Kafir Secara Lahir dan Batin


Tanya : Apakah benar jika kita melihat kekafiran atau kesyirikan (akbar), kita menghukumi pelakunya dengan kekufuran lahir tanpa perlu iqaamatul-hujjah. Adapun iqaamatul-hujjah hanya untuk memastikan yang bersangkutan kufur secara batin. Jika ia menolak, maka ia kufur secara lahir dan batin.
Jawab : Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasululillah wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi wa man waalah, amma ba’d :
Madzhab Ahlus-Sunnah mensyaratkan iqaamatul-hujjah (penegakan hujjah) terlebih dahulu sebelum pengkafiran terhadap individu tertentu (mu'ayyan). Iqaamatul-hujjah adalah menyampaikan dalil kepada orang yang belum sampai hujjah itu kepadanya atau samar baginya, serta menjelaskan dan memahamkannya[1] tentang kebenaran dan sekaligus kebatilan yang mereka lakukan. Ini adalah prinsip umum dalam pengkafiran sebagaimana ditegaskan para ulama kita dari zaman ke zaman.
Asy-Syaafi’iy rahimahullah (w. 204 H) berkata:
فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ، فَأَمَّا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ فَمَعْذُورٌ بِالْجَهْلِ، لِأَنَّ عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ، وَلَا بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ، وَلَا نُكَفِّرُ بِالْجَهْلِ بِهَا أَحَدًا، إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الْخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا
“Apabila ia (pelaku kekufuran) menyelisihi hal itu setelah tegaknya hujjah padanya, maka ia kafir. Adapun jika penyelisihannya itu sebelum tegak hujjah padanya, ia diberikan ‘udzur dengan sebab kejahilannya, karena ilmu tentang hal itu tidaklah dicapai dengan akal, pandangan, dan pemikiran. Kami tidak mengkafirkan seorangpun dengan sebab kejahilan terhadapnya, kecuali setelah sampainya khabar tersebut kepadanya” [Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw oleh Ibnu Qudaamah Al-Maqdisiy, no. 93 hal. 181].
Ath-Thabariy rahimahullah (w. 310 H) berkata:
وَكَذَلِكَ كُلُّ مَنْ قَامَتْ عَلَيْهِ حُجَّةُ اللَّهِ، تَعَالَى ذِكْرُهُ، بِوَحْدَانِيَّتِهِ وَشَرَائِعِهِ، فَإِنَّهُ غَيْرُ خَارِجٍ، مَعَ قِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ بِهَا، مِنَ الإِيمَانِ أَوِ الْكُفْرِ
“Begitu pula setiap orang yang telah tegak padanya hujjah Allah ta’ala tentang ke-Esaan-Nya dan syari’at-syari’at-Nya, maka ia tidaklah keluar - bersamaannya dengan tegaknya hujjah tersebut terhadapnya - dari keimanan atau kekufuran[2]” [Tahdziibul-Aatsaar no. 965].
Di lain tempat beliau rahimahullah berkata:
فإن هذه المعاني التي وصفت ونظائرها مما وصف الله عز وجل بها نفسه أو وصف بها رسوله ﷺ مما لا تدرك حقيقة علمه بالفكر والروية، ولا نكفر بالجهل بها أحداً إلا بعد انتهائها إليه
“Sesungguhnya makna-makna yang telah aku sebutkan ini dan selainnya dari apa saja yang telah Allah ‘azza wa jalla sifatkan diri-Nya dengannya atau disifatkan oleh Rasul-Nya dengannya, yang hakekat ilmunya tidak dapat dicapai dengan akal pikiran maupun pengamatan; maka kami tidak mengkafirkan seorangpun yang tidak mengetahuinya kecuali setelah hal itu sampai kepadanya” [At-Tabshiir fii Ma’aalimid-Diin, hal. 140].
Ibnu Hazm rahimahullah (w. 456 H) berkata:
فَقُلْنَا: عُذْرًا بِجَهْلِهِمَا كَمَا يُعْذَرُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَأَخْطَأَ فِيهِ، وَبَدَّلَهُ، وَزَادَ، وَنَقَصَ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى صَوَابٍ، وَأَمَّا مَنْ قَامَتِ الْحُجَّةُ عَلَيْهِ، وَتَمَادَى مُعَانِدًا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَهُوَ كَافِرٌ بِلَا شَكٍّ
“Kami katakan : Diberikan ‘udzur dikarenakan kejahilan keduanya sebagaimana diberikan ‘udzur orang yang membaca Al-Qur’an lalu ia keliru dengan mengubahnya, menambahnya, dan menguranginya dalam keadaan ia menyangka di atas kebenaran. Adapun orang yang telah tegak padanya hujjah, dan kemudian ia tetap melakukannya dengan penentangan terhadap Rasulullah , maka ia kafir tanpa keraguan” [Al-Muhallaa, 7/70].
Di lain tempat beliau rahimahullah mengatakan:
وَكَذَلِكَ من قَالَ أَن ربه جسم فَإِنَّهُ إِن كَانَ جَاهِلا أَو متأوَلَا فَهُوَ مَعْذُور لَا شَيْء عَلَيْهِ وَيجب تَعْلِيمه فَإِذا قَامَت عَلَيْهِ الْحجَّة من الْقُرْآن وَالسّنَن فَخَالف مَا فيهمَا عناداً فَهُوَ كَافِر يحكم عَلَيْهِ بِحكم الْمُرْتَد
“Begitu pula dengan orang yang mengatakan bahwa Rabbnya adalah jism (memiliki badan). Apabila jahil atau keliru ta’wil, maka ia diberikan ‘udzur dan tidak ada dosa padanya. Wajib untuk mengajarinya. Apabila telah tegak padanya hujjah dari Al-Qur’an dan as-sunnah, lalu ia menyelisihinya dengan penentangan, maka ia kafir. Ia dihukumi dengan hukum orang murtad” [Al-Fashl fil-Milaal wal-Ahwaa’ wan-Nihal, 3/141].
