Barangsiapa yang Tidak Punya Guru, Maka Gurunya adalah Setan



Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah mengomentari perkataan tersebut sebagai berikut :
أمَّا قولُهم: "مَن لا شيخَ له؛ فشيخُه الشيطان"؛ فهذا باطل، ما له أصل، وليس بحديث. وليس لك أن تتَّبع طرق الشيخ إذا كان مخالفاً للشرع، بل عليك أن تتبع الرَّسول -صلَّى الله عليه وسلَّم- وأصحابَه -رضي الله عنهم وأرضاهم- ومَن تَبِعهم بإحسان، في صلاتك، وفي دعائك، وفي سائر أحوالك. يقول الله -جلَّ وعلا-: {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}[الأحزاب: 21]. ويقول -سبحانه وتعالى-: {وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ..} الآية [التوبة: 100]. فأنت عليك أن تتبعهم بإحسان باتِّباع الشَّرع الذي جاء به النَّبيُّ -صلى الله عليه وسلَّم- والتَّأسِّي بهم في ذلك وعدم البدعة التي أحدثها الصوفية وغير الصوفية. والله المستعان

“Adapun perkataan mereka (yaitu Shuufiyyah – Abul-Jauzaa’) : ‘barangsiapa yang tidak punya guru (syaikh), maka gurunya adalah setan’; maka perkataan ini adalah bathil. Tidak ada asalnya. Bukan pula hadits. Tidak boleh bagimu untuk mengikuti jalan seorang syaikh apabila ia menyelisihi syari’at. Bahkan wajib bagimu untuk mengikuti Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam shalatmu, doamu, dan seluruh keadaanmu. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu’ (QS. Al-Ahzaab : 21). Allah subhaanahu wa ta’ala juga berfirman : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik’ (QS. At-Taubah : 100). Maka wajib bagimu untuk mengikuti mereka dengan baik, dengan mengikuti syari’at yang dibawa oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; serta mencontoh mereka dalam hal tersebut. Juga wajib bagimu untuk tidak berbuat bid’ah yang diada-adakan oleh Shuufiyyah dan non-Shuufiyyah. Wallaahul-musta’aan[selesai].
[dikutip dan diterjemahkan oleh Abul-Jauzaa’ dari bagian fatwa beliau rahimahullah yang ada di sini – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk - 12052012].

Comments

Anonim mengatakan...

bagaimana dengan kaidah kalau ilmunya tidak mangkul dan nyambung ke rasulullah maka ilmunya tidak sah....

kita sering direndahkan di majelis mereka , yang mengatakan ilmu dan amal kita nggak sah .

Anonim mengatakan...

Bagaimana Ustadz halnya dengan belajar autodidak atau tanpa guru, apakah dibolehkan, trus ada batasannya,..

Muslim Biasa mengatakan...

Di antara kekeliruan orang yang belajar agama hanya dengan membaca saja tanpa guru adalah kesalahan dalam membaca teks atau mengartikan makna teks itu sendiri. Ada contoh nyata, seorang khathib keliru membaca hadits yang berbunyi:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله

"Akan membawa ilmu (agama) ini dari setiap generasi berikutnya orang-orang yang terpercaya."

Maksudnya, risalah agama ini akan diemban oleh orang-orang terpercaya dari generasi ke generasi.

Namun khathib tersebut membacanya seperti ini:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدو له

"Akan membawa ilmu (agama) ini dari setiap generasi berikutnya orang yang menjadi musuhnya."

Letak kekeliruannya adalah ia membaca kata "uduuluhu" yang berarti orang-orang terpercaya dengan "aduwwun lahu" yang berarti musuhnya sehingga maknanya pun berubah bahkan berseberangan seolah-olah yang akan mengemban risalah agama ini adalah para musuh Islam.

Semoga Allah membimbing kita menuju kebenaran dan menghindarkan kita dari kekeliruan dalam beragama. Amin.

aburuqoyyah mengatakan...

