Surat Singkat - undocumented


Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Terkait dengan tulisan Anda di : http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2010/08/24/risalah-%E2%80%98amman-disanjung-ali-hasan-tapi-difatwa-sesat-oleh-syaikh-shalih-al-fauzan-hafizahullah/ , Anda begitu bersemangat mencela Asy-Syaikh ‘Aliy yang memuji Risaalah ‘Ammaan, dengan menukil perkataan Asy-Syaikh Al-Fauzaan hafidhahumallaah. Tahukah Anda bahwa Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Sulaimaan bin Manii’ (anggota Haiah Kibaaril-’Ulamaa) hafidhahullaah menghadiri pertemuan dan men-taqrir Risalah ‘Ammaan tersebut ? Jika Anda menyesatkan Asy-Syaikh ‘Aliy, mengapa Anda tidak menyesatkan beliau ? Begitu juga Khadiim Al-Haramain (raja Saudi) ?. Tidak lain karena ini merupakan celah yang bisa Anda gunakan bagi Anda dan kelompok Anda dalam rivalitas dan menggelorakan semangat sektarian.

Dan yang lucu lagi adalah artikel Anda di : http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2010/08/22/lajnah-daimah-telah-bicara-ali-hasan-sejak-10-tahun-lalu/ . Sangat lucu !!! Anda membawakan perkataan Lajnah sebagaimana kasus di paragraf pertama di atas. Padahal, dulu, Asy-Syaikh ‘Ubaid (dan beberapa ulama lainnya) memuji Asy-Syaikh ‘Aliy hafidhahumallah dalam permasalahan iman dan saat beliau (Asy-Syaikh ‘Aliy) memberikan jawaban atas fatwa Lajnah. Silakan baca : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=14233 . Anehnya,…lucunya,… Anda sekarang membawakan fatwa Lajnah yang dulu diingkari oleh sebagian ulama (termasuk ulama yang sekarang banyak Anda bawakan perkataannya). Ya, Anda membawakannya karena semangat sektarian…… Mengapa Anda tidak membawakan perkataan Asy-Syaikh Al-Ghudayaan rahimahullah sekalian yang menjarh Asy-Syaikh Rabii’ ? Lihat : http://www.alathary.net/vb2/showthread.php?t=8609 . Permasalahannya adalah sama, seputar irjaa’. Tentu tidak, karena Anda hanya menginginkan Asy-Syaikh ‘Aliy……
Mengenai artikel Anda di http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2010/08/04/waspadalah-dari-penyimpangan-manhaj-ali-hasan-al-halabi-cs/ yang menukil unduhan kitab Shiyanatus-Salafy dan Tanbiihul-Fathiin (saya punya kedua matan kitab itu), maka dua kitab itu telah dibantah secara meyakinkan dan terperinci :
1.    Al-Ibaanah ‘anil-Khiyaanah (bantahan terhadap Shiyanatus-Salafiy):http://www.archive.org/download/AlibanaAboutKhiana/AL-EBANA.pdf
2.    Qurratu ‘Uyuunis-Salafiyyiin (bantahan terhadap Tanbiihul-Fathiin) : http://www.4shared.com/file/5bnTGgDK/__-pdf.html
Dan jika Anda belum membaca kitab Syaikh ‘Aliy yang dikritik itu, maka silakan baca : http://www.ballighofiles.com/emad/manhajalsalaf.pdf
Saya tidak yakin Anda mau membaca, meneliti secara ‘adil, atau bahkan menarik perkataan Anda (walau saya sangat-sangat mengharapkannya). Dan saya lebih tidak yakin bahwa Anda memahami permasalahan yang sedang diikhtilafkan para ulama. Tapi setidaknya, harapan saya, apa yang saya tuliskan ini dapat membawa sedikit pencerahan kepada Anda. Ya, Anda yang terbiasa dengan sikap hasad dan taqlid buta (yang berkedok mengikuti ulama).
Akhukum : Abul-Jauzaa’.
[ini adalah komentar yang pernah saya tuliskan di blog tukpencarialhaq.wordpress yang tidak ditampilkan admin-nya hingga saat ini. apa yang tertulis di blog tersebut hanyalah merupakan sedikit gambaran seorang salafy yang tidak cerdas, jumud, terbelenggu taqlid buta, dan bahkan mencari segala jalan yang dapat menyampaikan keinginannya. yaitu, memuji siapa aja yang ingn ia puji dan mencela siapa saja yang ingin ia cela. semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan petunjuk kepada saya, dirinya, dan kita semua. tentang penjelasan Risalah ‘Ammaan, bisa dibaca di : sini, sini, dan sini].

Comments

Anonim mengatakan...

Hanya sharing dengan antum,

Waktu br mengenal manhaj salaf, saya dulu jg sempat percaya dengan situs tukpencarialhaq, dan dalam hati sempat timbul pikiran untuk ikut menjarh syaikh ali hasan (hanya dalam hati sih) walaupun saya wkt itu tidak tahu menahu apa yg sbnrnya terjadi (maklum baru kenal salaf). Namun seiring dengan berjalannya waktu, alhamdulillah Allah Ta'ala melembutkan hati saya untuk legowo dalam masalah perbedaan apalagi masalah furu'iyyah. Maha benar Allah Jalla Dzikruhu, manusia itu senantiasa berbeda2 pendapat dan senantiasa berbantah2. Ilmu jarh wa ta'dil yg agung pun kini kerap digunakan secara keterlaluan (baca: membabi buta) untuk menjarh org2 yg sbnrnya ga berhak terkena jarh termasuk syaikh ali.

Ini mungkin bedanya org yg taqlid buta dengan org yg berilmu. Org taqlid buta selalu menelan mentah2 apa yg didapatnya tanpa mau untuk menelusuri lebih lanjut padahal ia punya kapasitas untuk menelusurinya (walaupun saya yakin ia bisa bahasa arab), beda sekali dengan org yg berilmu yg selalu punya hasrat untuk menelaah suatu persoalan dari sisi yg lain (walaupun ia tidak bisa bahasa arab). Ditinjau dari sisi taqlid buta ini, ia memang mengaku bermanhaj salaf, namun ia ibarat org yg diberi fasilitas mobil untuk berangkat kekantor, tapi ia ga tau bagaimana cara mengemudikan mobilnya, akhirnya ia terpaksa menebeng mobil temannya walau ia sudah diberi fasilitas. Afwan, ini mungkin analogi yg jelek tp itulah interpretasi saya thd org2 spt itu.

Ini sekedar sharing saja kok.

--hamba yg dho'if, abu ahmad--

temannya Vijay mengatakan...

jd ingat pertama kali ngaji. begitu semangatnya dgn cuman 'bermodal' 1 atau 2 riwayat / perkataan ulama', lalu dgn LANTANG nya 'menumpas kejahatan membela kebenaran' kpd yg 'SALAH' (kalo engga mau disebut disalahkan)..

ternyata ulama' punya pembahasan panjang tentang hal itu... DUBRAKKKK..

malu GW, maluuuuu -.-


Mengenai Jarh dan tahdzir ini, mereka sendiri akan kebingungan dan kontradiksi menyikapinya, krn guru2 besar mereka kalo suatu saat juga TERGELINCIR mau di apakan ? kok rasanya 'eman2' (sayang) kalo dijauhi. Jadinya ya, dicarikan udzur atau diulur sampai waktu tertentu.. Jangan sampai kita 'sakiti' hati guru kita tercinta :P

Saya khawatir aja, seperti kt seseorang di fesbuk, mereka ini akan terjerumus ke dalam hizbiyyah yg tersembunyi yg AD/RT nya tidak tertulis di kitab induk 'organisasi' , namun aturan2 yg ,mengikat setiap anggotanya itu tersimpan di dalam dada-dada ustadz Kibar. barang siapa menyelisihi, maka akan diblacklist !! Allahuakbar


wallahu'alam

Anang Dwicahyo mengatakan...

Subhanallah .....

Kalau mengikuti nafsu kita yang bathil , maka mulai jaman salaf sampai akhir jaman , nggak bakalan ada ulama yang selamat dari kritikan yang mengarah kepada .....

Ya Allah , jauhkanlah hati ini dari segala bentuk kedengkian dan bimbinglah hati dan fikiran kami untuk istiqomah dan menghargai ulama

Anonim mengatakan...

afwan ya akhi fillah, masalah ini sebenarnya adalah lagu lama.. dan dari dulu banyak yang telah tahu.. semoga kita adil dalam menghukumi sesuatu. secagai catatan tambahan: baru-baru ini di yordania, syaikh ali dan syaikh mansyur hasan membolehkan pemilu.. dan marilah kita sikapi secara adil dengan merujuk kepada banyak ulama yang membahas intikhoobat...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih.

Perkataan antum : baru-baru ini, sebenarnya tidaklah baru. Sependek pengetahuan saya, yang mengatakan baru-baru ini, sanadnya berasal dari tv (yang tidak mengetahui hakekat permasalahan yang sedang dibicarakan oleh Asy-Syaikh Al-Halabiy dan Asy-Syaikh Masyhuur). Lihat : http://www.ahmadsumargono.net/konten.php?nama=Gallery&op=detail_gallery&id=186.

Asy-Syaikh 'Aliy dan Asy-Syaikh Masyhuur hafidhahumallaah membolehkan intikhaabaat dengan syarat-syarat dan batasan-batasan. Begitu juga dengan masyaikh lainnya, seperti Asy-Syaikh 'Ubaid Al-Jaabiriy (terutama yang berkenaan dengan Pemilu 'Iraaq). Antum bisa lihat pernyataan Asy-Syaikh 'Aliy berkenaan dengan hal tersebut di http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=22 dan http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=15101.

Atau, beberapa rekan telah mengumpulkan beberapa fatwa ulama berkenaan dengan Pemilu di : http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-syaikh-abdul-malik-bin-ahmad-ramadhani-tentang-pemilu.html dan http://rumaysho.wordpress.com/2009/04/01/perselisihan-ulama-ahlus-sunnah-ulama-yang-membolehkan-%E2%80%9Cnyoblos-dalam-pemilu%E2%80%9D-namun-dengan-syarat/.

abu hafshoh mengatakan...

Bagi ikhwah yg bs bhs arab, silahkan baca penjelasan Syekh Ali langsung di http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=2413

Jawaban beliau kepada 4 pertanyaan yang disampaikan oleh Syaih Shodiq bin Muhammad Baidhoni melalui email. 4 pertanyaan itu termasuk ttg risalah amman...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Kebetulan saya blog walking dan mampir di blognya si burung gagak : http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2011/01/15/markaz-al-albani-bangkroet-bag-1/. Admin-nya menulis 'bantahan' terhadap tulisan di atas yang kebetulan di repro oleh salah satu blog. Tapi sayang, ketaqlidannya yang luar biasa telah meniadakan logika yang seharusnya ia punya.

Katanya :

Pujian Al-Allamah Ubaid حفظه الله kepada Ali Al-Halabi yang dimuat situs Kullalsalafiyyin itu tertanggal 19 Muharram 1424 H. Sedangkan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (kumpulan kedua) yang berisi tahdzir atas kitab Al-Halabi selesai dicetak tahun 1425 H..

Ya,... begitulah katanya yang tidak cermat. Yang tertanggap 19 Muharram 1424 itu adalah pujiannya terhadap kitab At-Ta'rifu wat-Tanbi'ah. Buku ini bukan buku khusus menjawab tahdzir Lajnah, namun pembelaan Syaikh 'Aliy terhadap Asy-Syaikh Al-Albaaniy atas tuduhan Murji'ah.

Adapun pujian Syaikh 'Ubaid terhadap kitab Al-Ajwibah Al-Mutalaaimah (kitab ini bisa dibaca di sini), maka itu ada di perkataannya yang lain, yaitu :

والشيخ علي رد ردًّا مؤدبًا قويًا دافع فيه عن نفسه فمن أراد أن يحكم للشيخ علي أو عليه أو يحكم للجنة أو عليها فليقارن بين رد اللجنة وملحوظاته ومحتوى الكتابين فإن وجد اللجنة مخطئة على الشيخ علي حكم له ولا يضر اللجنة؛ خطأها من طبيعة البشر وأعتقد أنهم سيرجعون عن خطئهم وإن كانوا الآن لم يردوا على الشيخ علي بشيء, و إن وجد أن اللجنة مصيبة وفي ملحوظاتها على الكتابين حكم على الشيخ علي و إن كان أخانا وحبيبنا ولكن الحق أحب، الحق أحب إلينا من اللجنة ومن الشيخ علي، الكل حبيبنا ولكن الحق أحب إلينا

[kaset An-Nashiihatush-Shariihah].

Begitu pula komentar beliau yang lain atas dua kitab At-Ta'rifu wat-Tanbi'ah dan Al-Ajwibatul-Mutalaaimah :

ألفيت الردين جيدين قويين، وفيهما غاية الأدب والقوة العلمية

[dari kaset Al-Ajwibatus-Salafiyyah].

Jadi permasalahannya jelas, bahwa Syaikh 'Ubaid tidak sepakat atas tahdzir Lajnah Daaimah itu, sebagaimana juga Syaikh Ibnu 'Utsaimin.

Jika keadaannya seperti itu, maka mengapa admin faktablogsome sekarang kemudian 'menyepakati' fatwa Lajnah ?. Aneh bukan ?. Jadi, pengutipan fatwa Lajnah itu bukan didasari pengetahuan kokoh akan permasalahan, akan tetapi karena ikut-ikutan saja (terutama setelah adanya konflik yang diadakan oleh Dr. Ahmad Bazmuul). Bahkan dulu, Syaikh Rabii' pun memuji orang yang mengkritik kitab Raf'ul-Laaimah (kitab ini berisi bantaha terhadap kitab Al-Ajwibatul-Mutalaaimah, dan membela fatwa Lajnah) dengan perkataannya :

كلام يكتب بماء الذهب

[baca : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=4945].

Dan kitab Shaihatun Nadziir yang ditahdzir Lajnah Daaimah ini, telah dibaca (sebelum diterbitkan) oleh Syaikh Al-Albaaniy, Syaikh Rabii' Al-Madkhaliy, Syaikh Muhammad 'Umar Bazmuul, dan yang lainnya [lihat kitab Shaihatun-Nadziir hal. 7].

Sekali lagi,... aneh jika sekarang admin faktablogsome mengungkit-ngungkit fatwa Lajnah untuk menjatuhkan Syaikh 'Aliy. Menyedihkannya, Ustadz Askari pun sekarang ikut-ikutan menyebarkannya ........

Abul-Harits mengatakan...

Kenapa ustadz abul jauza mengatakan aneh dan menyedihkan..bukannya khilaf ulama tentang syaikh ali hasan ini juga khilaf ilmiyyah dan mu'tabar di kalangan para ulama berdasarkan fakta dan bukti nyata..

Saya yakin ust abul jauza condong kepada pendapat Ulama yang membela syaikh ali hasan...tapi sangat disayangkan, ust juga menuduh orang-orang yang berseberangan dengan ustadz dengan tuduhan taklid buta...

analoginya sama dengan permasalahan IT, bukankah yang mengkritik syaikh ali hasan jg para ulama kibar yang diakui keilmuannya...tidak pantas kalo kita dikatakan taklid buta klo kita mengikuti fatwa ulama sebagai sandaran...

apa yang diyakini ust abul jauza, itu hak ustadz..apa yang diyakini mereka itu juga hak mereka..barokallohfik

blog tuk pencari alhaq juga tidak mewakili keseluruhan pendapat ust2 kami sebagaimana pernah dinyatakan ust abdul mu'thi..

barokallohfik ust, semoga bisa menjadi masukan dan nasehat...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Akhi,.... saya 'tidak mempermasalahkan' adanya kritikan kepada Syaikh 'Aliy. Itu ma'ruf, dan saya tidak akan membahasnya.

Tapi yang saya permasalahkan adalah kritikan yang membabi buta yang dibangun tanpa dasar. Terutama sekali, kritikan dengan membawakan Fatwa Lajnah Daaimah. Jika memang itu yang diyakini oleh Ustadz Askari cs dan murid-muridnya sejak dulu, mengapa tidak sekalian mengkritik Syaikh 'Ubaid yang membela Syaikh 'Aliy atas kitabnya Al-Ajwibatul-Mutalaaimah ?. Mengapa Ustadz Askari cs tidak mengkritik Syaikh 'Ubaid yang dengan jelas mengatakan bahwa Lajnah telah keliru dalam fatwanya ?. Mengapa Ustadz Askariy cs tidak sekalian mengkritik Syaikh Rabii' dan Syaikh Muhammad Bazmuul yang telah membaca dan menyetujui kitab Shaihatun Nadziir yang ditahdzir Lajnah ?.

Masihkah antum ingat perkataan Ustadz Askari :

" Kalaulah Syaikh Al-Albani Rahimahullah masih hidup, maka saya rela menjadikan Beliau sebagai hakim" [lihat : http://salafybpp.com/categoryblog/111-catatan-kecil-untuk-seorang-calon-doktor.html] ?.

