Perawi Majhuul



Definisi perawi majhuul adalah :
هو من لم تُعْرَف عَيْنُهُ أو صفته
ومعني ذلك أي هو الراوي الذي لم تعرف ذاته أو شخصيته أو عرفت شخصيته ولكن لم يعرف عن صفته أي عدالته وضبطه شيء
“Orang yang tidak diketahui identitasnya (‘ainuhu) atau sifatnya. Maknanya, ia adalah perawi yang tidak diketahui dzatnya atau kepribadiannya; atau diketahui kepribadiannya akan tetapi tidak diketahui sifatnya sedikitpun dalam ‘adalah (keadilan)-nya dan kedlabithannya” [Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Mahmuud Ath-Thahhaan, hal. 92].
Al-Khathiib rahimahullah berkata :
الْمَجْهُولُ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ: هُوَ كُلُ مَنْ لَمْ يَشْتَهِرْ بِطَلَبِ الْعِلْمِ فِي نَفْسِهِ، وَلا عَرِفَهُ الْعُلَمَاءُ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يُعْرِفْ حَدِيثُهُ إِلاَّ مِنْ جِهَةِ رَاوٍ وَاحِدٍ
Majhuul menurut muhadditsiin adalah setiap orang yang tidak masyhuur dalam menuntut ilmu pada dirinya dan tidak diketahui ulama perihal tersebut, serta orang yang tidak diketahui haditsnya kecuali dari seorang perawi saja.....” [Al-Kifaayah fii ‘Ilmir-Riwaayah oleh Al-Khathiib, hal. 149].
Beliau rahimahullah melanjutkan :
وأقل ما ترتفع به الجهالة أن يروى عن الرجل اثنان فصاعدا من المشهورين بالعلم كذلك....إلا أنه لا يثبت له حكم العدالة بروايتها عنه
“Dan jumlah paling sedikit yang menyebabkan terangkatnya jahaalah adalah adanya periwayatan dua orang atau lebih perawi masyhuur dengan ilmu dari seseorang,... hanya saja, tidak tetap baginya ‘adalah dengan adanya periwayatan dua orang tersebut darinya” [idem, hal. 150. Lihat juga Al-Baa’itsul-Hatsiits hal. 293].
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan tiga sebab kemajhulan seorang perawi (jahaalatur-raawiy), yaitu :
a.     Perawi mempunyai banyak sifat yang terkait dengan nama, kun-yah, laqab (julukan), sifat, pencaharian/pekerjaan, atau nasabnya, dan ia masyhur dengan salah satu dari hal-hal tersebut; kemudian perawi itu disebut dengan sesuatu yang tidak masyhur darinya dengan maksud-maksud tertentu sehingga dengan penyebutan tersebut perawi itu disangka perawi yang lain – maka dalam hal ini perawi itu adalah majhuul keadaannya.
Misalnya : Muhammad bin As-Saaib bin Bisyr Al-Kalbiy. Sebagian orang menasabkannya pada kakeknya (yaitu : Bisyr), sehingga dikatakan : Muhammad bin Bisyr. Sebagian orang menamainya dengan Hammaad bin As-Saaib. Sebagian orang memberikannya kun-yah : Abun-Nadlr, sebagian lagi : Abu Sa’iid, sebagian lagi : Abu Hisyaam; sehingga – dengan itu semua – disangka nama-nama tersebut adalah sekelompok orang, padahal ia adalah satu orang saja.
b.     Perawi mempunyai sedikit hadits, sehingga tidak banyak perawi yang meriwayatkan hadits darinya.
Beberapa ulama menulis Al-Wuhdaan, yaitu para perawi yang tidak meriwayatkan darinya kecuali seorang saja. Di antara ulama yang mengumpukannya adalah Muslim, Al-Hasan bin Sufyaan, dan yang lainnya.
c.      Perawi yang tidak disebut namanya untuk menyingkat dari perawi yang meriwayatkan darinya (mubham).
Hal ini seperti perkataan perawi : Telah mengkhabarkan kepadaku Fulaan, atau Syaikh, atau seseorang, atau sebagian mereka, atau Ibnu Fulaan. Tidak diterima hadits dari perawi mubham selama tidak disebutkan namanya, karena syarat penerimaan riwayat adalah keadilan para perawinya. Barangsiapa yang dimubhamkan namanya, maka tidak diketahui identitasnya. Lantas, bagaimana diketahui keadilannya ? [Nuzhatun-Nadhar oleh Ibnu Hajar, hal. 123-125, tahqiq : Dr. ‘Abdullah Ar-Ruhailiy – dengan sedikit perubahan dan peringkasan. Lihat pula : An-Nukat ‘alaa Nuzhatin-Nadhar lil-Haafidh Ibni Hajar oleh ‘Aliy Al-Halabiy, hal. 132-134].
Ibnu Hajar rahimahullah melanjutkan :
“Apabila perawi disebutkan namanya, dan hanya ada seorang perawi bersendirian meriwayatkan darinya, maka ia majhuul al-‘ain. Statusnya seperti mubham (yaitu riwayatnya tidak diterima), kecuali jika ia ditsiqahkan oleh selain orang yang bertafarrud meriwayatkan darinya, menurut pendapat yang paling benar; atau ditsiqahkan oleh orang yang bertafarrud meriwayatkan darinya, jika ia seorang ulama ahli naqd/al-jarh wat-ta’diil.
Jika ada dua orang atau lebih meriwayatkan darinya, namun tidak ada yang mentsiqahkannya, maka ia majhuul al-haal. Disebut juga mastuur. Sekelompok ulama menerima riwayatnya tanpa adanya taqyiid, sedangkan jumhur ulama menolaknya. Dan yang benar, riwayat seorang mastuur dan semisalnya, ada beberapa kemungkinan. Tidak mutlak untuk ditolak, tidak pula mutlak untuk diterima. Akan tetapi dikatakan : Ia tergantung pada kejelasan keadaannya, sebagaimana ditetapkan oleh Imam Al-Haramain. Dan yang semisalnya adalah perkataan Ibnu Shalah terhadap orang yang dijarh dengan jarh yang tidak dijelaskan sebabnya (jarh ghairi mufassar)” [idem, hal. 125-126].
Ibnush-Shalaah rahimahullah berkata :
“Dalam periwayatan perawi majhuul ada beberapa macam :
Pertama : Majhuul dalam ‘adalah dhaahir dan baathin-nya sekaligus. Riwayatnya tidak diterima menurut jumhur ulama.
Kedua, Majhuul dalam ‘adalah baathin-nya, namun ‘adil dalam dhaahir-nya. Ia adalah perawi mastuur. Sebagian imam kami berkata : ‘Mastuur adalah orang yang ‘adil dalam dhaahir-nya, namun tidak diketahui ‘adalah baathin-nya’. Orang yang berstatus majhuul ini, riwayatnya dijadikan hujjah oleh sebagian ulama yang menolak riwayat bagian yang pertama (majhuul ‘adalah dhaahir dan baathin-nya). Ia adalah pendapat sebagian ulama Asy-Syaafi’iyyah, dan itulah yang ditetapkan oleh Al-Imaam Sulaim bin Ayyuub Ar-Raaziy.
Ketiga, Majhuul al-‘ain. Riwayat perawi yang majhuul ‘adalah-nya diterima oleh orang yang tidak menerima riwayat perawi majhuul ‘ain. Barangsiapa yang telah meriwayatkan darinya dua orang perawi ‘adil dan menjelaskan identitasnya, maka terangkatlah jahaalah ini darinya...” [Muqaddimah Ibnish-Shalaah, hal. 100-103 dengan peringkasan. Lihat juga An-Nukat ‘alaa Muqaddimah Ibnish-Shalaah, 3/374-383 no. 249-252].
Al-Haafidh Al-‘Iraaqiy rahimahullah berkata :
“Para ulama berbeda pendapat dalam penerimaan riwayat dari perawi majhuul, dimana perawi majhuul tersebut terbagi menjadi tiga bagian: majhuul al-‘ain, majhuul al-haal secara dhaahir dan baathin, serta majhuul al-haal secara baathin.
Bagian Pertama, majhuul al-‘ain : perawi yang tidak meriwayatkan darinya kecuali hanya seorang saja. Ada beberapa pendapat ulama dalam penerimaan riwayat darinya. Pendapat pertama, dan pendapat inilah yang benar yang dipegang jumhur ulama dari kalangan ahli hadits bahwa riwayatnya tidak diterima. Pendapat kedua, diterima secara mutlak. Ini adalah pendapat orang yang tidak mensyaratkan dari seorang perawi selain syarat keislaman. Pendapat ketiga, apabila orang yang bertafarrud meriwayatkan dari perawi tersebut adalah orang yang diketahui tidak meriwayatkan kecuali dari seorang yang ‘adil seperti Ibnu Mahdiy, Yahyaa bin Sa’iid, dan yang semisalnya, maka ta’diil terhadap perawi majhuul diterima. Jika tidak, maka tidak diterima. Pendapat keempat, apabila perawi tersebut mayhuur dengan selain ilmu, seperti masyhuur dengan kezuhudan atau keberanian, riwayatnya diterima. Jika tidak, maka tidak diterima. Ini adalah mendapat Ibnu ‘Abdil-Barr. Pendapat kelima, apabila ada yang mentazkiyyahnya dari salah seorang imam al-jarh wat-ta’diil, maka riwayatnya diterima. Jika tidak, maka tidak diterima. Ini adalah pendapat Abul-Hasan bin Al-Qaththaan dalam kitabnya Bayaanul-Wahm wal-Iihaam.
Bagian Kedua, majhuul al-haal dalam ‘adalah (keadilan) dhaahir dan baathin, bersamaan diketahuinya identitas dengan adanya periwayatan dua orang perawi ‘adil darinya. Ada beberapa pendapat tentangnya. Pendapat pertama, yaitu pendapat jumhur ulama sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnush-Shalaah bahwa riwayatnya tidak diterima. Pendapat kedua, diterima secara mutlak meskipun mereka tidak menerima riwayat perawi bagian pertama (majhuul al-‘ain). Pendapat ketiga, apabila meriwayatkan darinya dua orang perawi yang ‘adil, atau para perawi yang meriwayatkan darinya ada perawi yang diketahui ia tidak meriwayatkan kecuali dari seorang yang ‘adil, maka diterima. Jika tidak, tidak diterima.
