Kemampuan Seksual Penduduk Surga


Allah ta’ala telah menjanjikan kenikmatan surga bagi siapa saja yang beriman kepada-Nya. Salah satu kenikmatan surga itu adalah diberikannya seseorang dengan pasangan dari eks-istrinya di dunia (yang masuk surga bersamanya)[1] dan juga dari kalangan bidadari-bidadari surga. Allah ta’ala berfirman :
إِلا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ * أُولَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ * فَوَاكِهُ وَهُمْ مُكْرَمُونَ * فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ * عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ * يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ * بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ * لا فِيهَا غَوْلٌ وَلا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ * وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ * كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ
“Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik” [QS. Ash-Shaaffat : 40-49].
حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ * فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ * لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ
“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin” [QS. Ar-Rahmaan : 72-74].
كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ
Demikianlah. Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari” [QS. Ad-Dukhaan ; 54].
Kenikmatan surga adalah spesifik. Satu kenikmatan yang tidak pernah ada di dunia dan tak pernah terlintas di benak. Ketika Allah ta’ala memberikan ahli surga karunia berupa istri-istri yang cantik jelita; maka Allah pun memberikan karunia berupa kemampuan seksual bagi mereka dalam berjima’ yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun penduduk dunia. Anda ingin mengetahuinya ?. Simak beberapa riwayat berikut ini :
حَدَّثَنَا عِمْرَانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا وَكَذَا مِنَ النِّسَاءِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَيُطِيقُ ذَاكَ، قَالَ: يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Imraan, dari Qataadah, dari Anas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seorang mukmin akan diberikan kemampuan di surga begini dan begitu untuk berjimak dengan wanita. Dikatakan : “Wahai Rasulullah, ia mampu berbuat hal tersebut ?”. Beliau bersabda : “Ia diberikan kekuatan (berjimak) setara dengan 100 orang (laki-laki)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayaalisiy no. 2124 dan darinya At-Tirmidziy no. 2536, ia berkata : “Hadits shahih ghariib”. Dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/10].
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عُقْبَةَ الْمُحَلِّمِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ يَقُولُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يُعْطَى قُوَّةَ مِئَةِ رَجُلٍ فِي الْأَكْلِ، وَالشُّرْبِ، وَالشَّهْوَةِ، وَالْجِمَاعِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اليهود: فَإِنَّ الَّذِي يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ تَكُونُ لَهُ الْحَاجَةُ، قَالَ: فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَاجَةُ أَحَدِهِمْ عَرَقٌ يَفِيضُ مِنْ جِلْدِهِ، فَإِذَا بَطْنُهُ قَدْ ضَمُرَ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Tsumaamah bin ‘Uqbah Al-Muhallimiy, ia berkata : Aku mendengar Zaid bin Arqam berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku : “Sesungguhnya laki-laki penduduk surga diberikan kekuatan 100 orang laki-laki dalam hal makan, minum, syahwat, dan jima’”. Seorang laki-laki Yahudi berkata : “Sesungguhnya orang yang makan dan minum tentu akan buang hajat”. Zaid berkata : Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Hajat seseorang di antara mereka (penduduk surga) adalah keringat yang keluar dari kulitnya[2]. Apabila telah keluar, perutnya akan kembali mengecil” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/371; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dkk. dalam takhriij Musnad Al-Imaam Ahmad 32/65 no. 19314].
حَدَّثَنا أَحْمَدُ، قَالَ: نا أَبُو هَمَّامٍ الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ، قَالَ: نا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قُلْنا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نُفْضِي إِلَى نِسَائِنا فِي الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ: إِي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، " إِنَّ الرَّجُلَ لَيُفْضِي فِي الْغَدَاةِ الْوَاحِدَةِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ "
Telah menceritakan kepada kami Ahmad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Hammaam Al-Waliid bin Syujaa’, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Zaaidah, dari Hisyaam bin Hassaan, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami berkata : “Wahai Rasulullah, apakah kami akan menggauli istri-istri kami di surga ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya seorang laki-laki (kelak di surga) akan (mampu) menjimai 100 wanita perawan dalam satu waktu pagi” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 718; sanadnya shahih[3]].
