Jarh wa Ta’diil Asy-Syaikh Rabii’ bin Haadiy Al-Madkhaliy hafidhahullah


Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Wadii’iy rahimahullah pernah ditanya:
 هل توافق الشيخ ربيعا في كتاباته النقدية في الجرح والتعديل وفي المنهج الذي يسير عليه أم تخالفونه؟ وهل تعرفون أن الشيخ ابن باز وابن عثيمين والألباني يوافقونه؟
“Apakah Anda menyepakati Asy-Syaikh Rabii’ dalam tulisan-tulisannya yang berkaitan kritikan seputar al-jarh wat-ta’diil dan manhaj, yang ia jalani, ataukah Anda menyelisihinya ?. Dan apakah Anda mengetahui bahwasannya Asy-Syaikh Ibnu Baaz, Ibnu ‘Utsaimiin, dan Al-Albaaniy sepakat dengannya?”.
Beliau rahimahullah menjawab:
 أهل السنة منبعهم واحد الذي يستقون منه وهو كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وعلى أله وسلم، فعقيدتهم واحدة، واتجاههم واحد، في جميع البلاد الإسلامية، نعم، نحن متفقون على جرح أصحاب البدع والحزبيين، متفقون على هذا، بقي في أناس هم عند شخص من المجروحين وعند آخر ليسوا من المجروحين، هذا حدث على عهد السلف، فرب راو يقول فيه أحمد بن حنبل: ثقة، و يقول فيه يحيى بن معين: كذاب، أو العكس، وهكذا البخاري وأبو زرعة وأبو حاتم.
والمهم لا يقلد بعضهم بعضا، فإذا اختلفنا في توثيق شخص وتجريحه فليس معنى هذا أننا مختلفون في العقيدة، وليس معنى هذا أننا مختلفون في الاتجاه
“Ahlus-Sunnah, sumber yang mereka ambil adalah satu, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam. ‘Aqidah mereka satu dan arah tujuan mereka satu, di semua negeri Islam. Na’am. Kami bersepakat dalam jarh terhadap pelaku kebid’ahan dan hizbiyyiin. Kami bersepakat dalam hal ini. Akan tetapi dalam penghukuman beberapa orang (bisa jadi tidak bersepakat), dimana mereka menurut orang tertentu termasuk kalangan orang-orang yang di-jarh (majruuhiin), sedangkan menurut yang lain bukan termasuk kalangan orang-orang yang di-jarh. Hal ini sudah terjadi di masa salaf. Kadang ada seorang perawi yang dikatakan oleh Ahmad : ‘tsiqah’, namun Yahyaa bin Ma’iin berkata tentangnya : ‘pendusta’. Atau sebaliknya. Begitu juga dengan Al-Bukhaariy, Abu Zur’ah, dan Abu Haatim.
Yang penting adalah sebagian mereka tidak bertaqlid kepada sebagian yang lain. Apabila kami berselisih pendapat dalam tautsiiq dan tajriih individu tertentu, maka itu tidak berarti kami berselisih dalam ‘aqidah dan arah tujuan.
وأما هل الشيخ ابن باز والشيخ الألباني يوافقونه أم يخالفونه؟ فالمسألة أنني ما قرأت كثيرا من كتب الشيخ ربيع هذا أمر، أمر آخر أيضا كما قلنا: إن أهل السنة لا يقلد بعضهم بعضا، ....( ) وعلى كل كلنا نصيب ونخطئ ونجهل ونعلم والله المستعان
“Adapun pertanyaan : apakah Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Asy-Syaikh Al-Albaaniy menyepakatinya (Asy-Syaikh Rabii’), maka dalam permasalahan ini aku belum membaca banyak buku-buku Asy-Syaikh Rabii’. Ini satu perkara. Adapun perkara yang lain sebagaimana yang telah kami katakan : Sesungguhnya Ahlus-Sunnah, sebagian mereka tidak bertaqlid kepada sebagian yang lain……(..). Dan setiap orang diantara kita bisa benar dan bisa juga salah, bisa mengetahui dan bisa juga tidak mengetahui. Wallaahul-musta’aan” [sebagaimana dalam kaset الدرر في أجوبة عبس وشفر].
Saya (Abul-Jauzaa’) berkata:
Mari kita perhatikan manhaj umum yang dipakai oleh Asy-Syaikh Muqbiil rahimahullah. Beliau rahimahullah tidak mengatakan bahwa beliau harus senantiasa menyepakati al-jarh wat-ta’diil dari Asy-Syaikh Rabii’. Hal itu dikarenakan prinsip Ahlus-Sunnah adalah tidak wajib taqlid kepada individu tertentu. Setiap orang bisa benar, bisa juga keliru. Perkataan yang benar diambil dan yang salah ditinggalkan.
Akan tetapi sebagian pengikut Asy-Syaikh Rabii’ hafidhahullah menjadi ghulluw dalam hal ini. Mereka menjadikan beliau hafidhahullah patokan dan ujian dalam ‘manhaj’/al-jarh wat-ta’diil. Menjadikan beliau rujukan utama dengan meninggalkan yang lain. Bahkan ada sebagian murid beliau mencela Asy-Syaikh Ibnul-‘Utsaimiin rahimahullah yang dianggap tidak patut dijadikan rujukan dalam masalah ‘manhaj’ (!). Subhaanallah….
Akan tetapi Alhamdulillah, akhirnya sang murid[1] pun menyadari kesalahannya dan kemudian rujuk. Setidaknya, fenomena ini menggambarkan pada kita adanya kenyataan orang-orang yang ghulluw pada ijtihad Asy-Syaikh Rabii’ Al-Madkhaliy hafidhahullah. Bukan sekedar ilusi dan fitnah semata.
Wallaahul-musta’aan.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 16081435/15062014 – 11:55].




