Tampilkan postingan dengan label Shahih Asbaabin-Nuzuul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shahih Asbaabin-Nuzuul. Tampilkan semua postingan

Shahihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul (2)

0 komentar

QS. Al-Baqarah : 125

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahih-nya (2/51) : Telah menceritakan kepada kami ’Amr bin ’Aun, telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Humaid, dari Anas : Telah berkata ’Umar :

وافقت ربي في ثلاث قلت يا رسول الله لو اتخذنا من مقام إبراهيم مصلى فنزلت: {وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلّىً}، وآية الحجاب. قلت: يا رسول الله لو أمرت نساءك أن يحتجبن، فإنه يكلمهن البر والفاجر. فنزلت آية الحجاب، واجتمع نساء النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم في الغيرة عليه فقلت لهن: عسى ربه إن طلقكن أن يبدله أزواجا خيرا منكن. فنزلت هذه الآية

”Rabb-ku telah membenarkanku dalam tiga hal”. (1) Aku (’Umar) berkata : ”Wahai Rasulullah, seandainya kita jadikan sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Maka turunlah ayat : ”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”. (2) Dan ayat tentang hijab. Aku berkata : ”Wahai Rasulullah, seandainya engkau perintahkan istri-istrimu untuk berhijab, karena mereka diajak berbicara baik orang yang baik ataupun orang yang buruk/jahat. Maka turunlah ayat hijab. (3) Dan para istri Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam karena rasa cemburu terhadap beliau, maka aku katakan pada mereka : ”Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu”. Maka turunlah ayat ini (yaitu QS. At-Tahrim : 5 – Abul-Jauzaa’).

Kemudian Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam At-Tafsiir (9/235) dalam mutaba’ah Yahya bin Sa’d Al-Husyaim. Dan beliau juga menyebutkannya dalam dua tempat secara mu’allaq dengan sighah tashrih (jelas) bahwa Humaid mendengar dari Anas. Al-Hafidh berkata dalam Al-Fath (2/51) : ”Maka, hadits tersebut aman dari tadliis-nya (Humaid)”.

Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (4/69) dan ia berkata : ”Hadits ini hasan shahih”. Dan dalam bab ini dari Ibnu ’Umar (disebutkan riwayat) dengan ringkas atas firman Allah : ”Dan jadikanlah” . Al-Haafidh Ibnu Katsir dalam At-Tafsir (1/169) menisbatkan riwayat tersebut kepada An-Nasa’i; Ibnu Majah dan ia mengeluarkannya di juz 1 hal. 24 dan 36; Ath-Thabari hal. 534 dengan satu riwayat yang semisal dengan At-Tirmidzi.

Muslim mengeluarkannya dalam Al-Manaaqib dari hadits Ibnu ’Umar yang semisal, dimana ia menyebutkan maqaam Ibrahim, tawanan perang Badr, dan (ayat) hijab.

QS. Al-Baqarah : 89

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا

”Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir”.

Ibnu Ishaq berkata : Telah menceritakan kepadaku ’Aashim bin ’Umar bin Qatadah, dari beberapa orang di antara kaumnya, mereka berkata :

إن مما دعانا إلى الإسلام مع رحمة الله تعالى وهداه لنا لما كنا نسمع من رجال يهود، وكنا أهل شرك أصحاب أوثان، وكانوا أهل كتاب عندهم علم ليس لنا، وكانت لا تزال بيننا وبينهم شرور فإذا نلنا منهم بعض ما يكرهون قالوا إنه قد تقارب زمان نبي يبعث الآن نقتلكم معه قتل عاد وإرم فكنا كثيرا ما نسمع ذلك منهم فلما بعث الله رسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أجبناه حين دعانا إلى الله تعالى وعرفنا ما كانوا يتوعدوننا به فبادرناهم إليه فآمنا به وكفروا به ففينا وفيهم نزل الآيات من البقرة {وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ}