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)’ [QS. Yaasiin : 55].
Berikut tafsir beberapa orang ulama tentang ayat dimaksud :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ، قَالا: ثنا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، ثنا حَفْصُ بْنُ حُمَيْدٍ، عَنْ شِمْرِ بْنِ عَطِيَّةَ، ح، وَحَدَّثَنَا أَبُو الْهَيْثَمِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْغَوْثِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الصِّينِيُّ، ثنا يَعْقُوبُ، عَنْ حَفْصِ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ شِمْرِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ، قَالَ: " شُغُلُهُمُ افْتِضَاضُ الْعَذَارَى
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُبَيْشٍ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ، ثنا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، ثنا يَعْقُوبُ الْقُمِّيُّ مِثْلَهُ سَوَاءً
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’ Az-Zahraaniy dan Muhammad bin Humaid, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin ‘Abdillah : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Humaid, dari Syimr bin ‘Athiyyah (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Abul-Haitsam Ahmad bin Muhammad Al-Ghautsiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Hadlramiy : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Ishaaq Ash-Shiniy : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Humaid, dari Syimr bin ‘Athiyyah, dari Syaqiiq bin Salamah, dari ‘Abdullah bin mas’uud tentang firman-Nya ta’ala : ‘‘Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)’ (QS. Yaasiin : 55), ia berkata : “Kesibukan mereka dalam berjima’ dengan perawan/gadis” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Shifaatul-Jannah 2/208-209 no. 375; sanadnya qawiy (kuat) sebagaimana dikatakan oleh Dr. ‘Aliy Ridlaa dalam takhriij-nya atas kitab tersebut].
أَخْبَرَنَا أَبُو نَصْرِ بْنُ قَتَادَةَ، أَنْبَأَ أَبُو مَنْصُورٍ النَّضْرَوِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ نَجْدَةَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ عِكْرِمَةَ، فِي قَوْلِهِ: "إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ، قَالَ: فِي افْتِضَاضِ الأَبْكَارِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nashr bin Qataadah : Telah memberitakan Abu Manshuur An-Nadlrawiy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Najdah : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Amru, dari ‘Ikrimah tentang firman-Nya : ‘Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)’ (QS. Yaasiin : 55), ia berkata : “(Kesibukan) dalam berjima’[4]” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Ba’ts wan-Nusyuur hal. 221 no. 362; sanadnya hasan].
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو، قَالا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ، أَخْبَرَنِي ابْنُ شُعَيْبٍ، أَخْبَرَنِي الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: "إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ، قَالَ: شَغَلَهُمُ افْتِضَاضُ الأَبْكَارِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh dan Abu Sa’iid bin Abi ‘Amru, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : telah memberitakan Al-‘Abbaas bin Al-Waliid : Telah mengkhabarkan (Muhammad) bin Syu’aib : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Auzaa’iy tentang firman Allah ‘azza wa jalla : ‘Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)’ (QS. Yaasiin : 55), ia berkata : “Kesibukan mereka dalam berjima’” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Ba’ts wan-Nusyuur hal. 221 no. 361; sanadnya hasan].
Itulah sebagian kenikmatan surga yang dijanjikan Allah ta’ala di surga bagi siapa saja yang memasukinya, dan janji Allah ta’ala tidak akan diperoleh dengan cara bermaksiat kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman :
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” [QS. An-Nahl : 96].
Yaitu, sabar dalam melakukan ketaatan dan sabar dalam tidak bermaksiat kepada-Nya, karena surga dilingkupi dengan berbagai kesusahan (dalam menggapainya) sebagaimana sabda rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ "
Neraka dilingkupi dengan berbagai kesenangan, sedangkan surga dilingkupi berbagai kesusahan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6487, Muslim no. 2822, dan yang lainnya].
Allah ta’ala berfirman :
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الأرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki." Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal” [QS. Az-Zumar : 74].
Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan kita menggapai surga-Nya......
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 28121434/02112013 – 23:15].




