Hadits ‘Ajn – Takhrij Singkat


Bahasan ‘ajn di sini maksudnya adalah bahasan mengenai sifat telapak tangan saat bangun dari sujud. Ibnul-Atsiir rahimahullah berkata saat menyebutkan hadits Ibnu ‘Umar tentang ‘ajn dalam shalat :

أي : يَعْتَمِدُ على يَديه إذا قام، كما يَفْعَلُ الذي يَعْجِنُ الْعَجِينَ.

“Yaitu yaitu bertelekan dengan kedua tangannya jika berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan” [An-Nihaayah, hal. 595; taqdim ‘Aliy Al-Halabiy, Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1421. Lihat juga Lisaanul-‘Arab, hal 2829, tahqiq ‘Abdullah bin ‘Aliy Al-Kabiir, dkk.; Daarul-Ma’aarif].

Ibnu Mandhur rahimahullah berkata :

وَالْعاجِنُ مِنَ الرِّجالِ : الْمُعْتَمِدُ عَلَى الأَرْضِ بِجِمْعِهِ إِذَا أَرادَ النُّهُوضَ مِنْ كِبَر أَوْ بُدْنٍ.

“Seseorang yang melakukan ‘ajn adalah seorang yang bertelekan di atas bumi dengan mengepalkan (menggenggam telapak tangannya) saat hendak bangkit baik karena tua maupun gemuk” [Lisaanul-‘Arab, hal. 2829].

Langsung aja ya….

Hadits yang menjadi dasar dilakukannya ‘ajn saat bangkit dari sujud (untuk berdiri) ketika shalat adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy sebagai berikut :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ الله بن عُمَرَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بنُ بُكَيْر، عَنِ الْهَيْثَمِ، عَنْ عَطِيَّةَ بنِ قَيْسٍ، عَنِ الْأَزْرَق بنِ قَيْسٍ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَعْجِنُ فِي الصَّلَاةِ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ. فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ يَفْعَلُهُ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin Bukair, dari Al-Haitsam, dari ‘Athiyyah bin Qais, dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn saat shalat ketika hendak berdiri. Aku bertanya kepadanya (mengenai hal tersebut), dan ia menjawab : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya” [Ghariibul-Hadiits oleh Abu Ishaaq Al-Harbiy, hal. 525, tahqiq : Dr. Sulaimaan bin Ibraahiim Al-‘Aayid; Cet. 1/1405].

Pembahasan sanad :

‘Ubaidullah bin ‘Umar. Ia adalah ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maisarah Al-Jusyamiy, Abu Sa’iid Al-Bashriy. Wafat tahun 235 H. Termasuk rijaal Al-Bukhariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Ibnu Sa’d berkata : “Seorang yang tsiqah, mempunyai banyak hadits”. Abu Haatim berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah, tsabt” [Selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal 19/130-136 dan At-Taqriib, hal. 643 no. 4354].

Yuunus bin Bukair. Ia adalah Yuunus bin Bukair bin Waashil Asy-Syaibaaniy, Abu Bakr Al-Hammaal Al-Kuufiy. Wafat tahun 199 H. Al-Bukhariy membawakan haditsnya dalam mu’allaqah dan Muslim dalam syawaahid. Yahyaa bin Ma’in dalam riwayat Ad-Duuriy berkata : “Tsiqah”. Dalam lain riwayat : “Seorang yang jujur (shaduuq), namun tunduk pada sulthan. Ia juga seorang Murji’ (penganut Murji’ah)”.[1] Abu Dawud berkata : “Ia bukan hujjah di sisiku. Ia telah mengambil perkataan Ibnu Ishaaq, lalu menyambungkannya dengan hadits-hadits”. Abu Zur’ah pernah ditanya tentang hal yang diingkari darinya (Yuunus), lalu ia menjawab : “Adapun dalam hadits, aku tidak mengetahuinya”. Abu Haatim berkata : “Tempat kejujuran”. An-Nasa’iy berkata : “Tidak kuat”. Ibnu Hibbaan dan ‘Ijilliy memasukkannya dalam kitab AtsTsiqaat. Namun Al-‘Ijilliy menambahkan bahwa ia menurut Ja’far bin Barmak adalah seorang yang dla’iiful-hadiits. Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair berkata : “Tsiqah”. ‘Ubaid bin Ya’iisy berkata : “Tsiqah’. Ibnu ‘Ammaar berkata : “Dia sekarang ini seorang yang tsiqah menurut ahli hadits”. As-Saajiy berkata : “Ibnu Al-Madiiniy tidak meriwayatkan hadits darinya, dan ia di kalangan mereka termasuk ahlush-shidq”. Ibnu Syaahiin berkata : “Tsiqah, namun ia berpemahaman tasyayyu’”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku menulis (hadits) darinya”. Adz-Dzahabiy berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Hasanul-hadiits”. Ibnu Hajar berkata : “Jujur, terkadang salah” [selengkapnya, silakan lihat Tahdziibul-Kamaal 32/493-497, Ma’rifatuts-Tsiqaat lil-‘Ijilliy 2/377, Man Tukullima fiihi Wahuwa Muwatstsaqun Au Shaalihul-Hadiits no. 392, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 1098 no. 7957].