Itu menunjukkan bahwa Ustadz Askari mau rujuk atas penjelasan Syaikh Al-Albaaniy (dalam perkara yang diperselisihkan).

Jika sikapnya konsisten, maka Syaikh Al-Albaaniy telah memberikan pembelaan kepada Syaikh 'Aliy atas tuduhan Murji'. Di antara yang beliau katakan adalah :

أخونا (علي) ليس مرجئاً، و لا يقول إلاّ بما يعتقده السلف الصالح.

"Saudara kami ('Aliy) bukanlah Murji'. Dan tidaklah ia berkata kecuali dengan apa yang diyakini oleh as-salafush-shalih..." [selengkapnya : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=32907].

Memang benar perkataan sebagian orang, bahwa banyak perselisihan yang ada sekarang disebabkan karena adanya hasad di hati....

Abul-Harits mengatakan...

jazakumulloh khoiron ustadz penjelasannya.

dulu ketika syaikh Al-Albani rahimahullah masih hidup, kita pun mengakui kutamaan Syaikh Ali Hasan hafidzahullah dan kita pun mengambil faidah dari kitab-kitab beliau.

tapi setelah fitnah ini,..kita memohon pada Allah taufiq.

Alhamdulillah pernah ditanyakan kepada masyayikh semisal Syaikh Muhammad Umar Bazmul, Syaikh Khalid Az-Zafiri hafidzahumallah ketika Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk bermajlis di jogja kemarin. Dan demikian jawaban mereka sebagaimana saya dengar langsung..mudah-mudahan Allah beri taufik kpd saya untuk menanyakannya kepada Syaikh Abdul Muhsin hafidzahullah...

Usaha-usaha yang dilakukan asatidz kita semisal Ust Askari, Ust Luqman, dan Ust Firanda hafidzahumullah untuk rujuk kepada Ulama dlm fitnah ini, insyaalloh sudah cukup menunjukkan kesungguhan mereka untuk mencari al haq...

sebagian guru kami juga menyatakan yang semisal ucapan ustadz ttg masalah hati, butuh kelapangan dada untuk menutup lembaran perselisihan ini..

benarkah yang dimaksud hizb salafy adalah orang-orang semisal saya ustadz ?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Pertama,... saya berharap antum paham konteks komentar saya di atas.

Kedua, saya tidak pernah mengatakan hizbiy salafiy dalam konteks ini sehingga antum perlu bertanya itu kepada saya. Dan saya harap, selanjutnya antum tidak perlu bertanya kalimat semisal kepada saya. Namun, itu patut kita jadikan bahan muhasabah diri, apakah memang kita ini salafiy atau hizbiy yang berkedok salafiy ?.

Ketiga, komentar para ulama terbaru tentang Syaikh 'Aliy pun banyak. Tentu saja maksud saya yang kontra dengan penjelasan Syaikh Bazmuul dan Syaikh Khaalid - termasuk beberapa tuduhan yang dialamatkan kepada Syaikh 'Aliy. Misalnya : Syaikh 'Abdul-Muhsin Al-'Abbaad, Syaikh Hamdiy As-Salafiy, Syaikh Ar-Rays, Syaikh Sa'd Al-Hushain, dan lain-lain.....

Abul-Harits mengatakan...

Ustadz Abul Jauza hafidzahullah,
izinkan saya menyebutkan kesimpulan dari pembahasan ulama tentang fitnah ini dari sedikit ilmu yang ana dapatkan.

Diantara para ulama yang mengkritik beberapa kekeliruan syaikh hafidzahullah:

1) Syaikh Shalih Al-Fauzan
2) Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh
3) Syaikh Bakr Abu Zaid
4) Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan
5) Syaikh Rabi' Al Madkhaly (yg dulu memuji kitab Shaihatun Nadzir)
6) Syaikh Ahmad An-Najmy
7) Syaikh Ubaid Al-Jabiry (yg dulu membela Syaikh atas kitab Al-Ajwibatul-Mutalaimah)
8) Syaikh Muhammad bin Hadi
9) Syaikh Abdullah Al-Bukhary
10)Syaikh Muhammad Umar Bazmul ( yg dulu memuji kitab Shaihatun-Nadzir)
11)Syaikh Ahmad Bazmul
12)Syaikh Usamah Athoyah
13)Syaikh Khalid Adz-Dzafiry
14)Masyayikh Yaman murid Syaikh Muqbil, dll

Diantara para ulama yang memuji Syaikh hafidzahullah sebagaimana Ustadz Abul Jauza sebutkan :

1) Syaikh Abdul Muhsin
2) Syaikh Ar Rays
3) Syaikh Hamdiy As-Salafy
4) Syaikh Sa'd Al-Hushain
5) Syaikh Al-Utsaimin, dll

Nb : pujian para ulama termasuk Syaikh Al-Albani rahimahullah thd Syaikh hafidzahullah sebelum fitnah adalah perkara yang disepakati, adapun setelah fitnah itulah yang diperselisihkan para ulama, sehingga perlu didudukkan pujian dan kritikan tersebut. Konsekuensi dari pendapat yang kami yakini ttg fitnah ini memang mengharuskan demikian, sehingga jangan heran jika dinukil fatwa di sana-sini ttg syaikh hafidzahullah..

Maksud saya disini menyebutkan hal tersebut, agar apa yang kami yakini tidak terkesan ikut-ikutan, hanya menebeng, membabi buta, takut meneyelisihi ustadz-ustadz kibar , mengikuti nafsu yang bathil tanpa didasari ilmu atau taklid buta semata terhadap individu tertentu, tetapi memang benar-benar berdasarkan pembahasan ilmiyyah para ulama ttg fitnah ini..

zadanallah ilman nafi'an wal amal as-shalih

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tahqiq yang antum sebut itu bukan tahqiq sebenarnya. Kritik harus disebutkan tentang apa. Jika tentang masalah fitnah Irja' (dimana Syaikh 'Aliy dikritik oleh ulama Lajnah seperti Syaikh 'Abdul-'Aziiz Alusy-Syaikh, Syaikh Ibnu Fauzaan, Syaikh Bakr Abu Zaid, dan Syaikh 'Abdullah Al-Ghudayyan), maka dalam hal ini Syaikh Rabii', Syaikh 'Ubaid, Syaikh Bazmuul, dan yang lainnya sejalur dengan Syaikh 'Aliy. Dan Syaikh 'Aliy dalam masalah iman (dan fitnah irja') adalah sejalan dengan Syaikh Al-Albaaniy, Syaikh Ibnu 'Utsaimin, Syaikh Sa'd Al-Hushain, dan yang lainnya. Nah, posisi ustadz-ustadz yang antum sebutkan di atas dalam masalah ini bagaimana ?. Seandainya mereka satu pemahaman dengan Syaikh Rabii' cs. dalam menyikapi tahdzir Lajnah Daaimah tentang masalah kitab Syaikh 'Aliy, maka sangat tidak layak membawakan fatwa Lajnah itu hanya semata-mata untuk menjatuhkan Syaikh 'Aliy. Seandainya itu mereka lakukan, konsekuensinya mereka harus kontra pula dalam masalah iman dengan masyaikh yang sepemahaman (dan bahkan memuji) Syaikh 'Aliy. Karena buku yang ditahdzir Lajnah itu juga atas persetujuan Syaikh Rabii', Syaikh Bazmuul, dan yang lainnya. Bahkan terang-terangan Syaikh 'Ubaid membela Syaikh 'Aliy dan menyalahkan Lajnah. Pahamkah antum di sini ?. Inilah yang saya sebut gejala ikut-ikutan tahdzir tanpa tahu duduk permasalahannya..... Hanya ingin menjatuhkan seseorang, maka ditempuhlah 'segala cara'. Semoga kita dijauhkan dari ini semua (dan saya yakin antum tidak seperti itu).

[inilah yang saya anggap lucu dan menyedihkan]

Adapun perselisihan yang terjadi belakangan ini hanyalah seputar penyikapan terhadap orang-orang yang dianggap menyimpang. Misal penyikapan terhadap Syaikh 'Adnaan 'Ar'ur, Syaikh Abul-Hasan Al-Ma'ribiy, Syaikh Muhammaad Hassaan, IT, dan yang lainnya. Akhirnya merembetnya kemana-mana. Pokok yang dijadikan rujukan - terutama asatidzah Indonesia - dalam permasalahan fitnah ini (terutama dua atau tiga tahun kebelakang) adalah bukunya Dr. Ahmad Bazmuul. Sebenarnya bukan hanya di Indonesia, tapi di negeri 'Arab sana juga demikian. Tidak semua isi kitabnya Dr. Ahmad Bazmuul itu benar, sebagaimana juga tidak semua isinya keliru. Kitab itu telah dibahas tuntas dalam kitab Al-Ibaanah 'anil-Khiyaanah - terlepas mungkin sebagian orang tidak setuju atau bahkan tidak mau membaca kitab ini.

Dan sebagai catatan penting, kritikan Syaikh Ibnu Fauzaan, Syaikh Al-Ghudayaan, Syaikh Bakr, dan Syaikh 'Abdul-'Aziiz Alusy-Syaikh bukanlah pada permasalahan yang sedang dihangatkan oleh 'salafiyyin' Indonesia. Apalagi masalah Ihyaa' At-Turats. Bukan pula masalah Adnan 'Ar'ur, Al-Ma'ribiy, dan yang lainnya. Kalaupun ada yang mengangkat kritikan Syaikh Al-Fauzaan dalam risalah 'Ammaan, bukankah Syaikh 'Aliy bersama dengan Syaikh Ibnu Manii' (kibar ulama Saudi) dalam hal ini ?.

Jika antum ingin mendudukkan permasalahan, maka secara garis besar inilah permasalahannya secara ringkas. Dan seandainya kritik sebagian ulama kepada sebagian ulama lain dikumpulkan, ..... saya pun dapat membuat daftar masyaikh Ahlus-Sunnah yang mengritik ulama yang mengritik Syaikh 'Aliy; dalam beberapa permasalahan. Tapi ya buat apa ?. Seandainya ada sebagian rekan-rekan yang mengklaim bahwa mereka telah secara 'ilmiah' berdasarkan ilmu tanpa taqlid buta terhadap individu tertentu dalam menyikapi perselisihan ini; saya harapkan itu benar. Sebab, betapa banyak orang yang mengklaim seperti itu namun hakekatnya hanya sekedar mengaminkan perkataan Fulan dan Fulan, tanpa meneliti permasalahannya.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

NB : Buat perenungan antum saja.... Seandainya Syaikh 'Aliy itu dianggap mumayyi' terhadap (orang yang dianggap sebagai) pelaku penyimpangan; kenapa 'mereka' tidak menjadikan pembicaraan 'sehari-hari' para masyaikh kibar seperti Syaikh 'Abdul-'Aziiz Alusy-Syaikh yang memuji Sayyiq Quthb, Syaikh Ar-Raajihiy yang memuji Safar Al-Hawaliy, dan Syaikh Ibnu Jibriin yang memuji sebagian tokoh IM ?. Bukankah tokoh-tokoh IM ini merupakan pokok penisbatan kritikan terhadap Adnan 'Ar'ur, Al-Ma'ribiy, dll. sehingga mereka disebut Quthbiyyiin ?. Apakah para ustadz itu 'takut' mengkritik masyaikh kibar ini (sebagaimana mereka mengkritik Syaikh 'Aliy) hanya karena Syaikh Rabii' dan Syaikh 'Ubaid tidak mengkritiknya (sebagaimana kritikannya terhadap Syaikh 'Aliy) ?. Apakah tiga masyaikh kibar yang saya sebut juga mamyyi'iin ?. Apakah tiga masyaikh kibar yang saya sebut juga Quthbiyyiin ?. Bandingkan dengan Syaikh 'Aliy misalnya. beliau aktif mengkritik pemikiran Sayyid Quthb, Safar Hawaliy, dan tokoh-tokoh IM. Itu dibuktikan jelas dalam kitab-kitabnya. Syaikh 'Aliy juga melakukan banyak pembelaan terhadap sunnah dan para ulamanya. Syaikh 'Aliy mengakui adanya beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh IT, Syaikh Al-Ma'ribiy, dan yang lainnya, namun beliau tidak mengeluarkan mereka semua dari lingkup Ahlus-Sunnah. Syaikh 'Aliy pun tidak bersendirian dalam hal ini, namun didukung oleh para masyaikh yang lain seperti Syaikh 'Abdul-Muhsin, Syaikh Al-'Ubailaan, dan yang lainnya (tidak perlu saya sebut semua sehingga mengesankan 'banyak-banyakan').

Anyway, saya tidak mengajak antum untuk mengagung-agungkan Syaikh 'Aliy. Dikarenakan antum telah mengisyaratkan bahwa antum akan bersikap proporsional, maka dengan inilah saya tulis buat antum.

Abul-Harits mengatakan...

Permasalahan yang dikritik para ulama dlm manhaj Syaikh Ali bukan hanya terbatas pada apa yang antum sebutkan di atas Ustadz, itu hanya sebagian..

1) Syaikh Ahmad An-Najmi menulis kitab khusus ttg Syaikh Ali yang berjudul "Hiwar ma'a Fadhilatis-Syaikh 'Aliy Al-Halaby"

2) Syaikh Ubaid Al-Jabiry jg dlm kitab "Raadu Ubaid Al-Jabiry 'ala Qawa'id Al-Halaby Al-Jadidah"

3) Syaikh Sa'd jg menulis kitab "Tanbihul Fathin" yang telah dibantah pula

4)Syaikh Khalid bin Abdurrahman Al-Mishry jg menulis kitab khusus menbantah kitab "Manhaj Salaf As-Shalih" karya Syaikh Ali

Kritikan para Ulama yang saya sebutkan di atas (walaupun maqamnya berbeda-beda) bukankah menjadi qarinah adanya penyimpangan manhaj Syaikh Ali?

Agar lebih jelas mungkin saya sebutkan beberapa bukti,

Syaikh Ali berkata : فإذا ضاقت الأمور واختلفنا في فلان، فلا
.( يجوز البتة أن نجعل اختلافنا في غيرنا سبباً للاختلاف بيننا
"Ketika permasalahan menjadi sempit dan kita pun berselisih tentang fulan, tidak boleh bagi kita menjadikan perbedaan kita dalam menyikapi fulan sebagai sebab perselisihan diantara kita"

Syaikh Ubaid Al-Jabiry menjawab :
الأمر الأول: أنّ الاختلاف في الأشخاص من حيث الجرح والتعديل هذا قديم، وليس هو وليد
هذا العصر، بل منذ عرف هذا العلم - علم الجرح والتعديل - والأئمة يختلفون في أشخاص من
حيث جرحهم وتعديلهم( ٣٠ )، والمعول عليه في هذا الأمر الدليل( ٣١ )، ومن الأدلة التي ترجح أحد
م له أو نظرهم في كتبه، فمن أقام الدليل �� القولين: قول أهل الخبرة والمعرفة به من خلال معاشر
ذه الأدلة �� على رجل أنه مجروح، وأظهر الدليل على جرحه من كتبه أو من مقالاته، وبان أنه
مجروح؛ وجب قبول الجارح وترك قول المعدِّل، لأنّ الجارح عنده زيادة علم خفيت على المعدِّل،

1) Perbedaan penilaian thd seseorang dalam permasalahan jarh wat-ta'dil adalah suatu yang sudah ada (sejak masa salaf).ini bukan permasalahan yang baru didapatkan di masa ini.... bahkan para imam pun berselisih dalam menjarh (mengkritik) dan menta'dil seseorang.
Dan diantara dalil yang dapat merajihkan salah satu dari dua pendapat adalah ucapan Ahlul Khibrah wal Ma'rifah ketika mereka bermuamalah dan meneliti kitab-kitab orang yang dijarh.

Barangsiapa yang telah menegakkan dalil bahwa fulan adalah seorang yang majruh, dan telah nampak dalil jarh (thd fulan) dari kitabnya maupun perkataannya. maka wajib menerima jarh tersebut dan meninggalkan ucapan ulama yang menta'dilnya. Karena ulama yang menjarh memiliki tambahan ilmu yang tidak diperoleh ulama yang menta'dil..

2)أنّ الجرح المفسر مقدمٌ على التعديل
.( المجمل
"Bahwa kritikan yang terperinci lebih didahulukan daripada pujian yang masih global"......

وبهذا يعلم أنّ هذه القاعدة غير سديدة بل هي فاسدة
"maka jelaslah bahwa kaidah (yang diucapkan Syaikh Ali) keliru bahkan merupakan kaidah yang rusak" -selesai jawaban Syaikh Ubaid-

Abul-Harits mengatakan...

