Larangan Memakai Cincin Besi Murni Bagi Laki-Laki


عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى على بعض أصحابه خاتما من ذهب فأعرض عنه فألقاه واتخذ خاتما من حديد فقال هذا شر هذا حلية أهل النار فألقاه فاتخذ خاتما من ورق فسكت عنه

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat salah seorang shahabatnya memakai cincin dari emas. Maka beliau berpaling darinya. (Melihat hal itu), maka shahabat tersebut membuangnya dan menggantinya dengan cincin dari besi. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ini lebih jelek (dari cincin emas). Ini merupakan perhiasan penduduk neraka”. Shahabat tadi kembali membuang cincinnya dan menggantinya dengan cincin dari perak, sementara itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak berkomentar tentangnya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/163 & 2/179, Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad no. 1021, dan Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/261. Dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Aadaabuz-Zifaaf hal. 217, Al-Arna’uth dalam Takhrij ‘alal-Musnad 11/69, dan Ahmad Syaakir Syarh ‘alal-Musnad 6/80].

Hadits di atas merupakan dalil yang sangat tegas dan jelas tentang keharaman memakai cincin besi. Kedudukannya lebih jelek daripada cincin emas, padahal telah shahih beberapa riwayat yang mencela dan mengharamkan (pemakaian)-nya :

عن عبدالله بن عباس؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى خاتما من ذهب في يد رجل. فنزعه فطرحه وقال (يعمد أحدكم إلى جمرة من نار فيجعلها في يده) فقيل للرجل، بعدما ذهب رسول الله صلى الله عليه وسلم: خذ خاتمك انتفع به. قال: لا. والله! لا آخذه أبدا. وقد طرحه رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat cincin dari emas di (jari) tangan seorang laki-laki. Lalu beliau melepaskannya dan membuangnya seraya bersabda : “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang berani mengambil bara neraka lalu ia letakkan di tangannya ?”. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada laki-laki itu : “Ambillah kembali dan manfaatkanlah cincin itu”. Laki-laki itu berkata : “Demi Allah, selamanya aku tidak akan mengambil kembali apa yang telah dibuang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2090].

عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ أنه نهى عن خاتم الذهب.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya beliau melarang memakai cincin emas” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5864 dan Muslim no. 2089].

Di antara para shahabat yang mengharamkan memakai cincin dari besi adalah ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu.

أن عمر بن الخطاب رأى على رجل خاتما من ذهب فأمره أن يلقيه فقال زياد يا أمير المؤمنين إن خاتمي من حديد قال ذلك أنتن وأنتن

Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab pernah melihat seorang laki-laki yang memakai cincin dari emas. Maka ia (‘Umar) memerintahkannya untuk melepaskan cincin itu. Lalu Ziyaad berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, sesungguhnya cincinku terbuat dari besi”. Maka ‘Umar berkata : “Itu lebih busuk, lebih busuk” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq no. 19473; dengan sanad shahih].

Dan inilah madzhab Maalik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah.

قال ابن وهب : وقال لي مالك بن أنس في التختم بالحديد والنحاس؛ قال : لم أزل أسمع أن الحديد مكروه فأما غيره فلا

“Malik bin Anas berkata kepadaku tentang cincin besi dan tembaga : ‘Aku masih mendengar bahwa cincin besi itu dibenci. Adapun selain itu tidak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dalam Jaami’-nya no. 601 dengan sanad shahih].

قال إسحاق بن منصور المروزي لأحمد: الخاتم من ذهب أو حديدي يكره؟ فقال: إي والله. قال إسحاق كما قال

Ishaaq bin Manshuur Al-Marwaziy pernah bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) : “Apakah cincin emas dan besi itu itu dibenci ?”. Ia menjawab : “Benar, demi Allah”. Ishaaq pun mengatakan sebagaimana dikatakan Ahmad [Masaail Al-Marwaziy hal. 224].

Makna “dibenci” (makruuh) dalam atsar di atas adalah haram.

