Lemah Hadits : “Wahai Rasulullah, Apakah Sebagian Kami Boleh Membungkukkan Badan kepada Sebagian yang Lain ?......dst”.


Al-Imaam Ibnu Maajah rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ ؟ قَالَ: " لَا "، قُلْنَا: أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: " لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا "
Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Jariir bin Haazim, dari Handhalah bin ‘Abdirrahmaan As-Saduusiy, dari Anas bin Maalik, ia berkata : Kami pernah bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada sebagian yang lain (saat bertemu) ?”. Beliau menjawab : “Tidak”. Kami kembali bertanya : “Apakah sebagian kami boleh berpelukan kepada sebagian yang lain (saat bertemu) ?”. Beliau menjawab : “Tidak, akan tetapi saling berjabat tanganlah kalian” [As-Sunan no. 3702].

Jariir bin Haazim dalam periwayatan dari Handhalah mempunyai mutaaba’aat dari :
1.    Marwaan bin Mu’aawiyyah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad[1] dalam Al-Musnad 3/198.
2.    ‘Abdullah bin Al-Mubaarak; sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidziy[2] no. 2728.
3.    Hammaad bin Zaid; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ya’laa[3] no. 4287 & 4289,  Ath-Thahawiy[4] dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/281, Al-Bazzaar[5] dalam Al-Bahr no. 7361, Ibnu ‘Adiy[6] dalam Al-Kaamil 3/341, Al-Baihaqiy[7] dalam Al-Kubraa 7/100, Ibnu ‘Abdil-Barr[8] dalam At-Tamhiid 21/16, Adl-Dliyaa’[9] dalam Dzikrul-Mushaafahah no. 13, Muhammad bin ‘Abdillah Ad-Daqqaaq[10] dalam Al-Fawaaid no. 62, dan Al-Mizziy[11] dalam Tahdziibul-Kamaal 7/450.
4.    Hammaad bin Salamah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy[12] dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/281.
5.    Yaziid bin Zurai’; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy[13] dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/281 dan Muhammad bin Ayyuub Ar-Raaziy[14] dalam Hadiits-nya no. 69.
6.    Syu’bah bin Al-Hajjaaj; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bazzaar[15] dalam Al-Bahr no. 7362, Ibnu ‘Adiy[16] dalam Al-Kaamil 3/342, dan An-Naqqaasy[17] dalam Fawaaidul-‘Iraaqiyyiin no. 4.
7.    Hisyaam bin Hassaan; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Firyaabiy[18] dalam Mimmaa Asnada Sufyaan bin Sa’iid Ats-Tsauriy no. 105, Al-Bazzaar[19] dalam Al-Bahr no. 7360 dan ‘Abd bin Humaid[20] no. 1215.
8.    Abu Hilaal, Muhammad bin Saliim Ar-Raasibiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy[21] dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/281, Ibnu ‘Adiy[22] dalam Al-Kaamil 3/341-342, Adz-Dzahabiy[23] dalam Mu’jamusy-Syuyuukh Al-Kabiir 1/401, Syaibaan bin Farruukh[24] dalam Juz-nya no. 81, Ibraahiim bin ‘Abdish-Shamad Al-Haasyimiy[25] dalam Al-Amaaliy no. 23, dan Ibnu Basyraan[26] dalam Al-Amaaliy no. 34.
9.    Abu Khaalid Al-Ahmar; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr[27] dalam At-Tamhiid 21/15.
Riwayat ini lemah dikarenakan Handhalah bin ‘Abdirrahmaan As-Saduusiy. Jumhur ulama telah melemahkannya.