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata :
إن الذي رأيته في كتابات الشيخ ربيع
ا مفيدة
"Apa yang pernah aku baca dari kitab-kitab tulisan Syaikh Rabi' adalah kitab yang berfaidah"

Syaikh Ahmad An-Najmi rahimahullah berkata :
" لو قال أحد إنه لا يوجد أحد في زمننا هذا نابذ
م وناقش أخطاءهم مثل ما فعل الشيخ ربيع – وفقه الله – لكان صادقا ".
"seandainya seorang berkata bahwa tidak didapatkan seorang pun di zaman kita yang membantah ahlul bid'ah, memusuhi dan menjelaskan kesalahan mereka sebagaimana yang dilakukan Syaikh Rabi' waffaqahullah tentu ucapannya benar"

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Banna berkata :
إمام الجرح والتعديل الصادق الأمين أخونا
ربيع هادي والله إمام الجرح والتعديل في القرن الرابع عشر الله يبعث على كل رأس مائة عام من يجدد
لهذه الأمة أمر دينها.
دد للجرح والتعديل بعدل وصدق وأمان والله ربيع هادي ونتحدى أنه تكلم عن أي واحد بدون �� فا
الدليل من كلامه ومن أشرطته ومن كتبه"
"Imam jarh wat-ta'dil, seorang yang jujur, amanah, akhuna Rabi' bin Hadi demi Allah imam jarh wat-ta'dil pada abad keempat belas. Allah mengutus pada tiap penghujung seratus tahun seorang mujaddid umat ini yang memperbaharui agama mereka. Seorang Mujaddid Jarh wat-Ta'dil yang adil, jujur dan amanah Rabi' Hadi, kami tidak mendapati syaikh berbicara tentang seseorang tanpa dalil dari ucapan orang yang dijarh, kaset-kasetnya, maupun kitab-kitabnya"

Syaikh Rabi' ditanya tentang ucapan Syaikh Ali di atas, beliau menjawab bahwa "ini adalah kaidah yang batil dan dengan ucapan tersebut mereka ingin sampai pada kesimpulan bahwa tidak boleh menjarh dan membid'ahkan orang yang memang layak dijarh".

Syaikh Muhammad bin Hadi ditanya pula tentang ucapan Syaikh Ali di atas, beliau menjawab :
الجواب: هذا كلام باطل، هذا كلامٌ باطل؛ لأنه قد يكون الخلاف بيني وبينك في أهل الأهواء، فأنت
تُزكّي صاحب البدعة وتمدحه وأنا أُحذّر الناس منه، فأيُّهم الناصح لدين الله ولعباد الله ؟ أنا أو أنت ؟
الذي حذَّرَ من الأهواء وأهلها هو الناصح لدين الله - تبارك وتعالى- أما الذي أوى إلى أهل الأهواء
والبدع فهذا منهم؛ لأن "المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يُخالل"، والإمام أحمد - رحمه الله
تعالى- قد استدلّ على هوى الرجل وانحراف الرجل بطرحه السلام على أهل الأهواء -رحمه الله تعالى-
فقال:"إذا رأيت الرجل يُسلّم على رجل من أهل الأهواء فاعلم أنه يحبه " ثم استدل بحديث:" أفلا
أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم؟ أفشوا السلام بينكم " ....
"ini adalah ucapan batil, ucapan yang batil, karena terkadang terjadi perbedaan antara Saya dan Anda tentang Ahlul Bid'ah, Anda mentazkiyah penyeru bid'ah, memujinya sedangkan Saya memperingatkan manusia darinya, Maka siapakah diantara kita yang memberikan nasehat demi agama Allah dan bagi hamba Allah?? Saya ataukah Anda??

Orang yang memperingatkan dari kesesatan dan penyerun kesesatan dialah An-Nashih fi dinillah. adapun yang condong kepada ahlul bid'ah maka ia termasuk dari mereka, karena "seorang bersama agama temannya, maka lihatlah dengan siapa ia bergaul"

Imam Ahmad pernah berdalil tentang menyimpangnya seorang dan mengikuti hawa nafsu hanya dengan ucapan salamnya kepada ahlul bid'ah, Imam Ahmad berkata :"Ketika engkau melihat seseorang memberi salam pada ahlul bid'ah maka ketahuilah bahwa ia mencintainya" lalu Imam Ahmad berdalil dengan hadits "Maukah aku tunjukkan pada kalian sesuatu jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? tebarkan salam diantara kalian"...." -selesai jawaban Syaikh Muhammad bin Hadi-

Abul-Harits mengatakan...

Syaikh Ali hafidzahullah berkata kepada ulama yang berseberangan dengan beliau :
"وحسبك أن تكون مقلدا "
"cukuplah engkau sebagai seorang yang taklid"

Syaikh Ubaid Al-Jabiry hafidzahullah menjawab :
طلب الترجيح عند الاختلاف ووصف المرجح بأنه مقلّد، هذا لم
نعرفه، لم نعرف عن الأئمة وصف من يرجح الراجح من الأقوال بدليله أنه مقلّد، إلا
مجتهد المذهب الذي يرجح الذي ينظر في أقوال إمامه ويرجح الراجح منها،هذا مقلد،
لكن المرجح الذي ينظر في الأقوال المختلفة وينظر في أدلّتها فيرجح بعضها
بالأدلة هذا لا يسمى مقلداّ
"ketika seorang mencari pendapat yang rajih dalam ikhtilaf, (tidak boleh) mensifati bahwa ia adalah seorang muqallid (taklid), kami tidak mengetahui dari para imam salaf bahwa mereka mensifati ulama yang merajihkan pendapat dengan dalilnya sebagai seorang muqallid..akan tetapi seorang yang membahas pendapat ulama yang berbeda-beda dan melihat pada dalilnya lalu merajihkan sebagiannya maka ini bukanlah taklid"

Jadi sekali lagi, kami memohon kepada Ustadz dan para pembaca agar tidak mensifati kami dengan tuduhan taklid, tidak inshaf, belum mendalami aqwal ulama ttg masalah ini maupun melakukan segala cara demi tujuan, alhamdulillah saya pun telah membaca kitab "qurratu 'uyuunis salafiyyin".

inilah maksud saya menulis disini, bukan untuk berdebat dengan Ustadz Abul-Jauza hafidzahullah,
yang tentunya ilmu saya jauh di bawah beliau dan saya masih harus banyak mengambil faidah dari beliau..

jazaakumullah khairal jazaa'

Abul-Harits mengatakan...

Dan diantara alasan saya, kenapa condong pada pendapat Syaikh Rabi' Al-Madkhali hafidzahullah dalam permasalahan fitnah adalah karena para Ulama pum menasehatkan demikian.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata:
" وباختصار أقول: إن حامل راية الجرح
والتعديل اليوم في العصر الحاضر وبحق هو أخونا الدكتور ربيع، والذين يردون عليه لا يردون عليه بعلم
أبداً، والعلم معه "
"Secara ringkas, aku katakan bahwa pembawa bendera jarh wa ta'dil pada hari ini, di masa ini dengan haq adalah akhuna doktor Rabi', orang-orang yang membantah beliau, tidaklah mereka berada di atas ilmu selamanya, dan ilmu bersama beliau (Syaikh Rabi')"

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata tentang Syaikh Rabi' :
:" الرجل إمام في السنة !!"
"Beliau adalah seorang Imam dalam Sunnah"

Syaikh Muqbil rahimahullah berkata :
:" مِنْ أبصر الناس بالجماعات وبدخن الجماعات في هذا
العصر الأخ الشيخ ربيع بن هادي -حفظه الله-، مَن قال له ربيع بن هادي إنه حزبي فسينكشف لكم
بعد أيام إنه حزبي، ستذكرون ذلك، فقط الشخص يكون في بدء أمره متستراً "
"Diantara ulama yang paling tahu tentang jama'ah-jama'ah (hizbiyyah) dan mengetahui kesesatannya pada masa ini adalah al-akh As-Syaikh Rabi' bin Hadi hafidzahullah, barangsiapa yang dikatakan Syaikh Rabi' sebagai hizby maka akan tersingkaplah keadaannya setelah berlalunya waktu bahwa ia adalah hizby, hal itu akan nampak bagimu walaupun terkadang ia pada awal keadaannya belum nampak (kesesatannya)"

Nas'alullahat taufiq was-Sadad

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebenarnya sebagian besar yang antum tulis telah saya ketahui sebelumnya. Dan bahkan itulah yang saya maksud. Mengapa ?. Ini terkait dengan penyikapan terhadap individu yang masih diperselisihkan. Akhirnya, sebagian orang menuduh Syaikh ‘Aliy sebagai orang yang lembek terhadap ahlul-bida’. Dan akhirnya, merembetlah kepada persoalan ‘manhaj’.

Tentang Asy-Syaikh Rabii’, tidak dipungkiri bahwa beliau salah seorang ulama Ahlus-Sunnah. Akan tetapi jika beliau dikatakan sebagai haamil liwaa’ al-jarh wat-ta’dil fil-‘ashril-‘haadlir, apakah beliau tidak mungkin salah ?. Apakah perkataan beliau semuanya harus diterima ?. Jika ada yang berkata : Ya, maka benarlah yang dikatakan Syaikh ‘Aliy : “Cukuplah engkau sebagai seorang muqallid”. Antum bisa lihat sendiri fenomena taqlid yang luar biasa di kalangan sebagian ‘salafiyyuun’. Contoh kecilnya adalah yang telah saya tulis di artikel ini dan komentar di atas.

Dan juga,... bukankah perkataan Syaikh Al-Albaaniy dan Syaikh Muqbil terhadap Syaikh Muqbil itu ‘dulu’. Jika antum mengambil perkataan yang ‘dulu’, mengapa antum tidak mengambil perkataan para ulama kibar yang ‘dulu’ kepada Syaikh ‘Aliy ?. Syaikh ‘Aliy bahkan dikatakan sebagai ‘bahr’ oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin (baca di Qurratul-‘Uyuun, hal. 109-110). Juga termasuk perkataan yang ‘dulu’ pernah diucapkan, Syaikh Hammaad Al-Anshaariy (muhaddits besar Madiinah) mengatakan bahwa Syaikh ‘Aliy adalah pengganti Syaikh Al-Albaaniy (hal. 110). Jika antum mengatakan : Syaikh ‘Aliy telah dijarh oleh Syaikh Rabii’. Jika memang demikian, bukankah waqi’ mengatakan bahwa masyaikh lain tidak sependapat dengan Syaikh Rabii’, dan di antara mereka (yang tidak sependapat) bukanlah orang yang kedudukan di bawah thabaqah Syaikh Rabii’ ?. Subhaanallaaah..... Dan lebih dari itu, bersamaan dengan pujian para kibaar ulama kepada Syaikh ‘Aliy, apakah antum menganggap Syaikh ‘Aliy itu ulama ?. Jika antum menganggap ulama (setidaknya : ‘pernah’ menjadi ulama), apakah jika ia berselisih pendapat dengan Syaikh Rabii’ menjadi satu keharaman (hanya karena alasan : Syaikh Rabii’ pemegang bendera jarh wa ta’dil) ?. Jika antum menjawab : tidak boleh; maka sebenarnya pembicaraan kita selesai di paragraf ini.

[dan saya tidak berhajat membawakan seluruh pujian para ulama kibaar terhadap Syaikh ‘Aliy di sini, karena saya yakin antum telah mengetahuinya. Dan sekali lagi, seandainya saya ingin mencontohkan kritikan sebagian ulama kepada kepada yang lain di sini, saya pun bisa].

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tentang perkataan Syaikh ‘Aliy :

Ketika permasalahan menjadi sempit dan kita pun berselisih tentang fulan, tidak boleh bagi kita menjadikan perbedaan kita dalam menyikapi fulan sebagai sebab perselisihan diantara kita [selesai].

Saya pribadi tidak tahu, sisi apa dari perkataan ini yang keliru. Tetapi yang harus digarisbawahi, bahwa perkataan Syaikh ‘Aliy ini adalah dalam konteks kalangan Ahlus-Sunnah. Ini ditunjukkan oleh penjelasan Syaikh ‘Aliy saat membawakan kalimat itu : “karena perselisihan terhadap salah seorang mukhaalifiin tidaklah harus mengkonsekuensikan adanya saling memutuskan hubungan di antara Ahlus-Sunnah”. Tahthbiq tentang perkataan di atas sangatlah banyak :

1. Antum tahu perbedaan pendapat antara Syaikh Muqbil dengan Syaikh Al-Albaaniy tentang Syaikh Raasyid Ridlaa ?. Syaikh Muqbil mengatakan Mu’taziliy, sedangkan Syaikh Al-Albaniy mengatakan Ahlus-Sunnah (walau padanya terdapat kekeliruan-kekeliruan). Apakah perbedaan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka berdua ?. Apakah mereka saling memutuskan hubungan karena perbedaan itu ?.

2. Antum tahu perbedaan pendapat antara Syaikh ‘Abdul-Muhsin dengan Syaikh Rabii’ dalam permasalahan naqd beberapa person ?. Ini sangat masyhur di kalangan thullabul-‘ilmi. Apakah mereka kemudian saling berselisih dan memutuskan hubungan karena perbedaan itu ?.

3. Dan lain-lain (dalam kitab-kitab biografi ulama terdahulu pun banyak contohnya).

Itu juga terlihat dalam praktek di sebagian asaatidzah antum. Ketika ada perselisihan antara masyaaikh Dammaaj Daarul-Hadiits dengan eks murid-murid Syaikh Muqbil yang lain (juga Syaikh ‘Ubaid, Dr. ‘Abdullah Al-Bukhaariy, dan yang lainnya); dimana sebagian asatidzah antum memilih untuk diam dan tidak menyulut api pertikaian itu di Indonesia. Bahkan saya mendengar sendiri rekamannya dimana sang ustadz menegaskan bahwa mereka yang berselisih itu adalah ulama, dan tidak sepatutnya kita ikut-ikutan (dalam meramaikan perselisihan itu). Bukankah ini juga sebenarnya waqi’ terhadap penerapan perkataan Syaikh ‘Aliy di atas ?.

Silakan antum baca penjelasan maksud perkataan itu dari Syaikh ‘Aliy di : http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=1072. Di sini dijelaskan secara gamblang (setidaknya bagi saya). Sebagai suplemen, silakan baca-baca juga di sini.

Adapun jawaban Syaikh ‘Ubaid dan Syaikh Muhammad bin Haadiy yang antum kutip, silakan antum nilai sendiri, apakah memang ‘berkorelasi’ nggak dengan maksud Syaikh ‘Aliy...... Dan yang menakjubkan saya, perkataan Syaikh ‘Aliy di atas senada dengan penjelasan Syaikh Zaid Al-Madkhaliy : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=23295.

Apa yang dikatakan Syaikh ‘Aliy itu didasari bahwa ikhtilaaf dalam permasalahan al-ajrh wat-ta’diil itu seperti ikhtilaaf dalam hal ilmu-ilmu yang lain (baca : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/ikhtilaaf-dalam-al-jarh-wat-tadiil.html).

Tentang beberapa kitab yang membantah Syaikh ‘Aliy yang antum anggap sebagai qarinah penyimpangan manhaj Syaikh ‘Aliy; maka pertanyaan sederhana saya adalah : “Sejak kapan banyaknya bantahan terhadap seseorang menjadi qarinah akan penyimpangan seseorang ?”. Subhaanallaah.... darimana pemahaman ini ?. Berapa banyak bantahan yang dibangun dari pemahaman yang salah ?. Berapa banyak bantahan dibangun dari tuduhan dusta ?. Yang menjadi qarinah itu adalah kenyataan, bukan banyaknya tuduhan.

Ini saja yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.

NB : Jika antum telah membaca buku Qurratul-‘Uyuun, semoga antum mendapat pencerahan dari situ. Baca juga kitab Al-Ibaanah ‘anil-Khiyaanah yang merupakan bantahan terhadap kitabnya Dr. Ahmad Bazmuul.

Abul-Harits mengatakan...