Sebagian ulama[1] ada yang membolehkan memakai cincin besi berdalil dengan perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki yang hendak menikah untuk menyediakan mahar :

انظر ولو خاتما من حديد

“Carilah, meskipun hanya berupa cincin besi” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5126 dan Muslim no. 1425].

Pendalilan tersebut keliru. Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata :

واستدل به على جواز لبس الخاتم الحديد ولا حجة فيه لأنه لا يلزم من جواز الاتخاذ جواز اللبس

“Dan berdalil dengan hadits tersebut tentang pembolehan memakai cincin dari besi adalah keliru/tidak tepat, karena diperbolehkannya mengambil cincin besi sebagai pemberian mahar tidak melazimkan kebolehan untuk memakainya” [Fathul-Baariy, 10/323].

Dan memang kedudukannya seperti itu. Kebolehan pemberian mahar berupa cincin besi hanya menunjukkan kebolehan bagi wanita (sebagai pihak yang diberi) untuk memakainya (ataupun menjualnya). Hal yang sama bahwa seorang laki-laki juga boleh memberikan mahar cincin emas kepada wanita untuk dikenakannya, namun ia sendiri (si laki-laki) diharamkan untuk memakainya. Oleh karena itu, tidak ada pertentangan antara hadits tersebut dengan hadits yang disebutkan di awal.

Adapun hadits :

عن المعيقيب قال: كان خاتم النبي صلى اللّه عليه وسلم من حديدٍ ملويٍّ عليه فضة

Dari Mu’aiqiib, ia berkata : “Adalah cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari besi yang disepuh/dilapisi dengan perak” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud n. 4224 dan An-Nasa’iy 8/175 dengan sanad shahih].

Maka ini pun tidak boleh dipertentangkan dengan hadits keharaman cincin besi, sebab yang diharamkan adalah cincin yang terbuat dari besi murni tanpa sepuhan (bukan besi campuran). Adapun cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah cincin besi yang dilapisi perak.

Juga :

عن أبي سعيد الخدري قال: أقبل رجل من البحرين إلى النبي صلى الله عليه وسلم فسلم فلم يرد عليه وكان في يده خاتم من ذهب .. فقال صلى الله عليه وسلم: "إنه كان في يده جمرة من نار!.." قال فماذا أتختم: قال: "حلقة من حديد أو ورق أو صفر".

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ia berkata : “Pernah ada seorang laki-laki dari Bahrain ang datang menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mengucapkan salam, namun beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawabnya karena di tangannya ada cincin yang terbuat dari emas….. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di tangan laki-laki itu terdapat bara api”. Orang itu pun bertanya : “Lantas, cincin apakah yang boleh aku pakai ?”. Maka beliau menjawab : “Cincin dari besi, perak, atau tembaga” [Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy 2/290].

Hadits tersebut tidak bisa dipakai berhujjah karena berstatus lemah (dla’if). Ibnu Rajab melemahkannya dalam Syarh ‘Ilal At-Timridzi (2/90) dan Al-Albani membahas kelemahannya secara lebih luas dalam Aadaabuz-Zifaaf hal. 220-222.

Wallaahu a’lam.

[Abul-Jauzaa’, menjelang sahur, banyak mengambil manfaat dari buku Aadaabuz-Zifaaf fis-Sunnah Al-Muthahharah karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, Daarus-Salaam, 1423 H – dengan beberapa tambahan referensi lainnya].



[1] Seperti para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daaimah dimana dalam salah satu fatwa mereka tertulis sebagai berikut :

السؤال : سمعت أن لبس خاتم الحديد حرام للرجال ، فنرجو توضيح الموضوع مع ذكر الأدلة.

