Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Surat Terbuka Untuk Kaum Muslimin Di Pamekasan

15 komentar

Assalamua’laikum wr.wb.
Mengawali surat ini kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wataála atas semua limpahan rahmat dan nikmat-Nya hingga kita semua berada dalam keadaan sehat wal áfiat. Shalawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahua’laihi wasallam, keluarga, para sahabatnya dan orang – orang yang senantiasa istiqamah dalam mengikuti petunjuknya.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Surat ini sengaja kami tulis sebagai respon sekaligus klarifikasi atas peristiwa yang menimpa ustad Zainuddin yang kebetulan kami undang untuk mengisi pengajian di Masjid Ridwan, pada hari Sabtu, 7 Maret 2015. Penting bagi kami untuk memberikan informasi kepada masyarakat Pamekasan pada umumnya dan Jamaah Masjid Ridwan pada khususnya. Peristiwa ini benar – benar diluar dugaan kami, dan hampir tak pernah terbayangkan sedikitpun pada diri kami, bahwa di bumi Gerbangsalam ini kejadian yang sangat menciderai ukhuwah islamiyyah ini harus terjadi.

Imel untuk Seorang Teman

9 komentar

Prolog : Ini adalah sekelumit diskusi saya dengan salah seoang teman tentang masalah Murji’ah. Semoga ada manfaatnya apa yang tertulis di sini…..
Wa’alaikumus-salaam warahmatullaahi wabarakaatuh
Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas imel yang antum sampaikan kepada saya. Selanjutnya…….

Surat Singkat - undocumented

54 komentar

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Terkait dengan tulisan Anda di : http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2010/08/24/risalah-%E2%80%98amman-disanjung-ali-hasan-tapi-difatwa-sesat-oleh-syaikh-shalih-al-fauzan-hafizahullah/ , Anda begitu bersemangat mencela Asy-Syaikh ‘Aliy yang memuji Risaalah ‘Ammaan, dengan menukil perkataan Asy-Syaikh Al-Fauzaan hafidhahumallaah. Tahukah Anda bahwa Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Sulaimaan bin Manii’ (anggota Haiah Kibaaril-’Ulamaa) hafidhahullaah menghadiri pertemuan dan men-taqrir Risalah ‘Ammaan tersebut ? Jika Anda menyesatkan Asy-Syaikh ‘Aliy, mengapa Anda tidak menyesatkan beliau ? Begitu juga Khadiim Al-Haramain (raja Saudi) ?. Tidak lain karena ini merupakan celah yang bisa Anda gunakan bagi Anda dan kelompok Anda dalam rivalitas dan menggelorakan semangat sektarian.

Surat Ini Untukmu

1 komentar

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka… Wahai anakku! Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi… Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu. Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku. Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku! Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku. Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya. Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu. Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!! Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi. Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti. Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, "Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!" (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu? Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu . Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku! Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik. Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain. Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits : "Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!" (HR. Ahmad)

Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah. Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "Kemudian apa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Berbakti kepada kedua orang tua", dan aku berkata: "Kemudian, wahai Rasulullah!" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah", lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas. Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya? Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya : "Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang", dikatakan, "Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, "Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga". (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku. Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… "Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…" Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu. Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu

Diketik ulang dari buku ‘Kutitip Surat Ini Untukmu’ karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah

**********

Selamat jalan ustadzunal-karim,..... semoga Allah membalas segala kebaikanmu dan mengampuni segala kesalahanmu.

Copas oleh Abul-Jauzaa' dari milis salafyitb.