Jazakumullohu Khairan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

All,... belajar yang paling baik adalah dengan berguru kepada seseorang (baik ulama, ustadz, atau orang yang berilmu lain). Para ulama dulu bahkan mencela orang-orang yang tidak keluar mencari ilmu dan mendatangi para ulama. Belajar dari guru lebih praktis dan lebih terhindar dari kekeliruan.

Namun jika kemudian dimutlakkan bahwa orang yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan - sebagaimana perkataan ini beredar di kalangan shuufiy - ini juga tidak betul. Perkataan ini sebenarnya lebih dilatarbelakangi agar orang memegang dan menyandarkan ilmu pada orang-orang tertentu dan berfanatik kepadanya. Bukan dilatarbelakangi oleh dorongan dan anjuran untuk menuntut ilmu. Itulah yang dimaksud oleh Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah di atas.

Anyway,.... menuntut ilmu melalui perantaraan kitab itu tidaklah mutlak mesti keliru out put-nya. Meskipun tetap harus kita katakan, belajar kitab pada ulama/ustadz/ahli ilmu lebih baik daripada belajar secara otodidak. Yang jadi tolok ukur kebenaran tetaplah kesesuaian terhadap kebenaran itu sendiri (yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah 'alaa fahmis-salaf). Betapa banyak orang yang berguru namun ternyata malah sesat ?. Apakah kita pikir Bisyr Al-Maarisiy itu tidak punya guru ?. Apakah kita pikir Al-Khomeiniy itu tidak punya guru ?. Apakah kita pikir Ulil Abshar itu tidak punya guru ?. Betapa banyak pula orang yang berbangga dengan sanad, namun ilmu dan amal mereka ternyata menyelisihi sunnah ?. Hanya mengingatkan, punya silsilah sanad guru itu tidaklah jaminan bahwa ilmu yang didapat itu benar. Dalam ilmu sanad, bukankah kita mengenal rantai periwayatan lemah atau bahkan palsu, karena ternyata perawinya ada yang pendusta, pembuat bid'ah, dan lemah.

Belajar dari buku, kaset/rekaman, internet, atau sumber-sumber lain itu boleh dan tetap mempunyai keutamaan. Allah akan memahamkan siapapun yang dikehendaki-Nya melalui media apapun. Namun hanya menyandarkan ilmu dari media-media tersebut tanpa mendatangi guru - sementara kita mampu - adalah kerugian yang sangat besar.

Anonim mengatakan...

nasihat yg bijaksana dari seorang ust. Abul Jauza'...

syukran atas tambahan ilmunya,,

Muslim Awam mengatakan...

Sering kalimat ini terucap dari mulut sebagian orang: "Yang jadi tolok ukur kebenaran yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah 'alaa fahmis-salaf."

Tapi uniknya, ketika pendapatnya bertentangan dengan fahmis-salaf, ia tidak memperdulikan fahmis-salaf dan tetap bertahan pada pendapatnya.

Misalnya, ada salah seorang Syekh (yang dikenal sering belajar otodidak tanpa guru) mengharamkan perhiasan emas bagi wanita dengan berdasarkan beberapa hadits. Ia mengatakan:

واعلم أن النساء يشتركن مع الرجال في تحريم خاتم الذهب عليهن ومثله السوار والطوق من الذهب لأحاديث خاصة وردت فيهن فيدخلن لذلك في بعض النصوص المطلقة التي لم تقيد بالرجال

"Ketahuilah bahwa para wanita disamakan dengan para pria dalam hal pengharaman cincin dari emas bagi mereka. Begitu juga kalung dan gelang dari emas, berdasarkan hadits-hadits khusus tentang mereka..."

