Ambil yang Baik, Buang yang Buruk



Muhammad bin Siiriin rahimahullah berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”.
Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah Shahiih-nya hal. 24, Ad-Daarimiy no. 433 & 438, Ibnu Abi Syaibah 8/617 no. 27047, Al-‘Uqaliliy dalam Adl-Dlu’afaa’ hal. 24, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 1/253 & 5/287-288, Ibnu Abi Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 2/15, Ibnul-A’raabiy dalam Mu’jam-nya no. 1613, Ibnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya no. 107 & 179 & 511, Khaitsamah bin Sulaimaan dalam Hadiits-nya no. 167, ‘Affaan bin Muslim dalam Hadiits-nya no. 235, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 7/100, Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 1/21, Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’ 2/278, Al-Khathiib dalam Al-Jaami’ li-Akhlaaqir-Raawiy 1/195 no. 141, dan yang lainnya.

Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadh:
إِنَّمَا هَذَا الْحَدِيثُ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَهُ
“Hadits ini hanyalah ilmu agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambilnya”.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam Asy-Syamaail no. 417, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 1/254, Ibnu Abi Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 2/15, Al-Baihaqiy dalam Al-Qiraa’atu Khalfal-Imaam hal. 159, dan Al-Khathiib dalam Al-Kifaayah 1/371 no. 322.
Atsar ini shahih.
Muhammad bin Siiriin Al-Anshaariy, Abu Bakr bin Abi ‘Amrah Al-Bashriy – maulaa Anas bin Maalik; seorang tabi’iy masyhur yang tsiqah lagi tsabat.[1] Termasuk thabaqah ke-3, dan meninggal tahun 110 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 853 no. 5985].
Ia meriwayatkan hadits dari beberapa orang shahabat antara lain Abu Hurairah, ‘Imraan bin Hushain, Ibnu ‘Umar, Anas bin Maalik, ‘Adiy bin Haatim, dan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhum.
Perkataan Ibnu Siiriin di atas, diucapkan pula oleh ulama lain dengan inti pesan yang semisal.
أنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ الْقَاسِمِ التَّمِيمِيُّ، بِدِمَشْقَ، أنا الْقَاضِي أَبُو بَكْرٍ يُوسُفُ بْنُ الْقَاسِمِ الْمَيَانِجِيُّ، نا أَبُو خَلِيفَةَ الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: نا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، قَالَ: إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرْ عَمَّنْ تَأْخُذُ دِينَكَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Utsmaan bin Al-Qaasim At-Tamiimiy di Damaskus : Telah menceritakan kepada kami Al-Qaadliy Abu Bakr Yusuuf bin Al-Qaasim Al-Mayaanijiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Khaliifah Al-Fadhl bin Al-Hubbaab, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, dari Hammaad, dari Ibnu ‘Aun, ia berkata : “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau ambil agamamu” [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Al-Faqiih wal-Mutafaqqih 2/378 no. 1134; sanadnya shahih].
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْمِقَّرِيُّ، قَالَ: ثنا أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ الْقَاضِي، قَالَ: ثنا أَبُو إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي أُوَيْسٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ خَالِيَ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، يَقُولُ: " إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ، لَقَدْ أَدْرَكْتُ سَبْعِينَ عِنْدَ هَذِهِ الأَسَاطِينِ، وَأَشَارَ إِلَى مَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: " يَقُولُونَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَمَا أَخَذْتُ عَنْهُمْ شَيْئًا، وَإِنَّ أَحَدَهُمْ لَوِ ائْتُمِنَ عَلَى بَيْتِ مَالٍ لَكَانَ بِهِ أَمِينًا، إِلا أَنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ هَذَا الشَّأْنِ، وَيَقْدَمُ عَلَيْنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شِهَابٍ، وَهُوَ شَابٌّ، فَيُزْدَحَمُ عَلَى بَابِهِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Ahmad bin ‘Umar Al-Miqqariy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Kaamil Al-Qaadliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Ismaa’iil At-Tirmidziy, ia berkata : Aku mendengar Ibnu Abi Uwais berkata : Aku mendengar pamanku, Maalik bin Anas berkata : “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Sungguh aku telah bertemu dengan 70 orang yang duduk bermajelis di sisi tiang-tiang ini – dan ia berisyarat ke Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam – dimana mereka berkata : ‘Telah bersabda Rasulullah ’. Namun aku tidak mengambil sedikitpun ilmu dari mereka. Dan sesungguhnya jika salah seorang diantara mereka dipercaya untuk mengurusi baitul-maal, maka ia terpercaya. Namun demikian, mereka bukan ahlinya dalam ilmu ini. Lalu datanglah kepada kami Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihaab (Az-Zuhriy), dan ia seorang pemuda. Orang-orang pun berbondong-bondong berkerumun di pintu/majelisnya (untuk mengambil ilmu darinya)” [idem, 2/194-195 no. 851; sanadnya shahih].
نا أبي، نا أحمد بن أبي العباس الرملي، نا ضمرة، قال: قال الأوزاعي: " خذ دينك عمن تثق به وترضى به
Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abil-‘Abbaas Ar-Ramliy : Telah menceritakan kepada kami Dlamrah, ia berkata : Telah berkata Al-Auzaa’iy : “Ambil agamamu dari orang dipercaya dan diridlai agamanya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 2/29; sanadnya hasan].
Perkataan Muhammad bin Siiriin rahimahullah tersebut di atas apabila kita perhatikan, substansinya terambil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan para shahabat. Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sesungguhnya ilmu ini adalah agama’.
Ilmu adalah agama.
Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [QS. Al-Maaidah : 3].
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam” [QS. Aali ‘Imraan : 19].
Allah menamakan petunjuk dan ilmu naafi’ (bermanfaat) yang Rasulullah diutus dengannya sebagai agama (diin). Beliau bersabda:
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ ﷻ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ، كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا مِنْهَا، وَسَقَوْا، وَرَعَوْا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً، وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ، فَعَلِمَ، وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Perumpamaan agama yang Allah mengutusku dengannya berupa petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu Allah jadikan air untuk dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyirami kebun, dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rerumputan/tanaman. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat darinya, dimana dirinya belajar dan mengajarkannya.  Dan juga perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 79 dan Muslim no. 2282].
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesunguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, namun mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang sangat banyak/berlimpah” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/196, At-Tirmidziy no. 2682, Abu Daawud no. 3641, Ibnu Maajah no. 223, dan yang lainnya; shahih].
Ibnu Hibbaan rahimahullah menjelaskan : “Ulama adalah pewaris para nabi, para nabi tidak mewariskan kecuali ilmu, dan ilmu Nabi kita adalah sunnahnya . Maka barangsiapa yang menanggalkan jalan untuk mengetahuinya, maka ia bukan termasuk pewaris para nabi” [Shahiih Ibni Hibbaan, 1/291].
Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian’.
Perkataan ini didasarkan oleh:
1.    Firman Allah :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” [QS. An-Nahl : 43 dan Al-Anbiyaa’ : 7].
Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama rabbaniy. Pengkhususan untuk bertanya kepada ulama terdapat larangan untuk bertanya kepada selain mereka. Tidak bertanya kepada semua orang. Oleh karena itu, di sini terdapat perintah untuk memilih/menyeleksi guru.
2.    Hadits ‘Abdullah bin ‘Amru radliyallaahu ‘anhumaa.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ...وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah : “…Dan akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu”. Mereka (para shahabat) bertanya : “Siapakah ia wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Apa-apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2642; dishahihkan[2] oleh Al-Albaaniy dalam Shahiihul-Jaami’ 5/80].
Masih berkaitan dengan ayat sebelumnya, sabda Nabi ini memberikan petunjuk kepada kita keberadaan al-firqatun-naajiyyah, yaitu kelompok/golongan yang selamat. Mereka beragama di atas pemahaman salaf. Di situ ada ulamanya, tokoh-tokohnya, tempat kita bertanya dan menimba ilmu agama agar selamat.
3.    Hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الْآيَةَ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الأَلْبَابِ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ "
Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Rasulullah membaca ayat ini : ‘Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal’ (QS. Aali ‘Imraan : 7). ‘Aaisyah melanjutkan : “Kemudian Rasulullah bersabda : ‘Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat, mereka itulah yang dimaksud oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka!” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4547, Muslim no. 2665, dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah 2/605 no. 780].
Setelah membawakan riwayat di atas, Ayyuub As-Sakhtiyaaniy rahimahullah berkata:
وَلا أَعْلَمُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الأَهْوَاءِ يُجَادِلُ إِلا بِالْمُتَشَابِهِ
“Aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) yang berdebat kecuali dengan menggunakan ayat mutasyaabihat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah 2/605 no. 780. Diriwayatkan oleh Ibnul-Mundzir dalam Tafsiir-nya no. 237; shahih].
An-Nawawiy rahimahullah menjelaskan:
وَفِي هَذَا الْحَدِيث التَّحْذِير مِنْ مُخَالَطَة أَهْل الزَّيْغ ، وَأَهْل الْبِدَع ، وَمَنْ يَتَّبِع الْمُشْكِلَات لِلْفِتْنَةِ
“Dalam hadits ini terdapat dalil peringatan bergaul dengan orang-orang yang menyimpang, ahli bid’ah, dan orang yang mengikuti musykilaat untuk menimbulkan fitnah” [Syarh Shahiih Muslim, 16/217].
Al-‘Adhiim ‘Aabaadiy rahimahullah berkata:
( فَاحْذَرُوهُمْ )
يَعْنِي لَا تُجَالِسُوهُمْ وَلَا تُكَالِمُوهُمْ فَإِنَّهُمْ أَهْل الزَّيْغ وَالْبِدَع
“Sabda Nabi : ‘Maka waspadalah terhadap mereka’, yaitu jangan bermajelis dengan mereka dan jangan pula berbicara dengan mereka, karena mereka adalah orang yang menyimpang dan ahli bid’ah” [‘Aunul-Ma’buud, 12/227].
4.    Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah : “Seseorang itu menurut agama teman dekatnya. Maka hendaklah masing-masing kalian memperhatikan siapa yang hendak ia jadikan teman” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2378, Abu Daawud no. 4833, Ahmad 2/303 & 2/334, dan yang lainnya; shahih].
Dalam hadits ini, Nabi memerintahkan seorang muslim untuk memilih/menyeleksi orang yang hendak dijadikan teman/sahabat (dan guru), karena dirinya sangat berpotensi mengikuti jalan temannya tersebut.
Al-Khaththaabiy rahimahullah berkata:
قَوْلُهُ: " الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ "، مَعْنَاهُ لا تُخَالِلْ إِلا مَنْ رَضِيتَ دِينَهُ وَأَمَانَتَهُ فَإِنَّكَ إِذَا خَالَلْتَهُ قَادَكَ إِلَى دِينِهِ وَمَذْهَبِهِ، وَلا تُغَرِّرْ بِدِينِكَ، وَلا تُخَاطِرْ بِنَفْسِكَ، فَتُخَالِلْ مَنْ لَيْسَ مَرْضِيًّا فِي دِينِهِ وَمَذْهَبِهِ
“Sabda beliau : ‘Seseorang di atas agama teman dekatnya; maknanya adalah : janganlah berteman dekat kecuali dengan orang yang engkau ridlai agama dan amanatnya. Karena apabila engkau bergaul dekat dengannya, maka ia akan menuntunmu kepada agama dan madzhabnya. Jangan engkau terpedaya dengan agamamu dan jangan pula mempertaruhkan dirimu sehingga engkau berteman dekat dengan orang yang tidak diridlai agama dan madzhabnya” [Al-‘Uzlah hal. 46].
Tidakkah kita perhatikan Fir’aun yang bersamanya Haamaan ?. Perhatikanlah Al-Hajjaaj yang bersamanya Yaziid bin Abi Muslim (sekretarisnya), yang akhirnya Hajjaaj lebih buruk darinya. Perhatikan Khalifah Al-Watsiiq yang bersamanya Ibnu Abi Duad. Namun….. perhatikan pula Khalifah Sulaimaan bin ‘Abdil-Malik dengan temannya Rajaa’ bin Haiwah[3] yang ia menasihati dan meluruskannya……
Al-‘Adhiim Al-Aabaadiy rahimahullah berkata:
( الرجل ) يعني الإنسان ( على دين خليله ) أي على عادة صاحبه وطريقته وسيرته ( فلينظر ) أي يتأمل ويتدبر ( من يخالل ) فمن رضي دينه وخلقه خَالَلَهُ ومن لا تجنبه فإن الطباع سراقة
“(Seseorang), maksudnya manusia; (di atas/menurut agama teman dekatnya), yaitu di atas/menurut kebiasaan, jalan, dan perilaku temannya; (maka perhatikanlah), yaitu telitilah dan pertimbangkanlah; (siapa yang hendak ia jadikan teman), maksudnya siapa saja yang diridlai agama dan akhlaqnya, hendaklah ia jadikan teman dekat. Dan siapa saja yang tidak seperti itu, hendaklah dijauhi karena tabiat (manusia) suka meniru” [‘Aunul-Ma’buud, 13/123].
Hadits ini sesuai dengan hadits lain:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Ruh-ruh itu bagaikan tentara yang berkelompok-kelompok. Jika saling mengenal (mempunyai kesesuaian) di antara mereka, akan bersatu. Namun jika saling mengingkari (tidak ada kesesuaian), akan berselisih” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3336, Muslim no. 2638, Abu Daawud no. 4834, dan yang lainnya].
Maalik bin Diinar rahimahullah berkata:
النَّاسُ أَجْنَاسٌ كَأَجْنَاسِ الطَّيْرِ الْحَمَامُ مَعَ الْحَمَامِ، وَالْغُرَابُ مَعَ الْغُرَابِ، وَالْبَطُّ مَعَ الْبَطِّ، وَالصَّعْوُ مَعَ الصَّعْوِ، وَكُلُّ إِنْسَانٍ مَعَ شَكْلِهِ
“Manusia bermacam-macam seperti jenis-jenis burung. Merpati akan bersama merpati, gagak bersama gagak, bebek bersama bebek, dan sha’wu bersama sha’wu. Maka, setiap orang akan bersama dengan orang yang setipe dengannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah hal. 480 no. 512; shahih].
An-Nawawiy rahimahullah menjelaskan:
قَالَ الْعُلَمَاء : مَعْنَاهُ جُمُوع مُجْتَمَعَة ، أَوْ أَنْوَاع مُخْتَلِفَة . وَأَمَّا تَعَارَفهَا فَهُوَ لِأَمْرٍ جَعَلَهَا اللَّه عَلَيْهِ ، وَقِيلَ : إِنَّهَا مُوَافَقَة صِفَاتهَا الَّتِي جَعَلَهَا اللَّه عَلَيْهَا ، وَتَنَاسُبهَا فِي شِيَمهَا . وَقِيلَ : لِأَنَّهَا خُلِقَتْ مُجْتَمِعَة ، ثُمَّ فُرِّقَتْ فِي أَجْسَادهَا ، فَمَنْ وَافَقَ بِشِيَمِهِ أَلِفَهُ ، وَمَنْ بَاعَدَهُ نَافَرَهُ وَخَالَفَهُ . وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ وَغَيْره : تَآلُفهَا هُوَ مَا خَلَقَهَا اللَّه عَلَيْهِ مِنْ السَّعَادَة أَوْ الشَّقَاوَة فِي الْمُبْتَدَأ ، وَكَانَتْ الْأَرْوَاح قِسْمَيْنِ مُتَقَابِلَيْنِ . فَإِذَا تَلَاقَتْ الْأَجْسَاد فِي الدُّنْيَا اِئْتَلَفَتْ وَاخْتَلَفَتْ بِحَسَبِ مَا خُلِقَتْ عَلَيْهِ ، فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار . وَاَللَّه أَعْلَم