Ibnul-‘Arabiy Al-Malikiy rahimahullah (w. 543 H) berkata:
فالجاهل والمخطئ من هذه الأمة ولو عمل من الكفر والشرك ما يكون صاحبه مشركاً أو كافراً، فإنه يعذر بالجهل والخطأ حتى يتبين له الحجة التي يكفر تاركها بياناً واضحاً ما يلتبس على مثله، وينكر ما هو معلوم بالضرورة من دين الإسلام، مما أجمعوا عليه إجماعاً قطعياً، يعرفه من المسلمين من غير نظر وتأمل
“Orang yang jaahil dan keliru dari umat ini, meskipun melakukan kekufuran dan kesyirikan, maka pelakunya tidaklah menjadi kafir atau musyrik, karena ia diberikan ‘udzur atas kejahilan dan kekeliruannya tersebut. Hal ini berlaku hingga jelas baginya hujjah secara gamblang yang mengkafirkan orang yang meninggalkannya tanpa ada kesamaran bagi orang (lain) yang semisal dengan ia. Atau ia mengingkari sesuatu yang diketahui secara jelas dalam agama Islam, telah disepakati secara pasti (oleh para ulama), dan diketahui oleh kaum muslimin tanpa melalui proses penelitian dan perenungan” [Tafsiir Al-Qaasimiy, 5/1307-1308].
Ibnu Qudaamah Al-Maqdisiy rahimahullah (w. 620 H) berkata:
وكذلك كلُّ جاهل بشيء يُمكن أن يجهله، لا يُحكم بكفره حتى يعرف ذلك وتزول عنه الشبهة ويستحله بعد ذلك
“Dan begitu pula setiap orang yang jahil (tidak mengetahui) tentang sesuatu yang dimungkinkan baginya untuk tidak mengetahuinya, maka tidak dihukumi kafir hingga ia mengetahui hal tersebut dan hilangnya darinya syubhat lalu ia menghalalkannya setelahnya” [Al-Mughniy, 12/277].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) berkata:
وليس لأحد ان يكفر أحدا من المسلمون وان أخطأ وغلط حتى تقام عليه الحجة وتبين له المحجة ومن ثبت إسلامه بيقين لم يزل ذلك عنه بالشك بل لا يزول الا بعد إقامة الحجة وازالة الشبهة
“Dan tidak boleh bagi seorangpun mengkafirkan orang lain dari kaum muslimin – walau ia bersalah dan keliru – sampai ditegakkan padanya hujjah dan dijelaskan kepadanya bukti dan alasan. Barangsiapa yang telah tetap keislamannya dengan yakin, maka tidaklah hilang darinya hanya karena sebuah keraguan. Bahkan tidak hilang kecuali setelah ditegakkan kepadanya hujjah dan dihilangkan darinya syubhat” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 12/466].
وإذا عرف هذا فتكفير المعين من هؤلاء الجهال وأمثالهم بحيث يحكم عليه بأنه من الكفار لا يجوز الاقدام عليه الا بعد ان تقوم على أحده الحجة الرسالية التي يتبين بها أنهم مخالفون للرسل وان كانت هذه المقالة لا ريب انها كفر
“Apabila telah diketahui hal ini, maka pengkafiran secara mu’ayyan (individu/personal) terhadap orang-orang bodoh tersebut dan yang semisal dengan mereka - dengan penghukuman bahwa mereka itu kafir - tidak diperbolehkan kecuali setelah tegak padanya hujjah risaaliyyah yang menjelaskan bahwa mereka menyelisihi Rasul; meskipun perkataan tersebut tidak diragukan lagi kekufurannya” [idem, 12/500].
Adz-Dzahabiy rahimahullah (748 H) memberi kesaksian atas madzhab Ibnu Taimiyyah dalam pengkafiran (takfiir) dengan perkataannya:
ومذهبه توسعة العذر للخلق، ولا يكفر أحد إلا بَعْد قيام الحجة عَلَيْهِ.
“Dan madzhabnya (Ibnu Taimiyyah) adalah luas dalam pemberian ‘udzur kepada makhluk. Beliau tidak mengkafirkan seorangpun kecuali setelah ditegakkan hujjah kepadanya” [Adz-Dzail ‘alaa Thabaqaat Al-Hanaabilah, 4/506].[3]
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah (w. 1206 H) berkata:
وكذلك تمويهه على الطغام بأن ابن عبد الوهاب يقول: الذي ما يدخل تحت طاعتي كافر، ونقول: سبحانك هذا بهتان عظيم! بل نشهد الله على ما يعلمه من قلوبنا، بأن من عمل بالتوحيد، وتبرأ من الشرك وأهله، فهو المسلم في أي زمان وأي مكان. وإنما نكفّر مَن أشرك بالله في إلهيته، بعد ما نبين له الحجة على بطلان الشرك
“Begitu juga distorsi yang mereka lakukan terhadap masyarakat awam bahwasannya Ibnu ‘Abdil-Wahhaab mengatakan : ‘Orang yang tidak berada di bawah ketaatanku, maka kafir’. Subhaanallaah, ini adalah kedustaan yang sangat besar. Akan tetapi kami bersaksi kepada Allah terhadap apa yang Ia ketahui pada perkataan kami bahwasannya siapa saja yang beramal ketauhidan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya, maka dia adalah muslim kapapunpun dan dimanapun. Kami hanyalah mengkafirkan orang berbuat syirik kepada Allah dalam ilahiyyah-Nya setelah kami jelaskan padanya hujjah atas batilnya kesyirikan” [Ar-Risaalah Asy-Syakhshiyyah, hal. 60].
Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullah (w. 1420 H) berkata:
لكن الحقيقة التكفير الذي يذكرونه مقرونا بمخالفة الإجماع هو الإجماع اليقيني الذي يعبر عنه علماء الأصول بمخالفة ما ثبت من الدين بالضرورة فهذا هو الذي يستلزم التكفير بعد إقامة الحجة.
وعلى هذا النوع من الإجماع ـ الإجماع اليقيني ـ يطبق قوله تعالى :  وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Akan tetapi hakekat pengkafiran (takfir) yang diakibatkan dari penyelisihan terhadap ijmaa’, (maksudnya) adalah ijmaa’ yang yakin/pasti (ijmaa’ yaqiiniy) yang dinyatakan ulama ushul sebagai penyelisihan terhadap perkara agama yang telah jelas/pasti (al-ma’luum minad-din bidl-dlaruurah - Abul-Jauzaa’). Maka ijmaa’ inilah yang mengkonsekuensikan pengkafiran setelah ditegakkannya hujjah.
Berdasarkan atas jenis ijmaa’ ini – yaitu ijmaa’ yang yakin (ijmaa’ yaqiiniy) – diterapkan firman Allah ta’ala : ‘Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali’ (QS. An-Nisaa’ : 115)” [Fataawaa Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy fil-Madiinah wal-‘Imaaraat, hal. 45].
نعم، نقل كلام الصوفية ولا يمكن أن يفهم منه إلا أنه يقول بوحدة الوجود، لكن نحن من قاعدتنا -وأنت من أعرف الناس بذلك لأنك تتابع جلساتي- لا نكفر إنساناً ولو وقع في الكفر إلا بعد إقامة الحجة
“Ya, ia (Sayyid Quthb) menukil perkataan Shuufiyyah yang tidak mungkin kita pahami darinya kecuali dirinya mengatakan wihdatul-wujuud. Akan kami dengan prinsip kami – dan engkau termasuk orang yang paling mengenal hal tersebut karena engkau mengikuti majelis-majelis pengajianku – bahwa kami tidak mengkafirkan seseorang meskipun ia terjatuh dalam kekufuran, kecuali setelah ditegakkannya hujjah” [Kaset berjudul Mafaahimu Yajibu an Tushahhah].
Ini merupakan bentuk keadilan syari’at Allah ta’ala. Allah ta’ala tidak akan memberikan hukuman terhadap seseorang hingga ia mengetahui ilmunya dari apa yang ia langgar dari ketentuan/syari’at-Nya. Seseorang tidak hilang status keislamannya hanya dengan tuduhan kekafiran hingga tegak padanya hujjah.
Dalilnya pensyari’atan penegakan hujjah (sebelum takfir) sangatlah banyak, diantaranya:
1.      Firman Allah ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” [QS. Al-Israa’ : 15].
Tentang ayat ini Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وأن حكم الوعيد على الكفر لا يثبت في حق الشخص المعين حتى تقوم عليه حجة الله التي بعث بها رسله كما قال تعالى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
“Bahwasannya hukum peringatan atas kekafiran tidaklah ditetapkan terhadap diri seseorang hingga tegak padanya hujjah Allah yang Ia mengutus dengannya para Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul’ (QS. Al-Israa’ : 15)” [Bughyatul-Murtaad, hal. 311].
ومن خالف ما ثبت بالكتاب والسنة فإنه يكون إما كافرا وإما فاسقا وإما عاصيا إلا أن يكون مؤمنا مجتهدا مخطئا فيثاب على إجتهاده ويغفر له خطؤه وكذلك إن كان لم يبلغه العلم الذى تقوم عليه به الحجة فإن الله يقول وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا وأما إذا قامت عليه الحجة الثابتة بالكتاب والسنة فخالفها فإنه يعاقب بحسب ذلك إما بالقتل وإما بدونه والله أعلم
“Dan barangsiapa yang menyelisihi apa yang telah tetap dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ia statusnya boleh jadi kafir, fasiq, atau orang yang bermaksiat. Kecuali jika dirinya adalah seorang mukmin mujtahid yang keliru (dalam ijtihadnya), maka ia diberikan pahala dalam ijtihad-nya dan diampuni kesalahannya tersebut. Begitu pula jika belum sampai kepadanya ilmu yang dengannya ditegakkan hujjah, maka Allah ta’ala berfirman : ‘‘Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul’ (QS. Al-Israa’ : 15). Adapun jika telah tegak padanya hujjah yang tsaabit dari Al-Qur’an dan As-Sunnah lalu ia menyelisihinya, maka ia dihukum sesuai kadar penyelisihannya. Bisa jadi ia dibunuh, bisa jadi hukumannya di bawah itu, wallaahu a’lam” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 1/113].