”Sesungguhnya apa yang menyeru kami kepada Islam setelah rahmat Allah dan petunjuk-Nya kepada kami adalah kami pernah mendengar beberapa orang Yahudi. Dan kami adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan dan penyembah berhala, sedangkan mereka (Yahudi) adalah Ahlul-Kitab yang mereka mempunyai ilmu yang tidak kami miliki. Senantiasa ada antara kami dan mereka permusuhan. Apabila kami mendapatkan gangguan dari mereka, maka mereka berkata : ’Sesungguhnya telah dekat jaman diutusnya seorang Nabi sekarang yang kami akan membunuh kalian bersamanya seperti dibunuhnya kaum ’Aad dan Iram”. Kami sering mendengar hal itu dari mereka. Ketika Allah mengutus Rasul-Nya shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam, kami pun menjawab seruannya yang mengajak kami kepada (mentauhidkan) Allah ta’ala. Kami pun akhirnya mengetahui apa yang dahulu mereka (Yahudi) ancamkan kepada kami. Kami mendahului mereka (untuk menyambut seruan) kepadanya, beriman dengannya sedangkan mereka justru mengkufurinya. Kepada kami dan kepada mereka-lah ayat dari surat Al-Baqarah turun : ”Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu” – selesai.

Dari Sirah Ibnu Hisyam (1/211), dan ia adalah hadits yang berkualitas hasan. Apabila Ibnu Ishaq telah menyebutkan secara jelas dengan tahdiits, maka haditsnya adalah hasan sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafidh Adz-Dzahabi dalam Al-Miizan.

QS. Al-Baqarah : 142

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا

Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul-Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?".

Ibnu Ishaq berkata : Telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abi Khaalid, dari Abu Ishaaq, dari Al-Barraa’ ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصلي نحو بيت المقدس ويكثر النظر إلى السماء ينتظر أمر الله فأنزل الله {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ} فقال رجال من المسلمين وددنا لو علمنا علم من مات قبل أن نصرف إلى القبلة فأنزل الله {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ} وقال السفهاء من الناس ما ولاهم عن قبلتهم التي كانوا عليها فأنزل الله {سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ} إلى آخر الآية

”Dahulu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam shalat menghadap ke Baitul-Maqdis dan beliau sering memandang ke arah langit menunggu perintah Allah. Maka Allah menurunkan ayat : ”Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil-Haram” (QS. Al-Baqarah : 144). Beberapa orang dari kaum muslimin berkata : ”Kami ingin seandainya kami mengetahui ilmu orang yang mati sebelum kami berpaling ke arah kiblat (Masjidil-Haram). Maka Allah menurunkan ayat : ”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (QS. Al-Baqarah : 143). Berkatalah orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia : ”Apa gerangan yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya (yaitu Baitul-Maqdis) ?”. Maka turunlah Allah menurunkan ayat : ”Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata...” hingga akhir ayat (QS. Al-Baqarah : 142).

Dinukil dari Lubaabun-Nuquul fii Asbaabin-Nuzuul oleh Al-Haafidh As-Suyuthi dan dari Tafsir Ibni Katsir.

QS. Al-Baqarah : 143

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu”.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam At-Tafsiir (9/237) ” Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, ia mendengar Zuhair, dari Abu Ishaaq, dari Al-Barraa’ radliyallaahu ’anhu :

أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم صلى إلى بيت المقدس ستة عشر شهرا أو سبعة عشر شهرا. وكان يعجبه أن تكون قبلته قبل البيت وأنه صلى أو صلاها صلاة العصر وصلى معه قوم فخرج رجل ممن كان صلى معه فمر على أهل المسجد وهم راكعون قال: أشهد بالله لقد صليت مع النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قبل مكة فداروا كما هم قبل البيت وكان الذي مات على القبلة قبل البيت رجال قتلوا فلم ندر ما نقول فيهم فأنزل الله {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَحِيمٌ}.

Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam shalat menghadap Baitul-Maqdis selama 16 bulan atau 17 bulan. Beliau menginginkan seandainya kiblatnya menghadap ke Baitullah. Satu saat beliau melakukan shalat atau sedang shalat ’Asar bersama satu kaum. Maka keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau dan berjalan melintasi orang-orang yang berada di dalam masjid yang ketika itu sedang rukuk. Ia berkata : ”Aku bersaksi dengan nama Allah, sungguh aku shalat bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam menghadap ke Makkah (Masjdil-Haram). Maka mereka pun langsung memutar menghadap ke Baitullah. Ada beberapa orang yang telah meninggal yang (di waktu shalatnya masih) menghadap ke kiblat (Baitul-Maqdis) sebelum (berganti arah) menghadap Baitullah. Kami tidak berkata-kata apapun tentang mereka. Maka Allah pun menurunkan ayat : ”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”.

Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Al-Bukhari dalam Kitaabul-Iimaan (1/103). Al-Haafidh berkata dalam Al-Fath (1/104) : ”Penulis meriwayatkannya dalam At-Tafsir dari jalan Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq (ia berkata) : Aku mendengar Al-Barra’. Maka amanlah hadits ini dari kekhawatiran adanya tadliis Abu Ishaq. Abu Dawud Ath-Thayalisi (1/85), Ibnu Sa’d (bagian 2 juz 1 hal. 5), serta Ibnu Jarir dari hadits Al-Barra’ dan Ibnu ’Abbas (2/17). Dan dari hadits Ibnu ’Abbas, maka dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (4/70), ia berkata : Hasan shahih; Abu Dawud (4/354); Ath-Thayalisi (2/12); dan Al-Hakim (2/269), ia (Al-Hakim) berkata : Shahihul-isnad – (tashhih ini) disepakati oleh Adz-Dzahabi.


QS. Al-Baqarah : 144

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ

” Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit”.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahih-nya (2/48) : Telah menceritakan kepada kami ’Abdullah bin Rajaa’ ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari Al-Barra’ bin ’Aazib ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم صلى نحو بيت المقدس ستة عشر شهرا أو سبعة عشر شهرا وكان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يحب أن يوجه إلى الكعبة فأنزل الله عز وجل {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ} فتوجه نحو الكعبة وقال السفهاء من الناس وهم اليهود ما ولاهم عن قبلتهم التي كانوا عليها، {قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} فصلى مع النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم رجل ثم خرج بعدما صلى فمر على قوم من الأنصار في صلاة العصر نحو بيت المقدس فقال: هو يشهد أنه صلى مع رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأنه توجه نحو الكعبة فتحرف القوم حتى توجهوا نحو الكعبة.

”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam shalat menghadap Baitul-Maqdis selama 16 bulan atau 17 bulan. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam menyukai seandainya menghadap ke arah Ka’bah. Maka Allah ’azza wa jalla menurunkan ayat : ”Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit” (QS. Al-Baqarah : 44). Lalu beliau menghadap ke Ka’bah. Maka berkatalah orang-orang yang lemah akalnya di antara manusia : ”Apa gerangan yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya (yaitu Baitul-Maqdis) ?”. ”Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (QS. Al-Baqarah : 142). Maka shalatlah bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam seorang laki-laki, kemudian ia keluar setelah selesai menunaikan shalat. Ia berjalan menuju sekelompok orang dari kalangan Anshar yang ketika itu mereka sedang shalat ’Asar menghadap ke Baitul-Maqdis. Rawi berkata : ”Laki-laki itu bersaksi bahwasannya ia shalat bersama Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam menghadap Ka’bah. Maka orang-orang tersebut berpaling hingga menghadap Ka’bah”.

Hadits tersebut dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (4/79) dan ia berkata : Hasan shahih; Ibnu Majah (no. 1010) yang di dalamnya terdapat sababun-nuzul ayat : ”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (QS. Al-Baqarah : 143); Imam Ahmad (4/274); Ad-Daruquthni (1/274); Ibnu Abi Haatim sebagaimana dalam Tafsir Ibni Katsir dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (jilid 4 bag. 2) dan pada mereka berdua terdapat tambahan : ”Maka berkatalah orang-orang yang lemah akalnya di antara manusia : ”Apa gerangan yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya (yaitu Baitul-Maqdis) ?”. ”Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (QS. Al-Baqarah : 142).

Dikeluarkan pula oleh Muslim (5/11) dari hadits Anas, dan demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d (jilid 1, hal. 4 bag. 2).

insya Allah bersambung...........

Shahihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul (1)

0 komentar

Dalam beberapa kitab tafsir banyak dijumpai beberapa riwayat yang menceritakan tentang sababun-nuzul (sebab turunnya) suatu ayat. Diantara riwayat-riwayat tersebut ada yang shahih, hasan, dla’if, maudlu (palsu), atau bahkan laa ashla lahu (tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits standar). Oleh karena itu, banyak ulama – terdahulu maupun kontemporer – yang melakukan penelitian, peringkasan, atau pengeditan terhadap riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir. Tidak lain upaya tersebut dilakukan adalah untuk menjaga kemurnian agama. Salah satu diantara para ulama tersebut adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, seorang ulama hadits dari negeri Yaman. Beliau telah menggoreskan tintanya dalam penyeleksian hadits-hadits yang berkaitan dengan asbaabun-nuzul melalui kitabnya yang berjudul Shahiihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul.