“Para ulama berkata : Maknanya adalah manusia/makhluk akan berkelompok berkumpul bersama, atau jenis/individu-individu yang berlainan. Adapun mereka yang saling mengenal, maka itu terjadi karena adanya kesamaan yang Allah ciptakan padanya. Dan dikatakan : Hal tersebut terjadi karena adanya kesesuaian sifat dan karakter yang Allah ciptakan padanya. Dikatakan pula : Karena mereka awalnya diciptakan berkelompok yang kemudian berpisah jasad-jasadnya. Maka barangsiapa berkesesuaian karakteristiknya, akan saling menyukai; dan barangsiapa yang berbeda karakteristiknya, akan saling menjauh/menghindar dan menyelisihi. Al-Khaththaabiy dan yang lainnya berkata : ‘Kebersamaan mereka terjadi karena sesuatu yang Allah ciptakan padanya sejak awal penciptaan berupa kebahagiaan (di surga) atau kesengsaraan (di neraka)[4]. Arwah/jiwa terdiri dari dua jenis yang saling bertolak-belakang. Apabila jasad-jasad saling bertemu di dunia, mereka akan bersepakat atau berselisihan sesuai kadar yang Allah ciptakan atas mereka. Jiwa-jiwa yang baik akan condong kepada jiwa-jiwa yang baik, sedangkan jiwa-jiwa yang buruk akan condong kepada jiwa-jiwa yang buruk juga. Wallaahu a’lam” [Syarh Shahiih Muslim, 16/185].
‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu berkata:
إِنَّمَا يُمَاشِي الرَّجُلُ وَيُصَاحِبُ مَنْ يُحِبُّهُ، وَمَنْ هُوَ مِثْلُهُ
“Sesungguhnya seseorang berjalan dan bersahabat hanyalah dengan orang yang ia cintai dan orang yang semisal dirinya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah hal. 476 no. 499].
Banyak ulama kita terdahulu menilai dan mengenali seseorang berdasarkan teman dekatnya dan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu berkata:
اعْتَبِرُوا النَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ، فَإِنَّ الْمَرْءَ لا يُخَادِنُ إِلا مَنْ يُعْجِبُهُ
“Nilailah manusia berdasarkan teman dekatnya, karena seseorang itu tidak akan berteman kecuali dengan orang yang membuatnya kagum”
Dalam riwayat lain:
اعْتَبِرُوا النَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ، الْمُسْلِمُ يَتْبَعُ الْمُسْلِمَ، وَالْفَاجِرُ يَتْبَعُ الْفَاجِرَ
“Nilailah manusia berdasarkan teman dekatnya. Seorang muslim akan mengikuti muslim lainnya, dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir lainnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah hal. 439 no. 376 & hal. 477-478 no. 501-503, Ibnu Abid-Dunyaa dalam Al-Ikhwaan hal. 89 no. 38, Ibnu Abi Syaibah 8/423 no. 25984, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 9/209-210 no. 8919; shahih].
Mu’aadz bin Mu’aadz rahimahullah berkata:
يَا أَبَا سَعِيدٍ، الرَّجُلُ وَإِنْ كَتَمَ رَأْيَهُ لَمْ يَخْفَ ذَاكَ فِي ابْنِهِ، وَلا صَدِيقِهِ، وَلا فِي جَلِيسِهِ
“Wahai Abu Sa’iid, seandainya seseorang dapat menyembunyikan pemikirannya namun ia tidak akan dapat menyembunyikannya pada anaknya, teman dekatnya, dan teman duduknya” [idem, hal. 479 no. 509; shahih].
Al-Auzaa’iy rahimahullah berkata:
يُعْرَفُ الرَّجُلُ فِي ثَلاثَةِ مَوَاطِنَ: بِأُلْفَتِهِ، وَيُعْرَفُ فِي مَجْلِسِهِ، وَيُعْرَفُ فِي مَنْطَقِهِ
“Seseorang dikenali dari 3 tempat : pertemanannya, majelisnya, dan perkataannya” [idem, hal. 480 no. 512; shahih].
Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah berkata:
وَقَدِمَ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ الصُّورِيُّ بَغْدَادَ، فَذُكِرَ لأَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، فَقَالَ: انْظُرُوا عَلَى مَنْ نَزَلَ، وَإِلَى مَنْ يَأْوِي
“Muusaa bin 'Uqbah Ash-Shuuriy datang ke Baghdaad, dan kemudian hal itu disebutkan kepada Ahmad bin Hanbal. Maka ia (Ahmad) berkata : ‘Lihatlah kepada siapa ia singgah dan kepada siapa ia berlindung" [idem].
Para ulama membahas dan memperhatikan permasalahan ini dengan sungguh-sungguh karena munculnya fitnah yang merusak agama (dan dunia) seseorang berupa kesyirikan, bid’ah, kejahilan, dan berbagai bentuk kemaksiatan.
Muhammad bin Siiriin rahimahullah berkata:
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ، فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ، فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
“Dulu mereka (para shahabat) tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun ketika terjadi fitnah, mereka berkata : ‘Sebutkan pada kami rijaal kalian’. Maka dilihat jika orang-orang (rijaal)-nya dari kalangan Ahlus-Sunnah, diterima hadits mereka; namun jika dari kalangan ahli-bid’ah, tidak diterima” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah Shahiih-nya hal. 24].
Mulai bermunculan ulama’/da’i suu’ yang berfatwa tanpa ilmu, sebagaimana sabda Nabi :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 100 dan Muslim no. 2673].
Begitu da’i-da’i yang menyeru kepada pintu Jahannam:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Dari Hudzaifah bin Al-Yamaan radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir aku akan menimpaku”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Aku bertanya : “Apakah setelah kejelekan tersebut akan datang kebaikan?”. Beliau menjawab : “Ya, tetapi padanya ada asap”. Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”. Beliau menjawab : “Suatu kaum yang mengambil sunnah bukan dengan sunnahku, dan memberikan petunjuk (kepada manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan mengingkarinya”. Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan tersebut akan datang kejelekan lagi?”. Beliau menjawab : ”Ya, para dai yang menyeru ke pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka, maka mereka akan menjerumuskannya ke dalamnya (Jahannam)”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami ?”. Beliau menjawab : “Ya. Mereka adalah satu kaum yang berasal dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Aku bertanya : “Lantas, apa saranmu seandainya aku menemui hal itu ?”. Beliau menjawab : “Berpegang teguhlah kepada jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”. Aku bertanya : “Apabila mereka tidak memiliki jama’ah dan imam?”. Beliau menjawab : ”Tinggalkan semua kelompok-kelompok (sesat) itu, meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian mendatangimu sedangkan engkau masih dalam keadaan seperti itu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3606 & 7084 dan Muslim no. 1847].
An-Nawawiy rahimahullah berkata:
( دُعَاة عَلَى أَبْوَاب جَهَنَّم مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا )
قَالَ الْعُلَمَاء : هَؤُلَاءِ مَنْ كَانَ مِنْ الْأُمَرَاء يَدْعُو إِلَى بِدْعَة أَوْ ضَلَال آخَر كَالْخَوَارِجِ وَالْقَرَامِطَة وَأَصْحَاب الْمِحْنَة
“Sabda Nabi : ‘Para dai yang menyeru ke pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka, maka mereka akan menjerumuskannya ke dalamnya (Jahannam)’. Para ulama berkata : ‘Mereka berasal dari kalangan umaraa’ yang mengajak kepada bid’ah atau kesesatan lain seperti Khawaarij, Qaraamithah, dan ashhaabul-mihnah” [Syarh Shahiih Muslim, 12/237].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
قوله دعاة على أبواب جهنم أي يدعون الناس إلى العمل بما يولج
“Sabda Nabi : ‘Para dai yang menyeru ke pintu neraka Jahannam’, yaitu menyeru manusia untuk melakukan amalan yang menyebabkan masuk ke dalamnya (Jahannam)” [Fathul-Baariy, 1/117].
………………………………………………….
Kembali pada perkataan Muhammad bin Siiriin rahimahullah:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”.
Apa yang dimaksudkan dengan ilmu dalam ucapan beliau rahimahullah tersebut?
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’iy yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah ; ilmu yang bermanfaat; ilmu yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salaful-ummah.
Sufyaan Ats-Tsauriy rahimahullah berkata:
إِنَّمَا الْعِلْمُ كُلَّهُ الْعِلْمُ بِالآثَارِ
“Bahwasannya seluruh ilmu itu hanyalah ilmu tentang atsar-atsar” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal no. 235].
Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata:
كل العلوم سوى القرآن مشغلة         إلا الحديث وإلا الفقه فِي الدين
 العلم ما كان فيه قَالَ حدثنا         وما سوى ذاك وسواس الشياطين
“Setiap ilmu selain Al-Qur’an menyibukkan, kecuali hadits dan ilmu fiqh dalam agama
Ilmu itu adalah yang pada terdapat qaala haddatsanaa, adapun selainnya adalah waswas setan” [Thabaqaat Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubraa, 1/208].
Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah berkata:
الْعِلْمُ عِنْدَنَا مَا كَانَ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ كِتَابٍ نَاطِقٍ، نَاسِخٍ غَيْرِ مَنْسُوخٍ، وَمَا صَحَّتِ الأَخْبَارُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِمَّا لا مُعَارِضَ لَهُ، وَمَا جَاءَ عَنِ الأَلِبَّاءِ مِنَ الصَّحَابَةِ مَا اتَّفَقُوا عَلَيْهِ، فَإِذَا اخْتَلَفُوا لَمْ يَخْرُجْ مِنَ اخْتِلافِهِمْ فَإِذَا خَفِي ذَلِكَ وَلَمْ يُفْهَمْ فَعَنِ التَّابِعِينَ، فَإِذَا لَمْ يُوجَدْ عَنِ التَّابِعِينَ، فَعَنْ أَئِمَّةِ الْهُدَى مِنْ أَتْبَاعِهِمْ
“Ilmu di sisi kami adalah apa saja yang berasal dari Allah ta’ala dalam Kitabullah, yang naasikh (menghapus) dan bukan yang mansuukh (terhapus); apa saja yang shahih dari hadits-hadits Rasulullah yang tidak ada perselisihan; serta apa saja yang datang dari para ulama kalangan sahabat, yang disepakati oleh mereka. Apabila mereka berselisih pendapat, maka tidak boleh keluar dari perselisihan mereka (menuju pendapat yang lain). Apabila kebenaran tidak nampak dan tidak dapat dipahami, maka kami ambil pendapat dari kalangan taabi’iin (dalam perselisihan mereka tersebut). Apabila tidak didapatkan dari kalangan taabi’iin, maka dari para imam yang berada di atas petunjuk Allah yang mengikuti mereka” [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Al-Faqiih wal-Mutafaqqih, 1/432-433 no. 454; sanadnya shahih].
Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata:
وَاعْلَمْ يَا أَخِي أَنَّ السُّنَنَ وَالْقُرْآنَ هُمَا أَصْلُ الرَّأْيِ وَالْعِيَارُ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ الرَّأْيُ بِالْعِيَارِ عَلَى السُّنَّةِ بَلِ السُّنَّةُ عِيَارٌ عَلَيْهِ، وَمَنْ جَهِلَ الأَصْلَ لَمْ يُصِبِ الْفَرْعَ أَبَدًا
“Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwasannya sunnah dan Al-Qur’an adalah pokok/sumber dari pemikiran dan timbangan terhadapnya (pemikiran). Bukannya pemikiran yang menjadi timbangan terhadap sunnah, akan tetapi sunnah lah yang menjadi timbangan terhadapnya. Barangsiapa yang jahil terhadap pokok (ilmu), maka ia tidak akan mendapatkan cabangnya selamanya” [Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih, 2/1140].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
من بنى الكلام فى العلم الاصول والفروع على الكتاب والسنة والاثار المأثورة عن السابقين فقد أصاب طريق النبوة وكذلك من بنى الارادة والعبادة والعمل والسماع المتعلق باصول الاعمال وفروعها من الأحوال القلبية والاعمال البدنية على الايمان والسنة والهدى الذي كان عليه محمد واصحابه فقد اصاب طريق النبوة وهذه طريق ائمة الهدى
“Barangsiapa yang membangun perkataannya dalam ilmu yang pokok maupun yang cabang di atas Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar-atsar yang ma’tsuur dari para ulama terdahulu, sungguh ia mencocoki jalan kenabian. Begitu juga dengan orang yang membangun keinginan, peribadahan, amalan, dan pendengarannya yang terkait dengan pokok amalan dan cabangnya berupa kondisi hati dan amalan-amalam jasmani di atas keimanan, sunnah dan petunjuk yang ditempuh Muhammad dan para shahabatnya, sungguh ia telah mencocoki jalan kenabian. Inilah jalan yang ditempuh para imam yang mendapatkan petunjuk (dari Allah)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 10/363].
Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata:
العلم النافع يدل على أمرين : أحدهما : على معرفة الله وما يستحقه من الأسماء الحسنى والصفات العلى والأفعال الباهرة ، وذلك يستلزم إجلاله وإعظامه وخشيته ومهابته ، ومحبته ، ورجاءه والتوكل عليه والرضاء بقضائه والصبر على بلائه ، والأمر الثاني : المعرفة بما يحبه ويرضاه ، وما يكرهه وما يسخطه من الاعتقادات والأعمال الظاهرة والباطنة والأقوال ، فيوجب ذلك لمن علمه المسارعة إلى ما فيه محبة الله ورضاه والتباعد عما يكرهه ويسخطه فإذا أثمر العلم لصاحبه هذا فهو علم نافع ، فمتى كان العلم نافعاً ووقر في القلب فقد خشع القلب لله وانكسر له ، وذل هيبة وإجلالا وخشية ومحبة وتعظيما
“Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua perkara. Pertama, menunjukkan pengetahuan terhadap Allah dan apa saja yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang baik, sifat-sifat yang tinggi, dan perbuatan-perbuatan yang mengagumkan. Hal itu berkonsekuensi untuk mengagungkan-Nya, takut kepada-Nya, mencinta-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya, ridla terhadap segala ketentuan-Nya, serta sabar atas segala musibah yang diberikan oleh-Nya. Kedua, mengetahui apa yang dicintai dan diridlai-Nya, serta apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan (i’tiqad), perbuatan yang lahir dan yang batin, serta perkataan. Hal tersebut mewajibkan orang yang mengetahuinya untuk bersegera menuju apa yang dicintai dan diridlai Allah, serta menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu membuahkan semua itu kepada pemiliknya, maka itulah ilmu yang bermanfaat. Ketika ilmu bermanfaat dan menancap di hati, maka hati akan khusyu’ kepada Allah, tunduk dan takut kepada-Nya, serta mencintai dan mengangungkan-Nya” [Fadhlu ‘Ilmis-Salaf, hal 26-27].
Oleh karena itu, tujuan ilmu yang bermanfaat adalah agar seseorang dapat beribadah kepada Allah semata di atas bashiirah, menghasilkan rasa takut dan harap kepada Allah sehingga menggerakkan dirinya untuk mengikuti syari’at yang Nabi dan para shahabatnya berada di atasnya.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
فالعلم النافع ما عَّرف العبد بربِّه ، ودلَّ عليه حتى عرفه ووحَّده وأنس به واستحا من قربه وعَبَده كأنه يراه
“Maka ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menjadikan seorang hamba mengenal Rabbnya, menunjukkannya untuk kepada-Nya hingga ia benar-benar mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya, menyukai-Nya, merasa malu karena kedekatan-Nya (yang senantiasa mengawasi), dan beribadah kepada-Nya seakan-akan ia melihat-Nya” [idem, hal. 28].
Maka, yang dimaksudkan meraih/mencari ilmu yang bermanfaat bukan memperbanyak pengetahuan dan berbangga dengannya. Tidak pula yang dimaksud ilmu yang bermanfaat adalah ilmu secara dzatnya, akan tetapi ilmu yang digunakan sebagai wasilah mendekatkan diri kepada Allah .
‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu berkata:
لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ
“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu (yang hakiki) adalah rasa takut (kepada Allah)” [Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Az-Zuhd no. 866, Ibnu Baththah dalam Ibthaalul-Hiil hal. 78-79 no. 29, Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 1/131, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’u Bayaanil-‘Ilmi no. 1401].
Rasa takut yang dikehendaki adalah rasa takut yang mewariskan ilmu dan pemahaman yang benar tentang syari’at-syari’at Allah beserta hukum-hukumnya. Bukan sekedar rasa takut semata seperti yang ada pada sebagian ahli ibadah. Oleh karena itu, Allah memuji para ulama dengan firman-Nya:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Faathir : 28].