Lalu ia berkata:

واعلم أن كثيرا من علماء أعرضوا عن العمل بهذه الأحاديث لشبهات قامت لديهم ظنوها أدلة ولا يزال كثيرون منهم يتمسكون بها على أنها حجج تسوغ لهم ترك هذه الأحاديث ولذلك رأيت أنه لا بد من حكاية تلك الشبهات والرد عليها كي لا يغتر بها من لا علم عنده بطرق الجمع بين الأحاديث فيقع في مخالفة الأحاديث الصحيحة المحكمة بدون حجة أو بينة

"Ketahuilah bahwa banyak ulama berpaling dari mengamalkan hadits-hadits ini karena syubhat yang mereka kira sebagai dalil. Banyak dari mereka masih berpegang dengannya (dengan anggapan) bahwa ia adalah hujjah yang membolehkan mereka meninggalkan hadits-hadits ini..."

Mungkin ini salah satu dampak belajar sendiri (otodidak) tanpa guru.

Anonim mengatakan...

alhamdulillah ustadz , nasehat antum penyemangat kita-kita yang jahil dalam hal ini

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Mas Muslim, itulahlah salah satu tanda bahwa Anda memang tidak memahami apa makna 'alaa fahmis-salaf. Sekaligus menandakan Anda miskin analisa. Sayang......

Jika yang Anda maksudkan orang itu adalah Syaikh Al-Albaaniy, maka,.... miskin Anda ini. Beliau rahimahullah punya guru. Ayah beliau adalah salah seorang ulama madzhab Hanafiy mas. Dan yang lainnya.

Apakah pendapat yang menyatakan keharaman emas melingkar itu merupakan ijma' salaf ? sehingga Anda menyimpulkan pendapat itu menyimpang dari pemahaman salaf. Memang benar ada ulama yang menegaskan ijma' kebolehan emas secara mutlak bagi wanita. Tapi tidaklah setiap klaim ijma' itu mesti dibenarkan tanpa penelitian. Buktinya banyak. Nah,... di sini ada sebagian shahabat yang berpendapat dengan pendapatnya Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah. Seandainya kita sependapat bahwa apa yang dirajihkan oleh Syaikh Al-Albaaniy itu menyelisihi ijma', bukankah ini merupakan hal yang jarang ada pada beliau, karena beliau berkomitmen untuk mengikuti as-salafush-shaalih. Beliau ini adalah ulama di jamannya, yang diakui oleh kawan dan lawan, meski mungkin Anda tidak setuju sebagaimana ketidaksetujuan rekan-rekan Anda yang telah mendahului Anda.

Dan saya ingin tanya deh sama Anda,... apa sih pemahaman di benak Anda tentang kalimat 'menyimpang dari pemahaman salaf' ?.

Tapi apapun jawaban Anda, saya ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Dan tidak lupa saya ucapkan : selamat atas tekornya analisa Anda.

Anonim mengatakan...

Yaaah pak ustadz, namanya juga muslim awam, wajar lah analisanya tekor bin telor...

Ya benar, sptnya saya mengenal si muslim awam alias muslim alias moslemz ini....dibalik komen2nya yg halus selalu tersirat kebencian terhadap syaikh Albani...

orang awam mengatakan...

Assalamua'alayka, yaa mas Muslim Awam
@ 15 Mei 2012 06:41

yaaaah ..se-enggak-enggak-nya Syaikh Albaniy -rahimahullah- tidak bersendirian di dalam pendapatnya.

ada generasi salafussaleh yang "meng-amini" pendapat beliau,

Kalok saya lebih baik otodidak,
baca buku yang bener,
baca syarah yang bener,
dengerin kajian ulama/ustadz yang bener,

daripada belajar langsung sama guru yang konon katanya punyak nasab mulia,
konon sanad ilmunya nyampek aimmah hadits

Tapi Hobi ;

[Pertama]
menembok kuburan, membuat kubah di atas kuburan,

padahal ndak ada seorang-pun dari shahabat -radliyallahu'anhum- yang pernah melakukan hal tersebut,
tidak kepada kuburan ortu mereka, keluarga mereka, bahkan makam Nabi Shallallahu 'Alihi Wasallam

[Kedua]
Maulidan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ala khalaf

kira-kira salaf-nya siapa yah .. (o_0)?

