Pandangan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhaab terhadap Al-Buushiiriy, Ibnu ‘Arabiy, dan Ibnul-Faaridl


Dulu, ada seseorang bernama Sulaimaan bin Suhaim yang membenci dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah. Ia membuat beberapa kedustaan terhadap beliau rahimahullah. Ketika kedustaan itu sampai kepada Syaikh, beliau rahimahullah berkata:
ثم لا يخفى عليكم أنه بلغني أن رسالة سليمان بن سحيم قد وصلت إليكم، وأنه قبلها وصدقها بعض المنتمين للعلم في جهتكم، والله يعلم أن الرجل افترى علي أمورا لم أقلها، ولم يأت أكثرها على بالي.
“Kemudian tidak tersembunyi atas kalian bahwa telah sampai kepadaku risalah Sulaimaan bin Suhaim, yang itu juga telah sampai kepada kalian. Risalah tersebut diterima dan dibenarkan oleh sebagian orang yang condong kepada ilmu di sisimu. Dan Allah mengetahui orang ini telah berdusta pada perkara-perkara yang aku tidak pernah mengatakannya dan (bahkan) mayoritas perkara itu tidak pernah terlintas dalam benakku”

فمنها قوله: إني مبطل كتب المذاهب الأربعة; وإني أقول: إن الناس من ستمائة سنة ليسوا على شيء، وإني أدعي الاجتهاد; وإني خارج عن التقليد; وإني أقول: إن اختلاف العلماء نقمة، وإني أكفر من توسل بالصالحين; وإني أكفر البوصيري لقوله: يا أكرم الخلق; وإني أقول: لو أقدر على هدم قبة رسول الله صلى الله عليه وسلم لهدمتها، ولو أقدر على الكعبة لأخذت ميزابها، وجعلت لها ميزابا من خشب، وإني أحرم زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، وإني أنكر زيارة قبر الوالدين وغيرهما، وإني أكفر من حلف بغير الله، وإني أكفر ابن الفارض، وابن عربي; وإني أحرق دلائل الخيرات، وروض الرياحين، وأسميه روض الشياطين.
Diantaranya adalah perkataannya:
1.      aku membatalkan kitab-kitab madzhab yang empat;
2.      aku berkata : ‘sesungguhnya manusia selama 600 tahun tidak berada di atas kebenaran sama sekali’;
3.      aku mendakwakan ijtihad;
4.      aku keluar dari taqlid;
5.      aku berkata : ‘sesungguhnya perselisihan ulama adalah adzab’;
6.      aku mengkafirkan orang yang bertawassul kepada orang-orang shalih;
7.      aku mengkafirkan Al-Bushiiriy karena ucapannya : ‘wahai makhluk yang paling mulia’[1];
8.      aku berkata : ‘seandainya aku kuasa menghancurkan kubah Rasulullah , niscaya akan aku hancurkan’;
9.      (aku berkata) : ‘seandainya aku berkuasa atas Ka’bah, niscaya akan aku ambil saluran airnya dan aku ganti dengan kayu’;
10.   aku mengharamkan berziarah kepada Nabi ;
11.   aku mengingkari berziarah ke kubur kedua orang tua dan yang selainnya;
12.   aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah;
13.   aku mengkafirkan Ibnul-Faaridl dan Ibnu ‘Arabiy;
14.   aku membakar kitab Dalaailul-Khairaat dan Raudlur-Rayaahiin, yang kemudian aku ganti nama dengan Raudlusy-Syayaathiin.
جوابي عن هذه المسائل أن أقول: سبحانك هذا بهتان عظيم; وقبله من بهت محمدا صلى الله عليه وسلم أنه يسب عيسى ابن مريم، ويسب الصالحين، فتشابهت قلوبهم بافتراء الكذب
“Jawabanku tentang permasalahan-permasalahan ini, aku katakan : ‘Maha Suci Engkau, ini adalah kedustaan yang besar. Sebelumnya telah ada orang yang berdusta pada diri Muhammad bahwasannya ia (Muhammad ) mencaci ‘Iisaa bin Maryam dan mencaci orang-orang shaalih, sehingga serupalah hati-hati mereka dengan berbagai kedustaan dan kebohongan tersebut….”.
[selesai nukilan].
Khusus kedustaan nomor 7 dan 13 tentang pengkafiran Al-Bushiiriy, Ibnul-Faaridl, dan Ibnu ‘Arabiy (dan beliau rahimahullah mengingkarinya dengan keras), maka Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah menjelaskan:
وقوله: «وأني أكفر البوصيري لقوله: يا أكرم الخلق» ، هذه مسألة تكفير المعين؛ كأن الشيخ لا يرى تكفير المعين، والبوصيري كلامه كفر؛ كقوله يخاطب الرسول صلى الله عليه وسلم:
يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به ... سواك عند حلول الحادث العمم
فإن من جودك الدنيا وضرتها ... ومن علومك علم اللوح والقلم
إن لم تكن في معادي آخذا بيدي ... فضلا وإلا فقل يا زلة القدم
فإن لي ذمة منه بتسميتي ... محمدا وهو أوفى الخلق بالذمم
إلى آخر ما قال في «البردة» ، وهذا كفر، لكن الشخص قد يكون ما بلغته الحجة، أو يكون متأولا، فلا يكفر حتى تقام عليه الحجة، وأيضا هو لا يعلم ما ختم له به.
“Perkataan beliau ((aku mengkafirkan Al-Bushiiriy karena ucapannya : ‘wahai makhluk yang paling mulia’)). Ini adalah permasalahan takfir mu’ayyan. Seakan-akan Syaikh (dengan perkataan itu) tidak berpendapat adanya takfir mu’ayyan, sedangkan Al-Bushiiriy perkataannya adalah kufur seperti perkataannya ketika berbicara tentang diri Rasul :
Wahai makhluk yang paling mulia, tidak ada tempat untukku berlindung
kecuali dirimu ketika terjadinya musibah yang merata
Sesungguhnya termasuk diantara kemurahanmu adalah dunia dan segala isinya
dan termasuk ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam
Apabila engkau kelak di akhirat tidak memegang tanganku (untuk menolong)
sebagai karunia (darimu), maka katakanlah : ‘Wahai orang yang tergelincir kakinya (ke neraka)’
Sesungguhnya aku memiliki jaminan darinya dengan penamaanku
Muhammad, dan ia adalah orang yang paling menjaga jaminannya’
hingga akhir dari apa yang ia katakan dalam Al-Burdah. Perkataan ini kufur, akan tetapi kadang individunya belum sampai kepadanya hujjah atau ia salah dalam ta’wil, sehingga ia tidak dikafirkan hingga hujjah ditegakkan kepadanya. Selain itu juga ia (Al-Bushiiriy) tidak diketahui apa yang menjadi penutup kehidupannya” [Syarh ‘Aqiidah Al-Imaam Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab, hal. 150-151; Maktabah Daaril-Minhaaj, Cet. 2/1431].
Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah melanjutkan penjelasan beliau tentang kedustaan yang dialamatkan kepada Syaikh ((aku mengkafirkan Ibnul-Faaridl dan Ibnu ‘Arabiy)) :
ابن الفارض صاحب المنظومة التائية في وحدة الوجود، فيها كفر وإلحاد والعياذ بالله، ولكن الشيخ لا يكفر صاحبها؛ لأنه لا يدري ماذا ختم له، ولا يدري هل بلغته الحجة أو لم تبلغه، فهو يقول: إن ما فيها إلحاد وكفر، ولكن صاحبها يتوقف فيه، هذا مذهب أهل السنة والجماعة أنهم لا يشهدون لأحد بجنة أو نار إلا من شهد له رسول الله صلى الله عليه وسلم
وابن عربي معروف، هو محيي الدين بن عربي الطائي إمام أهل وحدة الوجود، وابن الفارض من أتباع ابن عربي، ومع هذا فإن الشيخ لا يجزم بكفرهما، وإن كانا قالا كفرا وضلالا وإلحادا، ولكن تكفير المعين يحتاج إلى دليل؛ لأنه ربما تاب، وربما ختم له بالتوبة، فالله أعلم.
“Ibnul-Faaridl adalah penulis kitab Al-Mandhuumah At-Taaiyyah yang berisikan tentang wihdatul-wujuud[2], yang di dalamnya berisikan kekufuran dan ilhaad (pengingkaran), wal-‘iyaadzubillah. Akan tetapi Syaikh tidak mengkafirkannya, karena beliau tidak tahu apa yang menjadi akhir dalam kehidupannya, dan beliau tidak tahu apakah telah sampai kepadanya hujjah ataukah belum.  Beliau mengatakan : ‘Sesungguhnya dalam kitabnya berisi ilhaad dan kekufuran’, akan tetapi tentang penulisnya beliau tawaqquf (dalam pengkafirannya). Inilah madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah bahwasannya mereka tidak bersaksi (memastikan) atas seseorang termasuk penduduk surga atau neraka, kecuali orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah (melalui nash).