Melihat beberapa perkataan para imam jarh dan ta’dil di atas, maka perkataan yang benar atas diri Yuunus bin Bukair adalah shaduuq. Sedikit kelemahan padanya tidak menurunkan dari derajat hasan. Mayoritas jarh yang dialamatkan tidaklah dijelaskan sebabnya. Adapun jarh Abu Dawud, maka di sini ia tidak meriwayatkan dari Ibnu Ishaaq, namun dari Al-Haitsam. Jarh dalam bid’ah tasyayyu’ dan irja’ tidak memudlaratkan haditsnya, karena ia seorang yang jujur dan tidak membawakan hadits yang menguatkan bid’ahnya. Wallaahu a’lam.

Al-Haitsam. Ia adalah Ibnu ‘Imraan Al-‘Absiy. Ibnu Hibbaan menyebutkan sedikit biografinya dalam Ats-Tsiqaat (7/577). Abu Haatim juga menuliskannya dalam Al-Jarh wat-Ta’diil (8/82-83) dan ia abstain tanpa memberikan jarh ataupun ta’dil. Telah meriwayatkan darinya beberapa orang yaitu :

a. Muhammad bin Wahb bin ‘Athiyyah (Ad-Daaruquthniy : tsiqah; Ibnu Hajar : shaduuq).

b. Hisyaam bin ‘Ammaar (Ibnu Ma’iin : tsiqah; Ad-Daaruquthniy : shaduuq; Ibnu Hajar : Shaduuq).

c. Sulaimaan bin Syurahbiil (-)[2].

d. Al-Haitsam bin Khaarijah (Ibnu Ma’iin berkata : tsiqah; Abu Haatim berkata : shaduuq).

e. Yuunus bin Bukair (shaduuq).

Dengan adanya periwayatan sejumlah perawi tsiqah darinya, maka riwayat Al-Haitsam bin ‘Imraan dapat diterima dan dipakai sebagai hujjah. Ibnu Abi Haatim berkata : “Aku pernah bertanya kepada ayahku mengenai riwayat para perawi tsiqaat dari seorang yang tidak tsiqah, apakah itu termasuk hal yang menguatkannya ?”. Ayahku (Abi Haatim) berkata : “Apabila ia dikenal (ma’ruf) dengan ke-dla’if-annya, maka hal itu tidak dapat menguatkan riwayatnya itu darinya. Namun jika ia seorang perawi majhul, maka hal itu bermanfaat (menguatkan) baginya atas riwayat para perawi tsiqat tersebut darinya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 1/1/36].

‘Athiyyah bin Qais Al-Kilaabiy, Abu Yahyaa Al-Himshiy. Wafat tahun 121 H. Termasuk rijaal Muslim dalam Shahih-nya. Abu Haatim berkata : “Shaalihul-hadiits”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah muqri’” [lihat selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib 7/228 no. 419, Ats-Tsiqaat 5/260, dan Taqriibut-Tahdziib hal. 681 no. 4655].

Al-Azraq bin Qais. Termasuk rijaal Al-Bukhariy. Wafat tahun 121 H. An-Nasaa’iy berkata : “Tsiqah”. Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah, insya Allah”. Ibnu Ma’in bekata : “Tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Shaalihul-hadiits”. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal , 2/318-319].

Hadits di atas juga dibawakan oleh Al-Baihaqiy dari jalan Hammad bin Salamah, dari Al-Azraq bin Qais sebagai berikut :

أخبرنا أبو النصر بن قتادة أنبأ أبو محمد أحمد بن إسحاق بن شيبان بن البغدادي بهراة أنبأ معاذ بن نجده ثنا كامل بن طلحة ثنا حماد هو بن سلمة عن الأزرق بن قيس قال رأيت بن عمر إذا قام من الركعتين اعتمد على الأرض بيديه فقلت لولده ولجلسائه لعله يفعل هذا من الكبر قالوا لا ولكن هذا يكون

Telah mengkhabarkan kepada kami Abun-Nashr bin Qataadah : Telah memberitakan Abu Muhammad Ahmad bin Ishaaq bin Syaibaan bin Al-Baghdaadiy di Hurraah : Telah memberitakan Mu’aadz bin Najdah : Telah menceritakan kepada kami Kaamil bin Thalhah : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Al-Azraq bin Qais, ia berkata : Aku melihat Ibnu ‘Umar jika berdiri dari dua raka’at bertelekan di bumi dengan dua tangannya. Aku bertanya kepada anaknya dan kawan-kawan duduknya, barangkali beliau (Ibnu Umar) melakukannya karena ketuaannya? Mereka menjawab : ‘Tidak, tetapi demikianlah keadaannya” [As-Sunananul-Kubraa 2/135. Berkata Syaikh Al-Albani : “Sanad hadits ini jayyid dan rawi-rawinya terpercaya/tsiqaat].

