Pentingnya Sanad dalam Riwayat


Telah berkata Al-Haafidh Al-‘Alaaiy rahimahullah dalam Jaami’ut-Tahshiil (hal. 58), dan dalam Shahih Muslim, dari Ibnu Siiriin, ia berkata :
لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم
“Dulu mereka (para ulama) tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata : ‘Sebutkan pada kami rijaal kalian’. Apabila ia melihat rijaal tersebut dari kalangan Ahlus-Sunnah, maka diterima haditsnya, dan jika dari kalangan ahli-bid’ah, maka tidak diterima”.
Telah berkata Sufyan bin ‘Uyainah :
حدث الزهري يوماً بحديث؛ فقلت له : هاته بلا إسناد فقال : أترقى السطح بلا سلم؟.
“Pada suatu hari Az-Zuhri menyampaikan satu hadits. Aku berkata padanya : ‘Sampaikanlah hadits itu tanpa sanad’. Ia (Az-Zuhri) berkata : ‘Apakah aku akan menaiki loteng tanpa tangga ?’.
Baqiyyah pernah berkata :
ثنا عتبة بن أبي الحكم أنه كان عند إسحاق بن أبي فروة وعنده الزهري فجعل ابن أبي فروة يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم؛ فقال الزهري : قاتلك الله ما أجرأك ألا تسند حديثك تحدثنا بأحاديث ليست لها خطم ولا أزمة.
“Telah menceritakan kepada kami ‘Utbah bin Abi Al-Hakam, bahwasannya ia pernah berada di tempat Ishaq bin Abi Farwah, dan bersamanya ada Az-Zuhri.  Maka Ibnu Abi Farwah berkata : ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam’. Az-Zuhri pun berkata : ‘Semoga Allah memerangimu ! Apakah gerangan yang menjadikanmu tidak menyampaikan sanad pada haditsmu ? (Dengan caramu itu), engkau telah menyampaikan hadits-hadits pada kami tanpa paruh dan taring”.
Telah berkata ‘Abdush-Shamad bin Hassaan :
سمعت سفيان الثوري يقول : الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن سلاح فبِمَ يقاتل.
“Aku mendengar Sufyaan Ats-Tsauri berkata : ‘Isnad itu seperti senjata bagi seorang mukmin. Jika ia tidak mempunyai senjata, dengan apa ia bisa berperang ?”.
Telah berkata Syu’bah :
كل حديث ليس فيه حدثنا وأخبرنا فهو خل وبقل.
“Setiap hadits tanpa disertai perkataan : haddatsanaa (telah menceritakan kepada kami) dan akhbaranaa (telah mengkhabarkan kepada kami), maka ia (nilainya) seperti cuka dan sayuran”.
Dan dalam Shahih Muslim dari ‘Abdaan, ia berkata :
سمعت عبد الله بن المبارك يقول : الإسناد عندي من الدين ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء.
“Aku mendengar ‘Abdullah bin Al-Mubaarak berkata : ‘Sanad bagiku termasuk bagian dari agama. Jika sanad tidak ada, niscaya orang akan berkata sesuka hatinya”.
Dari Al-‘Abbaas bin Abi Razmah ia berkata :
سمعت عبد الله - يعني ابن المبارك - يقول : بيننا وبين القوم القوائم - يعني الإسناد - .
“Aku mendengar ‘Abdullah – yaitu Ibnul-Mubaarak – berkata : ‘Antara kami dengan satu kaum terdapat beberapa kaum – yaitu sanad – “.
Dari Ibrahim Ath-Thaalaqaaniy, ia berkata :
قلت لعبد الله بن المبارك : يا أبا عبد الرحمان الحديث الذي جاء : إن البر بعد البر أن تصلي لأبويك مع صلاتك وتصوم لهما مع صومك؛ قال فقال عبد الله : يا أبا إسحاق عمن هذا ؟ قال قلت له : هذا من حديث شهاب بن خراش؛ فقال : ثقة عمن ؟ قال قلت : عن الحجاج بن دينار؛ قال : ثقة عمن ؟ قال قلت : قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم. قال : ((يا أبا إسحاق إن بين الحجاج بن دينار وبين النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم مفاوز تنقطع فيها أعناق المطي ولكن ليس في الصدقة اختلاف)).