Sahabat-kah ? tabi'in-kah ? tabi'ut tabi'in-kah ?

[Ketiga]
Ngalap Berkah di kuburan yang konon katanya punya wali,
tabarruk~tawassul ama penghuni kubur di sana,

ada salafnya ndak yah ?

kira-kira Shahabat -radliyallahu'anhum- pernah ngalap berkah ndak di kubur Rasulullah Shallallahu 'Alihi Wasallam ?

dan hobi-hobi yang laen,
yang aneh-aneh,
yang bahkan di benci sama Imam Madzhab yang di ikutinya.

'Allohul Musta'an

well ..
itu kalok saya low mas,
kalok njenengan sukanya merguru sama guru yang bersanad yoow monggo kerso ,, ehe
*no_offense

. . . .

owyaa ,,
kalok bole saya ngasih saran,

kalok ada wektu coba njenengan bukak;

http://www.dorar.net/

ndak usah di liyat dulu isi situsnya,
saya cuman pengen njenengan liyat kaligrafi yang ada di banner situs tersebut,

lokasi banner terletak di bagian atas situs dorar.net persis,

naah ..
ada kaligrafi yang bertuliskan
"musyrif 'aam" (supervisor)

coba dweyh, njenengan baca kaligrafi di bawah tulisan "musyrif 'aam"


itu nama supervisor situsnya mas,

~masyaAllah~


Syukron wa hadakallahu.

Anonim mengatakan...

alhamdulillah... tulisan yang mencerahkan.... saya banyak belajar dari blog ini, dan dengan tulisan ini semakin mantap hati saya untuk lebih banyak lagi belajar melalui blog ini dan blog-blog lain di internet, jadi guru saya nggak cuma pak ustadz dan kiai, internet dan buku or kitab juga jadi guru saya,,, mudah-mudahan ghiroh mencari ilmu senantiasa bersinar

Akh Izzis mengatakan...

Assalamu 'alaikum

mungkin redaksi kalimatnya perlu diperbaiki, bukan salaf yang mengikuti pendapat Syaikh Al Albani, melainkan Syaikh Al Albani yang mengikuti pendapat Salaf.. sehingga 'Serangan' Muslim Awam yang memang awam terbantahkan dengan sendirinya..

cukup banyak orang yang menyerang syaikh al Albani dengan maksud merendahkan dan mempermalukan beliau, namun yang mereka peroleh sebaliknya :)

Anonim mengatakan...

Maaf Mas, saya bukan Muslim Awam atau apun itu,,, saya cuma mau tahu memang siapa itu nama supervisornya? Maaf, saya ga bisa baca kaligrafinya,,,

please, dibalas biar saya tahu, agar berhati-hati,,,

barakallohufikum,,,

orang awam mengatakan...

@ Anonim ,16 Mei 2012 19:26

[qoute]
"please, dibalas biar saya tahu, agar berhati-hati,,,"

saya pikir mungkin antum salah paham dengan kalimat

~masyaAllah~

yang saya tulis,

karena justeru itu merupakan bentuk kekaguman saya terhadap spv situs dorar.net

btwe ..

Nama musyrif 'aam situsnya ;

Syaikh 'Alawiy bin Abdul Qadir Assegaf

kalo di lihat marga-nya beliau masih ahl bayt.

Artikel2 yang ada di dorar.net -insyaAllah- sejalan dengan manhaj salaf

ditambah ada search engine buat nyari hadits,
lengkap sama virtual keyboard arabic-nya.

Jadi kalo komputer or leptop belum sempat terinstal font arab dan setting keyboardnya,
virtual keyboard di dorar.net bisa di gunakan

biasanya yang memerlukan CD Instaler untuk mengaktifkan font dan setting keyboard arab adalah OS Win XP,

karena untuk setting default OS Win 7, font arab dan layout keyboard bahasa arab sudah ikut terinstall dari pertama kali instalasi.

Wallohu ta'alaa a'lam

orang awam mengatakan...

