Mencabut Uban di Kepala dan Jenggot



Ada beberapa riwayat yang terkait dengan bahasan ini :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ، مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَكَفَّرَ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً، وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً "
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al-Hanafiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far, dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Janganlah kalian mencabut uban, karena ia adalah cahaya seorang muslim. Barangsiapa yang ditumbuhi uban dalam Islam, Allah akan tulis dengannya kebaikan, akan Allah tutup dengannya kesalahan, dan akan Allah angkat dengannya satu derajat” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 2/210; shahih].
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: ثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، قَالَ: ثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ، قَالَ: ثَنَا أَبِي، قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ أَيُّوبَ يُحَدِّثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي الصَّعْبَةِ، عَنْ حَنَشٍ الصَّنْعَانِيِّ، عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ "، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: إِنَّ رِجَالا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ، فَقَالَ: " مَنْ شَاءَ نَتَفَ شَيْبَهُ "، أَوْ قَالَ: " نُورَهُ ".
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ma’iin, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jariir bin Haazim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata : Aku mendengar Yahyaa bin Ayyuub menceritakan dari Yaziid bin Abi Habiib, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Abi Sha’bah, dari Hanasy Ash-Shan’aaniy, dari Fadlaalah bin ‘Ubaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang ditumbuhi uban dalam jalan Allah, maka baginya cahaya kelak di hari kiamat”. Seorang laki-laki bertanya kepada beliau : “Sesungguhnya beberapa orang laki-laki mencabut uban”. Maka beliau bersabda : “Barangsiapa yang ingin mencabut ubannya – atau beliau bersabda : cahayanya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 5493].
Dhahir larangan dalam riwayat ini menunjukkan keharaman mencabut uban. Begitu pula dengan riwayat Anas radliyallaahu ‘anhu :
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: " يُكْرَهُ أَنْ يَنْتِفَ الرَّجُلُ الشَّعْرَةَ الْبَيْضَاءَ مِنْ رَأْسِهِ، وَلِحْيَتِهِ، قَالَ: وَلَمْ يَخْتَضِبْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ الْبَيَاضُ فِي عَنْفَقَتِهِ، وَفِي الصُّدْغَيْنِ، وَفِي الرَّأْسِ نَبْذٌ "
Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy Al-Jahdlamiy : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-Mutsannaa bin Sa’iid, dari Qataadah, dari Anas bin Maalik, ia berkata : “Dibenci bagi seseorang mencabut uban yang ada di kepala dan jenggotnya”. Ia juga berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyemirnya. Uban beliau hanyalah ada pada bawah bibir, kedua pelipis, dan sedikit yang tumbuh di kepala” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2341].
Hal itu dikarenakan dalam nash dan terminologi salaf, makruh seringkali digunakan dalam makna haram.[1] Oleh karena itu, tidak ada petunjuk dari riwayat ini yang memalingkan asal keharaman yang ada pada nash sebelumnya.
Timbul pertanyaan :
Jika mencabut diharamkan, lantas bagaimana dengan mencukurnya ? Padahal esensi dua hal tersebut adalah sama, yaitu menghilangkannya. Telah shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pensyari’atan mencukur rambut di kepala (hingga botak/gundul) ketika haji dan ‘umrah.
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ، حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُمْ: " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَلَقَ رَأْسَهُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ "
Telah menceritakan kepadaku Ibraahiim bin Al-Mundzir : Telah menceritakan kepada kami Abu Dlamrah : Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin ‘Uqbah, dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar pernah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencukur (rambut) kepalanya ketika Haji Wadaa’ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4410].
Dalam hadits lain disebutkan kebolehan mencukur (gundul) rambut kepala di luar waktu haji dan ‘umrah :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا قَدْ حُلِقَ بَعْضُ شَعْرِهِ وَتُرِكَ بَعْضُهُ فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ، وَقَالَ: احْلِقُوهُ كُلَّهُ أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ "
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyuub, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang anak yang dicukur sebagian rambutnya dan dibiarkan sebagian yang lainnya. Maka beliau melarangnya dan bersabda : "Cukurlah seluruhnya atau biarkan seluruhnya" [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4195; shahih].
Riwayat ini merupakan pemalingan hukum yang cukup kuat mencabut uban yang ada di kepala, dari haram menjadi makruh.
Adapun mencabut uban yang ada di jenggot, maka tetap diharamkan (karena tidak ada dalil yang memalingkan sebagaimana rambut kepala). Keharaman tersebut juga masuk dalam cakupan riwayat :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ. ح وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي جَمِيعًا، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَحْفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَعْفُوا اللِّحَى "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair : Telah menceritakan kepada kami ayahku; keduanya dari ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Potonglah kumis kalian dan peliharalah jenggot” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 259].
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :
لا يجوز حلقها ولا نتفها ولا قصها
“Tidak diperbolehkan untuk mencukur, mencabut, dan memangkas jenggot” [Tahriimu Halqil-Lihaa oleh ’Abdurrahman bin Qasim Al-’Ashimi Al-Hanbaly hal. 5].
Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah ketika ditanya tentang hukum mencabut uban di kepala dan jenggot, beliau menjawab :
أما من اللحية أو شعر الوجه فإنه حرام؛ لأن هذا من النمص، فإن النمص نتف شعر الوجه واللحية منه ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لعن النامصة والمتنمصة. ونقول لهذا الرجل إذا كنت ستتسلط على كل شعرة أبيضت فتنتفها فلن تبقى لك لحية، فدع ما خلقه الله على ما خلقه الله ولا تنتف شيئاً. أما إذا كان النتف من شعر الرأس فلا يصل إلى درجة التحريم لأنه ليس من النمص 
“Adapun mencabut uban di jenggot atau wajah, maka haram, karena perbuatan ini termasuk namsh. Namsh itu adalah mencabut bulu/rambut yang ada di wajah, dan jenggot termasuk bagian darinya. Telah shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau melaknat orang yang melakukan namsh dan orang yang minta dilakukan namsh padanya. Dan kami katakan pada laki-laki ini : Apabila engkau melihat semua rambut telah memutih, lalu engkau mencabutnya, maka tidak ada yang tersisa jenggot padamu. Maka, biarkanlah apa yang telah Allah ciptakan sebagaimana adanya, dan jangan engkau cabut sama sekali. Adapun mencabut uban yang ada di kepala, maka itu tidak sampai pada derajat haram, karena ia bukan termasuk an-namsh” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 11/123].
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 13082012 – 01:23].