[1]      Seorang wanita mukminah akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir kelak di surga, apabila Allah ta’ala mentaqdirkan keduanya masuk surga.
قَالَ أَبُو يَعْلَى حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقُرَشِيُّ، ثنا أَبُو الْمَلِيحِ، عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ، قَالَ: " خَطَبَ مُعَاوِيَةُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما، فَأَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَهُ، قَالَتْ: سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَرْأَةُ لآخِرِ أَزْوَاجِهَا "،
Abu Ya’laa berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Abdillah Al-Qurasyiy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Maliih, dari Maimuun bin Mihraan, ia berkata : “Mu’aawiyyah pernah melamar Ummud-Dardaa’ radliyallaahu ‘anhumaa, namun ia (Ummud-Dardaa’) enggan untuk dinikahi. Ummud-Dardaa’ berkata : Aku mendengar Abud-Dardaa’ radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seorang wanita diperuntukkan bagi suaminya yang terakhir” [Dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah no. 1718; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 3/275-277 no. 1281].
[2]      Dalam lafadh yang lain disebutkan bahwa keringat penduduk yang keluar dari kulit mereka sewangi misk (minyak wangi) [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/367 (32/18-19) no. 19269].
[3]      Ad-Daaraquthniy men-ta’lil riwayat ini dengan perkataannya :
يَرْوِيهِ هِشَامُ بْنُ حَسَّانٍ، وَاخْتَلَفَ عَنْهُ، فَرَوَاهُ حُسَيْنٌ، عَنْ زَائِدَةَ عَنْ هِشَامٍ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَخَالَفَهُ ابْنُ أُسَامَةَ، فَرَوَاهُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ أَنَّهُ قَالَ ذَلِكَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. وَهُوَ أَشْبَهُ بِالصَّوَابِ
“Diriwayatkan oleh Hisyaam bin Hassaan. Ada perselisihan dalam periwayatan darinya. Diriwayatkan oleh Husain, dari Zaaidah, dari Hisyaam, dari Ibnu Siiriin, dari Abu Hurairah. Abu Usaamah menyelisihinya dimana ia meriwayatkan dari Hisyaam, dari Ibnu Siiriin, bahwasannya ia berkata tentang hadits itu dari Ibnu ‘Abbaas. Dan itulah yang nempak lebih benar” [Al-‘Ilal, 10/30 no. 1832].
Hal yang sama dikatakan Abu Haatim dan Abu Zur’ah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim :
وَسألت أبي، وأبا زرعة، عَنْ حديث رَوَاهُ حُسَيْنٌ الْجَعْفِيُّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نُفْضِي إِلَى نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ؟ فَقَالا: هَذَا خَطَأٌ، إِنَّمَا هُوَ هِشَامُ بْنُ حَسَّانٍ، عَنْ زَيْدٍ الْعَمِّيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.قُلْتُ لأَبِي: الْوَهْمُ مِمَّنْ هُوَ؟ قَالَ: مِنْ حُسَيْنٍ
Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang hadits yang diriwayatkan oleh Husain Al-Ju’fiy, dari Zaaidah , dari Hisyaam, dari Muhammad, dari Abu Hurairah, ia berkata : Dikatakan : ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kita menjimai istri-istri kita di surga ?’. Mereka berdua berkata : “Hadits ini keliru, karena hadits itu hanyalah diriwayatkan oleh Hisyaam bin Hassaan, dari Zaid Al-‘Ammiy, dari Ibnu ‘Abbaas. Aku bertanya kepada ayahku : “Kekeliruan itu berasal dari siapa ?”. Ia berkata : “Dari Husain” [Al-‘Ilal, 5/487-488 no. 2129].
Saya berkata :
Perkataan Ad-Daaraquthniy di atas keliru, karena periwayatan Hisyaam yang berasal dari Abu Usaamah, bukan dari Ibnu Siiriin, akan tetapi dari Zaid bin Al-Hawaariy, dari Ibnu ‘Abbaas sebagaimana dikatakan oleh Abu Haatim dan Abu Zur’ah. Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa no. 2436, Hannaad bin as-sariy dalam Az-Zuhd no. 88, Al-Harbiy dalam Ghariibul-Hadiits 1/266,  Ibnu Abid-Dunyaa dalam Shifatul-Jannaah no. , Abu Nu’aim dalam Shifatul-Jannah 2/208 no. 374, dan, dan dibawakan Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah no. 4606; semuanya dari jalan Abu Usaamah, dari Hisyaam bin Hassaan, dari Zaid bin Abil-Hauraa’, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu secara marfuu’.
Ta’lil tersebut perlu dicermati lebih lanjut, karena Ibnu Abid-Dunyaa telah mengkorfirmasikan hal itu dengan perkataannya :
قَالَ أَبُو مُوسَى: فَقُلْتُ لِلْحُسَيْن: إِنَّ أَبَا أُسَامَةَ ثنا، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحَوَارِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: هَكَذَا ثنا زَائِدَةُ، وَلَمْ يَرْجِعْ
“Abu Muusaa berkata : Aku bertanya kepada Husain : ‘Sesungguhnya Abu Usaamah telah menceritakan kepada kami dari Hisyaam, dari Zaid Al-Hawaariy, dari Ibnu ‘Abbaas’. Ia (Husain) berkata : ‘Begitulah Zaaidah telah menceritakan kepada kami, dan ia tidak rujuk (dari haditsnya itu)” [Shifaatul-Jannah hal. 192 no. 270].
Abu Muusaa, ia adalah : Haaruun bin ‘Abdillah bin Marwaan Al-Baghdaadiy, Abu Muusaa Al-Bazzaaz Al-Haafidh – terkenal dengan nama Al-Hammaam; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-10 dan wafat tahun 243 H. Dipakai oleh Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1014 no. 7284].
Husain, ia adalah Ibnu ‘Aliy bin Al-Waliid Al-Ju’fiy, Abu ‘Abdillah/Muhammad Al-Kuufiy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-9, dan wafat tahun203 H/204 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 249 no. 1344].
Ia adalah orang yang paling menguasai dan hapal hadits Zaaidah, sebagaimana dikatakan Al-Haakim. Ahmad berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama daripada Husain Al-Ju’fiy dan Sa’iid bin ‘Aamir”. Hal yang sama dikatakan oleh Abu Mas’uud Ar-Raaziy. Muhammad bin ‘Abdirrahmaan Al-Harawiy berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mutqin daripada Husain Al-Ju’fiy”. Jadi, ia tidak sekedar orang yang tsiqah saja, akan tetapi juga mutqin, terlebih dalam periwayatannya dari Zaaidah bin Qudaamah.
Zaaidah bin Qudaamah Ats-Tsaqafiy, Abush-Shalt Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi shaahibus-sunnah. Termasuk thabaqah ke-7, dan wafat tahun 160 H atau setelahnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 333 no. 1993].
Oleh karena itu, periwayatan Al-Husain bin ‘Aliy, dari Zaaidah, dari Hisyaam adalah mahfuudh lagi shahih.
Hadits Abu Hurairah ini dishahihkan oleh Dr. ‘Aliy Ridlaa dalam takhrij-nya terhadap kitab Shifaatul-Jannah li-Abi Nu’aim 2/208 dan Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 1/708 (dan beliau menukil penshahihan dari Al-maqdisiy dan Ibnu Katsiir rahimahumullah).
[4]      Asal makna iqtidlaa al-abkaar adalah ‘memecah keperawanan’.

