Makkah dan Madinah Bukan Cakupan Daarul-Kufur


Tanya : Saya pernah membaca bahwa ada sebagian orang mengatakan bahwa Makkah dan Madinah itu termasuk cakupan Daarul-Kafir. Apakah ini benar ?
Jawab : Perkataan tersebut adalah tidak benar. Telah tetap dalam dalil-dalil dan penjelasan para ulama bahwa Makkah dan Madinah adalah Daarul-Islam - bukan Daarul-Kufur - hingga menjelang hari kiamat kelak.
عن عبد الله بن زيد رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : إن إبراهيم حرّم مكّة ودعا لها، وحرّمْتُ المدينة كما حرم إبراهيم مكة...
Dari ’Abdullah bin Zaid radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram dan mendoakannya, sementara aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tanah haram...” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2129 dan Muslim no. 1360].
عن عبد الله بن مطيع بن الأسود أخي بني عدي بن كعب عن أبيه مطيع وكان اسمه العاص فسماه رسول الله صلى الله عليه وسلم مطيعا قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم حين أمر بقتل هؤلاء الرهط بمكة يقول لا تغزى مكة بعد هذا العام أبدا ولا يقتل رجل من قريش بعد العام صبرا أبدا
Dari ’Abdullah bin Muthi’ bin Al-Aswad, saudara bani ’Adiy bin Ka’b, dari ayahnya – dahulu bernama Al-’Ash, lalu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menggantinya menjadi Muthi’ – ia berkata : ”Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ketika memerintahkan untuk membunuh beberapa tawanan di Makkah mengatakan : ”Makkah tidak akan diserang lagi setelah tahun ini untuk selama-lamanya. Dan tidak akan ada lagi orang Quraisy yang dibunuh secara sia-sia setelah tahun ini” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/412, Ath-Thahawi dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1508, dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir no. 20/691; hasan].
عن الحارث بن مالك بن البرصاء قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يوم فتح مكة يقول لا تغزى هذه بعد اليوم إلى يوم القيامة
Dari Al-Haarits bin Malik bin Al-Barsha’ radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam berkata pada hari penaklukan Makkah : ”Kota ini (Makkah) tidak akan diserang setelah tahun ini sampai hari kiamat” [HR. At-Tirmidzi no. 1611, Ahmad 3/412, Al-Humaidi no. 572, Ibnu Sa’d 2/145, Ibnu Abi Syaibah 14/490, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1509, Al-Haakim 3/627, dan lain-lain; shahih].
Setelah hari penaklukan kota Makkah, ia menjadi Darul-Islam dan tidak akan kembali menjadi Darul-Kufur atau dikuasai Daarul-Kufur selama-lamanya. Penduduknya tidak akan kafir (secara keseluruhan) dan tidak akan diserang lagi dengan sebab kekafiran.
Al-Imam Sufyan bin ’Uyainah rahimahullah – salah seorang perawi perawi hadits hadits Al-Harits bin Al-Barsha’ – mengatakan :
تفسيرُهُ أًَنَّهُم لا يَكفرون أبداً، ولا يُغزَون على الكُفر.
”Tafsirnya adalah mereka tidak akan kafir lagi selama-lamanya dan tidak akan diserang karena kekafiran” [Syarh Musykilil-Atsar, 4/162-163 – shahih].
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata :
وكذلك معنى ((لا يُقتَلُ قُريشي بعد العام صَبْراً)) إِنما يُراد به هذا المعنى أَنّهم لا يعودونَ كفَّاراً يُغْزَونَ حتى يُقتلوا على الكُفْر، كما لا تعودُ مكَّةُ دار كفرٍِ تُغزى عليه. وبالله عز وجل التوفيق.
”Begitu juga makna : ’Orang Quraisy tidaklah dibunuh secara sia-sia setelah hari ini (Fathu Makkah’; sesungguhnya maksudnya adalah bahwa mereka (yaitu penduduk Makkah) tidak akan kembali pada kekafiran sehingga diperangi karena kekafiran. Sebagaimana halnya Makkah tidak akan menjadi Daarul-Kufur yang diserang, wabillahi ’azza wa jalla at-taufiq” [idem, 4/163].[1]
Oleh karena itu, hijrah dari Makkah ke Madinah terputus dengan peristiwa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) – karena Makkah telah menjadi Daarul-Islam. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :
لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا
”Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah, akan tetapi yang ada hanyalah jihad dan niat. Jika kalian diminta berangkat perang, maka berangkatlah” [HR. Al-Bukhari no. 2631 dan Muslim no. 1864].
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
( لَا هِجْرَة بَعْد الْفَتْح ) , أَيْ لَا هِجْرَة مِنْ مَكَّة ; لِأَنَّهَا صَارَتْ دَار الْإِسْلَام
Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah ; maksudnya adalah tidak ada hijrah dari Makkah karena Makkah sudah menjadi Darul-Islam” [Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi – Maktabah Saaid].
Yang menguatkan hal itu (bahwa Makkah dan Madinah adalah Daarul-Islam hingga menjelang hari kiamat kelak, dengan ijin Allah) adalah bahwa keimanan akan selalu kembali ke Makkah dan Madinah, serta fitnah Dajjal tidak bisa masuk ke dua kota tersebut di saat kota-kota lain tidak luput dari tiupan fitnah Dajjal.
عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : "إن الإيمان ليأرز إلى المدينة كما تأرز الحية إلى جحرها".
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya iman itu akan kembali ke Madinah sebagaimana kembalinya seekor ular ke sarangnya” [HR. Al-Bukhari no. 1876 dan Muslim no. 147].
عن ابن عمر، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ. وهو يأرز بين المسجدين كما تأرز الحية في جحرها".
Dari Ibnu ’Umar, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda : ”Sesungguhnya Islam itu dimulai dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya. Dan ia (Islam) akan kembali di antara dua masjid (Masjidil-Haram dan Masjid Nabawiy/Makkah dan Madinah) sebagaimana kembalinya seekor ular ke sarangnya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 146].
عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال، إلا مكة والمدينة، ليس له من نقابها نقب إلا عليه الملائكة صافين يحرسونها، ثم ترجف المدينة بأهلها ثلاث رجفات، فيخرج الله كل كافر ومنافق).
Dari Anas bin Maalik, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda : ”Tidak ada satu negeri/kota pun nanti yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Setiap jalan masuk kedua kota tersebut dijaga oleh para Malaikat yang berbaris-baris, kemudian Madinah akan mengguncang penghuninya tiga kali guncangan, sehingga semua orang kafir dan munafik keluar dari tempat itu” [HR. Al-Bukhari no. 1881 dan Muslim no. 2943].
Hadits-hadits di atas menunjukkan tetapnya iman yang ada pada Makkah dan Madinah serta penduduknya (secara umum). Jika telah ditetapkan keimanan pada satu hal, maka akan dinafikkan sifat yang menjadi lawannya, yaitu kekufuran. Maka, keliru jika ada segolongan orang yang menisbatkan kekufuran pada Makkah dan Madinah pada hari ini. Jika Makkah dan Madinah merupakan Daarul-Kufur sebagaimana tuduhan mereka, tentu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tidak menghapuskan kewajiban hijrah dari Makkah (dan juga Madinah), sebab asal pendalilan satu negeri atau daerah disebut Daarul-Kufur adalah karena adanya kewajiban hijrah dan/atau sifat akan diperanginya (yaitu kekufuran) negeri/daerah tersebut oleh pasukan kaum muslimin. Dua sifat ini telah dinafikkan (ditiadakan) oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Bahkan, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam telah berwasiat agar seseorang hijrah menuju Madinah dan meninggal di sana :
عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من استطاع أن يموت بالمدينة فليمت بها فإني أشفع لمن يموت بها
Dari Ibnu ’Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam : ”Barangsiapa yang mampu untuk meninggal di Madinah, hendaklah ia meninggal di sana, karena aku akan memberikan syafa’at bagi siapa saja yang meninggal di sana” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3917, Ahmad 2/73 & 104, Ibnu Majah no. 3112, Ibnu Hibbaan no. 3741, dan yang lainnya; shahih].
Kesimpulan : Anggapan mereka bahwa Makkah dan Madinah adalah Daarul-Kufur atau cakupan (dikuasai oleh) Daarul-Kufur merupakan pendapat yang keliru. Wallaahu ta’ala a’lam.
[Abul-Jauzaa’ Al-Bogoriy – 19 Syawwal 1430 H – dan ini sekaligus merupakan sanggahan singkat bagi sebagian ikhwah yang menyatakan tidak ada sejengkal tanah pun di muka bumi ini yang merupakan cakupan wilayah Daarul-Islam (semuanya Daarul-Kufur), termasuk negeri Haramainhttp://abul-jauzaa.blogspot.com - sedikit editing redaksi 19-7-2011].