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah menasehatkan pada kita :
والسلف حذرونا من الثقة بالمبتدعة، وعن الثناء عليهم، ومن �� المقتدى
مجالستهم، والمبتدعة يجب التحذير منهم، ويجب الابتعاد عنهم، ولو كان عندهم شيء من الحق، فإن
غالب الضُلاَّل لا يخلون من شيء من الحق؛ ولكن ما دام عندهم ابتداع، وعندهم مخالفات، وعندهم
أفكار سيئة، فلا يجوز الثناء عليهم، ولا يجوز مدحهم، ولا يجوز التغاضي عن بدعتهم؛ لأن في هذا
ذه الطريقة يظهر المبتدعة ويكونون قادة للأمة - لا قدَّر الله - �� ويناً من أمر السنة، و �� ترويجاً للبدعة، و
فالواجب التحذير منهم. وفي أئمة السنة الذين ليس عندهم ابتداع في كل عصر ولله الحمد فيهم
الكفاية وهم القدوة. فالواجب إتباع المستقيم على السنة الذي ليس عنده بدعة، وأما المبتدع فالواجب
التحذير منه، والتشنيع عليه، حتى يحذره الناس، وحتى ينقمع هو وأتباعه. وأما كون عنده شيء من
الحق، فهذا لا يبرر الثناء عليه أكثر من المصلحة، ومعلوم أن قاعدة الدين " إن درء المفاسد مقدم على
جلب المصالح". وفي معاداة المبتدع درء مفسدة عن الأمة ترجح على ما عنده من المصلحة المزعومة إن
ذا المبدأ لم يضلل أحد، ولم يبدع أحد؛ لأنه ما من مبتدع إلا وعنده شيء من �� كانت ولو أخذنا
الحق، وعنده شيء من الالتزام. المبتدع ليس كافراً محضاً، ولا مخالفاً للشريعة كلها، وإنما هو مبتدع في
بعض الأمور، أو في غالب الأمور، وخصوصاً إذا كان الابتداع في العقيدة وفي المنهج فإن الأمر خطير؛لأن هذا يصبح قدوة، ومن حينئذٍ تنتشر البدع في الأمة، وينشط المبتدعة في ترويج بدعهم. فالذي
يمدح المبتدعة، ويشبه على الناس بما عندهم من الحق، هذا أحد أمرين :
إما جاهل بمنهج السلف، وموقفهم من المبتدعة، وهذا الجاهل لا يجوز له أن يتكلم، ولا يحوز
للمسلمين أن يستمعوا له.
وإما مغرض؛ لأنه يعرف خطر البدعة ويعرف خطر المبتدعة ولكنه مغرض يريد أن يروج للبدعة.
فعلى كلٍّ هذا أمر خطير، وأمر لا يجوز التساهل في البدعة وأهلها مهما كانت".

"Salaf memperingatkan kita dari seorang tsiqah yang mubtadi', melarang memuji mereka, duduk bersama mereka, wajib bagi kita untuk memperingatkan umat dari mereka, menjauhi mereka walaupun mereka memiliki beberapa perkara yang mencocoki kebenaran, karena kebanyakan para penyeru kesesatan juga mencocoki kebenaran dalam beberapa permasahan. Akan tetapi selama pada mereka terdapat kebid'ahan,kekeliruan, dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang maka tidak boleh memuji mereka,menutup-nutupi kebid'ahan mereka,karena hal ini akan mendukung kebid'ahan dan melecehkan sunah.

Dengan cara ini maka mubtadi'ah akan menjadi panutan umat, maka wajib untuk menmperingatkan umat dari mereka.

Abul-Harits mengatakan...

inilah satu permasalahan diantara yang dikritik para ulama dari Syaikh Ali hafidzahullah tentang permasalahan mumayyi' sebagaimana yang Ustadz Abul-Jauza sebutkan,

ketika Syaikh Rabi' dan ulama yang sependapat dengan beliau mentahdzir beberapa du'at, Syaikh Ali pun mengakui kekeliruan dan kebid'ahan pada mereka.
Bersamaan dengan itu Syaikh Ali tetap bermuamalah dengan mereka seolah-olah menutup mata dari kebid'ahan mereka.

Sebagaimana Syaikh Ali menginginkan kebaikan pada mereka dengan memberikan nasehat, Syaikh Rabi' pun demikian, memberikan nasehat beberapa waktu lamanya agar mereka ruju' dari kesalahan. namun ketika mereka tidak mengindahkan nasehat, maka nasehat terbaik bagi umat adalah dengan mentahdir mereka, bukankah ini adlah sikap yang bijak?

Ketika kita meyakini para du'at tersebut adalah mubtadi' (walaupun pada mereka terdapat kebaikan dan iltizam pada sunah seperti yang dijelaskan Syaih Shalih Al-Fauzan) yang tentunya dengan melihat dalil dari ucapan mereka dan kitab karya mereka yang menyelisihi kebenaran,
Bukankah sikap kita seharusnya sebagaimna yang dijelaskan Syaikh Shalih Al-Fauzan di atas?

sebagaimana Syaikh Rabi' bisa keliru, Syaikh Ali pun bisa keliru dalam permasalahan ini, sehingga perajihan dalam permasalahan ini adalah dalil yang kita yakini lebih rajih.

Maka dengan jawaban saya bahwa Syaikh Rabi' tidak ma'shum, Alhamdulillah saya terlepas dari taklid sebagaiman Ustadz dan Syaikh Ali katakan,

Saya tidak menuduh taklid pada Ustadz Abul-Jauza ketika antum membela Syaikh Ali,tapi kenapa Ustadz mengatakan kami taklid karena mengikuti pendapat Syaikh Rabi'dan ulama yang sependapat dengan beliau dengan dalil?

Pertanyaan Ustadz, kenapa Syaikh dan Asatidzah antum tidak demikian dan demikian ketika terjadi demikian?

maka Syaikh dan Asatidzah kami yang lebih berhak menjawab, atau mungkin perlu ditanyakan secara langsung pada mereka.

Apa yang saya tulis disini tidak mewakili Asatidzah kami hafidzahumullah, tapi hanya dari buah pikiran saya pribadi, sehingga kekurangan saya mohon dimaafkan.

Abul-Harits mengatakan...

Saya pun mengakui bahwa khilaf dalam masalah jarh wa ta'dil sebagaimana khilaf dalam masalah ilmu yang lain,

contoh sederhana, misalkan perrselisihan ulama tentang hukum seorang laki-laki yang meninggalkan shalat karena malas..yang masyhur ada khilaf tentang kekafirannya.

lalu ada seorang qadhi meyakini kafirnya laki-laki tersebut setelah dimintai taubat, sementara istrinya meminta fatwa...bukankah konsekuensinya bahwa seorang qadhi harus berfatwa bahwa istrinya harus diceriakan dari suamainya karena ia kafir, tidak ada hubungan saling mewarisi, jika ia mati tidak disolatkan dan tidak dikuburkan di kuburan kaum muslimin, tidak boleh mendoakannya ketika ia mati dan belum bertaubat...

tentunya kita tidak akan menyatakan bahwa qadhi itu tidak inshaf atau kurang hikmah dalam memutuskan perkara.

ini yang saya maksud dengan konsekuensi dari pendapat yang saya yakini..jika fulan adalah mubtadi' maka konsekuensinya pun harus dijauhi, dijelaskan kesalahannya, tidak menyebutkan kebaikannya, tidak boleh duduk bersamanya..Bukankah kita masih ingat, sikap Imam Ahmad yang mencap seorang sebagai qodary hanya karena ia berteman dekat dengan qodary, padahal Imam Ahmad belum mengenal orang tersebut sama sekali...

jika masih ada seorang yang membela mubtadi' tentu akan kita curigai agamanya..

Adapun pujian sebagian ulama kepada tokoh-tokoh bid'ah maka sebagaimana Syakh Shalih Al-Fauzan sebutkan sebatas maslahat yang dibutuhkan dan tidak berlebihan, bukan karena para ulama membela tokoh-tokoh bid'ah, buktinya para ulama memuji kitab Syaikh Rabi' ketika beliau membantah tokoh-tokoh bid'ah sejak fitnah Sayyid Qutb smpe sekarang..

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Darimana antum menyimpulkan bahwa saya telah mengatakan bahwa antum itu muqallid ?. Bukankah yang saya katakan :

"Jika ada yang berkata : Ya, maka benarlah yang dikatakan Syaikh ‘Aliy : “Cukuplah engkau sebagai seorang muqallid” [selesai].

Saya harap antum dapat memahami konteks kalimat di atas sehingga antum tidak perlu menisbatkan sesuatu yang saya tidak mengatakannya.

Kemudian,..... dari perkataan antum tentang Syaikh Rabii',... bahkan tathbiq para ulama adalah seperti tahthbiq yang dilakukan oleh Syaikh 'Aliy. Bukankah saya telah memberikan dua contoh di atas ?. Apakah kurang jelas ?. Ketika Syaikh Al-Albaaniy kontra dengan Syaikh Muqbil tentang Raasyid Ridlaa, apakah mereka bermusuhan ?. Antum dapat lihat di beberapa kitab Syaikh Al-Albaaniy yang memuji Rasyid Ridlaa dan menukil perkataan-perkataannya. Dikarenakan Raasyid Ridlaa telah wafat, maka interaksi Syaikh Al-Albaaniy adalah dengan kitab-kitabnya. Tentu saja ini dipahami karena beliau masih menganggap Raasyid Ridlaa sebagai ulama Ahlus-Sunnah. Beda halnya dengan Syaikh Muqbil. Banyak kalam dari beliau yang mentahdhir Raasyid Ridlaa. Jarang sekali - dan saya pribadi malah belum pernah mendapatkan - beliau menukil perkataan Raasyid Ridlaa dalam kitabnya untuk diambil faedah. Lantas, apakah mereka berdua saling bermusuhan ?. Apakah dalam hal ini Syaikh Al-Albaaniy dianggap sebagai mumayyi' ?.

Begitu juga dengan Syaikh 'Abdul-Muhsin dan Syaikh Rabii'. Bukankah mereka berbeda pendapat tentang Abul-Hasan Al-Ma'ribiy yang dianggap Syaikh Rabii' sebagai mubtadi' dlaal (sesat) ?. Syaikh 'Abdul-Muhsin tetap berinteraksi dengan Abul-Hasan karena beliau masih menganggapnya Ahlus-Sunnah. Begitu juga kasus Adnan 'Ar'ur. Mereka berdua tidak saling bermusuhan dan memutuskan hubungan karena perbedaan ini. Apakah kemudian Syaikh 'Abdul-Mushin akan disebut mumayyi' ?. Jika antum menyebut Syaikh 'Aliy mumayyi', mengapa antum tidak menyebut Syaikh 'Abdul-Mushin mumayyi' padahal keduanya sama sikapnya terhadap orang-orang yang ditahdhir Syaikh Rabii' ?.

Juga tentang Syaikh Al-'Ubailaan tentang masalah IT. Beliau memujinya dan menganggapnya masih dalam lingkungan Ahlus-Sunnah (walau padanya terdapat kekeliruan) - terlepas antum setuju atau tidak. Apakah dengan pujian ini - yang otomatis kontra dengan Syaikh Rabii' - Syaikh Al-'Ubailaan menjadi mumayyi' ?. Duhai, sungguh banyak mumayyi'iin di kalangan ulama Ahlus-Sunnah......

Jika antum mengatakan bahwa Syaikh 'Ali mengakui bahwa orang yang ditahdhir Syaikh Rabii' mempunyai kekeliruan dan kebid'ahan, namun Syaikh 'Aliy tetap bermuamalah dengan mereka; maka pertanyaan sederhananya adalah :

"Apakah setiap orang yang berbuat kekeliruan dan kebid'ahan harus disebut mubtadi' (ahli bid'ah) dan keluar dari lingkup Ahlus-Sunnah ?".

Inilah permasalahannya. Dan inilah tempatnya ijtihad para ulama. Dan ketahuilah ya akhi,.... tidak setiap tahdhiran dan tuduhan itu benar. Misalnya : Saya telah membaca beberapa tuduhan Syaikh Rabii' kepada Syaikh Abul-Hasan Al-Ma'ribiy, terutama pada kitabnya yang berjudul As-Siraajul-Wahhaaj. Syaikh Abul-Hasan telah menjawab tuduhan tersebut dalam kitab قطع اللجاج بالرد على من طعن في السراج الوهاج . Tidak ada larangan bagi antum untuk tatsabbut atas tuduhan Syaikh Rabii' tersebut, karena yang dianggap - sebagaimana telah saya katakan sebelumnya - adalah kenyataan, bukan banyaknya tuduhan. Silakan baca-baca jawaban Syaikh Abul-Hasan dengan mendownload kitab tersebut di : http://sulaymani.net/fails/rdood/lgag.doc.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Jika Syaikh 'Aliy masih menganggap Syaikh Abul-Hasan, Syaikh 'Adnan 'Ar'ur, dan Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwainiy sebagai Ahlus-Sunnah, maka wajar jika beliau berinteraksi dengan mereka; dengan tetap saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran (sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh 'Aliy).Ini bukan sikap mumayyi'.

Jika ini memang dianggap sikap mumayyi', sungguh, hampir semua ulama yang berselisih dengan Syaikh Rabii' dianggap sebagai mumayyi'. Antum bisa menyebutkannya satu persatu.

[duhai,... betapa banyak mumayyi'iin di kalangan ulama Ahlus-Sunnah]

Oleh karena itu, perkataan Syaikh Shaalih Al-Fauzaan tidaklah berkorelasi dengan masalah yang antum angkat. Mengapa ?. Yang beliau bicarakan adalah mubtadi'. Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Syaikh Al-Fauzaan. Tapi ini kan perkaranya : Satu ulama bilang mubtadi', yang lain bilan masih Ahlus-Sunnah.

Jika perkataan Syaikh Al-Fauzaan memang seperti yang antum maksudkan, maka semua orang yang berselisih dengan Syaikh Rabii' dalam masalah jarh wa ta'dil akan terkena nasihat Syaikh Al-Fauzaan.... Dan itu tidak tepat ya akhi...

Saya tidak pernah mengatakan Syaikh 'Aliy tidak mungkin keliru. Akan tetapi yang penting adalah tatsabbut. Jika antum mengaku tidak taqlid dan telah tatsabbut atas berbagai macam tuduhan yang ada, alhamdulillah, saya harapkan itu benar. Dan antum sebenarnya tidak perlu responsif terhadap artikel yang saya buat di atas, karena tujuan tulisan saya itu jelas. Yaitu kepada admin faktablogsome atau tukpencarialhaq. Tapi anehnya antum menjadi responsif ketika saya memberikan pembelaan terhadap Syaikh 'Aliy, seakan-akan tulisan saya itu menyinggung antum, semua asatidzah antum, dan masyaikh antum. Seandainya saya menyebut Ustadz Askari, maka saya pun pertegas permasalahannya, yaitu : Fatwa Lajnah Daaimah tentang tuduhan Irja'-nya Syaikh 'Aliy. Subhaanallaah......

Abul-Harits mengatakan...

Pertanyaan Ustadz, kenapa saya mengambil pujian Ulama yang dulu kepada Syaikh Rabi' tetapi tidak mngambil pujian Ulama kpd Syaikh Ali yang dulu ?

karena Syaikh Rabi' dari dulu sampai sekarang manhaj beliau tidak berubah, seandainya ada penyimpangan pada manhaj beliau tentu para ulama tidak diam bahkan membantah beliau dengan tulisan.

adapun pada Syaikh Ali, maka sebagian ulama menyatakan ada perubahan pada manhaj beliau dlm beberapa masalah dengan dbuktikan dari ucapan-ucapan dan tulisan syaikh Ali dalam kitabnya yang menyelisihi manhaj salaf..

afwan ustadz, terjemahan nasehat Syaikh Shalih Al-Fauzan terpotong, ada bagian yang belum ditampilkan di koment..jazakumullah khairan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Jika antum mengatakan bahwa manhaj Syaikh Rabii' tidak berubah dari dulu hingga sekarang; maka begitu pun dengan Syaikh 'Aliy. Yang menyebut berubah, tentu saja orang yang kontra dengan beliau. Namun orang yang paling mengerti dengan beliau [semisal : Syaikh Sa'd Al-Hushain (murid senior Syaikh Ibnu Baaz) dan Syaikh 'Abdul-Muhsin] mengatakan Syaikh 'Aliy tidak berubah. Manhajnya adalah seperti manhaj gurunya.

Jika antum mengatakan tidak ada ulama yang mengritik Syaikh Rabii',...... baarakallaahu fiikum, semoga Allah meluaskan ilmu antum.

Abul-Harits mengatakan...

Saya tidak mengatakan tidak ada ulama yang mengkrtik syaikh Rabi', maksud saya adakah kitab khusus yang ditulis tentang penyimpangan manhaj Syaikh Rabi' dari para ulama sebagaimana ditulis kitab bantahan ttg Syaikh Ali? ini yang saya ketahui, tentu Ustadz lebih luas ilmunya.

Alhamdulillah klo ustadz tidak menyebut saya muqollid, jika demikian tercapailah maksud saya menulis di sini.. dan saya pun mengakui bahwa ustadz menjawab apa yang saya tulis di sini dengan sangat baik, tapi ini pun baru sebagian pemasalahan jadi belum merubah dari apa yang saya yakini...

Afwan selama ini saya banyak menyita waktu antum...seandainya waktu itu digunakan untuk membantah syiah dan quburiyyun tentu lebih bermanfaaat...

jazakumullah khairan atas faedahnya, smg Allah memberikan barakah pada ilmu dan waktu antum...

mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan saya selama ini,

uhibbukum fillah..smoga suatu saat nanti Allah pertemukan kita...

