Toh kalau dibahas, malah membuat orang yang tidak tahu jadi tahu. Lagi pula, fatwa dan isu tersebut – sependek pengetahuan saya waktu itu - belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan menjadi viral broadcast media sosial. Namun, tempo hari saya diberitahukan oleh salah seorang rekan bahwa isu tahdzir Zakir Naik sedang menghangat. Fatwa tahdzir terhadap dr. Zakir Naik diterjemahkan dan disebarkan. Pelakunya dapat ditebak,…. siapa lagi kalau bukan teman dan tetangga usil kita yang satu itu.

Tragedi Banyolan Pak Kiyai

6 komentar

Belum lama ini saya mendengarkan celoteh tak bermutu pak kiyai yang kebetulan didapuk (kembali) menjadi Ketua PBNU. Katanya, orang berjenggot itu identik dengan orang bodoh. Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang. Semakin panjang jenggot, semakin goblok. Lalu ia mencontohkan beberapa orang Indonesia tak berjenggot yang secara isyarat ia ingin mengatakan bahwa orang-orang itu termasuk cerdas, seperti : Gus Dur, Nur Cholish Majid, dan Quraish Shihab. Boleh-boleh saja ia mengatakan mereka cerdas karena tidak berjenggot; meski kita boleh saja mengatakan hal yang sebaliknya.
Berikut celoteh pak kiyai:

Pembagian Bid’ah Secara Syar’i dan Lughawi Buatan Wahabi

15 komentar

Tanya : Benarkah pembagian bid’ah menjadi lughawi dan syar’i merupakan pembagian yang dilakukan Wahabi, khususnya ketika mereka mengatakan perkataan bid’ah yang diucapkan ‘Umar tentang shalat tarawih maksudnya adalah bid’ah secara lughawi ?.
Jawab : Wahabi – terlepas dari pembicaraan apakah setuju atau tidak setuju dengan istilah ini - , jika yang Anda maksudkan adalah orang-orang yang menokohkan Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, dan Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumullah, maka itu tidak benar. Tidak benar perkataan itu dibuat-buat oleh orang-orang Wahabi.

Tawassul Orang Yahudi kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam

0 komentar

Al-Haakim rahimahullah berkata:
أَخْبَرَنِي الشَّيْخُ أَبُو بَكْرٍ بْنُ إِسْحَاقُ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، ثنا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " كَانَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ، فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هُزِمَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ فَعَاذَتِ الْيَهُودُ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ، إِلا نَصَرْتَنَا عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَكَانُوا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَهَزَمُوا غَطَفَانَ، فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَفَرُوا بِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ بِكَ يَا مُحَمَّدُ عَلَى الْكَافِرِينَ
Telah mengkhabarkan kepadaku Asy-Syaikh Abu Bakr bin Ishaaq : Telah memberitahukan Muhammad bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Muusaa : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Haaruun bin ‘Antarah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “Yahudi Khaibar berperang dengan Kabilah Ghathafaan. Setiap bertemu dalam peperangan, orang Yahudi Khaibar selalu lari dan meminta perlindungan dengan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dengan haq (kedudukan) Muhammad, seorang Nabi yang ummi, yang Engkau janjikan kepada kami untuk diutus di akhir zaman, agar Engkau menolong kami”. Maka setiap berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa dengan doa ini sehingga berhasil memukul mundur pasukan Ghathafaan. Dan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam diutus, mereka kufur terhadapnya. Kemudian Allah menurunkan ayat : ‘padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan – melalui perantaraan dirimu, wahai Muhammad - atas orang-orang kafir (QS. Al-Baqarah : 89)” [Al-Mustadrak, 2/263].

Riwayat Ibnu Abi ‘Aufaa Lemah ?