“Aku pernah berkata kepada ‘Abdullah bin Al-Mubaarak : ‘Wahai Abu ‘Abdirrahman, hadits yang berbunyi : Sesungguhnya kebajikan setelah kebajikan adalah engkau shalat untuk kedua orang tuamu bersama shalatmu, dan engkau puasa untuk keduanya bersama puasamu’. ‘Abdullah berkata : ‘Wahai Abu Ishaaq, dari siapa hadits ini ?’. Aku menjawab : ‘Ini berasal dari hadits Syihaab bin Kharaasy’. Ia berkata : ‘Tsiqah, lalu dari siapa ?’. Aku menjawab : ‘Dari Al-Hajjaaj bin Diinaar’. Ia berkata : ‘Tsiqah, lalu dari siapa ?’. Aku berkata : ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam’. Ia berkata : ‘Wahai Abu Ishaaq, sesungguhnya antara Al-Hajjaaj bin Diinaar dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam terbentang padang sahara luas yang dapat memutuskan leher orang yang menyeberanginya. Akan tetapi tidak ada perselisihan dalam hal (keutamaan) shadaqah”.
Dari ‘Aliy bin Hajar, ia berkata :
سمعت ابن المبارك يقول : " إن الله حفظ الأسانيد على أمة محمد  صلى الله عليه وسلم"
“Aku mendengar Ibnul-Mubaarak berkata : ‘Sesungguhnya Allah telah menjaga sanad-sanad (riwayat) pada umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.
Dari Syu’bah bin Al-Hajjaaj rahimahullah bahwasannya ia pernah mendengar dari Syaikhnya Abu Ishaaq As-Suba’iy, yaitu ‘Amr bin ‘Abdillah sebuah hadits ‘Abdullah bin ‘Atha’, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir tentang keutamaan menyempurnakan wudlu’. Ia (Syu’bah) berkata kepada Abu Ishaaq : “Apakah ‘Abdullah (bin ‘Atha’) mendengarnya dari ‘Uqbah (bin ‘Aamir) ?”. Abi Ishaaq pun marah (mendengar pertanyaan itu). Waktu itu Mis’ar bin Kaddaam hadir, lalu ia berkata kepadaku : “’Abdullah bin ‘Atha’ ada di Makkah”. Kemudian Syu’bah melanjutkan :
فرحلت إلى مكة لم أرد الحج أردت الحديث فلقيت عبد الله بن عطاء فسألته فقال سعد بن إبراهيم حدثني فقال لي مالك بن أنس سعيد بالمدينة لم يحج العام فرحلت إلى المدينة فلقيت سعدا فقال الحديث من عندكم زياد بن مخراق حدثني قال شعبة فقلت أيش هذا الحديث بينا هو كوفي إذ صار مدنيا إذ رجع إلى البصرة قال أبو يحيى هذا الكلام أو نحوه قال فرجعت إلى البصرة فلقيت زياد بن مخراق فسألته فقال ليس هو من بابتك قلت حدثني به قال لا تريده قلت حدثني به قال حدثني شهر بن حوشب عن أبي ريحانة عن عقبة قال شعبة فلما ذكر شهرا قلت: دمر على هذا الحديث لو صح لي مثل هذا الحديث كان أحب إلي من أهلي ومالي ومن الناس أجمعين.
“Akupun kemudian berangkat menuju Makkah bukan untuk ibadah haji. Aku hanya menginginkan hadits. Aku pun kemudian bertemu ‘Abdullah bin ‘Atha’ dan bertanya kepadanya. ‘Abdullah bin ‘Atha’ berkata : ‘Sa’d bin Ibraahiim telah menceritakan kepadaku’. Malik bin Anas berkata kepadaku : ‘Sa’d bin Ibraahiim berada di Madinah, dan ia tidak menunaikan ibadah haji tahun ini’. Aku pun kemudian pergi menuju Madinah, dan kemudian bertemu dengan Sa’d bin Ibrahim. Ia (Sa’d)  berkata : ‘Hadits yang ada pada kalian telah diceritakan oleh Ziyaad bin Mikhraq kepadaku”. Syu’bah berkata : Aku berkata : “Hadits macam apa ini, sedangkan ia orang Kuffah, kemudian menjadi orang Madinah, kemudian kembali ke Bashrah (menjadi orang Bashrah)”.  Syu’bah kembali berkata : “Aku pun kembali ke Bashrah dan bertemu dengan Ziyaad bin Mikhraaq. Aku bertanya kepadanya, lalu ia berkata : “Hal itu bukan urusanmu”. Aku (Syu’bah) berkata : “Ceritakanlah kepadaku”. Ia menjawab : “Kamu tidak menginginkannya”. Aku kembali berkata : “Ceritakanlah kepadaku”. Ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Syahr bin Hausyab, dari Abu Raihaanah, dari ‘Uqbah. Berkata Syu’bah : “Ketika ia menyebutkan Syahr, aku berkata : ‘Ia telah merusak hadits ini. Seandainya hadits ini shahih bagiku, sungguh ia lebih aku cintai daripada keluargaku, hartaku, dan manusia seluruhnya”.
[Muqaddimah Ash-Shahiih Al-Musnad min Asbaabin-Nuzuul oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadiy Al-Wadi’iy dengan sedikit penambahan – Abul-Jauzaa’].