Pada kesempatan ini dan seterusnya – insyaAllah – saya akan menuliskan di Blog ini secara berseri riwayat-riwayat shahih yang berkaitan dengan asbaabun-nuzuul ayat yang termuat dalam kitab Shahiihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul. Saya bersandar pada matan kitab yang ada pada Cet. 4 Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo - Mesir, 1408/1987 (Free Program dari http://www.islamspirit.com/ – Maktabah Syaikh Muqbil Al-Wadi’i). Semoga Allah memudahkan saya untuk menulisnya. Harapan saya, tulisan ini dapat bermanfaat bagi saya dan ikhwah Pembaca semuanya. Hanya Allah lah tempat bersandar, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi balasan.


QS. Al-Baqarah : 79

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

”Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.”

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitabnya Khalqu Af’alil-’Ibaad (hal. 54) :

حدثنا يحيى ثنا وكيع عن سفيان عن عبد الرحمن بن علقمة عن ابن عباس رضي الله عنه {فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ} قال نزلت في أهل الكتاب.

Telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari ’Abdurrahman bin ’Alqamah, dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma : ”Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri” ; ia berkata : ”(Ayat ini) turun kepada Ahli Kitab”.

Hadits di atas rijalnyanya adalah rijal kitab Ash-Shahih, kecuali ’Abdurrahman bin ’Alqamah. Ia dinilai tsiqah oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-’Ijilly. Ibnu Syahin berkata : ”Telah berkata Ibnu Mahdi : ”Ia termasuk al-atsbaatuts-tsiqaat (orang yang sangat tsiqah)” [selesai – Tahdzibut-Tahdzib].


QS. Al-Baqarah : 97

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Imam Ahmad berkata (Al-Musnad juz 1 hal. 274) :

حدثنا أبو أحمد ثنا عبد الله بن الوليد العجلي وكانت له هيئة رأيناه عند حسن عن بكير بن شهاب عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال: أقبلت يهود إلى رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم فقالوا: يا أبا القاسم إنا نسألك عن خمسة أشياء فإن أنبأتنا بهن عرفنا أنك نبي واتبعناك فأخذ عليهم ما أخذ إسرائيل على بنيه إذ قالوا الله على ما نقول وكيل، قال: "هاتوا". قالوا: أخبرنا عن علامة النبي، قال: "تنام عيناه ولا ينام قلبه"، قالوا: أخبرنا كيف تؤنث المرأة وكيف تذكر قال: "يلتقي الماءان فإذا علا ماء الرجل ماء المرأة أذكرت، وإذا علا ماء المرأة ماء الرجل أنثت"، قالوا: أخبرنا ما حرم إسرائيل على نفسه قال: "كان يشتكي عرق النسا فلم يجد شيئا يلائمه إلا ألبان كذا وكذا"، قال عبد الله قال أبي، قال بعضهم: يعني الإبل فحرم لحومها قالوا: صدقت؛ أخبرنا ما هذا الرعد قال: "ملك من ملائكة الله عز وجل موكل بالسحاب بيده أو في يده مخراق من نار يزجر به السحاب يسوقه حيث أمر الله"، قالوا: فما هذا الصوت الذي يسمع. قال: "صوته"، قالوا: صدقت، إنما بقيت واحدة وهي التي نبايعك إن أخبرتنا بها فإنه ليس من نبي إلا له ملك يأتيه بالخبر فأخبرنا من صاحبك. قال: "جبريل عليه السلام". قالوا: جبريل ذاك الذي ينزل بالحرب والقتال والعذاب عدونا، لو قلت ميكائيل الذي ينزل بالرحمة والنبات والقطر لكان.
فأنزل الله عز وجل {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ} إلى آخر الآية.

Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad [1], telah menceritakan kepada kami ’Abdullah bin Al-Waliid Al-’Ajaly dimana ia mempunyai rupa yang cukup menawan, dari Bukair bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma ia berkata : Orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan kemudian berkata : ”Wahai Abul-Qasim, sesungguhnya kami ingin bertanya kepadamu tentang lima hal. Jika engkau menjawabnya dengan benar, maka kami mengetahui bahwa sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi dan kami akan akan mengikutimu”. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam mengambil perjanjian tersebut atas mereka sebagaimana Israil (yaitu Nabi Ya’qub ’alaihis-salaam) mengambil perjanjian atas anak-anaknya ketika mereka berkata : ”Allah menjadi saksi atas apa yang kami katakan”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sampaikanlah !”. Mereka berkata : ”Khabarkanlah kepada kami tentang tanda-tanda seorang Nabi !”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Kedua matanya tertidur, namun hatinya selalu dalam keadaan terjaga”. Mereka kembali berkata : ”Khabarkanlah kepada kami bagaimana seorang anak itu bisa terlahir menjadi perempuan dan yang lain terlahir menjadi seorang laki-laki !”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Ketika dua air mani bertemu/bercampur, jika air mani laki-laki mengalahkan (lebih banyak) daripada air mani perempuan, maka terlahirlah anak laki-laki. Sebaliknya, jika air mani perempuan mengalahkan (lebih banyak) air mani laki-laki, maka terlahirlah anak perempuan”. Mereka berkata kembali : ”Khabarkan kepada kami apa yang diharamkan oleh Israil terhadap dirinya sendiri !”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Dahulu ia pernah menderita penyakit encok dimana ia tidak mendapatkan sesuatu yang sesuai kecuali susu ini dan itu. - ’Abdullah (yaitu perawi) berkata : Telah berkata ayahku : Sebagian mereka berkata : Susu tersebut adalah susu unta – Maka ia mengharamkan dagingnya (atas dirinya)”. Mereka (orang-orang Yahudi) berkata : ”Engkau benar”. Kemudian mereka berkata kembali : ”Khabarkanlah kepada kami apa sesungguhnya petir itu !”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah ’azza wa jalla bertugas mengatur awan dengan tangannya – atau di tangannya terdapat celah dari api untuk menggiring awan dan membawanya ke suatu tempat sebagaimana yang Allah perintahkan”. Mereka berkata : ”Lantas, apa pula suara (petir) yang terdengar itu ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Itu adalah suaranya (malaikat)”. Mereka berkata : ”Engkau benar. Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi kami akan berbaiat kepadamu jika engkau dapat menjawabnya (dengan benar). Sesungguhnya tidaklah ada seorang Nabi melainkan padanya ada seorang malaikat yang selalu datang membawa khabar. Beritahukan kepada kami siapa shahabatmu (malaikat) itu !”. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Jibril ’alaihis-salaam”. Mereka berkata : ”Jibril. Dialah yang menurunkan pertempuran, peperangan, dan ’adzab. Ia adalah musuh kami. Apabila engkau menjawab Mikail yang menurunkan rahmat, tumbuh-tumbuhan, dan hujan, niscaya kami akan membaiatmu”.
Maka Allah pun menurunkan ayat : ”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril....” sampai akhir ayat.

Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid (juz 8 hal. 242) : Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabarani, rijalnya adalah tsiqah”. Dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (juz 4 hal. 305). Hadits di atas dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Bukair bin Syihab. Al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata dalam At-Taqrib : ”Maqbul”. Yaitu jika ia mempunyai mutaba’ah. Jika tidak, maka haditsnya layyin – sebagaimana yang beliau peringatkan dalam Al-Muqaddimah (yaitu kitab Hadyus-Saari – Abul-Jauzaa’). Namun, hadits tersebut mempunyai jalan yang lain sampai pada Ibnu ’Abbas sebagaimana terdapat dalam Tafsir Ibnu Jarir. Diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad (juz 1 hal. 278), Ath-Thayalisi (juz 2 hal. 11), Ibnu Jarir (juz 1 hal 431), dan Ibnu Sa’d (juz 1 no. 1 hal. 116) dari jalan Syahr bin Husyab, dari Ibnu ’Abbas yang lafadhnya mirip dengan hadits di atas. Ibnu Jarir telah menghikayatkan ijma’ (kesepakatan) bahwa ayat tersebut turun sebagai jawaban atas perkataan orang-orang Yahudi Bani Israil yang telah beranggapan bahwa Jibril adalah musuh bagi mereka dan Mikail adalah wali bagi mereka. Maka jadilah ijma’ tersebut sebagai penguat dua jalan di atas yang masing-masing mempunyai kelemahan; yaitu :
Pertama, bahwasannya Bukair bin Syihab telah diselisihi sebagaimana dalam At-Tarikh Al-Kabiir nya Al-Bukhari (juz 2 hal 114 dan 115). Diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri dari Hubaib, dari Sa’id – dari Ibnu ’Abbas. Kedua, Syahr termasuk perawi yang diperbincangkan”.