Tidak ada jalan lain untuk mencapainya kecuali dengan keikhlasan dan ittibaa’ kepada jalan Rasulullah dan para shahabat, serta menjauhi bid’ah.
Qawwaamus-Sunnah Abul-Qaasim Al-Ashbahaaniy rahimahullah berkata:
وليس العلم بكثرة الرواية، وإنما هو الإتباع، والاستعمال.
يقتدي بالصحابة، والتابعين وإن كان قليل العلم، ومن خالف الصحابة والتابعين فهو ضال، وإن كان كثير العلم
“Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu hanyalah ittibaa’ dan pengamalan, serta meneladani para shahabat dan taabi’iin, meskipun sedikit ilmu. Barangsiapa yang menyimpang dari shahabat dan taabi’iin, maka ia sesat meskipun banyak ilmu” [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah, 2/437-438].
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata:
العلم ليس هو بكثرة الرواية، ولكنه نور يقذفه الله في القلب، وشرطه الاتباع، والفرار من الهوى والابتداع.
“Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah cahaya yang letakkan ke dalam hati, dan syaratnya adalah ittibaa’ dan menjauhkan/melepaskan diri hawa nafsu dan kebid’ahan” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 13/323].
Barangsiapa yang jauh dari sikap ittibaa’ dan berdekat-dekat dengan bid’ah dan sumbernya, maka jauh pula dirinya dari ilmu bermanfaat yang diinginkan syari’at. Dirinya terjerumus dalam fitnah dan menjadi sumber fitnah bagi orang lain. Maka, ilmu yang bermanfaat hanya dicari dan digali dari para ulama Ahlus-Sunnah yang mengikatkan dirinya pada ittibaa’. Bukan pada ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu, dan para khuthabaa’.
Maka sekali lagi, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian !!
Nabi bersabda:
الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ
Keberkahan bersama akaabir (pembesar/ulama) kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 1954, Ibnu Hibbaan no. 559, Al-Haakim 1/62, dan yang lainnya; shahih].
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلاثًا: إِحْدَاهُنَّ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأصَاغِرِ
Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat ada tiga macam yang salah satunya adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaaghir” [Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhd hal. 64 no. 61, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad 1/85 no. 102, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’u Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih 1/612 no. 1051-1052; shahih].
‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu berkata:
لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ، فَذَلِكَ حِينَ هَلَكُوا
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari kalangan para shahabat Muhammad dan para pembesar (ulama) mereka. Apabila ilmu datang kepada mereka dari kalangan Ashaaghir mereka, maka itulah saat kebinasaan mereka”.
Dalam riwayat lain:
لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ وَعَنْ أُمَنَائِهِمْ وَعُلَمَائِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para pembesar, kalangan terpercaya, dan ulama mereka. Apabila mereka mengambilnya dari kalangan Ashaaghir dan orang-orang yang jelek diantara mereka, binasalah mereka” [Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Az-Zuhd hal. 247 no. 815, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 1/260, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 9/120-121 no. 8589-8592, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal no. 275; shahih].
Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata:
قَالَ نُعَيْمٌ: قِيلَ لابْنِ الْمُبَارَكِ: مَنِ الأَصَاغِرُ؟ قَالَ: الَّذِينَ يَقُولُونَ بِرَأْيِهِمْ، فَأَمَّا صَغِيرٌ يَرْوِي عَنْ كَبِيرٍ فَلَيْسَ بِصَغِيرٍ.
وَذَكَرَ أَبُو عُبَيْدٍ فِي تَأْوِيلِ هَذَا الْخَبَرِ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ كَانَ يَذْهَبُ بِالأَصَاغِرِ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ وَلا يَذْهَبُ إِلَى السِّنِّ، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: وَهَذَا وَجْهٌ، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: وَالَّذِي أَرَى أَنَا فِي الأَصَاغِرِ أَنْ يُؤْخَذَ الْعِلْمُ عَمَّنْ كَانَ بَعْدَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَذَاكَ أَخْذُ الْعِلْمِ عَنِ الأَصَاغِرِ
“Nu’aim berkata : Dikatakan kepada Ibnul-Mubaarak : “Siapakah itu Al-Ashaaghir ?”. Ia menjawab : “Orang yang berkata-kata menurut pikiran mereka semata. Adapun seorang yang kecil (muda usia) yang meriwayatkan hadits dari orang yang tua, maka ia bukan termasuk golongan Ashaaghir itu”.
Abu ‘Ubaid menyebutkan tentang penafsiran hadits ini dari Ibnul-Mubaarak, maka ia berpendapat bahwa maksud Al-Ashaaghir adalah para ahli bid’ah[5]; dan ia tidak berpendapat tentang makna tersebut berkaitan dengan usia (muda)”[6] [Al-Jaami’, 1/612].
Apabila sifat keberkahan dan kebaikan dalam ilmu ada pada ulama Ahlus-Sunnah sedangkan kebinasaan ada pada ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu; adakah bagi kita udzur ini dan itu memilih selain mereka (ulama Ahlus-Sunnah) dalam kebaikan seandainya Nabi mengucapkannya di hadapan kita ?.
Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah berkata:
فلا يجوز الأخذ عن الجُهّال ولو كانوا متعالمين، ولا الأخذ عن المنحرفين في العقيدة بشرك أو تعطيل، ولا الأخذ عن المبتدعة والمنحرفين وإن سُمّوا علماء.
فالأصناف ثلاثة : أهل العلم النافع والعمل الصالح، وأهل العلم بدون عمل، وأهل العمل بدون علم.
وقد ذكر الله – تعالى – هذه الأصناف في آخر سورة الفاتحة، وأمرنا أن نسأله أن يهدينا إلى طريق الصنف الأول، وأن يجنّبنا طريق الصنفين الآخرين، قال – تعالى - :اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ.
فجعل الصنف الأول مُنْعَمًا عليه، والصنف الثاني مغضوبًا عليه، والصنف الثالث ضالاً.
وهذان الصنفان الأخيران يمثلان الفِرق المنحرفة اليوم، وإن كانت تنتسب إلى الإسلام.
“Tidak boleh mengambil ilmu (agama) dari orang-orang bodoh meskipun mereka mengaku pandai. Begitu juga tidak boleh mengambil ilmu dari orang-orang yang menyimpang dalam ‘aqidah berupa kesyirikan atau ta’thiil (menafikkan/menolak sifat Allah – Abul-Jauzaa’). Begitu juga dari kalangan ahli bid’ah dan menyimpang meskipun mereka disebut ulama.
Ada tiga golongan orang, yaitu ulama yang mengajarkan ilmu bermanfaat dan beramal shalaih, ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, dan ulama yang tidak memiliki ilmu.
Allah menyebutkan tiga golongan orang ini dalam surat Al-Faatihah, dan Allah ta’ala memerintahkan kita agar memohon kepada-Nya memberikan petunjuk kepada kita kepada jalan golongan pertama. ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka’ (QS. Al-Faatihah : 6-7). Dan (memerintahkan kita memohon kepada-Nya) agar menjauhkan kita dari jalan dua golongan yang lainnya. Allah ta’ala berfirman : ‘bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’ (QS. Al-Faatihah : 7).
Allah menjadikan golongan pertama sebagai golongan yang dianugerahkan nikmat, golongan kedua adalah golongan yang dimurkai, dan golongan ketiga adalah golongan yang sesat.
Dua golongan terakhir seperti kelompok-kelompok menyimpang pada hari ini, meskipun mereka menisbatkan diri pada Islam” [Al-Ajwibatul-Mufiidah, hal 251-254].
Para ulama Ahlus-Sunnah adalah jalan titian keselamatan, merekalah pewaris para nabi.
Jangan terpedaya dengan kemahiran sebagian ahlul-bid’ah dalam panjangnya kalimat dan bagusnya retorika.
عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: خَطَبَنَا  عَمَّارٌ  فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ، فَلَمَّا نَزَلَ، قُلْنَا: يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ، فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ، فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: " إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا "
Dari Abu Waail, ia berkata : ‘Ammaar pernah memberi khuthbah kepada kami dengan singkat dan padat isinya. Ketika turun (dari mimbar), kami berkata : “Wahai Abu Yaqdhaan, sesungguhnya engkau telah memendekkan dan memadatkan khuthbahmu. Seandainya saja engkau memanjangkannya”. Maka ia menjawab : “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda : ‘Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khuthbah seseorang merupakan tanda dari kedalaman fiqh (pemahaman)-nya (dalam agama). Maka, panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah. Dan sesungguhnya sebagian dari bayan (penjelasan dengan kata-kata indah) adalah sihir” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 869, Ahmad 4/263, Ibnu Khuzaimah no. 1782, dan yang lainnya].
Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu berkata:
خَطَبَ رَجُلٌ عِنْدَ عُمَرَ فَأَكْثَرَ الْكَلامَ، فَقَالَ عُمَرُ: " إِنَّ كَثْرَةَ الْكَلامِ فِي الْخُطَبِ مِنْ شَقَاشِقِ الشَّيْطَانِ "
“Ada seseorang yang berkhuthbah di hadapan ‘Umar, lalu ia memperbanyak perkataannya. ‘Umar lantas berkata : ‘Sesungguhnya banyaknya perkataan dalam khuthbah termasuk kefasihan setan” [Diriwayatkan Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 876; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad hal. 325].
Banyak orang awam menyangka siapapun yang naik mimbar dianggap ulama. Tukang cerita alias pendongeng pun dianggap ulama. Itulah ulama versi orang awam, sebagaimana dikatakan Ibnul-Jauziy rahimahullah:
العالم عند العوام من صعد المنبر
“Orang ‘aalim versi orang awam adalah orang yang naik di atas mimbar” [Al-Qashshaash wal-Mudzakkiriin, hal. 318].
Fenomena ini sudah diisyaratkan ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu dalam perkataannya:
إنَّكُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيرٌ عُلَمَاؤُهُ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ، وَإنَّ بَعْدَكُمْ زَمَانًا كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، وَالْعُلَمَاءُ فِيهِ قَلِيلٌ
“Sesungguhnya kalian berada di zaman yang banyak ulamanya namun sedikit khuthabaa’ (para penceramah)-nya. Dan sesungguhnya zaman setelah kalian nanti akan banyak khuthabaa’-nya namun sedikit ulamanya” [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb dalam Kitaabul-‘Ilm hal. 45 no. 109; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam tahqiq dan takhrij-nya terhadap kitab tersebut].
Da’i tukang cerita/dongeng (Islami?) yang muncul untuk pertama kalinya adalah dari kalangan Khawaarij.
Muhammad bin Siiriin rahimahullah berkata:
أول من قص الخوارج
“Orang yang pertama kali mendongeng (dalam dakwah Islam) adalah Khawaarij”.
dalam riwayat lain:
أنه سأله رجل عن القصص ؟ فقال بدعة ! إن أول ما أحدث الحرورية القصص
Bahwasannya ia (Ibnu Siiriin) pernah ditanya seseorang tentang cerita/dongeng. Maka ia berkata : “Ini bid’ah, sesungguhnya hal yang pertama kali diada-adakan Haruuriyyah adalah cerita/dongeng” [Diriwayatkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Qashshaash, hal. 177 & 343 no. 26 & 196].
Kemudian Ibnul-Jauziy rahimahullah memberikan komentar : “Orang-orang Haruuriyyah menyibukkan diri dengan cerita/dongeng daripada mempelajari dan memahami hukum-hukum Al-Qur’an. Lalu mereka condong kepada pemikiran-pemikiran mereka (yang menyimpang) sehingga mereka pun dicela karenanya” [Al-Qashshaash hal. 344].
Para ulama tidak mengambil ilmu dari orang-orang yang punya pemikiran ‘tak beres’ dan menjauhinya. Mereka mempunyai sikap yang jelas dan tegas dalam permasalahan ini sebagai implementasi pengamalan nash-nash.
Rasulullah bersabda:
سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِى، أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ
Akan ada sekelompok manusia di akhir umatku yang akan berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya tidak pula oleh bapak-bapak kalian, maka berhati-hatilah kalian dan hindarilah mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 6 dan Ahmad 2/321].
Al-Manawiy rahimahullah menjelaskan:
(سيكون في آخر الزمان أناس من أمتي) يزعمون أنهم علماء (يحدثونكم بما لم تسمعوا به أنتم ولا آباؤكم) من الأحاديث الكاذبة والأحكام المبتدعة والعقائد الزائفة (فإياكم وإياهم) أي احذروهم وبعدوا أنفسكم عنهم وبعدوهم عن أنفسكم
“(Sabda Nabi :  Akan ada sekelompok manusia di akhir umatku’), yang menyangka diri mereka ulama. (‘yang akan berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya tidak pula oleh bapak-bapak kalian’), berupa hadits-hadits dusta, hukum-hukum yang diada-adakan (bid’ah), dan ‘aqidah-‘aqidah palsu. (‘maka berhati-hatilah kalian dan hindarilah mereka’), yaitu waspadalah terhadap mereka, serta jauhkanlah diri kalian dari mereka dan jauhkanlah mereka dari diri kalian” [Faidlul-Qadiir, 4/174].
Berikut wejangan beberapa ulama tempo doeloe terkait hal ini:
‘Abdullah Ad-Daanaj rahimahullah berkata:
شَهِدْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، وَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: إِنَّ قَوْمًا يُكَذِّبُونَ بِالشَّفَاعَةِ، فَقَالَ: " لا تُجَالِسُوهُمْ "، فَسَأَلَهُ آخَرُ، فَقَالَ: إِنَّ قَوْمًا يُكَذِّبُونَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالَ: " لا تُجَالِسُوهُمْ "
“Aku menyaksikan Anas bin Maalik yang ketika itu ada seorang laki-laki berkata kepadanya : ‘Sesungguhnya ada satu kaum yang mendustakan syafa’at’. Maka ia (Anas) berkata : ‘Jangan bermajelis dengan mereka’. Kemudian laki-laki itu bertanya lagi yang lain seraya berkata : ‘Sesungguhnya ada satu kaum yang mendustakan adzab kubur’. Maka ia berkata : ‘Jangan bermajelis dengan mereka” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad hal. 1137-1138 no. 2143 dan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah no. 4534; shahih].
Al-Hasan Al-Bashriy dan Ibnu Siiriin rahimahumallah berkata:
لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ، وَلَا تُجَادِلُوهُمْ، وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ
“Jangan bermajelis dengan pengikut hawa nafsu. Jangan berdebat dengan mereka dan jangan pula mendengar (perkataan/ilmu/hadits) dari mereka” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy hal. 391 no. 415; shahih].
Maalik bin Anas rahimahullah berkata:
لقد تركت جماعة من أهل المدينة ما أخذت عنهم من العلم شيئا، وإنهم لممن يؤخذ عنهم العلم، وكانوا أصنافا، فمنهم من كان كذابا في غير علمه، تركته لكذبه، ومنهم من كان جاهلا بما عنده، فلم يكن عندي موضعا للأخذ عنه لجهله، ومنهم من كان يدين برأي سوء
“Sungguh aku meninggalkan sekelompok penduduk Madinah yang tidak aku ambil ilmunya sama sekali, dan mereka bukan termasuk orang yang diambil ilmunya. Mereka terdiri dari beberapa jenis. Diantara mereka adalah pendusta selain dari penyampaian ilmunya, maka aku tinggalkan karena kedustaannya. Diantara mereka adalah orang jahil (bodoh), sehingga ia tidak mempunyai tempat bagiku untuk diambil ilmunya karena kejahilannya. Dan diantara mereka adalah orang yang beragama dengan pemikiran/pandangan yang jelek” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 1/65; sanadnya hasan].
لا يؤخذ العلم من أربعة، رجل معلن بالسفه وإن كان أروى الناس، ورجل يكذب في أحاديث الناس إذا حدث بذلك، وإن كنت لا تتهمه أن يكذب على رسول الله ﷺ وصاحب هوى يدعو الناس إلى هواه، وشيخ له فضل وعبادة إذا كان لا يعرف ما يحدث به