Jarak antara adzan dan iqamah

7 komentar

Tulisan ini adalah saran yang saya berikan kepada pengurus DKM Masjid Al-Hijri Perumahan Ciomas Permai Bogor beberapa bulan yang lalu; terkait dengan pembahasan jarak antara adzan dan iqamat. Beberapa jama'ah masjid mengeluhkan tentang cepatnya waktu iqamat setelah adzan dikumandangkan sehingga beberapa diantara mereka masbuq shalat berjama'ah. Oleh karena itu, diadakanlah rapat untuk membahas hal tersebut. Musyawarah terjadi antara "golongan" yang menginginkan perubahan dengan "golongan" yang ingin tetap mempertahankan tradisi (iqamat tidak terlalu lama). Waktu itu, saya sempat memberikan sedikit penjelasan singkat. Beberapa jama'ah lain pun melengkapi dan saling memberikan informasi tambahan. Walhasil, keputusan rapat pun "mengarah" kepada adanya perubahan (walau tidak tegas diputuskan, sebab masih ada orang yang ngotot dengan kebiasaan lama). Sehari kemudian saya menuliskan risalah ini yang kemudian ditempel dan diperbesar oleh seorang teman. Pengaturan waktu iqamat yang lebih longgar pun dilakukan walau seringkali saya disindir dengan perkataan : "belum sepuluh menit nih" (yang dikatakan berulang-ulang setiap menjelang iqamat). Saya dianggap sebagai "biang kerok". Tata waktu iqamat yang lebih longgar dijalankan hanya beberapa pekan saja yang kemudian kembali ke kebiasaan lama. Tapi tidak apalah,..... setidaknya dengan tulisan ini, beberapa orang mengetahui kedudukan permasalahan sesuai dengan sunnah, walau saat ini belum bisa dijalankan dengan sepenuhnya. Berikut isi tulisan dimaksud yang semoga memberi kemanfaatan kepada Pembaca sekalian (dengan proses editing tentunya) :

Dalam rapat pengurus DKM akhir tahun yang dilaksanakan kemarin malam (31 Desember 2007 ; pukul 20.00 – selesai) ada sebuah bahasan menarik tentang : Berapa Lama Jarak Antara Adzan dan Iqamah ? Bahasan ini muncul di rapat karena ada kritik/saran dari sebagian jama’ah yang menganggap bahwa iqamat yang dilaksanakan di Masjid Al-Hijri terlalu cepat. Dengan memohon pertolongan Allah - pada kesempatan ini - kami akan mencoba menuliskan secara ringkas tentang bahasan tersebut yang semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Akan kami sebutkan beberapa hadits yang disebutkan para ulama terkait dengan permasalahan ini, yaitu :

  1. Hadits Jabir radliyallaahu ‘anhu [1] :

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبلال يَا بِلالُ إِذَا أَذَنْتَ فَتَرَسَّلْ فِيْ أَذَانِكَ وَإِذَا أَقَُمْتَ فَأَحْدُرْ وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اْلآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ وَاْلمُعْتَصِرُ إِذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ وَلا تَقُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْنِيْ

    Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal : “Wahai Bilal, apabila engkau mengumandangkan adzan, maka lakukanlah dengan tempo yang lambat. Dan apabila engkau mengumandangkan iqamah, maka lakukanlah dengan tempo yang cepat. Jadikanlah jarak antara adzanmu dan iqamahmu seukuran waktu yang dibutuhkan seseorang yang sedang makan menyelesaikan makannya, orang yang sedang minum menyelesaikan minumnya, dan orang yang sedang buang hajat bisa menyelesaikannya pula. Dan janganlah engkau beriqamat hingga engkau melihatku” [HR. Tirmidzi no. 195].

    Dhahir sanad hadits ini adalah sangat lemah karena perawi yang bernama Abdul-Mun’im As-Siqaa’. Ia seorang perawi matruk ( = perawi yang ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar dalam At-Tahdzib (6/431-432). Adz-Dzahabi menukil perkataan Imam Al-Bukhari : “Munkarul-Hadits” (Mizaanul-I’tidaal 2/669). Selain itu, guru Abdul-Mun’im, yaitu Yahya bin Muslim Al-Baka’ juga seorang perawi dla’if (Tahdzibut-Tahdzib 11/279). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 732) [2], dengan sanad yang lebih lemah daripada sanad Imam At-Tirmidzi karena ada penyelisihan (tambahan perawi), yaitu ‘Amr bin Faaid Al-Aswari, antara Abdul-Mun’im dan Yahya. Sementara Imam Ad-Daruquthni berkata tentangnya : “Matruk” (Mizaanul-I’tidaal 3/283).

  2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu yang semakna dengan hadits nomor 1 [3] sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa. Hadits ini juga mempunyai kelemahan adanya perawi yang bernama Shubaih bin ‘Umar. Ia adalah majhul (tidak diketahui identitasnya) (Lihat Lisaanul-Miizan 3/221). Imam Al-Baihaqi berkata mengenai hadits ini : “Tidak ma’ruf (dikenal)”.