[1]      Ia memang sangat fanatik dengan Asy-Syaikh Rabii’ hafidhahullah, hingga mengatakan jika ada yang mengkritik beliau (Asy-Syaikh Rabii’), itu artinya memerangi Salafiyyah/Sunnah. Perkataannya dapat didengarkan di sini:

Comments

Abu Abdirrahman mengatakan...

Yang jelas,
seperti yang dikatakan Syaikh Abdul 'Aziz Alu Syaikh hafidzhahullah (Mufti Kerajaan Saudi) yang intinya:
Kalau orang mau menjarh orang lain, maka sebelumnya datangi dan nasehati dulu.
Ketahui dengan jelas dan nasehatkan padanya letak kesalahannya dimana.
Kalau masih nekat setelah jelas-jelas datang keterangan yang nyata, baru dijarh.

Karena kalau kita hanya melihat satu atau dua perkataan, lantas langsung menyebarkan aib seseorang dimata ummat secara keji (baca: kasar dan tanpa adab), lantas apa bedanya manhaj ini dengan khawarij?

Cuman bedanya, Khawarij memvonis kafir sedangkan Jamaah Jarh ini memvonis Bid'ah. Walaupun pernah juga seorang Ulama dikatakan hilang Islamnya (Lihat disini pada menit 3:40).
Padahal tuduhan hilang agama & Islamnya berarti?

Kalau dakwah pada Fir'aun saja Nabi Musa disarankan oleh Allah untuk melakukannya dengan sopan dan kelembutan, masak yang dengan sesama saudaranya sendiri (apalagi masih satu manhaj dan aqidah) kok malah keras seperti memperlakukan musuh yang tengah mengacungkan pedangnya pada Islam.

Abu Abdirrahman mengatakan...

Menyebabkan perpecahan itu buruk.
Apalagi menjarh seseorang dengan teramat sangat keras tanpa tabayyun langsung pada yang dijarh terlebih dahulu.

