Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

0 komentar

Disunnahkan mengiringi puasa Ramadlan dengan puasa enam hari di bulan Syawal dan itu sebanding dengan puasa selama setahun.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun”.[1]

Dari Tsauban radliyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ السَّنَةِ.

”Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan maka puasa sebulan itu sama dengan sepuluh bulan; dan dengan puasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul-Fithri), maka ia melengkapi puasa setahun”.[2]

Al-Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim (3/238) :

قال العلماء: وإنما كان ذلك كصيام الدهر لأن الحسنة بعشر أمثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين، وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي

”Para ulama mengatakan bahwa hal itu sebanding dengan puasa setahun karena satu kebaikan balasannya sepuluh kali lipat dan puasa sebulan Ramadlan sama dengan puasa sepuluh bulan, sedang puasa enam hari sama dengan puasa dua bulan. Keterangan ini juga terdapat pada hadits marfu’ dalam kitab An-Nasa’i” [selesai].

Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughniy (4/438) :

وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِن شَوَّال مُستَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ. رُوِيَ ذلك عَنْ كَعْب الأَحْبَاب، وَالشَّعْبِيِّ، وَمَيْمُونِ بن مِهْرَانَ. وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ.

“Kesimpulan dari hal itu adalah bahwa puasa enam hari pada bulan Syawwal disunnahkan sebagaimana pendapat kebanyakan ulama’ dan hal itu diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, Asy-Sya’bi, dan Maimun bin Mihran; dan hal ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’iy” [selesai].

Puasa enam hari ini dinyatakan sunnah oleh Asy-Syafi’iy, Ahmad[3], dan ulama yang sependapat dengan mereka. Dalil mereka adalah hadits shahih yang menegaskan hal itu. Sedangkan yang melarang puasa ini adalah Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Dari Israil bin Abi Musa dari Hasan Al-Bashri, ia berkata : “Apabila disebutkan puasa enam hari bulan Syawal di dekat Al-Hasan, maka ia berkata :

والله لقد رضي الله بصيام هذا الشهر عن السنة كلها

”Demi Allah, Allah telah ridla puasa satu bulan ini (Ramadlan) sebagai puasa untuk satu tahun penuh”.[4]

Ibnu Rajab dalam Lathaaiful-Ma’aarif (hal. 398) setelah menyebutkan atsar Al-Hasan mengatakan :

ولعله إنما أنكر على من اعتقد وجوب صيامها وأنه لا يكتفي بصيام رمضان عنها في الوجوب وظاهر كلامه يدل على هذا

“Barangkali pengingkarannya itu ditujukan terhadap orang yang meyakini puasa enam hari itu wajib, dan menurutnya puasa Ramadlan telah menjadi kewajiban untuk satu tahun. Dhahir perkataannya memang menunjukkan itu” [selesai].

Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Malik[5] menyatakan makruh. Abu Yusuf berkata :

كانوا يكرهون أن يتبعوا رمضان صوما خوفا أن يلحق ذلك بالفرضية

“Para ulama kalangan Hanafiyyah memandang makruh mengiringi puasa Ramadlan dengan puasa lain (puasa enam hari bulan Syawal) karena dikhawatirkan akan disamakan dengan puasa wajib”.[6]

Dalam Al-Muwaththa’ (1/330) disebutkan :

قال يحيى وسمعت مالكا يقول في صيام ستة أيام بعد الفطر من رمضان إنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها ولم يبلغني ذلك عن أحد من السلف وإن أهل العلم يكرهون ذلك ويخافون بدعته وأن يلحق برمضان ما ليس منه أهل الجهالة والجفاء لو رأوا في ذلك رخصة عند أهل العلم ورأوهم يعملون ذلك

“Yahya berkata : Aku mendengar Malik berkata tentang puasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul-Fithri) dari bulan Ramadlan : Bahwasannya ia (Malik) tidak melihat seorang ulama pun dan fuqahaa yang melakukan puasa ini dan ia juga tidak mendengar itu seorang pun dari kaum salaf. Para ulama telah memakruhkannya dan mereka takut itu termasuk bid’ah. Mereka juga takut orang yang tidak mengerti akan menyamakannya dengan puasa Ramadlan ketika mereka melihat ulama membolehkannya dan melakukannya” [selesai].

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Syarhul-‘Umdah (2/559) :

“Al-Imam Ahmad mengingkari orang yang memakruhkan puasa Syawal karena takut ada puasa selain Ramadlan yang disamakan dengan puasa Ramadlan. (Al-Imam Ahmad mengingkarinya) karena keutamaan dan anjuran puasa ini telah dijelaskan dalam sunnah. Kekhawatiran akan disamakan dengan puasa Ramadlan bisa terjadi bila dilakukan di awal Ramadlan tanpa ada pemisah antara puasa Ramadlan dan puasa selainnya. Sedangkan bila dilakukan di akhir Ramadlan, maka di antara keduanya telah dipisahkan oleh hari raya. Dan larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap puasa hari raya menunjukkan bahwa larangan itu memang khusus berlaku di hari itu saja, sedangkan hari-hari setelahnya adalah hari yang dibolehkan dan diijinkan berpuasa. Sebab bila beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mau, tentu beliau akan melarang puasa di semua hari (bulan Syawal) sebagaimana beliau melarangnya di awal bulan Ramadlan dalam sabdanya :

لَا تُقَدِّمُوا رَمَضَانَ بِصَومِ يَومٍ وَلَا يَوْمَيْنِ.

