Dinosaurus dalam Islam


Tanya : Bagaimana perspektif Islam terhadap keberadaan binatang prasejarah di masa lampau seperti Dinosaurus dan yang semisalnya?. Adakah ia benar-benar pernah ada di bumi ? Dan benarkah seandainya kita tahu dan tidak tahu tentang masalah dinosaurus, tidaklah menambah iman maupun mengurangi iman kita ?.
Jawab : Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak menetapkan atau menafikkan keberadaan makhluk-makhluk tersebut di dunia secara spesifik. Yang disebutkan dalam nash-nash adalah bintang-binatang dengan jenis sebagaimana yang kita kenal sekarang seperti gajah, singa, anjing, burung, tikus, dan yang lainnya.
Keberadaan binatang-binatang prasejarah ditetapkan berdasarkan hasil penemuan fosil-fosil yang terpendam di dalam tanah berupa tulang, atau cetakan badan yang ada di bebatuan. Untuk menentukannya mesti ditanyakan kepada ahlinya yang mempunyai spesialisasi keilmuan di bidang tersebut, karena pengetahuan seperti ini adalah pengetahuan spesifik yang bersifat nadhariy, yang membutuhkan penelitian. Allah ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” [QS. An-Nahl : 43].
Para ahli telah menyatakan bahwa keberadaan fosil adalah realitas (fakta) adanya kehidupan di masa lampau, baik fosil tumbuhan maupun hewan. Misalnya ditemukannya fosil kepala buaya Uberabasuchus terrificus[1], tulang kaki spesies yang dinamakan Neuquenraptor argentinus[2], tengkorak Stegoceras[3], tengkorak Triceratops[4], T-rex[5], dan masih banyak yang lainnya. Sekali lagi, ini adalah fakta. Dengan kata lain, tidak mungkin ada bekas dan jejak apabila makhluk pemilik bekas dan jejak tersebut tidak ada. Oleh karena itu dikatakan : keberadaan binatang-binatang prasejarah tersebut adalah benar menurut para pakar/ahli yang membidangi ilmu tersebut. Setiap bidang mempunyai pakar masing-masing yang berhak bicara. Apakah pengetahuan tersebut mencapai derajat yakin/kepastian ?. Ya, bagi mereka yang telah menelitinya atau bersandar/percaya pada hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli; karena ini adalah ilmu nadhariy. Tentu saja, derajat keyakinan ilmu nadhariy seperti ini beda dengan ilmu-ilmu yang bersifat aksiomatik. Bagi mereka yang tidak menaruh perhatian dalam bidang ini, bisa jadi ia meragukannya atau bahkan mendustakannya.
Adapun bentuk rinci hasil ekstrapolasi dan peragaan dari fosil-fosil tersebut (seperti yang ada dalam film, animasi, gambar, dan patung/boneka), maka inilah yang masih diperdebatkan. Gambaran-gambaran yang ada hanyalah perkiraan saja sesuai yang dibayangkan oleh masing-masing peneliti.
Apakah binatang-binatang tersebut hidup di masa peradaban manusia jaman dahulu ?. Tidak ada yang mengetahui, karena masih sebatas perkiraan (teori). Nash-nash tidak menyebutkannya. Tidak ada yang tahu kapan persisnya Nabi Aadam ‘alaihis-salaam hidup, sehingga tidak dapat diperbandingkan dengan perkiraan usia fosil yang dihitung para ahli.
Seandainya binatang-binatang tersebut hidup di jaman sebelum peradaban manusia sebagaimana dikatakan sebagian orang, maka ini tidak mustahil, karena Allah ta’ala berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang ‘khalifah’ di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" [QS. Al-Baqarah : 30].
Khaliifah’ (pengganti) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia hanyalah menggantikan makhluk sebelumnya. Telah ada makhluk lain yang eksis hidup lebih dahulu di bumi sebelum Aadam diturunkan. Lebih jelas lagi dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berikut:
خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ، وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ، وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ، وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ، وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ، وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ، فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ
Allah ‘azza wa jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu. Menciptakan gunung-gunung padanya pada hari Ahad. Menciptakan pepohonan pada hari Senin. Menciptakan hal-hal yang dibenci (keburukan) pada hari Selasa. Menciptakan cahaya pada hari Rabu. Mengembang-biakkan binatang-binatang pada hari Kamis. Dan menciptakan Aadam ‘alaihis-salaam setelah waktu ‘Ashar hari Jum’at pada akhir penciptaan, yaitu pada akhir waktu hari Jum’at antara ‘Ashar hingga malam” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2789].
Hadits di atas memberikan faedah bahwa tumbuhan dan binatang Allah ciptakan lebih dahulu di bumi sebelum Ia menciptakan Aadam. Tentang perincian apa saja tumbuhan dan binatang yang Allah ciptakan pada masa awal penciptaan, hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya.
Barangkali benar jika dikatakan bahwa tidak mengetahui masalah dinosaurus tidak akan mengurangi keimanan seseorang, karena mengetahui hal tersebut bukan sesuatu yang dituntut oleh agama dan bermanfaat bagi kehidupan pribadi dunianya. Namun jika dikatakan mengetahui permasalahan dinosaurus dan kehidupan prasejarah pasti tidak akan menambah keimanan si empunya, maka ini tidak benar. Ketika seseorang dengan pengetahuan dunia yang dimilikinya semakin bertambah yakin terhadap Penciptanya (Al-Khaaliq, Allah ‘azza wa jalla) bahwa Ia adalah sebaik-baik Pencipta, segala sesuatu yang Ia ciptakan pasti ada hikmahnya dan tidak sia-sia[6] meskipun manusia belum mengetahuinya, atau membenarkan nash-nash; maka pada saat itu imannya bertambah. Atau dengan pengetahuan yang ia miliki tersebut, ia membuka cabang ilmu pengetahuan lain yang memberikan manfaat bagi manusia, sehingga pada saat itu pula lah keimanannya juga bertambah karena amal kebaikan.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Semoga jawaban ini ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai – 06052015 – 02:04].




