Salafiy yang ‘Jelas’ dan ‘Tidak Jelas’


Asy-Syaikh Khaalid Ar-Raddadiy hafidhahullah pernah menjelaskan tentang fenomena sebagaimana tercantum pada judul :
ولا ينبغي تقسيم السلفيين إلى واضحين وغير واضحين، هذا التقسيم غير صحيح، وهذا الوصف وصف غير صحيح. السلفي دائماً واضح، مبين، منهجه بين واضح، كما قال ابن سيرين وحسن البصري وغيرهم: (( كان يرون الرجل على الطريق ما دام على الأثر. )) فالسلفي واضح في مسلكه، لا يوجد سلفي غير واضح، هذا الذى غير واضح حزبي متخفى فنطلق عليه حزبي، وان كان هناك سلفي لم يصل إلى التحزب عليه مؤاخذات نقول : إن هذا الشخص عليه مؤاخذات، لازلنا نناصحه فيها لعله يرجع ويدع تلك المؤاخذات، لا ينبغي تقسيم السلفيين إلى واضحين وغير واضحين لان السلفيون واضحون، بينون في مسلكهم ومنهجهم وطريقة دعوتهم يصدعون. وأما قضية السلفي غير واضح هذا غير جيد هذا الوصف، إن قلنا بأنه وصف، فضلا أن يكون هذا تقسيما فهو تقسيم باطل

“Tidak boleh membagi salafiyyiin menjadi salafiy yang ‘jelas’ dan ‘tidak jelas’. Pembagian ini tidak benar, dan merupakan penyifatan yang tidak benar. Salafiy selalu nampak jelas dan terang. Manhajnya nyata dan jelas pula, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Siiriin, Al-Hasan Al-Bashriy, dan yang lainnya : ‘Mereka (salaf) memandang seseorang berada di atas jalan (yang benar) selama ia menetapi atsar’. Maka, salafiy itu jelas pada jalannya, dan tidak akan ditemukan salafiy yang ‘tidak jelas’. Sosok salafiy yang tidak jelas ini (sebenarnya) adalah hizbiy yang tersembunyi, sehingga kita memutlakkan penyebutan kepadanya sebagai hizbiy. Seandainya ada seorang salafiy yang tidak sampai pada tingkatan tahazzub, akan tetapi padanya ada kekurangan/kekeliruan, maka kita katakan : Sesungguhnya orang ini mempunyai kekurangan/kekeliruan, dan kita akan senantiasa menasihatinya hingga ia kembali (kepada kebenaran) dan meninggalkan kekeliruannya tersebut. Namun tetap tidak boleh membagi salafy menjadi ‘jelas’ dan ‘tidak jelas’, karena salafiyyuun itu semuanya jelas, nampak pada jalan dan manhaj mereka, serta jalan dakwah yang mereka tempuh. Adapun permasalahan salafiy yang ‘tidak jelas’ -  dan ini adalah penyifatan yang tidak baik -, seandainya kita katakan itu sebagai suatu sifat, maka akan menghasilkan pembagian salafiy yang ‘jelas’ dan ‘tidak jelas’, padahal pembagian itu adalah baathil” [selesai].
Perkataan tersebut beliau katakan pada sesi tanya jawab atas penjelasan kitab Al-Qawaaidul-Arba’, bulan Pebruari 2004.

Comments

abu abdullah mengatakan...

Trus kita menyebut salaf yg mantan LJ itu apa ya tadz?? Umar sewwed, ba'abduh, askari...,dll

Tidak adakah upaya kita mengundang Syaikh Rabi' dan syaikh²/ guru² mereka?...

Sampai kapan salafiyyun di indonesia tetap nisbat pada perselisihan?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

@Abu 'Abdillah,.....

sebutlah ustadz Muhammad As-Sewed, Ustadz Luqman Ba'abduh, Ustadz Askari, dan yang lainnya. Saya kira Syaikh Al-Albaaniy pun tidak lebih rendah dari kita ketika beliau tetap menyebut beberapa mukhaalif : Ustadz Hasan Al-Banna, dan yang lainnya.