Bagian Ketiga, majhuul al-haal pada ‘adalah baathin-nya, namun ia ‘adil dalam dhaahir-nya. Perawi ini dijadikan hujjah oleh sebagian orang yang tidak berhujjah dengan dua golongan pertama di atas. Inilah yang ditetapkan oleh Al-Imaam Sulaim bin Ayyuub Ar-Raaziy....” [Syarh At-Tabshirah wat-Tadzkirah oleh Al-‘Iraaqiy, 2/46-50 – dengan peringkasan].
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
“Permasalahan : Majhuul dalam ‘adalah dhaahir dan baathin, riwayatnya tidak diterima menurut jumhur ulama. Perawi yang majhuul dalam ‘adalah baathin-nya, namun ‘adil dalam dhaahir-nya – dan ia disebut mastuur – sebagian ulama Asy-Syaafi’iyyah menerima riwayatnya. Pendapat ini dirajihkan oleh Sulaim bin Ayyuub Al-Faqiih, dan disepakati oleh Ibnush-Shalaah. Aku telah menuliskan pembahasan tentang hal tersebut dalam Al-muqaddimaat. Wallaahu a’lam.
Adapun perawi mubham yang tidak disebutkan namanya, atau perawi yang disebutkan namanya namun tidak diketahui identitasnya (majhuul al-‘ain), maka tidak ada satupun ulama yang kami ketahui menerima riwayatnya. Namun bila perawi tersebut hidup dalam masa taabi’iin dan generasi-generasi yang dipersaksikan dengan kebaikan, maka riwayatnya boleh dibawakan dan dipertimbangkan dalam beberapa tempat. Terdapat dalam Musnad Al-Imaam Ahmad dan yang lainnya adanya penerimaan riwayat ini dalam jumlah yang banyak. Wallaahu a’lam” [Al-Baa’itsul-Hatsiits oleh Ibnu Katsiir, hal. 292-293].
Ada beberapa point yang perlu diperhatikan dalam perkataan ulama di atas, yaitu :
1.     Ibnu Hajar dan Ibnu Katsiir rahimahumallah menyamakan hukum perawi yang berstatus majhuul al-‘ain dengan mubham, yaitu ditolak riwayatnya.
2.     Majhuul al-‘ain menurut Ibnu Hajar, Ibnush-Shalaah, Al-‘Iraaqiy, dan Ibnu Katsiir rahimahumullah adalah perawi yang tidak meriwayatkan darinya kecuali hanya satu orang saja. Al-Khathiib mengistilahkannya dengan majhuul (saja), begitu juga dengan beberapa ulama salaf lainnya.
Ibnu Hajar menukil :
وفي معجم ابن الأعرابي، عن أحمد بن حنبل: واصل مجهول، ما روى عنه غير الأوزاعي
Dalam Mu’jam Ibnil-‘Arabiy, dari Ahmad bin Hanbal : Waashil adalah majhuul. Tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Al-Auzaa’iy” [Tahdziibut-Tahdziib, 11/176].
3.     Majhuul al-haal atau mastuur dalam istilah Ibnu Hajar meliputi :
a.    Majhuul al-haal dalam ‘adalah dhaahir dan baathin serta majhuul al-haal dalam ‘adalah baathin dalam istilah Ibnush-Shalaah dan Al-‘Iraaqiy rahimahullah.
b.    Majhuul dalam ‘adalah dhaahir dan baathin serta majhuul dalam ‘adalah baathin (= mastuur) dalam istilah Ibnu Katsiir rahimahullah.
Al-Khathiib rahimahullah mengisyaratkan eksistensi majhuul al-haal ini dengan pernyataan bahwa periwayatan dua orang ‘adil darinya tidak otomatis menetapkan ‘adalah-nya (meskipun terangkat jahalah-nya).
Contoh perawi mubham dan hadits yang dibawakannya adalah :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، أَخْبَرَنَا هِشَامٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ، أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَمَّهُمْ، يَعْنِي فِي رَمَضَانَ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْآخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr : Telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam, dari Muhammad, dari sebagian shahabatnya : Bahwasannya Ubay bin Ka’b mengimami mereka pada bulan Ramadlan, dan ia melakukan qunut pada pertengahan akhir bulan Ramadlaan [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1428].
Sebagian shahabat Muhammad (bin Siiriin) dalam sanad riwayat di atas adalah mubham, karena tidak disebutkan namanya.
Contoh perawi majhuul al-‘ain dan hadits yang dibawakannya adalah :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ حَفْصِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dari Hafsh bin Haasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqaash, dari As-Saaib bin Yaziid, dari ayahnya : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai berdoa, maka beliau mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajah beliau dengan kedua tangannya tersebut [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1492].
Hafsh bin Haasyim[1] adalah majhuul al-‘ain, hanya ada seorang perawi yang meriwayatkan darinya, yaitu ‘Abdullah bin Lahii’ah. Ibnu Hajar rahimahullah memperkirakan bahwa Ibnu Lahii’ah telah melakukan kekeliruan. Yahyaa bin Ishaaq As-Sailahiiniy termasuk murid Ibnu Lahii’ah yang terdahulu, dan ia (Yahyaa) telah menghapal darinya (Ibnu Lahii’ah) Habbaan bin Waasi’. Adapun Hafsh bin Haasyim, maka tidak ada penyebutan tentangnya sedikitpun dalam kitab-kitab taariikh. Dan tidak ada seorang pun yang menyebutkan Ibnu ‘Utbah mempunyai anak bernama Hafsh [lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 2/420].
حدثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عبد الله بن لهيعة ثنا بكير بن عبد الله بن الأشج انه سمع عبد الرحمن بن حسين يحدث انه سمع سعد بن أبى وقاص يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ستكون فتنة القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي ويكون الماشي فيها خيرا من الساعي قال وأراه قال والمضطجع فيها خير من القاعد
Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’iid maulaa Bani Haasyim : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Lahii’ah : Telah menceritakan kepada kami Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyaj, bahwasannya ia pernah mendengar ‘Abdurrahmaan bin Husain menceritakan bahwa ia mendengar Sa’d bin Abi Waqqaash berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan terjadi suatu fitnah, dimana orang yang duduk ketika itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri ketika itu lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik dari orang yang berlari”. Husain bin ‘Abdirrahmaan berkata : “Aku mengira Sa’d juga berkata : “Dan orang yang berbaring ketika itu lebih baik dari orang yang duduk” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/168-169].
Semua perawi dalam sanad hadits ini terdapat dalam hampir semua kitab rijaal kecuali ‘Abdurrahmaan bin Husain. Al-Husainiy menyebutkan keterangan tentang dirinya dalam kitab Al-Ikmaal dan berkata : “Dari Sa’d bin Abi Waqqaash, dari (meriwayatkan) darinya Bukair bin Al-Asyaj. Tidak dikenal”. Perkataan ini mengisyaratkan adanya jahaalah pada diri ‘Abdurrahmaan. Padahal, hakekatnya perawi dengan nama ini tidak ada wujudnya, karena yang benar namanya adalah : Husain bin ‘Abdirrahmaan. Kekeliruan ada pada Ibnu Lahii’ah saat menyebut namanya, sebagaimana disebutkan Al-Haafidh dalam kitab Ta’jiilul-Manfa’ah (no. 616).
Oleh karena itu di sini dapat dipahami bahwa majhuul al-‘ain itu dihukumi sama dengan mubham karena ketidakjelasan identitas dan wujudnya (meskipun disebutkan namanya).
Contoh perawi majhuul al-haal dan hadits yang dibawakannya adalah :
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا  إِبْرَاهِيمُ  بْنُ  إِسْمَاعِيل  الْيَشْكُرِيُّ ، عَنْ ابْنِ أَبِي حَبِيبَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نُرِيدُ الْمَسْجِدَ فَنَطَأُ الطَّرِيقَ النَّجِسَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الْأَرْضُ يُطَهِّرُ بَعْضُهَا بَعْضًا "
Telah menceritakan kepada Abu Kuraib : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Ismaa’iil Al-Yasykuriy, dari Ibnu Abi Habiibah, dari Daawud bin Al-Hushain, dari Abu Sufyaan, dari Abu Hurairah, ia berkata : Dikatakan : “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ingin pergi ke masjid, namun kami menginjak tanah yang najis”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bumi itu sebagian mensucikan sebagian yang lain” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 532].
Ibraahiim bin Ismaa’iil Al-Yasykuuriy[2] adalah majhuul al-haal. Ada dua orang perawi yang meriwayatkan darinya, yaitu : Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Alaa’ Al-Hamdaaniy dan Ma’mar bin Sahl Al-Ahwaaziy.
Catatan Penting :
