Tantangan Ghulam Ahmad Al-Kadzdzaab terhadap Asy-Syaikh Tsanaaullah Al-Amritsariy rahimahullah


Saya yakin rekan-rekan pernah mendengar nama Ghulam Ahmad Al-Qaadiyaaniy, seorang pendusta yang mengaku-ngaku Nabi. Dan saya pun yakin bahwa sebagian besar di antara rekan-rekan telah mendengar atau mengetahui bagaimana akhir kehidupan tragis si pendusta ini, termasuk kesombongannya dengan tantangan mubaahalah.

Nah, berikut ini adalah surat tantangan mubaahalah Ghulam Ahmad Al-Kadzdzab terhadap seorang ‘aalim rabbaniy Asy-Syaikh Tsanaullah Al-Amritsariy rahimahullah atas klaim kenabian dirinya. Akhirnya, Allah pun menimpakan laknat dengan mematikan dirinya di atas kesesatan dan termakan doanya sendiri.
Ghulam Ahmad Al-Kadzdzab menulis :
بسم الله الرحمن الرحيم
نحمده ونصلى على رسوله الكريم , يسألونك أحق هو قل إى وربى إنه لحق.
إلى خدمة الأستاذ ثناء الله.
السلام على من اتبع الهدى , من زمان وأنا أُكذّب وأُفسّق فى مجلتكم : أهل حديث . ودائماً تسموننى فى مجلتكم هذه ملعوناً كذاباً ودجالاً مفسداً , وتشهرنى فى العالم بانى مفترى كذاب دجال , وأفترى فى دعواى المسيحية , فانا تأذيت منك كثيراً وصبرت , ولكنى لما رأيت نفسى بأنى مأمور لنشر الحق وأنت تمنع العالم من التوجه إلى بسبب افتراءاتك علىّ إن أنا كذاب ومفترى , فأدعو إن أنا كذاب ومفتري كما تذكرني في مجلتك فأهلك في حياتك؛ لانى أعلم أن عمر الكذاب والمفسد لا يكون طويلاً بل هو يموت خائباً فى حياة أشد أعدائه بالذلة والهوان وتكون فى موته منفعة لعباد الله , حيث لا يضلهم فإن لم أكن كذاباً ومفترياً , بل أكون متشرفاً بمخاطبة الله والمكالمة معه , وأكون مسيحياً موعوداً فأدعو أن لا تنجو من عاقبة المكذبين , حسب سنة الله فأعلن :
إن لم تمت أنت فى حياتى بعقاب الله , الذى لا يكون من عند الله محضاً مثل أن يموت بمرض الطاعون أو الكوليرا , فلن أكون مرسلاً من الله تعالى , وهذا لا أقول نبوءة , بل طلبت القضاء من الله تبارك وتعالى , وأدعو الله , يا مولاى البصير القدير , العليم الخبير , يا عالم أسرار القلوب , إن أنا كاذب ومفسد فى نظرك , وأفترى عليك ليلاً ونهاراً يا الله , فأهلكنى فى حياة الأستاذ ثناء الله , وسره وجماعته بموتى , آمين.
ويا الله إنا صادق , ثناء الله علىّ باطل , وكذّاب فى التهم التى يلصقها بى , فأهلكه - يا رب العالمين - فى حياتى بالأمراض المهلكة , مثل الطاعون أو الكوليرا أو غيره من الأمراض , آمين . يارب أنا أوذيت وصبرت , ولكنى أرى الآن أنه قد تجاوز الحد , وانه يظننى أفسق من السارقين , والغاصبين الذى يضرون العالم , ويحسبنى أرذل خلق الله وقد شهرنى فى البلدان النائية بأنى فى الحقيقة مفسد ونهاب وطماع وكذاب ومفترى وخبيث وإن لم يكن لهذه الكلمات صدى , كنت صبرت عليه ولكنى أرى أن ثناء الله يريد بهذه التهم أن يفنى دعوتى , ويهدم عمارتى التى بنيتها أنت يا رب ويا من أرسلتنى ولذا ألتجأ إليك يا الله آخذاً بذيل رحمتك وتقدسك فاقض بينى وبين ثناء الله بالحق وأهلك الكذاب والمفسد فى حياة الصالح , أو ابتليه فى آفة , تكون مثل الموت , فافعل هكذا يا ربى الحبيب , آمين ثم آمين : ( رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ) [الأعراف : 89 ] 
وأخيراً أرجو من الأستاذ ثناء الله أن ينشر هذه النشرة فى مجلته , ثم يعلق عليها ما يشاء فالقضاء الآن بيد الله.
الراقم :
عبد الله الصمد غلام أحمد المسيح الموعود , عافاه الله وأيده 
Bismillahir-rahmaanir-rahiim.
Kami memuji dan mengucapkan shalawat kepada Rasul yang mulia. Mereka bertanya kepadamu : ‘Apakah hal itu benar ?’. Katakanlah : ‘Ya, demi Rabbku bahwasannya ia memang benar’.
Kepada yang terhormat : Al-Ustaadz Tsanaaullah (Al-Amritsariy).