Comments

Iffat Aulia Ahmad mengatakan...

Jadi kita selama di dunia menjauhkan diri dari zina semata-mata supaya dapat berjima' dengan bidadari surga?

Anonim mengatakan...

@Iffat
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Sama sekali tidak seperti itu.
Haramnya zina adalah qath'i dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah beristri dengan bidadari kelak di surga.
Bahkan meski di dalam surga itu tidak ada bidadari atau Allah nantinya tidak memberikan bidadari itu kepada seorang penduduk surga, maka zina tetaplah haram, dan seorang muslim dilarang untuk mendekatinya, apalagi melakukannya.

Allah dan rasul-Nya telah menetapkan bahwa penduduk surga akan diberikan bidadari untuknya.
Terimalah ketetapan itu, tanpa perlu mengait-ngaitkannya dengan masalah haramnya zina.

Iffat Aulia Ahmad mengatakan...

@Al-Akh Anonim

Coba renungkan, akh. Allāh Ta‘ālā sedimikian rupa tidak memberikan celah sedikitpun bagi nafs ammārah manusia (yang salah satunya nafsu seks) untuk tumbuh dan berkembang. Dalam syarī‘at, ekspresi itu ditunjukkan dengan berbagai macam perintah dan larangan, mulai dari perintah tidak makan dan minum berlebihan sampai larangan melirik kepada lawan jenis. Semua itu, jika dilaksanakan dengan baik dan utuh oleh manusia, maka dia akan mencapai derajat nafs muṭmai’nnah dan dia akan mendapat Qurb Ilāhī. Bagi orang-orang seperti itu, yang telah fana dan inqiṭā’ dari dunia, apalah arti hubungan seks itu? Lagipula, masakah kenikmatan jimak hanya tersedia bagi laki-laki dan tidak bagi perempuan? Apakah di surga juga ada bidadara-bidadara yang akan senantiasa siap dan sigap melayani nafsu seksual perempuan-perempuan Ahli Jannah? Al-‘Iyādzu Bi-Llāh Min Tilka al-Khurāfāt al-Muhlikah!

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka tiada sesuatu jiwa mengetahui, apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. [As-Sajdah {31}:17]

Surga yang disifatkan Nabī Muḥammad (SAW) tergambar dalam ḥadīts:

حدثنا الحميدي حدثنا سفيان؛ حدثنا أبو الزناد؛ عن الأعرج، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال؛ قال؛ رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ قال الله؛ أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر فاقرءوا إن شئتم فلا تعلم نفس ما أخفي لهم من قرة أعين.

[Al-Bukhārī, Kitāb Bad’ al-Khalq, Kitāb Ṣifat al-Jannah Wa Annahā Makhlūqah, no. 3244]

Berdasarkan ḥadīts qudsī ini, surga jelas merupakan suatu tempat pembalasan yang mana mata manusia berlum pernah melihatnya, telinga mereka belum pernah melihatnya, bahkan hal itu sama sekali belum pernah terlintas dalam hati mereka. Kita semua mengetahui bahwa hubungan seksual itu adalah suatu keniscayaan yang pasti dilakukan oleh manusia. Lantas bagaimana hal itu cocok dengan sifat-sifat surga yang digambarkan dalam ḥadīts tersebut?
Lebih lanjut, antum bisa membaca penjelasan yang indah dan terang dari buku ini. Kafākum Hādza al-Kitāb. http://www.islamahmadiyya.net/pdf/FalsafaIslam_full.pdf

Anonim mengatakan...