Yahyaa Al-Qaththaan berkata : “Aku melihatnya dan aku meninggalkannya dengan sengaja, karena telah bercampur hapalannya” [Adl-Dlu’afaa’ Ash-Shaghiir lil-Bukhaariy no. 86]. Ahmad bin Hanbal berkata : “Dla’iif”. Di lain tempat ia berkata : “Meriwayatkan dari Anas bin Maalik hadits-hadits munkar”. Di lain tempat ia berkata : “Munkarul-hadiits” [selengkapnya lihat : Mausu’ah Aqwaal Al-Imaam Ahmad, 1/319-320 no. 647]. Al-Bukhaariy memasukkannya dalam jajaran perawi dla’iif [Adl-Dlu’afaa Ash-Shaghiir no. 86]. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Dla’iif” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/241 no. 1069, Suaalaat Abi Ishaq Al-Junaid hal. 219 no. 830, dan Al-Majruuhiin 1/325 no. 273]. Di lain tempat ia berkata : “Haditsnya tidak ada apa-apanya” [Al-Kaamil, 3/340-341]. Di  lain tempat ia berkata : “Berubah hapalannya di akhir umurnya” [Taariikh Ad-Duuriy, 2/140 dan Adl-Dlu’afaa’ lil-‘Uqailiy hal. 311 no. 355]. Abu Zur’ah Ar-Raaziy menyebutkannya dalam Asaamiyyudl-Dlu’afaa’ [no. 88 – melalui perantaraan Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil, 1/203 no. 1050]. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun no. 164]. Abu Haatim berkata : “Tidak kuat (laisa bi-qawiy)” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/241 no. 1069]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia diingkari oleh orang-orang yang mengingkari riwayatnya karena hapalannya bercampur di akhir umurnya” [Al-Kaamil, 3/343]. Al-Baihaqiy berkata : “Hapalannya bercampur di akhir umurnya” [Al-Kubraa 7/100 & Asy-Syu’ab 6/476 – melalui perantaraan Ad-Durrun-Naqiy hal. 95 no. 270]. Al-‘Uqailiy menyebutkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ [hal. 310-311 no. 355]. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat [4/167], namun ia juga menyebutkannya dalam Al-Majruuhiin [1/325 no. 273] dan berkata : “Hapalannya bercampur hingga ia tidak mengetahui apa yang ia riwayatkan”. Ibnul-Jauziy memasukkanya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun [1/241-242 no. 1042]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam jajaran perawi dla’if [Al-Mughniy 1/298 no. 1805 dan Diiwaan Adl-Dlu’afaa’ hal. 107 no. 1185]. Ibnu Hajar berkata : “Dla’iif” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 279 no. 1592].
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Ash-Shahiihah [1/298-302 no. 160] menyebutkan mutaaba’aat atas Handhalah :
1.    Syu’aib bin Al-Habhaab.
Beliau (Asy-Syaikh Al-Albaaniy) berkata : “Diriwayatkan oleh Adl-Dliyaa’ dalam Al-Muntaqaa (87/2) dari jalan Abu Bilaal Al-Asy’ariy : Telah menceritakan kepada kami Ibnur-Rabii’, dari Hisyaam bin Hassaan, dari Syu’aib dengan hadits tersebut. Hanya saja ia menyebutkan sujud sebagai ganti al-iltizaam. Sanad riwayat ini hasan dalam mutaaba’aat, karena Qais bin Ar-Rabii’ shaduuq, akan tetapi berubah hapalannya ketika tua, dan Abu Bilaal Al-Asy’ariy – namanya Mirdaas – dilemahkan oleh Ad-Daaruquthniy namun Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Adapun para perawi di atasnya, semuanya tsiqaat, termasuk para perawi Asy-Syaikhain”.
Yang benar, riwayat itu sanadnya lemah. Abu Bilaal Al-Asy’ariy telah dilemahkan oleh Abu ‘Abdillah Al-Haakim, Ad-Daaruquthniy, dan Al-Baihaqiy. Adapun tautsiq Ibnu Hibbaan tidaklah diterima – selain karena ia dikenal sebagai ulama yang tasahul - , ia juga menyendiri dalam pentautsiqannya tersebut. Juga Qais bin Ar-Rabii’ yang telah disebutkan kelemahannya oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy (berubah hapalannya di akhir usianya).