لجواب :
الحمد لله
"عن عبد الله بن بريدة عن أبيه رضي الله عنهما : أن رجلاً جاء النبي صلى الله عليه وسلم وعليه خاتم من ذهب ، فقال : ( مالي أجد منك ريح الأصنام ؟) فطرحه ، ثم جاء وعليه خاتم من حديد ، فقال : (ما لي أرى عليك حلية أهل النار ؟) فطرحه ، فقال : يا رسول الله من أي شيء أتخذه ؟ قال : ( اتخذه من ورق ولا تتمه مثقالاً ) أخرجه أبو داود والترمذي والنسائي قال الترمذي : هذا حديث غريب ، وعن إياس بن الحارث بن المعقيب عن جده قال : كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من حديد ملوي عليه فضة ، قال فربما كان في يدي ، قال ، وكان المعيقيب على خاتم النبي صلى الله عليه وسلم ، خرجه أبو داود والنسائي. وفي الصحيحين عن سهل بن سعد الأنصاري رضي الله عنه ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للذي خطب المرأة التي وهبت نفسها للنبي صلى الله عليه وسلم : (التمس ولو خاتماً من حديد) وهذا يدل على جواز لبس الخاتم من الحديد ، كما يدل عليه حديث معيقيب ، أما حديث بريدة المذكور آنفاً ففي سنده ضعف ، وبذلك يتضح أن الراجح عدم كراهة لبس الخاتم من الحديد ، ولكن لبس الخاتم من الفضة أفضل ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان خاتمه من فضة كما ثبت في الصحيحين.
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم" انتهى.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء .
الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز ... الشيخ عبد الرزاق عفيفي ... الشيخ عبد الله بن غديان .
"فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء" (24/64) .

Tanya : Saya pernah mendengar bahwa memakai cincin besi itu diharamkan bagi laki-laki. Kami mengharapkan penjelasan Anda atas permasalahan ini dengan disertai dalil-dalilnya.

Jawab : Alhamdulillah. Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya radliyallaahu ‘anhuma : Bahwasannya seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai cincin dari emas. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mengapa aku mencium bau berhala ?”. Laki-laki itupun membuang cincinnya, kemudian ia datang lagi dengan memakai cincin dari besi. Beliau bersabda : “Mengapa aku melihatmu memakai perhiasan penduduk neraka ?”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’iy. At-Tirmidzi berkata : “Hadits ini ghariib”. Dari ‘Iyaas bin Al-Haarits bin Al-Mu’aiqiib, dari kakeknya : “Adalah cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari besi yang disepuh/dilapisi dengan perak”. Ia berkata : “Kadangkala cincin itu ada di tanganku (untuk dibawa/disimpan)”. Dan Mu’aiqiib adalah orang yang bertanggung jawab untuk menjaga/menyimpan cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hadits itu diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’iy. Dalam Shahihain dari Sahl bin Sa’d Al-Anshariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada seorang laki-laki yang ingin meminang seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Carilah (maharnya), meskipun hanya berupa cincin besi”. Hadits ini menunjukkan kebolehan memakai cincin besi sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Mu’aiqiib. Adapun hadits Buraidah yang disebutkan tadi, maka sanadnya lemah (dla’iif). Oleh karena itu, jelas kiranya pendapat yang raajih (kuat) adalah tidak dimakruhkan memakai cincin besi. Namun jika seseorang memakai cincin perak, maka itu afdlal (lebih utama), karena cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak sebagaimana terdapat dalam Shahihain. Wabillaahit-taufiiq, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuuts Al-‘Ilmiyyah wal-Iftaa’ – Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Baaz, Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afiifiy, dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayaan. [Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuuts Al-‘Ilmiyyah wal-Iftaa’, 24/64].

Begitu pula pembolehan ini merupakan pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Dan inilah pendapat sebagian ulama Syafi’iyyah sebagaimana dikatakan An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5/134).

Comments

Anonim mengatakan...

bismillah
Apakah larangan menggunakan cincin dari besi bersifat umum? sehingga dapat kita qiaskan dengan sesuatu yang melingkar dan terbuat dari besi yang dikenakan pada tubuh? misalnya jam tangan yang terbuat dari besi / stainlessteel (termasuk tali jamnya).

Jazakumullahu khoiroo

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tidak. Larangan hanya pada cincin.