2.      Firman Allah ta’ala:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi” [QS. At-Taubah : 115].
Al-Bukhaariy rahimahullah berdalil dengan ayat ini pada satu bab dalam kitab Shahiih-nya berjudul:
بَاب قَتْلِ الْخَوَارِجِ وَالْمُلْحِدِينَ بَعْدَ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِمْ
“Bab : Pembunuhan orang-orang Khawaarij setelah ditegakkannya hujjah terhadap mereka” [Shahiih Al-Bukhaariy, 4/280].
Abul-Qaasim Al-Ashbahaaniy rahimahullah berhujjah dengan ayat ini dalam perkataannya:
ومن تعمد خلاف أصل من هَذِهِ الأصول وكان جاهلا لم يقصد إليه من طريق العناد فإنه لا يكفر لأنه لم يقصد اختيار الكفر ولا رضي به وقد بلغ جهده فلم يقع له غير ذَلِكَ، وقد أعلم الله سبحانه أنه لا يؤاخذ إلا بعد البيان، ولا يعاقب إلا بعد الإنذار فقال تَعَالَى: وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ.
“Dan barangsiapa sengaja menyelisihi salah satu pokok dari pokok-pokok (syari’at) ini dalam keadaan jahil tanpa ada maksud penentangan, maka ia tidak dikafirkan. Hal itu dikarenakan ia tidak bermaksud sengaja melakukan kekafiran dan tidak pula ridla dengannya. Dan ia telah mengerahkan kemampuannya namun tidak ia dapatkan selain dari itu (kekeliruannya). Allah ta’ala telah memberitahukan bahwasannya ia tidak dihukum kecuali setelah datang penjelasan dan peringatan. Allah ta’ala berfirman : ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka’ (QS. At-Taubah : 115)” [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah, 2/511].
3.      Firman Allah ta’ala:
رُسُلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu” [QS. An-Nisaa’ : 165].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
لكن من الناس من يكون جاهلا ببعض هذه الأحكام جهلا يعذر به فلا يحكم بكفر احد حتى تقوم عليه الحجة من جهة بلاغ الرسالة كما قال تعالى لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وقال تعالى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً ولهذا لو أسلم رجل ولم يعلم ان الصلاة واجبة عليه أو يعلم ان الخمر يحرم لم يكفر بعدم اعتقاد ايجاب هذا وتحريم هذا بل ولم يعاقب حتى تبلغه الحجة النبوية
“Akan tetapi ada di antara manusia yang jaahil (tidak mengetahui) terhadap sebagian hukum-hukum ini dimana kejahilannya ini diberikan ‘udzur. Maka tidak boleh seseorang dihukumi kafir hingga tegak padanya hujjah dari sisi sampainya risalah kepadanya sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu’ (QS. An-Nisaa’ : 165). Dan Allah ta’ala juga berfirman : ‘Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul’ (QS. Al-Israa’ : 15)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 11/406].
4.      Firman Allah ta’ala:
ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ
“Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah” [QS. Al-An’aam : 131].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
أى هذا بهذا السبب فعلم أنه لا يعذب من كان غافلا ما لم يأته نذير ودل أيضا على أن ذلك ظلم تنزه سبحانه عنه
“Yaitu, dengan sebab ini maka diketahui bahwa Allah tidak mengadzab orang yang lengah selama tidak datang kepadanya orang yang memberi peringatan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kedhaliman ditiadakan dari Allah subhaanahu wa ta’ala” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 19/215-216].
5.      Hadits Sa’d bin ‘Ubaadah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرُ مُصْفِحٍ عَنْهُ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: " أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ فَوَاللَّهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي، مِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللَّهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَخْصَ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ، وَلَا شَخْصَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ اللَّهُ الْمُرْسَلِينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ، وَلَا شَخْصَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللَّهُ الْجَنَّةَ "
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki Bersama istriku, sungguh akan aku tebas ia dengan pedang. Lalu hal itu sampai kepada Rasulullah , maka beliau bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa’d?. Maka demi Allah, sungguh aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu daripada aku. Dikarenakan kecemburuan Allah itulah, maka Allah mengharamkan perbuatan keji (zina) baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Tidak ada seorangpun yang lebih menyukai adanya ‘udzur (alasan) daripada Allah. Oleh karena itulah, Allah mengutus (para Rasul) yang memberikan kabar gembira dan peringatan. Dan tidak ada seorangpun yang lebih menyukai pujian daripada Allah, dan oleh karena itulah Allah menjanjikan surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7416 dan Muslim no. 1499].
An-Nawawiy rahimahullah berkata:
فَالْعُذْر هُنَا بِمَعْنَى الْإِعْذَار وَالْإِنْذَار قَبْل أَخْذهمْ بِالْعُقُوبَةِ ، وَلِهَذَا بَعَثَ الْمُرْسَلِينَ كَمَا قَالَ سُبْحَانه وَتَعَالَى : {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَث رَسُولًا}
“’Udzur di sini bermakna pemberian maaf dan peringatan sebelum memberikan mereka hukuman. Oleh karenanya, Allah ta’ala mengutus para Rasul sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala : ‘: ‘Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul’ (QS. Al-Israa’ : 15)” [Syarh Shahiih Muslim, 10/132].
6.      Dan yang lainnya.
Apabila telah tegak hujjah pada seseorang yang melakukan kekufuran (akbar), maka kafir.