@Iffat
Perkataan antum : "Allāh Ta‘ālā sedimikian rupa tidak memberikan celah sedikitpun bagi nafs ammārah manusia (yang salah satunya nafsu seks) untuk tumbuh dan berkembang."

Maka ini jelas kelirunya...
Bukankah Allah ta'ala telah memberikan jalan yang halal lagi diridhai untuk hal itu di dalam pernikahan yang syar'i antara laki2 dan wanita?
Dan Allah sama sekali tidak menghendaki manusia untuk memendam nafs seksualnya sebagaimana rahib2 atau pendeta2....

Sedangkan tentang perkataan antum :
"Kita semua mengetahui bahwa hubungan seksual itu adalah suatu keniscayaan yang pasti dilakukan oleh manusia. Lantas bagaimana hal itu cocok dengan sifat-sifat surga yang digambarkan dalam ḥadīts tersebut?"

Apa yang disebutkan dalam hadits itu tentang shifat surga yang belum pernah dilihat oleh mata, dan sebagainya sama sekali tidak bertentangan dengan masalah hubungan suami istri diantara penghuni surga.
Bukankah antum mengetahui bahwa penghuni surga itu juga makan dan minum sebagaimana firman Allah :
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan"

Apa antum bisa menerima hal ini?
Apa antum bisa menerima bahwa penghuni surga itu tetap makan dan minum dengan enak kelak di dalam surga sedangkan keduanya juga merupakan suatu keniscayaan yang pasti dilakukan oleh manusia?
Jika bisa, maka demikian pula dengan hubungan suami istri diantara penghuni surga.

Dydimus Sahib mengatakan...

Sebenarnya, antum yang jelas keliru. Mengapa? Karena saya menuliskan “nafs ammārah” yang menurut Rabb ‘Azza Wa Jalla:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Sesungguhnya jiwa manusia senantiasa memerintahkan ke arah yang buruk”. [Yūsuf {12}:53]

Benar bahwa Allāh telah memberikan jalan yang halal nan diridhai untuk menyalurkan hasrat seksual manusia. Tetapi, seperti yang diisyaratkan ayat di atas, pintu-pintu kejahatan akan terus terbuka dan setan tidak akan pernah berhenti meniupkan waswas ke dalam hati manusia. Maka dari itu, Allāh menyampaikan perintah-perintah dan larangan-larangan yang super ketat bagi manusia agar nafsu seks mereka tidak meluber yang pada akhirnya akan merugikan mereka. Nah, ketika di dunia saja sudah dilatih sedemikian rupa untuk mengalahkan gejolak seksual, mengapa manusia dijejali lagi hal-hal demikian di surga? Bahkan, bagi mereka yang telah mencapai derajat nafs muṭma’innah, nafsu seks itu tak ubahnya sama seperti nafsu hewani. Kita semua pasti mengetahui kisah-kisah auliyā’, zuhadā’, dan ‘urafā bi-Llāh, bagaimana mereka mengesampingkan hal-hal remeh itu semata-mata untuk memperbanyak ibadah dan dzikr kepada Maulā Karīm. Masihkan hubungan seksual dengan bidadari surga merupakan sesuatu yang sangat urgen?

Berkenaan dengan makan dan minum di surga, itu bukanlah makan dan minum sebagaimana yang biasa kita lakukan di dunia. Melainkan, makan dan minum itu diterangkan dalam alam tamtsīl. Allāh berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

[Muḥammad {47}:15]

Lagi:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

[Ar-Ra‘d {13}:35]

Air yang dimaksud bukanlah H20, tapi air rūḥāniyyat yang menuntaskan dahaga setiap orang yang dahaga akan cinta kepada Ḥaḍrat-ul-Quds. Susu pun bukanlah susu serbuk seperti dancow, bukan pula susu cair layaknya ultra, dll. Tapi, susu itu adalah susu keimanan yang disuguhkan bagi orang-orang yang ḥijāb antara dia dan Tuhannya telah dibukakan. Demikian juga buah, madu, dan khamr. Ringkasnya, barang-barang itu bukanlah barang-barang yang sama seperti yang kita jumpai di dunia ini. Namun, bahasa yang digunakan Allāh adalah dalam bentuk isti‘ārah, bentuk bahasa paling luhur dan sastrawi dalam balāġah.

Dydimus Sahib mengatakan...

Dalam ayat lain, makanan dan minuman yang kelak dinikmati para ahli surga makanan dan minuman yang biasa mereka santap di dunia. Kita membaca:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Jika kita mengartikan ayat ini secara letterlejk, maka kita terpaksa mengatakan bahwa para penghuni surga akan memakan pisang, mangga, jambu, jeruk, dll. Lantas, apa bedanya surga dengan dārul fanā’ ini? Maksudnya tidaklah demikian. Para ahli surga sejatinya akan mendapat buah-buah rūḥānī yang dahulu, ketika di dunia, senantiasa dia reguh. Kelezatan buah-buahan itu pula yang mereka rasakan di surga. Makanan jasmānī tak sedikitpun disinggung di sini. Justru, sebagaimana mereka dahulu duduk di pojok-pojok tertentu mengenal Sang Maḥbūb Ḥaqīqī dengan kecintaan pada kegelapan malam, kenangan itu pula yang termanifestasi lagi dalam buah-buah surga.

