Tampilkan postingan dengan label Dialog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog. Tampilkan semua postingan
Hijab dan Udzur Kejahilan
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
22.35
3
komentar
Label:
Dialog,
Udzur Kejahilan
Pertanyaan :
"Sesungguhnya kebiasaan di negeri kami adalah para wanita pergi berbelanja
memenuhi kebutuhan di pasar tanpa mengenakan hijab. Dan kami tahu bahwa
perbuatan tersebut diharamkan. Akan tetapi kami tidak sanggup untuk mengupah
pembantu untuk pergi berbelanja memenuhi kebutuhan dikarenakan kefakiran kami.
Dan kami - para laki-laki - pun tidak mampu berbelanja untuk memenuhi
kebutuhan. Kami khawatir terhadap para wanita kami apabila mereka keluar dengan
hijab islamiy, orang-orang kafir akan mengganggu mereka dengan berbagai
fitnah dan kedhaliman. Karena kami adalah kaum muslimin yang senantiasa sangat
sedikit jumlahnya dan sangat lemah".
Jika
dikatakan mayoritas penduduk Indonesia adalah Syaafi'iyyah, maka itu benar
(meskipun di lapangan banyak juga yang melakoni 'lintas madzhab' dalam sebagian
perkara - contoh : zakat fithri dengan uang, musik, cadar, dan yang lainnya).
Tak semua penduduk bermadzhab Syaafi'iyyah. Tak ada pula dalil yang mewajibkan
kita bermadzhab Syaafi'iyyah dalam semua perkara hanya karena mayoritas
penduduk negeri kita Syaafi'iyyah. Seandainya kaedah itu dibenarkan, secara
lebih luas, pendapat jumhur ulama menjadi lebih wajib kita ambil dalam setiap
permasalahan. Misalnya saja dalam masalah kaffarat sumpah palsu. Jumhur
mengatakan tidak ada kaffarat, sedangkan Syaafi'iyyah menetapkannya (https://goo.gl/ecUChX). Toh saya tidak
yakin beliau mengambil pendapat jumhur karena pulennya – jika tidak mau dikata fanatik
– kecintaan pada madzhab Syaafi'iyyah. Contoh yang lain banyak.
Muhammad
bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy rahimahullah adalah mujtahid mutlak yang
tidak berafiliasi dengan madzhab Syaafi'iyyah atau madzhab fiqh lainnya.[1]
Beliau menulis kitab Shahiih Al-Bukhaariy berisi hadits-hadits yang
disusun dalam bab-bab sesuai fiqhnya. Atau dengan kata lain, fiqh beliau rahimahullah
ditunjukkan dalam bab-bab Shahiih Al-Bukhaariy.
Beberapa
abad kemudian, Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-'Asqalaaniy rahimahullah (w. 856
H) yang bermadzhab Syaafi'iyyah mensyarah Shahiih Al-Bukhaariy dan
membukukannya dalam satu kitab besar berjudul Fathul-Baariy. Kitab
beliau ini terkenal dan masyhur di seantero negeri Islam. Dan alhamdulillah,
kitab beliau ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Belum lama ini saya mendengarkan dan menyimak
sebuah rekaman video di Youtube berjudul “Manhaj Tarjih Muhammadiyah VS Salafi”
dengan durasi 1 jam 18 menit dan 54 detik. Dibawakan oleh seorang tokoh
Muhammadiyyah Banjarmasin yang merupakan guru besar sebuah universitas terpandang
kota tersebut. Dalam ceramahnya, beliau bercerita tentang ihwal salafi, sejarah
dan perkembangannya. Sayang, beliau yang punya kebiasaan memaparkan sesuatu
secara ilmiah (namanya juga guru besar), mendadak mempunyai ilusi tentang
“Salafi”. Karangan bebas yang disampaikan kepada jama’ah tentang Salafi. Saya
tidak mengatakan apa yang beliau sampaikan dari A sampai Z keliru semua. Tidak.
Akan tetapi substansi materi yang beliau sampaikan perlu kiranya untuk diluruskan.
Jangan sampai masyarakat kebablasan mengkonsumsi makanan kadaluarsa,
beracun. Insya Allah, di sini saya akan sedikit dua dikit
menuliskan tanggapan/catatan yang barangkali dapat menjadi pembanding dari
salah paham yang beredar.