Tidak setiap orang yang hanya seorang perawi bertafarrud meriwayatkan darinya, dan tanpa ada jarh wa ta’diil dari ulama mu’tabar kepadanya; dihukumi dengan jahaalatul-‘ain. Kadang-kadang orang tersebut dihukumi dengan jahaalatul-haal karena ada keterangan yang menunjukkan kejelasan identitas dan keberadaan wujudnya.
Contoh : Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Athiyyah Al-Bashriy. Tidak ada jarh maupun ta’diil dari ulama mu’tabar tentangnya, kecuali Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbaan yang membawakan haditsnya dalam Shahiih-nya[3]. Hanya ada seorang perawi yang meriwayatkan darinya, yaitu : Ishaaq bin ‘Utsmaan Al-Kilaabiy. Jahaalatul-‘ain-nya di sini terangkat karena adanya kejelasan identitasnya ia adalah cucu Ummu ‘Athiyyah Al-Anshaariyyah. Oleh karena itu, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam kitab Shahiih-nya karena adanya kejelasan dalam ’adalah dhahir-nya [lihat : Taisiru Diraasatil-Asaanid oleh ‘Amru bin ‘Abdil-Mun’im, hal. 53].
Terangkatnya Jahaalah dari Seorang Perawi
Jahaalah terangkat dengan tetapnya ‘adalah pada diri seorang perawi, dan ‘adalah ditetapkan melalui jalan sebagai berikut :
1.     Penetapan ‘adalah dari seorang ulama mu’tabar.
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa tazkiyyah (kepada si perawi) tidaklah diterima kecuali berasal dari dua orang atau lebih sebagaimana syahaadah (persaksian)[4]. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa tazkiyyah dari seorang ulama telah mencukupi. Yang raajihwallaahu a’lam – adalah pendapat kedua.
Ibnush-Shalaah rahimahullah berkata :
الرَّابِعَةُ : اخْتَلَفُوا فِي أَنَّهُ هَلْ يَثْبُتُ الْجَرْحُ وَالتَّعْدِيلُ بِقَوْلِ وَاحِدٍ ، أَوْ لَا بُدَّ مِنَ اثْنَيْنِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ : لَا يَثْبُتُ ذَلِكَ إِلَّا بِاثْنَيْنِ ، كَمَا فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ فِي الشَّهَادَاتِ . وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ - وَهُوَ الصَّحِيحُ الَّذِي اخْتَارَهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ وَغَيْرُهُ - أَنَّهُ يَثْبُتُ بِوَاحِدٍ ، لِأَنَّ الْعَدَدَ لَمْ يُشْتَرَطْ فِي قَبُولِ الْخَبَرِ ، فَلَمْ يُشْتَرَطْ فِي جَرْحِ رَاوِيهِ وَتَعْدِيلِهِ ، بِخِلَافِ الشَّهَادَاتِ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Keempat : Para ulama berselisih pendapat dalam permasalahan apakah al-jarh wat-ta’diil (dalam kritik hadits) itu tetap berdasarkan perkataan seorang (ulama), atau mesti dua orang. Di antara mereka ada yang berkata : Tidak tetap hal tersebut kecuali dengan perkataan dua orang, sebagaimana dalam permasalahan al-jarh wat-ta’diil itu sama dalam permasalahan persaksian. Di antara mereka ada yang berkata – dan itu adalah pendapat yang benar yang dipilih oleh Al-Haafidh Abu Bakr Al-Khathiib dan yang lainnya – bahwa al-jarh wat-ta’diil itu tetap dengan perkataan seorang ulama, karena jumlah tidaklah dipersyaratkan dalam penerimaan khabar. Maka tidak dipersyaratkan (jumlah) dalam jarh dan ta’dil perawinya, berbeda halnya dalam permasalahan persaksian (syahaadah). Wallaahu a’lam” [Muqaddimah Ibnish-Shalaah, hal. 109].
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
ويكفي قول الواحد في التعديل والتجريح - على الصحيح
“Dan perkataan seorang ulama dalam ta’diil dan tajriih adalah mencukupi, menurut pendapat yang shahih” [Al-Baa’itsul-Hatsiits, hal. 290].
Pendapat inilah yang dikuatkan Ibnu Hajar rahimahullah [Fathul-Baariy, 5/274].
Oleh karena itu, jahaalatul-‘ain dan/atau jahaalatul-haal seorang perawi dapat terangkat dengan adanya tautsiq dari seorang ulama yang mu’tabar lagi ahli dalam al-jarh wat-ta’diil.
Dan perlu diperhatikan adalah bahwa :
تصحيح إمام معتبر لإسناد حديث يعد توثيقاً لجميع رواته
“Penshahihan seorang imam mu’tabar terhadap sanad hadits dihitung sebagai pen-tautsiq-an atas seluruh perawinya” [Al-Qawaa’idudz-Dzahabiyyah oleh Usaamah Al-‘Utaibiy].
2.     Periwayatan dua orang atau lebih perawi ‘adil/tsiqah darinya.
Beberapa ulama mutaqaddimiin berpendapat bahwa periwayatan perawi tsiqah dari seorang perawi majhuul dapat menguatkannya. Ibnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
سألت أبي عن رواية الثقات عن رجل غير ثقة مما يقويه ؟ قال إذا كان معروفا بالضعف لم تقوه روايته عنه وإذا كان مجهولا نفعه رواية الثقة عنه
Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang riwayat para perawi tsiqaat dari seorang perawi yang tidak tsiqah yang menjadi penguatnya, maka ia (Abu Haatim) menjawab : “Apabila perawi tersebut ma’ruuf dengan kedla’ifannya, maka riwayat perawi tsiqah tersebut tidak dapat menguatkannya. Namun bila perawi tersebut majhuul, maka riwayat perawi tsiqah tersebut darinya akan bermanfaat baginya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/36].[5]
Muhammad bin Yahyaa Adz-Dzuhliy rahimahullah berkata :
إذا روى عن المحدث رجلان ارتفع عنه اسم الجهالة
“Apabila ada dua orang perawi meriwayatkan dari seorang muhaddits, terangkatlah jahaalah” [Al-Kifaayah oleh Al-Khathiib, hal. 150].
Ad-Daaruquthniy rahimahullah berkata :
وَأَهْلُ الْعِلْمِ بِالْحَدِيثِ لا يَحْتَجُّونَ بِخَبَرٍ يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مَعْرُوفٍ، وَإِنَّمَا يَثْبُتُ الْعِلْمُ عِنْدَهُمْ بِالْخَبَرِ إِذَا كَانَ رُوَاتُهُ عَدْلا مَشْهُورًا، أَوْ رَجُلٌ قَدِ ارْتَفَعَ اسْمُ الْجَهَالَةِ عَنْهُ، وَارْتِفَاعُ اسْمِ الْجَهَالَةِ عَنْهُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْهُ رَجُلانِ فَصَاعِدًا، فَإِذَا كَانَ هَذِهِ صِفَتُهُ ارْتَفَعَ عَنْهُ اسْمُ الْجَهَالَةِ وَصَارَ حِينَئِذٍ مَعْرُوفًا، فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ إِلا رَجُلٌ وَاحِدٌ انْفَرَدَ بِخَبَرٍ وَجَبَ التَّوَقُّفُ عَنْ خَبَرِهِ ذَلِكَ حَتَّى يُوَافِقَهُ غَيْرُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Para ulama hadits tidak berhujjah dengan khabar dari seseorang yang tidak ma’ruuf yang ia bersendirian dalam periwayatan khabar tersebut. Ilmu di sisi mereka hanya dapat ditetapkan dengan khabar yang apabila para perawinya ‘adil lagi masyhuur, atau seseorang yang terangkat jahaalah darinya. Terangkatnya jahaalah darinya apabila ada dua orang atau lebih meriwayatkan darinya. Apabila sifat ini ada padanya, maka terangkatlah jahaalah dan kemudian ia menjadi seorang yang ma’ruuf (dikenal). Adapun orang yang tidak ada meriwayatkan darinya kecuali seorang saja, yang ia bertafarrud dalam khabar (yang ia bawakan), wajib untuk bertawaquf (abstain) dari khabar yang dibawakannya tersebut hingga berkesesuaian dengan riwayat selainnya. Wallaahu a’lam” [Sunan Ad-Daaruquthniy, 3/174].
Inilah madzhab Al-Bazzaar rahimahullah yang ditunjukkan pada perkataannya :
وحفص بن أبي حفص الذي روى عنه موسى بن أبي عائشة هذا فقد روى عنه السدي وموسى بن أبي عائشة , فقد ارتفعت جهالته
“Dan Hafsh bin Abi Hafsh yang telah meriwayatkan darinya Muusaa bin Abi ‘Aaisyah ini, maka telah meriwayatkan darinya (beberapa perawi) : As-Sudiiy dan Muusaa bin Abi ‘Aaisyah, sehingga terangkat jahaalah-nya” [Musnad Al-Bazzaar, 1/111].
Al-Khathiib rahimahullah mengatakan bahwa periwayatan dua orang perawi ‘adil itu tidak otomatis menetapkan ‘adalah, meskipun mengangkat jahaalah :
وأقل ما ترتفع به الجهالة أن يروى عن الرجل اثنان فصاعدا من المشهورين بالعلم كذلك....إلا أنه لا يثبت له حكم العدالة بروايتها عنه
“Dan jumlah paling sedikit yang menyebabkan terangkatnya jahaalah adalah adanya periwayatan dua orang atau lebih perawi masyhuur dengan ilmu dari seseorang,... hanya saja, tidak tetap baginya ‘adalah dengan adanya periwayatan dua orang tersebut darinya” [idem, hal. 150. Lihat juga Al-Baa’itsul-Hatsiits hal. 293].
Inilah yang benar, wallaahu a’lam.
Hal yang menguatkan perkataan Al-Khathiib rahimahullah  di atas adalah adanya kaedah periwayatan perawi tsiqah dari perawi lain tidak mengkonsekuensikan penta’dilan padanya [Al-Kifaayah, hal. 112 dan Tadriibur-Raawiy, 1/171]. Inilah manhaj jumhur muhadditsiin.
At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
فَلَا يُغْتَرُّ بِرِوَايَةِ الثِّقَاتِ عَنِ النَّاسِ
“Maka janganlah terpedaya dengan adanya periwayatan perawi tsiqaat dari orang-orang” [Al-‘Ilal Ash-Shaghiir, 6/235 – Jaami’ At-Tirmidziy].
Sangat boleh jadi perawi tsiqah tersebut tidak mengetahui keadilannya. Atau bahkan sering dijumpai seorang perawi tsiqah meriwayatkan dari perawi dla’iif dengan tujuan memelihara sunnah/riwayat.
Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang ‘Abdul-A’laa At-Taimiy, lalu ia menjawab :
لا أعرفه روى عنه مسعر والمسعودي
“Aku tidak mengetahuinya. Mis’ar dan Al-Mas’uudiy telah meriwayatkan darinya” [Masaailul-Imaam Ahmad bi-Riwaayah Ibni Haani’ An-Naisaabuuriy, 2/221].
Ahmad tetap menghukumi ‘Abdul-A’laa dengan jahaalah meskipun telah meriwayatkannya darinya dua orang perawi tsiqah. Mis’ar bin Kidaam dan ‘Abdurrahmaan bin ‘Abdillah Al-Mas’uudiy adalah dua orang yang ditsiqahkan Ahmad rahimahumullah.
Abu Haatim rahimahullah, meskipun di atas ia menyatakan bahwa riwayat para perawi tsiqaat dari seorang perawi majhuul dapat menguatkannya, itu bukan mengangkat kemajhulannya secara mutlak. Beberapa kali ia (Abu Haatim) tetap menghukumi majhuul bagi perawi yang beberapa perawi tsiqaat telah meriwayatkan darinya. Misal :
داود بن يزيد الثقفى البصري روى عن بشر بن حرب وعاصم بن بهدلة وحبيب المعلم روى عنه قتيبة بن سعيد وهشام بن عبيد الله الرازي ومحمد بن أبي بكر المقدمي والحكم بن المبارك الخاشتي.
حدثنا عبد الرحمن قال سمعت أبي يقول ذلك.
حدثنا عبد الرحمن: وسألت أبي عن داود هذا فقال: شيخ مجهول
“Daawud bin Yaziid Ats-Tsaqafiy. Ia meriwayatkan dari Bisyr bin Harb, ‘Aashim bin Bahdalah, dan Habiib Al-Mu’allim. Telah meriwayatkan darinya : Qutaibah bin Sa’iid, Hisyaam bin ‘Ubaidillah Ar-Raaziy, Muhammad bin Abi Bakr Al-Muqaddamiy, dan Al-Hakam bin Al-Mubaarak Al-Khaasyatiy. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan (Ibnu Abi Haatim), ia berkata : “Aku mendengar ayahku mengatakannya”. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan (Ibnu Abi Haatim) : “Dan aku pernah bertanya kepada ayahku tentang Daawud ini, lalu ia berkata : ‘Syaikh majhuul’ [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/428 no. 1944].
Qutaibah bin Sa’iid, Hisyaam bin ‘Ubaidillah, dan Muhammad bin Abi Bakr Al-Muqaddamiy adalah para perawi yang ditsiqahkan oleh Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah.
وقال يعقوب بن شيبة: قلت ليحيى بن معين:" متى يكون الرجل معروفاً ؟ إذا روى عنه كم ؟ " قال:" إذا روى عن الرجل مثل ابن سيرين والشعبي، وهؤلاء أهل العلم فهو غير مجهول". قلت: "فإذا روى عن الرجل [ مثل سماك ] بن حرب وأبي إسحاق ؟ ". قال:" هؤلاء يروون عن مجهولين
Ya’quub bin Syaibah berkata : Aku bertanya kepada Yahyaa bin Ma’iin : “Kapan seseorang menjadi dikenal (ma’ruuf) ?. Bila perawi yang meriwayatkan darinya berapa orang ?”. Ia berkata : “Apabila yang meriwayatkan dari orang itu semisal Ibnu Siiriin dan Asy-Sya’biy, dan mereka itu termasuk ahlul-‘ilmi, maka perawi tersebut tidaklah majhuul”. Aku berkata : “Apabila diriwayatkan dari seseorang semisal Simaak bin Harb dan Abu Ishaaq (As-Sabii’iy) ?”. Ia berkata : “Mereka itu meriwayatkan dari para perawi majhuul” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 1/377-378].
Artinya, seandainya ada seorang perawi majhuul yang telah meriwayatkan darinya dua orang perawi tsiqah dan salah satu di antaranya (misalnya) Abu Ishaaq, maka jahaalatul-haal perawi tersebut tidaklah terangkat – menurut Ibnu Ma’iin – karena Abu Ishaaq adalah perawi yang sering meriwayatkan dari perawi majhuul.
Oleh karena itu, periwayatan dua orang yang ‘adil/tsiqah atau lebih dari perawi majhuul hanyalah mengangkat jahaalatul-‘ain-nya saja, tidak jahaalatul-haal-nya (sehingga statusnya tetap sebagai majhuul al-haal). Riwayatnya tidak diterima menurut jumhur ulama.
Jahalaatul-haal dapat terangkat dengan adanya periwayatan beberapa perawi tsiqaat, dengan syarat :
a.      Perawi tsiqaat yang meriwayatkan darinya tersebut (ada yang) termasuk diantara perawi yang masyhuur dalam keadilan dan ilmu, serta berhati-hati dalam pengambilan riwayat.
Diantara para perawi tersebut ulama adalah : Ibnu Siiriin[6], Asy-Sya’biy[7], Sa’iid bin Al-Musayyib[8], Maalik[9], Ibnu Abi Dzi’b[10], Syu’bah bin Al-Hajjaaj[11], ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy[12], Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan[13], Muhammad bin Al-Waliid Az-Zubaidiy[14], Ahmad bin Hanbal[15], Manshuur bin Al-Mu’tamir[16], Abu Daawud As-Sijistaaniy[17], Yahyaa bin Abi Katsiir[18], Baqiy bin Makhlad[19], Sulaimaan bin Harb Al-Bashriy[20], ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal[21], Bukair bin ‘Abdillah[22], Huraiz bin ‘Utsmaan Ar-Rahabiy[23], Ismaa’iil bin Abi Khaalid[24], Abu Zur’ah Ar-Raaziy[25], Ibnu Wadldlaah Al-Qurthubiy[26], Mudhaffar bin Mudrik Abu Kaamil, Al-Haitsam bin Jamiil, Abu Salamah Al-Khuzaa’iy[27], dan yang lainnya.
Para ulama menjelaskan bahwa syuyuukh mereka secara umum adalah para perawi yang ma’ruuf (bukan majhuul) dan tsiqah.[28]
b.      Tidak ada nakarah dalam hadits yang dibawakan perawi majhuul tersebut.
Ini adalah kaedah umum dalam penolakan khabar munkar. Kemunkaran ini terindikasi dari adanya penyelisihan terhadap periwayatan perawi lain yang tsiqah, atau menyelisihi secara jelas khabar yang masyhur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Terdapat perkataan beberapa ulama dalam menolak riwayat perawi majhuul yang haditsnya terdapat nakarah.
Ibnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
إبراهيم بن زكرياء المكفوف البصري العجلي روى عن همام بن يحيى روى عنه يوسف بن موسى القطان، سألت أبي عنه فقال: مجهول والحديث الذي رواه منكر
Ibraahiim bin Zakariyyaa Al-Makfuuf Al-Bashriy Al-‘Ijliy. Ia meriwayatkan dari Hammaam bin Yahyaa. Telah meriwayatkan darinya Yuusuf bin Muusaa Al-Qaththaan. Aku pernah bertanya pada ayahku tentangnya, lalu ia menjawab : “Majhuul. Hadits yang ia riwayatkan adalah munkar” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/101].
إبراهيم بن عكاشة بن محصن العكاشي روى عن سفيان الثوري روى عنه أبو صالح كتاب الليث. قال أبو محمد وجدت الحديث الذي رواه عن الثوري حديث منكرا دل على ان الرجل غير صدوق
Ibraahiim bin ‘Ukaasyah bin Mihshan Al-‘Ukaasyiy. Ia meriwayatkan dari Sufyaan Ats-Tsauriy. Telah meriwayatkan darinya Abu Shaalih, sekretaris Al-Laits (bin Sa’d). Abu Muhammad (Ibnu Abi Haatim – Abul-Jauzaa’) berkata : Aku mendapati hadits yang ia riwayatkan dari Ats-Tsauriy adalah hadits munkar, yang menunjukkan orang tersebut tidak shaduuq” [idem, 2/117].
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
والجمهور على أن من كان من المشايخ قد روى عنه جماعة ولم يأت بما ينكر عليه أن حديثه صحيح
“Dan jumhur ulama berpendapat bahwa para masyayikh yang telah meriwayatkan darinya sekelompok perawi/ulama tanpa ada hal-hal yang diingkari padanya, maka haditsnya shahih” [Miizaanul-I’tidaal, 3/426].
Hukum Riwayat Perawi Majhuul
Perawi yang berstatus mubham dan majhuul-‘ain adalah perawi yang sangat dla’iif/lemah, sehingga riwayatnya pun sangat lemah dan tidak mencukupi dijadikan mutaabi’aat atau syawaahid. Adapun perawi yang berstatus majhuul-al-haal atau mastuur, maka riwayatnya – meski lemah – dapat dijadikan mutaabi’aat atau syawaahid [Taisiru Diraasatil-Asaanid oleh ‘Amru bin ‘Abdil-Mun’im, hal. 245-247].
Wallaahu a’lam.
Itu saja yang dapat dituliskan, semoga tulisan ringkas ini ada manfaatnya.
Bahan bacaan :
Taisiru Diraasatil-Asaanid lil-Mubtadi’iin oleh ‘Amru bin ‘Abdil-Mun’im, Taisiru ‘Uluumil-Hadiits lil-Mubtadi’iin oleh ‘Amru bin ‘Abdil-Mun’im, Taisiru Mushthalahil-hadiits oleh Mahmuud Ath-Thahhaan, Tahriiru ‘Uluumil-Hadiits oleh ‘Abdullah bin Yuusuf Al-Judai’, Al-Baa’itsul-Hatsiits oleh Ibnu Katsiir, Al-Kifaayah oleh Al-Khathiib, Taqriibut-Tahdziib oleh Ibnu Hajar, Tahriirut-Taqriib oleh Basyaar ‘Awwaad & Syu’aib Al-Arna’uth, Kasyful-Iihaam oleh Maahir Al-Fakhl, Tahriirul-Manquul fir-Raawi Al-Majhuul oleh Muhammad bin ‘Umar Bazmuul, tadriibur-Raawiy oleh As-Suyuthiy, Al-Khulaashah fii ‘Ilmil-Jarh wat-Ta’diil oleh ‘Aliy bin Naayif Asy-Syuhuud, Nuzhatun-Nadhar oleh Ibnu Hajar, An-Nukat ‘alaa Nuzhatin-Nadhar lil-Haafidh Ibni Hajar oleh ‘Aliy Al-Halabiy, Al-Hadiits Ash-Shahiih wa Manhajul-‘Ulamaa’ Al-Muslimiin fit-Tashhiih oleh ‘Abdul-Kariim Ash-Shabbaah, dan yang lainnya.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai, 02122012 – tulisan ini sekaligus meralat beberapa bahasan dalam blog ini yang menyangkut jahaalatur-raawiy].