Apabila antum menolak penjelasan ini, segala sesuatu kembali kepada antum. Agama bukanlah banyolan. Tidak ada banyolan yang lebih parah dari perkataan bahwa para penghuni surga akan demikian masyġūlnya menyetubuhi bidadari-bidadari surga. In Hādzā Illā Bid‘atun Ḍāllah Muḍillah.

Coba renungkan kalam Tuhan ini:

وَمَن كَانَ فِي هَـذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلاً

Sekali lagi, kalau antum memaknai ayat ini secara ḥarfiyyah, maka kasihan sekali orang-orang yang buta sejak lahir. Betapa tidak adilnya Allāh jika demikian adanya. Na‘ūdzu Bi-Llāh!

Ada satu pertanyaan ana yang belum antum jawab. Bila seorang laki-laki ahli surga kelak akan menyetubuhi 100 perawan yang keperawanannya tidak akan pernah lekang, apakah seorang perempuan ahli surga akan disetebuhi oleh 100 perjaka yang keperjakaannya tidak akan pernah hilang? Otherwise, what will the women of paradise do? Will they just watch the copulation between the men and the nymphs?

Zādaka-Llāh ‘ilman wa ‘irfānan 

Anonim mengatakan...

Perkataan antum :
”Benar bahwa Allāh telah memberikan jalan yang halal nan diridhai untuk menyalurkan hasrat seksual manusia. Tetapi, seperti yang diisyaratkan ayat di atas, pintu-pintu kejahatan akan terus terbuka dan setan tidak akan pernah berhenti meniupkan waswas ke dalam hati manusia. Maka dari itu, Allāh menyampaikan perintah-perintah dan larangan-larangan yang super ketat bagi manusia agar nafsu seks mereka tidak meluber yang pada akhirnya akan merugikan mereka. Nah, ketika di dunia saja sudah dilatih sedemikian rupa untuk mengalahkan gejolak seksual, mengapa manusia dijejali lagi hal-hal demikian di surga?“

Jawab :
Sebagaimana dalam artikel al-akh Abul-Jauzaa di atas, bahwa Allah telah menetapkan :
“Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari”

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
“Sesungguhnya laki-laki penduduk surga diberikan kekuatan 100 orang laki-laki dalam hal makan, minum, syahwat, dan jima’”

Jika ada seorang yang merasa diri sebagai hamba Allah and umat Rasulullah, hendaknya dia berkata : “Kami beriman kepada semua khabar itu. Kami dengar, dan kami ta’at.”
Bukannya malah berkata : “Mengapa? Dan : “Mengapa?”
Na’uudzubillah.

Perkataan antum :
“Bahkan, bagi mereka yang telah mencapai derajat nafs muṭma’innah, nafsu seks itu tak ubahnya sama seperti nafsu hewani. Kita semua pasti mengetahui kisah-kisah auliyā’, zuhadā’, dan ‘urafā bi-Llāh, bagaimana mereka mengesampingkan hal-hal remeh itu semata-mata untuk memperbanyak ibadah dan dzikr kepada Maulā Karīm.”

Jawab :
Nafsu seks itu bukanlah nafsu hewani, bahkan ia adalah fitrah yang Allah simpan dalam diri seorang manusia, dan seorang suami bahkan mendapat pahala jika ia menyalurkannya kepada istrinya.
Pemimpinnya para auliya yakni Nabi shallalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
وفي بضع أحدكم صدقة قالوا يا رسول الله أياتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجرا
“Hubungan badan salah seorang diantara kalian adalah sedekah.”
Para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?”
Beliau menjawab : “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Maka begitupula jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”(Shahih Muslim 2/679 no.1006)

Jika ada yang sok merasa tinggi dan menganggap dengan mutlak bahwa nafsu seks itu tidak ubahnya seperti nafsu hewani dan menganggap kalau itu adalah sesuatu yang remeh, apa dia hendak mengikuti pendeta2 dan rahib2 yang menghindar dan menjauhkan diri darinya??
Aneh sekali….

Perkataan antum :
“Masihkan hubungan seksual dengan bidadari surga merupakan sesuatu yang sangat urgen?