5. Pakar Hadits (Takhrij)
Al-Ustadz Adi Hidayat
hafidhahullah dalam sebuah rekaman video pengajian yang berjudul Penjelasan Mengenai Doa
Makan (Allahummabariklana) berkata (menit 02:38):
“Ada yang berkata
begini, saya tanya dulu. Kalau saya baca Allaahumma baarik lanaa fii maa
razaqtanaa, shahih atau dla’iif ? (Hadirin : ‘dla’iif). Ooo, dla’iif….
(Tertawa). Dari mana tahunya ? Dari guru… Yuk kita lihat kitab aslinya. Buka
dulu Muwaththa’ Imam Malik nomor hadits 2772. Nabi tidak mengatakan. Nabi tidak
mengatakan : ‘bacalah bismillah’. Hanya mengatakan : ‘sammilah’. Nama Allah ada
berapa ? Banyak. Diantaranya 99. Jadi sepanjang kita menyebut nama Allah,
dibuat umum untuk memudahkan. Sepanjang kita menyebut nama Allah dengan bahasa
apapun, dengan bismillah, dengan ya Allah, dengan Allahumma, itu sudah benar. Nabi
mengajarkan hadits yang panjang di Muwaththa’ Imam Malik kepada ‘Aliy bin Abi
Thaalib. Bagaimana redaksinya ?. Kalau engkau mau makan : Qul,
bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa
waqinaa ‘adzaaban-naar. Hadits itu shahih. Bahkan ada yang lebih
panjang lagi. Sekarang darimana munculnya pernyataan hadits itu dla’if ?. Ternyata, ada orang keliru baca kitab. Dibaca
di kitab Syaikh Al-Albani pembahasan hadits nomor 6390, pembahasan itu sedang
membahas hadits hubungan suami istri. Jadi ada hadits dla’if berbunyi begini :
Kalau seorang istri berhubungan, seorang suami istri berhubungan, yang sebelum
berhubungannya dia membaca Allahummaa baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa
‘adzaaban-naar, (hadirin tertawa), betul. Silakan dibuka. Maka anak yang lahir
tidak akan disentuh oleh setan. Itu haditsnya. Dibahas oleh Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani hadits ini kualitasnya dla’if, karena bertentangan dengan
doa shahih yang diajarkan oleh Nabi. Orang-orang mengira, yang dla’if ini
hadits tentang makanan. Padahal haditsnya berbeda. Jadi hadits tentang makanan
terpisah dengan hadits yang tadi. Yang satu dla’if, yang lainnya shahih. Itu
yang penting saya luruskan. Itu banyak sekali. Dan banyak orang keliru”
4. Asy’ariy ?
Saat membawakan
hadits nuzuul dalam video berjudul Selesai Shalat Tahajud, Apa
yang Dicontohkan Rasulullah Hingga Salat Fajar?[1]
(durasi 01:25:14), Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah berkata (mulai menit
57:41):
Yanzilu rabbuna tabaaraka wa ta’ala – ini
hadits qudsi - . Kata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Allah
subhaanahu wa ta’ala. Kalimatnya menggunakan Rabb. Yanzilu Rabbunaa… saya agak
pelan-pelan ya… Ada nazala, ada habatha. Ada nazala, ada habatha, itu lain.
Baca Al-Baqarah ayat 36, eh 38 maaf. Al-Baqarah 38. Dimana Qur’annya ini ?...
Qulna-hbithuu minhaa jamii’a. Qulna-hbithuu, ihbithu. Jadi turun itu ada
habatha, ada nazala. Qulna-hbithuu minhaa jamii’a. Faimmaa ya’tiyannakum minnii
hudaa dan seterusnya ayat. Perhatikan di sini.. Kenapa Adam ketika diturunkan oleh
Allah ke bumi, kalimatnya bukan menggunakan nazala, tapi menggunakan habatha.
Qulna-hbithuu minhaa jamii’a. Perhatikan. Kalau habatha, turun dengan niat
bermukim, dengan niat tinggal. Adam diturunkan ke bumi memang untuk tinggal di
bumi. Menjadi khalifah di sana, memperbaiki keadaan bumi. Karena itu kalimat
Qur’annya menggunakan habatha. Ini hebatnya bahasa Al-Qur’an. Setiap kalimatnya
ada makna, bahkan hurufnya. Tapi subhaanallah, ketika menerangkan Allah yang
turun ke langit dunia, tidak menggunakan kata habatha, tapi menggunakan kata
nazala. Yanzilu Rabbunaa. Yanzilu. Nazala itu turun umumnya dengan tidak
niat mukim. Cuma turun saja. Jangan digambarkan di kepala kita Allah turun.