  3. Hadits ‘Ubay bin Ka’b radliyallaahu ‘anhu [4]:

    قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا بِلالُ اجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ نَفْساً يَفْرُغُ اْلآكِلُ مِنْ طَعَامِهِ فِيْ مُهْلٍ وَيَقْضِى اْلمُتَوَضِّئُ حَاجَتَِهِ فِيْ مُهْلٍ

    Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Bilal, jadikanlah jarak antara adzan dan iqamahmu seukuran waktu yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang makan menghabiskan makanannya dengan tidak tergesa-gesa, dan orang yang hendak buang hajat menyelesaikannya dengan tidak tergesa-gesa” [HR. Ahmad no. 21323].

    Sanadnya dla’if karena perawi yang bernama Abul-Jauzaa’ (Abdullah bin Al-Jauzaa’). Ia adalah perawi majhul ‘ain karena tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Abdullah bin Fadhl.

  4. Hadits Salman radliyallaahu ‘anhu sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Jam’ul-Jawaami’ (no. 616) dari Abusy-Syaikh yang disebutkan beliau tanpa sanad.

Secara keseluruhan (dengan penggabungan keempat hadits di atas), ada ulama yang menyimpulkan bahwa hadits tersebut adalah hasan lighairihi [5]. Namun ada pula yang mendla’ifkan karena dianggap kedlaifan masing-masing hadits sangat parah sehingga tidak bisa saling menguatkan [6].

Ada hadits lain yang dianggap secara eksplisit menunjukkan jarak waktu antara adzan dan iqamat, yaitu :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مغَفَل اْلمزَنِيْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ كلِّ أَذَانَيْنِ صَلاةٌ ثَلاثاً لِمَنْ شَاءَ

Dari Abdillah bin Mughaffal A-Muzani : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Antara dua adzan (yaitu antara adzan dan iqamat – Abul-Jauzaa') terdapat shalat – beliau mengucapkannya tiga kali – bagi yang ingin mengerjakannya” [HR. Bukhari no. 598 dan Muslim no. 838].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya kadang datang ke masjid setelah adzan berkumandang [7]. Maksudnya, sebelum iqamat dikumandangkan beliau dan juga para shahabat masih sempat mengerjakan beberapa sunnah masyru’ah seperti :

  1. Shalat sunah tahiyyatul-masjid, sebab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

    إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ اْلمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

    “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka shalatlah dua raka’at sebelum ia duduk” [HR. Muslim no. 714].[8]

  2. Shalat sunnah rawatib dua atau empat raka’at (seperti telah ditulis sebelumnya tentang shalat sunnah antara adzan dan iqamat), sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam :

    مَنْ صَلَّى فِيْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْت فِيْ اْلجَنَّةِ أَرْبَعاً قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاةِ اْلفَجْرِ

    “Barangsiapa yang shalat sehari semalam duabelas raka’at akan dibangunkan baginya rumah di surga : Empat raka’at sebelum Dhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah ‘isya’, dan dua raka’at sebelum shubuh” [HR. Tirmidzi no. 415; shahih].

  3. Berdoa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ


    “Tidak akan ditolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah” [HR. Nasa’i dalam Amalul-Yaum wal-Lailah no. 67-69, Ibnu Khuzaimah no. 425-427, dan At-Tirmidzi no. 3594; shahih].

Tiga hal inilah yang hendaknya diperhatikan bagi seorang muadzin untuk “mengatur” jarak waktu antara adzan dan iqamah. Sebuah waktu yang longgar bagi kaum muslimin untuk melaksanakan hal-hal yang disunnahkan dalam syari’at. Dikecualikan dalam hal ini adalah waktu maghrib, sebab waktu ini adalah sempit. Imam An-Nawawi berkata : “Para shahabat kami (dari kalangan ulama Syafi’iyyah) telah sepakat tentang disunnahkannya mengadakan jarak waktu (antara adzan dan iqamat) ini seukuran masa bagi berkumpulnya orang-orang yang hendak berjama’ah shalat. Kecuali untuk shalat maghrib, maka tidak boleh menundanya (sampai orang-orang berkumpul semua) karena waktunya sempit” [Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab 3/127]. Walaupun sempit, setidaknya para jama’ah yang telah hadir dapat tetap diberi kesempatan untuk melakukan shalat rawatib dua raka’at [9].