Assalamu'alaikum...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Seandainya kritikan itu baru dianggap jika telah dibukukan, maka banyak kritikan ulama mutaqaddimiin tidak akan berarti apa-apa. Kesalahan adalah kesalahan baik dibuat buku atau tidak.

Mungkin, akhirnya saya menuliskan di sini beberapa ulama Ahlus-Sunnah yang sampai sekarang 'masih bersama' Syaikh 'Aliy (dan masih menganggap beliau ulama Ahlus-Sunnah). Beberapa di antaranya :

1. Syaikh 'Abdul-Muhsin Al-'Abbaad - ma'ruf.

2. Syaikh Hamdiy bin 'Abdil-Majiid As-Salafiy (mungkin beliau adalah murid Syaikh Al-Albaaniy paling tua yang masih hidup saat ini - biografi singkatnya ada di sini).

3. Syaikh Sa'd Al-Hushain (biografi singkatnya bisa dibaca di sini).

4. Syaikh Dr. 'Aashim Al-Qaryuutiy (biografinya bisa dibaca di : sini).

5. Syaikh Dr. 'Abdul-'Aziiz Ar-Rays (beberapa pujian yang dialamatkan ke beliau, silakan baca di sini).

6. Syaikh 'Abdul-Maalik Ar-Ramadlaaniy (penulis kitab Madaarikun-Nadhaar fis-Siyaasah - biografi ringkasnya dapat dibaca di sini).

7. Syaikh Prof. 'Abdurrazzaaq bin 'Abdil-Muhsin Al-'Abbaad.

8. Syaikh Prof. Ibraahiim Ar-Ruhailiy (biografi singkatnya bisa dibaca di sini.

9. Syaikh Muhammad bin 'Aliy Aadam Al-Itsyuubiy (biografinya bisa dibaca di sini).

10. Syaikh Dr. Shaadiq Al-Baidlaaniy (biografinya bisa dibaca di sini).

11. Syaikh Dr. Ahmad bin Shaalih Az-Zahraaniy.

12. Syaikh Dr. Washiyullah 'Abbaas (biografi singkatnya dapat dibaca di sini).

13. Syaikh 'Abdullah Al-'Ubailaan (biografinya dapat dibaca di sini.

14. Syaikh 'Utsmaan Al-Khamiis (biografi singkatnya bisa dibaca di sini).

15. Syaikh Muhammad bin Sa'iid Raslaan (biografi singkatnya dapat dibaca di sini).

16. Syaikh Dr. Muhammad bin Muusaa Aalu Nashr (biografi singkatnya di sini).

17. Syaikh Prof. Baashim bin Faishaal Al-Jawaabirah (biografi singkatnya dapat dibaca di sini).

18. Syaikh Husain bin 'Audah Al-'Awaaisyah.

19. Syaikh Masyhuur bin Hasan Salmaan (biografinya bisa dibaca di sini).

20. Syaikh Abu 'Abdil-Baariy Al-'Ied Al-Jazaairiy (biografinya bisa dibaca di sini).

21. Syaikh Saalim bin Ath-Thawiil.

22. Syaikh 'Umar bin Hamruun Al-Jazaairiy.

23. Syaikh Dr. Husain bin 'Abdil-'Aziiz Alusy-Syaikh.

24. dan yang lainnya....

Mereka adalah para ulama yang mendapatkan tempat di hati Salafiyyuun. Mereka bukanlah orang-orang yang baru belajar manhaj salaf kemarin sore seperti kita.

Tentu saja, jangan sampai ada yang beranggapan bahwa ulama salafiy itu hanya Fulan dan Fulan saja (yang diterima perkataannya).

Baarakallaahu fiikum.

Abul-Harits mengatakan...

Afwan Ustadz, saya menulis komentar di blog saya (di kolom komentar karena kemarin disini kepotong-potong komentnya) di http://abul-harits.blogspot.com/2012/01/info-kajian-islamiyyah-bulan-januari.html?showComment=1326654154454#c2509653648747260348

Saya berharap Ustadz berkenan membacanya...jazakumullah khairan

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih atas komentarnya.

Namun,..... sungguh sangat disesalkan, harapan saya bahwa antum memahami perkataan belum juga terwujudkan. Dan malah, antum terkesan takalluf dalam mengeksplore apa yang hendak antum eksplore, walau itu bukan ranah pembicaraan yang saya inginkan. Ketika saya mencontohkan agar antum membaca kitab Abul-Hasan Al-Ma’ribiy yang berjudul Qath’ul-Lajjaaj, bukan saya hendak ingin membicarakan Abul-Hasan lebih jauh. Tapi silakan antum lihat konteksnya, bahwa.... saya ingin mengajak antum untuk tatsabbut atas segala tuduhan yang beredar. Kebetulan saja saya contohkan Abul-Hasan. Dalam kitab itu dijelaskan kebenaran tazkiyyah beberapa masyaikh atas kitab As-Siraajul-Wahhaaj dimana Asy-Syaikh Rabii’ meragukannya (atau bahkan cenderung mendustakannya). Inilah yang saya inginkan. Akhi,.... terhadap ahlul-bid’ah pun kita harus adil. Kita tidak boleh dhalim dengan menisbatkan secara dusta apa-apa yang tidak dikatakan atau tidak diyakini oleh seseorang, meskipun ahlul-bid’ah. Silakan baca sedikit contohnya tentang Sayyid Quthb di : Antara Kedzaliman dan Pelurusan : Sayyid Qutb.

Dan ketahuilah ya akhi,..... sering kali fitnah itu timbul dari fatwa atas pertanyaan yang ‘salah’. Pertanyaan ‘salah’ itu timbul dari su’udhdhannya dan pemahaman yang salah dari penanya. Contoh adalah yang ada di negeri kita ini ketika ada seseorang ‘salafiy’ yang bertanya kepada salah seorang masyaikh tentang hukum menghadiri daurah Syaikh ‘Aliy (yang waktu itu masih dianggap ‘ulama oleh asatidzah antum) yang dikelola/diadakan oleh orang-orang hizbiy (maksudnya : Al-Irsyaad Al-Islaamiyyah). Kontan saja jawabannya tidak boleh. Yang seperti ini adalah banyak.

Kemudian menginjak masalah Abul-Hasan,.... (yang sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat untuk membahasnya). Tentang Syaikh ‘Abdul-Muhsin,.... perluas cakrawala antum dalam hal ini. Syaikh ‘Abdul-Muhsin memang pernah mengkritik Syaikh Abul-Hasan. Dan itu memang beliau akui, akan tetapi kemudian Abul-Hasan rujuk (contohnya : sini). Tentang tuduhan bahwa Abul-Hasan mencela shahabat (terutama dalam penggunaan ungkapan ghutsaaiyyah – lihat : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108656), maka Syaikh ‘Abdul-Muhsin mengatakan ia (Abul-Hasan Al-Ma’ribiy) telah keliru dalam pengambilan ta’biir (ungkapan) yang tidak sesuai, dan ia sama sekali tidak bermaksud mencela shahabat. Subhaanallaah..... Inilah ra’yu shahih dari seorang ulama besar yang memang mengenal Abul-Hasan. Orang yang mengenal Abul-Hasan pun tahu bagaimana pembelaan beliau terhadap para shahabat, sehingga susah untuk membenarkan tuduhan orang bahwa Abul-Hasan mencela shahabat (apalagi kemudian ia disebut sebagian orang sebagai Rafidliy !!). Lihatlah, Syaikh ‘Abdul-Muhsin selalu mengedepankan husnudhdhan. Bahkan ketika diberitakan tentang perkataan salah seorang masyaikh bahwa Abul-Hasan itu Rafidliy khabiits yang tidak akan kembali kepada ‘aqidah salafiyyah, maka Syaikh ‘Abdul-Muhsin berkata :

اعوذ بالله !! اعوذ بالله !! ، هذا الذي يتكلم في ابي الحسن ما ضر الا نفسه

“A’uudzubillah (2x), orang yang berkata tentang Abul-Hasan ini, tidak memudlaratkan kecuali pada diri sendiri” [baca : sini].

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dan Abul-Hasan pun telah menegaskan bahwa dirinya dengan istilah tersebut tidak bermaksud mencela para shahabat. Bahkan beliau bersumpah dengan menyebut nama Allah beliau tidak pernah sedikitpun bermaksud mencela shahabat. Dan ketika beliau diingatkan (akan kekeliruan ta’bir tersebut), maka beliau rujuk atas hal itu [baca : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=25385]. Anehnya, jarh bahwa Abul-Hasan telah mencela shahabat (padahal beliau tidak bermaksud mencela) terbawa sampai sekarang..... seakan-akan itu harus terbawa sampai akhir hayat beliau ! Antum bisa membuktikannya.

Kemudian bandingkan dengan perkataan yang diucapkan oleh salah seorang ulama kita (yang mengkritik Abul-Hasan) tentang shahabat :

كان عبدالله، وأبي بن كعب، وزيد بن ثابت، وابن مسعود، وغيرهم وغير هم، من فقهاء الصحابة وعلمائهم؛ ما يصلحون للسياسة، معاوية ما هو عالم، ويصلح أن يحكم الدنيا كلها، وأثبت جدارته وكفاءته، المغيرة بن شعبة مستعد يلعب بالشعوب على إصبعه دهاءً، ما يدخل في مأزق؛ إلا ويخرج منه، عمرو بن العاص أدهى منه

“’Abdullah, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsaabit, Ibnu Mas’uud, dan yang lainnya termasuk fuqahaa’ dan ulama dari kalangan shahabat. Namun mereka tidak bagus/cakap dalam perpolitikan. Mu’aawiyyah, ia bukan seorang yang ‘aalim namun ia cakap dalam menghukumi urusan dunia keseluruhannya. Dan memang telah tetap kemampuan dan kecakapannya (untuk hal tersebut). Adapun Mughiirah bin Syu’bah, dengan kecerdiakannya telah siap untuk mempermainkan rakyat dengan jarinya. Tidaklah ia masuk dalam kesempitan, melainkan ia dapat keluar darinya. Namun ‘Umar bin Al-‘Aash lebih cerdik darinya...” [dari kaset beliau yang berjudul : ‘Al-‘Ilm wad-Difaa’ ‘an Asy-Syaikh Jamii, side B – melalui perantaraan kitab Ad-Difaa’ ‘an Ahlil-Ittibaa’ karya Syaikh Abul-Hasan].

[mungkin saja nanti ada sebagian Pembaca yang mengatakan bahwa saya memusuhi beliau, hasad pada beliau, dan akhirnya jatuhlah perkataan : hizbiy, quthbiy, seperti yang sudah-sudah].

Banyak kalangan yang mengkritik beliau karena perkatannya tersebut. Namun, banyak murid-murid beliau memberi ‘udzur pada beliau. Anehnya, mereka tidak memberi ‘udzur pada Abul-Hasan Al-Ma’ribiy !!

Masih ada contoh-contoh yang lainnya.

Adapun istilah ghutsaaiyyah (yang dipakai Abul-Hasan), maka ini memang ta’bir yang keliru dan marjuh. Syaikh ‘Aliy telah menjelaskannya di http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=227. Baca juga http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26860.

Ini maksud saya bahwa kita harus mentahqiq setiap tuduhan.... Benar atau salahkah tuduhan itu ? Kemudian, benarkan penghukuman yang dibangun atas tuduhan itu ?.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Perkataan antum :

”Ketika para ulama yang telah saya sebutkan di atas telah bersepakat untuk mentahdzir Abul-Hasan, kenapa Syaikh Ali tidak sependapat dengan mereka dalam permasalahan ini !? kemudian berdalih bahwa ini adalah masalah khilaf diatara ulama karena masih ada Ulama yang mentazkiyah Abul-Hasan, atau menyatakan ini adalah masalah furu’iyyah yang ada keluasan padanya, atau ini adalah pendapat yang rajih menurut saya, bukankah Syaikh Ali sampai pada tingkatan ulama yang boleh berijtihad atau engkau tidak menganggap Syaikh Ali adalah seorang ulama !?.” [selesai kutipan].

Bagi saya ini adalah gambaran bahwa antum memang belum memahami sebagian permasalahan. Tahdzir atas kesalahan, maka itu iya. Bahkan Syaikh ‘Aliy pun mentahdzir sebagian kekeliruan Abul-Hasan. Namun jika yang dimaksudkan adalah tahdzir bahwa Abul-Hasan adalah mubtadi’, maka inilah yang tidak disepakati. Adalah angan-angan jika mengatakan ini ijma’ (atas tahdzir mubtadi’-nya Abul-Hasan). Dan antum dapat lihat sendiri hakekat tuduhan yang dialamatkan kepada Abul-Hasan !! Ini baru satu ya akhi.... Belum tuduhan-tuduhan yang lain. Lantas,.... bagaimana keadaannya jika ada seseorang yang memahami hakekat yang tidak dipahami oleh yang lain, kemudian menghukumi Abul-Hasan Al-Ma’ribiy bukan mubtadi’ dan masih termasuk Ahlus-Sunnah (walau padanya terdapat kekeliruan atau pernah melakukan kekeliruan) ?. Apakah menurut antum tidak mungkin dan tidak boleh ?

Abul-Hasan hanyalah satu contoh. Masih ada di sana Abu Ishaaq Al-Huwainiy, Muhammad Al-Maghrawiy, dan yang lainnya. Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy pernah menceritakan bagaimana usaha dia dalam tatsabbut atas tuduhan-tuduhan terhadap beberapa person, hingga ia menelpon yang bersangkutan, berbicara, memberikan nasihat, dan memberikan kitab-kitab. Dan hal-hal seperti itu tidak dilakukan oleh para ulama lain.

Anyway, seandainya antum masih ingin mengikuti apa yang antum yakini saat ini, maka saya pun tidak memaksakan. Toh, kutipan-kutipan antum tersebut lebih kurangnya telah saya baca sebelumnya. Saya akan tetap melakukan cross check sebisa saya, bukan sekedar mendengar lalu menerima segala yang saya dengar. Mungkin saja antum mengetahui apa yang tidak saya ketahui saat ini, dan saya mengetahui apa yang tidak antum ketahui.

Saya kira itu saja yang dapat saya tanggapi, semoga ini bermanfaat bagi saya dan antum.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dan sedikit tambahan :

Seandainya pun benar Abul-Hasan itu mubtadi' dan segala yang dituduhkannya benar; apakah harus menjadi keharusan bahwa barangsiapa yang tidak mentahdzir mubtadi', maka ia pun jadi mubtadi' ?. Atau dengan kata lain : Barangsiapa yang tidak mentabdi'-kan mubtadi', maka ia pun mubtadi' ?. Kalau memang iya, maka orang yang menjawab ini berbeda manhajnya (atau lebih diperhalus : berbeda ijtihadnya) dengan Syaikh Al-Albaaniy. Beliau rahimahullah berkata :

ليس شرطاً أبداً أنّ مَنْ كَفَّرَ شخصاً وأقام عليه الحُجَّة ، أنْ يكون كّلَّ النَّاس معه في التَّكْفير لأنه قد يكون هو متأوِّلاً ، ويرى العالِمْ الآخِرْ أنه لا يجوز التَّكْفير ، كذلك التَّفْسيق والتَّبْديع ، فهذه الحقيقة مِنْ فِتَنْ العصر الحاضر

"Bukan menjadi persyaratan selamanya bahwa siapa saja yang mengkafirkan person tertentu dan telah menegakkan padanya hujjah (sehingga jatuh hukum kekafiran pada person itu), menjadikan/mengkonsekuensikan semua orang bersamanya dalam pengkafiran (person tadi). Karena barangkali person tadi termasuk orang yang menta'wilkan dan ulama lain melihat ia tidak boleh dikafirkan. Hal yang sama berlaku juga pada tafsiiq dan tabdii'. Inilah hakekat fitnah yang terjadi di masa sekarang" [Silsilatul-Hudaa wan-Nuur, no. 778, pertanyaan no. 4; sumber : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=366].

Perkara bid'ahnya Abul-Hasan (kalaupun seandainya benar semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya) bukan seperti perkara Jahm bin Shafwaan atau Khomeini yang kesesatannya sangat terang diketahui oleh ulama dan awamnya, dan kemudian ulama bersepakat atas kesesatannya itu. Dalam perkara Abul-Hasan, di sana tercampur kebenaran dan kedustaan, sehingga (mungkin) samar bagi sebagian orang. Tidak terkecuali Syaikh 'Aliy, Syaikh Al-'Abbaad, dan yang lainnya.

Seandainya ulama yang tidak membid'ahkan orang yang tidak dibid'ahkan oleh Syaikh Rabii' (seperti Al-Ma'ribiy, 'Ar'uur, Al-Maghrawiy, Abu Ishaaq, Muhammad Hassaan, Al-Munajjid, dan yang lainnya) harus disebut mubtadi', silakan antum tulis daftar ulama yang akan menjadi mubtadi' akibat kaedah ini. Bahkan untuk kasus Sayyid Quthb; maka Syaikh 'Abdul-'Aziiz Alusy-Syaikh, Syaikh Bakr Abu Zaid, dan Syaikh Ibnu Jibriin pun mubtadi'.