[2]      Silakan baca : Nationalgeographic dan Researchnews.
[3]      Silakan baca : Wikipedia dan Robertmsullivanphd.
[4]      Silakan baca : Wikipedia dan Nhmdotcom.
[5]      Silakan baca : Wikipedia_T-Rex , Wikipedia_Sue, dan Wireddotcom.
[6]      Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” [QS. Aali ‘Imraan : 190-191].

Comments

Jared Jamiatun mengatakan...

Terkait hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 2789 tersebut, dapatkah diambil faedah bahwa syariat ini telah mengawali penetapan pembagian waktu menjadi tujuh hari?

Syukran.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dhahir hadits menyebutkan demikian.

Jared Jamiatun mengatakan...

MasyaAllah, amazing.
Jazakumullahu khairan.

Geo Sentris mengatakan...

Hati-hati terhadap implikasi yang disematkan Evolusionis terhadap penemuan prasejarah berupa tulang-tulang dinosaurus.

Evolusionis mengklaim bahwa hal itu terjadi karena proses Evolusi bukan Penciptaan sebagaimana dhohir hadits riwayat Muslim di atas.

Proses Evolusi butuh waktu jutaan hingga miliaran tahun. Bertentangan dengan nash-nash Penciptaan yang cuma butuh 6 hari saja.

Sebagai info, ada temuan dari paleontologis Mary Schweitzer sewaktu meneliti fosil T-Rex yang diyakini berusia 68 juta tahun. Ternyata, fosil tersebut masih memiliki jaringan lunak! (Lihat: http://www.sciencemag.org/content/316/5822/277.long)

Hal ini tentu mustahil karena jaringan lunak tak mungkin tahan sampai jutaan tahun. Temuan ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa Evolusi itu salah dan menunjukkan langit dan bumi masih berusia muda (ribuan tahun).

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Soft tissue taken from 68 million-year-old Tyrannosaurus rex fossil yields original protein.

Ada yang menarik di sini dengan adanya pernyataan:

"But the evidence that Schweitzer had managed to find for the existence of collagen, while strongly suggestive, was not definitive. Fortunately, a mass spectrometry technique developed for studying lowlevel proteins in human diseases in Asara's mass spectrometry core facility was able to do what hadn't been possible before: provide the sequence of a 68 million-year-old protein and thus identify it.

O iya, jawaban dalam artikel di atas tidak sedang membahas evolution theory, tapi lebih kepada keberadaan bukti kauni yang ada dalam fossil.

Wallaahu a'lam.

Geosentris mengatakan...

Poin pentingnya ada di kalimat ini:

"When Schweitzer demineralized the T. rex bone, she was surprised to find such a matrix, because current theories of fossilization held that no original organic material could survive that long."

Jadi, klaim spectrometry yang katanya sanggup mendeteksi protein berumur 68 juta tahun itu butuh bukti. Benda apa di bumi ini yang valid memberikan nilai 68 juta tahun itu sendiri sehingga bisa dijadikan standar acuan?