Padanya tidak terdapat kata ‘ajn, namun dengan kata ‘bertelekan’. Dua kata ini tidak bertentangan, karena ‘bertelekan’ lebih umum daripada ‘ajn.

Kesimpulan : Hadits ‘ajn adalah hasan, sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Adl-Dla’iifah 2/392.

Wallaahu a’lam.

Semoga tulisan ringkas dan sederhana ini ada manfaatnya ……. Sebagai pembanding, silakan baca buku Juz’u Kaifiyyatin-Nuhuudl fish-Shalaah wa Dla’fi Hadiits Al-‘Ajn karya Asy-Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid rahimahullah yang kesimpulan akhirnya berbeda dengan tulisan ini.

[abul-jauzaa’, diselesaiken malem ahad 6 Pebruari 2010 jam 10.28, http://abul-jauzaa.blogspot.com].



[1] Dalam riwayat Ad-Daarimiy, Yahya berkata : “Tsiqah”. Di lain tempat ia berkata : “Laa ba’sa bihi”.

[2] Belum saya ketemukan biografinya.

Comments

Anonim mengatakan...

jadi, ketika bangun dari sujud disunnahkan 'ajn yaitu mengepalkan kedua tangannya, begitu ya akh?

Wah wah dpt lg ilmu baru.

khumaini mengatakan...

Hadits Al 'Ajn

Al Ustadz Abu Muawiah
HADITS AL-'AJN
(Mengepalkan Kedua Tangan Ketika Akan Berdiri Dalam Sholat)

Sepanjang pemeriksaan kami, ada dua hadits yang menyebutkan tentang hal ini :
1. Hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma :
"Sesungguhnya Rasulullah - shallallahu alaihi wasallam- jika beliau (hendak) berdiri dalam sholatnya, beliau meletakkan kedua tangannya di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh al-'ajin (orang yang melakukan 'ajn/membuat adonan)".
Hadits ini disebutkan oleh Al- Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhish Al-Habir (1 /466 ) dan An-Nawawy dalam Al-Majmu' (3 /421).
Ibnu Ash-Sholah berkata dalam komentar beliau terhadap Al- Wasith -sebagaimana dalam At- Talkhis-, "Hadits ini tidak shohih dan tidak dikenal serta tidak boleh berhujjah dengannya".
An-Nawawi berkata, "(Ini) hadits lemah atau batil, tidak ada asalnya".
2. Al-Azroq bin Qois rahimahullah berkata:
"Saya melihat 'Abdullah bin 'Umar dalam keadaan melakukan 'ajn dalam sholat, i'timad (bertumpu) di atas kedua tangannya bila beliau berdiri. Maka saya bertanya : "Apa ini wahai Abu 'Abdirrahman?", beliau berkata, "Saya melihat Rasulullah melakukan 'ajn dalam sholat, yaitu beri'timad".
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (4 /213 /4007 ) dan Abu Ishaq Al-Harbi dalam Ghoribul Hadits (5 /98 /1 ) sebagaimana dalam Adh-Dho'ifah no. 967 dari jalan Yunus bin Bukair dari Al-Haitsam dari 'Athiyah bin Qois dari Al-Azroq bin Qois.
Al-Haitsam di sini adalah Al- Haitsam bin 'Imran Ad-Dimasyqy, meriwayatkan darinya 5 orang dan tidak ada yang mentsiqohkannya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana bisa dilihat dalam Ats-Tsiqot (2 /296 ) dan Al- Jarh wat Ta'dil (4 /2 /82-83). Para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan rowi yang seperti ini sifatnya dan yang benar di sisi kami -wal 'ilmu 'indallah- bahwa rowi yang seperti ini dihukumi sebagai rowi yang majhul hal (tidak diketahui keadaannya) yang membuat haditsnya tidak bisa diterima.
Hadits ini juga bisa dihukumi sebagai hadits yang mungkar dari dua sisi :
1. Al-Haitsam ini menyelisihi Hammad bin Salamah -yang beliau ini lebih kuat hafalannya- dan juga 'Abdullah bin 'Umar Al- 'Umary, yang keduanya meriwayatkan dari Al-Azroq bin Qois dengan lafazh, "bahwa beliau bertumpu di atas bumi kedua tangan beliau," tanpa ada tambahan yang menunjukkan bahwa beliau mengepalkan kedua tangannya.
2. Hadits ini berisi tentang tuntunan sholat Nabi Shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam yang setiap hari disaksikan oleh para shahabat dan sekaligus hadits ini merupakan 'umdah (pokok satu- satunya) dalam masalah ini. Maka bisa dikatakan : Kenapa hadits ini bersamaan dengan sangat dibutuhkannya, perkaranya disaksikan setiap hari dan merupakan umdah (dalil pokok) dalam masalah ini, hanya diriwayatkan dari jalan Al- Haitsam dari Al-Azroq dari Ibnu 'Umar?!. Mana murid-murid senior Ibnu 'Umar, seperti : Salim (anak beliau), Nafi' dan lain-lainnya, kenapa mereka tidak meriwayatkan hadits ini dari Ibnu 'Umar?!
Dan termasuk perkara yang semakin menguatkan lemah hadits ini, yaitu bahwa para pengarang kitab hadits terkenal seperti ashhab kutubut tis'ah dan yang lainnya berpaling dari (baca : tidak) meriwayatkan hadits ini, padahal hadits ini sangat dibutuhkan dan isinya adalah suatu perkara yang disaksikan setiap hari. Tapi yang meriwayatkannya hanya Imam Abu Ishaq Al-Harbi dalam Gharibul Hadits (kitab yang mengumpulkan hadits-hadits gharib) dan Ath-Thabrani yang mana sudah diketahui bahwa dalam ketika kitab Mu'jam beliau (Al-Kabir, Al-Awsath dan Ash- Shaghir), beliau hanya mengumpulkan semua riwayat yang beliau ketahui tanpa memilah mana yang shohih dan mana yang lemah.
Wa fauqo kulli dzi 'ilmin 'alim.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=735#more-735