Kesimpulan : Jarak waktu antara adzan dan iqamah hendaknya cukup longgar bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan dirinya datang ke masjid; mulai dia berwudlu, berpakaian, berjalan menuju masjid, dan melakukan hal-hal yang disunnahkan sebagaimana telah dijelaskan. Orang yang berhak memerintah untuk mengumandangkan iqamat adalah imam rawatib [10]. Seorang muadzin tidak boleh beriqamah kecuali mendapat ijin dari imam. Namun imam pun juga harus memperhatikan kondisi jama’ahnya. Jika jama’ah telah berkumpul, maka hendaknya ia memerintahkan muadzin untuk beriqamah. Sebaliknya, jika jama’ah belum berkumpul, maka imam hendaknya menunggu sampai jama’ah berkumpul [11]. Inilah fungsi imam yang baik, sebab imam adalah penanggung jawab pelaksanaan shalat berjama’ah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اْلإِمَامُ ضَامِنٌ وَاْلمُؤَذِّنُ مَؤتَمِنٌ اللَّهُمَّ أَرْشِدِ اْلأَئِمَّةِ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِيْنَ

“Imam adalah orang yang menanggung, dan muadzin adalah orang yang dapat dipercaya (oleh imam dalam menjaga waktu-waktu shalat). Ya Allah, tunjukilah para imam dan ampunilah para muadzin” [HR. Abu Dawud no. 517,518; At-Tirmidzi no. 207; dan yang lainnya. Hadits ini shahih].

Kira-kira jika hal ini dipraktekkan, jeda waktu antara adzan dan iqamah setidaknya 10 - 15 menit. Bisa disesuaikan melihat kondisi jama’ah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi perbaikan shalat berjama’ah di masjid kita tercinta. Wallaahu a’lam. [Abul-Jauzaa' – D17 no. 15 Ciper – Abul.Jauzaa@gmail.com – 081569812**].

Catatan kaki :

[1] Sanad hadits ini adalah : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hasan : Telah menceritakan kepada kami Al-Ma’la bin Asad : Telah menceritakan kepada kami Abdul-Mun’im, dia adalah Shahibus-Siqaa’ ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muslim dari Al-Hasan dan ‘Atha’ dari Jabir bin ‘Abdillah : …[selanjutnya disebutkanlah haditsnya]…

[2] Sanad hadits ini adalah : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Ishaq : Telah memberitakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdil-‘Aziz : Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hammad bin Abi Thalib : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Mun’im bin Nu’aim Ar-Riyahi : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Faid Al-Aswari : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muslim, dari Al-Hasan dan ‘Atha’ dari Jabir bin ‘Abdillah : …[selanjutnya disebutkan haditsnya]…

[3] Sanad hadits ini adalah : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d, Ahmad bin Muhammad Al-Malini : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ahmad bin ‘Adi Al-Hafidh : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibrahim bin ‘Ali Al-‘Umari : Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Mahdi : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Harits : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan : Telah menceritakan kepada kami Hamdan bin Haitsam bin Khalid Al-Baghdadi : Telah menceritakan kepada kami Shubaih bin ‘Umar As-Sirafi : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Ubaidillah dari Al-Hasan dan ‘Atha’, mereka berdua dari Abu Hurairah, ia berkata : …[selanjutnya disebutkan haditsnya]…

[4] Sanad hadits ini adalah : Telah menceritakan kepada kami Abdullah : Telah menceritakan kepadaku Zakariyyah bin Yahya bin ‘Abdillah bin Abi Sa’id Ar-Raqqaasyi Al-Khazaaz : Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal, dari Ibnul-Fadhl, dari Abu Al-Jauzaa’ dari Abu Bakr dari Ka’ab ia berkata : …[ selanjutnya disebutkan haditsnya]…

[5] Sebagaimana dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (jilid 2 no. 887).

[6] Sebagaimana dikatakan oleh Imam At-Tirmidzi, Imam Al-Baihaqi, dan Syaikh ‘Usamah Al-Quusi dalam Kitaabul-Adzan (hal. 262).

