Al-Ikhwaan dan Maulid


Jikalau teman-teman kita dari kalangan harakah Tarbiyyah, PKS, atau Al-Ikhwaanul-Muslimuun begitu membela perayaan Maulid Nabi atau memberikan komentar 'mengambang', saya pribadi cukup memahaminya. Tidak lain tidak bukan adalah karena beberapa tokoh yang – saya kira – menjadi panutan mereka juga melakukannya.
Hasan Al-Banna rahimahullah berkata :
وأذكر أنه كان من عادتنا أن نخرج في ذكرى مولد الرسول ﷺ بالموكب بعد الحضرة، كل ليلة من أول ربيع الأول إلى الثاني عشر منه من منزل أحد الإخوان، ...... وخرجنا بالموكب ونحن ننشد القصائد المعتادة في سرور كامل وفرح تام

”Dan saya sebutkan bahwasannya bagian dari adat/kebiasaan kami adalah keluar pada waktu peringatan Maulid Rasul di Maukib setelah pelaksanaan hadlrah setiap malam, mulai tanggal 1 sampai tanggal 12 Rabi’ul-Awwal di rumah salah seorang ikhwan...... Dan kami keluar di Maukib sambil mendendangkan qashidah-qashidah yang biasa didendangkan dalam kegembiraan dan kesenangan yang sempurna” [Mudzakkiratud-Da’wah wad-Daa’iyyah hal. 52].
’Abbaas As-Siisiy rahimahullah menceritakan:
وبدأ الأستاذ المرشد محاضرته بحمد الله والثناء عليه والصلاة والسلام على رسوله الكريم ثم دخل فى موضوع الذكرى فقال نحيى ذكرى مولد الرسول صلى الله عليه وسلم ومن حق الناس جميعا مسلمين وغير مسلمين أن يحتفلوا بهذه الذكرى المباركة فرسولنا عليه الصلاة والسلام لم يأت للمسلمين فقط وإنما بعث رحمة للعالمين للإنس والجن على السواء 
”Al-Ustaadz Al-Mursyid (Hasan Al-Bannaa) memulai muhadlarahnya dengan hamdalah, pujian terhadap-Nya, serta ucapan shalawat dan salam kepada Rasul-Nya yang mulia . Kemudian beliau masuk ke inti nasihat lalu berkata : ’Kita menghidupkan peringatan maulid Rasul dan menjadi hak seluruh manusia baik kaum muslimin dan selain kaum muslimin untuk merayakan peringatan yang diberkahi ini. Rasul kita tidak datang/diutus hanya untuk kaum muslimin saja, namun beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yaitu bagi golongan manusia dan jin..” [Taariikh Al-Ikhwaanil-Muslimiin fii Muhaafadhah Al-Iskandaariyyah].
Mahmuud Abdil-Halim rahimahullah berkata :
وكنا نذهب جميعاً كل ليلة إلى مسجد السيدة زينب ، فنؤدي صلاة العشاء ، ثم نخرج من المسجد ، ونصطف صفوفاً ، يتقدمنا الأستاذ المرشد، ينشد نشيداً من أناشيد المولد النبوي ، ونحن نردده من بعده في صوت جهوري جماعي يلفت النظر
”Dan kami keluar bersama-sama setiap malam menuju Masjid As-Sayyidah Zainab, lalu kami pun menunaikan shalat ’isya’. Kemudian setelah itu kami keluar dari masjid. Kami berbaris dalam shaf-shaf dimana Al-Ustadz Al-Mursyid (Hasan Al-Banna) memimpin kami untuk mendendangkan nasyid dari nasyid-nasyid Maulid Nabawiy. Dan kami pun menyahut/mengikuti setelahnya dengan suara yang keras secara bersama-sama sambil memalingkan pandangan” [Al-Ikhwanul-Muslimuun : Ahdaats Shana’at-Taarikh 1/109].