Iqaamatul-hujjah selain bertujuan memastikan syarat ilmu (yang menafikkan kejahilan) dalam pengkafiran individu/personal berupa penyampaian hujjah (plus pemahamannya), juga untuk memastikan syarat lain, yaitu al-qashd (kesengajaan/niat) yang menafikkan al-khatha’ (kekeliruan)[4] dan al-ikraah (keterpaksaan)[5].
Ada beberapa permasalahan kekufuran (akbar) yang tidak menerima udzur kejahilan seperti menghina/mencaci Allah dan Rasul-Nya, serta agama Islam, sehingga siapapun yang beralasan tidak tahu (jahil) tidak diterima ‘udzurnya. Namun, jika ia melakukannya karena udzur tidak sengaja atau keliru, diterima udzurnya dan tidak dikafirkan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah pernah ditanya : “Wahai syaikh, semoga Allah menjaga Anda. Tentang masalah ‘udzur kejahilan, apakah itu juga termasuk permasalahan menghina/mencaci agama dan Rabb (Allah) ?
Syaikh : “Masalah apa ?”.
Penanya : “Masalah menghina agama dan menghina Rabb”.
Syaikh : “Menghina apa ?”
Penanya : “Menghina agama dan menghina Rabb”.
Syaikh : “Menghina siapa ?”.
Penanya : “Menghina Rabb”
Syaikh : “Apakah ada seorangpun yang jahil/tidak mengetahui bahwa Rabb wajib untuk diagungkan ?. Aku bertanya kepadamu. Aku bertanya kepadamu, dan katakan ya atau tidak”.
Penanya : “Tidak. Tidak seorangpun”.
Syaikh : “Tidak ada seorangpun yang jahil/tidak mengetahui bahwa Rabb memiliki hak untuk diagungkan dan dihormati/dimuliakan, sehingga tidak mungkin seorangpun menghina-Nya. Begitu juga syari’at. Maka ini adalah permasalahan yang wajib (aksiomatik) dalam pikiran, dan tidak ada wujudnya dalam kenyataan (bagi seorang muslim).
Setiap orang yang menghina Allah, maka ia kafir murtad meskipun ia sekedar bersendau-gurau[6]. Wajib untuk dibunuh, wajib dihadapkan kepada waliyul-amri, dan tidak terbebas dari tanggung jawab kecuali dengan melakukan hal tersebut” [sumber : http://ia600303.us.archive.org/26/items/elkofr/binotaimeen.mp3].
Kemudian di lain kesempatan, beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang menghina/mencaci agama dalam keadaan marah. Beliau rahimahullah menjawab:
إن الإنسان إذا تاب من أي ذنب – ولو كان ذلك سب الدين – فإن توبته تقبل إذا استوفت الشروط التي ذكرناها, ولكن ليعلم أن الكلمة قد تكون كفرا وردة ولكن المتكلم بها قد لا يكفر بها لوجود مانع يمنع من الحكم بكفره, فهذا الرجل الذي ذكر عن نفسه أنه سب الدين في حال الغضب, نقول له: إن كان غضبك شديدا بحيث لا تدري ما تقول, ولا تدري أنت حينئذ أأنت في سماء أم في أرض, وتكلمت بكلام لا تستحضره ولا تعرفه, فإن هذا الكلام لا حكم له, ولا يحكم عليك بالردة؛ لأنه كلام حصل عن غير إرادة وقصد, وكل كلام حصل عن غير إرادة وقصد فإن الله سبحانه وتعالى لا يؤاخذ به. يقول الله تعالى في الأيمان: (لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ) {سورة المائدة, الآية: 89} فإذا كان هذا المتكلم بكلمة الكفر في غضب شديد لا يدري ما يقول, ولا يعلم ما خرج منه فإنه لا حكم لكلامه, ولا يحكم بردته حينئذ
“Sesungguhnya seseorang apabila bertaubat dari dosa apapun – meskipun dosa berupa menghina/mencaci agama - , maka taubatnya diterima apabila memenuhi syarat-syarat yang telah kami sebutkan. Akan tetapi mesti diketahui bahwa suatu kalimat kadang merupakan kekufuran dan kemurtadan, namun orang yang mengatakannya kadang tidak dikafirkan dengannya karena adanya penghalang yang menghalangi penghukuman kekafirannya. Orang ini yang disebutkan bahwa dirinya telah menghina agama dalam keadaan marah, kami katakan kepadanya : ‘Apabila kemarahanmu amat sangat sehingga engkau tidak tahu apa yang engkau katakan, tidak mengetahui apakah waktu itu engkau sedang berada di langit ataukah di bumi, lalu engkau mengatakan satu kalimat yang tidak engkau inginkan dan tidak engkau ketahui; maka perkataan ini tidak ada hukumnya. Tidak pula engkau dihukumi dengan kemurtadan, karena perkataan tersebut keluar bukan karena keinginan dan kesengajaan. Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala tidak memberikan hukuman dengannya. Allah ta’ala berfirman berkaitan dengan sumpah : ‘Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja’ (QS. Al-Maaidah : 89). Maka apabila orang yang mengatakan kalimat kekufuran dalam keadaan amat sangat marah sehingga ia tidak tahu apa yang ia katakan, maka tidak ada hukum bagi perkataannya, dan tidak pula dihukumi dengan kemurtadan dalam hal tersebut” [Fataawaa ‘Ulamaa Al-Baladil-Haraam, hal. 752].[7]
Orang yang menafikkan persyaratan iqaamatul-hujjah dan langsung ‘tancap gas’ dalam pengkafiran individu/personal, maka dirinya telah menyalahi prinsip Ahlus-Sunnah.