@ Anonim, 16 Mei 2012 19:26

Baarakallaahu fiik wa zaadakallaahu hirshan ‘ala ma’rifatil haqq

Ade Malsasa Akbar mengatakan...

Ustadz, bagus sekali artikel dan jawaban-jawaban ustadz. Terima kasih.

Ustadz, khusus kali ini, saya mau rikues artikel biografi Ali bin Ashim. Saya tertarik mengenal beliau tapi cari di Google tidak ketemu sama sekali.

Terima kasih.

Anonim mengatakan...

tapi tidak semua ilmu bisa dipelajari dengan otodidak. coba, bagaimana belajar membaca Al-Quran sendiri tanpa guru? Mau pakai murotal/rekaman qori? bagaimana kalau salah, siapa yang mengingatkan hayo.
Perkataan tersebut memang bathil, tapi alangkah baiknya dan sebaiknya belajar dengan guru yang benar sesuai Al-Quran dan As-Sunnah serta menetapi jalan-Nya bukan ngomong doang.

abu jihan mengatakan...

assalamualaikum ust,dulu ana pernar belajar di mahad majjlisul qurro wal huffaz dan al huda di rancaekek bandung,dari sanalah ana mengenal tentang aqidah dan tauhid yg benar,dengan pemahaman shalafusshalih,dan sedikit demi sedikit ana mengenal manhaj yg haq ini,tp skarang ana sdh di sumatra,mau kembali lg tp ana blum mampu,krn biaya untuk itu bknlah murah,skarang ana cm bisa blajar di internet online,jd di radio2 salafiyah,termasuk ana blajar banyak dari setiap artikel ust,ana bingung di kampung ana blum ada ust yg bener2 bermanhaj salaf,kebanyakan pengakuan saja,tak bedanya dgn pelaku bid'ah dan khurofat,sekali lagi ana sangat berterima kasih,ust sdh berkesempatan untuk menulis artikel2 ini,mohon doanya ust mg ana tdk tesesat dalam mempelajari dan mengamalkan manhaj ini,manhaj para sahabat dalam memahami Alquran dan assunnah,.....jazzakallah..khoir

Anonim mengatakan...

sebagian asatidzah yang berguru langsung kepada ulama saja terkadang jatuh pada keleliruan ketika terjun di medan dakwah..alhamdulillah ada ulama yang membimbing dan meluruskan kesalahan mereka..bagaimana dengan orang yang belajar otodidak lalu berfatwa tentang permasalahan rumit di tengah umat yang bukan kapasitasnya untuk berfatwa..

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum
saya mendapati beberapa kalangan menjelek-jelekkan syaikh muhammad nashiruddin alalbani sebagai orang yang tak punya guru dan sanad, bahkan mereka menantang untuk menunjukkan siapa guru-guru syaikh al albani dalam ilmu hadits... mohon ustadz memberi penjelasan mengenai hal ini. jazakumullah

abu jihan mengatakan...

untuk akhi dia atas coba akhi baca artikel ini :
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/ahmad-sarwat-al-buuthiy-dan-al-albaaniy.html
di situ ada dialog yg membahas syaikh muhammad nashiruddin albani,mg dapat pencerahan ...jazzakallah ..

ahmad imaddudin mengatakan...

asalamu.aliaikum.
Pak sya mw tanya diluar topik yang telah dibahas.
Kita tahu bahwa nabi besar muhammad saw adalah nabi terakhir sekaligus penutup bg sluruh silsilah kenabian. Tapi kenapa pada akhirnya nabi isa dan imam mahdi lah yang memberi petunjuk akan hari dimana umat islam akan menang (fase ke_4). Padahal nabi isa tidak mengerti tentang al.quran
apakah dia harus mempelajari al.quran terlebih dahulu?
Jika benar, apakah nabi isa merupakan seorang manusia biasa yang akan memberi petunjuk kita kepada fase kemenangan umat islam.
Mohon penjalasan dari anda pak.
Wassalamu.alaikum
ahmad imaddudin @surabaya

Anonim mengatakan...

lha terus siapakah guru Nabi Muhammad SAW?