[1]      Hafsh bin Haasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqaash Az-Zuhriy; seorang yang majhuul. Termasuk thabaqah ke-4. Dipakai oleh Abu Daawud [Taqriibut-Tahdziib, hal. 261 no. 1443].
[2]      Ibraahiim bin Ismaa’iil Al-Yasykuuriy/Al-Bakriy; seorang yang majhuul al-haal. Termasuk thabaqah ke-8. Dipakai oleh Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 105 no. 152].
[3]      Keduanya terkenal sebagai ulama yang mutasaahil dalam mentautsiq perawi.
[4]      Para ulama sepakat diterima riwayat perawi yang mendapatkan tazkiyyah/ta’dil minimal dari dua orang ulama al-jarh wat-ta’diil [Al-Hadiits Ash-Shahiih wa Manhajul-‘Ulamaa’ Al-Muslimiin fit-Tashhiih oleh ‘Abdul-Kariim Ash-Shabbaah, hal. 96].
[5]      Beberapa ulama tertentu ada yang menggunakan lafadh ‘ruwiya ‘anhun-naas’ (orang-orang telah meriwayatkan darinya) sebagai lafadh ta’diil/tautsiq secara umum, seperti Al-Azdiy (dalam kitab Thabaqaat Ahlil-Maushil) dan Muslim (dalam kitab At-Tamyiiz) [Alfaadh wa ‘Ibaaraat Al-Jarh wat-Ta’diil oleh Dr. Ahmad bin Ma’bad].
[6]      Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat :
وقال يعقوب بن شيبة: قلت ليحيى بن معين:" متى يكون الرجل معروفاً ؟ إذا روى عنه كم ؟ " قال:" إذا روى عن الرجل مثل ابن سيرين والشعبي، وهؤلاء أهل العلم فهو غير مجهول". قلت: "فإذا روى عن الرجل [ مثل سماك ] بن حرب وأبي إسحاق ؟ ". قال:" هؤلاء يروون عن مجهولين
Ya’quub bin Syaibah berkata : Aku bertanya kepada Yahyaa bin Ma’iin : “Kapan seseorang menjadi dikenal (ma’ruuf) ?. Bila perawi yang meriwayatkan darinya berapa orang ?”. Ia berkata : “Apabila yang meriwayatkan dari orang itu semisal Ibnu Siiriin dan Asy-Sya’biy, dan mereka itu termasuk ahlul-‘ilmi, maka perawi tersebut tidaklah majhuul”. Aku berkata : “Apabila diriwayatkan dari seseorang semisal Simaak bin Harb dan Abu Ishaaq (As-Sabii’iy) ?”. Ia berkata : “Mereka itu meriwayatkan dari para perawi majhuul” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 1/377-378].
[7]      Ibnu Abi Khaitsamah rahimahullah berkata :
سمعت يحيى بن معين يقول : إذا حدث الشعبي عن رجل فسماه فهو ثقة، يحتج بحديثه
Aku pernah mendengar Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Apabila Asy-Sya’biy meriwayatkan hadits dari seorang laki-laki, lalu ia menyebutkan namanya, maka orang tersebut tsiqah, haditsnya dapat dijadikan hujjah” [An-Nukat ‘alaa Kitaab Ibnish-Shalaah oleh Badruddiin Az-Zarkasyiy, tahqiq : Dr. Zainul-‘Aabidiin bin Muhammad, 3/372].
[8]      Yaziid bin Abi Maalik rahimahullah berkata :
كنت عند سعيد بن المسيب فحدثني بحديث فقلت له من حدثك يا أبا محمد بهذا فقال يا أخا أهل الشام خذ ولا تسأل فانا لا نأخذ إلا عن الثقات
“Aku pernah di sisi Sa’iid bin Al-Musayyib. Lalu ia menceritakan kepadaku satu hadits. Aku bertanya kepadanya : ‘Siapakah yang menceritakan hadits kepadamu wahai Abu Muhammad ?’. Ia berkata : ‘Wahai saudara penduduk Syaam. Ambillah, dan jangan engkau bertanya. Sesungguhnya kami tidaklah mengambil (riwayat) kecuali dari para perawi tsiqaat” [Tahdziibut-Tahdziib, 4/87].
[9]      Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat :
قال الميموني: وقال لي يحيى بن معين:" لا تريد أن تسأل عن رجال مالك، كل من حدث عنه ثقة إلا رجلاً أو رجلين".
Al-Maimuuniy berkata : Yahyaa bin Ma’iin berkata kepadaku : “Janganlah engkau bertanya tentang rijaal Maalik. Setiap orang yang ia (Maalik) meriwayatkan darinya adalah tsiqah, kecuali seorang atau dua orang” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 1/377].
Al-Qaadliy Ismaa’iil rahimahullah berkata :
إنما يعتبر بمالك في أهل بلده ، فأما الغرباء فليس يحتج به فيهم
“Periwayatan yang diakui dari Maalik adalah (periwayatannya) yang berasal dari penduduk negerinya (Madiinah). Adapun yang berasal dari orang-orang asing, maka riwayatnya (Maalik) dari mereka tidak bisa dijadikan hujjah” [idem, 1/380-381].
[10]     Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
وقال أحمد بن سعد بن أبى مريم ، عن يحيى بن معين : ابن أبى ذئب ثقة و كل من روى عنه ابن أبى ذئب ثقة إلا أبا جابر البياضى ، و كل من روى عنه مالك ثقة إلا عبد الكريم أبا أمية
Dan Ahmad bin Sa’d bin Abi Maryam, dari Yahyaa bin Ma’iin (ia berkata) : “Ibnu Abi Dzib tsiqah, dan setiap orang yang Ibnu Abi Dzi’b meriwayatkan darinya adalah tsiqah, kecuali Abu Jaabir Al-Bayaadliy. Setiap orang yang Maalik (bin Anas) meriwayatkan darinya adalah tsiqah, kecuali ‘Abdul-Kariim Abu Umayyah” [Tahdziibul-Kamaal, 25/635].
وقال أبو داود فى موضع آخر : سمعت أحمد بن صالح يقول : شيوخ ابن أبى ذئب كلهم ثقات إلا أبو جابر البياضى
Dan Abu Daawud berkata pada tempat yang lain : Aku pernah mendengar Ahmad bin Shaalih (Al-Mishriy) berkata : “Syuyuukh Ibnu Abi Dzi’b semuanya tsiqaat, kecuali Abu Jaabir Al-Bayaadliy” [idem].
[11]     Al-‘Alaaiy rahimahullah berkata :
إن مالكاً لم يرو إلا عن ثقة عنده، ووافقه الناس على توثيق شيوخه الا في النادر منهم كعبد الكريم بن أبي المخارق وعطاء الخراساني؛ وأما سفيان الثوري فإنه روى عن جماعة كثيرين من الضعفاء مثل جابر الجعفي ونحوه، وشعبة متوسط بينهما في ذلك
“Sesungguhnya Maalik tidak meriwayatkan kecuali dari seorang yang tsiqah di sisinya. Dan orang-orang menyepakati adanya tautsiq terhadap syuyuukh-nya kecuali sedikit di antaranya seperti ‘Abdul-Kariim bin Abi Mukhaariq dan ‘Athaa’ Al-Khurassaaniy. Adapun Sufyaan Ats-Tsauriy, ia meriwayatkan dari sekelompok perawi dla’iif seperti Jaabir Al-Ju’fiy, dan yang semisalnya. Dan Syu’bah adalah pertengahan kedudukannya di antara keduanya dalam permasalahan tersebut” [Jaami’ut-Tahshiil, hal. 90].
[12]     Abu Daawud rahimahullah berkata :
قلت لأحمد : [إذا روى] يحيى أو عبد الرحمن بن مهدي عن رجل مجهول، يحتج بحديثه ؟. قال : يــ[ــحتج بحديثه].
Aku pernah bertanya kepada Ahmad : “Apabila Yahyaa (bin Ma’iin) atau ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy meriwayatkan dari seorang laki-laki majhuul, apakah haditsnya dapat dijadikan hujjah ?”. Ia menjawab : “Haditsnya dapat dijadikan hujjah” [Suaalaat Abi Daawud, hal. 198 no. 137].
[13]     Al-‘Ijliy rahimahullah berkata :
يحيى بن سعيد القطان، يكنى أبا سعيد، بصري ثقة، نقي الحديث، وكان لا يحدث إلا عن ثقة
“Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan, ber-kun-yah Abu Sa’iid. Termasuk penduduk Bashrah, tsiqah, haditsnya bersih. Ia tidaklah meriwayatkan hadits kecuali dari perawi tsiqah” [Ma’rifatuts-Tsiqaat, 2/353 no. 1978].
[14]     Ahmad bin hanbal rahimahullah berkata :
كان لا يأخذ إلا عن الثقات
“Ia (Muhammad bin Al-Waliid) tidaklah mengambil riwayat kecuali dari para perawi tsiqaat” [Tahdziibut-Tahdziib, 9/503].
[15]     Ibnu ‘Abdil-Haadiy rahimahullah berkata :