“Janganlah kalian mendahului puasa Ramadlan dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya)”.[7] [selesai].

Asy-Syaukani berkata dalam Nailul-Authaar (4/282) :

يكره صومها واستدلا على ذلك بأنه ربما ظن وجوبها وهو باطل لا يليق بعاقل فضلاً عن عالم نصب مثله في مقابلة السنة الصحيحة الصريحة وأيضاً يلزم مثل ذلك في سائر أنواع الصوم المرغب فيها ولا قائل به.

واستدل مالك على الكراهة بما قال في الموطأ من أنه ما رأى أحداً من أهل العلم يصومها ولا يخفى أن الناس إذا تركوا العمل بسنة لم يكن تركهم دليلاً ترد به السنة.

“Abu Hanifah dan Malik berkata : ‘Makruh hukumnya puasa Syawal’. Mereka berargumentasi bahwa mungkin itu akan dianggap puasa wajib. Ini adalah pendapat yang bathil dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang memiliki akal pikiran, apalagi seorang ulama seperti mereka dalam menentang sunnah yang shahih dan sharih (jelas). Kemudian pandangan seperti itu akan berlaku pula pada semua puasa yang dianjurkan agama dan tak seorang pun yang mengatakan demikian.

Sementara Malik berargumentasi dalam memakruhkannya sebagaimana yang ia katakan dalam Al-Muwaththa’ bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun ulama yang melakukannya. Padahal sangat jelas bahwa bila manusia tidak mengamalkan sunnah, tidak berarti itu dapat menolak sunnah” [selesai].

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah saat mengomentari pendapat Malik berkata dalam Al-Istidzkaar (3/379) :

لم يبلغ مالكا حديث أبي أيوب على أنه حديث مدني والإحاطة بعلم الخاصة لا سبيل إليه والذي كرهه له مالك أمر قد بينه وأوضحه وذلك خشية أن يضاف إلى فرض رمضان وأن يستبين ذلك إلى العامة وكان - رحمه الله - متحفظا كثير الاحتياط للدين
وأما صيام الستة الأيام من شوال على طلب الفضل وعلى التأويل الذي جاء به ثوبان - رضي الله عنه - فإن مالكا لا يكره ذلك إن شاء الله لأن الصوم جنة وفضله معلوم لمن رد طعامه وشرابه وشهوته لله تعالى وهو عمل بر وخير وقد قال الله عز وجل وافعلوا الخير الحج 77 ومالك لا يجهل شيئا من هذا.

ولم يكره من ذلك إلا ما خافه على أهل الجهالة والجفاء إذا استمر ذلك وخشي أن يعدوه من فرائض الصيام مضافا إلى رمضان وما أظن مالكا جهل الحديث والله أعلم لأنه حديث مدني انفرد به عمر بن ثابت وقد قيل إنه روى عنه مالك ولو لا علمه به ما أنكره وأظن الشيخ عمر بن ثابت لم يكن عنده ممن يعتمد عليه وقد ترك مالك الاحتجاج ببعض ما رواه عن بعض شيوخه إذا لم يثق بحفظه ببعض ما رواه وقد يمكن أن يكون جهل الحديث ولو علمه لقال به والله أعلم

“Malik tidak mengetahui hadits Abu Ayyub sebagai salah satu hadits penduduk Madinah. Sebab mengetahui secara mendalam terhadap ilmu tertentu tidak mungkin dilakukan. Apa yang dimakruhkan Mlik telah ia jelaskan, yaitu ditakutkan puasa itu akan disamakan dengan puasa wajib Ramadlan oleh orang awam. Malik rahimahullah termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam masalah agama.

Sedangkan puasa enam hari bulan Syawal untuk mendapatkan keutamaannya dan seperti apa yang dijelaskan dalam hadits Tsauban radliyallaahu ‘anhu, maka itu tidak dimakrukan Malik insya Allah. Sebab puasa adalah perisai dan keutamaannya diketahui oleh orang yang menahan makan, minum, dan nafsunya karena Allah. Ia juga sebuah amal kebajikan, sedang Allah telah berfirman : “Dan kerjakanlah kebajikan” (QS. Al-Hajj : 77). Malik tentu mengetahui itu.