[7] Sebagaimana dijelaskan oleh hadits : { أَنَّ النَّبِىَّ كَانَ يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ } “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah keluar menuju masjid setelah adzan dikumandangkan” [HR. Baihaqi dalam Al-Kubraa 2/19-20; shahih].

[8] Bahkan sebagian ulama menghukuminya wajib !

[9] Tidak langsung diiqamati begitu adzan selesai sebagaimana terjadi di sebagian masjid-masjid. Anas bin Malik mengkhabarkan :

وَكُنَّا نُصَلِّي عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوْبِ الشَّمْسِ قَبْلَ صَلاةِ اْلمَغْرِبِ

“Kami biasa shalat dua raka’at setelah matahari tenggelam sebelum melaksanakan shalat maghrib di masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam” [HR.Muslim no. 836].

[10] Sebagaimana hadits Jabir bin Samurah radliyallaahu ‘anhu : { كان بلال يؤذن إذا دحضت فلا يقيم حتى يخرج النبي صلى الله عليه وسلم فإذا خرج أقام الصلاة حين يراه } “Adalah Bilal mengumandangkan adzan apabila matahari telah tergelincir (yaitu waktu Dhuhur). Dan ia tidak mengumandangkan iqamah sampai melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Apabila ia telah melihat beliau, maka ia pun beriqamah” [HR. Muslim no. 606].

[11] Sebagaimana hadits : {أَنَّ النَّبِىَّ كَانَ يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا رَأَىَ أَهْلَ الْمَسْجِدِ قَلِيلاً جَلَسَ حَتَّى يَرَى مِنْهُمْ جَمَاعَةً ثُمَّ يُصَلِّى ، وَكَانَ إِذَا خَرَجَ فَرَأَى جَمَاعَةً أَقَامَ الصَّلاَةَ.}“Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah keluar menuju masjid setelah adzan dikumandangkan. Jika beliau melihat jama’ah masjid masih sedikit, maka beliau duduk terlebih dahulu hingga mereka berkumpul. Baru kemudian menegakkan shalat berjama’ah. Namun bila beliau keluar dan melihat jama’ah masjid telah berkumpul, maka beliau langsung menegakkan shalat” [HR. Baihaqi dalam Al-Kubraa 2/19-20; shahih].

Surat buat tetangga : Shalawat Nariyyah

18 komentar

Surat ini kira-kira saya buat empat tahun yang lalu (2004) ketika saya dan istri masih bermukim di Kampung Ciomas Rahayu. Kampung asal muasal Kecamatan Ciomas Bogor. Di situ masih sangat kental bau tradisinya. Nah,... surat ini saya buat sebagai buah nasihat ketika rumah tetangga (yang kebetulan guru ngaji) sering mengadakan shalawatan nariyyah. Semoga isi surat ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang kebetulan membaca.............................

==================


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد

Ukhti fillah yang dirahmati Allah ta’ala,

Kami panjatkan doa kepada Allah ta’ala agar Dia selalu memberikan kesehatan dan semangat dalam beribadah kepada ukhti. Dan juga tidak lupa kami katakan bahwa kami mencintai ukhti karena Allah ta’ala, saudara seagama dan seiman, insya allah.

Melalui surat ini kami akan menyampaikan hal-hal yang telah lama kami pendam dalam hati. Namun,…baru kali ini kami beranikan diri untuk menyampaikannya, agar……… kami bisa berhujjah kepada Allah ta’ala kelak bahwa kami tidak menyembunyikan apa-apa yang kami ketahui. Kami berharap ini menjadi pahala keikhlasan bagi kami, sekaligus merupakan perwujudan rasa cinta kami kepada ukhti dalam usaha saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran; yang mana kita akan terhindar cap sebagai golongan orang-orang yang merugi. Allah ta’ala telah berfirman:

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran“ (QS. Al-‘Ashr 1-3).

Ukhti fillah,……… ada dua timbangan dalam agama Islam agar amal ibadah kita diterima. Pertama adalah ikhlash; dan yang Kedua adalah mutaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam). Ikhlash merupakan timbangan hati dimana Allah ta'ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus“ (QS. Al-Bayyinah : 5).

Sedangkan mutaba’ah merupakan timbangan dhahir dimana Allah ta'ala berfirman :

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah” (QS. Al-Ahzab : 21).