“Ilmu tidak diambil dari empat jenis orang, yaitu orang yang menampakkan kebodohannya meskipun ia meriwayatkan dari banyak orang; orang yang berdusta dalam pembicaraan manusia apabila berbicara meskipun ia tidak dituduh berdusta terhadap Rasulullah ; pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah dan orang fasiq) yang mengajak manusia manusia kepada hawa nafsunya; serta syaikh yang memiliki keutamaan dan keshalihan ibadah apabila ia tidak menguasai/mengetahui apa yang ia bicarakan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/32].
Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
أَهْلُ الْبِدَعِ مَا يَنْبَغِي لأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ، وَلا يُخَالِطَهُمْ، وَلا يَأْنَسَ بِهِمْ
“Ahli bid’ah, tidak boleh bagi seorang pun untuk bermajelis dengan mereka, bergaul dengan mereka, dan beramah-tamah dengan mereka” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah 2/475 no. 495].
Mengapa tidak boleh ? Biarlah para ulama yang menjawab tentang sebab ketidakbolehannya:
1.    Merusak hati
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لا تُجَالِسْ أَهْلَ الأَهْوَاءِ، فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مَمْرَضَةٌ لِلْقُلُوبِ
Dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Jangan bermajelis dengan pengikut hawa nafsu, karena bermajelis dengan mereka menyebabkan hati menjadi sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/196 no. 139; shahih].
عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، قَالَ: كَانَ يُقَالُ: لا تُجَالِسْ صَاحِبَ زَيْغٍ، فَيُزِيغَ قَلْبَكَ
Dari ‘Amru bin Qais (w. 146 H), ia berkata : “Dulu dikatakan : Jangan kalian bermajelis dengan orang-orang sesat sehingga menyesatkan hati kalian” [Diriwayatkan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah 2/436 no. 366 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 5/103; shahih].
Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah berkata:
اعْلَمُوا إِخْوَانِي أَنِّي فَكَّرْتُ فِي السَّبَبِ الَّذِي أَخْرَجَ أَقْوَامًا مِنَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَاضْطَرَّهُمْ إِلَى الْبِدْعَةِ وَالشَّنَاعَةِ وَفَتَحَ بَابَ الْبَلِيَّةِ عَلَى أَفْئِدَتِهِمْ وَحَجَبَ نُورَ الْحَقِّ عَنْ بَصِيرَتِهِمْ فَوَجَدْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْهَيْنِ:
أَحَدُهُمَا: الْبَحْثُ وَالتَّنْقِيرُ وَكَثْرَةُ السُّؤَالُ عَمَّا لا يَعْنِي وَلا يَضُرُّ الْعَاقِلَ جَهْلُهُ وَلا يَنْفَعُ الْمُؤْمِنَ فَهْمُهُ.
وَالآخَرُ: مُجَالَسَةَ مَنْ لا تُؤْمَنُ فِتْنَتُهُ وَتُفْسِدُ الْقُلُوبَ صُحْبَتُهُ.
“Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya aku telah berpiikir tentang penyebab yang mengeluarkan satu kaum dari Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dan mendorong mereka kepada bid’ah dan keburukan, serta membuka pintu bencana bagi hati-hati mereka dan menutup cahaya kebenaran terhadap bashirah mereka. Maka aku dapati hal itu disebabkan oleh dua faktor:
Pertama; membahas, mendalami, dan banyak bertanya terhadap sesuatu yang tak penting dan tidak pula membahayakan seseorang apabila ia tidak mengetahuinya, dan tidak memberikan manfaat bagi seorang mukmin jika memahaminya.
Kedua; bermajelis dengan orang yang dikhawatirkan fitnahnya dan merusak hati dengan sebab persahabatannya” [Al-Ibaanah, 1/390].
2.    Mengaburkan kebenaran
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ: " لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ وَلَا تُجَادِلُوهُمْ، فَإِنِّي لَا آمَنُ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ، أَوْ يَلْبِسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ "
Dari Abu Qilaabah (w. 104 H), ia berkata : “Jangan kalian bermajelis dengan pengikut hawa nafsu dan jangan pula berdebat dengan mereka, karena aku khawatir mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatan mereka atau mengaburkan kepada kalian hal-hal yang telah kalian ketahui sebelumnya (sebagai kebenaran)” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy hal. 387 no. 405, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah 2/435 & 2/437 no. 363-364 & 367 & 369, dan Al-Faryaabiy dalam Al-Qadar hal. 212 & 213-214 no. 366 & 370; shahih].
Akhirnya yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar.
Hudzaifah bin Al-Yamaan radliyallaahu ‘anhu berkata:
فَاعْلَمْ أَنَّ الضَّلالَةَ حَقَّ الضَّلالَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ، وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ، وَإِيَّاكَ وَالتَّلَونَ، فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِدٌ
“Ketahuilah bahwasannya kesesatan yang benar-benar kesesatan adalah menganggap ma’ruf yang sebelumnya engkau ingkari, dan mengingkari yang sebelumnya engkau anggap ma’ruf. Jauhilah engkau bersikap berubah-ubah, karena agama Allah itu satu” [Diriwayatkan oleh Ma’mar bin Rasyid dalam Jaami’-nya no. 20454, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa, 10/42 no. 19896, Al-Haitsamiy dalam Bughyatul-Baahits hal. 527-528 no. 470, dan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyah no. 3293; shahih].
3.    Menumbuhkan benih kesesatan dalam hati tanpa disadari
عَنْ أَسْمَاءَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: دَخَلَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ عَلَى ابْنِ سِيرِينَ، فَقَالَا: يَا أَبَا بَكْرٍ، نُحَدِّثُكَ بِحَدِيثٍ؟، قَالَ: لَا، قَالَا: فَنَقْرَأُ عَلَيْكَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ؟، قَالَ: لَا، لِتَقُومَانِ عَنِّي أَوْ لَأَقُومَنَّ، قَالَ: فَخَرَجَا، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: يَا أَبَا بَكْرٍ، وَمَا كَانَ عَلَيْكَ أَنْ يَقْرَآ عَلَيْكَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تعَالَى قَالَ: " إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْرَآ عَلَيَّ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَيُحَرِّفَانِهَا، فَيَقِرُّ ذَلِكَ فِي قَلْبِي "
Dari Asmaa’ bin ‘Ubaid, ia berkata : Ada dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu yang masuk menemui Ibnu Siiriin. Mereka berkata : “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menceritakan satu hadits kepadamu?”. Ibnu Siirin menjawab : “Tidak”. Mereka berkata : “Kalau begitu, akan kami bacakan kepadamu satu ayat dari Kitabullah”. Ibnu Siiriin menjawab : “Tidak. Sungguh, kalian yang pergi dariku atau aku yang akan pergi dari kalian !!”. Lalu mereka berdua pergi. Sebagian orang ada yang bertanya : “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak membiarkan mereka membacakan sebuah ayat dari Kitabullah?”. Ibnu Siiriin menjawab : “Aku khawatir akan dibacakan satu ayat dari Kitabullah kepadaku, lalu mereka mengubah-ubah maknanya yang kemudian pemahaman itu mendekam dalam hatiku” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy 1/389-400 no. 411; shahih].
4.    Menimbulkan permusuhan
عَنِ الأَعْمَشِ، قَالَ: قَالَ إِبْرَاهِيمُ: لا تُجَالِسُوا أَهْلَ الأَهْوَاءِ، فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ تَذْهَبُ بِنُورِ الإِيمَانِ مِنَ الْقُلُوبِ، وَتُسْلِبُ مَحَاسِنَ الْوُجُوهِ، وَتُورِثُ الْبِغْضَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
Dari Al-A’masy, ia berkata : Telah berkata Ibraahiim (An-Nakha’iy) (w. 196 H) : “Jangan bermajelis dengan pengikut hawa nafsu, karena bermajelis dengan mereka akan memadamkan cahaya keimanan dalam hati, merenggut kebaikan wajah, dan mewariskan kebencian/permusuhan di hati orang-orang beriman” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah 2/439 no. 375; sanadnya hasan].
5.    Menjadikan orang-orang condong membenarkan kebid’ahan dan penyimpangan mereka (ahlul-bid’ah).
Apalagi jika ahli bid’ah mayoritas. Apalagi jika orang yang duduk dengan ahli bid’ah adalah figur masyarakat.
Asy-Syaathibiy rahimahullah berkata:
فإن توقير صاحب البدعة مظنة لمفسدتين تعودان بالهدم على الإسلام:
أحدهما: التفات الجهال والعامة إلى ذلك التوقير ، فيعتقدون في المبتدع أنه أفضل الناس ، وأن ما هو عليه خير مما عليه غيره ، فيؤدي ذلك إلى اتباعه على بدعته دون اتباع أهل السنة على سنتهم.
والثانية: أنه إذا وقر من أجل بدعته صار ذلك كالحادي المحرض له على انشاء الابتداع في كل شيء.
وعلى كل حال ؛ فتحيا البدع ، وتموت السنن ، وهو هدم الإسلام بعينه.
“Sesungguhnya penghormatan[7] kepada ahli bid’ah merupakan sumber dari dua kerusakan yang berhubungan dengan hancurnya Islam. Pertama, berpalingnya orang-orang bodoh dan masyarakat awam kepada penghormatan itu dan berkeyakinan bahwa ahli bid’ah tersebut adalah seutama-utama manusia. Selain itu, apa yang ada pada ahli bid’ah dianggap lebih baik daripada yang ada pada selainnya (dari kalangan Ahlus-Sunnah). Akibatnya, mereka malah mengikuti bid’ahnya, bukan mengikuti sunnah yang ditempuh Ahlus-Sunnah. Kedua, apabila orang tersebut menghormatinya (ahli bid’ah) karena bid’ah yang dilakukannya, maka ini menjadi faktor pendorong baginya (ahli bid’ah) untuk membuat bid’ah di semua perkara.
Bagaimanapun juga, hidupnya bid’ah akan menyebabkan matinya sunnah. Inilah maksud kehancuran Islam itu sendiri” [Al-I’tishaam, 1/202].
Perkara ini merupakan multiplier effect berupa kerusakan komunitas yang lebih lebih luas. Karenanya, Ibnu ‘Aun rahimahullah sampai berkata:
مَنْ يُجَالِسُ أَهْلَ الْبِدَعِ أَشَدُّ عَلَيْنَا مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ
“Orang yang bermajelis dengan ahli bid’ah lebih berbahaya daripada ahli bid’ah itu sendiri” [idem, 2/473 no. 486].
Dan untuk kemaslahatan memproteksi kaum muslimin agar supaya mereka tidak tertipu dengan bermajelisnya seorang tokoh dengan ahli bid’ah, sebagian ulama dahulu menstigma orang-orang seperti ini sebagai ahli bid’ah juga.
عَنْ أَبي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيَّ، قَالَ: قُلْتُ لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: أَرَى رَجُلا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ، مَعَ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْبِدْعَةِ، أَتْرُكُ كَلامَهُ؟ قَالَ: لا، أَوَتَعْلَمُهُ أَنَّ الرَّجُلَ الَّذِي رَأَيْتَهُ مَعَهُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ، فَإِنْ تَرَكَ كَلامَهُ، فَكَلِّمْهُ، وَإِلا، فَأَلْحِقْهُ بِهِ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ " الْمَرْءُ بِخِدْنِهِ "
Dari Abu Daawud As-Sijistaaniy, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal : “Aku melihat seseorang dari kalangan Ahlus-Sunnah bersama dengan ahli bid’ah. Apakah aku mesti meninggalkan berbicara dengannya?”. Abu ‘Abdillah menjawab : “Tidak. Atau hendaknya engkau memberitahunya bahwa orang yang engkau lihat bersamanya itu adalah ahli bid’ah. Apabila ia meninggalkan tidak berbicara dengan ahli bid’ah tersebut, maka berbicaralah dengannya. Apabila tidak, maka gabungkanlah ia bersamanya (ahli bid’ah)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’laa dalam Thabaqaatul-Hanaabilah, 1/429; sanadnya shahih].
Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang memuji dan menyanjung ahli bid’ah, apakah ia dikelompokkan/digabungkan dengan mereka (ahli bid’ah) ?. Beliau rahimahullah menjawab :
نعم، ما فيه شك، من أثنى عليهم ومدحهم هو داع إليهم، هو من دعاتهم، نسأل الله العافية
“Ya, tidak ada keraguan lagi. Barangsiapa yang memuji dan menyanjung mereka, maka ia menyeru kepada mereka. Ia termasuk du’at mereka. Nas-alullaahal-‘aafiyah” [Syarh Fadhlil-Islaam, hal. 10].
Ambil yang Baik, Buang yang Buruk……
Begitulah yang dikatakan sebagian orang. Kata mereka pula,”Hendaknya kita bersikap terbuka terhadap semua orang. Ambillah guru banyak-banyak, jangan batasi hanya kelompok Anda saja. Kita ambil yang baik, buang yang buruk…..”. 😴😴😴😴 (bikin ngantuk).
Katanya, setan saja kalau menyampaikan kebenaran wajib kita terima. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu yang diberitahu setan fadlilah ayat Kursi. Tambahnya lagi, orang kafir kalau menyampaikan kebenaran, wajib kita terima…..
Inilah doktrinasi usang yang ingin dibangun kembali untuk melariskan dagangan basi.
O iya, sengaja saya tuliskan uraian agak panjang di atas untuk masuk di bab ini.
Untuk bantahan singkatnya, saya ilustrasikan dalam separagraf berikut:
Bisa jadi di tempat sampah Anda akan menemukan emas. Meski terbalut kotoran, ia tetaplah emas yang laku dijual. Adalah kebodohan ketika Anda tahu barang temuan itu emas, tapi Anda buang hanya karena berasal dari tempat sampah. Tapi sebaliknya, merupakan kekonyolan jika Anda kemudian menganjurkan masyarakat mengais-ngais sampah di TPA hanya untuk mendapatkan emas. Emas hanya ditambang di lokasi tambang emas. Anda bisa bertanya kepada ahli geologi atau Dinas ESDM dimana titik-titik potensialnya.
Insyaallah clear perbedaannya….
Ambil yang baik, buang yang buruk tidak dalam kemutlakannya. Seperti ilustrasi di atas, kebenaran harus diterima dari siapapun. Emas tetap dikatakan emas meski nemu di tempat sampah. Ia tidak akan berubah menjadi tembaga. Nabi pun membenarkan perkataan pendeta Yahudi ketika ia berkata benar, berkesesuaian dengan nash[8]. Begitu juga ketika kita mendengar teman kita yang Kristen mengatakan bahwa Musa dengan tongkatnya membelah lautan, apakah akan kita dustakan hanya karena dirinya beragama Kristen ?. Justru harus kita benarkan, karena apa yang ia katakan memang disebutkan dalam Al-Qur’an:
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar” [QS. Asy-Syu’araa’ : 63].
Kita benarkan setelah kita verifikasi dengan dalil bahwa itu kebenaran.
Akan tetapi, ketika Nabi membenarkan perkataan pendeta Yahudi, sama sekali tidak pernah memerintahkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu agama kepada mereka dan bermajelis dengan mereka. Ketika kita benarkan perkataan teman Kristen kita, tidak lantas kita harus hadir dalam acara mingguan mereka di gereja agar memperoleh pencerahan.
Menerima kebenaran berbeda dengan mencari kebenaran. Kebenaran diterima darimana saja ia datang, sedangkan kebenaran hanya dicari dari orang-orang yang kita ridlai agama dan amanatnya.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْغَالِينَ
Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang bodoh, pemalsuan orang-orang bathil, dan penakwilan orang-orang yang melampaui batas”.
Meskipun hadits ini diperselisihkan ulama tentang keshahihannya, namun maknanya benar. Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah termasuk yang menshahihkannya [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Syaraf Ashhaabil-Hadiits, hal 67 no. 51].
Jika mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu[9] untuk membenarkan apa yang mereka katakan itu (yaitu : ngaji harus terbuka, kepada siapa saja, antar harakah, jangan hanya pada satu kelompok saja/salafi), kenapa tidak sekalian berguru kepada anak buah setan – karena mereka berdalil dengan kasus setan - , dari kalangan orang-orang liberal untuk menambah wawasan mereka ?. Ul*l Abs**r punya kajian kitab Ihyaa’ ‘Ulumiddiin karya Al-Ghazaliy rahimahullah yang disiarkan live di FB. Anak buah setan lebih ringan daripada boss-nya (yaitu setan).