Malik tidak memakruhkan puasa Syawal melainkan karena kekhawatirannya bila itu dilakukan langsung (setelah Ramadlan) orang awam akan menganggapnya termasuk pusa wajib Ramadlan. Aku berpikiran Malik tidaklah jahil tentang hadits ini, wallaahu a’lam, karena itu adalah hadits penduduk Madinah yang diriwayatkan sendiri oleh ‘Umar bin Tsaabit. Bahkan dikatakan Malik meriwayatkan darinya. Jadi, jika Malik tidak mengetahui hadits itu, tentu ia tidak mengingkarinya. Dan aku mengira juga bahwa syaikh ‘Umar bin Tsaabit termasuk orang yang tidak diterima Malik. Apalagi Malik tidak menerima hadits yang diriwayatkannya dari sebagian gurunya karena ia tidak percaya dengan hapalannya pada sebagian riwayatnya. Atau mungkin juga Malik memang tidak tahu hadits tersebut. Sebab jika ia tahu, tentu ia tidak mengatakan demikian (mengingkari puasa Syawal). Wallaahu a’lam”. [selesai].

Apakah Syarat Puasa Enam Hari Harus Dilakukan Berturut-Turut ?

“Tidak disyaratkan dilakukan berturut-turut, sehingga boleh saja dilakukan langsung setelah berbuka (pada hari raya) atau terpisah antara keduanya, atau dilakukan berturutan, atau secara acak. Sebab Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ

“Dan iringkanlah puasa Ramadlan dengan puasa enam hari bulan Syawal”.

Dalam satu riwayat :

سِتًّا مِنْ شَوَّالَ

“Enam hari bulan Syawwal”.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan Syawwal semua waktu untuk berpuasa tanpa mengkhususkan sebagian dari sebagian yang lain. Seandainya beliau menentukan sebagian saja, tentu beliau mengatakan enam hari pada awal bulan atau enam hari pada akhir bulan. Mengiringi Ramadlan dengan puasa enam hari bisa dilakukan di awal Syawwal dan bisa pula di akhirnya. Sebab pasti antara puasa tersebut dan puasa Ramadlan terpisah dengan hari raya, padahal hari itu juga termasuk bulan Syawwal.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa puasa Syawwal pasti tidak menyatu dengan puasa Ramadlan (karena dipisah dengan hari raya). Kemudian karena melakukannya di awal bulan kuat karena lebih dekat dengan Ramadlan dan lebih bersambung, dan melakukan di akhirnya juga kuat karena menghindari menyatukan puasa Ramadlan dengan puasa selainnya, atau menjadikan hari raya kedua seperti yang dilakukan sebagian orang, maka keduanya adalah seimbang (di awal bulan atau di akhirnya)”.[8]

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata :

لا بأس بصيامها إنما قال النبي {صلى الله عليه وسلم} ستة ايام من شوال فإذا صام ستة ايام من شوال لا يبالي فرق او تابع

“Tidak mengapa ia berpuasa, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ’Enam hari dari bulan Syawwal’. Maka bila seseorang berpuasa enam hari tersebut, tidak masalah apakah ia dilakukan secara acak atau berturutan”.[9]

Adapun kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat puasa enam hari bulan Syawal disunnahkan untuk dilakukan berurutan, sebagaimana dikatakan An-Nawawi berkata :

فقال أصحابنا يستحب صوم ستة ايام من شوال لهذا الحديث قالوا ويستحب ان يصومها متتايعة في اول شوال فان فرقها أو أخرها عن أول شوال جاز وكان فاعلا لاصل هذه السنة لعموم الحديث واطلاقه وهذا لا خلاف فيه عندنا وبه قال أحمد وداود

“Para shahabat kami berkata : ‘Disunnahkan puasa enam hari bulan Syawal berdasarkan hadits ini’. Mereka juga berkata : ‘Dan juga disunnahkan berpuasa secara berurutan mulai awal Syawal. Namun jika dilakukan secara acak, atau ditunda hingga akhir bulan, maka itu jga dibolehkan, dan orang yang melakukannya telah menjalankan sunnah sesuai dengan keumuman makna hadits dan kemutlakannya. Tidak ada perbedaan (pendapat) di kalangan madzhab kami. Dan ini juga menjadi pendapat Ahmad dan Abu Dawud”.[10]

Namun pendapat kalangan Syafi’iyyah ini tidak benar, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan disunnahkannya berpuasa secara berurutan kecuali keumuman perintah bersegera melaksankan kebajikan. Perintah (puasa Syawal) ini bersifat longgar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Bolehkah Mendahulukan Puasa Enam Hari Bulan Syawwal dari meng-Qadla Puasa Ramadlan ?

Jawabannya adalah : Barangsiapa melakukan puasa enam hari bulan Syawwal sebelum mengqadla puasa Ramadlan yang tertinggal, maka dia tidak mendapatkan keutamaannya sebagaimana yang dijelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sama dengan puasa setahun. Sebab dalam hadits Tsauban hal itu dijelaskan secara rinci, bahwa satu bulan sama dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah berbuka melengkapi menjadi setahun. Sedangkan orang yang masih hutang puasa Ramadlan belum menyempurnakan puasa sebulan. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul-Mumti’ (6/448) :

ثم إن السنة أن يصومها بعد انتهاء قضاء رمضان لا قبله، فلو كان عليه قضاء ثم صام الستة قبل القضاء فإنه لا يحصل على ثوابها؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: «من صام رمضان» ومن بقي عليه شيء منه فإنه لا يصح أن يقال إنه صام رمضان؛ بل صام بعضه، وليست هذه المسألة مبنيّة على الخلاف في صوم التطوع قبل القضاء؛ لأن هذا التطوع أعني صوم الست قيده النبي صلّى الله عليه وسلّم بقيد وهو أن يكون بعد رمضان......

