Tentang AYAH


Dulu sekali, sebelum kamu ada:
[1] Ayahmu adalah lelaki yang mengerahkan segala jerih termampu tuk mencari modal agar bisa menikahi ibumu.
[2] Jikalau rupanya kakekmu lah yang menanam modal pelaminan, tentu ayahmu dulu telah berupaya suburkan modal batin.
Lalu, ketika kau terlahir dan tumbuh kecil:
[1] Ingatlah ketika ayahmu pulang malam dari kerja; disambut olehmu dan ibumu.
[2] Letih dan payah agaknya tertera di baris bulu matanya. Sungguh ia berupaya mencari nafkah untukmu dan ibumu.
[3] Pernah dulu ayahmu sakit...tak mampu merangkulmu kembali. Dan kau dan ibumu pun merindukan ceria ayah kala itu.
[4] Dan setelah ayahmu pulih, kembali ia bangkit menata jam-jam hidup yang sebelumnya terberai.
[5] Dan kala itu, masa-masa itu...ayahmu begitu muda. Senyumnya tiada gersang, seri wajahnya sering terpandang dan senja umurnya belum menjelang.

Kini, setelah dewasa:
[1] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, lihatlah goresan perjuangan di raut dan keriput kulitnya...terlebih wajahnya.
[2] Jikalau ayahmu masih belum pergi meninggalkan, simaklah batuk-batuk senja menahan rasa sakit...kau tahu jika pagi telah terjelang, senja kemudian akan menjelang.
[3] Jikalau ayahmu masih bisa kau tatap wajahnya dan masih kau dengar suaranya, satu pintu surga masih terbuka...
Jikalau ia telah tiada...harga tak lagi tertera...mahalnya tak lagi terbeli...segala sesuatu takkan kau fahami seberapa besar termakna, kecuali setelah hilangnya ia...
[a courtesy to : Hasan Al-Jaizy].

Comments

Anonim mengatakan...

Hiks.. nangis saya,.

aisyafra mengatakan...

Rindu Abi...

Anonim mengatakan...

terlalu banyak hal yang belum aku sampaikan kepada bapaku ....

hanya do'aku senantiasa menyertaimu menghadap illahi ...

aku senantiasa mengenang kebaikanmu dan akan senantiasa mencintaimu

herizal alwi mengatakan...

1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda, “Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)

Penjelasan: Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.

3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)

herizal alwi mengatakan...

Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor.

Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….”

“Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau.

Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya”.

Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”

Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?”

Rasulullah bersabda lagi: “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!”

Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …”

Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.”

Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’

Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).

Anonim mengatakan...

Salahkah aku menilainya
ketika ayahku ada, dia memiliki beberapa istri. anak2 dan istri2 nya tunduk kepadanya,seakan-akan kami bahagia...tetapi mengapa hatiku tetap iri dengan saudara lainnya, demikian juga ibu, meskipun dia bersikap manis sampai pada akhirnya, sebetulnya dia menangis ketika ayah tidak ada disampingnya...ayah setelah kau pergi, ternyata keputusanmu selama didunia aku nilai salah, sepertinya anak2 hasil buah cintamu dengan istri2 mu, dan istri-istrimu sendiri menyimpan bom waktu, yang meledak ketika kau dipanggilNya, seakan kami bukan lagi saudara melaikan MUSUH yang kejam bagi saudara-saudara kami lainnya
mengapa kau tinggalkan kami harta berlimpah, yang pada akhirnya harta itu membuat kami saling mencabik dan mencela
istri-istri dan anak2 mu takut keketika kau masih ada, mereka bukan iklas seperti yang ada di bibir mereka, ternyata mereka hanya menunggu waktu saat kau Dipanggilnya

Kak Admin mengatakan...

izin share d blog ust...jazakallah khoiron

Hendra mengatakan...

Bismillah,

Ustadz, terkait dengan hadits berikut :
'Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu'

Ada pertanyaan:
1. Sampai umur berapa harta seorang anak menjadi bagian dari harta orangtuanya.
2. Dalam perhitungan harta yang harus dizakati, apakah harta anak juga dihitung sebagai bagian dari harta orangtuanya?

Terimakasih.