Salafiyyun akan bersatu jika memang mereka benar-benar menempuh manhaj salaf. Bukan berafiliasi kepada hizb 'Salafiy' atau yang semisalnya....

abu abdullah mengatakan...

afwan, antum benar saya ralat ;
Ustadz Umar sewwed, Ustadz Lukman ba'abduh, Ustadz askari, Ustadz² yang lain...

Anonim mengatakan...

.....Sesungguhnya orang ini mempunyai kekurangan/kekeliruan, dan kita akan senantiasa menasihatinya hingga ia kembali (kepada kebenaran) dan meninggalkan kekeliruannya tersebut.
Inilah yang harus dipahami dan diamalkan ikhwah semua yang meniti di jalannya shalafus shalih.

Karena manhaj salaf di kalangan thalabul ilmi dikampung , bergeser menjadi semacam merk.

Sedih juga melihat kemunduran pemahaman ini , ada yang mencukur jenggot - bukan salafy , celana isbal - bukan salafy , bermuamalah dengan ahlul bida - bukan salafy dll , sementara nggak sholat di masjid berjamaah dengan alasan jamaahnya tidak sealiran , justru masih dianggap salafy ,tidak mendatangi majelis ilmu yang tidak mentadzir si fulan ( nggak jelas ) - atau tidak menjawab salam - dianggap salafy ,bagaimana ini ?

Sungguh sangat tipis perbedaan difinisi salaf sebagai manhaj dan salaf sebagai hizby , kecuali mereka yang bersungguh-sungguh mempelajari dan mengamalkan manhajnya salafus shalih dan tentunya memohon bimbingan Allah.

Anonim mengatakan...

الحمدلله
ana diberikan kemudahan oleh الله untuk pernah duduk di "kedua tempat" salafiyun di Indonesia. dan memang nuansanya lain, antara satu dengan lainnya. Ketika berada di majelis Ustadz Abu Isa حفظه الله (waktu di Pogung raya Jogja) ana melihat ikhwahnya modern2 dan cenderung bermudah-mudahan dalam berpakaian, sampai2 ketika sujud terbentuk auratnya dan (afwan) terlihat bentuk segitiga pada bagian belakang bawah tubuhnya, begitu pula ketika ana berada di majlis Ustadz Abu Zubeir حفظه الله (Pekanbaru). Selain itu ana melihat juga mereka berfoto-foto. الله أعلم apakah kedua ustadz حفظهماالله mengetahui kondisi tersebut ataukah tidak. Namun ketika ana duduk di majlis ustadz di tempat satunya, ana tidak menemukan hal tersebut. Bagi ana para asatidzah (pada dua tempat tersebut) jika dibandingkan keilmuannya dengan kita, kita tidak ada apa-apanya dengan mereka.
والله أعلم

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Ada seorang teman berkata bahwa jika mengaji ke tempat ustadz Fulan, harus berseragam demikian (memakai gamis).

Ada lagi seorang teman yang mengatakan bahwa ada seorang awam yang ikut ta'lim di ustadz Fulan, yang pakaian orang tersebut masih isbal. Sesampai di sana, para thullab si Ustadz langsung menegur isbal itu haram, begini dan begitu. Akhirnya orang itu tidak kembali setelahnya.

Ada lagi seorang teman berkata, kalau ngaji ke tempatnya ustadz Fulan, terkesan 'kaku' dan 'keras'.

Oleh karena itu ada seseorang yang menyimpulkan bahwa dakwahnya ustadz Fulan lebih dapat diterima oleh masyarakat awam, karena terkesan lebih 'adem', daripada dakwahnya ustadz Fulan yang terkesan keras lagi eksklusif.

Mungkin antum atau yang lain tidak sependapat dengan apa yang saya katakan dan dapat mengemukakan beberapa alasan; sebagaimana ikhwah lain mungkin juga tidak sependapat dengan yang antum katakan dan dapat mengemukakan beberapa alasan pula. Kesimpulan observasi akan berlainan jika sisi pandangnya pun berlainan.