Penanggalan karbon? Radiokarbon meluruh setengahnya setiap 5.370 tahun. Maksimal 10 kali peluruhan, thus 53.700 tahun. Jadi, penanggalan karbon gak bisa dipakai untuk jutaan tahun.

Jadi, berdasarkan apa? Jawabnya: asumsi.

NOTE: Saya tahu artikel di atas tidak sedang membahas evolusi. Sekedar berhati-hati saja buat pembaca lain. Karena biasanya, urusan dinosaurus sering disangkut-pautkan dengan evolusi.

Afqi Al-Pantouw mengatakan...

Assalamu‘alaikum yaa Ustadz Abul Jauzaa’..

ngomong-ngomong tentang Dinosaurs, ada komedi lucu ala kaum Syi’ah yg mungkin bisa kita simak di alamat di bawah ini :

antimajos.com/2014/09/17/mahdisaurus-komedi-ala-syiah/

sayapun melihat video tersebut sangat heran atas banyolan yg dibuat oleh kaum Syi’ah didalam video tersebut.
jazaakallahu khayr wa baraakallahu fiik yaa Ustadz Abul Jauzaa’..

salam dari saya, Afqi al-Pantouw.

Ryan Arifandi mengatakan...

Masyaa Allah.. Sesungguhnya sedikit sekali ilmu Allah yang kita ketahui.

Ustadz Abul Jauzaa جزاك اللهُ خيرًا tulisan2 antum banyak membawa manfaat bagi ana sekeluarga.

Semoga antum selalu dijaga Allah dalam berdakwah.

Anonim mengatakan...

salam tadz,

bagaimana mengkompromi/menjamak hadis imam Muslim di atas dgn ayat2 alquran yg mengatakan yg alam dicipta dalam 6 hari.

Geosentris mengatakan...

To Anonim 7 Mei 2015 21.29,

Penciptaan alam semesta dalam 6 hari itu bukan hanya akidah dalam Islam. Tapi juga akidah Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Silahkan lihat Kitab Kejadian 1: 1-31.

Sayangnya, di alQur-an terjemahan DepAg kata "hari" ini diganti menjadi "masa".

Memang sebagian ulama berselisih pendapat mengenai kadar "hari"-nya. Ada yang berpendapat satu "hari" sama dengan hari-hari kita seperti biasa (24 jam). Ada pula yang berpendapat satu "hari" setara dengan seribu tahun kita yang biasa, berdasarkan surat alHajj[22]: 47. Pendapat kedua ini dipegang oleh sahabat Ibnu `Abbas rodhiallaahu`anhuma dan tabi`in Mujahid, Dhohhak dan Ka`ab al-Ahbar rohimahumullaah. Syaikh Utsaimin rohimahullaah juga menguatkan pendapat ini.

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai kadar "hari" ini, satu hal yang pasti adalah alam semesta tidak terbentuk berdasarkan skenario Big-Bang 13,8 miliar tahun lalu, dan bumi tidak terbentuk belakangan 4,3 miliar tahun lalu, meskipun memakai kadar hari 1000 tahun sekali pun. Alasannya, berdasarkan sains, untuk ukuran 6 x 1000 tahun sekalipun segala sesuatunya masih berupa materi tak berbentuk di mana-mana. Tidak ada planet, tidak ada bintang bahkan galaksi sekalipun.

Lagipula, berdasarkan nash-nash, terutama hadits riwayat Muslim di atas, bumi tercipta terlebih dahulu daripada langit dan Adam `alaihissalaam tercipta di hari ke-enam dan beliau pun tidak tinggal lama di Surga untuk kemudian diturunkan ke bumi. Artinya, ini secara evolusi sudah pasti bertentangan.

Ryan Arifandi mengatakan...

Salaam,
Di hadits di atas pada hari ketujuh Nabi Adam 'Alaihissalam diciptakan sedangkan alam sudah selesai di hari keenam.
Wallāhu A'lām

Ryan Arifandi mengatakan...

Ayat 22:47 menceritakan lamanya sehari di padang mahsyar, bukan 1 hari masa penciptaan. Tapi itu murni pendapat saya karena lemahnya ilmu dan tidak tahu apakah ada hadits marfu' menjelaskan lamanya sehari saat penciptaan.
Wallāhu A'lām

Geosentris mengatakan...