Atau tokoh lain seperti Om Staq** yang punya pengajian tafsir kitab karya kakeknya tiap hari Jum’at di Rembang sana. SAS menggelar pengajian rutin kitab Nashaaihul-‘Ibaad karya An-Nawawiy Al-Bantaniy rahimahullah. Kolega Aman Abdurrahman di luar penjara banyak yang bikin halaqah pengajian kitab. Sampai Raja Dangdut gaek tanah air pun sering ngisi pengajian dan diundang tabligh akbar di berbagai daerah.
Tidak mungkin semua yang disampaikannya salah. Pasti ada yang benar. Ambil yang baik, buang yang buruk…..
Jika mereka ingin minum dari semua sumber/tampungan air di muka bumi – baik itu sumur zamzam, laut, sungai, got, septic tank, dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) – silakan saja. Namun kita hanya akan minum dari sumber yang menyehatkan dan tidak berbahaya bagi tubuh kita.
Bukankah para imam dahulu menerima hadits dari kalangan ahli bid’ah ?.
Benar, dan itu fakta. Namun sebelumnya, silakan refresh kembali uraian di atas tentang larangan bermajelis dan mengambil ilmu dari ahli bid’ah dan sebab ketidakbolehan (dampak)-nya. OK? Sudah?
Pertama, ini seperti perkataan sebagian orang : ‘hum rijaal wa nahnu rijaal’ ketika mengambil posisi kontra dengan para imam, ‘berijtihad’ tanpa memperhatikan apa yang ternukil dari kalangan salaf. Mereka mengutip perkataan Abu Haniifah rahimahullah:
ما جاء عن الرسول ﷺ، فعلى الرأس والعين، وما جاء عن الصحابة اخترنا، وما كان من غير ذلك، فهم رجال ونحن رجال
“Apa saja yang datang dari Rasulullah , maka kita terima dengan penuh penghormatan. Apa saja yang datang dari para shahabat, maka kami memilihnya. Adapun yang datang dari selain mereka, maka mereka adalah laki-laki dan kami pun laki-laki” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 6/401].
Mereka kira diri mereka seperti Abu Haniifah rahimahullah yang statusnya ulama taabi’iin. Mereka lupa kedudukan Abu Haniifah dalam ilmu.
Oleh karena itu, ketika orang-orang yang menyerukan ‘ngaji merdeka’ berdalil dengan perbuatan ahli hadits yang mengambil riwayat dari ahli bid’ah, apakah mereka tidak sedang memposisikan diri seperti kasus penggunaan ucapan Abu Haniifah rahimahullah di atas – yang notabene sering mereka gunakan untuk mengkritik salafi - ?. Amnesia ?. Ada kaca di rumah ?.
Kedua, para ulama ahli hadits membuat persyaratan ketat dalam penerimaan riwayat dari kalangan ahli bid’ah atau terindikasi bid’ah, yaitu : bid’ahnya bukan termasuk bid’ah mukaffirah, ia seorang yang jujur, bukan termasuk dari kalangan dainya, dan riwayat yang dibawakan tidak menguatkan bid’ahnya. Sebenarnya, panjang pembahasan persyaratan ini. Maka, periwayatan dari mereka masuk dalam bab irtikaabu akhaffidl-dlararain – memilih mudlarat yang paling ringan. Apabila hadits-hadits mereka ditolak, niscaya banyak hadits Nabi dan atsar para shahabat setelahnya hilang tidak sampai kepada kita. Maka ini merupakan kerusakan yang nyata.
Apakah mereka, penganut madzhab ‘ngaji merdeka’ mengikuti rule ini ? Ndak juga sepertinya…..
Kenyataan : meskipun personnya tidak (belum) dikafirkan secara mu’ayyan, bid’ah sebagian orang yang kita ‘dituntut’ mereka munduk-munduk ngaji di hadapannya secara dzatnya termasuk bid’ah mukaffirah atau bid’ah kelas (sangat) berat. Diantara bentuknya:
a.    Mengingkari sifat ‘ulluw atau ketinggian Allah ta’ala di atas ‘Arsy.
Abu ‘Abdillah Al-Haakim rahimahullah berkata:
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، يَقُولُ: مَنْ لَمْ يُقِرَّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى عَرْشِهِ قَدِ اسْتَوَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَاوَاتِهِ، فَهُوَ كَافِرٌ بِرَبِّهِ يُسْتَتَابُ، فَإِنْ تَابَ، وَإِلا ضُرِبَتْ عُنُقُهُ
Aku mendengar Muhammad bin Shaalih bin Haani’ berkata : Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah berkata : “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwasannya Allah ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy, di atas tujuh lagit, maka ia telah kafir terhadap Rabbnya. Ia diminta untuk bertaubat. Jika mau bertaubat, maka diterima, jika tidak, dipenggal lehernya” [Ma’rifatu ‘Uluumil-Hadiits hal. 84].
b.    Membolehkan sebagian praktek kesyirikan seperti beristighatsah kepada mayit.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فإنا بعد معرفة ما جاء به الرسول نعلم بالضرورة انه لم يشرع لأمته أن تدعو أحدا من الأموات لا الأنبياء ولا الصالحين ولا غيرهم لا بلفظ الاستغاثة ولا يغيرها ولا بلفظ الاستعاذة ولا يغيرها كما أنه لم يشرع لأمته السجود لميت ولا لغير ميت ونحو ذلك بل نعلم أنه نهى عن كل هذه الأمور وأن ذلك من الشرك الذي حرمه الله تعالى ورسوله
“Maka setelah kita mengetahui risalah yang dibawa Rasulullah , kita mengetahui dengan pasti bahwa tidaklah disyari’atkan bagi umatnya untuk berdoa kepada orang mati, baik para Nabi, orang shaalih, dan yang lainnya; tidak dengan lafadh istighatsah, istiadzah, atau yang lainnya. Sebagaimana juga tidak disyari’atkan bagi umatnya untuk sujud kepada mayit atau selain mayit, dan yang lainnya. Bahkan kita mengetahui beliau melarang semua perkara itu, karena termasuk kesyirikan yang diharamkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya” [Ar-Radd ‘alal-Bakriy, 2/731].
NB : Anehnya orang-orang di zaman sekarang, ada orang yang anti kesyirikan dan anti udzur kejahilan, namun malah sering mem-promote tokoh-tokoh pelaku kesyirikan ini karena latar belakang politik.
Kenyataan lain : sebagian pelaku bid’ah atau pelaku penyimpangan itu adalah da’inya yang mendakwahkan kebid’ahan dan penyimpangannya, serta dikenal keras permusuhannya terhadap dakwah salaf dan para pengembannya. ‘Mereka’ nampaknya tenang-tenang saja dengan permusuhan tersebut. Mereka pun nyaman dengan dai yang terindikasi qadariyyah dan dai yang ‘menjiplak’ perkataan Khomeini dalam celaannya terhadap Nabi Ndak percaya sampeyan?.
Ketiga, para ulama ahli hadits dahulu ketika mengambil riwayat dari kalangan ahli bid’ah atau mereka yang condong kepada bid’ah – dengan persyaratannya – tetap menjelaskan kebid’ahan dan penyimpangan mereka, tegas tidak loyo. Mereka memberitahukan hal tersebut kepada khalayak.
1.    Al-Hasan bin Shaalih bin Shaalih bin Hay Al-Hamdaaniy Ats-Tsauriy
Ia seorang perawi yang punya pemikiran jelek bolehnya mengangkat pedang terhadap penguasa. Ahmad bin Yuunus (At-Tamiimiy Al-Yarbuu’iy) mengambil hadits darinya sebagaimana ada dalam Sunan Abi Daawud. Ketika ia mengambil hadits darinya, apakah ia diam dan bengong saja tanpa menjelaskan hakekat ‘aqidah jelek Al-Hasan ?. Tidak. Ahmad bin Yuunus berkata : “Seandainya Al-Hasan bin Shaalih tidak lahir, niscaya lebih baik baginya. Ia meninggalkan shalat Jum’at dan berpendapat bolehnya mengangkat pedang. Aku bermajelis dengannya selama 20 tahun, namun aku belum pernah melihatnya mengangkat kepalanya ke langit dan menyebut tentang dunia”.
‘Abdullah bin Daawud (Al-Hamdaaniy Asy-Sya’biy) juga meriwayatkan hadits darinya sebagaimana ada dalam Sunan At-Tirmidziy. Apakah ia diam saja tidak menjelaskan kejelekan Al-Hasan bin Shaalih ?. Tidak. Ketika Abu Ahmad Az-Zubairiy memuji Al-Hasan, ‘Abdullah bin Daawud menyergahnya dengan mengatakan dirinya lebih tahu tentang Al-Hasan daripada Abu Ahmad, dengan mengatakan ia (Al-Hasan) seorang ahmaq (pandir) [Tahdziibul-Kamaal, 6/177-191 no. 1238].
2.    ‘Ubaidullah bin Muusaa Al-‘Absiy
Ia perawi yang terindikasi berpemahaman tasyayyu’ [Taqriibut-Tahdziib, hal. 645-646 no. 4376]. Sebagai informasi, tasyayyu’ yang dimaksud di sini adalah mengutamakan ‘Aliy bin Abi Thaalib di atas ‘Utsmaan, bukan tasyayyu’-nya Raafidlah pendusta muta’akhkhiriin.
Ibraahiim bin Ya’quub Al-Juuzajaaniy rahimahulah meriwayatkan hadits darinya sebagaimana disebutkan dalam Sunan At-Tirmidziy [Tahdziibul-Kamaal, 19/166]. Meskipun demikian, ia menjelaskan kepada khalayak dan tertulis dalam kitabnya berjudul Ahwaalur-Rijaal (hal. 81 no. 107) bahwa Ubaidullah bin Muusaa mempunyai madzhab yang ekstrem dan jelek. Beberapa muhaqqiq mengkritisi perkataan Al-Juuzajaaniy karena dianggap berlebihan. Telah ma’ruuf bahwa ia tertuduuh naashibiy yang mempunyai pandangan jelek terhadap penduduk Kuufah. Namun di sini ia tidak sendirian. Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadits darinya. Sama seperti Al-Juuzajaaniy, ia juga menjelaskan perihal ‘Ubaidullah. Ketika ayah Muhammad bin Ismaa’iil (Al-Bukhaariy) ingin pergi ke Makkah, maka ia dinasihati oleh Ahmad bin Hanbal agar jangan mendatangi ‘Ubaidullah bin Muusaa karena madzhabnya yang ghulluw [Adl-Dlu’afaa’ Al-Kabiir lil-‘Uqailiy, hal. 876 no. 1112].
3.    ‘Abdul-Malik bin A’yan Al-Kuufiy
Ia seorang perawi shaduuq yang terindikasi syii’iy, dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 621 no. 4192]. Sufyaan bin ‘Uyainah meriwayatkan darinya, dan riwayatnya tersebut dimasukkan oleh para imam penulis Al-Kutubus-Sittah. Namun apa kata Sufyaan tentangnya ?. Ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin A’yan, syii’iy. Ia di sisi kami adalah Raafidliy, shaahibur-ra’yi” [selengkapnya : Tahdziibul-Kamaal, 18/282-286]. Al-Bukhaariy membawakan 1 hadits darinya maqruunan dalam Al-Jaami’ush-Shahiih (no. 7445). Tapi ia tahu dan menerangkannya bahwa ‘Abdul-Malik seorang syii’iy [Adl-Dlu’afaa’ Ash-Shaghiir, hal. 76 no. 217].
4.    ‘Auf bin Abi Jamiilah
Ia seorang perawi yang tsiqah, namun dituduh berpemahaman qadariy dan tasyayyu’ [Taqriibut-Tahdziib, hal. 757 no. 5250]. ‘Abdullah bin Al-Mubaarak meriwayatkan darinya, dan riwayatnya tersebut disebutkan Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya dan An-Nasaa’iy dalam Sunan-nya. Ibnul-Mubaarak secara terang-terangan menjelaskan dan mencela madzhab gurunya. Ia begitu mengenal madzhab ‘Auf yang jelek sehingga menasihati Ja’far bin Sulaimaan dengan perkataannya : “Engkau melihat Ayyuub, Ibnu ‘Aun, dan Yuunus. Bagaimana bisa engkau tidak bermajelis dengan mereka sementara engkau bermajelis dengan ‘Auf ?. Demi Allah, ‘Auf tidak ridla dengan hanya satu bid’ah saja, hingga padanya ada dua bid’ah sekaligus : ia seorang qadariy dan juga syii’iy” [Adl-Dlu’afaa’ lil-‘Uqailiy, 3/1120 no. 1474 dan Al-‘Ilal 1/414 no. 2913].
5.    Maalik bin Ismaa’iil bin Dirham, Abu Ghassaan Al-Kuufiy
Ia seorang perawi yang tsiqah, mutqin, ahli ibadah, namun terindikasi tasyayyu’ [Taqriibut-Tahdziib, hal. 913 no. 6464]. Al-Juuzajaaniy meriwayatkan hadits darinya sebagaimana dibawakan oleh An-Nasaa’iy [Tahdziibul-Kamaal, 27/88], namun ia menjelaskan kepada orang-orang madzhab jelek yang dianut Abu Ghassaan dengan perkataannya : “Maalik bin Ismaa’iil Abu Ghassaan, seorang Hasaniy, yaitu Al-Hasan bin Shaalih (bin Hay) dalam ketekunan ibadahnya dan kejelekan madzhabnya” [Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’, 8/118]. Tasyayyu’ Abu Ghassaan ini dikatakan juga Ibnu Sa’d, Abu Daawud, dan ‘Utsmaan bin Abi Syaibah rahimahumullah.
6.    Jaabir Al-Ju’fiy.
Ia seorang perawi yang terindikasi sebagai raafidliy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 192 no. 886]. Sufyaan bin ‘Uyainah pernah meriwayatkan hadits darinya. Menurut Sa’iid bin Manshuur sekitar 60 hadits [Tahdziibul-Kamaal, 4/465-472 beserta catatan kaki muhaqqiq-nya]. Namun demikian, Ibnu ‘Uyainah berkata : “Ia beriman terhadap raj’ah”. Kemudian Sufyaan mencela dan mendustakannya karena pemikiran jeleknya tentang raj’ah tersebut [Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’, 2/331].
7.    Abbaad bin Ya’quub Al-Asadiy Ar-Rawaajiniy, Abu Sa’iid Al-Kuufiy
Ia seorang perawi yang mendapatkan kritikan paling keras karena kesyi’ahannya. Satu saja saya contohkan, Ibnu Khuzaimah. Meskipun ia meriwayatkan hadits darinya [Tahdziibul-Kamaal, 14/177], namun ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami seorang yang shaduuq (sangat jujur) dalam riwayatnya, namun tertuduh dalam agamanya, yaitu ‘Abbaad bin Ya’quub” [Al-Madkhal ilaa Kitaabil-Ikliil hal. 120 dan Al-Kifaayah 1/392 no. 360]. Kemudian ia tak sabar hingga akhirnya meninggalkan riwayatnya karena kejelekan madzhabnya. Al-Khathiib Al-Baghdaadiy berkata : “Ibnu Khuzaimah pada akhirnya meninggalkan riwayat dari ‘Abbaad, dan ia (Ibnu Khuzaimah) seorang yang ahli ketika tidak meriwayatkan darinya” [Al-Kifaayah, 1/392 no. 360].
8.    ‘Abdul-Hamiid bin ‘Abdirrahmaan Al-Himmaaniy
Ia perawi yang dipakai Abu Daawud dalam Sunan-nya melalui perantara ‘Utsmaan bin Abi Syaibah dan Al-Hasan bin ‘Aliy. Abu Daawud tetap mengatakan bahwa dirinya termasuk dai/tokoh irjaa’ [Tahdziibul-Kamaal, 16/454].
9.    Dan lain-lain – masih banyak.
Para ulama ahli hadits mengambil riwayat mereka sambil menjelaskan identitas mereka agar orang lain tahu dan berhati-hati. Tak segan memberikan tahdzir.
Bandingkan dengan penyeru ‘ngaji merdeka’. Jauh….
Malah seruan utama mereka adalah ‘persatuan’[10]. Kritik terhadap kesyirikan, kebid’ahan, dan berbagai penyimpangan tokoh lintas kelompok dan harakah terutama yang terkait dalam masalah ‘aqidah dan manhaj menjadi sepi dan mlempem. Yang nyaring adalah kritik terhadap ‘salafi. Ewuh pekewuh.[11]
Orang berdagang tentu banyak trik-nya….
Sanggupkah mereka bersikap seperti para imam ?.
Jangan terlalu berkhayal bahwa kita akan menjadi seperti lebah yang ketika ada onggokan sampah dan sekuntum bunga, ia hanya hinggap di atas bunga. Selain mungkin tidak memahami secara ilmiah animal behaviour[12], apakah dalil dan perkataan ulama di atas kurang cukup ?. Lebah, Anda kasih sebakul nasi plus ayam goreng, tak akan dimakannya karena memang bukan makanannya. Dia hanya mau sari bunga saja. Beda dengan manusia. Manusia, Anda kasih dekat sepuluh orang yang berbeda-beda karakteristiknya, dapat menyerap dari keseluruhannya. Yang paling banyak berpengaruh adalah yang paling dekat dan paling sering interaksi.
Orang yang pertama kali melihat maksiat, mungkin akan risih dan jijik. Jika saban hari - pagi, siang, dan sore - pemandangan itu nampak di pelupuk mata, rasa risih dan jijik akan berangsur-angsur hilang. Akhirnya menjadi biasa saja.
Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi:
سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ
(Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya” [QS. Al-Maaidah : 41].
Ibnul-Qayyim rahimahullah menjelaskan ayat di atas:
مما يدل على أن العبد إذا اعتاد سماع الباطل وقبوله أكسبه ذلك تحريفا للحق عن مواضعه فإنه إذا قبل الباطل أحبه ورضيه فإذا جاء الحق بخلافه رده وكذبه إن قدر على ذلك وإلا حرفه كما تصنع الجهمية بآيات الصفات وأحاديثها يردون هذه بالتأويل الذي هو تكذيب بحقائقها
“Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba yang membiasakan diri mendengar sesuatu yang bathil dan menerimanya, hal itu akan menjadikannya mengubah kebenaran dari tempat yang semestinya. Jika ia telah menerima kebathilan, ia akan mencintainya dan meridhainya. Seandainya datang kepadanya kebenaran yang menyelisihi kebathilan yang diterima tadi, ia akan menolaknya dan mendustakannya, jika mampu. Jika tidak mampu, maka ia akan mengubahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Jahmiyyah terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah . Mereka menolaknya dengan melakukan ta’wil yang sama saja mendustakan hakekatnya” [Ighaatsatul-Lahafaan, 1/55].