Ini pertama.
Kedua, status kekafiran seseorang – jika ia divonis kafir (murtad) karena melakukan perbuatan kekufuran akbar – adalah kafir secara lahir dan batin. Oleh karena itu, perkataan yang Anda sebutkan:
Adapun iqaamatul-hujjah hanya untuk memastikan yang bersangkutan kufur secara batin. Jika ia menolak, maka ia kufur secara lahir dan batin’.
mengkonsekuensikan adanya status seseorang kafir secara lahir (karena dihukumi secara lahir dari perbuatan kufurnya), namun belum kafir secara batin (karena ‘dianggap’  hujjah belum ditegakkan padanya). Atau bisa jadi (kemungkinan) batinnya beriman, meskipun ia kafir secara lahir. Ini musykil.
Kekufuran lahir merupakan dalil atas kekufuran batin. Dengan kata lain, barangsiapa yang melakukan kekufuran yang ia divonis kafir (murtad) karenanya, maka dirinya kafir secara lahir dan batin[8]. Memisahkan kekafiran lahir dan kekafiran batin dalam takfir merupakan diantara ciri khas kelompok Murji’ah.
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فهؤلاء القائلون بقول جهم والصالحي قد صرحوا بأن سب الله ورسوله والتكلم بالتثليث وكل كلمة من كلام الكفر ليس هو كفرا في الباطن، ولكنه دليل في الظاهر على الكفر، ويجوز مع هذا أن يكون هذا السابُّ الشاتم في الباطن عارفا بالله موحدا له مؤمنا به
“Orang-orang yang mengatakan dengan perkataan Jahm dan Ash-Shaalihiy telah menegaskan bahwa menghina Allah dan Rasul-Nya, serta mengucapkan perkataan tatsliits (Trinitas) dan semua perkataan kekufuran, bukan kekufuran dalam batin, namun dalil (petunjuk) dalam lahir akan kekufuran. Maka diperbolehkan dalam hal ini (untuk mengatakan) bahwa orang yang menghina dan mencaci (Allah dan Rasul-Nya) dalam batinnya adalah seorang yang mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, dan beriman kepada-Nya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 7/557].
فإنا نعلم أن من سب الله ورسوله طوعا بغير كره ، بل من تكلم بكلمات الكفر طائعا غير مكره ، ومن استهزأ بالله وآياته ورسوله فهو كافر باطنا وظاهرا ، وإن من قال : إن مثل هذا قد يكون في الباطن مؤمنا بالله وإنما هو كافر في الظاهر ، فإنه قال قولا معلوم الفساد بالضرورة من الدين
“Sesungguhnya kami mengetahui bahwa barangsiapa menghina/mencaci Allah dan Rasul-Nya secara sukarela tanpa paksaan - bahkan yang berbicara dengan kalimat-kalimat kekufuran secara sukarela tanpa paksaan -, serta mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya; maka ia kafir secara lahir dan batin. Dan orang yang mengatakan : 'Sesungguhnya orang semisal ini kadang dalam batinnya beriman kepada Allah, ia hanyalah kafir dalam lahirnya saja'; maka ia telah mengatakan satu perkataan yang diketahui dalam agama kerusakannya dengan jelas/pasti” [idem, 7/557-558].
ولهذا تنازع العلماء فى تكفير من يترك شيئا من هذه الفرائض الأربع بعد الاقرار بوجوبها فأما الشهادتان اذا لم يتكلم بهما مع القدرة فهو كافر بإتفاق المسلمين وهو كافر باطنا وظاهرا عند سلف الأمة وائمتها وجماهير علمائها وذهبت طائفة من المرجئة وهم جهمية المرجئة كجهم والصالحى واتباعهما الى أنه إذا كان مصدقا بقلبه كان كافرا فى الظاهر دون الباطن وقد تقدم التنبيه على أصل هذا القول وهو قول مبتدع فى الإسلام لم يقله أحد من الأئمة
“Oleh karenanya, para ulama berbeda pendapat dalam pengkafiran orang yang meninggalkan satu perkara dari empat kewajiban ini (rukun Islam) setelah pengakuan tentang kewajibannya. Adapun dua kalimat syahadat, apabila ada orang yang tidak mengucapkannya padahal mampu, maka ia kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Ia kafir secara lahir dan batin menurut salaf umat, para imamnya, serta jumhur ulama. Satu kelompok dari kalangan Murji’ah – mereka itu adalah Jahmiyyah Murji’ah seperti Jahm, Ash-Shaalihiy, dan pengikutnya - berpendapat yang bersangkutan membenarkan dalam hatinya, maka ia hanya kafir dalam lahirnya saja tanpa batinnya. Telah berlalu peringatan tentang asal perkataan ini, yaitu perkataan yang diada-adakan dalam Islam yang tidak pernah dikatakan oleh seorangpun dari para imam” [idem, 7/609].