Anonim mengatakan...

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى على بعض أصحابه خاتما من ذهب فأعرض عنه فألقاه واتخذ خاتما من حديد فقال هذا شر هذا حلية أهل النار فألقاه فاتخذ خاتما من ورق فسكت عنه

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat salah seorang shahabatnya memakai cincin dari emas. Maka beliau berpaling darinya. (Melihat hal itu), maka shahabat tersebut membuangnya dan menggantinya dengan cincin dari besi. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ini lebih jelek (dari cincin emas). Ini merupakan perhiasan penduduk neraka”. Shahabat tadi kembali membuang cincinnya dan menggantinya dengan cincin dari perak, sementara itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak berkomentar tentangnya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/163 & 2/179, Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad no. 1021, dan Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/261. Dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Aadaabuz-Zifaaf hal. 217, Al-Arna’uth dalam Takhrij ‘alal-Musnad 11/69, dan Ahmad Syaakir Syarh ‘alal-Musnad 6/80].

apakah benar bahwa status hadist ini diperselisihkan?

karena berdasarkan tulisan dari kawan saya bahwa:

"ada perawi yg bernama Muhammad bin Ajlan. Rawi ini dianggap tsiqat oleh imam-imam : Ahmad, Ibnu Ma'in, Abu Hatim, Abu Zur'ah, Nasa'i, al Ijli, As Saji, Ibnu Saad dan Ibnu Hibban dan lain-lain. Rawi yang dipakai oleh imam-imam : Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah dan lain-lain. Adapun Imam Bukhari tidak memakainya dikitab Shahihnya sebagai 'dasar atau hujjah' kecuali dipakai di riwayat-riwayat muallaq sebagaimana telah diterangkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar di Muqaddimah Faathul Baari hal 458.
Muhammad bin Ajlan ini meskipun ia seorang rawi tsiqat, tetapi ia juga seorang mudallis dan telah disifatkan tadlisnya oleh Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim dan lain-lain. Al Hafidz Ibnu Hajar dikitabnya Thabaqaatul Mudallisin hal 69 telah memasukkannya di martabat ketiga dari rawi-rawi mudallis, yaitu tentang seorang mudallis yang sering melakukan tadlis dan tidak dijadikan hujjah hadits-hadits mereka oleh para imam kecuali mereka menegaskan didalam hadits mereka yang menunjukkan mereka mendengar. Sedangkan dalam hadits diatas Muhammad bin Ajlan telah meriwayatkan dengan lafadz tadlisnya yaitu ia ber-'an'anah (memakai lafadz Úä), dengan demikian riwayatnya tidak dapat diterima...??

Syaikh Al-Bani menyatakan status hadits tsb dalam Shahih Adabul Mufrad : Hasan. Dalam Adabuz Zifaf, Syaikh Albani mengatakan, "Sanadnya bersifat hasan."

Menurut Syaikh Albani, hadits tsb terdapat penguat yaitu hadits yang berasal dari Umar bin Khaththab r.a yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, namun sanadnya terputus."

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Muhammad bin 'Ajlaan dikatakan oleh Ibnu Hajar adalah seorang yang shaduq dan bercampur dalam hadits Abu Hurairah. Dan di sini, ia tidak meriwayatkan hadits Abu Hurairah. Ia memang dimasukkan dalam tingkatan ketiga perawi mudallis oleh Ibnu Hajar, sedangkan hadits yang ia bawakan dengan shighah 'an'anah.

Ada hadits lain yang menguatkan :

دَّثَنَا سُرَيْجٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُؤَمَّلِ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العاص، أَنَّهُ لَبِسَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَأَنَّهُ كَرِهَهُ، فَطَرَحَهُ، ثُمَّ لَبِسَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، فَقَالَ: " هَذَا أَخْبَثُ وَأَخْبَثُ "، فَطَرَحَهُ، ثُمَّ لَبِسَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ، فَسَكَتَ عَنْهُ

Diriwayatkan oleh Ahmad, namun sanadnya lemah karena 'Abdullah bin Al-Muammal, seorang perawi dla'if.