Kemaksiatan dan bid’ah apabila biasa didengar dan dilihat, maka akan menancap di hati. Bermula dari anggapan semua serba khilafiyyah, termasuk perkara ‘aqidah dan manhaj. Lambat laun, yang dulunya dianggap salah menjadi benar. Ketergelinciran ulama yang menjadi kesukaan ahli bid’ah dalam menguatkan bid’ahnya, terbenam bersama bid’ah dan kesesatan mereka dalam hati dan pikiran kita.
حَدَّثَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى الْبَلْخِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ أَبِي حُصَيْنٍ، عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ " يَهْدِمُ الْإِسْلَامَ ثَلَاثَةٌ: زَلَّةُ عَالِمٍ، وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ، وَأَئِمَّةٌ مُضِلُّونَ "
Telah menceritakan kepadaku Zakariyyaa bin Yahyaa Al-Balkhiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Maalik bin Mighwal, dari Abu Hushain, dari Ziyaad bin Hudair, ia berkata : Telah berkata ‘Umar bin Al-Khaththaab : “Islam hancur dengan sebab tiga perkara : ketergelinciran ulama, perdebatan orang munafiq tentang Al-Qur’an, dan para imam yang menyesatkan” [Diriwayatkan oleh Al-Faryaabiy dalam Shifaun-Nifaaq no. 31; sanadnya shahih].
Apakah ini ending kita menuntut ilmu dari semua entitas manhaj dan ‘aqidah (yang meminjam bahasa ‘mereka’ : ngaji merdeka antar kelompok/harakah).
Jangan terlalu yakin bahwa diri Anda/kita sama seperti para imam di atas.
Ketika Ibnu ‘Aqiil Al-Hanbaliy rahimahullah mulai membaca kitab-kitab Mu’tazilah dan berinteraksi dengan ulamanya, koleganya dari kalangan Ahlus-Sunnah sudah memperingatkannya. Ia enggan dengan alasan ingin menuntut ilmu, dan akhirnya ia jatuh kepada kebid’ahan mereka. Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata:
كانوا ينهونه عن مجالسة المعتزلة ، ويأبى حتى وقع في حبائلهم ، وتجسر على تأويل النصوص ، نسأل الله السلامة
"Mereka (para ulama di zamannya) melarangnya (Ibnu 'Aqiil) untuk bermajelis dengan Mu'tazilah, namun ia enggan hingga akhirnya terjatuh dalam pemikiran mereka dan mulai berani mena'wilkan nash-nash. Nas-alullahas-salaam wal-'aafiyyah"[13] [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 19/447].
Begitu juga ‘Imraan bin Hiththaan[14], seorang (yang awalnya) Ahlus-Sunnah dari generasi taabi’iin yang berubah menjadi tokoh Khawaarij. Teman-temannya telah mengingatkan dirinya, namun ‘Imraan berkilah bahwa ia akan menasihatinya dan mengembalikannya kepada pemahaman Ahlus-Sunnah. Kenyataannya, bukan istrinya yang berubah, namun dirinya yang malah ikut pada pemahaman istrinya. Innaa lillaahi wa innaa iliahi raaji’uun. Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:
عمران بن حطان الخارجي، كان أولا من أهل السنة والجماعة فتزوج امرأة من الخوارج حسنة جميلة جدا فأحبها. وكان هو دميم الشكل، فأراد أن يردها إلى السنة فأبت فارتد معها إلى مذهبها
“’Imraan bin Hiththaan Al-Khaarijiy. Awalnya ia termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Ia menikahi seorang wanita Khawaarij cantik jelita, lalu ia pun jatuh cinta kepadanya – padahal ia (‘Imraan) seorang yang cebol lagi buruk rupa. ‘Imraan (menikahinya karena) hendak mengembalikannya kepada sunnah, namun wanita itu enggan dan malah ‘Imraan murtad (dari sunnah) bersama wanita itu kepada madzhabnya (Khawaarij)” [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 9/64].
Dua orang di atas bukan orang-orang ecek-ecek, namun akhirnya berubah karena intens berinteraksi dengan orang-orang yang menyimpang.
Lihat, para ulama…. mereka meneliti kitab orang-orang non Ahlus-Sunnah, lalu mereka mengambil faedahnya dan kemudian tersampaikan kepada kita. Ambil yang baik, buang yang buruk !! - kata mereka (lagi).
Apakah dengan perkataan ini ‘mereka’ menganjurkan kaum muslimin membaca buku-buku ahli bid’ah dengan prinsip ‘ambil yang baik, buang yang buruk’ ?. Allaahul-musta’aan…. Ini adalah pintu kejelekan yang nyata.
Dari Jaabir bin 'Abdillah radliyallaahu ‘anhu:
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ، فَقَرَأَهُ عَلَّى النَّبِيُّ ﷺ فَغَضِبَ، وَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي
Bahwasannya Umar bin Khaththaab pernah mendatangi Nabi sambil membawa kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Kemudian ia membacakan kepada Nabi kitab tersebut. Nabi pun marah dan bersabda : “Apakah engkau merasa bingung dengan apa yang ada di dalamnya, wahai Ibnul-Khaththaab?. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa sesuatu putih lagi bersih (jelas). Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang satu hal, karena mungkin mereka akan memberitahu kalian satu kebenaran namun kalian mendustakannya. Atau mereka menkhabarkan satu kebatilan, akan tetapi kalian membenarkannya. Demi Dzat, yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Muusaa masih hidup, maka wajib baginya untuk mengikutiku” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/387; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghaliil no. 1589].
Buku ahli kitab tidak semuanya jelek, namun Nabi tidak memerintahkan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘ambil yang baik, buang yang buruk’.[15]
Hukum asalnya adalah terlarang membaca kitab-kitab ahli bid’ah, karena Nabi memerintahkan kita untuk menjauhinya. Kok malah ada yang menganjurkan untuk membacanya. Biar dagangan (bid’ah dan kesesatan) situ laku ?.
Muhammad bin Al-Husain, Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy rahimahullah berkata:
رَأَيْتُ بِخَطِّ أَبِي عَمْرِو بْنِ مَطَرٍ، يَقُولُ: سُئِلَ ابْنُ خُزَيْمَةَ عَنِ الْكَلامِ فِي الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ، فَقَالَ: بِدْعَةٌ ابْتَدَعُوهَا، وَلَمْ يَكُنْ أَئِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَأَرْبَابُ الْمَذَاهِبِ وَأَئِمَّةُ الدِّينِ مِثْلَ مَالِكٍ، وَسُفْيَانَ، وَالأَوْزَاعِيِّ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ، وَيَحْيَى بْنِ يَحْيَى، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَمُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، وَأَبِي يُوسُفُ، يَتَكَلَّمُونَ فِي ذَلِكَ، وَيَنْهُونَ عَنِ الْخَوْضِ فِيهِ، وَيَدُلُّونَ أَصْحَابَهُمْ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَإِيَّاكَ وَالْخَوْضَ فِيهِ، وَالنَّظَرَ فِي كُتُبِهِمْ بِحَالٍ
“Aku melihat tulisan tangan Abu ‘Amru bin Mathar : Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah pernah ditanya tentang ilmu kalam dalam permasalahan al-asmaa’ wash-shifaat. Maka ia menjawab : ‘Bid’ah yang dibuat-buat. Para imam kaum muslimin, ulama madzhab, dan imam di bidang agama seperti Maalik (bin Anas), Sufyaan (Ats-Tsauriy), Al-Auzaa’iy, Asy-Syaafi’iy, Ahmad (bin Hanbal), Ishaaq (bin Rahawaih), Yahyaa bin Yahyaa, Ibnul-Mubaarak, Muhammad bin Yahyaa, Abu Haniifah, Muhammad bin Al-Hasan, dan Abu Yuusuf tidak pernah berbicara tentang hal tersebut dan melarang menceburkan diri ke dalamnya. Mereka mengarahkan murid-muridnya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jauhilah kalian masuk ke dalam ilmu kalam dan jangan melihat kitab-kitab mereka sama sekali” [Jam’ul-Juyuusy wad-Dasaakir no. 98. Juga dalam Ahaadiits fii Dzammil-Kalaam oleh Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy hal. 99-101].
Al-Haafidh Sa’iid bin ‘Amru Al-Bardza’iy rahimahullah berkata:
شهدت أبا زرعة - وقد سئل عن الحارث المحاسبى وكتبه - فقال للسائل: إياك وهذه الكتب، هذه [ كتب ] بدع وضلالات، عليك بالاثر، فإنك تجد فيه ما يغنيك. قيل له: في هذه الكتب عبرة. فقال: من لم يكن له في كتاب الله عبرة فليس له في هذه الكتب عبرة، بلغكم أن سفيان ومالكا والاوزاعي صنفوا هذه الكتب في الخطرات والوساوس، ما أسرع الناس إلى البدع !
“Aku pernah melihat Abu Zur’ah yang ditanya tentang Al-Haarits Al-Muhaasibiy dan kitab-kitabnya. Maka ia berkata kepada si penanya : ‘Jauhilah kitab-kitab ini berisi bid’ah dan kesesatan. Wajib bagimu berpegang pada atsar, karena engkau akan mendapati di dalamnya apa yang akan membuatmu cukup (sehingga tidak membutuhkan selainnya)’. Dikatakan kepadanya : ‘Dalam kitab ini terdapat ‘ibrah (pelajaran)’. Maka Abu Zur’ah menjawab : ‘Barangsiapa yang tidak dapat mengambil ‘ibrah dari Kitabullah, maka ia tidak bisa mendapatkan ‘ibrah dari kitab-kitab tersebut. Telah sampai kepada kalian bahwa Sufyaan, Maalik, dan Al-Auzaa’iy mengklasifikasikan kitab-kitab ini dalam kitab berbahaya dan mengandung waswas. Betapa cepat manusia menuju kepada kebid’ahan” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 1/431].
Masyaallah,…. sungguh nasihat Abu Zur’ah rahimahullah ini sangat realistis, sesuai dengan kenyataan di hari ini. Alasan si penanya sama dengan alasan ‘mereka’ yang ingin menjerumuskan kita ke dalam bid’ah dan kesesatan mereka : ‘ada ‘ibrah’.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:
ولهذا كره لمن لا يكون له نقد وتمييز النظر في الكتب التي يكثر فيها الكذب في الرواية والضلال في الآراء ككتب أهل البدع وكره تلقى العلم من القصاص وأمثالهم الذين يكثر الكذب في كلامهم وإن كانوا يقولون صدقا كثيرا
“Oleh karena itu, dibenci/makruhkan bagi orang yang tidak memiliki kritikan dan kemampuan membedakan (yang benar dan yang salah) untuk melihat buku-buku yang terdapat di dalamnya kedustaan riwayat dan kesesatan pemikiran seperti buku-buku ahli bid’ah. Begitu pula dibenci mencari ilmu dari para pendongeng dan yang semisal mereka yang melakukan banyak kedustaan dalam perkataannya, meskipun mereka berkata jujur lagi banyak” [Minhaajus-Sunnah, 2/468].
Asy-Syaikh Muhammad Khaliil Harraas berkata hal yang semisal dengan Ibnu Taimiyyah rahimahumallah :
ولا يظنن أحد أننا نتجنى على القوم أو نتهمهم بغير الحق، فتلك كتبهم تخبر عنهم كل من ينظر فيها وتشهد عليهم شهادة صدق، فليقرأها من شاء ليتأكد من صحة ما نسبناه إليهم، لكنا مع ذلك ننصح كل أحد أن لا يقرأ هذه الكتب حتى لا يقع في حبائلها ويغره ما فيها من تزويق المنطق وتنميق الأفكار، لا سيما إذا لم يكن ممن رسخ في علوم الكتاب والسنة قدمه ولا تمكن منهما فهمه، فهذا لا يلبث أن يقع أسير شباكها، تبكيه نائحة الدوح على غصنها، وهو يجتهد في طلب الخلاص فلا يستطيع، وذنب ذنبه هو، حيث ترك أطيب الثمرات على أغصانها العالية حلوة المجتنى طيبة المأكل، وهبط إلى المزابل وأمكنة القذارة يتقمّم الفضلات كما تفعل الديدان والحشرات.
“Dan jangan sampai ada seorang pun yang menyangka bahwa kami menyakiti orang lain dan menuduh tanpa haq. Kitab-kitab mereka lah (ahli bid’ah) yang mengkhabarkan tentang diri mereka kepada setiap orang yang membacanya dan bersaksi atas mereka secara jujur. Maka bacalah kitab tersebut jika ingin untuk membuktikan kebenaran atas perkataan kami terhadap mereka. Namun demikian, kami menasihatkan kepada setiap orang agar tidak membaca kitab-kitab tersebut sehingga dirinya tidak masuk dalam jebakannya dan terpedaya dengan apa yang ada di dalamnya berupa rekayasa logika dan hiasan-hiasan pemikiran. Khususnya mereka yang tidak memiliki ilmu yang kokoh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah serta belum mapan pemahamannya terhadap keduanya (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Orang yang demikian akan cepat sekali masuk ke dalam jaring perangkapnya, yang membuatnya menangis karena dirinya berusaha melepaskan diri namun tidak bisa. Itu adalah dosanya sendiri karena meninggalkan buah paling baik, manis, dan lezat yang berada di dahan pohon yang atas/tinggi. Ia memilih turun ke tong sampah dan tempat kotor mengais sisa-sisa seperti yang dilakukan cacing dan serangga” [Syarh Nuuniyyah li-Ibnil-Qayyim, 1/360-361].
Seandainya pun ingin berwisata kitab tulisan orang-orang yang dikenal bukan dari kalangan Ahlus-Sunnah, maka dirinya harus seorang berilmu yang mantap dan kokoh keilmuannya. Harus memahami mana yang benar dan yang salah. Harus ada hajat yang mendorongnya untuk melakukannya, bukan sekedar iseng.
Jika tidak demikian, bagaimana bisa kita patuhi anjuran untuk membaca semua kitab dan mendengarkan semua ocehan orang-orang lintas ‘aqidah dan manhaj?. Apakah kita ingin membiarkan saudara-saudara kita masuk di hutan belantara yang dirinya tidak bisa membedakan mana rusa yang dapat dimakan dan mana pula singa yang dapat memakannya ?. Benar-benar sebuah usaha membuka pintu kerusakan !
Orang yang berilmu saja dapat terjerumus jika tidak hati-hati ketika membaca buku-buku ahli bid’ah. Itupun tidak semua orang berilmu harus melakukannya.
Alhamdulillah, banyak ulama yang telah melakukan penyeleksian kitab. Misalnya, Ibnu Qudaamah yang meringkas kitab Minhaajul-Qaashidiin karya Ibnul-Jauziy menjadi Mukhtashar Minhaajil-Qaashidiin. Ibnul-Jauziy menulis buku tersebut juga merupakan ringkasan dari Ihyaa’ ‘Uluumiddiin karya Abu Haamid Al-Ghazaaliy yang sarat kritikan para ulama rahimahumullah.
Anda mau mengqiyaskan mereka dengan diri Anda atau kaum muslimin pada umumnya untuk mencari faedah dengan membaca langsung kitab Syifaaus-Saqaam fii Ziyaarati Khairil-Anaam karya Taqiyyuddiin As-Subkiy, Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah, dan Fushuushul-Hikam karya Ibnu ‘Arabiy ?. Hum rijaal wa nahnu rijaal ? 🤣😂😄😄…….
Terakhir, dalam tataran praktis memang kadang kita berhubungan dengan orang-orang yang kita ketahui dirinya belum menetapi manhaj salaf. Seperti misal, ketika kita ingin belajar membaca Al-Qur'an dan tajwid. Kadang tidak didapati di sekitar kita ustadz atau teman yang mahir dan bersedia mengajari kita. Maka, saat itu kita boleh belajar kepada orang-orang tersebut, dengan syarat : dirinya jujur dan hanya mengajarkan apa yang kita butuhkan saja. Sebab, seringkali didapati orang mengajar baca Al-Qur'an dan tajwid namun menyisipkan hal lain dari pemahamannya yang menyimpang, seperti mengajari amalan-amalan bid’ah atau ‘aqidah yang menyimpang. Ini realita. Selain itu, tetap beda antara pengajarnya yang datang ke tempat/rumah kita dengan kita yang datang ke tempat/pesantrennya. Syubhat lebih dapat diminimalisasi jika mereka yang datang ke tempat kita[16].  Beda ‘power’. Belajar bahasa Arab dan fiqh pun demikian. Jika ada ustadz yang terpercaya dan kita ridlai agamanya, maka belajar ke dirinya jauh lebih baik. Intinya, harus ekstra hati-hati.
Tapi untuk belajar ‘aqidah dan manhaj, harus kepada orang yang ‘aqidah dan manhajnya lurus. Tidak ada dispensasi belajar lintas pemahaman.[17]
Tak masalah kita dicela kurang wawasan tidak kaya pengetahuan ‘ikhtilaaf ulama’ hanya karena mengaji di tempat ustadz atau ulama yang ‘aqidahnya lurus. EKP (emang kita pikirin) ?!. Agama bukan buat gaya-gayaan dan memperkaya wawasan, akan tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keridlaannya.
رضا الناس غاية لا تدرك ورضا الله غاية لا تترك ، فاترك ما لا يدرك ، وأدرك ما لا يترك
"Ridla manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai, sedangkan ridlaa Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan. Maka, tinggalkan apa yang tidak dapat dicapai dan gapailah apa yang tidak boleh ditinggalkan”.
Wallaahu a’lam.
Banyak mengambil faedah dari kitab Al-Mu’iin li-Taudliihi Ma’aaniy Atsar Ibni Siiriin oleh Dr. Ahmad Bazmuul, Ijmaa’ul-‘Ulamaa’ ‘alal-Hajr wat-Tahdziir min Ahlil-Ahwaa’ oleh Khaalid bin Dlahawi Adh-Dhafiiriy, dan beberapa artikel internet lainnya.
[abul-jauzaa’ – rnn – 11 Syawwal 1439 H].