Jawab :
Ini adalah miss-persepsi dari antum.
Tidak ada yang berbicara tentang “sangat urgen”, “urgen”, atau “tidak urgen”, sebab itu bukanlah pokok dari permasalahan yang dibicarakan dan itu sama sekali tidak mengubah apa2.
Allah telah menetapkan dan menjanjikan demikian, dan rasul-Nya pun telah mengabarkan yang demikian, maka itu adalah benar dan pasti akan dimiliki dan dialami oleh penduduk surga, tidak peduli apakah itu merupakan sesuatu yang sangat urgen, atau tidak urgen sekalipun.

Anonim mengatakan...

Perkataan antum :
”Berkenaan dengan makan dan minum di surga, itu bukanlah makan dan minum sebagaimana yang biasa kita lakukan di dunia. Melainkan, makan dan minum itu diterangkan dalam alam tamtsīl. Allāh berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
[Muḥammad {47}:15]

Lagi:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ
[Ar-Ra‘d {13}:35]

Air yang dimaksud bukanlah H20, tapi air rūḥāniyyat yang menuntaskan dahaga setiap orang yang dahaga akan cinta kepada Ḥaḍrat-ul-Quds. Susu pun bukanlah susu serbuk seperti dancow, bukan pula susu cair layaknya ultra, dll. Tapi, susu itu adalah susu keimanan yang disuguhkan bagi orang-orang yang ḥijāb antara dia dan Tuhannya telah dibukakan. Demikian juga buah, madu, dan khamr. Ringkasnya, barang-barang itu bukanlah barang-barang yang sama seperti yang kita jumpai di dunia ini. Namun, bahasa yang digunakan Allāh adalah dalam bentuk isti‘ārah, bentuk bahasa paling luhur dan sastrawi dalam balāġah.”


Jawab :
Ini adalah kesoktahuan sebagian orang tentang Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yakni sebagian orang yang menyangka bahwa Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bisa diputar balik dan dita’wilkan sekehendak pikiran mereka sendiri.

Bahkan makanan itu adalah makanan yang real, makanan yang nyata, makanan yang hakiki (meskipun semua makanan yang real dan nyata itu memang tidaklah sama persis dalam segala halnya dengan apa yang ada di dunia), tapi semua itu tetaplah makanan yang real, makanan yang nyata, makanan yang hakiki dan bukanlah makanan dan minuman khayalan atau dalam pengertian majazi belaka sebagaimana prasangka antum.

Allah berfirman :
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Q.S Al-Baqarah ayat 25)

Buah2an yang disebutkan dalam ayat ini adalah buah2an yang real, nyata dan hakiki.
Coba deh baca penjelasan para ulama tentang ayat ini.

Dan Tsauban radhiyallaahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang Yahudi :
فما تحفتهم حين يدخلون الجنة ؟ قال زيادة كبد النون قال فما غذاؤهم على إثرها ؟ قال ينحر لهم ثور الجنة الذي كان يأكل من أطرافها قال فما شرابهم عليه ؟ قال من عين فيها تسمى سلسبيلا
“Apa hidangan istimewa bagi mereka ketika memasuki surga?”
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Sekerat hati ikan.”
Orang2 Yahudi itu bertanya lagi : “Apa makan siang setelahnya?”
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Disembelihkan untuk mereka sapi surga yang dimakan dari ujungnya.”
Orang2 Yahudi itu bertanya lagi : “Apa minuman mereka?”
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Dari mata air yang dinamakan salsabila.”
(Shahih Muslim 1/252 no.315)

Apa hati ikan dan sapi surga itu juga akan di ta’wilkan dengan ta’wil macam2 berdasarkan asumsi pribadi?
Jika iya, betapa menggelikannya….

Anonim mengatakan...

Perkataan antum :
”Kita membaca:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Jika kita mengartikan ayat ini secara letterlejk, maka kita terpaksa mengatakan bahwa para penghuni surga akan memakan pisang, mangga, jambu, jeruk, dll. Lantas, apa bedanya surga dengan dārul fanā’ ini? Maksudnya tidaklah demikian. Para ahli surga sejatinya akan mendapat buah-buah rūḥānī yang dahulu, ketika di dunia, senantiasa dia reguh. Kelezatan buah-buahan itu pula yang mereka rasakan di surga. Makanan jasmānī tak sedikitpun disinggung di sini. Justru, sebagaimana mereka dahulu duduk di pojok-pojok tertentu mengenal Sang Maḥbūb Ḥaqīqī dengan kecintaan pada kegelapan malam, kenangan itu pula yang termanifestasi lagi dalam buah-buah surga.

Apabila antum menolak penjelasan ini, segala sesuatu kembali kepada antum. Agama bukanlah banyolan. Tidak ada banyolan yang lebih parah dari perkataan bahwa para penghuni surga akan demikian masyġūlnya menyetubuhi bidadari-bidadari surga. In Hādzā Illā Bid‘atun Ḍāllah Muḍillah.