Bukan. Maksudnya Allah menurunkan rahmat-Nya. Sudah ada
kebahagiaan yang akan diberikan. Allah tidak segambar, tidak
terbayang oleh kita, dan tidak serupa dengan apa yang kita gambarkan. Artinya apa
? Kalimat ini mengandung mukjizat yang ingin disampaikan oleh Nabi, tidak
menggambarkan, kalau Nabi berkata yahbithu Rabbuna, ini salah kalimat Nabinya,
karena Allah tidak menempat, tidak mewaktu. Artinya apa, mohon maaf, tidak
disifati dengan tempat dan sifat yang seperti kita menggunakannya. Kalimat
nazala artinya, tidak turun untuk menempat, menggunakan isyarat ini, ada kesan
dalam kalimat ini, gunakan manfaatnya, itu maksudnya, gunakan peluangnya. …….” (01:00:16).
[selesai].
Kebaikan dan Kejelekan Terjadi atas Takdir (Qadar) Allah
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
21.08
16
komentar
Label:
'Aqidah,
Dialog
Syaikhul-Islaam
Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil Ash-Shaabuuniy rahimahullah (w. 449 H) berkata:
ويشهد أهل السنة ويعتقدون : أن الخير
والشر، والنفع والضر [والحلو] والمر بقضاء الله وقدره لا مرد لها ولا محيص ولا محيد
عنها ، ولا يصيب المرء إلا ما كتب له ربه ، ولو جهد الخلق أن ينفعوا المرء بما لم
يكتب الله له لم يقدروا عليه ، ولو جهدوا أن يضروه بما لم يقضه الله [عليه] لم
يقدروا . على ما ورد به خبر عبد الله بن عباس [رضي الله عنهما] ، عن النبي ﷺ . قال
الله عز وجل : وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ
وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ
Menafsirkan al-Qur’an tentu harus berhati-hati, berusaha
merujuk kepada tafsiran para salaf - apalagi kalau mengaku bermanhaj salaf
-. Terlebih lagi kalau menimbulkan penafsiran model baru
dengan model tafsir majaz (kiasan) dan meninggalkan dzohir (tekstual) ayat,
lalu menyalahkan tafsir yang sudah dikenal oleh salaf dan kaum muslimin.
Saya rasa hampir seluruh kaum muslimin di dunia ini -termasuk
juga di Indonesia- menafsirkan atau menerjemahkan firman Allah “Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim” dengan
“Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus”.
Namun ternyata terjemah/tafsir yang selama ini diyakini
oleh kaum muslimin dinilai salah oleh al-Ustadz AH !!?
Belakangan
ini kita dihebohkan oleh khabar beredarnya rekaman suara Ustadz Abdullah Taslim
yang berkomentar terhadap Ustadz Adi Hidayat, hafidhahumallah. Sebuah
rekaman yang asalnya dari grup WA atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau
(Ustadz Abdullah Taslim) dari anggota grup tentang Ustadz Adi. Isinya adalah
nasihat kepada anggota grup dan tahdzir kepada Ustadz Adi Hidayat terkait
dengan manhaj beliau. Sebenarnya, apapun kontennya tidak patut dipermasalahkan[1].
Tahdzir yang beliau katakan adalah wujud pertanggungjawaban atas pengetahuan
yang dimiliki, sebagai pembina grup. Tahdzir bukan barang yang asing[2]
meski substansinya sah-sah saja jika ada yang tidak sepakat. Yang menjadikan
ramai – selain oknum yang menyebarkan keluar grup – adalah gorengan dan
tambahan kata-kata oleh oknum tak bertanggung jawab yang bernada provokatif.
Misalnya : Kembalilah kepada para asatidz yang jelas manhajnya yaitu para
asatidz Rodja yang pasti benar dan di atas manhaj yang benar. Ada
juga framing berita dengan judul : Takut
Ditinggal Jama’ah! Ustadz Rodja’ Ini Larang Jama’ahnya Dengarkan Ceramah
Ustadz Adi Hidayat!. Benar-benar dagelan…. Saya yakin, ini bukan berasal
dari Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah, dan memang bukan tipikal beliau. Entah
siapa….