Dan juga sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada keterangan dari kami maka ia tertolak ” (Muttafaqun 'alaihi).

Kita diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk mencintai Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Bahkan mencintai Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam merupakan tanda kecintaan kita kepada Allah ta’ala; sebagaimana firman-Nya :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (QS. Ali-Imran : 31).

Perwujudan rasa cinta kita yang terbesar kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam adalah dengan mengikuti petunjuk/sunnah-sunnah beliau shallallaahu ’alaihi wasallam; dengan tidak menambahi dan tidak mengurangi. Islam telah sempurna yang tidak memerlukan tambahan dan pengurangan dari manusia.

Selain itu, sebagai tanda cinta kita kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam, kita juga sangat dianjurkan untuk mengucapakan shalawat kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ (QS. Al-Ahzab : 56).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menjelaskan maksud ayat di atas berkata bahwa Allah ta’ala mengabarkan kepada para hambanya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya di sisi makhluk-Nya yang tinggi. Dimana Allah ta’ala memujinya di hadapan para malaikat yang dekat, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian (Allah ta’ala) memerintahkan penduduk jagad raya bagian bawah (penduduk bumi) agar bershalawat dan mengucapkan salam atasnya, sehingga berkumpul segala pujian atasnya dari dua penghuni alam jagad raya yang di atas dan yang di bawah (Tafsir Ibnu Katsir 3/508).

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah mengabarkan tentang anjuran dan keutamaan bershalawat kepadanya, diantaranya melalui hadits :

  1. Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

    لا تجعلوا بيوتكم قبورا ولا تجعلوا قبري عيدا وصلوا على فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم

    “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai (tempat) hari raya dan jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bershalawatlah kepadaku dimanapun kalian berada karena sesungguhnya shalawat kalian (itu) sampai kepadaku“ (HR Abu Dawud no. 2042; shahih).

  2. Dari Anas bin Malik radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

    من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحطت عنه عشر خطيئات ورفعت له عشر درجات

    “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh shalawat, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat untuknya sepuluh derajat “ (HR. Nasa’i 3/50; shahih).

Bahkan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menggelari “kikir/bakhil” bagi orang yang ketika disebut nama beliau tidak mengucapkan shalawat. Dari hadits Ali bin Husain bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

البخيل الذي من ذكرت عنده فلم يصل علي

“Orang yang bakhil/kikir adalah orang yang ketika aku disebut di dekatnya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku“ (HR. At-Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan selainnya; shahih).

Ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menyebutkan tentang anjuran dan keutamaan bershalawat kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam, tentu beliau tidak lupa menyebutkan bagaimana cara bershalawat tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Ka’ab bin Ujrah radliyallaahu ’anhu. Ia berkata : “Pada suatu hari kami pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ‘Ya Rasulullah, bagaimana Ahlul-Bait bershalawat kepadamu? sebagaimana Allah ta’ala telah mengajari bagaimana bersalam.’ Mendengar pertanyaan itu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ‘Katakanlah :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ؛ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى] آلِ إِبْرَاهيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آل مُحَمَّدٍ؛ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى] آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Juga riwayat lain dari Bukhari yang diambil dari hadits Abu Hamid As-Saidi radliyallaahu 'anhu dengan lafadh :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ [النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ]، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ؛ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى [آلِ] إِبْرَاهيْمَ ، وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ [النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى [آلِ] إِبْرَاهيْمَ فِيْ اْلعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Dan masih banyak lafadh-lafadh lain sebagaimana terdapat lagi masyhur dalam kitab-kitab hadits.

Namun diantara lafadh-lafadh shalawat yang shahih tersebut, ada beberapa lafadh shalawat yang dla’if (lemah), maudlu’ (palsu), laa ashlaalahu (tidak ada asalnya dari kitab induk hadits); yang banyak beredar di kalangan masyarakat. Bila dilihat dari segi matan (isi), banyak diantaranya yang munkar, ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap diri Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan bahkan mengandung muatan syirik. Mungkin diantaranya dapat kami contohkan :