Dan Ibnu ‘Arabiy ma’ruuf (dikenal). Namanya adalah Muhyiddiin bin ‘Arabiy Ath-Thaaiy, imam kelompok wihdatul-wujuud. Ibnul-Faaridl sendiri adalah pengikut Ibnu ‘Arabiy. Meskipun demikian, Syaikh tidak memastikan akan kekufuran dua orang tersebut meskipun mereka mengatakan kekufuran, kesesatan, dan ilhaad. Pengkafiran secara mu’ayyan (individu) membutuhkan dalil, karena barangkali yang bersangkutan telah bertaubat dan boleh jadi akhir kehidupannya ditutup dengan taubat. Wallaahu a’lam [idem, hal 155].
Beberapa point yang dapat kita ambil dari perkataan di atas:
1.      Al-Buushiiriy, Ibnul-Faaridl, dan Ibnu ‘Arabiy telah terjatuh dalam perkara kekufuran yang tercermin dalam kitab-kitabnya.
2.      Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah mengingkari dengan keras tuduhan Sulaimaan bin Suhaim bahwa ia mengkafirkan Al-Buushiiriy, Ibnul-Faaridl, dan Ibnu ‘Arabiy.
3.      Penyebab Syaikh tidak mengkafirkan secara mu’ayyan terhadap ketiga orang tersebut ada tiga kemungkinan (sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah):
a.    belum sampai/tegak kepadanya hujjah;
b.    keliru dalam ta’wiil[3];
c.    tidak mengetahui apa yang menjadi penutup dalam kehidupannya, apakah ia sempat bertaubat ataukah tidak.
4.      Kejahilan adalah salah satu faktor penghalang yang dipertimbangkan dalam takfir mu’ayyan.
Ini adalah fakta yang didapatkan secara tekstual (manshuush), bukan kesimpulan pribadi hasil istiqraa’.
Memang ada sebagian orang yang keberatan dengan fakta ini, sehingga mereka membuat berbagai macam ta’wilan agar dapat disimpulkan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah mengkafirkan Al-Buushiiriy, Ibnul-Faaridl, dan Ibnu ‘Arabiy[4].
Kita katakan:
Pertama, bagaimana bisa dikatakan Syaikh mengkafirkan mereka, sedangkan ketika dituduh mengkafirkan beliau dengan jelas mengingkarinya dengan keras dan menganggapnya sebagai kedustaan. Apakah ada yang lebih jelas dari statement ini ?
Kedua, tekstual dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah, beliau mengakuinya dan tidak mengingkarinya. Ini juga jelas dapat dipahami bagi siapa saja yang sedikit saja mempunyai kemampuan untuk membaca. Kemudian, beliau (Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah) memberikan 3 kemungkinan di atas.
Ketiga, pengingkaran terhadap kedustaan yang disandarkan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab diucapkan dengan menyebut nama Allah : ‘Maha Suci Engkau, ini adalah kedustaan yang besar’. Tidak mungkin pengingkaran tuduhan pengkafiran ini diucapkan hanya sekedar alasan politis, lip service, atau alasan lain yang kadang terkesan mengada-ada.[5]
Pengkafiran secara individu orang yang pada asalnya muslim yang terjatuh dalam sebagian perkara kekufuran adalah ijtihadiyyah sesuai dengan kejelasan bukti yang sampai pada masing-masing. Adapun Ibnu ‘Arabiy, dia memang kafir sebagaimana dikatakan banyak ulama. Ibnu Hajar rahimahullah pernah bertanya kepada Siraajuddiin Al-Bulqiiniy tentang Ibnu ‘Arabiy, dan ia menjawab : “Ia kafir” [Al-‘Aqduts-Tsamiin, 2/178 dan Lisaanul-Miizaan, 4/318].[6]
Kita tidak akan pernah mengatakan dengan kaedah orang-orang jahil ‘orang yang tidak mengkafirkan orang (yang kami hukumi) kafir, maka kafir’ ; terhadap hak Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah.
Beliau adalah ulama penegak bendera tauhid, mujaddid yang banyak berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin. Sayang, banyak orang jahil mencatut sebagian perkataan beliau untuk berbuat kerusakan di muka bumi.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.