فمن قال بلسانه كلمة الكفر من غير حاجة عامدا لها عالما بأنها كلمة كفر [ فإنه يكفر بذلك ظاهرا و باطنا و لأنا لا نجوز أن يقال : إنه في الباطن يجوز أن يكون مؤمنا و من قال ذلك فقد مرق من الإسلام قال سبحانه : { مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ } [ النحل : 106 ]
“Barangsiapa berkata dengan lisannya kalimat kekufuran tanpa ada hajat (kebutuhan yang syar’iy) secara sengaja dan tahu bahwa itu adalah kalimat kekufuran, maka ia dikafirkan dengannya secara lahir dan batin. Dan kita tidak boleh mengatakan : ‘Sesungguhnya ia dalam batin boleh jadi seorang yang beriman’. Barangsiapa yang mengatakan hal itu, sungguh ia telah keluar dari agama. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman : ‘Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar’ (QS. An-Nahl : 106)” [Ash-Shaarimul-Masluul. Hal. 523].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata saat mengomentari hadits tentang ‘hati’[9]:
كما قال أئمة أهل الحديث قول وعمل قول باطن وظاهر وعمل باطن وظاهر والظاهر تابع للباطن لازم له متى صلح الباطن صلح الظاهر وإذا فسد فسد ولهذا قال من قال من الصحابة عن المصلى العابث لو خشع قلب هذا لخشعت جوارحه
“….. Sebagaimana dikatakan para imam ahli hadits : (Iman) adalah perkataan dan perbuatan. Perkataan lahir dan batin, serta perbuatan lahir dan batin. Yang lahir mengikuti yang batin dan merupakan konsekuensi baginya. Ketika batin baik, maka baik pula yang lahir. Begitu juga apabila batin rusak, maka rusak pula yang lahir. Oleh karena itu salah seorang shahabat berkata tentang orang yang main-main dalam shalatnya : ‘Seandainya hati orang ini khusyu’, niscaya khusyu’ pula anggota badannya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 7/187].[10]
Jadi, antara antara yang lahir dan yang batin saling terkait sebagaimana firman Allah ta’ala:
ولَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ والنَّبِيِّ ومَا أُنزِلَ إلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ
“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong” [QS. Al-Maaidah : 81].
Dikarenakan mereka tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hatinya, maka secara lahir menjadikan mereka mengambil orang-orang musyrik sebagai penolong. Sebaliknya, perbuatan lahir mereka mengambil orang-orang musyrik sebagai penolong sebagai dalil ketiadaan iman mereka dalam hati terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Kesimpulannya :
1.      Pengkafiran (takfiir) dijatuhkan setelah proses iqaamatul-hujjah;
2.      Seseorang yang melakukan kekafiran (akbar) dan ia dihukumi kafir dengannya, maka ia kafir secara lahir dan batin.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Semoga dapat menjawab dan ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – 28 Sya’ban 1438].
[Bahan bacaan : Mudzakarah At-Takfiir wa Dlawaabithuhu oleh Asy-Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin ‘Umar Bazmuul, Syarh Alfaadhis-Salaf wa Naqdlu Alfaadhil-Khalaf fii Haqiiqatil-Iimaan oleh Dr. Ahmad bin Shaalih Az-Zahraaniy, Ar-Raddul-Burhaaniy oleh Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy, dan beberapa artikel di internet].




[1]      Silakan baca artikel : Syarat Pemahaman dalam Iqaamatul-Hujjah.
[2]      Maksudnya, setelah tegak hujjah seseorang hanya ada dua status : beriman jika ia menerima hujjah tersebut atau kafir jika menolaknya.
[3]      Adz-Dzahabiy menyifati Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah sebagai orang yang sangat berhati-hati dalam masalah pengkafiran individu. Ia (Adz-Dzahabiy) rahimahullah berkata:
وكذا كان شيخنا ابن تيمية في أواخر أيامه يقول: أنا لا أكفر [ أحدا ] من الامة، ويقول: قال النبي صلى الله عليه وسلم: " لا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن " فمن لازم الصلوات بوضوء فهو مسلم.
“Dan guru kami, Ibnu Taimiyyah, pada hari-hari terakhir dalam kehidupannya (menjelang wafat) berkata : ‘Aku tidak mengkafirkan seorangpun dari umat (Islam)’. Dan beliau berkata : Nabi bersabda :’Tidak ada orang yang menjaga wudlunya kecuali orang yang beriman’. Maka barangsiapa yang menetapi/menjaga shalat-shalatnya dengan berwudlu, maka ia muslim” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 15/88].
[4]      Dalilnya adalah sabda Nabi :
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ، إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
“Allah jauh lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan salah seorang diantara kalian yang berada di atas hewan tunggangannya di tanah tandus (padang pasir), lalu hewan tunggangannya itu lepas padahal ia membawa bekal makanan dan minumnya. Maka ia putus asa karenanya, lalu ia pun mendatangi suatu pohon untuk istirahat bersandar di bawah naungannya. Sungguh, ia telah berputus asa untuk menemukan hewan tunggangannya itu. Ketika ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya berdiri di hadapannya. Maka ia segera memegang tali kekangnya dan berkata karena terlalu gembira : ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku adalah Rabbmu’. Ia keliru ucap karena terlalu gembira” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2747].
[5]      Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” [QS. An-Nahl : 106].
[6]      Allah ta’ala berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa” [QS. At-Taubah : 65-66].
[7]      Silakan juga simak video beliau rahimahullah berikut (hukum mencela agama dan Rabb dalam keadaan marah):
video

[8]      Perlu diperhatikan dalam hal ini, seseorang kadang melakukan kekufuran atau kemaksiatan dalam lahirnya, namun dalam batinnya ia beriman kepada Allah ta’ala karena dirinya jahil, salah ta’wil, tidak sengaja, atau terpaksa (yang ini semua termasuk ‘udzur dan penghalang dalam pengkafiran). Seperti halnya perbuatan sebagian shahabat yang meminta dibuatkan Dzaatu Anwaath karena kejahilan baru masuk Islam (silakan baca artikel ini dan ini). Jika perbuatan tersebut dilakukan tanpa ‘udzur, maka apa yang dilakukan secara lahir menunjukkan apa yang ada di dalam batin.
Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:
قاعدة الايمان له ظاهر وباطن وظاهره قول اللسان وعمل الجوارح وباطنه تصديق القلب وانقياده ومحبته فلا ينفع ظاهر لا باطن له وان حقن به الدماء وعصم به المال والذرية ولا يجزىء باطن لا ظاهر له الا اذا تعذر بعجز أو إكراه وخوف هلاك فتخلف العمل ظاهرا مع عدم المانع دليل على فساد الباطن وخلوه من الايمان ونقصه دليل نقصه وقوته دليل قوته
“Kaedah/prinsip keimanan mempunyai sesuatu yang lahir dan batin. Yang lahir berupa perkataan lisan dan amal anggota badan, sedangkan yang batin berupa pembenaran dalam hati, ketundukan, dan kecintaannya. Maka tidak bermanfaat keimanan lahir bagi seseorang jika tidak mempunyai keimanan batin, meskipun darahnya tertumpah serta terlindungi harta dan keturunannya dengannya. Begitu pula tidak mencukupi keimanan batin bagi seseorang yang tidak mempunyai keimanan lahir, kecuali apabila ada udzur dengan sebab kelemahan atau keterpaksaan dan khawatir akan binasa. Maka tertinggalnya amalan lahir dengan ketiadaan penghalangnya merupakan dalil atas kerusakan batin dan kekosongannya dari keimanan. Kekurangan keimanan lahir adalah dalil atas kekurangan keimanan batin. Begitu juga kuatnya keimanan lahir merupakan dalil atas kuatnya keimanan batin” [Al-Fawaaid, hal. 124].
Maka di sini nampak perbedaannya dari yang mereka katakan dalam hal ini bahwa seseorang yang divonis/dicap kafir karena perbuatan kufur yang dilakukannya, ia kafir secara lahir dan belum tentu kafir secara batin. Ini yang tidak benar.
[9]      Yaitu hadits:
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 52 dan Muslim no. 1599].
[10]     Hal yang sama dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah:
وَالحَقِيقَةُ أَنَّهُ لاَ يُمْكِنُ تَصَوُّرُ صَلاَحِ القُلُوبِ إِلاَّ بِصَلاَحِ الأَعْمَالِ ، وَلاَ صَلاَحِ الأَعْمَالِ إِلاَّ بِصَلاَحِ القُلُوبِ.
وَقَدْ بَيَّنَ ذلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَجْمَلَ بَيَانٍ فِي حَدِيثِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ : «... أَلاَ وَإِنْ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً ؛ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ» ، وَحَدِيثِهِ الآخِرِ : «لَتُسَوُّنَّ صَفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ» ، أَيْ : قُلُوبِكُمْ ، وَقَوْلِهِ ﷺ : «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ» ، وَهُوَ وَارِدٌ فِي الجَمَالِ المَادِّي المَشْرُوعِ -خَلاَفاً لِظَنِّ الكَثِيرِينَ -
“Pada hakekatnya, tidak mungkin tergambar baiknya hati kecuali dengan baiknya amal perbuatan. Tidak mungkin pula tergambar baiknya amal perbuatan kecuali dengan baiknya hati. Hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah dengan seindah-indah penjelasan dalam hadits An-Nu’maan bin Basyiir : ‘Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati’. Dan juga dalam hadits yang lain : ‘Hendaklah kalian luruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan perselisihan di antara wajah-wajah kalian’ – maksudnya : hati-hati kalian. Dan juga sabda beliau : ‘Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan’. Keindahan tersebut adalah pada keindahan jasad yang disyari’atkan, berbeda dengan sangkaan kebanyakan orang” [Muqaddimah Riyaadlish-Shaalihiin].

Comments

achmad chumaidi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
achmad chumaidi mengatakan...

Tapi ana nnt tabayyun lg sm beliau. Afwan. Mgkn ana yg salah tangkap. Jazakallohu khoiron

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam.

Kalau antum tanya ke saya, maka yang saya ketahui adalah apa yang saya tuliskan (diantaranya) di atas. Terkait dengan atsar 'Umar bin Al-Khaththaab, maka memang begitu. Seseorang itu dihukumi dari apa yang nampak darinya. Tidak ada seorangpun yang menyelisihi hal ini. Hanya saja, ketika kita melabelkan status kekafiran pada seorang muslim, maka ini ada kaedahnya. Tidak setiap orang yang melakukan kekufuran disebut kafir, sebagaimana tidak setiap orang yang melakukan kebid'ahan disebut mubtadi'.

Silakan baca artikel di blog ini dalam Tag/Label Udzur Kejahilan

Wallaahu a'lam bish-shawwaab.

achmad chumaidi mengatakan...

Afwan tadz. Ana hapus aja ya pertanyaan ana. Ana blm tabayyun ke beliau.

bachtiar westar mengatakan...

Ustadz..bagaimana dengan org nashrani dan non muslim lain perlukan hujjah ditegakkan kpd mereka dulu sebelum kita katakan mereka kafir..yg ana yakini selama ini mereka kafir mutlak tanpa perlu adanya hujjah