  1. Shalawat Nariyyah

    Shalawat ini sangat masyhur di tengah masyarakat dimana mereka berkeyakinan dengan membaca shalawat ini segala hajat dapat dikabulkan dan segala kesusahan dapat dihilangkan. Shalawat dan keyakinan ini bukanlah berasal dari dalil shahih sepengetahuan kami. Bahkan bila kita mencermati arti dari lafadh tersebut, niscaya akan diketahui beberapa ungkapan ghuluw dan syirik di dalamnya. Secara lengkap, lafadh shalawat tersebut adalah :

    اللَّهُمَّ صَلِّي صَلاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُ بِهِ اْلعُقََدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ اْلكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ اْلحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ اْلرَّغَائِبُ وَحُسْنُ اْلخَوَاتِيْمِ وَيَسْتَسْقَى اْلغَمَامُ بِوَجْهِهِ اْلكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كلِّ مُعْلُوْمٍ لَكَ

    “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan shahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui “.

    ==> Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Qur’an menyeru, dan yang dengannya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah ta'ala semata yang kuasa mengurai segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta manusia ketika berdoa. Setiap muslim tidak boleh berdoa dan memohon kepada selain Allah ta'ala untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah ta'ala). Al-Qur’an mengingkari berdoa kepada selain Allah ta'ala, baik kepada rasul atau wali. Allah ta'ala berfirman :

    قُلِ ادْعُواْ الّذِينَ زَعَمْتُم مّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضّرّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً * أُولَـَئِكَ الّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىَ رَبّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنّ عَذَابَ رَبّكَ كَانَ مَحْذُوراً

    “Katakanlah,’Panggilah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Israa’ : 56-57).

    Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdoa dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat, dan hamba-hamba Allah yang shalih dari jenis makhluk jin.

    ==> Bagaimana mungkin Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau dikatakan kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an turun menyeru kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memaklumkan :

    قُل لاّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاّ مَا شَآءَ اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسّنِيَ السّوَءُ إِنْ أَنَاْ إِلاّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

    “Katakanlah : ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudlaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudlaratan. Aku tidak lain hanya pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman “ (QS. Al-A’raf : 188).

    أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ في بَعْضِ اْلأَمْرِ فَقَالَ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ فَقَالَ النَّبيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَجَعَلْتَنِي للهِ عَدْلا قلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَه

    Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, lalu ia berkata kepada beliau,”Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,”Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah : Hanya atas kehendak Allah semata“ (HR. Nasa’i no. 1085 dengan sanad hasan).

    ==> Apabila hal ini dimaksudkan sebagai tawassul terhadap diri Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dimana beliau telah wafat, maka tawasul seperti ini tidak dapat dibenarkan. Tidak pernah diriwayatkan satu atsar shahih pun dari para shahabat yang melakukan demikian setelah beliau wafat. Juga Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan lain-lain dari kalangan para imam kaum muslimin yang terpercaya. Adapun yang dianggap dalil oleh sebagian orang sebagai dasar perbuatan mereka bertawasul terhadap diri Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan :

    a. hadits tersebut adalah dla’if, maudlu’, atau bahkan tanpa asal;
    b. salah ber-istidlal dan ber-istimbat terhadap suatu dalil shahih.

    Ada beberapa buku bagus yang membahas tentang hal tersebut, dan salah satu yang kami punyai adalah buku “Tawasul & Tabaruk” oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dan Dr. Al-‘Ulyani. Kalau ukhti ingin membacanya, pintu kami selalu terbuka untuk antunna, insya allah.

  2. Dalam Kitab Dalaailul-Khairaat terdapat shalawat dengan lafadh sebagai berikut :

    اللهم صل على محمد حتى لا يبقي من الصلاة شيء، وارحم محمدا حتى لا يبقي من الرحمة شيء

    “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tidak tersisa lagi sedikitpun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad sehingga tidak tersisa sedikitpun rahmat”

    ==> Lafadh shalawat di atas, yaitu menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Hal ini bertentangan dengan firman Allah ta'ala :

    قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

    “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku; meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS. Al-Kahfi : 109).

  3. Lafadh shalawat berikut dan yang semacam/semakna :

    الصلاة والسلام عليك يا رسول الله ضاقت حيلتى فأدركنى يا حبيب الله

    “Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku, maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah “.

    ==> Lafadh shalawat di atas sangat jelas dan nyata bertentangan dengan firman Allah ta'ala :

    أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya? (QS. An-Naml : 62).

