Persatuan (Lagi)


Nabi bersabda:
لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِ وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadai melainkan Allah dan bersaksi bahwasannya aku adalah utusan Allah; kecuali dengan dengan satu diantara tiga perkara : (1) orang yang pernah menikah lalu berzina; (2) jiwa dibalas dengan jiwa, dan (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), yang memisahkan diri dari jama’ah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1676].

An-Nawawiy rahimahullah menjelaskan salah satu makna al-mufaariqu lil-jamaa'ah dari para ulama:
كل خارج عن الجماعة ببدعة أو بغي أو غيرهما وكذا الخوارج
"Setiap orang yang keluar dari jama'ah dengan kebid'ahan, pemberontakan, atau yang lainnya. Begitu juga dengan Khawaarij" [Syarh Shahiih Muslim, 11/165].
Artinya, perbuatan bid'ah dan berbagai bentuk pemberontakan yang keluar dari makna mendengar dan taat kepada pemimpin muslim yang sah; maka itu paradoks dengan makna persatuan, dan persatuan itu identik dengan jama'ah.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
ومن لم يندفع فساده في الأرض إلا بالقتل قُتل، مثل المفرق لجماعة المسلمين، والداعي إلى البدع في الدين. قال تعالى: {من أجل ذلك كتبنا على بني إسرائيل أنه من قتل نفساً بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعاً} [المائدة: 32]، وفي الصحيح عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: ((إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما)).
وقال: ((من جاءكم وأمركم على رجل واحد يريد أن يفرق جماعتكم فاضربوا عنقه كائناً من كان))
"Barangsiapa yang kerusakannya di muka bumi tidak dapat dihentikan kecuali dengan pembunuhan, maka ia (boleh) dibunuh. Misalnya orang yang memisahkan diri dari jama'ah kaum muslimin dan penyeru kebid'ahan dalam agama. Allah ta'ala berfirman : 'Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya' (QS. Al-Maaidah : 32). Dalam kitab Ash-Shahiih dari Nabi , beliau bersabda : 'Apabila dua orang khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang paling akhir baiatnya di antara mereka'. Beliau juga bersabda : 'Barangsiapa yang mendatangi kalian sedangkan perkara kalian berkumpul pada diri satu orang (pemimpin/ulil-amri) yang dirinya itu hendak memecah belah jama'ah kalian, maka bunuhlah siapapun ia" [Majmuu' Al-Fataawaa, 28/108-109].
Bid'ah serta paham memberontak, enggan untuk mendengar dan taat (terhadap ulil-amri); bertentangan dengan makna persatuan.
Apakah kita bermimpi akan terjalin persatuan dengan orang/kelompok yang keberadaan/eksistensinya justru menjadi sebab perpecahan umat ?
Benar, dulu Nabi pernah mengadakan perjanjian dengan orang Yahudi dengan melahirkan beberapa butir kesepakatan untuk kemaslahatan yang kaum muslimin - yang saat itu masih belum kuat. Sebagian ulama menjelaskan bahwa kesepakatan dalam perjanjian (Piagam Madinah) itu dalam konteks ayat:
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil" [QS. Al-Mumtahanah : 8].
Meski demikian, bara'ah dan kebencian kaum muslimin terhadap orang kafir dan kekafirannya tetap ada dan wajib sebagaimana difirmankan Allah ta'ala dalam ayat:
لاّ تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ يُوَآدّونَ مَنْ حَآدّ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوَاْ آبَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara atau keluarga mereka” [QS. Al-Mujaadalah : 22].
Dalam realitas kehidupan sehari-hari pun, insya Allah terpraktekkan, seperti misal kerjasama kaum muslimin dengan orang kafir dalam menjaga stabilitas dan keamanan lingkungan (desa, RT, RW), saling menghormati hak dan tidak saling mengganggu, dan yang semisalnya. Tolong-menolong dalam mengatasi krisis dan bencana. Banyak ikhwah yang telah berpartisipasi.
Sama halnya dengan kerjasama kaum muslimin pada umumnya seperti NU, Muhammadiyyah, Persis, PKS, HTI, dan yang lainnya. Insya Allah kita hidup rukun dan saling menghormati (kecuali gerombolan yang sering main persekusi ngalahin kerja pak polisi). Berkumpul melakukan kerjabakti bersama, menjadi anggota DKM masjid komplek, menjadi panitia kurban di lingkungan sekitar, dan hal lainnya. Hubungan muamalah yang baik di kantor, di pasar, di jalan, dan yang lainnya. Atau bersama-sama menangkal permurtadan (Kristenisasi).
Sayang memang, ada yang menginginkan lebih. Persatuan dalam 'aqidah, manhaj, dan pemikiran. Memang tak vulgar dikatakan, tapi cukup dapat dirasakan. Mencampurkan yang haq dan yang bathil. Yang bathil disamarkan dengan nama 'khilaf ulama'. Bahkan yang syirik pun dianjurkan agar kita meninjau ulangnya seperti shalawat nariyyah. Mungkin nanti menyusul qasidah burdah, dan yang lainnya. Yang bid'ah menjadi bukan bid'ah. Semua akhirnya berbungkus khilaf ulama. Semua kelompok dianggap benar berlabel al-firqatun-naajiyyah. Apakah ini ilusi ? Tidak, lha wong saya lihat dan dengar sendiri kok rekamannya. Bahkan muncul kemudian dagelan istilah 'pengkapling surga'...😀😎. Haloo..... how are you ? Have you been to see the doctor yet??