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Maaf baru saya respon, dan ijinkan saya berbeda dengan antum dalam hal ini.

Kedudukan perawi seperti Hisyaam ini adalah hasan, sebagaimana telah dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam kitab Tamaamul-Minnah. Ia telah diikuti oleh 5 orang perawi tsiqah yang bersamaan dengan pentsiqahan Ibnu Hibbaan. Inilah thariqah yang ditempuh oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabiy.

Tambahan lafadh 'ajn seperti ini merupakan tambahan ilmu yang tidak diriwayatkan oleh perawi lain. Jadi, tidak masalah jika hanya dari jalur Hisyaam dari Al-Azraq dari Ibnu 'Umar. Intinya, bahwa Ibnu 'Umar memang benar-benar telah melihat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam melakukan 'ajn (mengepal ketika bangun dari sujud). Sama sekali itu tidak menafikkan kaifiyah bertelekan dimana ini merupakan cara yang paling sering dilakukan Nabi.

Bukan menjadi sebab yang dipertimbangkan bahwa satu riwayat menjadi tidak shahih hanya karena tidak diriwayatkan oleh kutub tis'ah; sebagaimana ma'lum dalam ilmu hadits.

Wallaahu a'lam.

Anonim mengatakan...

Ojo podho gelut ora apik

Anonim mengatakan...

Khilaf tanawu'

Anonim mengatakan...

Assalamu 'alaikum wa rahmatullah....
idzin bertanya ustadz,...
apakah tiga sebutan Al-Haitsam berikut adalah orang yang sama?...

1. Al-Haitsam. Ia adalah Ibnu ‘Imraan Al-‘Absiy,
2. Al-Haitsam bin Khaarijah,
3. Al-Haitsam di sini adalah Al- Haitsam bin 'Imran Ad-Dimasyqy,

Barokallahu fik ustadz..

Sigit Nugroho mengatakan...

Walah puyeng. Sbg mualaf, sy cari2 soal kepalan tangan ini, kok beda2. atau giliran jelas pakai kata2 Arab yg sy ora paham.
Sy pakai kepalan tangan se-mata2 krn pernah 2-3 kali keseleo (tangan kecil). Sembuhnya ber-hari2. Katanya, Islam bkn agama yg menyusahkan. Pernah jg jempol kaki rada bengkak krn blm biasa -- pas tahyat awal/akhir.
Ternyata bbrp kawan meluruskan telapak kaki. Katanya, Islam tak menyusahkan.
Ya, akhirnya skrg ngepal deh. Husnudzon aja, Allah nerima sholat sy. Ini kan bkn krn tdk wudhu atau buang angin.
Di bbrp masjid, sering dengar tausiah yg galak2, nakut2i. Masuk neraka loe, ga ditrima sholat dll. Yah, seingat sy, Rasul itu baik, mulia, santun dan lembut. Itu patokan sy.

Salam...