Istilah
dai sunnah, pengajian sunnah, dan radio sunnah dewasa ini memang lagi ‘ngetrend’.
Istilah ini dipakai untuk entitas yang mengajak kepada sunnah, menisbatkan diri
kepada sunnah, cinta kepada sunnah. ‘Ngetrend’ karena ajakan kembali
kepada sunnah dan meninggalkan kebid’ahan memang mendapatkan sambutan dan antusiasme
yang cukup besar dari masyarakat. Seperti lazimnya
dalam ilmu statistik, ada saja data pencilan (outlier) - yang dalam hal ini diwakili himpunan orang-orang
yang tidak senang dan tidak tenang terhadap dakwah sunnah dan orang-orangnya.
Mereka melakukan berbagai usaha untuk menghentikan atau minimal menghambat
perkembangan dakwah sunnah. Yang paling mutakhir adalah ulah sebagian orang
yang mengembangbiakkan alergen terhadap istilah dai sunnah, pengajian sunnah, dan radio
sunnah sebagaimana disinggung di awal.
Al-Imaam
Muslim rahimahullah berkata dalam Shahih-nya:
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ ﷺ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى
مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: " اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا
فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي،
فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ "
Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka
berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid, dari
Yaziid bin Kaisaan, dari Abu Haazim, dari Abu Hurairah, ia berkata : “(pada
suatu waktu) Nabi ﷺ berziarah ke kubur ibunya, lalu beliau
menangis sehingga orang-orang di sekitar beliau pun ikut menangis. Beliau ﷺ bersabda : “Sesungguhnya aku telah
memohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampun untuknya, namun Ia tidak mengizinkanku.
Dan aku meminta izin-Nya untuk menziarahi kuburnya, dan Ia mengizinkanku. Maka berziarahlah
kalian ke kubur, karena itu akan mengingatkan kalian kepada kematian” [No. 976].
An-Nawawiy
rahimahullah berkata tentang hadits di atas:
Terus-terang,
saya termasuk ‘penggemar’ dr. Zakir Naik hafidhahullah. Banyak
video-videonya yang saya ikuti, terutama versi pendek yang ada di Youtube. Satu
ketika kemudian, saya pernah ‘tersesat’ menonton satu cuplikan video di Youtube
yang berisi ‘kritikan’ terhadap Dr. Zakir Naik. Saya tonton itu video dan coba
cari bahasan apa yang diributkan di Google. Dan ternyata, yang ia katakan
menjadi booming pentahdziran di berbagai forum, hingga muncullah tuduhan
mulhid kepadanya yang berasal dari jawaban seorang ulama. Semula saya
abaikan. Toh kalau dibahas, malah membuat orang yang tidak tahu jadi
tahu. Lagi pula, fatwa dan isu tersebut – sependek pengetahuan saya waktu itu -
belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan menjadi viral broadcast media
sosial. Namun, tempo hari saya diberitahukan oleh salah seorang rekan bahwa isu
tahdzir Zakir Naik sedang menghangat. Fatwa tahdzir terhadap dr.
Zakir Naik diterjemahkan dan disebarkan. Pelakunya dapat ditebak,…. siapa lagi
kalau bukan teman dan tetangga usil kita yang satu itu.
Belum
lama ini saya mendengarkan celoteh
tak
bermutu pak kiyai
yang kebetulan didapuk (kembali) menjadi Ketua PBNU. Katanya, orang berjenggot
itu identik dengan orang bodoh. Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang.
Semakin panjang jenggot, semakin goblok. Lalu ia mencontohkan beberapa orang Indonesia
tak berjenggot yang secara isyarat ia ingin mengatakan bahwa orang-orang itu termasuk
cerdas, seperti : Gus Dur, Nur Cholish Majid, dan Quraish Shihab. Boleh-boleh
saja ia mengatakan mereka cerdas karena tidak berjenggot; meski kita boleh saja mengatakan hal
yang sebaliknya.
Berikut celoteh pak kiyai:
Pembagian Bid’ah Secara Syar’i dan Lughawi Buatan Wahabi
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
00.13
15
komentar
Label:
Dialog,
Fiqh
Tanya
: Benarkah
pembagian bid’ah menjadi lughawi dan syar’i merupakan pembagian yang dilakukan
Wahabi, khususnya ketika mereka mengatakan perkataan bid’ah yang diucapkan ‘Umar
tentang shalat tarawih maksudnya adalah bid’ah secara lughawi ?.