    Dan juga sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :

    إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله

    “Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah; dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolonganlah kepada Allah“ (HR. At-Tirmidzi no. 2516; shahih).

  4. Dan lain-lain.

Ukhti……, adapun maksud disampaikannya beberapa penjelasan di atas tidak lain adalah karena kami sering mendengar (dari rumah kami) lafadh-lafadh ‘shalawatan’ dari perkumpulan ibu-ibu yang membaca salah satu shalawat di atas; di rumah ukhti. Dan bila tidak salah,…pertemuan itu diadakan setiap Kamis sore (mohon dikoreksi bila ternyata tidak benar).

Ukhti fillah……… kami pernah membaca sebuah hadits yang dinisbatkan secara shahih dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallm tentang larangan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam :

لا تطروني كما أطرت النصارى بن مريم فإنما أنا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang Nashrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya“ (HR. Bukhari no. 3261).

Para shahabat radliyallaahu 'anhum ajma'in adalah contoh terbaik bagi kita tentang bagaimana sikap mereka dalam mencintai Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tanpa harus berlebih-lebihan (apalagi dengan selain beliau shallallaahu ’alaihi wasallam ?) Anas bin Malik radliyallaahu ’anhu pernah mengabarkan tentang keadaan para shahabat :

لم يكن شخص أحب إليهم من رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : وكانوا إذا رأوه لم يقوموا لما يعلمون من كراهيته لذلك

“Tak seorangpun yang lebih dicintai shahabat daripada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Tetapi bila mereka melihat Rasulullah (hadir), mereka tidak berdiri untuk beliau. Sebab mereka mengetahui bahwa beliau membenci hal tersebut” (HR. At-Tirmidzi no.2754 ; shahih).

Marilah kita contoh para shahabat yang merupakan generasi terbaik ummat. Dan marilah kita bersihkan iman kita dari sikap ghuluw dalam agama. Karena…akibat dari sikap ghuluw inilah yang membinasakan umat-umat sebelum kita dan menjerumuskannya dalam lembah bid’ah serta kesyirikan. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

وإياكم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين

“Janganlah kamu ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sebab sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kamu adalah karena ghuluw (melampaui batas) dalam agama“ (HR. An-Nasa’i no. 3057, Ahmad no. 1851, dan Ibnu Majah no. 3020; shahih).

Allah ta’ala berfirman :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu berbuat syirik (mempersekutukan Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi“ (QS. Az-Zumar : 65).

Ukhti yang disayang Allah ta’ala………, dalam hal ini kami tidak berusaha menghalang-halangi ukhti (atau yang lain) berbuat mencintai Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ataupun malah…… meremehkan beliau. Tidak sama sekali tidak…!! Tidak ada amal apapun dari kita yang akan mampu membalas jasa-jasa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam atas diri kita. Setelah hidayah dari Allah ta’ala, melalui perantaraan beliaulah kita dapat menikmati indahnya Islam dan iman. Kami hanya ingin mengajak bersikap pertengahan (terutama bagi diri kami sendiri) tanpa berlebihan dan meremehkan. Bila mengucapkan shalawat, hadits-hadits shahih dari beliau shallallaahu ’alaihi wasallam telah mencukupi kita. Dan itu adalah yang paling utama sebagai seorang muslim yang mengaku mencintai beliau shallallaahu ’alaihi wasallam sepenuh hati, yaitu dengan mengamalkan sunnah-sunnah yang beliau shallallaahu ’alaihi wasallam wariskan kepada kita.

Terakhir wahai ukhti fillah,……janganlah surat ini menjadi sebuah awal keretakan hubungan persaudaraan kita. Kami sangat berharap bahwa kita dapat lebih saling “dekat” dan cinta. Saling cinta karena Allah ta’ala, dan membenci karena-Nya pula. Bila terdapat kebenaran itu datangnya dari Allah ta’ala, dan apabila terdapat kesalahan maka itu datangnya dari diri pribadi kami yang bodoh lagi lemah dan dari syetan; Allah ta’ala dan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berlepas diri. Tegur sapa dari ukhti senantiasa kami harapkan…………wallaahu a’lam

صلى الله وسلم على نبينا محمد تسليما كثيرا، والحمد لله رب العالمين




أبو وأم عائشة

(...... dan .....)