Coba renungkan kalam Tuhan ini:

وَمَن كَانَ فِي هَـذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلاً

Sekali lagi, kalau antum memaknai ayat ini secara ḥarfiyyah, maka kasihan sekali orang-orang yang buta sejak lahir. Betapa tidak adilnya Allāh jika demikian adanya. Na‘ūdzu Bi-Llāh!”


Jawab :
Wew?
Apa hanya karena adanya sebagian ayat yang antum katakan tidak bisa dimaknai secara hakiki, secara harfiyah, maka antum lalu menganggap seluruh ayat2 Al-Quran tidak boleh dimaknai secara hakiki, secara harfiyah, secara zhahir?

Justru yang seperti inilah banyolan.
Inilah banyolan yang sama sekali tidak lucu dari orang2 seperti antum.
Sebab jika kaidah asalnya seperti itu, maka setiap orang akan bebas2 saja memberikan pemaknaan dari kantongnya sendiri, dari asumsi pribadinya terhadap ayat2 Al-Quran, sehingga yang terjadi adalah Al-Quran itu -menurut orang2 seperti antum- harus mengikuti pemikirannya, harus mengikuti asumsinya,padahal yang terjadi seharusnya adalah sebaliknya, yakni bahwa pemikiran seseorang itu wajib untuk mengikuti Al-Quran, asumsi seseorang itu wajib diikutkan kepada Al-Quran.
Sehingga, yang benar adalah bawha pada asalnya, hukum dari ayat2 Al-Quran itu wajib atas makna zhahirnya, harfiyahnya, hakikinya.

Imam Al-Baihaqi rahimahullah mengatakan :
والقرآن على ظاهره وليس لنا أن نزيله عن ظاهره إلا بحجة
“Dan Al-Quran itu adalah atas makna zhahirnya. Tidaklah bagi kami untuk memindahkannya dari makna zhahirnya, kecuali dengan hujjah.”
(Al-I’tiqad halaman 127)

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa ta’wil2 aneh yang seperti antum bawakan di sini adalah kesoktahuan sebagian orang tentang Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yakni sebagian orang yang menyangka bahwa Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bisa diputar balik dan dita’wilkan sekehendak pikiran mereka sendiri.
Na’uudzubillah.

Perkataan antum :
"Ada satu pertanyaan ana yang belum antum jawab. Bila seorang laki-laki ahli surga kelak akan menyetubuhi 100 perawan yang keperawanannya tidak akan pernah lekang, apakah seorang perempuan ahli surga akan disetebuhi oleh 100 perjaka yang keperjakaannya tidak akan pernah hilang? Otherwise, what will the women of paradise do? Will they just watch the copulation between the men and the nymphs?"


Jawab :
Please lah brow, kalau mo bertanya, maka bertanyalah dengan pertanyaan yang cerdas, dan bukan pertanyaan konyol yang berasal dari pengingkaran hati terhadap satu perkara…..

Ada2 saja.

Anonim mengatakan...

To: Dydimus Sahib

"...Tidak ada banyolan yang lebih parah dari perkataan bahwa para penghuni surga akan demikian masyġūlnya menyetubuhi bidadari-bidadari surga", konsekuensinya berarti QS. Ash-Shaaffat : 40-49 dan QS. Ar-Rahmaan : 72-74 dan hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam yang telah dipaparkan di atas tak lebih dari sekedar banyolan menurut Anda, begitukan..?

Anonim mengatakan...

yang namanya kehidupan alam GHAIB, tentu berupa PERUMPAMAAN.

jangan larut dalam alam pemikiran membayangkan dan mempersamakan antara wujud dan kehidupan di alam fana dg alam kekal.

sederhana sekali, jika kita mampu membedakan antara keduanya:
tanah di bumi, bukan seperti tanah di surga
air di bumi bukan seperti air di surga
manusia di bumi, juga bukan seperti manusia di surga.

coba kalian pelajari lagi lebih dalam tentang Asma 'Ul Husna. Mudah2an dapat menjadi faham tentang perumpamaan dan kekekalan.

Salam

Anonim mengatakan...

Bacalah tafsir Al Quran dari ahlinya. Termasuk tafsir tentang makanan, minuman, bidadari dll. Jangan menafsirkan sendiri berdasarkan logikanya.
Penjelasan Allah di Al Quran tentang surga saya kira sudah jelas. MIsalnya minuman berupa air, tentu bukan benda padat. Tapi warnanya dan rasanya akan beda jauh. Putihnya tdk ada bandingannya dg warna putih didunia. Manisnya juga tdk dpt dibandingkan dg manisnya didunia. Tapi kita harus percaya disana ada air yg sangat putih dan sangat manis (walaupun putih dan manisnya berbeda), kita juga percaya disurga ada bidadari, sbb semnuanya tertulis di dalam Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.
Janganlah kita mendustakan ayat2 Allah tsb karena mengikuti persangkaan kita semata.