Jawab
: Wahabi – terlepas dari pembicaraan
apakah setuju atau tidak setuju dengan istilah ini - , jika
yang Anda maksudkan adalah orang-orang yang menokohkan Syaikhul-Islaam Ibnu
Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, dan Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumullah,
maka itu tidak benar. Tidak benar perkataan itu dibuat-buat oleh orang-orang Wahabi.
Tawassul Orang Yahudi kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
00.57
0
komentar
Label:
'Aqidah,
Dialog
أَخْبَرَنِي الشَّيْخُ أَبُو بَكْرٍ بْنُ
إِسْحَاقُ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، ثنا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا عَبْدُ
الْمَلِكِ بْنُ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ سَعِيدِ
بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " كَانَتْ
يَهُودُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ، فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هُزِمَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ
فَعَاذَتِ الْيَهُودُ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ،
إِلا نَصَرْتَنَا عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَكَانُوا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهَذَا الدُّعَاءِ،
فَهَزَمُوا غَطَفَانَ، فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ كَفَرُوا بِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ
بِكَ يَا مُحَمَّدُ عَلَى الْكَافِرِينَ
Telah
mengkhabarkan kepadaku Asy-Syaikh Abu Bakr bin Ishaaq : Telah memberitahukan Muhammad
bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Muusaa : Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Haaruun bin ‘Antarah, dari ayahnya,
dari kakeknya, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa,
ia berkata : “Yahudi Khaibar berperang dengan Kabilah Ghathafaan. Setiap
bertemu dalam peperangan, orang Yahudi Khaibar selalu lari dan meminta perlindungan
dengan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dengan haq (kedudukan) Muhammad, seorang Nabi yang
ummi, yang Engkau janjikan kepada kami untuk diutus di akhir zaman, agar Engkau
menolong kami”. Maka setiap berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa dengan doa
ini sehingga berhasil memukul mundur pasukan Ghathafaan. Dan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam diutus,
mereka kufur terhadapnya. Kemudian Allah menurunkan ayat : ‘padahal
sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan –
melalui perantaraan dirimu, wahai Muhammad - atas orang-orang kafir’ (QS.
Al-Baqarah : 89)” [Al-Mustadrak,
2/263].
Riwayat Ibnu Abi ‘Aufaa Lemah ?
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
14.53
2
komentar
Label:
Dialog,
Hadits
Disebutkan
dalam satu artikel sebagai berikut:
Dari Sa’id bin
Jumhan rahimahullah, ia berkata, : “Aku pernah mendatangi Abdullah bin
Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- dan beliau adalah seorang yang buta. Aku
mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata kepadaku “Siapakah kamu?” Aku
berkata, “aku Said bin Jumhan”. Beliau berkata, “Apa yang terjadi pada
bapakmu?” Aku berkata, “Kaum Khawarij Al Azariqah telah membunuhnya”. Beliau
berkata, “Semoga Allah melaknat Al Azariqah, semoga Allah melaknat Al Azariqoh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam mengabarkan kepada
kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka”. Aku berkata , “Apakah Al
Azariqah saja atau Khawarij seluruhnya?” Beliau berkata, “Bahkan Khawarij
seluruhnya”. Aku berkata, “Sesungguhnya penguasa telah menzalimi manusia dan
semena-mena terhadap mereka”. Beliaupun menarik tanganku dengan keras seraya
berkata, “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul
a’zhom (Ahlus Sunnah). Apabila penguasa mau mendengar nasehatmu, maka
datangilah ia di rumahnya, lalu kabarkan kepadanya apa yang kamu ketahui,
semoga ia menerima nasehat darimu. Jika tidak, maka tinggalkan ia, karena
sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” (HR. Ahmad dalam Musnad (4/382),
Al Hakim dalam Al Mustadrak (no. 6435) dan Ibnu Abi Ashim dalam As
Sunnah (no.905), dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul
Jannah: 905). Demikian para remaja itu menukilkan.
Jawabannya
ialah sayangnya, anak-anak muda itu masih saja berputar-putar mencari riwayat
pendukung pandangannya. Dan riwayat yang dibawakan ini juga sangat lemah pada
dua rawi yang terdapat padanya, yaitu:
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah Dijamin Surga
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
17.47
15
komentar
Label:
Dialog
Sedang
hangat dalam dua pekan ini perihal statement kakek[1]
Quraish Shihab tentang tidak dijaminnya surga bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam[2].