2 komentar

Disebutkan dalam satu artikel sebagai berikut:
Dari Sa’id bin Jumhan rahimahullah, ia berkata, : “Aku pernah mendatangi Abdullah bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- dan beliau adalah seorang yang buta. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata kepadaku “Siapakah kamu?” Aku berkata, “aku Said bin Jumhan”. Beliau berkata, “Apa yang terjadi pada bapakmu?” Aku berkata, “Kaum Khawarij Al Azariqah telah membunuhnya”. Beliau berkata, “Semoga Allah melaknat Al Azariqah, semoga Allah melaknat Al Azariqoh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam mengabarkan kepada kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka”. Aku berkata , “Apakah Al Azariqah saja atau Khawarij seluruhnya?” Beliau berkata, “Bahkan Khawarij seluruhnya”. Aku berkata, “Sesungguhnya penguasa telah menzalimi manusia dan semena-mena terhadap mereka”. Beliaupun menarik tanganku dengan keras seraya berkata, “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah). Apabila penguasa mau mendengar nasehatmu, maka datangilah ia di rumahnya, lalu kabarkan kepadanya apa yang kamu ketahui, semoga ia menerima nasehat darimu. Jika tidak, maka tinggalkan ia, karena sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” (HR. Ahmad dalam Musnad (4/382), Al Hakim dalam Al Mustadrak (no. 6435) dan Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah (no.905), dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 905). Demikian para remaja itu menukilkan.
Jawabannya ialah sayangnya, anak-anak muda itu masih saja berputar-putar mencari riwayat pendukung pandangannya. Dan riwayat yang dibawakan ini juga sangat lemah pada dua rawi yang terdapat padanya, yaitu:

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah Dijamin Surga

15 komentar

Sedang hangat dalam dua pekan ini perihal statement kakek[1] Quraish Shihab tentang tidak dijaminnya surga bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam[2]. Ini menambah daftar statement bermasalah Quraish Shihab dalam masalah agama yang menyebar ke tengah umat[3].
Quraish Shihab menyatakan ketiadaan jaminan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk surga berdalil dengan hadits bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga dengan amalnya. Perkataan ini mengandung dua kekeliruan pokok, yaitu:

Wahabi Mengubah Teks Shahiih Al-Bukhaariy

2 komentar

Apa yang diubah?. Dikatakan, teks riwayat yang diubah adalah ini:
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي مُزَرِّدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ، فَأَخَذَتْ بِحَقْوِ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ لَهُ: مَهْ، قَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَذَاكِ "، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ.
Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Makhlad : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Mu’aawiyyah bin Abi Muzarrid, dari Sa’iid bin Yasaar, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim lalu ia berpegang kepada pinggang Ar-Rahmaan. Allah berfirman kepadanya : ‘Diamlah’. Ia menjawab : ‘Ini adalah kesempatan berlindung kepada-Mu dari pemutusan’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau tidak rela Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?’. Ia menjawab : ‘Ya, wahai Rabbku’. Allah berfirman : ‘Itu untukmu’”. Abu Hurairah berkata : “Bacalah jika engkau mau : ‘Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?’ (QS. Muhammad : 22)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4830].

Pelanggaran Ijma’ oleh Ibnu Taimiyyah dalam Masalah Thalaq

0 komentar

Sebagian orang berkata bahwa Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah melanggar beberapa permasalahan yang telah menjadi ijma’ umat. Salah satu di antaranya adalah masalah thalaq. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa thalaq tiga yang diucapkan dalam satu majelis terhitung satu thalaq, sedangkan hal yang diklaim sebagai ijmaa’ terhitung tiga thalaq (sehingga jatuh thalaq baain kubraa). Benarkah tuduhan tersebut ?.
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :
قال علماؤنا: واتفق أئمة الفتوى على لزوم إيقاع الطلاق الثلاث في كلمة واحدة، وهو قول جمهور السلف، وشذ طاوس وبعض أهل الظاهر إلى أن طلاق الثلاث في كلمة واحدة يقع واحدة، ويروى هذا عن محمد بن إسحاق والحجاج بن أرطأة. وقيل عنهما: لا يلزم منه شيء، وهو قول مقاتل. ويحكى عن داود أنه قال لا يقع. والمشهور عن الحجاج بن أرطأة وجمهور السلف والأئمة أنه لازم واقع ثلاثا.

Wahabi – Bani Tamim – Khawaarij - Dajjaal

18 komentar

Telah terkenal macam-macam tuduhan dari kalangan ‘Aswaja’[1] terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah sebagai Khawaarij dan pengikut Dajjaal. Itu hanya karena beliau rahimahullah keturunan Bani Tamiim dan lahir di daerah Najd. Itulah ringkasan konstruksi logika mereka.
Tentang masalah Najd, saya kira sudah usai permasalahannya karena para ulama telah mendahului kita dalam membahasnya.[2] Kemudian tentang masalah Bani Tamiim,.... orang-orang itu mengatakan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab lah (salah satu) yang dimaksud keturunan bapak Khawaarij generasi pertama, Dzul-Khuwaishirah :