Assalaamu ‘alaa manit-taba’al-hudaa (semoga keselamatan tercurah kepada siapa saja yang mengikuti petunjuk).[1] Sudah beberapa waktu lamanya aku didustakan dan difasikkan dalam majalah kalian : Ahlul-Hadiits. Dan senantiasa kalian menyebutku dalam majalah itu terlaknat, pendusta, dajjal, dan perusak. Kalian juga menjelek-jelekkanku dengan mencemooh aku pendusta lagi pembohong, menganggap aku berbohong dalam klaim Al-Masiihiyyah.[2] Sungguh aku merasa sangat tersakiti atas omonganmu ini, namun aku mencoba bersabar. Akan tetapi ketika aku melihat diriku diperintah untuk menyebarkan kebenaran sedangkan engkau mencoba menghalang-halangi dunia menuju kepadaku dengan sebab kebohongan-kebohongan yang engkau alamatkan kepadaku,….. maka aku berdoa seandainya aku pendusta lagi pembohong sebagaimana yang engkau sebutkan dalam majalahmu, aku akan mati di masa kehidupanmu. Karena aku tahu umur seorang pendusta lagi pembohong tidaklah akan lama. Ia akan mati sebagai pecundang dalam kehidupan musuh bebuyutannya secara hina-dina. Kematiannya akan menjadi manfaat bagi hamba-hamba Allah (yang masih hidup), ketika ia tidak bisa menyesatkan mereka. Namun seandainya aku bukan seorang pendusta lagi pembohong, aku akan menjadi orang yang mulia/terhormat dengan firman Allah dan perbincangan bersama-Nya. Dan aku akan menjadi Al-Masiih Al-Mau’uud (yang dijanjikan). Oleh karena itu, aku akan berdoa agar engkau tidak selamat dari akhir kehidupan para pendusta berdasarkan sunnah Allah. Maka aku umumkan :
Seandainya engkau tidak mati di masa kehidupanku dengan hukuman Allah yang murni datang dari sisi-Nya semisal mati terserang penyakit thaa’uun atau kolera, maka aku bersaksi bahwa aku bukan seorang utusan Allah ta’ala. Ini tidaklah aku ucapkan sebagai ramalan, akan tetapi aku memohon putusan dari Allah tabaaraka wa ta’ala. Dan aku berdoa kepada Allah, wahai maulaku, Al-Bashiir, Al-Qadiir, Al-‘Aliim, Al-Khabiir,… Wahai, Dzat yang mengetahui rahasia-rahasia hati, seandainya aku pendusta dan perusak di sisi-Mu dimana aku berbohong kepadamu sepanjang malam dan siang ya Allah,… matikanlah aku di masa kehidupan Al-Ustadz Tsanaaullah. Gembirakanlah ia beserta kelompoknya dengan kematianku, amiin.
Ya Allah, namun seandainya aku benar dan tuduhan Tsanaaullah kepadaku itu baathil, dan ia dusta dalam tuduhan-tuduhannya yang dialamatkan kepadaku, matikanlah ia – ya Rabbal-‘aalamiin – di masa kehidupanku dengan penyakit yang membinasakan, seperti thaa’uun, kolera, atau yang lainnya dari macam-macam penyakit (yang membinasakan). Aamiin. Wahai Rabb, aku telah tersakiti dan aku pun bersabar. Akan tetapi, aku melihat sekarang bahwasannya ia telah melewati batas. Ia telah menyangkaku lebih fasik daripada para pencuri dan perampas yang merusak alam/dunia. Dan ia telah menganggapku makhluk yang paling hina, dan ia pun menjelek-jelekkanku di berbagai negeri bahwasanya aku ini sebenarnya perusak, perampok, rakus, pendusta, pembohong, lagi busuk. Seandainya kalimat-kalimat ini tidak bergema (di khalayak), niscaya aku akan tetap sabar kepadanya. Akan tetapi aku melihat Tsanaaullah menginginkan dengan tuduhan ini memadamkan dakwahku, menghancurkan bangunanku yang telah Engkau bangun, wahai Rabb, wahai Dzat yang telah mengutusku. Oleh karena itu, aku berlindung kepadamu ya Allah, dengan berpegang dengan ujung rahmat-Mu dan kesucian-Mu, putuskanlah antara aku dengan Tsanaaullah dengan kebenaran. Dan binasakanlah pendusta dan perusak di masa kehidupan orang yang benar, atau timpakanlah cobaan berupa penyakit hingga seperti kematian. Lakukanlah seperti ini wahai Rabb-ku tercinta, amiin, tsumma amiin. ‘Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya’ (QS. Al-A’raaf : 89).
Dan sebagai penutup, aku mohon kepada Al-Ustaadz Tsanaaullah untuk menyebarkan selebaran ini di majalahnya, kemudian silakan mengomentarinya semaunya, karena keputusan sekarang sudah berada di tangan Allah.