فإن قيل : قد روى الإمام أحمد بن حنبل عن موسى بن هلال وهو لا يروي إلا عن ثقة ، فالجواب أن يقال : رواية الإمام أحمد عن الثقات هو الغالب من فعله والأكثر من عمله كما هو المعروف من طريقة شعبة ومالك وعبد الرحمن بن مهدي ويحيى بن سعيد القطان وغيرهم
“Dan apabila dikatakan : ‘Al-Imaam Ahmad telah meriwayatkan dari Muusaan bin Hilaal, dan ia (Ahmad) tidaklah meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah’. Maka jawabnya adalah : Riwayat Al-Imaam Ahmad dari para perawi tsiqaat adalah keumuman dan kebanyakan dari amal perbuatannya (ketika meriwayatkan hadits) sebagaimana hal itu juga diketahui dari metode Syu’bah, Maalik, ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy, Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan, dan yang lainnya” [Ash-Shaarimul-Munkiy, hal. 18-19].
[16]     Abu Daawud rahimahullah berkata :
منصور لا يروي إلا عن كل ثقة
“Manshuur (bin Al-Mu’tamir) tidaklah meriwayatkan kecuali dari setiap perawi tsiqah” [Tahdziibul-Kamaal, 28/549].
[17]     Ibnu Hajar rahimahullah saat menyebutkan biografi Al-Husain bin ‘Aliy Al-‘Ijliy berkata :
وهذا مما يدل على أن أبا داود لم يرو عنه، فإنه لا يرو إلا عن ثقة عنده
“Dan hal ini termasuk hal yang menunjukkan bahwa Abu Daawud (As-Sijistaaniy) tidak meriwayatkan darinya, karena ia (Abu Daawud) tidaklah meriwayatkan kecuali dari seorang yang tsiqah di sisinya” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/244].
[18]     Ibnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
سمعت أبى يقول: يحيى بن أبى كثير أمام لا يحدث إلا عن ثقة
“Aku mendengar ayahku berkata : Yahyaa bin Abi Katsiir adalah seorang imam. Ia tidak meriwayatkan kecuali dari seorang yang tsiqah” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 9/141 no. 599].
[19]     Ibnu Hajar rahimahullah saat menyebutkan biografi Ahmad bin Jawwaas Al-Hanafiy berkata :
وذكره ابن حبان في الثقات وروى عنه بقى بن مخلد وقد قال أنه لم يحدث إلا عن ثقة
“Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat, dan telah meriwayatkan darinya Baqiy bin Makhlad. Dan ia berkata bahwasannya Baqiy bin Makhlad tidaklah meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah” [Tahdziibut-Tahdziib, 1/19].
[20]     Ibnu Abi Haatim rahimahumallah saat menyebutkan biografi Muhammad bin Abi Raziin berkata :
سئل أبي عنه فقال شيخ بصري لا أعرفه لا أعلم روى عنه غير سليمان بن حرب وكان سليمان قل من يرضى من المشايخ فإذا رأيته قد روى عن شيخ فاعلم انه ثقة
Ayahku pernah ditanya tentangnya (Ibnu Abi Raziin), lalu ia berkata : Seorang syaikh, penduduk negeri Bashrah, aku tidak mengenalnya. Aku tidak mengetahui perawi yang meriwayatkan darinya selain dari Sulaimaan bin Harb. Sulaimaan bin Harb itu adalah orang yang sedikit meridlai (dalam periwayatan) dari kalangan masyayikh. Apabila engkau melihatnya meriwayatkan dari seorang syaikh, maka ketahuilah bahwasannya ia tsiqah” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 7/255 no. 1399].
[21]     Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
وقد كان عبد الله بن أحمد لا يكتب الا عن من يأذن له أبوه في الكتابة عنه، ولهذا كان معظم شيوخه ثقات
“’Abdullah bin Ahmad tidaklah menulis riwayat kecuali dari orang yang diizinkan ayahnya baginya untuk menulis riwayat darinya. Oleh karena itu, sebagian besar syuyuukh-nya adalah tsiqaat” [Ta’jiilul-Manfa’ah pada biografi Al-Laits bin Khaalid Al-Balkhiy].
[22]     Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy rahimahullah berkata :
إذا رأيت بكير بن عبد الله روى عن رجل فلا تسأل عنه ، فهو الثقة الذى لا شك فيه
“Apabila engkau melihat Bukair bin ‘Abdillah meriwayatkan dari seseorang, maka jangan engkau tanya tentangnya, karena ia seorang yang tsiqah tanpa ada keraguan padanya” [Tahdziibut-Tahdziib, 1/492].
[23]     Ibnu ‘Adiy rahimahullah berkata :
وحريز يحدث عن أهل الشام عن الثقات منهم
“Dan Huraiz meriwayatkan dari penduduk Syaam dari kalangan tsiqaat di antara mereka” [Al-Kaamil, 3/394].
[24]     Ibnu Hajar berkata menukil perkataan Al-‘Ijliy rahimahumallah :
كان ثبتا فى الحديث وربما أرسل الشىء عن الشعبى و إذا وقف أخبر و كان صاحب سنة ، و كان حديثه نحو خمس مئة حديث ، و كان لا يروى إلا عن ثقة
“Ia seorang yang tsabt dalam hadits, dan kadang-kadang memursalkan sesuatu dari Asy-Sya’biy. Dan apabila ia memahami satu riwayat, maka ia mengkhabarkannya. Ia seorang shaahibus-sunnah. Jumlah haditsnya sekitar 500 hadits. Dan ia tidaklah meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah” [Tahdziibut-Tahdziib, 1/292].
Catatan : Perkataan Al-‘Ijliy dalam Ma’rifatuts-Tsiqaat dalam biografi Ismaa’il bin Abi Khaalid (1/225 no. 87) tidak terdapat kalimat : ‘Dan ia tidaklah meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah’.
[25]     Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
داود بن حماد بن فرافصة البلخي كان بنيسابور عن ابن عيينة ووكيع وإبراهيم بن الأشعث وجرير وعنه أبو زرعة وأحمد بن سلمة النيسابوري والحسن بن سفيان وغيرهم قال ابن القطان حاله مجهول قلت بل هو ثقة فمن عادة أبي زرعة ان لا يحدث الا عن ثقة
Daawud bin Hammaad bin Faraafishah Al-Balkhiy, ia tinggal di naisaabuur. Meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, Wakii’, Ibraahiim bin Al-Asy’ats, dan Jariir. Telah meriwayatkan darinya Abu Zur’ah, Ahmad bin Salamah An-Naisaabuuriy, Al-Hasan bin Sufyaan, dan yang lainnya. Ibnul-Qaththaan berkata : “Keadaannya majhuul”. Aku (Ibnu Hajar) berkata : “Bahkan ia seorang yang tsiqah. Dan termasuk kebiasaan Abu Zur’ah adalah ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah” [Lisaanul-Miizaan, 3/396 no. 3019].
[26]     Ibnu Hajar rahimahullah saat menyebutkan biografi ‘Abdul-Malik bin Habiib Al-Andalusiy berkata :
روى عنه ابن وضاح ، و بقى بن مخلد ، و لا يرويان إلا عن ثقة عندهما
“Telah meriwayatkan darinya Ibnu Wadldlaah dan Baqiy bin Makhlad. Keduanya tidaklah meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah di sisnya” [Tahdziibut-Tahdziib, 6/390].
[27]     Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
وروى أبو طالب عن أحمد قال: أبو سلمة الخزاعي والهيثم وأبو كامل كان لهم بصر بالحديث والرجال، ولا يكتبون إلا عن الثقات
“Dan Abu Thaalib telah meriwayatkan dari Ahmad (bin Hanbal), ia berkata : ‘Abu Salamah Al-Khuzaa’iy, Al-Haitsam, dan Abu Kaamil mempuyai wawasan yang luas tentang hadits dan rijaal. Dan mereka tidak menulis hadits kecuali dari para perawi tsiqaat” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/125].
[28]     Dikatakan ‘secara umum’ atau ‘pada umumnya’ karena kenyataannya di antara syuyuukh para perawi tersebut ada dari kalangan dlu’afaa’ (para perawi dla’iif).