Tanpa men-check langsung obyek yang hendak dijarh dengan detail, dan tanpa menasehatinya terlebih dahulu.
Langsung saja disebarkan aibnya tanpa ampun dihadapan ummat, disertai kata-kata yang keras dan mencemarkan.
Padahal belum tentu benar juga.

Sampai yang dijarh mengatakan "tuduhan itu tidak benar" kan memalukan untuk seorang Salafiyyin yang seharusnya bisa menjadi teladan "Wara'" (kehati-hatian) bagi ummat.

Selain itu, memperlakukan seorang Ulama sebagaimana Nabi, dengan dipuji-[uji setinggi langit, lalu semua perkataannya tak bisa ditolak atau diselisihi, maka ini juga tak ada bedanya dengan kaum Sufiyyin atas Wali-wali/Habib-habib mereka, atau kaum Syi'ah atas Sayyid-sayyid mereka.

Pokoke Pokemon!
Kalau enggak Pokemon aku wegah!

Pada akhirnya orang-orang yang memusuhi Islam atau manhaj Salaf pun tertawa riang, "tuh.. da'i-da'i Salafi sekarang saling banting satu sama lain".

Anonim mengatakan...

Entah untuk orang lain, tapi khilaf ini justru menjadi bukti bagi kaum Syi'ah dan Sufi yang seringkali menuduh Salafi "Wahabi" banyak berkonspirasi untuk merubah Hadits maupun perkataan-perkataan Ulama Kibar masa lampau.

Ini adalah bukti dari Allah bahwa kalau seandainya memang benar ada konspirasi seperti itu, tentunya kaum Salafi "Wahabi" tak akan pernah menjarh saudaranya sendiri ketika "dianggap" sudah menyimpang.

Dalam artian, kalau benar konspirasi itu ada maka otomatis Salafi "Wahabi" akan bahu-membahu satu sama alin untuk saling membela saudaranya entah benar ataupun salah, seperti yang terjadi pada kaum Syi'ah dan Sufi.

Ihsan mengatakan...

Subhanallaah, semoga peristiwa ini bisa menjadi teguran keras untuk para du'ats Ahlussunnah di Indonesia bahwa disamping paham ilmunya, juga harus memahami adab serta perilaku..

Karena kadangkala kita terlalu sibuk pada buku dan kelompok pengajian, sampai-sampai lalai untuk hablum-minannaas..

Jangan sampai jadi autis yang hanya sibuk pada ilmu namun lalai untuk belajar etika dan tak peduli dengan masyarakat atau lingkungan..
Padahal kata Nabi, salah satu Muslim terbaik adalah yang baik bagi lingkungannya.

Lantas untuk apa ilmunya kalau tak didakwahkan pada orang awam?
Atau hanya untuk kalangan sendiri kah?
Hanya didakwahkan pada orang2 yang sepaham dan keluarga saja?

Dakwah pun enggan terjun langsung ke masyarakat juga bukan hal yg baik, pada akhirnya dakwah mulianya jadi tertutupi keautisannya..
Sifatnya jadi egois, tak mau tau dengan orang2 sekitarnya, pada akhirnya kata2 pun jadi keras tak beradab..

Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dulu (sebelum berdakwah) dikenal dikalangan kaum Quraisy sebagai orang yg sangat dekat dan disegani oleh masyarakat, beliau adalah contoh sosok tokoh masyarakat yg bermanfaat bagi lingkungannya..
Masak kita yang mengaku pengikut setia beliau malah orang yg paling jauh dalam hal etikanya?

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum Warohmatullah,
Saya jadi teringat sebuah pengalaman..
Di daerah Cemani-Solo beberapa tahun silam, tepatnya di Pondok Ibnu Taimiyyah yang dipimpin oleh beberapa ustadz dari Yaman, pernah hampir diusir dari daerah itu oleh Masyarakat sekitarnya yang bergabung dengan forum Mujahidin Ngruki.