Ttd :
‘Abdullah Ash-Shamad Ghulaam Ahmad Al-Masiih Al-Mau’uud
[selesai – selebaran Al-Ghulaam Al-Qaadiyaaniy yang dipublikasikan tanggal 15 April 1907 M, yang dimuat dalam Tabliigh Risaalaat, 1/120]
Sepuluh hari setelah pengumuman ini disebarkan oleh Ghulam Ahmad, ia berkata dengan pongahnya :
إن كل ما قيل عن ثناء الله ليس من عبد أنفسنا، بل من قبل الله، كما ألهمت الليلة عن الدعاء الذي دعوته ((أجيب دعقة الداع)) ومعنى هذا الالهام أن دعوتي قد قبلت
“Sesungguhnya setiap hal yang dikatakan tentang Tsanaaullah, bukanlah berasal dari diriku sendiri, akan tetapi berasal dari Allah, sebagaimana ilham yang aku terima semalam tentang doa yang aku panjatkan : ‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa’ ; yang makna dari ilham ini : doaku telah dikabulkan (oleh Allah)” [Koran Al-Qaadiyaaniyyah, Al-Badr, edisi 25 April 1907 M].
Jadi, ia dengan tantangannya itu telah memastikan bahwasannya doanya diterima. Siapakah yang hendak diyakinkan oleh pendusta ini pihak yang akan binasa ? Tentu saja Asy-Syaikh Tsanaaullah rahimahullah; dan sebaliknya, pendusta inilah yang akan hidup.
Tapi apa yang terjadi ?
Anak Ghulam Ahmad yang bernama Basyiir Ahmad menulis :
أخبتني أمي أن حضرته (أي الغلام) احتاج إلى بيت الخلاء بعد الطعام مباشرة، ثم نام قليلا وبعد ذلك احتج مرة أخرى إلى بيت الخلاء فذهب مرة أو مرتين إليها بدون أن يشعرني، ثم أيقظني، فرأيت أنه ضعف جدا وما استطاع الذهاب إلى سريره فلذا جلس على سريري أنا، فبدأت أمسحه وأمسجه، وبعد قليل أحس الحاجة مرة أخرى ولكن الآن ما استطاع الذهاب إلى بيت الخلاء فلذا قضاها عند السرير واضطجع قليلا بعد القضاء ولكن ضعف بلغ إلى منتهاه فجائته الحاجة مرة أخرى فقضاها ثم جاءه القيء وبعد ما فرغ من القيء خر على ظهره واصطدم رأسه بخشب السرير وتغير حالته
“Ibuku mengkhabarkanku bahwasannya yang mulia (yaitu Ghulaam Ahmad) ingin pergi ke toilet setelah selesai makan. Kemudian setelah itu ia tidur sebentar, namun kemudian ia ingin kembali ke toilet. Ia melakukannya sekali atau dua kali tanpa aku ketahui. Kemudian ia membangunkanku, dan aku melihatnya dalam keadaan sangat lemah. Ia tidak mampu pergi ke tempat tidurnya. Oleh karena itu ia duduk di tempat tidurku. Lalu aku pun mengusap dan memijitnya. Tidak lama kemudian, ia kembali terasa ingin buang air besar, namun sekarang ia tidak mampu lagi pergi ke toilet. Maka, ia pun melakukannya di samping tempat tidur. Ia pun berbaring sebentar setelah selesai, namun kelemahan pada dirinya sampai pada puncaknya. Lalu ia kembali terasa ingin buang air besar, lalu ia pun melakukannya, lalu ia muntah. Setelah selesai muntah, ia jatuh ke belakang dan kepalanya terbentur kayu tempat tidur. Keadaannya pun berubah (= mati)” [Siirah Al-Mahdiy, hal. 109 oleh Basyiir Ahmad bin Ghulaam].
Para Pembaca dapat simak akhir kehidupan mengenaskan si pendusta, bahwa ia sendiri yang dibinasakan oleh Allah ta’ala melalui penyakit mencret/kolera pada tanggal 26 Mei 1908 pukul 10.30 pagi.
Allah ta’ala berfirman :
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
“Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” [QS. Al-An’aam : 93].
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah pendusta ini.
Allahul-Musta’aan.
[Abul-Jauzaa’ – tulisan ini bersumber pada buku Al-Qaadiyaaniyyah : Diraasaatun wa Tahliil oleh Dr. Ihsaan Ilahi Dhahiir, hal. 155-159, Cet. 16, Thn. 1404 H].