“Kemudian, sesungguhnya yang menjadi sunnah adalah ia berpuasa enam hari setelah selesai mengqadla puasa Ramadlan, bukan sebelumnya. Jika ia masih mempunyai kewajiban qadla’ kemudian ia puasa enam hari sebelum menunaikan qadla tersebut, maka ia tidak mendapatkan pahala puasa (yang disebutkan dalam hadits). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan’. Maka jika ia masih mempunyai tersisa hutang puasa Ramadlan, maka tidak benar dikatakan ia telah berpuasa Ramadlan, akan tetapi ia berpuasa pada sebagiannya. Dan permasalahan ini tidaklah termasuk yang dijelaskan mengenai perbedaan (pendapat) bolehnya puasa sunnah sebelum qadla’, karena puasa sunnah enam hari ini telah di-taqyid oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia dilakukan setelah puasa Ramadlan….” [selesai].

[Shiyaamuth-Tathawwu’ Fadlaailun wa Ahkaamun– edisi Indonesia : Puasa Sunnah, Hukum & Keutamaannya oleh Asy-Syaikh Usamah bin ‘Abdil-‘Aziiz, Darul-Haq – dengan peringkasan].



[1] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1164), Abu Dawud (no. 2433), At-Tirmidzi (no. 759), An-Nasa’iy dalam Al-Kubraa (2/no. 2862), Ibnu Majah (no. 1716), Ahmad (5/417 & 419), dan yang lainnya.

[2] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra (2/no. 2860 & 2861), Ibnu Majah (no. 1715), Ahmad (5/280), Ad-Darimi (2/21), Ibnu Khuzaimah (no. 2115), Al-Baihaqiy dlam Al-Kubraa (4/393), dan yang lainnya; shahih.

[3] Lihat Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Atsar (3/450), An-Nawawiy dalam Syarh Muslim (3/238), ‘Abdullah bin Ahmad dalam Masaail Ahmad (hal. 193), dan Syaikhul-Islam dalam Syarh ‘Umdatil-Ahkaam (2/556).

[4] Riwayat ini shahih, dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (3/124) dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (3/97) melalui jalan Al-Husain bin ‘Aliy Al-Ja’fiy dari Israil bin Abi Musa, dari Al-Hasan.

[5] Fathul-Qadiir (2/349) dan Al-Muwaththa’ (1/330).

Mayoritas syaikh kalangan Hanafiyyah berpendapat tidak mengapa melakukan puasa enam hari bulan Syawal. Demikian yang dikatakan Ibnul-Hamaam dalam Fathul-Qadiir (2/349) dan Ibnu ‘Abidin dalam Hasyiyyah-nya (3/330). Yang juga berpendapat tidak mengapa melakukan puasa Syawal adalah Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah dan ia mentolerir pendapat Al-Imam Malik sebagaimana akan dijelaskan.

[6] Badaa’iush-Shanai’ (2/78).

[7] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1914) dan Muslim (no. 1082).

[8] Syarhul-‘Umdah oleh Ibnu Taimiyyah (2/559).

[9] Masaa’il Abdullah (hal. 193).

[10] Al-Majmu’ (6/379).

Menyuruh Orang Lain Berdiri/Menyingkir dan Kemudian Ia Duduk di Tempat Orang Tersebut

0 komentar

عن ابن عمر رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لا يقيم الرجل الرجل من مجلسه ثم يجلس فيه).

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6269, Muslim no. 2177, ‘Abdurrazzaq no. 5592 & 5594, ‘Abd bin Humaid no. 764, Ibnu Hibbaan no. 587, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 1538, Al-Baihaqiy 3/232, dan yang lainnya].

Adalah Ibnu ‘Umar membenci menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya kemudian duduk di tempatnya itu [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6270 dan Muslim no. 2177].

عن جابر، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال "لا يقيمن أحدكم أخاه يوم الجمعة. ثم ليخالف إلى مقعده فيقعد فيه. ولكن يقول: افسحوا".

Dari Jaabir, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Janganlah salah seorang di antara kalian menyuruh saudaranya untuk berdiri (dari tempat duduknya) pada hari Jum’at, lalu ia duduk di tempat duduknya itu. Akan tetapi hendaknya ia berkata : ‘Berlapanglah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2178].

عن ابن عمر قال : جاء رجل إلى النبيِّ صلى اللّه عليه وسلم، فقام له رجل من مجلسه، فذهب ليجلس فيه، فنهاه النبيُّ صلى اللّه عليه وسلم.

Dari Ibnu ‘Umar ia berkata : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ada seseorang berdiri dari tempat duduknya untuknya. Ketika laki-laki itu ingin duduk di tempat tersebut, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4828; shahih – lihat Shahih Sunan Abi Dawud 3/186].