2.    Katsiir bin ‘Abdillah.
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata : “Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Ar-Rubaa’iyyaat (172/2) dan Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil (6/65) dari dua jalan, dari Katsiir bin ‘Abdillah”.
Katsiir bin ‘Abdillah bin ‘Amr Al-Muzanniy Al-Madaniy, para ulama sepakat untuk melemahkannya, sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abdil-Barr. Bahkan, banyak ulama yang men-jarh-nya dengan jarh yang keras. Asy-Syaafi’iy berkata : “Salah seorang di antara pendusta”. Ahmad berkata : “Munkarul-hadits”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak ada apa-apanya (laisa bi-syai’)”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya”. An-Nasaa’iy berkata : “Matruukul-hadiits”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak tsiqah”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruukul-hadiits”. Ibnu Hibbaan berkata : “Munkarul-hadiits jiddan”. Abu Daawud berkata : “Salah seorang di antara pendusta”. Abu Zur’ah berkata : “Waahiyul-hadits, laisa bi-qawiy”.
Oleh karena itu, riwayat Katsiir ini sangat lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai penguat.
3.    Al-Muhallab bin Abi Shafrah.
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata : “Diriwayatkan oleh Adl-Dliyaa’ dalam Al-Muntaqaa (23/1) dari jalan ‘Abdul-‘Aziiz bin Abaan : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Thuhmaan, dari Al-Muhallab, dengan hadits tersebut. Aku (Al-Albaaniy) berkata : ‘Al-Muhallab termasuk para pemimpin yang tsiqaat sebagaimana dalam At-Taqriib. Akan tetapi sanad yang sampai kepadanya waahin, karena ‘Abdul-‘Aziiz bin Abaan seorang yang matruuk. Ibnu Ma’iin dan yang lainnya telah mendustakannya sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafidh. Oleh karena itu, riwayat ini tidak bisa digunakan sebagai mutaba’ah…”.
Apa yang dikatakan oleh beliau rahimahullah adalah benar.
Dengan demikian, hanya tersisa riwayat Syu’aib bin Al-Habhaab saja. Berat rasanya menjadikan riwayatnya itu sebagai penguat riwayat Handhalah. Apalagi melihat Al-Imaam Ahmad secara khusus mencacatkan hadits tersebut.
Telah berkata Shaalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal : Telah berkata ayahku (Ahmad bin Hanbal) :
كان حنظلة السدوسي ضعيف الحديث يروي عن أنس بن مالك أحاديث مناكير ، روى: أينحني بعضنا لبعض
“Handhalah As-Saduusiy, dla’iiful-hadiits. Ia meriwayatkan dari Anas hadits-hadits munkar, (di antaranya) meriwayatkan hadits : ‘Apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada sebagian yang lain (saat bertemu) ?’” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/241].
Pengingkaran Ahmad bin Hanbal terhadap hadits tersebut juga di-report oleh Al-‘Uqailiy melalui riwayat Ibnu Haani’ [Adl-Dlu’afaa’, hal. 310].
Di antara ulama kontemporer yang melemahkan hadits ini antara lain : Mushthafaa Al-‘Adawiy dalam takhrij-nya atas Al-Muntakhab min Musnad ‘Abd bin Humaid 2/241-242, Husain Saalim Asad dalam takhrij-nya atas Musnad Abi Ya’laa 7/270, Syu’aib Al-Arna’uth & ‘Aadil Mursyid dalam takhrij-nya atas Musnad Ahmad 20/340, Basyaar ‘Awwaad dalam takhrij-nya atas Sunan Ibni Maajah 5/277, dan yang lainnya.
Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ al-bogoriy – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yogyakarta, 1432].