Sa’iid Hawwaa rahimahullah menegaskan:
والأستاذ البنا يعتبر من مهمات الحركة الإسلامية إحياء المناسبات الاسلامية وتذكير الناس بها ومن ثمّ فإنه يكاد يكون من البديهيات في فقه الدعوة الإسلامية المعاصرة أن تعطى قضية المولد النبوي والاحتفال به على طريقة مدروسة علمية مقبولة فقهاً أهمية خاصة
”Dan Al-Ustaadz Al-Bannaa memandang bahwa termasuk diantara hal-hal penting yang mesti dilakukan harakah Islamiyyah adalah menghidupkan berbagai perayaah Islam dan mengingatkan masyarakat terhadapnya. Oleh karena itu, hal tersebut hampir menjadi perkara aksiomatik dalam fiqh dakwah kontemporer untuk meletakkan perkara maulid nabawi dan perayaannya secara baik/bijaksana lagi ilmiyyah sehingga secara khusus arti pentingnya dapat diterima secara fiqh” [Tarbiyyatunar-Ruuhiyyah].
Program peringatan maulid Nabi menjadi semacam ’anjuran resmi’ dari founding father harakah Al-Ikhwaan dan secara rutin dilakukan turun-temurun, dari generasi ke generasi hingga sekarang.
Ada pula yang mengatakan dari mereka - terutama grassroot - bahwa perayaan Maulid Nabi ini hanyalah bagian adat kebiasaan manusia dan bukan bagian dari ibadah. Jelas ini hanya sekedar trik agar terhindar dari larangan bid'ah dan bertentangan dengan kenyataan. Tidak mungkin mereka melakukannya tanpa latar belakang ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. As-Suyuuthi rahimahullah saja (sebagai salah seorang tokoh yang membela keabsahan perayaan Maulid Nabi) mengakui status kebid'ahannya, dan mengakui kebolehan/anjuran pelaksanaannya adalah dalam rangka peribadahan/pendekatan diri kepada Allah ta’ala (taqarrub ilalllah):
عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك - هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف ، وأول من أحدث فعل ذلك صاحب إربل الملك المظفر أبو سعيد كوكبري بن زين الدين علي بن بكتكين ، أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد
”Menurutku asal amalan maulid adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah baginya dan khabar-khabar awal mula kehidupan Nabi dan tanda-tanda/peristiwa yang terjadi saat kelahiran beliau . Kemudian dihidangkan makanan kepada mereka, mereka menyantapnya, kemudian bubar tanpa ada tambahan atas hal itu. Maka itu termasuk bid’ah hasanah yang diberikan pahala kepada pelakunya karena dalam hal itu termasuk pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan menampakkan rasa senang dan gembira dengan kelahiran beliau yang mulia . Dan yang pertama kali yang mengadakan amalan tersebut (yaitu peringatan Maulid Nabi) adalah orang-orang Irbil, Raja Al-Mudhaffar Abu Sa’iid Kaukaburiy bin Zainuddin ’Aliy bin Bakitkiin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan murah hati” [Al-Hawi lil-Fataawaa].
Di tempat lain As-Suyuuthiy mengutip perkataan Ibnu Hajar Al-’Asqalaaniy rahimahumallah:
أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها ، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا
“Hukum asal peringatan maulid adalah bid’ah yang tidak ternukil dari kalangan as-salafush-shaalih yang hidup pada tiga jaman (yang pertama). Namun demikian, peringatan maulid ini mengandung kebaikan dan lawannya. Maka barangsiapa yang berusaha melakukan kebaikan dalam perayaan maulid dan menjauhi lawannya (keburukan), maka itu adalah bid’ah hasanah. Jika tidak seperti itu, maka bukan bid’ah hasanah (tidak boleh dilakukan).…” [Al-Haawiy lil-Fataawaa].
Ijtihaad beliau rahimahullah yang mengatakan bid’ah peringatan maulid diterima dan dipandang sebagai perbuatan baik; bertentangan dengan sabda Nabi :
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4607; shahih[1]].
Juga perkataan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang memandangnya sebagai satu kebaikan (bid'ah hasanah)” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal no. 19; sanadnya hasan].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وأما اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول، التي يقال إنها المولد ، أو بعض ليالي رجب ، أو ثامن عشر ذي الحجة ، أو أول جمعة من رجب ، أو ثامن شوال الذي يسميه الجهال عيد الأبرار ، فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ، ولم يفعلوها ، والله سبحانه وتعالى أعلم
“Adapun mengadakan upacara peribadahan selain yang disyari’atkan, seperti malam-malam Rabi’ul-Awwal yang sering disebut Maulid (Nabi), atau malam-malam Rajab, atau tanggal 18 Dzulhijjah , atau awal Jum’at bulan Rajab, atau hari ke-8 bulan Syawwal yang dinamakan oleh orang-orang bodoh dengan ‘Iedul-Abraar; semuanya termasuk bid’ah yang tidak disunnahkan salaf dan tidak mereka kerjakan. Wallaahu subhaanahu wa ta’ala a’lam [Majmu’ Al-Fataawaa, 25/298].