Mengomentari hadits di atas, Al-Khathiib Al-Baghdadiy rahimahullah berkata :

وهكذا يكره ان يجلس في موضع وان قام له عن مجلسه باختياره

“Begitulah, dimakruhkan duduk di tempat itu meskipun orang tersebut berdiri untuknya dengan kemauannya sendiri” [Al-Jami’ li-Akhlaaqir-Raawiy wa Aadaabis-Saami’ no. 263, tahqiq : Dr. Mahmuud Ath-Thahhaan; Maktabah Al-Ma’arif, Cet. Thn. 1403].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

هَذَا النَّهْي لِلتَّحْرِيمِ , فَمَنْ سَبَقَ إِلَى مَوْضِع مُبَاح فِي الْمَسْجِد وَغَيْره يَوْم الْجُمُعَة أَوْ غَيْره لِصَلَاةٍ أَوْ غَيْرهَا فَهُوَ أَحَقّ بِهِ , وَيَحْرُم عَلَى غَيْره إِقَامَته لِهَذَا الْحَدِيث , إِلَّا أَنَّ أَصْحَابنَا اِسْتَثْنَوْا مِنْهُ مَا إِذَا أَلِف مِنْ الْمَسْجِد مَوْضِعًا يُفْتِي فِيهِ , أَوْ يَقْرَأ قُرْآنًا أَوْ غَيْره مِنْ الْعُلُوم الشَّرْعِيَّة , فَهُوَ أَحَقّ بِهِ , وَإِذَا حَضَرَ لَمْ يَكُنْ لِغَيْرِهِ أَنْ يَقْعُد فِيهِ . وَفِي مَعْنَاهُ مَنْ سَبَقَ إِلَى مَوْضِع مِنْ الشَّوَارِع وَمَقَاعِد الْأَسْوَاق لِمُعَامَلَةٍ . وَأَمَّا قَوْله : ( وَكَانَ اِبْن عُمَر إِذَا قَامَ لَهُ رَجُل عَنْ مَجْلِسه لَمْ يَجْلِس فِيهِ ) فَهَذَا وَرَع مِنْهُ , وَلَيْسَ قُعُوده فِيهِ حَرَامًا إِذَا قَامَ بِرِضَاهُ , لَكِنَّهُ تَوَرَّعَ عَنْهُ لِوَجْهَيْنِ : أَحَدهمَا أَنَّهُ رُبَّمَا اِسْتَحَى مِنْهُ إِنْسَان فَقَامَ لَهُ مِنْ مَجْلِسه مِنْ غَيْر طِيب قَلْبه , فَسَدَّ اِبْن عُمَر الْبَاب لِيَسْلَم مِنْ هَذَا . وَالثَّانِي أَنَّ الْإِيثَار بِالْقُرْبِ مَكْرُوه أَوْ خِلَاف الْأَوْلَى , فَكَانَ اِبْن عُمَر يَمْتَنِع مِنْ ذَلِكَ لِئَلَّا يَرْتَكِب أَحَد بِسَبَبِهِ مَكْرُوهًا , أَوْ خِلَاف الْأَوْلَى بِأَنْ يَتَأَخَّر عَنْ مَوْضِعه مِنْ الصَّفّ الْأَوَّل وَيُؤْثِرهُ بِهِ وَشِبْه ذَلِكَ . قَالَ أَصْحَابنَا : وَإِنَّمَا يُحْمَد الْإِيثَار بِحُظُوظِ النُّفُوس وَأُمُور الدُّنْيَا دُون الْقُرْب . وَاللَّه أَعْلَم .

“Larangan ini menunjukkan keharaman. Barangsiapa yang terlebih dahulu duduk di tempat yang mubah seperti duduk di masjid atau tempat lainnya, pada hari Jum’at atau di hari lainnya, untuk melaksanakan shalat atau untuk aktifitas lainnya; berarti ia lebih berhak menempati tempat tersebut dan haram bagi orang lain menyuruhnya bangkit dari tempat tersebut berdasarkan hadits ini. Hanya saja shahabat kami memberikan pengecualian : Apabila seseorang terbiasa memberikan fatwa, membaca Al-Qur’an atau ilmu syari’at lainnya, dan jika ia datang, maka tidak boleh seorang pun yang duduk di tempatnya. Di antara makna yang dimaksud dalam hadits, yaitu seseorang yang terlebih dahulu menempati suatu tempat di jalan atau tempat berjualan di pasar. Adapun riwayat : Adalah Ibnu ‘Umar jika ada seseorang yang berdiri untuknya dari tempat duduknya, maka ia tidak mau duduk di tempat itu ; maka ini merupakan sikap wara’-nya. Bukan berarti jika orang itu bangkit dengan senang hati lantas tempat itu tetap haram untuk diduduki. Sikap wara’ Ibnu ‘Umar itu disebabkan dua hal :

a.      Boleh jadi orang tersebut sungkan kepada Ibnu ‘Umar lalu ia bangkit berdiri dengan perasaan tidak enak.

b.      Mengutamakan orang lain dalam perkara mendekatkan diri kepada Allah, hukumnya makruh. Oleh karena itu Ibnu ‘Umar tidak menduduki tempat tersebut agar orang yang mempersilakan duduk di tempat tersebut tidak melakukan perkara yang makruh, yaitu mundur dari shaff pertama karena mempersilakan Ibnu ‘Umar.