Waktu itu saya masih SMA, disana sempat beredar isu bahwa siapapun yg masuk Masjid Ibnu Taimiyyah itu maka tempat Sholatnya akan dipel ulang (seperti isu LDII beberapa dekade silam). Semua isu itu saya dengar dari teman saya yg tinggal disekitar tempat itu..

Saat mendengar ini saya benar-benar sakit hati.
Saya tau siapa mereka (Saudara-saudara Salafiyyin di Ibnu Taimiyyah Solo), dan DEMI ALLAH mereka bukan seperti yg masyarakat tuduhkan.

Namun saya juga tak bisa mengcounter banyak, karena pada faktanya Jamaah Pondok Ibnu Taimiyyah tersebut sangat misterius dan hanya akrab dengan kalangannya saja. Itulah yg mmbuat masyarakat sekitarnya merasa benci dan risih..

Saya sangat menyayangkan manhaj yang mulia ini jadi terkesan Horror karena kurangnya kita dalam bersosialisasi dan memperlihatkan kelemah lembutan dalam berdakwah.

Semoga masalah diantara da'i Ahlussunnah segera usai dan berakhir dengan damai..
Jangan sampai orang awam berfikir: ...Kalau sama sodaranya sendiri aja kayak gitu, gimana kalau sama yg beda pemahaman?...

Wallahu a'lam..

Umar Al-Kartasuriy mengatakan...

Saya lebih memiliki kecenderungan suka dengan kehati-hatian Syaikh Yahya hafizahullah, Syaikh Rabi' hafizahullah, dan para asatiz keluaran Yaman..

Hanya saja pengaplikasiannya yang kurang bisa diterima oleh nurani saya sebagai seorang Muslim yang seharusnya paling bisa mencontoh Nabi shallalahu 'alaihi wasallam dalam kelemah lembutan serta kehati-hatian (dalam bersikap dengan sesama).

Saya hanya bisa menangis sedih ketika banyak asatizah membuat buku atau mengadakan kajian yang membicarakan tentang asatizah lain yang berseberangan pendapat TANPA terlebih dahulu bertemu langsung dan tabayyun pada orang yang dibicarakan..

Dan nasehat untuk Al-Akh Abu Mujahid, hendaklah antum takut pada Allah dan berhenti membuat tulisan tentang seseorang kecuali antum sudah bertemu langsung dengan orang yang antum bahas dalam buku-buku manhajiah antum.

Hendaklah antum berhenti memperpuruk keadaan ummat yang tengah goncang.

-> Jangan sampai seperti si Pitung yang menghalalkan mencuri atas nama Sedekah untuk fakir miskin.
-> Jangan sampai seperti Al-Ustaz Abu Bakr Ba'asyir yang menghalalkan pertumpahan darah sesama Muslim atas nama penegakan syari'at Islam.
-> Jangan sampai antum menghalalkan permusuhan atas nama memurnikan manhaj, apalagi tanpa tabayyun.

Antum tak tau ratusan orang sakit hati dan menjadi bingung dengan kebenaran manhaj Salaf ketika antum membicarakan Al-Ustaz Abdul Qodir Jawas hafizahullah TANPA antum datangi dulu beliau secara langsung.

Takutlah kepada Allah!

Anonim mengatakan...

Tahun 1995

triahmad mengatakan...

Naam

Anonim mengatakan...

Siapakah di antara mereka para pentahzir ustadz Yazid Jawaz yang telah menemui dan menasehati beliau sebelumnya dengan sepenuh harapan agar beliau kembali kepada kebenaran?!

Siapakah di antara mereka???!!!

Kalo hanya berkoar-koar di belakang, mengghibah, menjelek-jelekkan dan senang dengan ketergelinciran orang lain. Nggak perlu ngaji tauhid dan manhaj salaf juga bisa!

Wedang jahe karo gembus
Tambah suwe tambah nggedebus

Anonim mengatakan...

syaikh rabii' ulama besar? bisa jadi

syaikh rabii' setara dengan imam ahmad? no way