Fatwa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Menyingkat Shalawat


Pernah diajukan sebuah pertanyaan kepada As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah sebagai berikut :

بعض الناس يكتبون حرف "ص" بين قوسين ويقصدون به الرمز لجملة صلى الله عليه وسلم ، فهل يصح استعمال حرف "ص" رمزًا لكلمة صلى الله عليه وسلم؟

“Sebagian orang menulis huruf “ص” di antara dua tanda kurung yang mereka maksudkan dengan itu sebagai simbol dari kalimat shallallaahu ‘alaihi wa sallam (صلى الله عليه وسلم). Apakah hal ini dapat dibenarkan menulis huruf “ص” sebagai simbol dalam penulisan shalawat ?

Jawaban beliau rahimahullah adalah sebagai berikut :

من آداب كتابة الحديث كما نص عليه علماء المصطلح ألا يرمز إلى هذه الجملة بحرف "ص" وكذلك لا يعبر عنها بالنعت مثل "صلعم"، ولا ريب أن الرمز أو النعت يفوت الإنسان أجر الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فإنه إذا كتبها ثم قرأ الكتاب من بعده وتلا القارئ هذه الجملة صار للكاتب الأول نيل ثواب من قرأها، ولا يخفى علينا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فيما ثبت عنه: "أن من صلى عليه صلى الله عليه وسلم مرة واحدة صلى الله عليه بها عشرًا". فلا ينبغي للمؤمن أن يحرم نفسه الثواب والأجر ؛ لمجرد أن يسرع في إنهاء ما كتبه.

Termasuk bagian dari adab-adab menulis hadits sebagaimana dijelaskan oleh para ‘ulama mushthalah (hadits), adalah tidak menyingkat penulisan kalimat shalawat dengan huruf “ص”. Begitu pula tidak dituliskan dengan singkatan “صلعم[1]. Tidak diragukan lagi bahwasannya penulisan simbol atau singkatan akan menyebabkan seseorang luput dari pahala bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila ia menulis kalimat shalawat dan kemudian ada orang yang membaca tulisan tersebut, maka Penulis pertama akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang membacanya. Tidaklah samar bagi kita apa yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara shahih :

“Barangsiapa yang bershalawat kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”.[2]

Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin untuk menghalangi dirinya perolehan pahala dan ganjaran akibat ketergesa-gesaannya untuk menyelesaikan apa yang akan ia tulis (dari kalimat shalawat).

[Diambil dan diterjemahkan dari Kitaabul-‘Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, pertanyaan no. 72, hal. 128-129, tahqiq : Shalaahuddin Mahmuud; Maktabah Nuurul-Hudaa].


[1]     Atau dalam bahasa Indonesia sering ditulis dengan singkatan “SAW”. – Abu Al-Jauzaa’

[2]     Shahih; diriwayatkan oleh Muslim no. 384, Abu Dawud no. 523, dan An-Nasa’i no. 678.

 

Comments

Salafi Newbie mengatakan...

Assalamualaikum

MasyaAllah...

penerangan yang sangat memberi faedah kepada kita semua....

JazakaAllah Khair ya akhi kerana menyiarkan rencana ini...

Wassalamualaikum

Kang Iman mengatakan...

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamua`laikum Warahmatullaah Wabarakaatuh

Mo bertanya tentang pencantuman kata (Shalallaahu`alaihi Wasallam)setelah kata Nabi Muhammad (shalallaahu`alaihi Wasallam)

Maksudnya.. Apakah Sahabat Radiallaahu`anhu melakukannya (pengucapan Shalallaahu`alaihi Wasallam)?

*saya pernah tahu bahwa ini sesuai dengan Surat Al-Ahzab 56 namun.. mohon penjelasannya.. kalo bisa berikut dengan Radiallaahu`nhu untuk para sahabat (Radiallaahu`anhu) juga

Afwan dan terimakasih penjelasannya..

kalo ada contoh dalam redaksi Hadits atau perkataan sahabat yang mengucapkannya langsung dan bukan dari imam Hadits...

Afwan jika pertanyaannya membingungkan.. Jazakallaahu Khairan Katsiran..

Iman