Comments

Anonim mengatakan...

"tulisan ini sekaligus meralat beberapa bahasan dalam blog ini yang menyangkut jahaalatur-raawiy"

tulisan yg mana saja yg antm ralat stlh munculny artikel ini ust"

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tulisan secara khusus si gak ada. Hanya saja dalam beberapa artikel ketika disinggung keterangan perawi yang terangkat jahalatul-haal nya, saya sebelumnya mengikuti ijtihad sebagian ulama yang menetapkan keadilan berdasarkan periwayatan (minimal) tiga orang perawi tsiqah - bersamaan dengan adanya tautsiq Ibnu Hibbaan rahimahullah.

Anonim mengatakan...

Abu Unaisah....


Apakah Antum pernah membahas Hadits Mursal...? kalau belum, sekalian ana bertanya kepada antum tentang Hadits Mursal. Apakah Hadits Mursal selalu dihukumi Dla'if atau bagaimana ?


mohon pencerahannya ?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Belum.

Ada silang pendapat di kalangan ulama tentang hukum hadits mursal. Tapi yang raajih (yang saya pegang dari pendapat ulama hingga saat ini) - wallaahu a'lam - hadits mursal adalah lemah.

Anonim mengatakan...

Ustad, pernah baca ( lupa kitabnya namun yang ana ingat adalah ucapan Imam Adz-Dzahabi ), kalau perawi wanita ( muhadditsah ) tidak ada yang pendusta, oleh karenanya tiap perawi wanita boleh dipakai meskipun dia-nya majhul, contohnya seperti hadits mengenai berbuka dengan tamar dimana ada perawi wanita majhul bernama ( seingat ana ) al- rab, dan imam at-tirmidzi dalam tashihnya menyatakan hadits hasan shahih....

apa benar perawi wanita yang manjhul boleh dipakai ? jazaakallah khairan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Ya, itu perkataan Adz-Dzahabiy, bahwa perawi wanita itu tidak ada yang berdusta. Tapi kalau dikatakan perawi wanita tidak ada yang majhuul, maka saya tidak tahu. Yang saya tahu dari pengamalan para ahli hadits, perawi wanita itu tetap ada yang dihukumi majhuul. Hukum perawi majhuul, maka tidak dibedakan antara laki-laki dan wanita.

Bukan pendusta bukan berarti mesti tsiqah bukan ?.

Anonim mengatakan...

Ya ustad, harus dilihat qarain juga mungkin ya ? rada rumit memahami hadits majhul ini, terlebih pendapat imam ahmad yang boleh menerima perawi majhul....

Apakah awal-awal mempelajari ilmu hadits antum juga merasakan kesukaran yang sama ( khususnya pembahasan majhul ini )

Dalam kitab Qawaid ulum al-hadits at-tahanuwi disana ketika abu daud bertanya kepada imam ahmad :" jika yahya al-qathan, abdurrahman bin mahdi meriwayatkan dari seorang perawi yang manjhul, bolehkah hadits itu dijadikan hujjah ?" imam ahmad kemudian menjawab : " ya berhujjah dengannya "...

Jujur masih rada sulit memahami qarain-qarain para ulama ahlul hadits, secara ilmu musthalah al-hadits hadits majhul tidak bisa dijadikan hujjah ( dha'if ), ini yang rada susah bagi ana (pemula) memahaminya..

adakah tips & triksnya ?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Imam Ahmad tidak menerima hadits dari perawi majhuul.

Mungkin anggapan antum itu berdasarkan riwayat ini ya ? :

Abu Daawud rahimahullah berkata :
قلت لأحمد : [إذا روى] يحيى أو عبد الرحمن بن مهدي عن رجل مجهول، يحتج بحديثه ؟. قال : يــ[ــحتج بحديثه].

Aku pernah bertanya kepada Ahmad : “Apabila Yahyaa (bin Ma’iin) atau ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy meriwayatkan dari seorang laki-laki majhuul, apakah haditsnya dapat dijadikan hujjah ?”. Ia menjawab : “Haditsnya dapat dijadikan hujjah” [Suaalaat Abi Daawud, hal. 198 no. 137].

Riwayat ini tidak menunjukkan Ahmad menerima hadits perawi majhuul. Para ulama menjelaskan bahwa perkataan Ahmad itu untuk menunjukkan bahwa jahaalah (dari perawi majhuul) itu terangkat dengan adanya periwayatan dari 'Abdurrahmaan bin Mahdiy. 'Abdurrahmaan bin Mahdiy adalah salah seorang ulama yang sangat hati-hati dalam pengambilan riwayat, dan tidak meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqaat (pada umumnya). Di atas telah disebutkan keterangannya.

Coba antum baca kitab Tahriiru ‘Uluumil-Hadiits oleh ‘Abdullah bin Yuusuf Al-Judai’ dan Al-Jawaahirus-Sulaimaaniyyah Syarh Al-Mandhuumah Al-Baiquuniyyah oleh Abul-Hasan Al-Ma'ribiy.

Anonim mengatakan...

Iya, riwayat itu yang ana maksud, Alhamdulillah tulisan antum enak dibaca, mudah dipahami meskipun rada lama memahaminya, jazaakallah khairan...

oya kalau ada waktu mungkin ingin mentakhrij hadits tentang adzan pada bayi baru lahir, barangkali ada faedah yang bisa ana ambil, karena dari percobaan mentakhrij ana masih berpegang bahwa hadits itu shahih ( meskipun ada perawi dha'if 'Asim bin ubaidillah ) tentunya ana melihat qarain dari Yahya Al- Qathah, abdurrahman bin mahdi dan sufyan Ats-Tsauri ( ketiganya dikenal sangat ketat ) namun mereka meriwayatkan dari 'Ashim ubaidillah..

Antum jika ada waktu akan sangat berterima kasih jika meluangkannya, mungkin ana salah dengan begitu ana tau letak kesalahannya...baarokallahu fiikum

AA BAS mengatakan...

Saya sebenarnya juga sangat tertarik mempelajari ilmu hadits, akan tetapi saya bingung harus mulai dari titik apa.

Bisakah akh Abul Jauza memberikan ana tips-tips tentang mempelajarinya ?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Silakan baca kitab-kitab tipis terlebih dahulu, dan pahami. Jangan lupa bertanya kepada ustadz jika tidak memahami.

aswj mengatakan...

Assalamualaikum Ustaz, bagaiamana dengan hadith ini ustaz?

مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ انْتِفَاخُ الْأَهِلَّةِ، وَأَنْ يُرَى الْهِلَالُ لِلَيْلَةٍ فَيُقَالُ لَيْلَتَيْنِ

Al-Haitsami dalam majmu zawaid mengatakan terdapat perawi yang tidak dia kenal. tetapi Al-albani menghasankan/mengshahihkan hadith ini? mohon penjelasan ustaz

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam.

Wallaahu a'lam, saya pribadi belum pernah meneliti lebih jauh tentang hadits dimaksud.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy memang terdapat perawi majhuul. Akan tetapi hadits tersebut mempunyai beberapa jalan. Diantaranya ada yang mursal :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْرُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الطُّوسِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بِمَكَّةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الصَّائِغِ، عَنْ دَاوُدَ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ مِهْرَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرَى الْهِلالُ لَلَيْلَةٍ فَيُقَالُ هُوَ لِلَيْلَتَيْنِ

[Diriwayatkan oleh Ad-Daaniy dalam As-Sunan Al-Waaridah fil-Fitan no. 398].