Juga hadits Buraidah :

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُسْلِمٍ مِنْ أَهْلِ مَرْوَ أَبُو طَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ، فَقَالَ: " مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ؟ "، فَطَرَحَهُ، ثُمَّ جَاءَهُ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ شَبَهٍ، فَقَالَ: " مَا لِي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الْأَصْنَامِ ؟ "، فَطَرَحَهُ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مِنْ أَيِّ شَيْءٍ أَتَّخِذُهُ؟ قَالَ: " مِنْ وَرِقٍ، وَلَا تُتِمَّهُ مِثْقَالًا "


Diriwayatkan oleh An-Nasaa'iy. Sanadnya lemah karena Abuth-Thayyibah. Ibnu Hajar mengatakan shaduuq tapi banyak salah.

Anyway, hadits itu tidaklah gugur menjadi dla'if.

wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Dan inilah madzhab Maalik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah.

قال ابن وهب : وقال لي مالك بن أنس في التختم بالحديد والنحاس؛ قال : لم أزل أسمع أن الحديد مكروه فأما غيره فلا

“Malik bin Anas berkata kepadaku tentang cincin besi dan tembaga : ‘Aku masih mendengar bahwa cincin besi itu dibenci. Adapun selain itu tidak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dalam Jaami’-nya no. 601 dengan sanad shahih].

قال إسحاق بن منصور المروزي لأحمد: الخاتم من ذهب أو حديدي يكره؟ فقال: إي والله. قال إسحاق كما قال

Ishaaq bin Manshuur Al-Marwaziy pernah bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) : “Apakah cincin emas dan besi itu itu dibenci ?”. Ia menjawab : “Benar, demi Allah”. Ishaaq pun mengatakan sebagaimana dikatakan Ahmad [Masaail Al-Marwaziy hal. 224].

Makna “dibenci” (makruuh) dalam atsar di atas adalah haram.

apakah ini berdasarkan kesimpulan ustadz atau berdasarkan penjelasan ulama. karena kalau melihat perkataan imam Maalik dan imam Ahmad bukankah mereka berpendapat hanya Makruh saja...

Blud..

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebagaimana telah saya tuliskan di atas, saya mengambil faedah dari penjelasan Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah.

Berikut perkataan beliau selengkapnya :


قلت: ولو فرض أنه نص في الإباحة فينبغي أن يحمل على ماقبل التحريم جمعا بينه وبين هذا الحديث المحرم كما هو الشأن في الجمع بين الأحاديث المبيحة لتحلي الرجال بالذهب والأحاديث المحرمة لها وهذا بين لا يخفى إن شاء الله تعالى.

وقد ذهب إلى ما أفاده هذا الحديث أحمد وابن راهويه رحمهما الله فقال إسحاق بن منصور المروزي لأحمد: الخاتم من ذهب أو حديدي يكره؟ فقال: إي والله قال إسحاق كما قال كما في مسائل المروزي ص 224. وانظر تعليقنا على الحديث المتقدم ص 215.

وبه قال مالك كما رواه ابن وهب في الجامع غنه 101 وهو قول عمر رضي الله عنه كما في طبقات ابن سعد 4/114 و جامع بن وهب 100 ورواه عبد الرزاق والبيهقي في الشعب كما في الجامع الكبير 13/191/1.

Catatan : Perkataan : Makna “dibenci” (makruuh) dalam atsar di atas adalah haram bukan tekstual dari perkataan beliau, namun kesimpulan yang terambil dari perkataan beliau. Yang mengatakan bahwa makruuh di situ bermakna tahriim di antara murid beliau, Syaikh Saliim Al-Hilaaliy dalam Al-Mausu'ah.

wallaahu a'lam.

arie5758 mengatakan...

Berarti selain cincin, masih diperbolehkan untuk dipakai laki-laki dengan bahan logam murni (emas)? Misalkan jam tangan atau hiasan pakaian...

Terima kasih ulasannya