[bahkan sebagian orang yang pro dengan Syaikh Rabii' sudah ada yang terang-terangan mengatakan ulama Lajnah tersusupi orang-orang Quthbiyyuun - karena ada yang memuji Sayyid Quthb. Dan sebagian 'salafiy' di Indonesia, kalau menyebut Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Ibnu Jibriin sudah gak pake syaikh-syaikh an lagi].

Jadi, seandainya para ulamaa berselisih, sudah menjadi kewajiban kita untuk memilih yang raajih dari perselisihan itu. Seandainya kita telah memilih yang raajih dari perselisihan itu, maka perkara selanjutnya adalah tidak menjadikan perbedaan pentarjihan tadi sebagai sebab perpecahan di kalangan Ahlus-Sunnah. Karena yang berselisih itu para ulama Ahlus-Sunnah. Bukan perselisihan antara ulama Ahlus-Sunnah dengan ulama Shuufiyyah.

Anonim mengatakan...

quote: "Seandainya ulama yang tidak membid'ahkan orang yang tidak dibid'ahkan ... "

maksudnya : "orang yang dibid'ahkan..." ust?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Benar,... dan sekaligus itu sebagai ralat. Jazaakallaahu khairan.

[mohon maaf, blogger tidak menyediakan tools editor komentar]

Abul-Harits mengatakan...

Ustadz, saya ada artikel baru, mohon kembali di koreksi di http://abul-harits.blogspot.com/ berjudul "Menyikapi Masalah Khilaf"

Afwan Ustadz kapan saya mengatakan bahwa Syaikh Ali adalah mubtadi' karena menyelisihi Syaikh Rabi' dalam masalah ini !?...yang saya maksud adalah para ulama di awal tulisannya hanya membantah pendapat Syaikh Ali yang mereka yakini keliru dan memperingatkan umat dari pendapat tersebut walaupun seperti Ustadz katakan bahwa Syaikh Ali bersama Syaikh Abdul Muhsin dalam hal ini..

jadi antum jangan salah paham,

antum lihat sebagian video ulama ahlus sunah yang saya ambil di blog saya...bukankah di sana ada syaikh abdullah jibrin !?

Ketika Syaikh Ahmad An-Najmi membantah Syaikh Jibrin beliau pun hendak mengoreksi kekeliruan pendapat Syaikh Jibrin yang memuji Sayyid Quthb dan tokoh bid'ah lainnya, yang ini pun demi kemaslahatan umat..bagaimana jika kaum muslimin mengambil pendapat Syaikh Jibrin dan Syaikh Bakr tentang pujian mereka terhadap Sayyid Quthb tentunya kaum muslimin akan tersesat dan menjadi takfiri..tentunya ini musibah besar

Adapun panggilan sebagian orang ketika menyebut nama Syaikh Jibrin dan Syaikh Bakr dengan panggilan yang tidak layak maka ini pun merupakan sikap yang kurang beradab thd ulama, saya pun sependapat dengan Ustadz..

Saya pun sepakat dengan Ustadz bahwa tidak boleh menuduh tanpa bukti, bukankah para Ulama yang membantah Abul Hasan mengambil perkataan Abul-Hasan dari kitabnya, kaset-kasetnya dan juga berdiskusi dengan beliau secara langsung...

Disini jangan ada kesan bahwa yang tatsabut kepada Abul-Hasan hanya Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Abdul Muhsin saja....bahkan Syaikh Rabi' pun ketika Abul-Hasan ruju' dalam beberapa permasalahan, beliau sendiri sempat bertemu Abul Hasan di Saudi dan meminta Syaikh Abul-Hasan konsisten dalam ruju'nya setelah itu beliau menerimanya (menerima Syaikh Abul-Hasan dengan baik dan bergembira dengan ruju'nya Abul-Hasan)...saya ada teks naskah fatwa Syaikh Rabi' ketika Syaikh Abul-Hasan ruju'...di kesempatan lain semoga ada waktu untuk menampilkannya..

Namun yang menjadi ukuran adalah Apakah Syaikh Abul-Hasan konsisten!?

Bagaimana Fatwa terakhir Masyayikh tentang Abul-Hasan !?? ini jg perlu tatsabbut...

Mudah-mudahan saya bisa menanyakannya langsung dengan Masyayikh yang saya sebutkan di atas..wabillahit taufiq

agar tidak ada lagi celah kita untuk berselisih..

Bukankah Syaikh Abul-Hasan dulu adalah murid senior Syaikh Muqbil di dammaj, dan yang mentahdzir beliau adalah gurunya sendiri yang lebih tau keadaan Syaikh Abul-hasan yang sebenarnya...

Bukankah Para Masyayikh Yaman semisal Syaikh Muhammad Al-Imam, Syaikh 'Abdul Wahhab Al-Wushabi, Syaikh 'Utsman As-Salimi, Syaikh Abdurrahman Al-'Adni adalah teman-teman sejawat Syaikh Ali Hasan di Yaman...jadi analoginya mustahil mereka tidak tastabut kepada Abul-Hasan sendiri. coba Ustadz baca kembali Ucapan Syaikh Muhammad Al-Imam di artikel saya...

...Tentang ruju'nya sebagian permasalahan Abul-Hasan maka saya pun telah membacanya...Namun apakah benar Abul-Hasan telah ruju' dari seluruh kekeliruannya dan konsisten dengan apa yang ia katakan !?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih atas atensi antum, walau.........

Jika antum menanyakan kepada saya :

"kapan saya mengatakan bahwa Syaikh Ali adalah mubtadi' karena menyelisihi Syaikh Rabi' dalam masalah ini !?".

Maka jawab saya : Saya tidak pernah menegaskan bahwa antum telah mentabdi'-kan Syaikh 'Aliy. Yang saya tulis di atas adalah 'jika'. Ini perkataan saya :

"Seandainya pun benar Abul-Hasan itu mubtadi' dan segala yang dituduhkannya benar; apakah harus menjadi keharusan bahwa barangsiapa yang tidak mentahdzir mubtadi', maka ia pun jadi mubtadi' ?. Atau dengan kata lain : Barangsiapa yang tidak mentabdi'-kan mubtadi', maka ia pun mubtadi' ?. Kalau memang iya, maka orang yang menjawab ini berbeda manhajnya (atau lebih diperhalus : berbeda ijtihadnya) dengan Syaikh Al-Albaaniy" [selesai].

Coba antum lebih teliti kembali membaca apa yang saya tuliskan.

Seandainya antum mengatakan bahwa sebagian ulama hanya membantah Syaikh 'Aliy saja - dan memaksudkan dengan ini bahwa para ulama tersebut tidak mentabdi'kan Syaikh 'Aliy - saya hanya mengucapkan : Baarakallaahu fiikum, semoga Allah meluaskan ilmu antum.

Seandainya para ulama tersebut dengan gencar mengkritik Syaikh 'Aliy, mengapa mereka tidak mengkritik Syaikh 'Abdul-Muhsin (sebagaimana mereka mengkritik Syaikh ‘Aliy) ?. Wallaahi, keduanya adalah sama dalam hal ini. Bahkan dalam kitab Rifqan, Syaikh 'Abdul-Muhsin menyebutkan permasalahan fitnah ini, dan kemudian memuji Syaikh 'Aliy. Seandainya Syaikh 'Aliy itu hanya cabang dan Syaikh 'Abdul-Muhsin adalah pokoknya (karena keduanya memang beda thabaqah); mengapa sibuk 'mentahdzir' yang cabang dan meninggalkan yang pokoknya ?. Apakah semata-mata hanya karena Syaikh 'Aliy ?. Ini adalah satu keanehan yang besar bagi saya...... Logikanya, seandainya yang pokok telah dibantah, ditahdzir, dan bahkan ditabdi'; maka yang cabang pun akan selesai dengan sendirinya. Sekali lagi,... inilah keanehan bagi saya.

Saya mengutarakan contoh Syaikh Ibnu Jibriin, Syaikh 'Abdul-'Aziiz Alusy-Syaikh, dan Syaikh Bakr Abuz-Zaid yang dianggap memuji sebagian tokoh IM, atau Syaikh Ar-Raajihiy yang memuji Safar Al-Hawaliy; hanya untuk menegaskan keanehan ini. Keanehan fenomena tahdzir-mentahdzir di kalangan Ahlus-Sunnah.

Sebagai ancang-ancang : Saya tidak pernah berpikiran menampikan beberapa hal ini untuk berhujjah dengan khilaf. Sekali lagi : Hanya ingin menampilkan keanehan-keanehan saja, semoga antum merasakannya juga.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Kekeliruan memang harus dijelaskan. Apa yang dilakukan Syaikh An-Najmiy yang mengkritik Syaikh Ibnu Jibriin, maka Syaikh 'Aliy pun berbuat serupa (yaitu mengingkari tazkiyyah sebagian masyaikh terhadap Sayyid Quthb). Bahkan, Syaikh ‘Aliy (dan masyaikh Urdun lainnya) memuji kitab-kitab rudud-nya Syaikh Rabii' terhadap tokoh-tokoh IM. Buktinya banyak dan mudah didapat.

Lagi pula, seandainya memang setiap kekeliruan harus diluruskan, mengapa ya saya melihat sebagian thullab menutupi sebagian kekeliruan masyaikh, namun tidak pada Syaikh ‘Aliy ?. Kritik mereka terhadap sebagian masyaikh mereka tidaklah setajam kritik mereka terhadap Syaikh ‘Aliy ?. Apakah hukum itu hanya berlaku pada Fulaan tapi tidak bagi ‘Alaan ?. Mungkin,... dikarenakan anggapan mereka Syaikh ‘Aliy itu mubtadi’, maka kekeliruan (jika memang keliru) dari beliau harus ditampakkan demi kemaslahatan umat.

Pointnya di sini - sebagaimana telah saya tekankan berulang-kali - ketika terjadi perbedaan pentarjihan penghukuman terhadap person-person tertentu, maka ini seharusnya bukan menjadi sebab yang mengkonsekuensikan perpecahan di kalangan Ahlus-Sunnah. Contohnya pun telah saya sebutkan. Apakah masih kurang ?.

Dari pokok permasalahan yang saya sebutkan di atas (yaitu perbedaan ijtihad penghukuman terhadap person), maka perkaranya menjadi 'kemana-mana'. Syaikh 'Aliy sekarang dituduh berpemahaman irja' dengan membuka file lama fatwa Lajnah. Padahal, dulu, fatwa Lajnah ini dikelirukan oleh masyaikh yang mentahdzir Syaikh 'Aliy. Jadi, ada double standard. Dulu fatwa Lajnah dianggap keliru, namun sekarang - karena adanya konflik dengan Syaikh 'Aliy – fatwa Lajnah dianggap benar. Dulu Syaikh 'Aliy dibela dan dibersihkan dari 'aqidah irja', sekarang dituduh dengan irja'. Aneh bukan ?. [padahal dari dulu ‘aqidah Syaikh ‘Aliy sama saja dalam permasalahan iman dan kufur, yaitu seperti ‘aqidah gurunya, Syaikh Al-Albaaniy].

Dulu Syaikh 'Aliy dipuji karena rududnya kepada mukhaalif dan beberapa tokoh Al-Ikhwaanul-Muslimuun (IM), namun sekarang ada yang berkata bahwa ia dan beberapa masyaikh 'Urduun lainnya menyembunyikan manhaj Ikhwaniy-nya ketika Syaikh Al-Albaaniy masih hidup, dan baru ditampakkan setelah Syaikh Al-Albaaniy wafat. Seandainya memang benar apa yang dikatakan mereka, kenapa tidak dari dulu dibantah (kalau mereka tahu para masyaikh Urdun menyembunyikannya – alias munafik) ?. Padahal kenyataan yang ada adalah : tuduhan ini hanya muncul pasca konflik Syaikh ‘Aliy dengan beberapa fudlalaa' sehingga tuduhan-tuduhan dhalim ini tertuju pada Syaikh 'Aliy. Kenyataannya, sampai sekarang Syaikh 'Aliy tetap mentahdhir Al-Ikhwanul-Muslimuun dan tokoh-tokohnya, karena manhaj mereka adalah khabiits.

Bahkan fitnah yang terakhir-terakhir ini, disebarlah tuduhan - yang menurut saya sangat tidak berkelas - bahwa Syaikh 'Aliy berpemahaman dan/atau menyebarkan 'aqidah Wahdatul-Adyaan, ‘aqidah kafir. Subhaanallaah..... ini kedhaliman yang teramat besar. Seandainya tuduhan ini berasal dari takfiriy, maka kita akan memahami. Namun ternyata tuduhan ini berasal dari mereka yang menasabkan diri pada salafiyyah. Hingga kini, tuduhan itu pun masih senantiasa bergema.

Akhi,... ini adalah realitas. Yang saya katakan bukanlah khayalan.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Fenomena kedhaliman dan inkonsistensi ini pun terlihat dari tulisan antum di atas. Mungkin juga disebabkan karena mengkopas dari sumber tanpa tatsabbuut atas permasalahan yang dibicarakan. Contoh : Antum membawakan perkataan Syaikh Al-Ghudayaan :

" هذا رجل مفتون، وقليل أدب وسفيه "

“Orang ini telah terfitnah, tidak beradab dan dungu”

Ini adalah kalimat yang sangat keras dari Syaikh Al-Ghudayaan. Tahukah sebab perkataan ini muncul ?. Perkataan ini muncul karena perkataan Abul-Hasan yang berkaitan dengan shahabat. Sebagaimana telah saya katakan, bahwa Abul-Hasan telah rujuk dalam perkataan tersebut. Anehnya antum membawakan perkataan Syaikh Al-Ghudayaan ini hanya untuk menta'kid apa yang ingin antum sampaikan kepada saya. Aneh bukan ?. Apakah ini ilmiah sebagaimana motto blog antum ?. Setidaknya, ini qarinah bagi saya bahwa antum kurang tatsabbut dalam permasalahan ini. Dan karena sebab itulah saya mencontohkan kasus ini (masalah rujuknya Abul-Hasan atas penggunaan ta’bir yang keliru) pada komentar saya sebelumnya.

Juga tentang perkataan Syaikh Al-Fauzaan yang antum nukil. Itu berkaitan dengan bahasan hadits ahad, dimana Abul-Hasan dianggap sesat dan menyimpang dari ‘aqidah Ahlus-Sunnah. Abul-Hasan dianggap menyimpang karena menyatakan hadits ahad itu pada asalnya hanya menghasilkan dhann saja, sedangkan Ahlus-Sunnah berpendapat menghasilkan ilmu yaqiniy (lihat bahasan Syaikh Rabii’ : http://www.rabee.net/show_book.aspx?pid=3&bid=66&gid). [maaf, saya tidak akan membahas tuduhan apakah benar Abul-Hasan berdusta atau tidak sebagaimana dituduhkan, namun saya akan sedikit menyingging inti permasalahan saja].

Tapi sebelumnya perlu saya bawakan perkataan Abul-Hasan tentang ini :

أنَّ أحاديث الآحاد وإن كانت – في الأصل – لا تفيد اليقين إلا أنَّه يجب العمل بها ولم يخالف في ذلك إلا الروافض ومن جرى مجراهم

“Bahwasannya hadits-hadits ahad meskipun pada asalnya tidak menghasilkan keyakinan (hanya dhann ghalib saja), namun ia wajib diamalkan. Tidak ada yang menyelisihi dalam hal itu kecuali Raafidlah dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka” [Ittihaafun-Nabiil].

Abul-Hasan memberikan penjelasan bahwa hadits itu menghasilkan ilmu yaqiniy seperti mutawatir jika mempunyai qarinah. Maksud wajib diamalkan itu adalah diamalkan dalam ‘aqidah, ahkaam, dan semua perkara agama. Jadi, titik kritis permasalahannya semoga antum tahu.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap ulama yang berbeda pendapat dengan Abul-Hasan; maka permasalahan hadits ahad apakah ia menghasilkan dhann atau ilmu yaqiniy, maka ini adalah permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama. Dan ini telah menjadi pembicaraan sejak dulu di kalangan ulama Ahlus-Sunnah. Silakan baca tentang khulashah pendapat yang beredar di kalangan ulama, misalnya dalam buku : Hadiits Al-Aahaad ‘indal-Ushuuliyyiin oleh Abul-‘Aashim Al-Barkaatiy hal. 25-26 (taqdim Syaikh Waahid ‘Abdus-Salaam Baaliy). Dan Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbaad sendiri menyatakan orang yang mengatakan bahwa hadits ahad itu hanya menghasilkan dhann ghaalib namun wajib beramal dengannya, apakah itu dipandang menyelisihi pokok Ahlus-Sunnah ?. Maka beliau menjawab : TIDAK [lihat : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5548]. Ingat, beliau ini seorang muhaddits kota Madinah yang terpandang. Juga baca penjelasan Syaikh Al-Firkuuz di http://www.ferkous.net/rep/Bp42.php , dimana beliau menjelaskan bahwa hadits ahad yang qath’iy atau dhanniy, maka tidak ada bedanya (harus diterima dan diamalkan) dalam perkara-perkara syari’at.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dan yang lainnya, banyak sekali yang telah menjelaskan perkara ini. Jadi, apa yang dikatakan Abul-Hasan tadi bukan termasuk perkara yang menyelisihi pokok Ahlus-Sunnah, meskipun mungkin apa yang dikatakannya itu adalah pendapat yang marjuh. Akan tetapi mengatakan bahwa Abul-Hasan mubtadi’ dengan sebab ini, maka itu tidak tepat dan sebuah kedhaliman.