[1]      Misalnya dalam firman Allah ta’ala :
كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا
Semua itu kejahatannya amat dibenci (makruuh) di sisi Tuhanmu” [QS. Al-Israa’ : 38].
Maksudnya, semua kejahatan yang tercantum dalam ayat-ayat sebelumnya berupa syirik, durhaka pada orang tua, menghambur-hamburkan harta, zina, dan yang lainnya adalah dibenci (makruh) di sisi Allah. Makruh di sini maknanya haram.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ "
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad, dari ‘Umaarah bin Ghaziyyah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah menyukai dilaksanakan rukhshah (keringanan)-Nya, sebagaimana Dia membenci dilaksanakan maksiat kepada-Nya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/108; shahih].
أَخْبَرَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنْ دَاوُدَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ كَانَ يَكْرَهُ إِتْيَانَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا، وَيَعِيبُهُ عَيْبًا شَدِيدًا "
Telah mengkhabarkan kepada kami Abun-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Daawud, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya ia membenci seseorang yang mendatangi istrinya pada duburnya, dan mencelanya dengan keras” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1119; shahih].
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، نا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: " كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَبْنِيَ مَسْجِدًا بَيْنَ الْقُبُورِ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii : Telah mengkhabarkan kepada kami Hammaam, dari Qataadah, dari Anas; ia (Qataadah) berkata : “Anas membenci membangun masjid di antara kubur” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 7654; shahih].
Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaaniy rahimahullah berkata :
لا يَنْبَغِي لِلرَّجُلِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَلْبَسَ الْحَرِيرَ، وَالدِّيبَاجَ وَالذَّهَبَ، كُلُّ ذَلِكَ مَكْرُوهٌ لِلذُّكُورِ مِنَ الصِّغَارِ وَالْكِبَارِ
 “Tidak boleh bagi laki-laki muslim memakai sutera dan emas. Semuanya itu adalah makruh bagi laki-laki, baik anak-anak ataupun orang tua” [Al-Muwaththa’ lil-Maalik bi-Riwaayati Muhammad bin Al-Hasan, 3/375].
Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :
وَكَذَلِكَ الْمُسْتَحِلُّ لِإِتْيَانِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ، فَهَذَا كُلُّهُ عِنْدَنَا مَكْرُوهٌ مُحَرَّمٌ
“Dan begitu pula dengan orang yang menghalalkan menjimai wanita dari duburnya, maka semua ini adalah makruh lagi diharamkan di sisi kami” [Al-Umm, 6/227].
أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، قَالَ: " كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ مَكْرُوهٌ "، قَالَ مَعْمَرٌ: وَقَالَهُ قَتَادَةُ
Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ayyuub, dari Ibnu Siiriin, ia berkata : “Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat adalah makruh”. Ma’mar berkata : “Hal itu juga dikatakan oleh Qataadah” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 14657].
Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat adalah riba, dan riba adalah haram.
Al-Haazimiy rahimahullah berkata :
وَأَمَّا الْحَلِفُ بِغَيْرِ اللَّهِ: فَهُوَ مَكْرُوهٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْم
“Adapun bersumpah dengan selain Allah, maka itu makruh menurut para ulama” [Al-I’tibaar, 2/782]. 

Comments

Abu Zuhriy mengatakan...

Ustadz, dikatakan diatas:

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyemirnya (yaitu ubannya)..."

Bagaimana mengkompromikannya dengan hadits:

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim)

Juga hadits:

إِنَّ أَحْسَنَ مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبَ الْحِنَّاءُ وَالْكَتَمُ

“Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai).” (Shahiih, HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i)

Juga hadits Abu Malik Asy-ja’iy dari ayahnya, beliau berkata,

كَانَ خِضَابُنَا مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَرْسَ وَالزَّعْفَرَانَ

“Dulu kami menyemir uban kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wars dan za’faron”. (HR. Ahmad dan Al Bazzar.)