Sanad ini shahih hingga Al-Hasan Al-Bashriy.

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ ذُرَيْحٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنَ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ يُرَى الْهِلَالُ قُبُلًا، فَيُقَالَ: ابْنُ لَيْلَتَيْنِ

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 38459].

Selain mursal, sanad ini lemah karena Syariik. Ia seorang yang shaduuq namun jelek hapalannya.

Dan yang lainnya.

Ada kemungkinan Syaikh Al-Albaaniy menghasankan hadits tersebut dengan keberadaan jalan-jalan riwayat lain yang menguatkannya.

wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Salam ostad,

apa padangan berkaitan dengan link ini??

http://www.sulaymani.net/index.php/2010-11-18-19-57-50/2010-11-18-19-58-26/1110-2009-11-05-10-32-48

Syiah menggunakannya sebagai bukti mengangkat jahalah, iddatun min ashabina dalam al-kafi

Anonim mengatakan...

ustadz, bolehkah seseorang yang dalam masalah tashhih tadh'if hadits masih taqlid, tapi menulis dan berisinbath dari hadits2 yang diperselisihkan keshahihannya.. semisal hadits A, ia memilih pendapat ulama yang mendha'ifkan.. hadits B, ia memilih pendapat yang menshahihkan.. pilih memilih ini untuk mendukung isi tulisan.. bukan berdasarkan argumen masing2 ulama dalam tashhih-tadh'if..

ataukah ia mestinya taqlid saja pada satu ulama hadits?
jazakallahu khair

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Kalau taqlidnya dalam tashhiih atau tadl'iif hanya untuk mendukung isi tulisan, tentu tidak boleh. Itu namanya memilih-milih yang berkesesuaian dengan dirinya saja.

Boleh saja seorang bertaqlid pada seorang ulama yang mumpuni dan ia percayai, kemudian ia berkeyakinan atau mempunyai dhann yang kuat bahwa yang dishahihkan atau didla'ifkan ulama yang ia taqlidi tersebut adalah benar.

wallaahu a'lam.

Abul Hasan mengatakan...

Afwan ustadz mau bertanya..
1. Apakah pernyataan yang ditebalkan pada kutipan dibawah yang dimaksud oleh az Zarkasyi bahwa perawi Majhul hal itu diterima oleh kebanyakan ahlul hadits ?

Apakah memang disisi Bazzar dan Daruquthni itu perawi majhuul haal ditetapkan 'adalahnya dan tidak dinilai majhul?

2. Apakah pendapat ini benar / kuat ?
3. Apakah ada keterangan dari ulama dahulu yang menyatakan bahwa jumhur muhadditsiin itu bahwa perawi majhuul haal (yang diriwayatkan oleh dua orang tsiqoh atau lebih) tidak mengkonsekuensi 'adalah ?-berbeda dari nukilan dibawah-

[kutip]
"Al-Imam al-Zarkasyi berkata dalam kitab nya an-Nukat ‘ala Muqaddimah Ibn al-Shalah sebagai berikut:

قال الحافظ أبو عبد الله بن المواق " المجاهيل على ضربين ... مجهول روى عنه اثنان فصاعدا وربما قيل مجهول الحال ... اختلفت فيهم أهل الحديث والفقهاء فذهب أكثر أهل الحديث إلى قبول رواياتهم والاحتجاج بها منهم البزار والدارقطني فنص البزار في كتاب الأشربة له وفي فوائده وفي غير موضع على أن من روى عنه ثقتان فقد ارتفعت جهالته وثبتت عدالته ونحو ذلك الدارقطني في الديات من سننه

“Al-Hafizh Abu Abdillah bin al-Mawaq berkata: “Perawi majhul itu ada dua macam. ... perawi majhul yang ada dua perawi atau lebih telah meriwayatkan hadits darinya. Majhul dalam kategori ini kadang disebut dengan majhul al-hal. Ahli hadits dan fuqaha berselisih mengenai mereka. Mayoritas ahli hadits telah menerima riwayat mereka dan berhujjah dengannya. Di antara mereka adalah al-Bazzar dan al-Daraquthni. Al-Bazzar telah menegaskan dalam kitab al-Asyribah dan al-Fawaid, dan di dalam lebih satu tempat, bahwa perawi yang ada dua perawi tsiqah telah meriwayatkan darinya, maka telah benar-benar hilang jahalah-nya dan tetap keadilannya. Demikian pula penegasan al-Daraquthni dalam bab Diyat dalam Sunan-nya.” (Al-Zarkasyi, an-Nukat ‘ala Muqaddimah Ibn al-Shalah, juz 3 hal. 375).
[selesai kutipan]

Jazakallahu khairan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebenarnya pertanyaan antum telah ter-cover dalam bahasan di artikel :

1. Manhaj Ad-Daaruquthniy dan Al-Bazzaar rahimahumallah yang dimaksudkan Ibnul-Mawaaq telah saya sebutkan di atas. Mereka berdua berkata bahwa periwayatan dua orang tsiqaat atau lebih mengangkat jahaalah-nya. Akan tetapi, jahaalah apakah yang dimaksudkan ?. Seringkali para ulama mutaqaddimiin menyebut terangkat jahaalah, namun yang mereka maksudkan adalah jahaalatul-'ain-nya saja (sebagaimana istilah yang sering dipakai oleh ulama muta'akhkhiriin).

Dan silakan tengok kembali perbedaan istilah di kalangan muhadditsiin tentang definisi majhuul. Intinya, kita perlu memahami beberapa pengertian tersebut menurut orang yang mengatakannya....

Penjelasan Az-Zarkasyiy yang menasabkan pendapat penerimaan secara mutlak perawi majhuul haal atau mastuur kepada jumhur ulama adalah tidak benar. Antum dapat baca penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah di atas dan juga ulama lain seperti Al-'Iraaqiy dan Ibnu Katsiir rahimahumullah.

Ibnu Hajar menjelaskan :

"Tidak mutlak untuk ditolak, tidak pula mutlak untuk diterima. Akan tetapi dikatakan : Ia tergantung pada kejelasan keadaannya, sebagaimana ditetapkan oleh Imam Al-Haramain....dst.".

Kejelasan itu didapatkan dari perawi yang meriwayatkan darinya. Jika perawi yang meriwayatkan darinya itu dikenal sebagai perawi yang hany ameriwayatkan dari para perawi tsiqaat atau ia anggap tsiqah, maka jahaalatul-haal nya terangkat dan tetap pula 'adalah-nya. Namun jika perawi yang meriwayatkan darinya itu meriwayatkan baik dari perawi tsiqah maupun dla'iif, maka tidak bisa terangkan jahaalatul-haalnya dan ditetapkan 'adalahnya. Sudah ma'ruf dalam ilmu hadits bahwa periwayatan seorang perawi bukan selalu mengindikasikan pentautsiqan.

2. Pendapat memutlakkan penerimaan riwayat perawi berstatus majhuul al-haal (yang tidak mendapatkan tautsiq dan telah meriwayatkan darinya 2 orang atau lebih perawi tsiqaat) adalah pendapat yang lemah. Silakan baca buktinya bagaimana manhaj ulama mutaqaddimiin yang saya sebutkan dalam artikel di atas (dalam bab : "Terangkatnya Jahaalah dari Seorang Perawi".


3. Ada, dan itu telah saya sebutkan di atas.

Wallaahu a'lam.

NB : Jika yang antum tanyakan adalah berkaitan dengan artikelnya Muhammad Idrus Ramli, ya memang agak susah berbicara dengannya. Karena dia hanya mencari pendapat ulama yang berkesesuaian saja, tanpa mau memahami hakekat permasalahan, silang pendapat yang ada, dan sekaligus pentarjihannya.

Abul Hasan mengatakan...

Jazakallahu khairan ustadz
Ya, ana memang menanyakan nukilan ini berasal dari artikelnya m idrus ustadz.. Tapi ana bertanya untuk mencari faedah dari antum.. Lagipula ana sudah bisa meraba ga mudengnya si ustadz romli ini..

"Dengan keterangan tersebut jelas sekali, bahwa seandainya Abu Ishaq al-Qurasyi seorang perawi yang mastur atau majhul al-hal, maka dengan adanya dua perawi tsiqah di atas, status beliau tidak lagi majhul dan justru kini riwayatnya dapat dijadikan hujjah. Ini kalau kita masih bersikeras beranggapan bahwa Abu Ishaq al-Qurasyi tersebut adalah mastur atau majhul al-hal. Padahal status Abu Ishaq al-Qurasyi tersebut bukanlah perawi majhul al-hal atau mastur. Beliau justru perawi yang ma’ruf dan adil sebagaimana keterangan berikut. "

Ini berarti kan dia itu ga mudeng apa yang dia tulis.. Bahwa Abu Ishaq al-Qurasyi itu memang majhuul haal hanya saja si Idrus romli ini mengikuti nukilan az Zarkasy bahwa majhuul haal itu diterima dan ditetapkan 'adalahnya.. Ini malah ngeyel bilang bukan majhuul haal terus.. #duhh