Allah ta'ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" [QS. Aali 'Imraan : 103].
Ath-Thabariy rahimahullah menjelaskan ayat tersebut:
وتمسَّكوا بدين الله الذي أمركم به، وعهده الذي عَهده إليكم في كتابه إليكم، من الألفة والاجتماع على كلمة الحق، والتسليم لأمر الله
Dan berpegah teguhlah kepada agama Allah yang telah Allah perintahkan kepada kalian dengannya, perjanjian-Nya yang telah Allah mandatkan kepada kalian dalam Kitab-Nya untuk menjalin persahabatan dan persatuan DI ATAS KALIMAT AL-HAQ, serta tunduk terhadap perintah Allah” [Tafsiir Ath-Thabariy, 7/70].
Ibnu Mas'uud radliyallaahu 'anhu berkata:
إِنَّ هَذَا الصِّرَاطَ مُحْتَضَرٌ، تَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ يُنَادُونَ: يَا عِبَادَ اللَّهِ، هَذَا الطَّرِيقُ، فَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ، فَإِنَّ حَبْلَ اللَّهِ الْقُرْآنُ
“Sesungguhnya jalan ini dihadiri para setan yang menyeru: 'Wahai hamba-hamba Allah, inilah jalanmu.' Oleh karena itu berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah, sesungguhnya tali Allah itu adalah Al-Qur'an” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 3317].
Perkataan Ibnu Mas’uud ini serupa dengan yang ada dalam riwayat:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: " خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِﷺ خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: " هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ "، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: " هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ "، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Dari ‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata : Rasulullah membuatkan kami satu garis kemudian beliau bersabda : “Ini adalah jalan Allah” Kemudian beliau menggaris beberapa garis dari sebelah kanan dan sebelah kirinya, lalu beliau bersabda : “Ini adalah jalan-jalan, yang pada setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (QS. Al-An’am (6) : 153) [Diriwayatkan oleh Ahmad, Ad-Daarimiy, dll.].
Penjelasan riwayat Ibnu Mas’uud ini memberikan faedah bagi kita bahwa:
1.    Berpegang pada tali Allah maksudnya adalah berpegang teguh pada Kitabullah.
2.    Berpegang pada tali Allah adalah dengan menetapi jalan yang lurus (ash-shiraathul-mustaqiim). Ibnu Mas’uud berkata:
الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ الَّذِي تَرَكَنَا عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِﷺ
“Maksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditinggalkan Rasulullah kepada kami” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, shahih].
Selaras dengan sabda Nabi :
تفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة، كلهم في النار إلا ملة واحدة». قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي
Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golonan. Semuanya masuk neraka kecuali satu”. Mereka (para shahabat) bertanya : “Siapakah ia wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Apa-apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya”.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وهذا الأصل العظيم وهو الإعتصام بحبل الله جميعا وأن لا يتفرق هو من أعظم أصول الإسلام ومما عظمت وصية الله تعالى به فى كتابه
ومما عظم ذمه لمن تركه من أهل الكتاب وغيرهم ومما عظمت به وصية النبى فى مواطن عامة وخاصة مثل قوله عليكم بالجماعة فإن يد الله على الجماعة
“Ini adalah pokok yang agung, yaitu berpegang teguh semuanya kepada tali Allah dan agar tidak berpecah-belah. Perkara ini termasuk pokok Islam yang paling agung dan termasuk wasiat Allah yang besar yang Allah wasiatkan dalam Kitab-Nya; celaan Allah yang sangat keras terhadap orang yang meninggalkannya (berpegang teguh terhadap tali Allah) dari kalangan Ahli Kitab dan yang laiunnya; serta termasuk wasiat Nabi yang paling agung dalam beberapa tempat secara umum maupun khusus, misalnya sabda beliau : ‘Wajib atas kalian berpegang pada Jama’ah, karena tangan Allah di atas Jama’ah” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 22/359].
Intinya, perintah untuk bersatu adalah bersatu dalam berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salaful-ummah. Ini adalah diantara pokok Islam yang paling agung.
Terakhir, ….. kaum muslimin pada prinsipnya adalah bersaudara, namun mereka diberikan walaa’ dan baraa’ sesuai kadarnya. Diberikan walaa’ berdasarkan kadar ketaatannya dan kesesuaiannya terhadap sunnah; serta diberikan baraa’ berdasarkan jenis dan kadar kemaksiatan dan penyimpangannya dari pokok-pokok Ahlus-Sunnah.
Jika kita ingin persatuan, maka tempuhlah jalannya dengan menetapi ketauhidan serta berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salaful-ummah. Jangan sekedar berdendang tentang persatuan namun melupakan jalannya……
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[abul-jauzaa – dps – 02122017].

Comments

Anonim mengatakan...

sangat bermanfaat