Mengadakan Papan Sutrah di Masjid



Sebagaimana telah dibahas pada artikel Apa Hukum Sutrah dalam Shalat ?, pada kesempatan ini saya akan sedikit menyinggung pembahasan lain tentang sutrah, yaitu hukum papan sutrah dalam masjid. Sebagian orang menganggap membuat atau memakai papan sutrah di masjid adalah bid’ah. Bahkan dikatakan, menyerupai penyembahan terhadap berhala. Really ?....
Dulu, Nabi pernah sengaja membawa tombak kecil yang beliau pergunakan sebagai sutrah di tanah lapang (mushalla) ketika shalat ‘Ied. Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah membahas permasalahan ini dengan membuat satu bab dalam kitab Al-Jaami’ush-Shahiih-nya dengan judul:
حمل العنزة أو الحربة بين يدي الإمام يوم العيد
“Membawa ‘anazah atau harbah untuk diletakkan di depan imam ketika shalat 'Ied”.

‘Anazah dan harbah adalah sejenis tombak [lihat : Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab, 3/313].
Kemudian beliau rahimahullah membawakan hadits:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَغْدُو إِلَى الْمُصَلَّى وَالْعَنَزَةُ بَيْنَ يَدَيْهِ تُحْمَلُ، وَتُنْصَبُ بِالْمُصَلَّى بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا
Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Mundzir Al-Hizaamiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru Al-Auzaa’iy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Nabi berangkat menuju mushallaa sedangkan di tangan beliau membawa 'anazah yang kemudian beliau tancapkan di depan beliau, lalu shalat menghadap ke arahnya” [Al-Jaami’ush-Shahiih/Shahiih Al-Bukhaariy 1/307 no. 973].
Ibnu Baththaal rahimahullah menjelaskan:
حمل العنزة والحربة بين يديه لتكون له سترة فى صلاته إذا كانت المصلى فى الصحراء، ولم يكن فيها من البنيان ما يستتر به، ومن سنته عليه السلام، أن لا يصلى المصلى إلا إلى سترة إمامًا كان أو منفردًا.
“(Disyari'atkan) meletakkan ‘anazah dan harbah di hadapan seseorang untuk dijadikan sutrah ketika shalat apabila berada di tanah lapang (mushalla) atau padang pasir yang tidak ada bangunan sebagai tabir (dalam shalat). Dan termasuk sunnah beliau ‘alaihis-salaam adalah seseorang tidak shalat kecuali menghadap sutrah, baik sebagai imam atau ketika munfarid (shalat sendirian)” [Syarh Shahiih Al-Bukhaariy, 2/567].
Sebagaimana diketahui, mushalla yang beliau pergunakan untuk shalat ‘Ied ada di pintu luar Madiinah. Dari sini diketahui bahwa sengaja mempersiapkan sesuatu yang dipergunakan untuk sutrah shalat diperbolehkan.
Yang menarik lagi adalah riwayat berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ بَزِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَاذَانُ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، قَالَ: " كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ تَبِعْتُهُ أَنَا وَغُلَامٌ وَمَعَنَا عُكَّازَةٌ أَوْ عَصًا أَوْ عَنَزَةٌ وَمَعَنَا إِدَاوَةٌ، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ حَاجَتِهِ نَاوَلْنَاهُ الْإِدَاوَةَ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haatim bin Bazii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syaadzaan, dari Syu’bah, dari ‘Athaa’ bin Abi Maimuunah, ia berkata : Aku mendengar Anas bin Maalik berkata : “Apabila Nabi keluar untuk buang hajat, aku dan seorang anak kecil mengikuti beliau dengan membawa tongkat, atau sebatang kayu, atau ‘anazah, serta membawa bejana berisi air. Apabila beliau selesai dari buang hajatnya, kami memberikan bejana tersebut kepada beliau ” [Al-Jaami’ush-Shahiih 1/175 no. 500].
Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah meletakkan hadits ini dalam bab:
الصلاة إلى العنزة
“Shalat menghadap ‘anazah” [idem].
Apa hubungan hadits Anas di atas dengan bab shalat menghadap ‘anazah, padahal secara tekstual di dalamnya sama sekali tidak menyebutkan perbuatan Nabi shalat menghadap ‘anazah ?.
Ibnu Baththaal rahimahullah menjelaskan maknanya:
أن الرسول كان التزم أن لا يكون إلا على طهارة فى أكثر أحواله، وكان إذا توضأ صلى ما أمكنه بذلك الوضوء مذ أخبره بلال بما أوجب الله له الجنة من أنه لم يتوضأ قط إلا صلى، فلذلك كان يحمل الماء والعنزة إلى موضع الخلاء والتبرز
“Bahwasannya Rasulullah selalu berkomitmen dirinya dalam keadaan suci pada kebanyakan kondisi beliau. Apabila berwudlu, maka beliau berusaha mengerjakan shalat yang beliau bisa dengan wudlunya tersebut, semenjak Bilal memberitahukan kepada beliau amalan yang menyebabkan dirinya masuk surga berupa shalat (sunnah) setiap kali selesai wudlu[1]. Oleh karena itu, beliau membawa air dan ‘anazah ke tempat buang hajat” [Syarh Shahiih Al-Bukhaariy 2/131].
Jadi, beliau senantiasa mempersiapkan (membawa) sesuatu yang dipergunakan sebagai sutrah ketika shalat seusai wudlu.
Jika mempersiapkan sesuatu yang dipergunakan sebagai sutrah shalat bagi diri sendiri diperbolehkan, apakah menjadi tidak boleh jika kita membantu atau menyiapkan hal itu untuk orang lain ?. Tentu tidak demikian.
Papan sutrah yang disediakan oleh sebagian pengurus masjid hanyalah sebagai wujud ta’aawun ‘alal-birr wat-taqwaa. Yaitu, membantu jama’ah untuk mendapatkan sutrah shalat sebagai pelaksanaan satu sunnah Nabi :
لا تُصَلِّ إِلا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ
Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 2/9-10 no. 800].
Jika ada seseorang yang ‘agak berat’ berjalan menuju dinding atau tiang saat dirinya duduk di masjid dan hendak melaksanakan shalat sunnah, bolehkah dirinya menjadikan tas yang ia bawa sebagai sutrah ?. Boleh. Jika boleh, bukankah kebolehan itu tetap berlaku jika ia mempergunakan papan sutrah yang kebetulan dekat dengannya ?.[2]
DKM atau orang yang sengaja menyiapkan/membuat papan sutrah tidak mewajibkan atau menganjurkan orang memakainya. Hanya sekedar alternatif saja, bisa dipakai atau tidak. Jika seseorang lebih dekat dengan tembok atau tiang masjid atau di depannya ada orang yang duduk, tentu dirinya tidak akan mempergunakan papan sutrah tersebut.
Adapun sampai menganggap tasyabbuh dengan penyembah berhala (karena seakan-akan menyembah kayu ketika shalat), justru ini bentuk penyamaan yang berlebih-lebihan. Apakah kita akan menganggap perbuatan Nabi yang sering membawa tongkat atau ‘anazah untuk sutrah yang kemudian shalat menghadapnya sama seperti sujud terhadap berhala ?. Allaahul-musta’aan….
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وأجمع المسلمون على أن السجود لغير الله محرم وأما الكعبة فقد كان النبى يصلى الى بيت المقدس ثم صلى الى الكعبة وكان يصلى الى عنزة ولا يقال لعنزة والى عمود وشجرة ولا يقال لعمود ولا لشجرة والساجد للشىء يخضع له بقلبه ويخشع له بفؤاده واما الساجد اليه فانما يولي وجهه وبدنه اليه ظاهرا كما يولي وجهه الى بعض النواحي إذا أمه كما قال فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
“Kaum muslimin sepakat bahwa sujud untuk selain Allah haram hukumnya. Adapun Ka’bah, maka Nabi pernah shalat menghadap Baitul-Maqdis, kemudian setelah itu shalat menghadap Ka’bah. Beliau juga biasa shalat menghadap ‘anazah (ilaa ‘anazah) – tidak dikatakan (sujud) untuk/kepada ‘anazah (li-‘anazah) – dan menghadap tiang dan batang pohon – tidak dikatakan (sujud) untuk/kepada tiang dan batang pohon (li-‘amuud wa li-syajarah) – . Maka, orang yang bersujud untuk/kepada sesuatu, maka hatinya merendahkan diri dan khusyuk kepadanya. Adapun orang yang sujud menghadap pada sesuatu tersebut, maka ia hanya memalingkan wajah dan badannya saja kepadanya secara dhahir, sebagaimana ia memalingkan wajahnya ke sebagian arah apabila menghadap kepadanya. Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala : ‘Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haraam. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya’ (QS. Al-Baqarah : 144, 150)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 4/358-359].
Beliau rahimahullah membedakan antara sujud ilaa-syai’ dan sujud li-syai’. Sujud menghadap sutrah tidak dapat disamakan – atau bahkan dihukumi – seperti sujud para penyembah berhala, apapun wujud sutrah tersebut (‘anazah, meja, kursi, tas, atau papan sutrah).
Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahiim Al-Bukhaariy hafidhahullah membolehkan memakai papan sutrah:

Asy-Syaikh Muhammad bin Haadiy Al-Madkhaliy tidak menghukimi bid'ah papan sutrah sebagaimana riwayat yang terkutip dari situs sahab.net dari Ahmad At-Tuwaijiriy hafidhahumallah:

“Aku mendengar Al-‘Allaamah Abu Anas Muhammad bin Haadiy hafidhahullah ditanya tentangnya – yaitu papan kayu sutrah – apakah itu bid’ah ?. Maka beliau hafidhahullah menjawab : ‘Bukan bid’ah. Tidak mengapa dengannya’. Lalu beliau ber-istidlaal bahwasannya Nabi pernah meletakkan – atau diletakkan baginya – ‘anazah (sebagai sutrah dalam shalat)” [selesai].
Begitu juga Dr. ‘Abdullah Al-Faqiih hafidhahullah dalam situs fatwa.islamweb.net.
Wallaahu a’lam, ini saja yang dapat dituliskan. Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – 2 Ramadlaan 1439 – menjelang ‘Ashar].



[1]    Riwayatnya adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قال لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ: يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ، قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi pernah bertanya kepada Bilaa ketika shalat Shubuh : “Wahai Bilaal, beritahukanlah kepadaku amalan yang engkau lakukan di masa Islam yang paling engkau harapkan, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di dalam surga”. Bilaal menjawab : “Tidaklah aku mengerjakan suatu amalan yang paling aku harapkan daripada aku bersuci baik di waktu malam ataupun siang kecuali aku melakukan shalat dengan bersuciku tersebut sesuai yang dikehendaki Allah padaku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1149 dan Muslim no. 2458].
[2]    Jika dikatakan tidak boleh karena yang dilakukan salaf adalah berlomba-lomba mencari tiang masjid, maka Anda meletakkan tas yang Anda bawa sebagai sutrah shalat pun tidak boleh dengan alasan : Anda mesti mencari tiang masjid sebagai bentuk meneladani salaf.
Ini adalah pemahaman yang aneh!.

Comments