[1]    Banyak pujian para ulama yang teralamatkan kepadanya, diantaranya:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ، قال: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، قَالَ: سَمِعْتُ مُوَرِّقًا الْعِجْلِيَّ، يَقُولُ: " مَا رَأَيْتُ رَجُلًا أَفْقَهَ فِي وَرَعِهِ وَلَا أَوْرَعَ فِي فِقْهِهِ مِنْ مُحَمَّدٍ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari ‘Aashim Al-Ahwal, ia berkata : Aku mendengar Muwarraq Al-‘Ijliy berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih faqih dalam wara’-nya dan lebih wara’ dalam kefaqihannya dibandingkan Muhammad (bin Siiriin)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 12/349 no. 36158; shahih].
Ibnu Hibbaan rahimahullah berkata:
وكان محمد بن سيرين من اورع التابعين وفقهاء أهل البصرة وعبادهم وكان يعبر الرؤيا رأى ثلاثين من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Muhammad bin Siiriin adalah orang yang paling wara’ dari kalangan taabi’iin dan fuqahaa penduduk Bashrah, dan termasuk ahli ibadahnya. Ia ahli menta’birkan mimpi dan pernah melihat 30 orang shahabat Nabi ” [Masyaahiru ‘Ulamaa Al-Amshaar hal. 113 no. 643].
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata:
محمد بن سيرين الامام الرباني... وكان فقيها اماما غزير العلم ثقة ثبتا علامة في التعبير رأسا في الورع
“Muhammad bin Siiriin, imam rabbaaniy…. Ia seorang yang imam yang faqih, banyak ilmunya, tsiqah, tsabt, sangat ‘aliim dalam ta’biir (mimpi), dan penghulu dalam sifat wara’” [Tadzkiratul-Huffaadh, 1/77-78 no. 74].
[3]    Rajaa’ bin Haiwah, Abu Nashr Al-Kindiy Al-Azdiy adalah seorang imam yang tsiqah lagi faqih. Mempunyai kedudukan yang istimewa di sisi Khaliifah Sulaimaan bin ‘Abdil-Malik dan ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 4/557-560].
[4]    Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: جَاءَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ؟ أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ؟ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ، قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ، فَقَالَ: اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ
Dari Jaabir, ia berkata : Suraaqah bin Maalik bin Ju’syum datang dan berkata : “Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini?. Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?”. Beliau menjawab : “Bahkan pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan”. Ia bertanya : “Lalu apa gunanya beramal?”. Beliau bersabda : “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2648].
عَنْ عِمْرَانَ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فِيمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ؟، قَالَ: كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Dari ‘Imraan, ia berkata : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, lantas untuk apa orang-orang yang beramal melakukan amalan mereka ?”. Beliau : “Setiap orang akan dimudahkan (menuju jalan) penciptaannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7551].
[5]    Lihat pula perkataan Ibnul-Mubaarak rahimahullah dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad 1/85 no. 102.
[6]    Sebagai tambahan, silakan baca artikel : Al-Akaabir dan Al-Ashaaghir – Siapakah Mereka ?.
[7]    Diantaranya dengan bermajelis dengannya.
[8]    Yaitu hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: " يَا مُحَمَّدُ، إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ، وَسَائِرَ الْخَلَائِقِ عَلَى إِصْبَعٍ، فَيَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ "
Dari ‘Abdullah (bin Mas’uud) radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Seorang pendeta Yahudi mendatangi Rasulullah , kemudian ia berkata : ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan langit-langit dengan satu jari, bumi-bumi dengan satu jari, pohon dalam satu jari, air dan tanah dengan satu jari, serta menjadikan seluruh makhluk dengan satu jari. Kemudian Dia berfirman : Aku adalah Malik (Raja)’. Maka Rasulullah tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau membenarkan perkataan pendeta itu. Kemudian Rasulullah membaca ayat : ‘Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Az-Zumar : 67)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4811].
[9]    Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، وَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِنِّي مُحْتَاجٌ، وَعَلَيَّ عِيَالٌ، وَلِي حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ، قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالًا، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: إِنَّهُ سَيَعُودُ فَرَصَدْتُهُ، فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: دَعْنِي فَإِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ لَا أَعُودُ، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالًا فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ، فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَهَذَا آخِرُ ثَلَاثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لَا تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ، قَالَ: دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا، قُلْتُ: مَا هُوَ؟ قَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ: اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهَا فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: مَا هِيَ؟ قُلْتُ: قَالَ لِي: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ: اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَقَالَ لِي: لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: لَا، قَالَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah pernah menugaskan aku untuk menjaga zakat Ramadlaan. Lalu ada seseorang yang datang dan mengais-ngais makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata kepadanya : ‘Demi Allah, sungguh aku akan hadapkan kamu kepada Rasulullah . Ia berkata : ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang membutuhkan. Aku mempunyai keluarga yang mempunyai kebutuhan mendesak’. Akupun melepaskan orang itu. Pada pagi harinya, Nabi bersabda : ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam ?’. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, ia mengeluh bahwa ia mempunyai kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga. Aku merasa kasihan padanya dan kemudian aku lepaskan’. Beliau bersabda : ‘Sesungguhnya ia telah mendustaimu dan ia akan kembali lagi’. Maka aku pun mengetahui bahwa ia pasti akan kembali lagi berdasarkan sabda beliau : ‘Ia akan kembali lagi’.  Maka akupun mengintainya. (Ternyata benar), orang itu kembali lagi dan mengais-ngais makanan. Aku pun menangkapnya. Aku katakan : ‘Akan aku hadapkan engkau kepada Rasulullah . Ia berkata : ‘Lepaskan aku, sesunguhnya aku orang yang membutuhkan dan mempunyai tanggungan keluarga. Aku berjanji untuk tidak kembali lagi’. Aku pun merasa kasihan kepadanya dan aku melepaskannya. Pada pagi harinya, Rasulullah bersabda : ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan oleh tawananmu ?’. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, ia mengeluh bahwa ia mempunyai kebutuhan yang mendesak dan mempunyai tanggungan keluarga. Akupun merasa kasihan kepadanya dan kemudian aku lepaskan’. Beliau bersabda : ‘Sesungguhnya ia telah mendustaimu, dan ia akan kembali lagi”. Aku pun kembali mengintainya untuk yang ketiga kalinya, (dan ternyata benar) ia datang mengais-ngais makanan. Aku pun menangkapnya. Aku katakan : ‘Sungguh aku akan menghadapkanmu kepada Rasulullah . Sudah tiga kali, dan ini yang terakhir. Kamu telah berjanji untuk tidak kembali, namun ternyata kamu masih kembali’. Ia berkata : ‘Lepaskanlah aku ! Aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengannya’. Aku berkata : ‘Apa itu ?’. Ia berkata : ‘Apabila engkau beranjak menuju tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi Allaahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuum, hingga akhir ayat. Sesungguhnya dengan membaca itu, kamu senantiasa dalam perlindungan Allah. Setan tidak akan mendekatimu hingga waktu shubuh’. Maka aku lepaskan ia.
Pada pagi harinya, Rasulullah bersabda kepadaku : ‘Apa yang dilakukan tawananmu semalam ?’. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, ia mengatakan akan mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengannya, sehingga aku pun melepaskannya’. Beliau bertanya : ‘Apa itu ?’. Aku berkata : ‘Ia berkata kepada kepadaku bahwa apabila aku beranjak menuju tempat tidurku, hendaknya aku membaca ayat Kursi dari awal hingga akhir : Allaahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuum. Ia berkata kepadaku : ‘Kamu akan senantiasa berada dalam lindungan Allah dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu shubuh’ – mereka (para shahabat) adalah orang yang paling menginginkan kebaikan - . Maka Nabi bersabda : ‘Sesungguhnya ia telah jujur kepadamu kali ini, padahal ia seorang pendusta. Tahukah siapa yang telah engkau ajak bicara semenjak tiga hari ini wahai Abu Hurairah ?’. Abu Hurairah menjawab : ‘Tidak’. Beliau bersabda : ‘Ia adalah setan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2311].
[10]   Silakan baca artikel suplemen : Persatuan dan Persatuan (Lagi).
[11]   Ada yang awalnya mengaku dirinya salafi. Dikarenakan ingin aktif dalam beberapa kegiatan, ia banyak bersinggungan secara langsung atau tidak langsung dengan orang-orang haraki. Ia tahu dan mengakui – awalnya – orang-orang haraki ini menyimpang dalam ‘aqidah dan manhaj. Karena sudah biasa bergaul dengan mereka, tulisan-tulisannya yang muncul lebih banyak mem-blow up ‘orang-orang tak jelas’ dari mereka atau semisalnya (anggaplah Pembaca sekalian untuk sementara setuju dengan istilah ini). Jadi sungkan dan jarang mengutip para masyayikh Ahlus-Sunnah kontemporer, apalagi para duatnya. Diberikan nasihat dan kritikan, mengeluh – yang akhirnya malah lebih senang jika ada yang mengkritik salafi dan ahlus-sunnah.
Ada yang motifnya sakit hati karena tidak ‘terpakai’ lagi di komunitas salafi, akhirnya menyeberang ke komunitas haraki. Jadilah ia pembelanya dan memusuhi dakwah salaf(i).
Ada yang motifnya ingin cari popularitas agar diterima di semua kalangan.
Ada yang motifnya ingin cari beda saja….. dan yang lainnya.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.
[12]   Hewan di kelas insekta jauh berbeda dengan mamalia, apalagi manusia. Kita dapat melatih monyet untuk pertunjukan sirkus, tapi jangan harap dapat melatih semut dan kumbang. Insekta akan bergerak dan berperilaku berdasarkan insting yang Allah berikan tanpa bisa menerima input dari luar. Otak dan sarafnya jauh berbeda.
[13]   Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya Ibnu 'Aqiil rahimahullah menyadari bahwa apa yang ditempuhnya merupakan kekeliruan. Ia bertaubat dan menyatakan taubatnya secara tegas, berlepas diri dari pemikiran Mu'tazillah beserta orang-orangnya. Ibnu Qudaamah Al-Maqdisiy rahimahullah menukil kisahnya dalam Tahriimun-Nadhar fii Kutubil-Kalaam (lihat hal. 29-34).
[14]   Silakan baca cuplikan kisah tentangnya di sini : The Sad Ending of ‘Imraan bin Hiththaan.
[15]   Silakan baca bahasannya di sini : Waspadai Syubuhaat.
[16]   Misal dengan mengupah mereka.
[17]   Suplemen, silakan baca artikel di : https://islamqa.info/ar/223300. Sebagiannya sudah diterjemahkan di sini.