Ini menambah daftar statement bermasalah Quraish Shihab dalam masalah agama
yang menyebar ke tengah umat[3].
Quraish
Shihab menyatakan ketiadaan jaminan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
masuk surga berdalil dengan hadits bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga
dengan amalnya. Perkataan ini mengandung dua kekeliruan pokok, yaitu:
Wahabi Mengubah Teks Shahiih Al-Bukhaariy
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
01.53
2
komentar
Label:
Dialog
Apa
yang diubah?. Dikatakan, teks riwayat
yang
diubah adalah ini:
حَدَّثَنَا
خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ
بْنُ أَبِي مُزَرِّدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "
خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ، فَأَخَذَتْ بِحَقْوِ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ لَهُ: مَهْ، قَالَتْ:
هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ
أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ:
فَذَاكِ "، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: فَهَلْ
عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا
أَرْحَامَكُمْ.
Telah
menceritakan kepada kami Khaalid bin Makhlad : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan,
ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Mu’aawiyyah bin Abi Muzarrid, dari Sa’iid
bin Yasaar, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Allah menciptakan makhluk, ketika
Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim lalu ia berpegang kepada pinggang Ar-Rahmaan. Allah berfirman kepadanya : ‘Diamlah’.
Ia menjawab : ‘Ini adalah kesempatan berlindung kepada-Mu dari pemutusan’.
Allah berfirman : ‘Apakah engkau tidak rela Aku menyambung orang yang menyambungmu
dan memutus orang yang memutusmu?’. Ia menjawab : ‘Ya, wahai Rabbku’. Allah
berfirman : ‘Itu untukmu’”. Abu Hurairah berkata : “Bacalah jika engkau mau
: ‘Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi
dan memutuskan hubungan kekeluargaan?’ (QS. Muhammad : 22)” [Diriwayatkan
oleh Al-Bukhaariy no. 4830].
Pelanggaran Ijma’ oleh Ibnu Taimiyyah dalam Masalah Thalaq
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
17.03
0
komentar
Label:
Dialog,
Fiqh
Sebagian
orang berkata bahwa Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah melanggar beberapa
permasalahan yang telah menjadi ijma’ umat. Salah satu di antaranya
adalah masalah thalaq. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa thalaq tiga
yang diucapkan dalam satu majelis terhitung satu thalaq, sedangkan hal
yang diklaim sebagai ijmaa’ terhitung tiga thalaq (sehingga jatuh
thalaq baain kubraa). Benarkah tuduhan tersebut ?.
Al-Qurthubiy
rahimahullah berkata :
قال
علماؤنا: واتفق أئمة الفتوى على لزوم إيقاع الطلاق الثلاث في كلمة واحدة، وهو قول
جمهور السلف، وشذ طاوس وبعض أهل الظاهر إلى أن طلاق الثلاث في كلمة واحدة يقع
واحدة، ويروى هذا عن محمد بن إسحاق والحجاج بن أرطأة. وقيل عنهما: لا يلزم منه
شيء، وهو قول مقاتل. ويحكى عن داود أنه قال لا يقع. والمشهور عن الحجاج بن أرطأة
وجمهور السلف والأئمة أنه لازم واقع ثلاثا.
Wahabi – Bani Tamim – Khawaarij - Dajjaal
Diposting oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
15.15
18
komentar
Label:
Dialog
Telah
terkenal macam-macam tuduhan dari kalangan ‘Aswaja’[1]
terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah sebagai
Khawaarij dan
pengikut
Dajjaal.
Itu hanya karena beliau rahimahullah keturunan Bani Tamiim dan lahir di
daerah Najd. Itulah ringkasan konstruksi logika mereka.
Tentang
masalah Najd, saya kira sudah usai permasalahannya karena para ulama telah
mendahului kita dalam membahasnya.[2]
Kemudian tentang masalah Bani Tamiim,.... orang-orang itu mengatakan bahwa
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab lah (salah satu) yang dimaksud keturunan
bapak Khawaarij generasi pertama, Dzul-Khuwaishirah :
Langganan:
Postingan (Atom)



