Comments

Anonim mengatakan...

Assalamu alaikum warohmatulloh
Semoga Alloh ta'ala makin memberkahi dg ilmu yg luas, dan menguatkanmu dalam membela sunnah. AMIN.
Apa pendapat antum tentang perkataan orang bahwa Syaikh Albani rohimahulloh tdk punya sanad ilmu yg bersambung sampai dg Rosululloh sholalloh alaihi wasalam. Sehingga ilmu dan perkataannya lemah atau tertolak.
oh ya ustadz Saya kagum dg ilmu Antum, terus siapa guru antum? Jazakumulloh ustadz. Wasalam

rofi mengatakan...

setahu ana, sanad guru itu tidak penting. para ulama tidak men-jarh seseornag karena tidak punya sanad guru dan tidak men-ta'dhil seseorang karena mempunyai sanad guru.

wallohu 'alam.

Anonim mengatakan...

guru itu penting untuk mengarahkan kita dalam belajar, terutama dalam ilmu yg perlu Talaqi seperti tahsin dan b arab,.
sedangkan untuk menjadi muhaddist saat ini yang paling penting adalah seberapa rajin membuka buku2 tahkrij dan Jarh Wat Tadil hadist dari ulama2 terdahulu. kemudian antum mempunyai ilmu dalam menyimpulkan derajat hadist.,

Sebenarnya jika anda menbaca kitabnya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani anda sebenarnya sedang berguru langsung dengan beliau,.

dari pada antum belajar ke orang yg punya gelar habib (yg katanya keturunan Rasul) dan mengaku mermahdzab Syafii, tapi sama sekali ga pernah baca buku imam syafii, justru kajian2nya lebih banyak kisah2 dongeng dan hikayat yg ga punya asal usul beritanya.

Silahkan antum tanya yg pernah jadi santri yg katanya bermahdzab Syafii, tapi ditanya kitabnya imam syafii apa? terus dijawab ga tau,

kalaupun tau, ditanya pernah baca? jawab belum.

ditanya kenapa belum? jawab kata guru saya, kamu belum boleh belajar kitab itu,.

Miris ngelihatnya katanya bermahdzab syafii, tapi kitab induk fiqih dan ushul fiqihnya yaitu Al Umm dan Ar Risalah belum pernah baca,.

Jadi mahzab orang indonesia itu apa?

Usut punya usut ternyata bermahdzab Al gazhali, dgn kitab primadonanya yaitu Ihya Ulumuddin,. yang banyak dikritik oleh banyak ulama karena banyak memasukan hadist maudhu dan dhaif ke dalamnya. salah satunya yang mengkritik adalah ulama besar dari mahdzab syafii yaitu Imam An Nawaai dalam kitab Al Majmu,.

Waullahulam,.

Anonim mengatakan...

Org2 NU yg bermadzhab Syafi'i lebih suka baca kitab safinatun najah, kitab2nya syaikh Nawawi Al Bantani & kitab2 tasawufnya Al Ghozali & Ibnu Athoillah dibanding kitab induk madzhab Syafi'i dari imamnya sendiri yaitu Al Umm dan Ar Risalah yg banyak mengandung faidah ilmu ushul fikih.

Sedangkan murid2 para habaib disini lebih hapal sanad2 gurunya, tp giliran ditanya dimana Allah? Mereka cuma bisa cengar-cengir.

Anonim mengatakan...

Dasar lu makhluk berwatak iblis ,sombong jd mkhluk لعنة الله عليكم جميعا

Anonim mengatakan...

لعنة الله عليكم يا وهبية