Comments

Anonim mengatakan...

Yang jadi pertanyaan: bagaimana seorang yang benar-benar awam memilih/menyeleksi guru yg hendak ia belajar padanya; padahal dia sendiri nggak punya ilmu sedikitpun untuk dijadikan bahan untuk 'menyeleksi'?

Karena kalau dijawab: "dia pilih guru dengan bertanya pada ulama"; lantas kalau dia tidak punya ilmu sama sekali sehingga dia pun tidak tahu hakikat ulama; maka dengan bekal apa dia hendak memilih atau menyeleksi?

Misalkan dia bertanya pada MUI (karena inilah lembaga yg dikenal luas oleh kaum muslimin sebagai perhimpunan ulama), apa itu sudah cukup baginya?

Terima kasih

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tanyakan kepada ustadz yang antum percayai.

Unknown mengatakan...

Sama aja dong, Kyai2 NU juga sering bilang jangan ngaji di sana, itu pengajian wahabi ke warga nahdliyyin.

Anonim mengatakan...

stad afwan , bagaimana untuk interaksi tanpa mengambil ilmu , kerja misal nya , apakh kita tetap bersikap sebagaimana antar sesama muslim..?

Unknown mengatakan...

Barakallahu fiik Ustadz, sangat bermanfaat ilmunya..

Anonim mengatakan...

Maka belajarlah agar tidak terus menerus menjadi awam.
Jika merasa sudah cukup hanya menjadi awam dan tidak mau belajar, maka jadilah awam yang "tau diri"

Nugroho Aryo Yudanto mengatakan...

Baarakallahu fiyka Ustadz

Anonim mengatakan...

Ya sudah, kalau punya kitab2 karya Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar sebaiknya dibuang saja karena mereka berpaham Asy'ariah... Konsisten donk, katanya manhaj paling kokoh, nyalaf, dan nyunnah full 24 karat sejagat raya???

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

he he he ....

Anonim mengatakan...

anonim 4 juli.... perkataan anda mencerminkan ketidak pahaman anda.

Dina Utami mengatakan...

Dulu saya menganggap perbedaan itu wajar, padahal gak semua perbedaan itu bisa diterima,dulu tau Sunnah pas kasus ustadz khalid,saat org" nyerang beliau dan menjelek"an beliau karena dianggap menyamakan Allah dengan makhluk,dan beliau itu Wahabi,benarkah demikian?lalu saya nontonlah apa yg beliau jelaskan,mulai bingung kok beda banget dengan yg saya pelajari dulu tapi beliau punya dalil yg kuat,lalu saya bandingkan pendapat" ustadz yg katanya Wahabi sama ustadz" yg katanya Aswaja,pas itu saya nonton video ustadz Firanda yg di banding"kan dengan ustadz lain,saat itu saya yakin ini manhaj yg benar,karena gak berbelit-belit dan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para salafusshalih bukan menurut pemahaman pribadi