Shahabat kami berkata : ‘Mengutamakan orang lain adalah tindakan yang terpuji dalam urusan dunia, bukan dalam urusan ibadah. Wallaahu a’lam” [selesai perkataan An-Nawawiy – lihat Syarh Shahih Muslim 14/160-161, Al-Mathba’ah Al-Mishriyyah Al-Azhar, Cet. Thn. 1347].

Dan jika ada seseorang yang duduk, lalu ia bangkit dan kemudian ia kembali lagi ke tempat duduknya, maka ia tetap sebagai orang yang paling berhak duduk di tempatnya semula.

عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "إذا قام أحدكم من مجلسه ثم رجع إليه، فهو أحق به".

Dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia kembali lagi, maka ia lebih berhak terhadap tempat tersebut” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2179].

Wallaahu a’lam.

Semoga ada manfaatnya.

[Disadur dari tulisan Ibrahim bin Fat-hi bin ‘Abdil-Muqtadir dengan sedikit perubahan dan penambahan oleh Abu Al-Jauzaa’ – 10 Syawwal 1430 H, perumahan Ciomas Permai, Ciapus, Ciomas, Bogor].

Hukum Shalat Dluhaa

6 komentar

Uraian ini akan dimulai dari hadits pertama yang tertera di buku Bulughul-Maram[1] yang menyinggung tentang shalat Dluha.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: "كَانَ رَسُولُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعاً، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله". رَوَاهُ مُسْلِمٌ [صحيح. رواه مسلم (719) (79).].

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Biasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat Dluha 4 raka’at, dan beliau menambahnya sebanyak yang Allah kehendaki” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 719 – 79].

Ash-Shan’ani dalam Subulus-Salam Syarh Bulughil-Maram[2] berkata :

وأما حكمها فقد جمع ابن القيم الأقوال فبلغت ستة أقوال. الأول: أنها سنة مستحبة. الثاني: لا تشرع إلا لسبب. الثالث: لا تستحب أصلاً. الرابع: يستحب فعلها تارة وتركها تارة فلا يواظب عليها. الخامس: يستحب الموظبة عليها في البيوت. السادس: أنها بدعة.

“Adapun mengenai hukum Shalat Dluha, Ibnul-Qayyim telah mengumpulkan beberapa pendapat hingga mencapai 6 (enam) pendapat : Pertama, bahwa hukumnya termasuk sunnah yang disukai. Kedua, tidak disyari’atkan kecuali karena adanya sebab. Ketiga, tidak disukai sama sekali. Keempat, disukai (mustahab) untuk dikerjakan, tetapi sekali waktu boleh dikerjakan dan sekali waktu boleh untuk ditinggalkan; tidak dikerjakan terus-menerus. Kelima, shalat Dluha adalah bid’ah” [selesai].

Sumber ke-musykil-an adalah adanya “pertentangan” antara hadits-hadits mengenai shalat Dluha ini. Di bawah ini akan disebutkan diantaranya :

1. وَلَهُ عَنْهَا: أَنَّها سُئِلَتْ: هَلْ كَانَ رَسُولَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَتْ: لا. إِلا أنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ.

Dari ‘Aisyah bahwasannya ia ditanya : “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat Dluha ?”. Maka ia menjawab : “Tidak, kecuali apabila beliau pulang dari bepergian” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 717].[3]

2. وَلَهُ عَنْهَا: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يُصَلِّي سُبْحَةَ اَلضُّحَى قَطُّ, وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dluha dengan tetap. Akan tetapi aku tetap melakukannya (yaitu shalat Dluha)”[4] [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1128 dan Muslim no. 718].[5]

Dua hadits di atas berisi pe-nafi’-an pengetahuan ‘Aisyah dari amalan shalat Dluha yang telah menjadi kebiasaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.[6] Hadits yang kedua secara lebih tegas menjelaskan bahwa walaupun ‘Aisyah tidak mengetahui kebiasaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dluha, namun ia radliyallaahu ‘anha tetap melaksanakannya. Hal ini mengandung pengertian bahwa apa yang dilaksanakan oleh ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha tersebut berasal dari perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Atau setidaknya,…. berasal dari apa yang ia lihat dari beliau.