[1]      Maksudnya : Rasulullah .
[2]      Yaitu keyakinan kufur yang menyatakan Allah ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya.
[3]      Keliru dalam ta’wiil merupakan salah satu cabang kejahilan (jahil murakkab). Abul-Baqaa’ rahimahullah berkata :
الجهل : يقال للبسيط، وهو عدم العلم عما من شأنه أن يكون عالما، ويقال أيضا للمركب، وهو عبارة عن اعتقاد جازم غير مطابق، سمي به، لأنه يعتقد الشيء على خلاف ما هو عليه
“Al-Jahl : dikatakan untuk jahl basiith, yaitu tidak mempunyai ilmu tentang sesuatu yang seharusnya ia ketahui. Dan dikatakan juga untuk jahl murakkab, yaitu ungkapan dari keyakinan pasti seseorang yang tidak sesuai dengan kebenaran. Dinamakan dengannya karena ia meyakini sesuatu yang bertentangan dengan yang seharusnya” [Al-Kuliyyaat (Mu’jamu fil-Mushthalahaat wal-Furuuq Al-Lughawiyyah), hal. 350. Lihat : At-Ta’riifaat oleh Al-Jurjaaniy, hal. 93].
[4]      Seperti misal mereka membawakan statement Syaikh yang lain:
من أعظم الناس ضلالا: متصوفة في معكال وغيره، مثل ولد موسى بن جوعان، وسلامة بن مانع، وغيرهما، يتبعون مذهب ابن عربي وابن الفارض. وقد ذكر أهل العلم أن ابن عربي من أئمة أهل مذهب الاتحادية، وهم أغلظ كفرا من اليهود والنصارى. فكل من لم يدخل في دين محمد صلى الله عليه وسلم ويتبرأ من دين الاتحادية، فهو كافر بريء من الإسلام، ولا تصح الصلاة خلفه، ولا تقبل شهادته
“Dan termasuk orang yang paling besar kesesatannya, yaitu orang-orang shufi di Ma’kal dan yang lainnya seperti anak Muusaa bin Jau’aan, Salaamah bin Maani’, dan lain-lain yang mengikuti madzhab Ibnul-‘Arabiy dan Ibnul-Faaridl. Para ulama telah menyebutkan bahwa Ibnu ‘Arabiy termasuk diantara imam madzhab Al-Ittihaadiyyah. Mereka ini lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara. Setiap orang yang tidak masuk agama Muhammad dan berlepas diri dari agama ittihaadiyyah, maka ia kafir dan berlepas diri dari Islam. Tidak sah shalat di belakangnya dan tidak pula diterima persaksiannya” [Majmuu’ Al-Mu’allafaat, 1/189].
Padahal perkataan ini tidak ada ta’yin sama sekali kepada Ibnu ‘Arabiy. Siapa yang dimaksud dengan ‘mereka’ (jamak) ?. Individu Ibnu ‘Arabiy ataukah orang-orang yang mengikuti madzhab Ibnu ‘Arabiy dari kalangan orang-orang shufi Ma’kal ?. Dhahirnya adalah pengkafiran terhadap golongan yang kedua. Mereka inilah orang-orang musyrik yang telah ditegak hujjah kepada mereka dengan dakwah beliau rahimahullah.