[1]      Lihatlah bagaimana si Pendusta ini mengucapkan salam yang ditujukan kepada orang kafir.
[2]      Pendusta ini mengklaim dirinya sebagai Al-Masih, titisan ‘Isa ‘alaihis-salaam atau yang serupa dengannya.

Comments

Anonim mengatakan...

Wah jadi tambah pengetahuan nih. Jazakalloh khoir ustadz....

Anonim mengatakan...

afwan ust klo keluar dr topik di atas..
ada prtanyaan kyk gini :

Pertanyaan bagi saudara2 yang meyakini wajibnya shalat berjamaah di masjid

Langsung saja, saya ingin meminta tanggapan atau argumen rekan2 tentang hadits2 di bawah ini, yang menurut saya menyiratkan bolehnya shalat sendiri di rumah.

1. Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.

2. Dari Abi Musa ra berkata bahwa Rasulullah SAw bersabda, Sesungguhnya orang yang mendapatkan ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur.

Lalu tentang hadits orang buta dan membakar rumah, mengapa dari 2 hadits tersebut bisa disimpulkan wajib? Bukankah itu "hanya" menunjukkan sangat besarnya keutamaan shalat berjamaah di masjid dan betapa Rasulullah membenci orang2 yang tidak mau mengambil keutamaan itu?
----------
gmn menanggapi prtanyan trsebut..???
-----
jazakallahu khoiran....

Iyas mengatakan...

terima kasih ilmunya ustadz.
Ane kira Allah bukan saja ingin menunjukkan kedustaan Mirza ini dengan penyakit koleranya yang dimintanya. Allah tidak mengabulkan doa yang dimintanya. Tapi Allah ingin menunjukkan kedustaan sekaligus adzab dengan penyakit yang lebih buruk dari dari kolera. Mencret hingga mengganggu (baunya) dan merepotkan orang (karena harus dibersihkan) tidak wajar bagi kematian orang yang mengaku nabi. Sedangkan kolera tidak mengganggu dan merepotkan orang. Bahkan dalam sebuah hadits kolera adalah rahmat dari Allah yang jika bersabar akan dibalas dengan pahala seperti orang yang mati syahid. Nabi Ayub sendiri pernah diuji dengan penyakit kulit tapi kemudian disembuhkan Allah.

Bjorn Firewill mengatakan...

@ Anonim 24 Maret 2011 20.30:
Saudaraku..
Saya sarankan untuk anda & saya pribadi, untuk meninggalkan debat atau bertindak layaknya orang berpengetahuan, padahal tidak, karena efeknya bisa sangat merusak.

Para Salaf mengajarkan pada kita untuk mengatakan "laa adri" (tidak tahu) saat kita dihadapkan pada pertanyaan yang tak kita ketahui.

Dalam kaidah, kita dilarang untuk melwencengkan makna suatu dhohir kalimat tanpa ada keterangan pasti (dalil).

Jika kita melihat ada ancaman & keharusan, maka kita bisa menyimpulkan kemaslahatan yang besar dibaliknya, dan keharusan itu sudah otomatis menjadi sebab kewajiban.

Silahkan berkunjung kesini:
hukum-shalat-jamaah

Di link itu kita akan tau bahwa ancamannya tak hanya yang anda sebutkan diatas, silahkan membaca.

Bjorn Firewill mengatakan...

@Iyas:
Alhamdulillaah Teman..
Tuhan kita (Allah) adalah Dzat yang Maha mengabulkan do'a, dan kita tak boleh menyelisihi sifat Allah ini.

Jika kolera adalah penyakit seperti yang anda katakan, maka tentu itu hanya terjadi apabila menimpa orang-orang Mukmin saja.

Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad sudah terang-terangan menentang syari'at Allah bahwa tak ada Nabi setelah Nabi Muhammad.
Maka ia tak tergolong orang-orang Mukmin ini.

Mirza Ghulam Ahmad terkena penyakit kolera yang ia minta sendiri ketika beradu sumpah dengan Syaikh Tsanaaullaah Al-Mitsari.

ia sendiri yang meminta kepada Allah untuk menghukum orang yang berdusta, agar suatu saat kelak dibinasakan dengan penyakit itu.

Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebenarnya tau ia akan kalah menghadapi sumpah Syaikh Al-Mitsari yang ia adakan sendiri, kehidupannya dihantui rasa takut setelah sumpah itu terucap.

Namun karena pengikutnya terlanjur banyak, maka ia menghadapi rasa takutnya, dan karenanya ia enggan menyerah & bertaubat.

Salah satu website sentral Ahmadiyyah menjelaskan,
saat dirawat karena sakit itu, ia sudah memprediksi bahwa sakit itulah yang akan mengantarkannya pada kematian (bisa dilihat disini: "His Last Testament". Al Islam. Retrieved 25 January 2011.)