Juga hadits Al Hakam bin ‘Amr; beliau mengatakan,

دَخَلْتُ أَنَا وَأَخِي رَافِعٌ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ ، وَأَنَا مَخْضُوبٌ بِالْحِنَّاءِ ، وَأَخِي مَخْضُوبٌ بِالصُّفْرَةِ ، فَقَال عُمَرُ : هَذَا خِضَابُ الإِْسْلاَمِ . وَقَال لأَِخِي رَافِعٍ : هَذَا خِضَابُ الإِْيمَانِ

“Aku dan saudaraku Rofi’ pernah menemui Amirul Mu’minin ‘Umar (bin Khaththab). Aku sendiri menyemir ubanku dengan hinaa’ (pacar). Saudaraku menyemirnya dengan shufroh (yang menghasilkan warna kuning). ‘Umar lalu berkata: Inilah semiran Islam. ‘Umar pun berkata pada saudaraku Rofi’: Ini adalah semiran iman.” (HR. Ahmad)

[hadits dicopas dari muslim.or.id: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-menyemir-rambut.html]

Apakah dikompromikan dengan cara ta'wil yaitu:

"beliau tidak menyemir ubannya dengan WARNA HITAM"?

Anonim mengatakan...

MasyaAllah...
ini artikel yang saya tunggu-tunggu. Alhamdulillah bertambah ilmu, smoga diberi hidayah bisa mengamalkan sesuai petunjuk syar'i.

Jazakallahu kahiran ustadz.
Calon mayyit

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

@Abu Zuhriy,... dalam riwayat lain Anas berkata :

لَمْ يَخْتَضِبْ، وَقَدِ اخْتَضَبَ أَبُو بَكْرٍ بِالْحِنَّاءِ، وَالْكَتَمِ، وَاخْتَضَبَ عُمَرُ بِالْحِنَّاءِ بَحْتًا

"(Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam) tidak menyemir (rambutnya). Akan tetapi Abu Bakr menyemir dengan hinaa' dan katam, sedangkan 'Umar dengan hinaa' dan baht".

Riwayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud Anas adalah beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam memang tidak menyemir sama sekali, baik dengan warna hitam atau selainnya. Namun telah shahih dalam beberapa riwayat tentang perintah untuk menyemir uban.

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata : Abu Quhafah, ayahnya Abu Bakar, datang saat penaklukan Makkah. Rambut dan jenggot beliau telah memutih. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya :

غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَبُوا السَّوَادَ.

“Rubahlah ini dengan sesuatu dan jauhilah dengan warna hitam” [HR. Muslim no. 2102].

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبَغُونَ، فَخَالِفُوهُمْ.

“Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani tidak menyemir (rambutnya), maka berbedalah dengan mereka” [HR. Al-Bukhari no. 3462, 5899 dan Muslim no. 2103].

Dan beliau sendiri memang pernah menyemir rambutnya :

Abu Ritsmah berkata :

ورأيت الشيب أحمر

"Dan aku melihat uban (Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam) yang berwarna merah" [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam Asy-Syamaail no. 45; shahih].

Beberapa ulama memahami hadits-hadits tersebut bahwa ketika uban beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam sedikit, maka beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak menyemirnya. Namun ketika uban beliau bertambah, maka beliau menyemirnya dengan warna selain hitam. Karena dalam riwayat lain dari Abu Ritsmah disebutkan :

قَدْ عَلاهُ الشَّيْبُ وَشَيْبُهُ أَحْمَرُ

"Dan rambut beliau banyak ditumbuhi uban, dan warna uban beliau adalah kemerahan".

Wallaahu a'lam.

Krisna Perbowo mengatakan...

Ust berdazarkan hadits ini
"Cukurlah seluruhnya atau biarkan seluruhnya" [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4195; shahih].
Apa berarti mencukur memendekkan rambut atau merapihkan sebagaimana yg sering dilakukan itu tdk boleh?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Pak Krisna,... bukan itu maksudnya.

Yang dimaksudkan dalam hadits adalah larangan cukur model qazaa', yaitu menngundul sebagian kepala dan membiarkan sebagian yang lain. Misalnya menyisakan jambul di bagian atas, dan menggundul bagian yang lain.

abu hani- bks mengatakan...

Assalamu'alykum... pak ustadz... ada batasan rambut yg boleh disemir, rambut ana baru sebagian kecil yg dah uban., ana kpengen disemir...istri bilang;..wah itumah gaya-gayaan....mhon penjelasan ustadz... jazakallohu khoir.

Pembela aswaja mengatakan...

Hati hati dgn blog Wahabi ini, mengkeruhkan air yang jernih dengan najis dngn pola pikir yang tdk mengikuti pemahaman ulama salaf bhkn sok lebih alim dari para generasi salafussoleh

Anonim mengatakan...

Untuk akh Pembela aswaja
kalau sekedar retorika semua bisa. bisa tunjukkan buktinya?
Sudah tahu kan definisi Ahlussunnah Wal Jama'ah?