Namun apapun itu, saya tidak sepakat jika antum ingin mengesankan (secara tidak langsung) bahwa Ustadz ini dan itu membiarkan (atau bahkan mengajarkan ?) adanya kekeliruan yang dilakukan sebagian mad'unya. Walau antum menggunakan kalimat tanya :

apakah kedua ustadz حفظهماالله mengetahui kondisi tersebut ataukah tidak.

Namun saya membenarkan pernyataan antum bahwa apa yang antum lihat adalah fenomena yang tidak boleh dikatakan benar. Bahkan, di Jabotabek, antum akan mendapatkan banyak jama'ah yang ngaji ke tempatnya ustadz Fulan masih tabarruj, isbal, dan yang lainnya, bahkan ngrokok. Semuanya ini tidak benar (walau sebagian di antaranya merupakan perkara khilaf ijtihadiyyah yang dapat didiskusikan secara ilmiah). Tapi apakah kita akan terburu menyimpulkan dengan perkataan :

apakah ustadz Fulan itu tidak tahu kemaksiatan yang dilakukan jama'ahnya ?.

Jika kita sudah memasang diri sebagai pihak oposisi, tentu akan 'mudah' mengatakan : 'Ya, memang demikian lah dakwah ustadz Fulan. Mumayyi' (lembek/loyo terhadap pelaku bid'ah dan kemaksiatan)'. Namun jika kita memasang diri sebagai seorang muslim yang penuh husnudhdhan, akan berkata : 'Yang datang itu adalah orang awam, yang perlu secara bertahap diberikan nasihat. Dan ustadz (tentu) sudah berulangkali mengingatkannya di majelis secara umum'. Dan banyak udzur dan kemungkinan yang bisa kita berikan menyikapi fenomena demikian.

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan keistiqamahan kepada kita semua.....

Anonim mengatakan...

stlh mndengar kisah2 ikhwan yg datang ke tempat kajian mereka yg gampang men-tahzir, akhirnya bbrp minggu lalu saya pun mengalami. saya ingin shalat maghrib ktika itu dan masjid yg terdekat adlh slh satu masjid yg menjadi "pusat" mereka yg tiap ba'da maghrib ada kajian. ktika itu saya pakai pakaian kemeja+celana (clana kerja yg longgar -namun bkn sirwal- & tdk isbal), saya pun memberi salam ke sebagian ikhwan salafiyyin yg sedang duduk2 di depan masjid namun salam ana tdk dibalas malah terdengar kata2 "ajarin tuh" celetuk salah satu dr mereka ke sebagian yg lain. bahkan ustadznya pun ktika berpapasan ngeliatin saya dari ujung rambut mpe ujung kaki. ternyata benarlah kisah2 kawan2 saya

alhamdulillah saya kenal manhaj ini melalui ustadz2 yg mereka cap "lembek"

Anonim mengatakan...

Afwan, ustadz abul jauzaa... Kalau ada kata2 ana yang menurut antum ingin mengesankan di tempat "ustadz fulan" lebih tasahul dalam berpakaian.. Tapi hal ini merupakan kenyataan yang ada, dan ini ana alami sendiri, dengan mata kepala ana sendiri bukan قيل وقال, sampai sekarang.. Dan ini tidak terjadi pada ikhwan yang baru saja ngaji, tapi bahkan pada ikhwan yang sudah lama mengaji, menguasai ilmu alat, banyak menulis, حتى ustadnya sendiri, memakai pantalon dan baju koko yang sempit.. Sampai saat ini, ana tetap mengambil ilmu dari kedua tempat ini, bukan maksud ana ingin merendahkan "salah satu dari dua tempat ini", tapi ini kenyataannya, karena fenomena ini sudah sangat mengganggu bagi orang yang sholat dibelakang mereka yang berpakaian seperti ini, dan jangan sampai dengan dalih sholatnya masih sah/ kalau memakai sarung/gamis adalah sebuah bentuk pakaian yang berbeda dengan keumuman masyarakat maka hal ini diberikan udzur... Hal ini ana ungkap sebagai masukan kepada dakwah salafiyun yang sangat ana cintai ini..
Namun bagaimanapun, sebagaimana yang dikatakan ustadz Abul Jauzaa, perilaku ikhwan yang seperti itu tidak bisa dijadikan tolok ukur dakwahnya Ustadz Fulan" dst..
والله أعلم

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

@Anonim,... saya tidak sedang mengingkari ataupun menetapkan apa yang antum katakan. [Bagaimana satu khabar bisa ditetapkan pada seorang tak dikenal lagi mubham ?