[1]     Di sini kita pahami bahwa konsekuensi satu daerah disebut sebagai Daarul-Kufur adalah bolehnya melakukan penyerangan kepada penduduknya akibat sifat kekufuran yang melekat pada mereka. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam telah menafikkan sifat tersebut untuk Makkah dan Madinah.

Comments

abu Fauzan mengatakan...

jazakumullahu khaira, ustadz, bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa negara indonesia ini adalah negara kafir dan pemerintahannya kafir?

Anonim mengatakan...

Ada orang berkata: "jika demikian ,Kenapa sekarang Saudi tidak memerangi negri-negri kafir dan malah membiarkan negri-negri kafir menguasai negri kaum muslimin? Padahal dulu rasulullah dan para sahabatnya ketika daulah Islam itu sudah tegak maka beliau berjihad menundukkan negri-negri lain yang masih kafir untuk tunduk kepada Islam dan memerangi negri yang tidak mau tunduk kepada Islam? Bagaimana itu ustadz,mohon penjelasannya? Syukran..

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Memerangi orang kafir atau jihad thalabiy itu dilakukan jika ada kemampuan dan kekuatan. Dulu di jaman 'Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu 'anhu, jihad thalabiy jenis ini juga sempat 'tertunda' karena sibuk memerangi kelompok Haruuriyyah. Hingga ketika Mu'aawiyyah duduk di tampuk kekuasaan, jihad thalabiy ini kembali diteruskan. Begitu juga yang terjadi di masa-masa setelahnya ketika daulah Islam dalam keadaan lemah. Beberapa tahun jihad thalabiy ini stagnan karena kondisi kaum muslimin lemah, yaitu saat Tartar menguasai beberapa negeri kaum muslimin.

Sekarang kondisinya adalah kaum muslimin lemah. Lemah dalam persatuan, lemah pula dalam persenjataan. Bagaimana jihad thalabiy bisa ditegakkan ?. Kita berdoa kepada Allah ta'ala agar Dia memberikan petunjuk kepada para pemimpin kita sehingga dengannya kaum muslimin bisa kuat.

Nur mengatakan...

Iman benar-benar akan kembali ke medina