Ash-Shan’aniy berkata :

وقال البيهقي : المراد بقولها ما رأيته سبحها أي داوم عليها. وقال ابن عبد البر : يرجح ما اتفق عليه الشيخان وهو رواية إثباتها دون ما انفرد به مسلم وهي رواية نفيها، قال: وعدم رؤية عائشة لذلك لا يستلزم عدم الوقوع الذي أثبته غيرها هذا معنى كلامه

Al-Baihaqi mengatakan : “Maksud dari perkataan ‘Aisyah : Aku tidak pernah melihatnya mengerjakannya; yaitu tidak senantiasa melihatnya mengerjakannya”. Ibnu Abdil-Barr mengatakan : “Harus dinilai kuat hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim yang menetapkannya, daripada hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Muslim yang mengingkari Nabi mengerjakannya dengan tetap. Menurutnya, ‘Aisyah tidak melihatnya itu tidaklah berarti bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukannya, karena mungkin dilihat oleh shahabat lain”.[7]

Lalu bagaimana mengkompromikan dua hadits penafian di atas dengan hadits pertama yang berisi penetapan (dan bahkan dipakai dalam bentuk kaana yang maknanya adalah “biasanya/selalu”) yang sama-sama diriwayatkan oleh ‘Aisyah ?

Sebagian ulama menjelaskan bahwasannya lafadh kaana itu dibawa pada pengertian “sering” karena ada qarinah pertentangan dalam perkataan ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha.

Akan tetapi, ada satu hal yang perlu dicermati, yaitu perbuatan ‘Aisyah yang tetap mengerjakan shalat Dluha (hadits penafian yang kedua) dimana hal itu memberikan pemahaman bahwa apa yang dilakukan ‘Aisyah itu memalingkan pengingkaran ‘Aisyah itu sendiri, sekaligus menguatkan pendapat yang menyatakan pengingkaran ‘Aisyah itu diucapkan sejauh pengetahuan akan perbuatan (fi’il) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Bisa jadi apa pe-nafi’-an ‘Aisyah tersebut diucapkan saat ia dalam keadaan tidak mengetahui kebiasaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dluhaa, dan akhirnya ia pun mengkhabarkan hal yang sebaliknya (sebagaimana dalam hadits di awal tulisan) setelah datangnya pengetahuan akan perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Mari kita cermati beberapa riwayat tentang shalat Dluha dari shahabat lain :

عن القاسم الشيباني؛ أن زيد بن أرقم رأى قوما يصلون من الضحى. فقال: أما لقد علموا أن الصلاة في غير هذه الساعة أفضل. إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "صلاة الأوابين حين ترمض الفصال".

Dari Al-Qaasim Asy-Syaibaaniy : Bahwasannya Zaid bin Arqam melihat suatu kaum yang sedang melaksanakan shalat di waktu dluha, maka ia berkata : “Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya shalat di selain waktu ini lebih utama ?. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Shalat Awwabiin dilakukan saat anak onta kepanasan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 748].

عن نعيم بن همار قال: سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "يقول اللّه عزّوجلّ: يا ابن آدم لاتعجزني من أربع ركعاتٍ في أول نهارك أكفك آخره".

Dari Nu’aim bin Hammar ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : Wahai Bani Adam, janganlah engkau merasa tidak mampu melakukan empat raka’at di awal siang untuk diri-Ku, karena Aku akan mencukupkan dengannya untuk sisa akhir waktunya” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1289; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/239 dan Al-Irwaa’ 2/216].

عن أبي بريدة يقول: سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "النخاعة في المسجد تدفنها، والشىء تنحِّيه عن الطريق، فإِن لم تجد فركعتا الضُّحى تجزئك".

Dari Abu Buraidah ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dahak dalam masjid yang engkau pendam dalam tanah, sesuatu yang engkau singkirkan dari jalan bisa menjadi sedekah. Kalau tidak bisa dilakukan, dapat diganti dengan dua raka’at di waktu Dluha. Itu sudah cukup” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5242; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/984 dan Al-Irwaa’ 2/213].

عن أبي ذر، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة فكل تسبيحة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وكل تكبيرة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن المنكر صدقة ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى

Dari Abu Dzarr , dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya beliau bersabda : “Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan raka’at yang dilakukan pada waktu Dluha” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 720].

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تامة تامة تامة

Dari Anas bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa shalat Shubuh berjama’ah, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian ia shalat dua raka’at (yaitu shalat Dluha/Isyraq), ia akan memperoleh pahala ibadah haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 586 ; dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/181].

عن أبي الدرداء وأبي ذر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الله عز وجل أنه قال : بن آدم أركع لي من أول النهار أربع ركعات أكفك آخره

Dari Abud-Dardaa’ dan Abu Dzar, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dari Allah ‘azza wa jalla yang berfirman : “Wahai Bani Adam, lakukanlah shalat empat raka’at di awal siang. Aku akan mencukupkan di akhirnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 475; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/47 dan Al-Irwaa’ 2/219].

عن أبي هريرة؛ قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث: بصيام ثلاثة أيام من كل شهر. وركعتي الضحى. وأن أوتر قبل أن أرقد.

Dari Abu Hurairah ia berkata : “Kekasihku (yaitu Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan wasiat/pesan kepadaku tentang tiga hal : Puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at Dluhaa, dan agar aku melakukan shalat witir sebelum tidur” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 721].