Antum telah menyebutkan nama dua orang ustadz yang saya kenal tidaklah seperti yang antum katakan. Perkara pakaian sempit, ini pun perlu kita sepakati dulu. Karena, ada sebagian kalangan yang menjustifikasi pantalon sebagai pakaian orang fasik berdasarkan perkataan salah seorang ulama. Padahal, ada ulama lain yang tidak berpendapat seperti itu. Mungkin antum pernah membaca artikel yang ditulis oleh saudara saya Ustadz Aris Munandar berikut :

http://ustadzaris.com/memakai-celana-pantalon-masih-diragukan-kesalafiannya

http://ustadzaris.com/mungkinkah-salafi-berdasi-berjas-dan-memakai-pantalon

Begitu juga ada yang menjustifikasi koko sebagai pakaian yang sempit sehingga 'mengharuskan' memakai gamis ala Pakistan atau Saudi. Perkataan-perkataan semisal ini bukanlah barang baru yang saya dengar dan ketahui.

Jika saya akan membenarkan perkataan antum atas justifikasi terhadap dua nama ustadz yang antum sebutkan itu, tentu saja saya - atau ikhwah yang lain - harus sepakat dengan gambaran 'sempit' yang antum katakan.

Anyway,.... pakaian sempit memang tidak layak dipakai untuk shalat. Tidak untuk murid, apalagi ustadznya.

Antum katakan bahwa antum tidak bermaksud merendahkan salah satu dari 'dua tempat' yang antum sebutkan. Namun krealitasnya, baik antum sadari ataupun tidak, antum telah 'meninggikan' satu tempat, dan 'merendahkan' tempat yang lain. Saya khawatir, nanti akan teraplikasi skema MLM; menghukumi hal yang sama kepada siapa saja yang berafiliasi dengan orang yang antum hukumi. Dan di sini, antum telah menta'yin nama dua orang ustadz yang saya kira ma'ruf di kalangan penuntut ilmu. Mata mereka lah yang akan membenarkan atau menyalahkan apa yang antum katakan.

Orang bukanlah tolok ukur kebenaran. Siapapun dia, kecuali Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Setiap orang sangat mungkin jatuh dalam kekeliruan, baik dengan sengaja atau tidak sengaja. Asal kewajiban seorang muslim itu adalah menutupi kekeliriuan saudaranya. Apalagi saudaranya itu mempunyai keutamaan. Ini bukanlah sekedar teori yang dihapalkan di majelis, namun wajib dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, saya khawatir kita akan memakan bangkai saudara kita sendiri. Oleh karena itu, kita wajib mempertimbangkan : Apakah dengan menyebutkan kekeliruan saudaranya itu - jika memang benar keliru - mempunyai faedah ataukah tidak.

Semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkan apa yang telah kita ketahui.....

Anonim mengatakan...

Cukup jelas ustadz , utamanya bagi yang sudah sering datang ke majelis ilmunya manhaj salaf

abu abdillah mengatakan...

http://salafy.ws

abu abdillah mengatakan...

terus terang ana mngambil pelajaran dari ustad umar as sewed, ustad Abdurrahman lombok, ustad askari, ustad lukman ba'abduh dan yg lainnya.

ana juga mngambil ilmu dari Ustadz Abdul Hakim, ustadz hafhidzahullah yg lainnya insya Allah.

adapun masalah yg terjadi diantar mereka saya brrlepas diri dari hal itu.
sebagai tholabil ilm saya hanya mncari ilmu bkn permasalahn.

bagaimna menurut akhi apakh ana salah dlm hal ini??