[1]     Riwayat :
حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السَّدُوسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحَدُنَا يَلْقَى صَدِيقَهُ، أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " لَا " قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ " لَا " قَالَ: فَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنْ شَاءَ "
[2]     Riwayat :
حَدَّثَنَا سُوَيْدٌ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ "، قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
[3]     Riwayat :
4287 :
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟، قَالَ: " لا "، قَالَ: فَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟، قَالَ: لا، قَالَ: فُيُصَافِحُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: " تَصَافَحُوا "
4289 :
حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، قَالَ: سَمِعْتُ حَنْظَلَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟، قَالَ: " لا "، قُلْتُ: فَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟، قَالَ: " لا "، قَالَ: فُيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟، قَالَ: " نَعَمْ "
[4]     Riwayat :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ: ثَنَا حَجَّاجُ، قَالَ: ثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَحَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَيَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُمْ قَالُوا: " يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ، إِذَا الْتَقَيْنَا؟، قَالَ: لا، قَالُوا: فَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا. قَالُوا: أَفَيُصَافِحُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: تَصَافَحُوا "
[5]     Riwayat :
وَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى، نَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِهِ.
[6]     Riwayat :
ثنا أَبُو يَعْلَى، ثنا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: " قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا، قِيلَ: فَيَلْزَمُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا، قِيلَ: فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: نَعَمْ ".
أَخْبَرَنَا السَّاجِيُّ، سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ مُوسَى الْحَرَشِيُّ، يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلامُ نَحْوَهُ.
[7]     Riwayat :
وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُقْرِي، ثنا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، ثنا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا أَبُو الرَّبِيعِ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، ثنا حَنْظَلَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: نَعَمْ "،
وَهَذَا يَتَفَرَّدُ بِهِ حَنْظَلَةُ السَّدُوسِيُّ وَقَدْ كَانَ اخْتَلَطَ، تَرَكَهُ يَحْيَى الْقَطَّانُ لاخْتِلاطِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
[8]     Riwayat :
21/16 :
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شُعَيْبٍ الْمَعْمَرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو هِلالٍ الرَّاسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَنْظَلَةُ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ الْمَعْمَرِيُّ: وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ السَّدُوسِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: " يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا، وَلَكِنْ تَصَافَحُوا ". وَقَالَ حَمَّادٌ فِي حَدِيثِهِ: قَالُوا: فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: " تَصَافَحُوا "
[9]     Riwayat :
أَخْبَرَنَا أَبُو الْمَجْدِ زَاهِرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَامِدٍ بِأَصْبَهَانَ، أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الخَلالَ أَخْبَرَهُمْ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَنْصُورٍ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، قَالَ: سَمِعْتُ حَنْظَلَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، " أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَيَلْزَمُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: نَعَمْ "،
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، عَنْ سُوَيْدِ بْنِ نَصْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، وَرَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ وَكِيعٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ، كِلاهُمَا عَنْ حَنْظَلَةَ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ
[10]    Riwayat :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، ثنا إِسْحَاقُ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قِيلَ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا. قَالَ: فَيَلْزَمُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: لا. قَالَ: فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: تَصَافَحُوا "
[11]    Riwayat :
أخبرنا به أبو الحسن ابن البخارى ، و أحمد بن شيبان ، و إسماعيل ابن العسقلانى ، و زينب بنت مكى قالوا : أخبرنا أبو حفص بن طبرزد ، قال : أخبرنا أبو القاسم ابن الحصين ، قال : أخبرنا أبو طالب بن غيلان ، قال : أخبرنا أبو بكر الشافعى ، قال : حدثنى إسحاق بن الحسن الحربى قال : حدثنا أبو سلمة ، قال : حدثنا حماد ، قال : أخبرنا حنظلة السدوسى عن أنس بن مالك ، قال : قيل : يا رسول الله إذا لقى أحدنا أخاه يحنى له ظهره ؟ قال : لا ، قال : فيلتزمه و يقبله ، قال : لا ، قال : فيصافحه ، قال : نعم .
[12]    Riwayat :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ: ثَنَا حَجَّاجُ، قَالَ: ثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَحَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَيَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُمْ قَالُوا: " يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ، إِذَا الْتَقَيْنَا؟، قَالَ: لا، قَالُوا: فَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا. قَالُوا: أَفَيُصَافِحُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: تَصَافَحُوا "
[13]    Riwayat :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ: ثَنَا حَجَّاجُ، قَالَ: ثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَحَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَيَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُمْ قَالُوا: " يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ، إِذَا الْتَقَيْنَا؟، قَالَ: لا، قَالُوا: فَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا. قَالُوا: أَفَيُصَافِحُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: تَصَافَحُوا "