Berbeda dengan individu Ibnu ‘Arabiy – sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah - kemungkinan faktor tidak dikafirkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah adalah belum sampai/tegak kepadanya hujjah, keliru dalam ta’wiil, atau tidak mengetahui apa yang menjadi penutup dalam kehidupannya (apakah ia sempat bertaubat ataukah tidak).
[5]      Seperti ta’wil yang mereka katakan :
a.    tidak terang-terangan mengkafirkan. Dan tidak terang-terangan mengkafirkan tidak berarti menafikan keyakinan hati”.
Sungguh menyedihkan apabila perkataan ini disandarkan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah. Syaikh dianggap mengingkari (bahwa beliau tidak mengkafirkan Al-Buushiiriy, Ibnul-Faaridl, dan Ibnu ‘Arabiy) dengan lisan dengan menyebut nama Allah, tapi dalam hati beliau mengkafirkannya.
b.    beliau tidak mengkafirkan mereka dalam rangka mudaarah (mengalah dalam urusan dunia) demi maslahat dakwah”.
Sama seperti di atas. Bahkan ini seperti menuduh Syaikh lemah. Ber-mudaarah bukan berarti melakukan malapraktik dalam penghukuman, yang kafir dikatakan tidak kafir. Bukankah mereka punya kaedah ‘orang yang tidak mengkafirkan orang (yang mereka hukumi) kafir adalah kafir’ (tanpa boleh ada penyelisihan) ?. Bukankah ini artinya menuduh Syaikh menyelisihi kaedah yang mereka tetapkan ?.
Mengatakan tidak kafir pada orang kafir dalam rangka mudaarah justru akan menjadikan orang salah paham, dan ini berbahaya.
c.     ucapan itu beliau ucapkan di awal dakwah apakah karena waktu itu dakwah yang masih lemah seperti yang saya sebutkan di point pertama, atau karena perkara ini belum begitu jelas bagi Asy-Syaikh Muhammad, atau ketika itu ia menyangka bahwa dalam perkara ini ada khilaf
Mereka sering mengatakan bahwa tidak mengkafirkan orang musyrik itu seperti tidak mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani. Pertanyaannya : Apakah boleh ketika dakwah dianggap lemah kita mengatakan Yahudi dan Nashrani tidak kafir ?.
Udzur tidak adanya pengkafiran yang dijelaskan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah di atas menghapus kemungkinan-kemungkinan ini dari awal sampai akhir.
[6]      Bahkan Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy rahimahullah pernah menantang mubaahalah kepada siapa saja yang tidak menyesatkan Ibnu ‘Arabiy Silakan baca artikel : Mubaahalah Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy tentang Kekafiran Ibnu ‘Arabiy Ash-Shuufiy.


SCAN KITAB

Comments

Anonim mengatakan...

Mantap

Muhammad Audi mengatakan...

Alhamdulillah bertambah lg perbandingan mslh takfir dgn web tauhidfirst