Anonim mengatakan...

sepengetahuan saya nabi Isa Alaihissalam tidak membuat syariat baru dan mengikuti syariat nabi muhammad sholallohu 'alaihi wassalam.
dan beliau menjadi ma'mum terhadap imam mahdi dalam sholat shubuh.

akan bermanfaat jika antum membaca Risalah nabi Isa Vs Dajjar (Syaikh Albani)

Arif Rahman

Anonim mengatakan...

Muhammad Rasulullah langsung dibimbing oleh Malaikat Jibril.

Anonim mengatakan...

nah,, sudah jelas kan
Rasulullah SAW. saja masih punya guru yaitu malaikat Jibril
masa' kita yang jauh lebih dhaif iman dan pemahamannya dari Rasulullah berguru pada internet, pada syaikh Google, pada syaikh Facebook,yang notabene buatan yahudi kan aneh bin konyol
rasional saja dalam berfikir

Anonim mengatakan...

Dalam mengkaji ilmu agama tetaplah harus berguru, lihatlah disekitar kita, cara orang wudhu pada saat membasuh kepala, ada yang hanya airnya ditepuk2kan ke kepala, kmd posisi orang sholat yang sedang rukuk punggungnya nekuk kayak punggung onta, tangannya memegang sampai bawah lutut, matanya merem/melihat kaki (saya tidak mengatakkan wudu atau sholat dia tidak sah), padahal kan di hadits nya tdk demikian, lha kalau dia belajar tanpa ada yg membimbing kan jadinya tdk ada yg mengarahkan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tidak ada yang mengatakan bahwa mengkaji agama tidak perlu guru.

Anonim mengatakan...

Ane ada tebak-tebakan nie buat mas Abu-Abu, Siapakah Guru Al-Bani sang muhadist abad ini? hayo siapa yang bisa jawab......

Imron mengatakan...

@ Anonim 19 Juni 2013 13.32

Mau tau aja atau mau tau banget nih?

Anonim mengatakan...

@ Anonim 19 Juni 2013 13.32

Silakan baca link di bawah ini maka anda akan tahu siapa guru-guru Syaikh Al-Bani.
http://almanhaj.or.id/content/2324/slash/0/sembilan-tuduhan-dusta-terhadap-syaikh-al-albani/

Anonim mengatakan...

Bahlul… belajar lagi deh. Tapi gimana yah… dia aja nggak punya guru.... Hadeeuh

Anonim mengatakan...

Rasulullah pun belajar dan tidak baca buku.

Arintya Wardhani mengatakan...

MempeLaJaRi aGama meMang perLu guRu. Ada baik'a sbLm berguRu kTa pny dasaR duLu Seperti arti dR aL Qur'an dan hadis. Nah ,, Dr yg sdh dbca aRtinya tsb mngkn kiTa pengen Tau Lbh daLam mksud/TaFsirannya. BaRu Laa kiTa mncaRi guRu utk mneRangln mksuD2 / TaFsiRn2 nya. Jd waT sya brGuru bknnya asaL brguRu. Tp kta sdh pny dsR dan sdh mmLiki prTanyaan2 ats aPa yg kt ingin pLaJaRi. Dan gunanya kT mmliki dsr trLbh dhLu aGar kTa tau kL guRu tsB mgaJrkn yg beNar aTo Ada sesatnya.
Mohon maaF kL mgkn mnuRut sya sLh. Krna msg2 oRg psTi pny pndpt baiknya sndRi. Mau Lgsg bLajar pd guru , aTo pun mau bcA2 dL sprTi sy bRu brguRu trsRh bgmna baiknya. Yg TrpnTing iLmu yg dproLeh nnTi'a Yg bnR2 SesuaI yg RasuL aJarkn. Kl ada yg sLh aTo mnympng sLng mgingaTkn. Krna nnTi Allah akn mmbgi umaT ini pd 70 goLongan. Dan Doa sy smg kT dmskn k dLm goLongan yg Allah Ridhoi. Amin. Wassalam