[14]    Riwayat :
حَدَّثَنَا يُوسُفُ، ثَنَا مُحَمَّدٌ، ثَنَا يَزِيدُ، هُوَ ابْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ حَنْظَلَةُ السَّدُوسِيُّ: عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ يَلْقَى أَخَاهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ: " لا ". قَالَ: فَيُقَبِّلُهُ وَيَلْتَزِمُهُ، قَالَ: " لا ". قَالَ: فَيُصَافِحُهُ، قَالَ: " نَعَمْ "
[15]    Riwayat :
7362 :
وَنَاهُ طُلَيْقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَاسِطِيُّ، نَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنَا شُعْبَةُ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِ هِشَامٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ
وَلا نَعْلَمُ رَوَى هَذَا الْكَلامَ إِلَّا حَنْظَلَةُ، عَنْ أَنَسٍ، وَإِنَّمَا ذَكَرْنَاهُ لأَنَّ حَدِيثَهُ بِهَذَا الْحَدِيثِ، وَلَا نَعْلَمُ رَوَى حَدِيثَ شُعْبَةَ، عَنْ حَنْظَلَةَ إِلَّا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ
[16]    Riwayat :
أخبرنا الساجي، حدثني محمد بن مسلمة، ثنا يزيد بن هارون، ثنا شعبة، عن حنظلة السدوسي، عن أنس قال : قال أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم للنبي : الرجل يلقى الرجل فيقبله ويعانقه ؟. قال : لا. قال : فينحني له ؟. قال : لا. قال : فيصافحه ؟. قال : نعم. ورخص ذلك
[17]    Riwayat :
أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ الْوَاسِطِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ الْوَاسِطِيُّ، ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ، الرَّجُلُ يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ: " لَا "، قَالَ: " فَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا "، قَالَ: " فَيَأْخُذُهُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ "، وَرَخَّصَ فِيهِ
[18]    Riwayat :
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قُلْنَا: " يَا رَسُولَ اللَّهَ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا، قَالَ: نَعَمْ "
[19]    Riwayat :
7360 :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا فَقَالَ: لا قِيلَ: فَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ: لَا قَالَ: فَنَتَصَافَحُ قَالَ: تَصَافَحُوا.
[20]    Riwayat :
حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: " قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا، قُلْنَا: أَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا، قُلْنَا: أَفَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: نَعَمْ "
[21]    Riwayat :
حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، قَالَ: ثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: ثَنَا أَبُو هِلالٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَهُ
[22]    Riwayat :
ثنا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى، ثنا شَيْبَانُ، حَدَّثَنَا أَبُو هِلالٍ، ثنا حَنْظَلَةُ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَكَرَ نَحْوَهُ.
ثنا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى، ثنا شَيْبَانُ، حَدَّثَنَا أَبُو هِلالٍ، ثنا حَنْظَلَةُ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: " يَا رَسُولَ اللَّهِ. .. ." فَذَكَرَهُ
[23]    Riwayat :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، أنا عُثْمَانُ بْنُ عَلِيٍّ، سَنَةَ سِتٍّ وَخَمْسِينَ وَسِتِّ مِائَةٍ، عَنْ أَبِي طَاهِرٍ السَّلَفِيِّ، أنا أَبُو غَالِبٍ الْبَاقِلانِيُّ، أنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مُحَمَّدٍ، أنا عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ، أنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ اللَّيْثِ، بِالْبَصْرَةِ، نا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، نا أَبُو هِلالٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسٍ: إِنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: " لا "، قَالُوا: فَيَسْجُدُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ؟ قَالَ: " لا، وَلَكِنْ تَصَافَحُوا ".
تَابَعَهُ جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ حَنْظَلَةَ، أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَالْقَزْوِينِيُّ، وَإِسْنَادُهُ صَالِحٌ، فَقَدْ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ وَغَيْرُهُ: إِنَّ حَنْظَلَةَ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ
[24]    Riwayat :
حَدَّثَنَا أَبُو هِلالٍ، نا حَنْظَلَةُ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِنِ الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: " لا ". قَالَ: أَيَسْجُدُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: " لا، وَلَكِنْ تَصَافَحُوا "
[25]    Riwayat :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو هِلالٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَجُلا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: " لا ". قَالَ: يَلْتَزِمُ بَعْضُنَا بَعْضًا إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: " لا، وَلَكِنْ تَصَافَحُوا
[26]    Riwayat :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا أَبُو بَكْرٍ الْبَاغَنْدِيُّ، ثنا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخٍ الْأُبُلِّيُّ، ثنا أَبُو هِلالٍ الرَّاسِبِيُّ، ثنا حَنْظَلَةُ يَعْنِي السَّدُوسِيَّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: " يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا. قَالُوا: فَيَسْجُدُ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ: لا، وَلَكِنْ تَصَافَحُوا "
[27]    Riwayat :
21/15 :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سُفْيَانَ، وَسَعِيدُ بْنُ نَصْرٍ، قَالا: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ مَسَرَّةَ، وَقَاسِمُ بْنُ أَصْبَغَ، قَالا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَضَّاحٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ السَّدُوسِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: " قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا، قَالَ: لا، فَقُلْنَا: فَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ: لا، قُلْنَا: فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا، قَالَ: نَعَمْ "