QS. Al-Baqarah : 109

فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

”Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Telah berkata Abusy-Syaikh dalam kitab Al-Akhlaaq :

أخبرنا ابن أبي عاصم ثنا عمرو بن عثمان بن بشر بن سعيد عن أبيه عن الزهري عن عروة عن أسامة بن زيد أنه أخبره أن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ركب على حمار فقال لسعد: "ألم تسمع ما قال أبو الحباب –يريد عبد الله بن أبي- قال كذا وكذا" فقال سعد بن عبادة اعف عنه واصفح فعفا عنه رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وكان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأصحابه يعفون عن أهل الكتاب والمشركين فأنزل الله عز وجل {فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}.الحديث رجاله ثقات فابن أبي عاصم حافظ كبير ترجمته في تذكرة الحفاظ ج2 ص640 والباقون في تهذيب والتهذيب والحديث في الصحيح من طريق شعيب بن أبي حمزة بهذا السند لكن ليس في الصحيح سبب النزول هكذا في تفسير ابن أبي حاتم كما في تفسير ابن كثير ج1 ص135.

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Abi ’Ashim, telah menceritakan kepada kami ’Amr bin ’Utsman bin Bisyr bin Sa’id [2], dari bapaknya, dari Az-Zuhri, dari ’Urwah, dari Usamah bin Zaid yang ia telah mengkhabarkan kepadanya bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berkendara di atas seekor keledai. Beliau berkata kepada Sa’d : ”Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Abul-Habbab – yang dimaksudkan adalah : ’Abdullah bin Ubay – berkata : ”Demikian dan demikian....”. Sa’d bin ’Ubadah berkata : ”Maafkanlah ia dan bebaskanlah”. Maka Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya memaafkannya. Mereka memaafkan Ahli Kitab dan kaum musyrikin. Maka Allah ’azza wa jalla menurunkan ayat : "Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Hadits tersebut rijalnya tsiqaat. Ibnu Abi ’Ashim adalah seorang haafidh kabiir. Biografinya terdapat dalam kitab Tadzkiratul-Huffadh (juz 2 hal. 640). Adapun selebihnya terdapat Tahdzibut-Tahdzib. Hadits yang terdapat dalam kitab Ash-Shahiih adalah dari jalan Syu’aib bin Abi Hamzah dengan sanad ini. Akan tetapi, dalam kitab Ash-Shahih (Bukhari atau Muslim) tidak terdapat sebab turunnya ayat. Begitu pula yang terdapat dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim sebagaimana terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir (juz 1 hal. 135).


QS. Al-Baqarah : 115

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Imam Muslim berkata dalam kitab Shahih-nya (juz 5 hal 209) :

حدثنا عبيد الله بن عمر القواريري حدثنا يحيى بن سعيد عن عبد الملك بن أبي سليمان قال: حدثنا سعيد بن جبير عن ابن عمر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصلي وهو مقبل من مكة إلى المدينة على راحلته حيث كان وجهه وفيه نزلت {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ}.الحديث أخرجه الترمذي في التفسير ج4 ص68، والنسائي ج1 ص196، وأحمد في المسند ج2 ص20، وابن جرير ج1 ص503، وقال الترمذي حديث حسن صحيح.

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Umar Al-Qawaririy, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, dari ‘Abdul-Malik bin Abi Sulaiman ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Umar ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas kendaraannya ketika dalam perjalanan dari Makkah menuju Madinah ke arah dimanapun kendaraannya menghadap. Maka turunlah ayat : ”Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah” .

Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam At-Tafsir (juz 4 hal. 68), An-Nasa’i (juz 1 hal 196), Ahmad dalam Al-Musnad (juz 2 hal 20), dan Ibnu Jarir (juz 1 hal. 503). At-Tirmidzi berkomentar : ”Hadits hasan shahih”.

==bersambung insyaAllah==

Catatan kaki :

[1] Abu Ahmad, ia adalah Muhammad bin ‘Abdilah Az-Zubairiy.

[2] Begitulah yang tertulis dalam aslinya. Yang benar adalah Bisyr bin Syu’aib, ia adalah Abu Hamzah. Ia adalah perawi hadits dari Az-Zuhri sebagaimana terdapat dalam Shahih Al-Bukhari (juz 9 hal. 299) dan ’Umdatul-Qari 18 – 155.