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan secara jelas perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk mengerjakannya shalat Dluha dan keutamaan-keutamaannya bagi siapa saja yang mengerjakannya. Maka perbuatan ‘Aisyah yang tetap mengerjakan shalat Dluha bukan tidak mungkin berdasarkan hadits-hadits di atas atau yang semakna, yang sampai kepadanya. Perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak terus-menerus melakukan shalat Dluha sebagaimana diberitakan oleh ‘Aisyah mengandung hikmah bagi kita. Salah satunya adalah agar tidak ada anggapan bahwa shalat ini diwajibkan bagi setiap muslimin.

Pengkhabaran dari para shahabat (termasuk ‘Aisyah) tentang masyru’-nya shalat Dluha tidak bisa diingkari. Penetapan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengandung pengertian untuk men-dawam-kan sunnah ini, walau dalam hal-hal tertentu atau waktu-waktu tertentu kita diperintahkan meninggalkannya sesekali sebagai pengajaran bagi orang yang bodoh agar tidak ada anggapan bahwa shalat Dluha ini merupakan kewajiban.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Asy-Syaikh Abdulaziz bin Baaz dalam penjelasannya terhadap kitab Bulughul-Maraam (sebagaimana yang dinukil oleh Dr. Sa’id Al-Qahthani dalam Shalatut-Tathawwu’) :

“Kedua hadits shahih ini adalah hujjah yang kuat yang menunjukkan disyari’atkannya shalat Dluha, bahkan hukumnya adalah sunnah muakkad. Karena ketika Nabi mewasiatkan kepada seseorang, berarti itu merupakan wasiat untuk seluruh umatnya, bukan khusus bagi orang itu saja, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan kekhususannya. Demikian juga halnya dengan perintah dan larangan beliau, maka hukumnya adalah umum, kecuali bila ada dalil yang mengkhususkannya. Misalnya ketika Nabi menyatakan : “Ini khusus bagimu saja”. Keberadaan Nabi yang tidak melakukannya secara rutin tidaklah menghilangkan sunnahnya perbuatan itu. Karena terkadang Nabi mengerjakan satu perbuatan untuk menunjukkan bahwa perbuatan itu disyari’atkan. Lalu terkadang beliau meninggalkannya untuk menunjukkan bahwa perbuatan itu tidaklah wajib” [selesai perkataan Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah].

An-Nawawi rahimahullah mengunggulkan pendapat bahwa shalat Dluha adalah sunnah muakkad.[8] Dan inilah pendapat jumhur ulama.

Allaahu a’lam.

Dikoreksi ulang tanggal 14 Syawwal 1430.

[Abu Al-Jauzaa’ – 1428/1430 – Syawwal – 09]



[1] Tahqiq, takhrij, dan ta’liq : Samiir bin Amiin Az-Zuhairiy, Cet. 7/1424 H; hal. 114 no. 387.

[2] 2/24 no. 363, tahqiq : ‘Ishaamuddin Ash-Shabaabithiy & ‘Imaad As-Sayyid; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425.

[3] Lihat Buluughul-Maraam no. 388.

[4] Secara lengkap, lafadh hadits tersebut adalah sebagai berikut :

عن عائشة؛ أنها قالت: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي سبحة الضحى قط. وإني لأسبحها. وإن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليدع العمل، وهو يحب أن يعمل به، خشية أن يعمل به الناس، فيفرض عليهم.

Dari ‘Aisyah bahwasannya ia berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dluha dengan tetap. Akan tetapi aku tetap melakukannya (yaitu shalat Dluha). Jika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu amalan padahal beliau sebenarnya senang melakukannya, itu adalah karena khawatir amalan tersebut dilakukan oleh orang banyak lalu diwajibkan bagi mereka”.

[5] Lihat Buluughul-Maraam no. 389.

[6] Selain dua hadits tersebut, terdapat pula beberapa riwayat yang berisi pe-nafi’-an shalat Dluha, diantaranya :

عن عائشة قالت : ما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم سبحة الضحى في سفر ولا حضر.

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan shalat Dluha secara tetap, baik ketika safar ataupun hadir/mukim” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi 1/339 dengan sanad kuat (qawiy)].

عن مورق قال: قلت لابن عمر رضي الله عنهما: أتصلي الضحى؟ قال: لا، قلت: فعمر؟ قال: لا، قلت: فأبو بكر؟ قال: لا، قلت: فالنبي ؟ قال: لا إخاله.

Dari Muwarriq ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Apakah engkau melakukan shalat Dluha ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Bagaimana dengan ‘Umar ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Abu Bakr ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Beliau tidak membiasakannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1175].

عن عبد الرحمن بن أبي بكرة قال: رأى أبو بكرة ناسا يصلون الضحى فقال: إنهم ليصلون صلاة ما صلاها رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا عامة أصحابه رضي الله عنهم

Dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah ia berkata : “Abu Bakrah pernah melihat orang-orang melaksanakan shalat Dluha. Maka ia berkata : ‘Sesungguhnya mereka melakukan shalat dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan umumnya para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum tidak melakukannya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/45 dan Ad-Daarimiy 1/339; rijal-nya tsiqaat dan sanadnya laa ba’sa bih].

[7] Subulus-Salaam, 2/25.

[8] Lihat Syarh Shahih Muslim 5/237 dan Fathul-Baariy 3/57.