Kembali kepada masalah khilaf yang antum angkat..... Beberapa contoh yang antum tulis mengenai contoh khilaf ghairu mu’tabar (misal : nikah mut’ah, nikah tahlil, musik, dll), maka seingat saya, itu hanyalah pengulangan dari apa yang dikatakan Ustadz Askari (saat menulis bantahan terhadap Ustadz Firanda). Namun menjadikan semua perkara berkedudukan seperti itu adalah kedhaliman. Apabila menyelisihi Syaikh Fulan dalam jarh dan ta’dil, maka dianggap khilafnya ghairu mu’tabar. Subhaanallaah.......

Atau kemudian dipakai kaedah : Al-Jarhul-mufassar muqaddamun ‘alat-ta’diil al-‘aam.... Kaedah ini pada asalnya benar. Tapi dalam tahthbiqnya tidaklah mutlak. Seandainya memang setiap jarh yang mufassar itu mesti diterima, mengapa ustadz-ustadz antum tidak menerima jarh nya Syaikh Yahyaa Al-Hajuuriy dan beberapa masyaikh Daarul-Hadits tentang Syaikh ‘Abdurrahmaan Al-‘Adeniy, Syaikh ‘Ubaid Al-Jaabiriy, dan yang lainnya; padahal jarh yang mereka katakan bukan merupakan jarh yang mubham ?. Saya kira saya tidak perlu mencopi pastenya di sini untuk meyakinkan antum bahwa jarh mereka itu mufassar. Kalau ingin konsisten, ya silakan......

Adapun yang saya pahami, jarh mufassar itu diterima jika jarhnya benar. Makanya, perlu dilakukan penelitian, bukan sekedar mengamin-aminkan perkataan. Jika memang jarh-nya benar, maka itu diterima. Jika tidak, ditolak. Dan yang seperti ini bukannya kemudian menutup pintu ijtihad di kalangan ulama. Dan ingat, tidak setiap jarh, meskipun benar, itu bisa mengeluarkan orang dari lingkup Ahlus-Sunnah. Maka, beda antara khabaruts-tsiqah dengan hukmuts-tsiqah. Dan hukmuts-tsiqah ini tidak selamanya harus diterima. Contoh kecil saja sebagaimana pembicaraan yang lalu. Khabar tsiqah mengatakan bahwa Abul-Hasan telah mensifati shahabat dengan ghutsaiyyah. Ini benar, karena Abul-Hasan memang pernah mengatakannya. Dan perkataan Abul-Hasan ini adalah keliru. Kemudian - misal - ada Fulan tsiqah menghukumi bahwa orang yang mengatakan ini adalah Raafidliy, khabits, ahlul-bida’. Di sisi lain, Abul-Hasan mengatakan bahwa ia tidak bermaksud mencela shahabat, bahkan bersumpah dengannya, dan rujuk atas perkataannya yang salah itu. Pertanyaan saya kepada antum :

Wajibkah bagi saya/kita menerima penghukuman orang tsiqah tadi atas diri Abul-Hasan (bahwa ia Raafidliy, khabits, mubtadi’, dlaal) ?”.

Jadi, perkaranya bukanlah mengambil semua kekeliruan ulama. Perkaranya bukanlah berhujjah dengan khilaf. Perkaranya bukanlah mentolerir kekeliruan dan keganjilan ulama. Perkaranya bukan muwazanah. Perkaranya bukanlah tidak boleh mentahdzir atas orang yang melakukan kekeliruan.

Namun perkara yang ingin saya sampaikan adalah tatsabbut. Mengedepankan husnudhdhan kepada sesama Ahlus-Sunnah. Saling menghormati dan menasihati ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan Ahlus-Sunnah. Tidak menjadikan perbedaaan pendapat tadi sebagai ajang perpecahan di kalangan Ahlus-Sunnah.

Itu saja......

Wallaahul-musta’aan

Abul-Harits mengatakan...

jazakumullah khairan Ustadz nasehat antum, mudah-mudahan saya dapat mengambil pelajaran..

saya kembali menulis artikel baru di http://abul-harits.blogspot.com
berjudul "Keadilan Sebagian Ulama dalam Menilai sebagian Tokoh (Meluruskan Sebuah Keszalahpahaman)"
saya senang jika Ustadz berkenan membacanya.

Mungkin perlu disampaikan disini bahwa cita-cita saya juga ingin seperti Ustadz Abul-Jauza bisa membantah Ahlul Bid'ah dan mematahkan hujjah-hujjah mereka..

Apa yang antum sampaikan memberikan inspirasi kepada saya dan memberikan manfaat..

Saya berharap artikel yang saya tulis ini adalah artikel terakhir tentang perselisihan kita, saya pun menghargai jerih payah antum untuk tatsabbut dalam permasalahan fitnah.

Jazakumullah khairal jazaa wanafa'allu bikum almuslimin...

Akhukum,

Abul-Harits

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Mungkin antum kurang bisa fokus mencermati inti perkataan saya ya. Ketika saya sedikit menyinggung Al-Ma'ribiy, antum kemudian berpanjang lebar tentang Al-Ma'ribiy, Ketika saya sedikit menyinggung Adnan 'Ar'ur, maka antum berpayah-payah 'membahas' Adnan 'Ar'ur. Saya merasa lelah berbicara hal ini dengan antum, karena sepertinya antum kurang dapat menangkap esensi yang ingin saya sampaikan.

Seandainya ingin, saya bisa meluaskan membahas contoh-contoh yang antum sebut, termasuk fatwa-fatwa yang antum kutip. Misal, para ulama yang mentazkiyyah dan membela Adnan 'Ar'ur (atas berbagai tuduhan yang mampir ke dirinya) itu banyak, dan bahkan di antaranya ulama besar (yang thabaqahnya tidaklah berada di bawah orang yang menjarh-nya). Misal : Syaikh Al-Albaaniy (yang ditulis tangan oleh beliau sendiri, sebagaimana copian dalam lampiran kitab Al-Ibaanah hal. 374) dan Syaikh Ibnu Baaz (idem, hal. 373). Mereka berdua – terutama Syaikh Al-Albaaniy – mentazkiyyah dalam keadaan tahu bahwa ‘Adnaan ‘Ar’uur mendapatkan celaan dari sebagian kalangan.

Juga Syaikh As-Sadlaan (anggota haiah kibaar ulama Saudi) dimana beliau berkata tentang tuduhan/celaan yang dialamatkan kepada Adnan 'Ar'ur :

فعدنان لا نعرف عنه إلا خيرًا، وأنا أعرفه أكثر من أربعين عامًا؛ فهو رجل على عقيدة أهل السنة والجماعة، ولا معصوم إلا مَن له العصمة

"....'Adnaan ('Ar'uur) tidaklah kami ketahui darinya kecuali kebaikan. dan aku telah mengetahui tentangnya lebih dari empatpuluh tahun. Ia adalah seorang laki-laki yang berada di atas 'aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah. Dan tidaklah ma'shum kecuali orang yang punya 'ishmah (yaitu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam)...." [lihat selengkapnya di http://youtu.be/Sg7tg6Z4Gjs].

Bergetar hati ini mendengar penjelasan Syaikh As-Sadlaan hafidhahullah dalam youtube tersebut..... Syaikh As-Sadlaan telah mengenal 'Adnaan lebih dari 40 tahun, yang mungkin banyak di kalangan pencelanya belum dilahirkan dari rahim ibunya. Dan dhahir perkataan Syaikh Shaalih As-Sadlaan menyatakan bahwa Adnan 'Ar'uur memang mempunyai kekeliruan. Akan tetapi mengeluarkannya dari lingkup Ahlus-Sunnah dan mencapnya sebagai mubtadi' dengan sebab kekeliruan itu; maka beliau menentangnya. Syaikh 'Aliy menjelaskan bahwa Syaikh 'Adnaan 'Ar'uur memang mempunyai kekeliruan yang kemudian dikritik para ulama. Akan tetapi kemudian beliau banyak rujuk darinya yang ditunjukkan dalam kitabnya yang berjudul Manhajul-I'tidaal (bisa didownload di sini, barangkali antum penasaran). Kitab itu tertulis tahun 1420 H/1999 M, yang diberikan taqriidh oleh Syaikh Muhammad 'Ied Al-'Abbaasiy.

Kalau antum ikut menyebarkan tahdhir sebagian ulama terhadap Syaikh 'Adnaan 'Ar'uur, tapi tidak mau membaca kitab beliau di atas, maka bagi saya, ini sikap yang tidak tepat.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Senada dengan Syaikh As-Sadlaan, maka Syaikh 'Aliy telah mengenal Syaikh Adnaan 'Ar'uur lebih dari 15 tahun dan menjalin komunikasi yang sangat intens. Syaikh 'Aliy berkata :

نحن نعرف الشيخ عدنان منذ نحو خمسة عشرة عاما وجالسناه وسافرنا معه وأقمنا الندوات والحلقات والمحاضرات والجلسات الخاصة والعامة، لانعرف عنه إلا كل خير في منهجه وخلقه ودينه وعلمه ولا نزكيه على الله تبارك وتعالى

[selengkapnya lihat di : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=13541].

Beliau tidak mengetahui dalam diri Adnaan 'Ar'uur kecuali kebaikan (secara umum);... walau memang benar ia (Adnaan) punya kekeliruan sebagaimana manusia lain juga punya kekeliruan.

Baca pula penjelasan Syaikh 'Aliy di : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5499.

Syaikh Al-'Ubailaan bahkan menegaskan bahwa Syaikh 'Adnaan 'Ar'uur ini merupakan kibaar du'at salafiyyah di negeri Islam.

Mungkin saja ada yang nyeletuk : Para ulama di atas mungkin saja tidak mengetahui kekeliruan Adnaan 'Ar'uur. Ya kalau dibilang mungkin, mungkin saja. Tapi,.... saya telah mendengar dan membaca kritikan sebagian masyaikh ini kepada 'Adnaan 'Ar'uur semenjak kira-kira 7 atau 8 tahun yang lalu, dengan kondisi : saya berada di Indonesia... Apa ya mungkin mereka yang membela Syaikh 'Adnaan dalam keadaan tidak mengetahui, padahal mereka satu negeri atau bahkan sering berinteraksi ?. Kalau dibilang mungkin ya mungkin saja... Hanya saja dalam statistik dikatakan : Ada kemungkinan kecil, ada pula kemungkinan besar. Silakan antum melogika.

******

Akhi,.... seandainya ingin, saya bisa menuliskan tergelicirnya beberapa ulama yang antum jadikan sandaran dalam 'al-jarh wat-ta'dil tersebut – sebagaimana metodologi antum dalam menyebutkan jarh ulama kepada Syaikh ‘Aliy dan masyaikh lainnya. Namun jika saya lakukan, mungkin akan timbul fitnah, dan saya tidak ingin menjadi sebab terbukanya pintu fitnah itu [padahal, source dalam bahasa Arab banyak].

Tentang perkataan Syaikh 'Ubaid yang antum kutip :

"Asy-Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Asy-Syaami Al-Atsari mentazkiyah tokoh yang tidak layak untuk diberi tazkiyah, bahkan ia mentazkiyah tokoh-tokoh sesat yang telah diketahui kesesatannya"[selesai].

saya tidak tahu - benar-benar tidak tahu - korelasinya dengan perkataan antum setelahnya :

"Dari ucapan Syaikh Ubaid di atas terjawablah sebagian pertanyaan Ustadz kami Al-Fadhil Abul-Jauza hafidzahullah wa nafa’allahu bihil muslimin : apakah antum dan asatidzah antum masih menganggap Syaikh Ali sebagai ulama ataukah menganggap beliau adalah mubtadi’ karena menyelisihi Syaikh antum dalam masalah ini, jika iya manhaj antum perlu diperhalus?" [selesai].

Saya katakan :

Pertama,.. kalimat yang antum bold di atas bukan perkataan saya, bukan pula pertanyaan saya (karena kalimatnya lain, dan antum 'memodifikasi' sehingga maknanya tidak sesuai dengan yang saya inginkan). Pun seandainya dianggap kalimat dan pertanyaan itu adalah kepunyaan saya, itu pun tidam menjawab apa yang ditanyakan (sebatas pemahaman saya).

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Kedua,.... apa hubungan perkataan Syaikh 'Ubaid (terutama kata-kata yang dibold) dengan kalimat yang dianggap pertanyaan saya ?.

Apakah yang antum maksudkan bahwa dengan penyebutan perkataan Syaikh 'Ubaid kepada Syaikh 'Aliy dengan 'al-atsariy' merupakan pertanda bahwa beliau tidak membid'ahkan dan menyesatkan Syaikh 'Aliy (karena mentazkiyyah tokoh-tokoh yang beliau anggap sesat) ?. Jika iya, saya ucapkan : Baarakallaahu fiikum, semoga Allah menambah ilmu dan pemahaman kepada antum.

Siapakah pemilik perkataan ini ?

ومن قبل قراءاتنا التي لم نظهرها أن (علي بن حسن بن علي بن عبد الحميد) المتلقب (بالأثري) ليس صاحب أثر، بل هو مبتدع ضال مضل، داعية ضلال، مفسد في العباد والبلاد

mubtadi' dlaal mudlil, daa'iyah dlalaal, mufsidun fil-'ibaad wal-bilaad ????????

[adakah perkataan yang lebih jelek dari ini ?]

Jika tidak seperti itu maksud antum, apakah maksudnya adalah bahwa bahwa Syaikh 'Ubaid ketika menjarh Syaikh 'Aliy itu punya alasan, yaitu karena mentazkiyyah orang-orang yang dianggap sesat ?. Jika memang seperti itu maksudnya, kenapa tidak sekalian menjarh Syaikh Al-Albaaniy, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh As-Sadlaan, dan beberapa ulama lain yang mentazkiyyah 'Ar'uur ?. Apakah hanya karena Al-Halabiy ?.

Syaikh 'Aliy membela 'Ar'uur dengan alasan. Bukan tanpa alasan.

Sebagaimana telah berulangkali saya sampaikan bahwa tidak setiap kekeliruan menyebabkan pelakunya harus dikeluarkan dari lingkup Ahlus-Sunnah.

Adapun pengulangan antum tentang masalah Al-Ma'ribiy,.... ya alhamdulillah saya sudah berusaha tatsabbut. Saya telah tahu permasalahan ini kira-kira semenjak tahun 2003-an (8 tahun yang lalu). Dan ada teman saya yang menimba ilmu di ma'hadnya Abul-Hasan (di Yaman). Saya dulu juga seperti antum, hampir tidak beda sama sekali. Mengambil semua jarh dari sebagian masyaikh. Saya dulu berusaha update berita Al-Ma'ribi semisal di situs sahab dan salafipublication (termasuk salafitalk). Sehingga, perkataan masyaikh tentang Abul-Hasan Al-Ma'ribiy yang antum tuliskan kebanyakan merupakan bahan yang saya baca dulu.

Jika memang Abul-Hasan dinyatakan rujuk, rujuknya diterima, dan orang bergembira tentangnya; anehnya, jarh ulama tentang Abul-Hasan pada perkara yang ia rujuk senantiasa terbawa sampai sekarang. Contohnya tidak jauh-jauh. Antum pun membawakannya (walau mungkin tidak sadar). Aneh bukan ?. Memang aneh..... Tapi ini adalah kenyataan. Oleh karena itu, saya kira antum tidak perlu beretorika bertanya :

"Pertanyaan saya selanjutnya, Kapan Syaikh Abul-Hasan ruju’ dari kekeliruannya dan kapan kitab-kitab bantahan di atas ditulis, sebelum Abul-Hasan ruju’ atau setelahnya?"

karena inti perkaranya bukan itu. Inti perkaranya adalah ada orang yang selalu menggunakan jarh lama (yang Abul-Hasan telah rujuk) hanya untuk menta'kid bahwa Abul-Hasan adalah mubtadi'. Tidak di dalam negeri, tidak pula di luar negeri (bahkan sampai bukan Januari 2012 ini masih ada saja yang membawakannya : lihat : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=125871 - dan dalam link tersebut ada sikap yang terbiasa mengumbar fitnah untuk memecah belah umat dengan memberitakan bahwa Syaikh Al-Fauzaan bersikap demikian dan demikian kepada Syaikh 'Abdul-Muhsin - laa haula walaa quwwata illaa billaah). Menurut antum ini sikap yang 'adil ataukah dhalim ?.