UntukPerbaikan mengatakan...

bgaimana menurut antum klo ada yg bilang seperti ini:"sedikit mengomentari pernyataan bin baz di sana. sebenaranya walaupun tidak dikatakan laisa bi haditsin semua orang paham kalau itu bukan hadits.. tapi kalau dikatakan la ashla lahu, ibnu baz ini terlalu lebay atau mungkin ia hanya belajar lewat internet wallahu a'lam... guru itu penting tapi bukan asala guru lo.. karena dengan gru tersebut bisa diambil sanad keilmuan sampai kepada rasulullah."

Muhammad Yordan mengatakan...

Syaikh Albani nggak punya guru?
Ckckck

Ente terlalu kemakan fitnah yang dilancarkan kaum Sufiyyin mas..

Bahkan Wikipedia bikinan kaum Orientalis & sering menyudutkan ajaran Salaf (fundamental) aja tau, masak ente yang jelas-jelas orang Islam & bisa dateng ke murid-muridnya di Yordania malah nggak tau?

Wikipedia - Muhammad Nashiruddin Al-Albani

yusuf mudadalam mengatakan...

Senangnya membaca tulisan dan komen-komennya, seperti senangnya saat berbuka puasa.

Hasil pengkajian saya yang masih jahl ini,...
Belajar adalah tugas awal s/d akhir, bila ada sedikit saja mempunyai rasa lebih bisa/tahu/pintar, itu dapat menyebabkan tertutupnya "Hikmah"...

Salah pasti ada, u. itu saya mohon maaf.
Wassalamu'laikumwarohmatullohi wabarokatuh.

Anonim mengatakan...

ini pengalaman saya, saya org yang suka membaca apalagi mngenai agama . dan saya tanpa sengaja membaca buku slah satu aliran . seketika saya sedikit demi sedikit mulai mengamalkan perintah2 yg ada d buku tsb .. setelah itu saya bertemu seorang guru, dan beliau menawarkan saya untuk d ruqyah .. setelah di ruqyah saya di sarankan beliau utk brhnti mncari ilmu atau mmbca bku tnpa ada guru . saya juga bingung knpa beliau bsa tau ,. kata beliau kalau dpat ilmu baru minimal ada seorang guru yang meng 'iya' kan .

Januar Basuki mengatakan...

Syaikh Al-Albani memang suka membaca, tapi bukan berarti beliau tak suka bermajlis.

Tercatat dalam jajaran guru-guru beliau yaitu:
1) Syaikh Nuh bin Adam An-Najati, ayahnya sendiri, seorang Ulama Albania bermadzhab Hanafi.
2) Syaikh Muhammad Bahjatul Baitar, seorang Ahli Hadits dari kota Homs.
3) Syaikh Muhammad Raghib At-Tabbakh, seorang Ahli Sanad sekaligus Sejarawan dari kota Aleppo.
4) Dll..

Selengkapnya.

Anonim mengatakan...

terus kita belajar ilmu agama sama siapa? sekolah umum aja pakai guru bagaimana dengan ilmu agama tanpa guru ...

Anonim mengatakan...

bagaimana kita tahu cara sholat, cara berwudhu, cara ber zakat, cara berpuasa, cara ber haji kalau kita tidak berguru dengan ahli ilmu agama...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Artikel di atas bukan menyuruh untuk belajar tanpa guru, akan tetapi hanya mengomentari perkataan yang berasal dari orang-orang sufi tersebut.

Kita belajar melalui melalui guru (ini yang terbaik), buku, atau media-media lain yang memungkinkan untuk bisa kita ambil ilmunya.

aby syifa mengatakan...

Siapa pun bsa hafal banyak dalil alquran dan hadist mungkin hanya sebatas tekstual tapi prakteknya mereka tdk mengerti utk bisa mengerti dg benar butuh seorang guru yang bersambung sampai ke Rasulullah