Comments

Anonim mengatakan...

ustad, mengenai berdiri dari duduk ketika ada tamu datang itu kabarnya juga dilarang yah ustad...?

Anonim mengatakan...

Jadi, apakah kesimpulan perbahasan fiqh dari hadits ini? Adakah setiap muslimin boleh membungkukkan badan dan berpelukan saat bertemu (saat bermukim)?
Apa yang saya tahu sebelum ini adalah dianjurkan berjabat tangan tapi tidak berpelukan bagi muslimin yang bermukim dan berpelukan hanya bagi yang baru pulang dari safar.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

@Anonim pertama,.... silakan baca pembahasannya di artikel Berdiri untuk Seseorang

*****

@Anonim kedua, artikel di atas hanyalah membahas takhrij hadits saja sebenarnya, yang kesimpulannya bisa antum baca. Adapun fiqh hadits, maka memang sengaja tidak saya singgung dulu untuk 'memperpendek' bahasan. Namun singkatnya :

Berjabat tangan disunnahkan setiap kali bertemu, berdasarkan hadits :

ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يتفرقا

“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu, kemudian mereka berdua saling berjabat tangan, melainkan akan diampuni (dosanya) sebelum keduanya berpisah” [Shahih, lihat Ash-Shahiihah nomor 525].

Adapun berpelukan, maka kebiasaan salaf (para shahabat) melakukannya saat baru pulang dari safar :

عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّ " أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا إِذَا الْتَقَوْا، تَصَافَحُوا، وَإِذَا قَدِمُوا مِنْ سَفَرٍ، تَعَانَقُوا "

Dari Asy-Sya'biy : Bahwasannya para shahabat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam jika mereka bertemu, saling berjabat tangan; dan jika mereka pulang dari safar, saling berpelukan [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dan Ath-Thabaraniy; shahih].

Adapun membungkukkan badan, maka para ulama menjelaskan maknanya adalah rukuk atau sujud. Jika membungkukkan badan itu seperti membungkukkan ketika rukuk dan sujud, maka ini tidak diperbolehkan.

Sebagian ulama membolehkan membungkukkan badan jika tidak sampai seperti rukuk dan sujud (sebagaimana dijelaskan dalam Fawaakihud-Dawaaniy 'alaa Risaalah Ibni Abi Zaid Al-Qiirawaaniy).

Namun sebagian ulama tetap memakruhkannya (seperti Syaikhul-Islaam).

Syaikh Ibnu Jibriin mengatakan bahwa haram hukumnya membungkukkan badan, karena membungkukkan badan itu hanya boleh ditujukan kepada Allah ta'ala saja. Namun seandainya orang yang kita salami itu adalah orang yang tidak mampu berdiri, atau orang tua kita yang sedang duduk yang kita tidak mau membuat ia bangkit; maka boleh kita membungkukkan badan agar dapat bersalaman dengannya atau berpelukan dengannya (lihat : sini.

wallaahu a'lam.

rasi mengatakan...

Terimakasih ustad untuk penjelasannya , khususnya atas pertanyaan akh anonim diatas , dan ana paham.

Maklumlah ustad , untuk yang di artikelnya sendiri terlalu berat untuk praktisi seperti ana ini, sebenarnya sudah beberapa artikel ana coba simak dan hafalkan beberapa hal penting didalamnya tapi sulit .

Anonim mengatakan...

Bismillah. Ust, saya pingin belajar takhrij hadits dan buat pembahasan masalah. Cuman kesulitan cari pengajarnya. Sy ada kemampuan sedikit baca kitab dan beberapa ilmu dasar, seperti mustolah, usul fiqih, jarh wa ta'dil dll. cmn belum pernah praktek menulis. Bisa meluangkan waktu untuk mengajari sy ust?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

antum bisa belajar ke ustadz abu qatadah, ustadz 'abdul-hakiim, atau yang lainnya. beliau jauh lebih mumpuni dalam bidang itu.

Anonim mengatakan...

Mohon maaf sebelumnya ustadz, karena pertanyaan saya keluar dari tema tulisan diatas

1. Apakah definisi hadits syadz menurut ulama hadits ?

2. Apakah ada perbedaan ulama' dalam pendefinisian hadits syadz ?

3. Jika ada khilaf diantara para ulama', maka definisi manakah yang lebih benar (rajih) ?

4. Hadits tentang berisyarat ketika tasyahud dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk apakah termasuk dalam kategori hadits syadz ?

5. Saya berharap antum bisa meluangkan waktu membahas hadits tentang masalah ini (no4)

Maaf ustadz, banyak pertanyaan

Jazakalloh khoiron

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

1. Definisinya :

"Ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih tsiqah darinya , tanpa ada kemungkinan untuk menjamaknya"

Itu definisi yang saya ambilkan dalam al-fushuul fii mushthalahi hadiitsir-rasuul karya tsanaaullah az-zaahidiy.

definisi yang banyak tercantum dalam buku2 mushthalah kontemporer.

2. ya.

3. panjang....

4. ada yang mengkatagorikan syaadz, ada pula yang tidak - tergantung sisi pandang dalam melihat pendefinisiannya.

5. saat ini (di kolom komentar ini) belum bisa.