To Ryan Arifandi,

Pertama: Tidak. Aadam `alaihissalaam memang diciptakan setelah selesai penciptaan langit dan bumi, tapi masih di hari ke enam. Sesuai dhohir hadits riwayat Muslim di atas:

"Dan menciptakan Aadam ‘alaihis-salaam setelah waktu ‘Ashar hari Jum’at pada akhir penciptaan, yaitu pada akhir waktu hari Jum’at antara ‘Ashar hingga malam

Kedua: Ayat 22:47 bukan menceritakan lamanya sehari di padang mashyar. Yang benar, di hari kiamat setara dengan 50.000 tahun, berdasarkan 70:1-4. (Baca: http://almanhaj.or.id/content/295/slash/0/hari-perhitungan-hisab/)

Ryan Arifandi mengatakan...

Assalaamu'alaykum warohmatullahi wabarokaatuh.

1. Dari hadits, awal penciptaan hari Sabtu, sehingga penciptaan Ādam 'Alaihissalam hari Jumat adalah hari ketujuh.

2. Setelah ana cek tafsir Ibnu Katsir, maka pemahaman ana ayat QS 70:4 menjelaskan lamanya hari perhitungan hisab setelah menunggu di padang Mahsyar. Kemudian QS 22:47-48 tafsirnya diperkuat dengan hadits ttg orang mukmin yang miskin masuk surga 500tahun lebih dulu dari orang kaya. Artinya 1000 tahun tsb adalah 1 hari penantian, tapi tidak diterangkan sebelum dihisab atau sesudah dihisabnya orang mukmin (masuk surga). Intinya ana pahami tidak ada nash yg menjelaskan berapa lama ekivalen 1 hari penciptaan dengan hari hitungan dunia kita.

Wāllahu A'lām.

Geosentris mengatakan...

Wa`alaikumsalaam warohmatullaahi wabarokaatuh,

1. Saya yang keliru. Pemahaman saya soal hari-hari Penciptaan tercampur dengan isroiliyat yang menyatakan hari penciptaan dimulai dari hari pertama (ahad). Jazakallaahu khoir telah mengingatkan saya.

2. Saya tetap berpegangan bahwa kadar "hari" penciptaan sama dengan hari-hari biasa. Alasannya:

Pertama, saya mengambil dhohir kata "hari" baik di alQur-an maupun alHadits, terutama hadits di atas yang di situ disebutkan nama-nama hari di dunia: Sabtu - Jum'at.

Kedua, tidak ada nash yang tegas menyatakan kadar "hari" Penciptaan setara 1000 atau 50000 tahun, kecuali menggunakan takwil.

Ketiga, pepohonan (tumbuhan) diciptakan hari senin, sedangkan cahaya (matahari) diciptakan hari rabu, berarti bila mengambil kadar "hari" sama dengan 1000 tahun maka selama 2000 tahun tidak ada fotosintesis.

Keempat, pada hari kelima (rabu) ketika cahaya (matahari) telah diciptakan, apakah mendadak kadar "hari" penciptaan menyusut mengikuti hari dunia selama 24 jam atau tetap dengan kadar 1000 tahun (misalnya)? Tentu harusnya mengikuti jam matahari (24 jam).

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebaiknya katakan : 'wallaahu a'lam' daripada memastikannya.

Hanya informasi saja, para ulama berbeda pendapat tentang kadar hari pada awal penciptaan. Ibnu Jariir Ath-Thabariy menyebutkan perbedaan pendapat tersebut. Pendapat yang menyatakan bahwa kadar satu hari pada awal penciptaan sama dengan 1000 tahun. Ini teriwayatkan dari Ibnu 'Abbaas, Mujaahid, dan Adl-Dlahhaak. Ini pula yang dikuatkan oleh Ath-Thabariy.

Ulama lain mengatakan ia sama dengan kadar hari-hari di dunia sekarang. Ulama yang lainnya lagi tawaqquf (abstain).

Inilah pendapat yang beredar di kalangan ulama.

Kadar hari di dunia tidak selalu dapat diqiyaskan dengan kadar hari selain di dunia. Allah ta'ala berfirman:

وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” [QS. Al Hajj: 47].

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ * يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu" [QS. As-Sajdah : 5].

Sehari ekuivalen dengan seribu tahun merupakan kadar hari di sisi Allah ta'ala, yaitu hari ketika Ia mengatur urusan makhluk-makhluk-Nya.

Kemudian saat hari kiamat atau hari pembalasan, maka kadar 1 hari sama dengan 50.000 tahun sebagaimana firman-Nya:

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun" [QS. Al-Ma'aarij : 4].

Selengkapnya, silakan baca dari ayat 1-10.

