Rencana Allah


Sering kita mendengar beberapa rekan kita mengatakan perihal suatu peristiwa ‘sungguh indah rencana Allah’. ‘Allah mempunyai rencana’. Dan kalimat semisal yang intinya Allah berencana atau merencanakan sesuatu atau punya rencana.
Istilah-istilah ini sebenarnya bukan istilah syar’iy. Istilah yang berasal dari kaum Nashara. Mereka (kaum Nashara) sering sekali mengucapkan ‘sungguh indah rencana-Mu ya Tuhan’ sebagaimana senandung gereja mereka.[1] Kita tidak sadar bahwa lisan kita menirunya karena sering mendengar atau membaca tulisan sebagian orang.
Rencana, dalam bahasa manusia, adalah satu susunan konsep sebelum kegiatan dilaksanakan/terjadi. Rencana tidak sama pengertiannya dengan aturan atau ketetapan, sehingga sifatnya bisa berubah (tentative). Kalau tidak seperti itu, bukan rencana namanya.....
Jika demikian, tepatkan menisbatkan rencana itu kepada Allah ta’ala ?. Jawabnya : tidak tepat. Minimal karena 3 (tiga) sebab, yaitu :
1.     Tidak ada dalilnya.
2.     Tasyabbuh pada orang Nashara.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya, serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ no. 1269 – takhriij selengkapnya silakan baca di sini].
3.     Allah tidak berencana, akan tetapi berkehendak dan menetapkan taqdir seluruh makhluk-Nya.
Semua kejadian mulai awal penciptaan hingga hari kiamat, semuanya telah diketahui Allah berdasarkan ilmu-Nya yang tertulis dalam Lauh Mahfuudh. Allah ta’ala berfirman :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59].
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid : 22].
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena (qalam). Lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah’. Pena berkata : ‘Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis ?’. Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah taqdir-taqdir segala sesuatu hingga terjadinya hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4700, At-Tirmidziy no. 2155 & 3319, Ahmad 5/317, dan yang lainnya; At-Tirmidziy berkata : “Hadits hasan shahih ghariib”].
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
Allah telah menuliskan taqdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].
Apa yang dikehendaki Allah ta’ala dalam ketetapan taqdir-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak mungkin terjadi.
Allah ta’ala berfirman :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” [QS. At-Takwiir : 29].
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit” [QS. Al-An’aam : 125].
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" [QS. At-Taubah : 51].
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2516, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].
Wallaahu a’lam.
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 08041435/08022014 – 00:40].




[1]        Seperti yang ada di sini.

Comments

Anonim mengatakan...

Bagaimana dengan "wa makaru wa makarallah"... bukan kah itu rencana ?

Memang sih, bila difikir, tidak ada rencana buat Yang Maha Mengetahui.

Anonim mengatakan...

assalaamualaikum
ijin share ya ustadz...

Anonim mengatakan...

assalaamulaikum ustadz, ijin share ya. syukron

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum, afwan, ana mau bertanya ustadz, Ana lihat di QS. Al-Qolam ayat 45 (وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ) diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya Rencana-Ku amat teguh). Benarkan penerjemahan kata "kaydiy" adalah "Rencana-Ku"? Kalo benar, apa tafsirannya ustadz? Terus ana lihat pula dalam QS. Ath-Thoriq ayat 16 (وَأَكِيدُ كَيْدًا) diterjemahkan (dan Aku-pun membuat Rencana [pula] dengan sebenar-benarnya). Mohon Penjelasannya Ustadz, Jazakallohu khoiro.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Anonim 8 Februari 2014 10.07, ayat itu sedang berbicara tentang al-makr. Begitu juga dengan ayat lain yang berbicara tentang al-kaid.

wallaahu a'lam.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Anonim 8 Februari 2014 17.05,......

Kaid itu artinya tipu daya, bukan 'rencana'.

Dalam QS. Al-Qalam ayat 45 yang antum sebutkan, maka maksudnya Allah mengakhirkan dan memberi tangguh kepada mereka dan sesungguhnya 'kaid' Allah (tipu daya Allah) itu sangat besar dan keras bagi orang yang menentang dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

Begitu juga dalam QS. Ath-Thaariq ayat 15-16, maka maknanya orang-orang kafir Makkah merencanakan tipu daya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan satu tipu daya, akan tetapi Allah membalas/menangkis tipus daya mereka dengan tipu daya yang lebih besar dan lebih keras.

wallaahu a'lam.

darman syah mengatakan...

Assalamualaikum pak ustadz, saya darman asal palembang. saya mau
bertanya pak tentang takdir, apakah musibah yang terjadi karena
kelalaian manusia itu disebabkan karena kealpaan manusia itu sendiri
atau memang sudah ditakdirkan sejak zaman dahulu kala kalau musibah
itu akan terjadi dan dialami oleh manusia itu sendiri. contoh pelaku
dalam kecelakaan mobil atau kereta api karena human erorr, apakah
Allah SWT sudah mentakdirkan musibah itu harus terjadi atau Allah
tidak pernah menginginkan hal itu tapi 100% karena manusia itu sendiri
yang menyebabkan peristiwa itu terjadi karena kelalaian/kurang hati2?
Tolong pak ustadz jawabannya, tks.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam....

Semua musibah terjadi karena taqdir dan kehendak Allah ta'ala.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [QS. Al-Hadiid: 22].

Akan tetapi yang harus diingat bahwa kita tidak berdalih dengan takdir terhadap kesalahan karena manusia diberikan akal dan kehendak sehingga ia bisa berpikir, memilih, dan belajar. Takdir adalah perkara ghaib yang baru diketahui setelah terjadi.