Kembali pada masalah awal......
Ketika satu harakah/kelompok dibentuk dengan sebagian amalan bid’ah yang digagas oleh kreatornya, maka akan sangat sulit untuk menghilangkan bid’ah dari harakah/kelompok tersebut. Ide tashfiyyah akan berhadapan langsung dengan ide sang kreator. Sudah pasti, tertelan ide mainstream dan masuk kotak dianggap dinamika kecil yang terjadi di tepi kolam. Sama halnya ketika harakah Al-Ikhwaan ini dibentuk dengan prinsip kebhinekaan, sehingga cenderung sangat toleran terhadap pemahaman-pemahaman di luar pagar Ahlus-Sunnah wal-Jamaa’ah[2]. Sangat sulit untuk menghilangkan kebathilan yang ada di dalam kelompok ini. Secara umum hanya ada dua pilihan : orangnya keluar atau organisasinya bubar. Orang yang bertahan di dalam mau tidak mau, suka atau terpaksa harus menyepakati ide ini. Minimal diam tidak mengusik ketenangan harakah jikapun harus berbeda pendapat.
Mungkin saja ini dianggap sok tahu, tapi silakan rasakan dan buktikan. Sekali lagi, saya hanya ingin mengajak rekan-rekan 'memahami', bukan menyepakati....... Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – rnn – 18092017].




[2]      IM sangat toleran terhadap aneka pemahaman sesat dan bahkan mendakwahkan persatuan Ahlus-Sunnah – Syi’ah. ‘Umar At-Tilmisaaniy – mursyid aam ketiga IM – rahimahullah berkata:
وفي الأربعينات على ما أذكر كان السيد القمي-وهو شيعي المذهب- ينزل ضيفا على الإخوان في المركز العام ووقتها كان الإمام الشهيد يعمل جاداً على التقريب بين المذاهب ,حتى لا يتخذ أعداء الإسلام الفرقة بين المذاهب منفذا يعملون من خلاله على تمزيق الوحدة الإسلامية ,وسألناه يوماً عن مدى الخلاف بين أهل السنة والشيعة ,فنهانا عن الدخول في مثل هذه المسائل الشائكة التي لا يليق بالمسلمين أن يشغلوا أنفسهم بها ..... فقال رضوان الله عليه : اعلموا أنَّ أهل السنة والشيعة مسلمون تجمعهم كلمة لا إله إلاَّ الله وأنَّ محمداً رسول الله وهذا أصل العقيدة ,والسنة والشيعة فيه سواء وعلى التقاء ,أما الخلاف بينهما فهو في أمور من الممكن التقريب فيها بينهما
“Pada tahun 40-an seingatku, As-Sayyid Al-Qummiy yang bermadzhab Syi’ah bertamu ke markaz besarnya. Waktu itu, Al-Imaam Asy-Syahiid berusaha keras untuk mengadakan pendekatan antar madzhab, hingga musuh-musuh Islam tidak menjadikan perpecahan antar madzhab sebagai celah untuk merobek persatuan kaum muslimin. Dan pada suatu hari kami bertanya kepada beliau tentang cakupan perselisihan antara Ahlus-Sunnah dan Syii’ah. Maka beliau melarang kami untuk masuk dalam permasalahan-permasalahan sensitif semisal ini. Kaum muslimin tidak boleh menyibukkan diri mereka terhadapnya….. Lalu beliau (Al-Ustadz Hasan Al-Banna) berkata : ‘Ketahuilah, bahwasannya Ahlus-Sunah dan Syi’ah statusnya adalah muslim yang disatukan oleh kalimat Laa ilaha illallaah wa anna Muhammadar-Rasuulullah. Ini adalah pokok ‘aqidah. Ahlus-Sunnah dan Syi’ah terdapat kesamaan dan kesesuaian (titik temu). Adapun perselisihan antara keduanya, maka itu dalam perkara-perkara yang sangat dimungkinkan untuk dilakukan pendekatan antara keduanya….” [Dzikriyaat Laa Mudzakkiraat, hal. 249-250 atau Al-Ikhwaanul-Muslimuun wasy-Syii’ah].

Comments