Ayat tersebut penjelasannya ada pada sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam:

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ صُفِحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَبْهَتُهُ وَجَنْبُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرُدَتْ أُعِيْدَتْ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَان مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، فَيَرَى سَبِيْلَهُ إِمَّا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Barangsiapa yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan disepuh untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan disepuh lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia melihat tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka" [Diriwayatkan oleh Muslim].

Tidak perlu pula membuat logika-logika dalam masa awal penciptaan. Ketika saya berkata bahwa saya memperbaiki sepeda pada hari Rabu, lalu memperbaiki mobil hari Kamis; tidak harus diartikan saya menyelesaikan perbaikan sepeda dari jam 02.00 malam dan kemudian ada masa kekosongan sampai jam 00.00 hari Kamis. Semoga paham maksud saya.

So,... ini adalah perkara ghaib. Allah ta'ala tidak menetapkan dan tidak pula menafikkan adanya proses tertentu ketika Ia menciptakan langit, bumi, dan segala isinya dalam nash-nash sependek yang saya ketahui. Hanya Allah yang mengetahui apa yang telah Ia lakukan di awal masa penciptaan.

Wallaahu a'lam.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dan sebagai informasi saja, Ibnul-Qayyim telah menjelaskan pembahasan ini bahwasannya hari-hari kita di dunia ini diukur berdasarkan peredaran matahari dan bulan; sedangkan di awal penciptaan, langit, bumi, matahari, dan yang lainnya itu belum ada. Ini pula yang dikatakan Al-Baghawiy dalam Tafsirnya dan Asy-Syaukaaniy dalam Tafsirnya.

Oleh karena itu, harus menafsirkan hari-hari awal penciptaan dengan hari-hari di dunia adalah sesuatu yang kurang benar, karena kenyataannya kadar hari di sisi Allah dalam mengatur urusan makhluk-Nya dan kadar hari kelak di hari kiamat berbeda dengan kadar hari dunia.

Ada pelajaran menarik dari Ibnu 'Abbaas radliyallaahu 'anhumaa:

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa tentang firman Allah ‘azza wa jalla : “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. Al Hajj: 47). Ibnu ‘Abbaas bertanya : “Siapakah engkau ?”. Lalu laki-laki itu menyebutkan bahwa ia adalah orang yang berasal dari ini dan itu. Kemudian Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa berkata : “Lantas, apa maksud : 'hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun' (QS. Al-Ma'aarij : 4) ?”. Laki-laki itu berkata : “Semoga Allah merahmatimu. Aku hanyalah bertanya kepadamu agar engkay memberitahukan kepada kami”. Ibnu ‘Abbaas berkata :

يَوْمَانِ ذَكَرَهُمَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمَا

“Itu adalah dua hari yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam Kitab-Nya. Allah lebih mengetahui tentangnya”.

Perawi berkata : Ia (Ibnu ‘Abbaas) tidak suka untuk berkata tentang Kitabullah tanpa ilmu” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dan Al-Haakim, shahih].

wallaahu a'lam.

Ryan Arifandi mengatakan...

جزاك اللهُ خيرًا ustadz.

Geosentris mengatakan...

Terkait tema kadar "hari" dalam Penciptaan, sebelum terlalu jauh salah paham dengan saya, saya di sini tidak dalam posisi "memastikan". Tapi dalam posisi mengungkapkan "kecondongan" terhadap pendapat yang menyatakan bahwa kadar "hari" Penciptaan itu sama dengan hari-hari biasa (hari di dunia) disertai beberapa alasan yang telah saya kemukakan di atas.

Wallaahu a`laam.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Baarakallaahu fiik. Pendapat yang antum kemukakan memang dikatakan oleh sebagian ulama, seperti Al-Aluusiy rahimahullah. Perbedaan ini karena memang tidak ada ada dalil yang shahih lagi sharih dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskannya, sehingga yang ada adalah tafsir dari dalil yang ternukil dari sebagian shahabat, taabi'iin, dan ulama setelahnya. Inilah pula yang menyebabkan sebagian ulama tawaquf (abstain) dalam hal tersebut. Mohon maaf jika ada respon yang kurang pas.

may art mengatakan...

assalamualaikum sodara sodaraku. saya sedikit kurang paham dengan hadist tersebut, bagaimana bisa dikatan hari, sedangkan cahaya diciptakan pada hari rabu? lalu bagaimana caranya tumbuhan/pohon tumbuh tanpa adanya sinar matahari pada hari senin?