Menyegerakan Berbuka


Menyegerakan berbuka adalah sunnah yang ditinggalkan sebagian orang. Entah dengan alasan sibuk, belum sempat, atau sengaja karena masih kuat berpuasa. Perbuatan ini jelas menyelisihi sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ ". قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ صَائِمًا أَمَرَ رَجُلا، فَأَوْفَى عَلَى شَيْءٍ، فَإِذَا قَالَ: غَابَتِ الشَّمْسُ، أَفْطَرَ
Dari Sahl bin Sa’d, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Umatku senantiasa berada di atas sunnah selama mereka tidak menunggu munculnya bintang-bintang untuk berbuka puasa”. Sahl berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berpuasa, beliau memerintahkan seseorang menyediakan sesuatu. Apabila orang tersebut berkata :’Matahari telah tenggelam’, maka beliau pun berbuka” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 3/275 no. 2061, Ibnu Hibbaan 8/277-278 no. 3510, dan Al-Haakim 1/434; shahih].
dalam lafadh lain :
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ "
“Manusia senantiasa berada di atas kebaikan selama mereka menyegarakan berbuka puasa” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1957, Muslim no. 1098, At-Tirmidziy no. 699, dan yang lainnya].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لِأَنَّ الْيَهُودَ وَ النَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ "
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Agama (Islam) senantiasa mendapatkan kejayaan selama manusia menyegerakan berbuka puasa, karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2353, Ahmad 2/450, Ibnu Khuzaimah 3/275 no. 2060, dan yang lainnya; hasan].
عَنْ أَنَس بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ "
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa butir ruthaab sebelum shalat Maghrib. Apabila tidak ada ruthaab, maka beliau makan tamr. Dan apabila tidak ada tamr, maka beliau hanya meminum beberapa teguk air” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2356; hasan].
عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى أَهْلِ الأَمْصَارِ: " أَنْ لا تَكُونُوا مِنَ الْمَسْبُوقِينَ بِفِطْرِكُمْ، وَلا الْمُنْتَظِرِينَ بِصَلاتِكُمُ اشْتِبَاكَ النُّجُومِ "
Dari Ibnul-Musayyib, ia berkata : “Umar bin Al-Khaththaab pernah menulis surat kepada penduduk negeri yang isinya : ‘Janganlah kalian menjadi orang-orang yang terlambat dalam berbuka puasa, dan jangan pula menjadi orang-orang yang menanti shalat dengan kemunculan bintang-bintang” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 2093; hasan].
Beberapa riwayat di atas memberikan faedah kepada kita terkait tema sebagai berikut :
1.     Disunnahkan menyegerakan berbuka begitu matahari telah terbenam (dengan sempurna), yaitu waktu Maghrib tiba.
Oleh karena itu, boleh bagi seseorang berbuka puasa begitu ia melihat matahari terbenam meski adzan Maghrib belum berkumandang, (karena kemungkinan) adzan terlambat).
Hal ini tidaklah bertentangan dengan ayat :
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” [QS. Al-Baqarah : 187].
karena, tenggelamnya matahari adalah tanda malam dimulai (permulaan malam). Allah ta’ala berfirman :
وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan” [QS. Yaasiin : 37].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1954 dan Muslim 1100].
An-Nawawiy rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas berkata :
مَعْنَاهُ : اِنْقَضَى صَوْمه وَتَمَّ ، وَلَا يُوصَف الْآن بِأَنَّهُ صَائِم ، فَإِنَّ بِغُرُوبِ الشَّمْس خَرَجَ النَّهَار وَدَخَلَ اللَّيْل
“Maknanya adalah puasanya telah selesai dan sempurna, dan ia sekarang tidak disifati sebagai orang yang berpuasa. Hal itu dikarenakan dengan tenggelamnya matahari, maka hilanglah siang dan masuklah waktu malam” [Syarh Shahiih Muslim 4/77 – via Syamilah].
2.     Disunnahkan berbuka puasa sebelum mengerjakan shalat Maghrib.
Salah satu hikmahnya adalah agar shalat dapat dikerjakan lebih khusyu’, tidak terganggu dengan rasa lapar dan haus setelah seharian berpuasa. Hal ini selaras dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain :
إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ، وَلَا تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ
Apabila makan malam sudah tersedia, maka tersaji, maka makanlah dahulu sebelum shalat Maghrib, dan jangan kalian tergesa-gesa dari makan malam kalian tersebut” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 672].
3.     Mengakhirkan berbuka puasa hingga muncul bintang-bintang merupakan kebiasaan orang Yahudi dan Nashrani[1], sedangkan mengikuti dan mencontoh kebiasaan mereka pada asalnya dilarang.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4031, Ahmad 2/50 & 2/92, Ath-Thabaraaniy dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 216, dan yang lainnya; shahih[2]].
4.     Menyegerakan berbuka puasa merupakan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi salah satu sebab kejayaan Islam.
Kejayaan agama mengkonsekuensikan tetapnya kebaikan [Fathul-Baariy, 4/199].
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor - 07091434/16072013 –01:39 WIB




[1]      Juga Syi’ah. Dan inilah salah satu keserupaan puasanya agama Syi’ah dengan puasa agama Yahudi dan Nashrani.

Comments

Anonim mengatakan...

memang puasa syi'ah yg menyerupai yahudi itu ada dalam teologis mereka ust?bisa di infokan ke kita2 rujukannya?

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum ustad, bagaimana kalau menyantap sajian buka puasa menyebabkan kita ketinggalan jemaah di masjid bagi laki-laki karena di tempat kami kalo selesaikan bukaan dengan tenang maka akan ketinggalan jemaah magrib. syukron.