[mirip bukan dengan pihak yang mengungkit-ungkit fatwa Lajnah Daaimah hanya untuk menjatuhkan Syaikh 'Aliy Al-Halabiy ?. Adilkah ini ?].

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Dan perlu juga antum ketahui,.... tidak setiap jarh yang dialamatkan kepada Abul-Hasan itu benar (sebagaimana bahasan hadits ahad yang saya singgung di atas).

So, sekali lagi, apapun itu, saya sebenarnya 'tidak masalah' seandainya ada sebagian masyaikh yang mengritik Syaikh Adnaan 'Ar'uur atau Syaikh Abul-Hasan. Penghukuman itu bagi mereka dan tidak harus berlaku pada selain mereka, karena ijtihad seorang ulama bukan merupakan hujjah bagi ulama yang lain. Jika antum ingin mengikuti perkataan yang menjarh, ya silakan saja. Hanya saja saya merasa aneh dengan realitas, bahwa seseorang menjadi dijarh hanya karena berbeda ijtihad dengan ulama lain (yang menjarh). Jika antum tidak merasa, maka antum tidak perlu sewot. Tidak perlu defense berlebihan. Tapi yakinlah, bahwa ini ada, bukan khayalan.

Seandainya sampai saat ini antum tidak mengakui keberadaan waqi’ : barangsiapa yang tidak bersama kami, maka menjadi musuh kami; ya tidak apa-apa. Memang benar kata sebagian orang : Terasa, tapi tidak teraba. Terasa karena begitulah waqi’nya yang sering kita temui. Kalau antum merasa belum pernah menemui, maka saya kerucutkan pada diri saya : yang saya temui. Tidak teraba, karena ketika kita konfrontir pada yang bersangkutan, maka selalu berhujjah : kita harus memilih pendapat yang rajih, kesalahan harus diperingatkan, dan tidak boleh hukumnya membela kesalahan. Akhirnya, bahasan adab menghormati perbedaan pendapat (yang sifatnya ijtihadiyyah – karena al-jarh wat-ta’dil itu perkara ijtihadiyyah) hanya bergemuruh di dalam masjid, tidak di luar masjid.

Anyway,.... semoga dengan berjalannya waktu, antum pun dapat secara clear memahami permasalahan sebenarnya, bukan sekedar berbanyak-banyak menukil perkataan bahwa si Fulan mubtadi’, si Fulan sesat, dan seterusnya. Mengapa mubtadi’ ? mengapa sesat ? benarkah yang dituduhkan ? benarkah penghukumannya ? dan seterusnya dan seterusnya. Banyak hal yang perlu dilakukan setelah mendengar perkataan : Fulan mubtadi’, jadi bukan berhenti di sini saja.


Wallaahul-musta’aan.

Anonim mengatakan...

saya pikir tadinya blog tukpencarialhaq ini adalah blog salafy, ternyata untuk menemukan pemaparan ide secara obyektif saja susah...

apa benar rasulullah mengajarkan agama dengan cara itu? cara mereka?

Anonim mengatakan...

Ustadz kalau boleh tahu apa sebabnya sebagian penuntut ilmu membanding-bandingkan kitabnya syaikh 'ali al-halabi (manhaj salafush shalih) dengan kitabnya syaikh muhammad al-imam (al-ibanah)?

Sebagian mengatakan yang mendapat rekomendasi dari kebanyakan ahlus sunnah adalah kitab al-ibanah, daripada kitab manhaj salafush shalih.

Mohon pencerahan.

Anonim mengatakan...

Orang awam mengatakan

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rohimahulloh- (Majmu' alFatawa, 28/73), "Jikalau setiap dua orang muslim berselisih pendapat terhadap sesuatu dan langsung saling menghajr, niscaya tidak ada lagi keterpeliharaan dan persaudaraan diantara kaum muslimin." Dinukil oleh Syaikh Abdulmuhsin al-Badr -hafizhahulloh- dalam Wa Marrotan Ukhro Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan, "Tidak diragukan bahwa semua muslim wajib untuk mengikuti manhaj salaf, bukan menggabungkan diri ke dalam suatu kelompok bernama salafi. Seluruh umat Islam wajib mengikuti jalan salaf sholih bukan mengkotakkan diri dalam kelompok yang disebut salafi. Jadi, ada manhaj salaf dan ada kelompok yang disebut salafi. Yang diwajibkan adalah mengikut manhaj salaf." (Syarh Arba'in Nawawiyah karya Ibnu Utsaimin hal. 309 ketika menjelaskan hadits no. 28, terbitan Dar Tsaroya, cet. Ketiga, 1425 H)

Imam Ahlussunnah Ahmad bin Muhammad bin Hambal -rohimahulloh- mengatakan, "Mengeluarkan seseorang dari ahli sunnah adalah suatu hal yang berat. (as Sunnah karya al-Khollal -tahqiq Dr. Athiyah az-Zahroni juz 2 hal. 373 no. 513; sanadnya dinilai shohih oleh Dr. Athiyah az-Zahroni, terbitan Dar ar-royah, Riyadh, cet. pertama, 1410 H)

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Anonim 3 Oktober 2012 20:24,.... bahkan kedua kitab itu isinya hampir sama atau bahkan sama. Jika antum bisa berbahasa 'Arab, silakan untuk membandingkannya.

NB : Bahkan karena adanya kesamaan tersebut, ketika awal terbit, ada sebagian kalangan 'ahlul-jarh' yang menafikkan rekomendasi ulama terhadap kitab Al-Ibaanah-nya Syaikh Al-Imaam.

Anonim mengatakan...

Nampaknya dalam hal ini terbagi dua kelompok lagi stadz...

Soalnya ada yang tetap mengakui rekomendasi tersebut.. Tapi menambahkan "hal yang lain"..

Ana petikka perkataannya:

"Ungkapan antum bahwa "Asy-Syaikh Abul Harits al-Halaby menulis kitabnya, "Manhajus Salafy.." dan Asy-Syaikh Abu Nashr al-Imam menulis kitabnya, "Al-Ibaanah.."
Syaikh DR. Rabi' bin Hadi bin 'Umair menganjurkan diterbitkannya kitab kedua namun mencela kitab pertama. Padahal, Syaikh Abul Harits mengatakan bahwa kedua kitab ini ditulis dengan prinsip yang sama. Ini bisa terlihat dari sikap-sikap Syaikh Abu Nashr al-Imam di Yaman."

Komentar saya : Jika dikatakan bahwa kedua kitab itu (Manhajus Salafy dan Al-Ibanah) ditulis dengan prinsip yang sama maka ini perlu ditinjau kembali.

Kenapa Syaikh Rabi’ Al-Madkhaly hafidzahullah merekomendasi kitab Al-Ibanah dan tidak merekomendasi kitab Manhajus Salafy karya Syaikh Ali Hasan Al-Halaby ??

Allahua’lam, mungkin jawabannya sama dengan pertanyaan ini, “Kenapa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Shalih As-Suhaimi, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Washaby, Syaikh Abdul Aziz Al-Bura’i, Syaikh Utsman As-Salimi, Syaikh Abdullah Adz-Dzamary, Syaikh Muhammad As-Shumali rahimahumullah merekomendasikan kitab Al-Ibanah namun tidak merekomendasi kitab Manhajus Salafy karya Syaikh Al-Halaby? Padahal keduanya menurut istilah antum memiliki prinsip yang sama. Antum bisa menjawabnya sendiri."

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Intinya sebenarnya bukan pada 'tazkiyyah' itu. Jika kita ingin inshaaf menilai, ya tinggal dibaca. Apakah sama ataukah berbeda. Selama orang masih terbawa oleh opini bahwa kitab Manhaj As-Salafush-Shaalih itu 'bermasalah', maka ia akan berhenti di situ saja, gak akan lebih. Bahkan terhadap apa yang dikritik dalam kitab Manhaj As-Salafush-Shaalih ternyata juga ada dalam kitab Al-Ibaanah. Saya pernah memberikan satu contoh kecilnya, yaitu tentang permasalahan bahwa permasalahan al-jarh wat-ta'dil itu merupakan permasalahan ijtihadiyyah dimana ketika Asy-Syaikh 'Aliy mengatakannya, maka beliau mendapatkan kritikan bertubi-tubi oleh ahlul-jarh wat-tanfiir itu. Padahal, dalam kitab Al-Ibaanah pun disinggung hal yang serupa. Baca :

Ikhtilaaf dalam Al-Jarh wat-Ta’diil Seperti Ikhtilaaf dalam Ilmu-Ilmu yang Lain.

Pokok inti masalahnya - menurut saya - adalah karena Asy-Syaikh 'Aliy melalui kitabnya tersebut melakukan pembelaan terhadap beberapa orang yang dijarh oleh Asy-Syaikh Rabii' namun tidak dijarh oleh ulama lain.

wallaahul-musta'aan....

Kitab Asy-Syaikh 'Aliy tersebut telah direkomendasikan oleh beberapa murid Asy-Syaikh Al-Albaaniy yang lain seperti Asy-Syaikh Masyhuur, Asy-Syaikh Muhammad Alu Nashr, Asy-Syaikh Baasim Al-Jawaabirah, Asy-Syaikh Ziyaad Al-'Ibaadiy hafidhahumullah.

Anonim mengatakan...

baarakallahufiik ustadz..

saya masih awam untuk membaca rujukan berbahasa arab..namun setidaknya walhamdulillah memberikan pencerahan bagi saya atas diskusi2 yg diatas tsb..

yg saya tangkap..*mohon diluruskan jk salah
1. ulama jelas tidak ma'shum ada kesalahan dlm bbrp pemahaman mereka.namun, kesalahan yg diperingatkan tsb jk mereka adlh ahlussunnah tdk serta merta dikeluarkan dlm manhaj salaf yg mulia ini.
2. walaupun mereka berselisih mrk msh bermuamalah dan tdk saling boikot..krn niat mereka adlh saling menasehati krn mrk msh menetapkan bhw yg dinasehati adlh masih ahlussunnah.
3. ketika seorg ulama menetapkan suatu kekafiran /tabdi' maka tdk mengharuskan semua yg berkaitan dgnnya adlh kafir/mubtadi'
itu 3 poin yg bs saya tangkap..

dan dikesempatan ini ingin saya menyampaikan suatu hal yg mengganjal dihati..

awalnya saya datang ikut daurah untuk mengambil faidah dan ilmu dr asatidz yg mengisi..namun, ketika masuk dlm sesi tanya jawab..subhanallah..mengapakah ada ikhwah yg bertanya yg menurut saya memancing fitnah.."bagaimana sbnrnya ust fulan wa fulan..." yg dihiasi kata2 ilmiyah...

dan saya terkejut bukan main...subhanallah...ini majlis ilmu atau majlis ghibah...
secara kenyataan asatidz yg disebutkan namanya mendakwahkan sunnah melalui tulisan, majalah, blog atau radio dan tv2 sunnah..

dan yg sangat aneh bagi saya...tidakkah asatidz yg ditanya setidaknya menahan lisannya utk membuka celah fitnah..subhanallah..yg akhirnya jawaban ustadz menjadi pegangan walau tdk semua peserta daurah untuk berkata dan beropini sama shg mematikan sikap ilmiyah..

wallahulmusta'an...

Ubaid_Hasna mengatakan...

Assalamu'alaikum warahmatullah

Kok pada bertengkar... Mana nih yang benar? Yang membela sayyid qutb atau yang menyalahkan sayyid qutb?

Saya jadi bingung, kenapa kemaren kok kita yang ngaji di salafiy disuruh nyoblos... Katanya haram berdemokrasi?

Saya yang bodoh ini terlanjur nyoblos ik gmnn ya?

Jadi bingung...

sholeh anshory mengatakan...

Bismillah,assalamualaikum Terkadang kita membawakan alquran dan assunnah untuk menasehati sebagian ikhwan ,kita katakan انما المؤمنون اخوة atau ringkasnya kita bacakan kepadanya sebagian surat alhujarot yg mengajarkan kepada kita berbagai macam adab ,baik kpd allah atau rosulnya dan kpd sesama mukminin dan kita bacakan kepadanya hadits2 rosulullah صلى الله عليه وسلم yg menjelaskan kpd kita bahwasanya seorang muslim adalah haram darahnya ,hartanya,kehormatannya,atau berbagai macam dalil dari alquran dan sunnah yg menjelaskan bahwasanya perselisihan itu adalah jelek dan mngakibatkan kelemahan kaum muslimin....
Tetapi apa yg kita dapati dari mereka ? ...dengan gampangnya mereka meninggalkan ayat2 alquran tersebut dan hadist2 tersebut ,seraya mereka membawakan perkataan2 para ulama' tentang ahlul bida' lalu mereka terapkan perkataan ulama2 tersebut kpd orang yg mereka anggap para ahlul bida' .
Contoh : mereka membawakan perkataan fudhoil bin iyadh:aku mau makan bersama orang2 yahudy tetapi aku tidak akan makan bersama seorang mubtadi' ,dan aku ingin seandainya ada diantaraku dan diantara sohibu bidah tembok dari besi.(syrhus sunnah albarbahari hal 60)
Hasan albasri berkata :ahlul bida' sekedudukan dengan orang2 yahudi dan nasoro.(lihat kitab dzammul kalam punya alharowi hal 195)
Dan masih banyak lagi perkataan ulama' mutaqoddimin dalam masalah ini.
Tetapi yg perlu kita ketahui ya ikhwan ...tidak segampang itu membatalkan alquran dan sunnah hanya dengan aqwal ulama' seperti contoh diatas tadi.
Dan yg harus kita ketahui adalah:kita tidak boleh menetapkan bahwasanya perkataan ulama'2 tersebut berlaku untuk semua mubtadi' di semua zaman atau semua tempat ,krn terkadang seorang alim hanya menjawab dari soal yg ditujukan kepadanya tentang seorang tertentu atau kejadian tertentu dan dizaman tertentu.
Oleh karena itu kita dapati perbedaan sikap terhadap ahlul bidah dari seorang alim dan alim yg lain ,seperti yg terjadi dizaman syaikul islam ibnu taimiyah beliau malah berbuat baikkpd ahlul bidah dan ia memaafkan kedzolima2 mereka ,bahkan sebagian para ulama' di zamannya sampai ada yg berkata :aku pengen seperti ibnu taimiyah dalam berbuat baik kpd kawan2ku sebagaiman ibnu taimiyah berbuat baik kpd musuh2nya.(almadarij hal 345).
Dan ketika ibnu makhluf (musuh berat syaikh islam ) meninggal dunia ibnu qoyyim datang seraya memberi kabar gembira atas kematian ibnu makhluf ,apa yg didapati ibnu qoyyim dari syaikhnya ?...mari kita dengar penuturan ibnu qoyyim :...maka ia membentakku dan mengingkariku lalu ia (ibnu taimiyah) mengucapkan inaa lillahi waina ilahi rojiun,apakah kau bergembira dengan mati seorang muslim??!! Lalu ibnu taimiyah pergi kerumah duka mentakziahi keluarga ibnu makhluf,dan ia berkata kpd keluarganya sekiranya akulah sebagai gantinya terhadap perkara2 yg kalian butuhkan....lihat al madarij halaman 345 .
Dan ibnu qoyyim berkata : aku tidak pernah melihat ibn taimiyah mendoakan jelek kpd orang yg memusuhinya bahkan ia mendoakan kebaikan kpd mereka...
Dan ketika para musuh2 syikh islam menyudutkannya hingga ia dan saudaranya(syarofuddin) dipenjara maka saudaranya ingin mendoakan kejelekan atas mereka ,ibnu taimiyah melarangnya dan berkata katakanlah :اللهم هب لهم نورا يهتدون به. Dan masih banyak lagi nukilan2 tentang sikap syaikh islam kepada orang2 yg meyelisihinya .
Ringkasnya : termasuk dari kesalahan ,kita bersandar kpd ungkapan2 yg dikatakan para salaf dikurun awal atau kedua atau ketiga kepada seorang tertentu atau kejadian tertentu kemudian kita terapkan pada setiap orang yg kita tuduh ia adalah pelaku bidah ,itupun kalau betul dia pelaku bidah ,pdahal kadang2 kita tujukan perkataan2 salaf tersebut pada sebagian orang yg kita berselisih padanya di sebagian masalah ijtihadiyah berkaitan masalah dakwah atau yg lainnya ,terkadang bukan perkara bidah sama sekali,(hehehe...teringat masalah biawak ...).